Beranda blog Halaman 414

Jalan Seratus Tahun yang Tak Boleh Terjeda

Oleh: Mahladi Murni (Kabiro Humas DPP Hidayatullah)

Halaqoh sore itu belum saya tutup. Saya, sebagai koordinator halaqoh, masih memberi kesempatan kepada Ust Sholeh Usman, ketua Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah, untuk memberi pelengkap kajian manhaj Sistematika Wahyu yang baru saja disampaikan oleh murobbi kami, Ust Nursyamsa Hadits. Waktu sudah menunjuk hampir pukul 5 sore.

Tetiba Ust Candra Kurnianto, sekjen DPP Hidayatullah yang juga anggota halaqoh kami, memberi kabar mengejutkan, “Ustadz Abdul Mannan sudah tiada.”

Ust Sholeh Usman spontan berteriak, “Ya Allah … ya Allah.” Ust Nursyamsa menutup mukanya dengan kedua tangannya seraya menyebutkan asma Allah. Ust Candra terduduk lemas di atas kursi. Mukanya memerah. Matanya basah. Isak tangis tiba-tiba membahana di ruang rapat Gedung Dakwah Hidayatullah lantai 2.

Saya juga tertunduk, tak kuasa pula membendung air mata ini. Beliau adalah guru, tokoh, pemimpin, sekaligus pemikir organisasi ini. Wafatnya beliau adalah kehilangan besar bagi Hidayatullah.

Ingatan saya langsung melayang kepada sebuah buku bertajuk Grand Design Hidayatullah 2021-2121. Buku hebat tentang Hidayatullah 100 tahun ke depan. Itulah karya terakhir beliau, buah pikir beliau untuk organisasi yang beliau rintis ini.

Tanggal 3 September 2020, materi buku itu sudah selesai. Di dalamnya tertulis gambaran tentang Hidayatullah satu abad ke depan serta upaya mewujudkannya. Beliau kemudian menelepon saya, meminta agar saya menemui beliau di Pesantren Hidayatullah, Depok, Jawa Barat.

Seperti biasa, setiap kali beliau memanggil saya, maka kami akan bertemu di Masjid Ummul Quro yang terletak di tengah-tengah pesantren Depok. Lalu, siang itu, beliau bercerita tentang materi buku itu. Kata beliau, jika kelak materi buku itu telah selesai diedit dan didesain menjadi buku, lalu diserahkan kepada Pemimpin Umum Hidayatullah, Ust Abdurrahman Muhammad, maka tuntaslah tugas beliau.

Masya Allah, meskipun ketika itu beliau mulai sakit-sakitan, namun beliau masih memikirkan Hidayatullah. Saya membayangkan bagaimana beliau melewati malam-malam dengan sholat lail yang tak pernah beliau tinggalkan, lalu merangkai huruf demi huruf sehingga menjadi materi buku itu.

Sebenarnya, menulis buku bukan sekali ini beliau lakukan. Jauh sebelumnya, beliau pernah menulis buku tentang peradaban Islam. Beliau juga memanggil saya ketika materi buku itu sudah selesai. “Pak Mahladi, tolong edit materi buku ini. Buat menjadi cair, sehingga enak dibaca,” kata beliau ketika itu.

“Tidak ustadz! Saya tidak berani mengubah gaya tulisan ustadz yang khas. Saya hanya akan mengedit kesalahan tulis saja,” jawab saya ketika itu.

Beliau tercenung, lalu mengangguk. “Ya, antum benar,” kata beliau.

Sejak itu, saya sering diminta untuk mengedit buku-buku beliau, hingga buku terakhir itu.

Akhir Januari 2021, buku Grand Desain Hidayatullah telah rampung. Saya melihat raut wajah beliau sumringah ketika menimang-nimang buku itu. Besok, kata beliau, buku itu akan beliau serahkan kepada Ust Abdurrahman Muhammad, pemimpin tertinggi Hidayatullah, di Gunung Tembak, Kalimantan Timur.

Kembali kepada kisah halaqoh yang terjeda setelah mendapat berita duka. Semua terdiam dan larut dalam suasana duka. Ust Sholeh Usman mengajak seluruh anggota halaqoh untuk mengangkat tangannya lalu beliau melantunkan doa dengan khusuk.

“Ya Allah, eratkan ukhuwah kami, dan bantulah kami berjuang menegakkan agama-Mu …” begitulah petikan doa Ust Sholeh Usman dengan suara terbata-bata dan diamini oleh seluruh peserta halaqoh.

Doa itu seakan menegaskan bahwa Hidayatullah 100 tahun ke depan sebagaimana diimpikan oleh Ust Abdul Mannan allahuyarham serta seluruh kader Hidayatullah akan sulit terwujud manakala ukhuwah tidak dijaga. Begitu juga jalan menuju impian itu tak akan mudah dilalui tanpa pertolongan Allah Taala.

Selamat jalan guru kami. Semoga Allah Ta’ala menguatkan langkah-langkah kami untuk meniti jalan 100 tahun yang telah engkau tinggalkan kepada pemimpin-pemimpin kami. Aamiin ya Rab *

Selamat Jalan Ustadz DR Abdul Mannan

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Sore ini saya tinggalkan Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Cipinang Cempedak, lebih awal. Qodarullah, datang Bang Malik mendekati kami dan mengatakan ingin ikut kembali ke Depok.

Di tengah perjalanan, saat kendaraan melaju di tol saya sempat bertanya kepada Bang Malik, perihal kondisi Ustadz Dr. Abdul Mannan.

Alhamdulillah beliau membaik. Kemarin saya telpon Bu Sarah (putri sulungnya),” ucapnya yang kusambut dengan ucapan ‘Alhamdulillah.

Waktu pun bergulir, usai singgah di kisaran Cilodong untuk satu keperluan, saya dan rombongan segera melaju ke Pesantren Hidayatullah Depok.

Tak ada firasat, tak ada tanda-tanda tertentu yang datang, tiba-tiba di sebuah grup WA muncul berita duka langsung dari salah satu anak beliau, Bapak Muhammad Sulthon.

“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.

Baru saja kembali kepada Allah, Ayahanda saya Bapak Abdul Mannan.

Semoga Allah mengampuni dosa beliau.

Mohon kerelaan jama’ah Hidayatullah untuk memaafkan kesalahan beliau selama hidup. Terima kasih banyak atas kasih sayang jamaah semua kepada Ayah saya selama ini. Jazakumullah khairan katsira.”

Beliau meninggal dunia pada 8 Ramadhan 1442/ 20 April 2021 sekira pukul 17:00 WIB di RS Mitra Keluarga Depok.

Bukan hanya saya, banyak pihak seakan tak percaya dengan berita itu. Beberapa kolega dari daerah langsung telpon dan kirim pesan via WA kepada saya, ingin memastikan berita duka ini.

Tegas yang Penyayang

Ustadz Dr. H. Abdul Mannan, MM adalah sosok yang tegas. Beliau tidak mengatakan melainkan telah beliau lakukan dan rasakan.

Kalimat-kalimatnya disampaikan dengan intonasi khas yang menjadikan banyak orang menangkap bahwa ketegasannya amat kuat.

Saya sendiri selama mendampingi beliau menyaksikan berulang kali perihal ketegasan ini. Jika sudah mengambil keputusan maka tidak akan pernah diubah. Jika memiliki tekad sesulit apapun akan beliau lakukan.

Saat saya mendampingi beliau di STIE Hidayatullah Depok, pernah dalam sebulan – setiap hari – saya diminta mendampingi beliau keliling Depok untuk menyambangi satu persatu mahasiswa STIE yang KKN di masjid selama 8 bulan.

“Bagaimana kabarmu, Di,” tanya beliau ke seorang mahasiswa yang KKN di Kalibaru Depok. Melihat di kamar tinggal tidak ada rice cooker dan persediaan beras, beliau langsung mengeluarkan uang dari saku celananya.

“Ini buat beli rice cooker dan beli beras, ya.”

Begitu terus dari satu masjid ke masjid lain, yang seingat saya tidak kurang hampir 30 masjid.

Saat di mimbar pengajian Malam Kamis di Depok kala itu, beliau sampaikan bahwa dalam dakwah jangan pernah ada takut. Allah menjamin rezeki setiap kita. Namun, di balik itu semua, beliau turun tangan, mendatangi satu persatu murid-muridnya untuk memastikan mereka tidak kekurangan apapun.

Teladan Kedisiplinan

Satu keteladanan yang amat kuat dari Ustadz Dr. Abdul Mannan, MM adalah kedisiplinan.

“Wi,” biasa beliau memanggil saya dengan sapaan itu. “Besok kita ke JCC, jam 6 pagi, ya,” katanya menginformasikan agar saya menemani beliau.

Jam 6 kurang 10 menit saya sudah di perempatan Perum Hankam menanti beliau datang.

Lebih-lebih kalau soal kuliah, pengajian dan agenda di masjid, beliau akan memanggil saya dan meminta saya untuk mengkondisikan mahasiswa dengan baik.

“Jam 8 malam sudah harus kumpul semua, Wi,” katanya saat mengingatkan pengajian Malam Kamis kala itu.

Dari perintah-perintah beliau itu, lambat laun membentuk karakter kedisiplinan dalam diri saya. Sangat tidak enak rasanya terlambat dalam satu momentum, apalagi jika tidak karena hal yang bisa terkategori udzur.

Pengalaman ini juga dirasakan oleh hampir semua murid-murid beliau, terutama yang saya tahu di STIE Hidayatullah Depok. Jika ada mahasiswa terlambat, beliau persilakan mengikuti kuliah di luar pintu.

Kini sosok Ustadz Dr. Abdul Mannan telah menghadap keharibaan Ilahi. Semua berduka, bahkan hampir semua nyaris tidak percaya. Selamat jalan Ustadz Dr. Abdul Mannan, MM. Kami mencintaimu karena Allah. Semoga Allah muliakan dikau di sisi-Nya. Aamiin.*/Imam Nawawi (Ketum PP Pemuda Hidayatullah)

Ketua Dewan Pertimbangan Hidayatullah Dr Abdul Mannan Berpulang ke Rahmatullah

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Innalillahi wainnailaihi rajiun. Segenap keluarga besar Hidayatullah berduka. Ketua Dewan Pertimbangan Hidayatullah, Dr Abdul Mannan, berpulang ke Rahmatullah. Ketua Umum DPP Hidayatullah dua periode (2005-2015) itu meninggal dunia pada 8 Ramadhan 1442 Hijriyah sekitar pukul 17.00 WIB di RS Mitra Keluarga Depok, Jawa Barat.

“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Baru saja kembali kepada Allah, Ayahanda saya Bapak Abdul Mannan. Semoga Allah mengampuni dosa beliau.

Mohon kerelaan jama’ah Hidayatullah untuk memaafkan kesalahan beliau selama hidup. Terima kasih banyak atas kasih sayang jamaah semua kepada Ayah saya selama ini. Jazakumullah khairan katsira,” ujar salah seorang putra almarhum, Muhammad Sulthon kepada jamaah Hidayatullah di Depok, Jawa Barat, melalui WhatsApp pada Selasa sekitar pukul 16.45 WIB.

Kabar tersebut sontak saja membuat warga, santri, ustadz, dan jamaah Hidayatullah, mulai dari jajaran Dewan Pengurus Pusat (DPP), Dewan Pengurus Wilayah (DPW), Dewan Pengurus Daerah (DPD), Dewan Pengurus Cabang (DPC), Dewan Pengurus Ranting (DPRa), hingga di berbagai organisasi pendukung, lembaga-lembaga, amal usaha, yayasan, dan sebagainya, diliputi duka.

Di Kampus Induk Hidayatullah UmmulQura Balikpapan, Kalimantan Timur, suasana duka juga menyelimuti. Kabar berpulangnya Ustadz Abdul Mannan diterima para pengurus Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah UmmulQura tepat jelang waktu shalat maghrib dimulai.

Selepas shalat maghrib berjamaah di Masjid Ar-Riyadh, Ketua YPPH Balikpapan Hamzah Akbar naik ke podium menyampaikan secara singkat kabar duka tersebut kepada seluruh jamaah.

“Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Baru saja kita mendapatkan kabar duka, orangtua kita Ustadz Dr Abdul Mannan… Beliau telah berpulang ke Rahmatullah tadi,” ujarnya.

Bakda isya, Hamzah Akbar kembali naik ke podium menyampaikan kabar lanjutan terkait proses pemakaman Dr Abdul Mannan.

Berdasarkan informasi yang diterima, almarhum dikebumikan dan dishalatkan di Depok, tak jauh dari kediamannya.

Semasa hidup, Dr Abdul Mannan dikenal sebagai salah seorang tokoh Hidayatullah yang tegas dan kerap memotivasi para jamaah dan kadernya.

Pria asal Gresik, Jawa Timur ini juga tercatat sebagai Pembina Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok dan Pendiri sekaligus Ketua pertama Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah Depok.

Selain itu, almarhum juga dikenal rajin membaca dan menulis buku. Buku teranyarnya yang sempat diterbitkan beberapa waktu lalu berjudul “Era Peradaban Baru” yang diterbitkan PT Mulia Mandiri.

“Satu hal yang jangan sampai lepas dari diri kita adalah shalat fardhu berjamaah di awal waktu, shalat lail setiap malam, tadabbur al-Qur’an, dan wirid pagi sore malam,” di antara pesan Abdul Mannan yang viral di kalangan Hidayatullah.*/Syakur

Kajian Mukhtashor Minhajul Qosidin Bersama Ust Nashirul

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ikuti kajian Ramadhan bersama dengan Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah KH Dr Nashirul Haq. Pada kesempatan ini membahas Kitab Mukhtashor Minhajul Qosidin. Selamat menyimak:

Silaturrahim Walikota Jaktim ke Pondok Pesantren Hidayatullah⁣

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Walikota Administrasi Jakarta Timur, M. Anwar, melakukan kunjungan silaturrahim sekaligus memberikan santunan kepada Pondok Pesantren Tahfidz Qur’an Marhamah, Hidayatullah Jakarta Timur, Kelurahan Cipinang Cempedak, Kecamatan Jatinegara, DKI Jakarta, Jumat (16/4/2021).⁣

“Kegiatan ini adalah kegiatan rutin setiap Jumat, untuk bersilaturahim dan menanyakan permasalahan serta memberikan solusi,” ujar Anwar.⁣

Ia mengatakan, dengan kedatangannya bersama jajaran untuk bersinergi bersama ulama dan umaro dalam melahirkan generasi milenial yang berkualitas.⁣

Anwar berharap, silaturahmi tersebut berjalan terus menerus agar anak-anak Pondok Pesantren Hidayatullah dapat diperhatikan langsung oleh Pemerintah, agar program-program pendidikannya dapat berjalan dengan baik.⁣

“Nanti kita lihat, dari pengurus ada kesulitan apa nanti kita bantu. Ini juga atas perintah Pak Gubernur (Anies Baswedan) agar Walikota mengopeni (merawat) tempat-tempat yang mulia ini, jangan sampai mereka jalan sendiri,” pungkasnya.⁣

Kemudian, Ketua Yayasan Marhamah sekaligus Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah, KH Mahmud Efendi, menyampaikan terima kasihnya atas kunjungan Walikota Administrasi Jakarta Timur dengan jajaranyan.⁣

Ia mengatakan dengan kedatangan Wali Kota, pihaknya (Pondok Pesantren Hidayatullah) dapat bertukar pikiran atas segala peramasalahan yang ada.⁣

“Kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Wali Kota, Kami dapat berkeluh kesah, sebagaimana anak bercerita kepada orang tuanya, namun tetap Kami tidak berkeluh kesah yang berat-berat, karena Kami berprinsip lebih baik tangan di atas daripada di bawah,” ujar Mahmud.⁣ (red/aw)

Belajar Bersikap Tawadhu

KENYATAAN hidup manusia menyajikan keragaman yang sangat luas, mulai dari segi fisik, bahasa, karakter, akhlak, intelektual, status sosial, sampai agamanya.

Di setiap segmen tersebut terdapat variasi yang sangat banyak mulai dari yang super, normal, sampai abnormal. Dalam hal ini, Allah hendak menguji kita masing-masing, apakah kita bersabar dan berbaik sangka kepada kehendak-Nya, ataukah tidak.

Allah berfirman:

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya’: 35).

Demikian juga firman-Nya yang lain:

“Dan Kami jadikan sebahagian kalian cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kalian bersabar? Dan adalah Tuhanmu Maha Melihat.” (QS. Al-Furqan: 20).

Oleh karenanya, kita diajari untuk memandang segala sesuatu dari sudut ini: bahwa semua hanyalah cobaan. Kaya, sehat, cantik, cerdas, dsb semua adalah ujian dari-Nya.

Demikian pula sebaliknya: miskin, sakit, jelek, bodoh, dst adalah ujian pula. Ada ujian kebaikan, ada pula keburukan. Allah hendak melihat siapa diantara kita yang lulus dan kelak mendapat balasan yang sempurna, atau sebaliknya gagal dan menerima sanksi yang mengerikan.

Generasi terdahulu sangat memahami hakikat ini, sehingga selalu berhati-hati dalam bergaul dengan siapa pun. Berkat ilmu dan iman, mereka paham siapa yang mengikuti jalan kebenaran dan siapa yang tersesat; tapi mereka tidak membanggakan diri.

Berkat kefaqihan dan ketulusan, mereka mengerti siapa yang konsisten di atas kebaikan dan siapa pula yang telah melenceng darinya; namun mereka tidak menepuk dada.

Ibnu ‘Abbas (atau Ibnu ‘Umar) berkata, “Seorang hamba atau seseorang tidak akan mendapati hakikat iman sebelum ia bisa melihat semua orang seakan-akan dungu dalam agamanya.” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah, al-Lalika’iy, dan Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhd. Sanad-nya shahih).

Begitulah, mereka sangat memahami letak ketidakberesan iman dan amal orang lain, berkat ilmu dan kefaqihannya. Akan tetapi, di saat bersamaan, mereka pun menyadari kekurangannya sendiri yang jauh lebih banyak sehingga tidak berani menyombongkan diri, apalagi meremehkan orang lain.

Abu Darda’ berkata:

“Engkau pun belum benar-benar faqih selama belum membenci bagaimana perilaku manusia tatkala berhadapan dengan Allah, kemudian engkau mengarahkan pandangan kepada dirimu sendiri, dan ternyata engkau lebih membenci perilakumu sendiri ketika berhadapan dengan Allah dibanding kebencianmu terhadap perilaku manusia.” (Riwayat ‘Abdurrazzaq dan Abu Nu’aim al-Ashbahani).

Khalid bin Ma’dan (tabi’in, w. 103 H) berkata:

“Tidaklah seseorang mencapai kefaqihan yang sebenar-benarnya sebelum ia bisa melihat semua orang – di sisi Allah – hanya bagaikan binatang ternak, kemudian ia kembali melihat dirinya sendiri dan ternyata ia jauh lebih hina diantara yang hina.” (Riwayat Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhd).

Mutharrif bin ‘Abdillah bin Syikhir (tabi’in, w. 95 H) berkata kepada murid-muridnya:

“Seandainya aku ridha terhadap diriku sendiri, pasti aku membenci kalian. Akan tetapi, ternyata aku tidak ridha kepadanya.” (Riwayat Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhd).

Cara berpikir inilah yang melahirkan sikap tawadhu’ (rendah hati) dan kasih sayang kepada sesama manusia, terlebih yang beriman. Setiap kali bertemu seseorang lalu melihat kekeliruan dan kesalahannya, mereka pasti berusaha sekuat tenaga untuk membimbing serta mengajari dengan ilmu-ilmu yang mereka miliki.

Namun, saat mereka kembali memeriksa dirinya sendiri, mereka mengetahui sedemikian banyaknya borok yang harus disembuhkan dan diobati. Mereka terus berdakwah dan mengajar, tapi di saat bersamaan tidak jemu-jemunya beristighfar dan bertaubat.

Akhlak generasi Salaf yang agung ini telah banyak ditinggalkan di zaman kita. Sekarang banyak orang yang matanya sangat tajam menyelisik dosa dan kekurangan orang lain, akan tetapi hidungnya gagal mencium aroma kebusukannya sendiri.

Oleh karenanya, Imam Al-Ghazali (Ihya’ Ulumiddin, III/364) menganjurkan kita meraih tawadhu’ dengan cara tidak pernah ‘membesarkan’ diri di hadapan siapa pun.

Yakini bahwa mereka pasti punya kelebihan dibanding kita. Ingat, betapa banyak orang meremehkan Umar bin Khatthab pada masa kafirnya, namun ketika hidayah telah meresap ke hatinya maka derajat seluruh kaum muslimin pun dilampauinya, kecuali Abu Bakar.

Bila melihat orang bodoh, katakan pada diri sendiri, “Ia bermaksiat kepada Allah dengan kebodohannya, sedangkan aku mendurhakai-Nya dengan ilmu. Ia lebih pantas untuk dimaafkan dibanding diriku.”

Bila melihat orang berilmu, katakan pada diri sendiri, “Ia mengetahui apa yang tidak aku ketahui. Bagaimana mungkin aku menyamainya?”

Bila melihat penganut bid’ah atau kafir, katakan pada diri sendiri, “Aku tidak tahu bahwa boleh jadi ia diakhiri kehidupannya dengan masuk Islam sedangkan aku justru diakhiri seperti keadaannya saat ini.”

Tentu saja, kita tidak boleh meridhai keburukan dan maksiat yang dilakukan siapa pun. Kita harus menguatkan diri untuk beramar ma’ruf nahi munkar, dengan memenuhi adab dan tatacaranya.

Hanya saja, tawadhu’ akan membimbing kita menuju sikap khawatir dan takut jika tertimpa keburukan, sehingga kita selalu waspada, tidak henti-hentinya memperbaiki diri, dan terjauh dari kelalaian.

Dengan tawadhu’ itu pulalah derajat generasi Salaf ditinggikan oleh Allah.

Rasulullah bersabda:

“Sedekah tidak akan mengurangi harta. Dengan memaafkan, Allah tidak menambahkan kepada seseorang selain kehormatan/kemuliaan. Dan, tidak seorang pun yang bersikap tawadhu’ karena Allah melainkan akan diangkat derajatnya oleh Allah.” (Riwayat Muslim, dari Abu Hurairah). Wallahu a’lam.

Ustadz Alimin Mukhtar

Silaturahim Kapolsek ke Ponpes Hidayatullah Kalimulya Depok

DEPOK (Hidayatullah.or.id) – Kapolsek Sukmajaya Depok AKP Syafri Wasdar SH.MH bersama jajaran melaksanakan kunjungan ke Pondok Pesantren Hidayatullah Kalimulya Cilodong Depok, Selasa (13/04/2021).

Kunjungan anjangsana Kapolsek dan jajaran tersebut dalam rangka silaturahmi sekaligus memberikan bantuan sembako, perlengkapan shalat dan 100 buah Masker. Rombongan diterima langsung oleh Kepala Yayasan Hidayatullah Depok Ustadz Lalu Mabrul beserta sejumlah pengurus lainnya.

Dalam kegiatan kunjungan tersebut, Kapolsek Sukmajaya mengatakan, bahwa bantuan ini sebagai bentuk rasa sosial dan dukungan serta kepedulian kepada pengurus dan penghuni pondok pesantren Hidayatullah Kalimulya ditengah Wabah pendemi Covid 19 menjelang puasa.

“Kegiatan pemberian bantuan sembako dalam rangka ibadah dan menjalin silaturahmi antara Polsek Sukmajaya dan Pondok Pesantren Hidayatullah Kalimulya yang ada di wilayah hukum Polsek Sukmajaya Depok,” kata Kapolsek.

Selain itu, Kapolsek melanjutkan, kegiatan tersebut merupakan wujud kepedulian Polsek Sukmajaya terhadap pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan formal, agama dan pendidikan akhlak para santri sehingga dapat menciptakan dan mempengaruhi situasi Kamtibmas yang aman di wilayah hukum Polsek Sukmajaya.

Sementara itu, salah satu pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah Kalimulya Cilodong Depok, Ust Abdul Rohim, mengucapkan banyak terima kasih atas kunjungan silaturrahim tersebut dan aras apa yang telah diberikan Polsek Sukmajaya kepada Pesantren.

“Bantuan sembako ini sangat berarti untuk kami dan para santri khususnya menjelang bulan suci Ramadhan. Mudah-mudahan bantuan sembako ini bisa membantu kebutuhan para santri selama Ramadhan nantinya,” ungkapnya.

Hadir dalam kunjungan tersebut, Kapolsek Sukmajaya AKP Syafri Wasdar SH.MH, Kanit Binmas Iptu Syaefullah, Kanit Patroli Iptu Sumari, Panitia Binmas IPTU Soepari, Panitia Binmas Ipda Marwoto, Bhabinkamtibmas Kalimulya Aipda Irman Muhtar, Provos Bripka Riko, Kasie Humas Aiptu Warsito dan Kepala Yayasan Hidayatullah Depok Ustadz Lalu Mabrul.

Pengiriman Dai Muda ke Titik Pedalaman Sulsel dan Sulbar

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (LAZNAS BMH) mengelar Publik Eksposes dengan menghadirkan tiga pembicara utama, Rijal Djamal (Content Creator), Kadir (Ketua Laznas BMH Sulawesi Selatan) dan Muhammad Zuhair (Direktur Eksekutif Yayasan Hadji Kalla).

Muhammad Zuhair dari Yayasan Hadji Kalla secara simbolis melepas 15 dai Ramadhan yang akan bertugas sebagai imam masjid, guru ngaji yang tersebar di 15 desa pedalaman Sulsel dan Sulbar.

Di kesempatan yang sama juga dilaunching sebagai tanda dimulainya program ramadhan yang digelar oleh Laznas BMH, Senin (12/4/2021.

Dalam sambutannya Zuhair mengungkapkan adanya dai yang telah dikerjasamakan bersama Laznas BMH dapat memberi pencerahan kepada ummat dan memberikan konstribusi sosial.

Ketua Laznas BMH Sulsel, Kadir mengatakan program kerja sama dai Ramadhan dengan Yayasan Hadji Kalla merupakan satu dari 10 program yang dilaksanakan selama Ramadhan.

Ia menerangkan selama Ramadhan lembaganya mengelar program buka puasa dan sahur bagi 1.576 santri penghafal Al Qur’an di 19 Pesantren binaan BMH di Sulawesi Selatan.

Program Sedekah Jariyah Mushaf Al Qur’an, paket beras dhuafa, armada dakwah dai pedalaman, wakaf produktif perkebunan dan pertaniaan penyerahan bantuan Pembangunan Musholla Tahfidz Parepare, Pembangunan Asrama Pesantren Al A’raf Bulukumba, Pembangunan Asrama Pesantren Al Jihad Belopa serta sumur bor.

Hadir sebagai penanggap, Rijal Djamal atau yang lebih dikenal dengan Rijal System mengatakan kerja-kerja istimewa yang dilaksanakan oleh Laznas BMH dapat memberikan inspirasi pada orang lain. Adanya media sosial dapat menjadi jalur alternatif distribusi informasi.

“Ini dapat memantik kita sebagai generasi muda untuk semangat berbagi. Di tengah pandemi ini banyak masyarakat yang perlu dibantu, terlebih di bulan Ramadhan yang penuh berkah,” ungkas Rijal.*/Firman

Bila Hati Terserang “Sariawan”

MAKANAN dan minuman selezat apa pun tidak akan bisa dinikmati jika mulut kita dipenuhi luka sariawan. Mencoba mencicipi kelezatannya hanya akan menjadi siksaan yang menyakitkan, tapi hanya diam memandanginya juga akan menjadi siksaan yang lain.

Begitulah lezatnya sajian-sajian syariat Islam. Ia tidak mungkin dinikmati oleh hati yang mengalami ‘sariawan’. Namun, bukankah lebih perih lagi jika kita membiarkan hati samasekali tidak tersentuh oleh Islam?

Hati siapa pun yang dilanda ‘sariawan’ pasti merasakan kepedihan setiap kali bersentuhan dengan syariat Islam. Ia akan merasakan larangan-larangan Allah bagaikan tembok penjara, sementara perintah-perintah-Nya seperti beban maha berat yang mematahkan punggung.

Larangan mengumbar aurat dinilai sebagai pembatasan berekspresi bahkan penindasan hak asasi, sedang perintah shalat lima waktu dianggap tambahan kegiatan di tengah-tengah agenda harian yang sudah menggunung. Astaghfirullah!

Lantas, apa jalan keluarnya? Kisah kegagalan menikmati berislam seringkali mirip gangguan sariawan, yang terkadang bermula dari kesalahan dalam pola makan, misalnya kurang minum, sedikit konsumsi serat, atau terlalu banyak makanan pedas dan berminyak; selain faktor stres dan menurunnya daya tahan tubuh.

Oleh karena itu, diantara terapi mengatasi “sariawan hati” adalah membenahi cara dalam berislam itu sendiri.

Sahl al-Tustari (zahid termasyhur, w. 283 H) berkata, “Seorang hamba tidak akan mencapai hakikat iman sebelum di dalam dirinya terkumpul empat perkara, yaitu: melaksanakan hal-hal yang fardhu dengan mengikuti Sunnah, memakan yang halal dengan dilandasi sikap wara’, menjauhi yang dilarang baik dari sisi lahir maupun batin, dan bersabar di atas semua itu sampai kematian menjemputnya.” (Ihya’ ‘Ulumiddin, II/91).

Di sini, beliau menyarankan empat resep. Pertama, perhatikan bagaimana pelaksanaan ibadah-ibadah fardhu. Sebetulnya, kewajiban-kewajiban Islam sudah ditakar sedemikian tepat sehingga tidak mungkin memberatkan (lihat: Qs. Al-A’raf: 157).

Tapi, ibadah apa pun akan terasa berat jika kita keliru mempraktikkannya, misalnya tidak tepat waktu, ditempeli ajaran-ajaran yang bukan bagian dari Islam, atau dilebih-lebihkan sehingga melampaui kadar sewajarnya.

Cobalah shalat tepat waktu, dan rasakan bahwa setelah itu segala sesuatu menjadi demikian lapang. Bila kita shalat subuh di awal waktu, kita tidak akan tergesa-gesa memulai aktivitas harian. Bahkan, tersedia kesempatan ekstra untuk tilawah Al-Qur’an, berdzikir, mendengar kuliah subuh, membaca, menulis, jogging, atau sekedar jalan-jalan menikmati suasana pagi dan menyapa tetangga kiri-kanan.

Tapi, bila kita mengerjakannya pada saat injury time bahkan telat, segala sesuatu di hari itu akan dimulai dengan amat buru-buru. Ibadah fardhu juga akan terasa sangat berat bila ditempeli amalan-amalan yang tidak ada dasarnya dalam Sunnah Nabi.

Shalat memang harus disertai thaharah (bersuci), namun was-was dalam bersuci adalah bisikan syetan. Keraguan dalam niat juga cermin memberatkan diri dalam beribadah, sampai berkali-kali bertakbir namun tidak kunjung masuk ke dalam shalat.

Membaca surah Al-Fatihah dengan fasih juga penting, namun mengulang-ulang pengucapan sebagian kata di dalamnya hanya karena kurang yakin pada makhraj salah satu huruf jelas menyulitkan siapa pun. Dalam hal ini, kita diminta bersikap pertengahan, yakni tidak sembrono tetapi jangan pula ekstrem.

Kedua, bersikap wara’ dalam mengkonsumsi yang halal. Wara’ artinya hati-hati jangan sampai terjatuh kepada yang haram, dengan menjaga diri bila sudah mendekati garis-garis makruh dan syubhat.

Sebenarnyalah, kita diminta bersikap wara’ justru dalam hal-hal yang halal, sebab untuk yang haram kita sudah pasti tidak ingin memakannya secara sengaja. Seorang muslim tidak mungkin memesan daging babi atau miras di warung yang didatanginya, namun ia harus hati-hati mengkonsumsi sesuatu yang halal dan berpeluang besar untuk tercemari unsur babi atau alkohol.

Segala yang haram pasti merusak kenikmatan berislam; baik haram dari segi zatnya maupun sumber pendapatannya. Makanan haram menjadikan tubuh memberontak bila diajak menaati Allah, sebaliknya akan menurut ketika dibawa bermaksiat. Akibatnya, shalat tidak terasa khusyu’ dan doa-doa seolah tidak ‘nyambung’.

Sahl al-Tustari berkata, “Siapa memakan yang haram niscaya organ-organ tubuhnya akan bermaksiat, entah dia mau atau tidak, tahu atau tidak.” (Ihya’ ‘Ulumiddin, II/91).

Ketiga, menjauhi kemaksiatan baik lahir maupun batin. Zaman ini adalah masa yang teramat berat untuk menghindari maksiat-maksiat, entah yang tampak nyata maupun tersembunyi. Internet dipenuhi gambar cabul dan tidak seronok, sementara televisi menyajikan ghibah (menggunjing) yang ditopengi dengan infotainment.

Bahkan, di jalanan di mana pun kita bisa menyaksikan kaum hawa yang membuka auratnya, atau mengenakan pakaian ketat yang menampakkan lekuk-liuk tubuhnya, baik sosok hidup maupun gambar-gambar di poster iklan.

Mungkin kaum lelaki tidak tertarik kepada orangnya, tetapi jelas mudah tergoda oleh auratnya! Hanya saja, karena ini adalah zaman yang dipilihkan oleh Allah untuk kita, maka kita harus berjuang semaksimal mungkin untuk beramar ma’ruf nahi munkar, serta mematuhi syariat-Nya seraya memohon pertolongan dan ampunan dari-Nya.

Resep terakhir adalah bersabar dalam mengamalkan Islam sampai kapan pun. Tidak ada bekal hidup yang semelimpah kesabaran.

Rasulullah bersabda,

“Barangsiapa berusaha untuk bersabar, niscaya Allah akan membuatnya sabar. Dan, seseorang tidak diberi karunia yang lebih baik serta lebih lapang dibanding kesabaran.” (Riwayat Bukhari dan Muslim, dari Abu Sa’id).

Semoga Allah mengobati hati-hati kita yang “sariawan”, sehingga kelezatan Islam bisa kita nikmati sebagai karunia terbesar dari-Nya. Amin. Wallahu a’lam.

Ustadz Alimin Mukhtar

Ustadz Budi Setiawan yang Setia Hingga Akhir Perjalanan

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Duka kembali menyelimuti keluarga besar Hidayatullah. Salah seorang dai seniornya yang juga santri awal Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur, Ustadz Budi Setiawan, meninggal dunia.

Setiawan meninggal dengan tenang di usia 68 tahun pada Rabu malam,  2 Ramadhan 1442 Hijriyah atau 14 April 2021 sekitar pukul 20:40 WITA di rumah kontrakan salah satu anaknya di bilangan Teritip, Balikpapan Timur.

Setiawan meninggalkan istri dan sepuluh anak. Sebelumnya, di masa kritisnya selama 2 hari, ia didampingi sejumlah anaknya. Tak semua bisa hadir, karena diantaranya bertugas di luar kota. Tiga lainnya, hanya sempat menyentuhnya sebelum dimakamkan.

Sebagai santri dan dai, Setiawan tak menonjol sebagai penceramah apalagi sebagai orator. Ia pun bisa dibilang sangat jarang naik mimbar. Namun, kendati langka bicara di atas podium, Setiawan terampil di lapangan dakwah fardhiyah menjumpai orang-orang untuk mengajak mereka menjadi donatur Hidayatullah.

Tugas Setiawan saat itu populer dengan sebutan “pengedar blanko” alias pencari dana. Atau, amil zakat untuk saat ini. Tahun 80-an hingga 90-an, istilah amil zakat memang masih asing di telinga.

Keterampilan Setiawan dalam mengusahakan pendanaan operasional dakwah dan lembaga betul betul all out. Almarhum dimasa hidup pernah berkisah, ia tak jarang menunggui rumah hingga berhari hari. Hujan dan berpanas-panas, agar bisa bertemu langsung dengan shohibul bait dituju yang akhirnya kebanyakan menjadi donatur.

Totalitas “menggedor” rumah dari pintu ke pintu yang dijalani Setiawan tersebut diakui oleh salah seorang sahabatnya, Ustadz Bachtiar Arasy, yang saat ini bertugas dakwah di Sumatera Barat.

“Sepak terjangmu tidak banyak diketahui, tapi kiprahmu bergelut sebagai pencari dana di awal perlangkahan telah berhasil mengangkat eksistensi lembaga hingga saat ini,” kata Bachtiar dalam keterangannya dalam obrolan gawai.

Setiawan dai yang tak pernah menolak tugas dakwah kemanapun dan dimanapun. Bahkan, pernah menjadi sopir taksi, pun karena atas restu pendiri Hidayatullah, Allaahuyarham Ustadz Abdullah Said.

“Semua karena tugas dan restu pimpinan,” katanya dalam satu kesempatan mengenai tugas yang tak biasa tersebut. Loyalitasnya terus diuji, Setiawan pernah ditugaskan ke Brunei Darussalam untuk menjajaki dakwah di Negeri Petro Dollar tersebut.

Setiawan tugas ke Brunei setelah sebelumnya sekitar 4 tahun mengabdi di Cilodong. Saat itu pembangunan pondasi masjid pesantren yakni Masjid Ummul Quro Depok ini mulai memasuki tahap pendiriannya atas sumbangsih dermawan muslim kala itu.

Hanya 6 bulan di Brunei, Setiawan dipanggil pulang kembali ke Indonesia lalu ditugaskan ikut membantu perintisan dan pembangunan Pondok Pesantren Hidayatullah Sangatta, Kutai Timur (dulu Kabupaten Kutai, red), tahun 1992 hingga 1994.

Ayah dari 10 anak ini adalah kader senior Hidayatullah yang telah malang melintang mengemban amanah dakwah Pesantren Hidayatullah. Ia pernah ikut merintis Pondok Pesantren Hidayatullah Lempake, Samarinda. Ia bertugas di sana selama 3 tahun yaitu tahun 1983 hingga 1985.

Ia kemudian diamanahkan bertugas ke Berau selama setahun (1986-1987). Tak lama-lama mengemban amanah di Berau, Budi kemudian dikirim membantu perintisan Pesantren Hidayatullah Tarakan dari tahun 1987 sampai tahun 1988.

Setelah itu, Setiawan ditugaskan ke Cilodong (sekarang Depok, red). Saat masuk ke Depok awal tahun 1988, Budi mengisahkan, jalan-jalan di sana masih setapak. Masih berupa hutan bambu, dan tidak ada listrik.

“Juga dianggap angker, karena warga sekitar sering bilang komplek pesantren ini bekas kuburan Belanda,” kisah Budi yang bertugas di Depok hingga tahun 1991.

Hingga umurnya purna, Setiawan senantiasa setia di jalan dakwah. Dikala sakit pun yang tak memungkinkan dirinya keluar rumah bahkan berjalan saja sukar, ia tetap menjalani perannya sebagai dai dengan menerima tamu siapapun yang datang ke kontrakannya.

Dalam kondisi yang demikian, dai yang lahir di Malang 3 Mei 1952 ini berikhtiar untuk tetap dapat menafkahi sang istri, Hafsah Pasaray, yang selalu setia menemani.

Dalam banyak kesempatan, almarhum selalu mengingatkan pentingnya sabar, ikhlas dan menjaga niat. Karena menurutnya, tantangan terbesar seorang pejuang adalah munculnya bermacam fitnah, bahkan bisa bersumber dari dalam lingkar kita sendiri. Pesan tersebut selalu ia tekankan kepada anak-anaknya.

“Mumpung kamu masih muda, berbuat banyak saja untuk Hidayatullah, untuk Islam. Tidak usah risau dengan penilaian orang, paling tidak bisa dikenang anak anak cucumu, agar nanti ketika mereka besar sama semangatnya seperti kamu,” kata Fathi Fadhlullah, anak ke-9, mengutip pesan almarhum abahnya.

Setiawan kini telah tiada. Ia tak meninggalkan warisan apapun selain keteladanan bagi anak-anaknya dan generasi pelanjut yang ada di belakangnya. Hingga akhir hayatnya pun, tak memiliki rumah, dan, tampaknya, ia tidak pernah memikirkannya.

Semoga Allah menyayangi beliau, mengampuni seluruh dosa beliau, dan mengumpulkan beliau bersama para Nabi, Rasul, Shiddiqin, Syuhada, dan Shalihin di Jannah Firdaus Tertinggi. (ybh/hio)