Beranda blog Halaman 415

Inilah 10 Bahaya Kekenyangan Menurut Imam al Ghazali

PUASA RAMADHAN adalah ibadah yang sangat unik. Selain dikerjakan secara massal dan sangat tepat waktu (terutama untuk sahur, berbuka, dan penentuan hilal), perilaku kaum muslimin pun turut berubah drastis.

Ada yang bergeser ke kutub positif, namun ada juga yang tanpa sadar justru tersedot ke kutub sebaliknya. Salah satu yang paling nyata perubahannya adalah pola makan. Minimal, mereka tidak akan makan sejak terbit fajar sampai terbenamnya matahari, kecuali ada udzur yang bisa dibenarkan.

Di antara kecenderungan negatif yang biasa muncul adalah berlebihan dalam makan-minum, terutama pada saat berbuka. Memang aneh, sebab Ramadhan adalah bulan puasa, tapi sebagian orang justru makan-minum secara berlebihan di dalamnya.

Bagi sebagian orang, puasa dijalani tidak lebih dari pergeseran jam makan belaka. Sarapan dipindah sebelum adzan subuh, makan siang ditunda sampai magrib tiba, dan makan malam disantap segera setelah merampungkan ibadah tarawih!

Benar bahwa makan-minum pada malam hari di bulan Ramadhan diperbolehkan. Tapi, setiap hal yang berlebihan pasti buruk.

Sebenarnyalah, kekenyangan membawa serta – minimal – sepuluh bahaya besar yang dapat dipahami dari sepuluh faedah lapar; sebagaimana dijelaskan Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin (III/84-88).

Bahaya pertama, kedua, dan ketiga adalah mengeruhkan hati, memadamkan tabiat baik, dan menumpulkan bashirah (mata hati). Kekenyangan biasanya mendatangkan kebebalan, membutakan hati, dan menyulitkan untuk berpikir jernih.

Kita menyaksikan bahwa korupsi di negeri ini tidak dilakukan oleh orang-orang yang lapar dan berkekurangan. Sebaliknya, korupsi justru didalangi tokoh-tokoh yang kaya-raya dan tidak pernah merasakan perihnya kelaparan.

Banyak tindakan ironis juga muncul dari sosok-sosok seperti ini, semisal perhelatan Miss World, pembelaan terhadap aliran sesat, penolakan terhadap Syariat Islam, dsb.

Bahaya keempat adalah mendorong untuk lupa kepada bala’ dan azab Allah, juga tidak bisa berempati kepada orang-orang yang tertimpa musibah.

Setiap kali seseorang kekenyangan, ia mungkin beranggapan semua orang seperti dirinya sehingga hatinya diliputi kelalaian. Dan, apabila manusia tidak pernah mengingat musibah atau orang yang tertimpa musibah, besar kemungkinan ia juga akan lupa terhadap azab Allah di akhirat sehingga semakin berani bermaksiat.

Bahaya kelima adalah membangkitkan syahwat untuk bermaksiat dan menyulitkan pengendalian hawa nafsu. Sebab, benih semua maksiat adalah syahwat, sedangkan bahan bakar syahwat tidak lain adalah makanan, terutama yang syubhat dan haram.

Bila seseorang mempersedikit makanannya, maka melemah pula syahwatnya. Konon, ummul mu’minin ‘Aisyah pernah mengatakan bahwa bid’ah pertama yang muncul dalam Islam sepeninggal Rasulullah adalah kekenyangan. Sebab, kapan pun seseorang kekenyangan maka ia akan diseret oleh hawa nafsunya untuk memburu dunia dan seluruh kelezatannya, seringkali dengan mengabaikan halal-haram.

Bahaya keenam adalah mendorong untuk banyak tidur dan tidak tahan bangun malam. Imam al-Ghazali berkata, “Tujuh puluh orang teman (yakni, teman beliau) sepakat bahwa banyak tidur disebabkan oleh banyak minum, dan banyak tidur itu menyia-nyiakan waktu, melewatkan shalat tahajjud, membebalkan tabiat, dan mengeraskan hati.”

Bahaya ketujuh adalah menyulitkan untuk kontinyu (mudawamah) dalam beribadah. Sudah pasti aktivitas makan-minum menghabiskan waktu tertentu. Orang yang banyak makan akan sibuk terlalu lama dengan makanannya, atau berkutat sekian waktu untuk mempersiapkan dan memilih-milihnya.

Belum lagi ia pasti akan sering bolak-balik ke kamar kecil untuk kencing dan berak, sehingga waktunya habis untuk urusan-urusan remeh dan tidak sempat beribadah dengan khusyu’. Mungkin ia pun sering kentut sehingga sangat sukar baginya untuk menjaga wudhu’.

Bahaya kedelapan adalah datangnya beragam penyakit dan kondisi tubuh yang tidak fit. Menurut Imam al-Ghazali, penyakit bermula dari banyak makan dan menumpuknya kelebihan zat makanan di dalam perut maupun urat.

Tentu saja penyakit akan menghalangi seseorang dari ibadah, meresahkan hati, membuatnya sulit berdzikir dan merenung, serta memaksanya mengeluarkan biaya-biaya ekstra yang mestinya bisa disalurkan ke pos-pos lain seperti sedekah, wakaf, haji, umrah, jihad, pendidikan, dsb.

Bahaya kesembilan adalah meningkatkan dan mempermahal biaya hidup. Banyak orang tercekik hutang gara-gara tidak bisa menahan nafsu makannya. Ia diperbudak perutnya sehingga terus-menerus lapar dan memburu makanan dari segala jenis, rasa, campuran, bumbu, dsb.

Padahal, seorang mukmin adalah sosok yang murah biaya hidupnya, sebab hasratnya bersahaja dan keinginannya pun tidak muluk-muluk. Oleh karenanya, seorang Ahli Hikmah berkata, “Sungguh aku memenuhi sebagian besar kebutuhanku dengan cara mengabaikannya, dan hal itu membuat hatiku merasa sangat nyaman.”

Orang yang banyak makan, jika tergolong kaya ia akan menghambur-hamburkan hartanya; namun jika tergolong miskin maka hatinya akan ditumbuhi ketamakan kepada hak milik orang lain yang kemudian mendorongnya untuk mencuri, menipu, curang, dsb.

Bahaya kesepuluh adalah berat untuk bersikap itsar (mendahulukan orang lain) dan bersedekah kepada fakir-miskin, anak yatim, dll. Orang yang terjangkiti penyakit gemar makan pasti egois dan pelit. Ia akan mendahulukan keinginannya untuk mencicipi makanan ini-itu, bukannya membantu orang lain yang kelaparan dan hidup serba kekurangan.

Demikianlah sepuluh bahaya kekenyangan. Adapun faedah-faedah lapar dan puasa, dapat dipahami dari kebalikannya seperti: menjernihkan hati, menggelorakan tabiat baik, menajamkan mata hati, dst.

Melalui puasa Ramadhan, Allah mengarahkan kita untuk meraih manfaat-manfaat tsb, sekaligus menghindari bahaya-bahaya yang mengancam. Semoga Allah memberi taufik kepada kita untuk mengamalkannya. Amin. Wallahu a’lam.

Ustadz Alimin Mukhtar

Amil BMH Rapid Antigen untuk Layanan Kebaikan Tanpa Batas

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) –– Guna memastikan layanan yang maksimal dan optimal serta aman dan menenangkan muzakki maupun mustahik, Laznas BMH Pusat wajibkan seluruh amilnya mengikuti rangkaian tes rapid antigen, Selasa (12/4/2021).

“BMH wajibkan semua amil mengikuti tes rapid antigen dan ini insha Allah akan digulirkan secara berkala sebagai wujud komitmen BMH berikan layanan kebaikan tanpa batas kepada muzakki maupun mustahik, sehingga amil BMH menjadi pihak yang ikut serta memutus mata rantai penularan virus Covid-19, terlebih sebagian amil yang secara langsung harus bertugas bertemu dengan banyak pihak,” terang Direktur Utama Laznas BMH, Supendi.

Data terbaru sebagaimana disampaikan oleh Satuan Tugas Penanganan Covid-19 (12/4) Kasus aktif Covid-19 di Indonesia hingga Senin (12/4/2021) mencapai 109.372 orang. Data ini bisa diakses juga melalui Data juga bisa diakses di laman www.covid19.go.id yang diperbarui setiap sore.

“Jadi Covid-19 masih ada di tengah-tengah kita. Dan, sebagai wujud komitmen aman dan menenteramkan semua pihak, Laznas BMH akan memastikan semua amilnya negatif dari paparan virus dengan sebaik-baiknya,” tutup Supendi.*/Herim

Menikmati Indahnya Ajaran Islam dengan Artikulasi Manhaj

LEBAK (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Dr. Nashirul Haq, MA, menyampaikan taushiyah bakda Shubuh di Masjid Baitul Hidayah Kampung Mualaf Suku Baduy Lebak Banten, Ahad (11/4/2021).

Dalam paparannya ditekankan bahwa kader Hidayatullah di masa kini harus mampu mengartikulasikan manhaj dengan baik.

“Dahulu, kader-kader yang ada bisa merasakan nikmatnya Islam ini tetapi tidak bisa membahasakannya. Saat ini, kader-kader harus mampu mengartikulasikan Islam ini dengan manhaj Sistematika Wahyu agar publik mengerti bagaimana cara menikmati indahnya ajaran Islam ini,” urainya di hadapan seluruh jajaran pengurus DPW dan DPD Hidayatullah se-Banten.

Oleh karena itu, segenap kader Hidayatullah kata pria yang juga akrab disapa UNH harus berupaya memahami betul jati diri Hidayatullah, sebagai pergerakan dan juga organisasi modern.

“Hidayatullah adalah sebuah pergerakan (harakah) disaat yang sama juga organisasi modern. Jadi kemampuan mengartikulasikan jati diri kemudian manhaj menjadi satu syarat mutlak untuk dakwah dan tarbiyah berjalan secara efektif dan massif,” tegasnya.

Lebih jauh UNH memberikan sebuah petikan hikmah bahwa sebenarnya yang menjadi kekuatan yang dapat mengantarkan umat Islam sampai pada tiitk kemenangan adalah spirit iman dan amal sholeh.

UNH sendiri dijadwalkan membuka peresmian Masjid Baitul Hidayah di Kampung Mualaf Baduy yang berada di Kampung Ciater, Kecamatan Leuwi Damar, Lebak Banten.

Masjid Baitul Hidayah ini sendiri merupakan buah kebajikan kaum muslimin dan muhsinin melalui Laznas BMH serta berbagai pihak. Pada peresmian tersebut turut hadir unsur UPZ Bank DKI dan Mandiri Amal Insani serta donatur dan muzakki.

“Alhamdulillah, Masjid Baitul Hidayah ini akan menjadi pusat kegiatan keagamaan dan pendidikan warga mualaf Suku Baduy, yang sejauh ini di bawah bimbingan dai tangguh BMH Banten, Ustadz Supriyanto perkembangan ke-Islam-an warga sangat baik,” terang Kepala BMH Perwakilan Banten, Bati Andalo.*/Imam Nawawi

Semarak Sambut Ramadhan di Kampus Hidayatullah Gutem

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Kampus Hidayatullah Ummul Qura, Balikpapan, Kalimantan Timur, menggelar acara Tarhib Ramadhan 1442H di Masjid Ar-Riyadh, Gunung Tembak, Sabtu (10/04/2021) pagi. Acara yang berlangsung sejak bakda subuh ini mengangkat tema “Talaqqi Al-Qur’an Bangun Peradaban”.

Acara yang disiarkan secara live streaming lewat akun Youtube LPPH Gunung Tembak ini diikuti dan disaksikan lebih dari dua ribu peserta, baik yang offline maupun online.

Hadir sebagai pemateri utama pada Tarhib Ramadhan ini yaitu Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Dr Nashirul Haq, MA.

Turut pula memberikan tausiyah yaitu Perintis Hidayatullah yang juga Ketua Dewan Pembina Hidayatullah Ummul Qura Ustadz Hasyim HS, serta Ketua Badan Pengurus Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH) Balikpapan Ustadz Hamzah Akbar.

Acara Tarhib Ramadhan 1442H Hidayatullah Ummul Qura ini dirangkai dengan sejumlah kegiatan, yaitu Pemberian Sanad Al-Qur’an Qiraah ‘Ashim, Sosialisasi Program YPPH, Galang Infaq Sahur dan Buka Puasa, serta Pembacaan Surat Keputusan (SK) Penugasan Santri Sekolah Menengah Hidayatullah (SMH) Madrasah Aliyah Raadhiyatan Mardhiyyah Putra.

Ustadz Nashirul Haq dalam tausiyahnya menekankan pentingnya talaqqi Al-Qur’an bagi seluruh jamaah dan kader Hidayatullah, baik yang masih usia dini maupun yang telah dewasa bahkan para orangtua.

Kepada para ayah dan ibu, Ustadz Nashirul menyerukan agar mereka mulai membiasakan anak-anak mereka dekat dengan Al-Qur’an sejak usia dini bahkan sejak sebelum sang anak lahir sekalipun.

“Sejak dalam kandungan (anak) sudah diperdengarkan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an. Dan itu pastinya memberi pengaruh. Pada saat lahir diperdengarkan lagi secara tartil,” ujar alumnus Universitas Islam Madinah ini.

Begitu pula seterusnya, kata Nashirul, dalam setiap jenjang perkembangan sang anak, selalu didekatkan dengan Al-Qur’an antara lain dengan dibacakan.

“Insya Allah dalam umur 5 tahun dia sudah jadi hafizh Qur’an,” ujarnya seraya mengambil contoh para ulama terdahulu yang telah hafal Al-Qur’an sejak usia dini.

Tentunya, Ustadz Nashirul mengingatkan, untuk bisa mengantarkan anak-anak kaum Muslimin membaca Al-Qur’an dengan benar sejak bayi, “Maka orangtuanya juga harus ditalaqqi terlebih dahulu.”

Inilah kata dia yang diterapkan Hidayatullah kepada para generasi pelanjutnya saat ini.

Di Hidayatullah Gunung Tembak, misalnya, beberapa tahun belakangan ini marak ghirah para sesepuh dan orangtua yang belajar secara talaqqi kepada para pengajar muda yang telah menguasai bacaan Al-Qur’an bersanad.

Begitu pula, tidak sedikit anak sekolah usia dini yang mulai diajarkan cara membaca Al-Qur’an sesuai riwayat yang langsung bersumber dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Terkait itu pula, Ustadz Nashirul kembali menyegarkan bahwa Al-Qur’an adalah mukjizat dari Allah, sehingga siapa saja termasuk para orang tua untuk terus menyelami dan tak berhenti dalam mempelajarinya.

Kata beliau, Allah akan memberikan kemudahan kepada siapa saja yang mau mempelajari Qur’an. Meskipun anak-anak kata dia akan lebih cepat menguasai atau menghafal Al-Qur’an. “Kalau orangtua lambat hafalnya cepat lupanya,” ujarnya.

Di penghujung acara Tarhib Ramadhan 1442 H tersebut, dilakukan lelang amal atau penggalangan dana untuk berbuka puasa dan sahur para ustadz dan santri Hidayatullah Ummul Qura.

Tampak warga, santri, ustadz, dan para jamaah begitu antusias menyambut lelang amal tersebut. Mereka berbondong-bondong mendaftarkan dirinya untuk turut berinfaq, baik yang memberikan langsung secara tunai maupun via transfer.

Termasuk sejumlah santri yang barusan dibacakan SK-nya, turut menyumbang. Ada yang menyatakan siap berinfaq Rp 200 ribu, ada yang Rp 50 ribu. “Al-Fath 200 ribu,” ujar Ustadz Irwan Budiana, Kepala SMH, yang memimpin pelelangan tersebut.

“Adik adik santri yang mau berinfaq Rp 200 ribu untuk memberi makan orangtua atau santri silakan angkat tangan!” ujarnya ke arah para santri.

Lalu kemudian, para santri diserukan untuk berinfaq minimal Rp 20 ribu. “Siap, Bisa!” jawab para santri di ruang utama Masjid Ar-Riyadh.

Begitu pula di Youtube, jamaahnet –istilah untuk warganet– turut berpartisipasi. Ada yang menyatakan siap menyumbangkan dana ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Insya Alloh 1 juta rupiah,” tulis akun Nana Bpn mengomentari tayangan di Youtube tersebut.*/Media Center Hidayatullah Ummul Qura

Waspada, Begini Cara Syetan Menunggangi Amal Shalih Kita

BILA SESEORANG bermaksiat, sangat mudah menemukan di mana godaan syetan berada. Tapi, ketika ia beramal shalih, seringkali cara syetan menggoda teramat samar sehingga amalnya tidak lagi murni untuk Allah dan tertolak, atau minimal cacat.

Oleh karena itu, Ibnu ‘Athaillah berkata dalam al-Hikam (Bab 17), “Peran nafsu dalam kemaksiatan itu terlihat lagi nyata, sementara perannya dalam ketaatan tidak tampak lagi tersembunyi”.

Sebagai misal, bila telah tumbuh kesadaran untuk menutup aurat di hati seorang wanita, ia akan berjilbab dan mengenakan pakaian lebih longgar. Tentu saja, ini adalah perubahan yang sangat baik dan harus diapresiasi.

Tapi, mustahil syetan diam. Ia telah bersumpah menggelincirkan manusia dari segala penjuru (lihat: QS al-A’raf: 16-17). Di titik ini, mula-mula wanita itu dirayu untuk mengurungkan niatnya dan batal berjilbab. Diciptakannya bayangan-bayangan menakutkan yang menciutkan nyalinya sehingga mundur.

Bila ia berhasil menepis bisikan-bisikan tersebut dan memutuskan untuk tetap berjilbab, apakah syetan menyerah? Tidak. Syetan maju ke tingkatan berikutnya yang sangat halus. Syetan mencampurkan hawa nafsu ke dalam amal shalihnya, sehingga tidak tulus lagi.

Mungkin, wanita itu akhirnya tetap memakai baju yang menutup seluruh auratnya, namun ukurannya ketat dan membentuk lekuk-liuk tubuh. Atau, pakaiannya cukup longgar namun warna dan modelnya mencolok sehingga menarik perhatian setiap laki-laki.

Alhasil, apa yang semula dimaksudkan untuk menyembunyikan perhiasan dan membendung fitnah, kini justru menjadi perhiasan itu sendiri dan membuka pintu-pintu fitnah lainnya.

Contoh lain, seseorang membaca hadits: “Barangsiapa yang melihat suatu kemunkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak bisa, maka dengan lisannya. Jika tidak bisa, maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman.” (Riwayat Muslim, dari Abu Sa’id al-Khudriy). Maka, ia pun bangkit menyerukan kebajikan dan melarang kemaksiatan.

Tentu Allah sangat gembira melihat hamba-Nya berbuat demikian. Sebab, di dalam Al-Qur’an Allah menyanjung kaum muslimin dan menyifatinya sebagai kaum yang gemar beramar ma’ruf nahi munkar:

“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia. Kalian menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS Ali ‘Imran: 110)

Tapi, apakah syetan diam saja? Jelas tidak. Ia akan menyerang melalui pintu yang kadang tidak tersadari.

Boleh jadi, syetan membiarkan orang itu menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, namun dibisikkannya perasaan sombong, sok hebat, menganggap remeh orang lain, gemar berdebat, malas bertabayyun, mudah mengkafirkan, berani mencemarkan kehormatan orang lain, bahkan menghalalkan darah sesama muslim.

Maka, amal yang sangat mulia pun berubah menjadi alat syetan untuk merusak semua pihak, baik si penyeru maupun yang diseru. Syetan benar-benar tidak melewatkan satu celah pun dari amal shalih manusia. Kadang ia sudah puas bila berhasil membuat amal itu cacat, meski tidak batal seluruhnya.

Kasus lain bisa kita ambil dari dunia pendidikan. Mengajar dan menyebarkan ilmu adalah aktivitas yang sangat mulia. Rasulullah bersabda, “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat! Ceritakan kisah dari Bani Israil, dan itu tidak masalah! Barangsiapa yang berdusta atas (nama)ku, maka silakan ambil tempat duduknya di neraka!” (Riwayat al-Bukhari, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash).

Masih banyak hadits lain yang menganjurkan untuk mempelajari dan mengajarkan ilmu pengetahuan. Pada dasarnya, Islam sangat memperhatikan pendidikan sehingga profesi guru memiliki kedudukan yang sangat terhormat di mata syariat.

Tapi, apakah syetan cuek saja menyaksikan manusia menempuh jalan ini? Pasti tidak. Ia segera menyuntikkan racun-racunnya, baik secara tersembunyi maupun terang-terangan.

Bila kita seorang guru/dosen, mari mengintrospeksi diri: sudah tuluskah niat kita dalam mengajarkan ilmu kepada murid/mahasiswa? Bila kita berupaya keras agar mereka meraih prestasi yang membanggakan, untuk siapakah semua itu? Benarkah demi kebaikan mereka, atau hanya untuk prestise dan gengsi kita pribadi?

Mengapa kita mati-matian mengusahakan mereka lulus Ujian Nasional (UN)? Apakah untuk menyongsong masa depan mereka sendiri, atau untuk menyelamatkan muka dan karir kita di hadapan Kepala Sekolah, pejabat Dinas Pendidikan, dan masyarakat? Apakah semua kerja keras itu betul-betul demi melestarikan ilmu pengetahuan dan dalam rangka ibadah, atau sebatas perlombaan meraih piala dan tepuk tangan manusia?

Sungguh, syetan tidak rela kita beramal shalih dan mendapat balasan sempurna. Dia selalu berusaha menyusup lalu mencemari kejernihannya.

Kita bisa meneliti setiap jengkal amal shalih yang lain dengan cara ini. Sebab, sebagaimana dikatakan Ibnu ‘Athaillah di muka, peran nafsu di balik amal-amal shalih sangat samar dan sukar dideteksi. Jadi, waspadalah!

Sampai di sini, barangkali kita menjadi sedih mendapati banyak amal shalih yang bopeng di mana-mana. Namun, Rasulullah bersabda yang diriwayatkan al-Bukhari, dari Abu Hurairah, berbunyi seperti berikut:

“Tidak seorang pun yang diselamatkan oleh amalnya,” kata Rasulullah. Para Sahabat bertanya, “Tidak juga Anda, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Tidak juga saya, kecuali jika Allah melimpahi saya dengan rahmat-Nya. Berusahalah untuk tepat dan mendekati (amal terbaik)! Beramallah di pagi hari, siang hari, dan sebagian dari penghujung malam! Bersikaplah pertengahan dalam beramal! Bersikaplah pertengahan dalam beramal! Niscaya kalian akan sampai (kepada tujuan)”.

Jadi, teruslah beramal meski berat dan selalu diintai syetan. Mintalah pertolongan Allah agar dimenangkan, dan secara bersamaan dimaafkan atas segala kekhilafan maupun kekurangsempurnaan. Wallahu a’lam.

Alimin Mukhtar

Kiprahnya Nyata, Masyarakat Diajak Berzakat Infak di BMH

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Direktur Utama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Mohamad Arifin Purwakananta mengungkapkan rasa bangga dan apresiasi kepada Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) yang telah berkiprah secara nyata dalam berbagai bidang keumatan.

“Teman teman Hidayatullah ini penebar kebaikan yang luar biasa. Kalau dibandingkan dengan Baznas, kami sebagai pimpinan Baznas mencatat BMH sering sekali mendapatkan award,” kata Arifin.

Hal itu disampaikan Arifin Purwakananta dalam acara Publik Ekspose Ramadhan 1442 Kebaikan Tanpa Batas Laznas BMH yang digelar di Hotel Sofyan, Jakarta, Kamis (8/4/2021).

Arifin mengaku telah lama mengenal kiprah Laznas BMH terutama melalui jaringan Pesantren Hidayatullah yang ada di seluruh Indonesia.

Hal itu misalnya ia saksikan saat terjadi bencana alam dahsyat melanda Sulteng dimana Laznas BMH menjadi salah satu terdepan membantu korban gempa bumi berkekuatan 7,4 Mw diikuti dengan tsunami yang melanda pantai barat Pulau Sulawesi, Indonesia, bagian utara pada tanggal 28 September 2018 itu.

Atas berbagai kipahnya tersebut, lanjut Arifin, BMH pun mendapatkan banyak penghargaan. Tahun lalu mendapatkan anugerah award dalam bidang pendistribusian zakat terbaik di Indonesia. Selain itu, juga award dalam kategori keorganisasian terbaik.

“Saya senang sekali, BMH telah memberikan contoh yang terbaik. Jadi, boleh ditulis oleh teman teman media, ajak masyarakat berzakat berinfak bersedekah melalui Laznas BMH karena sudah sangat terbukti baik,” kata Arifin.

Arifin menyebutkan, BMH dikenal sebagai Laznas yang mendorong dakwah ke berbagai pelosok. Menurutnya, hal itu merupakan kekuatan BMH yang harus terus dibangun.

“Saya mohon itu dijadikan program yang terus dibangun dan kita akan terus bersinergi untuk memberikan penguatan kepada wilayah wilayah yang terpencil, terluar, terdepan yang menjadi ladang dakwahnya BMH,” kata Arifin.

Menyambut bulan suci Ramadhan 1442, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah menggelar Publik Ekspose Ramadhan 1442 Kebaikan Tanpa Batas “Siapapun & Dimanapun Bisa Berbagi”.

Dalam acara tersebut juga dilakukan peluncuran program “Lumbung Pangan Santri” yang saat ini sudah berjalan selama 2 tahun pada lahan seluas 1 hektar di Pesantren Hidayatullah Pebayuran Bekasi dan akan mempeluas kebermanfaatan hingga 100 hektar sawah pada 2021.

Turut hadir berbagi inspirasi kebaikan dalam kesempatan tersebut Direktur Operasional BMH Ade Syariful Alam, Direktur Marketing Tri Winarno, influencer kebaikan yang juga selebriti tanah air Cholidi Asadil Alam dan Wakil Pemimpin Redaksi Republika Nur Hasan Murtiaji. (ybh/hio)

Hidayatullah Amahai Teguhkan Pesantren Tangguh Nusantara

MASOHI (Hidayatullah.or.id) – Pondok Pesantren Hidayatullah yang terletak di KM 12, Kelurahan Holo, Kecamatan Amahai, Kabupaten Maluku Tengah, ditetapkan sebagai Pondok Pesantren Tangguh Nusantara (PTN) Nusa Ina.

Penetapan ini sebagai PTN dimasa pandemi Covid-19 ini idilakukan langsung oleh Kapolsek Amahai, Iptu Irwan, belum lama ini (26/3/2021).

Kapada Siwalimanews, Kapolsek menjelaskan, penetapan PTN, adalah bentuk pelaksanaan program seratus hari kerja Kapolri dalam memberdayakan masyarakat di masa pandemi Covid-19 saat ini.

Olehnya Polsek Amahai setelah melakukan penilaian yang ketat, akhirnya memutuskan Ponpes Hidayatullah, sebagai PTN, untuk selajutnya diberdayakan.

“Peluncuran PTN yang kami gelar saat ini, adalah wujud implementasi 100 hari kerja Kapolri dalam upaya memberdayakan masyarakat. Dimana kami Polsek Amahai melakukannya, dengan menetapkan Pondok Pesantren Hidayatullah sebagai PTN,” ujar Kapolsek.

Selain itu, Ponpes Hidayatullah dalam seluruh kegiatan selama ini juga telah berperan aktif membantu tugas kepolisian dalam menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat di wilayah hukum Polsek Amahai.

“Polsek Amahai memandang serta telah merasa sebagai bagian dari keluarga Ponpes Hidayatullah dalam upaya melakukan syiar agama Islam, yang secara tidak langsung telah mencerdaskan anak bangsa yang religius, nasionalis dan mandiri, sehingga tujuan ini tentu sama dengan misi Polsek Amahai. Olehnya tidak salah, kami tetapkan Ponpes Hidayatullah sebagai PTN,” ucapnya.

Sinergitas Ponpes Hidayatullah dengan Polsek Amahai juga dalam upaya memelihara situasi kamtibmas diharapkan dapat terus dibangun.

Selain itu, Kapolsek juga minta agar Ponpes Hidayatullah dapat tetap mematuhi protokol kesehatan dengan tetap mengunakan masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan.

Pada peluncuran PTN itu, Kapolsek juga menyerahkan sejumlah bantuan, diantaranya penyerahan hewan ternak kambing 9 ekor, bantuan bibit pertanian serta sejumlah bantuan lainnya.

Pimpinan Ponpes Hidayatullah Ustad Isnain Rahayaan pada kesempatan itu menyampaikan penghargaan kepada Polsek Amahai yang telah menetapkan Ponpesnya sebagai PTN di sektor pertanian di masa pandemi Covid-19 saat ini.

Ia menjamin akan terus menjaga hubungan silaturahmi dengan Kapolsek dan jajaran serta seluruh jajaran kepolisian di lingkungan Polres Malteng, demi mewujudkan generasi bangsa yang religius dan mandiri serta terus menjaga stabilitas ketertiban dan keamanan masyarakat.

“Kami sangat berterima kasih dan berikan apresiasi serta penghargaan yang tinggi bagi Kapolsek Amahai dan Jajaran yang telah menetapkan lembaga kami sebagai PTN serta sejumla bantuan yang telah kami terima. Kami pastikan akan tetap jaga hubungan silaturahmi ini demi mewujudkan harapan bersama kita dalam memelihara kamtibmas serta mewujudkan generasi muda bangsa yang religius dan mandiri,” ucapnya.*/siwalima

BMH Luncurkan Ramadhan “Kebaikan Tanpa Batas”

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Stakeholder zakat di Tanah Air dari berbagai latar belakang berbagi inspirasi kebaikan dan mendukung program Ramadhan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) yang pada Ramadhan 1442 mengangkat tagline “Kebaikan Tanpa Batas”.

Selebriti tanah air Cholidi Asadil Alam yang juga dikenal sebagai Azzam dalam pemeran utama film layar lebar “Ketika Cinta Bertasbih” berbagi kesan kebajikan, terutama dalam kiprahnya di dunia entertainment.

Ia pun mengajak khalayak luas untuk bersama sama menggelorakan semangat kebajikan melalui program Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) yang pada Ramadhan 1442 mengangkat tagline “Kebaikan Tanpa Batas”

“Hidup bukan sekedar uang tapi juga keberkahan, bukan hanya bekerja, tapi juga dapat pahala,” kata Cholidi dalam acara Publik Ekspose Ramadhan 1442 Kebaikan Tanpa Batas Laznas BMH yang digelar di Hotel Sofyan, Jakarta, Kamis (8/4/2021).

Cholidi pun mengisahkan sejumlah keikutsertaannya dalam berbagai program kebaikan BMH, termasuk perjalanannya bersama relawan BMH menembus medan sulit sejumlah desa di Kabupaten Lebak Banten yang dilanda longsor dan banjir bandang pada Desember 2020 lalu.

“Saya hanya berbagi, tidak ada maksud menggurui. Saya juga di dalam dunia entertainment, saya hanya main pada film yang ada misi kebaikannya. Ayo mari kita bersama sama berbagi kebaikan bersama BMH,” katanya.

‘Azzam’ mengatakan, hidup harus juga mendapat keberkahan. Bukan semata bekerja atau mencari keuntungan dunia melainkan juga berusaha mendulang pahala dengan sekecil apapun kebaikan yang dilakukan.

“Mari kita menebar kebaikan tanpa batas bersama BMH,” katanya di hadapan hadirin undangan dan wartawan.

Sementata itu, Direktur Marketing BMH, Tri Winarno, mengatakan kebaikan tanpa batas selayaknya menjiwai semua elemen umat. Dari seorang amil zakat, jelas dia, maka ini adalah satu momentum terbaik untuk menghubungkan kebaikan antara muzakki dan mustahik.

“All out melayani umat dalam kebaikan di bulan Ramadhan. BMH telah menyediakan beragam kemudahan donasi guna mewadahi semangat kebaikan tanpa batas para muzakki untuk memberdayakan sesama, terutama para mustahik,” katanya.

Dia menambahkan, dengan jaringan yang tersebar di 34 propinsi BMH menjadi lembaga amil zakat nasional yang siap sedia melayani para muzakki di berbagai tempat demi kebermanfaatan program yang luas hingga pelosok Tanah Air selama Ramadhan 1442 H.

Direktur Utama Baznas, Arifin Purwakananta mengakui kiprah dan perjuangan BMH di dalam gerakan zakat Tanah Air.

Menurut Arifin, BMH telah berkiprah luar biasa dan memenuhi jargon 3 kriteria syarat lembaga zakat yaitu, pertama, aman syar’i. Kedua, aman regulasi. Dan, ketiga, aman NKRI.

Dia menjelaskan, BMH secara syariah sesuai apa yang diperintahkan oleh Allah melalui Rasulullah SAW. Adapun aman secara regulasi, yakni BMH mengikuti perundangan undangan dan peraturan.

“Laznas BMH adalah salah satu dari laznas yang terdaftar diakui oleh negara, amanah, profesional dan diaudit oleh akuntan publik setiap tahunnya,” kata Arifin.

Sementara aman NKRI, dijelaskan Arifin, adalah apa yang telah disalurkan BMH semuanya ikut membangun seluruh bangsa karena bangsa ini, mau tidak mau, adalah bangsa dengan umat Islam terbesar di dunia.

Tidak hanya itu, Arifin secara langsung mendorong kinerja BMH dan mengajak publik untuk bermitra dengan BMH. “Boleh ditulis teman-teman media, ajak masyarakat, berzakat, infaq, sedekah, melalui Laznas BMH,” ujarnya yang disambut applause para hadirin.

Wakil Pemred Republika, Nur Hasan Murtiaji juga menyampaikan bahwa BMH selalu punya cerita kebaikan.

“Program-program BMH ini memang program-program yang tagar itu pas banget, ya, kebaikan tanpa batas. Salah satu yang mungkin saya sorot selain lumbung pangan santri ini, itu program yang sumur bor,” kata Nur Hasan.

“Program ini berbuah kebaikan tanpa batas juga, karena BMH membuat sumur bor itu di daerah-daerah yang kekurangan air, jadi itu luar biasa,” tuturnya menambahkan.

Menutup rangkaian publik ekspose BMH meluncurkan program lumbung pangan santri di Indonesia yang ditandai dengan pemukulan bedug bersama-sama seluruh nara sumber.

Pada kesempatan itu, seluruh hadirin juga diberikan kesempatan menikmati buah karya program unggulan BMH di bidang ekonomi Sekolah Ibu Hebat berupa aneka makanan berbahan baku ikan. (ybh/hio)

Semarak Tarhib Nasional 1442, Sambut Ramadhan Momentum Konsolidasi

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Menyambut bulan suci Ramadhan yang tinggal beberapa hari lagi, Hidayatullah menggelar Tarhib Nasional 1442 dengan topik “Ramadhan Momentum Konsolidasi Spritual dan Keumatan” digelar secara live streaming dengan peserta luring terbatas di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Cipinang Cempedak I/14, Otista Polonia, Jakarta, Selasa (6/4/2021).

Hadir pemateri Anggota Dewan Pertimbangan Ust Drs Hamim Thohari, Ketua Dewan Murabbi Pusat Ust Dr Tasrif Amin, Ketua Dewan Mudzakarah Ust Drg Fadhul Adzim M.Kes dan Ketum DPP Hidayatullah Ust Dr Nashirul Haq serta Ketua merangkap Anggota Ketua Majelis Penasehat Ust Hasan Ibrahim, MA.

“Alhamdulillah, kita dipertemukan oleh Allah SWT menjelang bulan suci Ramadhan ini untuk saling memotivasi, saling memberikan tasji’, agar kita memasuki bulan Ramadhan dalam keadaan siap lahir dan batin,” kata Ketum DPP Hidayatullah Ust Dr Nashirul Haq saat menyapa hadirin online maupun offline.

Kata beliau, untuk memasuki bulan suci ini, kita harus memiliki kesiapan mental sebab itulah bekal yang paling utama. Manakala ada tekad dalam diri kita, maka seberat apapun tantangan yang dihadapi akan semakin ringan.

“Dengan sikap mental menyambut Ramadhan dengan penuh antusias maka kita akan menikmati segala bentuk ibadah ritual maupun ibadah sosial di bulan suci Ramadhan,” katanya.

Beliau menjelaskan, Ramadhan tidak saja sebagai momentum konsolidasi spiritual dan maupun keummatan, ia juga diharapkan mengantarkan kader menjadi figur yang shaleh secara pribadi dan juga shaleh secara sosial.

Dia mengatakan, telah sejak lama Hidayatullah sudah menetapkan visi Ramadhan yaitu tercapainya tri sukses; sukses ibadah, sukses tarbiyah dan sukses layanan umat. Hal itulah, terang beliau, yang menjadi visi Ramadhan yang selalu dicanangkan oleh pendiri Hidayatullah almarhum Ust Abdullah Said.

“Pada saat ada pengetatan ibadah ritual untuk memaksimalkan munajat kita kepada Allah SWT, sampai harus shalat tahajjud selama 4 jam, pada saat yang sama di siang hari beliau tidak membenarkan untuk menyia-nyiakan waktu apalagi sekedar untuk tidur tiduran,” kata Ust Nashirul mengemukakan kuatnya penerapan visi Ramadhan almarhum Abdullah Said di masa hidupnya.

“Kami ingat, waktu itu, asrama diperiksa satu satu oleh Pak Haji Wakiyo selaku kepala kampus dan tidak ada yang boleh merebahkan badan pada pagi hari itu,” imbuhnya.

Untuk pelayanan umat, para dai juga disebar dan digelorakan semangat dakwahnya. Demikianlah, kata Nashirul, kultur Hidayatullah dalam setiap kali menjalani ibadah suci Ramadhan yakni melakukan konsolidasi ruhiyah (taqwiyah ruhiyah) dan konsolidasi keummatan (taqwiyatul ummah).

“Kita semua sudah menyadari dan merasakan bahwa dengan beratnya beban amanah dakwah dan perjuangan, yang, di waktu yang sama, kita penuh dengan kekurangan baik secara pribadi dan kelembagaan, bahkan tidak ada diantara kita ini yang memiliki kehebatan, maka andalan utama kita adalah ma’unah dan bantuan dari Allah SWT,” katanya.

Karena itu, lanjut beliau, momentum Ramadhan inilah saatnya betul betul serius untuk menyadap kekuatan (haul wa quwwah) dari Allah SWT.

Dalam pada itu, Ust Nashirul juga mendorong agar Ramadhan menjadi kesempatan istimewa untuk melakukan tarbiyah ruhiyah yang setelahnya terus dikuatkan dengan Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH) atau amalan harian sebagaimana telah dicanangkan Hidayatullah.

Ia mengatakan, jika pada tahun sebelumnya kader dianjurkan membaca Al Qur’an minimal 3 juz perhari. Maka, tahun ini, target itu harus diitingkatkan lagi dengan tidak saja menargetkan menyelesaikan bacaan Qur’annya (qiraatan wa tilawatan) melainkan juga melakukan pengkajian atau tadabbur (fahman wa tadabburan) melalui program talaqqi.

“Kami mengajak untuk memprogramkan Gerakan Talaqqi Nasional yang kita mulai dari talaqqi Al Qur’an. Sebab, dari amatan kami di DPP, bahwa taklim kolosal tahsin Qur’an selama ini kurang efektif meskipun itu sudah banyak sekali perubahan. Semoga pada bulan Ramadhan ini talaqqi bisa dimaksimalkan,” imbuhnya.

Hidayatullah di daerah dari Aceh hingga Papua juga turut menyemarakkan acara ini dengan menyimak khidmat acara ini melalui saluran channel Hidayatullah ID di YouTube. Umumnya menggelar nonton bareng di pusat-pusat kegiatan seperti di kantor dan di masjid.

Pada kesempatan tersebut sekaligus dilakukan pembacaan SK Pengangkatan Pengurus Korps Muballigh Hidayatullah yang dibacakan oleh Wakil Sekretaris Jenderal I Ust Abdul Ghaffar Hadi. (ybh/hio)

Dakwah Tarbiyah Mainstream Gerakan Seumur Hidup

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah KH Dr Nashirul Haq, MA, mengatakan, dakwah dan tarbiyah adalah merupakan arus utama (mainstream) gerakan Hidayatullah yang mesti dijalani dan dikuatkan seumur hidup. Dia menegaskan mainstream gerakan ini harus dilakoni hingga akhir zaman.

“Saya katakan bahwa mainstream dakwah dan tarbiyah ini merupakan arus gerakan seumur hidup, hingga akhir zaman kita lakukan karena itu pulalah misi yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallaahu Alaihi Wasallam,” katanya.

Hal itu disampaikan beliau dalam sambutan penutupan Daurah Musyrif Gerakan Nasional Dakwah Mengajar dan Belajar Al Qur’an (Grand MBA) yang mengangkat tema “Standarisasi Musyrif Majelis Qur’an & Rumah Qur’an Hidayatullah Dalam Gerakan Dakwah Mengajar Belajar Al Qur’an”, Ahad (4/4/2021).

Ia menjelaskan, dakwah dan tarbiyah adalah gerakan ekspansi Islam sebagai jalan keselamatan, dekapan kebahagiaan serta rahmat untuk alam semesta. Penyebarluasan Islam ini sebagaimana juga dilakukan oleh Nabi ketika mengutus Mush’ab bin Umair berdakwah Madinah, setelah ditarbiyah oleh Nabi di Makkah.

Demikian pula sahabat Nabi lainnya yang diutus berdakwah ke berbagai penujur negeri. Diantaranya misalnya ada Muadz bin Jabal yang dikirim ke Yaman atau sahabat Saad bin Abi Waqqas yang bertugas ke daratan Cina.

Nashirul mengumbuhkan, segala sumber daya harus dikerahkan untuk kepentingan dakwah dan tarbiyah. Demikian pula kekuasaan sebagai wasilah untuk menghantarkan umat bisa meniti jalan Al Quran dan jalan Islam.

“Maka ketika Rasulillah menaklukkan Makkah, sama sekali tidak ada pertumpahan darah karena strategi dakwah Rasulullah SAW itu memang mengikuti manhaj Quran yang ada periodisasi, marhalah, atau tahapan tahapannya. Itulah hakikat daripada makna tarbiyah,” jelasnya.

Dakwah dan tarbiyah, Nashirul menjelaskan, harus dilakukan secara bertahap dan tidak boleh serampangan atau parsial. Karena itu, ia mengingatkan, kerja kerja dakwah membutuhkan kesabaran dan keuletan.

Dalam pada itu, Nashirul mengungkapkan, tahapan dakwah yang merupakan pekerjaan seumur hidup ini selaras dengan terma dari seorang sarjana Muslim abad ke-11, Syaikh Abul-Qasim al-Hussein bin Mufaddal bin Muhammad atau lebih dikenal sebagai Raghib Isfahani al-Raghib al-Asfahani dalam kitabnya, Mu‘jam Mufradat Alfaz al-Qur’an, bahwa; “Alrabbu fi al-asli al-tarbiyah wa huwa insyau al-syaiu halan fahalan ila haddi al-tamami”.

“Pada dasarnya arti tarbiyah adalah menumbuhkan sesuatu tahap demi tahap hingga sempurna. Yang namanya tarbiyah itu adalah pembentukan sesuatu sedikit demi sedikit, setahap demi setahap, hingga sampai pada tahap kesempurnaan,” imbuhnya.

Jadi, terang Nashirul, tarbiyah dan dakwah itu tidak ada yang instan, semua melalui proses yang panjang. “Dan ini merupakan substansi daripada manhaj sistematika wahyu. Karenanya, di Grand MBA juga banyak paket-paketnya,” katanya.

Begitu pula dalam konsep dakwah fardiyah Hidayatullah, bahwa setiap kita memiliki level mad’u yang berbeda beda. Ada level pemula, ada yang levelnya baca Qur’an, ada yang tahsin, dan ada yang levelnya pendalaman. Maka dengan demikian, kata Nashirul, tidak ada satupun dai kader Hidayatullah yang lepas dari tugas dakwah.

“Sejak periode lalu kami sudah sering menegaskan bahwa semua kader Hidayatullah adalah aparatnya bidang dakwah departemen komunikasi dan penyiaran. Tidak ada satupun dai Hidayatullah yang tidak mengemban tugas dakwah, itulah makanya ada dakwah fardiyah,” imbuhnya.

Ia pun mendorong kepada kader dai untuk senantiasa meningkatkan kapasitas diri dengan belajar dan mengajar Al Qur’an. Kegiatan daurah ini menurutnya merupakan bagian dari upaya untuk mengantar kader menjadi dai Al Qur’an sehingga jangan sampai diantara kader ada yang minder.

“Bacaan Qur’an saja masih standar, apalagi mau bersanad. Karena itu harus belajar. Itulah sebabnya Grand MBA itu adalah gerakan dakwah mengajar dan belajar Al Qur’an. Habis mengajar, belajar!,” kata beliau memungkasi. (ybh/hio)