JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah Imam Nawawi mendorong Pengurus Wilayah Pemuda Hidayatullah DKI Jakarta terus menguatkan kiprahnya dan tak henti melakukan terobosan demi terobosan untuk kemajuan organisasi.
Imam menekankan, setiap gerakan kita di dalam organisasi ini harus diniatkan karena Allah SWT untuk memajukan Islam. Bukan semata untuk kepentingan organisasi atau komunitas kita, tetapi untuk kemaslahatan umat secara luas.
Dia pun menyampaikan untuk selalu berbesar hati dalam menjalankan amanah dakwah, kendati barangkali jumlah sumber daya masih amat terbatas.
Sumber daya yang masih terbatas, jumlah personil yang mungkin masih sedikit dan kecil, tidak lantas membuat hati kita ikut mengecil. Imam menyebutkan, jika dilakukan penelusuran sejarah akan kita ketahui, sumber daya yang kecil bahkan sama sekali tak diperhitungkan ternyata bisa menumbangkan angkara murka.
“Dari keberadaan kita yang kecil dan mungil seperti ini, kita punya potensi untuk membuat masyarakat Jakarta tercerahkan. Keberadaan kita di pemuda tidak bisa terulang dua kali, maka waktu kita adalah saat ini, hanya saat ini,” ungkapnya ketika menyampaikan sambutan dalam pembukaan Rakerwil PW Pemuda Hidayatullah DKI Jakarta, Selasa (26/1/2021).
Imam berharap, dengan kebaikan program yang dijalankan, PW Pemuda Hidayatullah DKI Jakarta bisa terus menggulirkan agenda “Jakarta Bersanad” di lingkungan gedung dakwah sehinnga ia menjadi magnet baru.
“Mari kita jadikan tempat ini pusat lahirnya beragam produksi manusia, ada yang jadi ulama, guru, pebisnis, dai dan lain sebagainya. Kita berharap, pada usia muda ini kita banyak mendulang prestasi, bukan karena kita tapi karena Islam,” imbuhnya.
Dia menambahkan, Islam adalah ajaran paripurna dan pedoman pilihan masuk akal untuk memajukan harkat dan martabat manusia. Fakta tersebut, kata Imam, tak terelakkan. Dan hari ini, itu terbukti dengan perhatian pemerintah terhadap potensi wakaf sebagai salah satu bagian dari syariat Islam.
Menteri Keuangan menyebut pemerintah terus mengelola wakaf tunai. Bahkan, wakaf tunai tersebut telah dititipkan ke perbankan. Data terakhir, hingga 20 Desember 2020, wakaf tunai yang dititipkan ke perbankan sebanyak Rp 328 miliar dan wakaf tunai itu juga telah digunakan untuk berbagai proyek pembangunan di Indonesia.
“Bayangkan betapa dahsyatnya maslahat ajaran Islam, itu baru dari sisi pengelolaan keuangan wakaf saja. Belum yang lain. Karena itu, ajaran Islam memang tak bisa dipungkiri oleh siapapun,” imbuh Imam.
Namun, Imam mengingatkan, bahwa tidak mungkin wakaf berjalan baik yang sebesar-besarnya dikelola untuk kepentingan umat jika ada ketidakadilan dan pada waku yang sama kita juga harus memiliki visi jangka panjang.(ybh/hio)
MAMUJU (Hidayatullah.or.id) — Luar biasa pengabdian relawan dalam tanggap darurat bencana gempa bumi yang melanda Majene, Mamuju, Sulawesi Barat. Gempa bumi mengguncang Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, ini terjadi pada Jumat 15 Januari 2021 pukul 02.28 Wita.
Relawan dari berbagai elemen masyarakat dan warga bahu membahu melakukan tanggap darurat. Siang malam bekerja mencari dan mengevakuasi korban. Ada yang sempat diselamatkan, namun tidak sedikit yang ditemukan meninggal.
Relawan bergerak di bawah ruahan bulir hujan yang awet. Bekerja di siang hari nan terik menyengat. Berjibaku dengan malam minim penerangan. Membantu membenahi rumah warga yang terberai akibat hinggutan bentala dengan magnitudo 6,2 itu.
Salah satu sosok penting yang barangkali luput perhatian dari aksi kemanusiaan ini adalah emak-emak. Mereka memang tak mengemuka. Tak pula nampak di depan. Mereka di belakang. Bekerja di balik layar.
Ya, mereka bergelut di balik dinding posko dapur umum. Menyiapkan santapan pagi, siang dan malam untuk siapa saja membutuhkan terutama para korban gempa dan relawan.
Sejak sehari terjadinya gempa, posko dapur umum garapan Muslimat Hidayatullah (Mushida) Mamuju ini sudah berdiri. Berlokasi persis di depan jalan Pondok Pesantren Hidayatullah Mamuju, Jln Abdul Syakur, Karema, Kecamatan Mamuju, Kabupaten Mamuju.
“Posko dapur umum mulai sejak tanggal 15 Januari 2021 saat gempa itu, sampai sekarang,” kata koordinator Dapur Umum Mushida Mamuju, Yani NS, kepada Hidayatullah.or.id, Selasa (26/1/2021).
Kolaborasi bersama ini turut didukung BMH, KitaBisa, ITS Peduli Bencana, SAR Hidayatullah, Sahabat Al Aqsha dan lain- sebagainya.
Kendati hanya beberapa orang, emak-emak ini berjuang tak kenal lelah. Sembari ditingkahi rengek manja anak anak kecil mereka dengan beraneka permintaan, mereka tetap tangguh bergumul dengan berbagai bumbu, menanak, menikmati aroma amis ikan dan adakala terpercik minyak.
“Meski juga terdampak gempa tapi Alhamdulillah kami bisa masuk dalam barisan relawan,” kata Yani yang sudah 10 hari ini mendaras di dapur umum dibersamai rekannya, Salbiana dan Asmirawati.
Sehari hari bekerja menyiapkan konsumi mulai dari belanja, memasak dan menyajikan ke posko, sudah tentu Yani dan teman-temanya meraskan lelah luar biasa. Namun, dia menambahkan, kepenatan itu tak seberapa dibanding rasa haru bahagia melihat lahapnya para relawan menyantap makanannya.
“Begitu 80 hingga 100-an relawan makan di dapur umum Mushida dengan lahapnya, perasaan ini senangnya tak terbahasakan,” kata Yani.
Meski dengan sajian sederhana, menu yang disuguhkan tetap terbilang mewah dengan beragam pilihan. Kepiawaian dan jam terbang berkecimpung di perapian menjadikan mereka terampil mengolah satu bahan menjadi berbagai jenis lauk pauk.
Sekilas, aktifitas memasak tampaknya terlihat sederhana. Padahal, sebenarnya tidak semudah yang dibayangkan. Selain menguras energi, apalagi mengolah bahan untuk banyak orang, pekerjaan ini tentu juga menyita waktu dan pikiran. Tak pelak, anak-anak kecil mereka pun tak sepenuhnya dapat di-handle.
“Alhamdulillah, semoga bisa membantu kegiatan para relawan dan meringankan beban korban terdampak bencana gempa ini,” pungkas Yani.
Hingga saat ini Posko Rumah Makan Bersama Gratis untuk Semua yang berdiri di tepi jalan Karema, Kecamatan Mamuju, ini masih terus melayani kebutuhan konsumsi masyarakat terutama relawan dan korban terdampak gempa. (ybh/hio)
PAMIJAHAN (Hidayatullah.or.id) — Di pinggang Gunung Salak, pada Sabtu-Minggu, 23-24 Januari 2021 Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Hidayatullah Jakarta Barat (Jakbar) sukses gelar Rapat Kerja Daerah (Rakerda). Rakerda perdana ini tepatnya dilaksankan di Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
M. Deden Sugiyanto selaku ketua panitia, mengatakan bahwa Rakerda ini sengaja diadakan di kawasan Puncak. Sebab, menjauhi kawasan ramai di Ibukota yang berbahaya terlebih di situasi pandemi.
“Tetapi, walaupun di Puncak, protokol kesehatan tetap diterapkan,” Deden yang juga Seketaris Daerah DPD Hiayatullah Jakarta Barat ini.
Di sambutan acara pembukaan, Ketua DPD Hidayatullah Jakbar, Ahmad Muzakki, dengan semangat menyampaikan rencana-rencana ke depan yang akan dilaksanakn oleh DPD Jakbar. Termasuk yang menjadi program utamanya adalah membangun majelis Qur’an.
Kegiatan Rakerda ini berjalan lancar. Di pembukaan acara, hadir berbagai tokoh. Salah satunya adalah Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah DKI Jakarta, Muhammad Isnaini yang juga sekaligus membuka secara resmi agenda Rakerda.
“Secara kuantitatif kita kecil, sedikit. Tetapi jangan pesimis. DPD Jakbar diisi oleh anak-anak muda yang kuat. Ingat kata Bung Karno. Beri 10 pemuda maka akan kuguncangkan dunia. Hanya 10 pemuda. Jadi maksudnya, memang kelompok kecillah yang acapkali memberikan perubahan-perubahan besar, termasuk nantinya pengurus DPD Jakbar,” ungkap Isnaini.
“Hari ini adalah waktunya bagi kita untuk mencurahkan semua ide dan gagasan untuk 5 tahun kedepan. Waktunya merumuskan kegiatan yang untuk mencerahkan umat. Curahkan semuanya, diskusi dan musyawarahkan lalu rumuskan program kerja dengan baik”, lanjut Isnaini.
Di pembukaan acara, setelah sambutan-sambutan, ada tausiah dan arahan yang disampaikan oleh Ketua Departemen Perkaderan DPW Hidayatullah DKI Jakarta Ust Munawir Baddu. Dalam pemaparannya, Baddu menyampaikan bahwa pemuda harus aktif bergerak, tetapi gerak terorganisir yang diikat oleh kesamaan visi.
“Jadilah seperti bulan. Cahayanya terang tetapi tidak membuat orang lain kepanasan. DPD Jakbar harus tampil seperti bulan. Maka orang akan bernaung di bawah cahaya DPD Hidayatullah Jakbar”, tutup Baddu.*/Rizki Ulfahadi
SORONG (Hidayatullah.or.id) — Wakil Sekertaris II Depatemen Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust Iwan Ruswanda, membuka acara Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) DPW Hidayatullah Papua Barat yang digelar di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Kabupaten Sorong, 23-25 Januari 2021.
Dalam sambutannya pada acara pembukaan, Iwan Ruswanda mengingatkan betapa pentingnya bagi seluruh pengurus wilayah, pengurus daerah, kader, dan jamaah Hidayatullah untuk memahami kembali visi, misi dan jati diri Hidayatullah. Beliau juga menegaskan pentingnya bekerja secara terukur.
“Harapan besar, Papua Barat bisa menghasilkan program-program yang terintegrasi dan sistemik,” kata Iwan.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Dewan Perwakilan Wilayah (DPW) Hidayatullah Papua Barat, Ustadz Hasdar Ambal, S.Pd.I, menaruh harapan besar dalam sambutannya pada Rakerwil ke-1 itu.
“Saya berharap ada keseriusan dari seluruh pengurus wilayah dan daerah untuk mengekseskusi program-program yang dihasilkan dalam Rakerwil kali ini. Selain itu, semoga program yang dihasilkan adalah program yang terukur dan sistematis untuk satu tahun ini”, tukasnya.
Rakerwil Ke 1 DPW Hidayatullah Papua Barat ini dihadiri 50-an peserta dari Dewan Pengurus Daerah (DPD) kabupaten/ kota se-Papua Barat, pengurus amal usaha seperti BMH, Pemuda Hidayatullah Papua Barat, SAR Hidayatullah Papua Barat, Pos Dai Papua Barat, dan unit organisasi di bawa DPW Hidayatullah Papua Barat lainnya meliputi Muslimat Hidayatullah beserta para Pengurus DMW.
Selain menderivasi dan merumuskan program kerja, Rakerwil ini merupakan ajang konsolidasi idil, organisasi dan wawasan kader di tingkat wilayah. Selain itu juga sebagai ajang evaluasi program mainstream. Sekaligus sebagai sarana terwujudnya standarisasi, sentralisasi dan integrasi sistemik kerja organisasi.
Sementara itu, ketua panitia acara Rakerwil juga menaruh harapan besar pada rakerwil kali ini.
“Kami berharap dengan digelarnya Rakerwil ini dapat menghasilkan program-program kerja terbaik, sehingga di periode kepengurusan ini, dakwah dan tarbiyah Hidayatullah Papua Barat dapat berkembang”, jelas Ust Anang Ma’ruf, S.Pd.I, ketua panitia Rakerwil.*/Refra
TIDORE KEPULAUAN (Hidayatullah.or.id) — Kepala Dinas Pendidikan Kota Ternate Drs. H. Ibrahim Muhammad, M.PdI, yang juga salah satu sesepuh Hidayatullah Maluku Utara, mewakafkan villa miliknya kepada Hidayatullah Maluku Utara dalam rangka mendukung dakwah pengembangan sumber daya insani.
Penyerahan ikrar wakaf tersebut dilakukan bertepatan dengan acaa pembukaan gelaran Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Maluku Utara yang digelar selama 2 hari di kota Tidore Kepulauan (23-24/2021).
Kegiatan Rakerwil kali ini memang istimewa di tengah suasana alam yang eksotik. Betapa tidak, semua peserta dihadirkan di sebuah tempat pada villa tepi laut, pesisir dengan pemandangan yang menarik di kaki gunung Kie Matubu Tidore dan Gamalama.
Tak kalah menariknya, di saat Rakerwil ini Hidayatullah Maluku Utara mendapat anugerah Allah berupa pemberian wakaf Lahan 1/2 ha dan villa dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Ternate Drs. H. Ibrahim Muhammad, M.PdI.
“Alhamdulillah, saya bersyukur kepada Allah bisa bertemu dengan Hidayatullah dan saya berniat untuk wakafkan lahan milik saya pribadi untuk bisa digunakan oleh Hidayatullah. Semoga bermanfaat,” kata Kadis Ibrahim.
Penyerahan secara simbolis wakaf Drs. H. Ibrahim Muhammad, M.PdI kepada Hidayatullah
Ibrahim menambahkan, atas vila dan lahan yang telah diwakafkannya tersebut semoga dapat dimanfaatkan untuk penguatan dakwah dan pelayanan keummatan Hidayatullah di daerah tersebut.
Di saat yang sama, Dewan Murabbi Wilayah dan Ketua DPW Hidayatullah Maluku Utara juga mengungkapkan, dengan Rakerwil ini, pengurus dan kader Hidayatullah kembali dievaluasi, dikuatkan lagi secara kultural kelembagaan dan penyusunan program-program mainstream menuju visi organisasi.
Kegiatan Rakerwil ditutup dengan dikeluarkannya Surat Keputusan (SK) penugasan kepada sejumlah kader untuk melakukan perintisan dakwah baru dan penguatan daerah yang sudah ada. Semoga Allah berikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua. Aamiin.*/Arif Ismail
TIDORE KEPULAUAN (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Maluku Utara menggelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) yang digelar selama 2 hari di kota Tidore Kepulauan (23-24/2021).
Hajatan yang digelar setiap tahun ini mengusung tema “Konsolidasi Idiil, Organisasi, dan Wawasan Menuju Terwujudnya Standarisasi, Sentralisasi dan Integrasi Sistemik”.
Hadir membuka sekaligus mendampingi Rakerwil tersebut Ketua Departemen Sumber Daya Insani (SDI) DPP Hidayatullah Ust Muhammad Arfan Abdau, S.Si, M.Pd.I.
Dalam sambutannya menyampaikan arahan DPP Hidayatullah, Arfan mengatakan Rakerwil diharapkan semakin memaksimalkan gerakan Hidayatullah dalam meluaskan peran dakwah dan pendidikan di kawasan.
Rakewil ini juga sebagai momentum untuk melakukan evaluasi bersama atas kiprah dan kinerja anggota dan kader Hidayatullah agar semakin baik dan progresif di masa masa mendatang.
“Kita berharap Rakerwil Maluku Utara ini, selain menghasilkan program kerja dan meneguhkan komitmen gerakan, forum ini juga dapat meningkatkan semangat juang para kader, mempererat ukhuwah, dan meneguhkan komitmen keummatan dan kebangsaan,” kata Arfan.
Melalui agenda Rapat Kerja ini kader juga terus menguatkan komitmennya agar berfikir dan bekerja lebih keras, melakukan karya nyata, melahirkan kader berkualitas, mencerahkan ummat dan mengajak untuk bersama-sama bangkit menjadi ummat terbaik, ummat yang merdeka dan mandiri, ummat yang maju dan terdepan dalam melakukan berbagai kebajikan, kebaikan ummat dan bangsa, Indonesia yang bermartabat.
“Lembaga ini terus berproses diri menuju visinya sehingga konsolidasi terus dilakukan, pecerahan kultural kelembagaan, keorganisasian dan wawasan terus dikuatkan. Sehingga proses standarisasi, sentralisasi, dan integrasi yang sistemik dapat terwujud,” lanjut Arfan.
Dia mengimbuhkan, untuk mewujudkan terbangunnya peradaban yang agung sebagai visi gerakan, Hidayatullah telah menjadikan tarbiyah dan dakwah sebagai mainstream gerakan. Karena itu, Arfan menegaskan, tarbiyah dan dakwah haruslah menjiwai seluruh kebijakan dan program organisasi.
Pada kesempatan tersebut sekaligus pembacaan Surat Keputusan pengugasan dai yang dikirim ke beberapa titik di Maluku Utara untuk perintisan pelayanan dakwah masyarakat dan penguatan daerah yang sudah ada.
Turut hadir dalam acara tersebut Ketua DPW Hidayatullah Maluku Utara Ust Nur Kholis, S. Sos.I dan jajarannya, Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Ust Riyadi Poniman dan jajaran serta hadir tamu istimewa Kepala Dinas Pendidikan Kota Ternate Drs. H. Ibrahim Muhammad, M.PdI yang juga salah satu sesepuh Hidayatullah Maluku Utara.*/Arif Ismail
SALAH SATU instrumen ekonomi Islam dengan potensi yang sangat besar adalah wakaf. Sayang hingga saat ini belum tergali dan termanfaatkan dengan optimal dan maksimal.
Meski upaya untuk melakukan awareness terhadap wakaf ini terus dilakukan oleh berbagai pihak. Namun masih belum memadai. Indikasinya adalah, pemahaman umat terkait dengan wakaf, masih jauh dari harapan.
Setidaknya, hal ini dapat dilihat dari hasil nilai Indeks Literasi Wakaf (ILW) yang dilakukan oleh Badan Wakaf Indonesia (BWI) pada tahun 2020. Secara Nasional mendapatkan skor 50,48. Ini masuk dalam kategori rendah, skor ini terdiri dari nilai Literasi Pemahaman Wakaf Dasar sebesar 57,67 dan nilai Literasi Pemahaman Wakaf Lanjutan sebesar 37,97.
Sehingga, masih jauh dari tingkat literasi zakat yang mendapatkan skor 66.78, yang masuk dalam kategori tingkat literasi zakat menengah atau moderat. Dengan demikian maka, wajar jika kemudian pertumbuhan wakaf masih tertinggal dari zakat.
Menurut data Kemenag (http://siwak.kemenag.go.id/), asset wakaf tanah yang tercatat seluas ±520.117.230 m2, terdapat di ±384.911 lokasi. Dari luasan tersebut, 72.71% (masjid/musholla), 4,45% (makam), 10,68% (sekolah), 3,53% (pesantren), 8,63% (fungsi sosial lainnya). Disisi lain 69,89% sudah bersertifikat, selebihnya belum. Data tersebut, terkait aset wakaf yang sudah dicatatkan di Kemenag.
Dengan melihat realitas dilapangan, dan rendahnya tingkat literasi wakaf, baik dari sisi wakif (orang yang berwakaf) maupun dari sisi nadzir (penerima dan pengelola harta wakaf), maka tidak menutup kemungkinan masih banyak asset wakaf yang belum tercatat dan termanfaatkan.
Hal ini mengkonfirmasi bahwa pemahaman umat atas wakaf masih terbatas pada 3M (Masjid/Musholla, Madrasah dan Makam) Dilain pihak, menurut kemenag dan BWI, potensi wakaf uang/wakaf melalui uang dari berbagai sumber, kisaran angkanya sebesar 217 trilyun hingga 1.000 trilyun, dan ada yang memprediksi lebih dari itu.
Realitas ini, sesungguhnya juga menjadi bukti bahwa, potensi yang besar ini, masih belum mampu dikapitalisasi menjadi kekuatan ekonomi riil. Apalagi, jika merujuk success story pengelolaan wakaf, baik dari sejarah wakaf sejah era Rasulullah SAW hingga kontemporer, termasuk pengelolaan wakaf kekinian di negara-negara lain. Semakin menunjukkan bahwa pengelolaan wakaf di Indonesia saat ini, masih jauh tertinggal.
Sebenarnya, political will negara untuk menjadikan wakaf memiliki nilai yang lebih strategis sudah dilakukan. Paling tidak, ditandai dengan disyahkannya UU No 41 tahun 2014, tentang wakaf, yang cukup komprehenship. Dimana dalam UU tersebut, dengan tegas definisi wakaf adalah perbuatan hukum wakif untuk memisahkan dan/atau menyerahkan sebagian harta benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya guna keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan umum menurut Syariah. Sebuah definisi yang telah mencakup pemahaman wakaf dari berbagai madzab.
Hal ini juga diikuti oleh PP 42 tahun 2006 dan regulasi turunannya, termasuk beberapa peraturan yang dikeluarkan oleh BWI. Hal yang sama juga dilakukan oleh KNEKS (Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah), yang juga menjadikan wakaf bersama dengan ZIS menjadi salah satu kekuatan keuangan ekonomi syariah. Pernyataan ini tertuang dalam Master Plan Pengembangan Ekonomi Syariah Indonesioa 2019-2024. Tetapi, sekali lagi di tataran implementasi masih belum sesuai dengan idealisme yang ada.
Dilain pihak, sesungguhnya ada yang menggembirakan. Yaitu, kesadaran umat sudah semakin menggeliat, berkenaan dengan wakaf ini. Saat ini, mulai banyak bermuculan nadzir baru terutama yang berbentuk organisasi atau badan hukum dengan menawarkan pengelolaan yang lebih profesional, serta memanfaatkan perkembangan teknologi. Juga Lembaga-lembaga lain yang concern terhadap wakaf.
Sudah barang tentu, hal ini akan semakin mempermudah dan memperbanyak kanal bagi literasi wakaf kepada umat. Harapannya, dalam beberapa tahun kedepan, wakaf akan menjadi lifestyle, terutama bagi generasi milenial.
Pertanyaannya kemudian adalah, dengan berbagai fakta dan realitas di atas, bagaimana caranya agar wakaf ini, benar-benar menjadi instrumen keuangan dan ekonomi umat, sehingga menjadikan umat sejahtera.
Waqfnomics
Untuk menjawab masalah masalah di atas tadi, maka salah satu kuncinya adalah menjadikan wakaf sebagai sebuah gerakan dan disinergikan dengan instrumen ekonomi keuangan syariah lainnya. Kami menamakannya dengan waqfnomics.
Dimana dengannya, menjadikan wakaf sebagai motor dari gerakan ekonomi Islam itu sendiri. Didalamnya terkandung dua kekuatan sekaligus sebagai prasyarat sebagai sebuah gerakan ekonomi, yaitu competitive advantage (keunggulan kompetitif) dan comparative advantage (keunggulan komparatif).
Dalam konteks wakaf, secara sederhana keunggulan kompetitif ditandai dengan kenyataan bahwa dalam sistem produksi misalnya, wakaf berfungsi untuk mereduksi biaya produksi, sehingga menjadikan harga jual produk menjadi murah. Karena segala bentuk investasi berasal dari sumber wakaf.
Sedangkan keunggulan komparatif ditunjukkan dengan tidak bisa dijualnya harta/asset wakaf, dan dapat disinergikan pemanfaatannya dengan instrument keuangan syariah lainnya untuk menghasilkan bisnis dan produk yang berkualitas dan variatif.
Sehingga mauquf ‘alaih (beneficiaries/penerima manfaat) juga akan menjadi lebih banyak lagi. Secara simple, instrumen ekoomi syariah yang kita kenal, bisa digambarkan sevagai berikut : zakat dan infaq yang sifatnya karitatif dan filantrotopi itu berfungsi semacam cash transfer, sehingga meningkatkan daya beli umat. Sedangkan shodaqah dan wakaf, menjadi minimizing investment, sehingga lebih berfungsi untuk mereduksi biaya produksi.
Dengan demikian maka, jika waqfnomics ini diterapkan dan disinergikan dengan instrumen keuangan lain, akan menghasilkan umat yang memiliki daya beli yang baik, perusahaan yang menghasilkan produk-produk yang berkualitas dan harga murah (terjangkau).
Tentu masih banyak prasyarat lain yang mesti diintegrasikan. Namun menjadikan wakaf sebagai pengungkit ekonomi, merupakan pilihan yang tepat saat ini. Dan, setidaknya konsep dasar ini, akan bisa menggerakkan ekonomi umat saat ini dan dimasa mendatang. Walahu a’lam.
*)Asih Subagyo,penulis adalah Badan Pembina Baitul Wakaf dan Ketua Bidang DPP Hidayatullah. Tulisan ini telah dimuat di Majalah Suara Hidayatullah Edisi 06/XXXIII/Oktober 2020/Shaffar 1442
MANADO (Hidayatullah.or.id) — Tim SAR Hidayatullah bergerak cepat dalam tanggap darurat bencana banjir disertai longsor yang terjadi di Kota Manado, Sulawesi Utara (Sulut), pada hari Jumat (22/01/2021) sekitar pukul 15.00 WITA.
Manado kembali dilanda banjir setelah hujan yang terjadi terus-menerus. Tim SAR Nasional Hidayatullah melaporkan saat ini ada dua orang dinyatakan meninggal dunia dalam kejadian itu.
“Lokasi bencana di Kelurahan Malendeng, Lingkungan VII, Kec. Paal 2 Manado, jumlah meninggal dua orang,” tulis keterangan SAR Hidayatullah, Sabtu, (23/01/2021).
SAR Hidayatullah beserta berbagai komponen potensi relawan kemudian terus memantau kondisi lapangan di sekitar banjir.
“Saat ini kebutuhan mendesak masyarakat terdampak adalah bahan makanan,” kata Ilham Abdullah selaku Korlap yang bertugas.
Sebelumnya, diketahui, pekan lalu, tepatnya, Sabtu (17/01/2021) banjir menerjang Manado, Sulut, Lima orang dinyatakan meninggal.
Kejadian ini terulang kembali, pada Jumat (22/01/2021) sore, banjir dipicu hujan deras berjam-jam. Sejumlah titik tergenang. Mulai jalan, permukiman, hingga kampus.
SAR Hidayatullah bersama BMH dan masyarakat membuka posko di Jl Kampus IAIN No 1 kompleks Masjid Gordova.
Sementara pada Sabtu (23/01/2021), tim SAR Hidayatullah bersama Basarnas melakukan evakuasi mayat di lokasi pemakaman yang longsor.
“Evakuasi mayat karena kuburan longsor. Lokasi di Malendeng Link I bersama BASARNAS dan TRC RAPI Manado,” sebut SAR Hidayatullah.
Selain mengevakuasi mayat, tim SAR Hidayatullah juga melakukan pembersihan beberapa rumah warga di Desa Welong Perkamil yang sempat terendam banjir.
MAJENE (Hidayatullah.or.id) — Pasca gempa Majene dan Mamuju di Sulawesi Barat beberapa waktu lalu. Kepanikan begitu cepat meluas. Tersambung dari hati ke hati. Terlebih bagi mereka yang memiliki keluarga di wilayah terdampak.
Seperti yang dialami oleh Asdar dan Dayat. Santri Pesantren Hidayatullah Polewali Mandar ini nekat berjalan kaki menerobos jalan menuju kampungnya yang terisolir pasca gempa di Desa Popenga, Ulumanda, Majene, Jumat (15/01/2021).
Asdar dan Dayat memulai perjalanan yang sangat menantang itu sedari pukul 21.00 waktu setempat dan baru tiba di rumahnya sore keesokan harinya, sekitar pukul 15.00 WITA. Alias mereka telah menempuh perjalanan selama 18-an jam.
Diakui Asdar dan Dayat. Resiko perjalanannya tidaklah ringan. Karena beberapa ruas jalan terputus oleh longsor. Mereka beberapa kali harus melewati hutan belukar, mencari alternatif jalan baru hingga akhirnya bisa sampai di kampungnya.
“Alhamdulillah, orang tua selamat. Beberapa rumah di sini rubuh namun tidak terlalu parah. Tidak ada korban Jiwa. Yang warga sangat butuhkan saat ini adalah kebutuhan makanan pokok. Warga terisolir karena jalan putus dan longsor. Benar-benar sulit dilewati,” kabar Asdar lewat sebuah pesan WhatsApp. Disertai potongan video saat mereka di goncang gempa susulan di tengah perjalanan.
Kabarnya, untuk mengirim pesan ini, mereka harus berjalan kaki ke kampung tetangga karena di Popenga tidak ada jaringan seluler.
Alhamdulillah, Selasa (19/01/2021) pagi, 6 orang santri (teman Asdar) diberangkatkan menyusul Asdar dan Dayat ke Popenga. BMH menitipkan beberapa kebutuhan pokok prioritas untuk Asdar dan warga di sana. Meski tidak banyak. Hanya sejumlah ransel dan kardus yang bisa santri-santri bawa. Karena jaraknya jauh, medannya sulit. Sementara moda transportasinya hanya mengandalkan kaki.* (Syamsuddin)
BOMBANA (Hidayatullah.or.id) – Pondok pesantren Hidayatullah di Desa Talabenta, Kelurahan Lameroro, Kecamatan Rumbia, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, disambangi tamu penting, Selasa (19/1/2021). Dia adalah, Inspektur Jenderal (Irjen), Yan Sultra Indrajaya, Kepala Kepolisian daerah (Kapolda) Sulawesi Tenggara (Sultra).
Kehadiran Irjen Yan Sultra di pondok pesantren Hidayatullah dilakukan disela-sela kunjungan kerjanya di Wonua Bombana. Perwira tinggi Polri dengan dua bintang dipundaknya ini, muncul di pondok pimpinan Ust Sulaiman itu, usai bersilaturahim dengan Bupati Bombana, Haji Tafdil serta Forkopimda di rumah jabatan Bupati.
Yan Sultra datang di Pondok pesantren Hidayatullah dengan memakai mobil dinasnya. Bersama rombongan pejabat Polda yang tidak lebih sepuluh orang, Kapolda masuk melalui Jalan Imam Laroi, samping mesjid Al-Khairat, Kelurahan Lameroro. Jenderal Yan, menyusuri jalan beton disamping Mesjid sekitar 500-an meter, serta jalan rusak sekitar 200-an meter.
Setelah tiba di pondok pesantren, Yan Sultra disambut Ustadz Sulaiman dan lebih 30 orang penghuni pondok pesantren. Di tempat ini, Kapolda kemudian menyerahkan bantuan sembilan bahan pokok (sembako) kepada pimpinan pondok.
Anjangsana Yan Sultra di Pondok pesantren Hidayatullah memang bukan hal yang baru. Saat menjadi Kapolres di Bombana 2008 hingga 2011, pondok pesantren ini, menjadi langganan Yan Sultra untuk dikunjungi. Bahkan Kapolda pernah menjadi pembina di Pondok Pesantren Hidayatullah.
Saat menjabat Kapolres Bombana, belasan tahun lalu, Adhi, bekas wartawan salah satu media cetak di Sultra yang kini bergabung sebagai wartawan lenterasultra.com, berkali-kali mengikuti kegiatan Yan Sultra di Pondok pesantren Hidayatullah. Selain Yan Sultra, istri Kapolda, juga kerap menyambangi Pesantren Hidayatullah.
Ustadz Sulaiman, juga mengakui hal ini. Katanya, Yan Sultra memiliki kepedulian terhadap Pondok Pesantren Hidayatullah dan anak-anak pondok di dalamnya. Tidak hanya saat menjabat sebagai Kapolres Bombana, ketika memangku jabatan Kapolda juga demikian.
“Terima kasih Pak Kapolda. Semoga kebaikan dan jiwa sosial yang dimiliki mendapat balasan yang setimpal dari Allah. Semoga Kapolda Sultra dimudahkan segala urusannya,” ungkap Ustadz Sulaiman. (Lentera Sultra)