Beranda blog Halaman 44

Bantuan Kemanusiaan Tiba di Agam, Pesan Kebersamaan yang Menguatkan Warga Penyintas

AGAM (Hidayatullah.or.id) — Malam kian larut di Nagari Sungai Batang. Listrik masih padam total, menyisakan cahaya samar dari lampu darurat seadanya. Ini realitas pahit namun warga dan relawan tetap berjuang.

Meski demikian, di tengah kegelapan Jorong Labuh, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam itu, secercah harapan datang mendekat.

Tepat pukul 20.00 WIB, rombongan tim Baitul Maal Hidayatullah (BMH) akhirnya tiba di lokasi. Wajah-wajah lelah namun lega tampak jelas dari para relawan. Di belakang mereka, tertinggal cerita perjalanan panjang yang menguji fisik dan mental.

Perjalanan ini bermula pukul 13.00 WIB dari Padang. Bukan perjalanan wisata, melainkan misi kemanusiaan menembus jalur yang nyaris lumpuh. Jalanan terjal, licin, dan beberapa titik yang putus total memaksa tim harus ekstra waspada.

Akses menuju titik bencana begitu terbatas. Jalur darurat yang dibangun warga bersama tim SAR hanya cukup untuk satu mobil, memaksanya melintas bergantian dengan sistem buka-tutup. Namun, lelah tujuh jam perjalanan itu seolah menguap saat kaki para relawan memijak tanah posko pengungsian Galodo.

“Meski lelah, hati kami kuat. Setiap langkah ini membawa titipan amanah dari para Sahabat Kebaikan untuk saudara kita yang sedang berada di titik terendah,” ujar Prawira Dijaya Kepala BMH Sumbar, Jum’at, 14 Jumadil Akhir 1447 (5/12/2025).

Kedatangan tim disambut oleh Pak Elbama, Ketua Jorong Labuh. Mata pria paruh baya itu berkaca-kaca. Di tengah remang cahaya, suaranya berat menahan sesak saat menceritakan detik-detik galodo (banjir bandang) menghantam kampung halamannya.

“Semuanya terjadi begitu cepat. Tidak ada kesempatan menyelamatkan diri,” tuturnya lirih.

Data yang disampaikan Pak Elbama bukan sekadar angka, melainkan nyawa tetangga dan kerabat yang ia kenal baik. Lima warganya meninggal dunia, sementara satu orang masih dalam pencarian.

Dampak fisik pun tak kalah mengerikan. Lebih dari 60 rumah warga di tiga jorong utama—Kubu, Labuah, dan Nagari—hancur. Namun, ada satu kehilangan yang membuat luka batin warga terasa lebih dalam: hilangnya rumah ibadah.

Masjid Al-Ihsan lenyap disapu arus tanpa sisa, sementara Musholla Aie Kubang rusak berat.

“Kehilangan tempat tinggal itu sakit, tapi kehilangan tempat sujud membuat kami merasa lebih hampa,” tambah warga setempat.

Titipan Harapan dari Penjuru Negeri

Malam itu, puluhan paket sembako disalurkan. Bantuan ini merupakan kolaborasi kebaikan dari Bang Ferry Irwandi, platform Kita Bisa, dan masyarakat Indonesia yang tak henti menebar kepedulian.

Bagi warga Jorong Labuh, paket-paket ini lebih dari sekadar logistik untuk bertahan hidup beberapa hari ke depan. Ini adalah pesan bahwa mereka tidak sendirian menghadapi musibah ini.

Di sela-sela pembagian bantuan, terselip doa dan harapan tulus dari warga. Mereka bermimpi agar kelak suara adzan bisa kembali berkumandang dari masjid mereka sendiri.

“Semoga suatu hari nanti masjid kami bisa berdiri kembali. Kami ingin kembali punya tempat untuk sujud, tempat memohon kekuatan dan ketenangan,” ucap salah seorang warga dengan penuh harap.

Tim BMH meninggalkan lokasi dengan hati yang penuh. Misi malam itu telah tunai, namun ikhtiar untuk membersamai pemulihan kehidupan di Agam belumlah usai.

“Jalur boleh terputus, listrik boleh padam, namun sambungan persaudaraan tak akan pernah reda, mari kita rawat bersama,” tutup Prawira.*

Hadiri Muswil Jawa Timur, Rais ‘Aam Hidayatullah Serukan Kepemimpinan yang Berinisiatif

0

MALANG (Hidayatullah.or.id) — Di tengah dinamika kehidupan yang menuntut keteguhan visi serta ketangguhan moral, konsolidasi kader memiliki arti strategis bagi keberlanjutan peran sosial-keagamaan bagi kemaslahatan. Rais Am Hidayatullah KH. Abdurrahman Muhammad menegaskan bahwa setiap gerak perubahan selalu bertumpu pada nilai spiritual yang menjadi fondasi pengabdian.

Dalam sesi taujih pada Musyawarah Wilayah (Muswil) VI Hidayatullah Jawa Timur yang berlangsung di Kampus Ar-Rohmah, Batu, Malang, Jum’at, 14 Jumadil Akhir 1447 (5/12/2025), KH. Abdurrahman menegaskan bahwa terlaksananya pertemuan tersebut bukanlah semata capaian teknis, melainkan bagian dari pertolongan Allah SWT.

“Pertemuan kader ini terjadi berkat ma’unah Allah Ta’ala. Tanpa pertolongan-Nya, tidak mungkin kita berkumpul dengan niat yang sama dan tujuan yang satu,” ujarnya dalam taujih, yang menekankan landasan awal dalam membaca kembali orientasi gerakan, sekaligus mengingatkan bahwa kekokohan organisasi bersumber dari kedalaman ruhani para penggeraknya.

Dalam pemaparannya, KH. Abdurrahman Muhammad menguraikan dua tugas agung yang diwariskan para Nabi. Tugas pertama adalah memberikan bayan atau penjelasan yang menanamkan tauhid sebagai fondasi keyakinan.

“Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah, dan itu menjadi hulu dari segala bentuk gerakan,” katanya menegaskan. Ia menempatkan dimensi aqidah sebagai akar yang menentukan arah seluruh aktivitas dakwah dan pendidikan.

Tugas kedua, lanjut Rais ‘Aam, adalah kepemimpinan profetik yang menuntut keteladanan langsung dalam tindakan. Ia menyampaikan bahwa para Nabi bukan hanya penyampai risalah, tetapi juga Imam yang mengambil inisiatif dan melaksanakan keputusan di garis terdepan.

“Nabi itu terdepan dalam mengambil keputusan dan terdepan dalam menjalankannya,” tuturnya. Dengan begitu, konsep Umaro dalam perspektif profetik bukanlah jabatan administratif, melainkan peran pelaksana yang memikul beban, bergerak lebih dahulu sebelum memerintah, dan menjaga keberlangsungan amanah secara nyata.

Rangkaian pesan tersebut menjadi bingkai arah Muswil VI Hidayatullah Jawa Timur sebagai upaya menyegarkan kembali himmah kader di tengah tantangan zaman.

Forum yang dihadiri unsur DPD Hidayatullah dari 29 kabupaten dan 9 kota di Jawa Timur ini tidak hanya menata agenda organisasi, tetapi juga menghidupkan kembali nilai dasar kepemimpinan yang menyatu antara iman, penjelasan, dan keteladanan tindakan.

Bantuan Mendesak Mengalir ke Langkat, Ratusan Warga Bertahan di Posko Darurat

0
ist – langkat

LANGKAT (Hidayatullah.or.id) — Air bah yang masih menggenangi Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, sejak Rabu sore (3/12/2025), terus memaksa warga menghadapi situasi darurat. Di tengah kondisi tersebut, laporan dari Koordinator Lapangan BMH Pusat, M. Adnan, memberikan gambaran mengenai situasi terkini di titik-titik pengungsian.

Ia menyampaikan bahwa ratusan pengungsi masih tertahan di posko dengan fasilitas seadanya, sementara sebagian warga lain memilih tetap bertahan di rumah masing-masing meski air belum juga surut. Data lapangan mencatat sekitar 200 hingga 220 kepala keluarga berada di area terdampak maupun posko darurat.

Dalam kondisi yang menuntut penanganan cepat, Laznas BMH hadir memberikan bantuan hasil penghimpunan zakat, infak, dan sedekah masyarakat.

Sejak dini hari, tim bergerak mulai dari pengadaan kebutuhan, pengemasan paket, hingga distribusi langsung ke wilayah terdampak. BMH menargetkan empat posko dalam satu hari untuk memastikan bantuan sampai tepat waktu.

Armada kemanusiaan BMH menyisir wilayah Dusun 2 Cempaka di Kecamatan Tanjung Pura, Dusun 1 Wijaya di Kecamatan Padang Tualang, serta dua lokasi di Kecamatan Hinai, yaitu Dusun 1 Pasar Gudang dan Desa Batu Malenggang. Kondisi di setiap wilayah menunjukkan kebutuhan mendesak, terutama dari kelompok rentan.

Selain menyalurkan sembako, BMH menyiapkan paket bantuan spesifik yang disesuaikan dengan kelompok paling terdampak. Paket tersebut meliputi popok bayi, perlengkapan kebutuhan wanita, serta pakaian dalam bagi balita dan lansia.

Hygiene kit berisi sampo, sabun mandi, dan pasta gigi turut dibagikan untuk menjaga kesehatan para pengungsi dalam situasi minim fasilitas.

Tim juga membawa cemilan khusus untuk anak-anak agar mereka tetap mendapatkan dukungan emosional selama berada di pengungsian.

“Kebutuhan mendasar untuk kelompok rentan seperti bayi, lansia, ibu hamil, menyusui, serta penyandang disabilitas menjadi perhatian khusus kami,” jelas Adnan saat proses distribusi berlangsung.

Lika-Liku Tim Siaga Bencana Hidayatullah Menembus Isolasi Tapanuli Tengah

0

MEDAN (Hidayatullah.or.id) — Misi kemanusiaan Tim Siaga Bencana Hidayatullah bermula dari Medan, Sabtu, 9 Jumadil Akhir 1447 (30/11/2025. Dari kota itu, tim respon darurat gabungan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) bersama SAR Hidayatullah dan PosDai ini memacu kendaraan menuju Tapanuli Tengah.

Mereka menempuh perjalanan panjang untuk menembus isolasi wilayah yang baru saja dihantam banjir dan longsor hebat, perjalanan yang sejak awal terasa seperti rangkaian ujian di setiap kilometernya.

Gumpalan tanah sisa longsor menyambut sesaat setelah batas kota Medan ditinggalkan. Material yang berserakan di badan jalan memaksa pengemudi bermanuver dengan kewaspadaan penuh.

Tantangan tidak berhenti pada fisik jalan; kelangkaan BBM menekan seluruh wilayah. Tim harus mengantre berjam-jam di SPBU, menahan kantuk dan lelah demi memastikan tangki kendaraan terisi agar mesin tetap menyala menembus medan bencana.

Memasuki kawasan Sorkam, pemandangan menjadi getir. Banjir dan longsor memutus jalur transportasi utama. Jembatan beton yang dahulu kokoh kini runtuh tak bersisa. Sebagai pengganti, warga merakit jembatan kayu darurat yang harus dilintasi tim dengan perlahan.

Suara papan berderit menjadi iringan perjalanan, sementara rumah-rumah kosong berdiri melompong, ditinggalkan penghuninya yang mengungsi ke dataran lebih tinggi.

Malam tiba di Sibolga membawa wajah lain. Jalanan gelap dipadati ribuan warga yang mencari makanan dan bantuan. Laporan penjarahan dari beberapa titik membuat suasana kian mencekam. Relawan memasang kewaspadaan penuh, berhadapan dengan kenyataan yang menuntut ketelitian: membedakan mereka yang benar-benar kelaparan dari pihak yang memanfaatkan kekeruhan situasi.

Setelah rentetan rintangan fisik dan psikologis itu, tim akhirnya tiba di Pondok Pesantren Darul Marifah Hidayatullah, salah satu lokasi terdampak cukup parah. Para relawan tidak menunggu waktu untuk beristirahat; mereka segera mendirikan posko tanggap darurat di tengah puing-puing dan melakukan asesmen cepat guna memetakan kebutuhan mendesak. Setiap langkah diarahkan agar bantuan menyentuh warga secepat mungkin.

Lelah perjalanan seakan terbayar ketika bantuan mulai sampai ke tangan masyarakat. Dari lokasi posko, harapan kembali ditata, sementara kerja-kerja kemanusiaan terus digulirkan.

“BMH kini menyerukan dan melibatkan energi dan sumber daya untuk solidaritas nasional. Doa dan dukungan masyarakat luas menjadi bahan bakar utama bagi para relawan untuk mempercepat pemulihan Tapanuli Tengah. Mohon doa untuk semua,” tutur Syamsuddin, Direktur Prodaya BMH Pusat.

Hidayatullah – Pusat Kebudayaan Turki Rangkai Kembali Jejak Peradaban Lewat Pendidikan

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Kunjungan silaturahmi yang dilakukan Hidayatullah ke Pusat Kebudayaan Turki (Yunus Emre Enstitüsü) membuka ruang baru bagi penguatan hubungan pendidikan dan kebudayaan antara kedua lembaga.

Wakil Sekretaris Jenderal Hidayatullah, Muhammad Isnaini, memandang pertemuan ini menjadi simbol keterhubungan historis peradaban Islam yang telah membentang panjang hingga masa kini. Dalam konteks itulah, kata dia, peran kolaborasi pendidikan menjadi sangat penting sebagai pilar pembangunan yang berkelanjutan.

“Momentum silaturahmi ini sebagai langkah strategis yang memiliki dimensi historis yang kuat untuk menguatkan kebersamaan yang telah terbangun sebelumnya,” katanya kepada media ini di Pusat Kebudayaan Turki, berlokasi di The Pine View Residence, Bintaro, Jakarta Selatan, Rabu, 12 Jumadil Akhir 1447 (3/12/2025).

Menurutnya, hubungan Hidayatullah dan Indonesia secara umum dengan Turki merupakan bentuk nyata ketersambungan sejarah peradaban Islam, khususnya dalam upaya kedua pihak memajukan pendidikan sebagai pilar penting pembangunan.

“Penjajakan kerja sama ini juga menyambung kembali tali pengetahuan yang telah lama menjadi fondasi kemajuan dunia Islam,” katanya.

Pertemuan yang berlangsung hangat itu bertujuan memperkuat hubungan kelembagaan dan membuka peluang kolaborasi di berbagai sektor, terutama pendidikan, kebudayaan, serta pengembangan sumber daya manusia.

Ketua Bidang Pendidikan DPP Hidayatullah, Dr. Muzakkir Utsman, M.Ed., turut menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat yang diberikan. Ia menilai informasi dan penjelasan yang disampaikan menjadi landasan penting untuk membuka kerja sama yang lebih terarah.

Muzakkir juga mengapresiasi paparan Direktur Pusat Kebudayaan Turki, Dr. Cemal Sahin, terkait peluang beasiswa dan program pendidikan yang dapat diakses oleh peserta didik Indonesia, khususnya dari jaringan pendidikan Hidayatullah.

Dr. Cemal Sahin menyambut baik kehadiran delegasi Hidayatullah dan menyatakan kesiapannya memperkuat kerja sama dalam berbagai program pendidikan, kebudayaan, dan kegiatan kolaboratif lainnya. I

a memaparkan bahwa Pemerintah Turki setiap tahun menyediakan 150 hingga 200 kuota beasiswa penuh bagi pelajar dan mahasiswa Indonesia. Kuota tersebut juga terbuka bagi kader dan peserta didik jaringan pendidikan Hidayatullah yang kini hadir di 38 provinsi dari jenjang TK hingga perguruan tinggi.

Beasiswa yang ditawarkan meliputi pendidikan di sekolah Imam Khatib untuk jenjang SMP–SMA, serta pendidikan tinggi pada program S1, S2, dan S3 di berbagai universitas ternama di Turki. Seluruh biaya pendidikan, akomodasi, dan kebutuhan hidup ditanggung oleh pemerintah Turki, termasuk tunjangan bulanan agar mahasiswa dapat fokus pada studi. Proses pendaftaran dibuka setiap Januari dan melalui seleksi ketat yang mempertimbangkan minat jurusan masing-masing peserta.

Selain beasiswa, kedua pihak membahas peluang kolaborasi lainnya, termasuk program summer school yang setiap tahun mengirim sekitar 20 peserta. Ada pula kursus bahasa Turki yang berlangsung selama tiga bulan pada setiap Jumat dan Sabtu, diajarkan oleh native speaker secara gratis dengan materi yang disediakan penuh oleh Pusat Kebudayaan Turki.

Program short course untuk sekitar 10 peserta per tahun juga menjadi bagian dari pembahasan yang berpotensi memberikan manfaat langsung bagi penguatan kapasitas sumber daya manusia Hidayatullah.

Silaturahmi ini juga dihadiri oleh Ketua Departemen Sumberdaya Insani Dr. Muhammar Arfan AU, M.Pd., dan Ketua Departemen Rekrutmen Iwan Abdullah.

Dengan terselenggaranya pertemuan ini, hubungan antara Hidayatullah dan Pusat Kebudayaan Turki diharapkan semakin solid dan membuka peluang kerja sama jangka panjang.

Hubungan tersebut dinilai menjadi bagian dari upaya memperkuat jaringan pendidikan dunia Islam serta mendorong pertukaran pengetahuan yang berdampak positif bagi pembangunan sumber daya manusia dan kebudayaan di masa mendatang.

Kolaborasi Kemanusiaan Hidayatullah Bersama Lintas Sektor Mengalir di Padang

0

PADANG (Hidayatullah.or.id) — Di tengah dinamika kebencanaan yang kembali menguji solidaritas sosial di Indonesia, berbagai elemen masyarakat berpadu dalam kekuatan kolaborasi sebagai bagian dari karakter kebangsaan.

Bagi organisasi massa Islam seperti Hidayatullah, yang telah memasuki usia setengah abad kedua, kontribusi dalam pemulihan bencana bukan sekadar kegiatan insidental, tetapi komitmen jangka panjang terhadap kepentingan publik.

Hal itu disampaikan Korlap Tim Siaga Bencana Hidayatullah Sumbar yang juga Kepala BMH Sumatera Barat, Prawira Dijaya Marpaung, saat Baitul Maal Hidayatullah (BMH), DPW Hidayatullah Sumbar, bersama Higive, Nine to Nine Dental Center, dan Lingkaran Peduli Indonesia (LPI) melakukan aksi kemanusiaan pascabanjir di Kota Padang, Rabu, 12 Jumadil Akhir 1447 (3/12/2025).

Kolaborasi lintas lembaga itu hadir di tengah wilayah yang masih diselimuti sisa lumpur dan aktivitas warga yang belum sepenuhnya kembali normal.

Tim gabungan bergerak dari rumah ke rumah untuk memastikan bantuan yang disalurkan benar-benar menjangkau warga dengan kebutuhan paling mendesak.

Bantuan utama yang diberikan berupa ratusan paket nasi bungkus hangat, diserahkan langsung kepada warga yang dapurnya masih belum berfungsi akibat kerusakan pascabanjir. Selain pangan, tim membawa paket sandang berisi pakaian layak pakai dan handuk bersih.

Selama penyaluran bantuan, para relawan tidak hanya datang sebagai pemberi bantuan, tetapi juga sebagai pendengar bagi warga yang membutuhkan ruang untuk menceritakan kondisi mereka.

Proses dialog ini menjadi bahan pemetaan untuk merumuskan bantuan lanjutan beberapa hari ke depan, terutama bagi keluarga yang kehilangan barang-barang vital.

Prawira menegaskan bahwa pemulihan tidak bisa dilakukan secara parsial. “Kami menyaksikan langsung kondisi yang memprihatinkan. Banyak warga kehilangan barang penting dan akses terhadap kebutuhan dasar masih sangat terbatas. Karena itu, sinergi antarlembaga harus terus diperkuat agar beban masyarakat dapat berkurang secara bertahap,” ujarnya.

Aksi kemanusiaan ini juga diperkuat dukungan dari sektor usaha, salah satunya Hotel Musafir Inn Padang, yang menegaskan komitmennya untuk tetap terlibat dalam program kemanusiaan sesuai kapasitasnya.

Prawira Marpaung menambahkan, gerakan kolaboratif ini direncanakan terus berjalan dan beradaptasi dengan kebutuhan warga hingga Kota Padang benar-benar pulih.

Longsor dan Banjir Sumatera Utara, Santri Hidayatullah Bergerak di Tengah Bencana

0

TAPANULI (Hidayatullah.or.id) — Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah Sumatera Utara, khususnya Kabupaten Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan, meninggalkan dampak yang masih berat hingga awal Desember 2025.

Kondisi logistik yang terbatas dan jalur transportasi yang terputus membuat penanganan darurat berjalan lambat. Dalam situasi itu, dua pesantren Hidayatullah yang turut terdampak menjadi pusat aktivitas kemanusiaan yang digerakkan oleh para santri dan relawan.

Koordinator Lapangan Tim Siaga Bencana Hidayatullah, Tafdhil Umam, menjelaskan bahwa di tengah kondisi darurat, santri dari Pondok Pesantren Darul Ma’rifah dan Pesantren Tahfidz Agrowisata Sipange ikut terlibat aktif membantu warga terdampak.

“Akses menuju pondok yang terdampak langsung di Tapteng belum tembus via Tarutung,” ujarnya, menggambarkan hambatan yang dihadapi di lapangan. Meski demikian, para santri tetap bergerak bersama relawan untuk mempercepat proses pemulihan awal.

Tim Siaga Bencana Hidayatullah telah mendirikan dua posko utama, yaitu di Ponpes Darul Ma’rifah AMD-Kalangan dan di Pesantren Tahfidz Agrowisata Sipange. Kedua pesantren tersebut berada pada wilayah yang mengalami kerusakan berat.

Di Sipange, setengah bangunan pondok hancur akibat tertimbun lumpur tebal dan batu-batu besar. Sementara itu, di Darul Ma’rifah, aliran listrik padam total dan persediaan logistik menipis sehingga aktivitas penanganan darurat perlu dilakukan dengan sumber daya yang terbatas.

Santri putri Darul Ma’rifah membantu menyediakan kebutuhan makan para pengungsi dan relawan dengan mengelola dapur darurat. Di sisi lain, santri dari Pesantren Tahfidz Agrowisata Sipange bekerja bersama tim SAR Hidayatullah, BMH, PosDai, dan relawan gabungan untuk membersihkan area pesantren, membuka akses jalan, serta menata kembali fasilitas umum yang terdampak.

Tantangan logistik menjadi hambatan utama dalam proses penanganan. Menurut Tafdhil, kebutuhan mendesak yang harus segera dipenuhi mencakup air bersih, sembako, genset, selimut, LPG, makanan siap saji, terpal, Starlink, serta perlengkapan mandi.

Selain itu, kondisi pasokan BBM juga sangat terbatas, sementara ATM dan layanan perbankan belum beroperasi di wilayah terdampak. Untuk mendapatkan sinyal komunikasi dan membeli kebutuhan dasar, relawan harus menempuh perjalanan hingga tujuh jam pulang-pergi.

Air mineral di posko utama tersisa hanya beberapa dus dalam kemasan gelas, jumlah yang diperkirakan tidak mencukupi kebutuhan dua hari untuk relawan dan warga yang berada di lokasi. Akses menuju Sipange pun masih harus dilalui dengan tingkat kewaspadaan tinggi karena sebagian jalur masih tergenang air cukup dalam.

Pada awal bencana, infrastruktur di Tapanuli Selatan lumpuh, listrik padam total, dan jaringan komunikasi hanya tersedia di titik-titik tertentu yang berjarak jauh dari lokasi posko. Beberapa desa bahkan belum dapat dijangkau karena akses jalan tertutup lumpur dan material longsor.

Saat ini dilaporkan hampir 200 warga mengungsi di sekitar lingkungan dua pesantren tersebut, dengan sekitar 70 kepala keluarga bertahan di Pesantren Tahfidz Agrowisata Sipange dan lebih dari 125 kepala keluarga berada di Pondok Pesantren Darul Ma’rifah. Kondisi ini menuntut percepatan distribusi bantuan agar kebutuhan dasar warga dapat terpenuhi.

Sementara itu, laporan Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh pada Selasa, 2 Desember 2025 pukul 20.00 WIB melaporkan jangkauan dampak yang meluas di berbagai wilayah. Dari total 6.497 gampong, sebanyak 3.310 gampong terdampak dengan jumlah 229.767 kepala keluarga atau 1.452.185 jiwa. Sebanyak 249 orang dilaporkan meninggal dunia dan 227 orang masih hilang. Selain itu, 1.435 warga mengalami luka ringan dan 403 luka berat, dengan 828 titik pengungsian yang menampung 660.642 jiwa.

Kerusakan fasilitas umum meliputi 138 kantor, 51 tempat ibadah, 201 sekolah, dan 4 pondok pesantren. Kerusakan infrastruktur jalan mencapai 302 titik, sementara 152 jembatan mengalami kerusakan. Kondisi ini memperkuat urgensi suplai logistik tambahan, terutama air bersih, makanan pokok, dan peralatan penerangan, untuk memastikan kelangsungan operasi penyelamatan di wilayah terdampak.

Pesantren Hidayatullah di Tapanuli Terdampak Banjir Bandang, Relawan Berjuang di Akses Terputus

0
ist – tapteng

TAPTENG (Hidayatullah.or.id) — Bencana banjir bandang yang melanda wilayah Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan pada awal November 2025 menimbulkan kerusakan parah di sejumlah titik, termasuk fasilitas pendidikan dan dakwah Pesantren Hidayatullah.

Laporan lapangan menyebutkan bahwa dua pondok pesantren milik Hidayatullah menjadi lokasi terdampak signifikan. Tim relawan yang berada di lokasi menggambarkan situasi yang masih sulit dipulihkan akibat akses yang terputus, komunikasi yang terbatas, serta kondisi medan yang tertutup lumpur dan material longsoran.

Korlap Tim Siaga Kebencanan Hidayatullah, Tafdhilul Umam, menjelaskan bahwa salah satu lokasi terdampak, Pondok Pesantren Tahfidz Agrowisata Hidayatullah Sipange, mengalami kerusakan berat. Setengah bagian bangunan pesantren yang sehari-hari digunakan santri untuk menghafal Al-Quran terkubur tanah dan lumpur tebal.

Batu-batu besar juga tampak berserakan di area lingkungan pondok. Ia melaporkan bahwa akses utama menuju pesantren dari arah Tarutung masih terputus total. “Saat ini, akses menuju pondok yang terdampak banjir secara langsung di Tapteng belum tembus via Tarutung,” ujarnya. Tafdhil menambahkan bahwa jalur yang dapat dilalui adalah rute alternatif melalui Subulussalam–Aceh Singkil.

Kondisi di lapangan semakin menantang karena genangan air masih menghalangi jalur masuk. Sinyal komunikasi juga belum pulih sepenuhnya, dan jaringan listrik masih padam. Relawan yang berada di lokasi berjumlah 17 orang dengan pembagian tugas yang terstruktur. Tim pertama yang terdiri dari sepuluh relawan dipimpin Syukran untuk melakukan pembersihan lumpur di Pondok Pesantren Hidayatullah.

Tim kedua beranggotakan dua orang membantu upaya pencarian korban bersama Basarnas di wilayah Aek Boktar. Sementara lima relawan di tim ketiga bertugas mengamankan pasokan bahan bakar di SPBU guna memenuhi kebutuhan operasional pembersihan dan logistik.

Dua posko bantuan telah didirikan meski akses menuju lokasi terdampak masih sulit ditembus. Relawan yang terlibat berasal dari berbagai unsur, yaitu BMH, SAR Hidayatullah, Pos Dai Sumut, FOZ Sumut, SYP Sahabat Yatim Pedalaman, serta DPW Hidayatullah Riau.

Menurut Tafdhil, posko terus melakukan koordinasi untuk menilai prioritas kebutuhan warga. Ia menyebutkan bahwa dapur umum direncanakan untuk didirikan dalam beberapa hari mendatang. Namun, rencana tersebut belum direalisasikan karena pasokan bahan pokok masih sangat terbatas.

Jumlah warga terdampak di sekitar kedua pesantren tersebut dilaporkan hampir mencapai 200 orang. Di Pesantren Tahfidz Agrowisata terdapat 70 kepala keluarga, sementara di Pesantren Darul Ma’rifah lebih dari 125 kepala keluarga terdampak. Banyak di antara mereka merupakan masyarakat sekitar yang rumahnya ikut terendam atau tertimbun lumpur akibat banjir bandang tersebut. Kondisi ini membuat kebutuhan dasar menjadi semakin mendesak dan memerlukan penanganan segera.

Tafdhil menjelaskan bahwa kebutuhan paling urgen saat ini meliputi air bersih, sembako, genset, selimut, LPG, makanan siap saji, terpal, perangkat komunikasi seperti Starlink, serta perlengkapan mandi. Kebutuhan tersebut dibutuhkan untuk mendukung fase pemulihan awal sebelum dilakukan langkah-langkah lanjutan terkait rehabilitasi fasilitas pendidikan dan pemukiman warga.

Kerusakan yang dialami dua pondok pesantren tersebut terjadi dalam konteks bencana yang lebih luas di wilayah Aceh dan sekitarnya. Data sementara dari Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh mencatat bahwa hingga Selasa malam, 2 Desember 2025, sebanyak 3.310 gampong dari total 6.497 gampong terdampak langsung bencana hidrometeorologi. Laporan pada pukul 20.00 WIB menunjukkan bahwa bencana ini memengaruhi 229.767 kepala keluarga atau 1.452.185 jiwa di 18 kabupaten/kota dan 229 kecamatan.

Korban jiwa juga terus diperbarui. Hingga pukul 19.37 WIB, jumlah korban meninggal dunia mencapai 249 orang, sementara 227 orang masih dinyatakan hilang. Data tersebut menunjukkan skala bencana yang luas dan perlunya mobilisasi bantuan lintas wilayah.

Strategi Baru Kaderisasi untuk Peradaban dan Songsong Tantangan Keindonesiaan

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pembahasan mengenai masa depan organisasi dan penguatan sumber daya manusia kembali menjadi fokus dalam rapat rutin kaderisasi Hidayatullah yang digelar di Jakarta pada Selasa, 11 Jumadil Akhir 1447 (2/11/ 2025).

Pada kesempatan itu, Ketua Pimpinan Majelis Syura (PMS) Hidayatullah, KH. Hamim Thohari, mengingatkan bahwa bidang kaderisasi merupakan jantung gerakan organisasi.

Ia menegaskan kaderisasi sebagai pilar strategis dalam upaya menjaga kesinambungan dakwah, membangun ekosistem kepemimpinan, serta memperkuat kontribusi umat terhadap peradaban Islam dan keindonesiaan di masa depan.

Dalam dialog bersama Ketua Bidang Kaderisasi DPP Hidayatullah, Abdul Ghofar Hadi, Hamim menyampaikan bahwa kualitas kaderisasi akan menentukan wajah organisasi dua puluh tahun ke depan.

Ia mengingatkan perlunya keseriusan penuh dalam mengelola dan memperbarui pendekatan kaderisasi agar tetap relevan dengan perubahan zaman. “Saya kira, kalau bidang ini gagal, maka dua puluh tahun lagi kita tinggal nama,” ujarnya.

Peringatan tersebut disampaikan Hamim sebagai dorongan agar seluruh elemen kaderisasi memahami bahwa keberlanjutan gerakan tidak dapat dilepaskan dari kemampuan organisasi menyiapkan generasi penerus yang kompeten dan terhubung dengan kebutuhan masyarakat.

Rapat tersebut turut dihadiri Ketua Departemen Pembinaan Anggota, Iwan Abdullah, serta Ketua Departemen Rekrutmen, Imam Nawawi. Ketiganya bersama PMS membahas sistematisasi, sinergi, serta penyempurnaan sentuhan personal dalam pembinaan kader. Pertemuan ini diposisikan sebagai titik balik penting untuk memperkuat arah kaderisasi dalam dua dekade mendatang.

Abdul Ghofar menekankan pentingnya ekosistem yang saling terhubung antara departemen. Ia menegaskan bahwa tiga departemen utama—rekruitmen, pembinaan anggota, dan kaderisasi—harus berjalan sinergis dan saling mempengaruhi. Ekosistem yang terkoordinasi dinilai dia sebagai syarat agar proses kaderisasi berjalan efektif, terukur, dan mampu menjawab kompleksitas sosial yang berkembang di tengah masyarakat Indonesia.

Dalam penguatan lini rekrutmen, Imam Nawawi melaporkan bahwa pihaknya telah menyiapkan tim khusus yang akan fokus menyasar mahasiswa dan komunitas pemuda. Langkah ini dipandang strategis untuk mendekatkan nilai dakwah dan pembinaan kader kepada generasi muda melalui bahasa komunikasi yang lebih relevan.

“Kami akan menguatkan Training Bina Aqidah dan Super Life Revolution (SLR), serta menyapa dan menguatkan ketersambungan dengan alumni yang lulus lima tahun lalu namun belum tertangani,” ujarnya. Imam juga menyampaikan bahwa pola halaqah dan Daurah Marhalah Ula (DMU) akan ditingkatkan agar mampu menjangkau lebih banyak potensi kader.

Sementara itu, Iwan Abdullah melalui Departemen Pembinaan Anggota mengambil peran strategis dalam pengelolaan ribuan wali murid sekolah dan Rumah Qur’an. Pendekatan pembinaan akan dirancang lebih simpel dan membumi, sehingga proses menjadi kader dapat berjalan lebih inklusif dan tidak kaku.

Dalam konteks keindonesiaan, Hamim menyoroti bahwa masyarakat Indonesia memiliki kebutuhan dasar untuk berkumpul, berjamaah, dan memiliki komunitas. Ia memberikan ilustrasi bahwa berbagai kelompok atau aliran, termasuk yang dipandang tidak lazim, mampu bertahan dan berkembang karena berhasil memenuhi kebutuhan tersebut.

“Kalau mereka laku dan banyak pendukungnya, apa kita enggak bisa. Jadi kembali kepada kita sebagai ‘pemasar’ lembaga ini,” ujarnya. Hamim menegaskan bahwa organisasi perlu menggunakan pendekatan lebih baik, lebih cepat, dan lebih sistematis dalam membina kedekatan dengan masyarakat.

Hamim juga menekankan perlunya meninggalkan cara-cara manual yang rentan menghambat percepatan gerakan. Ia meminta agar setiap aktivitas kaderisasi dan pembinaan didokumentasikan dengan baik agar menjadi bagian dari sistem yang dapat dievaluasi dan dikembangkan.

Sebagai tindak lanjut konkret, ia mendorong untuk menyisir ulang seluruh jaringan dan kontak yang ada. Tujuannya adalah membangun forum silaturahmi akbar, serupa dengan momentum Syawalan di Jakarta, yang dapat menjadi rumah pulang bagi jaringan kader dan alumni yang tersebar.

Melalui penguatan sistem kaderisasi, Hidayatullah menegaskan komitmennya untuk menjaga kesinambungan gerakan, memperkokoh kontribusi umat, dan merawat nilai-nilai kebangsaan yang menjadi landasan kehidupan bernegara.

Syura adalah Benteng Pertahanan Moral Bangsa dan Keluarga

0
ist – musyawarah-dalam-islam-syura

RAIS ‘Aam Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad menegaskan dalam Musyawarah Nasional Muslimat Hidayatullah ke VI, salah satunya tentang urgensi syura dalam Islam.

Syura atau musyawarah adalah bagian penting dalam kepemimpinan. Inilah menjadi benteng pertahanan untuk menjaga moral masyarakat. Allah sendiri menegaskan dalam beberapa ayat al-Qur’an di antaranya surat Ali Imron ayat 159 yang secara eksplisit memerintahkan untuk syura kepada Rasulullah dan orang-orang beriman

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ فَٱعۡفُ عَنۡهُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِي ٱلۡأَمۡرِۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ

Artinya:

Maka berkat rahmat dari Allah engkau (Muhammad) bersikap lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, niscaya mereka menjauh dari sekitarmu. Maka maafkanlah mereka, mohonkan ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah bertekad bulat, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”

Ibn Katsir menegaskan: jika Rasul yang mendapat wahyu saja diperintahkan bermusyawarah, maka umat lebih pantas menjadikannya prinsip hidup. Ayat ini menunjukkan bahwa syura bagian dari akhlak kepemimpinan, bukan karena Nabi membutuhkan pendapat sahabat, tetapi agar umat belajar adab, kebersamaan, dan partisipasi.

Syura diabadikan menjadi nama surat al Qur’an yang ke 42, ini tanda besarnya kedudukan syura. Diabadikannya “Asy-Syura (الشورى)” sebagai nama surat menunjukkan bahwa syura adalah prinsip agung, pilar syariat, dan identitas moral umat Islam, bukan kebetulan.

Penamaan surat ini menunjukkan bahwa syura bukan hanya prinsip teknis pengambilan keputusan, tetapi pilar peradaban Islam, sehingga Allah mengabadikannya sebagai tema pokok sebuah surat Makkiyah yang penting. Syura bukan hanya metode berpikir, tetapi benteng yang menjaga kejernihan niat, kebersamaan jamaah, dan keutuhan perjuangan.

Rasulullah ﷺ sebagai uswatun hasanah bukan hanya mengajarkan syura secara lisan, tetapi menjadikannya praktik kepemimpinan yang hidup. Padahal beliau adalah manusia paling mulia, paling bijaksana, dan maksum terjaga dari kesalahan. Namun justru karena kemuliaan itulah beliau menunjukkan bahwa syura adalah prinsip abadi dalam memimpin, bukan sekadar kebutuhan teknis atau kompromi sosial.

Dalam shirah Nabawiyah, Nabi ﷺ menerima masukan sahabat dalam musyawarah terkait strategi Perang Uhud, pembangunan parit (Khandaq), penentuan tawanan Badar, pengelolaan urusan keluarga dan negara. Rasulullah tidak membungkam pendapat, tidak menutup ruang kritik, dan tidak mengklaim kepemilikan tunggal atas kebenaran.

Rasulullah ﷺ adalah pemimpin maksum yang tetap mengambil syura, agar umat memahami bahwa kepemimpinan yang benar bukan bertumpu pada kesempurnaan individu, tetapi pada kebersamaan, adab, dan keterhubungan batin dengan Allah.

Dalam kepemimpinan negara ataupun organisasi, musyawarah adalah benteng moral. Syura adalah syariat dari Allah dan sunnah yang dilaksanakan oleh Rasulullah. Maka jangan beralasan untuk tidak hadir dalam undangan musyawarah atau rapat karena itu bagian penting dalam moral kepemimpinan.

Seorang pemimpin juga jangan meniadakan musyawarah, karena pemikiran banyak orang tentu lebih baik daripada pemikiran sendiri. Apalagi seorang pemimpin hanya manusia biasa, terbatas pengetahuan, keahlian dan pengalamannya.

Salah satu bukti bahwa syura itu bersifat menyeluruh meliputi urusan negara hingga urusan domestik yang paling kecil adalah bahwa Al-Qur’an memerintahkan musyawarah dalam hal penyusuan anak, sebuah isu rumah tangga yang sangat personal. Sebagaimana Allah jelaskan dalam  QS. Al-Baqarah: 233

فَإِنۡ أَرَادَا فِصَالٗا عَن تَرَاضٖ مِّنۡهُمَا وَتَشَاوُرٖ فَلَا جُنَاحَ عَلَيۡهِمَاۗ

Artinya:

Jika keduanya (ayah dan ibu) ingin menyapih (anak) dengan kerelaan di antara keduanya dan dengan permusyawaratan di antara mereka, maka tidak ada dosa atas keduanya.”

Tafsir Ibn Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa keputusan mengenai penyapihan (kapan anak berhenti menyusu) harus didasarkan pada kerelaan dan musyawarah antara suami dan istri. Ini luar biasa, karena penyapihan adalah urusan sangat pribadi, terkait kesehatan anak, menyangkut kapasitas ibu dan memerlukan pertimbangan bersama. Namun Al-Qur’an tetap menegaskan musyawarah.

Syura adalah standar moral keluarga. Tafsir al-Tabari menyebutkan bahwa ayat ini menjadi dalil bahwa keluarga Muslim tidak boleh memakai otoritarianisme, tetapi dialog, persetujuan, dan kesepakatan batin. Musyawarah menjadi mekanisme dalam keluarga untuk menghindari ketegangan, menjaga keharmonisan dan memastikan keputusan yang terbaik bagi anak.

Salah satu indikator keluarga bahagia adalah adanya musyawarah atau dialog dalam keluarga. Dalam syura ada ketenangan, ketentraman dan penghormatan kepada pasangan dan anggota keluarga.

Sebaliknya keluarga biasanya akan berantakan atau putus di tengah jalan ketika tidak ada musyawarah di dalamnya sehingga sering terjadi perselisihan, pertengkaran, kesalahpahaman yang terus menerus. Inilah yang menjadi sebab pertama perceraian akhir-akhir ini

Jika urusan sekecil penyusuan saja harus dimusyawarahkan, apalagi urusan besar. Ini adalah kaidah tarbawi penting yang Ulama mengambil istinbat: bahwa jika syura diwajibkan untuk perkara kecil, maka syura lebih wajib lagi untuk perkara besar dalam masyarakat dan negara.

*) Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis Ketua Bidang Perkaderan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah