Beranda blog Halaman 440

Hidayatullah Lebarkan Sayap Dakwah ke Kabupaten Alor

0
Proses Pelantikan Pengurus DPD Hidayatullah Alor

ALOR (Hidayatullah.or.id) — Ketua dewan pengurus wilayah (DPW) Hidayatullah Nusa Tenggara Timur (NTT) Usman Mamang, S.Sos.I mengatakan bahwa sesungguhnya kehadiran hidayatullah merupakan satu dari banyak penguatan elemen umat yang terus berusaha memikirkan bagaimana kemajuan umat. Hal tersebut disampaikan saat proses pelantikan dewan pengurus daerah (DPD) Hidayatullah Kabupatern Alor (27/9).

“Kehadiran Hidayatullah adalah salah satu bagian kecil elemen umat Islam yg ingin mengajak kita bersama sama untuk memikirkan dan memajukan agama Allah Swt. Kita ingin bersama-sama berlomba-lomba dalam kebaikan, fastabiqul khairat” jelasnya.

Menurutnya untuk saat ini, telah banyak lulusan/alumni Hidayatullah Kupang yang telah bertebaran di Kabupaten Alor. Tentunya diperlukanya wadah perjuangan untuk menampung mereka sebagaimana mereka ditampung saat masa proses Pendidikan dahulu. Tentu tujuanya ialah memperkuat kekaderan mereka dan menjaga spirit berjamaah mereka.

“Dengan banyaknya lulusan/alumni Hidayatullah Kupang. Tentunya kita juga membutuhkan wadah, sehingga kekaderan dan spirit berjamaah mereka tetap terjaga. Sebagaimana dahulu kita mendidik mereka” ucap Usman.

Usman juga berharap pada sewaktu nanti jika Hidayatullah telah berkembang pesat di Kabupaten perintisan ini menjadi jalan bagi anak-anak untuk merai mimpi-mimpi mereka sesuai apa yang mereka minati.

“Suatu saat di Kabupaten Alor akan terbentuk Pondok Pesantren Hidayatullah agar supaya anak-anak Alor yang bersekolah atau kuliah ke luar daerah dan sekembalinya bisa mengembangkan dakwah yg telah tersedia wadahnya berupa pondok tahfidz” lanjut Usman “Jika para anak-anak telah belajar thafidz, maka kita berikan wadah untuk menjaga dan mengembankan ilmu mereka, sehingga mereka tidak mengerjakan hal lain selain focus pada thafidz” jelasnya.

Senada dengan hal itu, Suhardi Lehidonu, S.Pd.I ketua terpilih DPD Hidayatullah Kab Alor menyampaikan bahwa sedari dahulu ia berharap bisa membuka dan juga mengembankan Hidayatullah di Kabupaten Alor. Agar anak-anak yang berada di Kabupaten tersebut dapat mencapai cita-cita mereka.

“Saya sedari dulu punya mimpi untuk membuka perintian Hidayatullah di Kampunghalaman saya, Kabupaten Alor. Alhamdulillah Allah mengabulkanya” ucapnya.

Dengan susunan pengurus antara lain Ketua Suhardi Lehidonu, S.Pd.I, Sekertaris Swandi Djahikada, S.Pd, Bendahara Tahir Abdullah Molomahi, S.E, Ketua Departemen Tarbiyah/Pendidikan Arsat Malailo, S.Pd, Ketua Departemen Perkaderan dan Dakwah, Junaidi Djahikada, S.Pd, Ketua Departemen Sosial dan kesehatan, Abdul Said Lehidonu, Ketua Departemen Ekonomi dan Keuangan Jamaludin Hinghar.

Peran Ormas Islam dalam Upaya Bangun Perilaku Publik

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Direktur Lembaga Studi Islam dan Peradaban (LSIPP) Ustadz Suharsono menjelaskan bahwa sesungguhnya perkembangan umat islam di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran dan usaha dari komunitas/organisasi.

Hal tersebut disampaikan pada webinar pra munas (28/9). Ia menyebutkan bahwa kesultanan islam di Demak merupakan salah satu contoh dari keberhasilan organisasi islam menyampaikan risalah dakwah.

“Sebenarnya dapat dikatakan bahwa sejarah umat islam di Indonesia terbentuk melalui oragnisasi-organisasi islam yang menyebar keseluruh Nusantara untuk menyebar risalah. Dengan adanya hubungan yang kuat antar kelompok Islam, lalu hubungan guru dan murid menjadi kekuatan olitik yang kuat. Kesultanan Demak merupakan contoh keberhasilanya” jelas Suharsono.

Bahkan dalam upaya merebut kemerdakaan Indonesia, oraganisasi Islam mengambil peren penting. Suharsono mengatakan hamper semua pahlawan pra kemerdekaan adalah umat Islam.

“Peran organisasi Islam bahkan dalam perjuangan kemerdekaan telah memberikan dampak yang sangat besar kepada negeri. Hal tersebut dapat dibuktikan dari banyakanya para pahlawan Islam” ucapnya.

Bahkan setelah kemerdekaanpun organisasi Islam tidak berhenti mengambil peran untuk kemajuan bangsa Indonesia. Dengan organisasi-organisasi Islam yang masih bertahan hingga saat ini seperti NU, Muhammadiyah, DDII. Maka sesungguhnya sangat mengherankan jika ada elemen-elemen yang menuduh umat islam akan merusak Indonesia.

“Jika kita perhatikan, akan sangat sulit mencari nama yang benar-benar pahlawan diluar dari orang-orang islam. Maka, jika ada yang mengatakan Islam akan merusak NKRI sesungguhnya ia tidak membaca sejarah. Jika saja ia membaca sejarah maka pasti ia paham betul bahwa sesungggunya Indonesia identic dengan Islam” jelasnya.

Suharsono berharap kepada organisasi-organisasi Islam dapat bekembang dan beradaptasi dengan tumbuhnya perkembangan zaman. Seperti kata pepetah “Setiap zaman, mempunyai tantangan tersendiri”

”Bagaimanapun besarnya sebuah organiasi. Namun, jika merka tidak bisa menyusaikan dengan tumbuhnya perkembangan zaman maka besar kemungkinan organisasi itu akan kehilangan relevansi. Maka penting untuk sebuah organisasi Islam untuk terus menjaga relevansinya sesuai dengan zaman” jelasnya.


Penting untuk organisasi Islam ikut andil dalam dunia digital, hal itu disebabkan banyaknya prilaku manusia saat ini disebabkan pengaruh dari apa yang mereka konsusmsi di dunia digital.

Menurut Suharsono jika sebuah organisasi Islam tidak mempunyai kekuatan di dunia digital maka organisasi tersebut tidak ada lagi artinya, karena gagal membangun kesadaran publik.

“Prilaku manusia biasanya dibangun atas kesadaran publik yang ia terima. Kesadaran publik ini biasanya di presentasikan oleh yang mempunyai ide, punya gagasan dan analisis yang baik dan saat ini ladang dakwahnya ada di dunia digital,” lanjut Suharsono.

“Jika ada sebuah organisasi yang mempunyai kekuatan besar di dunia digital. Maka besar kemungkinan organisasi tersebutlah yang akan menajdi pemenang atau pemimpun,” tandasnya.*Amanjikefron

Jaga Kultur Hidayatullah, Aktivitas Kader Mulai Pukul 03:00

0

MAMUJU (Hidayatullah.or.id — Ketua Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah M. Sholeh Usman, SS, menyampaikan apresiasinya kepada 50 kader Hidayatullah yang berasal dari empat perwakilan dewan pengurus pusat (DPW) Hidayatullah yang telah menyelesaikan tahap pengkaderan marhala wustho yang dilaksnakan pada 24 september hingga 27 september 2020. Adapun kegiatan tersebut telah mendapatkan izin dari Satgas Covid serta dukungan dari Polsekta Mamuju dengan kegiatan sesuai standar protok Kesehatan.

Sholeh usman mengatakan bahwa ia menyaksikan sendiri bagaimana kualitas kekaderan peserta semenjak menghadiri pelatihan marhala wustho. ia mengatakan bahwa komitmen untuk memulai aktivitas pada pukul 03:00 sudah biasa dilakukan.

“Saya menyaksikan peserta langsung mengalami banyak peningkatkan  kualitas kekaderannya, karena sejatinya alumni marhalah wustho adalah mereka yang memulai aktifitasnya sejak pukul 03:00 dinihari yaitu kegiatan tahajjud itulah harapan dan komitmen kita” tegas ustadz Soleh.

Acara berlangsung di kampus madya Hidayatullah Mamuju sebagai tuan rumah daurah marhalah wustha yang mengambil tema bersama “Sukseskan Tarbiyah sebagai Pilar Utama Terbangunnya Peradaban Islam”

M. Sholeh Usman, SS. ketua  Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah sebagai penyelenggara kegiatan tersebut menegaskan kepada 50 peserta untuk memaksimalkan waktu acara yang berlangsung selama empat hari, dimulai dari tanggal 24 sampai 27 September ini. Sebanyak 50 peserta dari empat DPW,  yakni Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara.

Juga Kepala Bidang Tarbiyah DPP Hidayatullah DR. Tasrif Amin Latif, M.Pd. yang menyebutkan “Islam akan kembali jaya ketika ummatnya menjadi yang terbaik, kembali mempelajari kitabnya dan mengajarkannya untuk itu seluruh alumni ini harus menjadi dai yang mencerahkan “.

Ia menambahkan, “Yang hadir ini sekarang adalah alumni Daurah Marhalah Wustho harus menjadi solusi, pertama solusi konseptual,  memahami dan memegang teguh manhaj dan mampu mempresentasikannya dalam bentuk kajian serta cakap mengimplementasikan dalam kehidupan sehari hari”.

Hal itulah yang menjadi dasar pelaksanaan daurah ini setelah melihat banyak alumni daurah marhalah uula yang akan dipersiapkan menduduki posisi strategis di jajaran struktural. Semua kader harus menemukan jalannya untuk mengupgrade kemampuannya, tidak boleh stagnan di posisinya.

Hadir sebagai pemateri utama dalam daurah tersebut DR. H. Nashirul Haq, Lc. MA. ketua umum DPP Hidayatullah.*BashoriSulbar

Tiga Kunci Bisa Tetap Tegak Meski Dimasa Krisis dan Pandemi

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — President of Indonesian Islamic Business Forum (IIBF) Happy Trenggono mengatakan kita sebenarnya memiliki modal cukup untuk bisa tetap tegak meski sedang dalam kondisi krisis apalagi masa pandemi Covid-19 seperti saat sekarang ini.

Dia mengatakan, kalau kita mulai bertanya dari mana kita memulai mencetak 10.000 pengusaha, sebetulnya kata dia pertanyaan besarnya juga bagaimana kita membuat tumbuhnya ekonomi.

Menurutnya, ada 3 hal yang prinsip yang bisa menjadi modal untuk tetap survive di tengah krisis. Pertama, menggunakan kekuatan konsumsi.

“Kita bisa membangun ekonomi di tengah tengah krisis hari ini sebetulnya, apalagi kalau tidak krisis. Dengan apa? Dengan menggunakan kekuatan konsumsi sebagai modal utama membangun ekonomi,” katanya ketika menjadi narasumber dalam Webinar Series 03 – Pra Munas V Hidayatullah bertajuk “Mencetak 10.000 Wirausahawan Mandiri dan Berdaya Guna” seperti dilansir kanal Youtube Hidayatullah ID, Sabtu (27/9/2020).

Jadi, dia menjelaskan, kalau kapitalis, menggunakan kekuatan kapitalnya menguasai semua. Nah, hari ini, kita menggunakan kekuatan konsumsi. Kenapa?

“Ada satu konsep yang sangat sederhana yang jarang dipahami bahwa pengeluaran seseorang adalah pendapatan bagi orang lain, total pengeluaran berpengaruh pada ekonomi dan total pendapatan akan menuju pada pertumbuhan ekonomi,” kata pendiri gerakan Beli Indonesia ini.

“Sebenarnya, ketika kita itu mengeluarkan, di sebelah kita ada pendapatan. Nah, bayangin, kalau kita setiap hari beli beras, kita tidak peduli saudara kita jualan beras, kita malah belinya ke tempat lain. Sebetulnya kezaliman ini kita ciptakan sendiri. Membeli di luar keluarga kita sementara keluarga kita ada, itu adalah kedzaliman karena kita sedang memboikot mereka untuk tidak mendapatkan pendapatan,” terangnya.

Prinsip yang kedua, membangun ekonomi berbasis komunitas. Heppy menjelaskan, ketika ekonomi melemah dan negara melemah, maka ada satu yang menguat yaitu komunitas.

“Anda kalau lihat ada bencana alam, ketika negara belum melihat dan hadir di situ, yang namanya komunitas sudah masuk lebih dulu. Apalagi di Indonesia. Urusan politik pun diselesaikan oleh komunitas,” katanya.

Heppy mengatakan ekonomi komunitas ini termasuk yang tidak pernah kita bahas. Maka, bagi Hidayatullah, menurut Heppy, membangun ekonomi berbasis komunitas ini adalah sebuah peluang karena di dalamnya solid dengan kesatuan pandangan yang sama dan diikat dalam satu keluarga yang sama.

“Di sana ada konsumsi yang bisa dikendalikan,” katanya.

Prinsip yang ketiga, memanfaatkan revolusi digital untuk menyalip di tikungan. Heppy menerangkan, hari ini kita diuntungkan dengan apa yang disebut dengan revolusi digital. Biasanya dalam pemerintahan menggunakan istilah revolusi industri. Industri 4.0 adalah hasil revolusi digital.

Dia membeberkan, revolusi pertama ditandai dengan temuan mesin uap, revolusi kedua ditemukannya production line (produksi massal), revolusi ketiga adalah otomasi dan revolusi keempat ini adalah digital. Ciri ciri revolusi, kalau memanfaatkannya, maka akan meningkat produktifitas berlipat lipat luar biasa.

“Nah hari ini, dengan revolusi digital, bisnis itu tidak serumit zaman dulu. Dulu kalau ingin punya pabrik dan jualan seluruh Indonesia, anda harus punya pabrik sendiri, armada sendiri, yang kekuatan modalnya luar biasa. Tapi, Anda lihat, dengan revolusi digital, membuat bisnis tidak serumit dulu dan bisa disambung sambung dengan kekuatan yang lain,” pungkasnya.

Webinar Series 03 – Pra Munas V Hidayatullah bertajuk “Mencetak 10.000 Wirausahawan Mandiri dan Berdaya Guna” ini juga menghadirkan narasumber Dewan Penasehat Aosiasi Pengusaha Hidayatullah (APHIDA) Asih Subagyo dan dipandu oleh Musliadi Raja yang juga pengusaha katering brand Ayya Catering. (ain/hidayatullah.or.id)

Menuju Kemandirian Ekonomi Bangsa dengan Membangun Karakter

Gambar Ilustrasi, Sumber: Dokumentasi Pribadi

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Hingga kini ekonomi bangsa masih tertinggal bahkan dilampaui oleh sejumlah negara Asean. Pada 1958, pemerintah pernah menerbitkan UU Nomor 86 tentang nasionalisasi perusahaan asing di Indonesia namun sayangnya hal itu tetap tak membuahkan hasil signifikan.

President of Indonesian Islamic Business Forum (IIBF) Happy Trenggono melihat pembangunan ekonomi seharusnya dimulai dari pembangunan karakter atau mentalitas manusianya. Adapun nasionalisasi aset, menurutnya, justru hanya membuat kita melakukan pengulangan sejarah.

“Berbicara pembangunan ekonomi, kalau dugaan saya, jika terjadi nasionalisasi, hari ini kekayaan itu akan kembali kepada titik ketika pertama kali kita nasionalisasi,” kata Heppy pada Webinar Series 03 – Pra Munas V Hidayatullah bertajuk “Mencetak 10.000 Wirausahawan Mandiri dan Berdaya Guna” seperti dilansir kanal Youtube Hidayatullah ID, Sabtu (27/9/2020).

Membangun ekonomi anak bangsa, menurut Heppy, tidak dengan menasionalisasi aset tapi dengan melakukan pembelaan yang kuat dan terang terangan (affirmative action) terhadap kedaulatan ekonomi kita.

Dia juga memperhatikan bagaimana Malaysia membangun ekonomi yang dimana mereka sangat berani melakukan affirmative action.

“Affirmative action ini adalah sesuatu yang luar biasa, yang, menurut saya, juga lazim digunakan di manapun. Kita tahu, Cina juga afirmatif. Amerika, Jepang apalagi,” imbuhnya.

Akan tetapi affirmative action pun dinilai Heppy sebetulnya tidak sempurna kalau hanya datangnya dari satu arah dari kebijakan pemerintah. Karena itu, menurut dia, kita harus kembali kepada teori dasar dalam membangun ekonomi.

“Jadi konsep dasar membangun ekonomi, membangun kesejahteraan, membangun kekayaan, itu sebetulnya yang dibangun pertama kali adalah mentalitas atau karakter,” terangnya.

Bos United Balimuda ini mengatakan sering menyampaikan masalah ini tetapi sangat sulit sekali dipahami karena kita tidak menganut pembangunan yang disebut dengan pembangunan karakter ini.

Menurut Heppy, pembangunan mentalitas ini selaras dengan sinyalir dari Rasulullah yang mengatakan, tidaklah orang itu disebut orang kaya karena hartanya. Orang itu disebut kaya karena jiwanya.

Heppy menyebut masalah ini sangat sederhana. Makanya, kata dia, kalau seandainya kekayaan itu dikumpulkan dan dibagi rata oleh seluruh penduduk Indonesia, maka dalam kurun waktu 10-20 tahun itu keadaannya akan kembali seperti ini.

“Yang miskin tetap miskin, yang ngumpulin duit banyak semakin banyak. Kenapa? Karena tidak terjadi pembangunan karakter itu, Dan, repotnya, karakter itu tidak terbangun di pusat kekuasaan. Kita hari ini semakin jauh dari logika pembangunan karakter ini,” ujarnya.

Ia lantas mengutarakan di mana negara lain juga memiliki karakter pembelaan itu yang kemudian menjadi karakter ideologi ekonomi mereka seperti Jepang.

Happy mengamati bagaimana Jepang membangun luar biasa dan begitu bangganya menggunakan produknya sendiri.

“Saya pernah di sana di salah satu hotel, saya menemukan tulisan “beras yang kami gunakan kami jamin adalah beras produksi Jepang”. Artinya, dia merasa akan diadili orang kalau dia menggunakan beras dari tempat lain,” katanya.

Ia juga punya kisah lain soal kebanggaan kepada produk sendiri ini. Happy bercerita pernah ke Amerika dan mendatangi satu komplek bernama Beverly Wilshire bersama istri. Mereka jalan jalan ingin membeli jajanan. Mereka kemudian masuk ke salah satu minimarket cukup besar, ketika sampai di kasir, istrinya mengingatkan bahwa ternyata barang yang mereka beli produksi Israel. Akhirnya, mereka coba cari lagi yang lain.

“Rupanya satu tokoh itu produk Israel semua. Saya baru menyadari bahwa yang datang ke situ adalah orang orang Yahudi. Dulu, saya pernah diceritain, kalau orang Yahudi naik taksi, kalau pengemudinya bukan dari kalangan mereka, dia gak akan naik. Saya pikir itu cerita,” ungkapnya.

Kemudian ada cerita juga, jika ada anak bayi nangis itu, kalau belum ketemu susu produk Israel, tidak dikasih susu walaupun nangis.

“Itu saya pikir hanya cerita. Tapi dengan melihat begitu, saya baru tahu,” imbuhnya.

Heppy mengungkapkan, kisah itu adalah salah satu yang mendorong dirinya menginisiasi sebuah gerakan bernama Beli Indonesia sebagai upaya sedemikian rupa membangun kekuatan ekonomi bangsa menjadi gerakan seluruh anak Indonesia dalam rangka mewujudkan dan membangun kesadaran masyarakat mencintai produk lokal.

“Jadi intinya, bagaimana kita membangun karakter. Nah, membangun karakter ini tidak diartikan dalam konteks yang sangat rumit. Tetapi dalam hari hari kita, bentuk pembelaan ini harus kita bangun,” pungkasnya. (ain/hidayatullah.or.id)

Happy Trenggono: Hidayatullah Miliki Modal Cukup Mencetak 10.000 Wirausaha

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — President of Indonesian Islamic Business Forum (IIBF) Happy Trenggono menilai Hidayatullah sangat siap melahirkan 10 ribu wirausaha dengan modal soliditas. Serta dengan kesatuan pandangan yang sama dan diikat dalam satu keluarga yang sama.

Bahkan menurutnya jumlah yang ditargetkan tersebut sejatinya masih terlalu kecil jika melihat potensi yang ada. Namun, dia mengingatkan, mentalitas atau karakter menjadi penentu tercapainya harapan tersebut.

“Kaya miskin itu soal karakter, bukan urusan apa yang anda miliki hari ini. Ini abstrak tapi sebenarnya ini adalah tugas semua pemimpin. Tugas utama pemimpin adalah membangun karakter. Hanya saja, untuk membangun karakter anda harus berkarakter dulu,” kata Heppy pada Webinar Series 03 – Pra Munas V Hidayatullah bertajuk “Mencetak 10.000 Wirausahawan Mandiri dan Berdaya Guna” seperti dilansir kanal Youtube Hidayatullah ID, Sabtu (27/9/2020).

Dia mengutarakan, Indonesia memang memiliki masa lalu kelam yang pernah dijajah ratusan tahun yang turut mempengaruhi mentalitas kita sebagai sebuah bangsa. Tetapi itu bukan alasan bahwa kita tidak bisa membangun. Lantas, bagaimana kita memulai. Menurut Heppy, banyak sekali yang bisa kita mulai.

“Kalau bicara Indonesia, saya berharap Indonesia bisa berubah dengan satu orang. Tetapi itu kan tidak bisa ditunggu. Nah solusinya, bagaimana kita mulai membangun dari bawah,” kata Heppy.

Heppy mengatakan, bangsa ini memang menunggu seorang pemimpin yang membangun karakternya. Sebetulnya, kata dia, Sukarno memahami itu tapi Bung Karno dengan tantangannya tersendiri yang berjuang dari negara yang terjajah dan berdiri menjadi sebuah negara.

“Jadi eranya Bung Karno era politik. Perhatian beliau bagaimana politik luar negeri dan sebagainya. Tetapi beliau membangun karakter,” imbuhnya.

Heppy menilai mencetak 10.000 pengusaha bagi Hidayatullah menurutnya adalah hal yang realistis namun bukan berarti tanpa rintangan, apalagi masa seperti saat sekarang ini dimana pandemi masih menyeruak.

Di sisi lain data pengganggurana saat ini juga meningkat. Heppy menyebut, berdasarkan data Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, jumlah pengangguran sudah bertambah lebih dari 10 juta orang akibat pandemi Covid-19. Bahkan Kadin memprediksi setidaknya ada 5 juta pengangguran baru bila Indonesia benar-benar masuk ke jurang resesi.

“Kita tidak menuju krisis, nggak, kita sedang krisis. Kita bicara krisis sejak tahun lalu. Saya tidak menyangka akan ada pandemi yang kemudian mempercepat krisis ini,” imbuhnya.

Dampak krisis ini rupanya sangat terasa tak terkecuali bagi pemain bisnis besar. Tak ayal, kini sudah ditemukan penjualan starbucks keliling, KFC turun ke jalan, Pizza Hut turun ke jalan.

Ha ini terjadi ketika ada terjadi krisis ekonomi. Krisis ekonomi itu karena menurunnya daya beli. Daya beli menurun, ekonomi tidak berputar pada satu titik, barang menjadi langka, suplai langka, bank macet, terjadi PHK, dan seterusnya.

Tapi ternyata, kata Heppy, teori ini disampaikan, ketika atmosfer itu menjadi tipis, bukan berarti habis. Tetapi yang besar besar memang gelagapan tapi yang kecil d bawah masih terjadi putaran ekonomi dan masih ada spending dari masyarakat.

“Itulah makanya kenapa Starbucks, Pizza Hut, KFC itu merubah target marketnya ke jalan jalan karena di sana masih ada duit,” ungkapnya.

Heppy mengatakan hal ini penting dia utarakan untuk kita pahami karena kita menguasai itu sebetulnya.

“Ini saya ingin perlihatkan, penjualan Unilever dan Alfamart meningkat di tengah krisis. Mereka tumbuh, jadi tidak semua perusahaan besar berguguran. Pertanyaan menariknya, siapa yang membuat itu tumbuh,” tukasnya.

Diketahui, laporan kinerja keuangan Perseroan untuk kuartal I 2020 PT Unilever Indonesia tetap kuat di masa krisis. Unilever Indonesia mencatat pertumbuhan penjualan 4,6% dan laba bersih 6,5% di kuartal I 2020.

Pertumbuhan penjualan Unilever ini didorong oleh pertumbuhan penjualan domestik sebesar 4,4% serta pertumbuhan penjualan ekspor sebesar 9,0%. Perseroan juga mencatat laba bersih di kuartal I 2020 sebesar Rp1,8 triliun, tumbuh sebesar 6,5% dibandingkan dengan periode yang sama di 2019.*/Ainuddin Chalik

Di Saat Belum Ada Internet, Pendiri Hidayatullah Sudah Gagas Konsep E-Commerce

Sumber Foto: Dokumentasi Pelatihan Bendahara Oleh Pengurus DPP Hidayatullah 2019

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Di saat sejarah internet Indonesia baru dimulai pada awal tahun 1990-an dan protokol Internet (IP) pertama dari Indonesia, UI-NETLAB (192.41.206/24) didaftarkan pada 24 Juni 1988, pendiri Hidayatullah almarhum Abdullah Said ternyata sudah punya visi ke depan tentang e-commerce, maketplace dan juga retail serta konsep home industry.

Hal itu diungkapkan Dewan Penasehat Aosiasi Pengusaha Hidayatullah (APHIDA) Asih Subagyo.

Dalam bidang ekonomi, kata Asih, obsesi Abdullah Said adalah membangkitkan perekonomian masyarakat ekonomi lemah dengan mencarikan dan memberikan pinjaman kepada para pedagang kaki lima dan santri santri yang mempunyai kecenderungan untuk berdagang.

“Pernyataan ini sampaikan tahun 1990 yang ketika itu belum ada e-commerce dan marketpalce tapi arahnya ke sana. Tapi problemnya, kami ini sebagai pendamping beliau gak paham. Pemimpin itu pasti mempunyai bashirah yang tajam dan ini yang beliau lakukan,” kata Asih pada Webinar Series 03 – Pra Munas V Hidayatullah bertajuk “Mencetak 10.000 Wirausahawan Mandiri dan Berdaya Guna” seperti dilansir kanal Youtube Hidayatullah ID, Sabtu (27/9/2020).

“Beliau juga berkeinginan membuat super market yang menyediakan segala macam kebutuhan. Dalam salah satu ceramahnya beliau berguyon, toko ini menjual terasi hingga helikopter tersedia dengan sistem pesan antar. Pesan di malam hari, pagi harinya diantarkan oleh petugas,” ujarnya.

Hal ini tidak saja saling menguntungkan, namun juga sebagai sebuah cara untuk menerbitkan hukum sehingga kaum wanita tidak perlu jauh jauh keluar rumah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Obsesi Abdullah Said tersebut kini telah menjadi kenyataan dengan mulai menjamurnya ecommerce, marketplace dan UKM-UB termasuk konsep bisnis halal food dan indsutri rumah tangga.

“Dan produksinya, dari terasi sampai helikopter. Artinya, semua industri ini mesti digeluti oleh kader Hidayatullah. Kesadaran ini yang belum tertanam di kita. Bisnis Islam itu bukan hanya herbal dan bekam, beliau memyampaikan dari terasi sampai helikopter, kan dahsyat,” kata Asih.

Di samping itu Abdullah Said juga menginginkan agar kita memproduksi sendiri bahan bahan makanan dengan tujuan menyediakan lapangan kerja dan untuk menghilangkan keraguraguan terhadap produk produk makanan yang ada.

Asih menukil dalam sebuah kesempatan kuliah umum malam Jum’at, 25 Maret 1990, Abdullah Said menyampaikan bahwa, “kita harus kaya dan kaya, namun bukan untuk pribadi tetapi untuk lembaga. Karena yang kita pikirkan adalah seluruh dunia, bagaimana mengislamkan peradadaban sekarang”.

“Spirit ini yang seharusnya kita jaga. Tidak sekedar dijaga tapi juga diimplementasikan. Kita sudah punya Hidayatullah Incorporated meliputi ekonomi lembaga, ekonomi ummat dan ekonomi sosial,” pungkasnya.

Wakaf Sebagai Solusi Ekonomi Umat Pada Masa Pandemi

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Bidang Perekonomian Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Asih Subgyo menyampaikan bahwa dalam menghadapi pandemi hingga saat ini dibutuhkanya ketenangan untuk tidak panik. Namun, tidak boleh juga melakukan hal-hal yang bersifat gegabah. Hal itu disampaikanya pada saat webinar aksi wakaf fest 2020 yang diadakan secara daring (24/9). Asih mengatakan penting untuk saat ini kita berpikir jernih sekaligus tidak berindak gegabah disaat banyak para ahli memprediksi pandemic baru akan berakhir pada akhir 2021.

“Banyak para ahli yang mengatakan bahwa pandemic di Indonesia akan berakhir pada akhir 2021. Maka hal terbaik yang dapat kita lakukan adalah tidak panik. Namun, tidak bertindak gegabah dengan bersantai ria. Terutama yang bersangkutan dengan masalah ekonomi” jelasnya.

Menurut Asih, wakaf menjadi faktor yang sangat penting untuk saat ini sebagai salah satu dari sekian banyak pesan dari al-quran yang dapat kita kerjakan pada bidang ekonomi. Menurutnya sistem ekonomi yang bersifat riba malah akan semakin memberatkan banyak kalangan masyarakat dalam memghadapi pandemi.

“Sesungguhnya sistem riba yang kita lakukan malah akan semakin memberatkan ekonomi. Yang mana dampaknya menaikan harga, tetapi menurunkun jumlah transaksi dan juga pendapatan” ucapnya.

Maka transaksi wakaf boleh jadi menjadi solusi yang sangat efektif. Selain dalam wakaf adanya fungsi ibadah kepada Allah SWT. Dalam wakaf juga ada fungsi ekonomi sebagai sebuah sistem yang tranparan dan efektif. Ada juga fungsi sosial yang mana apabila wakaf diurus dan dilaksanakan dengan baik, berbagai kekurangan akan fasilitas dalam masyarakat akan lebih mudah teratasi.

“Tentunya dengan melakukan wakaf, selain sebagai sarana bentuk ibadah kepada Allah SWT. Kita juga telah banyak melakukan kebaikan yang membantu lingkungan sekitar. Karena dalam wakaf setidaknya ada empat fungsi utama yaitu: fungsi ibdah, fungsi ekonomi, fungsi social dan juga fungsi akhlak karena kita saling bantu” terang Asih.

Asih juga menjelaskan bahwa dana wakaf ini harus benar-benar dikelola oleh orang yang professional. Karena dana wakaf merupakan bentuk kepercayaan orang yang rela mengelontorkan dana untuk menjalankan setidaknya empat fungsi utama tersebut.

“Sesungguhnya dana wakaf umat seharunya dan memang harus dikelola dengan profesional. Karena ini merupakan usaha mereka untuk melakukan setidaknya empat fungsi tersebut” Jelas Asih.

Webinar Aksi Wakaf Fest 2020, yang diselenggarakan oleh BMH, BWI, Baitul Wakaf dan CIMB Niaga Syariah. Adapun pembicara lain Hendri Tanjung, P.hD, komisioner Badan Wakaf Indonesia, dan Dr. Fahmi, coach profesional dan di buka oleh Ketum DPP Hidayatullah Dr. Nashirul Haq, Lc, MA.*Amanjikefron

Bukti Hidupnya Pemuda

0
Foto Munas Syabab (Pemuda Hidayatullah) 17 Januari 2020, Dokmentasi Pribadi.

Kamis (24/9) saya ditemani Sekjen Pemuda Hidayatullah, Bang Majelis dan Ketua Departemen Humas Data dan Informasi, Bang Ainuddin berkesempatan silaturrahim dengan cendekiawan Muslim Tanah Air, Dr. Adian Husaini di Attaqwa Collage, Depok, Jawa Barat.

Pertemuan itu berlangsung santai dan penuh keakraban. Ustadz Adian, biasa saya panggil beliau demikian, langsung memberikan sebuah pertanyaan kunci, “Apa bidang yang ditekuni oleh Pemuda Hidayatullah?”

“Pemuda Hidayatullah jangan terjebak dengan kata pemuda. Pemuda itu usianya, kiprahnya harus luas, bahkan sangat bagus kalau bisa lebih unggul dalam kiprah dakwah daripada DPP Hidayatullah,” seloroh beliau.

Sebuah ungkapan ringan namun sarat makna, terutama kala kaum muda di lembaga yang dikenal militan dalam dakwah ini benar-benar sadar bahwa eksistensi dirinya sebenarnya sangat diharapkan untuk kelangsungan, keberlanjutan, dan ketangguhan gerakan dakwah di masa depan.

Akan tetapi saat kita membuka lembaran sejarah negeri ini, awal lahirnya gerakan Islam yang mendorong lahirnya kesadaran merdeka dari penjajahan Belanda dipelopori oleh kaum muda.

Kiai Wahab mendirikan  Nahdlatul Wathan saat berumur 26 tahun. Ketika itu Kiai Bisri Syamsuri menginjak usia 27 tahun, sedangkan Kiai Hasyim Asy’ari 41 tahun.

Bahkan Hidayatullah sendiri, didirikan oleh sosok Ustadz Abdullah Said pada 1973 di Balikpapan saat usia beliau baru 28 tahun. Dan, kini Hidayatullah telah eksis di seluruh Indonesia dengan mainstream gerakan dakwah dan tarbiyah.

Di masa Nabi Muhammad ﷺ pun, kehadiran kaum muda juga memberikan pengaruh besar dalam ekspansi dakwah Islam. Seperti Zaid bin Tsabit, Usamah bin Zaid, dan Mushab bin Umair.

Semua ini menunjukkan bahwa kaum muda di Hidayatullah harus melihat substansi dirinya secara tepat dan menyeluruh.

Saran Ustadz Adian setidaknya ada tiga. Pertama, kuatkan intelektualisme. Kedua, lakukan dakwah dengan memanfaatkan sarana internet. Ketiga, hadirlah dengan gagasan-gagasan besar untuk Indonesia dan dunia ke depan.

Pemuda Hidayatullah harus mulai menekuni dunia intelektualisme agar visi dan kiprah yang selama ini telah ditorehkan para dai dapat disebarluaskan secara memadai dan bisa dinikmati generasi ke generasi dalam wujud karya-karya tulis, baik berupa artikel, buku, maupun jurnal. Langkah ini sangat penting, guna menjadikan umat semakin cerdas, utamanya terkait apa yang selama ini telah dilakukan oleh Hidayatullah.

Kemudian internet, Pemuda Hidayatullah harus memahami bahwa kategori daerah maju kini tidak lagi hanya bermakna kota, tapi semua tempat yang telah dijangkau oleh internet. Kalau dahulu orang di kota dianggap maju, sekarang orang di desa, pelosok dan dimanapun maju, selama internet bisa diakses dengan mudah.

Bahkan, jika kembali pada visi membangun peradaban Islam, upaya itu juga sangat mungkin diwujudkan di daerah-daerah, yang notabene, asalkan penduduk di desa itu rajin mengakses informasi dan ilmu melalui internet tidak akan banyak bedanya dengan masyarakat kota.

Selanjutnya, Pemuda Hidayatullah mesti hadir dengan gagasan-gagasan besar untuk Indonesia dan dunia. “Pemuda itu dinilai hadir atau terbukti ada eksistensinya hanya apabila punya gagasan dan konsisten dengan gagasannya,” demikian tegas Ustadz Adian.

Meski demikian, penulis buku-buku pemikiran dan peradaban itu berpesan, bahwa metode dakwahnya harus tetap merangkul, jangan memukul.

Dari dialog itu, maka jelas Pemuda Hidayatullah punya tanggungjawab sekaligus tantangan nyata bagaimana menjadikan dakwah kian masif seiring perkembangan teknologi komunikasi dan informasi. Hadirlah sebagai sosok muda yang haus akan ilmu, tak pernah puas hanya menjadi pintar, tapi harus bisa memberikan manfaat besar, dan konsisten dengan nilai-nilai dan gagasan-gagasan besar yang telah diwariskan para pendiri lembaga.

Adapun konten dakwah maka sudah jelas, fasilitas sudah tersedia, jaringan internet, transportasi yang kian mudah, hingga jaringan yang telah tersedia di seluruh Indonesia, tinggal bagaimana Pemuda Hidayatullah punya gagasan besar.

Idealnya, sosok pemuda tak boleh puas hanya dengan dunia profesionalisme yang menjanjikan materi, tapi mesti tertantang hadir dengan spirit profetik dimana ada rasa keterpanggilan secara serius untuk mendidik umat, membawa umat pada kebaikan, sehingga pada akhirnya nanti Pemuda Hidayatullah dapat memberikan solusi kunci bangsa Indonesia maju dan bermartabat.

Dan, semua itu butuh dua hal setidaknya, yakni kesadaran dan gagasan. Karena tanpa kedua hal itu, pemuda hanyalah usia, bukan eksistensi.

Dalam Bahasa Abdullah Nashih Ulwan pada bukunya Pesan untuk Pemuda Islam kesadaran dan gagasan itu adalah yang dijiwai oleh konsepsi Rabbani yang suci dari rona-rona kebatilan, baik yang datang dari depan maupun dari belakang, yang mengajak umat manusia kembali pada fitrahnya. Allahu a’lam.

Imam Nawawi, Ketua Umum Pemuda Hidayatullah

Memanifestasikan Islam Dalam Lingkungan Keluarga

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Kepala bidang tarbiyah Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ustad Dr. Tasyrif Amin, M.Pd menyebutkan bahwa Allah mengutus Nabi Muhammad SAW tidak lain ialah menjadikan islam Nampak/termanifestasikan. Ia mengatakan salah satu usaha yang paling mendasar dalam memanifestasikan islam ialah dimulai dari diri sendiri dan juga keluarga.

“Sejatihnya Allah SWT mengutus Rasul dan mewahyukan alquran untuk dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari dan bentuk usaha paling mendasar dari hal tersebut ialah dimulai dari diri sendri dan juga keluarga” terangnya.

Menurut Tasyrif ada empat hal yang mendasar dalam membangun manifestasi islam pada diri dan keluarga. Empat hal tersebut ialah: tempat tinggal, rancangan kurikulum, lingkungan komunitas yang baik, dan juga perencanaan ekonomi untuk Pendidikan anak.

Ia menjelaskan bahwa tempat tinggal merupakan satu hal yang sangat esensial, rempat tinggal yang baik ialah tempat tinggal yang dekat dengan masjid. Seorang kepala keluarga setidaknya bisa dan berusaha mencari tempat tinggal yang dapat menjangkau masjid. Karena hal itu jua diampaikan nabi bahwa orang beriman ialah orang yang mondar mandir ke masjid.

“Seorang kepala setidaknya bisa menjaga generasinya dari ganguan-ganguan virus. Tempat tinggal yang hubungan horizontalnya serta vertikalnya selalu mendapat barokah dari Allah SWT” jelasnya.

Selanjutnya ialah, kewajiban seorang kepala keluarga harus bisa merancang Pendidikan yang kurikulum dasarnya harus menuju Allah SWT.

“Seorang Kepala Keluarga harus bisa merancang bagaimana Pendidikan genarasinya selalu berujung pada mentauhidkan Allah” ucapnya.

Lingkungan juga dapat mewariskan Pendidikan kepada anak secara tidak langsung. Anak tentunya tidak berada di rumah selama 24 jam. Tentunya karakter seseorang tergantung pada siapa dia berteman. Maka tentunya sangat penting bagi keluarga memilih tinggal di komunitas yang islami.

“Sangat penting untuk memilih komunitas tempat tinggal yang baik untuk pergaulan generasi. Karena karakter seseorang dapat tumbuh dan terbentuk sebagaimana pada siapa ia berteman atau bersosialisasi” jelasnya.

Tasyrif juga mengatakan bahwa keluarga setidaknya meyiapkan ekonomi Pendidikan untuk sgenerasinya. “Kita setidaknya menyiapkan ekonomi agar Pendidikan generasi kita mendapatkan yang terbaik” pungkasnya. *Amanjikefron