KUDUS (Hidayatullah.or.id) – Tim SAR Hidayatullah bersama Laznas BMH turut melakukan aksi tanggap darurat bencana banjir bandang yang melanda sejumlah kawasan di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, akibat tanggul Sungai Gelis, Desa Pasuruan Lor, Kecamatan Jati, jebol. Akibatnya puluhan rumah warga di Dusun Goleng, Desa Pasuruan Lor, kebanjiran dan terisolasi.
Dari pantauan yang dilakukan di lokasi, tanggul jebol sepanjang sekitar 25 meter. Tampak jalan akses warga Dusun Goleng terputus karena tergenang air.
Kejadian tanggul jebol kurang lebih jam 10.45 WIB, Jumat (1/1/2021) malam. Akibat dari tanggul jebol tersebut Dusun Goleng terisolasi dan puluhan rumah warga terdampak banjir.
Ketua SAR Hidayatullah Jateng Edy Mulyanto yang juga korlap aksi tanggap kebencanaan ini melaporkan, wilayah terdampak tanggul jebol ini antara lain Goleng Desa Pasuruhan Lor Kecamatan Jati.
“Warga terisolir oleh tanggul jebol, air melimpas ke jalan ± 1 – 2 m, air masuk ke dalam pemukiman warga ± 10 – 30 Cm, air menggenang di pemukiman dengan fondasi rumah rendah, ketinggian air intensitas meningkat, jumlah warga terdampak diperkirakan 700 KK hingga 1200 jiwa,” kata Edy.
Daerah terdampaj lainnya yaitu Jalan Karang Turi, Desa Setro Kalangan, Kecamatan Kaliwungu. Air menggenang di jalan masuk dengan ketinggian genangan ± 60 cm.
“Air tidak masuk ke pemukiman warga,” kata Edy. Namun, akibat akibat limpahan air ini aktifitas warga lumpuh dan terisolir oleh genangan. Ketinggian air intensitasnya meningkat, korban terdampak terisolir diperkirakan 350 KK,” imbuhnya.
Adapun kebutuhan mendesak yang sangat diharapkan oleh masyarakat terdampak banjir bandang ini adalah makanan siap saji dan oba-obatan.
Sementara ini tim relawan SAR Hdayatullah seperti Sholehan, Faqih, Qowam, Farhan dan sejumlah tim gabungan lainnya masih terus melakukan upaya mitigasi serta mendistribusikan bantuan dari Laznas BMH.
Update: Saat ini hari Ahad, 3 Januari 2020 pukul 14:00 WIB, pantauan SAR Hiayatullah dari lokasi, Alhamdulillah air sudah mulai surut dan tanggul sudah mulai ditambal.
MANSEL (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah menetapkan dakwah sebagai arus utama gerakan, selain tarbiyah yang juga terus dikuatkan. Dalam rangka meneguhkan mainstream gerakan tersebut, Hidayatullah meluaskan dakwah ke berbagai titik. Salah satunya kini berkhidmat dakwah menjumpai masyarakat di Manokwari Selatan.
Beribukota Ransiki, Kabupaten Manokwari Selatan sendiri merupakan pemekaran dari Kabupaten Manokwari, yang secara resmi dimekarkan pada 17 November 2012.
Hidayatullah mulai berkhidmat di kawasan sejak beberapa tahun lalu melalui kegiatan pembinaan keagamaan rutin bagi masyarakat muslim di daerah ini, yang, menurut data Badan Pusat Statisktik Manokwari Selatan (BPS Mansel) Tahun 2019, penganut Islam sebanyak 15,28%.
Sementara prosentase penganut agama Kristen adalah mayoritas sebesar 84,18%, Katolik 0,47%, Hindu 0,01% dan penganut Kepercayaan lainnya sebesar 0,06%. Hubungan harmonis antar suku, agama dan ras senantiasa terjalin sangat baik. Demikian pula dakwah Islam yang disambut positif oleh masyarakat.
Khidmat dakwah Hidayatullah tersebut pun bersambut dengan adanya lokasi tanah wakaf seluas 3 hektare dari pemberian secara kolektif dari tokoh masyarakat setempat yakni Muhammad Yamin dan saudaranya, Muhammad Arsyad dan Seno.
Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Ust Muhammad Sulton dan Ust Hasanuddin Aly dan Kadep Dakwah DPW Hidayatullah Papua Barat Ust Burhanuddin Ibnu dan Kadep Perkaderan Ust. Muhammad Sanusi serta didampingi pengurus lainnya mengunjungi langsung lokasi perintisan Hidayatullah Kabupaten Manokwari Selatan tersebut, Sabtu (2/1/2021).
Saat ini khidmat dakwah Hidayatullah Manokwari Selatan kian diteguhkan dengan diutusnya dua orang tenaga dai yang juga pengurus Hidayatullah Mansel yaitu Ust Maghfuri dan Ust Sulaiman Anwar.
Maghfuri mengatakan, Manokwari Selatan adalah cabang rintisan yang sudah mulai dijajaki sejak dari DPW Hidayatullah Papua Barat Periode lalu (2015-2020) dan terus direalisasikan pada periode DPW 2020-2025 ini.
“Semoga dakwah dalam rangka membangun Mansel dari sisi sumber daya manusianya ini semakin meluas kebaikannya dan berbagai rencana pembangunan yang dicanangkan dapat dilakukan dengan baik pula,” kata Maghfuri.
Dia meminta agar diberi dukungan doa agar dimampukan mengabdi di kawasan dengan kesabaran dan keistiqamahan dalam mengemban amanah dakwah ini sehingga bisa terwujud Pesantren Hidayatullah di Mansel sebagaimana maenstrem Hidayatullah.
Pihaknya pun berharap semoga keberadaan Hidayatullah Mansel turut berkontribusi dalam pembangunan di kawasan, diterima dan terus bersinergi dengan berbagai lapisan masyarakat maupun dengan pemerintah setempat.*/Miftahuddin
DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah KH Dr Nashirul Haq, MA, mengimbau agar tetap selalu menjaga iman dan imunitas tubuh di masa pandemi agar dakwah sebagai prioritas utama gerakan dapat terus dikuatkan. Hal ini disampaikan dia saat menutup acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Kota Depok, Jawa Barat, Kamis (31/12/2020).
Sistem imunitas merupakan sistem pertahanan atau kekebalan tubuh yang memiliki peran dalam mengenali dan menghancurkan benda-benda asing atau sel abnormal yang merugikan tubuh kita.
Dalam forum pamungkas itu, Nashirul mendorong segenap kader dan pengurus Hidayatullah untuk benar-benar disiplin dalam menghadapi pandemi yang berkepanjangan ini.
“Kita harus tetap menjaga dan meningkatkan iman dan imun secara seimbang. Karena kesehatan jiwa dan fisik merupakan hal yang tak terpisahkan, kala mengemban amanah sebagai Abdullah dan Khalifatullah,” katanya.
Nashirul menukil sebuah pepatah mengatakan, ‘Lebih baik mencegah daripada mengobati.’
“Kalau kita terpapar, itu prosesnya lebih berat. Syukur kalau tidak ada penyakit bawaan. Oleh karena itu kehati-hatian harus mutlak diupayakan dalam menghadapi pandemi yang berkepanjangan ini,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Nashirul pula mengingatkan pentingnya setiap kader dan pengurus Hidayatullah perihal strategisnya amanah dakwah yang diemban.
“Hendaknya kita semua, mengemban amanah kepengurusan ini dengan membangun soliditas yang kuat, team work yang solid dan mengedepankan musyawarah,” terangnya.
Nashirul pun menjelaskan perihal bagaimana Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah dalam menjalankan amanah organisasi.
“Kami di DPP, kekuatan itu ada di musyawarah, semua dimusyawarahkan di Pengurus Harian. Bahkan pada urusan yang strategis kami konsultasikan dengan Dewan Mudzakarah, lebih strategis lagi kami konsultasikan dengan Dewan Pertimbangan dan puncaknya adalah kepada Pemimpin Umum. Kekuatan musyawarah ini menjadi bekal kita,” imbuhnya.
Lebih dari itu penting juga semua kader dan pengurus memahami bahwa amanah sejatinya dipertanggungjawabkan kepada Allah Ta’ala.
“Pertanggungjawaban kita adalah kepada Allah, ini semua adalah jihad, amal sholeh. Jadi yang pertama menilai adalah Allah. Kemudian dinilai oleh Rasulullah dan pemimpin di atas kita, juga oleh seluruh kaum Muslimin. Pada ujungnya akan dinilai oleh jama’ah dan anggota kita,” pugkasnya.
Rakernas Hidayatullah yang berlangsung intensif selama 3 hari ini memberlakuan standar penyelenggaraan dan protokol kesehatan yang cukup ketat dengan mensyaratkan pemberlakuan social distancing, penggunaan masker serta pemeriksaan kesehatan metode swab antigen kepada semua. (ybh/hio)
DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Rapat Kerja Nasioanal Hidayatullah 2020 yang berlangsung di Kampus Utama Pesantren Hidayatullah Depok telah resmi ditutup, Kamis (31/12/2020).
Dalam arahan penutupnya, Ketua Umum DPP Hidayatullah, Ust Dr Nashiru Haq (UNH) mengingatkan pentingnya setiap kader dan pengurus perihal strategisnya amanah yang diemban.
“Hendaknya kita semua, mengemban amanah kepengurusan ini dengan membangun soliditas yang kuat, team work yang solid dan mengedepankan musyawarah,” tegasnya.
UNH pun menjelaskan bagaimana DPP Hidayatullah dalam menjalankan amanah organisasi.
“Kami di DPP, kekuatan itu ada di musyawarah, semua dimusyawarahkan di Pengurus Harian. Bahkan pada urusan yang strategis kami konsultasikan dengan Dewan Mudzakarah, lebih strategis lagi kami konsultasikan dengan Dewan Pertimbangan dan puncaknya adalah kepada Pemimpin Umum. Kekuatan musyawarah ini menjadi bekal kita,” imbuhnya.
Lebih dari itu penting juga semua kader dan pengurus memahami bahwa amanah sejatinya dipertanggungjawabkan kepada Allah Ta’ala.
“Pertanggungjawaban kita adalah kepada Allah, ini semua adalah jihad, amal sholeh. Jadi yang pertama menilai adalah Allah. Kemudian dinilai oleh Rasulullah dan pemimpin di atas kita, juga oleh seluruh kaum Muslimin. Pada ujungnya akan dinilai oleh jama’ah dan anggota kita,” ungkapnya.
Tidak tertinggal, dalam forum pamungkas itu, UNH dorong segenap kader dan pengurus Hidayatullah untuk benar-benar disiplin dalam menghadapi pandemi yang berkepanjangan ini.
“Kita harus tetap menjaga dan meningkatkan iman dan imun secara seimbang. Karena kesehatan jiwa dan fisik merupakan hal yang tak terpisahkan, kala mengemban amanah sebagai Abdullah dan Khalifatullah.
Pepatah mengatakan, ‘Tindakan preventif itu lebih baik dari pada pengobatan.’
“Kalau kita terpapar, itu prosesnya lebih berat. Syukur kalau tidak ada penyakit bawaan. Oleh karena itu kehati-hatian harus mutlak diupayakan dalam menghadapi pandemi yang berkepanjangan ini,” jelasnya.*/Imam Nawawi
DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Gerakan dakwah harus ditopang dengan gerakan ekonomi keumatan. Oleh karena itu, para kader dakwah Islam, pesan Pemimpin Umum Hidayatullah Ustadz Abdurrahman Muhammad, harus berpikir bagaimana membangun ekonomi keummatan.
“Ekonomi keummatan harus benar-benar digerakkan. Sebab Allah Ta’ala menyampaikan kepada kita, kita harus menopang gerakan ini dengan ekonomi,” ujar Ustadz Abdurrahman dalam taujihnya saat membuka Rapat Kerja Nasional Hidayatullah 2020 secara virtual, Selasa (29/12/2020).
“Kalau kita berada di lingkungan nelayan bagaimana nelayan itu diberdayakan, demikian juga kalau ada di lingkungan peternak dan petani, berdayakan semuanya,” imbuhnya.
Semangat membangun ekonomi keumatan itu harus dikuatkan dan sangat penting untuk segera diwujudkan. “Yang penting kita sehat, sehingga kuat berjuang, ditopang dengan ekonomi yang kuat,” ujarnya.
Selain mendorong penguatan ekonomi umat, Ustadz Abdurrahman juga menegaskan pentingnya para kader meneguhkan posisinya sebagai insan beriman yang berpikir di atas nilai-nilai Al-Qur’an. Hal itu diwujudkan dengan sikap dan perilaku gemar memberi sebanyak-banyaknya.
“Memang ada perbedaan cara berpikir, antara orang beriman dengan orang yang menerapkan pemikiran liberal, maupun pemikiran kiri. Orang beriman landasan berpikirnya adalah keimanan kepada wahyu Allah Ta’ala.
Wahyu adalah yang menghadirkan kesadaran diri kita sebagai hamba Allah. Apapun yang kita lakukan itu dalam rangka memberikan kontribusi terhadap perjuangan, memberi kontribusi,” urainya.
Karena itu, sikap mental insan beriman tidak sama dengan yang tidak beriman.
“Tidak seperti paradigma yang dibangun kaum liberal, yang hanya dibangun di atas interes materialisme, positivisme, dan sekularisme. Yang hanya berpikir bagaimana mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya untuk diri dan kelompoknya tanpa peduli terhadap mudharat yang ditimbulkan,” imbuhnya menegaskan.
Oleh karena itu, semakin hari kader Hidayatullah harus semakin yakin dengan janji Allah dan terus melatih diri gemar berbagi, memberi sebanyak-banyaknya untuk perjuangan.
“Melalui wahyu, prinsip kita bagaimana memberikan sebanyak-banyaknya manfaat. Ketika kita memiliki spirit yang baik, bagaimana kita memberikan manfaat dimana kita berada. Ketika kita mendapatkan sesuatu maka cara berpikir kita bagaimana kita memberikan sebanyak-banyaknya sesuatu itu,” ujarnya, yang membuka rakernas bertema “Konsolidasi Idiil, Organisasi dan Wawasan Menuju Terwujudnya Standardisasi, Sentralisasi dan Integrasi Sistemik” itu.
Sementara Ketua Umum DPP Hidayatullah Nashirul Haq atau yang akrab disapa UNH dalam sambutannya, menjelaskan, forum ini menjadi ajang pembuktian ketaatan dan loyalitas kader.
“Alhamdulillah, kita bersyukur, kita (masih) merasakan ketaatan dan gelora perjuangan para kader. Dari kampus induk ada 60 orang ditugaskan. Berarti identitas kelembagaan masih bisa dijaga. Ditambah rejuvenasi yang berlangsung saat ini,” ujarnya.
Pada Rakernas ini UNH menegaskan loyalitas dan ketaatan kader akan diukur. “Rakernas ini yang dominan adalah sosialisasi hasil keputusan Musyawarah Majelis Syuro (MMS). Ketaatan dan loyalitas kader adalah komitmennya dalam melaksanakan amanah dari keputusan Musyawarah Majelis Syuro yang disampaikan di forum ini,” tegasnya.
Lebih jauh, UNH menegaskan bahwa dalam upaya tersebut mainstream organisasi harus terus diutamakan. “Gerakan mainstream (dakwah dan tarbiyah) harus diutamakan, bahkan menjiwai dan menjadi ruh seluruh program kerja kita,” imbuhnya.
Rakernas kali ini berlangsung di Kampus Utama, Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat dengan tetap menerapkan protokol kesehatan dalam upaya mencegah penyebaran Covid-19.*/Imam Nawawi
DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Pemimpin Umum Hidayatullah, KH. Abdurrahman Muhammad berkesempatan hadir secara virtual memberikan taujih di arena Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah yang berlangsung di Kampus Pondok Pesantren HidayatullahKota Depok, Jawa Barat, Selasa (29/12/2020).
Dalam uraiannya, Abdurrahman menegaskan pentingnya para kader meneguhkan posisinya sebagai insan beriman yang berpikir di atas nilai-nilai Wahyu. Dan, itu diwujudkan dengan sikap dan perilaku gemar memberi sebanyak-banyaknya.
“Memang ada perbedaan cara berpikir, antara orang beriman dengan orang yang menerapkan pemikiran liberal, maupun pemikiran kiri. Orang beriman landasan berpikirnya adalah keimanan kepada Wahyu Allah Ta’ala”.
“Wahyu adalah yang menghadirkan kesadaran diri kita sebagai hamba Allah. Apapun yang kita lakukan itu dalam rangka memberikan kontribusi terhadap perjuangan, memberi kontribusi,” urainya.
Karena itu, tegas dia, sikap mental insan beriman tidak sama dengan yang tidak beriman.
“Tidak seperti paradigma yang dibangun kaum liberal, yang hanya dibangun di atas interest materialisme, positivisme dan sekularisme. Yang hanya berpikir bagaimana mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya untuk diri dan kelompoknya tanpa peduli terhadap mudharat yang ditimbulkan,” imbuhnya menegaskan.
Oleh karena itu, semakin hari kader Hidayatullah harus semakin yakin dengan janji Allah dan terus melatih diri gemar berbagi, memberi sebanyak-banyaknya untuk perjuangan.
“Melalui Wahyu, prinsip kita bagaimana memberikan sebanyak-banyaknya manfaat. Ketika kita memiliki spirit yang baik, bagaimana kita memberikan manfaat dimana kita berada. Ketika kita mendapatkan sesuatu maka cara berpikir kita bagaimana kita memberikan sebanyak-banyaknya sesuatu itu,” paparnya.
Di penghujung uraian, KH. Abdurrahman Muhammad mendorong agar segenap kader mulai berpikir bagaimana membangun ekonomi keummatan.
“Ekonomi keummatan harus benar-benar digerakkan. Sebab Allah Ta’ala menyampaikan kepada kita, Kita harus menopang gerakan ini dengan ekonomi,” tandasnya.
“Kalau kita berada di lingkungan nelayan bagaimana nelayan itu diberdayakan, demikian juga kalau ada di lingkungan peternak dan petani, berdayakan semuanya,” imbuhnya.
Semangat itu harus dikuatkan dan sangat penting untuk segera diwujudkan.
“Yang penting kita sehat, sehingga kuat berjuang, ditopang dengan ekonomi yang kuat,” tutupnya.*/Imam Nawawi
PADA hari Ahad (27 Desember 2020), empat Organisasi Islam menggelar acara Tabligh Akbar Bersama melalui media online. Tema yang dibahas adalah: “Pendidikan dan Kebangkitan Peradaban Kita”.
Tabligh Akbar itu merupakan penegasan komitmen dari empat organisasi Islam untuk melanjutkan perjuangan dakwah melalui pendidikan dalam rangka mewujudkan satu peradaban mulia di bumi Indonesia.
Empat orang tampil sebagai pembicara: Dr. Nasirul Haq (Ketua Umum Hidayatullah), Dr. Jeje Zainuddin (Wakil Ketua Umum Persatuan Islam/Persis), Dr. Adian Husaini (Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia) dan Dr. Muhammad Zaitun Rasmin (Ketua Umum Wahdah Islamiyah). Moderatornya, Dr. Imam Zamroji, Wakil Ketua Umum Dewan Da’wah.
Keempat Ormas Islam tersebut memang selama ini dikenal dengan aktitivitas dakwahnya dalam bidang pendidikan. Persis yang sudah berumur 97 tahun, kini mengelola ratusan sekolah, pondok pesantren, dan juga Perguruan Tinggi.
Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, sejak berdirinya tahun 1967, memilih jalur Pendidikan – dalam arti luas – sebagai jalan utama dakwah. “Dulu kita berdakwah dengan politik, sekarang kita berpolitik dengan dakwah,” kata Mohammad Natsir, menyusul pendirian Dewan Da’wah.
Sejak awal berdirinya, tahun 1973, Organisasi Hidayatullah memulai dengan pendirian Pondok Pesantren di Balikpapan, Kalimantan Timur. Kini, Hidayatullah mengelola ratusan lembaga Pendidikan yang berkualitas, mulai TK sampai Perguruan Tinggi. Pesantren dan sekolah-sekolah Hidayatullah tersebar di berbagai provinsi di Indonesia.
Wahdah Islamiyah yang berdiri tahun 1988 di Kota Makassar Sulawesi Selatan juga mengawali pendiriannya dengan sebuah lembaga pendidikan.
Kini, Wahdah Islamiyah sudah menjadi Ormas Islam dengan basis utama gerakan dakwah melalui dunia pendidikan. Wahdah Islamiyah memiliki satu Perguruan Tinggi yang berkualitas bernama STIBA (Sekolah Tinggi Islam dan Bahasa Arab), di Makasar. Setiap tahun, kampus ini meluluskan ratusan dai yang ditugaskan sebagai dai-dai dan aktivis Wahdah Islamiyah.
Dalam acara Tabligh Akbar akhir tahun 2020, Dr. Nasirul Haq menguraikan konsep pendidikan dan peradaban dalam Islam, dengan mengutip al-Quran Surat al-Jumuah ayat 2:
“Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS: Al Jumuah: 2)
Membangun peradaban mulia merupakan misi kenabian. Dan itu dimulai dengan membangun manusia-manusia yang mulia melalui proses pendidikan. Ayat tersebut menjelaskan, bahwa metode pendidikan dimulai dengan menghafal dan memahami ayat-ayat al-Quran, lalu dilanjutkan dengan tazkiyatun nafs (pensucian jiwa). Proses tazkiyah harus menjadi inti pendidikan. Sebab, inilah kunci kesuksesan.
Dr. Nasirul Haq juga menekankan pentingnya penanaman adab dalam Pendidikan, sebagaimana dikatakan seorang ulama besar, Abdullah Ibn al-Mubarak. Kata beliau: “Aku mencari adab selama 30 tahun, kemudian aku mencari ilmu selama 20 tahu.”
Dr. Jeje Zainuddin mengambil perumpamaan al-Quran Surat Ibrahim ayat 24-25 tentang “pohon kebaikan” sebagai simbol peradaban mulia: “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.”
Bahwa, peradaban mulia harus dibangun berdasarkan keimanan yang kokoh. Karena itulah, pendidikan harus didasarkan kepada penanaman Tauhid. Selanjutnya, keimanan itu terwujud dalam akhlak mulia. Dengan akhlak mulia itulah, seorang manusia akan memberi manfaat kepada sesamanya, sebagaimana disimbolkan al-Quran dengan satu pohon yang akarnya kokoh menghunjam ke bumi, cabang-cabangnya menjulang ke langit, dan buahnya dinikmati oleh umat manusia.
Dr. Zaitun Rasmin pun menekankan pentingnya organisasi Islam memperhatikan aspek pendidikan sebagai proses membangun kader-kader umat dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam bidang politik. Secara khusus, Ustadz Zaitun menekankan pentingnya program kaderisasi ulama, untuk mewujudkan ulama-ulama hebat yang akan memimpin umat. Sejak awal berdirinya Wahdah Islamiyah hingga kini, Dr. Zaitun Rasmin dan para aktivis Wahdah Islamiyah terus melahirkan kader-kader umat yang jumlahnya kini mencapai ribuan dan tersebar di seluruh Indonesia.
Pada kesempatan tersebut, saya pun menekankan, bahwa problem terbesar yang kita hadapi di Indonesia, adalah kualitas SDM umat Islam dalam berbagai bidang kehidupan. Kader-kader umat yang unggul itu harus disiapkan melalui proses pendidikan yang unggul. Menyongsong 100 tahun kemerdekaan Indonesia, tahun 2045, umat Islam Indonesia memiliki peluang besar dalam mewujudkan peradaban mulia, dengan beberapa pertimbangan:
Pertama, Pendidikan dan Peradaban Islam memiliki model ideal yang abadi, yakni model Pendidikan Rasulullah ﷺ dan model ideal masyarakat Madinah yang dibangun oleh Rasulullah ﷺ.
Kedua, konsep itu terjaga dengan baik, karena diterapkan dari generasi ke generasi, dan telah terbukti berhasil mewujudkan beberapa generasi gemilang dalam sejarah peradaban Islam, teramsuk di Indonesia.
Ketiga, situasi global yang semakin menunjukkan kegagalan peradaban besar dalam menyelesaian problematika umat manusia. Keempat, fenomena kebangkitan lembaga-lembaga Pendidikan Islam, yang semakin mendapat kepercayaan dari umat Islam. Kelima, potensi religius bangsa Indonesia, yang dalam satu survei oleh Lembaga internasional (Pew Research Center) dikatakan ada 93 persen masyarakat yang menyatakan, bahwa agama sangat penting dalam kehidupan masyarakat.
Karena itulah, saya mengajak para pimpinan Ormas Islam dan peserta Tabligh Akbar untuk tetap istiqamah dalam mewujudkan peradaban mulia, dengan membentuk insan-insan mulia melalui proses pendidikan yang unggul. Berbagai problematika dan tantangan dakwah kontemporer tidak boleh membuat kita pesimis dan memalingkan kita dari program dan tugas utama tersebut.
Model Pendidikan Nabi sudah dirumuskan oleh banyak ulama dan cendekiawan, dengan menekankan aspek penanaman adab atau akhlak mulia dan penguasaan ilmu-ilmu yang wajib dan bermanfaat. Semoga komitmen dan optimisme empat Ormas Islam dalam mewujudkan peradaban mulia, mendapatkan pertolongan Allah SWT, sehingga melahirkan “Generasi 2045” yang akan membawa Indonesia menjadi negeri yang adil dan makmur, dalam naungan Ridho Ilahi. Amin.*/ Depok, 29 Desember 2020
Dr Adian Husaini,penulis Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia. Artikel ini dikutip dari Hidayatullah.com
DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH DR Nashirul Haq, mendorong organisasi pendukung (orpen), Muslimat Hidayatullah, untuk terus meneguhkan cinta pengabdian berkhidmat untuk agama dan umat. Komitmen tersebut selaras dengan gerakan Hidayatullah yang telah berkiprah selama lebih dari 47 tahun.
“Hidayatullah telah memegang teguh kesetiaan, semangat mengabdi kepada Ilahi, berkhidmat untuk agama dan ummat, serta berkhidmat untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia lewat berbagai program di bidang pendidikan, dakwah, sosial, dan ekonomi keummatan,” kata Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH DR Nashirul Haq, MA.
Hal tersebut disampaikan Nashirul ketika membuka Musyawarah Nasional (Munas) ke-V Muslimat Hidayatullah yang digelar secara virtual bertitik koordinat utama di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Sabtu (26/12/2020).
Nashirul berharap gelaran Musyawarah Nasional Muslimat Hidayatullah kali kelima ini semakin meneguhkan kiprah dan cinta muslimat dalam mengabdi kepada umat, agama, bangsa dan negara.
“Yang menjadi tantangan bahwa Muslimat Hidayatullah harus serius dan fokus menjalankan peran dan fungsinya untuk membangun keluarga Qur’ani menuju peradaban Islam,” jelas anggota Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI) Pusat ini.
Lebih lanjut, Nashirul juga mengungkapkan bahwa rahasia suksesnya seorang suami dalam menjalankan amanahnya tergantung pada peran istri dan muslimah dalam me-manejerial keluarga di rumah.
Dalam pada itu, yang tak kalah penting, Nashirul mengimbau bagi seorang muslimah yang diberi amanah untuk dakwah di luar rumah harus menjalankan tugasnya dengan proporsional.
“Tak ada yang didahulukan, dan tak ada pula yang diabaikan. Semuanya harus berjalan seimbang sebagaimana ummahatul mukminin, istri Nabi yang juga berperan sebagai daiyah yang memiliki tanggung jawab di luar rumah,” tambahnya.
Dia melanjutkan, seorang muslimah memiliki jiwa dan paradigma berpikir yang lurus hingga menjadi karakter yang melekat dalam dirinya. Paradigma yang lurus tersebutlah yang akan mengantarkan kesuksesan setiap pribadi muslimah.
“Pola pikir harus berpijak pada wahyu Allah. Sehingga program yang diwujudkan Mushida merupakan derivasi dari Al-Quran dan sunnah,” ucap Nashirul di hadapan peserta offline terbatas yang hadir secara langsung di ruang acara.
Masih dalam sambutannya, Nashirul menyampaikan pesan kepada segenap kader Muslimat Hidayatullah agar senantiasa menjaga ukhuwah dan tidak meninggalkan barisan jamaah seraya menukil sebuah hadits dari sahabat Umar bin Khattab yang diriwayatkan Ibn Khuzaimah dan al-Hakim:
“Jika ada suatu kelompok sebanyak tiga orang hendaknya mereka mengangkat salah seorang dari mereka sebagai pemimpin atas mereka. Itulah amir yang diperintahkan oleh Rasulullah saw”.
“Setiap kader adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kaum muslimin. Spirit harus selalu menyatu untuk meninggikan kalimat tauhid. Mushida adalah wasilah dalam berislam, dan sebagai wadah penyebaran dakwah dalam rangka membangun peradaban Islam,” pungkas Nashirul.
Munas dengan tema “Meneguhkan Integritas Muslimah Demi Tegaknya Peradaban Islam” ini digelar secara virtual, dengan pusat kegiatan di Pondok Pesantren Hidayatullah, Kota Depok, Jawa Barat.
Peserta yang hadir offline dibatasi yang terdiri dari Pengurus Majelis Murobbiyah, Majelis Penasehat, Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah, serta perwakilan dari Pengurus Wilayah dari seluruh provinsi di Indonesia.
Acara Munas secara virtual ini juga diikuti seluruh Pengurus Wilayah dan Pengurus Daerah melalui aplikasi meeting Zoom yang pembukaan acara disiarkan melalui live streaming kanal Youtube Hidayatullah ID.
Sementara itu, Ketua Panitia Munas V Muslimat Hidayatullah, Neny Setiawaty, dalam sambutannya menyampaikan acara ini mematuhi peraturan dan menerapkan protokol kesehatan ketat sebagaimana telah ditetapkan.
“Semua peserta wajib mematuhi protokol kesehatan seperti menjaga jarak, menghindari kontak fisik, memakai hand sanitizer, mencuci tangan, dan selalu memakai masker,” jelasnya.
Neny juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan acara ini.*/Arsyis Musyahadah
DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menunjuk Hani Akbar sebagai Ketua Umum baru Pengurus Pusat (PP) Muslimat Hidayatullah (Mushida) periode 2020-2025 yang ditetapkan di arena Musyawarah Nasional (Munas) V Mushida di Kota Depok, 27 Desember 2020.
Selain itu, juga dilakukan penunjukan sejumlah pengurus pusat Mushida. Pada kesempatan tersebut juga dibacakan maklumat DPP tentang penunjukan pengurus Majelis Penasehat, Majelis Murabbiyah Pusat, dan Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah periode 2020-2025 tersebut.
Setelah dibacakan maklumat DPP tersebut, kemudian dilakukan pembacaan penetapan hasil Munas V Muslimat Hidayatullah oleh Wakil Ketua Sidang Musyawarah Paripurna, Dede Agustina.
“Setelah menimbang, mengingat, dan memperhatikan, dengan bertawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dengan ini Musyawarah Nasional V Muslimat Hidayatullah memutuskan dan menetapkan Hani Akbar S.Sos.I sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah periode 2020-2025,” ujar Dede Agustina dalam menyampaikan maklumat DPP Hidayatullah.
Selain menetapkan Ketua Umum, sidang Musyawarah Paripurna ini juga mengukuhkan Majelis Penasihat yang diketuai oleh Aida Chered dan Majelis Murabbiyah Pusat yang diketuai oleh Ir. Emi Pitoyanti.
Setelah pembacaan maklumat tersebut, dilanjutkan dengan pelantikan pengurus Majelis Penasehat, Majelis Murabbiyah Pusat, dan Ketua Umum PP Mushida oleh Ketua Umum DPP Hidayatullah Nashirul Haq
Masih dalam rangkaian Munas, Pemimpin Umum Hidayatullah Ust Abdurrahman Muhammad menitipkan pesan agar senantiasa berusaha menjadi insan yang bertakwa. Ditegaskannya, Allah telah memberi penghargaan dan mengangkat kemuliaan kaum wanita melalui Rasul-Nya.
“Kemuliaan dapat diperoleh oleh siapa saja, jika mereka memiliki ketaqwaan kepada Allah dan Rasul-Nya,” disampaikan oleh Pemimpin Umum Hidayatullah Ustadz Abdurrahman Muhammad dalam taujihnya pada rangkaian acara Musyawarah Nasional V Muslimat Hidayatullah, Ahad (27/12/2020) secara virtual.
Ia mengatakan pentingnya peran wanita untuk umat dan bangsa, dengan mengutip ungkapan masyhur: Wanita adalah tiang negara, apabila wanita itu baik maka akan baiklah negara dan apabila wanita itu rusak, maka akan rusak pula negara tersebut.
“Mushida harus mengadakan peremajaan program dan memperbaharui komitmen dengan selalu menguatkan nilai-nilai yang diunggulkan dari syariat Islam,” ujarnya.
Ia juga mengatakan bahwa peran para Muslimah termasuk Mushida yaitu melahirkan generasi Qur’ani dan sebaik-baik umat (khairu ummah) untuk mendorong percepatan hadirnya peradaban dan kejayaan Islam.
Generasi yang baik berawal dari keluarga yang baik. Untuk itu, terang beliau, para Muslimah harus memaksimalkan tugas dan perannya dalam keluarga.
“Banyak tantangan saat kita mulai pekerjaan. Rasa sakit, kekurangan, dan kelemahan selalu dialami dalam mengarungi perjuangan. Namun di situlah letak karunia besar yang diberikan Allah,” ungkapnya pada taujih yang dimulai pukul 05.00 WIB itu.
Melihat realita yang terjadi, generasi saat ini perlu ditolong. Jalan dakwah yang ditempuh memang tidak selalu mulus. Banyak suka duka yang dilalui. Untuk itu, katanya, “Siapa yang memulai suatu pekerjaan dengan suka maupun duka, maka itulah yang akan mendapat kemuliaan dari Allah.”
“Tidak ada jalan yang harus ditempuh melainkan jalan di atas khittah yang lurus,” tambahnya.
Ia juga mengungkapkan hakikat orang kaya dan mengatakan bahwa di dunia ini memang banyak orang kaya. Namun hanya sedikit yang memahami hakikat kekayaan itu sendiri.
“Orang yang kaya ialah yang banyak melakukan pengorbanan. Makin banyak pengorbanannya maka ia akan menemukan hakikat kekayaan itu sendiri. Kekayaan itu ialah kekayaan jiwa.”
Lebih jauh, ditambahkan, setiap muslimah harus menjadikan kegiatan membaca sebagai karakter utama. Sebagaimana wahyu yang pertama diturunkan adalah Iqra’.
Terakhir, ia mengimbau agar ruh dan jiwa harus selalu hidup dengan amalan shaleh. Sebagaimana tumbuhan hidup dengan air dan suasana masjid hidup dengan tilawah Al-Qur’an.
Munas yang berpusat di Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat ini dihadiri oleh 80-an peserta offline termasuk perwakilan dari Pengurus Wilayah Provinsi se-Indonesia.*/Arsyis Musyahadah
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Tabligh Akbar Gabungan Akhir Tahun 2020 yang bertema “Pendidikan dan Kebangkitan Peradaban Kita” menghadirkan empat tokoh nasional sebagai narasumber.
Yakni Dr Jeje Zainuddin dari Persatuan Islam. Kemudian Dr. Zaitun Rasmin dari Wahdah Islamiyah, Dr Adian Husaini dari Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia dan Dr Nashirul Haq dari Hidayatullah.
Dalam uraiannya yang berlangsung secara online melalui zoom dengan kapasitas peserta 1500 orang itu, Dr Nashirul yang akrab disapa UNH menjelaskan bahwa pendidikan dalam Islam memiliki konsep dan metode yang jelas.
“Pada ayat kedua Surah Al-Jum’ah kita dapat temukan bahwa pendidikan pertama yang harus diterima oleh anak-anak adalah Alquran. Inilah yang nantinya membentuk cara pandang, membentuk Qur’anic Worldview. Ini disebut dengan fase tilawah. Oleh karena itu di masa salafus shaleh anak-anak sejak balita sudah diakrabkan dengan Alquran, sehingga pada usia 10 tahun sudah tamat proses penanaman Alquran,” urainya.
“Berikutnya adalah fase tazkiyah dimana mulai dari jiwa, pikiran dan perilaku, semuanya disucikan, sehingga peserta didik terhindar dari orientasi menuntut ilmu yang berorientasi duniawiah,” tegasnya melanjutkan.
Selanjutnya UNH menekankan pentingnya ta’lim, pembelajaran ilmu pengetahuan yang bersumber dari Alquran.
Sebelum menutup uraiannya, secara khusus Ketua Umum DPP Hidayatullah itu menekankan pentingnya peran pendidik sebagai muaddib, muallim, dan mudarris.
“Muaddib bagaimana melahirkan peserta didik yang beradab. Muallim bagaimana guru mampu melahirkan generasi yang berilmu, alim. Dan, mudarris berarti seorang guru harus mampu melahirkan peserta didik yang memiliki skill dan profesional. Kita ketahui bahwa dalam kehidupan ini kita butuh hadirnya manusia-manusia yang memiliki skill dan profesional,” jelasnya.*ImamNawawi