Beranda blog Halaman 445

Laznas BMH Menerima Award Pendistribusian ZIS Terbaik dari Badan Amil Zakat Nasional

JAKARTA (Hidayatullah.or.id — Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Baitul Maal Hidayatullah (BMH) kembali meraih penghargaan dalam kiprahnya. Kali ini dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). BMH dinyatakan sebagai pemenang Penghargaan Pendisribusian ZIS Terbaik LAZ Nasional, Senin (14/12/2020).

“Alhamdulillah Laznas BMH kembali mendapat penghargaan dari Baznas. Ini adalah sebuah kesyukuran bagi keluarga besar BMH yang selama ini terus mendapatkan kepercayaan umat dan berbagai pihak di Tanah Air untuk terus menggulirkan gerakan kebaikan melalui pendayagunaan dana zakat, infak, dan shodaqoh,” terang CEO BMH, Marwan Mujahidin di Jakarta.

“Semua ini adalah wujud dedikasi umat Islam itu sendiri yang memberikan kepercayaan kepada BMH untuk ikut terlibat dalam gerakan zakat Tanah Air untuk sama-sama membangun masyarakat yang cerdas, mandiri dan bermartabat,” imbuhnya dalam rilisnya.

Penghargaan tersebut diserahkan secara online melalui aplikasi Zoom meeting pada Senin (14/12) pukul 09.00 sampai 11.00 WIB.

Penghargaan ini ditetapkan setelah Puskas (Pusat Kajian Strategis) Baznas dan Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama melakukan implementasi kajian Indeks Kepatuhan Syariah Organisasi Pengelola Zakat (IKSOPZ) di lebih dari 350 OPZ di seluruh Indonesia.*/Herim

Imbauan Biro Humas DPP Hidayatullah

0

Bismillahi Rahmaani Rahiim

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillah wasyukrulillah, washalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala aalihi wa shahbihi wamauwwala, wa ba’du.

Menyikapi hiruk pikuk informasi yang terjadi belakangan ini maka Biro Humas DPP Hidayatullah mengimbau kepada semua anggota dan kader Hidayatullah agar:

  1. Berhati-hatilah dalam menerima dan menyebarkan informasi. Informasi yang salah, jelas tak berfaedah untuk disebarkan. Informasi yang benar pun belum tentu berguna untuk disebarkan.
  2. Jika menerima informasi penting, sebaiknya tidak dibagikan ke grup-grup diskusi di media sosial, apalagi di grup terbuka. Kirimkan informasi itu secara pribadi kepada pihak yang berwenang untuk mengetahuinya.
  3. Informasi yang telah dipublikasikan oleh media-media kita, seperti Hidayatullah.com dan Hidayatullah.or.id, atau channel dan situs-situs resmi milik organisasi, baik tingkat pusat maupun tingkat wilayah/daerah, silahkan disebarkan dan menjadi bahan diskusi yang sehat di antara kita.
  4. Tetaplah berdoa dan perkuat GNH agar kita semua, juga bangsa ini, dijaga oleh Allah Ta’ala dari fitnah dan kehendak jahat pihak-pihak yang menginginkan kehancuran.

Hadanallahu wa iyyakum ajmain
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Jakarta, 1 Jumadil Awal 1442/ 16 Desember 2020

Mahladi Murni
Ketua Biro Humas

Wakaf Gedung Peradaban KH Abdurrahman di Parepare

0

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad mewakafkan tanah dan gedung miliknya untuk pengembangan dan peningkatan kapasitas dai guna mendorong kuatnya dakwah yang mencerdaskan, mencerahkan dan mensejahterakan umat, bangsa dan negara.

“Wakaf itu berupa tanah dan gedung dakwah yang kemudian diberi nama Gedung Peradaban Hidayatullah Sulawesi Selatan yang berlokasi di Jalan Pattito Tasi, Kecamatan Baccukiki, Kota Parepare Sulawesi Selatan,” terang Kepala BMH Perwakilan Sulawesi Selatan, Kadir (14/12).

KH Abdurrahman berharap, wakaf tersebut dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya bagi dakwah umat.

“Ini adalah amal jariyah keluarga untuk dakwah umat di negeri ini, terkhsusu di Sulawesi Selatan agar kiranya dapat menjadi pusat penggemblengan dai-dai umat masa depan,” ujarnya.

Kadir menambahkan bahwa Gedung Peradaban ini akan difokuskan menjadi tempat Pusdiklat bagi calon dai dan upgrading dai.

“Di gedung tiga lantai yang berdiri di lahan seluas 257 meter persegi ini diklat calon dai akan digelar guna mendorong perluasan jangkauan dakwah umat. Semoga sesuai nama gedung ini, kelak dai-dai yang berdakwah dapat mendorong terwujudnya peradaban Islam yang agung,” tutur Kadir.*/ImamNawawi

Muswil Meneguhkan Komitmen Keummatan dan Kebangsaan

BANTEN (Hidayatullah.or.id) — Musyawarah Wilayah (Muswil) Hidayatullah selain dalam rangka menghasilkan keputusan dan ketetapan yang yang berkualitas, forum ini juga diharapkan dapat meningkatkan semangat juang para kader, mempererat ukhuwah, dan meneguhkan komitmen keummatan dan kebangsaan.

Demikian ditekankan Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah KH Dr Nashirul Haq saat membuka Musyawarah Wilayah Hidayatullah Provinsi Banten, Ahad (13/12/2020).

Nashirul mengimbuhkan, komitmen keummatan dan kebangsaan tersebut diindikatori oleh sejauh mana waktu, tenaga dan sumberdaya yang kita korbankan serta seserius apa ibadah dan doa kita berdampak dan memberikan kontribusi terhadap kemajuan Islam dan memberikan manfaat kepada ummat.

“Ada hal yang wajib disyukuri namun tidak sedikit yang harus diistighfarkan.” katanya seraya menambahkan untuk mewujudkan terbangunnya peradaban yang agung sebagai visi gerakan, Hidayatullah telah menjadikan tarbiyah (Pendidikan) dan dakwah sebagai mainstream (arus utama).

“Karena itu tarbiyah dan dakwah haruslah menjiwai seluruh kebijakan dan program organisasi,” katanya.

Lebih jauh ia menjelaskan Musyawarah Wilayah sebagai pertemuan lima tahunan memiliki wewenang mendengarkan laporan pertanggung jawaban DPW kepada DPP, menetapkan ketua dan anggota Dewan Pengurus Wilayah, serta menetapkan keputusan-keputusan lainnya.

Karenanya, terang dia, pemilihan Ketua DPW bukanlah agenda utama sebagaimana yang terjadi di Musywil ormas atau orpol pada umumnya.

“Mekanisme di Hidayatullah Ketua DPW ditunjuk oleh Dewan Pengurus Pusat setelah dilakukan penyerapan aspirasi dan musyawarah pengurus harian DPP. Selanjutnya anggota DPW disusun oleh tim formatur yang terdiri dari utusan DPP, Ketua DPW, dan Ketua Dewan Murabbi Wilayah,” ujarnya.

Menyadari betapa beratnya amanah ini, Nashirul mewasiatkan, hendaknya kita selalu menumbuhkan ketawakkalan yang tinggi untuk senantiasa memohon bantuan dan ma’unah dari Allah SWT.

“Kesadaran akan keterbatasan dan ketidakmampuan itu pula hendaknya mendorong untuk melibatkan semua potensi yang ada, baik di internal pengurus maupun potensi kader, jamaah dan masyarakat secara umum,” katanya.

Dia menandaskan, agenda prioritas pada periode 2020-2025 dalam mewujudkan visi organisasi melalui gerakan tarbiyah dan dakwah diawali dengan tri-konsolidasi, yaitu: konsolidasi ideologi, konsolidasi organisasi dan konsolidasi wawasan. (ybh/hio)

Hidayatullah Akan Luncurkan Gerakan Talaqqi Nasional

0

BANTEN (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka meningkatkan mutu dan kualitas kader dai dalam meneguhkan pengkhidmatannya bagi umat, bangsa dan negara, Hidayatullah akan meluncurkan Gerakan Talaqqi Nasional.

“Insya Allah kita akan luncurkan program Gerakan Talaqqi Nasional dalam rangka meningkatkan kemampuan ulumuddin setiap kader, khususnya perbaikan bacaan al-Qur’an melalui metode talaqqi,” kata Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah KH Dr Nashirul Haq dalam sambutan tertulis membuka Musyawarah Wilayah Hidayatullah, Ahad (13/12/2020).

Selain bekal kemampuan tersebut, juga penguatan dan peningkatan kualitas kader secara ruhiyah (spiritualitas), tsaqafiyah (intelektualitas) dan profesionalitas.

“Peningkatan kualitas ruhiyah dan tsaqafiyah melalui transformasi jatidiri Hidayatullah, baik secara formal melalui jenjang pendidikan maupun jalur non-formal melalui daurah marhalah dan halaqah,” imbuhnya.

Kemudian agenda berikutnya, penguatan sistem melalui kebijakan sentralisasi, standarisasi dan integrasi. Kebijakan tersebut merupakan perwujudan dari organisasi modern yang maju dan progresif dengan kepemimpinan yang kuat, jamaah yang loyal dan solid.

Selain itu, ekspansi dakwah harus menjadi arus gerakan melalui dakwah fardiyah, bina aqidah, pengembangan jaringan Majelis Qur’an atau Rumah Quran secara nasional. Gerakan dakwah juga perlu digencarkan dengan memperbanyak pendirian Sekolah Dai di Kampus Utama dan kampus-kampus yang dipandang mampu menyelenggarakannya untuk melahirkan lulusan yang siap dikirim berdakwah ke mana saja, terutama untuk menjadi Muallim Grand MBA, Rumah Qur’an dan Majelis Qur’an Hidayatullah (MQH).

Nashirul berpesan, untuk suksesnya gerakan tarbiyah dan dakwah sebagai mainstream gerakan, maka semua program harus disinkronkan dan diintegrasikan dengan melanjutkan kebijakan sinergitas program mainstream yang telah berjalan sejak periode 2015-2020 yang lalu.

“Kita meyakini bahwa kaderisasi serta kemandirian ekonomi akan terwujud manakala seluruh elemen dan institusi melakukan sinergitas yang baik,” katanya.

Selanjutnya di bidang ekonomi, Hidayatullah juga terus berupaya membangun kemandirian di bidang ekonomi dan keuangan, baik secara kelembagaan maupun secara keummatan dan kewargaan.

Dia menyebutkan potensi ekonomi di internal Hidayatullah cukup besar jika diintegrasikan dengan bidang pendidikan, dakwah dan pembinaan anggota.

“Sekarang sudah saatnya kita membangun paradigma jihad iqtishad, bahwa membangun dan memberdayakan ekonomi ummat merupakan bagian penting dari jihad,” pungkasnya. (ybh/hio)

Mengajak Bersama Menjadi Khairah Ummah

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah KH Dr Nashirul Haq mendorong segenap jamaah, kader dan dai Hidayatullah untuk selalu menguatkan gerakan menyerukan ajakan kepada umat untuk menjadi umat terbaik (khairah ummah).

Hal itu disampaikan dalam sambutan tertulisnya pada acara pembukaan Musyawarah Wilayah Hidayatullah Sulsel yang digelar di Makasar, Sulawesi Selatan, Sabtu (12/12/2020)

“Melalui Musywil ini para pengurus organisasi di tingkat wilayah dan daerah disegarkan kembali orientasi hidupnya, dipertajam visi perjuangannya, dikuatkan komitmennya agar berfikir dan bekerja lebih keras, melakukan karya nyata, melahirkan kader berkualitas,” katanya.

“Mencerahkan ummat dan mengajak untuk bersama-sama bangkit menjadi ummat terbaik, ummat yang merdeka dan mandiri, ummat yang maju dan terdepan dalam melakukan berbagai kebajikan, kebaikan ummat dan bangsa, Indonesia yang bermartabat,” lanjutnya seperti disampaikan Kepala Bidang Organisasi Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Asih Subagyo Skom Mkom hadir mewakili Ketua Umum Dr Nashirul Haq Lc MA membuka Musyawarah Wilayah Hidayatullah Sulsel tersebut.

Disebutkan, Hidayatullah selama 47 tahun telah berkiprah dan berkhidmat untuk agama, ummat, dan bangsa melalui berbagai program di bidang pendidikan, dakwah, sosial, dan ekonomi keummatan.

“Dengan segenap kemampuan yang akan terus dikembangkan, Hidayatullah berkomitmen menghadirkan program-program yang mampu mendorong terwujudnya perubahan masyarakat Indonesia yang maju dan bermartabat di bawah naungan kasih sayang dan ridha Allah SWT,” terangnya.

Beliau mengungkapkan, sebuah karunia yang patut disyukuri dan dipelihara bahwa kader-kader Hidayatullah hingga saat ini masih memiliki kesiapan untuk mengemban tugas dengan kalimat sami’na wa atha’na tanpa tapi, tanpa nanti, tanpa pilih, dan tanpa pertimbangan duniawi.

Dia berpesan kepada kader yang dimanahi sebagai pengurus DPW periode 2020-2025 nanti hendaknya menyadari bahwa kepemimpinan adalah sebuah amanah yang akan dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT dan kepada umat.

Musyawarah Wilayah merupakan forum musyawarah terlengkap di tingkat wilayah yang diselenggarakan sekali dalam lima tahun. Musyawarah Wilayah ini diselenggarakan dalam rangka mendengar Laporan Pertanggungjawaban Dewan Pengurus Wilayah sebagai bahan evaluasi bersama atas kiprah dan kinerja anggota dan kader Hidayatullah pada umumnya dan kader yang mendapatkan amanah untuk mengelola jamaah dan organisasi Hidayatullah di Wilayah Sulsel selama periode 2015-2020. (ybh/hio)

Beratnya Tugas Pemimpin

0

PEMIMPIN yang adil, ditempatkan pada urutan pertama dari 7 golongan manusia yang akan mendapatkan naungan dari Allah, pada hari tidak ada naungan selain dari-Nya.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ متفق عليه

Artinya, “Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi Muhammad SAW, ia bersabda, ‘Ada tujuh kelompok orang yang dinaungi oleh Allah pada hari tiada naungan selain naungan-Nya, yaitu pemimpin yang adil, pemuda yang mengisi hari-harinya dengan ibadah, seseorang yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah di mana keduanya bertemu dan berpisah karena Allah, seorang yang dibujuk berzina oleh lawan jenis yang berpangkat dan rupawan lalu menjawab, ‘Aku takut kepada Allah,’ seseorang yang bersedekah diam-diam sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dilakukan tangan kanannya, dan seseorang yang berzikir di kesunyian dengan menitikkan air mata,’” (HR Bukhari dan Muslim)

Makna tersirat yang dapat kita tangkap dari hadits di atas, menggambarkan betapa beratnya berlaku adil bagi orang yang mendapatkan amanah sebagai pemimpin.

Dalam konteks itulah sesungguhnya, menjadi pemandangan yang sangat ironis dan sungguh tragis, sebab orang justru berlomba untuk mendapatkan amanah itu, bahkan rela mempertaruhkan sekian banyak asset yang dimilikinya.

Tak dapat ditampik, bahwa posisi sebagai pemimpin dalam sebuah komunitas, disamping menjadi simbol prestasi yang mendongkrak harkat dan martabat, yang otomatis menjadi kebanggan diri dan keluarga besarnya, sekaligus menjadi alasan pembenar untuk mendapatkan sekian banyak tunjangan dan aneka ragam fasilitas.

Namun, ketidakmampuan seorang pemimpin berlaku adil, bukan sebatas menimbulkan kekecewaan orang-orang yang dipimpinnya, dan melampiaskan kekecewaan itu dengan aneka ragam bentuknya, tapi juga menjadi sumber malapetaka dalam kehidupan akhirat, dan karenanya amanah itu menjadi sumber penyesalan yang tiada tara, dimana penyesalan tersebut tidak membawa arti apa-apa, untuk meringankan apa lagi terbebas dari siksa yang tak terperikan.

Teriring doa buat para sahabat di Hidayatullah, di tengah euforia pasca Munas, Muswil dan Musda, wabilkhusus yang mendapatkan amanah baru, semoga senantiasa bermunajat dengan sungguh-sungguh, agar Allah tetap memberi hidayah dan kekuatan, tak lupa untuk membuka ruang sebesar mungkin, agar bisa mendapatkan nasihat dan peringatan dari manapun sumbernya, hingga tidak salah dalam membuat keputusan dan mengangkat program kerja.

Semakin tinggi amanah yang diberikan, maka semakin berat tanggung jawabnya di akhirat. Kalau untuk di internal Hidayatullah saja sudah terbayang beratnya, maka berhati-hatilah dan sebaiknya berpikir ulang hingga ribuan kali, bagi yang juga punya minat dan mimpi untuk menjadi pemimpin publik di negara ini, yang nyaris tak menyisakan ruang kecuali syubhat dan haram.

Peringatan Rasulullah kepada sahabat beliau Abu Dzar, semoga dapat menjadi renungan bersama.

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا تَسْتَعْمِلُنِي قَالَ: إنَّك ضَعِيفٌ وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ إلَّا مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيهَا

“Aku (Abi Dzar) berkata, “Hai Utusan Allah, tidakkah kau memakaiku (untuk sebuah jabatan)?” Maka Rasul-pun menjawab: “Sungguh kau itu lemah, sedangkan (jabatan) itu sungguh ialah amanah, dan akan menjadi kehinaan dan penyesalan pada hari kiamat, kecuali bagi yang mengambil haknya (dengan benar) dan menjalankan kewajiban di dalamnya”.

AKIB JUNAID

Ketum Tekankan Pentingnya Tri Konsolidasi di Muswil Banten

BANTEN (Hidayatullah.or.id) — Gelaran Musyawarah Wilayah Hidayatullah pekan ini masih berlangsung diberbagai wilayah, seperti di Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan termasuk Banten.

Hadir membuka Muswil Hidayatullah Banten adalah Ketua Umum DPP Hidayatullah, Dr. Nashirul Haq, MA.

Dalam sambutan pembukaan, pria yang juga akrab disebut dengan nama UNH itu memberikan apresiasi kepada DPW Hidayatullah Banten dan selanjutnya menekankan poin-poin penting yang harus dipahami oleh para kader.

“Saya melihat, perkembangan Hidayatullah di Banten sangat signifikan. Ini harus terus ditingkatkan,” ucapnya.

“Bahkan, kalau melihat historis penugasan Ketua dan Sekretaris DPW periode yang akan berakhir sekarang ini, luar biasa. Mereka belum terima SK, baru dapat informasi, sudah berangkat,” imbuhnya yang disambut pekikan takbir hadirin.

Menurut Nashirul itulah bagian dari jati diri Hidayatullah, dimana setiap kader, harus siap ditugaskan untuk dakwah dan tarbiyah kapan dan kemanapun.

“Ini kesyukuran kita. Kekuatan Hidayatullah ada pada keteguhannya membangun mental kader, bukan semata wawasan dan kecerdasan. Sebab, mental itu harus ditempa langsung, tidak cukup teori dan penjelasan. Harus dirasakan langsung nikmatnya bertugas itu,” tegasnya.

Oleh karena itu, kolumnis Majalah Hidayatullah ini mendorong agar para kader menjalankan tiga kunci utama untuk kultur lembaga yang solid.

“Pertama, konsolidasi idiil. Kedua, konsolidasi organisasi. Ketiga, konsolidasi wawasan,” tuturnya.

“Konsolidasi idiil secara langsung dikawal oleh Dewan Murobbi, yang ada di Pusat dan juga Wilayah. Jadi, kalau ada kader futur semangat perjuangannya, maka bisa “melapor” ke Dewan Murobbi. Karena Dewan Murobbi ini yang bertugas menguatkan semangat perjuangan para kader di lapangan.

Kemudian, konsolidasi organisasi ini erat kaitannya dengan kesadaran dan komitmen diri kita kepada regulasi yang telah ditetapkan, yang di lembaga ini telah memadukan konsep imamah jama’ah dengan manajemen modern. Jadi, tidak sebatas manajemen, ada ruhnya yakni imamah jama’ah, inilah Sistematika Wahyu.

Nah, yang selanjutnya adalah konsolidasi wawasan, ini kaitannya dengan keilmuan sehingga kita mampu menjadi manusia yang bijaksana. Terutama di era media sosial, kata-kata dalam setiap status yang kita buat harus memiliki kekuatan baik yang mengundang kecerdasan para pembaca maupun yang memberikan pencerahan, sehingga yang kita sebarkan adalah kekuatan dakwah, bukan kalimat yang kosong dari nilai kebijaksanaan. Akibatnya gara-gara status media sosial banyak energi terkuras bahkan harus berurusan panjang dengan berbagai pihak, sayang sekali,” urainya.

Terakhir UNH berpesan agar para pengurus yang dipilih pada periode mendatang harus menetapkan setiap program yang diagendakan dan dijalankan benar-benar dilandasi dan dijiwai oleh nilai-nilai dakwah dan tarbiyah.*ImamNawawi

Enam Perkara yang Menjerumuskan Seorang Muslim

0

Dalam sebuah proses kehidupan manusia memiliki tatanan yang harus dimiliki. Membangun seorang muslim yang dicintai Allah dan Rasulnya tentu tidaklah mudah, harus melalui berbagai proses tahapan.

Salah satunya adalah mencari ilmu dan menggali ilmu Islam sebaik mungkin. Sejatinya ilmu adalah pondasi dasar seorang muslim.

Saat mengetahui apa-apa yang diharamkan maka kita harus tinggalkan. Dan apa-apa yang diwajibkan maka kita harus patuhi dan amalkan, itulah jalan keselamatan bagi umat muslim.

Maka, inilah bebetapa hal yang perlu diperhatikan dan dijaga oleh seorang muslim, jangan sampai terjebak oleh tipu daya dunia yang membawa jurang kemaksiatan. Inilah enam perkara yang harus diperhatikan agar menjadi kehati-hatian bagi umat muslim, yaitu:

Pertama: Mempersekutukan Allah

Allah SWT berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱفْتَرَىٰٓ إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa lain selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang di kehendaki-Nya. Barangaiapa Mempersekutukan Allah, maka sungguh dia telah berbuat dosa yang besar.” (An-Nisa [4] : 48)

Tauhid adalah kebaikan yang dengannya Allah mengmpuni setiap keburukan. Sebaliknya, syirik adalah keburukan yang dengannya Allah menghapuskan setiap kebaikan.

Kedua: Murka terhadap qadha’ dan qadar Allah serta tidak ridha dengan-Nya

Nabi ﷺ bersabda: “Seandainya Allah mengazab penduduk langit-Nya Dan penduduk bumi-Nya, maka dia benar-benar ajan mengazab mereka dengan tidak menzalimi mereka. Seandainya Dia merahmati mereka, maka rahmat-Nya lebih lebih baik bagi mereka dari amalan-amalan mereka. Seandainya engkau menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud di jalan Allah, maka Allah tidak akan menerimanya darimu sampai engkau beriman dengan qadar, sehingga engkau mengetahui bahwa apa yang menimpamu bukanlah  untuk membuatmu tertimpa musibah. Jika engkau meninggal bukan dalam Keadaan seperti inj, maka engkau benar-benar akan masuk Neraka.”

Ketiga : Terjerumus ke dalam berbagai kezaliman dah tidak keluar darinya sebelum kematian

Apabila seorang hamba Terjerumus ke dalam kezaliman dan tidak keluar darinya, dia akan menghadiahkan kebaikan-kebaikannya kepada setiap orang yang di zaliminya.

Dalam hadist yang yang diriwayatkan oleh Muslim bahwa Nabi ﷺ  berkata kepada para sahabatnya:

أَتَدْرُوْنَ مَا الْمُفْلِسُ؟ قَالُوْا: الْمُفْلِسُ فِيْنَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. فَقَالَ: إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ. فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ، أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?” Mereka nengatakan, “Orang yang bangkrut di kalangan kami adalah orang yang tidak memiliki dinar dan dirham. Maka Rasulullah ﷺ  bersabda: Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan shalat, puasa, dan zakat. Dia datang dalam keadaan mencela ini, menuduh ini, memakan harta ini, menumpahkan darah ini, dan memukul ini, maka di berikan kepada ini dari kebaikan-kebaikannya dan ini dari kebaikan-kebaikannya. Jikalau kebaikan-kebaikannya telah habis sebelum diselesaikan  apa yang di tanggungnya, diambil kesalahan-kesalahan mereka dan dilemparkan kepadanya, kemudian dilempar kedalam Neraka.”

Keempat: Dengki kepada manusia, suka balas dendam dan iri terhadap karunia yang diberikan oleh Allah kepada orang lain 

Allah SWT berfirman:

“Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya?” (An-Nisa [4]: 54)

Semua kita wajib meyakini bahwa Allah adalah Dzat yang Maha Bijaksana dan Adil. Dia Maha Bijaksana dalam setiap peraturan-peraturann-Nya. Dialah yang meletakkan sesuatu pada tempatnya sesuai dengan kebijaksanaan yang tidak perlu memprotes pembagian ini yang telah dibagi oleh Allah di antara para hamba-Nya. Dia lebih Mengetahui apa yang terbaik untuk para hamba-Nya. Dia menyayangi kita melebihi Kasih sayang Seorang ibu terhadap bayinya yang masih menyusui.

Kelima: Terjerumus ke dalam berbagai maksiat dan tidak bertaubat

Jika Anda terjerumus ke dalam suatu dosa, maka Segeralah bertaubat.

Allah SWT berfirnan:

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (Ali Imran [3]:133-136)

Keenam: Tidak mau berdzikir kepada Allah

Allah SWT berfirnan:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ أَعْمَىٰ

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS: Thaha [20]: 124)

Rasulullah ﷺ  bersabda:

“Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah dan orang yang tidak  berdzikir, adalah seumpama orang yang hidup dan mati.” (HR. Bukhari).

Itulah enam perkara pengingat kita untuk lebih berhati-hati dalam melangkah di setiap tindakan ataupun amalan-amalan yang merugikan kelak. Allah telah menurunkan Al-Quran bagi manusia untuk dipelajari dan diamalkan.

Diturunkanya Al-Quran dengan tujuan menjaga keharmonisan hidup manusia di dunia dan kebahagiaan hidup manusia di akhirat nanti. Itulah sebaik-sebaik agama adalah Islam yang tidak diragukan lagi kebenarannya. Wallahu a’lam bishawab.*Hidcom

Nashirul Haq: Keadilan Harus Ditegakkan

Ketua Umum DPP Hidayatullah

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Peristiwa meninggalnya enam laskar Front Pembela Islam (FPI) pada Senin (7/12) dini hari, menurut Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Dr. Nashirul Haq, harus diusut sampai tuntas.

“Masyarakat perlu tahu peristiwa yang sebenarnya. Siapa yang bersalah harus dihukum. Keadilan harus ditegakkan,” jelas Nashirul saat dihubungi Senin malam (7/12).

Sebagaimana beredar kabar di media massa bahwa telah terjadi pembunuhan atas enam laskar FPI yang sedang mengawal Habib Rizieq Shihab yang hendak mengikuti pengajian keluarga di luar kota.

Pihak kepolisian telah mengakui bahwa mereka yang menembak keenam laskar FPI tersebut. Namun, soal alasan mengapa mereka ditembak, terjadi kesimpang siuran.

Pihak polisi mengatakan mereka ditembak karena melakukan perlawanan dengan senjata api dan senjata tajam. Pihak FPI membantah tuduhan ini. Menurut juru bicara FPI, Munarman, laskar FPI tak dibenarkan membawa senjata tajam, apalagi senjata api. Mereka juga tak punya akses untuk mendapatkan senjata-senjata tersebut.

Menurut Nashirul, tidak seharusnya polisi terburu-buru menggunakan senjata dalam menghadapi masyarakat. Apalagi jika benar apa yang dikatakan juru bicara FPI bahwa keenam laskar tersebut tidak membawa senjata api.

“Negara ini bukan sekadar negara hukum, tapi juga negara yang berketuhanan. Tak boleh membunuh orang tanpa alasan yang jelas,” kata Nashirul.

Dalam Islam, membunuh seseorang tanpa alasan yang dibenarkan sangat berat konsekuensinya. Nashirul kemudian mengutip firman Allah Ta’ala dalam al-Qur’an surat al-Maidah [5] ayat 32, “Barangsiapa membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.”

“Kita tak ingin negara ini hancur karena keadilan tak ditegakkan di sini,” jelas Nashirul lagi.

Namun masyarakat juga harus menahan diri. Jangan bersikap anarkis dan mudah terprovokasi. Jangan pula cepat menyebarkan informasi yang tak terklarifikasi karena akan membuat situasi semakin tidak kondusif.

“Kita tunggu hasil investigasi tim pencari fakta dan kita minta tegakkan hukum yang seadil-adilnya kepada siapa pun yang bersalah,” jelas Nashirul. (Mahladi)