Beranda blog Halaman 458

Mendidik Sebaik-baiknya untuk Lahirkan Generasi Terbaik

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Para penyelenggara pendidikan harus melakukan proses pendidikan sebaik-baiknya sebagai ikhtiar melahirkan generasi terbaik di masa mendatang. Demikian disampaikan Dewan Pertimbangan Pimpinan Umum, Us. H. Drs. Hamim Thohari MA.

“Anak-anak santri sekarang adalah generasi yang akan mengisi masa depan. Sebanyak-banyaknya anak didik yang kita bina agar semakin banyak orang baik yang akan mengisi masa depan bangsa ini,” kata Hamim Thohari dalam ceramahnya di Batam, belum lama ini.

“Dengan kata lain, dengan sistem pendidikan pesantren, sebenarnya kita bisa mendidik dan mendakwahi santri 24 jam perhari,” tambahnya.

Para santri dan guru berada dalam sistem pendidikan pesantren untuk mewujudkan cita-cita kita mewujudkan masyarakat yang berperadaban Islam.

“Tugas kita sekarang adalah memperbaiki terus menerus pola pendidikan kita, pola kepengasuhan kita, serta pola perkaderan kita yang terbaik,” imbuhnya.

Beliau mengatakan, jika dihitung jumlah pertumbuhan santri di Hidayatullah menurut data DPP Hidayatullah pertahun selalu meningkat dan bertambah 5000 orang.

“Sungguh jumlah yang tidak sedikit sebenarnya. Bayangkan berapa jumlah alumni santri Hidayatullah 10 tahun yang akan datang,” kata Hamim.

Sebagai aktivis Hidayatullah, dia berpesan, kita harus menyadari sepenuhnya bahwa ini semua adalah amanah besar bagi kita. Sehingga menjadi sebuah pekerjaan tidak ringan kemudian bagaimana caranya dan seperti apa seharusnya agar bisa mengantar para santri ini menjadi kader-kader pembangun peradaban Islam dimasa yang akan datang.

“Maka tidak ada cara lain, kecuali mari kita bersama-sama memajukan pondok pesantren kita, ayo bersama sama kita memajukan pendidikan pesantren kita karena ini adalah amanah,” pesannya.

Dia mengatakan, pilihan Hidayatullah menjadikan pendidikan sebagai program mainstream sudah sangat tepat. Menurutnya, menjatuhkan pilihan pada sistem pendidikan pondok pesantren adalah pilihan yang tidak main-main karena tentu saja sudah sejak awal oleh para pendiri Hidayatullah dipikirkan secara mendalam.

“Hanya dengan pendidikanlah kita bisa berdakwah dalam waktu 24 jam sehari dan dalam masa 3 tahun di tingkat SMP dan 6 tahun lamanya di Tingkat SMA dan 4 atau 5 tahun di perguruan tinggi,” kata Hamim seraya menukil pernyataan pakar dan praktisi pendidikan Ir. Abdul Kadir Baraja.

Hamim menambahkan, seiring dengan kemajuan dan pencapainnya, pengelolaan pesantren Hidayatullah belumlah cukup dianggap memuaskan sehingga harus selalu ada upaya sungguh-sungguh untuk terus menguatkan.

“Jangan merasa puas dengan apa yang sudah ada supaya kita terus menerus berupaya untuk meningkatkan dan memajukan pendidikan kita. Namun jangan juga lupa untuk tetap bersyukur dengan apa yang sudah ada dan kita tetap merasa gembira dengan capaian kita semua, setahap demi tahap. Hanya kepada Allah kita berharap dan berdo’a kiranya Allah beri petunjuk dan kekuatan,” kata Hamim memungkasi. (ybh/hio)

Pendekatan Saintifik Dalam Pembelajaran

DALAM sebuah diskusi terbatas seputar pendidikan, seorang narasumber dari kalangan Widyaiswara(*) Jawa Timur ditanya, “Apa ciri khas paling mendasar dari Kurikulum 2013, yang membedakannya dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya?” Dengan lugas beliau menjawab, “Pendekatan saintifik dalam pembelajaran.” Hadirin pun manggut-manggut. Memang, tidak ada yang aneh di sini. Tetapi, apakah sebenarnya “pendekatan saintifik” itu?

Di lain kesempatan, cendekiawan muslim dan ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi pernah ditanya, “Apa sebenarnya inti dari worldview (pandangan hidup) Barat yang menjadi ciri khas mereka?” Beliau menjawab, “Pandangan hidup keilmuan (saintific worldview). Artinya, cara pandang terhadap alam ini melulu saintifik dan tidak lagi religius … Hal-hal yang tidak bisa dibuktikan secara saintifik atau secara empiris tidak dapat diterima, termasuk metafisika dan teologi. Maka di zaman Barat modern, sains dipisahkan dari agama … Ciri dari worldview yang saintifik itu tercermin dari berkembangnya paham-paham seperti empirisisme, rasionalisme, dualisme atau dikotomi, sekularisme, desakralisasi, pragmatisme, dsb. Paham-paham itu semua otomatis meminggirkan (memarginalkan) agama dari peradaban Barat.” (MISYKAT, 2012:87).

Dua pernyataan di atas menggiring kita pada satu kesimpulan, bahwa di tengah hiruk-pikuk penerapan dan sosialisasi Kurikulum 2013, sebetulnya masih ada isu-isu ideologis yang harus dikritisi.

Selama ini lebih banyak orang yang sibuk mempersoalkan bagaimana penerapannya atau seperti apa buku ajar dan perangkat pembelajarannya, seolah-olah kurikulum ini aman, sudah diterima tanpa perdebatan, dan tidak mengandung cacat bawaan. Padahal, bangunan kurikulum ini akan memahat hati dan pikiran anak-anak kita.

Apa yang mereka serap saat ini, di seluruh level pendidikan yang mereka lalui, pada kenyataannya akan menjadi cara pandang mereka terhadap seluruh realitas yang ada. Efeknya memang tidak segera terlihat, namun pasti muncul dalam 10, 20, sampai 30 tahun mendatang. Mestinya kita tidak latah dan sembrono dalam persoalan segawat ini.

Entah disengaja atau tidak, sebetulnya desain kurikulum baru ini ibarat merakit bom waktu, khususnya bagi umat Islam. Rupa-rupanya, peminggiran agama dan nilai-nilai religius dari masyarakat atau sekularisasi, masih terus berlanjut. Ini adalah proyek Westernisasi (pem-Barat-an), dalam modus yang lebih halus dan sangat canggih.

Bahaya pendekatan saintifik terletak pada asumsi materialistiknya yang menolak hal-hal gaib atau metafisika, karena tidak empiris dan tidak bisa dibuktikan menurut “ilmu pengetahuan”. Malaikat, setan, ruh, pahala, dosa, surga, neraka, wahyu, adalah sebagian kecil dari konsep dan fakta metafisika Islam yang pasti digugat.

Jika metafisika pun diotak-atik, maka kita tidak bisa lagi merasa aman terhadap masa depan keyakinan anak-anak kita. Bukankah seluruh Rukun Iman adalah perkara-perkara metafisika?

Sebenarnya, iman tidak berseberangan dengan ilmu pengetahuan. Menjadi mukmin yang baik tidak identik dengan anti-sains. Islam pun tidak mendikotomi agama dengan sains. Ajarannya berpijak di atas prinsip-prinsip tauhid yang menyeluruh. Alam semesta disebut juga sebagai ayat-ayat atau tanda-tanda Allah.

Masalahnya adalah terletak pada “pendekatan saintifik” itu, sebab ia adalah perangkat berpikir yang mempunyai latar belakang sejarah, asumsi, pola, dan tujuannya sendiri. Sebagai muslim, mengadopsi sebuah metodologi, paradigma, atau pendekatan khas Barat seperti ini pasti memiliki resiko-resiko yang tidak sepele.

Ini bukan tulisan paranoid, sebab desain Kurikulum 2013 – dalam konteks ini – memang bisa membuat kita khawatir. Misalnya, dalam Standar Kompetensi Lulusan (SKL) – pada domain sikap (afektif) – dinyatakan bahwa kurikulum ini diharapkan bisa membentuk manusia Indonesia yang beriman, berakhlak mulia (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun), serta memiliki rasa ingin tahu, estetika, percaya diri, dan motivasi internal. Tapi anehnya tidak ada pendukung yang relevan dengan tujuan ini pada domain pengetahuan (kognitif)nya. Sebab, ternyata obyek pengetahuan yang dipelajari adalah sains, teknologi, seni, dan budaya.

Kita pun bertanya-tanya: dari mana munculnya keimanan bila tanpa agama? Adakah akhlak mulia yang minus wahyu dan kenabian? Apa standar yang dipergunakan? Jawabannya jelas tidak terletak pada sains dan teknologi, apalagi seni dan budaya. Tampaknya, definisi sesuatu yang sangat mendasar (seperti iman dan akhlak) sengaja dibiarkan mengambang, dan inilah ciri khas filsafat Relativisme yang diagungkan kaum Liberalis dan Pluralis.

Menurut mereka, tidak ada kebenaran dan kebaikan yang mutlak, sehingga tidak boleh ada standar yang dibakukan. Contoh lain adalah estetika, yang jelas akan kacau-balau bila diserahkan kepada kriteria seni dan budaya. Pengalaman mengajarkan bahwa sesuatu yang dikecam sebagai pornografi oleh agama, seringkali dianggap sebagai keindahan oleh seni dan kewajaran dalam budaya. Tampaknya, ini bisa dimaknai sebagai ekspansi bahkan agresi paham Relativisme ke dalam dunia pendidikan kita, khususnya kaum muslimin.

Alhasil, komponen “beriman dan berakhlak mulia” dalam SKL tersebut menjadi janggal dan terkesan dipaksakan. Hanya ditempel begitu saja, tanpa dasar berpijak yang nyata. Berbicara tentang iman dan akhlak mulia namun bersikukuh memakai paradigma saintifik adalah pernyataan yang absurd.

Bermimpi menciptakan generasi beriman dan berakhlak mulia namun menggunakan kacamata relativistik pun merupakan gagasan yang mustahil. Ingin beriman dan berakhlak mulia tetapi sejak langkah pertama sudah menapak di atas jalan pengingkaran terhadap Tuhan dan agama. Wallahu a’lam.

ALIMIN MUKHTAR

Note:
(*) Widyaiswara: guru; jabatan fungsional yang diberikan kepada pegawai negeri sipil dengan tugas mendidik, mengajar dan/atau melatih secara penuh pada unit pendidikan dan pelatihan dari instansi pemerintah (KBBI).

Ikhtiar TASK Hidayatullah Bantu Cegah Meluasnya COVID-19

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Penyebaran wabah Novel Coronavirus (COVID-19) kian meluas dan mengkhawatirkan masyarakat. Pemerintah pun telah mengeluarkan untuk tidak melakukan aktivitas yang tidak penting dan juga tidak sering beraktivitas di luar rumah.

Tim Aksi Siaga Kemanusiaan (TASK) Hidayatullah juga mengantisipasi penyebaran virus misterius tersebut dengan melakukan penyemprotan disinfektan di berbagai tempat.

TASK Hidayatullah yang terdiri atas SAR Hidayatullah dan juga Baitul Maal Hidayatullah sejak mulai melakukan penyemprotan sentralisasi diberbagai tempat umum.

TASK Hidayatullah akan terus melakukan penyemprotan. Sementara, Marwan Mujahidin dari BMH menjelaskan bahwa BMH akan terus berupaya menyadiakan bahan yang akan dipakai dalam penyemprotan. Ia menjelaskan kegitan ini akan terus didukung oleh BMH.

“Kita akan terus mendukung penyemprotan inu selama satu pekan dan kemudian kita akan memantau perkembanganya, jika diperlukan, maka akan terus dilanjutkan,” kata Marwan.

Selain area Jabodetabek, Marwan juga menjelaskan bahwa BMH yang ada di daerah perwakilan juga melakukan hal yang sama untuk mencegah penyebaran wabah pandemik ini

“BMH perwakilan dari daerah, seperti DIY, Jatim, Jabar, dan juga Sulsel melakukan hal yang sama seperti Jabodetabek.” Jerlas Marwan

Adapun terget umata penyemprotan ini ialah sekolah dan juga tempat ibadah, Marwan menjelaskan karena tempat tersebut merupakan tempat yang paling sering dikunjungi unruk melakukan aktivitas.

“Masjid misalnya, orang-orang beribadah sepanjang lima waktu. Sehingga kita tidak menginginkan tempat ibadah masyarakat menjadi sarang penyebaran virus,” jelas Marwan.

Adapun Abbas Usman selaku Komandan Pusat SAR Hidayatullah mengatakan bahwa pihaknya akan mendukung langkah BMH sebagai sinergi bersama dalam melayani masyarakat. Abbas menjelaskan bahwa pihaknya akan memvbantu menyediakan relawan yang siap diterjunkan untuk melakukan penyenmprotan.

“Kita akan terus melakukan peyemprotan, kita siapkan tenaga yang ready 24 jam. Permintaan untuk ketempat ibadah sangat banyak. Kita akan tetap berusaha semaksimal mungkin dengan tenaga yang ada,” jelas Abbas Usman.*/Amanji Kefron

Tentang Wabah Corona dan Amal Terbaik Yang Seharusnya Kita Miliki

0

Ketika seseorang terbiasa bertanggungjawab, terlatih menghadapi situasi sulit, dan jujur dalam segala keadaan, maka tiba masa situasi berat ia akan mampu menghadapinya dengan tenang, percaya diri, dan pasti.

Oleh karena itu, Allah Ta’ala memberikan petunjuk kepada seluruh manusia bahwa dunia ini adalah tempat berlatih. Di dalamnya ada kesenangan sekaligus kesedihan. Ada kemudahan sekaligus kesulitan. Menghadapi itu semua bukan semata uang yang diperlukan atau bahkan kecerdasan dan jaringan. Tetapi, iman dan Islam agar mampu berbuat yang terbaik (ahsanu amala).

Orang yang mampu mengisi kehidupan dunia ini dengan amal terbaik sudah barang tentu Islamnya kaffah. Dalam bahasa Gus Hamid dalam buku Minhaj, Islamnya lengkap dari ritual hingga intelektual. Dalam bahasa umum bisa disebut dari tradisi hingga ideologi atau lebih sederhana dari pikiran dan lisan, hingga perbuatan.

Ibn Katsir dalam ayat ke dua Surah Al-Mulk terkati lafadz “Ahsanu Amala” menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah “yang paling baik amalnya.”

“Sebagaimana dikatakan oleh Muhammad bin Ajlan,”lanjut Ibn Katsir. “Allah tidak mengatakan “Yang paling banyak amalnya.”

Hal itu menekankan bahwa kualitas sangat dibutuhkan dalam menjalani kehidupan ini. Seseorang mungkin memiliki otoritas banyak, menjadi koordinator beberapa bidang urusan, tetapi kalau tidak mengerti bagaimana membuat keputusan terbaik (bukan banyak keputusan) pasti akan mendatangkan banyak masalah bahkan mudharat.

Persis seperti yang sekarang terjadi di negeri ini berupa mewabahnya virus Corona (Covid-19). Ini bukan karena tidak ada yang ahli sama sekali di negeri ini, tetapi bisa dikatakan keputusan terbaik yang belum ditemukan atau boleh jadi ada, namun tidak atau sangat terlambat disadari dan dieksekusi.

Ketiadaan keputusan terbaik ini telah mengundang masalah runyam dan massif serta sangat serius. Dalam bahasa Dahlan Iskan pada artikelnya “Rahasia Bukan” pada disway.id disebutkan, “Keterlambatan penanganan Covid-19 bisa meruntuhkan negara. Kita bukan negara kaya yang punya banyak tabungan.”

Pertanyaannya mengapa keputusan terbaik itu tidak muncul, boleh jadi karena fokus utamanya tentang apa itu amanah, jabatan, kekuasaan, dan harta bahkan kehidupan ini belum benar-benar didasari pencerahan wahyu, sehingga amal terbaik itu memang belum dilatih, belum jadi tabungan, sehingga dalam situasi sulit yang datang tiba-tiba, gagap dan gugup tidak bisa dihindari.

Dalam kata yang lain, solusi menangani Covid-19 sekarang ini bukan semata pendekatan medis, tetapi juga ruhiyah. Kejujuran, kesungguhan, dan permintaan maaf atas keterlambatan harus dikedepankan, agar ada ketersambungan hati, pikiran, dan semangat, sehingga ada imun kolektif yang kembali terbarukan. Dimana hal ini sangat dibutuhkan untuk seluruh elemen bangsa memiliki energi yang sama untuk melawan Covid-19.

Jangan sampai keterlambatan ini membawa diri kita pada keterlambatan hakiki, seperti seruan orang-orang kafir dalam Al-Qur’an.

“Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk penghuni Neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Mulk [67]: 10). Allahu a’lam.*

Imam Nawawi, Ketua Umum Pemuda Hidayatullah

Hidayatullah Sultra Dorong Terus Mantapkan Diri Sambut Ramadhan

KENDARI (Hidayatullah.or.id) — Kendati kasus virus corona (Covid-19) terus meluas dan berdampak cukup signifikan terhadap kegiatan sehar-hari, Hidayatullah Sulawesi Tenggara (Sultra) mendorong kadernya untuk terus memantapkan diri menyambut kedatangan bulan suci Ramdhan dengan penguatan ibadah fardhu dan nawafil serta tetap selalu waspada.

“Untuk persiapan menyambut Ramadan serta kegiatan yang telah direncanakan, masih akan terus dikerjakan. Walau begitu kita akan terus memantau perkembangan Informasi CoVid19 untuk daerah Sultra,” kata Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sultra, Nasri Bohari, dalam obrolan dengan media ini, Rabu (18/3/2020).

Nasri juga menjelaskan kegiatan yang dicanangkan untuk bulan Ramadan akan terus disiapkan, hal ini dikarenakan info mengenai penyebaran kasus Covid 19 untuk daerah Sultra belum memasuki zona berbahaya. Walau begitu, DPW Hidayatullah Sultra akan terus terus memantau perkembangan informasi mengenai perkembangan informasi selanjutnya.

Guna menangkal penyebaran virus CoVid 19, ia menghimbau kepada masyarakat serta jamaah Hidayatullah Sultra untuk mengikuti instruksi yang telah dikeluarkan oleh Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah untuk selalu menjaga kebersihan dan mengurangi interaksi sosial untuk hal-hal yang tidak mendesak.

“Kita tentunya akan mengikuti instruksi dari DPP terkait wabah penyebaran virus Covid19. Diharapkan kepada Santri dan warga ponpes untuk mengurangi interaksi untuk hal-hal yang tidak diperlukan,” Jelas Ustad Nasri.

Selain mengikuti intruksi dari DPP Hidayatullah, DPW Sultra juga akan mengikuti himbauan melalui surat yang dikeluarkan Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Sultra untuk meliburkan kegiatan belajar mengajar.

“Seperti surat edaran dari Kemenag wilayah, kami akan meliburkan segala proses kegitan belajar mengajar selama dua pekan, sembari menunggu instruksi lanjutan dari pemprov,” kata Nasri.

Nasri Juga berpesan kepada seluruh pengurus DPW sultra, walau penyebaran Virus CoVid 19 belum memasuki zona berbahaya, setiap pengurus untuk selalu menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungan ponpes. Serta memerhatikan dan menghimbau para santri dengan menyediakan sabun cuci tangan yang cukup. Selain itu, Nasri pula meminta untuk warga ponpes agar tidak sering berpergian keluar ponpes kecuali untuk kebutuhan ekonomi dan keperluan yang mendesak.

“Walaupun Sultra belum memaasuki zona berbahaya CoVid 19, para pengurus dihimbau untuk selalu menjaga kebersihan serta kesehatan. Berikan juga penerangan kepada para santri untuk selalu mencuci tangan,” jelas memungkasi.*/Amanji Kefron

Hidayatullah Makassar Sosialisasi Pencegahan Penyebaran Corona Virus

Sumber Foto: Hidayatullahmakassar.id

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Ditenga gelombang kepanikan yang terjadi di seluruh dunia termasuk Indonesia  terkait penyebaran virus Covid19 ataulebih sering disebut virus Corona, Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar menggelar sosialisasi pencegahan virus Covid-19. Dihadiri oleh sejumlah guru-guru, karyawan, warga, dan siswa SMP/SMA Al-Bayan. Sosialisasi itu dilaksanakan di Masjid Umar Al-Faruq pesantren Hidayatullah Makassar, selasa, 22 Rajab1441 H (17/03/2020).

“Sosialisasi ini, merupakan bentuk antisipasi penyebaran virus Corona,” jelas Ketua Departmen Tarbiyah Yayasan Al Bayan Ust Abd Qadir.

Para siswa aktif mengikuti sosialisasi ini. Para siswa aktif bertanya, dan tidak segan-segan mempraktekan cara batuk beretika.

“Kalau gak punya masker maka jika batuk lakukan dengan etika dengan menutup mulut pakai lengan. Sehingga, kalaupun batuk. Tidak menyebar ke orang lain,” jelas Pemateri sosialisasi Sukri SKep Ners dari bagian infeksi RS Wahidin.

Dalam sosialisasi ini, Sukri menjelaskan tentang bagaimana upaya-upaya pencegahan yang harus dilakukan untuk menghindari adanya virus covid-19 yang dapat menyebar dengan sangat cepat. Di antaranya seperti rajin mencuci tangan dengan sabun/hand sanitizer, menggunakan masker apabila mengalami sakit, segera memeriksakan diri ke dokter jika mengalami demam, batuk, sesak nafas, dan pilek, serta menjaga pola makan yang baik dan selalu berolahraga.

Untuk itu, diharapkan kepada seluruh guru-guru maupun pengasuh pondok pesantren Hidayatullah Makassar agar lebih memperhatikan siswa maupun siswi Al-bayan tuk senantiasa menjaga kekebalan tubuh nya serta tidak panik dengan hal ini dan selalu lah mendekatkan diri kepada sang pencipta. *Hidma.id

Arahan Hidayatullah Towuti Kepada Warga Ponpes Terkait Penyebaran CoVid19

TOWUTI (Hidayatullah.or.id) — Wabah CoVid19 pada akhir-akhir ini sedang ramai diperbincangkan oleh masyarakat dunia, dibeberapa Kota sudah mengumumkan libur sekolah, tak ketinggalan pula di beberapa sekolah swasta dan pesantren-pesantren; akan tetapi di beberapa pesantren juga ada yang menerapakan pelarangan pulang selama 2 pekan bagi santri tambah alasan yang urgen, demikian pula meniadakan penjengukan santri selama dua pekan kedepan.

Hidayatullah Towuti salah satu pesantren Cabang Hidayatullah yang berada di Kabupaten Luwu Timur tak ingin ketinggalan mengambil bahagian untuk melakukan salah satu upaya pencegahan virus corona ini. Salah satu anjuran yang tertuang dalam maklumat pondok pesantren Hidayatullah Towuti menganjurkan seluruh santri dan karyawan untuk senantiasa menjaga Wudhu’ dan mencuci tangan dengan air sabun. Hal itu langsung disampaikan ketua Yayasan Ponpes Hidayatullah Towuti, Ustad Najamuddin.

“Penting untuk selalu menjaga kesehatan serta kebersihan demi menjaga diri serta lingkungan sekitar agar terhindar dari virus corona. Hal sederhana yang bisa kita mulai ialah selalu menjaga wudhu” Jelas Ustad Najamuddin lalu beliau melanjutkan “Karena diyakini wudhu’mampu menjadi salah satu upaya pencegahan virus corona, maka kami menghimbau untuk senantia menjaga wudhu’ kapan dan dimanapun para santri berada”

Selain menghimbau agar seluruh santri menjaga kesehatan dan juga kebersihan dengan selalu menjaga wudhu, Hidayatullah Towuti juga menyediakan wadah serta sabun cuci tangan disetiap kelas. Sehingga para santri dapat mudah menjangkaunya

“Insyaallah kita siapkan sabun di beberapa tempat yang urgen untuk kemudian digunakan secara maksimal agar senantiasa mencuci tangan dengan sabun.” Jelas Ustad Najamuddin

Yayasan Ponpes Hidayatullah Towuti juga menganjurkan kepada seluruh warga pesantren termasuk santri untuk senantiasa beraktifitas di pagi hari untuk mendapatkan sinar matahari serta yang tak kalah pentingnya adalah berdoa Kepada Allah Agar kita semua di jauhkan dari virus Corona secara umum kita doakan orang- orang disekeliling kita dan kabupaten Luwu Timur agar terhindar dari Wabah Virus Corona.

“Kita menghimbau kepada seluruh santri dan jamaah Hidayatullah Towuti agar sekiranya senantiasa beraktivitas serta berolaraga pada pagi hari” Terang Ustad Najamuddin.

Terakhir, Ustad Najamuddin berpesan bahwa segala upaya yang dilakukan juga selalu diirigi dengan doa serta untuk tidak panik berlebihan.

“Manusia hanya bisa berusaha tapi semuanya sudah ditentukan Oleh Allah, oleh karena itu jangan panik dengan Virus Corona dan jangan sampai ketakutan kita terhadap Virus ini melebihi ketakutan kita Kepada Allah, Dekatkanlah diri kita kepada Allah maka Rahmat dan pertolongan Allah akan hadir untuk kita semua”. Tutup Ustad Najamuddin

Rakorwil Ekonomi DPW Kaltim: Perkuat Kemandirian Ekonomi Wilayah

SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) — Rapat Koordinasi Wilayah Ekonomi (Rakorwil) Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Kalimantan Timur pada Senin, 16 Maret 2020. Pembukaan yang sedianya dilakukan oleh Kepala Kantor Wilayah Bank Indonesia Kaltim di Aula Kanwil BI itu, dipindahkan ke Aula Yayasan Hidayatullah Samarinda, karena kebijakan dari BI yang menghindari interaksi langsung dengan banyak orang, terkait dengan wabah Covid-19.

Pembukaan dan sekaligus pemateri utama adalah Ust. Asih Subagyo Ketua Bidang Perekonomian DPP Hidayatullah. Acara dengan tema,”Penguatan Visi Ekonomi Untuk Mendukung Gerakan Dakwah” ini, dihadiri oleh Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Kaltim, beserta jajarannya, serta Departmen Ekonomi DPD Hidayatullah dan Pengurus Amal Usaha berikut Badan Usaha se-Kaltim, yang berjumlah 30 orang.

Ust. Rusdi Hidayat, selaku Ketua Departemen Ekonomi DPW Hidayatullah Kaltim, sekaligus penanggung jawab Rakerwil, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menggali potensi sekaligus mengembangkan Ekonomi, terutama menyongsong rencana perpindahan Ibu Kota Negara di Kaltim.

“Tentunya kegiatan ini kita adakan untuk menggali potensi ekonomi yang kita miliki dengan adanya rencana pemindahan ibu kota” Jelas Ustad Rusdi.

Ust. Dr. Muhammad Tang, sebagai Ketua DPW, dalam pidato pembukaan berpesan bahwa, sudah saatnya DPW Hidayatullah Kaltim mengembangkan berbagai jenis usaha, untuk kemandirian jama’ah dan Organisasi. Sehingga, memberikan daya dukung yang kongkrit, bagi gerakan dakwah & tarbiyah.

“Peluang sangat terbuka lebar, tinggal membutuhkan strategi Implementasi yang tepat, terarah dan terukur” terang Dosen Unikarta tersebut.

Sedangkan Ust. Asih Subagyo, menekankan bahwa Ekonomi merupakan salah satu pilar tegaknya Peradaban Islam. Sehingga akan pincang sebuah gerakan tanpa memperhatikan sektor Ekonomi ini. Beliau juga menjelaskan konsep Hidayatullah Incorporated, dimana gerakan Ekonomi Hidayatullah, dimulai dari Ekonomi Lembaga, Ekonomi Umat dan Ekonomi Sosial, yang harus sinergi, terpadu dan berkelanjutan.

“Insyaa Allah, dengan Hidayatullah Incorporated, Kita akan bisa menciptakan kemandirian Ekonomi Jama’ah dan Organisasi. Sehingga meski Dakwah dan Tarbiyah sebagai mainstream, tetapi daya dukungnya dilakukan oleh Ekonomi” jelasnya.

Ust. Asih Subagyo juga berpesan bahwa, kondisi makro Ekonomi dunia, termasuk Indonesia saat ini sangat berat. Beberapa indikator ekonomi dan keuangan di Indonesia, secara kasat mata dan juga dari analisis para ekonom, menunjukkan tanda-tanda menuju kearah krisis tersebut. Apalagi pengaruh penyebaran Virus Corona juga membawa dampak perekonomian yang tidak sederhana.

“Kita tidak perlu panik. Jikalaupun krisis ditakdirkan terjadi, jangan panik, jangan gegabah, tetap sabar dan berfikir jernih. Sehingga kita bisa mengantisipasi dengan cara yang syar’i, sebagaimana Nabi Yusuf juga melakukan itu saat Mesir mengalami ancaman krisis/paceklik di jamannya”, terang Dosen STIE Hidayatullah Depok itu.

Dalam acara itu juga dilakukan mapping (pemetaan) potensi dari seluruh DPD yang hadir, yang ternyata telah bergeliat secara Ekonomi dari berbagai sekala itu. Dan disepakati untuk tahun ini akan fokus dalam 4 hal: pendirian dan pengembangan Baitul Tamwil Hidayatullah, Pemenuhan Kebutuhan Jama’ah, Pengembangan Ritail, Agrobisnis (peternakan, perkebunan dan Pertanian/sawah).

Sebagai penutup sebelum kembali ke Jakarta, Ust. Asih Subagyo berpesan bahwa kepada seluruh peserta yang hadir bahwa sesunggunya ekonomi merupakan sebuah ladang perjuangan yang mulia

“Ekonomi ini adalah ladang jihad Kita. Sebab dalam Al-Qur’an, semua ayat yang membahas tentang Jihad, selalu diawali dengan Jihad Amwal atau jihad harta, baru kemudian jihad anfus atau nyawa, kecuali dalam Surat at Taubah ayat 111, anfus dulu, baru amwal. Sehingga dalam ber-ekonomi, kita tidak bisa main-main, harus sungguh-sungguh. Kita ber-ikhtiar dan berusaha semaksimal mungkin dengan manajemen & SDM terbaik, dengan indikator yang terukur soal hasil itu hak prerogatif Allah SWT,” pungkasnya.

Arahan Ketua Umum Hidayatullah Mengenai Wabah CoVid19

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Merespon mengenai wabah Covid19 yang sedang melanda hampir seluruh dunia termasuk Indonesia maka Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah mengeluarkan surat arahan untuk seluruh jamaah dan pengurus Hidayatullah yang ada di seluruh Indonesia. Adapun Surat Arahan sebagai berikut

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ba’da Alhamdulillah dan Shalawat untuk Rasulullah SAW, sebagai ikhtiar untuk mencegah tersebarnya penyakit akibat virus corona (corona virus decease / COVID-19) yang oleh Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization) telah ditetapkan sebagai Pandemi (wabah dunia), maka dengan hanya mengharapkan pertolongan Allah Subhaanahu wa Ta’ala, Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah memutuskan dan memberikan arahan kepada seluruh anggota, keluarga besar, jaringan Organisasi, Amal Usaha dan Badan Usaha Hidayatullah sebagai berikut:

  1. Memperbanyak taubat, dzikir dan ibadah kepada Allah serta mengkhususkan doa untuk keselamatan diri, keluarga, jama’ah, bangsa Indonesia dan seluruh umat Nabi Muhammad dari penyakit yang disebabkan oleh wabah ini. Dzikir dan doa Hisnul Muslim terutama dzikir-dzikir pagi dan petang sangat dianjurkan untuk dilakukan setiap orang. Virus ini makhluk Allah, dan hanya taat kepada ketetapan Allah.
  2. Mengurangi pertemuan orang dengan jumlah yang banyak. Mengenai shalat berjama’ah, termasuk shalat Jum’at, diserahkan kepada para Pengurus Pesantren, Yayasan, Daerah, Wilayah, untuk menilai sendiri keadaan di tempatnya masing- masing apakah sudah harus dilaksanakan di rumah masing-masing atau belum, dengan meminta fatwa dari para ulama setempat.
  3. Lebih disiplin menjaga kebersihan diri dan lingkungan, mempersering berwudhu dan membasuh tangan dengan sabun atau bahan antiseptik.
  4. Mengikuti arahan pemerintah setempat terkait kebijakan libur sekolah. Adapun seluruh pesantren berasrama tetap melakukan kegiatan belajar mengajar seperti biasa.
  5. Memastikan semua tamu atau pengunjung yang masuk ke dalam lingkungan sekolah dan pesantren untuk menjalani pengecekan kesehatan dan pembersihan terlebih dahulu (suhu badan, ketiadaan gejala batuk, sesak nafas, cuci tangan dengan sabun/antiseptik)
  6. Turut berperan serta mencegah penyebaran Virus Corona berkordinasi dengan Dinas Kesehatan di tempatnya masing-masing.
  7. Menjadwal ulang seluruh kegiatan Organisasi, Amal Usaha dan Badan Usaha dan mengurangi intensitas perjalanan keluar terutama bagi yang telah berada di daerah terkena virus Corona.

Semoga Allah menyelamatkan kita dunia Akhirat.

Jakarta, 20 Rajab 1441 / 15 Maret 2020

DEWAN PENGURUS PUSAT HIDAYATULLAH

Dr. Nashirul Haq, Lc., MA Ketua Umum

Mencontoh Para Sahabat Nabi SAW Meraih Khusnul Khatimah

0

DARI Anas bin Malik RA ia berkata Rasulullah SAW bersabda, “jika Allah menghendaki kebaikan kepada seorang hamba, maka Ia memanfatkannya, ” lalu dikatakan, “Bagaimana Ia memanfaatkannya?” Beliau menjawab, “Allah memberi taufiq kepadanya untuk beramal shalih sebelum wafat.” (Riwayat Ahmad dan Tirmidzi, dihasankan oleh Albani).

Setiap makhluk hidup pasti mati. Tapi model manusia dalam menghadapi kematian tidaklah sama. Ada yang meninggal dalam keadaan khusnul-khatimah, ada pula yang su’ul-khatimah.

Khusnul-khatimah adalah dambaan setiap orang. Namun untuk meraih predikat mulia ini tidak mudah. Mujahadah mutlak selalu dihadirkan. Doa harus selalu terucap. Tantangan yang dihadapi tidaklah ringan. Tak seorangpun bisa memastikan model kematiannya. Hanya Allah SWT yang tahu perkara ghaib itu. Kita hanya dibekali dengan ciri dan sebab untuk meraih khusnul-khatimah dan menghindari su’ul khatimah.

Melalui Hadist di atas, Rasulullah SAW mengabarkan jika seorang hamba dikehendaki kebaikan di akhir hayatnya, Allah SWT menjadikannya berada di atas ketaatan.

Ali al-Qari berkata, “Ia senantiasa dalam ketaatan dan taubat saat ajal menjemputnya hingga akhirnya wafat dalam keadaan khusnul-khatimah. (MirqatulMafatih syrahu Misykatul-Mashabih, juz 8, hal 3310).

Saat menjelang kematian amatlah rawan. Saat itu setan gigih menjerumuskan. Ia tahu jika waktu menjelang kematian adalah kesempatan terakhir. Di saat yang sama sebagian manusia sangat lemah. Hatinya sibuk memikirkan penyakit atau urusan dunia yang ditinggalkannya.

Ibnul Qayyim pernah mengingatkan, “Jika seorang hamba dalam keadaan segar pikirannya, kuat fisiknya, sempurna ingatannya bisa dikuasai oleh setan dan dikendalikan sesuai kehendaknya dalam maksiat, hatinya dibuat lalai dari mengingat Allah, lisannya macet dari dzikir, anggota tubuhnya tidak hergerak untuk ketaatan, lalu bagaimana jika dalam keadaan lemah Iisiknya, hatinya sibuk menghadapi perihnya penyakit, sedangkan setan mengumpulkan dan mengerahkan seluruh kekuatan agar bisa menundukkannya karena saat sekarat adalah kesempatan terakhir? Dalam kondisi seperti itu setan amat kuat dan manusia sangat lemah.” (ad-Daa’ wa ad-Dawaa’ hal 143).

Sebuah karunia besar jika dalam kondisi seperti itu seseorang bisa tetap teguh dalam amal shalih. Taubat dan ketaatan yang melekati hari-harinya menjadi penghapus dosa yang sangat ampuh. Alhasil, ia menghadap Allah SWT dengan selamat.

Rasulullah SAW bersabda, “jika Allah menghendaki kebaikan kepada hamba-Nya, maka Allah mensucikanya.” Para Sahabat bertanya, “Bagaimana Ia mensucikannnya?” Nabi bersabda, “Ia diberi ilham untuk beramal shalih lalu diwafatkan di atas amal shalih yang dilakukannya. ” (Riwayat ath-Thabrani).

Segera Bertaubat

Setiap Muslim butuh untuk selalu bertaubat, sebab sudah tertetapkan bahwa manusia adalah tempatnya dosa dan kesalahan. Sikap kita hendaknya senantiasa meneladani apa yang dilakukan Rasulullah SAW dan para Sahabat.

Meski telah terampuni dosanya, Rasulullah SAW tetap gigih bertaubat Beliau pernah menyatakan, “Sesungguhnya aku bertaubat seratus kali setiap harinya.” (Riwayat Muslim).

Demikian pula para Sahabat. Meski telah meraih predikat sebagai manusia yang diridhai, mereka masih herderai air mata karena mengingat dosa dan takut akan ancaman Allah. Dosa adalah sumber segala keburukan. Tapi dengan taubat, sumber itu akan tertutup. Taubat akan menjadi sumber datangnya kebaikan. Orang yang tadinya terhina oleh dosanya bisa kembali mendekap kemuliaan. Orang terancam masuk neraka berubah dengan janji surga.

Dalam kisah yang shahih Nabi SAW pernah becerita tentang lelaki yang membunuh seratus jiwa. Dan Allah SAW mengampuninya meskipun belum ada kebaikan yang sempat ditorehkan selain bertaubat. Ini menunjukkan betapa dahsyatnya efek taubat.

Ciri Orang Shalih

Dalam memandang dosa, manusia tidaklah sama. Ada yang sangat sensitif. Sekecil apapun dosa itu terasa sangat mengganjal dan mengerikan. Inilah sifat seorang Mukmin. Ada pula yang menganggapnya enteng. Jangankan yang kecil, dosa besar pun tak menimbulkan kegelisahan. Berbuat dosa menjadi sangat mudah bahkan dianggap lumrah.

Anas bin Malik pernah berkata, “Sesungguhnya kalian mengerjakan suatu dosa yang kalian anggap lebih ringan daripada sehelai rambut, padahal dahulu kami dan para Sahabat menganggapnya sebagai sesuatu yang membinasakan.” (Mawaidzush-Shahabah, hal 105).

Ucapan diatas membuktikan, keshalihan seseorang selalu berbanding lurus dengan kejeliannya dalam melihat dosa dan akibatnya. Semakin shalih maka semakin giat dalam bertaubat. Inilah yang sangat mencolok dalam sejarah para salafus-shalih. Mereka menangis dan merasa bersalah oleh suatu dosa yang boleh jadi dianggap sepele oleh kebanyakan manusia.

Penghalang Khusnul Khatimah

Su ’ul-khatimah adalah perkara yang sangat menakutkan bagi seorang Mukmin. Para salaf menangis meminta kepada Allah SWT agar terhindar darinya Mereka sangat paham jika amal shalih yang dilakukan belum bisa memastikan dirinya khusnul-khatimah. Apalagi terdapat Hadits Nabi SAW:

“Dan sungguh seorang benar-benar mengamalkan amalan ahli surga hingga tak ada lagi jarak antara dirinya dengan surga kecuali sehasta, tapi catatan takdirnya tercatat sebagai ahli neraka lalu beramalah dia dengan amalan ahli neraka lalu ia memasukinya.” (Muttafaqunalaih).

Penyebab terbesar su’ul-khatimah adalah rusaknya hati. Perusak hati yang terbesar adalah kesyirikan. Akibat kesyirikan, amalan yang ia tampilkan tidak sama dengan apa yang tersembunyi dalam hati. Abdul Haq al-Isybili berkata, “Dan ketahuilah bahwa su’ul-khatimah tidaklah menimpa orang yang istiqamah lahir dan batin, kita tidak mendengar atau mengetahui hal itu, akan tetapi su’ul-khatimah menimpa orang yang rusak aqidahnya, kontinyu dalam dosa besar…” (ad-Daa’ wa ad-Dawaa’, hal 391).

Wahai para pengharap khusnul khatimah, mari berhenti dari kepura-puraan. Manusia bisa dibohongi tapi Allah SWT tidak. Belajarlah untuk menyesuaikan tampilan yang baik dengan apa yang tersimpan dalam hati. Semoga Allah memberikan kita khusnul khatimah. Amin.

Majalah Suara Hidayatullah Edisi September 2018