JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Efek pandemi Covid19 atau yang biasa kita sebut sebagai Virus Corona, memberi dampak bukan hanya bagi para penderita. Kita ketahui bersama, melalui kampanye Social Distancing, Pemerintah RI menghimbau agar masyarakat, terutama masyarakat di daerah pandemi, seperti kota Jakarta ini, tetap berada di rumah dan melakukan aktifitas dari rumah, termasuk pekerjaan.
Kampanye ini memang efektif untuk menekan laju penyebaran virus corona. Namun di sisi lain, kampanye ini turut pula menekan pendapatan penduduk Jakarta yang pekerjaan mereka sangat bergantung pada aktifitas masyarakat di luar rumah. Salah satunya adalah pekerjaan para pengemudi (driver) ojek online (ojol).
“Kondisi saat ini sangat dirasakan para pekerja non formal, buruh harian, seperti saudara-saudara kita ojek online,” ujar Ustadz Ryan Abu Haq, ketua Dewan Pembina Yayasan JFM.
Yayasan Jakarta Fathan Mubiina (JFM) yang memang selama ini menaungi sebagian dari mereka melalui program Jakarta Mengaji turut menjadi saksi bagaimana kesulitan yang mesti mereka hadapi di tengah-tengah pandemi ini.
Maka dari itu, pada ahad (29/03) bertempat di The Jayakarta House, pusat kegiatan dakwah dan tarbiyah Yayasan JFM, diadakan penyaluran paket kebutuhan pokok bagi driver ojol yang tergabung dalam program Jakarta Mengaji.
Penyaluran dikomandoi langsung oleh ketua Yayasan JFM, ustadz Amin Insani.
Penyaluran ini dapat terlaksana berkat bantuan DKM Baitul Ihsan yang memercayakan donasi dari jamaahnya untuk disalurkan melalui Yayasan JFM. Paket yang berisi beras, kacang hijau, susu kambing, minyak goren, gula, ikan segar, dan rendang, ini diharapkan dapat membantu para driver memenuhi kebutuhan harian keluarga mereka. Selama masa pandemi.
Chairy, koordinator driver ojol binaan Yayasan JFM, menyampaikan rasa terima kasih yang sangat dalam atas bantuan jamaah Masjid Baitul Ihsan melalui Yayasan JFM ini. “Saya mewakili kawan-kawan, menyampaikan terima kasih kepada Yayasan JFM dan juga jamaah Masjid Baitul Ihsan. Bantuan ini sungguh sangat membantu meringankan beban kami di masa-masa sulit ini,” ujarnya.
Mewakili yayasan JFM, ustadz Ryan, menyampaikan terima kasihnya kepada jamaah Masjid Baitul Ihsan selaku donatur penyaluran ini. “Kami Ucapkan terimakasih banyak kepada para donatur yang sudah mempercayakan amanah kepada kami, Yayasan JFM.” Ujar sosok ustadz yang juga ketua DPD Hidayatullah Jakarta Selatan ini.
“Semoga ikhtiar kami yang kecil ini bisa membantu meringankan saudara-saudara kita, terutama untuk membantu memenuhi kebutuhan dapur.” pungkasnya. *Ahmad Rajiv
“JIKA kalian mendengar tentang tho’un (wabah menular) di suatu tempat maka janganlah mendatanginya, dan jika mewabah di suatu tempat sementara kalian berada di situ, maka janganlah keluar karena lari dari tho’un tersebut.” (HR. Bukhari-Muslim)
Prinsip menghadapi wabah yang diajarkan Rasulullah saw tampak jelas dan tegas. Tapi dasarnya adalah cinta. Tanda cinta adalah peduli.
Pesan cinta dalam larangan masuk bagi yang berada di luar area wabah adalah agar dia tidak tertular, sehat dan selamat. Orang yang sakit itu tidak akan dapat menikmati karunia dan kalau sampai mati berarti tidak lagi dapat beribadah.
Dan kalau sudah tertular, pasti akan menulari. Wabah semakin meluas. Karena itu, ”Larilah dari orang yang kena kusta (penyakit menular) sebagaimana engkau lari dari singa,” tegas Nabi saw.
Tidak perlu nekat dan berlagak. Itu bukan bentuk heroism, tapi egoisme yang hanya akan menyulut amarah orang sekitar. Jika amarah berkuasa, maka cinta dan ukhuwah akan melemah.
Sedangkan pesan cinta bagi yang berada di dalam wilayah wabah adalah:
Pertama, agar tidak menulari yang lain. “Jangan membawa onta yang sakit ke kawanan onta yang sehat,” qiyas Nabi saw. Kalau kaidah ini dilanggar, bisa bangkrut dan bubar dari tingkat keluarga hingga negara.
Cinta itu menyatukan, bukan membubarkan. Karena itu dengan keras Rasulullah saw bersabda, “Orang yang lari keluar dari (wilayah) wabah tho’un seperti orang yang lari dari medan pertempuran”. Lari dari medan pertempuran itu termasuk dosa besar.
Kedua, agar yang mampu dan yang sehat menolong yang tidak mampu dan merawat yang sakit. Andai saja diberi kelonggaran pilihan untuk keluar, maka pasti yang merasa mampu dan merasa sehat akan meninggalkan wilayah itu, karena memang tidak ingin tertular.
Sedang yang tidak mampu dan yang sakit akan tetap tertinggal. Yang mampu keluar nanti akan mengatakan, “Seandainya kita tetap di dalam, kita pasti akan tertular.” Sedang yang tidak mampu keluar akan mengatakan, “Andai kita bisa keluar, tentu kita tidak akan tertular”.
Tentu saja hal itu akan membuka peluang bagi setan untuk melahirkan egoism dalam diri yang mampu dan membunuh semangat hidup dalam diri yang tidak mampu. Rasa iri mulai tumbuh. Jika rasa iri semakin membesar, cinta dan ukhuwah melayu.
Ketiga, dalam salah satu haditsnya di atas Rasululllah saw menyamakan prinsip menghadapi wabah ini dengan prinsip berperang melawan musuh. Dalam menghadapi musuh ini ada tiga pilihan sikap yang bisa diambil. Pertama, lari dari medan. Apakah dengan lari ada jaminan untuk selamat ? Tidak. Kedua, menyerah kepada musuh. Apakah dengan menyerah ada jaminan untuk selamat ? Tidak. Ketiga, berjuang sampai ajal menjemput. Apakah pilihan ketiga ini ada jaminan untuk selamat ? Tidak juga.
Tapi pilihan sikap ini penuh kemuliaan. Kalau menang ia dapat memelihara kehidupan atau kalau mati berarti ia mati syahid yang tidak kalah mulianya. Rasulullah saw mengatakan bahwa sesiapa yang tetap bertahan di dalam wilayah wabah, kemudian ia meninggal, atau tetap hidup, maka telah tetap baginya pahala sebagaimana pahala orang yang mati syahid.
Demikianlah, selalu ada rahmah –cinta-Nya, yang universal untuk seluruh makhluk – dalam setiap tindakan dan putusan-Nya. Rahmah inilah energi yang menggerakkan seluruh alam semesta menuju kesempurnaannya. Dia pun berpesan kepada utusan-Nya : “Dan tidaklah Aku utus engkau (Muhammad), kecuali untuk menjadi rahmah bagi seluruh alam.”
Nabi saw kemudian meneruskan pesan cinta ini kepada umatnya dengan berpesan : “La dharara wa la dhirara” – Jangan meminta bahaya dan jangan memberi bahaya.
Dalam kasus wabah ini kita dapat mengadopsi pesan cinta itu dengan mengatakan kepada orang-orang sekitar kita: “Jangan minta ditulari dan jangan menulari”. Agar kehidupan tetap sehat dan lestari.
Sesiapa yang mencintai mereka yang ada di bumi, maka dia akan dicintai mereka yang ada di langit. Wallahu’alam bishshawab. (Sumber: Posdai.or.id)
APAKAH susah dan senang itu ada dalam kehidupan dunia ini? Sebuah pertanyaan sederhana tentunya. Tetapi, adakah nikmat hidup yang lebih luar biasa yang bisa manusia dapatkan selain melalui perjuangan?
Dalam satu sesi taushiyahnya, Ustadz Abdullah Said berkata,“Tanya dan silakan bandingkan. Mana yang lebih bahagia orang yang baru pulang dari luar negeri dibandingkan dengan orang yang malamnya digunakan untuk Tahajjud!”
Dalam kata yang lain, hidup nikmat itu tidak bisa diperoleh dengan sensasi, gengsi apalagi sekedar mimpi. Kalau bicara senang, binatang sudah cukup senang. Itulah mengapa tak ada air mata dalam kehidupan ayam, kambing, dan yang lainnya. Dan, kalau sebagai manusia yang dikejar sebatas kesenangan, Allah sebut orang-orang seperti itu “kal an-‘am” (seperti binatang ternak).
Dengan demikian, orientasi hidup manusia sejatinya bukan pada kesenangan apa yang diperoleh tapi perjuangan (jihad) seperti apa yang ditempuh. Tanpa perjuangan menuju jalan Allah, sungguh kebahagiaan tidak akan benar-benar bisa didapatkan.
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk Surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad (berjuang) di antara kamu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 142).
Surga adalah puncak kebahagiaan. Dalam tafsirnya Ibn Katsir menjelaskan, “Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga, padahal kalian belum diuji dengan peperangan dan berbagai penderitaan.”
Rasulullah bukan tidak sedih ketika sang putri, Fatimah Az-Zahrah kedua tangannya melepuh karena setiap hari menggiling gandum. Beliau sadar itu berat bagi putri kesayangannya. Akan tetapi itu harus dijalani sebagai bekal mendapatkan kebahagiaan.
Suatu waktu Nabi malah mencium tangan orang biasa dalam status sosial, bahkan seorang pembelah batu yang hasil kerjanya dijual di pasar. Tangan kasar itu dicium oleh Nabi karena perjuangannya mendapatkan rezeki yang halal.
Jadi, jihad itu sangat luas, perjuangan itu bisa apapun, asalkan demi menjaga kemuliaan diri di hadapan Allah, sekalipun itu berat, itulah perjuangan yang harus dilakukan dan diupayakan sepanjang hayat.
Konkretnya kita bisa belajar banyak dari kehidupan Amirul Mukminin, Umar bin Khathab. Sosok pemimpin umat yang meskipun kekuasaannya terus meluas, panglima, gubernur, dan pasukannya gagah berani dalam medan jihad, beliau membuat banyak pihak musuh heran sekaligus kagum.
Bukan karena busananya yang mewah dan malah, tetapi karena saat ditemui ternyata sang Amirul Mukminin adanya nyaris selalu di bawah pohon kurma sedang rebahan tanpa pengawal dan pengamanan.
Dalam kata yang lain, ada kah manusia di muka bumi ini, terutama di era sekarang yang kebahagiaannya selevel dengan kebahagiaan Umar bin Khathab radhiyallahu ‘ahnu?. Jadi, kalau jiwa seseorang memang ingin bahagia, bukan hawa nafsu yang dia umbar. Tetapi penempaan diri, sabar, tawakkal, dan terus berharap hanya kepada Allah.
Kata Ustadz Abdullah Said kalau benar ingin bahagia dan sabar dalam perjuangan meraih kebahagiaan, mulailah dengan memperbaiki kualitas syahadat (halaman 29).
Kalau syahadat beres, insya Allah apapun perintah Allah mudah dijalankan. Jika tidak maka syahadatnya impoten (halaman 30). Apa yang bisa diraih oleh orang yang tidak punya kekuatan untuk berjuang?
KENDARI (Hidayatullah.or.id) — Wabah Covid-19 kian meluas dan mengkhawatirkan masyarakat. Kondisi itu membuat TASK Hidayatullah yang terdiri dari Baitul Maal Hidyatullah (BMH) dan juga SAR Hidayatullah terus meluaskan layanannya, antara lain menggelar penyemprotan disinfektan. Kegiatan tersebut kali ini digelar di Sulawesi Tenggara. Penyemprotan disinfektan itu dilaksanakan oleh TASK Hidayatullah, Sulawesi Tenggara.
“Upaya ini BMH jalankan di Sulawesi Tenggara, tepatnya Kendari agar dapat ikut serta mengantisipasi penyebaran Covid-19 dengan melakukanpenyemprotan disinfektandi berbagai tempat,” terang Kepala BMH Perwakilan Sulawesi Tenggara, Fatahillah, Kamis (26/3).
Penyemperotan dilakukan di tempat-tempat umum, meliputi sekolah, masjid, pesantren dan tempat umum lainnya. “Pada Kamis (26/3), penyemprotan disinfektan mencakup lima masjid, dua pesantren, satu sekolah dan satu posyandu sekitar Kambu dan Kecamatan Baruga di Kendari telah disemprot,” imbuh
Direncanakan hari ini, Jumat (27/3), BMH dan SAR Hidayatullah kembali akan melakukan penyemperotan ke masjid yang berada di pinggiran Kota Kendari.
Program ini mendapatkan apresiasi warga dan pengurus masjid. Mangi misalnya, salah satu pengurus masjid, mengucapkan apresiasi dan terimakasih kepada BMH dan seluruh donaturnya.
“Terima kasih BMH yang telah menyemprot masjid kami dengan disinfektan. Hal ini membuat kami lebih tenang dalam beribadah. Semoga BMH dan segenap donaturnya Allah jaga dan berkahi kehidupannya, dijauhkan dari penyakit dan virus,” tuturnya.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Wabah novel coronavirus atau COVID-19 di Indonesia terus meningkat. Hingga Kamis, 26 Maret 2020 pukul 13:35 WIB sebagaimana dilansir covid19.go.id, virus corona telah menjangkiti sebanya 790 pasien positif, sembuh 31 dan sebanyak 58 meninggal.
Sejumlah ahli menilai termasuk Badan Inteligen Negara (BIN) memprediksi masa puncak penyebaran penyakit virus corona di Indonesia akan terjadi pada bulan suci Ramadhan yaitu hari ke-60 hingga ke-80 sejak kasus corona pertama kali merebak di Indonesia yaitu 2 Maret 2020.
Ketua Bidang Ekonomi DPP HIdayatullah Asih Subagyo, mengatakan, dengan prediksi puncak Covid 19 akan terjadi selama bulan Ramadan, maka diperlukan kesadaran elemen masyarakat untuk semakin bahu membahu menguatkan ekonomi umat dengan kekuatan keswadayaan dan solidaritas.
“Fenomena Covid-19 ini bisa dijadikan momentum membangun kesadaran umat betapa pentingnya kemandirian ekonomi umat. Sebab Ramadhan kali ini, bisa jadi awal krisis, melihat indikator ekonomi yang sangat mengkhawatirkan dewasa ini,” kata Asih dalam pertemuan rutin Majelis Reboan yang digelar secara online via TeamLink pertemuan via online ini dikarenakan mematuhi anjuran pemerintah untuk melakukan aktifitas di rumah, maka Majelis Reboan kali ini dilaksanakan secara online, Rabu (25/03/2020).
Sebagaimana predikis ahli puncak covid-19 terjadi selama bulan Ramadhan, Asih, berharap ini saatnya ikhtiar umat untuk “mengencangkan ikat pinggang” dan di sisi lain menjadikan hal ini sebagai momentum bagi kemandirian ekonomi umat dengan melahirkan produk substitusi untuk memenuhi pasar muslim dan dikonsumsi oleh sesama muslim.
Asih mencontohkan, pada krisis yang terjadi saat ini di tengah badai lesunya perekonomian nasional dan wabah virus corona, maka idealnya masjid, pesantren dan kantor ormas Islam bisa menjadi pelopor garda terdepan dalam mengurusi berbagai permasalahan ekonomi umat.
“Sehingga fungsi mereka bukan hanya sebatas fungsi pendidikan agama namun lebih dari itu, sehingga keberadaannya benar-benar dirasakan masyarakat,” kata Asih.
Asih mengimbuhkan, hal tersebut telah menjadi sebuah tanggung jawab sosial keumatan yang sokongan dananya dapat dikumpulkan melalui zakat, infak dan sedekah (ZIS). Menurutnya, hal ini tentu sangat efektif dan efisien mengingat Indonesia menjadi salah satu negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia.
“Ini menjadi tanggung jawab sosial sekaligus tanggung jawab keumatan dengan pengelolaan yang baik tentunya,” katanya.
Ustad Asih Juga menekankan pentingnya sebuah captive market dalam rangka menguatkan pasar komunitas muslim dengan memulai belanja yang dijual oleh lingkungan komunitas, sehingga dengan begitu ekonomi komunitas/keummatan akan terus mengalami penguatan.
“Maksudnya captive market disini adalah bagaimana komunitas mengkonsumsi dan berbelanja dari, oleh dan untuk sesama komunitas. Membuat produk substitusi dan tidak tergantung atas produk umum dan terkenal yang ada dipasaran,” imbuhnya.
Asih menilai, capitive market system ini sangat penting dilelaborasi untuk menunjang ibadah Ramadhan juga sekaligus memberikan dampak positif bagi pasar muslim mengingat puncak covid-19 terjadi selama bulan Ramadhan.*/Amanji Kefron/Ainuddin
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Perguruan Tinggi Hidayatullah (PTH) yang tersebar di sejumlah wilayah di Indonesia berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam pembangunan bahkan sebelum mahasiswa lulus dengan memantapkan pengabdian kemasyarakatan yang di lingkup PTH familiar dengan istilah Kuliah Kerja Nabi atau KKN.
Kuliah Kerja Nabi atau umumnya dikenal dengan dengan istilah Kuliah Kerja Nyata yang digulirkan oleh PTH ini berangkat dari visi Hidayatullah yakni membangun peradaban Islam dan basis peradaban Islam adalah masjid.
Karena itu, yang dilakukan oleh PTH adalah dengan menugaskan para mahaisiswanya melakuan KKN di tengah masyarakat dengan menjadikan masjid sebagai tempat aktifitas utama.
Departemen Ristek Dikti DPP Hidayatullah Drs. Nanang Nur Patria, M.Pd.I, menjelaskan, sebagai ormas yang mempunyai gerakan utama pendidikan dan dakwah, Hidayatullah selalu bergerak melalui program-program yang bertujuan memajukan kedua hal tersebut termasuk di dalamnya penugasan mahasiswa mengabdi di masyarakat.
“KKN yang kegiatanya berpusat pada masjid merupakan KKN yang bersifat nubuwwah. KKN yang dalam rangka menapaktilasi jejak Nabi dalam menyebarkan risalah islam mencerahkan umat,” kata Nanang dalam obrolan dengan media ini, Rabu (25/3/2020).
Nanang menjelaskan, kuliah kerja Nabi ini juga merupakan sebagai salah bentuk pengkaderan utama Hidayatullah yang ada di dalam Sistematika Wahyu yaitu tarbiyah ijtimaiyah.
“Tentunya melalui proses tarbiyah ijtimaiyah ini, para mahasiswa diharapkan untuk terus mengasah diri, tanggap dalam memahami masalah, merangsang kepekaan, terlibat aktif membantu serta bersosialisasi dengan warga masyarakat sekaligus belajar bagaimana memahami kultur lingkungan di mana dia berada. Begitulah Nabi memberi teladan,” kata Nanang.
Diterangkan dia, KKN merupakan bentuk dari pengkaderan PTH yang dijiwai oleh sistematika wahyu sebagai metodogi gerakan Hidayatullah yang dimana salah satu jiwa SW yang ada dalam KKN ini ialah tarbiyah ijtimaiyah, yaitu pendidikan yang menyeluruh.
Dalam KKN PTH, mahasiswa dituntut tidak hanya mengabdi mendidik masyarakat hanya dalam satu aspek saja, melainkan juga berikhtiar mendidik dalam semua aspek sebagai mana fungsi tarbiyah ijtimaiyah. Mulai dari pencerahan pentingnya menghidupkan masjid, mengajari anak anak lingkungan sekitar baca tulis Al-Quran hingga menghidupkan ekonomi masyarakat di lingkungan sekitar.
“Melalui proses tarbiyah ijtimaiyah, para mahasiswa diminta untuk mengenal lingkungan, mendidik masyarakat sebagai masjid pusat kegiatanya, menghidupkan taman Al Quran, serta menghidupkan ekonomi ummat,” imbuhnya.
Kuliah Kerja Nabi, terang dia, merupakan upaya untuk meneladani pengabdian Rasulullah Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam sebagai problem solver setiap masalah yang dihadapi masyarakat serta berupaya menjadi teladan yang baik di manapun berada.
“Semoga mahasiswa lulusan PTH mampu merefleksikan kerja-kerja nabi tersebut kapan dan di manapun berada,” pungkas Nanang.*/Amanji Kefron
DUMAI (Hidayatullah.or.id) — Walaupun seluruh belantara dunia termasuk negeri kita masih dalam belenggu penyakit wabah Novel Coronavirus (COVID-19) diiringi kepanikan penyebaran wabahnya yang sangat begitu cepat menularnya, berbagai ikhtiar serta dakwah masih dan terus dilakukan oleh tim dari Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai) Riau tentunya sembari dengan tetap senantiasa berupaya semaksimal mungkin melakukan pencegahan.
Alhamdulillah, di tengah suasana duka bangsa yang diliputi kekhawatiran akan wabah yang sudah menjadi pandemik tersebut, tim dari Posdai Riau terus memantapkan langkahnya untuk menebar cahaya islam hingga ke titik yang sangat sulit dijangkau sekalipun
Tim Posdai Riau pada Ahad (22/3/2020) sore bergerak dari Pekanbaru menuju Dumai yang menempuh perjalanan selama 5 jam. Tentu saja medan yang yang dilalui tidak mudah karena selain melalui transportasi darat, tim juga harus melakoni transportasi air. Pada pagi hari ini, Senin (23/3/2020, tim Posdai Riau melanjutkan perjalanan dengan menyeberang ke Pulau Rupat naik kapal feri selama kurang lebih 1 jam.
Perjalanan yang penuh khidmat namun tetap seru itu lalu dilanjutkan dengan perjalanan 4 jam untuk sampai ke Rupat Utara, tepatnya di Desa Suka Damai. Di tempat inilah yang diikhtiarkan berdirinya Pusat Pembinaan Mualaf Pulau Rupat.
“InsyaAllah besok diagendakan akan peletakan batu pertama untuk pembangunan mushalla, sebagai langkah awal membangun Pusat Pembinaan Muallaf Pulau Rupat,” kata Ketua Posdai Riau Ust Ihsan Taufik
Ust Ihsan juga mengatakan, perjalanan ke Rupat Utara, Desa Suka Damai ini sekaligus dalam rangka penyerahan dana awal untuk pembangunan Pusat Pembinaan Muallaf, Sehinnga tempat tersebut menjadi layak menjadi tempat peoses pembinaan.
“Dalam perjalanan kali ini, kami juga akan menyerahkan biaya pembangunan senilai senilai Rp 30 juta agar menjadi tempat yang layak” Jelasnya
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menghimbau agar tetap selalu bertawakal kepada Allah SWT dan dalam menangkal penyakit Novel Coronavirus (COVID-19) dengan cara meningkatkan imunitas diri dan melakukan social distancing.
“Tetap tenang, tidak panik dan ceriakan hati dengan raja’ dan khauf kepada Allah SWT. Istiqomah dalam beribadah dan pengamalan Gerakan Nawafil Hidayatullah,” kata Ketua Departemen Kesehatan DPP Hidayatullah Drg. Fathul Adhim, M.KM sebagaimana dalam seberan imbaunnya, Senin (23/3/2020).
Dia mengimbau, adapun terkait dengan pelaksanaan shalat berjama’ah di masjid diharapkan mengikuti kebijakan daerah setempat.
Selain itu, dalam rangka kebugaran sebagai penangkal pandemik ini, Departemen Kesehatan DPP Hidayatullah mendorong untuk rutin minum madu tiap hari yaitu 2 sendok makan sebelum dan saat bangun tidur, minum 2-3 liter air putih perhari dan sebelum melakukan shalat lail minum 2-3 gelas (250 ml) air hangat.
Fathul menambahkan, yang tak kalah penting adalah rutin melakukan olahraga ringan minimal 15 menit per hari dan mengupayakan agar bisa makan dengan menu bergizi, 4 sehat 5 sempurna.
“Untuk memperkuat daya tahan tubuh, upayakan untuk mengkonsumsi minuman herbal yang berasal dari kunyit, jahe, temulawak hingga sambiloto. Mengkonsumsi Vitamin C dan E bila dianggap perlu,” imbuhnya.
Dia juga menyarankan agar istirahat, tidur yang cukup 6-8 jam sehari dan tidur tidak terlalu larut malam, senantiasa menjaga kebersihan diri, rumah dan lingkungan serta menambah frekuensi kegiatan mencuci tangan dengan sabun atau dengan hand sanitizer.
Departemen Kesehatan DPP Hidayatullah juga mengimbau melakukan isolasi (lockdown) lokal dengan tetap tinggal di rumah bagi seluruh keluarga hingga batas waktu yang ditetapkan pemerintah serta menjaga jarak (social distancing) dengan orang lain. Keluar rumah jika terpaksa ada keperluan yang sangat mendesak.
“Bila terserang batuk pilek lakukan kumur dengan segelas air dicampur cuka satu sendok makan dan lakukan isolasi diri serta jika kondisi semakin berat dan terlihat indikasi terserang virus Corona segera kontak pihak-pihak terkait penanganan,” pungkasnya.
Semoga Allah SWT selalu melindungi kita semua dan terhindar dari musibah penyakit virus corona yang mewabah saat ini. Aamiin.
BATAM (Hidayatullah.or.id) — Para penyelenggara pendidikan harus melakukan proses pendidikan sebaik-baiknya sebagai ikhtiar melahirkan generasi terbaik di masa mendatang. Demikian disampaikan Dewan Pertimbangan Pimpinan Umum, Us. H. Drs. Hamim Thohari MA.
“Anak-anak santri sekarang adalah generasi yang akan mengisi masa depan. Sebanyak-banyaknya anak didik yang kita bina agar semakin banyak orang baik yang akan mengisi masa depan bangsa ini,” kata Hamim Thohari dalam ceramahnya di Batam, belum lama ini.
“Dengan kata lain, dengan sistem pendidikan pesantren, sebenarnya kita bisa mendidik dan mendakwahi santri 24 jam perhari,” tambahnya.
Para santri dan guru berada dalam sistem pendidikan pesantren untuk mewujudkan cita-cita kita mewujudkan masyarakat yang berperadaban Islam.
“Tugas kita sekarang adalah memperbaiki terus menerus pola pendidikan kita, pola kepengasuhan kita, serta pola perkaderan kita yang terbaik,” imbuhnya.
Beliau mengatakan, jika dihitung jumlah pertumbuhan santri di Hidayatullah menurut data DPP Hidayatullah pertahun selalu meningkat dan bertambah 5000 orang.
“Sungguh jumlah yang tidak sedikit sebenarnya. Bayangkan berapa jumlah alumni santri Hidayatullah 10 tahun yang akan datang,” kata Hamim.
Sebagai aktivis Hidayatullah, dia berpesan, kita harus menyadari sepenuhnya bahwa ini semua adalah amanah besar bagi kita. Sehingga menjadi sebuah pekerjaan tidak ringan kemudian bagaimana caranya dan seperti apa seharusnya agar bisa mengantar para santri ini menjadi kader-kader pembangun peradaban Islam dimasa yang akan datang.
“Maka tidak ada cara lain, kecuali mari kita bersama-sama memajukan pondok pesantren kita, ayo bersama sama kita memajukan pendidikan pesantren kita karena ini adalah amanah,” pesannya.
Dia mengatakan, pilihan Hidayatullah menjadikan pendidikan sebagai program mainstream sudah sangat tepat. Menurutnya, menjatuhkan pilihan pada sistem pendidikan pondok pesantren adalah pilihan yang tidak main-main karena tentu saja sudah sejak awal oleh para pendiri Hidayatullah dipikirkan secara mendalam.
“Hanya dengan pendidikanlah kita bisa berdakwah dalam waktu 24 jam sehari dan dalam masa 3 tahun di tingkat SMP dan 6 tahun lamanya di Tingkat SMA dan 4 atau 5 tahun di perguruan tinggi,” kata Hamim seraya menukil pernyataan pakar dan praktisi pendidikan Ir. Abdul Kadir Baraja.
Hamim menambahkan, seiring dengan kemajuan dan pencapainnya, pengelolaan pesantren Hidayatullah belumlah cukup dianggap memuaskan sehingga harus selalu ada upaya sungguh-sungguh untuk terus menguatkan.
“Jangan merasa puas dengan apa yang sudah ada supaya kita terus menerus berupaya untuk meningkatkan dan memajukan pendidikan kita. Namun jangan juga lupa untuk tetap bersyukur dengan apa yang sudah ada dan kita tetap merasa gembira dengan capaian kita semua, setahap demi tahap. Hanya kepada Allah kita berharap dan berdo’a kiranya Allah beri petunjuk dan kekuatan,” kata Hamim memungkasi. (ybh/hio)
DALAM sebuah diskusi terbatas seputar pendidikan, seorang narasumber dari kalangan Widyaiswara(*) Jawa Timur ditanya, “Apa ciri khas paling mendasar dari Kurikulum 2013, yang membedakannya dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya?” Dengan lugas beliau menjawab, “Pendekatan saintifik dalam pembelajaran.” Hadirin pun manggut-manggut. Memang, tidak ada yang aneh di sini. Tetapi, apakah sebenarnya “pendekatan saintifik” itu?
Di lain kesempatan, cendekiawan muslim dan ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi pernah ditanya, “Apa sebenarnya inti dari worldview (pandangan hidup) Barat yang menjadi ciri khas mereka?” Beliau menjawab, “Pandangan hidup keilmuan (saintific worldview). Artinya, cara pandang terhadap alam ini melulu saintifik dan tidak lagi religius … Hal-hal yang tidak bisa dibuktikan secara saintifik atau secara empiris tidak dapat diterima, termasuk metafisika dan teologi. Maka di zaman Barat modern, sains dipisahkan dari agama … Ciri dari worldview yang saintifik itu tercermin dari berkembangnya paham-paham seperti empirisisme, rasionalisme, dualisme atau dikotomi, sekularisme, desakralisasi, pragmatisme, dsb. Paham-paham itu semua otomatis meminggirkan (memarginalkan) agama dari peradaban Barat.” (MISYKAT, 2012:87).
Dua pernyataan di atas menggiring kita pada satu kesimpulan, bahwa di tengah hiruk-pikuk penerapan dan sosialisasi Kurikulum 2013, sebetulnya masih ada isu-isu ideologis yang harus dikritisi.
Selama ini lebih banyak orang yang sibuk mempersoalkan bagaimana penerapannya atau seperti apa buku ajar dan perangkat pembelajarannya, seolah-olah kurikulum ini aman, sudah diterima tanpa perdebatan, dan tidak mengandung cacat bawaan. Padahal, bangunan kurikulum ini akan memahat hati dan pikiran anak-anak kita.
Apa yang mereka serap saat ini, di seluruh level pendidikan yang mereka lalui, pada kenyataannya akan menjadi cara pandang mereka terhadap seluruh realitas yang ada. Efeknya memang tidak segera terlihat, namun pasti muncul dalam 10, 20, sampai 30 tahun mendatang. Mestinya kita tidak latah dan sembrono dalam persoalan segawat ini.
Entah disengaja atau tidak, sebetulnya desain kurikulum baru ini ibarat merakit bom waktu, khususnya bagi umat Islam. Rupa-rupanya, peminggiran agama dan nilai-nilai religius dari masyarakat atau sekularisasi, masih terus berlanjut. Ini adalah proyek Westernisasi (pem-Barat-an), dalam modus yang lebih halus dan sangat canggih.
Bahaya pendekatan saintifik terletak pada asumsi materialistiknya yang menolak hal-hal gaib atau metafisika, karena tidak empiris dan tidak bisa dibuktikan menurut “ilmu pengetahuan”. Malaikat, setan, ruh, pahala, dosa, surga, neraka, wahyu, adalah sebagian kecil dari konsep dan fakta metafisika Islam yang pasti digugat.
Jika metafisika pun diotak-atik, maka kita tidak bisa lagi merasa aman terhadap masa depan keyakinan anak-anak kita. Bukankah seluruh Rukun Iman adalah perkara-perkara metafisika?
Sebenarnya, iman tidak berseberangan dengan ilmu pengetahuan. Menjadi mukmin yang baik tidak identik dengan anti-sains. Islam pun tidak mendikotomi agama dengan sains. Ajarannya berpijak di atas prinsip-prinsip tauhid yang menyeluruh. Alam semesta disebut juga sebagai ayat-ayat atau tanda-tanda Allah.
Masalahnya adalah terletak pada “pendekatan saintifik” itu, sebab ia adalah perangkat berpikir yang mempunyai latar belakang sejarah, asumsi, pola, dan tujuannya sendiri. Sebagai muslim, mengadopsi sebuah metodologi, paradigma, atau pendekatan khas Barat seperti ini pasti memiliki resiko-resiko yang tidak sepele.
Ini bukan tulisan paranoid, sebab desain Kurikulum 2013 – dalam konteks ini – memang bisa membuat kita khawatir. Misalnya, dalam Standar Kompetensi Lulusan (SKL) – pada domain sikap (afektif) – dinyatakan bahwa kurikulum ini diharapkan bisa membentuk manusia Indonesia yang beriman, berakhlak mulia (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun), serta memiliki rasa ingin tahu, estetika, percaya diri, dan motivasi internal. Tapi anehnya tidak ada pendukung yang relevan dengan tujuan ini pada domain pengetahuan (kognitif)nya. Sebab, ternyata obyek pengetahuan yang dipelajari adalah sains, teknologi, seni, dan budaya.
Kita pun bertanya-tanya: dari mana munculnya keimanan bila tanpa agama? Adakah akhlak mulia yang minus wahyu dan kenabian? Apa standar yang dipergunakan? Jawabannya jelas tidak terletak pada sains dan teknologi, apalagi seni dan budaya. Tampaknya, definisi sesuatu yang sangat mendasar (seperti iman dan akhlak) sengaja dibiarkan mengambang, dan inilah ciri khas filsafat Relativisme yang diagungkan kaum Liberalis dan Pluralis.
Menurut mereka, tidak ada kebenaran dan kebaikan yang mutlak, sehingga tidak boleh ada standar yang dibakukan. Contoh lain adalah estetika, yang jelas akan kacau-balau bila diserahkan kepada kriteria seni dan budaya. Pengalaman mengajarkan bahwa sesuatu yang dikecam sebagai pornografi oleh agama, seringkali dianggap sebagai keindahan oleh seni dan kewajaran dalam budaya. Tampaknya, ini bisa dimaknai sebagai ekspansi bahkan agresi paham Relativisme ke dalam dunia pendidikan kita, khususnya kaum muslimin.
Alhasil, komponen “beriman dan berakhlak mulia” dalam SKL tersebut menjadi janggal dan terkesan dipaksakan. Hanya ditempel begitu saja, tanpa dasar berpijak yang nyata. Berbicara tentang iman dan akhlak mulia namun bersikukuh memakai paradigma saintifik adalah pernyataan yang absurd.
Bermimpi menciptakan generasi beriman dan berakhlak mulia namun menggunakan kacamata relativistik pun merupakan gagasan yang mustahil. Ingin beriman dan berakhlak mulia tetapi sejak langkah pertama sudah menapak di atas jalan pengingkaran terhadap Tuhan dan agama. Wallahu a’lam.
ALIMIN MUKHTAR
Note: (*) Widyaiswara: guru; jabatan fungsional yang diberikan kepada pegawai negeri sipil dengan tugas mendidik, mengajar dan/atau melatih secara penuh pada unit pendidikan dan pelatihan dari instansi pemerintah (KBBI).