Beranda blog Halaman 47

Almarhum H. Tahtit Eko Budi Susilo, Sosok Pengokoh Dakwah yang Dekat dengan Umat

0
H. Susilo bersama Wakil Menteri Agama Republik Indonesia Dr. Romo Muhammad Syafi’i, SH., MH, didampingi Ketua Umum DPP Hidayatullah Ust. Dr. Nashirul Haq, Lc., MA, , Ketua Yayasan Pesantren Hidayatullah Depok, Ust. Lalu Mabrul, M.Pd.I, Habib Ali bin Abdurrahman As-Segaf dan lainnya saat meresmikan Masjid Ummul Quraa Pesantren Hidayatullah Depok, Sabtu, 24 Mei 2025 (Foto: Mohade Z. Fadhlullah/ Hidorid)

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Wafatnya H. Tahtit Eko Budi Susilo pada Rabu, 5 Jumadil Akhir 1447, bertepatan dengan 26 November 2025, membawa duka mendalam bagi keluarga besar Hidayatullah.

Sebagai Anggota Dewan Kehormatan Hidayatullah, sosok almarhum dikenal luas sebagai pribadi yang tenang, bersahaja, dan penuh kepedulian terhadap dakwah serta pendidikan Islam.

Wakil Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah, KH. Dr. Nashirul Haq, Lc., M.A., menyampaikan ungkapan belasungkawa dan penghormatan atas wafatnya almarhum.

Dalam keterangannya, Nashirul Haq menghadirkan gambaran mendalam mengenai karakter dan jejak pengabdian H. Susilo, yang tidak hanya dirasakan di lingkungan Hidayatullah tetapi juga oleh masyarakat luas.

Ia mengawali kesaksiannya dengan mengenang kepribadian almarhum sebagai sosok yang mudah diterima oleh siapa saja. Kedekatan almarhum dengan berbagai kalangan termasuk dengan ulama dan habaib menunjukkan keluasan hati dan ketulusan yang beliau bawa dalam setiap perjumpaan.

“Haji Susilo adalah sosok pribadi yang dekat dengan semua kalangan, termasuk kalangan ulama dan santri. Beliau memiliki kepedulian yang tinggi terhadap pesantren dan lembaga pendidikan Islam, khususnya Hidayatullah,” katanya kepada media ini.

Nashirul Haq menggambarkan bagaimana kedekatan itu bukan sekadar hubungan sosial, tetapi bentuk komitmen yang terus dibawa almarhum sejak masa muda. Ia tumbuh dalam interaksi erat dengan Hidayatullah, dan kedekatan itu berubah menjadi pengabdian nyata ketika dewasa.

“Sejak usia muda Almarhum H. Susilo sudah mengenal Hidayatullah dan di usia dewasa beliau aktif dan banyak mencurahkan perhatiannya untuk pesantren Hidayatullah, terutama di wilayah Jakarta, Depok dan sekitarnya,” kata Wakil Sekretaris Dewan Pertimbangan (Wantim) Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini.

Nashirul Haq juga memberikan gambaran lebih luas mengenai kontribusi almarhum sebagai seorang pengusaha muslim. Ia menekankan bahwa keberhasilan almarhum dalam profesinya tidak memalingkan hatinya dari tugas moral untuk menolong sesama. Kepedulian terhadap anak yatim, kaum dhuafa, dan pendidikan Islam menjadi bagian integral dari hidupnya.

“Sebagai seorang pengusaha muslim, Beliau telah mewakafkan dan menginfakkan sebagian hartanya untuk dakwah dan pendidikan Islam, khususnya bagi kaum dhuafa dari kalangan anak yatim dan tidak mampu,” imbuhnya.

Selain kontribusi material, Nashirul Haq juga menyoroti keteladanan almarhum dalam menjaga integritas pribadi. Dalam dunia usaha, seseorang dapat berhadapan dengan berbagai situasi yang menguji prinsip moral. Namun, almarhum memilih jalan disiplin spiritual sebagai cara menjaga diri dari perbuatan yang tidak pantas.

“Dalam menjalani profesi sebagai pengusaha yang berinteraksi dengan berbagai kalangan dan menghadapi berapa kondisi. Beliau menjaga diri dari perbuatan yang tidak pantas dengan konsisten mengenakan pakaian serba putih, mulai kopiah putih, baju dan celana putih hingga alas kaki warna putih sebagai upaya menjaga diri,” katanya.

Pakaian serba putih yang selalu dikenakan almarhum bukan hanya penampilan, tetapi simbol dari komitmen pribadi dalam menjaga kesucian niat dan akhlak.

Kesaksian Nashirul Haq juga menyinggung relasi almarhum dengan para dai dan pengurus Hidayatullah di berbagai daerah. Kedekatan itu menunjukkan bahwa almarhum tidak hanya hadir sebagai donatur atau pembina, tetapi sebagai sahabat yang tulus.

“Beliau sosok yang akrab dan bersahabat, khususnya dengan pengurus, para ustadz dan dai Hidayatullah di seluruh tanah air,” katanya.

Nashirul Haq menyampaikan doa dan penghormatan terakhir kepada almarhum. Doa itu ia sampaikan sebagai penutup dari kesan-kesan mendalam atas jejak hidup Haji Susilo, sekaligus ungkapan duka cita yang mewakili keluarga besar Hidayatullah.

“Selamat jalan Pak Haji Susilo, sahabat keluarga besar Hidayatullah, semoga Allah mengampuni dosanya, menerima amal salehnya dengan balasan limpahan kebaikan, memberi tempat yang mulia di sisi-Nya. Amin,” ujarnya mendoakan.

Kepergian H. Tahtit Eko Budi Susilo meninggalkan teladan tentang kedermawanan, kesederhanaan, dan komitmen terhadap pendidikan Islam.

Melalui kiprahnya yang meluas, tergambar bahwa almarhum bukan hanya bagian dari organisasi, tetapi bagian dari hati komunitas dakwah yang ia dukung sepanjang hayatnya. Semoga nilai-nilai kebaikan yang ia tinggalkan menjadi amal jariyah yang terus mengalir.

Tabayyun dan Maslahah Ditekankan MUI untuk Warga Pengguna Media Sosial

0
Seminar interaktif membangun keadaban dalam bermedia sosial (Foto: Dok. MUI)

TANGERANG (Hidayatullah.or.id) — Perkembangan teknologi digital, terutama kehadiran kecerdasan buatan, telah mengubah cara masyarakat memperoleh, memproduksi, dan mendistribusikan informasi. Di tengah arus data yang bergerak cepat, kebutuhan terhadap literasi digital dan ketahanan masyarakat dalam menggunakan media sosial menjadi semakin mendesak.

Dalam pada itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) memandang bahwa penguatan etika, verifikasi informasi, serta orientasi kemaslahatan perlu diarahkan secara lebih sistematis untuk menjaga ruang publik tetap sehat dan produktif.

Pada Seminar Interaktif Membangun Keadaban dalam Bermedia Sosial, Wakil Ketua Umum MUI K.H. Muhammad Cholil Nafis menegaskan bahwa hampir semua informasi umum di media sosial perlu diragukan kebenarannya sampai dilakukan validasi dan verifikasi.

Ia menekankan bahwa pada era kecerdasan buatan, hampir semua bentuk informasi maupun gambar dapat dipalsukan dan tampak seperti konten asli.

“Dalam prinsip tabayyun, semua informasi yang diterimanya harus diverifikasi sebelum dipakai sendiri sebagai data atau di-share kepada yang lain,” ujar Kiai Cholil seperti dikutip laman resmi MUI, Rabu, 5 Jumadil Akhir 1447 (26/11/2025).

Anggota Kehormatan Hidayatullah ini menyampaikan bahwa perkembangan teknologi menuntut masyarakat untuk mengedepankan sikap kritis dan kehati-hatian dalam berinteraksi dengan informasi digital.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam rangkaian sosialisasi hasil Musyawarah Nasional Majelis Ulama Indonesia (Munas XI MUI) yang berlangsung di Hotel Mercure Ancol pada 20–23 November lalu.

Kiai Cholil menjelaskan bahwa momentum seminar tersebut dimaksimalkan untuk menyampaikan keputusan Munas XI MUI terkait Ketahanan Media Sosial. Ia menyebutkan bahwa Mabda’ Asasi atau Peta Jalan MUI pada paruh kedua usia setengah abad organisasi itu menempatkan media sosial sebagai alat dakwah yang berfungsi memperkuat literasi keislaman dan ketahanan nasional.

Menurutnya, strategi ini diperlukan agar perkembangan media sosial dapat dimanfaatkan secara konstruktif dalam membangun karakter, keilmuan, serta kesadaran kebangsaan.

Kegiatan sosialisasi yang diinisiasi oleh MUI Kabupaten Tangerang tersebut mendapat perhatian luas dari masyarakat. Forum itu dihadiri pengurus MUI se-Kabupaten Tangerang, para tokoh masyarakat, serta unsur media lokal.

Tabayyun dan Prinsip Maslahah

Dalam penjelasannya, Kiai Cholil menguraikan dua prinsip utama yang menjadi rukun dalam bermedia sosial, yaitu prinsip tabayyun dan prinsip maslahah. Tabayyun, menurutnya, merupakan kewajiban untuk melakukan verifikasi atas setiap informasi yang diterima agar tidak terjadi penyebaran data yang tidak akurat.

Ia menilai bahwa kecenderungan menyebarkan informasi tanpa proses pemeriksaan menjadi salah satu penyebab maraknya misinformasi di ruang digital. Pada era ketika teknologi deepfake dan manipulasi visual semakin mudah dilakukan, tahapan verifikasi menjadi semakin penting untuk menjaga akurasi dan menghindarkan masyarakat dari kesalahan persepsi.

Prinsip kedua adalah maslahah. Setelah proses verifikasi dilakukan, setiap informasi yang akan dibagikan harus memiliki nilai manfaat. Kiai Cholil menjelaskan bahwa penyebaran informasi yang valid sekalipun dapat menimbulkan dampak negatif jika mengandung unsur ghibah atau fitnah.

Oleh karena itu, jelasnya, pengguna media sosial perlu mampu menahan diri serta memilih diksi yang tepat sebelum membagikan informasi ke publik. Ia menilai bahwa sensitivitas dampak sosial merupakan bagian penting dari etika bermedia.

Dalam kesempatan tersebut, Kiai Cholil juga mengajak masyarakat agar lebih berhati-hati dan bijak dalam menggunakan media sosial. Ia mengingatkan perlunya menghindari konten yang mengandung isu SARA, kekerasan, oversharing, maupun pengungkapan berlebihan terkait informasi pribadi.

Menurutnya, pengelolaan konten yang baik akan berkontribusi besar dalam menciptakan ekosistem digital yang aman dan berkeadaban. “Ayo bijak bermedia sosial agar hidup penuh damai dan damai,” pungkasnya.

Anggota Kehormatan Hidayatullah H. Tahtit Eko Budi Susilo Meninggal Dunia

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — INNAA lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun, keluarga besar Hidayatullah berduka. Salah satu sosok guru, H. Tahtit Eko Budi Susilo, Anggota Kehormatan Hidayatullah, wafat di Jakarta pada hari Rabu, 5 Jumadil Akhir 1447 bertepatan dengan 26 November 2025.

Kabar kepergiannya hadir dengan keheningan yang dalam, seolah mengirimkan pesan bahwa seorang pejuang dakwah dan pengabdian telah menyelesaikan tugasnya di dunia.

Duka menyelimuti keluarga besar Hidayatullah, para sahabat, serta mereka yang pernah merasakan ketulusan beliau dalam membimbing, mengarahkan, dan menenangkan banyak hati.

Dalam lingkup gerakan dakwah dan pendidikan, nama H. Susilo dikenal sebagai pribadi yang tenang, santun, dan teguh dalam pendirian. Kiprahnya sebagai penasihat dan Anggota Dewan Kehormatan Hidayatullah mencerminkan karakter yang menjaga marwah organisasi, memberi keteladanan dalam disiplin, etika, dan komitmen moral.

Banyak pihak mengenangnya sebagai sosok yang lebih sering bekerja dalam diam, hadir tanpa menuntut perhatian, tetapi selalu menjadi tempat bertanya dan berteduh bagi para kader dan pengurus yang membutuhkan arahan.

Kabar duka ini juga direspons oleh Wakil Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah KH Nashirul Haq. Menurutnya, H. Susilo adalah sosok pribadi yang dekat dengan semua kalangan, termasuk kalangan ulama dan santri. Beliau memiliki kepedulian yang tinggi terhadap pesantren dan lembaga pendidikan Islam, khususnya Hidayatullah.

Nashirul menyebutkan, sejak usia muda almarhum Haji Susilo sudah mengenal Hidayatullah dan di usia dewasa beliau aktif dan banyak mencurahkan perhatiannya untuk pesantren Hidayatullah, terutama di wilayah Jakarta, Depok dan sekitarnya.

“Sebagai seorang pengusaha muslim, beliau telah mewakafkan dan menginfakkan sebagian hartanya untuk dakwah dan pendidikan Islam, khususnya bagi kaum dhuafa dari kalangan anak yatim dan tidak mampu,” katanya kepada media ini.

Haji Susilo dikenang oleh banyak kolega sebagai sosok yang hangat dalam interaksi, namun tegas dalam prinsip. Ia tidak banyak berbicara ketika tidak diperlukan, tetapi ketika memberi arahan, setiap katanya memiliki bobot dan mampu menggerakkan kesadaran. Sikapnya yang rendah hati membuatnya mudah diterima lintas generasi, dari para senior hingga kader muda.

H. Susilo bersama Wakil Menteri Agama Republik Indonesia Dr. Romo Muhammad Syafi’i, SH., MH, didampingi Ketua Umum DPP Hidayatullah Ust. Dr. Nashirul Haq, Lc., MA, , Ketua Yayasan Pesantren Hidayatullah Depok, Ust. Lalu Mabrul, M.Pd.I, Habib Ali bin Abdurrahman As-Segaf dan lainnya saat meresmikan Masjid Ummul Quraa Pesantren Hidayatullah Depok, Sabtu, 24 Mei 2025 (Foto: Mohade Z. Fadhlullah/ Hidorid)

Di Jakarta, tempat beliau mengembuskan napas terakhir, banyak kenangan mengiringi. Pertemuan-pertemuan organisasi, diskusi internal, pembinaan kader, hingga percakapan singkat di sela kegiatan — semuanya kini menjadi potret yang kembali hadir di ingatan para sahabatnya.

Dalam keseharian, pria yang selalu berpakaian putih dan berpeci putih ini dikenal tidak pernah menolak permintaan untuk memberi nasihat, meski dalam keadaan lelah atau terbatas oleh waktu. Ketulusannya sering terlihat dari cara beliau hadir: tidak ingin menonjol, tetapi selalu memastikan orang lain merasa ditopang dan diarahkan.

Kepergiannya pada 26 November 2025 menjadi penanda bahwa satu mata air keteduhan telah kembali kepada Pemiliknya. Namun jejak yang ditinggalkan masih mengalir, menguatkan mereka yang melanjutkan tugas dakwah dan pendidikan di jalan yang sama.

Bagi Hidayatullah, sosok seperti beliau tidak hanya dikenang, tetapi dijadikan cermin bagi generasi penerus untuk memahami bahwa kemuliaan bukanlah pada posisi, melainkan pada pengabdian yang dilakukan sepenuh hati.

Dalam suasana duka ini, keluarga besar Hidayatullah dan seluruh pihak yang pernah mengenal beliau mendoakan agar Allah memberikan tempat terbaik untuk almarhum, mengampuni segala kekhilafannya, serta melipatgandakan pahala dari setiap amal yang telah ia tinggalkan.

H. Tahtit Eko Budi Susilo mungkin telah pergi, tetapi teladan yang ia tinggalkan akan terus menjadi cahaya bagi perjalanan panjang dakwah dan pendidikan yang ia cintai.

Semoga Allah menyayangi beliau, mengampuni seluruh dosanya, dan dikumpulkan bersama para Nabi, Rasul, Shiddiqin, Syuhada, dan Shalihin di Jannah Firdaus Tertinggi, Aaamiin Yaa Robbal’aalamiin.

Dari Data hingga Dakwah Kampus, Jateng Diproyeksikan Jadi Poros Baru Hidayatullah

0

SEMARANG (Hidayatullah.or.id) — Musyawarah Wilayah (Muswil) V Hidayatullah Jawa Tengah yang digelar pada 1-2 Jumadil Akhir 1447 (22–23/11/2025) menjadi momentum penting evaluasi kinerja, konsolidasi organisasi, dan penyusunan arah strategis lima tahun mendatang.

Dalam pendampingannya pada kegiatan itu, Ketua Bidang Pendidikan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Muzakkir Usman, memotret Jawa Tengah sebagai wilayah dengan potensi besar dan layak disebut sebagai “kuda hitam” pertumbuhan organisasi di tingkat nasional.

Menurut Muzakkir, istilah ini bukan untuk menumbuhkan sensasi, tetapi menggambarkan daya dorong signifikan yang dimiliki Jawa Tengah dalam peta dakwah dan tarbiyah nasional.

“Angin apa yang membuat Jawa Tengah ujug-ujug menjadi ‘kuda hitam’,” tanya Muzakkir mengawali.

Sejak kehadirannya 30 tahun lalu, Hidayatullah Jawa Tengah telah membangun jaringan yayasan, sekolah, dan organisasi di seluruh kota/kabupaten. Kesuksesan ini tidak terlepas dari kader-kader awal yang dikirim dari Jawa Timur untuk merintis dakwah di provinsi dengan populasi terbesar ketiga di Indonesia itu.

Dalam laporan perkembangan lima tahun terakhir, Ketua DPW demisioner—yang kembali terpilih—Akhmad Ali Subur memaparkan data jaringan organisasi, anggota, lembaga pendidikan, rumah Qur’an, hingga data finansial yang tersaji lengkap dan mudah diakses melalui dashboard organisasi. Menurut Muzakkir, keunggulan data inilah yang menegaskan positioning Jawa Tengah sebagai wilayah yang matang secara administrasi dan terbuka untuk akselerasi baru.

Meskipun capaian usia 30 tahun sudah patut disyukuri, Muzakkir menegaskan bahwa syukur tidak boleh berhenti pada penerimaan semata. “Angka-angka yang disajikan perlu ditingkatkan dengan mujahadah yang lebih optimal agar muncul kesyukuran berikutnya,” tulisnya.

Secara geopolitik, menurut Muzakkir, Jawa Tengah memegang posisi strategis. Provinsi ini menjadi salah satu wilayah kunci dalam kontestasi politik nasional dan dikenal sebagai basis kuat partai berhaluan nasionalis. Bagi Hidayatullah, kata Muzakkir, kondisi ini merupakan tantangan untuk menawarkan arah ideologis yang lebih cerah dan menyejukkan bagi masyarakat Jawa Tengah.

Langkah awal yang kini ditempuh DPW adalah memperkuat dakwah dan rekrutmen melalui pembangunan Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jawa Tengah di jantung Kota Semarang. Gedung dua lantai yang tengah dalam tahap penyelesaian ini diproyeksikan menjadi pusat kegiatan umat dan ruang kolaborasi seluruh elemen masyarakat.

Muzakkir memandang strategi ini sebagai langkah brilian. Ia menegaskan bahwa struktur organisasi berupa DPD dan DPC harus hadir di 22 kabupaten/kota, terutama daerah padat penduduk seperti Tegal dan Pekalongan. Potensi ini perlu diwujudkan untuk memperluas jangkauan dakwah.

Salah satu peluang strategis yang sangat terbuka adalah dakwah kampus. Dengan 256 perguruan tinggi di Jawa Tengah—9 negeri dan 247 swasta—maka kesempatan membentuk Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (GMH) sangat besar. Muzakkir menilai pengesahan GMH pada Munas VI sebagai starting point untuk mengajak intelektual muda terlibat dalam dakwah berbasis peradaban.

Di masa lalu, Hidayatullah Jawa Tengah berhasil merekrut kader-kader awal dari kampus ternama seperti Universitas Diponegoro. Capaian itu, menurut Muzakkir, harus menjadi pemantik generasi berikutnya untuk menapaktilasi kesuksesan tersebut.

Jawa Tengah memiliki 30 sekolah Hidayatullah, namun peluang untuk memperluas masih sangat besar. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa Angka Partisipasi Murni di tingkat SMP hanya 81,6%, sementara SMA 61,46%. Artinya, terdapat sekitar 20% lulusan SD yang tidak melanjutkan ke SMP dan lebih dari 38% lulusan SMP yang tidak melanjutkan SMA.

“Ini peluang sangat besar bagi Hidayatullah untuk menghadirkan lembaga pendidikan menengah dengan distingsi pendidikan integral berbasis tauhid,” kata Muzakkir menekankan urgensi ekspansi pendidikan .

Strategic roadmap yang disusun pengurus bahkan telah menetapkan target menghadirkan perguruan tinggi Hidayatullah di Jawa Tengah pada 2031–2035.

Hidayatullah Academy yang dirintis dalam lima tahun terakhir menjadi bukti keseriusan DPW dalam membangun sumber daya manusia.

Lembaga ini menggelar berbagai program leadership training, upgrading dai, diklat guru, hingga pelatihan kepemimpinan pemuda.

Bahkan, Jawa Tengah tercatat sebagai penyumbang terbesar peserta pelatihan di Hidayatullah Institute tingkat nasional.

Selain itu, program Jamsoskad (Jaminan Sosial Kader) yang sukses dieksekusi DPW menjadi model yang layak ditiru.

Muswil V menetapkan kepengurusan baru yang sebagian besar diisi para incumbent berprestasi. Komposisi pengurus diperkuat kader alumni Hidayatullah Institute dengan rata-rata usia di bawah 40 tahun, sebagai bentuk rejuvenasi paradigma dan regenerasi alami.

Muzakkir memotret Jawa Tengah dengan optimisme. Menurutnya, dengan segala capaian dan potensi yang dimiliki, ia berharap gerakan dakwah lima tahun ke depan mampu meneguhkan Jawa Tengah selain sebagai “the port of Java” juga menjadi “the port of Islamic civilization”.

“Jawa Tengah sesungguhnya menyimpan potensi untuk menarik perhatian bahwa ada sebuah provinsi yang bisa menjadi kuda hitam dalam pertumbuhan Hidayatullah,” tandasnya.

Rekonstruksi Epistemologi Islam untuk Kebangkitan Peradaban

0

ADA satu pertanyaan lain yang cukup menggelitik dari Rais ‘Aam Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad, saat memberikan taujih pada Pekan Orientasi Pengurus Tingkat Pusat Hidayatullah Periode 2025–2030 di Bogor, Jawa Barat, Senin, 26 Jumadil Awal 1447 (17/11/2025): “Mengapa saat ini keilmuan Islam inferior di hadapan peradaban Barat?”.

Sesungguhnya ilmu Islam memiliki fondasi epistemologis yang sangat kuat karena bersumber dari wahyu Allah sebagai kebenaran absolut yang tidak tunduk pada relativitas rasionalitas manusia.

Selama berabad-abad, epistemologi ini melahirkan tradisi keilmuan yang integral, kokoh, dan produktif. Ia membangun peradaban unggul pada banyak ranah: teologi, filsafat, sains, kedokteran, matematika, astronomi, teknologi, hingga tata sosial dan politik.

Pada masa itu, ‘aql (akal) dan naql (wahyu) tidak diposisikan sebagai dua kutub yang saling menegasikan, melainkan harmoni metodologis: wahyu menjadi orientasi nilai, akal menjadi instrumen penjelajahan semesta.

Keseimbangan epistemologis tersebut tidak berhenti pada konsep teoretis, tetapi berkembang menjadi kebijakan peradaban. Pada era Abbasiyah, Bayt al-Hikmah (House of Wisdom) di Baghdad berdiri sebagai pusat riset multidisipliner terbesar di dunia.

Karya-karya Yunani, Persia, India, dan Mesir bukan hanya diterjemahkan, tetapi dikritisi, disintesiskan, dan dikembangkan dalam bingkai tauhid. Di Andalusia, Universitas Córdoba dan Toledo menjadi pusat pengetahuan internasional, dengan perpustakaan yang memuat ratusan ribu manuskrip saat Eropa masih berada dalam gelapnya dunia intelektual.

Pada abad ke-10, ilmuwan Muslim menghasilkan terobosan monumental. Al-Khawarizmi menemukan aljabar dan sistem algoritma; Ibn al-Haytham merumuskan metode ilmiah berbasis eksperimen; Ibn Sina menyusun The Canon of Medicine; Al-Biruni mengukur radius bumi dengan tingkat akurasi yang baru dapat dikejar oleh teknologi modern.

Keunggulan peradaban Islam pada masa itu tidak lahir dari kekuasaan politik, tetapi dari bangunan ilmu yang berporos pada wahyu. Penelitian, observasi, dan eksperimentasi dipandang sebagai ibadah sekaligus tadabbur terhadap ayat-ayat Allah dalam semesta.

Epistemologi wahyu kemudian melahirkan etika ilmu, dan akal menghasilkan peradaban ilmu. Rumah sakit modern, universitas, optik, navigasi astronomi, matematisasi sains, teori musik, administrasi publik, hingga tata kelola negara berakar dari paradigma ini.

Namun, dalam perjalanan sejarah, keilmuan Islam mengalami marginalisasi. Dominasi epistemologi Barat modern—yang menjadikan rasionalisme, empirisme, dan sekularisme sebagai satu-satunya paradigma kebenaran—secara perlahan mendorong epistemologi wahyu ke ranah privat dan spiritual. Akibatnya, umat Islam kehilangan keunggulan dalam produksi ilmu dan teknologi, serta kehilangan kepercayaan epistemik pada tradisi intelektualnya sendiri.

Inferioritas ilmu Islam hari ini bukan disebabkan oleh lemahnya substansi epistemologi Islam, tetapi karena melemahnya imajinasi epistemik umat Islam. Banyak umat tidak lagi meyakini bahwa Islam adalah sumber ilmu, melainkan hanya sumber moral dan ritual.

Barat kemudian dipandang sebagai otoritas tunggal dalam ranah sains, sementara wahyu dikurung pada fungsi etis dan spiritual. Maka problem epistemologis keilmuan Islam pada era ini bukan pada wahyu yang tetap kuat dan visioner, tetapi pada absennya rekonstruksi paradigma ilmu Islam agar operasional dalam konteks keilmuan kontemporer.

Dalam sejarah, generasi awal Islam telah membuktikan bahwa integrasi wahyu dan akal mampu melahirkan ledakan peradaban. Rasulullah ﷺ memberikan cetak biru bagi kebangkitan ilmu: fase Makkah adalah fase penanaman akidah, penyucian paradigma, dan pembentukan epistemologi tauhid; fase Madinah adalah fase institusionalisasi nilai, produksi ilmu, dan ekspansi sosial-politik.

Kejayaan Madinah bukan hasil kekuatan militer, melainkan buah kejernihan epistemologi selama 13 tahun di Makkah: pembebasan akal dari sekularisme, politeisme, dan mitos, serta penguatan fungsi wahyu sebagai pusat orientasi intelektual.

Model peradaban kenabian tersebut menawarkan peta jalan strategis untuk rekonstruksi keilmuan Islam modern. Pertama, rekonstruksi akidah sebagai rekonstruksi epistemologi. Akidah bukan hanya pernyataan keimanan, tetapi kerangka berpikir.

Wahyu harus diposisikan sebagai sumber kebenaran, fondasi teori, dan kompas nilai bagi semua disiplin ilmu. Ini adalah fase Makkah dalam konteks keilmuan: penyatuan visi tauhid dengan orientasi penelitian dan inovasi.

Kedua, institusionalisasi ilmu berbasis wahyu. Sebagaimana Rasulullah ﷺ membangun Masjid dan Suffah sebagai pusat pendidikan, dunia Islam modern memerlukan lembaga riset dan komunitas ilmiah untuk memproduksi teori, mengintegrasikan ulumuddin dengan sains dan teknologi, serta membangun ekosistem intelektual yang melahirkan ilmuwan berorientasi wahyu sekaligus kompeten metodologis.

Ketiga, ekspansi peradaban melalui produksi ilmu dan teknologi. Madinah dibangun melalui tata kelembagaan, ekonomi, diplomasi, pertahanan, dan administrasi publik yang berbasis nilai.

Kebangkitan Islam masa kini harus bergerak dari konsumsi teknologi menuju produksi ilmu dan inovasi yang berorientasi kemaslahatan universal, keadilan, keberlanjutan, dan martabat manusia.

Rekonstruksi keilmuan Islam bukan nostalgia kejayaan masa lalu, tetapi program peradaban yang bersifat metodologis dan historis. Kebangkitan Islam menuntut reorientasi besar: dari mentalitas konsumtif menjadi produsen ilmu; dari paradigma Barat-sentris menuju paradigma tauhid; dari mempelajari Islam sebagai doktrin menuju memproduksi peradaban berbasis wahyu.

Pelajaran besar dari 13 tahun Makkah dan 10 tahun Madinah menunjukkan bahwa perubahan peradaban selalu berawal dari perubahan epistemologi.

*) Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis Ketua Bidang Perkaderan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Pemerintah Apresiasi Peran Hidayatullah di Muswil Perdana Papua Selatan

0

MERAUKE (Hidayatullah.or.id) — Musyawarah Wilayah (Muswil) ke-1 Hidayatullah Papua Selatan menjadi tonggak penting bagi konsolidasi kelembagaan dan arah dakwah pasca-pemekaran wilayah. Diselenggarakan pada 1-2 Jumadil Akhir 1447 (22–23/11/2025) di Auditorium Kantor Bupati Merauke, forum ini menandai penguatan struktur organisasi serta perumusan rencana strategis pembangunan sumber daya manusia di kawasan paling timur Indonesia.

Pada momentum pembukaan, Wakil Bupati Merauke, Dr. Fauzun Nihayah, S.H.I., M.H., menegaskan apresiasinya terhadap kontribusi Hidayatullah. Ia menilai bahwa kehadiran Hidayatullah merupakan mitra strategis pemerintah dalam pembangunan sumber daya manusia berakhlak mulia di Papua Selatan.

Dalam sambutannya, ia menyampaikan ungkapan simbolik berupa pantun sebagai pesan penguatan moral bagi para peserta musyawarah.

“Burung cenderawasih terbang menari, indah warnanya tak terperikan. Selamat bermusyawarah dengan hati nurani untuk dakwah Hidayatullah makin menguatkan persatuan,” katanya.

Sebagai ajang Muswil perdana, kegiatan ini melibatkan seluruh Dewan Pengurus Daerah (DPD) dan Dewan Pengurus Cabang (DPC) se-Papua Selatan. Ketua Panitia Muswil, Abdul Chaliq, Lc., menjelaskan bahwa peserta berasal dari berbagai unsur masyarakat, termasuk pejabat pemerintah, anggota DPR, ketua MUI Merauke, ketua organisasi masyarakat seperti Muhammadiyah, NU, dan Wahdah Islamiyah, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), majelis taklim, ketua DKM, serta wali santri Hidayatullah Merauke.

Pihaknya juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh sponsor yang mendukung terselenggaranya Muswil perdana tersebut.

Agenda utama forum ini mencakup laporan pertanggungjawaban kepengurusan transisi serta penetapan Ketua DPW Hidayatullah Papua Selatan periode 2025–2030.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Saiful Anwar, memaparkan pesan Muswil DPP Hidayatullah yang menekankan bahwa jalan dakwah menuntut kesungguhan spiritual, komitmen sosial, dan ketahanan mental. Ia menjelaskan bahwa tantangan dalam dakwah justru menjadi pendorong spiritual para dai untuk menetapkan diri dalam barisan ad-daa’i ilallaah.

Saiful menguraikan dua dimensi penting yang harus dikawal para pemimpin dakwah, yakni kemampuan bersikap superior dalam menghadapi tantangan serta keharusan menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat. Tanpa keduanya, tegasnya, dakwah tidak akan melampaui retorika dan gagal mengikuti keteladanan dakwah Rasulullah SAW.

Ia turut mengingatkan kembali perjuangan generasi awal Hidayatullah yang berbekal kesederhanaan, keikhlasan, serta kekuatan ibadah, terutama shalat Tahajjud, yang menjadi fondasi kekokohan mental dan keluasan pengaruh dakwah.

Menurutnya, spirit kesederhanaan tersebut memungkinkan para dai memberi perubahan berarti meski dengan fasilitas terbatas dan tanpa pendidikan akademik tinggi. Semangat itu pula yang membuat dakwah Hidayatullah tetap kuat, rendah hati, dan terhindar dari sikap thagha’.

Saiful kemudian menegaskan bahwa Hidayatullah kini memasuki 50 tahun kedua pergerakan dakwahnya dengan 38 DPW aktif di seluruh Indonesia, sebagai bukti kontribusi organisasi dalam memperjuangkan NKRI yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Ia menyebutkan bahwa komitmen dakwah Hidayatullah sejalan dengan Asta Cita Presiden Republik Indonesia dalam memperkuat harmoni sosial, lingkungan, dan keagamaan.

Muswil resmi ditutup dengan pembacaan SK Kepengurusan DPW yang menetapkan Zainal Abidin sebagai Ketua Hidayatullah Papua Selatan periode 2025-2030. Forum tersebut menghasilkan rekomendasi strategis untuk memperkuat sektor pendidikan dan dakwah serta peneguhan komitmen menjaga keutuhan NKRI di wilayah Papua Selatan.

Munas VI Mushida Teguhkan Peran Perempuan sebagai Penyangga Ketahanan Keluarga

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Menjelang pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) ke-VI Muslimat Hidayatullah (Mushida), berbagai agenda persiapan terus dimaksimalkan untuk memastikan kelancaran perhelatan lima tahunan tersebut.

Ketua Panitia Munas 6 Muslimat Hidayatullah, Ina Sriwahyuni, mengatakan, sebagai forum strategis, Munas menjadi ruang konsolidasi organisasi dalam merumuskan arah kebijakan, memperkuat kapasitas kelembagaan, dan meneguhkan kontribusi muslimah bagi pembangunan bangsa.

Dalam kerangka tersebut, jelas Ina, tema besar yang diusung Munas 6 memuat pesan penting mengenai posisi perempuan dalam struktur sosial dan keluarga serta mengarahkan perhatian pada peran perempuan sebagai aktor kunci pembentukan karakter, penguatan moral, serta motor penggerak ketahanan keluarga.

“Tahun ini, Munas 6 mengusung tema ‘Meneguhkan Peran Muslimah dalam Membangun Ketahanan Keluarga Menuju Indonesia Emas,’ sebuah gagasan yang relevan dengan tantangan zaman,” ujarnya dalam keterangannya, Senin, 3 Jumadil Akhir 1447 (24/11/2025).

Ina menekankan bahwa tema tersebut menegaskan pentingnya peran perempuan sebagai pusat pembentukan karakter, pondasi moral, dan motor penggerak ketahanan keluarga dalam mewujudkan masyarakat yang lebih kuat.

Sejumlah pra-kegiatan telah digelar sejak Juli sebagai bagian dari Gebyar Musyawarah Nasional. Kegiatan ini melibatkan anggota Muslimat Hidayatullah dari seluruh provinsi di Indonesia dan menjadi bentuk penyambutan menuju puncak Munas.

Di antara rangkaian yang telah berlangsung ialah Seribu Berkah untuk Indonesia, Gerak Jalan Sehat & Operasi Bersih Lingkungan, Webinar Parenting, Pemberdayaan Remaja Putri Menuju Kemandirian, Lomba Video Interaktif Pembelajaran PAUD Tingkat Nasional, Lomba Menulis untuk Remaja Putri Tingkat Nasional, serta kegiatan bertema kemanusiaan Palestina Memanggil.

Seluruh rangkaian tersebut dirancang sebagai bagian dari pembekalan nilai, penguatan solidaritas, dan penyegaran semangat kader sebelum memasuki forum permusyawaratan nasional.

Munas 6 yang akan diselenggarakan pada 27–29 November 2025 di Jakarta ini dijadwalkan diikuti oleh 250 peserta. Mereka terdiri dari Majelis Penasihat, Majelis Murabbiyah Pusat, Pengurus Pusat, serta delegasi Pengurus Wilayah dari 38 provinsi.

Peserta akan terlibat dalam sidang-sidang strategis yang berfungsi menjadi landasan arah gerak Muslimat Hidayatullah untuk lima tahun mendatang. Agenda persidangan akan menguatkan perumusan program, evaluasi capaian, serta penyelarasan langkah organisasi terhadap dinamika nasional dan kebutuhan umat.

Ina Sriwahyuni juga menyampaikan apresiasi atas dukungan yang telah diberikan berbagai pihak selama proses persiapan. “Atas nama panitia, kami menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya atas bantuan moril, materil, tenaga, waktu, dan pikiran yang diberikan untuk menyukseskan seluruh rangkaian kegiatan menjelang Munas,” tuturnya.

Menutup keterangannya, Ina mengajak seluruh keluarga besar Hidayatullah serta masyarakat luas untuk turut mendoakan kelancaran kegiatan tersebut. Ia menyampaikan harapan agar Munas 6 dapat berlangsung dengan baik dan menghasilkan keputusan-keputusan strategis yang bermanfaat.

“Semoga Munas Muslimat Hidayatullah dapat berjalan dengan lancar, sukses, dan penuh keberkahan, serta menjadi sumber energi yang mampu menggugah kembali semangat para mujahidah dalam mewujudkan keluarga Qur’ani menuju terbangunnya peradaban Islam yang mulia,” ujarnya.

Menghidupkan Kembali Masjid sebagai Pusat Peradaban

0

MASJID sering direduksi hanya sebagai ruang ibadah ritual seperti shalat, dzikir, dan kajian rutin. Padahal jika menengok ke masa Rasulullah ﷺ, fungsi masjid jauh lebih luas dan fundamental.

Masjid bukan sekadar tempat rukuk dan sujud, melainkan pusat peradaban yang menggerakkan seluruh denyut kehidupan umat. Untuk memahami hal tersebut, diperlukan kejelasan mengenai makna peradaban itu sendiri.

Peradaban, sebagaimana dijelaskan KH Suharsono Darbi dalam bukunya “Membangun Peradaban Islam: Menata Indonesia Masa Depan dengan Al-Qur’an”, adalah manifestasi keyakinan dalam kehidupan manusia. Definisi ini dapat diperluas, bahwa, peradaban adalah perwujudan konkret dari landasan akidah pada seluruh sektor kehidupan.

Dengan demikian, peradaban Islam lahir ketika nilai tauhid teraktualisasi dalam pendidikan, sosial, ekonomi, politik, kesehatan, pertahanan, dan seluruh dimensi kehidupan seorang muslim.

Dari kerangka ini dapat dipahami bahwa peradaban bukan semata infrastruktur atau capaian teknologi. Ia adalah arah hidup, orientasi nilai, dan tata kelola masyarakat yang bersumber dari keyakinan.

Pada masa Rasulullah ﷺ, pusat dari seluruh arah peradaban itu berada di Masjid Nabawi. Masjid menjadi fondasi tempat kehidupan umat diikat, diatur, dan diarahkan berdasarkan manhaj nabawi dan syariat Islam.

Dalam bidang tarbiyah, Masjid Nabawi berfungsi sebagai ruang pembinaan iman dan ilmu. Para sahabat menghadiri halaqah, belajar langsung dari Rasulullah ﷺ, menerima nasihat, dan menyerap ajaran Islam melalui interaksi harian.

Masjid pada masa itu bukan ruang singgah untuk belajar lalu pulang, melainkan institusi pembentuk karakter, tempat tumbuhnya generasi yang matang secara intelektual dan spiritual.

Dari aspek kesehatan, masjid berperan sebagai pusat penanganan darurat. Ketika terjadi peperangan, para pejuang yang terluka dirawat di Masjid Nabawi, dan para muslimah berperan sebagai perawat. Fakta ini menunjukkan bahwa masjid memberi ruang kontribusi kepada perempuan dalam kerja peradaban dan tidak membatasi fungsinya hanya pada satu ranah.

Dalam bidang militer, masjid menjadi pusat konsolidasi dan perencanaan strategi. Rasulullah ﷺ mengumpulkan para sahabat sebelum berangkat berperang, menyusun taktik, dan menguatkan mental umat dari dalam masjid. Hal ini menunjukkan bahwa pertahanan tidak dilepaskan dari nilai spiritual, tetapi justru bertumpu pada tauhid sebagai sumber kekuatan.

Pada aspek pemerintahan dan sosial, masjid berfungsi sebagai balai musyawarah, forum diplomasi, ruang penyelesaian masalah publik, hingga kantor pelayanan masyarakat. Delegasi dari berbagai kabilah menemui Rasulullah ﷺ di masjid. Masalah sosial ditangani di sana, dan kebijakan dibicarakan bersama para sahabat. Secara fungsional, masjid pada masa Rasulullah ﷺ merupakan balai kota, pusat komunikasi, sekaligus kantor pemerintahan umat.

Di era teknologi seperti sekarang, peluang untuk menghidupkan kembali fungsi peradaban masjid justru semakin besar. Digitalisasi manajemen, transparansi keuangan, aplikasi zakat-infak-wakaf, serta penguatan tata kelola takmir dapat mempercepat pelayanan jika dirancang secara profesional dan berkelanjutan.

Salah satu contoh konkret adalah Masjid Jogokariyan di Yogyakarta. Masjid ini dikenal karena pengelolaannya yang tidak menumpuk dana di kas, melainkan mengembalikannya kepada masyarakat. Program sosial berjalan aktif, fasilitas ibadah terawat, dan jamaah merasakan pelayanan yang hadir dalam keseharian. Masjid menjadi mitra masyarakat, bukan sekadar bangunan ritual.

Di berbagai wilayah lain, pelatihan takmir mulai menekankan pengelolaan digital, pemetaan kebutuhan jamaah, hingga penyusunan program sosial yang berkelanjutan. Semua ini bertujuan mengembalikan masjid pada fungsi aslinya sebagai pusat pembinaan, pelayanan, dan pemberdayaan umat.

Apabila masjid kembali dihidupkan sebagaimana pada masa Rasulullah ﷺ, umat akan terbiasa berkumpul, bersinergi, memperkuat ukhuwah, dan bekerja dalam arah yang sama. Pada titik itu, masjid bukan lagi struktur fisik, melainkan pusat kekuatan kolektif umat.

Principle tersebut selaras dengan firman Allah:

اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الَّذِيْنَ يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِهٖ صَفًّا كَاَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَّرْصُوْصٌ

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam satu barisan, seakan-akan mereka suatu bangunan yang tersusun kukuh.” (Q.S. As-Shaff: 4)

Ayat ini menegaskan pentingnya kerapian barisan dan kesatuan langkah. Islam tidak bangkit hanya oleh semangat individu yang terpisah-pisah, tetapi oleh jamaah yang bersatu dalam satu visi dan saf yang kokoh. Semua itu sangat mungkin dimulai dari satu bangunan yang selama ini sering dipahami secara sempit sebagai tempat ibadah belaka: masjid.[]

*) Mercyvano Ihsan, penulis santri Kelas X peserta kelompok Program Lifeskill Jurnalistik Sekolah Integral Hidayatullah Depok

Muswil VI Jabar Ditekankan sebagai Momentum Penguatan Dakwah Menuju Indonesia Emas 2045

0

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Musyawarah Wilayah (Muswil) ke-6 Hidayatullah Jawa Barat telah usai yang berjalan dengan lancar selama 2 hari di Hotel Bumi Kitri Pramuka, Bandung, dengan mengusung tema “Sinergi Anak Bangsa Menyongsong Indonesia Emas 2045″ dan ditutup pada Ahad, 2 Jumadil Akhir 1447 (23/11/2025).

Ketua Bidang Organisasi Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. Dudung Amadung Abdullah, S.H., M.H., yang mendampingi sekaligus menutup forum ini mengatakan Muswil ini menjadi forum penting konsolidasi kader, penguatan manhaj perjuangan, serta penyusunan arah dakwah wilayah di tengah dinamika sosial Indonesia yang terus berkembang.

Dalam sambutan Ketua Umum DPP Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, Lc., yang dibacakan Dr. Dudung, ditegaskan bahwa memilih jalan dakwah bukanlah perkara ringan. Jalan ini menuntut kesungguhan spiritual, komitmen sosial, dan ketahanan mental.

“Namun justru konsekuensi-konsekuensi itulah yang menarik minat kita, memancing adrenalin spiritual, dan meruntuhkan obsesi duniawi sehingga kita dengan penuh kesadaran menetapkan diri dalam barisan ad-daa’i ilallaah,” ujar Dr. Dudung membacakan sambutan tersebut .

Dalam penjelasannya, Dr. Dudung menekankan dua dimensi utama dakwah yang harus dikawal para pemimpin yakni kemampuan bersikap superior menghadapi tantangan dan keharusan menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat.

Tanpa kedua dimensi ini, tegasnya, dakwah hanya menjadi retorika, tidak memberi perubahan sebagaimana diteladankan dakwah Rasulullah SAW.

Ia kemudian mengingatkan kembali ruh perjuangan para dai generasi awal Hidayatullah yang penuh keikhlasan dan kesederhanaan. Menurutnya, kekuatan utama mereka terletak pada komitmen ibadah—khususnya shalat Tahajjud—yang melahirkan kekokohan jiwa dan kerendahan hati.

“Berbekal ilmu yang tidak tinggi, tanpa gelar akademik yang mentereng, dengan fasilitas dakwah yang sangat terbatas, bahkan kadang hanya dengan bahasa yang sederhana, para dai mampu memberi pengaruh besar dan menarik banyak orang untuk bergabung,” ujarnya.

Dudung menambahkan, dengan spirit seperti itu, dakwah Hidayatullah mampu beresonansi luas meski di tengah berbagai keterbatasan. “Kesadaran inilah yang membuat para dai mampu tampil kuat menghadapi tantangan, namun tetap rendah hati dan jauh dari sikap thagha’,” tegasnya.

Ia turut menyampaikan bahwa Hidayatullah kini memasuki 50 tahun keduanya, dengan 38 Dewan Pengurus Wilayah aktif di Indonesia. Hal ini, menurutnya, menjadi bukti kuat kontribusi organisasi dalam memperjuangkan NKRI yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Dalam konteks ini, ia menegaskan kesediaan Hidayatullah untuk terus bersinergi dengan pemerintah setempat demi memperkuat pembangunan bangsa.

“Komitmen ini selaras dengan Asta Cita Presiden Republik Indonesia Bapak Prabowo Subianto dalam memperkuat keselarasan kehidupan yang harmonis dengan lingkungan, alam, dan budaya, serta meningkatkan toleransi antarumat beragama guna mencapai masyarakat yang adil dan makmur,” katanya.

Muswil ini juga menjadi kesempatan memperkenalkan struktur baru kepengurusan tingkat wilayah. Untuk periode 2025–2030, Dewan Murabbi Wilayah diketuai Dadang Abu Hamzah, Lc., dengan empat anggota lainnya.

Sementara Dewan Pengurus Wilayah diketuai Ahmad Maghfur, S.H.I., M.Pd., yang dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur dan tekad memperkuat sinergi internal maupun eksternal. Ia menekankan pentingnya amanah yang dijalankan dengan ketataan dan totalitas demi kemajuan organisasi.

Selain sidang-sidang pleno, Muswil turut menghadirkan sesi motivasi bersama coach Harri Firmansyah, serta dihadiri tokoh undangan seperti H. Rahmat Aji Jauhari, Dr. Hadi Hariyanto, Ir. Usman Hanafi, H. Zuhri Abdullah, dan H. Sabroni.

Muswil VI Hidayatullah Jawa Barat diharapkan menjadi pijakan strategis memperkuat dakwah, pendidikan, dan pengabdian sosial menuju Indonesia yang berperadaban maju pada 2045.

Susunan DMW dan DPW

Adapun susunan Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Jawa Barat periode 2025-2030 adalah sebagai berikut:

Ketua : Dadang Abu Hamzah, Lc
Anggota : Anton Diyanto Al-Jundi, S.Pd.I
Anggota : Endang Abdulrohman, S.Ag
Anggota : Ruhyadi, S.Sos.I
Anggota : Syarif Al-Ghifari

Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Barat periode 2025-2030 sebagai berikut:
Ketua : Ahmad Maghfur, S.H.I, M.Pd
Sekretaris : Andi Ahmad Suhendar, S.Pd.I
Bendahara : Hasbi Al-Faruqi
Dept. Organisasi : Abdul Wahid, S.Pd.I
Dept. Perkaderan : Khairul Hadi, S.Pd.I
Dept. Pendidikan : Ahmad Mistari Ralimudin, M.Pd
Dept . Dakwah : Asep Juhana, S.Pd
Dept. Hubungan Antar Lembaga : Dadang Kusmayadi S.Sos
Dept. Sosial & Kesehatan: M. Solahuddin Suprapto, S.Pd
Dept. Ekonomi : Naufal Abdullah S.Ag., C.LQ

Muswil Hidayatullah DIY Teguhkan Peran dalam Pembangunan Daerah

0

SLEMAN (Hidayatullah.or.id) — Musyawarah Wilayah (Muswil) Hidayatullah ke-6 Daerah Istimewa Yogyakarta digelar pada momentum penting ketika konsolidasi keumatan dan pembangunan nasional menjadi tuntutan bersama.

Pada sesi pembukaan pada Sabtu, 1 Jumadil Akhir 1447 (22/11/2025) di Gedung Asrama Haji Mlati, Sleman, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Hidayatullah DIY, Abdullah Munir, menegaskan komitmen organisasinya untuk terus berperan aktif dalam mendukung agenda pembangunan negara.

Di tengah dinamika kebangsaan dan arah Indonesia menuju 2045, jelas Munir, forum Muswil menjadi ruang strategis untuk memperkuat peran organisasi masyarakat dalam merawat kontribusi keislaman dan keindonesiaan.

“Hidayatullah sebagai organisasi massa Islam yang kini memasuki usia setengah abad akan terus berpartisipasi aktif untuk membantu program-program pemerintah,” ujarnya.

Munir menjelaskan bahwa selain sebagai forum evaluasi, Muswil juga mekanisme penting untuk menyiapkan arah gerakan dakwah lima tahun ke depan. Ia menyebutkan bahwa partisipasi seluruh unsur dalam organisasi menjadi fondasi bagi penyusunan kebijakan yang lebih terarah dan responsif.

“Untuk itu, partisipasi dari semua komponen yang ada tetap kita harapkan dalam rangka menyiapkan arah langkah gerakan dakwah lima tahun ke depan,” tegasnya.

Munir menyoroti pentingnya kolaborasi antarorganisasi Islam sebagai bagian dari ikhtiar bersama menghadapi tantangan kebangsaan. Ia menilai pertemuan berbagai elemen umat dalam acara pembukaan Muswil menjadi ruang untuk berbagi keresahan dan memperkuat sinergi menuju cita-cita Indonesia Emas 2045.

“Berkumpulnya antar ormas Islam di acara seremunial pembukaan Muswil ini, semoga bisa menghimpun keresahan antar anak bangsa dalam rangka menyongsong Indonesia Emas 2045,” tambahnya.

Muswil yang berlangsung pada 22–23 November 2025 di Gedung Asrama Haji, Ring Road Utara, Sleman, ini mengangkat tema “Sinergi Anak Bangsa Menyongsong Indonesia Emas 2045”.

Acara pembukaan dihadiri oleh Bupati Sleman Harda Kiswaya, unsur Kementerian Agama, MUI DIY, MUI Sleman, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY, Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama, Pimpinan Wilayah Dewan Dakwah Indonesia, Pimpinan Wilayah Wahdah Islamiyah, serta perwakilan Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) dan sejumlah tokoh lainnya.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Sleman Harda Kiswaya menyampaikan apresiasinya terhadap kontribusi Hidayatullah di wilayahnya. Ia mengakui bahwa keberadaan organisasi keagamaan seperti Hidayatullah membantu pemerintah daerah dalam memperkuat program-program sosial dan keumatan.

“Saya sangat bersyukur hari ini bisa bertemu dengan para pengurus Hidayatullah. Terima kasih dengan Hidayatullah, saya sebagai bupati bisa terbantu untuk mengurus Sleman,” ungkapnya.

Harda menuturkan bahwa pertemuan lintas golongan menjadi modal penting untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang rukun dan tertib. Ia berharap ikhtiar kolektif tersebut dapat menguatkan harmoni sosial di Sleman.

“Saya ingin kerukunan antar umat beragama di Kabupaten Sleman terus dipupuk dan dipelihara, sehingga masyarakat Sleman makin rukun, damai, dan sejahtera,” ujarnya.

Muswil ke-6 ini menandai upaya Hidayatullah DIY mempertegas perannya sebagai bagian dari jaringan organisasi Islam yang aktif dalam pembangunan daerah dan nasional.

Dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, forum ini dinilai menjadi wadah untuk menyatukan langkah dan merumuskan strategi gerakan yang lebih adaptif dalam menghadapi perubahan dan tantangan bangsa ke depan.