Beranda blog Halaman 495

Santri Hidayatullah Mentawai Dibekali Keahlian Tata Boga

MENTAWAI (Hidayatullah.or.id) — Berbagai macam pelatihan dan keterampilan diajarkan kepada santri anak asuh di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Salah satu diantaranya adalah pengetahuan tentang keterampilan mengenai seni mengolah masakan (tata boga) yang meliputi persiapan pengolahan sampai dengan menghidangkan makanan itu sendiri yang bersifat tradisional maupun internasional.

Ketua Yayasan Ponpes Hidayatullah Mentawai, Ust Mahrus Salam, mengatakan hal tersebut dilakukan sebagai upaya pembinaan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan bagi anak asuh di pesantren, serta sekaligus untuk memperkenalkan tentang dunia kerja dan usaha mandiri.

“Keterampilan tataboga khususunya bagi santri putri ini diharapkan bisa menjadi bekal skil praktis para ketika kelak mereka sudah menyelesaikan pendidikannya di sini,” kata Mahrus Salam.

Selain diberikan ilmu pengetahuan agama dan ilmu pendidikan lainnya, para murid dan siswi di Pesantren Hidayatullah Mentawai tersebut juga dibekali ilmu ketetampilan khusus. Dimana dengan adanya pelatihan keterampilan ini, dapat dijadikan sebagai pengembangan kreativitas bagi siswa.

Bermacam pelatihan dan keterampilan yang diajarkan kepada para siswa, salah satunya pelatihan yang diajarkan saat ini cara memasak serta cara pengolahan bahan makanan yang terbuat dari bahan tumbuhan keladi/talas.

Tumbuhan talas ini dapat diolah menjadi makanan dan masakan lezat bergizi yang memang merupakan sajian khas dari Kepulauan Mentawai. Tidak saja itu, mereka juga mendapatkan materi tentang cara membuat subbet, pastel dan mie dari bahan keladi serta masih banyak lagi olahan makanan yang dapat dibuat dari bahan keladi.

Rizky salah seorang pelaku UMKM di Mentawai mengatakan, saat ini perlunya pelatihan dan keterampilan diajarkan kepada para siswa di setiap sekolah seperti pelatihan yang diberikan saat ini di Pesantren Hidayatullah Kepulauan Mentawai.

“Hal ini bertujuan sebagai upaya pembinaan dan sekaligus menjadi modal awal bagi para siswa dalam mengenal dunia kerja dan usaha,” katanya, Rabu (17/7/2019).

Rosepta selaku salah satu pembina di Pondok Pesantren Hidayatullah Mentawai memberikan apresiasi dengan diadakanya pelatihan tersebut. Ditambah lagi Rosepta mengakui bentuk kegiatan keterampilan ini belum pernah di berikan kepada para siswa di pesantren.

“Dengan adanya pelatihan ini nantinya diharapkan bagi para siswa dan siswi dapat mengembangkan bakat dan minat dalam melakukan usaha nantinya,” ujar Rosepta.

Selain itu, mereka juga kelak dapat melanjutkan studi pada bidang ini secara lebih mendalam melalui jenjang perguruan tinggi dimana saat ini tata boga merupakan jurusan yang banyak diminati seraya menjadikaannya ladang dakwah mengembangkan kuliner khas Indonesia yang halal dan thayyib. (ran/mtc)

Belajar Kegigihan Berdakwah kepada Simuna dan Anang

0

ALLAH berfirman dalam Surat Muhammad ayat 7, yang berbunyi:

یَأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوۤا۟ إِن تَنصُرُوا۟ ٱللَّهَ یَنصُرۡكُمۡ وَیُثَبِّتۡ أَقۡدَامَكُمۡ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”

Alhamdulillah. Pada hari Selasa (23/07/2019) pukul 13.50 WITA saya berbincang-bincang dengan Ustadz Muhammad Simuna dan Anang Ma’ruf di guest house Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah BTP Makassar, Sulawesi Selatan, seputar dakwah.

Ustadz kami, Muhammad Simuna yang berasal dari tanah Timur, tepatnya Flores, menceritakan tentang kehidupan beliau bergabung dalam dunia dakwah.

Beliau telah bergabung dengan omras dakwah itu sudah 20 tahun lamanya. Selama itu, telah banyak menemukan kesan tersendiri.

“Kehidupan kita di dalam agama Islam itu ibarat padi dan rumput, jika kita menanam padi (kehidupan akhirat) maka rumput pun akan ikut tumbuh (kehidupan dunia). Akan tetapi jika kita menanam rumput saja maka padi enggak bakalan bisa tumbuh,” ungkapnya.

Sang ustadz melanjutkan ceritanya bisa sampai ke Pulau Sulawesi yang terkenal dengan sosok Sultan Hasanuddin-nya.

Ia mengaku, dengan aktif berdakwah, salah satu hikmahnya bisa berkeliling ke berbagai daerah di Indonesia, termasuk Sulawesi yang jaraknya tidak dekat dengan kampungnya di Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Allah masih memberikan saya kesempatan untuk bergabung di Hidayatullah,” ungkapnya mensyukuri perjalanan dakwahnya.

Cerita lain disampaikan oleh ustad kami Anang Ma’ruf, yang mengaku senang bisa terjun ke dunia dakwah.

“Alhamdulillah kita bisa menolong agama Allah dengan cara berdakwah, karena Allah sudah berjanji di dalam Al-Qur’an seperti di dalam Surah Muhammad ayat: 7 yang artinya, ‘Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.’,” tuturnya.

Sang ustadz diamanahi tugas dakwah di Papua. Ia juga mengatakan bahwa kalau bukan karena dakwah lillah mungkin ia tidak bisa seperti itu.

“Alhamdulillah, dengan bergabungnya saya ke pesantren, kami diberikan kesempatan pergi umrah, padahal umrah ini tidak disangka-sangka. Belum tentu orang yang hartanya lebih banyak bisa pergi umrah, mungkin hartanya didapatkan dengan cara tidak halal. Akan tetapi saya yang pendapatannya tidak terlalu besar bisa mendapatkan kesempatan umrah,” ungkapnya sekadar mengilustrasikan salah satu hikmah terjun sebagai dai.

Maka dengan berbincangan ini, kami dapat mengambil beberapa pelajaran bahwa Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya yang mengurus agama Allah ini kehidupannya menjadi sia-sia. Tidak akan.

Kemudian, rezeki halal walaupun sedikit akan terasa keberkahannya. Dan pelajaran lainnya adalah kita harus sabar dalam berdakwah.*/Mujahid, santri asal Balikpapan

Salah Jalan

ADA TIGA kemungkinan mengapa seseorang bisa salah jalan. Pertama, karena tidak tahu. Kedua, karena lupa atau lalai. Dan, Ketiga, karena sombong.

Untuk sebab yang pertama dan kedua cukup mudah membetulkannya. Tinggal diberitahu dan diingatkan. Untuk sebab yang ketiga biasanya agak sulit diperbaiki, karena sombong itu bukan tidak tahu jalan yang benar.

Ia tahu, namun sengaja menolak menempuh jalan itu. Nabi Muhammad SAW pernah berkata, ”Sombong (al-kibr) adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” Diperlukan akhlak dan kesabaran tingkat tinggi untuk merubah kesombongan ini.

Akibat salah jalan itu sungguh menyengsarakan. Tidak peduli berapa lama ia menempuh jalan itu, seberapa keras ia berusaha, dan seberapa banyak sumber daya yang ia habiskan, semua itu akan sia-sia.

Mengapa menyengsarakan? Karena ia tidak pernah sampai pada tujuan yang sebenarnya. Bahkan semakin ia meningkatkan seluruh upayanya itu, justru akan semakin menjauhkannya dari tujuan akhir. Usaha tanpa tujuan akhir adalah sebuah kegilaan.

Berkaitan dengan ngerinya akibat dari salah jalan itu, suatu saat, dengan dikelilingi para sahabat, Nabi saw menggambar sebuah garis lurus di tanah. Lalu beliau juga menggambar garis-garis menyimpang di kiri-kanan garis lurus tersebut. Mirip duri ikan.

“Garis tengah inilah jalan lurus (shirathal mustaqim) dan garis-garis menyimpang inilah jalan sesat (dhall),” kata beliau.

Dengan gambar itu beliau hendak menjelaskan bahwa hanya ada dua jalan kehidupan. Yang pertama adalah jalan lurus. Jalan lurus ini disebut juga jalan Tauhid.

Sesiapa yang menempuh jalan Tauhid ini akan mendapat hudan (yang artinya mengantarkan pada tujuan), seluruh amalnya menjadi haqq (nyata, bernilai) dan dianggap sebagai ‘ibadah (pengabdian) kepada-Nya. Merekalah orang-orang yang diberi nikmat dari-Nya. Dan nikmat itu akan membuat mereka ridha (puas). Mereka itulah orang-orang yang muflihun (beruntung).

Yang kedua adalah jalan sesat. Jalan sesat ini disebut juga dengan jalan syirik. Sesiapa yang menempuh jalan ini akan dhall (yang artinya tidak sampai pada tujuan), seluruh amalnya menjadi bathil (kosong, musnah) dan dianggap sebagai pembelotan kepada-Nya.

Merekalah orang-orang yang sesat-menyesatkan dan dimurkai oleh-Nya. Kelak mereka akan mendapatkan hukuman yang membuat mereka menyesal dan menderita yang tidak berkesudahan. Mereka itulah orang-orang yang khasirun (merugi).

Di lain kesempatan beliau bersabda, ”Agama itu nasihat”.

Yang mendorong seseorang memberikan nasihat adalah rasa peduli atau bahkan cinta agar orang yang dinasehati tetap menjadi baik atau menjadi lebih baik. Tanpa rasa peduli atau cinta, maka agama akan kehilangan esensinya.

Maka, jika telah ada orang-orang yang menghabiskan hidupnya sebagai penyeru (dai) untuk menasehati kaumnya agar mereka kembali ke jalan yang lurus dan istiqomah di jalan itu, tidakkah kita akan mendukungnya?

*)AHMAD SUHAIL, penulis adalah Direktur Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai). Artikel disadur dari portal www.posdai.or.id .

LBHH Beri Bantuan Hukum kepada Korban Salah Tangkap

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Bantuan Hukum Hidayatullah (LBHH) memberikan bantuan pendampingan hukum kepada Muhammad Said Hasnan yang diduga merupakan korban salah tangkap. Sebelumnya, keluarga Hasnan menghubungi LBH Hidayatullah untuk meminta pendampingan dan perlindungan hukum bagi Hasnan.

Muhammad Said Hasnan atau dikenal dengan panggilan Mas Hasnan adalah Remaja Masjid Jogokariyan Yogyakarta yang diamankan aparat saat Aksi Damai 21-22 Mei beberapa waktu lalu.

Tim Advokat dari LBH Hidayatullah Pusat, yang terdiri dari Advokat DR. Dudung Amadung Abdullah, SH, Advokat Agus Gunawan, SH dan Advokat Hidayatullah, SH, M.HI, menyambangi rumah kediaman mertua dari Muhammad Said Hasnan di kawasan Jatibening, Bekasi, Senin (22/7/2019).

Kehadiran Tim LBH Hidayatullah di kediaman mertua Hasnan guna melakukan pendalaman dan silaturrahim untuk kepentingan pendampingan hukum bagi Hasnan yang sekarang ditahan di rutan Polda Metro Jaya.

Saat memasuki rumah sederhana itu, Tim LBH Hidayatullah disambut oleh Azis Hudiatmoko (kakak ipar Hasnan), kedua mertua Hasnan, Andita Nur Suryantini (istri Hasnan) serta kedua anak Hasnan yang masih kecil-kecil.

Menurut keterangan keluarga, saat Aksi Damai 21-22 Mei, Hasnan beserta rombongan dari Yogyakarta memang berangkat untuk mengikuti aksi tersebut, namun ketika kepulangan Hasnan tertinggal bersama dua rekannya.

Ketika suasana memanas dan ada upaya provokasi dari pihak tertentu yang tidak bertanggung jawab, Hasnan berkumpul di dekat mobil crew beberapa media, sambil terus menyampaikan informasi ke pihak keluarga tentang keberadaanya agar keluarga tidak khawatir.

Namun, melihat Hasnan yang memegang dan mengoperasikan handphone saat suasana panas, aparat salah paham. Hasnan disangka tengah merekam berbagai kejadian dan mengirimkan kondisi yang ada dengan menggunakan telepon genggamnya. Aparat keamanan langsung mengejar dan menangkap Hasnan.

Pihak keluarga sempat kehilangan kontak beberapa hari, tidak mengetahui keberadaan Hasnan. Keluarga baru mengetahui keberadaan Hasnan dari informasi kenalan Azis Hudiatmoko. Mendengar Informasi tersebut, keluarga langsung menemui Hasnan di Rutan Polda Metro Jaya.

Menurut Azis Hudiatmoko, dari keterangan Hasnan saat ini ada beberapa orang yang ditahan di Polda Metro tanpa mengetahui apa kesalahannya. Mereka tiba-tiba diamankan saat melintas atau berada di lokasi tersebut.

“Mereka membutuhkan pendamping hukum, karena sampai saat ini mereka belum mempunyai penasehat hukum. Bahkan diantara mereka juga ada yang belum bisa kontak dengan keluarganya,” kata Aziz Hudiatmoko seperti dalam rilis LBH Hidayatullah diterima media ini, Rabu.

Masih Menurut Azis, saat terjadi kerusuhan ada beberapa pemukulan dan penyerangan terhadap wartawan, Hasnan bahkan berupaya melerai.

Dita, istri Hasnan, berharap agar suaminya bisa dibebaskan, karena dia yakin kalau suaminya tidak bersalah.

“Ini hanya salah paham, suami saya juga tidak melakukan keonaran, tidak anarkis, dan tidak melakukan perbuatan yang negatif yang merugikan masyarakat. Ia hanya aktivis remaja masjid,” katanya.

Sementara Dudung yang juga Direktur LBH Hidayatullah menyatakan LBH Hidayatullah akan mendampingi dan mengawal kasus ini sampai selesai.

“Sebagai lembaga advokasi milik ummat, LBH Hidayatullah merasa berkewajiban untuk mendampingi umat. Bukan hanya Hasnan tapi juga korban salah tangkap lain yang sekarang belum ada yang mendampingi. Insya Allah LBH Hidayatullah siap mengawal”, pungkasnya. (ybh/hio)

Mapala STIE Hidayatullah Promosikan Pelestarian Alam

0

DIENG (Hidayatullah.or.id) – Momen libur kampus bukan berarti sekedar dilewati begitu saja dengan berleha-leha. Sebab, banyak hal positif yang sebenarnya bisa dilakukan untuk mengembangkan kapastitas diri sebagai seorang mahasiswa. Apalagi sebagai generasi muda yang akan memegang tampuk estafeta kepemimpinan perjalanan bangsa.

Hal itulah yang dilakukan oleh sejumlah mahasiswa pecinta alam (Mapala) Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah (STIEHID) Kota Depok. Memanfaatkan kesempatan jeda studi di kampus, Abdul Rohim dan kawan-kawannya dari STIE Hidayatullah pada Kamis (4/7/2019) sukses memuncaki ketinggian 2.565 mdpl Gunung Prahu.

Gunung Prahu sendiri atau terkadang dieja Gunung Prau terletak di kawasan Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, Indonesia. Gunung Prahu terletak pada koordinat 7°11′13″S 109°55′22″E.

Puncak Gunung Prahu merupakan padang rumput luas yang memanjang dari barat ke timur. Bukit-bukit kecil dan sabana dengan sedikit pepohonan dapat kita jumpai di puncak. Gunung Prahu merupakan puncak tertinggi di kawasan Dataran Tinggi Dieng, dengan beberapa puncak yang lebih rendah di sekitarnya, antara lain Gunung Sipandu, Gunung Pangamun-amun, dan Gunung Juranggrawah.

Diketahuio Gunung Prahu merupakan tapal batas antara tiga kabupaten yaitu Kabupaten Batang, Kabupaten Kendal dan Kabupaten Wonosobo.

Di puncak Gunung Prahu, rombongan lantas melakukan refleksi bersama dalam riung kecil untuk memaknai kebesaran Tuhan Yang Maha Esa yang telah menciptakan maha karya yang luar biasa dianugerahkan secara gratis kepada manusia dan alam semesta.

“Kami ingin mengajak siapa saja masyarakat luas untuk selalu menjaga kelestarian alam. Allah telah banyak memberikan nikmatnya berupa bentangan gunung sebagai pondasi yang menjaga keseimbangan alam,” kata Rohim seperti dikutip dari laman Nasional.news beberapa waktu lalu.

Rohim mengatakan, STIE Hidayatullah melalui kelompok Mapala yang telah berdiri sejak awal perintisan kampus berkomitmen terus mempromosikan gerakan kembali ke alam, menjaga dan melestarikannya.

Gunung Prahu adalah satu dari sekian banyak tujuan wahana wisata gunung di Indonesia khususnya Pulau Jawa yang pernah dipuncaki oleh Mapala STIE Hidayatullah. Bukan untuk gaya-gayaan, tetapi karena ada letupan perasaan yang mendalam bisa mencapai puncak yang kemudian melahirkan rasa ketakjuban yang luar biasa.

“Makanya kita di Mapala STIE Hidayatullah tidak mengenal istilah menaklukkan, tetapi memuncaki. Sebab alam tak mungkin ditaklukkan. Sebenarnya alamlah dengan dimensi Ilahiyah-Nya yang menaklukkan ketidakberdayaan kita. Disinilah kita akan semakin menyadari betapa lemahnya kita sebagai manusia,” ungkap Rohim kontemplatif.

Rohim yang juga alumni Madrasah Aliyah Hidayatullah Depok akan terus melanjutkan kegiatan rihlah semacam ini di kesempatan lainnya. Ia akan mengajak lebih banyak orang untuk bergabung dalam gerakan anak muda menjaga kelestarian bumi pertiwi.

“Mari cintai alam karena di sanalah kita belajar akan kebesaran Allah Subhanhu Wata’ala dan mengajari kita selalu bersyukur,” pungkas mahasiswa semestar 4 STIE Hidayatullah ini yang juga membantu orangtuanya menjual mie ayam memanfaatkan waktu libur.(nn/nws)

Hidayatullah Timika Gelar Seminar Pendidikan Integral

0

TIMIKA (Hidayatullah.or.id) — Untuk terus memberikan pendidikan yang terbaik di Tanah Amungsa dan Bumi Kamoro, Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah terus meningkatkan kapasitas dan mutu guru, guna menghasilkan tenaga pendidik yang handal dan berkarakter ketauhidan.

Untuk mewujudkan hal tersebut, pihak yayasan disela-sela Kegiatan Rapat Gabungan Badan Pengurus Hidayatullah Timika, melaksanakan Seminar Pendidikan bertajuk One Day Motivation Pendidikan Integral Berbasis Tauhid di Aula Kampus Utama Hidayatullah Timika, Provinsi Papua, Sabtu 20 Juli 2019.

Seminar ini menghadirkan narasumber Ketua Dewan Pembina yang juga Ketua Bidang Tarbiyah Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah (DPP) Ust. Drs. Tasyrif Amin, M.Pd.I yang membawakan materi tentang “Pendidikan Integral Membangun Karakter”.

Narasumber kedua adalah Ust Drs H. Nursyamsa Hadis, selaku Anggota Dewan Pembina Hidayatullah Timika yang juga membawakan materi “Membangun Komitmen Kelembagaan Dalam Perjuangan di Hidayatullah”.

Kegiatan yang rutin dilaksanakan sesuai dengan program kerja yayasan tersebut diharapkan dapat menyegarkan kembali materi-materi ataupun metode yang mungkin telah dilupakan ataupun dapat memperbaharui metode dan analisis guru dalam memberikan materi kepada peserta didiknya.

Dalam pemaparannya Ust. Tasyrif Amin menerangkan tentang banyak hal seperti; Urgensi Pendidikan Anak, Tingkatan Predikat Anak dalam Islam, Predikat Anak-anak Indonesia, Mengapa Harus Memilih Pendidikan Integral, Muatan Kurikulum Pendidikan berbasis Integral, Lingkungan Integral, Pengelola dan Guru, Pengaruh Guru serta Karakter Anak Didik.

Pemaparan yang apik, ilmiah dan terstruktur dibareng canda-candaan yang bersifat membangun, membuat audiens seminar sangat tertarik untuk mendengarkan karena terdapat banyak sekali hikmah yang dapat diambil dalam pemaparan yang disampaikan oleh kandidat doktor tersebut.

Sementara itu, Ust Nursyamsah Hadis, sebagai pemateri kedua, memaparkan tentang Komitmen Kelembagaan. Menurutnya, Sikap atau bentuk perilaku seseorang terhadap lembaga yaitu dalam bentuk loyalitas, dengan upaya pencapaian visi dan misi lembaga.

Seseorang dikatakan memiliki komitmen yang tinggi terhadap lembaga, dapat dikenali dengan ciri-ciri; pertama, kepercayaan dan penerimaan yang kuat terhadap tujuan dan nilai-nilai lembaga.

Kedua, kemauan yang kuat untuk bekerja demi lembaga. Ketiga, keinginan yang kuat untuk tetap menjadi anggota lembaga. Yang kesemuanya itu, tegas dia, harus mengacu pada visi misi Kelembagaan Hidayatullah.

Usai seminar kegiatan dilanjutkan denga Rapat Gabungan yang dihadiri oleh Ketua Pembina, Ust Tasrif Amin,M.Pd.I Beserta Anggota Pembina, Ust Drs. Nursyamsah Hadis, M.Pd, Ust Muh Haris Amin,S.Sos.I, Pengawas Ust Mualimin Amin,S.Sos.I, Ketua Badan Pengurus dan Jajarannya serta Kepala Sekolah.*/Absir B Hamzah

Hidayatullah Gelar Training Muballigh Konseling Keluarga

BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Sebagai langkah penting mengokohkan ketahanan keluarga di Indonesia, Departemen Adab dan Pembinaan Keluarga Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menyelenggarakan Training Muballigh Konseling Keluarga yang digelar selama dua hari di Pusdiklat Pondok Qur’an Hidayaturahman (PQH) Ciawi-Bogor yang dibuka Sabtu (20/7/2019).

Training ini diikuti oleh 30 dai dan muballigh dari beberapa wilayah di Jawa Barat dan sekitarnya mulai dari Jakarta, Banten, Bogor, Bekasi, Depok dan Cirebon. Ada yang berasal dari daerah Bandung.

Panitia dalam keterangannya kepada media ini, menyebutkan tingginya angka perceraian di Indonesia selalu meningkat setiap tahunnya. Hal ini tentu sangat mengkhawatirkan banyak pihak termasuk Menteri Agama. 

Berdasarkan data yang dikutip dari website Mahkamah Agung (MA), Rabu (3/4/2019), tercatat sebanyak 419.268 pasangan bercerai sepanjang 2018. Dari jumlah itu, inisiatif perceraian paling banyak dari pihak perempuan yaitu 307.778 perempuan. Sedangkan dari pihak laki-laki sebanyak 111.490 orang.

Adapun propinsi tertinggi tingkat perceraiannya berdasarkan data yang dilansir oleh BPS dalam ‘Statistik Indonesia 2018’, maka Provinsi Jawa Timur (87.475 kasus), Provinsi Jawa Barat (79.047 kasus), dan Provinsi Jawa Tengah (69.857 kasus) menempati urutan pertama, kedua, dan ketiga dalam hal jumlah kasus perceraian terbanyak di Indonesia pada tahun 2017.

Karena itu, merespon fenomena tersebut, Hidayatullah selaku ormas Islam yang berkonsentrasi dalam bidang dakwah dan pendidikan menyelenggarakan Training Muballigh Konseling Keluarga ini. 

Adapun narasumber dalam training ini menghadirkan para pakar di bidang konseling keluarga. Mulai dari Muhammad Fauzil Adhim, pakar parenting dan pendidikan anak. Ada Ust. Drs. Hamim Thohari, pakar parenting nasional dan Ust. Drs. Zainuddin Musaddad, MA selaku trainer nasional Hidayatullah dan Ketua Departemen Adab dan Pembinaan Keluarga DPP Hidayatullah.

Training yang bertemakan “Kokohkan Keluarga Da’i dengan Keluarga” ini sangat penting dan dibutuhkan masyarakat. Zainuddin Musaddad dalam pengantarnya menjelaskan pentingnya training ini karena keluarga adalah pondasi bangsa dan negara kita. 

“Keluarga adalah pondasi negara maka jika sebuah negara terdiri dari keluarga yang kuat dan berkarakter, tentu berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah maka bisa dipastikan negara itu akan kuat. Sebaliknya jika negara tidak ditopang dengan keluarga yang kuat dan berkarakter maka bisa dipastikan negara itu akan runtuh,” penjelasannya.

Menarik, training ini selain diisi dengan materi dan praktek konseling juga diisi dengan kegiatan lapangan seperti futsal dan bola voli. Tidak ketinggalan para peserta juga diisi ruhiyahnya dengan sholat lail berjamaah dan tadarus Qur’an. 

Terakhir, Zainuddin Musaddad berharap dari training ini para peserta bisa menjadi para konseling keluarga yang handal, cakap dan profesional. 

“Dengan adanya konseling keluarga muslim ini semoga bisa membantu pemecahan masalah keluarga muslim sehingga menurunkan tingginya angka perceraian di Indonesia,” pesan terakhirnya dalam menutup kegiatan tersebut.*/Hidayatullah,M.HI

SMA Ar-Rohmah Putri Malang Raih Predikat A BAN-SM

0

MALANG (Hidayatullah.or.id) — SMA Ar-Rohmah Putri Pesantren Hidayatullah Malang meraih akreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Sekolah Madrasah (BAN-SM). Legalitas akreditasi ini tertuang dalam Surat Keputusan bernomor 165/BAN-SM.TU/35/VII/2019 yang diterbitkan tanggal 9 Juli 2019.

Kepala Sekolah SMA Ar-Rohmah Putri, Rully Cahyo Nufanto, merasa bersyukur atas pencapaian ini.

“Alhamdulilah, prestasi ini patut disyukuri. Merupakan anugerah dari Allah untuk seluruh civitas Ar-Rohmah Putri,” ujarnya seperti dikutip laman resminya www.arrohmahputri.sch.id.

Ustadz Rully, demikian akrab dipanggil menjelaskan, akreditasi bagi institusi pendidikan merupakan hal penting. Sebab, menjadi bagian standardisasi kualitas pendidikan yang formal dan legal oleh BAN-SM. Dan menjadi tolak ukur baiknya tata kelola dari institusi tersebut.

Untuk meraih akreditasi A tersebut, kata Ustadz Rully, diperlukan perjuangan dan kerja keras untuk memenuhi sejumlah persyaratan yang berlaku. Mulai dari standar isi, proses, kompetensi lulusan, pendidikan dan tenaga pendidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan dan penilaian pendidikan.

Ia menambahkan, hasil akreditasi itu akan memberikan dampak positif terhadap sekolah. Yakni meningkatnya kepercayaan masyarakat, para stakeholder dan akses pendidikan bagi alumni ke depannya.

Namun demikian, lanjut Ustadz Rully, SMA Ar-Rohmah Putri tidak lantas berpuas diri atas pencapaian tersebut. Sebab, akreditasi A itu bukanlah akhir dari proses pengelolaan pendidikan. Melainkan penyempurna dan penyemangat untuk terus berbenah meningkatkan kualitas.

“Berbagai pogram yang inovatif dan produktif akan terus digali dan dilahirkan kedepannya. Insyaallah,” pungkasnya.[]

TASK Hidayatullah Salurkan 3 Ton Bantuan ke Halmahera

HALMAHERA (Hidayatullah.or.id) — Tim Aksi Siaga Kemanusiaan (TASK) Hidayatullah telah menyalurkan dan mengirimkan bantuan sebanyak total 3 ton ke lokasi terdampak gempa bumi di Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara.

Hingga Jumat (19/07/2019) ini, sudah tiga kali dilakukan pengiriman bantuan.

“Alhamdulillah logistik bantuan untuk para korban bencana yang sudah berangkat duluan adalah 2 ton beras, 150 kotak mi instan, dan 200 lembar terpal,” ujar relawan Hidayatullah, Ali Murtadho, Jumat (19/07/2019) yang berangkat hari ini.

Sebelumnya, tim awal relawan Hidayatullah telah berangkat ke lokasi titik bencana Halmahera Selatan sehari setelah gempa berkekuatan M7,2 mengguncang wilayah itu pada Ahad (14/07/2019).

Secara berangsur-angsur dilakukan penambahan personel relawan dan bantuan ke lokasi. Mereka terdiri dari SAR Hidayatullah, BMH, dan Pos Dai Sulawesi Tengah.

Hari ini, Jumat, relawan tambahan diterjunkan lagi ke lokasi. Dari pusat Kabupaten Halmahera Selatan, perjalanan laut dilanjutkan dengan kapal kecil menuju Desa Saketa, Kecamatan Gane Barat, Halmahera Selatan, tempat dimana posko TASK Hidayatullah berada.

Lokasi posko ini sangat strategis karena akses kapal cukup dekat dan mudah dilalui. Meski posko tersebut selesai dibangun pada Rabu (17/07/2019), namun relawan telah tiba lebih dahulu pada Senin (15/07/2019).

Pada Jumat pagi ini, tim kembali mengirimkan sejumlah perlengkapan dan logistik untuk para korban bencana dan relawan di lapangan.

Antara lain helm proyek, sarung tangan lapangan, sekop, cangkul, senter, mantel, radio HT, genset dan perlengkapannya, tenda, perlengkapan masak memasak, bumbu dan rempah-rempah, telor, minyak goreng, dan lain sebagainya.

“In Sya Allah perjalanan ditempuh 3 jam dengan speedboat. Mohon doanya, saudaraku, Semoga Allah memberikan kemudahan dan keberkahan yang melimpah dalam perjalanan ini. Bismillah,” ujar Ali, Jumat pagi sekitar pukul 08.15 WIB.

Pada Kamis (18/07/2019) malam, sebanyak 14 orang relawan bergerak ke Desa Dowora, Kecamatan Gane Barat, Halmahera Selatan, sekaligus melakukan pembagian logistik.

Sedikitnya ada 20 lebih relawan TASK Hidayatullah yang diterjunkan ke lokasi bencana.

Sementara itu, pasca gempa 7,2 SR, beberapa desa di Halmahera Selatan mengalami kerusakan cukup parah. Data dihimpun TASK Hidayatullah per 17 Juli 2019, khusus di kampung Dowora, Gane Barat, misalnya. Di kampung berpenghuni 1.000 KK ini, terdapat 226 rumah dan 1 masjid yang rusak. Korban luka sebanyak 20 dan 800 mengungsi.

Para pengungsi menempati tenda-tenda yang didirikan secara darurat, seperti di lapangan.

Sebelumnya, Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) BMH bersama Tim SAR Hidayatullah langsung bergerak ke Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, Senin (15/07/2019) guna memberikan bantuan evakuasi dan logistik kepada para korban musibah gempa.

Gempa bumi berkekuatan 7,2 Skala Richter terjadi pada Ahad (14/07/2019) di Halmahera Selatan, menyebabkan sejumlah korban jiwa, ratusan rumah rusak, dan ribuan orang mengungsi.

“Alhamdulillah BMH dan SAR Hidayatullah pada Senin sore sudah tiba di lokasi. Saat ini tim berada di Desa Tawa Kecamatan Gane Barat Selaan, Halmahera Selatan,” terang Kepala BMH Perwakilan Maluku Utara, Arif Ismail.

Tim berangkat dari Ternate menuju Sofifi dengan speedboat selama satu jam, kemudian naik mobil lintas menuju Saketa sekitar 7 jam lamanya, lalu menuju Bacan dengan memakan waktu satu jam 30 menit.

“Perjalanan cukup panjang, sehingga baru hari ini (Selasa, 16 Juli 2019) tim dapat bergerak melakukan aksi bantuan,” imbuh Arif Ismail.

Gempa bumi telah menyebabkan rumah-rumah warga roboh, sebagian hancur. Warga mulai tinggal di tenda-tenda darurat.

“Pengiriman relawan tahap pertama ini BMH dan SAR Hidayatullah fokus pada bantuan evakuasi dan logistik berupa kebutuhan pokok, tenda pengungsian. Insya Allah akan segera dibangun Posko Peduli Bencana, sehingga semakin banyak warga terdampak yang dapat kami bantu,” papar Arif Ismail.

Bantuan mendesak yang dibutuhkan warga saat ini di lokasi berupa terpal untuk tenda pengungsian, makanan siap saji, selimut, perlengkapan bayi, obat-obatan, air mineral, dan perlengkapan wanita.

Di lokasi bencana, relawan Hidayatullah bersinergi dengan kepolisian dan tim dari Basarnas.

“BMH dan SAR Hidayatullah insya Allah siap menjadi mitra terbaik masyarakat yang ingin membantu warga terdampak di Halmahera Selatan ini,” tutup Arif Ismail. (ril/nws)

Bangunlah Jiwanya Bangunlah Badannya untuk Indonesia Raya

Oleh Masykur Suyuthi*

DALAM Silaturrahim yang dirangkai dengan Pengajian Jumat siang (19/7/2019), seorang pemateri berulang menyebut soal pentingnya cara pandang yang benar (Islamic Worldview) dalam hidup manusia.

Ia mengatakan semua boleh berubah. Bahkan nyaris tak tertahankan lagi. Tapi soal manusia, ia tidak boleh berubah.

Sejak awal diciptakan, manusia punya tujuan hidup. Itu tidak berubah hingga Hari Kiamat nanti. Bahwa selain menjalankan fungsi Khalifatullah, dia juga seorang hamba yang mesti taat kepada Tuhannya.

Apapun perubahan yang terjadi, manusia tetaplah harus istiqamah pada tujuan hidupnya dan bagaimana mematuhi agama sebagai panduan hidup. Lebih khusus, mereka siap memperagakan Islam, bukan sekadar membicarakannya saja lalu dianggap selesai.

Selain itu, semua bisa berubah dan berkembang. Mulai dari perubahan sosial, perkembangan fasilitas, kemajuan teknologi hingga pesatnya informasi beredar. Baik di pelosok dunia nyata hingga ke lorong-lorong jagat maya.

Dalam acara yang digelar di Mushalla Sakinah Jamilah, Balikpapan itu, sang pemateri menitip pesan. Bahwa santri, guru, mahasiswa, dosen dan semua yang ada di lingkungan tersebut harusnya tetap punya worldview yang sama (tidak boleh berubah).

Bahwa dulu, sekarang, hingga yang akan datang, areal seluas ratusan hektar tersebut tetap harus menjalankan fungsi utamanya. Yaitu mencetak kader dakwah. Bukan sekadar meluluskan sarjana Islam atau menamatkan santri dari sekolah, begitu saja.

Lebih jauh, pemateri tersebut mengutip penyampaian dari Dr. Nashirul Haq, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah. Ia mengatakan, pembangunan fasilitas fisik yang tidak beriring dengan pembangunan manusia, maka satu saat gedung-gedung itu berpotensi berubah menjadi berhala-berhala zaman modern.

Gedung-gedung mewah itu mungkin dibanggakan, dielu-elukan oleh banyak orang. Tapi sejatinya bangunan itu kosong dari nilai-nilai spritual dan semangat dakwah.

Olehnya, zaman bisa berubah. Tapi tujuan pendidikan, maksud ilmu, motivasi berlembaga tak boleh luntur. Siapapun harus siap menjadi pejuang dakwah. Menjadi kader Islam.

Inilah adab. Adab yang kelak membingkai ilmu dan amal seseorang. Mulai dari cara pandangnya, cara tuturnya, cara pikirnya, hingga cara sikapnya, semua kembali kepada orientasi dakwah dan perjuangan (al-Qur’an)

Tak heran, selalu dikatakan, butuh waktu bertahun-tahun untuk belajar adab. Apa itu adab? Adab ialah motivasi yang benar mengapa ia belajar, tujuan dia kuliah, untuk apa ia bergabung dalam lembaga, dan seterusnya.

Sebaliknya soal ilmu pengetahuan. Hari ini semua bisa instan. Orang bisa saja tiba-tiba pintar masak. Mendadak jago ceramah. Tahu-tahu ia berpenampilan ustadz, politisi, dan sebagainya. Sebab itu mungkin hanya butuh kemasan dan sedikit pencitraan

Lalu, kenapa adab itu penting? Mengapa cara pandang itu perlu selalu dievaluasi? Ingat saja, gara-gara keliru cara pandang, akhirnya Iblis menjadi terlaknat. Sebab ia mengaku lebih mulia dari Adam, ciptaan Tuhan yang berasal dari tanah. Gara-gara kehilangan orientasi, Iblis tidak mau taat untuk bersujud. Padahal itu perintah Allah kepadanya.

Ada yang menarik dalam teks Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, yaitu “Bangunlah Jiwanya Bangunlah Badannya untuk Indonesia Raya”. Rupanya jauh hari, pendiri bangsa ini sudah mengingatkan kemana bangsa ini mesti dibawa.

Tak lain yaitu membangun manusia seutuhnya. Bukan hanya otaknya. Tidak cuma fisiknya. Tak cuma fokus membngun infrastruktur atau sarana prasana. Tapi juga membangun ruh atau jiwanya. Bahkan itu lebih utama.

Dalam kesempatan sama, pemateri juga menyebut soal standarisasi pengkaderan di Perguruan Tinggi Hidayatullah (PTH). Bahwa spesisifikasi ilmu yang dipelajari dan kompetensi akademik boleh berbeda sesuai dengan program studi yang ada.

Tapi pastinya, output yang dihasilkan semuanya adalah sarjana dai. Orang-orang yang siap ditugaskan mengemban amanah dakwah, kemanapun mereka ditembakkan dari Bumi Ummul Quro, Gunung Tembak.

Terakhir, bagaimana mengukur bahwa cara pandang kita belum berubah? Benarkah kita masih istiqamah sesuai dengan pengakuan selama ini? Ataukah justru sudah terjadi zhaigh (pembiasan) dan iwajan (pembengkokan)?

Sederhananya, mari merenungi kalimat-kalimat ini. Tulisan di bawah ini disadur dari ceramah KH. Abdullah Said, pada Pengajian Malam Jumat, 26/8/1982 silam.

“Kita ingin menciptakan lingkungan yang anggota masyarakatnya tidak lagi berkecil hati hanya karena tidak punya rumah bagus. Tidak merasa ketinggalan cuma gara-gara belum memiliki kursi tamu yang bergaya ala Eropa, ranjang model baru, atau kendaraan yang mewah di rumahnya”

“Mereka semua puas dan menikmati kekayaan hati berupa ketenangan jiwa. Tidak lagi harus mempermasalahkan gejolak ekonomi antara pemasukan dan belanja kebutuhan setiap bulan”

“Faktor kerisauan itu berubah. Kini mereka galau kalau shalat berjamaahnya tanggal, beberapa kali ketinggalan rakaat, atau tidak sempat menunaikan shalat sunnah. Ia menyesal justru kalau terlambat bangun. Tidak sempat mendirikan shalat tahajjud”.

“Ia gelisah saat belum sempat mengeluarkan infak dalam sehari dan berbagi kepada tetangga Ini tentu saja adalah cita-cita mulia dan harapan besar yang tidak mudah menjabarkannya”.


*) Penulis adalah pendidik di Kampus Induk Pesantren Hidayatullah Balikpapan