Beranda blog Halaman 494

Rakornas Kemendesa dan PDT Revitalisasi Transmigrasi 4.0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia mengadakan Rapat Koordinasi Nasional Transmigrasi Tahun 2019. Rakornas yang dibuka langsung oleh Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla membahas Revitalisasi Pembangunan Ekonomi Kawasan Transmigrasi 4.0. Acara diselenggarakan di Hotel Sultan Jakarta pada 31 Juli – 2 Agustus.

Sejalan dengan Perpres Nomor 50 Tahun 2018 tentang Koordinasi dan Integrasi penyelenggara transmigrasi dan peningkatan Sumber Daya Manusia dari segi ekonomi dan segi Sumber Daya Alam, Rakornas Transmigrasi Tahun 2019 dilakukan dalam rangka pembahasan untuk meningkatkan kolaborasi dan kerjasama antara Kementerian Lembaga, Pemerintah Daerah, serta pihak swasta untuk mengembangkan kawasan transmigrasi.

Dengan adanya kemitraan antara pemerintah dan pihak swasta tersebut membuka peluang hadirnya perusahan swasta untuk merevitalisasi kawasan transmigrasi ke arah yang lebih modern. Hidayatullah sendiri adalah merupakan salah satu mitra pemerintah dalam pengembangan kawasan dam wilayah di Indonesia.

Hadir Menteri Desa PDT dan Transigrasi, Menteri Pertanian, dan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) para gubernur, para bupati, perusahaan yang bermitra di Kawasan Transmigrasi, puluhan akademisi, wakil komunitas termasuk Ketua Umum DPP Hidayatullah KH Dr Nashirul Haq dan wakil media massa.

Menteri Desa PDT dan Transmigrasi, Eko Putro Sandjojo saat memberi laporan di Rakornas mengatakan saat ini capaian transmigrasi di 619 Kawasan transmigrasi dan 48 Kawasan /KPB/Program Revitalisasi telah mengelola 4,2 juta transmigran, termasuk 1,7 tenaga kerja, yang tinggal di kawasan seluas 4,4 juta Ha. Lahan produktif mencakup 1.001.070 Ha sawah, 310.332 Ha lahan jagung, 1.144.080 perkebunan sawit, 429.030 Ha perkebunan karet.

“Pendapatan penduduk di kawasan transmigrasi ini mencapai Rp 17 triliun pertahun,” kata Menteri Eko Putro Sandjojo saat memberi laporan di Rakornas Kamis di Hotel Sultan, Kamis (1/8/2019).

Menteri Eko menambahkan pada kurun waktu 2015-2019, kegiatan transmigrasi telah menghasilkan pembangunan dan pengembangan sarana dan prasarana, pengembangan ekonomi dan sosial budaya, serta Sertifikat Hak Milik transmigrasi dan kemitraan pada 259 permukiman di 22 Kawasan Perkotaan Baru, yang mencakup 43.635 Kepala Keluarga di 144 kawasan.

Selain itu, kegiatan telah meningkatkan pendapatan masyarakat transmigran dari 2,7 Juta menjadi 3,3 Juta per KK, menurunkan angka kemiskinan dari 14,9% menjadi 13,1% dan menyerap tenaga kerja 149.770 orang.

Lebih lanjut ia menambahkan bahwa Swasta dan kementerian lain turut dilibatkan untuk mempercepat pembangunan kawasan transmigrasi dan meningkatkan kesejahteraan penduduk.

Dia menyebutkan, di kawasan transmigrasi Melolo, Sumba Timur, NTT, swasta berkomitmen investasi Rp 4,7 triliun, dan hingga kini sudah terbangun perkebunan tebu dilengkapi embung senilai lebih dari Rp 1,7 triliun. Kementerian BUMN telah berkomitmen memperbesar pelabuhan agar gula yang dihasilkan lebih mudah dikirim ke provinsi lain hingga ke luar negeri.

“Kerja sama bisnis antara swasta, pemerintah daerah, dan warga di kawasan transmigrasi tercakup dalam program unggulan Prukades. Di kawasan transmigrasi Sumbawa, swasta dari Korea bersama swasta nasional berkomitmen investasi Rp 6 triliun. Jagung diproduksi massal untuk diolah dalam skala industri, kemudian sisa olahan dipak sebagai bahan energi listrik yang digunakan di dalam negeri dan diekspor ke Korea,” tuturnya.

Sementara itu, Wakil Presiden RI Jusuf Kalla mengatakan bahwa transmigrasi merupakan program pemerintah yang sudah dijalankan sejak 1950 dengan tujuan untuk mensejahterakan rakyat.

“Kalau yang datang tidak sejahtera, kemudian yang didatangi tidak sejahtera, maka transmigrasi itu tentu tidak maksimal,”jelasnya.

Jusuf Kalla juga mengakui ada gesekan antara transmigran dan penduduk lokal pada masa lalu. Tapi dia menilai transmigrasi banyak berdampak positif.

Untuk mendukung Peraturan Presiden No. 50 Tahun 2018 mengenai Koordinasi dan Intergarsi Penyelenggaraan Transmigrasi, dalam acara Rapat Koordinasi Nasional Transmigrasi 2019 juga dilaksanakan Penandatanganan Nota Kesepahaman Kerja Bersama. (ybh/hio)

Sudahkah Ketaqwaan Menjadi Paradigma Aktifitas Hidup Kita

0

Pesan ini disampaikan oleh Anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah, Ustadz Hanifullah Hannan dalam Khutbah Jum’at saat beliau bertugas sebagai Khotib di Masjid Baitul Karim Cipinang Cempedak Jakarta Timur Komplek Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, pada 26 Juli 2019.

[youtube width=”100%” height=”300″ src=”RyDvBkDs1h0?rel=0&autoplay=1″][/youtube]

[DOWNLOAD] Naskah Khutbah Idul Adha 1440 Hijriyah

0

HIDORID – Berikut ini naskah khutbah Idul Adha 1440 Hijriyah, dirilis DPP Hidayatullah. Semoga bermanfaat dan dapat dimanfaatkan seluas-luasnya kaum muslimin.

DOWNLOAD, KLIK DI SINI (Acrobat Reader/Pdf)

Geliat Dakwah Pendidikan Kampus Hidayatullah Tuban

0

TUBAN (Hidayatullah.or.id) — Dakwah dan geliat pelayanan keummatan Hidayatullah terus ditingkatkan, tak terkecuali di Provinsi Jawa Timur (Jawa Timur). Dari puluhan kampus Hidayatullah yang ada di kawasan seluas 47.922 km2 atau provinsi terluas di Pulau Jawa ini, Hidayatullah Kabupaten Tuban adalah salah satunya.

Kampus Hidayatullah Tuban yang berlokasi di Jalan Dr Wahidin Sudirohusodo, Gang Yudistira, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, ini kini telah membuka layanan pendidikan untuk tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Sekolah Dasar Integral Hidayatullah Tuban.

Keberadaan SD Integral Hidayatullah Tuban sendiri merupakan rangkaian perjalanan panjang dan berliku dari Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Tuban yang juga bergerak di bidang sosial untuk memberikan fasilitas pendidikan bagi anak-anak yatim, yatim piatu dan dhuafa.

Seiring dengan perkembangannya, anak-anak asuh yang dulunya masih kanak-kanak dan pernah mengenyam proses pendidikan dini di Hidayatullah Tuban, kini mereka hampir seluruhnya telah berhasil menyelesaikan studi kesarjanaannya dari berbagai perguruan tinggi.

Para sarjana muda inilah yang kemudian digembleng dan akhirnya mampu menghadirkan satu komunitas pendidikan Islam bernama SD Integral Hidayatullah Tuban. Dari alumni untuk ummat, demikianlah visi besar mereka untuk berdakwah melalui layanan pendidikan yang bermutu dan berkualitas tinggi.

Pengurus Kampus Hidayatullah Tuban, Ust Lajianto, mengatakan tenaga muda yang diberdayakan tersebut berangkat dari ikhtiar untuk menghadirkan lembaga pendidikan yang integral berbasis Tauhid.

Berawal dari sina serta adanya saran serta masukan dari para pembina wilayah yang ada di Jawa Timur, Hidayatullah Tuban bertekad untuk membuat sebuah lembaga pendidikan formal yang salah satu tujuanya adalah mewadahi agar para kader dapat terus berkarya di lembaga yang telah memiliki kontribusi yang besar dalam keberhasilan pendidikan mereka.

Pada tahun 2010, salah seorang simpatisan Hidayatullah yang juga seorang arsitek, membuat desain untuk sekolah SD Integral Hidyatullah Tuban ini. Sejak saat itulah proses pembangunan gedung dimulai dan selesai pada awal tahun 2011.

Ust Lajianto menyebutkan, SD Integral Hidayatullah Tuban mengawali proses pembelajaran pertamanya tepat pada tanggal 11 Juli 2011. “Suatu pengalaman besar bagi para kader untuk mengaplikasikan ilmu yang telah lama diperoleh di bangku kuliah,” katanya.

Langkah awal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi para kader bagaimana mereka dapat mengelola sebuah lembaga pendidikan formal yang harus dapat bersaing secara intelektual dengan lembaga pendidikan yang sejenis yang notabene sudah lebih dulu menancapkan akarnya di Tuban ini.

“Selain itu, lembaga pendidikan Kampus Hidayatullah Tuban yang dikawal ini juga harus berjalan selaras dengan visi Hidayatullah yaitu Membangun Peradaban Islam,” imbuh Lajianto.

Lajianto berharap mujahadah panjang pengurus Hidayatullah Tuban untuk mewujudkan sebuah lembaga pendidikan Islam yang dapat menjadi solusi dari problematika umat saat ini, selalu mendapatkan keberkahan dan ridho Allah SWT.

“Keberkahan tersebut dapat digapai dengan tetap mempertahankan kultur Hidayatullah yaitu semangat pelayanan, merawat keikhlasan, meneguhkan pengabdian serta menjaga ukhuwah Islamiyah dan Insaniyah,” pungkasnya.

Lajianto menambahkan, bagi orangtua atau masyarakat Tuban secara luas yang ingin memasukkan anaknya ke SD Integral Hidayatullah, pendaftaran murid baru Gelombang Indent dibuka mulai 01 Agustus–31 Desember 2019 dan Gelombang Reguler 01 Januari-01 Juni 2020.

Adapun syarat-syarat pendaftaran diantaranya membayar biaya pendaftaran, mengisi formulir pendaftaran, menyerahkan foto kopi Kartu Keluarga, menyerahkan foto kopi Akta Kelahiran, menyerahkan foto kopi KTP orangtua, menyerahkan pas foto berwarna ukuran 3×4 2 lembar, menyerahkan surat keterangan sebagai siswa TK-B dan memenuhi usia minimum 6 tahun (per 1 Juli 2020).

Atau, informasi lebih lanjut bisa datang langsung ke Alamat Sekretariat Kampus Hidayatullah Tuban, Jalan Dr Wahidin Sudirohusodo, Gang Yudistira RT.04 RW.04 No. 24, Karang Krajan, Kelurahan Karang, Semanding, Kabupaten Tuban. Telepon (0356) 8833250 atau kotak person 0852-8033-5390 (Ust Lajianto) dan 0857-3035-2976 (Ust Fendi). (ybh/hio)

Muslimat Hidayatullah Malang Gelar Seminar Parenting

MALANG (Hidayatullah.or.id) — Ketua Majelis Penasehat Pusat (MPP) Muslimat Hidayatullah, Dr Hj Sabriati Aziz, M.Pd.I menjadi narasumber dalam acara Seminar Parenting yang diselenggarakan oleh Pengurus Daerah Muslimat Hidayatullah Malang bekerjasama dengan Kampus Ponpes Hidayatullah Malang dan didukung Laznas BMH, Ahad (28/7/2019).

Acara yang berlangsung di Aula Utama Kampus Arrohmah putri Pondok Pesantren Hidayatullah Malang ini dihadiri ratusan peserta dari perwakilan pengasuh putri, anggota Muslimat Hidayatullah Malang serta dari unsur pemerintah dan pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Malang yang diwakili oleh Siti Nurhayati.

Sabriati dalam pemaparannya mendorong tegaknya budaya literasi peremuan wanita muslimah khususnya dalam diskursus isu-isu keummatan dan kewanitaan.

Dia menyebutkan, diantara isu yang perlu dicermati adalah isu keluarga. Sebab, menurutnya, keluarga adalah lingkup terkecil dari konstruksi sebuah negara namun ia memiliki peran determinan dalam mementukan maju mundurnya sebuah peradaban.

Indonesia dengan Pancasila sebagai falsafah bernegara, menurut Sabriati, haruslah dikokohkan dari hal yang sangat fundamental yakni keluarga sebagai nilai utama kohesifitas.

Begitupun dengan undang-undang, menurut Sabriati, regulasi dalam kehidupan sehari-hari pun mesti sejalan dengan nilai-nilai agung Pancasila yang mengedepankan moralitas dan nilai-nilai agama.

Dalam hal ini, ia pun menekankan bahwasanya Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS) harus mengandung nilai-nilai tersebut. Namun, kalau tidak, ia akan menghadapi penolakan dari masyarakat yang berangkat landasan kritis yang memadai.

Seperti diketahui, di saat saat akhir masa jabatan DPR RI 2014-2019 ini. para pengusung RUU PKS mendesak DPR agar mengesahkan rancangan ini. Namun berbagai elemen melakukan penolakan karena menilai RUU ini sarat muatan yang tak senafas dengan noral kita.

Pun demikian masyarakat Malang. Mereka berjanji akan terus memantau mendorong pemerintah serta DPR untuk meninjau ulang RUU yang dianggap belum memadai ini.

“RUU ini berpeluang melegalkan LGBT. Tidak bisa dipungkiri bahwa adanya RUU ini akibat dari pemaksaan idiologi feminis ke dalam negara Indonesia,” kata Sabriati.

Sementara utusan pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Malang yang diwakili oleh Ny Siti Nurhayati, berjanji akan membawa aspirasi ini ke dalam pembahasan internal MUI.

VIDEO: Peresmian Pengurus Sako Pramuka Hidayatullah

Peresmian dan Pelantikan Satuan Komunitas (SAKO) Pramuka Hidayatullaah Oleh Wakil Walikota Balikpapan Rahmad Mas’ud yang digelar di Komplek Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur, beberapa waktu lalu.

[youtube width=”100%” height=”300″ src=”f9MkSNn2jDU?rel=0&autoplay=1″][/youtube]

Prestasi Akademik Bagus, Tapi Jangan Lupakan Al Quran

0

JENEPONTO (Hidayatullah.or.id) — Capaian prestasi akadamik di berbagai bidang keilmuan harus diupayakan. Begitupun pemenuhan fasilitas yang lengkap dan mewah dalam menunjang pendidikan pun tidak masalah. Namun dalam pada itu, beliau menegaskan, jangan sampai melupakan Al Qur’an sebagai pilar utama.

Demikian benang merah materi taushiah yang disampaikan Ketua Departemen Perkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Ust Sholeh Usman dalam acara Pengajian Rutin Bulanan yang berlangsung di Masjid Ar-Riyadh, Pondok Pesantren Tanfidz Cilik Hidayatullah, Dusun Bulu-Bulu, Desa Pallantikang, Kecamatan Bangkala, Kabupaten Jeneponto, Sulsel, Ahad (28/07/2019).

“Sekarang banyak orang berlomba-lomba mencari kemewahan dunia tetapi jauh dari Allah Subhanahu Wata’ala. Banyak orangtua yang berjuang mati-matian untuk melihat anaknya sukses, tapi jauh dari Al-Qur’an,” kata Sholeh Usman.

Ia menekankan, Al Qur’an sebagai basis dari aktualisasi pendidikan Tauhid merupakan muatan utama yang tercermin dalam Sistematika Wahyu (SW) yang menjadi metodogi (manhaj) gerakan Hidayatullah.

Djelaskan beliau, struktur filosofis manhaj Sistematika Wahyu merupakan sebuah metode pendidikan yang lebih berfokus kepada individ sebagaimana pernah diterapkan dalam perjalanan dakwah Rasulullah dalam Periode Makkah yang direkam oleh Sirah Nabawiyah.

Dijelaskan beliau, struktur filosofis manhaj Sistematika Wahyu merupakan sebuah metode pendidikan yang lebih berfokus kepada individ sebagaimana pernah diterapkan dalam perjalanan dakwah Rasulullah dalam Periode Makkah yang direkam oleh Sirah Nabawiyah.

“Maka berbahagialah orangtua yang mendidik anaknya dan menyekolahkan di tempat ini belajar dan dekat dengan Al-Qur’an,” kata Ust Sholeh Usman.

Sementara itu, Ustad Armin selaku pimpinan , Pondok Pesantren Tanfidz Cilik Hidayatullah sedikit memberikan gambaran tentang kondisi pondok pesantren tahfidz ini.

“Alhamdulillah, mohon doa dan partisipasinya karena sekarang ini proses pembagunan sekolah Madrasah Ibtidaiyah (MI) telah mendapat izin operasional,” kata dia.

Diakhir sambutannya, Armin, mengingatkan dan memberi penekanan kepada orang tuasantri untuk mengikut peraturan yang telah ditetapkan oleh pondok. Sehingga program yang telah ditetapkan bisa berjalan dengan baik kemudian juga anak-anak bisa mencapai target yang telah di tetapkan.

Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh masyarakat, ibu-ibu majlis taklim, dan dirangkaikan dengan penjengukan (boarding visit) pertama bagi santri baru, sekaligus mempererat hubungan antara pengurus pondok dan orangtua/ wali santri.*/Andi Alfian Salassa

Halaqah Hidayatullah, Kapolda Sulbar Ajak Polisi Ikut Dakwah

0

MAMUJU (Hidayatullah.or.id) — Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Barat (Kapolda Sulbar) Brigjen Pol. Drs. Baharuddin Djafar M.Si, mendorong jajaran kepolisian yang adai di wilayahnya untuk turut bersama dai dalam rangka mengajak masyarakat melakukan kebaikan, mencegah kemudharatan dan menjaga rasa aman.

Hal itu disampaikan Kapolda ketika didapuk untuk memberikan nasehat di hadapan dai Hidayatullah yang sedang mengikuti rangkaian acara Halaqah Kubro usai salat subuh di Masjid Al-Walidain, Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Mamuju, Sulawesi Barat, Ahad (28/7/2019).

Kapolda dalam kesempatan Halaqah Kubro bertajuk Rajut Ukhuwah Kokohkan Jati Diri Hidayatullah, ini mengatakan dalam menjalankan tugasnya para dai didorong untuk mengajak serta jajaran kepolisian di tempat tugasnya.

“Polisi harus diajak (berdakwah). Negara memberikan kekuatan untuk menghilangkan kemudharatan dan menegakkan kebajikan serta memberikan rasa nyaman di masyarakat,” kata Kapolda yang memiliki kebiasaan menjumpai masyarakat dengan shalat subuh keliling dari masjid ke masjid ini.

Hanya saja, berdakwah menurutnya, membutuhkan kesabaran yang berlipat serta melibatkan bantuan Allah Ta’ala melaui shalat. “(Dakwah) bukan mengandalkan logika atau retorika semata,” tegasnya.

Senior jenderal polisi yang biasa berdakwah ke kampung kampung jauh di pedalaman Sulbar ini mengatakan bahwa sebagai muslim harus bangga menjadi khalifah.

“Semua kita jalankan karena ada kekuatan iman. Berapa banyak orang yang mau datang shalat subuh berjamaah juga karena kekuatan iman. Maka perkara iman adalah utama,” kata Kapolda yang berhasil membawa Polda Sulbar menggapai berbagai capaian membanggakan.

Sebagaimana diketahui, Kepolisian Daerah Sulawesi Barat yang ia pimpin mendapatkan kepercayaan masyarakat tebaik dalam tingkat nasional tahun ini versi MarkPlus.

Hasil riset oleh Markplus Insight dirilis pada Februari 2019 lalu terhadap 34 Polda yang ada di Indonesia, menempatkan Polda Sulbar sebagai 10 besar peraih Indeks Kepuasan Masyarakat hingga mencapai di atas 90,00 persen.

“Kinerja ini adalah kerjanya orang pilihan dan kami membangunnya dengan pendekatan agama,” kata Kapolda Baharuddin.

Dia pun mendorong agar dai selalu semangat, luruskan niat dan senantiasa memantapkan kiprahnya demi untuk kemaslahatan umat, agama, bangsa dan negara.

“Tidak mungkin dai dengan tidur tiduran saja lalu berharap orang baik semua. Butuh kerisauan sebagaimana risaunya kaum terdahulu terutama risaunya Nabi Muhammad juga butuh kerja dakwah yang ekstra karena usaha dakwah ini harus dikerja bersama sama,” tandasnya.

Acara Halaqah Kubro gelaran Dewan Pengurus Pusat (DPW) Hidayatullah Sulbar awalnya diadakan tiga bulan sekali ini. Kini dirubah enam bulan sekali.

Namun begitu, DPW Hidayatullah Sulbar dalam hal ini Ketua Departemen Perkaderan dan Bina Anggota, Habibi Nursalam, menyatakan akan terus melakukan penyempurnaan agar agenda ini semakin baik sehingga kian memantapkan langkah pengabdian dakwah di masyarakat.

Menurut rencana Halaqah Kubro mendatang akan diadakan di DPD Hidayatullah Mamasa sembari kerja bakti pembukaan lokasi wakaf masyarakat pada akhir tahun ini.

Ketua DPW Hidayatullah Sulbar, Imran M. Djufri, S.Pd.I. menegaskan bahwa Halaqah Kubro terakhir dalam tahun ini akan diadakan lebih khidmat dan semarak untuk menambah semangat para dai dalam menjalankan tugasnya di daerah masing-masing.

“Dalam rangkaian halaqah kubro ini dai dikuatkan pemahaman terhadap konsep dakwah melalui program mainstream organisasi sekaligus melakukan monitoring dan evaluasi terhadap program kerja yang sudah dibuat,” tukas Imran memungkasi.

Acara Halaqah Kubro di Mamuju ini dipamungkasi dengan adu ketangkasan di lapangan futsal yang berlangsung seru. Penuh canda tawa. Apalagi pemain usia milenial dan yang berumur “kolonial” digabung dalam satu tim.

Sebagian ada yang agak kewalahan karena mengaku sudah jarang “merumput” jadi perlu adaptasi kembali. Turnamen mini itu berlangsung dengan tensi kocak apalagi dengan sorak-sorai suporter yang menghibur.*/Muhammad Bashori

Menjauhi Pergaulan Bebas Mengatasi Penyakit HIV/AIDS

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Masyarakat Indonesia kian mengkhawatirkan semakin merebaknya pergaulan bebas yang salah satu dampaknya adalah meluasnya penyakit Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS).

Bukan hanya dari seks bebas, Ketua Departemen Kesehatan DPP Hidayatullah, Drg. Fathul Adhim, M.K.M, mengatakan AIDS juga memapar merrka yang tak berdosa seperti banyak diidap para ibu atau anak yang ditularkan melalui penggunaan bersama jarum suntik yang tidak steril dan transfusi darah.

Data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut ada 48.300 kasus HIV positif yang ditemukan pada tahun 2017. Dari jumlah tersebut, 9.280 di antaranya juga positif AIDS. Untuk tahun 2018, hingga triwulan II sudah ditemukan 21.336 kasus HIV, dengan 6.162 di antaranya positif AIDS.

Lantas apa solusi mengatasi AIDS? Menurut Fathul Adhim, selain menghindarkan penggunaan jarum suntik bersama, ia menekankan agar menjauhi seks bebas.

Ia pun menyebutkan kondom bukan solusi yang tepat mengatasi HIV/AIDS. Namun, karena sudah kadung menjadi trend di dunia, kondom dianggap sebagai solusi praktis padahal sebenarnya tidak menyelesaikan masalah.

“Referensi seluruh dunia saja begitu, mengatasi AIDS pakai kondom. Kenapa begitu, karena di Barat orang bebas mau apa saja dalam pergaulan,” kata Fathul ditemui media ini disela acara Musyawarah Majelis Syura Hidayatullah di Jakarta, Kamis (25/7/2019).

Karena itu, Fathul menegaskan solusinya adalah jangan seks bebas. Fathul menerangkan, AIDS adalah penyakit luar biasa paling berbahaya.

Dia menjelaskan, AIDS hanya memiliki dua saja jalur penularannya yaitu melalui darah dan dan hubungan seksual.

Namun, masalahnya, keduanya sudah menjamur di masyarakat sehingga akan sukar menanggulanginya kecuali dengan kecermatan dan kehatihatian. Misalnya, dalam masalah pertukaran jarum suntik bergantian oleh pengguna narkoba.

“Jika menggunakan jarum yang sudah terinfeksi dengan darah yang positif HIV, kemungkinannya besar terkena juga. Jadi bukan hanya sekedar bahaya narkoba, tapi bisa menularkan AIDS,” ujarnya.

Ketimbang jarum suntik, menurut Fathul, hubungan seksual adalah yang paling dekat dan sangat besar pengaruhnya untu penularan HIV. Siapa yang suka seks bebas, kemungkinan besar kena HIV.

Masalahnya, banyak referensi supaya tidak kena Aids solusinya adalah pakai kondom. Akhirnya ada bagi bagi kondom dan dijual bebas.

“Hal ini kan sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Kok berzina silahkan asal pakai kondom. Seharusnya solusinya, ya jangan seks bebas,” tegas pendiri Islamic Medical Service (IMS) ini.

Fathul menjelaskan, HIV/AIDS merupakan penyakit mengerikan karena seringkali tidak terdeteksi. Masa inkubasinya bisa sampai 10 sampai dengan 15 tahun.

“Sekarang kena dia bisa santai seolah-olah sehat padahal sudah kena. Termasuk alat tato juga berpotensi menyebarkan AIDS. Karena itu yang hapus tato harus cek lab dulu,” pungkas Fathul.

Soal alat tatto removal ini, IMS misalnya, pernah punya pengalaman mendeteksi sepasang suami istri yang ternyata terjangkit HIV/AIDS usai dilakukan uji lab yang mereka tidak sadari selama ini.

“Mereka ya menangis. kebetulan punya tato dua-duanya. Sedih. Selama ini merasa aman saja ternyata kena AIDS. Kejadiannya di Palembang tahun 2018 lalu,” pungkasnya.(ybh/hio)

Hidayatullah Imbau Tak Pakai Plastik Hitam Wadah Makanan

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Karena mengandung bahan-bahan yang berbahaya, Ketua Departemen Kesehatan DPP Hidayatullah, Drg. Fathul Adhim, M.K.M, menghimbau kepada masyarakat khususnya warga dan kampus Hidayatullah agar tidak menggunakan plastik/ kresek hitam sebagai wadah makanan.

Apalagi Hari Raya Idul Qurban sudah dekat, hal ini kata Fathul Adhim perlu disoalisasikan karena pada masa ini penggunaan kresek biasanya menjadi meningkat.

“Kami menghimbau kampus kampus Hidayatullah yang menyelenggarakan Qurban bagi masyarakat agar tidak menggunakan kresek hitam. Bukan hanya yang warna hitam tapi yang berbahan polivinil klorida lainnya. Bisa diganti dengan bahan pembungkus alami yang lebih aman seperti wadah anyaman daun kelapa atau besek dari bambu,” kata Fathul Adhim ditemui media ini disela acara Musyawarah Majelis Syura Hidayatullah di Jakarta, Kamis (25/7/2019).

Fathul mengatakan penggunaan kresek harus dikurangi atau bahkan jika bisa dihilangkan karena kandungannya yang tidak baik untuk kesehatan.

Dia menjelaskan, bahan utama dari kantong plastik ini adalah PVC serta residu timah putih atau polivinil klorida dan mengandung bahan kimia berbahaya lainnya seperti cadmium.

Kantong plastik hitam umumnya lebih diperuntukkan sebagai tempat sampah, bukan untuk wadah bahan konsusmi termasuk untuk wadah daging Qurban. Kantong plastik hitam juga diketahui merupakan produk daur ulang dari banyak kantong plastik lain yang sudah tidak terpakai.

Penggunaan kresek ini berpotensi memaparkan penyakit berbahaya seperi pembengkakan organ hati, hepatitis, permasalahan pada sistem saraf dan penyakit kanker yang mematikan.

Masih terkait dengan kesehatan dan Idul Qurban yang sebentar lagi, selain tidak menyimpan bahan komsumsi di wadah plastik. Fathul juga menyarankan agar masyarakat mengetahui cara yang benar dalam menyimpang daging.

Daging Qurban baik sapi atau kambing cukup dibersihkan saja sebelum dimasukkan ke kulkas, tidak perlu dicuci apalagi dengan air keran air karena mengandung kuman-kuman yang dapat masuk ke dalam pori-pori.

“Daging cukup dibersihkan saja lalu simpan di kulkas. Tidak usah dicuci karena bisa merusak daging,” kata Magister Kesehatan Masyarakat (MKM) ini.

Dengan pengurangan penggunaan kresek plastik, diharapkan pelan-pelan masyarakat beralih kepada penggunaan wadah yang lebih sehat dan higienis bahkan bisa menunjang perekonomian masyarakat yang berbudidaya besek dari bahan alam. (ybh/hio)