Beranda blog Halaman 496

Dari Hidayatullah Palopo Akan Lahir Kader Pelopor Kebaikan

PALOPO (Hidayatullah.or.id) โ€“ Ketua Yayasan Al-Mubarak Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Palopo, Sulawesi Selatan, Ust Muhammad Abdul Wahab, berkeyakinan kuat bahwa dari gerakan dakwah pendidikan yang digalakkan oleh Ponpes Hidayatullah Palopo insya Allah kelak akan melahirkan kader pelopor dalam kebaikan dan pengabdian untuk agama, bangsa dan alam semesta.

Ust Abdul Wahab menyampaikan dalam sambutannya bahwa merupakan tanggungjawab kita semua agar bagaimana generasi kita kedepan menjadi kuat dengan ilmu pendidikan.

โ€œPonpes Hidayatullah Palopo hadir di tengah-tengah masyarakat menjadi salah satu lembaga yang siap bekerjasama untuk menangani generasi kita agar menjadi generasi yang kuat, berbakti kepada kedua orangtua, agama, bangsa dan negara NKRI, โ€œ kata Ust Wahab dalam acara silaturahim dan pertemuan orangtua siswa baru tahun ajaran 2019/2020 di Pondok Pesantren Hidayatullah Palopo, Ahad (14/7/2019).

Wahab menambahkan, hendaklah orangtua yang mendidik anak harus harus berbicara dengan tutur kata yang baik dan benar.

โ€œJangan sampai kita sebagai orangtua meninggalkan anak atau generasi yang lemah. Seperti lemah iman, lemah ilmu, lemah fisik, dan lemah harta,โ€™โ€™ tutur Wahab.

Lanjut ia mengatakan, maju tidaknya pondok ini ya tergantung dukungan dan partisipasi kita semua. Menurut Wahad, ada empat komponen masyarakat jika bersinergi akan sukses menopang sukses pengengembangan ponpes ini untuk menuju apa yang kita cita-citakan.

โ€œDukungan dan partisipasi masyarakat, dukungan dan partisipasi pemerintah, dukungan dan partisipasi aktif wali santri dan kemampuan pengurus dalam mengelola secara kolektif,โ€™โ€™ ucapnya.

Sementara itu, Luqman Al Fath selaku Ketua LPHI Ponpes Hidayatullah Palopo mengatakan bahwa lembaga pendidikan Hidayatullah Palopo senantiasa berbenah untuk terus menerus dengan maksimal.

โ€œKita akan terapkan mutu pelayanan pembinaan, pengasuhan dan tentunya materi bahan ajar baik yang bersifat pelajaran umum apalagi pelajaran ciri khas ponpes yaitu bahasa arab, baca kitab dan hafalan quran-hadits agar santri memiliki kemampuan untuk bisa lebih faham akan ajaran islam,โ€™โ€™ tutupnya.*/Andi Alfian Salassa

Kampus Hidayatullah Jeneponto Mantapkan Nilai Kepengasuhan

0

JENEPONTO (Hidayatullah.or.id) โ€“ Dalam rangka memantapkan peran pembangunan budi pekerti serta meningkatkan kualitas sumber daya insani, Kepala Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Jeneponto, Sulawesi Selatan, Ust Muhammad Armin, menerapkan pola kepengasuhan santri yang lebih melekatkan nilai ikatan erat (emotional bonding) antara pendidik dengan peserta didik.

Diantaranya yang diterapkan adalah soal sapaan. Apabila santri biasanya menyapa guru dengan kata โ€œustadzโ€, โ€œbapakโ€ dan lainnya. Maka saat ini dibiasakan menggunakan kosa kata yang lebih merekatkan yaitu panggilan โ€œayahโ€ untuk guru laki-laki dan โ€œibundaโ€ untuk pengasuh wanita.

Ustadz Armin yang lazimnya disapa โ€œustadzโ€ oleh para santri dan seluruh warga dan pengasuhnya di pondok tersebut. Kini ia semakin karib dengan sapaan โ€œayahโ€.

โ€œSapaan ini bukan ingin mengikuti trend di masyarakat semata, melainkan ingin terbangunnya emotional bonding antara santri dan ustadz dan ustadzahnya sebagaimana pengasuh asrama yang disematkan panggilan kakak,โ€ kata Armin.

โ€œSaya ingin membangun sebuah โ€˜rumah besarโ€™ di pondok ini. Dekatnya santri kepada kami adalah modal besar dalam melakukan transformasi nilai-nilai al-Quran di sini,โ€ lanjut pria berbadan tegap yang juga lulusan pertama STIS Hidayatullah Balikpapan ini.

Menjadi hal biasa kalau para santri memanggil ustadz dan ustadzahnya dengan sapaan ayah-bunda. Rata -rata mereka duduk di kelas 2 hingga kelas 5 SD karena sedang mengikuti program hafal Quran di Pesantren Tahfidz Cilik Hidayatullah Jeneponto.

Armin menyeb utkan, ada sebanyak lima puluh delapan putra dan putri sebaya yang tergabung di rumah besar tersebut. Kini sejak usai menjalani Pentas atau Pekan Orientasi Santri yang berakhir tanggal 7Juli lalu, kini aktif menjalani proses menghafal al-Quran.

โ€œDitargetkan, selama tiga tahun mengikuti program tersebut mereka sudah menghafal tujuh sampai sebelas juz. Rata rata mereka sudah menghafal tujuh sampai sebelas juz selama di sini. Tinggal selanjutnya menambah di jenjang SMP nantinyaโ€ terang Ayah Armin.

Seperti di rumah, mereka menjalani aktifitas pondok seperti halnya di keluarganya sebelumnya. Bermain dan belajar seperti biasanya. Hanya saja, semua kondisi disuasanakan untuk mudah menghafal al-Qurโ€™an.

Dua gazebo dan beberapa pepohonan rindang biasanya jadi tempat murojaah atau mengulang ulang hafalan mereka didampingi kakak-kakaknya.

Saat Hidayatullah.or. id mengunjungi pondok yang didirikan di atas tanah wakaf Puang Haji Syarifuddin Daeng Talli tersebut, setiap pukul 11.00 siang semua santri diarahkan untuk istrahat. Tidak satupun anak yang berkeliaran. Selain mungkin karena letih karena sejak jam 3 dinihari tadi sudah aktif shalat tahjjud berjamaah di masjid.

โ€œKami hanya memberikan jawaban atas kegelisahan orangtua yang khawatir dengan lingkungan anaknya dan memberikan bekal mereka dasar dasar (hafalan) al-Quran untuk memasuki sekolah di jenjang atasnya,โ€ tutur Ayah Armin.*/Muhammad Bashori

Butuh Fokus dan Kerja Keras Mencapai Sukses Dakwah

0

MAROS (Hidayatullah.or.id) โ€“ Dakwah tidak bisa dilakukan serampangan apalagi setengah hati karena ini adalah pekerjaan mulia dan diselenggarakan pula oleh orang mulia. Karena itu bagi yang sudah terjun di medan dakwah, maka haruslah dia benar-benar memantapkan doa, fokus dan bekerja keras.

Demikianlah benang merah taushiah disampaikan pembina Hidayatullah Sulawesi Selatan Ust Ir H Abdul Majid dikala menjadi pemateri bersama Anggota Dewan Mudzakarah Ust Ir Ahkam Sumadiana dalam acara Lailatu Ijtimaโ€™ di Pesantren Tahfidzul Qur’an Yatim Duafa, Dusun Baku, Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros, Sulawesi Selata, beberapa waktu lalu.

Ust Ir H Abdul Majid mengajak para generasi muda millenial hari ini untuk meneladani perjuangan dakwah para pendahulu seperti para Nabi-nabi, ulama, kyai dan juga dai dai senior Hidayatullah yang telah berkiprah untuk dakwah.

โ€œKesuksesan dakwah hari ini merupakan kerja keras dan doa-doa orang terdahulu. Beban dakwah dan pendidikan yang rumit dapat dijalani dengan mudah juga berkat doa mereka. Dan para jamaah beban rumit jadi mudah, sehingga prioritas utama seorang pejuang tidak pernah alpa berdoa,โ€ kata Abdul Majid.

Mantan Ketua DPW Hidayatullah Sulsel ini menegaskan pentingnya meluruskan niat, mengamalkan kandungan Qur’an, dan menguatkan pondasi Tauhid dengan senantiasa mendalami Surah Al โ€˜Alaq.

Sementara Ust Ahkam yang juga merupakan perintis Hidayatullah di Soroako mengemukakan hal yang serupa yang menekankan pembinaan generasi dan pencerahan umat.

Ahkam mengatakan untuk melahirkan kader berkualitas perlu manajemen yang baik dan benar serta adanya regulasi yang terperinci. Lebih dari itu, dia menekankan pentingnya menginternalisasi muatan Sistematika Wahyu (SW) sebagai manhaj yang aplikatif yang sejatinya dibutuhkan oleh umat manusia sebagai obat kegersangan hati.

Acara ini diikuti oleh segenap pengurus dan karyawan amal usaha seperti amil Laznas BMH Gerai Maros dan lain-lain. Fatahillah SR selaku ketua Gerai BMH Maros mengemukakan, kegiatan Malam Bina Iman dan Taqwa (Mabit) ini adalah program rutin dilaksanakan setiap bulan.

โ€œKegiatan ini merupakan strategi langit untuk menuntaskan persoalan keummatan , demi terwujudnya generasi Maros yang lebih baik, dan semoga dengan Ini pula dapat memperkuat Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH) baik amil BMH dan pengurus pesantren,โ€ kata Fatahillah SR memungkasi. (ybh/hio)

Mahasiswi STIS Hidayatullah Dibekali Ilmu Parenting

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id)ย  — Secara rutin mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah, Balikpapan, Kalimantan Timur, mendapatkan beragam materi pengetahuan berbagai disiplin ilmu dari ahli atau pakar yang diundang khusus.

Kali ini mahasiswi STIS Hidayatullah kembali mendapatkan materi penting tentang psikologi parenting dalam format acara talkshow yang diisi oleh psikolog Hj. Drs. Dhina Kadarsan, S.Psi dengan tema โ€œMengubah Emosi dalam Keluarga Menjadi Energi Positifโ€ digelar di Aula STIS Putri (13/7/2019).

Dalam pemaparannya, Dhina Kadarsan yang juga konsultan ini, mengatakan bahwa emosi berkaitan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Dapat dirasakan oleh siapa saja baik dari anak-anak sampai orang dewasa.

โ€œAllah menciptakan semuanya dengan kebaikan. Jadi kecacatan dan ketidakmampuan dalam mengelolanya pada dasarnya karena manusia sendiri yang membuatnya. Seseorang mengubah dan menilainya maka itu bisa menjadi positif dan negatif,โ€ kata Dhina.

Dhina menyebutkan, ada dua hal yang perlu dipahami dalam mekanisme kepribadian manusia yaitu pertumbuhan fisik dan perkembangan emosi. Terkait unsur perkembangan emosi, kata Dhina, dulu orang mengatakan yang terpenting itu adalah perkembangan kognisi dengan emblem anak saya hebat anak saya peringkat satu.

โ€œPada saat itu mungkin paradigma tersebut benar. Tapi ketika mengarah ke masa sekarang. Ada orang pintar tapi tidak ada akhlaknya. Namun ada seseorang yang kata-katanya sangat nyaman didengar. Dan semua orang nyaman dibuatnya. Sungguh canggih. Begitulah juga dakwah. Dakwah yang paling utama di rumah. Bagaimana membuat keluarga mencintai Allah,โ€ kata Dhina.

Dhina melanjutkan. Lantas, bagaimana seseorang memandang emosi? Menurut Dhina, selama ini emosi seringkali dinilai sangat tidak baik hanya hal-hal negatif saja. Padahal, sebenarnya ini hanya bagian saja.

โ€œEmosi itu penting karena Allah menciptakannya sebagai pelengkap membuat kita lebih baik,โ€ ujarnya.

Dhina menerangkan bahwa emosi memiliki banyak warna. Tergantung bagaimana kita mengelolanya. Dia menamsilkan, ketika seseorang melempar sendal kepada diri kita, apabila kita marah maka hal itu normal. Marah itu berada pada tempatnya. Namun apabila mampu mengendalikannya denganย  cara beradab yang lebih dari sekedar marah, maka hal itu menjadi luarย  biasa.

Pada kenyataannya beragam emosi yang ada pada diri seseorang.ย  Karena itu perlunya kita mengelola hati sehingga kita bisa memformat emosi dalam bereaksi di waktu yang tepat, di tempat yang tetap dan kepada orang yang tepat pula.

โ€œBukan ketika seseorang dimarahi oleh gurunya namun marahnya kepada temannya. Maka ini adalah bentuk marah yang salah,โ€ ujar Dhina.

Jadi bagaimana mengelola emosi tersebut menjadi hal yang positif. Menurut Dhina, ada tiga hal yang dapat dilakukan.

Pertama, kenali emosi yang ada pada diri. Apakah itu perasaan marah, bahagia atau ย kecewa. Kedua, komunikasikan apa yang dirasakan dengan pilihan kata yang tidak menunjuk pribadi dan menyinggung perilaku. Dan, Ketiga, fokuskan pada hal yang positif.*/Wasan, pengasuh mahasiswi STIS Hidayatullah

Direktur LBH Hidayatullah Training Hukum Warga Binaan Lapas Paledang

BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Hidayatullah, DR. Dudung Amadung Abdullah, SH, MH, menjadi narasumber dalam acara pelatihan tentang masalah hukum bagi warga binaan LP Kelas IA Bogor atau dikenal dengan Lapas Paledang pada hari Jumat (12/07/2019). Acara tersebut terselenggara kerjasama Lapas Paledang dengan Kantor Hukum DRDR.

Bertempat di Aula Utama Lapas Paledang, sebanyak 100 orang Warga Binaan mendapat pengetahuan baru seputar dunia hukum. Training ini merupakan kerjasama antara Lapas Paledang dengan Kantor Hukum DRDR.

Kepala LP Paledang, Teguh Wibowo, BcIP, SH, MSi, dalam sambutan penghantar sebelum Training dimulai berharap training ini bisa memberikan wawasan bagi Para Warga Binaan tentang hukum, sehingga kedepannya mereka bisa menjadi warga negara yang taat hukum.

“Selepas menyelesaikan hukuman di Lapas, mereka bisa kembali ke tengah-tengah masyarakat dengan menjunjung dan mentaati aturan hukum,” kata Kalapas Teguh Wibowo.

Disamping itu, Kalapas juga berharap agar para warga binaan yang sekarang sedang berhadapan dengan hukum atau dalam proses penyelesaian hukum, bisa memahami hak-haknya sebagai tersangka maupun terdakwa.

Hadir sebagai pembicara adalah Advokat DR. Dudung Amadung Abdullah yang juga founder Kantor Hukum DRDR serta Advokat Agus Gunawan, SH.

Materi yang diberikan oleh para pembicara pada kesempatan ini diantaranya Kiat Menghadapi Perkara Hukum, Hak-Hak Terdakwa dan Tersangka dalam Proses Hukum, serta Tahapan Penyelesaian Perkara Pidana.

Dudung dalam pemaparannya yang penuh antusias juga menjelaskan tentang tokoh-tokoh besar di Indonesia dan dunia yang pernah menjalani hukuman penjara, namun kemudian berhasil menjadi pemimpin dunia dan memberi warna pada pembangunan negerinya bahkan dunia.

“Fakta menunjukan bahwa tokoh-tokoh besar tersebut bisa berbuat banyak selama di penjara. Ibnu Taimiyyah menyelesaikan Kitab Fatawa, Buya Hamka bisa menyelesaikan Tafsir Al-Azhar, Bung Karno membuat naskah Indonesia Menggugat yang mengguncang. Jadi meski tubuh terbatas gerak tapi ide intelektual dan spiritual bisa terus berkembang dan memberi manfaat untuk dunia,”, demikian papar Dudung yang juga Direktur LBH Hidayatullah dan Dosen STIH Dharma Andigha.

Acara yang berlangsung selama dua jam, dimulai pukul 13.30 dan berakhir pukul 15.50 berlangsung semarak dan interaktif. Warga Binaan yang menjadi peserta mengikuti dengan antusias hingga acara selesai.

Diantara mereka juga mengajukan pertanyaan seputar kasus yang mereka hadapi serta beberapa pengalaman yang mereka alami selama berhadapan dengan hukum.

Selesai acara, Kasi Binadik Lapas Paledang, Roni Darmawan, AmdIP, SH, yang juga mendampingi hingga acara selesai, berharap agar Kegiatan ini berlangsung rutin, karena sangat bermanfaat bagi Warga Binaan. Roni menyampaikan bahwa Pihak LP merasa terbantu dengan adanya kegiatan tersebut.(ybh/hio)

Belajar dari Perjuangan Arungi Hidup Masyarakat Suku Togutil, Marilah Syukuri Karunia Allah

ALHAMDULILLAH, hari Rabu kemaren telah lahir anak kami yang ketiga dengan selamat. Kami sekeluarga sangat bersyukur dan berterima kasih kepada semuanya yang ikut mendoakan kelancaran persalinan istri kami.

Namun, sampai saat ini, masih membayangkan bagaimana dengan orang suku Togutil pedalaman Halmahera yang ketika akan proses melahirkan anaknya berada di hutan. Ada rasa prihatin. Haru, sedih, kagum dan kadang menentaskan air mata ketika mengingat mereka akan melahirkan.

Lahir di hutan, tanpa dibantu dokter atau bidan. Tanpa alat bantu medis atau kedokteran. Gimana caranya? Zaman sekarang kok masih ada!

Dalam perjalanan beberapa kali ini ke hutan untuk pembinaan ke para mualaf pedalaman Halmahera, kadang kami dipertemukan dengan beberapa orang suku yang melahirkan anaknya di hutan baru satu hari pasca melahirkan.

Lahir sendiri. Tanpa bantuan dokter atau bidan. Tanpa peralatan medis atau kedokteran. Allahu Akbar!

Luar biasa, bayinya pun lahir normal. Entah makan apa dan bagaimana cara melahirkan, semuanya tentu dengan peralatan yang sederhana tradisional ala suku. Proses melahirkan berjalan lancar. Untuk alat potongnya pun masih menggunakan kulit bambu yang tajam.

Rumah mereka pun biasanya cuma beratap dedaunan dan tanpa dinding. Kalau hujan kehujanan. Kalo dingin kedinginan. Apalagi kalau malam kehujanan. Saat kita bermalam bersama mereka, kita pun basah bajunya sampai kering di badan.

Sedangkan untuk menandakan umur bayi, orang-orang suku Togutil ini biasanya menandai dengan ikut ditanamnya sebuah pohon. Besar dan tingginya pohon menunjukkan umur si bayi sampai dewasa. Maklum mereka belum mengenal hitungan tanggal kalender seperti kita.

Sebagian mereka kalau ditanya, “Bapak umur berapa tahun?” Mereka jawab, “Tunggu ya, nanti mau lihat orang tua saya tanam pohon.” Wah, serba salah jika tanya umur mereka ini. Terus, kira-kira mereka punya acara ulang tahun gak ya?

Semoga Allah memberikan Rahmat dan Hidayah-Nya untuk mereka dan memberikan kebaikan dan keberkahan untuk kita semua. Aamiin.

Insya Allah bulan Dzulhijjah ini kita akan mengadakan Qurban untuk mereka para mualaf dan masyarakat pedalaman Halmahera. Yuk ikutan. Barakallah fikum.


NURHADI, penulis adalah dai Hidayatullah yang bertugas membina masyarakat pedalaman Suku Togutil.

Hidayatullah Tawarkan “Sistem Integral”, Dukung Tercapainya Visi Pendidikan Nasional

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Bidang Tarbiyah DPP Hidayatullah, Ust Tasyrif Amin, M.Pd.I, mengatakan merosotnya moral dan lahirnya radikalisme bukan disebabkan pendidikan agama di sekolah. Karena itu dia menyesalkan adanya usul agar pendidikan agama tidak perlu diajarkan di sekolah karena dianggap memicu radikalisme .

“Penghapusan pendidikan agama di sekolah itu usulan destruktif. Justu kemerosotan moral terjadi karena masih kurangnya pendidikan agama termasuk belum maksimalnya pendidikan agama di sekolah,” kata Tasyrif Amin dalam perbincangan dengan media ini, Kamis (11/7/2019).

Namun, Tasyrif mengaku bisa memahami lahirnya usulan konyol yang salah alamat tersebut. Karena, dia menduga, boleh jadi hal itu lahir karena keterbatasan pemahaman terhadap tujuan pendidikan nasional sebagaimana tertuang dalam UUD 1945 yang mengamanatkan penyelenggaraan pendidikan yang melahirkan insan beriman, bertakwa serta berahlak mulia.

Dalam pada itu, dijelaskan Tasyrif, pendidikan agama memiliki muatan penting tentang toleransi, cinta Tanah Air, adab dan kasih sayang. Nilai-nilai kependidikan agama itulah yang menurut Tasyrif harus diakumulasi dalam satu sistem yang bernama pendidikan integral.

“Karena itu, Hidayatullah menawarkan sistem pendidikan Islam integral berbasis Tauhid. Pendidikan integral ini tidak saja dalam rangka mencerdaskan, melainkan juga merangsang kesadaran budi pekerti yang selaras dengan ajaran agama dan realitas kebangsaan kita,” kata Tasyrif.

Tasyrif menambahkan, penyelengaraan pendidikan sebagaimana yang diamanatkan UUD 1945 Pasal 31 ayat 5 yang menekankan pengarusutamaan nilai nilai agama dan persatuan bangsa, hanyalah bisa dicapai dengan pendidikan agama yang integral.

“Dalam Islam, tidak ada dikotomi antara satu ilmu dengan ilmu lainnya. Atau antara keilmuan Islam dan keilmuan umum lainnya. Harus integral, yang dalam penyelengaraan dan tujuannya adalah semata dalam rangka meningkatkan keimanan dan menjadi insan beradab,” katanya.

Tasyrif menerangkan bahwa konstitusi negara kita telah memberikan landasan berpikir, landasan filosofis, landasan struktural dan landasan operasional dalam penyelengaraannya bahwa tujuan pendidikan nasional adalah dalam rangka melahirkan insan beriman dan bertakwa.

Ditegaskan dia, melahirkan insan beriman dan bertakwa hanya bisa dengan menyelenggarakan pendidikan agama. Sebab itu, Tasyrif mendorong perlunya memahami landasan pendidikan nasional sebagaimana yang telah diamanatkan konstitusi.

“Dari landasan konstitusi itu akan dipahami bahwasanya pendidikan nasional itu tidak saja menyangkut orientasi dunia, tapi juga berorientasi akhirat,” katanya.

Dengan penerapan pendidikan yang integral, Tasyrif berharap visi pendidikan semakin kokoh guna melahirkan generasi bangsa yang cerdas, amanah dan berbudi pekerti luhur. (ybh/hio)

Bertugas Dakwah di Pangkep, Langsung Disuruh Khutbah Jumat di Masjid Bekas Kandang

PAREPARE (Hidayatullah.or.id) — Ketika membaca di Balikpapan kisah tentang kandang sapi yang diubah menjadi sarana ibadah yang viral itu, saya merasa biasa saja. Tapi begitu sampai di Pangkep, saya baru merasakan hal yang luar biasa.

Bayangkan! Sampai di kampus perintisan tersebut, saya langsung didorong jadi khatib Jumat. Hati saya membatin, adakah orang shalat Jumat di masjid kandang sapi ini. Tapi ternyata, Alhamdulillah, ada jamaah; 2 shaff bapak-bapak, dan 1 shaff ibu-ibu.

โ€œJadilah saya mahasiswa STIS pertama yang khutbah di kandang sapi,โ€ kata Samsul Bahri dikala didaulat naik mimbar di hadapan jamaah masjid Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Parepare, Rabu (10/7/2019) selepas Maghrib.

Samsul adalah satu dari belasan mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan yang sedang melakukan amanah dakwah atau Praktik Kerja Dakwah (PKD) atau umumnya disebut KKN, selama sebulan di Kabupaten Pangkep. Kawan lainnya disebar di berbagai daerah lain di Sulawesi Selatan.

Ditambahkan Samsul Bahri, ia dengan setengah berseloroh memohon agar Ketua DPD Hidayatullah Pangkep segera โ€œdiuruskanโ€ jodohnya.

“Kasian, ustadz. Saya membayangkan beratnya berjuang kalau sendiri. Tolong Ustsdz Karding itu diuruskan segera,” katanya sambil orang yang dimaksud seraya menutup laporan.

Samsul, demikian ia disapa, akan mengakhiri pengabdiannya dan segera kembali ke Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur. Ia dan yang lain berkumpul di Kampus Hidayatullah Parepare untuk selanjutnya berlayar ke Balikpapan.

Laporan Perjalanan
Kampus Madya Hidayatullah Parepare yang menjadi titik kumpul rombongan tersebut tidak menyiakan kesempatan. Apalagi pada malam hari itu juga ada Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Drs Mardhatillah.

“Ini kesempatan langka. Banyak mahasiswa STIS kumpul di Parepare. Kesempatan maghrib-isya ini, saya ingin mendengar laporan dari berbagai daerah tempat PKD,” sambut ustadz Mardhatillah selepas maghrib di atas mimbar.

“Saya ini ketua DPW. Adek-adek ini bertugas di wilayah kekuasaan saya. Makanya saya mau dengar laporan. Minimal kesan dan pesannya,” kata anggota Badan Pembina Yayasan Hidayatullah Parepare tersebut menambahkan.

Bisa jadi, lanjut dia, laporan yang saya dapat petugas di lapangan berbeda dengan laporan antum. “Makanya, saya mau dengar. Tolong ustadz Aziz atur mereka bergantian,” tutup perintis Pondok Pesantren Hidayatullah Maluku ini sambil menyerahkan waktu ke pengarah acara.

Dimoderatori langsung oleh alumni STIS Hidayatullah Abdul Aziz, secara bergantian mahasiswa peserta Praktik Kerja Dakwah (PKD) STIS Hidayatullah tersebut tampil di mimbar. Mulai dari perwakilan Belopa, kemudian Pangkep, dan ditutup oleh mahasiswa asal Seko, Luwu Utara yang mendapat amanah liburan 2 tahunan.

“Kita lanjutkan besok malam, insya Allah, sambil menunggu daerah lain merapat di Parepare,” tutup moderator. (ybh/hio)

Bangun SDM Unggul, STAIL Surabaya Jalin Kerjasama dengan RMUTK Thailand

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam Lukman Al Hakim (STAIL) Surabaya dan Rajamangala University of Technology Krungthep (RMUTK) melakukan penandatangan kerjasama di bidang pengembangan sumber daya manusia, Senin (9/7/2019).

Signing Ceremony Memorandum of Understanding & Agreement (MoU) ini digelar Kantor Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, Jalan Kejawan Putih Tambak VI No.1, Kecamatan Mulyorejo, Kota Surabaya, Jawa Timur.

Diantara bagian dari muatan kerjasama itu adalah bertujuan untuk mencapai kesepahaman dan promosi terkait beasiswa, student exchange, sharing academic informations and material.

Rajamangala University of Technology Krungthep International College sendiri merupakan salah satu perguruan tinggi ternama di Bangkok, Thailand.

Dengan jalinan kerjasama internasional ini, Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam Lukman Al Hakim yang merupakan salah satu amal usaha Hidayatullah dalam bidang pendidikan, semakin mengokohkan peran Hidayatullah untuk turut andil dalam menciptakan Sumber Daya Manusia yang unggul dan berkualitas. (ybh/hio)

Sempat Hilang Kontak Pasca Gempa, Peserta Diklat SAR Hidayatullah di Malut Selamat

0

SOFIFI (Hidayatullah.or.id) — Beberapa saat setelah gempa melanda Maluku Utara, Ahad (07/07/2019) malam, kantor SAR Hidayatullah di Jakarta sempat putus kontak dengan tim instruktur nasional SAR Hidayatullah yang sedang berada di salah satu bentang bukit di Sofifi Pulau Halmahera dalam rangka lanjutan Diklat.

Seketika informasi gempa dirilis BMKG, kantor SAR Hidayatullah Jakarta segera menghubungi nomor kontak masing-masing 3 instruktur yang sudah berada di Maluku sejak pembukaan diklat beberapa hari lalu. Tidak ada nomor yang aktif. Hingga dini hari.

Panggilan ke nomor ponsel mereka yaitu Irwan Harun, Murdianto dan Krisdiansyah, tak mendapatk respon. “Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif,” hanya suara operator Telkomsel yang menanggapi.

“Kami ingin memastikan kondisi mereka dan para peserta Diklat, karena Diklat mengambil lokasi yang tidak jauh dari laut,” kata Ahmad Maghfur, Sekretaris yang juga Kepala Pusat Penerangan Mitigasi dan Kebencanaan SAR Hidayatullah.

Barulah pada dini hari menjelang pagi, Kadiklat SAR Hidayatullah Irwan Harun menghubungi pusat dan menginformasikan kalau kondisi mereka baik-baik saja. Baik instruktur maupun peserta Diklat, selamat semua tanpa kurang satu apapun.

Sejak pagi sebelum terjadinya gempa yang terletak pada 135 kilometer barat daya Ternate, Maluku Utara dengan kedalaman mencapai 10 kilometer dan koordinat titik gempa berada di 0,5 Lintang Utara dan 12,18 Bujur Timur, instruktur dan puluhan peserta diklat sedang berada di Sofifi untuk melanjutkan Diklat untuk praktik navigasi darat.

Ini adalah kali kesekian gelaran kegiatan Diklat SAR Hidayatullah yang bertepatan terjadi musibah bencana alam. Sebelumnya, ketika gempa Yogya terjadi, SAR Hidayatullah sedang menggelar acara Diklat. Termasuk ketika terjadi gempa dan tsunami di Aceh 2004 lalu.

Komandan SAR Hidayatullah Abbas Usman dengan setengah berseloroh mengatakan, ini bertanda bahwa SAR Hidayatullah harus langsung terjun praktek secara realistik ke medan-medan bencana. Langsung praktikkan ilmu. Tanpa tunda-tunda.

“Ini peringatan buat relawan SAR Hidayatullah agar selalu siap dan siaga dalam setiap musibah bencana. Membantu masyarakat dengan setulus hati,” pungkas Abbas.

Seperti diketahui, Gempa bumi berkekuatan 7,1 skala richter mengguncang wilayah barat daya Ternate, Maluku Utara. Gempa terjadi pada pukul 22.08 WIB.

Episentrum gempa tersebut berada sekitar 135 kilometer barat daya Ternate dengan kedalaman 10 kilometer.

Atas gempa tersebut, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merilis peringatan dini tsunami di Sulawesi Utara dan Maluku Utara.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ternate memastikan tak ada kerusakan dan korban akibat gempa bermagnitudo 7 tersebut. Pada pagi hari pasca kejadian, warga telah pulang dari pengungsian.

Sehubungan peringatan tsunami yang sempat terbit seusai gempa terjadi, warga yang berada di kawasan pantai sempat mengungsi ke titik yang lebih tinggi dan jauh dari pantai. Sebagian mengungsi di rumah kerabat, ada pula yang mengungsi di kampus Universitas Khairun Ternate. (ybh/hio)