Beranda blog Halaman 510

Santri Ponpes Hidayatullah Bantu Evakuasi Korban Banjir Barru

0

BARRU (Hidayatullah.or.id) – Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Barru, Provinsi Sulawesi Selatan, sepekan ini mengakibatkan sejumlah wilayah terendam banjir. Dampaknya, banjir melanda sebagian besar kabupaten ini. Diperkirakan ribuan masyarakat terdampak termasuk pemukiman dan lahan pertanian warga.

Muhammad Arief, warga setempat mengatakan sudah hampir satu pekan hujan melanda kota Barru namun baru kali ini hujan terhitung mulai malam hari sampai menjelang sore tidak berhenti.

“Banjir melanda hampir seluruh wilayah kota Barru,” kata Arief dalam obrolan dengan Hidayatullah.or.id di kediadamannya, Jumat (28/12/18).

Dia menambahkan, dan daerah yang terparah adalah wilayah Takkalasi yang jumlah KK sekitar 400 lebih jiwa dan sampai saat ini baru sekitar 200-an jiwa yang baru bisa di evakuasi.

“Untuk sementara pengungsian di dipusatkan di Islamic Centre Kota Barru dan sebagian besar masih berada tak jauh dari tempat tinggal mereka dan rencananya akan di mobilisasi secara besar-besaran,” tambahnya.

Muhammad Arief yang merupakan Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Kabupaten Barru ini langsung ajak santrinya untuk turun membantu memberikan pertolongan.

“Santri Hidayatullah Barru bekerja sama dengan tim evakuasi lainnya menyisir rumah warga di wilayah kota yang terisolasi banjir untuk memberikan pertolongan,” pungkasnya.*/Andi Alfian Milyardo Salassa

BERITA FOTO: Rakerwil IV Hidayatullah Sulawesi Selatan

0

LUWU TIMUR (Hidayatullah.or.id) – Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan, menyelenggarakan Rapat Kerja Wilayah (RAKERWIL) IV yang pembukaannya dipusatkan di pondok Pesantren Hidayatullah Kec. Towuti, Luwu Timur.

Pembukaan Rakerwil IV Hidayatullah Sulawesi selatan dihadiri dan dibuka oleh Bupati Luwu Timur yang diwakili oleh Staf Ahli Hukum dan Pemerintahan Drs. Budiman, M.Pd.

“Pemerintah Luwu Timur sangat mengapresiasi setiap program yang dilaksanakan oleh Hidayatullah. Salah satu bentuk apresiasi pemerintah adalah bahwa pemerintah selalu siap ikut serta mewujudkan setiap program hidayatullah, baik terkait dengan pendanaan maupun sinergi lainnya yang dibutuhkan,” imbuhnya.

Acara yang dihadiri oleh segenap pejabat struktural DPW, DPD, Badan dan Amal Usaha tingkat wilayah, dan  Organisasi Pendukung tingkat wilayah Hidayatullah se-Sulawesi Selatan, dirangkai dengan Tabligh Akbar yang disampaikan langsung oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. Nashirul Haq, Lc., M.A.

Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Drs. Mardhatillah, dalam sambutannya menyampaikan bahwa usaha dalam menguatkan mainstream dakwah dan tarbiyah sebagai bentuk kerja nyata membangun dan mewujudkan Sulawesi Selatan martabat harus terus diupayakan.

Hal tersebut dikuatkan kembali oleh Kepala Bidang (Kabid) Tarbiyah dan Pengkaderan DPP Hidayatullah, Drs. Tasmin Latif, M.Pd. di sela-sela sambutannya pada acara tersebut. Rakerwil IV Hidayatullah Sulsel berlangsung selama 3 hari (21-23/12/2018), bertempat di Gedung Serba Guna Soroako, Luwu Timur.*/Andi Alfian Milyardo Salassa

Kepemimpinan Efektif Luaskan Khidmat Dakwah Hidayatullah

0

MAMUJU (Hidayatullah.or.id) – Dengan kesibukan dan profesi semua kader yang berbeda-beda lantas tetap bisa hadir pada setiap ada kegiatan-kegiatan kelembagaan itu adalah indikasi kepemimpinan yang berjalan efektif. Kepemimpinan efektif ini kemudian mendukung dalam rangka meluaskan khidmat dakwah Hidayatullah di nusantara.

Hal itulah yang mudah dilakukan kader ketika kepemimpinan yang memanggil. Dan, rupanya inilah yang membuat Hidayatullah ini terus berkembang, karena ketaatan sering melampaui kompetensi kader itu sendiri.

Demikianlah dikemukakan Ketua Bidang Tarbiyah DPP Hidayatullah Drs. Tasmin Latif saat memberikan wejangan di hadapan seluruh kader Hidayatullah Sulawesi Barat saat melaksanakan Halaqah Kubro yang diadakan empat bulan sekali itu di Kampus II Hidayatullah Salutalawar, Kabupaten Mamuju, Sulbar, baru baru ini.

Ustadz Tasyrif, sapaan familiar calon anggota DPD RI asal Provinsi Sulawesi Selatan (non-partai/independen) ini juga menegaskan agar selalu meniru semangat para pendahulu Hidayatullah dalam menjalankan tugas dengan kemampuan seadanya tapi mampu berkhidmat untuk bangsa sebagai penyuluh agama dengan membuka kanal dakwah hingga jauh ke pedalaman Papua.

“Bahkan ketika kader diminta laporan saat kembali ke Kampus Pusat Hidayatullah di Gunung Tembak, mereka selalu mengatakan keberhasilannya lantaran didoakan oleh jamaah dan mendapat pertologan Allah Taala,” katanya.

Peserta halaqah serius menyimak wejangannya yang penuh semangat. Tasyrif juga menegaskan kiranya kader Hidayatullah selalu mengedepankan ibadah-ibadah nawafil. Menurutnya penerapan ibadah-ibadah yang lain kian dimudahkan kalau gerakan nawafil lembaga dijalankan dengan baik.

Kader menurutnya, harus ikhlas dalam artian fokus dalam menjalankan amanahnya. Tidak tergoda dengan embel-embel atau predikat semu yang sering mengalihkan tujuan.

Dimisalkan, dalam mengelola sekolah mencari murid yang banyak itu perlu. Namun, tegas dia, meningkatkan kualitas pembelajaran agar jadi penyelesaian masalah itu juga lebih penting. “Karenanya jumlah yang banyak kalau tidak bisa menyelesaikan masalah adalah musibah,” pesannya.

Kampus Hidayatullah Salutalawar sebagai tuan rumah tak urung ia sarankan agar menjadi pusat pendidikan berbasis boarding, meski kondisi yang sekarang sudah mengalami kemajuan dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Saya suka melihat perkebangan di Kampus Salutalawar ini, ini sebagai sarana merawat kultur berjamaah dan menyelematkan sistem yang terpola ini,” ujarnya.

Kampus dengan luas sekira 3 hektar yang berjarak 19 kilometer dari kota Mamuju itu memiliki panorama menghadap ke lautan. Dan saat ini sedang berjalan kegiatan pendidikan penghafal quran sebanyak 38 santri putra. Sehingga menjadi fokus program pada tahun 2019 untuk pengembangan tahifidz unggulan di Sulawesi Barat.*/Muhammad Bashori

Ajakan dari Mentawai, Mengisi Tahun Baru dengan Muhasabah

0

MENTAWAI (Hidayatullah.or.id) – Sebentar lagi masyarakat dunia akan memasuki tahun baru 2019 masehi. Pergantian tahun baru masehi kerap diisi dengan berbagai kegiatan. Namun tak sedikit yang mengarah kepada hal negatif seperti perayaan malam tahun baru yang seringkali mubazir dengan menelan anggaran yang tak sedikit.

Berangkat dari realita yang cukup memprihatinkan tersebut, pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Kepulauan Mentawai, Ust Muhammad Mahrus Salam, mengajak masyarakat agar bersama mengisi tahun baru dengan muhasabah.

Muhasabah dimaknai sebagai upaya evaluasi diri terhadap kebaikan dan keburukan untuk suatu resolusi positif di masa mendatang baik kehidupan dunia maupun akhirat. Muhasabah secara etimologis berarti melakukan perhitungan atau introspeksi diri.

“Tak lama lagi tahun 2018 akan berakhir dan tahunpun akan berganti. Oleh karenanya untuk menjauhkan diri dari kesia-sian maka cukuplah dengan berdiam diri di rumah atau di masjid sambil bermuhasabah, dzikir atau kegiatan yang bermanfaat lainnya,” pesan Ust Mahrus saat menjadi penceramah di Polres Mentawai, Sumatera Barat, beberapa waktu lalu.

Acara yang juga dihadiri oleh Kapolres Mentawai, AKBP Hendri Yahya ini juga turut dibersamai oleh santri-santriwati dari Pondok Pesantren Hidayatullah Mentawai. Mahrus dalam taushiahnya mengingatkan pentingnya muhasabah untuk bagaimana membentengi umat melalui tarbiyah dan dakwah.

Senada dengan itu, anggota Dewan Mudzakarah DPP Hidayatullah Sholeh Hasyim dalam keterangannya diterima redaksi mengatakan bahwa setiap tugas dakwah harus dimaknai sebagai gerakan promosi, ekspansi (pengembangan medan dakwah), dan reaktualisasi, serta media untuk terus berinstrospeksi diri (muhasabah) untuk menata ulang dan mengalihkan peran kita pada bidang yang berbeda.

“Jangan dimaknai di luar kerangka di atas. Jika kita memiliki gambaran mental yang negatif, kita kehilangan kreatifitas atau inovasi untuk berkarya. Pada hakikatnya, setiap tugas yang dipikul di pundak kita adalah ikhtiar untuk melakukan penataan ulang dan mematangkan struktur kepribadian kita,” kata Sholeh.

Dalam relung waktu itulah Allah menurunkan titah-Nya untuk berpacu dan berlomba dalam medan kehidupan (as-sibaq), karena, kata Sholeh, hidup ini adalah jalan panjang yang harus kita lalui menuju terminal akhir.

Tidak ada satupun peserta kehidupan ini mendapat bocoran kapan dan dimana ia harus berhenti. Kapan dan dimana ia mengakhiri kehidupan ini. Inilah bagian dari tarbiyah Allah agar kita memiliki persiapan/perencanaan sejak awal. Sebab tempat pemberhentian pertama adalah masa akhir beramal (ajal).

“SK ajal kita sejatinya adalah akhir masa karya kita. Tidak ada istilah masa pensiun dalam perjuangan. Maka, imperalis yang menjajah sebuah negeri, ia mengkondisikan pemudanya menganggur, tidak ada aktualisasi dan potensialisasi diri,” ujarnya.

Sholeh punya istilah menarik dalam fonem Jawa. Ketika fisik kita masih kuat, terang dia, tugas kita adalah terus berjuang dalam arti khusus yakni berjihad di jalan Allah (silat). Ketika tidak bisa lagi berjihad, kita beralih ke peran berikutnya yaitu sebagai murabbi (silo), sebagai pemberdayaan potensi ijtihad. Ketika kita tidak memiliki cadangan kekuatan untuk silat dan silo, kita melakukan peran berikutnya, yakni menjadi ahlul mihrab, ahlur ruku, ahlus sujud (silem).

“Menguatkan potensi mujahadah dan riyadhah. Jadi, pemberdayaan fisik, akal, dan ruhani harus berjalan secara simultan dan stimulan,” ujarnya.

Itulah sebabnya, lanjutnya, antara al mubtadi (senior) dan al muqtadi (yunior) merupakan satu kesatuan yang tidak mungkin dipisah-pisahkan. Dalam lintasan sejarah Islam, pungkas Sholeh, perjuangan akan mencapai kemenangan selalu ditemukan rahasianya, diantaranya perpaduan dua potensi antara kearifan senior (al mubtadi) dan semangat yunior (al muqtadi). (ybh/hio)

BMH Adakan Kisah dan Muhasabah Bersama 3000 Anak Shalih

0

SEMARANG (Hidayatullah.or.id) – Banyaknya ‘peringatan’ yang Allah hadirkan sebagai pengingat bahwa manusia itu harus selalu mawas diri.

Rentetan peringatan ini bagi orang yang berpikir,  tentu akan berusaha mencari jawaban dengan keimanan.  Mereka tidak akan terus latah mengatakan “oh itu gejala alam biasa.”

Berangkat dari hal diatas,  tahun ini BMH mengajak, Khususnya adik-adik TPQ se Kota Semarang untuk bersama introspeksi diri.

“Event ini, BMH hadirkan sebagai bentuk kepedulian kepada bangsa, khususnya anak-anak TPQ yang akan melanjutkan estafet perjuangan memajukan Indonesia yang lebih maju,  baik dan yang lebih penting adalah negara ini mendapat ridho dari Allah SWT,” urai Imam Al Maduri,  Amil BMH Perwakilan Jateng.

Lebih lanjut, Kak Rubi selaku pengisi dongeng dan muhasabah pada kesempatan pagi & siang tadi selalu mengingatkan kepada adik-adik untuk terus berbakti kepada Allah, Rasul dan Ibu-bapak.

“Adik-adik harus punya sikap selalu berbuat baik. Teruslah mengabdi kepada Allah, Rasul, Orang Tua dan guru-guru, Baik di TPQ atau di Sekolah,” cerita Kakak Rubi seraya memotivasi.

Kegiatan Kisah dan Muhasabah, pada hari ini digelar di dua tempat yakni masjid Al Hikmah Tanah Emas dan Masjid Al Ikhlas Dr. Cipto,  Kota Semarang, Selasa (25/12/18).

“Terimakasih BMH, selama liburan dirumah banyak main aja.  Hari ini saya dapat ilmu, senang juga pulang bawa oleh-oleh.” Cerita Fajar sesaat akan pulang kerumah.

Terakhir,  BMH mengucapkan beribu terimakasih kepada para takmir masjid, panitia, dan kawan-kawan Forsi Tanah Emas yang sudah mempersiapkan segala sesuatunya. BMH belum mampu membalas dengan yang setimpal apalagi lebih baik. Hanya kami selalu semoga Allah membalas yang lebih sempurna.*/Yusran Yauma

Rakerwil IV Hidayatullah Sulsel, Kuatkan Dakwah dan Tarbiyah

0

SOROAKO (Hidayatullah.or.id) – Sejalan dengan spirit Silaturrahim Nasional Hidayatullah yang digelar November lalu, Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Sulawesi Selatan diantaranya akan membahas mainstream gerakan yakni dakwah dan tarbiyah dalam rangka meneguhkan khidmat Hidayatullah untuk Sulawesi Selatan yang bermartabat.

Setalian dengan itu, Wakil Bupati Luwu Timur (Lutim) Irwan Bachri Syam menyambut baik agenda tersebut dan menyatakan kesiapannya untuk membuka Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah Sulawesi Selatan yang akan digelar di Kabupaten Soroako, Luwu Timur, 21-23 Desember 2018.

‘’ Wabup selaku tuan rumah menyatakan kesiapannya untuk menghadiri sekaligus membuka Rakerwil,“ demikian yang disampaikan Ketua DPD Hidayatullah Luwu Timur Najamuddin saat bersilaturahim di Rujab Wabup Irwan di Malili, beberapa waktu lalu.

Helatan Rakerwil Hidayatullah Sulsel sendiri rencananya akan digelar di Gedung Serbaguna Kabupaten Soroako. Wabup Irwan juga menyatakan sebagai tuan rumah apalagi kegiatan dirangkai dengan acara tabligh akbar, pihaknya akan menanggung pembiayaan acara tersebut.

Rakerwil Hidayatullah Sulawesi Selatan ini mengusung  tema “Menguatkan Mainstream Dakwah & Tarbiyah dalam membangun Sulawesi Selatan Bermartabat”.

Selama tiga hari dilaksanakan Rakerwil Hidayatullah Sulsel peserta yang  akan hadir yakni dari Pengurus harian DPD Hidayatullah se-Sulawesi Selatan dan Amal/Badan Usaha Tingkat Wilayah.

‘’Bapak Bupati sangat menyambut baik, beliau ingin sekali hadir . Tapi, ternyata ditanggal yang sama harus perjalanan dinas ke Jakarta,’’ungkap Najamuddin.

Sementara itu, Ketua Forum Komunikasi Ummat Beragama (FKUB) H. ArdiasBarah menyampaikan sambutannya disela-sela rapat kerja FKUB.’’Alhamdulillah tempat kita ini, akan ada acara Hidayatullah tingkat wilayah semoga berjalan dengan lancar”.

Di kesempatan yang sama, Ketua DPRD Luwu Timur Amran Syam juga memberi dukungan dan apresiasi penghargaan yang setinggi-tingginya kepada pengurus Yayasan Hidayatullah Kabupaten LuwuTimur.

‘’Selamat dan sukses atas penyelenggaraan Rakerwil  Hidayatullah Sulsel. Selamat datang segenap peserta Rakerwil Hidayatullah 2018, dan selamat berkonsolidasi koordinasi maju terus untuk keselamatan umat sukses bersama,’’ tutup Amran Syam.*/Andi Alfian Milyardo Salassa

Multidimensi Dakwah tak Hanya Ceramah, Doa Janganlah Lupa

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Kebanyakan kaum Muslimin sadar akan pentingnya dakwah di tengah umat. Tapi tidak setiap Muslim paham tentang metode dan hakikat dakwah Islam. Akibatnya tak jarang terjadi salah kaprah soal dakwah yang menjadikan tujuan dakwah belum maksimal tercapai.

Permasalahan dakwah di atas menjadi satu tema dialog dalam acara “Dialog Peradaban Berbasis Gerakan Nawafil” yang diadakan di Hall Utama Masjid Agung Ar-Riyadh, Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kaltim, baru-baru ini.

Sebagai contoh, dakwah dipandang sebatas bicara depan mimbar atau podium masjid saja. Sebagian lagi memahami, dakwah itu jika ada acara seremoni perayaan kegiatan agama, misalnya.

“Demikian itu perlu diluruskan di tengah masyarakat. Sebab cakupan dakwah itu luas. Bahkan seluruh hidup Rasulullah adalah bernilai dakwah bagi umatnya,” ucap Ustadz Abdul Qadir Abdullah, seorang penggiat dakwah yang jadi satu narasumber dialog tersebut.

Menurut Abdul Qadir, dengan pemahaman dakwah yang benar akan mengantar setiap Muslim menjadi dai melalui setiap perbuatannya (dakwah bil hal).

“Jadi dai itu tinggal menyampaikan apa yang dikerjakan sebelumnya dan mengingatkan apa yang lebih dulu sudah dijauhinya,” paparnya mengungkap rahasia sukses dakwah.

Selain teladan, masih kata Abdul Qadir, rumus sukses dakwah berikutnya adalah doa. Hal itu disebut pilar utama dakwah yang tidak boleh dilupakan seorang dai.

“Doa itu utama, bukan sampingan atau sambilan. Sebab pemilik hati dan hidayah hanya Allah, bukan manusia,” terang ustadz yang punya pengalaman dakwah hingga daerah minoritas Manado dan Ternate tersebut.

Masih di acara yang sama, Ustadz Manandring Abdul Gani, penggiat dakwah lainnya juga berbagi tips sukses dakwah kepada peserta Dialog Peradaban.

Selain poin di atas, penting bagi seorang dai, menurut Manandring, memperhatikan budaya silaturahim dan berinteraksi langsung ke tengah masyarakat.

“Ada banyak kisah dakwah Nabi Muhammad yang justru lebih menggores dan mengubah manusia dengan dakwah silaturahim tersebut,” pungkasnya.

Diketahui, Dialog Peradaban tersebut menghadirkan beberapa narasumber dari kalangan kader senior Hidayatullah, sejak era perintisan 1970-an. Para narasumber secara bergiliran lalu berbagi pengalaman dakwah dan spritual lainnya.*/Daeng Situju

Pernyataan Sikap Hidayatullah tentang Kekerasan Terhadap Muslim Uighur

0

Pernyataan Sikap
Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah

Bismillahi Rahmani Rahim.

Alhamdulillah, washalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du

Peristiwa penahanan sekitar satu juta Muslim Uighur di kamp-kamp interniran di Daerah Otonomi Uighur, Propinsi Xinjiang, menorehkan luka mendalam di tubuh kaum Muslim di seluruh dunia. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa kaum Muslim, di mana pun berada, bagaikan satu tubuh. Jika yang satu sakit maka yang lain ikut merasakan sakit (Riwayat Muslim).

Terlebih lagi, sejumlah media di dalam dan di luar negeri mengabarkan dugaan kuat adanya penyiksaan di kamp-kamp penahanan tersebut. Jika ini benar maka Pemerintah China bertanggung jawab atas tragedi tersebut. Apa pun dalihnya, ini tak dibenarkan.

Sehubungan dengan itu maka kami, Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, menyampaikan rasa keprihatinan yang mendalam atas tragedi kemanusiaan tersebut. Kami mendesak kepada pemerintah Indonesia agar segera melakukan upaya-upaya diplomatik kepada pemerintah China agar tragedi tersebut segera dihentikan.

Kepada kaum Muslim di mana pun berada, kami menyerukan agar ikut memberikan kepedulian atas tragedi ini, baik dengan cara turut mendesak berbagai pihak yang memiliki kewenangan langsung atau tidak langsung untuk menghentikan tragedi ini, maupun lewat aksi penggalangan bantuan untuk meringankan beban penderitaan saudara kita di Uighur.

Hidayatullah sendiri, melalui Baitul Mal Hidayatullah, telah melakukan penggalangan dana untuk disalurkan kepada kaum Muslim yang terzalimi di Propinsi Xinjiang tersebut. Selain itu, Hidayatullah akan terus mengikuti secara seksama peristiwa ini dan akan ikut serta bersama berbagai kompenen bangsa untuk menyuarakan desakan agar tragedi kemanusiaan ini segera diakhiri.

Terakahir, mari kita doakan saudara kita kaum Muslim di Uighur agar segera terlepas dari kezaliman ini. Kita doakan pula agar mereka tetap istiqomah dalam Islam, dan semoga Allah Ta’ala angkat derajat mereka yang mampu bersabar dalam menghadapi cobaan berat ini. Aamiin.

Demikian pernyataan sikap ini kami buat

Jakarta, 20 Desember 2018

Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah

Dr. Nashirul Haq
Ketua Umum

Ustadz Mustaqim Dalang Terus Berdakwah Sampai Mati

0

KUPANG (Hidayatullah.or.id) – Gaya bicaranya kalem. Sorot matanya tajam. Namun kala berbincang dengannya, pandangan matanya lebih sering ke bawah. Perangainya ramah dan santun. Kini, dai tangguh yang selalu penuh semangat ini telah kembali ke kharibaan Ilahi.

Dai pedalaman yang juga mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, Ustadz Mustaqim Dalang meninggal dunia pada Senin (17/12/2018) dinihari.

Mustaqim wafat di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), semasa mengabdikan dirinya sebagai dai di Pesantren Hidayatullah Kupang.

“Innalillahi wa Inna ilahi rajiun. Hidayatullah Kupang NTT berduka. Tepat pada pukul 01.20 WITA di Rumah Sakit Wirasakti Kota Kupang, telah berpulang ke Rahmatullah, Pembina Pondok Pesantren Hidayatullah Kupang, kader terbaik Hidayatullah, Ustadz Mustaqim Dalang,” ujar Usman Aidil Wandan dai di Kupang kepada hidayatullah.com, Senin (17/12/2018).

Mustaqim sebelumnya memang sudah diuji sakit dan dirawat di RS tersebut.

“Kata dokter riwayat penyakit yang diderita menurut tim medis penyakit jantung. Sudah beberapa tahun ini beliau mengidap penyakit tersebut,” ungkapnya.

Usman mengaku dua hari yang lalu sempat membesuk sang ustadz. “Terlihat raut wajahnya sehat namun, beliau menahan rasa sakitnya sejak dua tahun terakhir yaitu riwayat penyakit jantung,” ungkapnya.

Ia menuturkan, kiprah dakwah sang ustadz dimulai dari Pesantren Hidayatullah Pusat di Balikpapan, Kalimantan Timur. Mendidik dan mengajarkan agama kepada generasi sebagai panggilan jiwa.

“Hingga menjalankan tugas mulia pada tahun 1997 mulai dari Balikpapan ke Dumai, Banda Aceh, sampai Pulau Mentawai,” ujarnya.

Mustaqim lama mengabdikan diri di Pesantren Hidayatullah di Desa Sipora Jaya, Kecamatan Sipora, Kabupaten Mentawai, Sumatera Barat dan beberapa tahun menjadi Ketua MUI setempat.

“Dua tahun terakhir beliau ditugaskan oleh Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah menjalankan tugas pengabdian di Hidayatullah Kupang, NTT. Sebagai pembina pesantren. Petuah dan nasihat beliau selalu menjadi penguat dalam gerak langkah perjalanan Hidayatullah Kupang,” tuturnya.

Mustaqim lahir di Alor pada 6 September 1969. Ia berpulang meninggalkan istrinya, Inayah, dan 8 orang anak.

Mustaqim turut hadir pada Silaturahim Nasional bersama puluhan ribu dai di Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur yang digelar pada 20-25 November lalu.

“Serasa tak percaya akan kepergian beliau. Mungkin Allah Subhanahu Wata’la lebih sayang kepada beliau. Semoga Allah Subhanahu Wata’la memaafkan kesalahan beliau, melapangkan alam kuburnya, dan memberikan tempat terindah kepada beliau dengan balasan syurga Jannatul Firdaus. Aamiin,” pungkas Usman.

Mustaqim dikenal di kalangan Hidayatullah sebagai kader dai yang tak pernah menolak tugas dakwah. Termasuk ketiga ia ditugaskan ke Pulau Mentawai yang belum sekalipun pernah diketahui letaknya. Ia melanjutkan langkah perintisan yang dilakukan Ustadz Afifuddin Bakri yang telah lebih dulu bertugas di sana.

Selain itu, ia juga dikenal sangat gemar bersilaturrahim bahkan tradisi ini ia jaga betul dan selalu dipesankan kepada murid-muridnya. Seperti pada momentum Silatnas Hidayatullah November lalu, Mustaqim berpesan agar kesempatan tersebut dimanfaatkan oleh kader dai untuk mendapatkan keberkahan silaturrahim.

“Pandai pandailah mencari waktu karena untuk bersilaturrahim dengan bapak-bapak assaabiquunal awwalun (kader senior; perintis) itu memerlukan waktu khusus. Biasanya pada waktu makan. Jadi kita semua harus memfokuskan waktu kita untuk bersilaturrahim dengan beliau-beliau. Banyak sekali ustadz-ustadz kita, kalau dihitung satu-satu tidak habis barangkali. Beliau beliau semuanya merupakan pejuang-perjuang pergerakan Hidayatullah. Saya berharap kita bisa meluangkan waktu bisa bersilaturrahim dengan beliau beliau. Insya Allah kita mendapatkan pelajaran yang sangat berharga,” pesannya seperti yang kami sadur dari sebuah rekaman ceramahnya.

=========

Pelita di Tengah Kesunyian

Masjid itu terbilang megah. Suasananya pun semarak. Saban hari terdengar suara merdu puluhan anak yang mengaji, ceramah, dan shalat berjamaah. Tiap sepertiga malam terakhir, masjid itu diramaikan oleh jamaah yang khusyuk mendirikan shalat lail (malam). Seringkali shalat sunnah ini dilaksanakan secara berjamaah, sebagai sarana pembelajaran terutama bagi anak-anak.

Padahal, masjid itu terletak di kawasan terpencil. Tepatnya di Pesantren Hidayatullah di Desa Sipora Jaya, Kecamatan Sipora, Kabupaten Mentawai, Sumatera Barat. Lokasi ini berada di Samudera Indonesia, sekitar 90 mil di sebelah barat Pulau Sumatera.
Pesantren Hidayatullah menempati areal seluas 11 hektare. Selain masjid, ada beberapa bangunan asrama santri, sekolah, gudang, dan rumah para ustadz. Ini adalah satu-satunya pesantren di Kabupaten Mentawai.

Pesantren Hidayatullah Mentawai baru berdiri pada tahun 1996. Perintisnya bernama Ustadz Afifuddin Bakri. Saat itu, Bakri ditugaskan oleh ormas untuk memimpin Pesantren Hidayatullah Dumai, Riau.

Sungguh bukan pekerjaan mudah merintis pesantren di kawasan terpencil dan mayoritas penduduknya non-Muslim seperti Mentawai. Perlu bekal “nyali” yang tinggi. Ganasnya alam akan langsung membentang di depan mata.

Untuk menuju ke kompleks pesantren, dari Pelabuhan Teluk Bayur (Padang) harus naik kapal kayu dan makan waktu sekitar 10 jam. Perjalanan yang sangat melelahkan. Penumpang kapal akan diombang-ambingkan ombak samudera yang bergulung-gulung bak tsunami.

Bagi yang tak terbiasa, akan terasa sulit untuk berdiri di atas kapal, saking kerasnya goncangan. Perut pun akan terasa mual dan kemudian muntah-muntah. Setelah sampai di Pelabuhan Tuapejat, Sipora, perjalanan masih harus dilanjutkan dengan menempuh jarak 9 kilometer. Sampai dua tahun lalu, jalan sepanjang itu hanyalah jalan tanah. Sejak Mentawai diresmikan menjadi kabupaten dua tahun lalu, jalan itu sudah diperkeras dengan batu.

Lokasi yang terpencil kadangkali menyulitkan para ustadz dalam memenuhi kebutuhan hidup santri. Dalam hal logistik, misalnya, selama ini banyak dipasok dari Padang. “Kami tak mungkin mencari donatur di sekitar pesantren, sebab warga di sini justru harus lebih banyak disantuni,” kata Ustadz Mustaqim Dalang, Pimpinan Pesantren Hidayatullah Mentawai.

Tiap tanggal 1-10, Mustaqim biasanya berkelana di Padang mencari dana untuk kebutuhan santri. Pesantren Hidayatullah punya sekretariat di daerah Nanggalo, Padang. Dua puluh hari berikutnya, barulah ia bisa intensif mendampingi para santri belajar mengaji, ceramah, sampai bercocok tanam.

Tak jarang, Mustaqim dilanda kepanikan. Saat cuaca buruk atau kapal sedang diperbaiki, lalu lintas Padang-Mentawai menjadi tersendat. Kalau sudah begini, ia akan kesulitan menyapa binaannya di pesantren dan sekitarnya, atau malah terkurung di Mentawai dan terancam kelaparan.

Pesantren yang dipimpinnya pernah kehabisan stok beras selama setengah bulan. Para santri terpaksa makan singkong dan pisang yang bertumbuhan di areal pesantren. Problem sosial kemasyarakatan juga menjadi tantangan tersendiri. Mayoritas warganya beragama non-Muslim.

Beruntung Pesantren Hidayatullah dipimpin oleh Mustaqim, pria asal Flores yang penampilannya khas Indonesia timur: kulit hitam dan rambut keriting. Langkah dakwahnya menjadi relatif mudah. “Pada awalnya, para misionaris mengira saya juga seperti mereka,” ujar Mustaqim sambil tertawa.

Pernah suatu ketika ia berjumpa seorang misionaris di kapal. “Bapak pelayan Tuhan juga ya?” tanya dia. Mustaqim mengangguk mantap, “Iya.” Hatinya tertawa kecil.

Mustaqim adalah alumnus Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan. Sejak tahun 1997, ia ditugaskan ke Mentawai. Pasalnya, ayah tiga anak ini dikenal ahli menangani anak-anak “bermasalah”.
Maklum, anak-anak terasing seperti di Mentawai memang terbiasa hidup bebas, tanpa aturan dan pranata sosial yang baku. Perlu keahlian khusus untuk membinanya.

Namun Mustaqim sering terhibur dengan tingkah polah santrinya yang polos. Pernah suatu ketika anak-anak diajak wisata ke Padang. Ketika melihat deretan mobil yang parkir di sebuah mal, spontan anak-anak nyeletuk, “Orang jual mobil kok banyak amat ya!” Lain waktu, ada santri yang diajak mengambil uang di ATM. Si santri langsung cerita ke teman-temannya, “Eh, Ustadz punya kertas ajaib lho! Dimasukkan ke kotak langsung berubah jadi uang!”

Saat ini Pesantren Hidayatullah membina 50 santri asli Mentawai. Sebagian besar merupakan anak yatim dan dhuafa. Mereka rata-rata berusia SD-SMP. Setelah lulus, biasanya akan dibawa ke Padang atau kota lain.

“Hidayatullah bekerjasama dengan beberapa lembaga sosial dan pendidikan, agar mereka bisa terus melanjutkan sekolah. Harus begitu, sebab mereka adalah anak-anak tak mampu,” kata Mustaqim yang kini menjabat Ketua MUI Kabupaten Mentawai.

Pekik Takbir di Sela Gempa

Tanggal 10 April 2005 lalu, Kepulauan Mentawai diguncang gempa hebat. Menurut para ahli, ini merupakan rangkaian dari gempa yang sebelumnya mengguncang Aceh dan Nias. Musibah besar di Aceh rupanya cukup menciutkan nyali warga Sipora. Mereka panik luar biasa, terutama yang tinggal di kawasan pantai. Terbayang sudah, tsunami akan segera menggulung perkampungan mereka.

Warga berlarian ke tempat-tempat yang tinggi, termasuk menuju ke masjid Pesantren Hidayatullah. Jumlahnya ratusan orang. Pesantren ini memang terletak di bagian yang paling tinggi di pulau Sipora sehingga menjadi tujuan utama para pengungsi.

Sebagian besar pengungsi adalah warga non-Muslim. Meski demikian, segenap penghuni pesantren menerima kedatangannya dengan tangan terbuka. Para santri menyambutnya dengan ramah, menyediakan tikar dan karpet yang dibentangkan sampai halaman masjid. Bagi yang tidak kebagian, dapat jatah hamparan karung goni dan pelepah pisang.

Gempa susulan berulang kali terjadi. Mustaqim segera memberi komando agar para santri memekikkan takbir. Pengungsi yang beragama Islam pun menyambutnya dengan pekikan serupa. Tiba-tiba ada seorang pengungsi non-Muslim yang mendatangi Mustaqim. Raut mukanya tampak cemas. “Bapa, kami harus baca apa? Tolong selamatkan kami pula,” katanya.

Kening Mustaqim berkerut, agak merasa kerepotan untuk menjawabnya. Dalam situasi yang hiruk pikuk itu, ia spontan berujar, “Ikuti saja apa yang dikatakan para santri.” Jadilah, tiap ada getaran gempa, di kompleks Pesantren Hidayatullah Mentawai saat itu akan langsung terdengar pekik takbir bersahut-sahutan. Kalimat suci itu meluncur dari bibir para pengungsi, baik Muslim maupun non-Muslim. Allahu akbar!. (Republika, Mei 2005)

Kebun Gizi Hidroponik Kampus Ponpes Hidayatullah Depok

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) – Direktur Umum dan Human Capital PT Kimia Farma (Persero) Tbk Arief Pramuhanto beserta jajaran dan didampingi Direktur Utama Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (LAZNAS BMH) Marwan Mujahidin melakukan peresmian sekaligus panen perdana Kebun Gizi Hidroponik di Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Senin (17/12).

Kebun Gizi Hidroponik ini merupakan program Corporate Social Responsibility (CSR) Kimia Farma yang memanfaatkan potensi lembaga pendidikan pesantren demi mendukung pengembangan kemandirian ekonomi.

Pembangunan sumber daya manusia yang lebih baik ke depan terus diupayakan oleh Laznas BMH, yang kini disupport secara penuh oleh Kimia Farma melalui Program CSR Pemberdayaan Santri.

Arief Pramuhanto dalam kesempatan itu mengatakan bahwa program ini merupakan bagian dari tanggungjawab Kimia Farma dalam upaya ikut serta melahirkan sumber daya manusia yang lebih baik di bidang entrepreneurship.

“Kerjasama Kimia Farma dengan Laznas BMH, dimana Kimia Farma memberikan bantuan pembangunan Kebun Gizi Hidroponik senilai Rp. 267.000.000,- (Dua Ratus Enam Puluh Tujuh Juta) dan BMH yang berperan memberikan pendampingan, mengawasi dan memastikan program atau kegiatan kerjasama berjalan lebih efektif dan efisien adalah dalam rangka sinergi bersama mendorong lahirnya generasi milenial di kalangan santri yang memiliki jiwa dan skill usaha,” katanya.

Sementara itu, Direktur Utama Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah Marwan Mujahidin, mengatakan BMH bersama Kimia Farma menjalankan sinergi dalam Program Kebun Gizi Hidroponik, yang diselenggarakan di Pesantren Hidayatullah Depok Jawa Barat.

“Program ini diharapkan dapat mendorong kemandirian ekonomi pesantren, sekaligus mampu melahirkan santri-santri yang memiliki jiwa dan skill entrepreneurship,” imbuh Marwan.

Program yang mengambil tema, “Spirit of Millennials for Environment, Revolusi Menuju Sekolah Hijau dan Sehat” dilaksanakan Senin, 17 Desember 2018 di Pesantren Hidayatullah Depok yang berada di Jl. Raya Kalimulya 1/5 Cilodong Kota Depok Jawa Barat.

Dukungan PT. Kimia Farma (Persero) Tbk dalam program ini merupakan komitmen BUMN bidang farmasi tersebut dalam mendorong pengembangan kemandirian ekonomi di kalangan pondok pesantren.*/Herim