Beranda blog Halaman 522

Wisuda dan Penugasan Dai STAIL ke Berbagai Penjuru Nusantara

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) – Hidayatullah kembali melakulan wisuda dan pelepasan kader dai sarjana Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam Luqman Al Hakim (STAIL) Surabaya di Aula Seba Guna, Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, Sabtu (25/08/2018).

Anggota Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Drs Wahyu Rahman, MM, saat memberikan pidato pelepasan acara tersebut, menyampaikan selamat kepada para dai wisudawan yang kelak akan mengemban amanah dakwah  dan pengabdian sosial kemasyarakatan ke berbagai daerah di Indonesia.

Dalam pada itu ia mengingatkan, peran seorang dai sarjana memikul amanah yang tidak sederhana. Karena selain dituntut harus meneguhkan Tri Dharma Perguruan Tinggi di pundaknya juga terdapat beban untuk menjadi teladan di masyarakat (uswatun hasanah).

“Pantang bagi dai, untuk membeda-bedakan antara tempat ‘basah’ dan ‘kering.’ Ia harus siap dan ikhkas mengemban tugas, di mana pun juga,” pesannya.

Dengan menancapkan komitmen tersebut, terangnya, maka seorang dai akan tangguh berjuang di medak dakwah. Tidak akan mudah ‘balik kanan’ lantaran tantangan yang dihadapi dipandang sulit.

Karena pada hakekatnya, tambahnya, Tuhan orang beriman itu, tetap sama, di mana pun ia berada. Allah akan senantiasa menolong hamba-hamba-Nya, yang senantiasa memperjuangkan agama-Nya dengan ikhlas.

Hal lain yang diperhatikan, lanjut dai yang pernah ditugaskan ke berbagai daerah di Indonesia ini, “Janganlah pernah terpisah dengan jamaah”.

“Dengan berjamaah, seorang dai akan terus terjaga spiritnya, karena akan mendapat arahan dan motivasi dari senior, atau pun antar sesama dai,” ujarnya.

“Jadi, jangan pernah tinggalkan halaqah!,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Pembina Hidayatullah Jawa Timur, KH Abdul Rahman, dalam taushiahnya, meminta para kadir untuk berperilaku dewasa.

“Dewasa yang dimaksud di sini, bukan hanya sekedar sikap, tapi juga pikiran dan spiritualitas,” jelasnya.

Ia menjelaskan, indikasi telah terjadinya kedewasaan itu, setiap dai mampu mengerai segala persoalan yang dihadapi di medan dakwah.

“Jadi, dai itu harus mampu memberikan solusi bagi problematika ummat. Bukan justru menjadi sumber masalah,” paparnya.

Untuk tahun ini, STAIL Surabaya mengirimkan 23 kader dai ke seluruh pelosok Nusantara dari Sumatera hingga Papua. Acara penugasan itu dihadiri oleh berbagai elemen Hidayatullah, mulai dari Pengurus Pusat, Pembina, Pimpinan Wilayah, perwakilan unsur Badan Usaha dan Amal Usaha Hidayatullah serta ratusan tamu undangan.*/Khairul Hibri

Syahdunya Shalat Idul Adha Pertama di Lembah Anggi Papua Barat

0
FOTO: Selama ini, warga muslim di Lembah Anggi, Papua Barat, turun ke Manokwari, untuk mengikuti salat Idul Fitri dan Idul Adha. (dok. Tim Mapala UI/Dinny Mutiah)

LEMBAH ANGGI (Hidayatullah.or.id) – Tak ada suara takbir berkumandang. Senyap. Hanya angin berdesir perlahan, turun dari Pegunungan Arfak ke Lembah Anggi di Papua Barat, pada ketinggian 1800 mdpl.

Satu dua orang berjalan menuju Polsek Kabupaten Pegaf, Papua Barat. Beberapa orang berdiri di depan mushalla kecil sambil merokok. Sementara yang lain mengeluarkan asap dari mulutnya karena suhu dingin sekitar 12 derajat Celcius.

“Kita shalat Idul Adha di sini,” kata Septi (20), yang menjadi koordinator shalat, Rabu (22/8/2018).

Saya masih bingung dengan informasi itu. Pasalnya, halaman polsek dipenuhi sejumlah truk besar pengangkut tanah dan beberapa mobil angkutan penumpang. “Shalatnya di mushalla,” lanjut Septi seolah bisa membaca kebingungan saya.

Baru sekali ini saya merasakan shalat Idul Adha di dalam mushalla. Ternyata, shalat itu juga merupakan yang perdana digelar di ibu kota Kabupaten Pegaf.

Menurut Risma, bidan PTT yang sudah bolak-balik ke Lembah Anggi sejak 2012, masyarakat muslim di tempat itu selalu turun ke Manokwari, ibu kota Provinsi Papua Barat, untuk mendirikan shalat Idul Fitri maupun Idul Adha.

Mushalla kayu sederhana itu ternyata mampung menampung seluruh peserta salat, 19 laki-laki dan 16 perempuan, termasuk anak-anak.

Dengan khusyuk, semua jamaah menyimak takbir yang dikumandangkan Septi. Selanjutnya, imam shalat adalah Faiq Iman Amrullah (19). Sementara, khutbah Idul Adha disampaikan Rif’at Aqil Al Farra (21). Ketiga pemuda itu berasal dari Pesantren Hidayatullah Manokwari.*/Rahmi H, Tim Mapala UI

“Qurban Masuk Desa” BMH Jangkau Daerah Tak Bersinyal di Nusa Tenggara Timur

LazNGADA (Hidayatullah.or.id) – Mengangkat tema Qurban Masuk Desa, Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) kembali menyapa masyarakat muslim pedalaman, yakni di bilangan Marotauk, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.

“Alhamdulillah BMH bisa mengantar amanah qurban ke sebuah desa yang belum tersentuh sinyal teknologi informasi. Artinya, listri pun belum masuk. Yaitu di Marotauk, Ngada NTT. Ini menjadi salah satu daerah untuk penyaluran hewan qurban amanah dari para pe-qurban melalui BMH,” terang Kepala BMH Perwakilan NTT Rasman J. Tkella.

Dalam kesempatan Idul Adha 1439 H, BMH menyalurkan satu ekor sapi, dan dipotong pada Rabu (22/08/2018) yang langsung dibagikan kepada seluruh masyarakat Muslim secara merata.

“Qurban ini sebagai bagian memperkuat Dai Tangguh yang bertugas dan membina masyarakat di sana. Yaitu Ustadz Nasir Lingge yang sudah dua tahun bertugas di Marotauk,” tegas Rasman.

Ia mengucapkan terimakasih kepada para pequrban atas bantuan hewan qurban yang menjangkau hingga ke pedalaman NTT, terkhusus menyapa daerah yang beliau bina.

“Semoga Allah SWT membalas kebaikan bapak-ibu semua yang sudah berqurban di tempat kami, hingga ke depan kami yang jauh dari keramian kota ini, kami dan seluruh warga sangat berbahagia,” ucap Nasir Lingge.

Selain itu salah satu warga bernama Tanis, merasa berbahagia menerima hewan qurban dan berharap semoga program Qurban Masuk Desa ini terus berlanjut pada tahun-tahun yang akan datang.

“Tentu awalnya kami ucapkan banyak terimakasih kepada BMH, lebih khusus kepada pequrban yang telah berqurban dan semoga qurban ini dapat terus berlanjut hingga tahun-tahun yang akan datang,” harap Tanis penuh kesyukuran.*/Muhammad Adianto

Refleksi Pendidikan Keluarga Ibrahim saat Wukuf di Arafah

ILUSTRASI: Jutaan umat Islam dari seluruh dunia melakukan Wukuf pada prosesi puncak haji , Jamaah haji Indonesia memanfaatkan waktu wukuf untuk berintropeksi diri, bermunajat kepada Allah dan kembali memahami esensi dan ide dasar Islam, yakni pembawa kedamaian bagi seluruh umat manusia. REUTERS / Ahmad Masood

MAKKAH (Hidayatullah.or.id) – Dalam nasihatnya saat menjadi khatib dalam khutbah Arafah yang disampaikan di Maktab 5, Kloter 10 Balikpapan, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah KH Nashirul Haq mengajak jamaah haji meneladani perjalanan hidup keluarga Nabi Ibrahim Alaihissalam.

“Di momen Idul Adha ini kaum muslimin patut meneladani konsep pendidikan Nabi Ibrahim Alaihissalam. Bagaimana beliau mampu mengantarkan putranya Ismail menjadi sosok generasi yang taat dan patuh kepada perintah Allah,” kata beliau dalam khutbah saat wukuf di Arafah, Makkah, Saudi Arabia.

Beliau menerangkan kisah Nabi bergelar Khalilullah ini yang diabadikan di dalam Qur’an Surah Ibrahim: 37

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.

Dari ayat tersebut, diterangkan beliau, dapat diambil beberapa ibrah tentang cara mentarbiyah dan mendidik anak ala Nabi Ibrahim Alaihissalam.

Beliau mengungkapkan hikmah Ibrahim yang menempatkan keturunannya di lembah dekat Baitullah. Ibranya, terangnya, dalam konteks sekarang perlunya menemukan lingkungan yang baik untuk anak, yaitu masjid.

“Mempertautkan hatinya (anak) dengan masjid agar tumbuh dalam suasana ibadah kepada Allah dan agar mereka mendirikan shalat. Artinya shalat merupakan inti dari proses pendidikan,” imbuhnya.
Ia menegaskan, shalatlah yang akan membentuk jiwa dan perilaku seseorang, jika shalatnya baik maka semua sisi keislamannya akan menjadi baik.

Lebih jauh, lafaz “Jadikanlah hati manusia condong kepada mereka”, ibrahnya dijelaskan beliau,  bahwa anak harus ditarbiyah dari sisi akhlak dan adab sehingga hati manusia menjadi simpati dan tertarik.

Lalu ibrah dari lafaz “Berilah rezki dari buah-buahan agar mereka bersyukur”, bahwasanya anak perlu dibekali skill untuk berusaha mencari rezki yang halal.

“Dari rezki itu mereka dapat bersyukur dengan banyak membantu orang lain dan memberi manfaat kepada umat manusia,” tandasnya.

Mulai Senin 20 Agustus 2018 waktu Indonesia, tiga juta lebih jemaah haji seluruh dunia melangsungkan wukuf di Arafah.

Sebanyak 221 ribu jemaah haji Indonesia sudah berada di Arafah sejak Ahad siang, 19 Agustus 2018. Suhu di Arafah saat itu di angka 44 derajat celsius. Udara cukup panas dirasakan jemaah haji Indonesia.

Selain sabagi salah satu rukun ibadah haji, Wukuf di Arafah juga dalam rangka menghayati makna dari kisah Nabi Ibrahim Alaihissalam dengan putranya Nabi Ismail Alaihissalam serta istrinya Siti Hajar yang sarat dengan keteladanan. (ybh/hio)

Khutbah Arafah, KH Nashirul Haq Serukan Doa untuk Kemaslahatan Bangsa

0
ILUSTRASI: Jutaan umat Islam dari seluruh dunia melakukan Wukuf pada prosesi puncak haji , Jamaah haji Indonesia memanfaatkan waktu wukuf untuk berintropeksi diri, bermunajat kepada Allah dan kembali memahami esensi dan ide dasar Islam, yakni pembawa kedamaian bagi seluruh umat manusia. REUTERS / Ahmad Masood

MAKKAH (Hidayatullah.or.id) – Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah KH Nashirul Haq menjadi khatib dalam khutbah Arafah yang disampaikan di Maktab 5, Kloter 10 Balikpapan, pada masa wukuf beberapa waktu lalu.

Pada kesempatan tersebut, di hadapan jamaah haji beliau mengajak mengoptimalkan momen wukuf untuk berdoa. Mendoakan diri dan keluarga, sahabat dan kerabat, orang-orang yang menitipkan doa, kaum muslimin yang tertindas dan terjajah.

Serta mendoakan kemaslahatan untuk bangsa dan tanah air, memohon pemimpin berkualitas yang mampu membawa Indonesia menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, negeri yang aman, makmur, sejahtera dan diridhai Allah Subhanahu Wata’ala.

Dalam khutbahnya, beliau mengatakan kalimat Talbiyah yang dikumandangkan sebagai pernyataan bahwa kita datang ke Tanah Suci Baitullah semata-mata memenuhi panggilan Allah untuk menunaikan rukun Islam yang ke-5.

“Kita datang ke Baitullah bukan karena motivasi duniawi seperti mendapatkan penghargaan dan pujian manusia. Syarat diterimanya ibadah ada dua yaitu ikhlas karena Allah dan sesuai tuntunan sunnah,” ujarnya.

Beliau melanjutkan, wukuf di Arafah adalah gambaran berkumpulnya manusia di Padang Mahsyar kelak. Mereka datang tanpa membawa pangkat, kekuasaan dan kekayaan.

“Setiap manusia akan dihisab amal perbuatannya. Kemuliaan hanya dinilai dari ketakwaan, maka sebaik-baik bekal adalah bekal takwa,” katanya.

Lebih jauh beliau mengimbuhkan, indikator haji mabrur adalah apabila seseorang yang telah menunaikan haji memiliki kualitas keislaman yang lebih baik dari sebelumnya. Istiqamah menjaga dan memelihara amal ibadah dan kebajikan yang dilakukannya selama berada di Tanah Suci.

Diantara bentuk menjaga istiqamn tersebut, ia menyebutkan, adalh shalat fardhu tepat waktu, berjamaah bagi laki-laki, menutup aurat, rajin berinfaq, menjaga hijab dan menutup aurat bagi wanita, rajin dzikir dan baca Qur’an, gemar membantu, mengendalikan emosi, menghindari ucapan kotor dan seterusnya.

Dia di akhir khutbahnya juga berpesan tentang karakteristik pendidikan Nabiullah Ibrahim Alaihissalam yang selayaknya menjadi teladan bagi setiap muslim. (ybh/hio)

DPP Hidayatullah Imbau Kader Bantu Korban Gempa NTB

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menganggap bahwa gempa bumi yang melanda Nusa Tenggara Barat (NTB) sudah selayaknya ditetapkan sebagai “Bencana Nasional”.

“Karena itu, kami meminta kepada seluruh anggota dan kader Hidayatullah, amal usaha dan badan usaha, serta cabang-cabang Hidayatullah yang ada di 34 provinsi dan 360 kabupaten di seluruh Indonesia, untuk ikut berpartisipasi meringankan beban saudara-saudara kita di Lombok,” ujar Ketua DPP Hidayatullah Drg Fathul Adhim bersama Sekretaris Jenderal Candra Kurnianto di Jakarta, Senin (20/08/2018).

Partisipasi tersebut, lanjutnya, bisa dilakukan baik dengan lantunan doa, sumbangan dana, maupun bantuan tenaga.

“Agar penyaluran bantuan bisa berjalan dengan baik, maka koordinasi penyaluran bantuan dilakukan melalui satu pintu yaitu melalui Baitul Maal Hidayatullah (BMH),” terangnya.

Instruksi tersebut disampaikan kepada seluruh anggota, kader, amal usaha, badan usaha, DPD, dan DPW Hidayatullah di seluruh Indonesia.

“Alhamdulillah, sejak awal Agustus 2018, Hidayatullah telah menurunkan Tim SAR (Search and Rescue), Tim Dokter dan Para Relawan ke NTB.

Juga telah membantu mendirikan 4 mushalla darurat, 12 MCK darurat, pengadaan air bersih, siagakan 5 unit ambulans, dan bantuan logistik di 62 titik lokasi pengungsian,” ungkapnya.

DPP Hidayatullah juga mengajak kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk membantu saudara-saudara di NTB.

“Paling tidak mendoakan agar mereka (para korban, Red) bisa bersabar dalam ujian ini. Musibah adalah cara Allah Ta’ala menguji kesabaran hamba-hamba-Nya yang beriman,” imbuhnya.*

Kapolres Tomohon Anjangsana ke Ponpes Hidayatullah

0

TOMOHON (Hidayatullah.or.id) – Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara, AKBP I.K. Agus Kusmayadi memimpin anjangsana ke Pondok Pesantren Hidayatullah di Kelurahan Kinilow, Kecamatan Tomohon Utara, Sulut, Senin (20/08/2018) pagi.

Selain beranjangsana menjumpai segenap santri dan pengurus pondok pesantren, Kapolres juga meninjau lokas Pondok Pesantren Hidyatullah Tomohon yang merupakan cabang pertama Hidayatullah di utara Sulawesi yang erdiri di akhir tahun delapan puluhan.

Pada kesempatan tersebut Kapolres dan jajarannya sekaligus melakukan bakti sosial dalam rangka menyambut Idul Adha 1439 Hijriah yang jatuh pada hari Rabu (22/08) esok.

Kapolres menyerahkan bantuan berupa sembako kepada para santri, yang diterima oleh Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah, Ust Nuryadin Majid.

Kapolres mengatakan, bantuan ini sebagai wujud nyata kepedulian dan solidaritas dari Keluarga Besar Polres Tomohon kepada para santri dan Psantren Hidayatullah Tomohon.

“Kami ikhlas menyisihkan sebagian gaji kami untuk membantu adik-adik sekalian. Semoga bermanfaat, dan menjadi berkat bagi kita semua,” ujar Kapolres.

Kini, di lahan satu hektare ini telah berdiri panti asuhan, TK, MI, MTs, dan MA yang saat ini sudah menjadi rujukan para orangtua muslim di Tomohon bahkan dari tempat lain seperti, Boloangmongondo, Gorontalo bahkan ada yang dari luar Sulawesi.

Alumni Pondok Hidayatullah Tomohon dengan segala keterbatasan dan kekurangannya telah berhasil menyebarkan dakwah cahaya kasih Islam dengan merintis cabang baru. Mulai dari Sangihe, Bitung, Minahasa Utara, Kotamobagu hingga Pohuwato yang berbatasan dengan Sulawesi Tengah. (ybh/hio)

 

 

120 Anak Tanoh Gayo Dapat Beasiswa Sekolah Gratis di Pesantren Hidayatullah Bogor

TAKENGON (Hidayatullah.or.id) – Yayasan Umar Bin Khattab Pesantren Hidayatullah Bogor memberikan beasiswa pendidikan gratis bagi 120 anak yang berasal dari Dataran Tinggi Tanoh Gayo, Takengon, Kabupaten Aceh Tengah.

Hal tersebut disampaikan oleh Ustad Hanafi Usman, pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Bogor kepada Radio Republik Indonesia (RRI) melalui sambungan telepon, belum lama ini.

Lebih lanjut diungkapkan Ustadz Hanafi yang juga merupakan putra asli Tanoh Gayo tersebut, pesantren yang dipimpinnya itu saat ini membina santri putra dan putri sebanyak 250 orang.

Mereka diberikan beasiswa penuh (gratis) selama menempuh pendidikan di tempat tersebut, yang sebagian besar dari kalangan yatim piatu dan dhuafa. Dari jumlah tersebut sebanyak 120 orang diantaranya berasal dari Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah.

“Pondok ini kami rintis sejak tahun 2015, yang bernama Yayasan Umar bin Khattab Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Hidayatullah Bogor. Ada sekitar 120 anak dari Gayo yang kami bina menjadi hafidz Qur’an,” katanya.

Pesantren yang terletak bersebelahan dengan Komplek Grup I Kopassus TNI, Bojong Hilir, Kota Bogor, ini mengembangkan kegiatan pendidikan mulai dari SD (sekolah dasar) MTS (Madrasah Tsanawiyah) dan MA (Madrasah Aliyah) dengan pengasuh sebanyak 39 orang ustadz dan ustadzah.

Pada bulan Oktober mendatang akan melaksanakan wisuda santri tahfidz 30 juz dan 50 orang diantaranya berasal dari Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah.

“Dalam waktu dekat ini kami akan mewisuda santriwan dan santriwati untuk tahfidz 30 juz dan 50 orang diantaranya berasal dari Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah,” katanya.

Sistem yang diterapkan pada lembaga yang berada di bawah Pesantren Hidayatullah Bogor ini adalah program pendidikan boarding school, dimana pembinaan tidak hanya dilakukan di dalam kelas (kognitif) akan tetapi juga di asrama dan masjid.

“Sehingga ketiga tempat inilah santri dibina dan ditempa sehingga lahir menjadi manusia yang cerdas intelektual, spiritual dan emosional untuk mencapai target output sebagai seorang tahfidzul Quran,” pungkasnya. (ybh/hio)

Penetapan Musibah Lombok sebagai Bencana Nasional

0

Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah meminta kepada seluruh anggota dan kader Hidayatullah, amal usaha dan badan usaha, serta cabang-cabang Hidayatullah yang ada di 34 provinsi dan 360 kabupaten di seluruh Indonesia, untuk ikut berpartisipasi meringankan beban saudara-saudara kita di Lombok.

Baca selengkapnya, klik Press Release DPP Hidayatullah tentang Penetapan Musibah Lombok sebagai Bencana Nasional

Hidayatullah Sudah Final Soal Penentuan Hari Besar Islam

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Hampir setiap menjelang penetapan awal Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha, jika ada perbedaan antara pemerintah dan ormas, juga saat ada perbedaan dengan pemerintah Saudi, masyarakat seringkali mengalami hiruk-pikuk.

Akibatnya, umat saling berpendapat, mengapa tidak begini, tidak begitu. Mengapa menurut ormas ini begini dan begitu, termasuk sampai memperdebatkan pendapat ulama’ dan Syaikh ini-itu dengan beragam dalilnya.

Tak pelak, di media sosial pun berseliweran berbagai maklumat dan juga dalil yang dimaksud. Akhirnya ribut sendiri, adu argumen berdasarkan ra’yu-nya sendiri-sendiri.

Di Hidayatullah masalah penentuan hari-hari besar Islam seperti awal Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha sudah selesai.

“Secara organisasi, Hidayatullah sudah punya ketetapan yang dihimpun dalam buku Ketetapan Majelis Syura Hidayatullah, yang terbitkan tahun 2015 silam,” kata Ketua DPP Hidayatullah Asih Subagyo dalam obrolan dengan Hidayatullah.or.id, Jum’at (17/8/2018).

Dengan berbagai rujukan berbagai dalil yang rajih serta komprehenshif, ketepatan hasil Musyawarah Majelis Syura Hidayatullah tersebut yang menegaskan sikap Hidayatullah hadir dengan semangat menyatukan umat ini, maka dalam hal awal Ramadhan, Syawal Dan Dzulhijjah, Hidayatullah mengikuti keputusan sidang itsbat yang mempertemukan semua/mayoritas golongan sebagai representasi umat di bawah koordinasi pemerintah.

Ketetapan tersebut dipahami sebagai fiqhud dakwah Hidayatullah yang karena itu diterima dengan lapang akan menerima tanpa reserve sebagai konsekwensi atas kepemimpinan Hidayatullah.

“Dus artinya adalah, kita tidak terpengaruh dengan kehebohan yang terjadi di luaran. Sebab prinsip dan sikap kita, berdasar pada dalil yang rajih. Tidak perlu diperdebatkan lagi,” katanya.

Dengan demikian maka, terang Asih, untuk saat ini ketetapan tersebut sudah cukup sebagai pedoman bagi kader dan jamaah. Seraya dengan itu dia menambahkan kedepan perlu perbaikan dan peningkatan lebih komprehenship lagi.

“Dan untuk itu, menurut saya kuncinya adalah di sumber daya manusia,” katanya.

Karena itu, menurut Asih, PR yang mesti segera dijawab, dan ini menjadi salah satu konsideran dari sikap Hidayatullah itu yaitu mengeliminir munculnya potensi mispersepsi jamaah dan ketidakmampuan mengambil sikap karena kurangnya SDM yang berkompeten. Sehingga dia menegaskan menjadi keharusan bagi organisasi untuk menyiapkan SDM yang berkompeten di bidang ini.

“Olehnya, kita perlu mengirimkan kader-kader kita untuk menekuni ilmu falakh, dan menjadi ahli di bidang ilmu hisab dan rukyat serta astronomi secara umum, serta disiplin ilmu yang terkait lainnya. Baik secara talaqqi kepada syaikh/ulama’, maupun ditempuh melalui institusi pendidikan yang ada,” imbuh Asih.

Sehingga, lanjutnya, diharapkan kedepan semakin banyak pakar Hidayatullah yang rujukannya lahir bersumber dari disiplin keilmuan yang dikuasai dan dalam satu tim dengah fuqaha yang kapabel juga khususnya di bidang ilmu falakh. (ybh/hio)