Beranda blog Halaman 524

Dikdasmen DPP Hidayatullah Ajarkan Materi “Grand MBA”

0

MALANG (Hidayatullah.or.id) – Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah menggelar kegiatan dauroh metode pengajaran Al Qur’an, Grand MBA, yang diselenggarakan selama 3 hari di Kota Malang, Jawa Timur.

Gerakan Nasional Dakwah Membaca dan Belajar Al Qur’an (Grand MBA) di bawah koordinasi PosDai adalah merupakan program nasional Hidayatullah sebagai metode pilihan pembelajaran Al Qur’an secara tuntas dan sistematis.

Grand MBA melalui Didasmen DPP Hidayatullah kini dijadikan sebagai salah satu mata ajar ekstrakurikuler bidang studi Al Qur’an di sekolah-sekolah Hidayatullah seluruh Indonesia untuk tingkat dasar dan menengah.

Ketua PosDai Pusat Ustadz Ahmad Suhail mengatakan program pembelajaran Al Qur’an metode Grand MBA ditawarkan kepada masyarakat semata-mata ingin memberikan support dan menemani masyarakat belajar Al Qur’an secara tuntas sesuai dengan tahapan-tahapannya mulai dari terbata-bata tidak bisa sama sekali sampai pada tahapan tartil.

Dalam tahapan belajar metode Grand MBA, Ahmad Suhail menjelaskan, untuk tahap pertama yaitu mengenal makhrajul huruf dan shifat sampai kaidah tajwid menggunakan buku Grand MBA Jilid I dan II dalam paket Bimbingan Tajwid dan Tahsin Al Qur’an. Sementara untuk pelajaran tata bahasa dan maknanya di buku paket Terampil Menerjemah Al Qur’an dengan isi 6 jilid.

Grand MBA juga punya metode cepat belajar Al Qur’a dengan judul buku paket Grand MBA: Cara Cepat Belajar Membaca Al Qur’an dengan metode 8 jam dengan durasi 1 jam setiap pertemuan.

Acara ini diikuti oleh peserta perwakilan sekolah dasar menengah Hidayatullah dari wilayah Indonesia Barat dan Indonesia Timur. Rencananya agenda pelatihan ini akan digelar juga di wilayah lainnya.

Acara ini digelar atas kerjasama Persaudaraai Dai Nusantara (Posdai) dan Lembaga Majelis Al Quran Hidayatullah (MQH) serta didukung oleh berbagai agai  pihak dianatarnya Laznas BMH, Radio Mitra, dan Kampus Yayasan Hidayatullah Sumut.  (ybh/hio)

“Diam” Sumber Keselamatan

0

IMAM Syafii dalam kitab “Dîwân al-Imâm al-Syâfi’i” (1431: 63) pernah menyenandungkan syair yang berjudul “As-Sukûtu Salamatun” (Diam adalah keselamatan).

Kandungan dari bait-bait syair Imam Syafii berikut ini sangat menarik untuk dijadikan refleksi di tengah era digital yang penuh dengan fitnah dan hasutan.

Beliau melantunkan:

قَالُوْا : سَكَتَّ وَقَدْ خُوْصِمْتَ قُلْتُ لَهُمْ إِنَّ الْجَوَابَ لِبَابِ الشَّرِّ مِفْتَاحُ

وَالصَّمْتُ عَنْ جَاهِلٍ أَوْ أَحْمَقٍ شَرَفٌ وَفِيْهِ أَيْضًا لِصَوْنِ الْعِرْضِ إِصْلاَحُ

أَمَا تَرَى الْأَسَدَ تُخْشَى وَهْيَ صَامِتَةٌ؟ وِالْكَلْبُ يُخْسَى، لَعًمْريْ، وَهْوَ نَبَّاحُ

Mereka berkata, “Kamu diam saja padahal dimusuhi,” lantas aku menjawab,

“Sungguh, malah membuka pintu kejahatan jika aku turut menjawab

Bersikap diam terhadap orang bodoh atau pandir adalah kemuliaan

Disamping itu juga bisa menjaga dan memperbaiki kehormatan

Tidakkah engkau melihat singa ditakuti padahal dia diam (tak banyak omong)?

Sedangkan anjing dihinakan, karena dia menggonggong.”

Dari bait sya`ir yang indah ini, bisa diambil pelajaran. Pertama, tidak usah meladeni permusuhan seseorang jahil dengan jawaban yang malah akan menimbulkan keburukan yang lebih besar.

Kedua, diam atau tidak meladeni orang yang bodoh adalah kemuliaan. Ketiga, tidak merespon orang pandir juga bisa menjaga kehormatan diri. Maka, dalam situasi demikian, sebaik-baik sikap adalah diam.

Bukankah ada ayat al-Qur`an yang menyarankan wa a’ridh ‘anil jâhilîn [dan berpalinglah dari orang-orang yang jahil] (QS. Al-A’raf [7]: 199).

Dengan tidak meladeni mereka, maka marwah dan kehormatan diri akan terjaga. Demikian juga Maryam pasca kelahiran Isa AS dan kembali ke kediamannya. Banyak yang menuduhnya macam-macam, tapi dia diajari oleh Allah agar diam saja (QS. Maryam [19]: 26).

Pada bait syair ketiga, Imam Syafii rahimahullah menyampaikan analogi menarik mengenai begitu berartinya sikap diam. Diam –dalam kondisi demikian- diibaratkan seperti diamnya singa. Singa diam justru ditakuti.

Sedangkan anjing yang menggonggong, justru dihinakan, direndahkan, bahkan diusir dilempar pakai batu. Maka tidak heran jika ada ungkapan: “Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu.” Tidak perlu meladeni omongan orang yang jahil.

Dalam hadits Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bahkan, diam merupakan indikator kuat keimanan seseorang kepada Allah dan Hari Akhir:

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka berkatalah yang baik atau diamlah.” (HR. Bukhari, Muslim).

Namun, yang menjadi catatan penting dalam hadits ini, yang diusahakan terlebih dahulu adalah mengatakan sesuatu yang baik. Jika sudah tidak mampu, maka diam adalah lebih baik.

Dalam dunia maya misalnya, jika seorang muslim tidak bisa menulis, membagikan, dan menyebarkan sesuatu yang baik, maka diam adalah solusi terbaik. Tidak ikut menulis status negatif, nyinyir, menyebar fitnah, membagikan propaganda liar, dan lain sebagainya sehingga gerak-geriknya sebagai muslim menciptakan suasana aman dan tentram bagi lingkungannya. Pada kondisi inilah diam bisa membuat tentram.*/Hidcom

Perkuat Dakwah, Hidayatullah Sultra Gelar Upgrading Dai

0

KOLAKA (Hidayatullah.or.id) – Dalam rangka meningkatkan kapasitas, kompetensi dan mutu tenaga dai seiring dengan kebutuhan masyarakat terhadap penyuluh agama, Departemen Pengkaderan DPW Hidayatullah Sulawesi Tenggara (Sultra) menggelar acara upgrading dai yang diselenggaran selama 3 hari di Kampus Peradaban Pesantren Hidayatullah Watalara Kabupaten Kolaka.

Kegiatan training upgrading kader dai tingkat dasar (marhalah Ula) yang berlangsung mulai tanggal 3 sampai 5 Agustus 2018 ini diisi oleh Ustadz Drs. Anwari Hambali dari Balikpapan sebagai narasumber utama.

Ketua Departemen Dakwah DPW Hidayatullah Sultra Abdurrahman mengatakan selain di Kendari sebagai ibukota provinsi, Hidayatullah Sultra juga telah hadir di berbagai kabupaten kota di provinsi dengan populasi 2.500.000 jiwa itu.

Saat ini dakwah Islamiyah yang digalakkan oleh Hidayatullah sudah hadir di Kabupaten Buton, Bombana, Kolaka, Konawe, Muna, Bau-Bau dan termasuk berupaya memenuhi permintaan masyarakat di Wakatobi dan daerah lainnya.

“Kebutuhan dai sangat terbatas sementara di waktu yang sama masyarakat selalu dahaga dengan penyuluhan agama Islam, khsusunya di kawasan terpencil dan pedalaman,” kata Abdurrahman.

Karenanya, dia berharap, dengan kegiatan ini dapat semakin menambah jumlah dai yang siap bertugas menjadi penyuluh ruhani di daerah-daerah, apalagi tidak sedikit diantaranya adalah kawasan dengan akses medan yang tidak mudah untuk dijangkau. Kegiatan ini diikuti oleh 27 orang peserta yang berasal berbagai daerah di Sulawesi Tenggara. (ybh/hio)

 

KH Nashirul Haq: “Musibah Adalah Ujian Bagi Kita”

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH Nashirul Haq Lc MA, mengungkapkan rasa bela sungkawa mendalam atas musibah gempa yang kembali melanda Nusa Tenggara Barat (NTB) Ahad malam (5/8).

“Musibah adalah cara Allah Ta’ala menguji hamba-hamba-Nya. Semoga masyarakat Nusa Tenggara Barat bisa bersabar atas ujian ini,” jelas Nashirul Haq kepada Hidayatullah.com, Senin (6/8/2018).

Orang-orang yang beriman tak akan pernah lepas dari ujian. Seberapa besar ujian yang akan menimpa kita, kata Nashirul, sebesar itu pula kualitas iman kita.

Bahkan, para Nabi dan Rasul telah ditimpa berbagai macam ujian hingga mereka kehilangan harta, keluarga, bahkan nyawa. Atas segala pengorbanan itu, Allah Ta’ala menjadikan mereka manusia terbaik.

Jadi, kata Nashirul, sabar adalah cara terbaik menghadapi musibah, sebagaimana dicontohkan para Nabi dan Rasul serta para pejuang Islam di masa lalu.

Dengan bersabar, insya Allah ada jalan keluar.

Selain ujian bagi masyarakat yang terdampak, musibah ini juga ujian kepedulian bagi kaum Muslim yang tidak terdampak. Sebab, jelas Nashirul, kaum Muslim itu ibarat satu tubuh. Jika ada satu bagian yang sakit, maka seluruhnya merasakan sakit.

“Karena itu mari kita bantu mereka semampu kita, baik dengan harta, tenaga, atau doa,” kata Nashirul lagi.

Nashirul memberikan apresiasi yang tinggi kepada para relawan yang sigap membantu para korban gempa. Beberapa relawan, termasuk tim dari Baitul Maal Hidayatullah dan SAR (Search and Rescue) Hidayatullah, bahkan telah berada di NTB sejak akhir Juli dan awal Agustus lalu.

Mereka menyalurkan bantuan masyarakat dan membantu para korban gempa yang sudah terasa sejak sepekan lalu. Demikian pula tim dokter dari IMS (Islamic Medical Service) Hidayatullah, telah berangkat hari ini (Senin, 6/8) untuk membantu para korban yang terluka.

“Kalian, para relawan, adalah ujung tombak kami. Kalian adalah delegasi kami. Kepada kalian harta dan harapan kami titipkan untuk saudara kita di Nusa Tenggara Barat. Semoga Allah Ta’ala mengganjar kalian dengan pahala yang besar,” pesan Nashirul kepada para relawan.

Sebagaimana dikeberitakan sebelumnya, gempa berkekuatan 7 SR mengguncang Nusa Tenggara Barat, Ahad, sekitar pukul 18.46. Lebih dari 80 jiwa meninggal dan ratusan lainnya luka-luka.*/Source: Hidayatullah.com

Hidayatullah Peduli Bantu Korban Gempabumi NTB

MATARAM (Hidayatullah.or.id) – Gempa bumi 7 SR yang mengguncang Nusa Tenggara Barat (NTB) semalam, Ahad (05/08/2018) pukul 18.46 telah menimbulkan korban tambahan, baik jiwa maupun infrastruktur, dan kerusakan yang lebih luas dan serius. Sebelumnya gempa juga melanda NTB, pekan lalu.

Tim Hidayatullah Peduli turut melakukan upaya pertolongan dan bantuan kepada korban melalui jejaringnya seperti Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH), SAR Hidayatullah, Islamic Medical Service (IMS) dan Syabab Hidayatullah.

Tim yang kini tengah berada di NTB dalam rangka pemulihan pasca gempa mengguncang NTB akhir Juli 2018 lalu, turut merasakan langsung gempa yang terjadi tadi malam.

“Ketika gempa terjadi, saya dalam perjalanan setelah menyalurkan bantuan logistik berupa beras 2,5 ton, kemudian terpal untuk hunian sementara warga sebanyak 200 lembar. Hingga malam, saya masih di Lombok Utara dan belum sampai ke rumah,” terang Kepala BMH Perwakilan Nusa Tenggara Barat, Abdul Kholiq, kepada hidayatullah.com semalam.

Sementara itu, dai BMH yang bertugas di posko BMH, Suhardi yang berada di Dusun Ketapang, Desa Madain, Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur menuturkan bahwa suasana sangat mencekam.

“Semalam keadaan sangat mencekam dan panik. Alhamdulillah, warga di posko kami, BMH dan AQL dalam keadaan selamat. Sekarang saya sedang mengurus jenazah warga atas nama Sumiyati di Kayangan Lombok Utara,” ucap Suhardi melalui sambungan telepon, Senin (06/08/2018).

Di waktu bersamaan, tim BMH yang tersebar di beberapa titik melaporkan bahwa di tempat lain juga terjadi dampak gempa yang serius.

Relawan BMH di Desa Medas melaporkan, kerusakan dan korban meninggal dunia juga terjadi di sini. Kondisi rumah warga banyak retak dan bahkan hancur.

“Pagi ini ditemukan dua warga meninggal dunia. Sekarang kami langsung bantu evakuasi, siang baru koordinasi kembali di kantor BMH NTB di Mataram,” terang relawan BMH di Lombok Barat, Romli, yang saat kejadian berada di Desa Medas, Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat.

Dengan semakin luas dan masifnya dampak gempa yang terjadi, Laznas BMH akan segera mengirim tim relawan tambahan untuk membantu proses evakuasi, penyediaan logistik, obat-obatan, dan tim trauma healing.

Direktur Program dan Pendayagunaan Laznas BMH Pusat, Dede Heri Bachtiar, mengatakan pihaknya Insya Allah akan segera menyiapkan tim relawan tambahan guna membantu proses evakuasi, ketersediaan logistik dan obat-obatan.

“Saat ini juga BMH sedang berkomunikasi dengan lembaga yang kompeten di bidang kesehatan untuk bisa bersinergi di lapangan agar kebutuhan medis warga dapat juga segera kami bantu,” terang Dede.

Gempa yang terjadi pada pukul 18.46 Wita itu terjadi di koordinat 8,37 Lintang Selatan (LS) dan 116,48 Bujur Timur (BT).

Berdasarkan posisi dan kedalaman gempa, diperkirakan sumber gempa berasosiasi dengan Flores Back Arc Thrust. Karena itu, sangat memungkinkan gempa susulan dan tsunami terjadi menyusul gempa utama.

Semalam para santri Pondok Pesantren Hidayatullah Mataram dievakuasi ke lapangan terbuka. Santri korban selamat ini sementara harus dikondisikan di luar ruangan asrama karena sejumlah kerusakan hingga keadaan benar benar pulih.

Di banyak titik di Lombok dan daerah daerah sekitarnya juga terdampak gempa dengan 7,0 skala richter, seperti bandara udara dan pusat pusat perbelanjaan.

Semoga musibah ini lekas pulih dan korban dapat segera dievakuasi. Mari doakan semoga para korban dan masyarakat yang terdampak lainnya diberikan kesabaran dan kekuatan. Seiring dengan itu mari bahu membahu meringankan beban saudara saudara-saudara kita. (hio/hol)

Totalitas dalam Perjuangan, Lahirkan Mentalitas Superior

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) – Bertempat di Aula Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Sabtu (4/8), sejumlah kader muda dari unsur DPW Hidayatullah Jabodebek dan Banten, organisasi pendukung (PP Syabab Hidayatullah) dan unsur kampus utama Hidayatullah Depok, mengikuti acara sarasehan dakwah dan pengembangan sumber daya manusia.

Ketua DPPU Hidayatullah DR. Abdul Mannan MM, yang bertindak selaku pemateri dalam sarasehan bertemakan Jalan Terjal Menuju Soliditas Organisasi itu menekankan beberapa hal penting dalam sejarah dan perjalanan mewujudkan visi membangun peradaban Islam.

Pertama, perihal totalitas sistem di dalam figur KH. Abdullah Said, pendiri Hidayatullah.

“Kala itu kader tidak begitu mengerti apa visi dan sistem di lembaga ini. Hal ini karena memang visi dan sistem kelembagaan sepenuhnya ada di dalam diri Allahuyarham Ustadz Abdullah Said. Namun demikian, dari sisi implementasi sangat efektif, semua kader bergerak dengan ketaatan luar biasa,” urainya.

Namun seiring berjalannya waktu, kata beliau, sistem tak mungkin selamanya di dalam figur, maka diperlukan peningkatan pemahaman kader terhadap visi dan sistem lembaga. Hingga akhirnya Hidayatullah melakukan transformasi dari orsos menjadi ormas.

“Hal penting yang menjadi modal besar lembaga ini tetap eksis hingga saat ini adalah lahirnya semangat bekerja secara totalitas, jiwa berkorban yang sungguh-sungguh yang ada pada diri para pendiri dan kader awal. Mereka benar-benar menjadikan perjuangan melalui lembaga ini sebagai jalan terbaik mendapatkan ridha Allah Ta’ala,” katanya.

Tantangan saat ini, menurut beliau, adalah apakah para kader mampu dan sudah menjadi penggerak inti organisasi memiliki paradigma yang sama, loyalitas dan totalitas yang utuh dalam menjalankan tugas-tugas keorganisasian.

Menjawab hal tersebut tidak mudah, terlebih kebutuhan individu terhadap ekonomi sebagai indikator kesejahteraan keluarga serta terbatasnya kurun waktu dalam memenej organisasi, menjadikan banyak yang digelayuti pertanyaan praktis dengan redaksi, “Saya dapat apa setelah menjadi pengurus organisasi”.

Kedua, sumber daya manusia (human capital). Menurutnya, upaya membangun sumber daya manusia yang unggul membutuhkan keterampilan manajemen.

“Sebab manajemen merupakan alat yang sangat penting dalam menggapai sukses. Di antara masalah penting dan mendesak kami usulkan pada sarasehan ini adalah masalah strategis yaitu tentang revitalisasi dan eksistensi para ideolog organisasi,” ujarnya.

Di sini diperlukan gerakan massif meningkatkan pemahaman terhadap konsep dasar perjuangan (Sistematika Wahyu) sebagai kerangka sistematis penerapan Al-Qur’an, wahyu Allah Ta’ala di segala aspek kehidupan masyarakat.

“Human capital merupakan cikal bakal masyarakat Madinah sebagai pusat peradaban islam yang dikembangkan ke-seantero dunia oleh generasi penerus,” katanya.

Ketiga, mental superior. Jiwa para kader saat ini belum sepenuhnya memahami visi dan keunggulan manhaj lembaga, sehingga mental superior belum hadir sebagaimana mestinya.

Padahal, menurutnya, dibandingkan dengan kondisi awal organisasi ini, lompatan yang terjadi sudah sangat luar biasa.

Akan tetapi, mental memang tidak dibentuk oleh pengembangan material organisasi, tetapi pemahaman utuh dan mendalam para kader terhadap manhaj dan visi lembaga.

Menyikapi ini semua, tidak ada langkah yang harus dilakukan selain terus menempa diri, meningkatkan kapasitas diri secara manhaji dan wawasan intelektual.

Selain kekuatan spiritual yang utama, kader diharapkan mampu membangun dialektika dalam pengertian mampu menawarkan ide, konsep, dan tawaran solusi terhadap problematika masyarakat dengan bingkai manhaj kepada mereka yang memegang amanah atau memiliki peran strategis di negeri ini.*/Imam Nawawi

Polres Mentawai Gelar Sunatan Massal Bagi Anak Muallaf Ponpes Hidayatullah

0

MENTAWAI (Hidayatullah.or.id) – Tak hanya berbagai lomba olahraga yang di selenggarakan Polres Kepulauan Mentawai dalam memperingati hari Bhayangkara, namun juga melaksanakan sunatan massal bagi warga tak mampu di Pondok Pesantren (ponpes) Hidayatullah.

Kapolres Mentawai AKBP Hendri Yahya menyebutkan, Meski hanya bisa membantu melalui sunatan massal, tapi kami harapkan bisa mengurangi beban mereka dan dapat mendekatkan kepolisian dengan masyarakat.

Selain itu terjalin komunikasi yang baik antarsesama, baik yayasan pondok pesantren hidayatullah maupun dengan masyarakat setempat, inilah bentuk kepedulian polres mentawai dalam rangka memperat hubungan silahturahim, ucap Hendri Yahya, Jumat (3/8).

Peserta yang ikut sunatan massal, kata Hendri Yahya sebanyak 22 orang yang sudah cukup umur dan peserta rata-rata anak muallaf yang tinggal di pondok pesantren Hidayatullah Sipora jaya Kecamatan Sipora Utara Kabupaten Kepulauan Mentawai sekaligus pemberian bingkisan kepada anak yang mengikuti sunatan massal secara simbolis.

“Pelaksanaan kegiatan tersebut sebelumnya telah dilakukan koordinasi melalui klinik Polres Mentawai dengan pihak RSUD Kabupaten Kepulauan Mentawai untuk melakukan sunatan massal di pondok pesantren Hidayatullah,” ujarnya.

Ia menyebutkan, sesuai arahan Kapolda Sumbar setiap jajaran polres agar selalu melakukan kegitan-kegiatan positif dan kreatif yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, sehingga kepercayaan masyarakat terhadap polri ditengah masyarakat selalu terjaga.

Sementara Ketua Yayasan Ponpes Hidayatullah Mentawai, Mahrus Salam menyebutkan, “Sangat terbantu dengan kegiatan sosial Polres kepulauan Mentawai, selain gratis, peserta juga diberikan bingkisan,” ucapnya bersyukur.

Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian jajaran Polres Mentawai untuk anak-anak ponpes Hidayatullah serta meringankan beban orang tua untuk menyunat anaknya. Diharapkan kegiatan tersebut tidak berhenti disini dan terus melakukan aksi sosial.

Disisi lain, Mahrus salam mengatakan, ponpes Hidayatulah merupakan sebagai lembaga asuh selain memberikan ilmu disekolah, mendidik karakter diasrama dan spritual melalui mesjid, artinya Hidayatullah memiliki tanggung jawab iman dan amal shaleh terhadap umat.

Ke depan, Mahrus berharap, “Bagaimana ponpes Hidayatullah menjadi salah satu perkampungan muallaf di Kepulauan Mentawai, selain itu dapat menjadi salah satu tempat berinvestasi akhirat bagi umat,” tukasnya.(Otoritasnews)

Swalayan Sakinah Hidayatullah Surabaya Harga Merakyat

0

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) – Bagi masyarakat sekitar kampus ITS, pasti kenal supermarket Sakinah. Supermarket yang berada di Jalan Arif Rahman Hakim, Keputih, Sukolilo, Surabaya ini menjadi tempat berbelanja favorit jika ingin mendapatkan barang dengan harga termurah.

“Kami mengambil untung untuk tiap produk memang sangat kecil dengan margin keuntungan yang sangat rendah sehingga harga di Supermarket Sakinah lebih murah karena segmen pasar yang dibidik adalah masyarakat menengah bawah,” kata M. Daud, Sekretaris Koperasi As-Sakinah Pondok Pesantren Hidayatullah, Jawa Timur.

Supermarket Sakinah memiliki luas 2.300 m2

Supermarket Sakinah merupakan milik Koperasi Pondok Pesantren Hidayatullah Jawa Timur. Koperasi yang dikelola oleh para santri ini sangat dikenal dengan usaha ritelnya yang cukup berkembang, seperti Supermarket Sakinah. Di luar itu, koperasi telah mengembangkan cabang-cabang minimarket Sakinah lainnya berbentuk swakelola maupun kemitraan.

Supermarket Sakinah yang semua karyawannya laki-laki ini, memiliki luas 2.300 m2. Dibangun sejak 1991, supermarket merupakan satu-satunya usaha koperasi saat pertamakali berdiri.

“Tujuan mendirikan koperasi ini untuk menghidupi para santri, menyejahterakan santri dan bisa berbagi kepada masyarakat,” kata Daud.

Koperasi yang beranggotakan 500 orang ini memang separuhnya adalah para santri dan sisanya masyarakat umum.

Supermarket Sakinah semula hanya sebuah toko kecil, lama kelamaan berkembang secara bertahap. Luasnya semakin bertambah seiring peningkatan penjualan.

Daud mengakui, mereka harus melakukan berbagai strategi agar bisa bersaing dengan ritel besar lainnya, termasuk menjual harga barang lebih murah meski dengan keuntungan yang kecil.

“Untuk membangun bisnis ritel ini kami banyak belajar kepada ke berbagai usaha ritel yang sudah besar. Kami hanya santri tidak punya keahlian usaha sebelumnya,” tutur Daud.

Tidak hanya supermarket, koperasi As-Sakinah kemudian melebarkan sayap dengan membangun minimarket Sakinah ke berbagai lokasi strategis. Dengan mengusung nama Sakinah, minimarket juga menunjukkan tingkat penjualan yang sangat baik.

Koperasi bahkan membangun pusat logistik dan gudang untuk mendukung distribusi ke cabang-cabang yang tersebar di berbagai daerah. Saat ini dari 13 jaringan minimarket Sakinah tersebar di berbagai lokasi di Surabaya, Malang, Gresik, Lamongan dan Kediri.

Menerapkan skema mandiri dan kemitraan

Daud mengatakan untuk mengembangkan minimarket, koperasi menerapkan pola kerja sama dengan skema mandiri dan kemitraan. Skema mandiri, adalah modal investasi dari internal koperasi sedangkan kemitraan dilakukan dengan dua bentuk, yaitu sistem mudharabah (sistem kerja sama operasional) dan sistem musyarakah (kerja sama operasional dan permodalan).

Pada sistem mudharabah, manajemen Sakinah hanya menjalankan operasional dengan bagi hasil dari laba bersih diterapkan 25 persen untuk pengelola dan 75 persen bagi mitra.

Pada sistem musyarakah, mitra menyediakan bangunan sedangkan manajemen Sakinah berinvestasi pada peralatan, sistem dan modal kerja. Pada sistem ini bagi hasil diterapkan sebanyak 50 persen bagi pengelola dan 50 persen bagi mitra.

Kesempatan bermitra ini dibuka bagi perorangan maupun lembaga, khususnya koperasi. Minat bermitra dengan Sakinah ternyata sangat banyak.

“Penawaran kerja sama sangat banyak, namun banyak juga belum memenuhi standar kelayakan usaha,” jelas Daud.

Selain kemitraan, Koperasi As-Sakinah membuka diri untuk berbagi ilmu dengan melakukan pendampingan usaha dan pelatihan bagi yang ingin mengembangkan usaha ritel.

Merambah bisnis baru

Purwiyanto, Bendahara Koperasi As-Sakinah mengatakan dengan optimalisasi kinerja dan berbagai terobosan pengembangan, unit usaha ritel mengalami peningkatan penjualan.

“Dari 13 gerai ritel koperasi Sakinah, menghasilkan penjualan sekitar Rp56 miliar tahun 2017,” kata Purwiyanto.

Tahun 2013, koperasi kemudian menjajaki bisnis baru, unit simpan pinjam dan pembiayaan syariah (USPPS). Usaha USPPS dirintis karena dinilai potensi bisnis yang besar.

Menurut Purwiyanto, kepercayaan anggota berinvestasi di usaha ini sangat besar, dibuktikan dengan persentasi pertumbuhan dana simpanan. Tahun 2017, UPPS menyalurkan pembiayaan Rp3,6 miliar kepada anggota.

Lebih lanjut Daud mengatakan koperasi As-Sakinah masih ingin terus menjajaki investasi baru.

“Saat ini ada kemungkinan investasi di peternakan dan pertanian. Namun semua masih tahap penjajakan tergantung model investasi yang ditawarkan,” kata Daud.

Menurut Daud, pengurus Koperasi As-Sakinah sangat menekankan pada tata kelola yang baik agar mampu bersaing dalam berbagai dinamika usaha. Ini akan meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk bekerja sama dengan koperasi AS-Sakinah.

Karena itu, koperasi tak segan menggandeng konsultan dalam perbaikan manajemen yang berstandar ISO agar pengelolaan koperasi lebih professional, transparan, efisien dan menciptakan lingkungan usaha yang kondusif.

Ingin meningkatkan jumlah anggota

Rangkaian perbaikan tata kelola koperasi juga ditujukan untuk meningkatkan jumlah anggota. Koperasi As-Sakinah membidik penambahan jumlah anggota menjadi 1.000 orang tahun ini.

“Anggota adalah sumberdaya utama bagi koperasi, sebagai pemilik dan pengguna jasa yang memainkan peran penting di koperasi,” kata Daud.

Koperasi melakukan berbagai terobosan untuk meningkatkan partisipasi anggota, diantaranya memanfaatkan media sosial, website. Cara-cara ini diharapkan sekaligus menarik masyarakat untuk menjadi anggota.

Koperasi yang baru mendapatkan penghargaan sebagai Koperasi Berprestasi 2018 tingkat nasional dari Kementerian Koperasi dan UKM ini, mengalami pertumbuhan kinerja yang sangat baik dari sisi aset, omzet dan laba, Tahun 2017, pertumbuhan laba bersih naik 16 persen, aset meningkat 22 persen dan omzet naik 25 persen.

Koperasi As-Sakinah bisa mendapatkan SHU sebesar Rp4,2 miliar yang dibagikan ke anggota sebanyak Rp1,9 miliar dan sebagian SHU diperuntukan cadangan, dana sosial, pendidikan dan lainnya. (idn/tms)

Seminar Ketahanan Keluarga Negeri Serumpun Melayu

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Barangkali ini kali pertama diselenggarakan seminar negeri serumpun Melayu yang membahas masalah ketahanan keluarga digelar oleh PP Muslimat Hidayatullah (Mushida) dengan menggandeng Wanita Ikatan Muslimin Malaysia (ISMA) yang digelar di Auditorium Lantai II Perpusnas, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Ahad (29/07/2018). Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari khalayak.

Salah seorang peserta dalam sesi sharing, Pengurus Pusat Wanita Al Irsyad, misalnya, mendorong agar kedua institusi -Mushida dan ISMA- terus melakukan kolaborasi dalam rangka bekerjasama sesama negeri serumpun untuk meneguhkan ketahanan keluarga.

Senada dengan itu, Aminah Rahayu, peserta dari Surabaya, Jawa Timur, pun mengharapkan jalinan sinergi untuk bersama menguatkan ketahanan keluarga dalam rangka mengokohkan peradaban bangsa ini senantiasa terjaga.

Seminar yang mengangkat tema “Membangun Ketahanan Keluarga Menuju Indonesia Beradab” itu menghadirkan pembahas dari para pemerhati dan praktisi masalah pengembangan kapasitas keluarga.

Ketua Wanita Ikatan Muslimin Malaysia (ISMA) Norsaleha Mohd Salleh dalam perbentangannya, mengajak para muslimah untuk menikmati perannya sebagai wanita yang selaras dengan kodratnya sebagai manusia.

Dia mengatakan beragam cabaran hidup yang dijalani senantiasalah indah dilalui manakala disertai dengan keterbukaan hati dan keelokan budi karena hidupnya semata mata menggapai ridha Ilahi.

“Oleh sebab itu, sihat hati dan sihat fizikal perlu seiringan dan saling melengkapi antara satu sama lain,” cakap ibu dari 9 orang anak ini.

Dia menerangkan, menjadi muslimah adalah kebahagiaan dan dengan kodrat tersebut sempurnahlah dunianya. Dengan terbangunnya tradisi shalat, melafaz Al Quran, zikir, dan taubat dengan istighfar akan kian menambah keluasan hati.

“Kebahagiaan bagi muslimah yang berterusan, tenang, seronok dan damai,” imbuh Norsaleha yang juga Pengarah Institut Kajian Hadis Kolej Universiti Islam Antarbangsa Selangor (INHAD-KUIS).

Kebahagiaan menurutnya bisa dibagi menjadi yaitu kebahagiaan yang sifatnya fisik dan kebahagiaan yang hakiki. Kebahagiaan bersifat sementara ini jauh daripada manhaj Allah SWT. Adapun kebahagiaan hakiki berkesinambungan tanpa henti.

“Ramai manusia menyangka duit yang banyak, harta yang bertimbun itu adalah kebahagiaan. Padahal itu hanyalah fatamorgana yang mengelabui mata. Ada yang melihat pangkat dan kedudukan itu sebagai nilai kebahagiaan. Padahal kedudukan dan pangkat itu boleh berubah dan bertukar dalam sekelip mata sahaja,” kata Norsaleha.

Penyuka terapi tekhnik pernafasan “Wai Tang Kung” untuk pernafasan ini, menambahkan dunia ibarat roda yang bergulir. Sekejap manusia berada di atas, sekejap lagi manusia berada di bahagian bawahnya.

“Manakala bahagia hakiki apabila manusia berupaya untuk hidup di bawah lembayung Islam dengan membawa risalah perjuangan yang ditinggalkan oleh Rasulullah SAW. Kebahagian yang hakiki merangkumi bahagia di dunia dan akhirat,” cakap dia.

“Ia bisa dicapai dengan iman dan amal saleh, shalat, tilawah al-Quran, zikir, berbuat baik kepada orang lain, menjauhi kejahatan, sentiasa mengingati akhirat, bergaul dengan orang-orang yang baik dan mempunyai pasangan hidup yang baik dan shaleh,” ujarnya seraya mengutip Al Qur’an surah Hud ayat 108.

Dia mengingatkan, kehadiran kita manusia di dunia ini tak lain dan tak bukan adalah sebagai khalifah di muka bumi. Di sini lain, manusia sarat dengan kelemahan dan segala kekurangan.
Namun, di tengah realitas dirinya yang amat lemah, seringkali manusia malah angkuh dan meninggalkan Tuhan sebagai poros satu-satunya menuju kebahagiaan.

“Wanita merasa bahagia apabila ia melaksanakan tanggungjawab sebagai khalifah di muka bumi. Wanita yang bahagia juga adalah mereka yang mencintai tugasan dan tanggungjawab yang dilakukan. Maka cintailah tugas kita,” pungkasnya

Sistematika Wahyu

Sementara itu, dalam rangka membangun ketahanan keluarga dalam rangka membangun peradaban bangsa, Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah Dra Reni Susilawati memandang Sistematika Wahyu yang merupakan manhaj dakwah Hidayatullah bisa menjadi solusinya.

“Sistematika Wahyu yang memuat lima surah Al Qur’an yang pertama kali turun merupakan pijakan sistemik yang menjadi paradigma dasar membangun ketahanan keluarga untuk tegaknya peradaban,” kata Reni dalam pemaparannya.

Reni menelisik, struktur filosofis manhaj Sistematika Wahyu, menurutnya merupakan sebuah metodologi pendidikan yang lebih berfokus kepada individu. Hal itu juga menurut Reni tergambar dalam sejarah perjalanan dakwah Rasulullah dimana ia mendidik para Sahabat pertama beliau melalui pendekatan individual yang kelak melahirkan sosok kader dakwah mumpuni seperti Zaid bin Haritsah atau Usamah bin Zaid.

Metode Sistematika Wahyu terdiri dari 5 surah yang turun pertama kali yakni Surat Al-Alaq 1-5, Surat Al–Qolam 1-7, Surat Al Muzammil 1-10, Surat Al Mudatsir 1-7, dan Surat Al Fatihah 1-7. Kelima surat tersebut kemudian dijadikan Hidayatullah sebagai metode pembinaan baik lingkup membangun ketahanan keluarga dan bangsa.

Menurut Reni, sebagaimana dalam metode Sistematika Wahyu, pilar ketahanan keluarga menuju peradaban bangsa harus dimulai dari tradisi ilmu atai membaca (iqra’) dalam rangka menemukan jatidiri kita sebagai makhluk, mengenal Allah SWT sebagai Al Khaliq dan alam semesta sebagai ladang amal kebaikan.

“Menuju peradaban mulia dalam keluarga, membangun peradaban ummat, mengokohkan perdaban Serumpun Malasyia dan Indonesia,” ujar Reni.

Dia melanjutkan. Seiring dengan tradisi keilmuan tersebut, internalisasi fitrah Tauhid terus ditanamkan, mendorong pengarusutamaan tegaknya adab dan syariat, tekun beribadah dengan budaya murajaah, menegakkan kebenaran dan menegakkan peradaban Islam dalam keluarga.

“Hidup adalah murajaah mengagungkan Rabb. murajaah tadabbur dalam doa bersama Al Qur’an. Siap memberi teladan lengkap perbekalan dan persyaratan menyeru menjajakan cahaya berukhuwwah menuju cinta,” katanya.

Pada kesempatan itu Reni juga mendapatkan kesempatan untuk memperkenalkan organasasi Muslimat Hidayatullah serta berharap kegiatan yang digelar seperti hari itu dapat semakin mengeratkan persaudaraan antar sesama khususnya dengan negeri serumpun Malaysia.

“Menuju peradaban mulia dalam keluarga, membangun peradaban ummat, mengokohkan perdaban serumpun Malasyia dan Indonesia,” pungkasnya.

Adab dan Pancasila

Dalam pada itu, Guru Besar dan profesor di bidang ketahanan dan pemberdayaan keluarga Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen Fakultas Ekologi Manusia IPB Prof Dr Euis Sunarti dalam sesinya mengutarakan Pancasila pada Sila Kedua sejatinya merupakan kunci kokohnya ketahanan untuk tegaknya peradaban bangsa.

“Membangun ketahanan keluarga menuju Indonesia beradab. Meneguhkan peradaban bangsa dengan meninggikan adab yang dimulai dari keluarga sebagai unit sosial terkecil dari suatu negara yang dipengaruhi dan mempengaruhi lingkungan,” katan Euis.

Euis menjelaskan, adab adalah kehalusan dan kebaikan budi pekerti atau kemajuan bangsa di dunia yang menyangkut sopan santun, budi bahasa, dan kebudayaan suatu bangsa.

Menurutnya, destruksi adab bisa disebabkan banyak faktor diantaranya kegagalan internalisasi adab sejak dini, kegagalan edukasi dan internalisasi nilai agama dam kegagalan internalisasi moral karater.

Karena itu, dia menegaskan, solusi untuk mengentaskan masalah tersebut adalah melakukan pencegahan terhadap hal-hal yang ingin mereduksi adab sebagai pintu gerbang sebelum ilmu pengetahuan. Selain itu, penegakan adab harus bersifat hulu, dilakukan sejak dini yang pertama-tama oleh keluarga.

“Kurang adab dan sifat buruk seseorang bukan berasal dari fitrah. Tetapi karena kurangnya penanaman adab sejak dini di keluarga dan lingkungan seseorang berada,” imbuh inisiator Penggiat Keluarga Indonesia (GIGA) ini.

Euis menegaskan, sekali terbentuk sifat atau akhlak buruk, semakin dewasa, semakin sulit meninggalkan sifat-sifat tersebut.

“Banyak orang dewasa menyadari kurang adab dan merasa ‘terjebak’ karena tidak mampu mengubahnya. Bahkan kurang adab dapat menular di lingkungan pertemanan dan kolega,” tukasnya.

Sebab itu menurut dia memutus mata rantai lingkaran setan tersebut harus dilakukan sedini mungkin melalui wahana yang tepat dan memdadai. Dalam konteks negara pun upaya tersebut sejalan dengan amanat konstitusi dalam rangka meneguhkan ketahanan keluarga.

Euis menyebutkan, konstitusi negara kita dalam UU Nomor 10 Tahun 1992/ UU Nomor 52 Tahun 2009 dinukil definis Ketahanan Keluarga yaitu: “Kondisi Dinamik Suatu Keluarga yang memiliki keuletan dan ketangguhan serta mengandung kemampuan fisik material dan psikis mental spiritual guna hidup mandiri dan mengembangkan diri dan keluarganya untuk hidup harmonis dan meningkatkan kesejahteraan lahir dan bathin”.

Ketahanan keluarga lanjutnya mencakup ketahanan fisik ekonomi, ketahanan sosial dan ketahanan psikologi. Di dalamnya terbangun keberfungsian keluarga, pemenuhan peran dan tugas, manajemen sumberdaya, manajemen stress dan interaksi keluarga.

“Implementasi ketahanan keluarga melalui keberfungsian ekspresif dan pengasuhan anak khususnya melalui kelekatan agar anak beradab,” tukasnya.

Dalam pemaparannya, profesor Euis juga menyajikan hasil penelitian yang dilakukan pihaknya tahun 2017 tentang model pembangunan dalam wilayah rumah tangga dimana temukan sejumlah data menarik.

Diantaranya, dari keseluruhan populasi responden, didapati seluruh responden menyetujui bahwa keluarga dan masyarakat harus berpartisipasi membangun lingkungan, membangun
mekanisme untuk saling membantu, melindungi, dan mendorong keluarga bangun lingkungan yang aman dan nyaman.

“Kondisi saat ini menjadikan pembangunan keluarga dengan semangat kolektifitas semakin penting dilakukan sebagai upaya peningkatan ketahanan keluarga. Di sisi lain pemerintah juga memiliki tanggungjawab membangun ketahanan dan perlindungan keluarga,” jelasnya.

Namun, lanjutnya, upaya pemerintah dalam membangun ketahanan keluarga selama ini masih belum optimal. Karena itu para keluarga dan masyarakat harus aktif berpartisipasi membangun lingkunganya dimana para keluarga perlu membangun mekanisme saling membantu dan melindungi.

“Selain pemerintah perlu mendorong keluarga dan masyarakat membangun lingkungan yang aman dan nyaman, masyarakat harus memelihara kekokohan struktur keluarga, menguatkan keberfungsiang keluarga, melakukan perlindungan, jauhkan ancaman, turunkan kerentanan,” pungkasnya. (ybh/hio)

Hari Bakti TNI AU, Lanud Dominicus Baksos di Ponpes Hidayatullah

0

TUAL (Hidayatullah.or.id) – Dalam rangka rangkaian kegiatan bakti sosial dalam rangka Hari Bakti TNI AU ke 71, Lanud Dominicus Dumatubun menyelenggarakan kegiatan bakti sosial di Pondok Pesantren Hidayatullah Ohoitel, Kecamatan Dullah Utara, Kota Tual, Maluku Tenggara, Sabtu (28/7).

Komandan Lanud Dominicus Dumatubun Letkol Pnb. Sonny Irawan, menyampaikan bahwa kegiatan bakti sosial ini merupakan rangkaian kegiatan bakti sosial dalam rangka Hari Bakti TNI AU ke 71 juga merupakan wujud nyata kepedulian TNI AU khususnya Lanud Dominicus Dumatubun guna membantu meringankan beban hidup para santri yang tinggal di lingkungan asrama guna melaksanakan kegiatan belajar.

“Bakti sosial seperti ini sudah sering dilaksanakan dan selalu akan dilakukan bekerja sama dengan elemen masyarakat lainnya yang peduli terhadap kegiatan sosial,” tegas Danlanud.

Sementara itu Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Ohoitel Ust H. Ismail Ernas dan para santri menerima rombongan dari Lanud Dominicus Dumatubun.

Dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih kepada TNI AU khususnya kepada Lanud Dominicus Dumatubun atas pelaksanaan kegiatan ini. Kegiatan bakti sosial yang dilaksanakan kali ini, jelas dia, merupakan bentuk TNI AU yang merakyat.

“TNI AU datang dengan penuh keramahan. Semoga TNI AU ke depan tetap Jaya dan terus tetap dekat, serta selalu bersama rakyat,” katanya.

Beliau juga memberikan apresiasi kepada Lanud Dominicus Dumatubun yang telah memilih Pondok Pesantren Hidayatullah Ohoitel Kecamatan Dullah Utara Kota Tual, Maluku Tenggara untuk pelaksanaan Rangkaian kegiatan Bakti Sosial dalam rangka HARI BAKTI TNI AU ke 71.

“Kehadiran TNI AU di tempat ini membuat masyarakat dan para Santri dapat mengenal lebih dekat dengan TNI AU,” ujarnya. (tnia-au.mild.id)