Beranda blog Halaman 530

Korps Muballigh Hidayatullah Kaltim Dikukuhkan

0

SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) – Ketua Departemen Adab dan Pembinaan Keluarga DPP Hidayatullah, Ust Zainuddin Musaddad, mengukuhkan pembentukan dan kepengurusan Korps Muballigh Hidayatullah Provinsi Kalimantan Timur yang dilakukan di Kampus Dewan Pengurus Cabang (DPC) Hidayatullah Kecamatan Sambutan, Samarinda, Kaltim, belum lama ini dan ditulis Kamis (10/05/2018).

Selain kegiatan pengukuhan Korps Muballigh Hidayatullah Kaltim, acaara ini juga dirangkai dengan kegiatan Upgraiding Dai Ramadhan yang diselenggarakan oleh DPD Hidayatullah Samarinda.

Dalam kegiatan yang dilaksanakan di Masjid An-Nahl DPC Hidayatullah Sambutan ini, Ust. H. Uswandi SH.I dikukuhkan sebagai Ketua KMH Kaltim oleh KH Zainuddin Musaddad yang juga selaku ketua KMH Pusat.

Dalam sesi upgrading dan pengarahan pengukuhan tersebut, KH Zainuddin Musaddad MA berpesan kepada dai agar selalu menjaga kualitas ibadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala sebab tiada penolong bagi setiap muslim selain-Nya.

Kepada para peserta, Zainuddin juga menyampaikan materi seputar retorika dan metodologi dakwah. Diantaranya beliau mengingatkan seorang dai ketika menyampaikan materi dakwah harus proporsional.

Agar tidak monoton, dai harus mampu berimprovisasi ketika menyampaikan materinya. Sesekali pembicara perlu berdiri untuk menghidupkan suasana namun jika tidak terbiasa sebaiknya tidak dilakukan. Begitupun sebaliknya.

Lebih dari itu, pesan Zainuddin, bobot materi dakwah yang disampaikan bukan ditentukan oleh penguasaan atau tekhnik penyampaian yang memadai. Namun, ditentukan oleh ikhlasnya hati dan bersihnya jiwa dari nafsu yang berorientasi dunia.

Karena itu, terang dia, wajib bagi setiap dai untuk selalu menjaga niatnya dari penyakit hati dengan senantiasa meminta pertolongan Allah Subhanahu Wata’ala.

“Menghadap dan minta izin pada Allah lewat shalat tahajjud di malam hari. Sebab gerakan (dakwah) yang sedang kita kerjakan ini adalah gerakan “sujjadan wa qiyaaman”. Sebuah gerakan orang-orang taat yang mengajak pada ketaatan. Gerakan pengamal Islam yang mengajak ummat untuk mengamalkan Islam bukan hanya sekedar gerakan pelajaran Islam,” pesannya.

Selain itu lewat pemateri-pemateri lain dalam kegiatan yang dilaksanakan sehari penuh ini para peserta juga mendapatkan bekal dan bimbingan tekhnis dakwah ramadhan diantaranya public speaking, psikologi dakwah, metodologi dakwah dan materi-materi dakwah lain yang sesuai dengan kultur masyarakat muslim di kota Samarinda.

Ust. H. Jamaluddin Ibrahim mewakili Ketua DPW Hidayatullah Kaltim menyambut hangat kegiatan ini dan dalam sambutannya beliau berpesan kepada seluruh daI untuk bangga dan bahagia telah dipilih oleh Allah menjadi pelanjut risalah kenabian.
“Dakwah adalah sebuah profesi yang paling tinggi dan mulia dalam pandangan Allah Subhanahu Wata’ala,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama Ust. H. Uswandi SH.I selaku Ketua DPD Hidayatullah Samarinda juga mengucapkan terimakasih kepada para pemateri upgrading lainnya yang telah berkenan meluangkan waktu untuk memberikan pembekalan dan spirit kepada 45 orang daI Ramadhan Hidayatullah Samarinda yang akan diterjunkan selama satu bulan penuh membina ummat di berbagai titik di kota Samarinda. (ybh/hio)

Syahadat Luruskan Orientasi

ORANG-ORANG kafir Quraisy makin frustasi ketika Muhammad dan para sahabat tetap kukuh berdakwah. Meskipun sudah ditekan, diintimidasi, dibatasi dan kekerasan yang lain.

Sehingga mereka mencoba dengan cara halus. Melalui pamannya yaitu Abu Tholib yang dianggap memilikli bargaining posisition.

“Wahai Muhammad kalau engkau ingin tahta maka kepemimpinan Quraisy akan diserahkan kepadamu. Kalau ingin harta, seluruh harta orang Quraisy bisa engkau miliki, jika engkau mau wanita maka seluruh wanita tercantik di Quraisy bisa engkau peristri. Asal engkau menghentikan dakwahmu”

“Tidak, wahai Paman. Seandainya orang Quraisy bisa meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiri ku, maka aku tidak akan pernah berhenti berdakwah”

Subhanallah, betapa kuat pendirian Rasulullah dan para sahabat dalam amanat dakwah dan tarbiyah. Sangat jelas orientasi hidupnya bukan untuk dunia.

Secara kemanusiaan, apa yang dicari setelah punya tahta, harta dan wanita? Itu kan tiga hal yang dikejar-kejar manusia sejak dulu hingga hari ini. Dari pagi, siang, sore dan malam hari.

Tiga hal itu dulu ditolak Rasulullah, tapi sekarang diperebutkan umat atau masyarakat.

Mengapa Rasulullah tidak mau menerima tawaran yang menarik itu? Bukankah itu semua bisa dimanfaatkan untuk dakwah?

Bukan Rasulullah dan kita tidak perlu harta, tahta dan wanita. Tapi itu bukan orientasi, hanya washilah. Perbedaan orientasi dan washilah itu beda-beda tipis, tapi konsekwensinya tidak tipis, namun besar sekali.

Contoh, kita punya orientasi berdakwah ke pedalaman dan harus menggunakan washilah mobil sebagai kendaraan. Ketika tidak dapat mobil maka washilah bisa cari motor, sewa ataupun jalan kaki.

Berbeda ketika orientasinya mobil, maka segala daya upaya akan dilakukannya untuk dapat mobil. Washilah bisa berubah, orientasi harus teguh.

Itu pentingnya orientasi hidup yang berpengaruh kepada fikiran, sikap dan perilaku kita. Ketika sudah mempersaksikan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Maka orientasi hidup hanya untuk Allah, bukan ke yang lain. Meskipun banyak ancaman yang menegangkan, banyak godaan yang menggiurkan.

Ketika mempersaksikan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Maka jalan Sunnahnya adalah jalan terbaik untuk diikuti. Jalan Nabi Muhammad tidak pernah bergeser dari jalan dakwah dan tarbiyah.

Ketika mengikuti jalan nabi, maka akan bertemu dengan tantangan dan godaan yang mirip-mirip. Hanya bobot, jenis dan namanya saja berbeda.

Tuduhan teroris, radikalisme dan kriminalisasi para ustadz dan dai. Pembatasan dan pengawasan materi Khutbah atau ceramah. Itu lagu lama dengan irama baru.

Godaannya juga kurang lebih sama. Difasilitasi untuk bisa jadi ini dan itu, diberikan iming-iming sesuatu atau dijebak aneka ragam bentuk materi. Itu ujian keteguhan orientasi kita.

Tulisan ini juga washilah untuk menyampaikan sesuatu. Orientasinya membangun kesepemahaman tentang bersyahadat dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Bisa saja suatu saat ketemu, diskusi atau dialog.

Media sosial juga washilah, karena manusia hari lebih banyak yang bergentayangan di dunia Maya daripada dunia nyata. Washilah untuk menyebarkan informasi pendidikan Hidayatullah.

ABDUL GHOFAR HADI

DPP Hidayatullah Gelar Rapat Koordinasi Pengelolaan Aset

DEPOK (Hidayatullah.or.id) – Departemen Wakaf dan Kehartabendaan DPP Hidayatullah menggelar Rapat Koordinasi Nasional Aset yang diselenggarakan selama 2 hari di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok Jawa Barat yang dibuka pada Senin (7/5/2018).

Rakor yang mengangkat tema “Aset Sebagai “Darah Organisasi”, Bukan Beban Organisasi” ini dibuka oleh Ketua Umum DPP Hidayatullah KH Nashirul Haq, MA.

Dalam pengarahannya, KH Nashirul Haq mengungkapkan pentingnya wawasan masalah pewakafan bagi struktural organisasi Hidayatullah yang mengelola banyak wakaf.

Urgensi tersebut tidak saja dalam aspek agama (fiqh) tetapi juga pengetahuan dalam hal regulasi seperti Undang-undang Wakaf sebagaimana diatur dalam UU No 41/2004 tentang Wakaf dan PP Nomor 42/2006 tentang Pelaksanaan UU No 41/ 2004 tentang Wakaf.

Menurut beliau, dengan pemahaman yang memadai tentang wakaf, akan menghindarkan atau meminimalisir munculnya potensi konflik tanah yang disebabkan tidak adanya berkas legal-formal karena kelalaian mengurus legalitas wakaf sesuai undang-undang wakaf.

Sementara itu Ketua Departemen Wakaf dan Kehartabendaan DPP Hidayatullah Syaifullah Hamid menjelaskan acara ini dimaksudkan untuk konsolidasi dengan semua jajaran di tingkat DPW Hidayatullah se-Indonesia untuk mensukseskan kebijakan setralisasi di bidang aset dalam bentu serifikasi aset.

“Diharapkan dari Rakor ini dapat semakin mendorong jajaran pengurus struktural untuk melakukan pendataan aset dan pengoptimalan kebijakan sentralisasi aset dengan badan hukum Perkumpulan Hidayatullah,” kata Syaifullah.

Syaifullah menambahkan, Rapat Koordinasi Nasional Aset ini sebagai upaya serius Hidayatullah untuk menjaga, merawat, dan mengoptimalkan pengelolaan wakaf agar dapat dipertanggungjawabkan sebagai amanah umat.

Rapat Koordinasi Nasional Aset ini dihadiri diiikuti oleh perwakilan pengurus DPW Hidayatullah se-Indonesia khususnya yang mengurusi masalah aset dan wakaf. Rapat juga diselingi dengan sharing session dan simulasi serta agenda kunjungan audiensi ke Majelis Wakaf dan Kehartabendaan Pimpinan Pusat Muhammadiyah. (ybh/hio)

Hadangan Bramacorah dan Pengabdian Jumawir di Bosso

0

BOSSO (Hidayatullah.or.id)- Malam sudah larut. Penduduk memilih istirahat di rumah masing-masing saat ustadz Jumawir memacu sepeda motornya pulang dari pengajian di desa binaanya dihadang oleh sekelompok orang di tengah jalan.

Penghadangan itu dilakukan sekelompok bramacorah, atau penjahat yang sehari-harinya bergaul dengan masyarakat, tetapi pada suatu saat tidak segan-segan melakukan kejahatan, seperti merampok.

Langsung menunjukkan keinginannya, seorang diantara penghadang itu berbicara kasar dan mengancamnya dengan sebilah parang.

Sebagai santri yang diamanahkan untuk berdakwah di wilayah itu ustadz Jumawir berpikir panjang untuk bertindak ceroboh.

“Alhamdulillah, Allah menolong saya,” kenangnya singkat saat berbincang dengan Muhammad Bashori, kontributor Hidayatullah.or.id di Sulawesi Barat.

Jumawir melanjutkan, seorang dari gerombolan tersebut juga rupanya mengenalinya dengan baik dan sontak episode menegangkan itu berujung indah dan mencitrakan dinamika dakwahnya para dai yang ikhlas.

Bagi Jumawir, Pondok Pesantren Hidayatullah di kelurahan Bosso yang berada di perbatasan antara Kabupaten Luwu dan Luwu Utara adalah tempat yang istimewa karena menjadi tempat pertama ia abdikan ilmunya yang ia dapat sejak mondok di Kampus Hidayatullah Palopo.

Awal April 2014 ia kisahkan, memulai rintisan di lokasi seuas 1 hektar di tengah persawahan.

Bertemu dengan salah seorang tokoh masyarakat Bosso, Haji Hamzah yang lebih dulu mengenal Hidayatullah melalui Majalah Hidayatullah lalu memutuskan untuk mewakafkan satu hektar dari sawah yang ia miliki.

Ustadz Jumawir sangat bahagia karena menurut pewakaf akan ditambahkan ke Hidayatullah 2 hektar lagi jika di kemudian hari dianggap bagus perkembangan pondoknya.

Saat itu juga Jumawir, S.Pd.I dengan istri yang baru saja mereka langsungkan pernikahannya tidak menunggu lama untuk memulai kegiatan layanan kepada masyarakat Bosso dan sekitarnya yakni membuka pendidikan al-Qur’an dengan fasilitas seadanya .

Setelah beberapa bulan kemudian mencoba membuka Taman Kanak Kanak menyusul bangunan mushala berbahan kayu atas dukungan masyarkat Bosso yang sejak awal selalu mendukung dan menyambut antusias dakwah ustadz Jumawir.

Bersama dengan salah seorang kader dai Hidayatullah lainnya ia bersinergi juga dengan baik bersama warga masyarakat sekitar untuk rutin melakukan pembinaan melalui Persatuan Orangtua Siswa (POS).

Walhasil semua bangunan yang ada dalam pondok berasal dari bantuan masyarkat sepenuhnya. Adapun bangunan dari pemerintah, “Sudah kami ajukan dan diterima bahkan dijanji awal tahun depan (2019) akan direalisasikan,” tutur Jumawir yakin.

Salah satu perhatian pemerintah adalah izin operasional TK dan SD yang yang ia rintis hanya membutuhkan waktu kurang lebih 9 bulan saja.

“Setelah sering mengikuti lomba lomba di tingkat kecamatan dan kabupaten dan selalu menang di peringkat atas sehingga pemerintah penasaran,” kenangnya mengawali pondok yang sudah memiliki murid sekitar 150 ini.

Sadar akan kekurangan yang ia miliki ustadz Jumawir selalu berpegang pada satu prinsip yang selama ini ia jadian penyemangat dalam beraal jariyah di tempatnya bertugas.
“Kita memang ada di mana mana tapi jangan ke ‘mana-mana’ fokus saja dalam dakwah Insya Allah menang,” tandasnya.*/ Muhammad Bashori.

SMK Hidayatullah Kudus-Topaz Global Gelar Olimpiade 2018

KUDUS (Hidayatullah.or.id) – Lebih dari 1300 siswa-siswi sekolah se-Jawa Tengah (Jateng) tingkat SD-SMP tumpah ruah di halaman SMK Luqman Al Hakim Kampus Hidayatullah Kudus, Ahad (6/5/18).

Kegiatan Olimpiade Nasional Pendidikan Tahun 2018 ini terselenggara atas kerjasama SMK Al Luqman Hidayatullah Kudus dengan Topaz Global Education.

Ketua Panitia, Sugito, M.Sy, menyampaikan ucapan terima kasih serta selamat datang dan bertanding di SMK Luqman Al Hakim Hidayatullah Kudus kepada seluruh peserta olimpiade pendidikan ini.

“Selamat berlomba dengan selalu junjung tinggi kejujuran dan penuh optimis,” pesannya.

Dalam sambutannya sekaligus membuka rangkaian olimpiade ini, Kepala SMK Luqman Al Hakim Ust. Ahmad Mahbub pihaknya selaku panitia sekaligus sebagai tuan rumah dalam olimpiade ini yang kali pertama ini menyampaikan selamat datang dan selamat bertanding.

Pihaknya juga menyampaikan maaf jika dalam banyak hal masih terdapat kekurangan dalam pelayanan, penyiapan dan hal-hal lain yang menggangu jalannya lomba ini.

“Kami berharap setelah acara ini selesai, silaturahim semoga tetap dapat terjalin. Saya berpesan kepada adik-adik semua, terkhusus nanti bagi yang belum berhasil, jangan patah semangat. Teruslah belajar. Jadikan pengalaman ini sebagai pelecut semangat untuk kedepan bisa lebih baik lagi,” imbuhnya.

Olimpiade ini dibagi dalam 3 kategori utama yakni; pertama, Olimpiade Matematika tingkat SD dan SMP. Kedua, Olimpiade Sains, untuk SD dan SMP dan terakhir, Kategori Olimpiade Bahasa Inggris untuk tingkat SD dan SMP.

Dengan masing-masing kategori dipilih masing-masing 10 besar nantinya yang akan ikut lomba final di Kota Jogyakarta nantinya.

“Alhamdulillah, ucapan ini terus kami ulang-ulang dengan penuh rasa bahagia. Berbagai kepadatan acara ini dapat terselenggara dengan baik dan sukses,” ungkap Humas Panitia Olimpiade SMK Luqman Al Hakim Hidayatullah Kudus, Ust Hamdan, yang juga selaku pegiat bisnis online konveksi ini di sela-sela acara berlangsung.

Terakhir, doa dan harapan pembina Hidayatullah Kudus, Ust. Sunoto Ahmad dalam rangkaian olimpiade ini berharap semoga Hidayatullah Kudus dengan hadirnya tamu-tamu yang banyak mendatangkan keberkahan bagi pondok ini.*/Yusran Yauma

Teguhkan 6 Jatidiri Hidayatullah

0

DENPASAR (Hidayatullah.or.id) – Ketua Dewan Mudzakarah Hidayatullah, KH Ir Abu A’la Abdullah, M.HI, mengatakan 6 jatidiri Hidayatullah perlu selalu disegar-segarkan dan senantiasa diteguhkan sehingga ia tak sekadar pengetahuan tetapi benar-benar terinternalisasi dalam karakter setiap kader.

“Pentingnya tranformasi enam jatidiri kepada kader Wustho, agar besa mempercepat laju pertumbuhan kader yang siap ditugaskan mengabdi di tengah umat kapan dan dimana saja,” katanya dalam acara Daurah Marhalah Wustha DPW Hidayatullah Bali di Kota Denpasar, pekan lalu.

Keenam jatidiri Hidayatullah tersebut adalah: 1. Sistematika Wahyu (SW) Hidayatullah sebagai manhaj tarbiyah dan dakwah, 2. Ahlus Sunnah wal Jamaah, 3. Alharakah Al Jihadiyah Al Islamiyah, 4. Imamah dan Jamaah, 5. 5. Jama’atun minal muslimin dan 6. Wasathiyah.

Mengingat pentingnya materi tersebut, penjabaran lengkap keenam jatidiri Hidayatullah tersebut telah disusun dalam bentuk buku dan akan segera dipublikasikan dalam waktu dekat ini. (ybh/hio)

Mahasiswa STIE Hidayatullah Ikuti Kuliah Kerja Lapangan Plus

DEPOK (Hidayatullah.or.id) – Dalam rangka meneguhkan Tri Dharma Perguruan Tinggi sebagai salah satu tanggung jawab yang harus dipikul oleh seluruh mahasiswa, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah (STIEHID) Depok melakukan pelepasan penugasan Kuliah Kerja Lapangan Plus (KKLP) mahasiswa, Senin (8/5/2018).

Ketua STIE Hidauatullah DR Dudung A. Abdullah, mengatakan KKLP ini sebagai bentuk Pengabdian Masyarakat bagi mahasiswa atas proses pendidikan yang selama ini sudah dilakukan di kampus.

“Dengan kegiatan ini diharapkan mahasiswa bisa belajar mengaplikasikan ilmunya di tengah masyarakat yang heterogen, mahasiswa bisa belajar bermasyarakat secara riil dengan ragam budaya di tempat yang berbeda di seluruh pelosok negeri,” kata Dudung.

Dia menambahkan, kegiatan ini diharapkan juga sebagai media persiapan bagi mahasiswa sebelum mereka kelak ditugaskan sebagai sarjana penggerak pembangunan di seluruh wilayah Indonesia, setelah mereka diwisuda.

Senada dengan itu, Ketua III Bidang Kemahasiswaa, Suheri Abdullah, MM, mengatakan KKLP adalah bagian dari kegiatan kampus untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa dalam menerapkan dan merealisasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

“Para mahasiswa diharapkan dapat menambah keterampilan sesuai dengan jurusannya masing-masing,” kata Suheri.

Dia menjelaskan, kegiatan ini juga mendapatkan bobot nilai seperti halnya mereka dalam perkuliahan indoor (kelas), maka kegiatan ini mendukung dalam penerapan kegiatan (outdoor). Mereka juga akan berinterksi langsung dengan masyarakat dan saling berbagi serta berdiskusi.

Dalam kegiatan ini mahasiswa harus melaporkan dan mengevaluasi kepada pihak kampus serta diberikan lembar catatan untuk mendata semua kegiatan yang dilakukan selama bertugas.

Adapun penempatan mereka adalah keseluruh daerah di Indonesia yang sudah menyatakan kesiapannya, seperti Kalimantan Utara, Kalimantan Utara, Nusa Tenggara Timur, Provinsi Maluku Utara serta ada juga di kawasan Jabodebek.

“Data yang telah mereka dapatkan nanti akan diserahkan kepada pihak kampus ketika selesai dari tempat tugasnya,” imbuh Suheri.

STIE Hidayatullah Depok adalah perguruan tinggi yang didirikan dibawah naungan Ormas Hidayatullah. STIE Hidayatullah lahir karena sebuah rasa tanggungjawab untuk melahirkan manusia pengerak pembangunan yang tidak saja berorientasi materi.

Untuk itulah, STIE Hidayatullah dengan jurusan yang dibuka berupaya mendidik calon pengerak pembangunan yang berwawasan pembangunan, bermental pemimpin serta memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi.

STIE Hidayatullah sudah mulai dirintis sejak tahun 1999. Tahun 2009 STIE Hidyatullah resmi mendapat pengkuan dari Kementrian Pendidikan dengan SK Mendiknas RI No. 6/D/O/2009 Tanggal 06 Januari 2009 serta kini telah menyelenggarakan Program Studi (Prodi) Manajemen dan Program Studi (Prodi) Akuntansi dengan status terakreditasi BAN-PT. (ybh/hio)

Upgrading Manajemen Mutu Pengurus di Hidayatullah Palu

0

PALU (Hidayatullah.or.id) – DPP Hidayatullah dan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Tengah (Sulteng) menggelar kegiatan uprading manajemen mutu untuk pengurus struktural organisasi yang digelar di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Palu, Sulawesi Tengah, selama 2 hari.

Upgrading pengurus struktural organisasi ini diikuti oleh 40 peserta pengurus pemula dari wilayah Sulawesi Tengah, Gorontalo dan Sulawesi Utara dan ditutup pada Ahad (6/05/2018) sore.

Ketua Departemen Sumber Daya Insani DPP Hidayatullah Ir. Abdul Muhaimin, MM, mengatakan gelaran agenda upgrading yang digelar secara intensif tersebut untuk meningkatkan kemampuan kepemimpinan dan manajerial skil di dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya sebagai pengurus struktural organisasi.

“Seorang pengurus struktural organisasi bukanlah kader biasa. Dia adalah kader pilihan yang telah memenuhi syarat dan dilantik untuk mengemban amanah kepengurusan dan menggerakkan organisasi untuk meraih tujuannya,” katanya.

Oleh karenanya, terang beliau, pemahaman terhadap Hidayatullah, tugas dan wewenangnya serta keterampilan kepemimpinan dan manajerial skillnya menjadi penting untuk terus menerus dikembangkan.

Selain upgrading, kegiatan ini juga bermuatan konsolidasi idiil, organisasi, dan pemberian wawasan kepada para pengurus tersebut. Hadir sebagai narasumber Ketua Bidang Organisasi DPP Hidayatullah Khairil Baits dan anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah Ahkam Sumadiyana.

Pada kesempatan berbahagia tersebut hadir salah satu tokoh pendiri Hidayatullah KH Hasan Ibrahim, MA, yang juga meluangkan waktunya memberikan taushiah di hadapan para peserta. (ybh/hio)

Ketum Lakukan Pelepasan Dai-daiyah Hidayatullah Batam

BATAM – Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah KH Nashirul Haq mengatakan segenap dai Hidayatullah harus selalu membesarkan Allah Subhanahu wa Ta’aala dalam setiap amanah yang diemban.

Pesan tersebut diutakarannya saat melepas sekaligus menyampaikan taushiah dalam acara penugasan kader dai/daiyah sarjana Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Hidayatullah di Kota Batam, Ahad (6/5/2018).

“Para kader yang akan bertugas, hendaknya meluruskan niat dalam mengemban setiap amanah yang diberikan kepada kita, terutama tugas dakwah, warabbaka fakabbir. Jadi, tujuan kita mengemban risalah dakwah ini adalah membesarkan Allah Subhanahu Wata’ala, bukan pribadi, kelompok, atau yang lainnya,” pesannya.

Kandungan ayat 3 Surah Al Muddatsir tersebut memuat pesan agar setiap muslim  khusnya para kader dai harus selalu mengagungkan Allah SWT. Jiwa raganya selalu terwajahi kebesaran Allah. Sehingga tidak ada yang besar di hadapannya selain Allah.

Seiringan dengan itu, dai harus mengejanwatahkan nilai-nilai yang terkandung dalam ayat selanjutnya, watsiyabaka fa thahhir. Yakni seruan untuk selalu menjaga dan menyucikan hati, meluruskan niat jangan sampai seorang dai menyampaikan risalah-Nya untuk mendapat keuntungan duniawi.

“Karena seorang dai adalah qudwah. Makanya, salah satu kaidah dakwah adalah alqudwah qabla da’wah, dahulukan dulu keteladanan baru mengajak orang. Sebuah pepatah mengatakan, lisanul hal afsahu min lisanil maqal,” lanjutnya.

Ust Nashirul lantas menceritakan pengalamannya saat ia diamanahi oleh pendiri Hidayatullah Allahuyarham Abdullah Said untuk tugas ke Cilodong setamatnya dari bangsu SMA.

Sebelum berangkat menuju tempat tugas barunya, ia dipanggil oleh Abdullah Said lalu didoakan kemudian ditugaskan. Sewaktu mau berangkat ke Madinah untuk melanjutkan amanah studinya, Nashirul juga panggil dan dibekali nasehat.

“Bersyukurlah adik-adik sekalian sebelum ditugaskan, sudah dibekali terlebih dahulu. Bekal mental dan ilmu selama kuliah. Kami dulu, hanya modal semangat dan mental untuk siap ditugaskan dimana saja. Bahkan saya tulis siap tugas ke Wamena, Banjarmasin, Palangkaraya,” katanya.

Dalam pada itu, Ust Nashirul mengingatkan, ilmu akan terasa manfaatnya ketika digembleng di lapangan. Kalau ilmu dalam kelas saja, tidak bisa melahirkan apa-apa, tidak bisa melahirkan pemimpin, tidak menumbuhkan keberanian serta tidak melahirkan inovasi dan kreativitas.

“Kelak, inilah nanti perkuliahan sejati yang akan dihadapi. Alhamdulillah, bagi santri Hidayatullah sudah tidak susah untuk mengemban amanah di daerah, karena sudah pengalaman apa yang ia jalani selama di pondok,” katanya.

Ia mengimbuhkan, dakwah adalah tugas mulia. Dakwah adalah pekerjaan para nabi dan rasul. Itulah profesi paling mulia: adda’watu ilallah, wa Man ahsanu qaulan mimman da’a ilallah.

“Jadi, apapun profesi dan jabatan kita, tugas kita semua ini adalah dai. Sehingga hendaknya juga seorang dai menjaga muruah, menjaga diri, berakhlaq. Warujza fahjur, menghindari dosa dosa,” ingatnya.

Pelepasan penugasan kader dai/daiyah sarjana Sekolah Tinggi Ilmi Tarbiyah (STIT) Hidayatullah di Kota Batam, ini menugaskan sebanyak 55 dai/daiyah yang dikirim ke berbagai daerah di Indonesia baik kawasan perintisan, terpencil, minoritas dan di kampus-kampus Hidayatullah yang masih membutuhkan tenaga dai.

Penugasan tersebut turut disaksikan oleh Dirjen Pembangunan Kawasan Transmigrasi (PKTrans) Kemendesa PDTT H.M Nurdin yang sekaligus didapuk memberikan wejangan kepada para dai sarjana tentang wawasan kebangsaan. Hadir pula Ketua Yayasan Hidayatullah Batam KH Jamaluddin Nur yang juga Ketua Departemen Hubungan Antar Lembaga DPP Hidayatullah dan Ketua DPW Hidayatullah Kepri Khoirul Amri dan jajaran serta sejumlah tokoh masyarakat dan undangan.*/Azhari

“Ahlus Sunnah wal Jamaah sebagai Jatidiri Hidayatullah”

DENPASAR (Hidayatullah.or.id) – Hidayatullah sebagai salah satu organisasi Islam senantiasa istiqamah berpegang teguh pada al Qur’an dan Sunnah berdasarkan pemahaman Ahlus Sunnah wal Jamaah serta konsisten mengikuti Manhaj Nabawi dalam gerakan tarbiyah dan dakwah.

Demikian disampaikan Ketua Umum DPP Hidayatullah KH Nashirul Haq, ketika menyampaikan arahan sekaligus pemateri dalam acara Daurah Marhalah Wustha yang diselenggarakan DPW Hidayatullah Bali di Kota Denpasar beberapa waktu lalu.

Beliau mengatakan bahwa Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah sebagai salah satu jatidiri Hidayatullah.

“Hidayatullah berasaskan al Qur’an dan Sunnah menurut pemahaman Ahlus Sunnah wal Jamaah, mengikuti manhaj nabawi dengan pola dasar Sistematika Wahyu,” ujanya mengutip pembukaan PDO Hidayatullah.

Beliau menjelaskan, dari berbagai definisi yang dikemukakan ulama, dapat disimpulkan bahwa Ahlus Sunnah wal Jamah artinya orang yang berpegang teguh kepada ajaran Rasulullah dan para sahabat serta menjaga persatuan dalam kebenaran.

“Ahlus Sunnah wal Jamaah merupakan ajaran sehingga tidak bisa diklaim oleh organisasi atau lembaga tertentu. Siapa saja yang konsisten dengan ajaran Islam yang murni sesuai tuntunan Rasulullah dan para sahabatnya, maka ia tergolong Ahlus Sunnah,” terangnya.

Lebih jauh ia mengemukakan bahwa penamaan Ahlus Sunnah wal Jamaah dibutuhkan di tengah banyaknya golongan yang mengaku Islam namun ajarannya menyimpang dari ajaran Rasulullah dan para sahabat.

“Jadi istilah ini digunakan untuk membedakan golongan yang berpegang teguh pada kebenaran dengan golongan yang menyimpang dari ajaran Islam,” imbuhnya.

Daurah Marhalah Wustha yang digelar pada 3-5 Mei 2018 ini dibuka oleh Ketua Dewan Mudzakarah Hidayatullah Ust. Ir. H. Abu A’la Abdullah, MH.I yang sekaligus menjadi nara sumber untuk materi Khittah, dan Visi Misi Organisasi.

Daurah yang diikuti oleh 35 kader dari DPW Bali dan NTB ini juga menghadirkan narasumber lainnya diantaranya Ketua DM Ust. Ir. H. Abu A’la Abdullah, Ust. Ir. H. Hanifullah (Ketua Majelis Murobbi DM), dan Ketua Departemen Pengkaderan DPP Hiudayatullah Ust Muhammad Sholeh Usman. (ybh/hio)