Peluncuran program Dompet Dakwah Media di Kantor Majalah Suara Hidayatullah Jakarta, Selasa (30/01/2018).
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Salah satu dakwah yang paling penting saat ini adalah melalui media massa. Jika media dikelola orang baik, maka, akan melahirkan informasi yang baik dan tidak menyesatkan.
Karena pentingnya media ini, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) meluncurkan program “Dompet Dakwah Media” di Kantor Majalah Suara Hidayatullah Jakarta, Selasa (30/01/2018).
Direktur Utama BMH, Marwan Mujahidin, menjelaskan program tersebut bertujuan untuk menyiarkan kebaikan-kebaikan untuk umat Islam Indonesia, termasuk informasi perkembangan dakwah di daerah 3T (Terluar, Terdalam, dan Terpencil).
Seperti diketahui, dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia, BMH menjadikan para dai sebagai agen perubahan dengan berdakwah kepada masyarakat di daerah 3T.
Marwan mengatakan, dengan kondisi alam yang luar biasa sulit dan menantang, tentu dakwah ini membutuhkan dukungan, salah satunya dukungan finansial.
“Kita ingin menyiarkan kebaikan mereka ini. Maka tentu ada perangkat-perangkatnya. Karena itu kita membuat program Dompet Dakwah Media,” ucap Marwan kepada hidayatullah.com.
Dengan dukungan umat, diharapkan media Islam bisa lebih kuat dan bisa memberikan informasi yang lebih memihak umat Islam. Termasuk pemberitan di daerah terpencil.
Para dai-dai pedalaman dan tempat terpencil, kata Marwan, sebetulnya tidak sedikit pun surut berdakwah membangun masyarakat walau media tidak memberitakannya.
Namun, ia ingin mengabarkan kepada dunia bahwa masih ada sebagian insan yang melakukan kerja-kerja ikhlas ini dalam rangka mendidik dan mencerdaskan kehidupan masyarakat.
Tugas dai-dai pelosok tidak semata menjadi ngaji dan sejenisnya, mereka pun menjadi penggerak pendidikan untuk pembangunan di kawasan khususnya sumber daya manusia dengan mengadakan pusat-pusat edukasi seperti Taman Baca Al Qur’an dan bersama komponen lainnya mengembangkan potensi ekonomi umat.
Melalui program ini, diharapkan jurnalis bisa diterjunkan ke daerah 3 T untuk lebih menggambarkan situasi dan kondisi di sana.
“Dan ini membutuhkan sarana atau biaya atau materil yang tak sedikit. Karena kondisi lapangan yang luar biasa. Ada satu daerah yang berhari-hari sampainya,” katanya./* Andi/Ybh
CIREBON (Hidayatullah.or.id) – Hadir di Kota Cirebon pada tahun 1993, Hidayatullah terus bergeliat memantapkan kiprahnya di Kota Berintan yang juga berjuluk kota udang dengan keanekaragamannya ini.
Kini Hidayatullah Cirebon melalui Yayasan Manarussalam Cirebon telah menyelenggarakan pendidikan formal tingkat menengah pertama bernama Madrasah Tsanawiyah (MTs) Sains Al Hadid Hidayatullah Cirebon.
Selain MTs, Lembaga Pendidikan Integral Hidayatullah Kota Cirebon telah mengelola jenjang pendidikan PAUD tingat PG dan TK serta SDIT Lukman Al Hakim dengan lokasi yang berbeda.
PAUD PG/TKIT Ya Bunayya Hidayatullah Cirebon dengan sistem fullday school berlokasi di Jalan Evakuasi Gang Langgar Karyamulya, Kesambi, Cirebon.
SDIT Lukman Al Hakim Hidayatullah Cirebon dengan program tahfidzul Quran fullday school di alamat yang sama pula. Adapun Mts Sains Al Hadid Hidayatullah Cirebon sistem boarading school (berasrama) beralamat di 2 tempat untuk putra dan putri.
Kampus Putri Mts Sains Al Hadid beralamat di Jalan Sekarkemuning Karyamulya, Kesambi, Cirebon. Dan Kampus Putra di Jalan Surapandan, Kelurahan Argasunya, Harjamukti, Cirebon.
MTs Sains Al Hadid berkomitmen menjadi sekolah unggulan yang membidik peserta didik beprestasi dan memprioritaskan dari kalangan yatim dan dhuafa dengan beasiswa full. Mereka dibinda dan mendapatkan pendidikan formal dengan sistem berasrama( boarding school).
Pada 2014 lalu Bertempat di Masjid Al-Ikhlas, Komplek Yayasan Pondok Pesantren Manarussalam Hidayatullah Cirebon, Walikota Cirebon, Drs. H. Ano Sutrisno, MM, meresmikan Pesantren Tahfizul Qur’an Khusus Putri.
Peresmian Pesantren Manarussalam yang ditandatangani WaliKota Cirebon ini dikhususkan untuk para santri putri tingkat SMP, atau lulusan SD dan sederajat.
Walikota Cirebon Ano Sutrisno yang dididampingi sejumlah pejabat setempat beserta perangkat wilayah seperti Camat Kesambi Subrata, S.Sos, Lurah Karyamulya Tarmat Wijaya, dan Ketua RW Kalikebat, menyampaikan apreasiasi terhadap Hidayatullah atas kegiatan yang dilakukan di kota udang ini.
“Insya Allah Pemerintah Kota Cirebon akan terus membantu program–program yang diangkat oleh Hidayatullah, supaya lebih banyak lagi masyarakat yang merasakan manfaatnya. Terutama mereka dari kalangan kurang mampu yang tinggal di pelosok desa,” kata Ano Sutrisno dalam sambutan peresmiannya.
Pesantren Hidayatullah Cirebon santri putri selain dibekali pada pemahaman agama Islam yang konfrehensif setiap saat seperti ilmu Al Qut’an, para santriwati juga dibekali keterampilan atau skil lapangan seperti kemampuan menjahit, tata boga, dan kompetensi-kompetensi lain yang berhubungan dengan dunia kewanitaan.
“Hal ini dimaksudkan agar nantinya Pesantren Tahfidz akan menghasilkan lulusan yang berkualitas dan siap pakai,” ujar Ismail.
Para santri dari kalangan dhuafa yang bersekolah di Pesantren Hiayatullah Cirebon diberikan beasiswa penuh khususnya bagi mereka yang berasal dari keluarga tidak mampu dan dhuafa yang dibantu oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH). (jul/hio)
BULUKUMBA (Hidayatullah.or.id) – Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Bulukumba menggelar acara Rapat Kerja Daerah (Rakerda) yang berlangsung di Kampus Ponpes Hidayatullah Bulukumba, Kampung Padangmonro, Dusun Batua Desa Garanta, Kecamatan Ujungloe, Selasa (30/1/2018).
Rakerda Hidayatullah Bulukumba yang ke-III dirangkai dengan pengajian umum di Pondok Pesantren Hidayatullah Bulukumba yang menghadirkan narasumber Ustadz Ir.H. Abdul Majid, MA. dan Ustad Massiara.
Acara pengajian berlangsung pada pukul 09.00-12.00 WITA bertempat di Masjid Ruknun Syadid Pondok Pesantren Hidayatullah Bulukumba.
Dengan mengangkat tema “Optimalisasi Program Dakwah dan Tarbiyah Menuju Sukses Berperadaban Islam”, Hidayatullah Bulukumba berkomitmen untuk terus meningkatkan pelayanan dengan mengoptimalkan gerakan dakwah dan tarbiyah.
Acara ini turut dihadiri oleh masyarakat sekitar, tokoh dan ulama setempat, orangtua santri serta santri Hidayatullah Bulukumba. (ybh/hio)
REDELONG (Hidayatullah.or.id) – Bupati Kabupaten Bener Meriah Provinsi Nangroe Aceh Darussalam, Ahmadi, menghadiri acara temu ramah dan Silaturrahim Akbar walisantri dan pengurus Yayasan Umar bin Khattab Hidayatullah Bogor di Kampung Bintang Berangon, Kecamatan Pintu Rime Gayo Simpang Tiga Redelong, Aceh, Sabtu (27/1/2018).
Pada kesempatan tersebut Bupati Ahmadi menyampaikan kesalutannya atas prestasi santri Hidayatullah yang mampu dan komitmen menjadi penghafal Al Quran.
Bupati pun mengaku akan memberi apresiasi kepada para penghafal Al Quran di daerah itu. Kata Bupati, para imam-imam hafidz Al Qur’an di Kabupaten Simpang Tiga Redelong akan ditempatkan di setiap mesjid-mesjid kecamatan dan mendapatkan tunjangan setara dengan tunjangan yang diterima para pejabat eselon dua (2).
“Selain kita berikan tunjangannya setara dengan pejabat eselon dua, imam hafdz ini juga akan diberi fasilitas rumah tinggal, demikian dengan rekening listrik serta air akan kita tangggung,”kata Ahmadi.
Dia menambahkan, untuk tahun 2018, selain menempatkan imam hafidz di semua kecamatan, pemerintah juga akan mencetak kader hafidz sejumlah 380 orang.
“Terkait pembiayaannya akan diambil alih oleh pemerintah. Maka hari ini bagi orangtua yang anaknya sedang belajar hafidz Al Quran di Bogor diminta untuk melapor pada Dinas Syariat Islam melalui camatnya,” katanya.
Bupati menegaskan, Pemerintah Kabupaten akan membantu meringankan beban bapak ibu orang tua santri/ santriwati dengan sejumlah bantuan.
“Yang jelas siapapun dia yang belajar Tahfidz Qur’an akan mendapat perhatian khusus dari pemerintah Bener Meriah,” sampai Bupati Bener Meriah.
Disisilain, Bupati Ahmadi juga mengatakan, Tahun 2018 Pemerintah Bener Meriah akan programkan santunan khusus untuk anak-anak yatim dan piatu.
“Jadi di tahun 2018, pemerintah juga akan membuat program santunan bagi anak yatim dan piatu yang ada dalam Kabupaten Bener Meriah,” terang Ahmadi.
Katanya lagi, santunan tersebut bukan lagi bernilai Rp100 ribu, Rp 200 ribu. Pemerintah sudah alokasikan dana santuan anak yatim itu sebesar 3 miliyar lebih khusus untuk anak yatim.
“Bila memasuki Hari Raya Idul Fitri, kita akan minta anak yatim untuk memilih pakaian lebaran di toko-toko sesuka hati mereka. Pemerintah yang akan bayar,” terang Bupati Bener Meriah tersebut yang disambut dengan ucapan syukur dari para walimurid satri/ santriwati Pondok Pasantren Hidayatullah saat itu.
Seperti diketahui, Yayasan Umar bin Khattab Hidayatullah Bogor Jawa Barat banyak membina anak-anak santri dari Aceh khususnya Kabupaten Bener Meriah. Mereka mendapatkan beasiswa pendidikan dan boarding school di pesantren tersebut dengan target output tahfidzul Quran. (ybh/hio)
BANGKA TENGAH (Hidayatullah.or.id) – Tanpa diawali saling kenal apalagi pacaran, sebanyak 3 pasang santri kader Pondok Pesantren Hidayatullah Bangka Tengah dengan mantap menjalani prosesi pernikahan massal mubarak.
Acara nikah massal Pondok Pesantren Hidayatullah Desa Teru, Kecamatan Simpang Katis, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Bangka Belitung ini digelar pertama kalinya di desa tersebut pada Ahad (28/01/2018).
Tiga pasang guru yang mengajar di Pondok Pesantren Hidayatullah Desa Teru, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini menikah secara serentak di hadapan para penghulu di lembaga pendidikan tersebut.
Hadir dalam pernihakan massal tersebut Bupati Bangka Tengah Ibnu Saleh, Ketua DPRD Provinsi Bangka Belitung Didit Srigusjaya, Ketua Departemen Adab dan Pembinaan Keluarga Sakinah DPP Hidayatullah Zainuddin Muzadad, Anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah Naspi Arsyad dan pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Bangka Tengah Ust Irwan Sambasong serta beberapa ulama dan tokoh masyarakat.
Pimpinan ponpes Hidayatullah Irwan Sambasong dalam sambutannya mengatakan adapun tujuan kegiatan tersebut untuk menjalankan salah satu syariat Islam.
“Bahwa dengan menikah nantinya akan lahir generasi-generasi Islam yang taat yang antara lain dengan terus membela, mengokohkan dan menyiarkan agama Allah,” ungkapnya.
Dijelaskannya juga tentang proses lamaran ketiga pasangan ini. Para pengantin pria dan perempuan ini tidak pernah bertemu sebelumnya, mereka tidak saling kenal.
Tak ada yang namanya pacar-pacaran, mereka baru bertemu pada saat penyerahan mahar, itupun hanya sekilas saja.
“Calon penggantian perempuan dan pria hanya sekali bertemu saat memberikan mahar dan kemudian melangsungkan pernikahan. Mereka hanya taaruf pada waktu menyerahkan mahar saja,” kata Irwan Sambasong.
Irwan mengatakan, ketiga merupakan pasangan yang ditunjuk oleh Allah SWT untuk menjalankan salah satu syariat Islam bahwa dengan menikah nantinya akan lahir generasi Islam yang taat, terus membela, mengokohkan dan menyiarkan agama Islam.
“Mudah-mudahan dengan pernikahan ini hidup mereka semakin tenang dan damai dalam lindungan Allah SWT,” ujarnya,
Sementara Bupati Bangka Tengah, Ibnu Saleh menuturkan seseorang menemukan kebahagiaan setelah menikah. Dia juga berpesan kepada ketiga pasangan pengantin yang menikah tersebut agar selalu bersyukur kepada Allah Ta’ala dengan menjaga pernikahan sampai akhir hayat dan berharap pasangan pengantin menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.
“Kita berharap kegiatan ini akan terus berlanjut setiap tahunnya dan semakin meriah,” harap dia.
Ia juga berharap ponpes menjadi pondok pesantren yang modern, para orang tua jangan ragu untuk menitipkan anak-anaknya di pondok pesantren. “Karena ini baik untuk bekal di akherat kelak,” ajaknya.
“Seseorang akan menemukan kebahagiaan setelah menikah, pernikahan mubarak di Pondok Pesantren Hidayatullah ini dalam rangka menjalankan syariat Islam dan menuju keluarga yang bahagia hingga akhirat,” kata Bupati Ibnu Saleh.
Ibnu dalam kesempatan itu mendoakan semoga pasangan ustadz dan ustadzah ini mendapat keberkahan dan ridho dari Allah SWT sehingga melahirkan generasi muda Islam yang takwa.
“Saya sengaja hadir pada cara akad nikah ini karena ini sangat sakral dan itu dilakukan serentak oleh tiga pasang guru yang dipertemukan begitu singkat dan langsung menikah,” ujar Bupati.(ant/dbs)
BANDUNG (Hidayatullah.or.id) – Wakil Bupati Bandung H Gun Gun Gunawan SSi MSi meresmikan pembangunan Pondok Pesantren Hidayatullah II yang berlokasi di Desa Sadu Kecamatan Soreang, Sabtu (27/1/2018).
Peresmian tersebut ditandai dengan peletakan batu pertama yang diikuti oleh Muspika Bandung dengan disaksikan Pengurus DPP dan DPW Hidayatullah Jawa Barat.
Dalam sambutannya H Gun Gun menyampaikan sangat mengapresiasi dan mendukung aktivitas ormas khususnya Pesantren Hidayatullah dalam berkontribusi membangun sumber daya manusia. Menurutnya apa yang dilakukan Hidayatullah sejalan dengan program Pemkab Bandung.
“Dalam melaksanakan pembangunan Pemkab Bandung melakukan tiga hal utama. Pertama peningkatan sumber daya manusia (SDM), kedua membangun karakter yang maju dan berdaya saing dan yang ketiga berakhlul karimah,”paparnya.
Gun menambahkan dalam pelaksanaannya juga setidaknya ada tiga hal yang harus diwujudkan sebagai indikator keberhasilan dalam pembangunan, yakni nilai dan sikap relijius, mengembangkan budaya positif dan berwawasan lingkungan.
Menurutnya nilai relijius harus menjadi spirit dalam melaksanakan pembangunan baik fisik maupun manusianya.
“Masyarakat khususnya para santri juga harus mempunyai wawasan dan kepedulian terhadap alam sekitarnya. Islam telah mengajarkan bagaimana ummatnya harus senanti menjaga, merawat dan melestarikan alam serta melarang tindakan merusak alam,”pesannya.
Kegiatan peresmian tersebut juga dirangkai dengan acara Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Jawa Barat 2018 yang diikuti seluruh pengurus Hidayatullah se-Jabar.
Pesantren Hidayatullah 2 Bandung yang berada di Soreang ini menempati lahan seluas sekira 5500 meter. Saat ini di lokasi sudah ada bangunan masjid dan beberapa bangunan semi permanen sebagai ruang belajar.
Sebelumnya Pesantren Hidayullah Bandung sudah berdiri lebih dari 20 tahun lalu di Padasuka Kec. Cimenyan, Kota Bandung.*/Asep Juhana
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Majelis Taklim Telkomsel (MTT)-Islamic Medical Service (IMS) dan RS Ibnu Sina menggelar acara pelayanan hapus tato gratis di pelataran Masjid Cut Meutia, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (27/01/2018).
Acara tersebut digagas karena banyaknya masyarakat yang sudah hijrah namun masih melekat di tubuh mereka tato.
“Mahalnya biaya menghapus tato menjadi salah satu penghambat mereka untuk melengkapi hijrahnya,ini yang melatarbelakangi acara ini digagas,” kata Direktur IMS Imron Faizin, disela-sela acara tersebut.
Sementara itu, untuk peserta hapus tato yang telah terdaftar jumlahnya terus bertambah, sampai kini sudah mencapai seribu lebih.
“Di database kami sekitar seribu lebih,” sambung Imron, dan yang mendaftar langsung ke lokasi acara itu juga bertambah.
Sedangkan, peserta yang akan ikut program ini juga wajib melampirkan hasil cek kesehatan dari puskesmas atau instansi kesehatan resmi lainnya bahwa terbebas dari sejumlah penyakit.
“Di antaranya HIV/AIDS, Hepatitis B dan C, TBC, Gula darah rendah >70mg/dl, dan gula darah tinggi <200mg/dl,” kata Ketua Bidang KKK IMS dr Andrian Purwo Sulistyo.
Persyaratan lainnya adalah usia peserta di atas 18 tahun, kondisi tubuh dalam keadaan fit, tidak memiliki gangguan ginjal, tidak dalam keadaan tensi rendah kurang dari 90/60 mmHg, tidak bertensi tinggi di atas 120/80mmHg, tidak memiliki; gangguan pernapasan (sesak nafas, asma, dan alergi kulit); gangguan pembekuan darah; gangguan fungsi hati, dan tidak gila.
Acara yang juga disponsori minuman kurma 7 Dates ini berjalan dari pagi sampai Magrib. Masyarakat yang telah bertaubat dan ingin menghapus tato juga antusias.
Hal ini terlihat sampai sore masyarakat masih ada yang mendaftar, baik laki-laki dan wanita. Namun masyarakat yang tidak bisa menghapus tato saat itu bisa mendaftar secara online dan selanjutnya akan dijadwalkan.
Sementara itu bagi peserta yang menunggu untuk dihapus tatonya, panitia menggadakan halaqah al-Qur’an. Selain halaqah, juga ada acara tausiyah singkat.
“Hal ini sebagai bentuk pembinaan bagi sahabat hijrah, yang memberikan halaqah dan isi tausyiah dari Hidayatullah,” tambah Imron.
Tausiah dan halaqah tidak hanya diadakan di lokasi hapus tato, namun juga terus berlanjut.
“Akan ada pembinaan lanjut bagi sahabat hijrah, tim pembinanya ustadz dari Hidayatullah,” ucap Imron.
Ketua Umum MTT, Wawan Budi Setiawan, menuturkan program ini akan terus berlanjut di sejumlah daerah. “Insyaallah akan ada di beberapa tempat,” katanya.*/ Niesky Abdullah
JAKARTA (Hidayatullah) – Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah mengeluarkan surat himbauan kepada kader dan umumnya kepada segenap kaum muslimin untuk mendirikan shalat gerhana bulan yang akan terjadi pada Rabu (31/01/2018) malam. Berikut ini surat imbauannya.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Dengan izin Allah Ta’ala Program Sehat Peduli Gizi Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (LAznas BMH) berlangsung secara sukses di 28 propinsi di Indonesia.
Beragam gelaran dilaksanakan dalam rangkaian Sehat Peduli Gizi BMH di seluruh Indonesia.
Di Penjaringan Jakarta Utara acara dirangkai dengan sosialisasi kesehatan gigi dan gusi bersama Drg. Retno Suhendrina yang juga mitra dan donatur BMH. Acara ditutup dengan aksi sikat gigi bersama.
Di Merauke Papua, acara berlangsung dengan kebahagiaan anak-anak Papua dan para santri di kabupateng ujung timur Indonesia itu.
Di Balikpapan Kalimantan Timur acara dirangkai dengan pemeriksaan kesehatan bagi warga dan anak. Termasuk di Kalimantan Barat, juga ada sosisalisasi kesehatan.
“Terimakasih kepada aparat pemerintah, donatur dan muzakki, serta para penerima manfaat, sinergi ini semoga menjadi kebaikan bagi bangsa kita ke depan. Dan, semoga hal ini bisa terus berkesinambungan dalam bentuk dan program yang lainnya di waktu mendatang,” terang Direktur Program Pendayagunaan BMH, Dede Heri Bahtiar.
Antusiasme anak-anak penerima manfaat Program Sehat Peduli Gizi di Kampung Nelayan Muara Baru Jakarta Utara
Anak-anak sebagai penerima manfaat terbesar dari program ini sangat bahagia. Bukan saja karena bingkisan yang mereka bawa pulang, tetapi juga karena ada edukasi dan hiburan dari BMH yang disampaikan melalui permainan dan dongeng edukatif.
“Alhamdulillah anak-anak antusias, tidak bosan dan mereka bisa bergembira,” terang amil BMH DKI Jakarta, Ahmad Dahlah.
Anak-anak adalah masa depan bangsa dan negara, semoga melalui Sehat Peduli Gizi ke depan generasi penerus bangsa bisa hidup lebih baik, sehat, cerdas, peduli dan siap memimpin bangsa dan negara menjadi lebih baik. (bmh/hio)
ILUSRASI: Santri Pesantren Hidayatullah Batu, Malang, sedang mengikuti kegiatan halaqah pelajaran Al Qur’an/ dok
Oleh Sarah Zakiyah, Lc
KUNCI menjadi seorang Muslim adalah mengucapkan syahadatain (dua kalimat syahadat). Yaitu berucap, asyhadu an laa ilaaha illallaah wa asyahadu anna muhammadan rasuulullah.
Ketika kalimat tauhid telah dilisankan, setelahnya segala konsekuensi syahadat harus dipenuhi oleh orang beriman.Mulai dari implementasi syahadat yang paling ringan yaitu menyingkirkan gangguan yang menghalangi suatu jalan hingga berperang di jalan agama (jihad fi sabilillah).
Setidaknya ada 77 perkara keimanan yang harus dikerjakan oleh seorang beriman. Demikian disebutkan oleh Imam al-Baihaqi dalam Kitab Syu’abul Iman yang diringkas oleh Imam al-Qozwaini.
Tentu tak semudah membalik telapak tangan dalam mengarungi proses keimanan yang bercabang hingga 77 tingkatan itu. Ibarat sebuah titian, ia adalah perjalanan yang pasti disesaki oleh gelombang tantangan dan rintangan yang membadai.
Sebagai makhluk sosial, maka potensi yang dipunyai tak cukup menjadi bekal jika tidak melibatkan bantuan orang lain. Apalagi kalau orang itu sampai bangga dan merasa cukup untuk ditolong oleh saudaranya.
Sebaliknya, setiap manusia niscaya membutuhkan kawan yang bisa seiring sejalan. Ada teman yang dapat menasehati kala diri lupa, ada sahabat untuk berbagi di masa senang dan susah.
Pun dalam membangun komitmen berdakwah dan berjuang untuk agama Islam, umat Islam berhajat untuk saling menguatkan buhul ukhuwah. Seorang Muslim membutuhkan saudaranya Mukmin yang lain agar menyatu dalam kekuatan yang satu. Saling bersinergi merekatkan potensi yang berserak di bawah kepemimpinan Islam.
Hal ini dijelaskan oleh Fathi Yakan dalam bukunya “Madza Ya’ni Intimai Ila al-Islam”. Ia mengatakan, orang-orang yang mengaku beriman namun enggan dalam memperjuangkan Islam adalah orang yang linglung.
Keyakinan mereka adalah formalitas yang jauh dari realita kehidupan, meskipun beriman kepada Allah dan Hari Akhir serta melakukan aktifitas kerohanian.
Menurut Fathi Yakan, berjuang untuk Islam hukumnya wajib sejak syahadat pertama kali diucapkan. Olehnya mendapatkan teman setia yang dapat mengingatkan kala tergelincir serta saling menjaga komitmen berIslam adalah sebuah keniscayaan sekaligus pekerjaan yang tidak mudah.
Persaudaraan dalam Islam saja tidaklah cukup. Sebab kawan setia yang dimaksud adalah sahabat yang dapat saling menopang dengan semua yang dia miliki. Mulai dari harta, raga, bahkan jiwa demi perjuangan Islam.
Dalam hal ini Abu Bakar ash-Shiddiq menjadi teladan luar biasa bagi seluruh umat Islam. Sepanjang hidupnya Abu Bakar melakoni peran sebagai sahabat setia Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam (Saw). Mulai dari Rasulullah menerima wahyu pertama di gua Hira hingga berujung di hari wafat Nabi.
Sebagaimana Nabi Muhammad juga berhasil mempersaudarakan sahabat Muhajirin (pendatang dari Makkah) dengan kaum Anshar (penduduk Madinah) sesaat bakda peristiwa Hijrah tersebut.
Lebih jauh, syariat Islam mengatur pertemanan orang-orang beriman dalam kehidupan mereka. Allah tidak ridha sekiranya orang beriman mengambil selain mereka sebagai kawan setia dalam memperjuangkan Islam.
Allah berfirman:
ام حسبتم ان تتركوا ولما يعلم الله الذين جاهدوا منكم ولم يتخذوا من دون الله ولا رسوله ولا المؤمنين وليجة والله خبير بما تعملون
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan, sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(Surah at-Taubah [9]: 16).
Allah menyiratkan akan menimpakan terus ujian dan cobaan bagi siapa saja yang mengaku beriman hingga mereka tersaring dan terpilih sebagai sebenar-benar orang mukmin.
Yaitu orang-orang yang berciri khas tak mau berkawan setia kecuali dengan Allah, Rasulullah, dan orang-orang beriman lainnya.
Ayat di atas juga menyebut kata ‘walijah’. Sebuah kata yang berasal dari akar kata ‘walaja-yaliju’ yang berarti masuk. Ia disebut walijah bagi seorang Muslim jika orang itu masuk sedalam-dalamnya pada kehidupan sahabatnya, menjalin cinta dan kesetiaan bersamanya.
Ibnu Mandzur berkata, walijah adalah bithanah,khashshah, dikhlah dan dakhilah al-mawaddah (Lihat kamus Lisan al-Arab).
Mencetak walijah melalui halaqah
Bagi orang beriman, budaya halaqah adalah tradisi yang sudah dikenal sejak masa para sahabat hidup bersama Nabi.
Sejarah mencatat, Rasulullah mengawali halaqah dalam pembinaan para sahabat sejak di rumah al-Arqam bin Abi al-Arqam.
Halaqah yang dimaksud adalah kumpulan yang terdiri dari beberapa orang yang duduk melingkar untuk menuntut ilmu dan mempelajari agama.
Model menuntut ilmu semacam ini terus berkembang model dan jenisnya. Tercatat budaya halaqah kian tumbuh subur di masa Daulah Abbasiyah seperti yang tersebar kini di sejumlah pondok pesantren tradisional di Indonesia.
Dalam sistem halaqah tersebut, seseorang yang dianggap punya kompentensi ilmu lalu dipercaya sebagai murabbi (pembina halaqah) dan beranggotakan beberapa orang lainnya (mutarabbi). Biasanya anggota halaqah berjumlah sekitar 5-10 orang.
Istimewanya, sistem halaqah tersebut bukan hanya tempat menimba ilmu saja, tapi juga sebagai tempat mencetak orang-orang yang ingin menyempurnakan keimanan mereka.
Peran seorang murabbi dalam halaqah tidak hanya sebagai transformer (pemindah) ilmu namun juga berfungsi pencetak kader yang loyal terhadap Allah, Rasulullah, serta punya wala’ dan bara’ bersama orang-orang beriman lainnya.
Tugas besar sekaligus mulia itu tentu tidak mudah bagi setiap murabbi. Sebab ia harus melebur bersama para mutarabbi (binaan halaqah) dengan segenap hati, pikiran, dan perasaannya.
Dengannya, ia lalu dapat diterima, didengar dan dicintai oleh sesama anggota halaqah. Demikian itu sekaligus menjadi tahap seleksi yang membuktikan mana di antara anggota yang bersungguh-sungguh menjaga dan membangun komitmennya terhadap dakwah Islam.
Sejatinya dinamika yang terjadi dalam halaqah adalah miniatur suatu jamaah atau komunitas masyarakat. Olehnya tak salah, jika keluarga biasa disebut sebagai pondasi awal atau sekeping batu bata dalam membangun peradaban Islam, sedang halaqah adalah wadah dalam menjaga agar batu bata ini tetap teguh memikul tanggung jawab sebagai seorang mukmin.
Halaqah yang hanya terdiri dari beberapa anggota tersebut juga berfungsi menjadi wadah efektif mencetak walijah-walijah yang siap berjalan seiring dalam berdakwah dan membangun peradaban Islam.
Untuk itu diharapkan hati murabbi dan para mutarabbi bisa berpadu dalam suatu halaqah. Sejalan waktu, niscaya akan tersingkap anggota yang hanya ikut-ikutan atau sekedar turut ramai, misalnya.
Di saat yang sama, para walijah itu akan hadir membuktikan kesetiaan mereka. Sebuah komitmen yang tak hanya berdasar kepentingan materi, tapi murni sebagai pertautan hati yang terbangun semata karena iman.
Uniknya, masalah hati bukan urusan yang bisa dibuat atau dikarang begitu saja. Hati adalah perkara yang hanya bisa diatur oleh Allah. Dialah Zat yang dapat menautkan hati orang-orang beriman agar tetap istiqamah di jalan yang diridhai-Nya.
Hati-hati mereka lalu saling menjaga dan menasihati, saling mencintai serta mengikat janji setia dalam keadaan senang ataupun susah. Mereka siap mengorbankan jiwa dan raga demi dakwah dan kepentingan agama Islam.
“Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.” (Surah al-Anfal [8]: 63).
________
*)Sarah Zakiyah,penulis adalah ibu rumah tangga dan pengurus PP Muslimat Hidayatullah. Artikel ini sebelumnya telah dimuat di portal www.hidayatullah.com