Beranda blog Halaman 551

Hidayatullah Dukung Bank Muamalat Kembali ke Khittah

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Bank Muamalat Indonesia (BMI) terus berbenah untuk menjadi lebih baik. Komitmen tersebut ditunjukkan Bank umum pertama di Indonesia yang menerapkan prinsip Syariah Islam ini salah satunya dengan mengundang ulama dan tokoh Islam untuk mendapatkan masukan.

Pertemuan yang digelar di gedung Muamalat Tower Jakarta itu berlangsung khidmat. Hadir dalam kesempatan itu Ustadz Yusuf Mansur, Pengurus PBNU KH. Manarul Hidayat, Ketua DPP Hidayatullah Ust Nashirul Haq, Ustadz Subhan Bawazir dari kalangan Salafi, dan dai kondang KH Abdullah Gymnastiar.

Ketua Bidang Ekonomi DPP Hidayatullah Asih Subagyo yang turut hadir dalam pertemuan tersebut, menceritakan, pertemuan didahului makan siang bersama selepas shalat Jumat, dengan menu spesial nasi kebuli.

“Disantap secara lesehan di sebuah ruangan. Dimana jajaran direksi bersama manajemen puncak, berbaur dalam suasana yang hangat dan akrab,” kata Asih.

Asih mengaku menikmati silaturrahim tersebut. Bukan saja hidangannya, melainkan juga environment yang dibangun dan dibentuk oleh sang nahkoda, Ahmad Kusna Permana (AKP) yang baru 2 bulan menjabat itu.

“Nampak tak berjarak. Berhimpun dalam joke-joke segar, tetapi serius, berisi dan berbobot,” kisah Asih.

Masih menurut Asih dalam catatannya yang dikutip redaksi, AKP dalam kesempatan tersebut bercerita sebagai nahkoda baru, sejak ditunjuk dalam RUPS dan menginjakkan kaki di tempat barunya ini. AKP berazzam akan mengembalikan institusinya ke khittah (akar) dasar pendiriannya. Yaitu, tumbuh dan berkembang bersama umat.

“Sehingga, divisi yang menangani urusan ini, diperbesar wewenang dan cakupan kerjanya. Bahkan, kedepan, unit ini yang akan akan jadi core business-nya. Intinya bagaimana bisnis yang dibangun inline dan dalam satu tarikan nafas dinamika umat,” kata Asih mengutip AKP.

“Semangatnya (AKP) untuk merangkul komponen umat Islam sungguh luar biasa. Beliau berniat untuk mengundang dan mengunjungi simpul-simpul umat. Sebagai langkah awal, masjid direnovasi,” kata Asih.

AKP tak mau jika ruangannya lebih bagus dibanding masjid. Kegiatan pengajian, setiap hari diadakan sebelum jam kantor digalakkan. Bahkan, AKP langsung mengontrol dari tiap-tiap lantai. Memastikan semua running well. Shalat lima waktu beliau tegakkan di Masjid.

Bahkan, tidak segan-segan beliau jadi imam shalat rawatib. Bukan waktu bacaan sirr, tetapi saat bacaan jahr. Maghrib dan Isya. Bacaannya indah, tahsinnya bagus pula. Dan pada saat itu, beliau bisa mengambil mic, untuk memberi kultum, demikian ungkap Asih.

“Tadi sempat beliau ungkapan bahwa, beliau ingin mengundang banyak ulama ke kantornya. Biar menjadi rumah bagi umat Islam. Sebuah keinginan yang tulus agar, ada nasihat, masukan demi perbaikan bersama,” kata Asih.

Dalam kesempatan tersebut, Asih juga ikut urun rembuk. Menurut Asih, masih banyak hal yang harus diperbaiki agar bisa kembali ke Khiththah tersebut. Dari aspek mendasar, substantif, sampai ke soal teknis, termasuk dari sisi layanannya.

“Semuanya secara komprehensif harus diperbaiki. Disaat beliau dan jajarannya terus memperbaiki diri, maka umat juga perlu di edukasi (di tarbiyah) untuk paham persoalan juga. Sehingga klop. Disini peran ulama menjadi demikian penting,” ujar Asih.

Namun, lanjut Asih, semuanya ini akan terus berlomba dan berpacu dengan waktu. Sebab, kompetitor juga tidak mau kalah, terus memperbaiki diri.

“Ini positif, fastabiqul khairat. Jika semua didasari demi kebaikan umat maka umat yang akan diuntungkan dengan layanan terbaik tersebut. Dengan semangat, motivasi, ghirah dan pengalaman beliau, meski butuh waktu, Insya Allah cita-cita mulia tersebutakan menjadi kenyataan. Apalagi jika melihat semangat direksi lainnya, serta manajer dan stafnya. Nampaknya tidak terlalu lama bakal terwujud,” imbuh Asih.

Asih menyampaikan selamat bertugas Pak AKP. Dia berharap semoga keinginan BMI untuk kembali ke Khiththah, yang berarti akan berpihak ke umat, dan tetap dalam koridor syar’i, profesional dan merujuk regulasi yang ada dimudahkan oleh Allah SWT.

Hadirin lainnya yang juga Relationship Manager PT Bank Muamalat Indonesia, Iman Ni’matullah, punya cerita menarik. Kata Iman, kehadiran AKP sebagai CEO Bank Muamalat telah berhasil menghadirkan semangat baru bagi seluruh Insan Muamalat.

Orang-orang lama yang pada awalnya mulai lunglai dan bekerja sekedar menyelamatkan nafkah keluarganya kini bangkit dan menyingsingkan lengan bajunya untuk berjuang tidak sekedar untuk penghidupan diri, tapi lebih dari itu, yaitu misi dan nilai Ilahi.

Pak AKP, begitu inisialnya, memulai kerja dengan mengeluarkan instruksi untuk mempercantik masjid.

“Malu, ah, masak masjidnya kalah bagus dibanding ruang direksinya,” kata Imam sebagaimana didengarnya langsung ketika AKP memerintahkan pengurus DKM untuk merombak masjid kantor di lantai 20 sebagai puncak tertinggi Muamalat Tower.

Bukan hanya fisik masjid yang dipercantik, Permana mengajak seluruh karyawan untuk menghentikan aktivitas kala adzan berkumandang. Ia sendiri yang kerap jadi imam. Nasabah dan para tamu pun diminta untuk turut serta.

Olahragawan serba bisa ini pun memberikan arahan kepada seluruh karyawan untuk mengadakan pengajian mingguan setiap Jumat pagi.

AKP berpesan kepada semua jajaran Bank Muamalat untuk menjadikan perusahaan ini bukan sekedar tempat bekerja, tapi juga untuk thalabul ilmi. Ia pun berkeliling menginspeksi berbagai lantai untuk memastikan arahannya ditaati. (ybh/hio)

Mentor dan Teladan Nabi Menjadi Usahawan Sukses

0

DALAM perkembangan bisnis modern, jika seseorang ingin membangun bisnis rintisan (start-up), agar terjadi akselerasi yang signifikan. Maka Entrepreneur tersebut, mesti didampingi seorang Mentor.

Dan selanjutnya, banyak contoh sukses yang mempertegas sekaligus membuktikan kebenaran tesis tersebut. Dalam bahasa lain, mentor yang juga sering disebut, dengan Coach. Meski ada perbedaan mendasar antara Mentor dan Coach. Namun dalam konteks ini kita samakan.

Menurut KBBI, mentor/men·tor/ /méntor/ n pembimbing atau pengasuh (biasanya untuk mahasiswa): tiap mahasiswa diberi seorang –. Artinya, secara spesifik mentor itu, merupakan pembimbing atau pengasuh mahasiswa, selama kuliah. Namun kini telah memiliki perluasan makna, dan dikaitkan dengan bisnis.

Semangatnya sama, meski implementasi berbeda. Intinya adalah adanya orang atau sekelompok orang, yang memiliki pengalaman (empiris) di bidang bisnis dan/atau orang yg memiliki ilmu dan pemahaman bisnis untuk membimbing, mendampingi start up dalam menjalankan bisnisnya, hingga berhasil.

Dia merupakan tempat mengadu dan mencari solusi atas permasalahan bisnisnya. Dalam hal mentornya seorang pengusaha yang sudah berhasil, biasanya juga menularkan, serta memberi contoh kiat-kiat suksesnya.

Pendeknya seorang Mentor, selalu mengarahkan kesuksesan kepada yang dimentori, dengan menghindari kesalahan dari apa yg pernah dilakukan, atau pengalaman dari kebanyakan pengusaha lainnya.

Darinya, mentor bisa jadi sangat galak dalam membimbing dan mengarahkannya. Karena ada tanggung jawab besar, untuk mentransfer ilmu dan kesuksesannya. Dan inilah, model yang kini diadopsi oleh mayoritas startup.

Ternyata model mentoring bisnis ini bukan hal yang baru. Dalam beberapa kisah dalam Sirah Nabawiyah, ada salah satu episode hidup Rasulullah Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam sebelum diangkat menjadi Rasulullah. Yaitu, aktifitas beliau sebagai pebisnis handal. Dimana sebelum melakoni aktifitas sebagai pebisnis, Rasulullah magang dan mendapat Mentor yang handal.

Dan ternyata bukan orang jauh, yaitu pamannya sendiri, Abu Thalib. Karena pamannya inilah yg pertama kali mengenalkan Rasulullah dalam bisnis. Saat usia beliau masih sangat belia, yaitu dua belas tahun.

Ya, dalam usia semuda itu beliau diajak dalam sebuah misi dagang. Dan tidak tanggung-tanggung, yaitu melakukan perdagangan internasional, ekspor-impor. Dari Mekkah ke negeri Syam, yang jaraknya ratusan kilometer. Dan memerlukan perjalanan berhari-hari.

Tentu dalam perjalanan dagang itu, banyak pelajaran yang beliau ambil. Dari aspek bisnisnya, sampai bagaimana berkomunikasi dengan orang asing, dlsb. Berdagang berarti, memasarkan. Mengajak orang untuk membeli itu adalah sebuah seni, yang membutuhkan talenta, kemampuan da kemauan.

Sehingga, berdagang itu, merupakan aktifitas pembentukan kepribadian yang utuh. Bahkan dalam misi dagang itu, beliau sempat ketemu Pendeta Bahira, dan dengan melihat ciri yang ada pada diri beliau, berdasar tanda-tanda yang ada dan tercatat di kitab sucinya, bahwa Muhammad ini adalah calon orang besar.

Dus, model magang beliau ini, dan di bawah bimbingan sang mentor, berlangsung sampai pada beberapa misi dagang. Dan sang paman di bawah Abu Thalib, me-mentori, sampai kemudian beliau bisa mandiri dan memimpin kafilah dagang, baik ke Syam maupun Yaman dan lain sebagainya.

Dan, setiap misi dagang tersebut, beliau selalu meraup keuntungan yang besar. Seorang mentor kadang dia tidak menyadari saat melakoni peran itu. Bisa jadi, bersebab karena dorongan diri untuk berbagi terhadap orang disayangi, dlsb.

Atas kecakapannya itu maka beliau dipercaya oleh Kadhijah, konglomerat Mekkah saat itu, untuk membawa dagangannya ke luar negeri. Dan ditangan beliau, keuntungan berlipat ganda, bersebab kepiawian beliau dalam berdagang.

Sebuah kecakapan yg tidak diperoleh secara instan. Melainkan melalui proses yang panjang. Di barengi dengan kemampuan soft skill beliau berupa pemasar ulung, yang dilandasi sikap akhlakul karimah. Yang darinya mengantarkan beliau mendapatkan predikat sebagai al-amin. Sebuah gelar yang disematkan bersebab interaksi sosial yang baik.

Kembali ke soal mentor. Bisa jadi dia adalah sosok yang patut diteladani karena keberhasilannya. Namun tidak jarang mereka adalah King Maker.

Sebenarnya dia sendiri bukan orang (pengusaha sukses). Namun, justru mampu mengantarkan orang lain untuk sukses. Dia tahu jalan dan cara untuk sukses. Namun, dia tidak cocok untuk melewati jalan itu. Tetapi bisa menunjukkan jalan, dan mengajari untuk itu.

Dan mentor ini ternyata tidak hanya soal urusan bisnis. Namun hampir disemua aspek kehidupan. Banyak contohnya. Dan paman nabi tersebut salah satu contohnya. Dan selanjutnya, kita bisa memilih peran yang cocok untuk diri kita sendiri. Wallahu a’lam.

________
ASIH SUBAGYO

Sinergi Donor Darah Laznas BMH dan Mitra di Papua Barat

MANOKWARI (Hidayatullah.or.id) – Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah Perwakilan Papua Barat menggelar kegiatan Donor Darah, pada Sabtu (20/01/2018).

Kegiatan ini terselenggara dengan baik atas kerjasama antara BMH dengan mitra, yakni WICOM Computer, Mollo Manokwari Dive Comunity, Combertz Manokwari Gas Pooll Advanture.

Selain untuk mengumpulkan stok darah, acara ini juga dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa solidaritas sosial di kalangan Masyarakat.

Oleh karenanya aksi ini diselenggarakan di pelataran Toko Komputer (WICOM Computer) Jl. Trikora No. 135 Wosi Manokwari Papua Barat, sebagai area masyarakat ramai beraktivitas.

Dalam kegiatan ini pihak PMI Papua Barat juga turut membantu dalam hal pengadaan alat dan teknis operasional donor darah.

Aksi donor darah berlangsung dari pukul 10.00 pagi hingga pukul 15.00 sore Waktu Indonesia Timur.

Jangka waktu ini disesuaikan dengan prosedur kegitan donor darah sendiri yang membutuhkan darah dari pendonor yang belum banyak melakukan aktivitas.

Selain itu, para calon pendonor juga diharuskan memenuhi beberapa persyaratan medis ketika akan mendonorkan darahnya. Yang meliputi tensi darah dan berat badan yang ideal, kecukupan waktu tidur, tidak dalam keadaan haid, tidak berpenyakit, dan tidak mengonsumsi obat minimal sejak sehari sebelumnya. Sesuai dengan kurangnya stok Darah PMI Papua Barat.

“Ketika kita mendonorkan darah, kita tidak pernah tahu siapa yang akan menggunakannya. Disitulah letak solidaritas sosial, dimana kita peduli dan berkontribusi untuk seseorang tanpa mengenalnya terlebih dulu,” ujar Ibu Hj. Suryati Bendahara PMI Papua Barat.

Aksi donor darah ini rencananya akan dilakukan secara rutin. dengan rentang waktu antara 1 hingga 3 bulan jarak antar pelaksanaannya, sesuai dengan jarak waktu umum untuk pendonoran darah.

Dengan peningkatan kualitas penyajian acara dan publikasi yang lebih baik, Kepala BMH Perwakilan Papua Barat Wasmanto berharap acara donor darah ini selanjutnya dapat mengundang antusiasme yang lebih sehingga mampu menghimpun lebih banyak kantong darah.

“Kita harapkan ke depan aksi solidaritas semacam ini bisa dilaksanakan dan diikuti oleh masyarakat secara lebih antusias,” ucapnya.

Selain itu kerjasama dengan berbagai pihak terkait juga akan dijajaki dalam mewujudkan aksi donor darah yang lebih terintegrasi untuk mendapatkan output yang lebih baik.

Vakumnya aksi Donor Darah yang di gelar oleh BMH Papua Barat beberapa tahun mendorong Wasmanto dan Mitra untuk kembali menunjukkan eksistensi organisasi ini. Yang diwujudkan salah satunya dengan pengadaan acara donor darah ini.

Kedepannya ia berharap, agar peran BMH yang dipimpinnya dapat teraktualisasi dengan lebih nyata. Seperti pengadaan pelatihan medis, penyaluran relawan ke tempat bencana, hingga pembentukan komunitas donor darah sebagai gerakan penyadaran tentang pentingnya donor darah.*/MIftah

Bawaslu RI Ajak Santri Hidayatullah Perangi Politik Uang

0

BENGKULU (Hidayatullah.or.id) – Anggota Badan Pengawas Pemilu Republik Indonesia (Bawaslu RI), Mochammad Afifuddin mensosialisasikan pengawasan pemilih partisipatif kepada santri se-Kota Bengkulu di Pesantren Hidayatullah Kota Bengkulu, beberapa waktu lalu (19/1/2018).

Dalam kesempatan itu, Afif mengajak ratusan santri untuk bekerjasama memerangi politik uang, serta mengawasi pelanggaran-pelanggaran yang terjadi selama pelaksanaan Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Bengkulu 2018 ini.

“Selama ini ada kelompok-kelompok belum tersentuh, diantaranya para santri. Kalau kelompok pramuka, mahasiswa dan masyarakat umum kita sudah punya program, maka kelompok santri sangat penting dalam partisipasi pengawasan,” kata Afif.

Menurutnya, Bawaslu menganggap santri merupakan kelompok potensial yang bisa diajak untuk ikut mengawasi pemilu, apalagi rata-rata santri merupakan pemilih pemula yang semangat menggunakan hak pilihnya sehingga bisa juga diarahkan untuk membantu Banwaslu dalam mengawasi Pemilu.

Agar dapat menciptakan suasana Pemilu yang kondusif, bersih, transparan dan aman, sebagai Anggota Bawaslu RI, Afif memberikan pemahaman dan pengertian mengenai Peraturan Perundang-undangan serta aturan dalam agama, terutama dalam mengenai politik uang.

Seperti yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pilkada, yang mana secara tegas mengatur sanksi untuk pemberi dan penerima politik uang yang ditegaskan pada Pasal 187 poin A hingga D bahwa orang yang terlibat politik uang sebagai pemberi bisa dipenjara paling singkat 36 bulan dan paling lama 72 bulan.

Selain itu, pelaku juga dikenakan denda paling sedikit Rp. 200 Juta dan paling banyak Rp. 1 Miliar.

Tak hanya kepada pemberi, tetapi sanksi ini juga berlaku terhadap penerima.

“Dengan pencerahan ini, tentunya kita harap dapat menguatkan integritas para santri dalam membantu pengawasan. Dalam aturan sudah jelas, tidak boleh orang nyoblos karena diberi uang. Nah, ini tugas kita semua mengawasi,” jelasnya.

Lebih lanjut dipaparkan Afif, money politik jika dibiarkan akan berakibat secara luas. Seperti mendorong para pemimpin untuk mengeksploitir kelemahan rakyat setelah mendapatkan kekuasaan.

Artinya, terang Afif, money politik sebagai pendidikan yang buruk bagi dunia perpolitikan, dan mendukung bangunan sosial pragmatis sehingga bisa dipahami bahwa menerima dan memberikan uang untuk transaksi suara merupakan Ttolong menolong dalam dosa dan permusuhan.

“Target kita adalah menekan atau meminimalisir pelanggaran-pelanggaran pemilu, salah satunya politik uang dan beberapa pelanggaran lainnya. Untuk mewujudkan itu tentu adanya kepedulian dan partisipasi terhadap seluruh lapisan masyarakat,” tutur Afif.

Sementara itu, Ketua Pengawas Pemilih (Panwaslih) Kota Bengkulu, Rayendra Pirasad menjelaskan, dalam mematangkan pengawalan proses Pilkada, para santri ini diminta untuk mendeklarasikan beberapa komitmen, seperti siap melaksanakan pengawasan partisipatif pemilihan Pilwakot.

Kemudian, lanjut Rayendea, santri jangan takut melaporkan apabila diduga terjadi pelanggaran undang-undang pemilu, dan siap menolak money politic pada pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Bengkulu mendatang.

“Pesantren ini identik dengan ajaran-ajaran agama, artinya ketika tokoh pesantren menyampaikan nasihat tentang komitmen pengawalan Pilkada, maka saya pikir semua masyarakat bisa tergerak untuk mengikuti nasihat dalam pengawasan pemilu itu,” pungkas Rayendra.

Kegiatan sosialisasi tersebut turut dihadiri Ketua DPW Hidayatullah Bengkulu Subur Pramudya beserta jajaran dan komponen masyarakat termasuk masyarakat sekitar lingkungan pesantren. (Bengkulu Ekspress)

Syabab Gagas Gerakan “Stay di Masjid Sebelum Adzan”

Ilustrasi: Shalat jamaah di masjid / Foto: Syakur

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Ketua Umum Pengurus Pusat Syabab (Pemuda) Hidayatullah, Suhardi Sukiman, menggagas gerakan bersiap 10 menit di masjid sebelum azan berkumandang.

“Saya menyebutnya sebagai gerakan ‘Stay di Masjid Sebelum Adzan’. Tidak mesti 10 menit, yang penting sebelum masuk azan. Ini salah satu ikhtiar menggapai kejayaan dan mendasar yang tak boleh diabaikan. Apabila lima waktu shalat kita di masjid sudah tertib seperti ini, insya Allah, mulia bahagia hidup kita,” kata Suhardi Sukiman di Jakarta, Jumat (19/1/2018).

Suhardi menuturkan, selama ini umumnya kaum muslimin baru menuju atau bersiap ke masjid ketika azan berkumandang. Bahkan tidak sedikit yang baru bergerak setelah azan selesai.

Padahal, kata dia, idealnya shalat perlu persiapan maksimal mengingat ini adalah perkara penting dan utama. Terlalu banyak dalil tsawâbit yang menjelaskan keutamaan tersebut.

Karenanya, ia mengajak teman-teman remaja dan pemuda untuk bersama-sama mengkampanyekan gerakan ini. Selain sebagai uapaya meneguhkan ibadah kepada Allah Ta’aala, di sisi yang lain proses ini penting untuk membangun habit positif dalam rangka kedisiplinan diri.

“Kalau umat Islam sudah serentak berada di masjid sebelum azan, boleh saja alat pengatur waktu iqomah diatur ulang yang biasanya 15 menit menjadi 7 menit. Tidak ada lagi yang masbuq dan Insya Allah, lebih produktif setelahnya,” katanya.

Gerakan ini, menurut Suhardi, hanya meneruskan tradisi yang telah berlangsung lama di kampus-kampus Hidayatullah di mana setiap akan memasuki waktu shalat, selalu ada himbauan dari corong masjid agar warga dan santri segera bersiap. Yang sedang kerja harus berhenti, begitupun aktifitas lainnya.

“Shalat itu kunci kemenangan dan shalat produktif adalah yang dipersiapkan dengan baik semata-maat sebagai wujud takwa kepada Allah Ta’aala. Kita bangun bangsa tercinta kita ini dimulai dari shalat yang berkualitas,” pungkas Suhardi seraya mengutip Firman Allah Subhanahu Wata’aala dalam Al Qur’an Surah Ath Thalaq ayat 2 dan 3.

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”. (ybh/hio)

Pesan Pilkada 2018 Bawaslu RI di Hidayatullah Bengkulu

0

BENGKULU (Hidayatullah.or.id) – Dalam pelaksanaan tahapan Pilkada serentak tahun 2018, dimana saat ini telah masuk tahap Coklit DPT yang akan dilakukan oleh KPU, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI menekankan perlunya pencegahan dan tingkatkan partisipasi pengawasan, khususnya di wilayah Bengkulu.

Komisioner Bawaslu RI Divisi Pengawasan & Sosialisasi Mochammad Afifuddin mengatakan untuk pencegahan pelanggaran bisa dilakukan melalui forum sosialisasi dengan mengajak suasana keterbukaan.

Sehingga diharapkan kemudian banyak pihak mau terlibat, seperti dalam proses Kegiatan Pencocokan dan Penelitian Daftar Pemilih Tetap (Coklit DPT) yang mulai akan dilaksanakan tanggal 20 Januari besok.

“Kita mengajak semua pihak mengawasi proses demikian,” ungkap Komisioner Bawaslu RI Mochammad Afifuddin, seusai melaksanakan kegiatan sosialisasi bersama santri di Pondok Pesantren Hidayatullah Kota Bengkulu.

Menurutnya, proses coklit itu penting, karena berkenaan dengan proses data yang akan digunakan nanti.

Kemudian, lanjutnya, pada tahapan yang lain, pihaknya akan melakukan teguran dan penindakan, termasuk dengan yang dilakukan sekarang membuka informasi lebih jauh, seperti informasi soal mahar politik.

“Itu harus diawasi dalam upaya kita melakukan penekanan pengawasan lebih pada pencegahan. Kita harapkan keterlibatkan seluruh kelompok masyarakat dan elemen yang ada,”ujarnya dikutip laman RRI, Jumat, (19/1/2018).

Sementara itu, Ketua Panwaslih Kota Bengkulu Rayendra menjelaskan, perlunya partisipasi dari seluruh elemen masyarakat Kota untuk bersama-sama menyukseskan Pilkadaini.

Sehingga, lanjut Rayendra, setiap ada potensi pelanggaran bisa dilaporkan kepada pihak terkait.

Rayendra menegaskan, setiap ada potensi untuk ikut sama-sama berpartisipasi mengawasi jalannya pesta demokrasi daerah kita. baik pelajar maupun seluruh elemen masyarakat yang ada.
“Sehingga pelaksanaan Pilkada yang serentak dilaksanakan di seluruh Indonesia, Bengkulu menjadi daerah yang paling aman,” tukasnya.

Kegiatan sosialisasi tersebut turut dihadiri Ketua DPW Hidayatullah Bengkulu Subur Pramudya beserta jajaran dan komponen masyarakat termasuk masyarakat sekitar lingkungan pesantren. (ybh/hio)

Suharsono tentang Teknologi dan Pendidikan Anak Era Digital

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Intelektual muslim yang juga Direktur Lembaga Studi Islam dan Peradaban (LSIP), Suharsono, mengatakan pesatnya perkembangan sains dan teknologi, terutama teknologi informasi, tak hanya memudahkan manusia, tetapi juga mengantarkan manusia berada di simpang jalan. Satu kakinya berada di dunia nyata, sementara kakinya yang lain melangkah di dunia virtual (virtual world).

Dunia virtual, adalah sesuatu yang diciptakan oleh ilusi digital untuk memberikan ruang rasa akan waktu dan tempat berisikan fenomena yang memiliki sebuah hubungan dengan ‘realitas’. Ruang dan waktu “dilipat” sampai ke titik nol, sementara ia juga hidup dalam budaya dan religiusitas sehari-hari yang nyata.

Suharsono lantas bertanya bagaimanakah Islam dan Muslim menyikapi dan mengambil peran dalam dunia maya?

Menurutnya, inilah persoalan besar yang menghadang kita dewasa ini. Orangtua dituntut untuk dapat memetakan dan bahkan memberikan solusi berkenaan dengan kehidupan dan lingkungan Islam maya.

Suharsono menilai, pendidikan yang baik dan pembelajaran yang penuh cinta dan kasih sayang adalah warisan terbaik orang tua kepada anak-anaknya.

Menurutnya, orangtua yang mencerdaskan anak-anak, ibaratnya seperti memberikan ‘aroma surgawi’ di dunia ini, karena dengan kecerdasan itulah berbagai masalah dan tantangan hidup dan kehidupan dapat diselesaikan dengan gemilang.

“Manusia yang cerdas memiliki masa depan yang cerah, dan hidupnya pun sangat berarti bagi orang lain. Tetapi untuk menjadikan anak kita menjadi anak yang cerdas, tidaklah semudah membalikkan tapak tangan. Kita perlu berkorban dengan waktu dan materi yang tideak sedikit,” katanya.

Lebih dari itu, lanjut dia, juga diperlukan suatu pola pembelajaran yang tepat, sepenuh hati dan ketulusan. Kapan “rancang bangun” pencerdasan itu dipancangkan, bagaimana modelnya, input, pola interaksi dan fase-fasenya, sehingga anak-anak kita dapat mengaktualisasikan kecerdasannya secara optimal.

Menurut Suharsono, pendidikan anak adalah proses aktif yang secara langsung dan sadar dalam memberikan motivasi belajar pada anak lebih giat, penuh dengan kesadaran akan sebuah tanggung jawab dalam mendidik dan mencerdaskan secara arif dalam memilihkan dan menawarkan perangkat permainan, mengajak ke tempat rekreasi dan pembentukan lingkungan anak yang dapat mendukung proses belajar dan pencerdasan anak.

Dikursus tentang pendidikan atau tarbiyah, dalam pengertiannya yang paling sederhana, menurutnya, berarti membahas tiga hal pokok, yakni anak didik (subyek didik, peserta didik), kurikulum dan guru serta lingkungan pendidikan itu sendiri.

“Demikian halnya dalam mencerdaskan anak, yakni tentang anak itu sendiri dan lingkungan yang harus kita persiapkan baginya,” imbuhnhya.

Suharsono menegaskan metode pencerdasan anak adalah dengan merujuk pada misi pendidikan Nabi saw dan memberikan penekanan pada pengaruh lingkungan.

Menurut Suharsono, alam merujuk pada misi pendidikan Nabi Muhammad saw, ada tiga aspek penting pencerdasan anak, yakni ta’limul ayat (membacakan ayat-ayat atau tanda-tanda Allah SWT), ta’limul kitab wal hikmah (Al Qur’an dan Hikmah), dan tazkiyah an-nafs (penyucian diri). Sebab dalam mendidik dan mencerdaskan anak tak ubahnya seperti menanam benih, agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, dibutuhkan lahan yang subur dan pupuk yang memadai.

Profil

Suharsono adalah seorang penulis yang berminat pada persoalan persoalan filsafat, epistemologi dan studi peradaban. Oleh masyarakat, Suharsono juga dikenal sebagai salah satu tokoh Islam yang berkompetensi di dunia pendidikan anak.

Suharsono lahir di Jepara, Jawa Tengah, 20 Desember 1961. Ayahnya bernama Darbi seorang guru SD di Desa Bangsri Kecamatan Bangsri, dan ibunya bernama Saudah seorang petani.

Suharsono dari kecil hidup di Desa yang Islamnya Abangan, tetapi sejak kecil Suharsono sudah tertarik dengan Islam. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), ia termasuk anak yang cerdas dan berprestasi, ia sering mendapat rangking atau peringkat 1 (satu).

Bahkan ketika kelas IV SD, ia sudah bisa mengerjakan soal-soal matematika kelas VI SD yang tidak dapat dikerjakan oleh anak-anak kelas VI.

Orangtua Suharsono selalu mengajarkan bahwa hidup harus jujur dan berintegritas yang tinggi selain itu hidup harus bisa memilih atau berani memilih. Maka dari itu semasa SMP (Sekolah Menengah Pertama), ia mempunyai prinsip bahwa hidup harus kuat dalam berbagai hal.

Semasa SMA (Sekolah Menengah Atas) ia sempat duduk di dua tempat Sekolah Lanjutan, yakni STM (Sekolah Tehnik Mesin) dan SMA (Sekolah Menengah Atas).

Dalam hidupnya, Suharsono suka membaca buku-buku filsafat, yang diantaranya karangan-karangan Muhammad Iqbal, Masnawi, HAMKA (tasawuf modern, dibawah lindungan ka’bah), bahkan karya-karya Hindu, Baghavad Gita.

Semasa SMA, Suharsono sudah menulis sebuah buku yang berjudul “Metode Berpikir” Agar Cepat Menangkap Pelajaran.

Pada tahun 1986-1987 ia menjadi ketua Litbang HMI cabang Yogyakarta, dan pada tahun 1988-1996, ia secara berturut-turut menjadi anggota Majelis Syura Organisasi HMI.

Disamping itu ia aktif menangani masalah pelatihan dan pengkaderan dan konsep-konsep Organisasi. Karena ia dipandang berjasa dalam mengembangkan tradisi intelektual di HMI MPO, maka ia memperoleh HMI Award, pada tanggal 5 Pebruari 1999.

Sejak tahun 1999, ia bekerja sebagai Direktur Eksekutif Institute of Islamic Civilization Studies and Development (Inisiasi). Kemudian pada tahun yang sama pula menjadi konsultan pada Yayasan Pusat Pendidikan Islam Internasional Indonesia.

Sebagai seorang penulis ia telah banyak menulis buku yang diantaranya sebagai berikut: “Rekonstruksi Jihad” 1986, “Telaah Ideologi” 1988, “Berfikir Islami” 1990, “Gerakan Intelektual, Jihad untk Masa Depan” 1992, “HMI MPO, Pemikiran dan Masa Depan” 1997, “Pola Transformasi Islam” 1999, “Cemerlangnya Poros Tengah” 1999, “Karya Bayraktar Bayrakli, Eksistensi Manusia” tahun 2000.

Sedang karya-karya yang berkaitan dengan tema-tema pendidikan anak adalah antara lain “Mencerdaskan Anak” tahun 2000, “Melejitkan IQ, IE & IS” tahun 2002, “Membelajarkan Anak dengan Cinta” tahun 2003, “Akselerasi IQ, EQ, dan SQ” tahun 2004, “Mencerdaskan Anak” Melejitkan dimensi moral, intelektual & spiritual (IQ, IE dan IS) dalam memperkaya khasanah batin dan motivasi kreatif anak, ditulis tahun 2004.

Selain menulis buku karyanya sendiri, ia juga menerjemahkan karyakarya orang lain yang diantaranya adalaht terjemahan Karya-karya Seyyed Hossein Nasr, Intelektual Islam” tahun 1994.

Dalam buku ini Suharsono memberikan keterangan, bahwasanya untuk menggeluti Intelektual Islam. Seseorang dituntut tidak hanya harus memiliki kemampuan penalaran yang memadai, tetapi juga kesucian hati, dan hatinya harus disucikan melalui usaha-usaha spiritual.

Ia juga menerjemahkan buku Nasr “Pengetahuan dan Kesucian karya Seyyed Hossein Nasr” tahun 1996. Suharsono dalam terjemahannya ini memberikan pandangan, bahwa manusia dari satu titik pandang yang pasti adalah makhluk rasional yang didefinisikan para filosof, tetapi kemampuan rasional dapat menjadi suatu kekuatan dan instrumental, jika dipisahkan dari intelektual dan wahyu, yang memberikan kualitas pengetahuan dan kandungan sucinya.

Suharsono juga menerjemahkan buku Karya Gany R. Bunt, Lampeter, Islam Virtual”, judul asli: Virtually Islamic, tahun 2005. Ia juga menelurkan sejumlah buku yang menelaah isu-isu keindonesiaan seperti masalah maritim dan kepemimpinan. (ybh/hio)

TNI Yonif Raider 515 Yasinan Bersama Santri Hidayatullah

AMBON (Hidayatullah.or.id) – Kegiatan agama sering digelar oleh Satgas Yonif Raider 515 Kostrad. Kal ini dilaksanakan bersama santri Pesantren Hidayatullah Ambon bertempat di Mushollah Al Ikhlas Gudmurah XVI Pattimura pos Komando Taktis (KOTIS) Satuan Tugas Yonif Raider 515 Kostrad.

Pengajian Al Quran dan doa bersama Komando Taktis (KOTIS) Satuan Tugas Yonif Raider 515 Kostrad bersama santri serta masyarakat sekitar pos ini digelar pada Selasa (16/01/2018).

Tujuan diadakannya doa bersama ini adalah demi meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dan tujuan tersiratnya adalah sebagai agar diberikan keselamatan dan keberhasilan dalam penugasan dan tidak ketinggalan agar baik dalam hal personel maupun materiil.

Kegiatan yang dipimpin langsung oleh Letnan Kolonel Inf Syafruddin selaku Komandan Satuan Tugas (DANSATGAS) sekaligus Komandan Pos Kotis berlangsung setelah pelaksanaan sholat Magrib. Dan bukan hanya prajurit, melainkan masyarakat sekitaran pos juga turut hadir dalam kegiatan ini.

Dansatgas mengatakan dalam sambutannya bahwa tujuan utama dari doa bersama ini agar satuan tugas operasi pengamanan daerah rawan Maluku ini selalu dalam keadaan aman.

“Aman sejak kita masuk pos sampai pada saat kita meninggalkan pos nantinya,” katanya.

Bukan hanya doa bersama, kali ini juga terdapat pemberian santunan kepada anak yatim dhuafa dari Yayasan Pondok Pesantren Yatim Piatu Hidayatullah Liang Ambon. Sebanyak 20 orang anak yatim didatangkan dalam kegiatan tersebut.

Kegiatan yang diikuti oleh 40 orang yang terdiri dari seluruh perwira, perwakilan Bintara dan Tamtama serta masyarakat sekitar.

Kegiatan pembacaan surah Yasin dipimpin oleh Ustadz Laharuddin sebagai salah satu pengasuh dari Pondok Pesantren Yatim Piatu Hidayatullah Liang Ambon.

“Saya ucapkan banyak terima kasih atas kerjasama masyarakat sekitar pos ini dalam membantu kami untuk hal informasi yang kami gunakan sehingga tujuan dari penugasan selama ini, yaitu menjaga perdaiman dan kenyamanan masyarakat dapat tercapai sampai sekarang” pungkas Danyon.

Turut hadir dalam acara ini Kagudmurah Paldam XVI Pattimura, Mayor CPL Adi K, Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Liang Ambon, serta tidak ketinggalan masyarakat Lipiaso Ambon. (ybh/hio)

Hidayatullah Batam Hadirkan Institut Agama Islam

0

BATAM (Hidayatullah.or.id) – Yayasan Pondok Pasantren Hidayatullah Batam kembali meluncurkan lembaga pendidikan terbaru. Adalah Institut Agama Islam Abdullah Said (IAIAS) Batam yang rencananya akan mulai tahun ajaran baru di tahun 2018 ini.

Institut yang didirikan sesuai dengan keputusan Direktorat Jendral Pendidikan Islam Nomor 5461 Tahun 2017 itu bertempat di Yayasan Hidayatullah, Tanjunguncang dan diresmikan pada Ahad (14/1/2018) pagi.

Peresmian disaksikan langsung oleh Pimpinan Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad, Wakil Ketua Kopertis Wilayah Riau-Kepri dr Saifuddin, Bupati Anambas Abdul Haris, Wakil Sekjen DPP Hidayatullah Sofjan Sumlang, perwakilan Pemko Batam dan Provinsi Kepri di Gedung Asia Hidayatullah Tanjunguncang.

Dengan adanya IAI Abdullah Said itu, lembaga pendidikan di Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Batam sudah cukup lengkap mulai dari Paud, TK, SD, SMP, SMA, SMK hingga Institut.

Bahkan sebelumnya yayasan yang sama juga sudah mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Hidayatullah. STIT itu sudah sudah berjalan setahun belakangan ini.

“Untuk IAI Abdullah Said ini baru akan dibuka tahun ini. Pertengahan tahun nanti sudah bisa diterima Mahasiswa baru,” ujar Ketua Yayasan Hidayatullah Batam yang juga Pendiri IAI Abdullah Said, Ustadz Jamaluddin Nur.

Untuk tahun pertama IAI Abdullah Said Batam akan membuka tiga fakultas yakni; Syariah, Ekonomi Islam dan Tarbiyah.

Masing-masing fakultas mengusung dua program studi. Fakultas Syariah ada program studi Ahwal Syakhsiyyah dan program studi Jinayah Siyasah.

Fakultas Ekonomi Islam ada program studi Akutansi Syariah dan Manajemen Bisnis Syariah. Fakultas Tarbiyah ada program studi Bimbingan Konseling Islam dan pendidikan bahasa Arab.

“Segala persiapan sudah matang. Mulai dari rektor, Dosen, gedung serta perlengkan kampus sudah ada. Tinggal tunggu waktu pendaftaran nanti,” tutur Jamaluddin yang juga Kedephal DPP Hidayatullah ini.

Sebagai langkah awal dan untuk memenuhi persyaratan sebuah Institut kata Jamaluddin, pihaknya target akan menerima 40 mahasiswa untuk masing-masing program studi.

“Insyallah, kami optimis target itu tercapai. Karena selain berharap dari (masyarakat) umum kami juga punya kader dari masing-masing kota atau kabupaten. Termsuk dari Anambas yang mana hari ini Pak Bupati Anambas sudah MoU dengan kami untuk mengirim mahasiswa dari Anambas ke sini,” urainya.

Rektor IAIAS DR Dudung A. Abdullah, M.Pd.I menambahkan, pendirian IAIAS tersebut sudah sesuai prosedur yang ada sehingga diakui negara sebagai lembaga pendidikan lanjutan.

Untuk itu dia berharap agara keberadaan IAI itu didukung sepenuhnya warga Batam dan sekitarnya untuk mendidikan generasi penerus bangsa dengan akhlak yang mulai.

“Tujuan kami adalah menghasilkan cendekiawan muslim yang memiliki kecerdasan spritual yang tinggi,” ujar Dudung.

Saifuddin dalam arahannya menyambut baik kehadiran IAIAS itu. Dia berharap agar lembaga pendidikan itu tidak melenceng dari tujuan pendiriannya.

“Karena kami akan terus awasi kedepannya. Segala prosedur dan aturan yang ada harus dipatuhi,” ujarnya.

Sebagai lembaga pendidikan baru, tantangan yang akan dihadapi oleh pihak yayasan sangat berat. Salah satunya adalah untuk mencapai target jumlah mahasiswa untuk masing-masing program studi yang ada.

“Kalian sudah tetapkan 12 prodi, masing-masing prodi minimal 40 mahasiswa. Itu syaratnya. Jadi harus terapkan sistem jemput bola kedepannya agar tujuan pendirian institut ini berjalan mulus,” imbau Saifuddin.

Pemerintah kata Saifuddin, pada dasarnya mendukung penuh lembaga pendidikan swasta yang ada. Itu karena pemerintah sendiri cukup kesulitan untuk mendirikan sekolah ataupun lembaga pendidikan negeri yang merata di seluruh pelosok tanah air.

“Tapi itu tadi dukungan pemerintah ini harus dimanfaatkan dengan baik. Jalankan tugas dan fungsi lembaga pendidikan dengan baik dan taati aturan yang ada,” ujarnya. (Batam Pos)

DPW Hidayatullah Gorontalo Fokus Mainstream Gerakan

0

GORONTALO (Hidayatullah.or.id) – Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Provinsi Gorontalo menggelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Tahun 2018 yang digelar di Kota Gorontalo selama 2 hari dan dibuka pada Sabtu (13/1/2017).

Ketua DPW Hidayatullah Gorontalo Abubakar Muis mengatakan selain mensosialisasikan agenda program kerja yang telah telah ditetapkan dalam Rakernas Hidayatullah di Mataram, Rakerwil Hidayatullah Provinsi Gorontalo kali ini juga membahas formulasi dakwah agar lebih maksimal.

Dia menerangkan, program kerja wilayah seturutan dengan agenda Hidayatullah secara nasional yakni berfokus pada mainstream gerakan dakwah dan pendidikan.

Selain itu, dalam rangka menunjang keduanya, pihaknya juga seraya dengan itu ingin terus memajukan potensi ekonomi organisasi. Karenanya, juga digelar acara seminar ekonomi sebagai rangkaian acara Rakerwil yang mengusung tema “Membangun Kemandirian Ekonomi Harakah Dakwah”.

Seminar tersebut menghadirkan narasumber yakni Asih Subagyo CEO HG Corporindo, perusahaan Holding Company Hidayatullah yang sekaligus Ketua Bidang Perekonomian DPP Hidayatullah.

Pembicara kedua adalah Yunan Harahap, owner PIA Saronde Gorontalo, sekaligus Ketua Bidang Ekonomi DPW Hidayatullah Gorontalo. Seminar ini diikuti sedikitnya 70 peserta Rakerwil dan undangan.

Asih dalam pemaparannya mengatakan ketimpangan ekonomi di negeri ini cukup memprihatinkan. Di sini yang lain, umat Islam menjadi raksasa tidur dan enggan menyadari potensinya.

Namun kita tidak boleh berkecil hati sebab kita bisa melakukan untuk merebut kue ekonomi tersebut, terutama oleh harakah dakwah, yang merupakan bagian dari jama’atul muslimin dan sekaligus sebagai pilar negara.

Kata Asih, Sudah barang tentu banyak cara yang bisa dilakukan untuk membangun kemandirian ekonomi umat yang bisa dimulai dari kemandirian ekonomi harakah dakwah, diantaranya:

‌Pertama, mendidik kader dan anggota harakah untuk memahami fiqh Muamalah. Dan ini di ajarkan di semua jenjang pendidikan, termasuk dalam halaqah halaqah. Berikut implementasinya. Baik untuk menjadi profesional maupun entrepreneuer (pelaku bisnis). Kurikulumnya mesti dodesain untuk mendukung ini.

‌Kedua, menjadikan halaqah (majelis taklim) dan kemudian masjid dan pesantren sebagai basis ekonomi umat. Umat diajarkan dan didorong untuk terbiasa Syirkah dan mudharabah antar mereka. Sehingga bisa dibangun sentra-sentra ekonomi umat sesuai skala, kecenderungan dan jenis usahanya.

Karena berbicara ekonomi pasti berbicara skala ekonomi. Ada kaidah ekonomis yang harus di penuhi. Sehingg tidak asal, mesti dilakukan kalkulasi ekonomi. Dan harakah dakwah mesti hadir di sini sebagai fasilatator.

‌Ketiga, umat didorong, dimotivasi dan dan difasiliasi untuk memproduksi, mengkonsumsi, berdagang, mendistribusikan dan berinvestasi terhadap produk muslim. Diawali dengan komunitas yang bersifat komplementer atas produk yang ada, hingga menjadi suplementer,untuk menggantikan produk-produk yang beredar di pasaran saat ini.

‌Keempat, secara kelembagaan, harakah dapat memiliki korporasi, yang sahamnya dimiliki oleh kader dan anggota. Ada ekonomi berjama’ah atau korporasi umat. Selanjutnya memfasilitasi usaha/bisnis kader. Sehingga menjadi sumber kekuatan ekonomi harakah dakwah dan kader.

‌Kelima, ada mapping antar harakah, siapa bermain bisnis dimana. Atau harus kerjasama dengan siapa. Dan penguasaan bisnis muslim bukan hanya pada bidang herbal, busana muslim, lembaga keuangan, makanan halal, ritel, dlsb. Itu penting, tetapi juga harus menguasai bidang energi, pertambangan, teknologi perdagangan secara umum, termasuk persenjataan dst. Sehingga peran sebagai khalifatullah film ardh itu nyata.

‌Keenam, membangun jaringan ekonomi dan bisnis antar harakah. Membangun jaringan produksi, distribusi, ritel, pemasarandan investasi. Termasuk kajian, riset, ekspor impor, dlsb. (ybh/hio)