Beranda blog Halaman 549

“Hidayatullah Untuk Semua”

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Visi dakwah Hidayatullah adalah membangun peradaban Islam yang Rahmatan lil alamin dan Kaffatan linnas. Karena itu, Hidayatullah adalah untuk semua golongan dan untuk semua umat manusia di segala aspek kehidupan.

Demikian disampaikan Ketua Umum DPP Hidayatullah, Ust Nashirul Haq, ketika memberikan sambutan dalam acara peletakan batu pertama peresmian dimulainya pembangunan Masjid Baitul Karim dan Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah di Jakarta, Sabtu (3/2/2018).

“Itulah sebabnya Hidayatulalh dengan berbagai programnya hadir di bidang dakwah, bidang pendidikan, bidang sosial, kesehatan, dan juga bidang ekonomi keummatan,” kata Nashirul.

Nashirul mengimbuhkan, Hidayatullah hadir dengan pesantren-pesantrennya dan amal usaha pendidikan berbasis Tauhid untuk bersama-sama dengan berbagai komponen melahirkan generasi unggul.

“Hidayatullah bersama dengan masyarakat dan pemerintah melahirkan generasi masa depan, generasi yang akan mengambil estafeta tanggungjawab kelanjutan bangsa ini ke depan Insya Allah,” ujarnya.

Nashirul mengatakan, bicara Hidayatullah, identik dengan dakwah pedalaman karena memang Hidayatullah didirikan dari pedalaman. Dari ujung Balikpapan, bernama Gunung Tembak. Lalu kemudian telah hadir di Ibu Kota dan seluruh nusantara.

“Dengan kerjasama yang baik dengan pemerintah dan masyarakat, berbagai upaya dapat kita laksanakan dengan maksimal. Mudah-mudahan semua berkelanjutan,” katanya.

Lebih jauh dia mengatakan pembangunan Masjid Baitul Karim dan Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah merupakan tuntutan yang semakin dibutuhkan keberadaannya.

Diketahui masjid di komplek DPP Hidayatullah memang acapkali sesak dan kerap tidak dapat memuat semua jamaah terutama di hari-hari kerja. Shalat dzuhur saja seringhkali tidak muat. Shalat Jumat pun demikian, hingga meluber hingga ke emperan-emperan masjid. Belum lagi kalau huan.

Pada saat yang sama, jaringan Hidayatullah yang semakin meluas, amal usaha yang terus membesar dan berkembang, maka Hidyatullah semakin membutuhkan manajemen yang baik.

“Maka insya Allah, selain kegiatan Pesantren Mahasiswa, Tahfidz Quran, Rumah Quran, Majelis Taklim, dan juga menjadi tempat silaturrahim tokoh dan ulama, juga insya Allah tempat ini akan menjadi pusat organisasi secara nasional,” imbuhnya.

Groundbreaking Masjid Baitul Karim dan Gedung Dakwah Hidayatullah, Sabtu (3/2/2018), diresmikan oleh Gubernur DKI Anies Rasyid Baswedan, dan turut disaksikan undangan, tokoh, habaib, dan alim ulama. (ybh/hio)

BEM STIE Hidayatullah Gelar Seminar Internasional Ekonomi Islam

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Badan Eksekutif Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah (BEM-STIEHID) menggelar acara Seminar Internasional Ekonomi Islam bertajuk, “Islamic Economic System in Answering Global Economic Challenge”, di Ruang GBHN Gedung Nusantara V Komplek Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, Senin (5/2/2018).

Seminar menghadirkan pembicara dari 3 negara yakni Brunei Darussalam, Malaysia, dan Indonesia. Ketiga pembicara tersebut hadir untuk menyampaikan gagasannya pada kesempatan itu.

Mereka adalah Prof. Dr. Muhammad Syukri Salleh dari Center for Islamic Development Management Studies (ISDEV) Universiti Sains Malaysia, Pulau Penang, Malaysia.

Pembicara kedua, Shereeza binti Mohamed Saniff , Ph.D, Dosen Faculty of Islamic Development Management, Sultan Sharif Ali Islamic University (UNISSA), Brunei Darusalam.

Dan, yang ketiga adalah, Prayudhi Azwar, Ph.D. Peniliti Senior dan Direktur Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia. Acara tersebut dipandu oleh Asih Subagyo, selaku Ketua Bidang Perekonomian DPP Hidayatullah.

Dalam sambutannya menghantar acara, Puket II STIE Hidayatullah Suheri Abdulah, MM, menyatakan bahwa acara ini sebagai media pembelajaran, sekaligus interaksi mahasiswa, secara akademis dan praktis dengan para pakar dan pelaku di bidangnya.

Sehingga, lanjut dia, mahasiswa serta dosen mendapatkan wawasan dan pemikiran baru, bagaimana ekonomi Islam ke depan, untuk menjawab tantangan ekonomi global.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua MPR RI Dr. Mahyudin, ST, MM, selaku keynote Speech, menyampaikan bahwa gagasan seperti ini perlu dimunculkan.

“Gedung DPR/MPR sebagai rumah rakyat dan tentu saja rumah mahasiswa, membuka peluang untuk ditempati dan sekaligus memberikan solusi bagi perekonomian bangsa,” kata Mahyudin dalam pemaparannya.

Menurut Mahyudin, ekonomi Islam menjadi salah satu solusi. Jika menengok sejarah, kata dia, bahwa ekonomi Islam itu lahir justru sebelum agama Islam diajarkan Nabi Muhammad SAW.

Politisi Partai Golkar itu menyampaikan bahwa dirinya bukan ekonom, tetapi, bahwa solusi Nabi Yusuf dalam menyelesaikan problematika di Mesir saat itu, adalah bukti ekonomi Islam itu memang selalu unggul di setiap masa.

“Negeri ini harus memiliki terobosan untuk mengatasi masalah ekonomi, dan bisa jadi ekonomi Islam ini adalah solusinya,” tegasnya.

Di akhir penyampaiannya, Mahyudin menyampaikan meski acara ini merupakan seminar internasional, karena pembicara dan pesertanya rata-rata berwajah Melayu, sebaiknya pakai bahasa Indonesia/Melayu saja.

Asih Subagyo, selaku moderator seminar tersebut, mengawali diskusinya, dengan menunjukkan fakta bahwa sosialisme dan kapitalisme telah gagal.

Keduanya, menurut Asih, gagal menghadirkan kesejahteraan dan kemakmuran bagi negara-negara di dunia. Bahkan gap antara si kaya dan si miskin terus menganga.

“Sementara, saat ekonomi Islam diterapkan, dengan merujuk keberhasilan dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz, maka menjadi bukti bahwa ekonomi Islam itu solutif, bukan alternatif,” terangnya.

Selanjutnya, Asih mengajak kepada semua pembicara untuk menggunakan dua bahasa, Inggris dan bahasa Indonesia/Melayu, sebagai pembelajaran bagi mahasiswa.

Lady First, pembicara pertama Shereeza, Ph.D, menyampaikan materi dengan judul, ”The Positions of Islamic Economics in Solving the Global Economic Problems (The Role of The Actors)”.

Kata Shereeza, bahwa sejak Perang Dunia II, gagasan ekonomi dan juga berbagai aspek kehidupan dunia, tidak di-drive oleh pemikir-pemikir muslim. Bahkan, Islam tidak diperhitungkan, sejak revolusi industri 2 sampai revolusi industri ke 4.0 saat ini.

Bahkan menurutnya, revolusi industri 4.0 itu, dipengaruhi oleh artikel dari George Rostow, Francis Fukuyama dan Samuel Huntington.

“Tidak ada pemikir muslim yang kemudian memberikan pengaruh bagi peradaban dunia hingga saat ini,” katanya.

Menurut Shereeza, ada 10 masalah ekonomi dunia saat ini. Dia menyebutkan: 1) Energy and Environmental Security, 2) Conflict and Poverty, 3) Competing in New Era of Globalization, 4) Global Imbalances, 5) Rise of New Powers, 6) Economic Exclusions, Global Impact, 7) Global Corporations, Global Impact, 8) Global Health Crisis, 9) Global Governance Stalemate, 10) Global Poverty: New Actors, New Approaches.

Lantas Shereeza menawarkan 7 solusi dari pendekatan ekonomi Islam, yaitu jawabannya ada di aktor/pelaku, yaitu ; 1) Paradigma -> Tasawwur-> Hamba & Khalifah Allah, 2) Asumsi – tidak ada yang berdasarkan haqqul yaqin, 3) Konsep – berdasarkan sumber Islam, 4) Lingkup – Trans-dimensi dan transenden, 5) Metodologi – mengikuti jalan sunnah dan cendekiawan Islam, 6) Tujuan Tertinggi – Al Falah vs. vs Mardhatillah dan 7) Ekonom Islam – Ilmu-amal.

Ada yang menarik dari gagasan Shereeza ini yaitu tentang konsep IbDA. Merupakan gagasan dengan pendekatan model piramida, dimana yang paling atas adalah Allah, dan empat sudut bawah terdiri dari pribadi manusia (human beings), manusia (man), batin (inner self) dan makhluk (creatures).

“Intinya, bahwa semua kegiatan ekonomi itu, sebagai puncaknya adalah menuju keridhaan Allah Subhanahu Wata’ala,” kata Shereeza.

Pembicara kedua, Prayudhi Azwar, mengawali paparannya dengan menyampaikan bahwa, ekonomi Islam ini menjadi sebuah solusi. Karena dengan basis profit sharing, itu merupakan keadilan yang sesungguhnya.

Menurut beliau, kapitalisme terlalu nge-gas, dengan memberi kebebesan kepada individu untuk memiliki kekayaan sebesar-besarnya. Sedangkan sosialisme terlalu nge-rem, dimana negara membatasi kepemilikan individu.

“Dalam Islam, peran gas dan rem itu berada dalam satu paket, dan seimbang,” ujar Prayudhi.

Prayudhi menyampaikan makalah dengan judul, ”Increasing National Competitiveness through Strengthening Sharia Economic and Finance”.

Dalam presentasinya, Prayudhi menyampaikan data, bahwa dalam industri Halal, peringkat Indonesia merosot 1 tingkat, ke urutan 11 dari tahun sebelumnya ke urutan 10.

Sementara, dia menyebut, kini Indonesia juga menjadi negara pengimport ke-4 di dunia. Serta deretan data lain yang memprihatinkan, termasuk defisit anggaran selama ini.

Beberapa solusi yang Prayudhi tawarkan adalah dengan menggiatkan/optimalisasi zakat dan wakaf. Serta mendorong lahirnya entrepreneur baru, sebab menurutnya ini yang langka di kalanganan muslim.

“Sementara, pemerintah juga terus mengeluarkan regulasi, terkait dukungan bagi tumbuhnya ekonomi dan keuangan Islam ini,” harap Prayudhi menandaskan.

Sementara itu, Prof. Dr. Muhammad Syukri Salleh sebagai pembicara terakhir mengawali pembicaraan dengan penyampaian yang menyentak.

“Tidak mungkin ekonomi Islam bisa menjadi solusi, jika masih menerapkan sistem ekonomi Islam yang diimplementasikan selama ini,” cetusnya.

Karena, menurut beliau, penerapan ekonomi Islam saat ini masih menggunakan pendekatan western ethno centric. Hal itu ditegaskan Syukri Salleh dalam presentasinya berjudul, ”The Global Chalenge of Human Resources: From Humanonic to Robonomic”.

Beliau juga menegaskan bahwa, kedepan, peran manusia itu akan diambil alih oleh robot. Bahkan robot, menjadi boss dari manusia.

“Pendekatan yang dipakai dalam pengembangan sumberdaya manusia saat ini, masih dengan cara Barat. Dimana justru peran manusia, tidak nampak. Demikian halnya kaitannya dengan pengembangan ekonomi Islam,” katanya.

Beliau menegaskan bahwa tidak bisa ekonomi Islam itu hanya dengan pendekatan ekonomi saja, juga tidak bisa dengan pendekatan individu. Akan tetapi juga melalui pendekatan multidisipliner dan harus dengan kepemimpinan dan jamaah.

“Sehingga, yang diperlukan sekarang adalah bagaimana menuju New Islamic Economic. Sebuah pendekatan ekonomi Islam baru, yang sesungguhnya justru kembali ke bagaimana peradaban Islam dulu diperagakan oleh Rasulullah SAW dan seterusnya,” terangnya.

Di akhir diskusi, Asih Subagyo menyimpulkan bahwa ekonomi Islam akan mampu menjawab tantangan ekonomi global kedepan jika: 1) ekonomi Islam mesti berbasis Tauhid, 2) tujuan dari ekonomi Islam adalah mardhatillah (mencari keridhaan Allah SWT), 3) ditegakkan secara berjamaah dan dalam kerangaka kepemimpinan Islam, 4) memperbanyak pelaku ekonomi Islam terutama pengusaha,

Selanjutnya, 5) menjadikan instrumen ekonomi Islam seperti zakat, infaq, shadaqah dan wakaf. 6) menjadikan profit/loss sharing sebagai basis pengembangan ekonomi dan 7) mencontoh model Nabi Yusuf dalam mengatasi problematika ekonomi.

“Dan kesemuanya itu menuntut setiap umat Islam untuk terlibat di dalamnya. Wallahu a’lam,” tandas Asih. Seminar ini disponsori oleh Permata Bank Syariah dan turut didukung oleh Laznas BMH dan lain-lain (ybh/hio)

Secarik Kisah Ust Abdul Mannan Memulai Tugas Dakwah di Jakarta

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Dengan maunah Allah Subhanahu wa Ta’aala, Hidayatullah kini telah hadir ke seantero Indonesia. Hidayatullah eksis di sedikitnya 343 kabupaten/kota dan di sebanyak 34 provinsi.

Demikian pula kehadirannya di Jakarta. Dengan peran sentral kader dan juga simpatisan awal Hidayatullah seperti Ust Agus Sutomo yang rumahnya di Rawamangun kerap menjadi “kantor” sekaligus markas pertama, Hidayatullah pun telah hadir di Jakarta yang kini menjadi pusat kedudukan ormas Islam yang berdiri pertama kali di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.

Selalu ada kisah heroik nan haru di setiap perjalanan perintisan kampus-kampus Hidayatullah oleh kader-kadernya, tak terkecuali perintisan Hidayatullah di Ibu Kota Negara tercinta ini. Kehadiran Hidayatullah di Jakarta salah satunya dimotori oleh kader senior, Dr. H. Abdul Mannan, MM.

Dalam kesempatan peletakan batu pertama peresmian pembangunan Masjid Baitul Karim dan Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah yang beralamat di Jalan Cipinang Cempedak I/14 Otista Polonia, Jakarta Timur, Abdul Mannan menuangkan secarik kisah perjalanan dakwahnya di kota metropolitan ini.

Secarik kisah, sebab Abdul Mannan, tidak saja berjibaku dengan panasnya Ibu Kota. Abdul Mannan pun adalah diantara tenaga perintis cabang Hidayatullah lainnya termasuk Depok dan Surabaya.

Mantan sekretaris pribadi pendiri Hidayatullah, Ust Abdullah Said, ini berkisah tentang awal mula dirinya terdampar di Jakarta. Kala itu, pada tahun 1988, dirinya ditugaskan oleh Abdullah Said berangkat ke Makkah Al Mukarramah.

“Disuruh buka cabang Hidayatullah di Makkah. Saya pikir ini tidak masuk akal. Bagaimana caranya. Makkah pusatnya peradaban Islam dari zaman Nabi Adam sampai akhir Zaman. Tapi karena doktrin sami’na wa atha’na, saya berangkat,” katanya saat menyampaikan sambutan sekaligus mewakili pewafak tanah di lokasi groundbreaking Masjid Baitul Karim dan Gedung Dakwah Hidayatullah, Sabtu (3/2/2018).

Ditugaskan berangkat, Abdul Mannan pun bergegas berangkat. Dari Balikpapan, tujuannya pertama tentu adalah Jakarta. Abdul dilepas tanpa dibekali uang tiket.

Karena keterbatasan yang ada, tak pelak Abdul Mannan terdampar di Jakarta. Namun dia tak berhenti berfikir bagaimana cara bisa ke Makkah di tengah kondisi dirinya yang tidak memungkinkan saat itu. Setelah sekian waktu, dengan takdir Allah, Abdul Mannan pun ditakdirkan berangkat ke Makkah.

“Justru yang membiayai saya ke Makkah adalah penjual koran,” katanya.

Setiba di Makkah, Abdul Mannan sempat bingung harus tinggal di mana. Tak ada kenalan. Perbekalan pun alakadarnya. Ayah dari 8 anak ini tetap berbesar hati, dan lagi-lagi pertolongan Allah SWT pun datang.

Tak dinyana, Abdul Mannan berjumpa dengan Hj. Orny Loebis, H Andi Imam Loebis, dan keluarga Hj Rina Loebis di bawah Ka’bah. Ia tak pernah menduga pertemuan itu. Dalam pertemuan itu mereka berdiskusi tentang bagaimana dakwah di Jakarta dan sebagainya.

“Panjang lebar, akhirnya saya sampakan keperluan dan kebutuhan kalau kami akan membuka (Hidayatullah) di Jakarta,” kata Abdul Mannan.

Singkat cerita, Abdul Mannan kembali ke Tanah Air. Pertemuan kala di Makkah itu ditindaklanjuti. Abdul Mannan bersilaturrahin ke kantor Java Motor di Kramat yang merupakan usaha mendiang H Tahir Karim Loebis.

Abdul Mannan berkisah, dalam pertemuan di kantor Java Motor itu hadir juga tokoh lainnya. Abdul Mannan menyebut diantaranya Dr Imaduddin Abdurrahim atau Bang Imad yang merupakan salah satu tokoh pendiri ICMI dan penggagas Bank Muamalat serta Prof. Dr. dr. Akmal Taher, seorang ahli bedah pemilik hak paten inhibitor of phosphodiesterase IV yang juga mantan Direktur Utama RSCM.

“(Saat itu) saya sampaikan misi dan visi besar Hidayatullah membangun peradaban di Jakarta. Semuanya menyambut dengan gembira dan senang hati,” turur Abdul Mannan mengisahkan perjalanan dakwahnya di hadapan hadirin yang juga dihadiri Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan.

Dari silaturrahim yang terjalin dengan keluarga H Tahir Karim Loebis, Alhamdulillah akhirnya diberikanlah tempat lokasi Cipinang Cempedak I/14 untuk ditinggali yang kala itu masih menjadi gudang mobil Land Rover.

“Saya tinggal di sini. Tempat ini adalah tempat bersejarah juga yang merupakan kantor Badan Intelijen Negara (BIN). Setelah BIN, saya yang nempati. Gantian jadi BIN,” kata Abdul Mannan setengah berseloroh.

Sekedar diketahui, komplek ini memang sempat menjadi salah satu bangunan yang digunakan oleh Satuan Pelaksana (Satlak) BAKIN (Badan Kordinasi Intelijen Negara).

Abdul Mannan mengisahkan, di awal-awal perlangkahan dakwahnya di Jakarta, dirinya aktif berkeliling dari rumah ke rumah tak jarang hanya dengan menggunakan sepeda pancal (engkol).

“Karena, makan pun susah apalagi motor. Ndak ada motor. Tapi semangat itu saya yakin bahwa Allah akan membantu. Intansurullaha yansurukum wayutsabbit aqdamakum,” kata Abdul Mannan seraya mengutip Al Quran Surah Muhammad ayat 7.

Karena Abdul Mannan belum punya pendapatan, anak dan istrinya ditinggalkan di rumah mertuanya di Surabaya. Lambat laun atas takdir Allah, akhirnya terbukalah lapangan dakwah ini.

Rangkaian Sejarah

Masih dalam sambutannya, Abdul Mannan mengatakan bakal Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah yang telah diresmikan pembangunanannya ini merupakan rangkaian sejarah yang saling berajutan.

Dikatakan beliau, komplek DPP Hidayatullah yang berlokasi di Cipinang Cempedak I/14 ini adalah tempat bersejarah. Selain pernah menjadi markas BIN, lokasi ini telah sekian lama menjadi tempat berkumpulnya para tokoh-tokoh Islam.

Diceritakan Abdul Mannan, sang ahli waris, Hj. Orny Loebis, suatu kali pernah bercerita kepadanya bahwa dulu Buya Muhammad Natsir, Buya Hamka, Buya K.H. Abdul Gaffar Ismail, Buya KHM. Rusyad Nurdin, dan tokoh lainnya, selalu berkumpul di sini mendiskusikan tentang agama.

“Saya langsung menyambung, Ya Allah, Ya Robb, ini mungkin tali daripada tali perjuangan tegaknya Islam di bumi nusantara ini,” imbuh Abdul Mannan usai mendengar cerita Hj. Orny Loebis.

Langkah dakwah Abdul Mannan di Jakarta terus mendapat sambutan positif. Keluarga H Tahir Karim Loebis dan Ibu Hj. Orny Loebis bersama ahli warisnya dengan penuh semangat memberikan dorongan dan motifasi untuk jalan terus.

“Dengan usaha beliau yang terus berkembang akhirnya membangun pesantren putri 3 lantai di Hidayatullah Gunung Tembak yang waktu itu ada 3000 santri putra putri. Lalu membangun Masjid Ummul Quro di Kampus Hidayatullah Depok dan membangun semua di mana-mana. Alhamdulillah,” kata beliau dari atas mimbar dengan suara tertahan dan mata yang tampak berkaca-kaca.

Abdul Mannan melanjutkan, sebenarnya Masjid Baitul Karim dan Gedung Dakwah Hidayatullah ini sudah lama mau dibangun. Namun di masa gubernur sebelum-sebelumnya, tidak jadi-jadi.

Nah, sekarang baru bisa. Ini takdirnya Pak Anies Rasyid Baswedan. Ada apa di balik ini. Saya yakin, ada ikatan sejarah yang penuh dengan idealisme yaitu beliau adalah cucu dari pahlawan Abdurrahman Baswedan. Kita tidak asing lagi dengan nama harum beliau yang sudah menikmati hidup di alam surga,” kata Abdul.

Oleh karena itu, lanjut beliau, peresmian dimulainya pembangunan masjid dan Gedung Dakwah Hidayatullah tersebut adalah hari bersejarah. Dan sinilah, kata beliau, dimulainya tegaknya peradaban Islam sebagai visi Hidayatullah.

“Dan, seluruh anak-anak kita akan kita kirim seluruh Indonesia dan seluruh dunia. Sekarang sudah kita kirim belajar ke Sudan ada 25, ke Mesir 30, di Makkah ada 25. Dan kita kirim wartawan kita ke Australia untuk belajar jurnalistik,” tukasnya.

Abdul berharap semoga Gubernur Anies Baswedan yang meletakkan batu pertama sebagai pembukaan tanda dimulainya pembangunan, selanjutnya nanti meletakkan batu terakhir di saat peresmian penggunaan.

“Maka sejarah terukir bahwa cucu pendiri negara yaitu Bapak Gubernur H Anies Rasyid Baswedan telah meletakkan batu sejarah peradaban Islam di tempat ini,” tandas Abdul.*/Ainuddin Chalik

BMH-SAR Hidayatullah Siaga Banjir Hingga Dini Hari

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Hujan yang mengguyur sejak dini hari (5/2/2018) di Bogor, Depok dan sebagian Jakarta telah menyebabkan debit air Sungai Ciliwung meninggi. Hal ini menjaidkan beberapa titik di Jakarta terendam banjir.

“Air terus bergerak naik. Sudah mulai ada instruksi untuk masyarakat (sekitar bantaran Ciliwung) mencari tempat aman,” ujar Ketua Tim SAR Nasional Hidayatullah Abbas Usman di Kampung Melayu, Jakarta Timur, Senin (5/2/2018).

Menjelang larut, warga terpasksa menelamatkan diri ke tempat yang lebih aman. Tidak saja di Jatinegara.

Relawan BMH di Poltangan Pasar Minggu, tepatnya di Jalan Swadaya 1 Pejaten Timur, Pasar Minggu Jaksel juga menyatakan hal serupa.

“Selepas Isya’ warga sudah mengungsi ke masjid dan musholla, sebab air sudah setinggi atap, tidak kurang dari 100 orang telah meninggalkan rumah,” terangnya.

“Dengan adanya dua titik banjir di Jakarta ini, BMH bersama SAR Hidayatullah berusaha ikut terlibat membantu dengan mengirimkan kebutuhan mendesak seperti pampers, susu bayi, selimut, termasuk penyiapan didirikannya dapur darurat mulai semalam hingga dini hari saat ini,” terang Kepala Divisi Program Pendayagunaan BMH DKI Jakarta Zainal Abidin (6/2/2018).

Direncanakan siang (6/2/2018) tim susulan akan tiba di kedua lokasi untuk selanjutnya memetakan dan menentukan program bantuan lanjutan bagi warga yang mengungsi dari musibah banjir yang melanda Jakarta.*/Herim

Gubernur DKI Anies Baswedan Resmikan Pembangunan Gedung Dakwah Hidayatullah

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan melakukan peletakan batu pertama pembangunan Gedung Dakwah Hidayatullah dan Masjid Baitul Karim di Jalan Cipinang Cempedak I, Jakarta Timur, Sabtu (3/2). Ia berpesan agar semangat Islam di organisasi Hidayatullah terus dijaga.

“Memang waktu itu saya bilang kalau bisa agak dijaga gedungnya, kenapa begitu? Karena begitu banyak tempat peninggalan gerakan Islam itu secara fisik tak lagi nampak karena diubah total. Tapi ini mudah-mudahan walaupun enggak dipertahankan bangunannya, spiritnya terus dipertahankan,” ujarnya dalam sambutannya di lokasi.

Menurut Anies, Hidayatullah adalah salah satu penggerak Islam yang cukup unik karena di mulai di luar Jawa. Saat ini, organisasi tersebut telah berada di seluruh Indonesia. Ia pun berharap sepak terjang Hidayatullah bisa makin berkembang.

“Mudah-mudahan Insya Allah kita doakan kegiatan dakwah makin berkembang dan pembangunan masjid ini berjalan lancar,” katanya.

Organisasi Hidayatullah kini telah hadir di 34 provinsi Indonesia. Hal utama yang dilakukan Hidayatullah adalah menyebarkan ilmu dan pendidikan berbasis tauhid.

“Hidayatullah saat ini telah hadir di 34 provinsi dan di sekian ratus kecamatan. Hidayatullah hadir dengan pesantren dan sekolah integral berbasis tauhid utk bersama dengan pemerintah utuk menghaislkan generasi unggul,” kata Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Nashirul Haq, dalam sambutannya.

Terkait pembangunan gedung nantinya, Anies berharap bisa dilakukan dengan prinsip tepat waktu, sesuai anggaran, dan berkualitas. Ia ingin salah satu gerakan Islam bisa dikenal dengan baik.

“Mudah-mudahan, tiga prinsip dipegang. Tiga prinsip itu adalah on quality, on budget, on schedule,” ujar Anies mengakhiri. (Republika)

BERITA FOTO: Peletakan Batu Pertama Pembangunan Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan melakukan peletak batu pertama pembangunan Gedung Dakwah Hidayatullah dan Masjid Baitul Karim di Jalan Cipinang Cempedak I, Jakarta Timur, Sabtu (3/2). Ia berpesan agar semangat Islam di Organisasi Hidayatullah terus dijaga. Berikut foto-fotonya:

Ketum DPPH dan Gubernur Anies Baswedan Jadi Saksi Kerjasama OK OCE Masjid – BMH

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Ketua Umum DPP Hidayatullah KH Nashirul Haq dan Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan menjadi saksi kerja sama antara OK OCE Masjid yang diwakili oleh Musa S.E.O dengan Baitul Maal Hidayatullah, yang diwakili oleh Kadiv Pemdayagunaan BMH Rama Wijaya.

Kerjasama ini dilakukan bersamaan dengan acara peletakan batu pertama pembangunan Gedung Dakwah Hidayatullah dan Masjid Baitul Karim di Jalan Cipinang Cempedak I, Jakarta Timur, Sabtu (3/2).

“InsyaAlloh kedepan OK OCE Masjid akan bekerjasama dengan BMH (Baitul Maal Hidayatullah) untuk mengelola ZISWAF (Zakat, Infaq, Sedekah dan Wakaf “Produktif”) Jamaah Masjid Binaan OK OCE Masjid”, jelas Musa selaku Founder OK OCE Masjid.

Lebih lanjut Musa menyatakan, “Dengan Program #BSS (#BerbagiSeribuSehari), kita akan bangun “Gerakan Pemberdayaan Ekonomi Ummat berbasis Masjid dengan Remaja sebagai Motor Penggeraknya.”

“Berbagi Rp 1.000 setiap hari memang kecil, tapi jika komitmen dilakukan oleh 10% saja Penduduk Jakarta. Itu akan SANGAT LUAR BIASA !!!”, tambahnya.

Menurut proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, jumlah penduduk DKI Jakarta pada tahun 2017 sebanyak 10,37 juta jiwa.

“Kalau 10%nya mau Komitmen #BSS, maka kita bisa mengelola dana Ummat sebesar Rp 1.000.000.000,- SETIAP HARI atau 30 Miliar SETIAP BULAN !!!”, terangnya. (ybh/hio)

Wantim MUI Dorong Kapolri Komunikasi dengan Ormas Lain

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI) Prof Din Syamsuddin, mendorong Kapolri agar berkomunikasi langsung dengan ormas-ormas lain.

Hal itu disampaikan Din Syamsuddin terkait pernyataan Kapolri Jenderal Pol Muhammad Tito Karnavian yang menuding ormas selain Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) mau merontokkan negara.

“Untuk kasus Kapolri, beliau sudah menghubungi ormas-ormas Islam bahkan mengunjunginya, maka dianggap bahwa intinya ke depan harus diajak berkomunikasi bersama oleh Kapolri. Ajak ormas lain selain Muhammadiyah dan NU,” ujar Din di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dikutip situs berita nasional Hidayatullah.com, Kamis (01/02/2018).

Menurut Din, Kapolri Tito sudah bertemu dengannya dan menjelaskan bahwa video pernyataan Kapolri yang viral tersebut cuplikan dari pidato pada tahun 2016 di sebuah forum PBNU.

“Pak Tito mengatakan bahwa penyebutan tersebut tidak dimaksudkan untuk menegasi ormas-ormas lain melainkan ada konteks tertentu,” menurut Din.

Karena itu, menurut Din, Tito sudah menjelaskan persoalan itu, jadi tidak perlu dipersoalkan dan dikembangkan. Karena menurutnya Tito sudah meminta maaf dan sudah mengunjungi pimpinan ormas-ormas Islam seperti Serikat Islam, PBNU, dan sejumlah ormas lain.

Jangan nihilkan peran kebangsaan ormas lain
Sebelumnya pengurus DPP Hidayatullah Syaifullah Hamid mengimbau masyarakat untuk tenang dan tetap menahan diri.  Dia menilai, pernyataan Kapolri tersebut kurang mendukung pada upaya Polri sendiri untuk menciptakan kedamaian dan ketenangan di tengah masyarakat.

Dengan pernyataannya itu, Kapolri bisa dianggap tidak mengerti sejarah atau sengaja melupakan sejarah bahwa selain NU dan Muhammadiyah, masih banyak ormas Islam lain yangj juga ikut berjuang dan membangun bangsa ini.

Menurut Syaifullah, kalau memang Kapolri tidak mau jajaran di kepolisian bekerjasama dengan Ormas Islam selain NU dan Muhammadiyah, maka tidak seharusnya alasan itu membuat Kapolri menghilangkan peran-peran kesejarahan yg sudah dilakukan oleh ormas Islam lainnya.

“Apalagi menuduhnya mau meruntuhkan NKRI. Tuduhan ini sangat melampaui batas,” tandas Syaefullah seraya menegaskan pentingnya peran Kapolri merangkul semua pihak untuk merawat persatuan dan kedamaian.  (ybh/hio)

Berdoalah pada Waktu Mustajab di Hari Jumat

DIRIWAYATKAN dari Jabir bin Abdullah r.a., “Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Hari Jumat itu terdiri dari dua belas jam. Dalam dua belas jam itu terdapat satu jam yang tidak ada seorang muslim yang memohon sesuatu kepada Allah pada saat itu, kecuali Allah akan memberikannya kepada muslim itu. Maka, mintalah pada akhir waktu setelah Ashar.” (HR. Abu Dawud No. 1048, dan An-Nasa’i dalam Al-Jum’ah No. 1389 ).

Hadits ini sahih, menjelaskan bahwa waktu mustajab itu berada pada waktu akhir setelah Ashar dan sebelum Maghrib.

Dengan penjelasan ini, pada hari Jumat satu jam sebelum Maghrib seorang muslim seyogyanya segera bergegas mengambil air wudhu dan pergi ke masjid, lalu melaksanakan shalat tahiyatul masjid.

Setelah itu duduk dan berdoa dengan penuh kesungguhan dan kerendahan diri kepada-Nya sambil menunggu waktu shalat Maghrib. Sebab, barangsiapa yang duduk menunggu datang waktu shalat berarti sama halnya ia sedang melaksanakan shalat.
Apalagi dia berdoa meminta kebaikan dunia dan akhirat kepada Tuhannya di waktu yang mulia, waktu yang Allah pasti mengabulkan doa. Waktu yang dipersilakan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya, maka orang yang mengharamkan kebaikannya pasti akan diharamkan.

Orang yang bahagia adalah orang yang sibuk dan menyibukkan diri dengannya, mempersiapkan diri menjemputnya. Dengan demikian, pada saat yang mustajab ini Allah tidak akan melihatmu lupa kepada-Nya atau melalaikan waktu yang istimewa ini.

Ibnu Majah telah meriwayatkan dengan sanad hasan dari Abdullah bin Salam r.a. tuturnya: “Ketika Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam sedang duduk, aku berkata, “Kami sungguh menemukan dalam kitab Allah (Taurat):

Dalam hari Jumat terdapat satu waktu yang tidak ada seorang hamba mukmin satu pun yang mendapatinya ketika ia sedang melaksanakan shalat dengan memohon sesuatu kepada Allah, kecuali Allah akan memenuhi kebutuhannya.”

Abdullah melanjutkan: “Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam memberi tahuku bahwa maksudnya adalah sebagian waktu saja.”

“Engkau benar, hanya sebagian waktu saja,” kataku. “Kapankah itu?” aku lanjutkan dengan pertanyaan.

“Waktu itu adalah pada akhir waktu siang,” jawab Rasulullah.

“Waktu itu bukanlah waktunya untuk shalat?” kataku.

Rasulullah menjawab, “Ya, memang. Sesungguhnya apabila ada seorang hamba yang melaksanakan shalat, kemudian duduk dan hanya ditahan oleh shalat (menunggu shalat), maka berarti dia seperti sedang dalam shalat.” (HR. Ibnu Majah No. 1139 ).

Diriwayatkan juga dari Abu Hurairah r.a., tuturnya: “Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: ‘Sebaik-baiknya hari yang matahari terbit pada hari itu adalah hari Jumat. Di hari Jumat itulah Adam diciptakan, di hari Jumat itulah ia dimasukkan surga, di hari Jumat itulah ia dikeluarkan dari surga. Dan di hari Jumat itulah terdapat satu waktu yang tidak ada seorang hamba muslim satu pun yang mendapatinya ketika ia sedang melaksanakan shalat dengan memohon sesuatu kepada Allah, kecuali Allah akan memberikannya kepada hamba tersebut.”

Abu Hurairah lalu melanjutkan ceritanya: “Saya bertemu dengan Abdullah bin Salam; aku menceritakan hadits ini kepadanya.”

“Saya yang paling tahu mengenai waktu yang dimaksudkan itu,” kata Abdullah bin Salam.

“Beritahulah hal itu kepadaku; janganlah kau sembunyikan dariku,” pintaku kepadanya.

“Abdullah menjawab, “Waktu itu ialah setelah Ashar sampai terbenamnya matahari.”

“Bagaimana bisa berada setelah Ashar, padahal Rasulullah bersabda: ‘Tidak ada seorang hamba muslim satu pun yang mendapatinya ketika ia sedang melaksanakan shalat, dan waktu itu tidak boleh untuk melaksanakan shalat?” tanyaku.

Abdullah bin Salam menjawab, “Bukankah Rasulullah pernah bersabda: “Barangsiapa yang duduk menunggu datang waktunya shalat berarti sama halnya ia sedang melaksanakan shalat?”

“ Ya,” jawabku.

“Itulah maksudnya,” kata Abdullah bin Salam. (HR. Abu Dawud. No. 1047).*/Sudirman STAIL, sumber: Hidayatullah.com

Sultan Tidore Dukung Kegiatan Dakwah Hidayatullah

0

TIDORE (Hidayatullah.or.id) – Dalam setiap tahun Hidayatullah melakukan kegiatan silaturrahim akbar se-Maluku Utara. Kegiatan kali ini agak berbeda dengan sebelumnya.

Pasalnya, kegiatan tersebut dirangkaikan dengan beberapa kegiatan lainnya, seperti Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) DPW Hidayatullah Maluku Utara, peletakan batu pertama pembangunan masjid Pondok Pesantren Tahfidz Qur’an Hidayatullah di Sofifi atau tepatnya di perbatasan desa Kusu dan Garojou (28/01).

Kemudian penyerahan motor dai dan guru ngaji serta tak kalah menarik adalah adanya prosesi pengislaman atau syahadat 12 orang suku Togutil.

Tampak hadir dalam acara tersebut, Sultan Tidore H Husain Syah, Ketua Dewan Pembina Tahfidz Qur’an Hidayatullah Maluku Utara Dr. H. Burhan Abdurrahman yang juga Walikota Ternate, dan Walikota Tidore Kepulauan Capt. H. Ali Ibrahim, Walikota Ternate serta Pengurus DPP Hidayatullah Ust Wahyu Rahman, MM.

Dalam sambutannya, Sultan Tidore H Husain Syah menyatakan dukungannya atas kegiatan dakwah Hidayatullah dengan membuka ruang bagi para dai untuk bermitra dengan semua pihak termasuk pemerintah kota Tidore Kepulauan.

“Alhamdulillah saya apresiasi atas kegiatan dakwah Hidayatullah yang sudah 40 tahunan berkecimpung di dunia dakwah dalam membina umat,” kata Sultan Tidore ke-37 ini yang dikutip juga laman lokal Gamalamanews.

“Tidore sebagai kota santri, dan pernah lahir ulama besar, Tuan Guru Imam Abdullah bin Qadi Abdussalam. Semoga dari sinilah (baca: desa Kusu, Tikep) lahir ulama-ulama Abdullah yang baru”, papar Sultan.

Pada saat yang sama, ketua Dewan Pembina Tahfidz Qur’an , Dr. H. Burhan Abdurrahman, SH. MM juga mengapresiasi atas kinerja dakwah Hidayatullah.

“Sebagai Dewan Pembina Tahfidz, saya sangat mengapresiasi atas ekspansi dakwah Hidayatullah. Artinya kinerja para pengurus dan dai Hidayatullah telah berhasil dan terus melakukan ekspansinya hingga ke daerah Kusu, Tidore ini. Dan apa yg telah dilakukan Hidayatullah ini adalah bagian dari dukungan dan kontribusi terhadap program pemerintah,” kata Burhan Abdurrahman yang juga calon Gubernur Maluku Utara (Malut) ini.

Demikian halnya Walikota Tidore pun mengapresiasi kegiatan pendidikan dan dakwah Hidayatullah.

Sementara itu, pengurus DPP Hidayatullah Wahyu Rahman mengatakan Hidayatullah hadir untuk menjawab persoalan ummat, membantu pemerintah dlm pembangunan SDM yang beriman.

“Dan, kehadiran Hidayatullah di Sofifi atau Kusu adalah pembukaan pesantren yang ke-434 se-Nusantara,” kata Wahyu Rahman.

Wahyu Rahman pun mengapresiasi kiprah DPW Hidayatullah Maluku Utara yang menurutnya terus bertumbuh. Dia berharap program dan APBO 2017 DPW Hidayatullah Maluku Utara dapat terus ditingkatkan.

Termasuk Wahyu juga mendorong pembinaan kader dan umat dapat semakin diintensifkan yang selaras dengan itu terus melakukan pengembangan-pengembangan pada bidang lainnya baik amal usaha untuk menunjang kiprah dakwah, tarbiyah, dan kemandirian ekonomi.

Jumlah DPD Hidayatullah di Maluku Utara terdiri dari 6 daerah definitif dan 1 DPD perintisan. Kesemua DPD tersebut masing masing telah memiliki amal usaha.

DPW Hidayatullah Maluku Utara akan melakukan pengembangan wilayah Kabupaten Tidore Kepulauan yang telah dimulai sejak tahun 2017 lalu dan untuk tahun 2018 akan mendirikan 1 DPD.

Diharapkan dengan kehadirannya tersebut, Hidayatullah semakin meluaskan kiprahnya dalam melakukan dakwah pembinaan dan pemberdayaan masyarakat muslim khususnya di kawasan-kawasan pelosok di Maluku Utara. (ybh/hio)