Beranda blog Halaman 563

Ada Simpul Erat Persaudaraan Islam dalam Bersin

CREATOR: gd-jpeg v1.0 (using IJG JPEG v62), quality = 80

Hidayatullah.or.id – Ada satu perkara dalam Islam yang sangat ditakuti oleh musuh-musuh Islam, termasuk para zionis dan Yahudi, yaitu ukhuwah Islamiah.

“Dan apabila ini telah terjalin, maka tak ada satu senjata produk tekhnologi kekinian, temasuk senjata pemusnah masal, mampu menghancurkannya,” kata Ketua DPW Hidayatullah Nusa Tenggara Baraty (NTB) ustadz Syaifuddin Nawawi di sela kunjungannya ke Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, Jawa Timur, baru baru ini.

Tersebab itu, kata dia, musuh-musuh Islam senantiasa berupa mencari celah-celah untuk merenggangkan hubungan ukhuwah Islamiyah ini.

Di lain sisi, Islam sangat menekankan agar umat Islam senantiasa menjalin ukhuwah Islamiah. Iming-iming pahala nan besar diberikan, agar ada daya tarik untuk menjaganya.

Mengingat pentingnya perkara satu ini, hatta Islam menuntun umat ini untuk memiliki kepekaan yang luar biasa untuk menjalinnya. Sensitivitas harus dibangun.

Lalu dengan cara apa? Hal-hal yang ringan. Alias remeh temeh. Salah satunya, kata Ustadz Syaifuddin, adalah bersin.

“Apa istimewanya bersin? Setiap orang mengalaminya. Sehari bisa berkali-kali. Jadi, secara kasat tidak ada spesialnya. Hatta, minim sekali kajian ilmiah yang mengupas,” tukasnya.

Tapi bagaimana pun juga, bersin adalah satu nikmat dari Allah. Bayangkan, bagaimana tidak nyamannya, bila mengalami keinginan bersin, tapi tak kadung jadi.

“Hidung terasa gatal. Kenyamanan terganggu. Ada rasa ketidakpuasan di sana. Dipaksa-paksa juga tidak bisa,” bayangnya.

Namun, ketika mampu mengeluarkan bersin, meskipun hanya sekedir berbunyi, “hachi..!,” kecil saja suaranya (apalagi samapai keras), rasa nyamannya luar biasa. Nikmat sekali. Sekujur tubuh terasa lega, terutama hidung.

Di situlah terletak nikmat Allah yang diberikan di balik bersin. Untuk itu, si pembersin harus bersyukur kepada-Nya, karena telah diberi kenikmatan; bisa bersin. Tuntunannya, Ia kudu mengucapkan tahmid; “Al-Hamdulillah (segala puji milik Allah), ” ucapnya.

Nah, teman yang mendengar, kudulah ikut merasakan kebahagiaan, mendapati berita (via suara bersin dan ucapan tahmid) sahabat memperoleh nikmat dari Allah.

Karenanya, mendoakan kebaikan, menjadi sebaik-baik ungkapan. Maka berucaplah; “Yarhamukallah (semoga Allah merahmatimu).”

Memperoleh doa kebaikan macam ini, maka tak ada pilihan lain bagi seorang mukmin nan baik hatinya, kecuali membalas kebaikan itu dengan kebaikan serupa (bahkan kalau bisa lebih baik).

Maka, kudu membalas doa itu dengan memunajatkan seuntai doa; “Yahdikumullah (semoga Allah memberi engkau hidayah.”

“Inilah kemudian yang dimaksud dengan, menghidupkan kepekaan dalam berukhuwah. Terhadap bersin saja, kaum muslimin dituntun sedemikian rupa peduli atas kebahagiaan saudara. Maka, apa lagi urusan yang lebih besar,” katanya.

Luar biasanya lagi, tuntunan ini diwajibkan sesama mukmin atas mukmin yang lain, maukah yang dikenal, atau pun tidak.

Artinya, iman menjadi barometernya. Selama ia beriman, maka ia adalah saudara, tak peduli dari bangsa manapun berasal. Maka ukhuwah, harus dirajut.

“Kalaulah harus digambarkan dalam layar lebar, maka ukhuwah islamiah itu, kisahnya akan jauh lebih indah, dari kisah cinta antar manusia yang dibuat oleh para sutrada manapun juga,” demikian simpul Ustadz Syaifuddin.*/ Khairul Hibri

Berumah Tangga dengan Bertanggung Jawab, Bukan Menuntut Hak

Hidayatullah.or.id – Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya bekerjasama dengan DPW Hidayatullah Jawa Timur menggelar acara pernikahan massal (walimatul ursy) sebanyak 4 pasang santri, Sabtu lalu (8/07/2017).

Pernikahan massal atau yang dalam istilah Hidayatullah dikenal dengan “Pernikahan Massal Mubarak” dihadiri ratusan undangan dan hadirin termasuk keluarga dari masing-masing mempelai.

Acara yang berlangsung di Masjid Aqshal Madinah Pesantren Hidayatullah Surabaya ini diisi taushiah yang disampaikan oleh ustadz yang juga Guru Besar Balaghah IAIN Sunan Ampel, Prof. DR. Husein Aziz.

Prof Husein dalam taushiahnya mengingatkan bahwa keluarga adalah pilar dari tegaknya perdaban Islam. Dalam keluarga muslim, katanya mengdepankan tanggungjawab, bukan saling menuntut hak.

“Dalam hidup berrumah tangga, tidak ada hak. Yang ada adalah tanggung jawab. Seperti dalam hadits, ‘Kullukum ro’in, wa kullukum mas’ulun’,” kata Prof Husein.

Beliau kemudian menjelaskan. Mas’ul dalam kata hadits tersebut berarti ingin memberi, tidak ingin diberi. Tetapi menyantuni, menghormati, menyantuni, menyayangi, dan sebagainya. Bukan sebaliknya.

“Begitu juga dalam hidup bermasyarakat. Konflik-konflik lahir dari situ. Menuntut hak, bukan perhatian pada tanggung jawab,” imbuhnya.

Beliau mengimbuhkan, rumah tangga yang sudah 20 tahun, kata ahli bangunan, harus dibongkar karena dianggap tidak layak lagi.

“Tapi karena terus menerus ada maaf antar suami dan istri, maka bisa bertahan (kokoh). Terus hidup (berdiri tegak),” tukasnya.

Jadi, tegasnya, ide tentang hal itu dari Barat sejatinya merusak dan menghancurkan. Adapun dalam Islam tidak dikenal istilah hak, yang ada adalah tanggung jawab.

Kebaikan dalam Islam, jelasnya, adalah dari luar ke dalam (sentripetal) berbuat untuk orang lain, memberi tanpa beban (pamrih).

Adapun kebaikan selainnya adalah dari dalam ke luar (sentrifugal). Hal ini seperti obat nyamuk, berbuat baik untuk orang lain tapi tujuannya kembali untuk dirinya sendiri. Ada interes pribadi.

“Nikah itu aktivitas lahir dari hasrat. Hasrat dari ketertarikan. Ketertarikan dari keindahan. Demi suatu keindahan, bisa berkorban apa saja,” lanjutnya.

Lebih jauh beliau menekankan pentingnya membangun keluarga terpimpin dengan bimbingan wahyu yang segala aktifitasnya berorientasi pengabdian diri kepada Allah Ta’ala.

“Kalau orang bergerak karena perut (karena ambisi), maka nilainya sama dengan isi perutnya. Kalau orang bergerak karena kemaluan, maka nilainya sama dengan kemaluan. Dipimpin Allah itu pasti baik. Karena sumbernya Allah,” katanya.

“Akhlak mulia, jika pertimbangannya adalah Allah. Jika tidak, maka itu kejahatan simbolik. Lahiriahnya bagus, padahal aslinya menjerat. Ada kepalsuan. Akhlak baik itu, jika tidak ada egoisme. Murni karena Allah,” tambahnya. */Robinsah

Wejangan “Spirit Syawal” Ketum DPPH kepada Kader Muda

Hidayatullah.or.id – Ketua Umum DPP Hidayatullah Ust Nashirul Haq, MA, menghadiri undangan anak muda dari PD Syabab Hidayatullah Balikpapan dalam rangka silaturrahim Syawal, belum lama ini.

Pada kesempatan tersebut, beliau menyempatkan waktu memberikan wejangan “spirit Syawal” pasca Ramadhan kepada para pemuda yang hadir dalam acara yang berlangsung sederhana namun tetap khidmat ini di Masjid Arriyadh Komplek Pesantren Hidayatullah, Gunung Tembak, Balikpapan.

Dalam nasihatnya beliau mengatakan bahwa inti dari keimanan sesungguhnya adalah keistiqomaan, hal itu sebagaimana dalam hadist yang artinya katakanlah Aku beriman kepada Allah lalu Istiqomalah.

“Poinnya, konsisten dengan komitmen,” katanya.

Beliau mengungkapkan, kerisauan para orangtua di Hidayatullah akan generasi pelanjut adalah apabila tak mampu menyerap dan mewarisi nilai spirit berlembaga.

Namun, beliau selalu optimis. Beliau menegaskan, kalau saja Assaabiqunal Awwalun (istilah untuk para pendahulu Hidayatullah) mampu mengantarkan Hidayatullah seperti saat ini, maka generasi hari ini Insya Allah jauh Lebih tajam.

“Mengapa, karena generasi baru hari ini adalah generasi terbaik karena lahir dari rahim asli Hidayatullah dan ditakdirkan tumbuh besar dalam lingkungan dekat dengan Allah dan dekat dengan orang berkualitas secara spiritual,” ujarnya.

Beliau melanjutkan, dahulu Imam Syafii bisa hafidz Qur’an umur 8 thn, hari ini Alhamdulillah bertebaran Hafidz-hafidz kader Hidayatullah.

“Generasi pembaharu hari ini tidak perlu diragukan dari segi keilmuan, intelektual, dan life skill,” imbuhnya optimis.

Etos kerja kader

Pada kesempatan tersebut Ust Nashirul pula mendorong kader pemuda untuk selalu menguatkan jatidiri dengan menjaga serta menguatkan etos kerja dan mengencangkan kualitas ibadah.

“Peniliaan ibadah atau aspek ruhuiyah sangatlah menentukan dalam garis perjuangan. Pola pengakderan ini sangat memiliki pengaruh luar biasa dalam mengkader,” tukasnya.

“Sehingga, orang yang datang ke Gunung Tembak, meskipun memiliki ilmu yang dalam, jago beretorika. Mereka harus rela untuk dititiknolkan, sehingga siap diperintah dan wajib taat,” katanya.

Di era perintisan Hidayatullah dulu kalau pegang buku itu hal yang aneh kaerna Waktu itu lebih banyak bekerja dan ibadah. Namun dengan itu semua menjadikan lebih baik karena disanalah diajarkan tentang proses penyucian jiwa, merangkai keikhlasan, semangat pengorbanan sehingga kualitasnya dahsyat karena mendahulukan adab dari ilmu.

“Nah, jika kader hari ini mampu mengkombinasikan antara semangat ibadah dan semangat berilmu maka Insya Allah meraih kalungan bunga di istana semakin nyata,” kata Ustadz yang rutin berkeliling dakwah dari lorong ke lorong di Kota Jakarta setiap Sabtu-Ahad ini.

Beliau menegaskan, untuk menelurkan kader yang berkualitas ia tidak cukup berasik ria di kelas, tapi mesti terjun ke lapangan untuk memahami realitas kehidupan.

Ustadz Nashirul mengungkapkan optimisienya setelah banyak “thawaf” ke daerah daerah untuk langsung melihat dan kondisi teman-teman di daerah. Katanya, sungguh mengembirakan dan mengahru biru.

Sehingga, katanya, ia harus berlama-lama di satu daerah terpencil untuk memberikan apreasiasi kepada teman-teman daerah.

Menurutnya, pembangunan dan perintisan pesantren yang dikelola dengan pola sebagaimana dilakukan pendiri awal Hidayatullah Insya Allah akan nampak nyata kemajuan dari segala aspek. Namun tentu, tegas dia, modal utamanya adalah ketulusan dan keikhlasan.

Di penghujung motivasi serta penguatan kader, beliau mengatakan kader yang berkualitas memiliki dua ciri. Pertama, memiliki kekuatan baik kuat fisik, mental, keilmuan dan terpenting kuat spititualnya.

Ciri kedua, memiliki integritas. Ia tak goyah dengan arus badai dan gelombang. Tidak silau dengan dua karung dollar. Idealismenya kokoh dan tak akan tergadaikan dengan segudang dollar.

“Jika dua kekuatan itu ada pada kader maka yakinlah ia akan menjadi singa-singa bersayap,” imbuhnya setengah berkelakar. */ Fatahillah Al Ayyubi

Kapolda Silaturahmi ke Pondok Pesantren Hidayatullah Kupang

0

Hidayatullah.or.id – Kepala Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur Irjen Pol. Drs. Agung Sabar Santoso, S.H.,M.H. silaturahmi ke Pondok Pesantren Hidayatullah Batakte Kupang Barat, belum lama ini.

Kapolda NTT didampingi para pejabat utama Polda NTT, Kapolres Kupang serta Kapolsek Kupang Barat.

Selain silaturahmi rombongan Kapolda juga mengikuti acara buka puasa bersama para penghuni pesantren Hidayatullah.

Dalam kesempatan tersebut Kapolda NTT mengajak agar sama-sama menjaga toleransi antar sesama saudara yang tidak seiman.

Lebih lanjut orang nomor satu di jajaran Polda NTT ini juga mengajak anak-anak pesantren agar rajin beribadah dan rajin belajar serta jangan pernah berhenti untuk berbuat baik dan selalu ikhlas.

Ketua Yayasan Hidayatullah Kupang yang juga Ketua DPW Hidayatullah NTT, Ustadz Usman Mamang, menyampaikan terimakasih dan apresiasi yang tinggi terhadap kunjungan Kapolda dan rombongan tersebut.

Ia berharap silaturrahim tersebut senantiasa terjalin dengan baik. Pihahnya juga selalu mengharapkan nasihat dan dorongan dari jajaran Polda setempat yang selama ini memiliki kepedulian yang tinggi dalam mendukung program kegiatan Pesantren Hidayatullah khususnya di NTT. (Adianto)

Kepemimpinan, Amanah yang Akan Dipertanggung Jawabkan

0

SUATU pagi di hari raya idul fitri, sesaat sebelum Rasulullah saw hendak menuju mushalla, tanah lapang untuk melaksanakan shalat Id, beliau mendapati sekelompok kawanan anak-anak yang sedang asyik bermain-main.

Semua mereka nampak riang gembira, kecuali seorang anak yang duduk menyendiri dengan wajah yang murung.
Rasulullah mendekati anak tersebut dan menanyakan gerangan apa yang menjadikannya bermuram durja.

Sambil terisak, anak tersebut menceritakan bahwa beberapa tahun yang lalu ayahnya telah meninggal sedang ibunya tidak mempedulikan nasibnya. Ia hidup sebatang kara. Mendengar penuturan anak tersebut Rasulullah saw segera mengajak masuk ke rumahnya, memadikannya lalu memberinya pakaian terbaik untuknya.

Tak hanya itu, Rasulullah bertanya, maukah kamu jika sejak sekarang ini Muhammad sebagai ayah angkatmu, Fathimah sebagai bibimu dan Ali bin Abi Thalib sebagai pamanmu?

Seorang bocah yang tadinya bermuram durja kini mendadak bahagia. Yang tadinya kusam dan tak terurus kini wangi dan berpakaian rapi. Itulah yang dilakukan Rasulullah pada saat idul fitri.

Al-Qur’an telah merekam secara nyata bagaimana besarnya kasih sayang Rasulullah kepada sesama. Allah SWT berfirman:
﴿لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ﴾
“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olenya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”. (At-Taubah: 128)

Saat ini kita telah berada di tempat ini, apakah sebelum berangkat tadi kita telah memastikan bahwa tidak seorang bocahpun di sekitar kita yang menangis gara-gara tidak bisa merayakan idul fitri pada hari ini?

Apakah kita sudah memastikan bahwa tidak ada fakir miskin di sekitar kita yang di pagi ini belum makan karena tidak memiliki simpanan beras untuk dimasak?

Apakah kita telah memastikan bahwa semua orang di sekitar kita telah memiliki baju yang layak untuk pesta dan merayakan hari raya?
Wahai saudara-saudara yang saat ini telah melaksanakan shalat Id, Allah mengancam kita yang melaksanakan shalat tapi kurang peduli terhadap sesama dengan neraka wail. Orang-orang seperti itu bahkan disebut sebut sebagai pendusta agama. Bukankah Allah telah berfirman:

﴿فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (٤) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (۵) الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ (٦) وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ (٧)﴾.
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong) dengan barang berguna)”. (Al-Ma’un 4 – 7)

Ancaman ayat di atas, bukan ditujukan kepada orang-orang kafir, orang-orang munafiq, dan orang-orang musyrik.  Ayat di atas ditujukan secara jelas kepada kita yang melaksanakan shalat tapi kurang peduli terhadap nasib anak yatim, fakir miskin, kaum dhu’afa dan mustadh’afin.

Apakah kita telah memiliki kepedulian terhadap para janda tua di lingkungan sekitar kita? Jangan-jangan mereka sedang sakit saat ini. Jangan-jangan mereka belum makan di hari ini. Jangan-jangan mereka belum memiliki pakaian yang layak untuk menyambut hari raya idul fitri. Kita semua diingatkan oleh Rasulullah saw dengan sabdanya:

«كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya”. (HR. Bukhari)

Tanggung jawab pemimpin itu tidak mudah dan sederhana. Pemimpin harus bertanggung jawab lahir batin atas kepemimpinannya. Sandangnya dicukupi, papannya dipenuhi, pangannya dicukupi. Keamanannya terjamin, tidak ada terror, tidak ada ancaman, tidak ada yang menukut-nakuti. Aman, nyaman, dan damai. Itulah tugas pemimpin.

Jika belum punya kesanggupan untuk mewujudkan masyarakat yang aman, nyaman, dan damai, jangan coba-coba Nyaleg, jangan coba-coba mengikuti kontestasi Pilkada, Pilgub, dan Pilpres.

Jabatan itu amanah. Pertanggung jawabannya sangat berat di dunia dan di akherat. Betapa banyak bupati yang akhirnya masuk penjara? Betapa banyak gubernur yang masuk bui? Betapa banyak pejabat yang di penghujung hidupnya justru terhina dan ternista?

Sebaliknya, kepada para pemimpin dan calon pemimpin Islam yang amanah dan mempunyai kesanggupan professional untuk memimpin secara adil, jangan ngumpet. Jangan berdiam diri.

Jangan lari dari tanggung jawab kepemimpinan. Anda ditunggu. Umat telah menantikan kehadiran dan kiprah Anda. Kita harus mendorong pemimpin muslim yang amanah untuk tampil memipin Indonesia agar lebih adil dan sejahtera.

Jangan biarkan orang-orang yang korup, yang tidak beriman, yang kafir memimpin negeri muslim terbesar ini. Betapa banyak pemimpin muslim yang bersih, yang tidak korupsi, yang terampil dan mumpuni untuk memimpin Indonesia yang kita cintai?

Silahkan mencalonkan diri menjadi pemimpin jika kita sendiri telah yakin dapat berbuat amanah dan adil kepada rakyat. Allah telah menjamin masuk surga para pemimpin yang adil.

Rasulullah saw bersabda bahwa ada tujuh golongan yang akan mendapat perlindungan ketika tidak ada perlindungan kecuali perlindungan Allah. Salah satu golongan tersebut adalah imaamun ‘aadilun, pemimpin yang adil. Tak hanya itu, pemimpin yang adil itu do’anya makbul, diterima oleh Allah swt. Nabi saw bersabda:

ثَلاثَةٌ لا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ” رواه الترمذي
“Tiga gologan yang do’anya tidak tertolak, yaitu pemimpin yang adil, orang yang berpuasa ketika berbuka, dan orang yang didzalimi”. (HR. Tirmidzi)

Pemimpin Adil
Pemimpin yang adil tentu tidak akan membiarkan satu orang menguasai hingga 5 juta hektar tanah, sementara jutaan rakyat tidak memiliki sejengkal tanahpun untuk berteduh dan mendirikan rumah.

Pemimpin yang adil tentu tidak akan melegalisasi penggusuran rumah-rumah rakyat miskin, apapun alasannya kecuali untuk mensejahterakannya.
Pemimpin yang adil tentu saja tidak membiarkan sekelompok orang menguasai property hingga 90 %, kebun sawit hingga 80%, Real Estate 85%, pertambangan 65%, industry makanan 90%, perbankan swasta 99%, industry obat-obatan 80%, rumah sakit swasta 70 %, dan pabrik kertas hingga 90%. Rakyat boleh bertanya, dimana nilai keadilannya?

Bukankah Pancasila kita menyatakan “KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA”? Siapa yang dimaksud rakyat Indonesia itu? Mayoritas mereka adalah kaum muslim.

Problem Indonesia saat ini adalah kesenjangan sosial yang semakin menganga. Rasio ini kita sangat memprihatinkan. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin terlunta.

Bayangkan! 2 persen orang kaya menguasai 80 persen asset bangsa. Inilah akar persoalan bangsa kita. Monopoli, oligopoly, dan kekayaan yang memusat hanya pada segelintir orang kaya itu sangat membahayakan. Suatu saat bisa menjadi bara di atas sekam. Jika kita cinta NKRI, mari kita atasi masalah ini.
Tentang keadilan distribusi aset ini Allah SWT memberi bimbingan:

﴿كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ﴾
“Supaya harta itu jangan beredar  di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya”. (Al-Hasy: 7)

Peringatan Allah di atas sungguh sangat keras. Sebagai orang yang beriman, peringatan seperti itu tidak boleh diabaikan. Terutama kepada para pemimpin, lalukan langkah-langkah nyata untuk mendistribusikan kekayaan bangsa ini secara adil dan merata.

Akhirnya, bangsa Indonesia, khususnya kaum muslimin harus sadar bahwa memilih pemimpin itu wajib. Jika umat Islam tidak peduli terhadap kepemimpinan negara, maka jangan kaget jika para pemimpin negara yang terpilih nanti tidak peduli terhadap Islam.

Bisa jadi para pemimpin itu mengaku beragama Islam, tapi mereka menolak syariat islam. Bisa jadi mereka kerap mendatangi ulama melalui acara silaturrahim dan anjangsana, tapi sesungguhnya mereka mempunyai agenda lain.

Ritual ibadah itu penting, menjadi sholeh secara individual dan sosial itu penting, tapi peduali terhadap proses kepemimpinan politik itu juga tidak kalah penting.

Jangan sampai orang-orang sholih hanya puas menjadi penonton, sementara pemainnya terdiri dari orang-orang yang tidak kapabel, tidak layak dan tidak pantas. Umat Islam adalah pemilik sah negeri ini. Indonesia diwariskan oleh para ulama yang telah berjuang memperebutkan kemerdekaan negeri ini. Atas nama jihad fi sabilillah, para pendiri bangsa ini.

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar
Wahai para orangtua, ibu dan bapak sekalian

Allah telah mengamanatkan putra dan putri kepada kita, marilah kita mendidik mereka dengan sungguh-sungguh dan benar. Waktu kita tidak banyak.
Anak-anak kita akan segera beranjak dewasa, apa yang telah kita berikan kepada mereka. Allah akan meminta pertanggung jawaban kita di akherat.

Pastikan bahwa anak-anak kalian telah memiliki aqidah yang benar, menjalankan syari’at secara tepat, dan berkhlaq mulia serta luhur.

Pastikan bahwa anak-anak kalian telah pandai membaca al-Qur’an, kalau memungkinkan, jadikan mereka sebagai penghafal dan penjaga Qur’an.

«خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ اْلقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ»
“Sebaik baik kalian adalah yangmempelajari dan mengajarkan al-Qur’an”. (HR. Bukhari dan Abu Dawud)

Jangan ragu menegur dan mengingatkan dengan keras apabila mendapati anak-anak kita lalai menjalankan shalat. Ingat! Bahwa tarkush-shalah (meninggalkan shalat) itu dosa besar. Jangan sampai anak-anak kita tercatat sebagai penghancur tiang agama.

﴿فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا﴾
“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menmui kesulitan”. (Maryam: 59)

Untuk itu, jangan pernah bosan mengingatkan anak-anak kita, bahkan yang sudah dewasa untuk menjalankan shalat.

﴿وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى﴾
“Dan perintahkan kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rizki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa”. (Thaha: 132)

Selain bekal agama yang kuat sebagai pondasi hidup, ajari anak-anak kita menjadi calon-calon pemimpin. Ibu dan bapak adalah madrasah (sekolah) pemimpin yang pertama.

Ajari mereka zuhud sehingga kelak tidak rakus terhadap dunia saat menjadi pemimpin. Ajari mereka tawadhu agar mereka lebih santun kepada orang lain, terutama rakyat kecil dan lemah.

Ajari mereka untuk berani, berani mengambil tanggung jawab dan berani menanngung risiko. Bekali mereka sikap sidiq (jujur) dan amanah. Jadikan anak-anak kita sebagai calon-calon pemimpin Islam yang hebat, yang siap memimpin Indonesia menuju ridha Allah swt.

Allahu Akbar Walillahil Hamd
Ayyuhasy-syabab, wahai para pemuda

Kalian adalah calon-calon pemimpin masa depan. Tak lama lagi kalian akan menggantikan generasi tua. Bersiaplah untuk memimpin Indonesia lebih maju, lebih modern, lebih beradab, dan lebih sesuai dengan syari’at Islam.

Belajarlah sungguh sungguh, karena hanya orang yang berilmu saja yang mendapatkan amanah untuk memimpin bangsa ini. Belajarlah agama baik-baik karena hanya agama saja yang bisa menuntun kalian ke jalan yang benar.

Belajarlah sains dan tehnologi karena berbagai kemudahan hidup dan kesejahteraan serta kemajuan hanya bisa dicapai dengannya. Pelajari berbagai keterampilan hidup karena kalian akan menghadapi tantangan hidup dan persaingan global yang lebih berat dan lebih keras.

Singsingkan lengan, jangan bermalas-malasan. Tinggalkan segala bentuk kelalain dan permainan yang tidak perlu dan melenakan. Jangan terbuai dengan tontonan televisi. Jangan hanyut dengan gadget dan media social. Waktumu sangat sempit untuk mempersiapkan diri. Pepatah Arab mengatakan:

شُبَّانُ الْيَوْم، رِجَالُ الْغَد
Hari ini kalian masih remaja. Besok kalian akan dewasa

Jangan biarkan kepemimpinan Indonesia kepada pemuda dan remaja yang tidak mengenal agama. Jadilah kalian pemimpin dan pembela Islam di negeri yang tercinta.

Bekali diri kalian dengan al-Qur’an sebagai pedoman dan penunjuk jalan. Teladani Rasulullah sebagai pemimpin yang sukses.

Satu hal lagi, jika kalian ingin menjadi pemimpin, jangan sekali-kali berbuat sesuatu yang terhina, melanggar hukum dan etika. Indonesia membutuhkan pemimpin yang bersih dan memiliki track record yang positif.

Subhanallah Walhamdu lillah Walaa Illaha Illallah Allahu Akbar
Ayyuhaz-Zu’ama wal umara, wahai para pemimpin dan tokoh masyarakat, terutama pemimpin muslim

Mari kita jaga marwah dan harga diri sebagai muslim. Jangan pernah sedikitpun melakukan korupsi. Perbuatan itu hina dan merugikan rakyat banyak.
Selain itu, delik tersebut akan dijadikan sebagai senjata untuk membungkam kita untuk amar ma’ruf nahi munkar. Perbuatan tersebut akan menjadi alat yang paling efektif untuk menyandera kita.

Sebagai pemimpin, kita harus menunjukkan keberpihakan yang nyata kepada Islam dan kepada kebenaran. Belalah kaum dhu’afa dan mustadh’afin karena sesungguhnya kekuatan kita ada pada mereka. Jangan ikut-ikutan menggusur mereka. Carikan solusi dan jalan keluar jika mereka menghadapi masalah.

Akhirnya, bumi Indonesia yang subur, gemah ripa loh jinawih ini adalah tanah yang diwariskan para ulama dan leluhur kita. Kita harus pandai-pandai merawat dan memajukannya. Kita syukuri kemerdekaan Indonesia dengan mengisinya dengan membangun dan mensejahterakannya. Sudah saatnya orang-orang sholih memimpin Indenesia.

﴿وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ﴾
“Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfudz, bahwa bumi ini diwariskan kepada hamba-hamba-Ku yang shalih”. (Al-Anbiyaa: 105)

Ini bukan klaim. Ini bukan anti kebhinekaan. Ini bukan menolak pluralitas. Ini realitas. Apakah umat Islam tidak boleh memperjuangkan hak kemerdekaan yang telah dimonopoli secara nyata oleh segelintir orang? Apakah umat islam tidak boleh menuntut keadilan?

Pada akhir khutbah ini, kami mengajak kita semua untuk menundundukkan wajah dan mengangkat tangan untuk berdo’a dan bermohon kepada Allah swt.
Semoga do’a kita, ibadah kita, shalat kita, puasa kita, dan zakat fitrah yang baru saja kita tunaikan diterima Allah swt.

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف المرسلين وعلى آله وصحبه أجمعين برحمتك يا أرحم الراحمين …اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ…اَللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ أَعْدَاءَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ…
Ya Allah ya Tuhan kami, Muliakanlah Islam dan Kaum Muslimin, Hancurkan dan hinakan orang-orang kafir dan musyrik, musuh-Mu dan musuh agama-Mu…

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وَصِيَامَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَتَضَرُّعَنَا وجميع أعمالنا
Ya Allah ya Tuhan kami, Terimalah shalat kami, puasa kami, ruku kami, sujud kami, kerendahan kami, dan segala amal ibadah kami,

اَللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي اْلأُمُوْرِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ اْلآخِرَةِ…
Ya Allah… baikanlah kesudahan segala urusan kami, hindarilah kami dari kehinaan dunia dan siksa akhirat…

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ جَمِيْعَ وُلاَةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَانْصُرِ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ…
Ya Allah perbaiki dan rukunkanlah semua Pemimpin Umat Islam dan Kaum Muslimin, tinggikanlah kalimat-Mu sampai hari kiamat…

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ…
Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi…

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ…وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، والحمد لله رب العالمينواَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وبركاته

(Artikel ini disadur dari materi khutbab Idul Fitri 1438 yang dirilis oleh DPP Hidayatullah)

Gubernur Gelar Buka Bersama Santri Hidayatullah Manokwari

0

Hidayatullah.or.id – Gubernur Papua Barat Drs Dominggus Mandacan menggelar acara buka puasa bersama (bukber) dengan forum komunikasi pimpinan daerah (Forkopimda ) dan mengundang rombongan santri dan pengurus Pesantren Hidayatullah Manokwari di Auditorium PKK, Gunung Arfai, Manokwari, Kamis (15/6).

Rangkaian acara kegiatan dibuka dengan pembacaan Al Qur’an surah Al Baqarah oleh qori, La Irama, MH. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan Gubernur Provinsi Papua Barat Drs. Dominggus Mandacan.

Dalam sambutannya, Gubernur Dominggus mengajak seluruh komponen masyarakat untuk membangun dengan hati dan mempersatukan semua dengan kasih.

Dominggus mengajak semua elemen, suku, ras, dan agama yang ada di Papua Barat untuk saling menghormati dan menghargai terutama di bulan Ramadhan ini agar ibadah puasa berjalan dengan baik hingga lebaran nanti.

Dominggus menegaskan membangun Papua Barat harus dengan hati serta mempersatukan dengan kasih menuju provinsi aman, sejahtera dan bermartabat serta menciptakan toleransi antar umat beragama.

Dominggus mengajak semua pihak untuk menjaga Papua tanah damai melalui peran masing-masing sehingga tetap aman saling menghargai terutama dalam bulan suci Ramadhan 1438 Hijriyah ini.

“Saya sebagai Gubernur juga sebagai Kepala Suku Besar Arfak. Saya ajak baik sebagai ulama, ustadz, pendeta, biksu, pedanda, Tokoh Masyarakat, adat, pemuda, perempuan, TNI maupun Polri serta semua komponen bangsa, mari kita bersatu. Kita jaga persamaan kita, persatuan dan kesatuan supaya tetap utuh antara kita,” ucap Gubernur Dominggus Mandacan.

Pada kesempatan itu Gubernur mengatakan sangat bahagia karena dapat berjumpa dengan segenap tamu undangan dan anak-anak Pesantren Hidayatullah untuk dapat saling berbagi.

Gubernur juga mengatakan amal ibadah puasa yang dijalankan diharapkan semuanya mendapat Ridho Allah SWT. Buka puasa bersama ini diwarnai pemberian kado Lebaran pada anak-anak pesantren Hidayatullah.

Sebelum berbuka para hadirin disuguhkan dengan tausyah oleh Ustad Drs. Haji Antoli sehingga menambah kegiatan menjadi khusuk dan khidmat.

Hadir dalam kegiatan buka puasa bersama antara lain : Gubernur Provinsi Papua Barat, Pangdam XVIII Kasuari, Kapolda Papua Barat, Kabinda Papua Barat, Sekda Provinsi Papua Barat, Para Kepala SKPD Provinsi Papua Barat, Pejabat Utama Polda Papua Barat, dan tamu undangan. (pkc/trp/trb)

Dandim Silaturrahim ke Ponpes Hidayatullah Balikpapan

0

Hidayatullah.or.id – Musuh utama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah mereka yang tidak ingin melihat rakyat Indonesia bersatu.

Sebaliknya, sebagai mayoritas, umat Islam menempati barisan terdepan dalam memperjuangkan keutuhan NKRI selama ini.

Pernyataan itu disampaikan oleh Komandan Komando Distrik Militer (Kodim) 0905 Balikpapan, Letnan Kolonel Infanteri Hendri Wijaya, ketika bertandang ke Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Kelurahan Teritip, Balikpapan Timur, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, Selasa (13/06/2017).

Dalam silaturahim yang digelar di Masjid Agung Ar-Riyadh tersebut, Hendri menegaskan, umat Islam tak akan mengkhianati NKRI.

Sebabnya, menurut Hendri, selama ini umat Islam sudah membuktikan kecintaan dan perjuangannya membela negara.

“Itu tidak bisa dipungkiri. Sejak dulu rakyat dipimpin ulama dan tokoh masyarakat menjaga kedaulatan negeri ini,” ungkap Hendri yang juga pernah tugas di Ambon hingga Atambua itu.

Menurut Hendri, banyak nama ulama dan pejuang Islam yang pernah mengukir sejarah perjuangan bangsa, sejak masa penjajahan dahulu.

“Ada Diponegoro, Imam Bonjol, Agus Salim, M Hatta, Sutan Syahrir, Hamka, hingga Soekarno,” jelasnya lagi.

Dalam silaturahim perdana itu, Hendri yang baru dilantik sebagai Dandim tersebut juga menyampaikan pesan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo untuk senantiasa melibatkan para ulama dan bergandengan dengan seluruh lapisan masyarakat.

“Pak Panglima selalu berpesan itu, libatkan alim ulama. Sejak dulu mereka sudah buktikan cinta mereka terhadap NKRI,” ucap Panglima seperti ditirukan Hendri.

Adapun pihak yang ingin memecah belah, kata Hendri, itu karena mereka tak paham sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia.

Dalam kesempatan silaturahim itu, Hendri sekaligus menghadiri penutupan acara Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) yang digelar oleh Kodim Balikpapan bekerja sama dengan Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak.

Berbagai ajang prestasi diperlombakan dalam kegiatan itu. Mulai dari lomba Hafalan al-Qur’an 1 juz, 5 juz, 10 juz, hingga lomba azan dan kaligrafi tingkat pendidikan dasar dan menengah.

“Alhamdulillah, acara berjalan lancar. Total peserta mencapai 150 orang lebih,” lapor Kaspan, ketua panitia, dalam sambutannnya. (Masykur Abu Jaulah)

[DOWNLOAD] Naskah Khutbah Idul Fitri 1438 Hijriyah

BERIKUT naskah khutbah Idul Fitri 1438 Hijriyah rilis DPP Hidayatullah. Semoga bermanfaat dan dapat dimanfaatkan seluas-luasnya kaum muslimin.

Selain dalam format Microsoft Word, file juga disertakan dalam bentuk PDF, sehingga pastikan di komputer anda telah terinstal aplikasi “Acrobat Reader” atau sejenisnya untuk dapat membaca atau mencetak file.

Selamat Idul Fitri, taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum.

_______________
DOWNLOAD: (Format PDF) dan (Format Microsoft Word)

Ramadhan, Zakat dan Pengentasan Kemiskinan

Asih Subagyo

SEBAGAI salah satu rukun Islam, zakat merupakan ibadah yang pelaksanaannya memiliki syarat cukup rijid. Baik bagi muzakki (orang yang mengeluarkan zakat), harta yang wajib dizakati, maupun mustahik (yang berhak menerima).

Kendati kesadaran berzakat sebagai sebuah kewajiban terhadap harta yang telah ditentukan sudah mulai baik, ternyata masih banyak juga umat yang belum faham.

Bahkan, tidak jarang yang dipahaminya hanya sebatas zakat fitrah. Sedangkan zakat lainnya (maal, perhiasan, perkebunan, peternakan, dll) termasuk infaq, shadaqah, wakaf dan hibah, masih banyak yang belum mafhum.

Hal ini bisa kita saksikan di lapangan, meskipun hampir semua jenis zakat itu bisa dibayarkan kapan saja, tidak terikat dengan waktu, kecuali zakat fitrah yang memang memiliki batas waktu sebelum pelaksanaan sholat Idul Fitri ditegakkan.

Namun, dalam prakteknya, biasanya Ramadhan identik dengan bergeliatnya para muzakki dalam membayar zakatnya, termasuk lainnya itu. Sehingga di setiap Ramadhan menjadi semacam musim “panen”-nya Lembaga Amil Zakat (LAZ) dan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS).

Dengan potensi sebesar Rp. 217 triliun, sebagaimana hasil penelitian BAZNAS dan FEM (Fakultas Ekonomi dan Manajemen) IPB yang dilakukan pada tahun 2011, maka seharusnya zakat bisa memiliki multiplier effect bagi dinamika ekonomi ummat.

Angka tersebut, diasumsikan sebesar 3% dari PDB tahun 2010. Dengan pertumbuhan PDB yang terus meningkat setiap tahun, maka potensi zakatnyapun semestinya setiap tahun juga bergerak naik pula.

Dan, berdasar pengalaman LAZ yang terhimpun dalam Forum Zakat (FoZ), yang juga diamini oleh BAZNAS, maka sekitar 75% dari total pendapatan zakat, dihimpun saat bulan Ramadhan. Dan, yang 25% dibagi dalam 11 bulan.

Yang perlu digarisbawahi adalah, kesadaran filantropis di bulan Ramadhan, setiap tahun terus mengalami peningkatan, membersamai meningkatnya kuantitas peribadatan yang lainnya. Kendati demikian, dari potensi yang ada, itu ternyata pada tahun 2016 kemarin, yang mampu terhimpun baru sekitar 1 %, atau sebesar Rp. 2 triliun.

Dan, pada tahun 2017 ini, diperkirakan mengalami peningkatan pendapatan secara agregat sebesar Rp. 3 sampai 4 triliun. Di sinilah tantangan nyata yang dihadapi oleh LAZ dan BAZNAS, yang tentu saja mesti menyiapkan perumusan yang baik.

Regulasi

Sebenarnya negara telah membuat regulasi yang mengatur tentang penghimpunan dan pengelolaan zakat ini, melalui UU No 23/2011. Di dalamnya mengamanatkan bahwa LAZ yang diperbolehkan untuk memungut atau menghimpun serta menyalurkan ZIS harus mendapatkan rekomendasi dari BAZNAS dan kemudian mendapatkan ijin dari Kementerian Agama.

Menurut keterangan dari Forum Zakat (FoZ), ada 235 anggota yang dihimpun. Namun, sampai Ramadhan tahun ini, secara resmi, selain BAZNAS, baru ada 17 LAZ sekala nasional, 7 LAZ sekala Propinsi dan 11 LAZ Kabupaten/Kota, dan masih ada beberapa LAZ yang telah mendapatkan rekomendasi dari Baznas, namun masih mengurus izin dari Kementerian Agama (www.detik.com, 1/06/2017).

Selain UU juga diikuti dengan Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri dan juga SK Baznas, yang mengatur segala hal ikhwal dari dunia perzakatan ini.

Logikanya, dengan diterapkannya UU 23/2011 dan sederet aturan yang menyertainya itu, hanya lembaga-lembaga tersebutlah yang berhak melakukan penhimpunan dana ZIS di masyarakat, namun faktanya muzakki masih banyak yang memilih untuk mendistribusikan langsung baik ke perorangan, masjid, madrasah, panti asuhan, pesantren dan lembaga keagamaan lainnya.

Kendati ada sanksi yang cukup berat bagi lembaga penerima ZIS yang belum atau tidak mendapat legalitas dari Kemenag, namun faktanya praktek model seperti ini masih saja berlangsung.
Bisa jadi karena sosialisasi atas UU itu belum sampai ke mereka, atau memang ada sebagian yang merasa lebih nyaman dan afdhol jika langsung di-tasyarufkan kepada mustahik. Atau bisa juga bersebab faktor ketidakpercayaan kepada BAZ dan LAZ.

Dan, jika yang terakhir ini penyebabnya, harus dijadikan bahan muhasabah bagi LAZ dan BAZNAS, sebab zakat adalah dana umat yang tentu saja dibutuhkan untuk membangun kehidupan umat.

Pemetaan Mustahik

Selain di sisi penghimpunan yang masih belum optimal, ternyata LAZ dan BAZNAS juga dihadapkan pada pendayagunaan yang harus tepat sasaran. Bahwa untuk pentasyarufan ZIS ini harus kepada 8 asnaf adalah qoth’i, sebagaimana diterangkan dalam al-Qur’an Surat At-Taubah: 60. Dan, hal ini sudah mutlak, tidak perlu diperdebatkan lagi.

Pertanyaannya adalah, apakah kedelapan asnaf itu harus mendapatkan porsi yang sama? Dan dalam hal ini, ulama berbeda pendapat. Namun, jumhur ulama tidak mewajibkan masing-masing asnaf itu mendapatkan1/8 bagian atau 12,5% dari zakat yang diperoleh secara sama.

Syaikh Yusuf Qardhawi berpendapat bahwa Zakat itu harus ditasyarufkan terutama ke-ahlul balad (penduduk setempat) dimana zakat itu dihimpun, dan semua asnaf dibagi secara adil. Adil ini artinya tidak harus sama. Artinya ada skala prioritas pembagian di situ. Dan yang tidak bisa ditinggalkan adalah fuqara dan masakin. (Qaradhawi : 2001)

Artinya, dalam pendayagunaan zakat ini, ternyata juga terkait dengan permasalahan majamenen yang berbasis pada 8 asnaf itu.
Olehnya, perlu pengelolaan yang profesional. Diperlukan pemetaan data mustahik. Agar terjadi pemerataan mustahik, yang mendapat pendayagunaan. Dan tidak tumpang tindih.

Misalnya, ada satu mustahik yang menerima dari beberapa LAZ dan ada mustahik yang seharusnya berhak menerima, tetapi tidak mendapat dari LAZ manapun juga.

Pemetaan ini, juga akan memberikan gambaran, masing-masing LAZ itu disalah satu tempat untuk fokus “menggarap” di asnaf apa dan didaerah mana. Selain itu, semua LAZ dan BAZNAS, juga harus memiliki database mustahik-nya.

Akan lebih baik lagi, jika mendorong adanya open database. Sehingga bisa tukar-menukar data antar LAZ, dan tumpang tindih itu tidak terjadi. Dengan demikian maka, satu daerah, bisa digarap oleh berbagai LAZ, dengan spesifikasi masing-masing ke tiap-tiap asnaf.

Dan setiap daerah akan berbeda skala prioritasnya, sesuai kondisi yang ada di daerahnya tersebut, sebagaimana pendapat Syaikh Qaradhawi tersebut.

Sinergitas sebagai kunci

Salah satu dari tujuan zakat adalah mengentaskan mustahik dari kondisi yang dialaminya. Artinya zakat, selain bersifat karitatif dan stimulus awal, seharusnya juga dibarengi dengan konsep pemberdayaan yang mengubah dari mustahik menjadi muzakki.

Semangat ini harus menjiwai dari pendayagunaan dana zakat tersebut. Olehnya, dengan pemetaan yang ada, maka akan tergambar secara geografis dan demografis, dari keberadaan mustahik itu. Di sini diperlukan kreatifitas dari LAZ untuk melakukannya.

Banyak contoh, yang telah dilakukan oleh beberapa LAZ, terkait dengan bagaimana kemandirian mustahik ini di garap. Kendati proyek dan program, dengan berbagai varians-nya sudah banyak diluncurkan.

Namun, output dan outcome-nya masih belum memberikan dampak yang signifikan bagi pengentasan kemiskinan di negeri ini. Karena masing-masing LAZ masih berjalan sendiri-sendiri, dengan programnya masing-masing.

Dengan basis pemetaan dan database itu, akan lebih memudahkan bagi LAZ dan juga BAZNAS untuk melakukan proyek dan program ekonomi yang tepat sasaran kepada mustahik. Karena, dari sini akan diperoleh data secara valid potensi dari mustahik.

Di samping itu diperlukan pola sinergi program pemberdayaan dan kemandirian ekonomi antar LAZ. Dengan pola sinergi antar LAZ, Insya Allah akan meminimalisasi dari kegagalan.
Sinergitas ini, sekaligus juga dapat dijadikan dasar dalam menentukan proyek di masing-masing daerah, disesuaikan dengan potensi daerah dan kapasitas mustahik.

Demikian juga disesuaikna dengan kontribusi dari masing-masing LAZ. Olehnya, LAZ tidak bisa lagi ego dengan “jualan” programnya masing-masing. Program antar LAZ bisa saling melengkapi dan saling dukung.

Sehingga, dalam konteks pendayagunaan ZIS, maka kemandirian ekonomi harus menjadi salah satu fokus. Tahapan dan perencanaan teknis programnya, bisa disusun bersama.

Namun dengan melihat fakta dan pengalaman di atas, maka dapat dikatakan bahwa sinergitas antar LAZ menjadi sebuah kunci.
Kita sadar bahwa pengentasan kemiskinan ini sesungguhnya adalah tanggung jawab negara, namun LAZ juga memiliki tugas yang melekat dalam pedayagunaan dana zakat ini. Sehingga, mengantarkan mustahik menjadi muzakki menjadi terwujud. Wallahu A’lam bish Shawab.*

______
Asih Subagyo, penulis adalah Ketua Badan Pengawas LAZ Nasional Baitul Maal Hidayatullah

Kapolda Papua Buka Puasa Bersama Santri Hidayatullah

Kapolda Papua Irjen Polisi Boy Rafli Amar saat menghadiri buka puasa bersama umat muslim di Kabupaten Mimika, yang digelar di Gedung Serbaguna Masjid Agung Babussalam Timika, Kamis (8/6). (Foto: Antara Papua/Evarianus Supar)
Kapolda Papua Irjen Polisi Boy Rafli Amar saat membagikan bingkisan ketika menghadiri buka puasa bersama umat muslim di Kabupaten Mimika, yang digelar di Gedung Serbaguna Masjid Agung Babussalam Timika, Kamis (8/6). (Foto: Antara Papua/Evarianus Supar)

Hidayatullah.or.id – Bertempat di Komplek Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Koya, Distrik Muara Tami Kota Jayapura, Kapolda Papua Irjen Pol Drs. Boy Rafli Amar, M.H didampingi Bhayangkari Daerah Papua Ny. Irawati Boy Rafli dan Anggota di jajaran Polda Papua laksanakan buka pusa bersama serta berikan santunan Santri dan Pengasuh Pondok Pesantren, Senin (12/6).

Acara buka puasa bersama diawali dengan ceramah singkat Kapolda Papua Irjen Pol Boy Rafli Amar. Pada kesempatan tersebut Kapolda mengajak untuk bersama sama menjaga ukhuwah Islamiyah serta senantiasa menjalin silaturahmi dengan saudara saudara kita yang lainnya.

Sebagai umat beragama terang Kapolda, kita harus selalu menjaga kerukunan antar umat beragama dan juga harus memiliki sifat toleransi dalam beragama.

Lebih lanjut, Kapolda menyampaikan di bulan Suci Ramadhan ini sangat baik bagi kita untuk terus menjaga dan menjalin tali silaturahmi antara sesama.

Kapolda Papua juga meminta doa dan dukungan warga agar Kepolisian dapat menjalankan tugas-tugas Negara dengan baik dan lancar.

Seusai melakukan buka puasa bersama dilanjutkan dengan shalat Magrib berjamaah dan pemberian santunan yang diterima oleh ratusan santri dan pengasuh Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Jayapura.

Sedangkan Sholat Tarawih dilaksanakan di Mesjid Al Muhajirin, Koya Barat, yang berjarak kurang lebih satu kilometer dari pondok pesantren.

Sementara itu Ketua Pengurus Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Jayapura mengucapkan terima kasih atas kunjungan Kapolda Papua bersama rombongan ke Pondok Pesanteren Hidayatullah Koya.

“Kami secara khusus mengucapkan terimah kasih sebesar-besarnya kepada Kapolda Papua yang sudah bisa memberikan kami motifasi dalam bekerja dan berkarya untuk selalu meningkatkan ukhuwah keimanan melalui pesan pesannya. Semoga apa yang telah diberikan ini dapat bermanfaat bagi kami yang ada disini dan biarlah Allah SWT yang membalas kebaikan bapak” ucapnya dalam sambutannya.

Sebelumnya, Kapolda Rafli juga melakukan buka puasa bersama bersama santri Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Timika yang digelar di yang digelar di Gedung Serbaguna Masjid Agung Babussalam Timika, Kamis (8/6), yang juga turut dihadiri undangan umat muslim dan tokoh Timika lainnya.

Acara buka puasa bersama Kapolda Papua dengan umat muslim Timika dihadiri oleh Komandan Pangkalan Utama TNI AL 11/Merauke Brigjen TNI (Marinir) Bambang Sutrisno, Wakil Bupati Mimika Yohanis Bassang, Sekretaris Daerah Mimika Ausilius You dan para tokoh masyarakat di wilayah itu.

Dalam kesempatan itu, Kapolda Papua Boy Rafli Amar memberikan bingkisan kepada anak-anak penghuni Panti Asuhan Yayasan Hidayatullah Timika. (ppc/hio)