Beranda blog Halaman 573

Penggunaan Istilah Washatiyah Harus Proporsional

IMG_0114IMG_0145IMG_0177IMG_0197IMG_0223Hidayatullah.or.id – Sekretaris Dewan Pertimbangan Pimpinan Umum Hidayatullah KH. Drs. Hamim Thohari, M.Si mengatakan Penggunaan istilah wasathiyah harus dilakukan dengan hati-hati dan proporsional sebab banyak orang memakainya serampangan.

“Kaum muslimin tidak boleh terkecoh dalam menggunakan istilah wasathiyah secara serampangan. Umat Islam harus hati-hati dari pesan sponsor orang-orang yang tidak bertanggung jawab,” kata Ust Hamim Thohari ketika menjadi panelis dalan acara Dialog Internasional bertajuk Islam Jalan Tengah, Menyikapi Ekstrimisme Pemikiran, digelar PP Syabab Hidayatullah di Hotel Sofyan Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (02/02/2016).

Menurut Hamim, istilah washatiyah harus dikembalikan pada arti dan tujuan murninya sesuai al-Qur’an dan al-Sunnah.

“Istilah wasathiyah pada dasarnya harus didudukkan dalam porsi yang benar,” ungkapnya.

Istilah Washatiyah menjadi heboh dan banyak diperbincangkan akhir-akhir ini setelah timbul berbagai gerakan yang dianggap “ekstrem” di belahan dunia akhir-akhir ini, tak terkecuali di Indonesia.

Menurut Hamim, banyak motivasi yang melatari-belakangi polulernya istilah wasathiyah, diantara yang terpenting menurutnya adalah usaha untuk meredam sikap-sikap “ektrim” oleh sebagian aktifis (mujahid) yang dianggap berlebih-lebihan dalam melakukan perlawanan terhadap hegemoni kekuasaan yang telah lama mapan.

“Hegemoni kekuasaan itu tidak saja di bidang politik, tapi juga dalam bidang ekonomi, sosial, dan budaya,” ujar Hamim.

Di satu sisi, sikap berlebih-lebihan dalam segala hal sangat dikecam oleh ajaran Islam. Tapi di sisi yang lain, sambungnya, penggunaan istilah ini juga tidak boleh sembarang dipakai orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk meredam ghirah dan semangat jihad kaum muslim.

“Istilah wasathiyah ini terlalu suci untuk dijadikan alat oleh komparador untuk mengamankan sikap berlebih-lebihan kaum liberal dan sekuler,” tegasnya.

Dikatakan Hamim, penggunaan istilah Wasathiyah harus dilakukan dengan hati-hati dan proporsional sebab banyak orang memakainya serampangan. Akibatnya istilah wasathiyah menjadi kabur, sesuai dengan kepentingan nafsunya. Salah satu contoh konkritnya adalah penggunaan istilah islam moderat yang terkadang dipahami secara salah.

Akibatnnya, lanjut Hamim, orang yang berusaha secara sungguh-sungguh berpegang teguh pada sunnah dianggap ekstrim dan tidak sesuai dengan prinsip wasathiyah.

Hamim mengungkapkan pentingnya memahami istilah Wasathiyah yang harus dirunut dari bahasa aslinya yang memiliki beberapa arti antara lain pertengahan, berada pada posisi tengah-tengah. Tidak berada di dua sisi yang berlawanan (terlalu kekiri atau ke kanan).

Hamim Thohari menguraikan bahwa sikap pertengahan adalah sikap dasar seiap Muslim, sehingga terdorong untuk mengutamakan persamaan dalam hal mendasar, sehingga tidak mudah berpecah belah, apalagi diadu domba.

“Karena itulah dakwah Islam merupakan pekerjaan sepanjang hayat. Terus menerus harus dilakukan,” katanya.

Hamim menambahkan, semangat Washatiyah berarti tidak berlebih-lebihan termasuk dalam masalah perbedaan keyakinan. Itulah mengapa, kata dia, dakwah Islam harus terus dilakukan dengan tetap menghargai dan menjaga harmoni antar sesama pemeluk agama dalam satu lingkup komunitas bangsa.

Senada dengan itu, pembicara kedua Mufti Kerajaan Negeri Perlis Malaysia Prof. Dr. Dato’ Mohd Asri Zainul Abidin (DR Maza) menerangkan bahwa perbedaan merupakan fitrah kehidupan yang harus disikapi secara dewasa.

DR Maza menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang tidak mengenal segala hal yang berlebih-lebihan dari apa yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

“Oleh kerana itu, penting bagi setiap Muslim memahami bahwa tidak perlu ada panduan dalam hidup ini melainkan dari Allah dan Rasul,” ungkap DR. Maza.

DR Maza menjelaskan antara ciri wasatiyyah ialah sikap berhati-hati dalam menghukum pihak lain dengan tuduhan kufur, laknat ataupun nereka.

Dengan logat Melayu yang khas, DR Maza menerangkan, mereka yang menghukum sedaya upaya mencari keuzuran bagi pihak yang hendak dikenakan tuduhan sedemikian. Ini kerana perkara yang nampak pada zahir, mungkin tidak sama pada hakikat yang sebenar.

“Islam dalam hal apapun pada dasarnya memiliki dasar pandangan perdamaian, termasuk hubungan dasar antara Muslim dengan orang kafir. Islam hanya bisa melakukan pembelaan diri apabile ada kelompok umat lain menganggu atau pun membahayekan kehidupan kaum Muslimin,” imbuhnya menegaskan.

Sementara itu panitia yang juga Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Syabab Hidayatullah Imam Nawawi dalam keterangannya kepada media mengatakan acara dialog ini diselenggarakan guna mengajak umat untuk kembali melihat Islam sebagai sebuah ajaran yang mengajarkan umatnya untuk mampu berpikir secara rasional, objektif, adil dan dengan bismirabbik dalam melihat segala rupa dinamika dan isu yang terus berkembang, sehingga umat Islam tidak tercerabut dari identitas aslinya sebagai ummatan wasathan.

Menurut Imam, ummatan wasathan bermakna umat yang berada di tengah, seimbang, tidak berdiri pada kutub esktrim, baik dalam pemahaman maupun pengamalan, sehingga mampu memberikan solusi terhadap problematika kehidupan umat manusia.

“Ini adalah sebuah penegasan bahwa umat Islam adalah umat yang berkepribadian khas, dimana kesadaran intelektual dan lainnya benar-benar murni bersumber hanya dari ajaran Allah dan tidak mendengarkan apapun juga dari ajaran-ajaran selain dari Allah ta’ala, yang telah memilihkan identitas ini bagi umat Islam,” imbuhnya.

Hal ini juga bermakna bahwa umat Islam bukanlah makhluk spiritual yang menegasikan material, umat Islam adalah yang berinteraksi dengan keduanya dengan maksud mendapatkan ridha Allah, sehingga hidup dengan keteraturan Ilahiyah yang akan membuat umat ini unggul dalam percaturan kehidupan umat manusia.

Pihaknya berharap melalui event ini ada kedewasaan berpikir, terutama di kalangan muda, sehingga spirit ber-Islam tidak saja disandarkan pada dinamika politik dan isu yang terus terjadi, tetapi didasari oleh kesadaran intelektual, sehingga gerakan umat Islam adalah gerakan yang rapi, tertib dan membawa dampak perubahan positif bagi negeri.

Acara yang dipandu oleh Ust Teguh Iman Perdana ini terselenggara atas dukungan Laznas Baitul Maal Hidayatullah. Sekalipun core program Laznas BMH lebih pada upaya menyemarakkan dakwah di daerah pelosok, pedalaman, kepulauan dan perbatasan, untuk masyrakat perkotaan, BMH juga memiliki perhatian terhadap dakwah.

Hal ini di antaranya diwujudkan dengan mensupport terselenggaranya International Dialogue di Hotel Sofyan ini. Acara ini berlangsung hingga pukul 23.00 dan nampak para peserta begitu antusias menyimak uraian dari kedua panelis. (ybh/hio)

Hidayatullah Sulsel Bentuk Jaringan Majelis al-Qur`an

image001 image003 image005Hidayatullah.or.id – Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan menyelenggarakan upgrading dai di Villa Tanjung Palette, Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) selama 2 hari pada tanggal 24-26 Januari 2017 lalu.

Kegiatan ini diikuti oleh 51 orang dai yang merupakan perwakilan dari 17 daerah tingkat dua se Sulawesi Selatan.

Upgrading dai kali ini memiliki arti penting bagi perjalanan dakwah yang diemban oleh dai-dai Hidayatullah di Sulawesi Selatan.

Dalam kesempatan itu, Posdai Sulawesi Selatan dan jaringan Majelis Qur`an Hidayatullah Sulawesi Selatan dibentuk.

Penyerahan SK Pengurus Posdai oleh Pembina Posdai, Ustadz Shohibul Anwar, kepada Ketua Posdai Sulawesi Selatan Ustadz Sumariadi.

Dalam SK yang dibacakan, susunan pengurus Posdai Sulawesi Selatan adalah sebagai berikut: Pengawas Ustadz Safruddin, Ketua Ustadz Sumariadi, Sekretaris Ustadz Irfan Yahya, dan Bendahara Ustadz Muhammad Restu Yama.

Posdai merupakan amal usaha organisasi dengan tugas utamanya menjalankan program-program dakwah secara professional. Ada beberapa program fokus yang saat ini sedang berjalan di tingkat pusat yaitu Grand MBA, Sekolah Dai, Sahabat Muallaf dan training Super Life Revolution.

Untuk menyukseskan program Grand MBA, pada upgrading da’i kali ini, Majelis Al-Qur`an Hidayatullah (MQH) mensosialisasikan buku panduan MQH sebagai panduan menggerakkan program Grand MBA. MQH sendiri merupakan lembaga di bawah naungan Posdai yang fokus menggerakan Grand MBA.

Dalam rangka menngawal program-program dakwah terutama Grand MBA, upgrading dai kali ini juga berhasil membentuk jaringan MQH se-Sulawesi Selatan dengan struktur sebagai berikut:

Murobbi MQH wilayah terdiri dari 3 orang yakni Ustadz Khairunnas Ibnu Misjaya, M.Pd.I, Ustadz Ahmad Anshor Al-Hafidz, dan Ustadz Abdul Majid

Adapun jaringan muallim MQH daerah diantaranya yaitu Daerah Makassar diketuai oleh Ustadz Abdul Haris, Kabupaten Bone Ustadz Hamzah Sulthon, Kabupatem Luwu Timur Ust. Najamuddin, S.Pd.I, Kabupaten Luwu Utara Ust. Ilham Syawal, S.H.I, Kabupaen Palopo Ust. Ahmad Sabil, S.H.I, S,Pd.I.

Kemudian Kabupaten Luwu dikoordinatori oleh Ust. Syamsuddin, S.Pd.I, Kabupaten Enrekang Ust. Irwan, M.Pd.I, Kabupaten Pinrang Ust. Minhajuddin, Kota Parepare Ust. Abdul Malik, S.H.I, Kabupaten Sidrap Ust. Abdul Samad, SE, S.Pd, Kabupaten Wajo Ust. Lukman, S.Pd.I.

Selanjutnya Kabupaten Soppeng oleh Ust. Ir.H. Arif, Kabupaten Barru Ust. Muhammad Arif, S.H.I, Kabupaten MarosUst. Burhanuddin,M.Pd, Kabupaten Gowa Ust. Ashaabul Kahfi, S,Pd.I, Kabupaten Jeneponto Ust. Armin, S.H.I, dan terakhir Kabupaten Bulukumba di bawah koordinator Ust. Muhammad Syahrir. (atj/hio)

Bupati Berau Apresiasi Peran Hidayatullah Bangun Daerah

Bupati Berau Puji Peran Hidayatullah Membangun DaerahHidayatullah.or.id – Pemerintah Kabupaten Berau berkomitmen terus memberikan perhatian serius dan selalu berupaya memberikan dukungan kepada Hidayatullah dalam perannya membangun daerah.

Bupati Berau Muharram berkeyakinan Hidayatullah akan semakin besar dengan berbagai perannya dalam mendukung pembangunan daerah.

“Hidayatullah akan semakin besar dengan berbagai perannya dalam mendukung pembangunan daerah,” kata Bupati saat membuka Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Kaltim dan menjadi salah satu narasumber pada seminar regional yang digelar di Pondok Pesantren Al Ihsan Hidayatullah Tanjung Redeb, Berau, Kalimantan Timur, Rabu (25/1/2016).

Bupati Berau Muharram mengungkapkan secara pribadi sejak usia sekolah telah sering berkecimpung di Hidayatullah. Bahkan secara rutin mengikuti pengajian dan ikut bergotong-royong bersama.

Salah satu sumber pemikirannya juga terlahir dari Hidayatullah. Diakuinya, perkembangan Hidayatullah juga sudah sangat luar biasa dari masa ke masa dengan tersebar di seluruh kabupaten dan kota bahkan hingga ke kecamatan.

Bupati Muharram memberikan apresiasi Hidayatullah mengambil bagian dalam pembinaan umat dan bangsa ini, yang sangat membantu pemerintah daerah dalam membangun keagamaan.

Semangat pergerakan dakwah disampaikan Bupati Muharram harus terus digaungkan. Muharram mengajak Hidayatullah bersama dengan ormas lainnya untuk bersatu padu bersama-sama memberikan pembinaan kepada umat.

“Saya yakin Hidayatullah adalah salah satu pergerakkan dakwah yang ikut berkontribusi mempertahankan eksistensi Islam di Indonesia ini,” ungkapnya.

Selain dihadiri para peserta dari pengurus daerah Hidayatullah se-Kaltim, turut hadir unsur forum koordinasi pimpinan daerah, para asisten dan pejabat di jajaran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau.

Sementara dalam seminar regional dengan tema optimalisasi program mainstrem menuju sukses gerakan Kaltim Mandiri, Maju dan Bermartabat. Serta tema Optimalisasi fungsi masjid dalam mendukung program Berau sebagai Kota Sanggam, Bupati Berau Muharram menjadi salah satu narasumber dengan materi gerakan salat subuh berjamaah, bersama Ketua Dewan Masjid Indonesia Kabupaten Berau, KH Sakrani Ali dengan materi Masjid dalam sejarah Islam Indonesia dan Koordinator Bidang Tarbiyah dan Perkaderan Hidayatullah, Tasyrif Amin dengan materi manajemen Masjid. (ybh/hio)

Delapan Pasang Santri Ikuti Nikah Mubarak di Towuti

Nikah Massal Towuti4 Nikah Massal Towuti3 Nikah Massal Towuti2Hidayatullah.or.id – Alhamdulillah, sebanyak delapan pasang kader Pesantren Hidayatullah menikah serentak di Masjid Abdul Aziz, Pesantren Hidayatullah, Desa Asuli, Kecamatan Towuti, Sorowako, Sulawesi Selatan, Senin (23/1/2017).

Hadir dalam kesempatan tersebut pembina Pesantren Hidayatullah Makassar Ustadz Ir Abdul Aziz Kahar Mudzakkar dalam acara tersebut yang juga memberikan taushiah pernikahan.

Nikah massal merupakan agenda Pesantren Hidayatullah Towuti. Mereka yang dinikahkan adalah santri yang berasal dari berbagai daerah seperti Batam, Kalimantan Timur, Parepare, Palopo, Luwu Utara dan Pekanbaru Provinsi Riau.

Khusus Kecamatan Towuti berasal dari Desa Rauta dan Matompi. Setiap mempelai pria dibebankan Rp 3 juta untuk keperluan administrasi pernikahan dan untuk keseluruhan rangkaian acara.

Setelah acara pembacaan ijab-kabul nikah semua pasangan mempelai pulang merayakan syukuran di rumah-rumah mempelai wanita yang telah disediakan oleh panitia.

Turut hadir camat Towuti Alimuddin Nasir, Kepala Kementrian Agama Luwu Timur Abubakar.

Kisah Unik

Dari serangkaian acara pernikahan massal yang di kalangan Hidayatullah diistilahkan dengan “Pernikahan Massal Mubarak” itu, terselip kisah haru. Seperti dialamai oleh peserta bernama Nashrullah ini.

Ceritanya, Nashrullah baru saja mendapat amanah dari dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah (STIEHID) Kota Depok menuju Makassar dalam rangka tugas di daerah.

Karena tempat tugasnya di Luwu, Nasrullah yang baru tiba itu memilih transit di Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar beberapa hari.

Di Makassar, Nashrullah bertemu dengan Abu Abid yang tak lain merupakan penanggujawab walimah di Sorowako.

Karena memang pada saat itu masih kurang peserta laki-laki, Nasrullah kemudian ditawari untuk ikut menikah. Alhamdulillah dengan kebesaran jiwannya Nashrullah menyambut hangat tawaran itu.

Akhirnya Nasrullah benar-benar menikah dan mendapatkan seorang wanita cantik sholehah yang juga merupakan alumni Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Hidayatullah (STISHID) Balikpapan, Kalimantan Timur.

“Disuruh gali parit aja selalu siap, apa lagi disuruh nikah. Barakallahu alaikum, Nas,” kata salah seorang undangan. */ Arvah Bandule

[FOTO] Hidayatullah Jabodebek dan Kaltim Gelar Rapat Kerja

0

Hidayatullah.or.id – Pasca Rapat Kerja Nasional Hidayatullah 2017 yang digelar di Batam Desember lalu, seluruh pengurus Hidayatullah wilayah segera tancap gas menguatkan hasil-hasil musyawarah pada agenda tersebut melalui Rapat Kerja Wialayah (Rakerwil).

DPW Hidayatullah wilayah seluruh Indonesia menggelar Rakerwil mereka secara serentak. Diantaranya Dewan Pengurus Wilayah Jabodetabe dan Kalimantan Timur. Berikut ini beberapa dokumentasi fotonya:

Wagub Dorong Hidayatullah Jadi Penggerak Ekonomi Umat

Wagub Dorong Hidayatullah Jadi Penggerak Ekonomi UmmatHidayatullah.or.id – Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Agus Arifin Nu’mang, mendorong Hidayatullah di kawasan tersebut melanjutkan dan terus meningkatkan kiprah di bidang pendidikan, dakwah, juga diharapkan menjadi penggerak pengembangan ekonomi umat.

“Potensi sumber daya alam di Indonesia sangat berpeluang untuk melahirkan usaha usaha perekonomian. Seperti halnya di Kabupaten Bone, banyak hasil bumi yang bisa menghasilkan produk ekspor seperti gula merah,” katanya ketika membuka Rakerwil 2017 Hidayatullah Sulawesi Selatan di Pondok Pesantren Hidayatullah Kabupaten Bone, Selasa (24/1/2017).

Pada kesempatan itu Agus mendorong agar Ponpes Hidayatullah mengembangkan program atau bimbingan kepada santri agar dapat mengembangkan ekonomi melalui pembuatan gula merah. Mengingat di Bone banyak bahan bakunya. Lagipula, gila merah merupakan salah satu komoditi ekspor.

“Pengembangan ekonomi umat harus terus diupayakan dan digalakkan. Jangan sampai masyarakat menjadi penonton di negeri sendiri disebabkan karena ekonomi dikuasai oleh pelaku ekonomi dari luar,” pesannya di hadapan seratusan hadirin dan peserta musyawwirin.

Sementara itu, Bupati Bone, Andi Pahsar Padjalangi, pada kesempatan itu berharap agar program Hidayatullah dapat disinergikan dengan program Pemerintah Kabupaten Bone, termasuk program pengembangan ekonomi masyarakat di Kabupaten Bone.

Fahsar juga mendukung serta mengapresiasi Hidayatullah dalam dakwahnya di tengah masyarakat agar menumbuhkan dan mengajak masyarakat untuk dapat melaksanakan amal kebajikan.

Bupati Andi Fahsar mengucapkan selamat melaksanakan Rakerwil Hidayatullah se Sulawesi Selatan dan mendoakan semoga berjalan lancar sesuai harapan dan keinginan.

“Menjadi tuan rumah dalam pelaksanaan Rakerwil tidaklah mudah, tentu pengurus wilayah Hidayaullah Sulsel memiliki pertimbangan sehingga menempatkan Rakerwil di Bone. Selamat melaksanakan Rakerwil dan semoga hasil Rakerwil melahirkan gagasan untuk kepentingan semua umat,” ujar Fahsar.

Dengan mengusung tema “Optimalisasi Program Mainstream Menuju Sukses Gerakan”, Hidayatullah bertekad untuk lebih banyak menghasilkan sumber daya manusia yang mampu mengisi roda organisasi.

Selain itu, gerakan pendidikan dan dakwah sebagai konsentrasi program mampu memberi solusi dan pencerahan kepada masyarakat termasuk di dalamnya kemandirian ekonomi ummat.

Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Ustadz Mardhatillah mengatakan dengan keberadaan Hidayatullah yang telah hadir di 17 kota/kebupaten di Sulsel diharapkan semakin memberi bukti nyata akan peran Hidayatullah di tengah masyarakat.

“Hidayatullah bersama pemerintah akan selalu bersinergi untuk membangun Sulsel dan mensejahterahkan masyarakat melalui dua program utama lembaga yakni pendidikan dan dakwah,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua DPD Hidayatullah Bone, Ismail Mukhtar mengatakan Rakerwil Hidayatullah Sulsel akan membahas agenda program kegiatan yang akan dilaksanakan Hidayatullah DPW Sulsel untuk ditindaklanjuti DPD.

Pembukaan Rakerwil Hidayatullah ini dihadiri juga oleh Wakil Bupati Bone Ambo Dalle, Ketua Departemen Dakwah dan Penyiaran DPP Hidayatullah Drs. Shohibul Anwar, M.Pd.I serta para perwakilan PD Hidayatullah dari 17 kota/kebupaten se-Sulsel. Rakerwil ini di rencanakan berlangsung selama tiga hari di Tanjung Pallette. (ybh/hio)

Dukung Sinergi Aswaja untuk Menuju Kedaulatan Bangsa

0

IMG-20170121-WA031 IMG-20170121-WA034Hidayatullah.or.id – Ketua Departemen Organisasi Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust Drs. Samsuddin, mengatakan Hidayatullah mendukung upaya penguatan bersama sinergi Ahlus Sunnah Waljamaah (Aswaja) menuju kedaulatan bangsa.

Ust Samsuddin turut menjadi peserta dalam kegiatan silahturahmi bersama KH. Ma’ruf Amin (Rois Aam PBNU Pusat dan Ketua Umum MUI Pusat) dengan para Kasepuhan, Habaib, para Kyai dan para Cendekia yang berlangsung di Pondok Pesantren Riyadlul Jannah pimpinan KH Mahfudz Syaubari Jl Raya Pacet Kec. Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Sabtu (21/01/2017) lalu.

Silaturrahim tokoh tersebut mengusung tema “Peran Habaib, Ulama dan para profesional dalam penguatan sinergi Ahlus Sunnah Waljamaah menuju kedaulatan bangsa” yang dihadiri oleh sekitar 200 orang.

Hadir dalam kegiatan tersebut antara lain KH. Ma’ruf Amin (Rois Aam PBNU Pusat dan Ketua Umum MUI Pusat), KH Sholahudin Wahid (Gus Sholah), Prof Dr. Muh Nuh (Mantan Mendikbud), Prof. Imam Suprayogo (Rektor UIN Malang), KH Marzuki Ali (Jakarta), KH Idris Ali (Pasuruan), Habib Umar Al Atthas (Malang), KH.Bashori Alwi (Malang), DR. Sofiyulloh (Semarang), KH.Mas’udi Busyiri MA (Malang ), KH.Imron Mutamakin (Pasuruan), KH Prof Nizam (Madura), KH Ali Karoh (Madura), KH Muhamad Rofii (Madura), KH Muhamad Bani (Madura), KH Holili (Madura).

Selain dari berbagai daerah lainnay hadir pula KH. Zuhri Zaeni (Probolinggo), KH. Abdul Jala (Probolinggo), KH Kholili (Lumajang), KH Adnan Syarif (Lumajang), H Muh Nashirudin (Probolinggo), KH Zaim Maksum (Lasem), KH Amin Hamid (Magelang), KH. DR.M Zuahery.MA (Magelang), KH Sholeh Ehem (IKADI Surabaya ), KH Sholeh Qhosim (Sidoarjo), KH Syadili (Bojoneggoro), KH Ahmad Wahid (Bojonegoro), Habib Abdulrohman Asegaf (Pasuruan), H Muksin (Radio Samara Surabaya), Happy Trenggono (President IIBF), Ustadz Atok (Lirboyo Kediri), DR. KH. Imam Mawardi (PP Al Haromain Tulungagung), KH.Mujib Imron (Pasuruan), KH.M. Luthfi Abd Hadi (Malang), KH. Mujib Imron (Pasuruan) dan tamu udangan lainnya.

Dalam konferensi pers yang digelar disampaikan bahwa kegiatan ini adalah kegiatan rutin dari berbagai kyai dan cendiakawan yang forumnya tidak normal hanya sebagai ajang silahturahmi dan berbagi ilmu atau pendapat.

Diterangkan pula bahwa Pondok Pesantren Riyadlul Jannah pimpinan KH Mahfudz Syaubari ini adalah pondok pesantren yang telah berhasil dalam mengembangkan wiraswastanya sehingga melahirkan generasi bangsa yang unggulan.

Disampaikan bahwa acara ini merupakan ajang silahturahmi untuk saling bertukar pendapat untuk memajukan bangsa dan negara dengan melakukan terobosan-terobosan yang baru.

“Bahwa seorang Kyai atau ulama itu selalu membawa kedamaian, ketentraman dan ikut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara. Bahwa peran Pondok Peantren bukan untuk membodohi umat tetapi untuk ikut memajukan bangsa dan negara ini,” terangnya.

Pada kesempatan itu juga ditegaskan bahwa sangat penting untuk membangun spiritual bangsa ini yang beradab bukan malah merusak bangsa ini dengan mengadu domba sesama rakyat Indonesia.

Kita tidak boleh lupa bangsa ini dulu didirikan oleh para pejuang syuhada. Oleh karena itu kita bukan mengkritik pemerintah tetapi memberikan masukan agar bangsa ini tetap berpegang teguh pada Pancasila dan UUD 1945.

KH Mahfudz Syaubari selaku ketua panitia mengatakan bahwa pihaknya selaku panitia penyedia tempat kegiatan jika ada kekurangan memohon maaf yang sebesarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa bangsa saat ini mengalami krisis dari bagi sektor oleh karena itu pihaknya mengajak para peduli bangsa untuk memberikan masukan demi kemajuan bangsa dan negara.

“Mari kita semua menangis dihadapan Allah Ta’ala agar kondisi bangsa ini dapat segera kembali ke jalan Allah, jalan yang penuh berkah bagi seluruh umat manusia,” ungkapnya.

Kepedulian Ulama

Pada silaturrahim tersebut disampaikan tausiah dari beberapa tokoh. Diantaranya KH. Muhamad Bashori Alwi Al Murtadho yang berpesan bahwa mereka berkumpul di sini untuk bersenang-senang karena kita dipertemukan oleh Allah SWT dalam kegiatan silaturrahim.

Kyai Alwi menegaskan, sebagai umat Islam hanya berpegang teguh dengan Al – Quran karena disitulah sebenarnya tuntunan hidup ini sangat lengkap. Islam, tegas dia, mengajarkan kebaikan penuh dengan rahmatnya Allah SWT oleh karena itu kita jangan meninggalkan Allah agar hidup kita tenteram dan damai.

Kemudian penyampaian pandangan oleh KH Sholeh Al Jufri yang mengatakan bangsa ini didirikan oleh para pejuang ulama. Kyai dan para syuhada lainnya dan kita sekarang mendapatkan tongkat estafet untuk meneruskan perjuangan bangsa.

“Bahwa dengan kegiatan silahturahmi yang digagas oleh Forum Peduli Bangsa ini merupakan kebangkitan ke-2 para Ulama , Kyai, Habaib , Profesional dan Cendikiawan untuk menyelamatkan bangsa ini yang sudah dikuasi hampir separuhnya oleh pihak asing,” imbuhnya.

Sementara itu penyampaian materi oleh Bpk.Prof Dr. M Bisri dan Prof Dr. KH Muhammad Nuh yang intinya menegaskan bahwa pendidikan itu sangat penting agar para generasi bangsa ini tidak kalah dengan bangsa lain. Ia menegaskan bahwa pendidikan di Pondok Pesantren kwalitasnya dapat teruji dan melahirkan santri-santri yang unggulan.

Dijelaskan dia, harus ada sinergi antara Pondok Pesantren dengan perguruan tinggi agar pendidikan dapat berjalan dengan baik untuk menuju kedaulatan bangsa. Sebab, lanjutnya, kalau bukan kita yang peduli lagi dengan kondisi bangsa ini siapa lagi yang akan peduli, karena pendidikan itu merupakan tonggak bagi generasi bangsa yang tangguh dan mampu bersaing dengan bangsa lain.

Senada dengan itu, KH. Sholahudin Wahid (Gus Sholah) menilai kita sebenarnya mempunyai media-media umat Islam jika ini bersatu maka umat islam tidak akan mudah diprovokasi.

Gus Sholah menyesalkan pemberitaaan media-media yang sangat tidak bertanggung jawab. Karenanya, ia mengajak umat Islam bersama-sama membangun bangsa ini dengan jalan yang selalu di ridhoi oleh Allah SWT.

Sementara penyampaian KH Maaruf Amin menekankan pentingnay sinergi dan silaturrahim. Beliau menjelaskan ajang silahturahmi ini merupakan bentuk kepedulian para Ulama, Kyai, Habaib, Profesional dan Cendekiawan untuk menyampaikan pandangannya masing-masing terkait bangsa dan negar.

Beliau berharap agar bangsa ini jangan sampai kehabisan Ulama, Kyai, Habaib, Profesional dan Cendekiawan yang merupakan panutan bagi umat Islam di Indonesia.

Kyai Ma’ruf mengimbuhkan bahwa umat Islam harus ada kebangkitan dengan dimotori oleh kebangkitan ulama-ulama dan Kyai yang nantinya dapat menuju kebangkitan nasional.

“Harus ada gerakan-gerakan yang sistematis dan terencana oleh umat Islam yang dapat membawa dampak positif untuk kemajuan bangsa ini,” harapnya.

Dia menegaskan bahwa bangsa ini tidak akan bisa dipisahkan dari peran Ulama dan Kyai, sebab bangsa ini didirikan oleh para pejuang-pejuang islam dengan resolusi jihadnya. (ybh/hio)

Muslimat Hidayatullah Gelar Training Instruktur Nasional

image001 - CopyHidayatullah.or.id – Pengurus Pusat (PP) Muslimat Hidayatullah bekerjasama dengan Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatullah Kalimantan Timur (PW Mushida Kaltim) menyelenggarakan Training Instruktur di Kampus Pesantren Hidayatullah Pusat Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur, belum lama ini.

Acara yang bertema ‘Mencetak Instruktur yang Handal dan Visioner’ ini berlangsung selama 3 hari. Ada 3 bidang training yang diselenggarakan yaitu, Training Instruktur Dakwah, Training Instruktur Parenting dan Training Instruktur Annisa.

Pembukaan kegiatan ini dilaksanakan di gedung STIS Hidayatullah Putri. Pada acara tersebut hadir Ustadz Zainuddin Musaddad selaku Ketua Yayasan Hidayatullah Gunung Tembak untuk memberikan sambutan selaku tuan rumah dari tempat diadakannya acara ini.

“Seringnya acara diadakan di Gunung Tembak menjadi tantangan tersendiri bagi kami, Shahibul Bait. Sebab kita tak boleh sekadar bangga akan sejarah namun juga harus melanjutkan perjuangan,” tutur dia dalam sambutannya.

Acara ini dibuka secara resmi oleh istri wakil walikota Ibu Hj. Nurlena. Dalam sambutannya Nurlena mendorong Muslimat Hidayatullah terus ikut mengambil peran dalam membangun bangsa Indonesia terutama pada aspek yang telah menjadi concern Mushida selama ini sejalan dengan mainstream program Hidayatullah.

Menurut Nurlena, NKRI sebagai tanah tumpah darah kita membutuhkan para figur muslimat Hidayatullah yang selalu berupaya menanamkan nilai-nilai luhur ajaran Islam kepada anak-anaknya dan menuntunnya menjadi generasi bangsa yang bertakwa, cinta, dan berbakti kepada umat dan bangsa Indonesia karena Allah semata.

Ketua PP Mushida Dra Reni Susilowati juga menjadi trainer dalam acara ini juga memberi sambutan pada pembukaan tersebut.

Ia menekankan pentingnya kaderisasi dan pembinaan umat yang menurutnya menjadi salah satu alasan digelarnya acara tersebut.

Peserta training yang berjumlah sekitar 80 peserta adalah para ibu utusan dari berbagai pengurus daerah Muslimat Hidayatullah di seluruh Indonesia bagian Timur.

Para peserta begitu antusias terhadap training ini. Terlihat dari persiapan mereka terhadap hal-hal yang diperlukan dalam training ini, seperti membawa laptop, membuat makalah dan tentu siap mental dan fisik untuk mengikuti kegiatan yang seharian full itu. Kegiatan ini berlangsung lancar dan menyenangkan bagi peserta maupun panitia.

“Alhamdulillah, acaranya seru dan menyenangkan. Suasananya sangat mendukung dan kondusif untuk belajar,” aku Purnama, peserta training parenting asal Makassar sambil tersenyum.

Santripun turut meramaikan acara ini. Bazar yang dibuka di depan gedung acara tidak hanya diramaikan oleh para peserta training, namun santri–santri putri baik MTs, Aliyah maupun mahasiswi terlihat ramai berbelanja di bazar.

Ketua PP Mushida Dra Reni Susilowati berharap dengan adanya training ini diharapkan kualitas kader-kader muslimat Hidayatullah akan terus berkembang.

“Training ini adalah upaya untuk membangun dan menciptakan kader yang bisa memberikan lebih banyak kepada generasi ke depan. Kami berharap seluruh peserta akan menjadi instruktur dan trainer yang bisa mengadakan training di cabang masing-masing,” harap Reni Susilowati. (ybh/hio)

Layan Kesehatan Hidayatullah “IMS” Gelar Rapat Kerja 2017

Rakernas IMS 2017_3Hidayatullah.or.id – Lembaga layanan kesehatan, Islamic Medical Services (IMS) yang berada di bawah naungan organisasi Hidayatullah menggelar acara silaturrahim dan Rapat Kerja (Raker) tahun 2017 yang dibuka pada Senin, (23/01/2017).

Acara yang yang digelar di Meeting Room Komplek Hidayatullah Media Kantor Biro Jakarta Jln Cipinang Cempedak I/14 Polonia Jakarta Timur ini dihadiri oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust Nashirul Haq, MA, yang sekaligus membuka acara ini.

Raker ini mengusung tema “Layanan Kesehatan Pendukung Utama Program Mainstream Hidayatullah” yang dihadiri jajaran pengurus IMS dan perwakilan lembaga-lembaga mitra seperti Laznas Baitul Maal Hidayatullah, SARNAS Hidayatullah, Persaudaraan Dai Nusantara, Syabab, Suara Hidayatullah selaku media partner.

Ketua Bidang Pelayanan Ummat DPP Hidayatullah Drg. Fathul Adhim, M.KM, dalam sambutannya mengatakan IMS dituntut terus meningkatkan kualitas dan mutu layanannya sehingga dapat semakin dirasakan manfaatnya secara lebih luas oleh masyarakat.

Ia menambahkan, sinergi yang terbangun selama ini dengan berbagai pihak baik instansi pemerintah maupun swasta dapat semakin terjalin optimal. Menurutnya, jalinan kemitraan yang baik tersebut merupakan salah satu kunci sukses pelaksanaan program yang telah dicanangkan.

IMS berkomitmen menjadi lembaga Kemanusiaan nasional di bidang sosial dan kesehatan yang amanah, profesional, dan terpercaya dalam memberikan pelayanan yang terbaik kepada umat.

Adapun antara lain upaya yang telah dan akan terus dilakukan untuk menopang target-target tersebut adalah memberi layanan dan meningkatkan kesehatan baik bersifat promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif kepada masyarakat khususnya kepada kaum dhuafa.

Selain itu, IMS berupaya memberikan layanan cepat di bidang emergency sosial kesehatan, memberi layanan kesehatan masyarakat, serta IMS sebagai sarana dakwah di bidang layanan kesehatan untuk semua masyarakat. (ybh/hio)

Wantim Tegaskan Fatwa Majelis Ulama untuk Jaga Stabilitas

Sidang 14 Wantim MUI di Jakarta 2 Sidang 14 Wantim MUI di JakartaHidayatullah.or.id – Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin menegaskan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam rangka menjaga stabilitas. Dia mengecam anggapan fatwa MUI mengganggu stabilitas ketertiban dan keamanan nasional.

“Keliru jika ada yang memandang fatwa MUI mengganggu stabilitas. Fatwa MUI sifatnya pandangan keagamaan untuk umat Islam. Fatwa itu moral bagi umat Islam,” ujar Din di kantor MUI, Menteng, Jakarta Pusat, belum lama ini.

Din justru berpendapat bahwa tersangka dalam kasus dugaan penistaan agama itulah yang menjadi sumber dari instabilitas keamanan dan ketertiban nasional.

Menurut dia, kasus tersebut merupakan pangkal permasalahan dari maraknya tindakan intoleransi yang terjadi.

“Kenapa tidak mempersoalkan pangkalnya yang mengganggu toleransi. Sumber instabiltas ya peristiwa yang terjadi di Kepulauan Seribu itu yang anti kerukunan, anti kemajemukan, termasuk menyinggung perasaan. Itu yang seharusnya digugat,” ungkapnya.

Selain itu, dia juga menegaskan, sebagai organisasi otonom, MUI tidak wajib untuk melapor lebih dulu saat mengeluarkan fatwa. Din mengatakan, MUI dibentuk sebagai manifestasi lembaga umat Islam yang independen dan berperan membentuk watak bangsa yang berahklak.

“Kami dari Dewan Pertimbangan agar semua pihak termasuk pemerintah dapat memahami posisi MUI yang independen. Hargailah independensi hak berkumpul berserikat yang dijamin UU,” tutur Din.

Dalam Rapat Pleno ke-14 Dewan Pertimbangan MUI di Jakarta, Din Syamsuddin mengaku heran tumbuhnya kesan negatif terhadap fatwa MUI, yakni mulai dari fatwa terkait penistaan agama dan larangan atribut natal dimana fatwa MUI justru dinilai memecah belah bangsa.

Din mengatakan fatwa MUI dibuat berdasarkan pandangan agama terhadap keluhan yang dilaporkan masyarakat.

“Fatwa MUI bukan sebagai hukum positif memang benar tidak perlu diperdebatkan. Tapi jangan karena bukan hukum positif MUI tidak boleh mengeluarkan fatwa. Rusak negara ini kalau ulama tidak boleh mengeluarkan pandangan keagamaan,” jelas Din di kantor MUI, Jakarta Pusat, Rabu (18/1/2017).

Diapun pun heran dengan tumbuhnya ormas-ormas anarkis dan sering mencibir. Menurut Din,memang ada ormas yang berpaham radikal, tapi bukan dari kalangan islam saja. Kata dia, banyak juga ormas radikal dari kalangan nonislam, bahkan juga ada ormas radikal yang tidak membawa aliran agama.

“Namun menjadi tidak adil hanya ormas islamnya saja yang mendapat perhatian media. Seolah-olah islam itu radikal. Saya zero tolerance terhadap kekerasan,” tegas Din.

Karena itu, Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia mengajak Menteri Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto sebagai wakil pemerintah untuk berdiskusi terkait perkembangan politik di masyarakat. Pertemuan itu juga untuk membangun koordinasi antara pemerintah dan MUI.

“MUI meyakini kekuatan dialog, Insya Allah dengan dialog banyak masalah bisa ditangani,” pungkas Din.

Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, mengusulkan untuk membangun dialog dengan lebih banyak kalangan. Selain umara atau pemerintah, ia berharap, Wantim MUI dapat merangkul ulama-ulama yang kerap berseberang pendapat dengan Majelis Ulama Indonesia.

“Kita rangkul mereka yang bermasalah atau dipermasalahkan,” kata Nasaruddin di rapat pleno Dewan Pertimbangan MUI, Rabu (19/1).

Nasaruddin melihat, dampak dari pertemuan dengan tokoh-tokoh sentral akan memiliki efek yang sangat besar. Tentu, kata dia, tujuannya untuk umat Islam secara luas.

Selain tokoh-tokoh sentral pemerintah, Nasaruddin turut meminta Wantim MUI dapat mengundang dialog tokoh-tokoh yang selama ini mungkin kerap menjadi kontroversi. Bahkan, ia mengusulkan, Wantim MUI dapat mengundang dialog ulama-ulama yang selama ini mungkin memiliki pendapat yang berbeda dengan keputusan MUI.

Beberapa nama yang diusulkan seperti mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Buya Syafii Maarif, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj dan Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus.

Senada, Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI) Din Syamsuddin, melihat dialog memang seharusnya dibangun sebagai ciri khas bangsa, baik ulama dengan umara maupun sesama ulama. Karenanya, ia mengungkapkan, rapat pleno Wantim MUI akan selalu menghadirkan tokoh-tokoh untuk berdialog.

“Kita akan selalu memilih posisi dialog, kita rajut komunikasi,” ujar mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah tersebut.

Sejumlah tokoh dan anggota Wantim MUI hadir dalam sidang pleno yang digelar di Kantor Pusat MUI tersebut diantaranya Prof Didin Hafidhuddin dan Ketua umum DPP Hidayatullah Ustadz H Nashirul Haq, MA yang juga turut memberikan pandangan-pandangannya. (ybh/hio)