Beranda blog Halaman 573

Ramadhanomic dan Harapan Kebangkitan Ekonomi Umat

Ramadhanomic dan Harapan Kebangkitan Ekonomi UmatBULAN Ramadhan yang begitu dinantikan kehadirannya itu kini telah berlalu sepekan lebih. Beberapa fasilitas yang ditawarkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala, membersamai datangnya syahrul mubarak ini.

Keutamaan Ramadhan, telah menjadi rangsangan bagi setiap orang yang beriman, untuk berlomba-lomba meraih keberkahan di dalamnya.

Ibadah yang memiliki hubungan langsung dengan Allah Subhanahu Wata’ala, bahkan hanya Allah-lah yang tahu berapa reward (pahala) yang layak untuk dilimpahkan kepada hamba-Nya yang berpuasa.

Olehnya, Ramadhan menjadi tempaan bagi yang berpuasa, karena mereka dididik dalam berbagai hal agar mendapatkan output-nya nanti mendapatkan predikat sebagai orang yang bertaqwa.

Namun, Ramadhan bukan hanya berkait dengan ibadah semata. Hadirnya Ramadhan, ternyata dibarengi juga dalam mengubah lifestyle (gaya dan pola hidup) mereka yang berpuasa.

Hal ini, dapat dilihat dari berbagai aspek, termasuk pola konsumsi dari kaum Muslim. Sebagian besar orang Indonesia biasanya makan 3 (tiga) kali sehari. Sedangkan di bulan puasa, berubah menjadi 2 (dua) kali sehari, yaitu saat makan sahur dan saat berbuka.

Logikanya, pengeluaran menjadi lebih sedikit. Namun faktanya, hampir setiap rumah tangga, menggalami kenaikan pengeluaran. Ternyata bukan bersebab dari 2 (dua) kali makannya itu. Tetapi di pengaruhi pola makan, yang pada hari-hari biasa biasanya tidak ada.

Buka puasa, selalu ditemani dengan menu istimewa. Ada tambahan es buah, kolak, buah dan lain sebagainya. Yang di hari biasa, itu jarang dikonsumsi. Begitu pula kualitas lauk-pauknya.

Sehingga, inilah penyebab meningkatnya pengeluaran di bulan Ramadhan. Pantas saja di saat Ramadhan, selalu diikuti dengan inflasi, yang lebih tinggi dari bulan-bulan biasanya. Meskipun ini nampak sebagai sebuah anomali, namun itulah fakta yang ada di masyarakat kita.

Fenomena Ramadhan ini, baik dari sisi makro maupun mikro ekonomi, telah mendorong terjadinya geliat ekonomi yang cukup signifikan. Ramadhan telah berubah menjadi kue bisnis yang besar.

Bulan Mei lalu, Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus DW Martowardjojo mengungkapkan, peredaran uang tunai pada bulan suci Ramadhan 2017 diprediksi melonjak hingga 14 persen.

Karena itu, BI mempersiapkan tambahan Rp 167 triliun untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan uang tunai selama Ramadhan, termasuk saat perayaan Hari Raya Idul Fitri alias Lebaran 1438 H.

Sedangkan secara keseluruhan, total uang tunai yang beredar selama Ramadhan diperkirakan mencapai Rp 691 triliun. Dimana lebaran 2017 ini memang menjadi puncak tertinggi untuk perputaran uang yang beredar.

Berdasarkan catatan BI, jumlah tambahan uang yang beredar pada Ramadhan 2016 berkisar Rp 146 triliun.

Tingginya peningkatan perputaran uang tunai pada bulan suci umat Islam pada tahun ini tidak lepas lantaran dibarengi dengan libur panjang pada periode tersebut.

Masa libur Ramadhan 1438 H mencapai sembilan hari atau tiga hari lebih lama dibandingkan Ramadhan 1437 H/2016. Belum lagi adanya libur sekolah.

Perputaran uang sebanyak itu, sebarannya tidak hanya di kota, tetapi juga menjangkau ke desa-desa, dimana banyak pemudik yang kembali ke kampungnya masing-masing. Terjadi transfer uang dari kota ke desa. Dan ini, akan terjadi pemerataan ekonomi (laman Wartaekonomi, 19/05/2017).

Angka-angka tersebut di atas, selain timbul dari pola konsumsi yang terjadi selama Ramadhan, ternyata juga didorong adanya dinamika ekonomi lainnya, selama bulan puasa.

Misalnya, banyak kita jumpai pasar murah, pasar tumpah, pasar kaget atau istilah lainnya yang sejenis, yang menjamur dimana-mana. Menjual berbagai kebutuhan baik yang terkait langsung dengan Ramadhan, misalnya makanan, takjil dan lain sebagainya. Juga untuk persiapan lebaran, seperti baju, sarung dan lain sebagainya.

Aktivitas tersebut, tentu akan menguntungkan bagi UMKM serta pelaku ekonomi mikro lainnya. Namun, porsi yang besar tetap dinikmati oleh para pebisnis besar.

Hal ini bisa dilihat dari perilaku kelas menengah Muslim. Mereka melakukan dengan cara yang berbeda, middle class Muslim juga ramai mengunjungi mall dan pusat perbelanjaan dalam memenuhi kebutuhan selama Ramadhan dan lebaran.

Meskipun tidak sedikit masyarakat kelas bawah, agar terlihat sebagai kelas menengah, juga mengikuti perilaku ini. Dan inilah yang tidak disadari oleh umat kita. Uangnya yang sedikit itu, disedot masuk ke kantong-kantong dan rekening para konglomerat.

Demikian halnya dari sisi transportasi. Mudik yang menjadi agenda rutin tahunan, dimana setiap tahun juga mengalami lonjakan permintaan. Menurut Kementerian Perhubungan, diperkirakan arus penumpang mudik lebaran mengalami kenaikan 4,85 persen dari tahun sebelumnya.

Berbagai jenis moda transportasi, yang mengantar pemudik untuk sampai ke tujuannya, menjadi kebutuhan vital, bagi pemudik.

Angkutan pribadi mobil diprediksi naik, 18,18 persen, motor 13,92 persen, pesawat 9,75 persen, demikian juga pemakai angkutan laut, maupun kereta api yang telah disiapkan sebanyak 1.565 kereta api yang beroperasi dan 129 kereta cadangan.

Sehingga jumlah pemudik secara keseluruhan mengalami kenaikan dari 18 juta tahun 2016 menjadi 19 juta di tahun 2017 (Tempo.co, 05/042017), semuanya memberikan konstribusi anggaran pengeluaran yang cukup besar.

Belum lagi pengeluaraan saat sampai di kampung halaman, untuk silaturrahim ke saudara-saudara dan juga, berwisata.

Namun demikian, dari sekian deretan perilaku konsumtif tersebut, ternyata dalam sisi ubudiyah juga mengalami peningkatan. Kelas menengah menjadikan ibadah umrah di bulan Ramadhan, sebagai sebuah tren.

Tidak jarang, jauh-jauh hari sudah memesan untuk ibadah umrah di bulan Ramadhan, bahkan ada yang khusus memesan untuk 10 hari terakhir sekaligus lebaran di Makkah. Dan di beberapa biro-haji dan umrah, peningkatan permintaan layanan ibadah umrah Ramadhan ini, mengalami peningkatan yang signifikan.

Dalam aspek filantropi, yang menjadi salah satu ibadah yang mendapatkan perlakuan khusus di bulan puasa ini, juga demikian.

Kewajiban zakat, infaq, dan shodaqoh termasuk wakaf dan hibah, juga mengalami peningkatan pendapatan. Ramadhan kali ini diprediksi penghimpunan dana ZIS oleh Lembaga Amil Zakat (LAZ) dan Badan Amil Zakat Nasional (BAZ) mengalami peningkatatan sebesar 60 persen dibanding dengan bulan-bulan sebelumnya.

Selain mereka menyalurkan langsung kepada mustahik, madrasah, pesantren maupun masjid, dan lain sebagainya, kini para muzakki lebih mempercayakan penyaluran ZIS-nya pada LAS dan BAS.

Karena melihat kejelasan program, dan transparan serta akuntabilitasnya dalam pentasyarufan ZIS-nya. Dengan potensi zakat sebesar Rp 217 triliun, meskipun baru sebagian kecil yang terhimpun, namun Ramadhan ini menjadi semacam “panen”-nya bagi BAZ dan LAZ.

Sebenarnya masih banyak lagi deretan aktivitas ekonomi yang terjadi selama Ramadhan dan lebaran. Dan rutinitas tahunan ini telah membentuk pola, yang relatif sama, dari tahun ke tahun.

Inilah yang bisa kita sebut sebagai Ramadhanomic. Sebuah kegiatan ekonomi khas Ramadhan dan lebaran, khususnya di Indonesia.

Meski di satu sisi terjadi pemerataan pendapatan selama Ramadhan, namun sejatinya umat Islam masih belum menjadi pemegang kendali dalam big business ini. Masih lebih banyak sebagai konsumen, alias menjadi pasar bagi kepentingan pihak lain.

Di sisi bisnis mikro mungkin sebagian telah di lakukan oleh umat Islam. Namun di bisnis makronya, masih dikendalikan pihak lain. Perlu ada strategi yang jitu untuk merebut aktivitas bisnis selama Ramadhan ini.

Betul, bahwa selama Ramadhan kita dituntut untuk meningkatkan ibadah, bahkan selama 10 hari terakhir, kita disunnahkan untuk iktikaf, berdiam diri di masjid untuk memperbanyak ibadah.

Namun, hendaknya ada sebagian pelaku usaha mikro maupun makro Muslim, yang mewakili Muslim lainnya, untuk menjadi pemain inti di sini. Mereka menghasilkan produk/jasa, mendirikan toko dan pusat perbelanjaan, sarana transportasi lainnya yang mampu bersaing dengan lainnya.

Demikian juga, kita harus mengubah mindset umat Islam termasuk kelas menengahnya, untuk membeli produk Muslim dan berbelanja kepada saudaranya sesama Muslim tersebut. Sehingga Ramadhanomic yang memiliki pola yang khas ini, dengan seluruh aspek yang mengikutinya, ke depan memang dikendalikan dan sekaligus menjadi milik umat.

Karena sejatinya kue besar itu adalah milik kita. Dan semoga Ramadhan kali ini mengantarkan kita menjadi insan yang bertakwa. Wallahu a’lam!.

_____
Asih Subagyo, penulis adalah Kepala Bidang Perekonomian DPP Hidayatullah

Kapolres Safari Ramadhan ke Ponpes Hidayatullah Mentawai

Kapolres Kapolres Kepulauan Mentawai AKBP Hasanuddin, SAg, beserta rombongan berfoto bersama di depan papan nama Pondok Pesantren Hidayatullah Sipora Mentawai bersama sejumlah pengurus / pmc
Kapolres Kapolres Kepulauan Mentawai AKBP Hasanuddin, SAg, beserta rombongan berfoto bersama di depan papan nama Pondok Pesantren Hidayatullah Sipora Mentawai bersama sejumlah pengurus / pmc

Hidayatullah.or.id – Kapolres Kepulauan Mentawai AKBP Hasanuddin, SAg menegaskan bahwa Islam adalah agama yang toleran yang menuntun umatnya mengamalkannya secara otentik.

Beliau pula mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap ancaman pihak-pihak yang ingin memecah belah bangsa Indonesia, khususnya di Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Hal itu disampaikan Kapolres AKBP Hasanuddin bersama Kasat Binmas saat beranjangsana silaturrahim menyambangi Pondok Pesantren Hidayatullah Km. 8 Desa Sipora Jaya Kecamatan Sipora Utara Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sabtu (03/06/2017).

Kapolres mengunjungi Ponpes tersebut dalam rangka agenda Safari Ramadhan dengan didahului buka puasa bersama dan memberikan penyuluhan terkait antisipasi radikalisme, intoleransi dan anti Pancasila kepada 60 santri.

Kunjungan Kapolres bersama rombongan yang disambut penuh kehangatan oleh pengasuh pesantren beserta santri tersebut dilanjutkan dengan ceramah agama dan shalat tarawih bersama.

Kapolres AKBP Hasanuddin SAg menyebutkan, Pancasila merupakan dasar negara yang sesuai dengan ajaran Islam.

Beliau menjelaskan, pada sila pertama Pancasila menerangkan Ketuhanan Yang maha Esa dan Islam sesuai dengan firman Allah terlihat pada surat Al-Ikhlas.

Lalu, sila kedua berbunyi kemanusiaan yang adil dan beradab, sesuai dengan surat An-Nisa ayat 135. Sila ketiga terkait dengan persatuan dalam ajaran Islam dijelaskan bahwa Islam cinta damai dan persatuan.

Pada sila keempat, terangnya, sesuai dengan surat Asy Syuro ayat 38 dan Sila kelima tentang keadilan sesuai dengan firman Allah dalam surat An Nahl ayat 90.

“Masih banyak lagi yang terkandung dalam ajaran Islam terkait dengan Pancasila. Bahkan, Islam lebih sempurna karena ajarannya bersumber dari Al-Qur’an yang merupakan firman Allah,” terangnya.

Dengan demikian, katanya, tidak ada alasan bagi umat Islam untuk tidak mengikuti Pancasila yang merupakan dasar dan lambang Negara serta menjadi pedoman hidup berbangsa dan bernegara.

Selain itu, tambahnya, Islam adalah agama yang cinta damai yang tidak ada mengajarkan kekerasan, sehingga tidak ada alasan umat islam untuk bermusuhan, saling membenci, radikal dan memecah-belah.

Kapolres menegaskan bahwa Islam adalah agama toleran. Jadi, lanjutnya, tidak ada alasan umat Islam itu untuk tidak menjaga toleran antar umat beragama.

“Apalagi di Bumi Sikerei sejak dulu sudah terpupuk keberagaman di empat pulau Kabupaten Kepulauan Mentawai. Oleh karena itu, mari kita tingkatkan kembali rasa persaudaraan, persatuan, kebhinekatunggalikaan,” ujar Kapolres.

Kapolres Hasanuddin menambahkan, pesantren adalah tempat mendidik umat supaya dapat mengamalkan ajaran Islam secara benar. Sehingga pada akhirnya ketika umat Islam sudah mampu mengamalkannya secara tidak langsung akan mampu hidup berbangsa dan bernegara dengan mematuhi aturan dan undang-undang yang berlaku.

Kegiatan Safari Ramadhan tersebut merupakan yang ke delapan bagi Polres Mentawai tahun ini.

Pada kesempatan tersebut Kapolres turut didampingi Kepala Satuan Bina Masyarakat (Kasat Binmas) Polres Mentawai, AKP Ikhlas Razuki, Kasat Intelkam, AKP Zulheldi, Kasat Lantas Iptu. Dedi S, Kasat Sabahara Iptu Hendri Bayola serta 4 anggota Binmas.

AKP. Ikhlas Razuki dalam imbauannya menyatakan, perlu antisipasi dalam penyalahgunaan informasi, seperti menyebarkan berita bohong, kebencian, SARA, fitnah, pornografi kegiatan radikal, sikap anti Pancasila dan anti kebijakan pemerintah yang akan berujung pada pelanggaran hukum.

“Masyarakat Bumi Sikerei harus saling menjaga dan memperkuat kebersamaan. Polri selalu melakukan pengawasan terhadap media sosial (Medsos) dengan Cyber Crime,” ujarnya. (pdc/hio)

Buka Puasa Sabhara Polres Kaimana Bersama Santri Hidayatullah

0

Buka Puasa Bersama Sabhara Polres Kaimana Bersama Santri HidayatullahHidayatullah.or.id – Bertempat di Masjid Pondok Pesantren Hidayatullah Kampung Coa Kaimana dilaksanakan kegiatan buka puasa bersama tim Sabhara Polres Kaimana bersama santri dan pengurus Pesantren Hidayatullah Kaimana, Sabtu (3/6/2017).

Agenda anjangsana silaturrahim rombongan Sabhara Polres Kaimana tersebut disambut hangat oleh Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Kaimana Ustadz Hasdar Ambal beserta staf, para santri, dan jamaah sekitar pondok pesantren.

Usai pelaksanaan buka puasa bersama yang dipimpin langsung Kasat Sabhara Polres Kaimana Iptu Munawar bersama anggotanya, dilanjutkan dengan shalat magrib, sholat Isya dan shalat tarawih secara berjamaah.

Dalam kegiatan safari Kamtibmas tersebut Kasat Sabhara selaku pimpinan tim safari ini menyampaikan pesan pesan kepada para santri dan jamaah sekitar pondok pesantren terutama tentang pemberantasan preman dan premanisme serta penegakan hukum terhadap radikalisme dan anti Pancasila.

Giat safari Kamtibmas ini mendapat aspresiasi yang baik dari jamaah Pondok Pesantren Hidayatullah Kampung Coa.

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Kaimana Ustadz Hasdar Ambal dalam sambutanya mengapresiasi anjangsana tersebut dan mendorong kegiatan positif semacam ini dapat terus digiatkan.

Selain akan membangun silaturrahim yang kokoh antar masyarakat dan aparat kepolisian, menuurut Ustadz Hasdar, kegiatan ini juga kian mendekatkan kepolisian dengan Pesantren Hidayatullah yang kehadirannya diharapkan menjadi mercusuar dan oase pembinaan keagamaan untuk lahirnya masyarakat yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa sebagaimana tertuang dalam sila pertama Pancasila.

“Insya Allah kegiatan seperti ini positif untuk menguatkan basis moralitas umat dalam rangka menguatkan keutuhan bangsa dan NKRI,” tukasnya memungkasi. (ybh/hio)

Polres Muaro Jambi Berbuka Bersama Santri Hidayatullah

Satlantas Polres Muaro Jambi Buka Puasa Bersama Santri HidayatullahHidayatullah.or.id – Suasana penuh kegembiraan dan dawai harmoni terlihat dalam acara buka puasa yang digelar Kepolisian Resor (Polres) Kabupaten Muaro Jambi bersama dengan Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah, Kamis (01/06/2017).

Acara yang dimulai sekira pukul 17.00 WIB tersebut bertempat di Masjid Istiqomah Polres Muaro Jambi.

Bersama dengan seratusan santri dilaksanakan berbuka bersama Personil Sat Lantas Polres Muaro Jambi dengan dengan para santri/wati pondok pesantren Hidayahtullah Kelurahan Sengeti.

Setelah berbuka puasa dan dilanjut dengan santap malam, acara yang berlangsung khidmat tersebut diteruskan dengan Sholat Tarawih berjamaah bersama jajaran kepolisian bersama para santri dan pengasuh pesantren.

Kapolres Muaro Jambi AKBP Dedi Kusuma Siregar S.I.K.,M.Si melalui Kasat Lantas AKP Hilman SE pada kesempatan ini menyampaikan pesan-pesan kamseltibcarlantas kepada para santri/wati dan jamaah yang hadir, bahwa pentingnya keselamatan pada saat mengendarai kendaraan bermotor.

Kapolres juga mengingatkan bahwa usia sekolah belum diperbolehkan untk mengendarai kendaraan. (ybh/hio)

MUI: Jangan Mempertentang Agama dan Pancasila

MUI Jangan Mempertentangkan Agama dan PancasilaHidayatullah.or.id – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin meminta agar tidak ada lagi pihak yang mempertentangkan agama dan Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara.

Menurut beliau, Pancasila merupakan hulul wathaniyah (solusi kebangsaan) yang menjadi konsensus berbangsa dan bernegara sejak Indonesia merdeka. Bahkan, tambah Kiai Ma’ruf, nilai agama menjadi kekuatan besar yang mencetuskan lahirnya Pancasila.

“Pancasila justru wujud nyata peran agama dalam kehidupan bangsa Indonesia,” ujar Kiai Ma’ruf di Jakarta saat mengisi workshop ‘Pengawasan Melalui Peneguhan Pancasila Bagi Aparatur Sipil Negara’ yang digelar Inspektorat (Itjen) Jenderal Kementerian Agama dikutip dari laman resmi MUI Pusat, Kamis (01/06/2017).

Kemunculan gerakan radikal baik kiri maupun kanan yang hendak mengganti ideologi negara, membuat Kiai Ma’ruf mengingatkan akan pentingnya penguatan pemahaman dan pengamalan Pancasila.
Dia mengatakan pengubahan Pancasila yang diusung pihak-pihak tertentu sama halnya dengan mengkhianati kesepakatan yang telah lama dibangun.

“Kita punya konsensus nasional dan jika mau mengubahnya itu berarti pengkhianatan pada kesepakatan,” tambah beliau.

Guna menguatkan Pancasila itu, Kiai Ma’ruf usul kepada Presiden Joko Widodo agar segera dibuat dialog nasional. Dialog ini bersifat solutif, antisipatif, dan rekonsiliatif.

Tidak lupa, Kiai Ma’ruf juga mengharap peran serta Kementerian untuk aktif kembali menekankan nilai-nilai Pancasila sebagai perekat antar umat beragama. Selain itu, juga sebagai modal konstitusi untuk menciptakan dan menjaga kerukunan bangsa. (ybh/hio)

Mantan Gitaris “Betrayer” Puji Kiprah Nyata Laznas BMH

Tajuk Ramadhan 1438 Laznas BMH Semua Karena ZakatDerry SulaimanHidayatullah.or.id – Ketua Umum Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Marwan Mujahidin menjelaskan bahwa zakat merupakan pilar penting terwujudnya pembangunan berkelanjutan. Inilah yang juga melatari tajuk “Semua Karena Zakat” Laznas BMH pada Ramadhan 1438 ini.

“Sisi yang sangat penting dipahami oleh semua pihak di negeri ini adalah posisi strategis zakat yang merupakan pilar utama terwujudnya pembangunan berkelanjutan,” ucapnya dalam Konferensi Pers yang berlangsung di Rumah Sarwono Jalan Pasar Minggu Jakarta Selatan, belum lama ini.

BMH yang telah 15 tahun berkiprah, terang dia, telah melihat secara langsung dampak pembangunan dari kesadaran umat menunaikan zakat.

“Ada banyak sekolah bisa kita bangun, tenaga pendidik dan dai yang dikirim ke berbagai daerah di Indonesia adalah satu di antara bukti bahwa pembangunan manusia berjalan simultan,” kata Marwan.

Selain itu, dari sisi ekonomi produktif, jelas dia, juga bisa dilangsungkan berkat dana zakat, sehingga pemberdayaan, kemandirian, dan pemenuhan gizi masyarakat dapat terpenuhi.

“Andai kesadaran umat terhadap zakat meningkat, tentu pembangunan manusia dan lingkungan di negeri ini akan berjalan lebih besar lagi,” imbuhnya.

Paparan Marwan Mujahidin terkonfirmasi positif dengan uraian dari Derry Sulaiman. Musisi yang kini menekuni dunia dakwah itu mengakui bahwa kiprah Laznas BMH di wilayah pedalaman hingga Papua benar-benar nyata.

“Zakat Anda bisa bikin kampus, sekolah, bisa beli motor untuk mendukung dakwah para dai BMH, sehingga para dai bisa menjangkau tempat-tempat yang sebelumnya tidak pernah dijangkau,” kata Derry yang mantan gitaris band metal terkenal, Betrayer.

“Saya ngaji dengan ustadz-ustadz BMH. Ustadz-ustadz BMH inilah yang tekun mengajarkan Alif, Ba’ Ta’ kepada orang-orang yang baru hijrah. Bagi tugas dengan gerakan dakwah yang lain,” papar Derry.

Bahkan dirinya pernah empat bulan dakwah di Wamena dan ternyata di sana bertemu dengan dai-dai BMH.

“Saya pernah punya pengalaman dakwah di pedalaman selama 4 bulan. Dan, dai-dai BMH ini sudah bertahun-tahun dakwah di Papua,” kata pria bernama asli Deri Guswan Pramona yang juga sempat membentuk band metal ‘Born by Mistake’ sebelum bertaubat ini.

Sementara itu, Ketua Bidang Pemenuhan Hak Anak Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Reza Indragiri Amriel yang merupakan mitra Laznas BMH untuk Program LUKMAN (Perlindungan Andak Demi Masa Depan) menegaskan bahwa dana zakat juga bisa menyelamatkan masa depan anak-anak negeri.

“Dana zakat yang dihimpun oleh BMH berdasarkan pengalaman kami bermitra selama ini dalam hal perlindungan anak, tidak saja berorientasi mencerdaskan anak-anak yang keesulitan sekolah, tetapi juga menyelamatkan masa depan anak-anak yang karena perjalanan hidupnya mesti berhadapan situasi yang sangat-sangat sulit untuk dihadapi mereka, baik yang bersifat mental dan penyakit fisik. Zakat hadir memberikan harapan apa yang menurut mereka tidak mungkin,” urai Reza.

Sementara itu, tema yang diangkat BMH pada Ramadhan 1438 H adalah “Semua Karena Zakat.”

Direktur Komunikasi dan Penghimpunan BMH Pusat Rama Wijaya menjelaskan, tema “Semua Karena Zakar” yang diangkat adalah karena zakat dalam kehidupan tidak saja mendatangkan kebahagiaan dan ketentraman bagi para muzakki.

Zakat juga mendorong terwujudnya perubahan secara nyata dalam segala sektor kehidupan di kalangan masyarakat kecil, terpencil, pelosok, pedalaman dan perbatasan.

Dia melanjutkan, semua jenis pembangunan yang sustainable sangat mungkin berjalan simultan di negeri ini, jika ditunjang oleh kesadaran umat Islam menjalankan perintah zakat sekaligus profesionalisme dan transparansi lembaga amil zakat nasional.

“Karena dalam sejarahnya zakat benar-benar mampu mendorong terwujudnya perubahan nyata,” tegasnya memungkasi.*/Herim

Hidayatullah, Muhammadiyah dan NU Terima Mobil CSR

0

Ambulance Nahdlatul Ulama Ambulance Muhammadiyah Ambulance HidayatullahHidayatullah.or.id – Bank Muamalat Indonesia menyerahkan 3 buah mobil CSR Muamalat kepada 3 organisasi massa Islam yaitu Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan Hidayatullah.

Acara serah terima ini dilakukan pada Jum’at (26/05) lalu di Gedung Muamalat Tower Jakarta Pusat.

Serah terima Mobil CSR Muamalat yaitu Mobil Ambulance Muamalat diberikan kepada Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah melalui badan amal usahanya RS Islam Jakarta Pondok Kopi, dan Hidayatullah melalui Islamic Medical Services (IMS).

Pengurus IMS Pusat yang juga Ketua Bidang Pelayanan Ummat DPP Hidayatullah Drg. Fathul Adhim, M.KM, mengatakan kendaraan tersebut akan sangat membantu kegiatan operasional IMS.

Dia berharap hal tersebut dapat memberikan keberkahan dan memberikan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat.

“Terimakasih Bank Muamalat,” pungkasnya.

Selain mobil abulance, CSR Bank Mualamat juga memberikan CSR kepada lembaga lainnya. Mobil Prestasi Muamalat diberikan kepada Lembaga Amil Zakat PKPU Human Initiative & Mobil Bersih Masjid Muamalat diberikan kepada Baitulmaal Muamalat di Muamalat Tower.

Bank Muamalat berharap semoga mobil tersebut dapat memberikan berkah & manfaat yang berkelanjutaan bagi penerimanya. (ybh/hio)

Program Mainstream Ramadhan

IMG-20170514-WA163KARAKTER atau akhlak mulia bisa dilihat dari banyak indikator. Sebagaimana sudah menjadi takdir, bahwa manusia memiliki kebaikan dan kelebihan yang berbeda-beda. Namun dalam perspektif nilai, ada indikator utama yang menjadi basis nilai dari pertumbuhan karakter manusia.

Basis nilai adalah sesuatu yang bersifat asasi yang dalam perspektif Islam. Hal ini disebut fitrah. Manifestasi dari fitrah manusia adalah kejujuran.

Artinya, kalau orang mampu jujur sesuai dengan fitrah atau hati nuraninya, maka itulah nilai kemanusiaan tertinggi, dan itulah karakter yang sesungguhnya. Kita masih teringat motto Komite Pemberantasan Korupsi ‘berani jujur, hebat’.

Jatidiri ‘jujur’ bersifat transformatif. Artinya, sifat-sifat lain bisa tereliminir dengan trasformasi kejujuran. Makin kuat nilai kejujuran, maka sifat-sifat tercela akan melemah dan berkurang. Ada sebuah kisah menarik di zaman Nabi.

Seseorang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Saya mau masuk Islam, tapi belum bisa meninggalkan khamar dan zina”.

Kemudian Rasulullah menjawab, “Yang penting bisa jujur”.

Pada suatu kesempatan, si penanya memiliki peluang untuk minum khamar dan berzina. Ia menghadapi pertarungan batin antara menerjang kebatilan atau meninggalkannya.

Akhirnya, dia berkeputusan meninggalkan maksiat tersebut karena teringat akan ikatan janjinya untuk jujur kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Jujur dan bohong, ibarat cahaya dan gelap. Sebagaimana cahaya bisa melenyapkan kegelapan, maka kejujuran dijamin mampu melenyapkan sifat-sifat buruk.

Dijelaskan dalam sebuah hadits Shahih:

“Tidak akan berkumpul dalam hati seseorang iman dan kufur, dan tidak bisa berkumpul bersama-sama sifat jujur dan sifat bohong, dan tidak bisa berkumpul bersama-sama sifat khianat dan amanah” (H.R. Imam Ahmad)

Salah satu latihan kejujuran yang sangat aplikatif adalah puasa. Praktek puasa langsung berkaitan dengan kejujuran.

Rukun Islam, yang terdiri dari syahadat, shalat, zakat dan haji, semuanya memiliki unsur gerakan dan dipersaksikan.

Sementara puasa, tidak ada gerakan dan tidak bisa dinilai seseorang. Yang tahu hanyalah yang menjalankannya dan Allah Al-Bashiir. Sebagaimana tertuang dalam hadits shahih berikut,

“Semua amal anak keturunan Adam adalah untuk dirinya, kecuali puasa. Puasa adalah untuk-Ku dan Aku-lah yang membalasnya”.

Perjuangan melahirkan sifat jujur seharusnya menjadi program mainstream di bulan Ramadhan. Tentu saja latihannya tidak sebatas menahan makan dan minum, tapi juga latihan dalam membiasakan berbagi kebaikan. Tadarus al-Qur’an, disiplin shalat di masjid, dan berbagai kepada sesama akan menghidupkan jiwa.

Jiwa yang hidup akan mendekat kepada Allah, dan selanjutnya memiliki kepekaan secara ruhaniyah atau spiritual. Dari sana sifat jujur akan tersemaikan menjadi karakter manusia.

_______
*) UST TASYRIF AMIN, penulis adalah Ketua Bidang Tarbiyah DPP Hidayatullah

Alhamdulillah, 21 Warga Suku Togutil Memeluk Agama Islam

IMG-20170523-WA043 IMG-20170523-WA044 IMG-20170523-WA045 IMG-20170523-WA046Hidayatullah.or.id – Alhamdulillah, sebanyak 21 warga Suku Togutil memeluk agama Islam yang ditandai dengan pembacaan ikrar syahadat pada hari Selasa (23/05/2017).

Prosesi yang diselenggarakan DPW Hidayatullah Maluku Utara (Malut) bersama Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Malut bertempat di Pondok Pesantren Hidayatullah Ternate ini berjalan lancar, dibimbing Ketua DPW Hidayatullah Ternate, Ust Riyadi Poniman.

Kisah 21 Suku Togutul yang memeluk Islam ini berawal dari 10 orang suku terasing yang sebelumnya, bulan Maret 2017, lebih dahulu telah memeluk Islam, lantas beberapa orang lainnya mengikuti jejak para pendahulunya.

“Sebelumnya kita sudah pernah survei ke hutan tempat mereka tinggal di daerah hutan Halmahera. Dearah ini tidak ada sinyal dan jalan darat belum bisa dilalui,” demikian disampaikan Nurhadi (34), dai hidayatullah yang biasa berdakwah di pedalaman.

Menurut Nurhadi, tidak sedikit diantara mereka datang sendiri ke Ternate bahkan ada yang minta dijemput.

“Mereka menyatakan siap masuk Islam dan siap dibina,” ujarnya Nurhadi.

Padahal, perjalanan mereka ke Ternate perlu pengorbanan dan biaya yang tidak sedikit. Mereka perlu berjalan kaki, naik kapal kayu satu malam dilanjutkan perjalanan darat dengan mobil lintas selama 6 jam.

“Mereka semua datang ke Ternate hanya mengenakan baju di badan. Di hutan tak sedikit diantara mereka ada yang masih bertelanjang termasuk laki-laki dan perempuannya,” imbuh Nurhadi.

Menurut Nurhadi, bahasa mereka masih dominan dengan bahasa suku Tobelo dalam. Walaupun sudah ada yang bisa berbahasa Indonesia, sebagian meraka tidak mengerti berkomunikasi dengan bahasa Indonesia.

Nurhadi mengakui, untuk pembinaan pihaknya masih mengutamakan pendidikan agama, utamanya pendidikan anak-anak.

Apalagi, lanjut dia, sebagian besar penduduknya ternyata masih belum mengenal agama. Sebelum ini, Suku Togutil hanya menyembah arwah para leluhur.

“Kita butuh bantuan untuk untuk penguatan Islam pada diri mereka. Termasuk kebutuhan pakaian atau logistik mereka sementara di Ternate,” ujar Nurhadi.

Togutil adalah suku yang hidup di pedalaman hutan Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara dan hidup secara nomaden.
Togutil sendiri dalam bahasa Halmahera pongana mo nyawa atau memiliki arti “suku yang hidup di hutan”.

Sebelum ini, pada bulan Maret 2017, sekitar 10 warga Suku Togutil lebih dahulu memeluk Islam dengan prosesi yang dilakukan ole Imam Masjid Al Munawar, Ternate, Halmahera.

Setelah mendapatkan pembinaan, Nurhadi berharap mereka bisa kembali ke daerah asalnya dan bisa mengajak keluarga lain dari orang suku di hutan yang jumlahnya ratusan bisa memeluk Islam.

“Semoga Allah memudahkan setiap langkah gerak ini kepada Islam,” tambah Nurhadi.*

Pesantren Lokomotif Kemajuan dan Aset Pemersatu Bangsa

0
Ilustrasi: Santri Pondok Pesantren Hidayatullah Sangatta, Kabupaten Kutai Timur, dalam sebuah kegiatan ramah tamah dengan dermawan dan tokoh setempat
Ilustrasi: Santri Pondok Pesantren Hidayatullah Sangatta, Kabupaten Kutai Timur, dalam sebuah kegiatan khitanan massalh dan ramah tamah dengan dermawan dan tokoh setempat

Hidayatullah.or.id – Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengajak pegiat pesantren dan santri untuk bekerja bersama-sama mewujudkan cita-cita bangsa. Pesantren dan santri harus mampu menjadi lokomotif kemajuan negara, sekaligus menjadi elemen pemersatu bangsa.

Hal ini disampaikan Menristekdikti dalam kunjungan kerjanya ke Subang, Jawa Barat, Selasa (23/5).

Nasir mengatakan, bangsa Indonesia masih memiliki sejumlah permasalahan yang belum bisa sepenuhnya dipecahkan, antara lain kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan sosial.

“Kita juga didera persoalan penyebaran penyalahgunaan narkoba (darurat narkoba), juga radikalisasi dan terorisme, serta upaya-upaya merongrong dan melemahkan kokoh dan utuhnya NKRI,” ujar Nasir dalam siaran pers diterima media, Selasa (23/5) malam.

Nasir melanjutkan, pesantren sebagai pihak yang telah turut berjuang ikut memerdekakan bangsa, tentunya tidak rela jika NKRI diganggu melalui cara apa pun.

Nasir mengajak pesantren dan para santri di dalamnya terlibat aktif menjadi penggerak perdamaian di Indonesia dan turut mencegah tumbuhnya radikalisme di tengah masyarakat.

Data Kementerian Agama mencatat jumlah santri pondok pesantren di 33 provinsi di seluruh Indonesia mencapai 3,65 juta orang yang tersebar di 25 ribu pondok pesantren. Artinya, pesantren dan santri merupakan elemen penting dalam kehidupan bernegara dan aset bagi kemajuan bangsa.

Nasir juga menyampaikan dukungannya terhadap pengembangan pendidikan pesantren dan pemberian beasiswa bagi santri yang tidak memiliki biaya.

“Jangan sampai santri ketinggalan, tertinggal di bidang pendidikan tinggi. Ini penting untuk memajukan pendidikan dan meningkatkan kondisi ekonomi para santri,” ujarnya.

“Pondok pesantren adalah tulang punggung untuk menciptakan kedamaian di Indonesia,” lanjut Nasir memungkasi. (rep/hio)