JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Program Mentoring Alumni Pelatihan Kepemimpinan sebagai upaya mengawal implementasi kepemimpinan berbasis manhaj sekaligus memperkuat tata kelola organisasi yang unggul di lingkungan Hidayatullah.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Hidayatullah Institute ini berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting pada 25–26 Februari serta 4–5 Maret 2026. Peserta berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, meliputi pimpinan wilayah, pengelola lembaga pendidikan, serta pengurus organisasi di lingkungan Hidayatullah.
Program tersebut merupakan tindak lanjut dari rangkaian pelatihan kepemimpinan yang dilaksanakan Hidayatullah Institute sejak 2021 hingga 2025. Dalam kurun waktu tersebut, tercatat sebanyak 629 alumni dari 18 batch pelatihan telah mengikuti program pengembangan sumber daya insani. Para alumni tersebut saat ini berperan di berbagai unit amal usaha Hidayatullah, termasuk dalam struktur organisasi, lembaga pendidikan, serta institusi sosial dan dakwah.
Melalui program mentoring ini, Hidayatullah Institute berupaya memastikan bahwa materi kepemimpinan dan manajemen yang telah dipelajari peserta dapat diterapkan dalam praktik pengelolaan organisasi. Pendampingan dilakukan dengan pendekatan diskusi dan evaluasi terhadap implementasi program kepemimpinan di masing-masing wilayah.
Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Bidang Organisasi, Dr Dudung Amadung Abdullah, dalam sambutannya menekankan pentingnya kepemimpinan yang berpijak pada manhaj perjuangan Hidayatullah dan didukung sistem pengelolaan organisasi yang profesional.
“Organisasi yang kuat tidak hanya dibangun oleh semangat perjuangan, tetapi juga oleh sistem pengelolaan yang baik, kepemimpinan yang visioner, serta kemampuan mengelola sumber daya secara efektif,” ujarnya.
Ia menyampaikan bahwa melalui program mentoring ini para alumni diharapkan mampu menghadirkan kepemimpinan yang transformatif sekaligus mendorong perbaikan tata kelola organisasi di berbagai tingkatan.
Direktur Utama Hidayatullah Institute sekaligus Ketua Departemen Sumber Daya Insani DPP Hidayatullah, Sumariadi, M.Pd., menjelaskan bahwa mentoring merupakan bagian dari upaya memastikan proses kaderisasi kepemimpinan berlangsung secara berkelanjutan.
“Mentoring ini menjadi ruang pembelajaran bersama sekaligus ruang evaluasi agar implementasi program kepemimpinan dan manajemen yang telah dipelajari dapat berjalan secara efektif di masing-masing wilayah dan lembaga,” ungkapnya.
Dalam pelaksanaannya, program ini menghadirkan sejumlah pimpinan Hidayatullah sebagai mentor, di antaranya Ketua Umum DPP Hidayatullah KH Naspi Arsyad, Lc., Bendahara Umum DPP Hidayatullah Suwito Fatah, S.Pd., S.E., M.M., Ketua Umum PP Muslimat Hidayatullah Hani Akbar, S.Sos.I., M.Pd., serta Ketua DPP Hidayatullah Bidang Pendidikan Muzakkir Usman, Ph.D.
Mentoring dilaksanakan dalam beberapa sesi berdasarkan kelompok peserta. Sesi pertama pada 25 Februari diikuti oleh Ketua DPD serta Ketua, Sekretaris, dan Bendahara DPW. Sesi berikutnya pada 26 Februari diikuti oleh pengelola Kampus Induk, Kampus Utama, serta pengelola BMH. Pada 4 Maret kegiatan diikuti oleh para kepala sekolah, sedangkan sesi terakhir pada 5 Maret diikuti oleh pengurus Muslimat Hidayatullah.
Dalam setiap sesi, peserta mempresentasikan perkembangan implementasi program kepemimpinan dan manajemen yang telah dijalankan di wilayah masing-masing. Para mentor kemudian memberikan arahan dan masukan untuk memperkuat pelaksanaan program tersebut.
Selain diskusi dan evaluasi, kegiatan juga menghadirkan sesi Success Story yang disampaikan Direktur Program Hidayatullah Institute, Samsul Bahri.
Samsul memaparkan sejumlah pengalaman implementasi program kepemimpinan dan manajemen organisasi di beberapa wilayah sebagai referensi pembelajaran bagi peserta.
Melalui program mentoring ini, Hidayatullah Institute menargetkan terbangunnya kapasitas kepemimpinan yang lebih kuat di kalangan alumni pelatihan. Program tersebut juga diarahkan untuk memperkuat pengelolaan organisasi yang profesional dan berorientasi pada pelayanan umat.
Alhamdulillah, kita masih dipertemukan dengan bulan puasa sehingga kita bisa memanfaatkan momentum yang luar biasa ini agar semakin bertaqwa sebagai tujuan berpuasa yaitu ‘la’alakum tattaqun.
Pelajaran yang sangat berharga akibat kesombongan yang bercokol dalam hati adalah sifat Iblis yang merasa lebih mulia karena diciptakan dari api dari nabi Adam yang diciptakan dari tanah.
Dia (Allah) berfirman, “Apakah yang menghalangimu (sehingga) kamu tidak bersujud ketika Aku menyuruhmu?” Ia (Iblis) menjawab, “Aku lebih baik daripada dia. Engkau menciptakanku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Al-A’raf: 12)
Allah berfirman: Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya; maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina. (QS Al-A’raf: 13). Jama’ah shalat Jum’ah rahimakumullah.
Sifat sombong merupakan watak dan sifat manusia yang merasa lebih hebat dan menganggap rendah orang lain.
Sombong adalah masalah yang sangat serius, kesombongan inilah yang menyebabkan setan terusir dari surga dan kemudian dikutuk oleh Allah SWT selamanya.
Hadirnya rasa sombong ini sangat halus sekali. Banyak orang merasa tawadhu (rendah hati) padahal sejatinya dirinya di mata orang lain sedang menunjukkan sikap sombong.
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS Luqman: 18).
Lengkap sudah, bahwa Allah swt sangat membenci orang yang merasa paling mulia, paling tinggi derajatnya, membangga-bangga harta dan angkuh.
Sesungguhnya semua manusia adalah sama-sama ciptaan Allah swt, sebagai hamba dan sama statusnya dimata Allah swt. Yang paling mulia disisi Allah swt adalah orang yang paling taqwa.
Kedua, menjadi makhluk yang hina.
Allah swt berfirman dalam surah al-A’raf ayat 146:
“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda (kekuasaan-Ku). Jika mereka melihat semua tanda-tanda itu, mereka tetap tidak mau beriman padanya. Jika mereka melihat jalan kebenaran, mereka tetap tidak mau menempuhnya. (Sebaliknya,) jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka menempuhnya. Demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lengah terhadapnya“
Naudzubillah, orang sombong sering kali tidak akan pernah mau kalah dan mengalah. Andaikata ada yang mengungguli, ia akan bersikap sinis dan berlomba-lomba untuk melebihi yang lain lagi. Atau, bahkan, bisa berbohong, mereka-reka cerita dan peristiwa yang tujuannya mengangkat dirinya.
“… demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang” (QS al-Mukmin: 35).
Astaghfirullaah! Allah SWT akan menutup rapat pintu hati manusia yang bersikap sombong. Ia tidak akan lagi mampu menerima kebenaran apapun
Orang sombong sangat sulit untuk menerima kebenaran jika hatinya telah mati dan dikunci oleh Allah SWT. Jalan satu-satunya, ia harus benar-benar bertobat kepada-Nya.
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam,’ maka sujudlah mereka kecuali Iblis, ia enggan dan takabur maka ia termasuk golongan orang-orang yang kafir” (QS al-Baqarah: 34).
Peristiwa ini menjadi penanda bahwa makhluk yang mulia bisa menjadi hina karena kesombongannya.
Sombong tidak hanya memandang manusia yang rendah, manusia yang mulia pun bisa menjadi lebih rendah dan hina jika memiliki sifat sombong.
Jama’ah shalat Jum’ah rahimakullah…
Puasa dapat membebaskan diri dari segala sangkar besi kedigdayaan kesombongan. Maka, mari kita menjadikan puasa sebagai ruang refleksi tertinggi yang menembus jantung mata hati terdalam khususnya dalam hal menahan hawa nafsu dari sifat kesombongan agar terbentuk karakter insan bertaqwa dan rendah hati.
Semoga dengan berpuasa menjadikan diri setiap insan Muslim siapapun dia, makin rendah hati dan tidak terjangkiti virus angkuh diri yaitu sifat sombong.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah melalui Departemen Hubungan Antarbangsa secara resmi melepas para dai yang akan menjalankan misi dakwah internasional dalam program “SEA Loves Al-Qur’an” 1447 Hijriah, Selasa, 20 Ramadhan 1447 (10/3/2026). Para dai tersebut akan menjalankan tugas dakwah di sejumlah negara kawasan Asia Tenggara, yakni Malaysia, Filipina, dan Timor Leste.
Program ini merupakan bagian dari agenda dakwah internasional Hidayatullah yang telah berjalan pada periode sebelumnya dan terus dikembangkan sebagai upaya memperluas syiar Islam di kawasan ASEAN.
Program SEA (South East Asia) Loves Al-Qur’an sendiri merupakan kegiatan pengiriman dai dan pengajar Al-Qur’an untuk bertugas di berbagai negara, khususnya selama momentum dakwah seperti bulan Ramadhan, dengan peran antara lain menjadi imam shalat, mengajar Al-Qur’an, serta membina masyarakat Muslim setempat.
Dalam laporannya, Ketua Departemen Hubungan Antarbangsa DPP Hidayatullah Rasfiuddin Sabaruddin menyampaikan bahwa pada tahun ini pengiriman dai difokuskan pada tiga negara ASEAN. Beberapa kader yang diutus antara lain Ust Jumardi dan Ust Asif Muhammad ke Timor Leste, Ust Aray Ramlie dan Ust Hamzah ke Malaysia, Ust Kasyful Anwar ke Filphina Chebu, serta Ust Sahid Tandion, Ust Muhidin, dan Ust Maher di Filphina Cotabato.
“Program ini merupakan kelanjutan dari periode sebelumnya. Tahun ini kita prioritaskan di tiga negara, yaitu Malaysia, Filipina, dan Timor Leste. InsyaAllah ke depan akan terus dikembangkan ke negara-negara lain di kawasan ASEAN,” ungkapnya dalam laporan kegiatan pelepasan.
Acara pelepasan diawali dengan pengantar dan arahan dari Ketua DPP Hidayatullah Bidang Organisasi, Dudung Amadung Abdullah. Dalam sambutannya ia menegaskan bahwa dakwah merupakan tugas mulia yang menjadi identitas umat Islam.
Menurutnya, umat terbaik adalah mereka yang beriman dan menyampaikan risalah kebenaran Allah SWT kepada manusia. Oleh karena itu, Hidayatullah berkomitmen untuk terus mengembangkan dakwah tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga hingga ke mancanegara.
“Kesempatan ini adalah peluang kebaikan bagi pribadi maupun lembaga. Tidak semua orang mendapatkan amanah ini. Karena itu setiap kegiatan harus dijalankan sesuai program dan disertai evaluasi yang berkelanjutan,” ujarnya.
Sementara itu, pelepasan resmi dilakukan oleh Ketua Umum DPP Hidayatullah, Naspi Arsyad. Dalam pesannya kepada para dai yang akan bertugas, ia menekankan pentingnya meluruskan niat dalam berdakwah.
“Jika niat kita lurus, maka urusan akan dimudahkan oleh Allah SWT. Dakwah yang dijalani dengan niat yang benar akan menjadi kenikmatan. Para asatidz yang terpilih mengikuti program ini adalah orang-orang pilihan untuk melanjutkan jejak dakwah Rasulullah SAW,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan agar para dai senantiasa memperbanyak doa dan menjaga keikhlasan selama menjalankan amanah dakwah di negeri orang.
“Selamat bertugas dan menjalankan amanah. Semoga Allah SWT memberikan kemudahan dan kenikmatan dalam menapaki jalan dakwah ini,” pesannya.
Melalui program SEA Loves Al-Qur’an, Hidayatullah berharap dapat memperkuat hubungan persaudaraan umat Islam lintas negara serta menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap Al-Qur’an melalui pengajaran, pembinaan, dan kegiatan dakwah di berbagai komunitas Muslim di kawasan Asia Tenggara.[]
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pendiri Rumah Sejarah Indonesia, Hadi Nur Ramadan, menyampaikan bahwa gerakan Islam harus mampu menjaga keaslian prinsip perjuangan sekaligus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Pernyataan tersebut disampaikannya Hadi dalam rangkaian webinar Ramadhan 5.0 bertema Kalangan Muda sebagai Game Changer yang diselenggarakan Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah Jakarta Selatan pada Selasa malam, 20 Ramadhan 1447 (10/3/2026).
Hadi menjelaskan pentingnya generasi muda Islam memahami sejarah sebagai dasar dalam membangun masa depan gerakan. Menurutnya, proses membaca sejarah memiliki peran penting dalam membentuk kesadaran intelektual, namun hal tersebut tidak cukup apabila tidak disertai kemampuan untuk terlibat langsung dalam membangun perubahan.
“Kader Abdullah Said membaca sejarah itu penting, tetapi menjadi aktor sejarah jauh lebih penting,” ujarnya.
Ia menyampaikan bahwa pesan tersebut merupakan bagian dari warisan pemikiran Abdullah Said sebagai pendiri Hidayatullah. Dalam pandangannya, generasi penerus tidak hanya dituntut memahami perjalanan sejarah gerakan, tetapi juga diharapkan mampu berperan aktif dalam melanjutkan dinamika perjuangan.
Hadi, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam Majelis Ulama Indonesia (LSBPI MUI), menegaskan bahwa gerakan Islam memerlukan keseimbangan antara menjaga prinsip dasar perjuangan dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan sosial yang terus berubah.
“Kita harus menjaga asolah, keaslian perjuangan, tetapi pada saat yang sama juga harus mu’ashirah, mampu mengikuti perkembangan zaman,” katanya.
Dalam pemaparannya, ia juga menyoroti tradisi literasi yang kuat pada diri Abdullah Said. Menurutnya, kebiasaan membaca berbagai karya keislaman menjadi faktor penting yang membentuk gagasan besar dalam perjalanan dakwah Hidayatullah.
Ia menyebut sejumlah karya yang menjadi rujukan intelektual Abdullah Said, di antaranya Tafsir Sinar karya Abdul Malik Ahmad, Rangkaian Mutu Manikam karya Mas Mansur, serta Tafsir Al-Azhar karya Hamka. Selain itu, buku Mujahid Dakwah karya Isa Anshary disebut turut mempengaruhi semangat militansi dakwah yang dibangun oleh Abdullah Said.
“Kalau Abdullah Said tidak memiliki budaya literasi yang kuat, saya kira beliau tidak akan melahirkan gagasan besar seperti Hidayatullah,” ujarnya.
Hadi juga menjelaskan bahwa perkembangan gerakan dakwah tidak terlepas dari strategi yang berakar pada masyarakat. Ia mencontohkan sejumlah tokoh Islam Indonesia yang membangun basis sosial sebelum mendirikan organisasi keagamaan.
Ia menyebut Ahmad Dahlan yang terlebih dahulu melakukan pembinaan masyarakat di Kauman sebelum mendirikan Muhammadiyah, serta Hasyim Asy’ari yang mengembangkan jaringan pesantren sebelum berdirinya Nahdlatul Ulama.
“Para tokoh itu punya basis dakwah yang jelas di masyarakat. Ketika basis itu kuat, organisasi yang mereka dirikan pun meledak dan berkembang,” jelasnya.
Menurutnya, pendekatan yang sama juga dilakukan oleh Abdullah Said ketika membangun komunitas dakwah di kawasan Gunung Tembak, Balikpapan. Kawasan tersebut kemudian berkembang menjadi pusat aktivitas Hidayatullah yang dikenal sebagai kampus Hidayatullah.
Hadi menjelaskan bahwa konsep tersebut dipahami sebagai miniatur peradaban Islam yang menghadirkan praktik kehidupan keagamaan secara nyata dalam kehidupan sosial.
“Hidayatullah dibangun sebagai miniatur peradaban Islam. Ketika masyarakat melihat contoh nyata itu, mereka tertarik datang dan belajar,” katanya.
Pada bagian akhir pemaparannya, Hadi mengingatkan pentingnya generasi muda mempelajari gagasan dan pemikiran para pendiri gerakan agar arah perjuangan tetap terjaga.
“Kita bukan hanya menjadi pelanjut organisasi, tetapi juga harus menjadi pembaca Abdullah Said, memahami gagasan dan perjuangannya, lalu melanjutkannya sesuai dengan tantangan zaman,” pungkasnya.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc., menegaskan pentingnya integritas sebagai fondasi utama dalam membangun peradaban Islam. Hal tersebut ia sampaikan saat memberikan tausiyah dalam kegiatan buka puasa bersama karyawan PT Lentera Jaya Abadi dan kru Majalah Suara Hidayatullah, Rabu, 21 Ramadhan 1447 (11/3/2026).
Kegiatan tersebut berlangsung secara hybrid , dengan peserta di Jakarta hadir secara langsung, sementara peserta di Surabaya mengikuti melalui Zoom.
Dalam tausiyahnya, Naspi menekankan bahwa integritas bukanlah sesuatu yang muncul secara otomatis, melainkan nilai yang harus dilatih dan didisiplinkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Integritas itu bukan bawaan sejak lahir, bukan karena jabatan, bukan karena kekayaan. Ia adalah nilai yang harus dilatih dan didisiplinkan,” ujarnya.
Integritas dalam Dunia Media
Naspi secara khusus menyoroti pentingnya integritas bagi pekerja media, terutama dalam memastikan validitas informasi yang disampaikan kepada publik.
Menurutnya, tulisan yang dipublikasikan tidak hanya berhenti sebagai informasi, tetapi dapat menjadi warisan yang mempengaruhi cara berpikir dan praktik keagamaan masyarakat.
“Bagi pekerja media, integritas ini terkait dengan dosa jariyah dan sedekah jariyah. Apa yang kita tulis itu akan dibaca orang dan bisa menjadi warisan,” katanya.
Ia mencontohkan bahaya jika seorang penulis tidak melakukan verifikasi sumber, misalnya dalam penggunaan hadis.
“Kalau hadisnya lemah, bahkan palsu, tetapi ditulis tanpa verifikasi lalu dibaca masyarakat yang tidak punya kapasitas untuk mengecek, kemudian mereka beramal berdasarkan hadis itu. Dari mana asalnya? Dari tulisan kita,” jelasnya.
Karena itu, ia menekankan pentingnya verifikasi dan kejujuran ilmiah dalam setiap tulisan. “Kalau dilakukan verifikasi dan disajikan dengan sumber yang terpercaya, itu menjadi sedekah jariyah. Peradaban Islam akan indah jika dibangun di atas dalil-dalil yang terverifikasi,” ujarnya.
Tidak Berbicara di Luar Keahlian
Dalam kesempatan tersebut, Naspi juga mengingatkan agar para dai dan intelektual Muslim tidak berbicara atau memberikan komentar di luar bidang keilmuannya.
Ia menilai fenomena saat ini menunjukkan banyak orang mudah berkomentar tentang isu global tanpa memiliki basis ilmu yang memadai.
“Saya sering ditanya, kenapa tidak membuat pernyataan soal Timur Tengah. Saya jawab, ilmu saya di mana? Saya memang pernah kuliah di Timur Tengah, tapi bukan berarti saya paham semua soal Timur Tengah,” katanya. Menurutnya, lebih baik menahan diri daripada memberikan pernyataan yang dangkal atau sekadar menyalin pendapat orang lain.
“Daripada nanti pernyataannya cetek, dangkal, atau hanya kopas dari orang lain, itu malah memalukan,” tegasnya. Ia mengingatkan prinsip Al-Qur’an agar tidak mengikuti sesuatu yang tidak memiliki dasar ilmu.
“Al-Qur’an sudah mengingatkan: jangan mengikuti sesuatu yang kamu tidak punya ilmu tentangnya. Itu juga bagian dari integritas,” katanya.
Media sebagai Instrumen Peradaban
Naspi juga menekankan bahwa media seperti Suara Hidayatullah memiliki peran strategis dalam mendukung visi besar organisasi dalam membangun peradaban Islam.
“Majalah Suara Hidayatullah bukan sekadar menerbitkan majalah. Ia harus menjadi instrumen penopang visi besar Hidayatullah dalam membangun peradaban Islam,” ujarnya.
Karena itu, ia mendorong para pengurus dan kader untuk membangun tradisi menulis dan memperkuat wawasan intelektual.
Menurutnya, tradisi menulis tidak hanya penting bagi media, tetapi juga bagi para pemimpin dan kader organisasi agar mampu mengeksternalisasi gagasan dan nilai-nilai peradaban Islam.
Di akhir tausiyahnya, Naspi menyampaikan rasa syukur atas tradisi integritas yang telah dibangun di lingkungan Hidayatullah. Ia menyebut organisasi tersebut memiliki standar spiritual dan etika yang tinggi dalam pembinaan kader.
“Salah satu integritas yang disajikan oleh Hidayatullah adalah penentuan pemimpin berdasarkan kualitas ibadahnya. Itu bukan sesuatu yang mudah ditemukan di banyak organisasi,” katanya.
Ia juga menilai bulan Ramadan menjadi momentum penting untuk memperkuat integritas pribadi melalui disiplin ibadah dan kejujuran spiritual.
“Ramadan melatih kita untuk mengkristalkan dan menajamkan integritas. Dari bangun malam, menjaga ibadah, hingga kejujuran dalam amal kita,” ujarnya.
Naspi berharap nilai-nilai integritas yang dibangun selama Ramadan dapat terus terjaga dan menjadi bagian dari upaya membangun peradaban Islam yang lebih kuat.
“Mudah-mudahan integritas yang kita bangun melalui ibadah Ramadan ini semakin mendekatkan kita pada cita-cita besar Hidayatullah, yaitu membangun peradaban Islam,” pungkasnya.
AKHIR Ramadhan adalah momentum terbaik untuk melihat kualitas iman. Argumentasinya jelas, menjadi orang beriman itu sudah jelas keuntungannya. Nabi Muhammad SAW malah menegaskan menakjubkan sekali jiwa orang beriman itu. Kalau mendapat kesenangan mereka bersyukur dan itu baik. Kalau datang musibah mereka bersabar dan itu pun baik.
Jadi orang beriman itu akan senantiasa bahagia. Karena iman membuat seseorang tidak larut dalam kesedihan, kegalauan dan keputusasaan. Hal itu terjadi karena imannya bekerja, reasoningnya kokoh dalam menjadikan Allah sebagai central dalam kehidupannya. Bahasa sederhananya, Iqra’ Bismirabbik-nya jalan dengan baik. Dalam arti aktivitas membacanya semakin intens, tajam dan dalam.
Lalu apa sikap dan pilihan orang beriman dalam 10 hari terakhir Ramadhan, tenang ada panduannya dari idola umat Islam sedunia dari generasi ke generasi, yaitu Nabi Muhammad SAW.
‘Aisyah ra. menyampaikan, “Ketika memasuki sepuluh akhir Ramadhan, Nabi fokus beribadah, mengisi malamnya dengan ibadah, dan membangunkan keluarganya untuk ikut ibadah.” (HR Al-Bukhari).
Dengan begitu amalan pertama yang harus kita siapkan adalah fokus dalam ibadah. Malam kita bangun untuk ibadah, dengan penekanan pada qiyamul lail.
Sedikit catatan, ibadah bagi sebagian besar umat Islam memang identik dengan shalat, zikir, dan lain sebagainya.
Tapi ibadah spektrumnya sangat luas, yakni meliputi apa saja yang mengundang ridha Allah SWT. Misalnya memasak untuk sahur orang-orang yang i’tikaf, sedekah untuk anak yatim dan orang miskin, Itu juga kebaikan. Hal ini tidak berarti seluruh umat Islam masuk ke masjid, lantas bagaimana dengan keamanan, rumah sakit, transportasi dan lain sebagainya. Semua itu juga ibadah, sejauh kita niatkan untuk Allah SWT.
Membaca Al-Qur’an
Membaca Al-Qur’an dalam pengertian yang luas perlu kita lakukan dengan lebih kuat. Hal ini karena Ramadhan identik dengan Al-Qur’an.
Para ulama, salah satunya Imam An-Nawawi, mendorong agar kita lebih giat membaca Al-Qur’an pada akhir malam. Itu karena situasi dan kondisi sangat mendukung untuk kita lebih fokus.
Mentadabburi Ayat Al-Qur’an
Meskipun membaca Al-Qur’an berpahala namun kita penting untuk bisa menangkap pesan esensial dari ayat yang kita baca. Oleh karena itu tadabbur ayat-ayat Al-Qur’an bisa jadi pilihan amalan akhir Ramadhan. Terutama bagi kaum Muslimin yang memang terhalang untuk bisa i’tikaf karena tanggung jawab pekerjaan atau lainnya.
“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (Q.S. Shâd [38]: 29).
Ketika kita mau dan sadar dalam mentadabburi Al-Qur’an maka akan banyak keuntungan yang kita peroleh. Pertama, bisa memahami pedoman hidup yang benar dan menjadikannya sebagai kebahagiaan bagi hati.
Kemudian, kita akan selamat dalam menjalani kehidupan dunia yang fana dan penuh fitnah ini. Terakhir, kita bisa menjadi orang yang dapat membawa cahaya bagi sesama.
Dengan demikian, tiga amalan itu penting bagi kita untuk mengisi akhir Ramadhan dengan baik. Langkah itu juga akan memberi kesan yang sangat mendalam bagi jiwa kita sendiri untuk memastikan target takwa dari puasa bisa kita capai.
Takwa itu bukan konsep abstrak dalam Islam, mampu memaafkan kesalahan orang lain, itu pun bagian dari takwa. Mau bersedekah, peduli kepada sesama, juga takwa.
Semoga Ramadhan ini mengantarkan kita semua menjadi pribadi yang takwa dan penuh syukur, Aamiin.[]
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Forum Riyadhah Murabbi digelar sebagai ruang penguatan spiritual bagi para kader dan murabbi agar memaksimalkan momentum akhir Ramadhan dengan ibadah yang lebih berkualitas. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Departemen Perkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah bersama Dewan Murabbi Pusat (DMP) Hidayatullah secara daring melalui Zoom pada Selasa, 20 Ramadhan 1447 (10/3/2026), dan diikuti oleh kader serta pembina dari berbagai wilayah.
Agenda tersebut menghadirkan sejumlah narasumber. Materi yang dibahas mencakup pemaknaan Lailatul Qadar, praktik i’tikaf, serta penguatan tadabbur Al-Qur’an sebagai bagian dari pembinaan spiritual di akhir bulan Ramadhan.
Imam Besar Masjid Ar-Riyadh Pesantren Hidayatullah Balikpapan, Ust. H. Muhammad Baharun Musaddad, Lc., dalam pemaparannya menjelaskan bahwa Lailatul Qadar memiliki kedudukan yang sangat mulia dalam ajaran Islam. Ia menerangkan bahwa istilah Lailatul Qadar juga dipahami sebagai malam yang “sempit” karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi.
“Lailatul Qadar adalah malam yang penuh kemuliaan. Pada malam itu para malaikat turun dalam jumlah yang sangat banyak untuk membersamai turunnya Al-Qur’an,” jelasnya dalam forum tersebut.
Dalam sesi berikutnya, anggota Dewan Murabbi Pusat, Ust. H. Abdul Kholiq, Lc., MHI., menyampaikan bahwa i’tikaf merupakan bagian dari latihan spiritual yang menguji kesungguhan seorang hamba dalam mendekatkan diri kepada Allah.
“I’tikaf adalah ujian kecintaan seorang hamba kepada Allah. Apakah ia siap memfokuskan diri hanya untuk beribadah dan mendekat kepada-Nya,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya memahami prinsip fikih prioritas dalam pelaksanaan ibadah. Menurutnya, i’tikaf memiliki status sunnah sehingga pelaksanaannya tidak boleh mengabaikan kewajiban yang harus dipenuhi oleh seorang muslim.
Pandangan tersebut turut diperkuat oleh Wakil Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah, Ust. Dr. Ir. H. Abdul Aziz, M.Si. Ia menyampaikan bahwa penguatan budaya i’tikaf di kalangan kader perlu disertai pengelolaan waktu dan ibadah yang baik.
“Kita perlu menerapkan fikih prioritas agar i’tikaf berjalan dengan baik. Kebersamaan dan saling membantu antarkader akan memperkuat pelaksanaan ibadah di akhir Ramadhan,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Bidang Perkaderan DPP Hidayatullah, Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, mengajak para kader untuk menjaga konsistensi ibadah hingga penghujung Ramadhan.
Ghofar Hadi juga menyebut bahwa tradisi i’tikaf yang telah berkembang di Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak Balikpapan dapat menjadi referensi bagi daerah lain dalam menghidupkan suasana ibadah di sepuluh hari terakhir Ramadhan.
Melalui kegiatan Riyadhah Murabbi ini, para peserta diharapkan memperoleh penguatan pemahaman serta motivasi spiritual untuk meningkatkan kualitas ibadah pada fase akhir Ramadhan. Forum tersebut juga diarahkan sebagai sarana memperkuat pembinaan kader agar mampu membimbing masyarakat dalam menghidupkan nilai-nilai keagamaan selama bulan suci.
SUASANA sore itu terasa hangat di sebuah kegiatan berbuka puasa bersama yang diselenggarakan oleh Pesantren Mahasiswa Dai (Pesmadai) di kawasan Rempoa, Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, pada Senin, 19 Ramadhan 1447 (9/3/2026).
Di senja hari itu, anak-anak usia sekolah dasar hingga menengah atas (SMA) yang menjadi binaan taman Al Qur’an Pesmadai berkumpul dengan penuh antusias.
Mereka duduk berjejer rapi sambil menunggu waktu berbuka, namun kegiatan sore itu tidak hanya diisi dengan menunggu azan magrib. Ada sesi percakapan ringan yang justru membuat suasana menjadi hidup.
Pada kesempatan tersebut, Pembina Pesmadai, Imam Nawawi, hadir menyapa para peserta. Berbeda dengan suasana ketika ia berbicara di hadapan mahasiswa, kali ini Direktur Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect) ini memilih pendekatan yang lebih santai.
Imam tidak menyampaikan ceramah panjang dengan istilah yang rumit. Sebaliknya, ia mengajak anak-anak berdialog dengan pertanyaan sederhana.
Imam memulai percakapan dengan satu pertanyaan singkat. Ia memegang mikrofon dan bertanya, “Apa itu berani?” Mikrofon kemudian ia arahkan kepada seorang anak bernama Alfaro yang duduk di barisan kedua.
Alfaro tersenyum dan hanya mengangguk tanpa memberikan jawaban. Imam kemudian memindahkan mikrofon kepada anak lain di sampingnya.
Ia kembali bertanya dengan nada bersahabat, “Ayo, ada yang mau jawab?” Namun anak-anak tampak saling menoleh dan tersenyum malu. Tidak ada yang mengangkat tangan.
Melihat situasi itu, Imam meminta disiapkan papan tulis dan spidol. Ia lalu berkata kepada anak-anak bahwa mereka akan diajak berpikir bersama. Dia meminta anak anak untuk memusatkan pendengaran. “Karena tadi tidak ada yang mau bicara, sekarang saya minta kalian fokuskan telinga untuk mendengar,” katanya.
Di papan tulis tersebut ia menggambar dua bagan sederhana. Bagan pertama berjudul manfaat belajar, sementara bagan kedua berjudul manfaat bermain telepon genggam. Satu per satu anak diminta maju untuk mengisi kedua bagan tersebut.
Ketika mengisi bagian manfaat belajar, anak-anak tampak cukup mudah menuliskan berbagai jawaban. Mereka menyebutkan bahwa belajar dapat menambah pengetahuan, membantu memahami pelajaran di sekolah, dan membuat mereka menjadi lebih pintar.
Namun ketika giliran mengisi bagan manfaat bermain telepon genggam, sebagian anak terlihat ragu. Beberapa dari mereka tampak berpikir cukup lama sebelum menuliskan jawaban. Ada yang terdiam sejenak sebelum akhirnya menuliskan satu atau dua poin.
Setelah semua anak kembali ke tempat duduknya, Imam menjelaskan apa yang baru saja terjadi. Ia menyampaikan bahwa sebelumnya anak-anak sempat kesulitan menjawab pertanyaan karena belum mencoba berpikir secara mendalam. Melalui kegiatan sederhana di papan tulis, mereka mulai mencoba menyusun alasan dan menemukan jawaban sendiri.
Bangun Tradisi Berpikir Sejak Dini
Dalam kesempatan itu, Imam menjelaskan bahwa keberanian yang paling penting dalam kehidupan adalah keberanian untuk berpikir. Menurutnya, seseorang yang terbiasa berpikir akan lebih mudah memahami alasan dari setiap tindakan yang dilakukan.
“Sebaliknya, orang yang tidak membiasakan diri berpikir dapat mengalami kebingungan ketika harus menentukan pilihan dalam hidupnya,” katanya.
Penjelasan tersebut kemudian mengarah pada pesan yang lebih luas tentang pentingnya kesadaran dalam menjalani kehidupan. Setiap aktivitas manusia pada dasarnya memerlukan pemahaman tentang tujuan yang ingin dicapai.
“Kesadaran mengenai tujuan inilah yang membantu seseorang menentukan arah hidup, menyusun cita-cita, serta memahami alasan dari setiap keputusan yang diambil,” terang Imam di hadapan anak anak yang kini semakin antusias menyimak.
Imam lalu menjelaskan pelan pelan bahwa proses memahami tujuan hidup dimulai dari aktivitas membaca dan berpikir. Al-Qur’an dalam Surah Al-‘Alaq ayat pertama memerintahkan manusia untuk membaca dengan menyebut nama Allah: “Iqra’ bismi rabbika alladzi khalaq.”
“Ayat ini menunjukkan bahwa proses belajar dan memahami kehidupan harus dimulai dengan kesadaran tentang hubungan manusia dengan Penciptanya,” terangnya.
Dia menjelaskan bahwa membaca dalam ayat tersebut tidak hanya berarti membaca tulisan, tetapi juga memahami realitas kehidupan. Dengan demikian, berpikir menjadi bagian penting dalam proses belajar. Melalui berpikir, seseorang dapat memahami tujuan dari perbuatannya dan menentukan arah kehidupannya secara lebih jelas.
Oleh karena itu, Imam berpesan, membiasakan anak-anak untuk berpikir sejak dini merupakan bagian penting dari pendidikan. Lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat dapat berperan membantu anak memahami alasan dari setiap aktivitas yang mereka lakukan.
“Dengan kesadaran tersebut, anak-anak dapat belajar menjalani kehidupan dengan tujuan yang lebih terarah,” tandasnya.
MEMBANGUN kesejahteraan bagi sesama adalah kebutuhan utama bangsa Indonesia. Namun kesejahteraan tidak lahir begitu saja; ia biasanya tumbuh dari kerja sama berbagai elemen dalam masyarakat.
Secara teori ada konsep bernama Model The Triple Helix. Konsep ini membagi peran utama beberapa pihak penting. Industri berperan sebagai penggerak inovasi ekonomi. Universitas memproduksi pengetahuan dan riset. Pemerintah menjadi pengatur arah melalui kebijakan dan regulasi.
Jadi ini adalah upaya pembangunan yang menjadikan pengetahuan sebagai basis utama. Dalam praktiknya, model ini berkembang. Banyak pakar kemudian menambahkan unsur masyarakat sebagai aktor penting, karena inovasi sosial tidak akan hidup tanpa partisipasi warga.
Namun dalam realitas sosial, hubungan antara industri, universitas, dan pemerintah sering kali tidak langsung menyentuh masyarakat lapisan bawah. Di titik inilah peran lembaga filantropi menjadi penting.
Melalui hadirnya peran lembaga filantropi dan lembaga amil zakat, program pembangunan bisa kita harapkan berjalan secara terukur, bertahap dan berkelanjutan.
Gambaran kolaborasi itu dapat kita lihat pada kerja sama Laznas BMH dengan industri seperti Paragon Corp.
Paragon Corp sebagai industri ingin memberi manfaat kepada masyarakat yang tak mudah dijangkau dengan pemberdayaan. Kemudian Laznas BMH menjadi penghubung bagaimana keinginan industri memberi dampak sosial dapat terwujud bagi masyarakat atau komunitas tertentu yang memang harus tumbuh secara sosial.
Sharing Power
Kolaborasi atau kali ini saya sebut sharing power dapat terjadi kalau masing-masing pihak menyadari tentang sumber daya dan kompetensi inti yang dimiliki. Paragon Corp tentu saja punya kekuatan kapital (modal) yang diperlukan masyarakat untuk tumbuh. Laznas BMH mempunyai core kompetensi pada bidang pemberdayaan masyarakat, dalam hal ini mualaf eks-Baduy di Lebak Banten.
Ketika keduanya melakukan sharing power, kolaborasi itu ibarat rangkaian listrik. Ketika saklar dinyalakan, energi yang mengalir dari satu titik dapat menyalakan cahaya di tempat yang jauh.
Owner, leader dan manajemen Paragon Corp tidak menyaksikan bagaimana cahaya itu mengubah wajah yang lesu menjadi ceria. Tetapi para amil Laznas BMH di lapangan langsung menyaksikan itu.
Laporan dan penjelasan dari lapangan kemudian menjadi jembatan kepercayaan yang semakin menguatkan kolaborasi itu.
Melalui sinergi dan kolaborasi semacam itu, denyut dan detak kehidupan mualaf eks-Baduy bisa terus berlangsung. Masyarakat pun kian hari tumbuh lebih literat dan pembangunan kesejahteraan secara menyeluruh pun terus berlangsung secara berkelanjutan.
Modal dan Kolaborasi
Pilihan Paragon Corp mengajak lembaga filantropi dan lembaga amil zakat berperan secara kolaboratif, menunjukkan bahwa bekerjasama jauh lebih baik, apalagi dalam hal membangun kesejahteraan bagi sesama.
Pengalaman di lapangan juga menunjukkan hal yang sama. Saya sendiri pernah menyaksikan secara langsung kasus bagaimana orang yang memiliki modal ingin melakukan kebaikan semuanya dengan tangannya sendiri. Pada tahap awal, penyiapan lahan dan pembangunan fisik tidak terjadi kendala. Akan tetapi begitu berurusan dengan manusia, misalnya santri untuk pesantren, ketidakstabilan mulai sering terjadi.
Alhasil, kekuatan modal tak mampu menjaga denyut kebaikan itu terus berjalan. Tidak sedikit orang membangun program sosial sendirian, lalu berhenti di tengah jalan karena tidak memiliki mitra yang kompeten.
Syukur akhirnya ada kesadaran dan mengajak kolaborasi lembaga amil zakat atau individu yang menjadi ujung tombak program kebaikan masyarakat sebagai mitra. Niat kebaikan pun dapat dirawat secara bersama-sama dan berkelanjutan.
Dua Kompetensi Penting
Saat ini, pergeseran dalam memandang program pemberdayaan masyarakat mulai bergeser. Mulai banyak industri yang memahami bahwa mereka tidak mungkin turun langsung berperan layaknya lembaga amil zakat. Namun pada saat yang sama, itu menantang lembaga amil zakat untuk memiliki setidaknya dua kompetensi penting.
Pertama adalah competence trust, yaitu kepercayaan yang lahir dari kapasitas profesional sebuah lembaga untuk menjalankan program secara efektif dan dapat dipertanggungjawabkan.
Kedua, intention trust, yaitu niat dan kemauan gigih untuk berkinerja dengan baik atau memenuhi janji sesuai dengan kontrak yang telah disepakati. Dalam hal ini teori mengatakan lebih menantang, karena sifatnya yang intangible.
Apabila dua kompetensi itu menjadi satu kekuatan “budaya” dalam sebuah lembaga amil zakat atau filantropi Islam, maka kolaborasi dalam memberdayakan sesama akan semakin subur. Industri bahkan pemerintah akan melihat bahwa lembaga amil zakat bukan sekadar pelengkap, melainkan simpul penting yang menjembatani kebaikan agar benar-benar sampai kepada masyarakat.[]
*) Imam Nawawi, penulis Public Relations Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH)
BAGI sebagian besar dari kita, membaca Al-Qur’an sering kali terjebak dalam dikotomi yang sempit antara mengejar target kuantitas khatam atau hanyut dalam romantisme sejarah masa silam.
Kita membaca tentang Firaun, kaum Aad, hingga Perang Ahzab seolah sedang menyusuri lorong museum; mengagumi artefak masa lalu yang megah, namun merasa “benda-benda” itu tidak punya relevansi dengan tagihan cicilan, karut-marut politik, hingga krisis identitas manusia modern.
Lantas, muncul pertanyaan krusial, mengapa kitab yang diklaim sholihun likulli zaman wa makan (relevan untuk setiap waktu dan tempat) ini sering terasa berjarak dengan realitas? Apakah masalahnya ada pada teksnya, atau pada kacamata yang kita gunakan saat membedahnya?
Melampaui Tumpukan Informasi
Problem pertama terletak pada cara kita mendefinisikan “pengetahuan”. Dalam tradisi akademik modern, kita kerap mendewakan informasi—data, angka, dan detail kronologis. Namun, Al-Qur’an bekerja dengan logika yang berbeda. Ia bukanlah sekadar bank data (information), melainkan peta navigasi pembentuk kesadaran atau hudan.
Ambil contoh fragmen Perang Ahzab. Jika kita membuka literatur sejarah, kita akan disuguhi detail angka infanteri, strategi parit, hingga nama-nama panglima. Namun, Al-Qur’an justru bergerak melampaui statistik itu. Fokusnya adalah bedah psikologis manusia saat menghadapi krisis eksistensial.
Al Qur’an memotret empat prototipe manusia yang presisi dari kisah yang lebih dikenal dengan perang khandaq itu, yaitu, orang peragu yang menyalahkan keadaan, orang pengecut yang mencari celah untuk lari, orang penghasut yang merusak mentalitas kolektif, dan orang beriman yang melihat krisis sebagai momentum kenaikan kelas spiritual.
Logika ini menegaskan bahwa Al-Qur’an tidak sedang mendongengkan perang di masa Nabi, melainkan sedang membedah “anatomi mental” manusia saat dikepung masalah—sebuah siklus yang akan terus berulang hingga akhir zaman.
Karakter sebagai “Model”, Bukan Individu
Dalam dunia intelektual, kita mengenal pemodelan (modeling). Al-Qur’an melakukan hal serupa melalui teknik namdzajah atau penokohan prototipe. Nama-nama seperti Firaun, Qarun, atau Haman bukanlah sekadar individu yang terkunci di peti mati abad silam. Mereka adalah representasi dari ideologi dan pola perilaku.
“Qarunisme”, misalnya, bukan sekadar soal tumpukan harta, melainkan soal arogansi intelektual—sebuah sikap yang merasa bahwa seluruh keberhasilan adalah hasil mutlak dari “ilmu yang ada padaku” (innama utituhu ‘ala ‘ilmin ‘indi).
Berapa banyak dari kita yang tanpa sadar memelihara benih Qarunisme dalam bentuk merasa paling cerdas secara akademik dan memandang rendah mereka yang tak bergelar?
Di titik inilah Al-Qur’an menjadi cermin yang kejam sekaligus jujur. Ia tidak sedang menceritakan orang lain; ia sedang memetakan kemungkinan-kemungkinan karakter yang sedang bersemayam di dalam diri kita dan struktur masyarakat hari ini.
Interaktivitas dan Panggilan Bertindak
Satu hal yang kerap terlupakan: Al-Qur’an adalah “partner” yang hanya akan berbicara jika diajak berdialog secara jujur. Ia tidak akan memberikan jawaban mendalam kepada mereka yang pasif terhadap realitas.
Seorang ekonom yang bergelut dengan ketimpangan pasar akan menemukan “ruh” dalam ayat-ayat distribusi harta yang tak tersentuh oleh orang awam. Seorang fisikawan akan menangkap getaran berbeda dalam ayat-ayat semesta. Ini adalah panggilan bagi kita—para pencari ilmu di berbagai disiplin—untuk membawa keresahan intelektual dan profesional kita ke hadapan teks.
Tadabur, dalam konteks ini, bukan lagi sekadar merenung syahdu di sudut sunyi. Tadabur adalah kerja intelektual untuk mengekstraksi metodologi Qur’ani guna membedah keruwetan zaman.
Sudah saatnya kita mengubah paradigma. Berhenti memperlakukan Al-Qur’an sebagai buku sejarah yang statis. Mulailah melihatnya sebagai “sistem operasi” (operating system) bagi akal dan kalbu yang terus diperbarui.
Tugas kita bukan lagi sekadar menghitung berapa kali kita melumat teks secara lisan, melainkan sejauh mana nilai-nilai Al-Qur’an mampu menamatkan kejahilan dalam cara kita berpikir. Sebab, pintu Al-Qur’an hanya akan terbuka lebar bagi mereka yang datang membawa kegelisahan nyata untuk memperbaiki realitas.[]
*) Insan Anshori Pasi,penulis mahasiswa semester 8 Jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Institut Muslim Cendekia (IMC) Sukabumi, alumni Pondok Pesantren Hidayatullah Hidayatullah Tanjung Morawa, Sumatera Utara.