Beranda blog Halaman 7

Sambut Tahun Ajaran Baru, Pesantren Hidayatullah Medan Siapkan Terobosan Kurikulum Bahasa Arab Berstandar Global

0

MEDAN (hidayatullah.or.id) – Penguasaan Bahasa Arab kini tidak lagi sekadar instrumen pelestarian tradisi keilmuan Islam, melainkan telah menjelma sebagai alat komunikasi global yang krusial di era modern. Menyadari peran strategis tersebut, Pengurus Pesantren Hidayatullah Medan Tanjung Morawa bergerak cepat dengan menggagas penyusunan kurikulum Bahasa Arab baru yang diproyeksikan bakal diterapkan secara penuh pada tahun ajaran 2026/2027 mendatang.

Langkah progresif ini diambil sebagai bentuk evaluasi dan pembenahan program bahasa yang selama ini dirasakan belum berjalan maksimal. Melalui kurikulum baru ini, pihak pesantren berkomitmen meningkatkan mutu lulusan sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk melanjutkan pendidikan putra-putri mereka di Pesantren Hidayatullah Medan.

Pihak pengelola pesantren menetapkan tiga parameter utama yang menjadi tolok ukur keberhasilan program terobosan ini:

1. Akses Literasi Khazanah Turots (Kitab Kuning)

Santri akan dibekali dengan penguasaan gramatika Arab yang kuat (Nahwu dan Sharaf). Hal ini menjadi modal utama agar para santri mampu mengkaji langsung kitab-kitab klasik otentik secara mandiri, sehingga mempercepat proses pendalaman ilmu agama (tafaqquh fi al-din).

2. Standar Kurikulum Berorientasi Global dan Akreditasi

Pesantren Hidayatullah Medan melakukan kolaborasi apik dengan memadukan kurikulum salaf dan standar internasional. Silabus dirancang secara khusus untuk membuka peluang lebar bagi para alumni yang ingin melanjutkan studi ke universitas elite Timur Tengah—seperti Universitas Al-Azhar di Mesir dan Universitas Islam Madinah di Arab Saudi—maupun ke jenjang pendidikan tinggi internal lembaga Hidayatullah.

3. Penciptaan Lingkungan Berbahasa (Biah Lughawiyah)

Pesantren mewajibkan penggunaan Bahasa Arab aktif dalam aktivitas sehari-hari. Lingkungan yang kondusif ini dibentuk bukan hanya untuk meningkatkan aspek kognitif, melainkan juga memperkuat pemahaman ilmu agama (ulumuddin) sebagai bekal dasar ketika kelak terjun ke masyarakat sebagai da’i dan mubaligh.

Dukungan Tim Ahli Lintas Alumni Terkemuka

Demi mematangkan draf kurikulum besar ini, tim pengajar Bahasa Arab Pesantren Hidayatullah Medan menggelar forum diskusi intensif. Tidak main-main, perumusan ini dikawal langsung oleh jajaran ustaz dan pakar dengan latar belakang akademis mumpuni, di antaranya, Ustadz Isa Abdul Baari, S.Pd. (Alumni STIBA Ar-Raayah, Sukabumi. Ustadz Muhammad Ihsan, Lc. (Alumni LIPIA Jakarta). Ustadz Luqman Hakim, Lc. (Alumni Universitas Islam Madinah, Arab Saudi). Ustadz Fahri Fathullah, M.Pd. (Alumni Pondok Modern Darussalam Gontor) dan Ustadz Pathun Nur, S.Ag. (Alumni STIQ Ash-Shiddiq, Medan)

Melalui sinergi dan kolaborasi dari para pendidik lintas institusi terkemuka ini, Pesantren Hidayatullah Medan optimistis mampu melahirkan generasi penghafal Al-Qur’an dan mutafaqqih fiddin yang tangguh, adaptif, serta siap menjawab tantangan zaman.

Dari Pedalaman Muallaf Kotabaru, Hidayatullah Kalimantan Selatan Perkuat Soliditas Kader dan Kobarkan Semangat Dakwah

0

KOTABARU (hidayatullah.or.id) – Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Kalimantan Selatan sukses melangsungkan kegiatan Lailatul Ijtima yang berlokasi di kampung binaan muallaf pedalaman Batu Licin, Kabupaten Tanah Bumbu. Kegiatan yang digelar pada Sabtu (04/07/2026) ini mengusung tema besar “Bina Muallaf Pedalaman dan Silaturahmi Kader”.

Ketua DPW Hidayatullah Kalimantan Selatan, Ustadz M. Irsyad Istoyo, menjelaskan bahwa agenda ini menjadi momentum penting untuk terus memperkuat ukhuwah dan soliditas para penggerak dakwah di Kalimantan Selatan.

“Kami ingin memperkuat semangat berhalaqoh dan Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH) pada seluruh kader penggerak. Inilah yang menjadi ruh kita di Hidayatullah. Pembeda para kader Hidayatullah adalah halaqah dan GNH, yang menjadi sumber energi utama dalam menjalankan tugas dakwah,” ujar Ustadz Irsyad.

Jalan Dakwah dan Konsekuensi Pengorbanan

Acara yang berlangsung khidmat di kawasan pedalaman ini turut dihadiri secara daring oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, K.H. Naspi Arsyad, Lc., selaku narasumber. Di awal pemaparannya, Kiai Naspi menyampaikan apresiasi yang tinggi atas kerja keras dan semangat juang para kader, khususnya yang bersentuhan langsung dengan masyarakat pedalaman Kalimantan Selatan.

Beliau mengingatkan bahwa berada di jalan dakwah bukanlah pilihan yang sederhana karena sarat dengan pengorbanan, mulai dari waktu, tenaga, biaya, hingga kemewahan dunia.

Menurut Kiai Naspi, mengurus agama Allah sering kali menjauhkan seseorang dari zona nyaman, baik secara langsung maupun tidak langsung. Jalan dakwah tidak menawarkan kemapanan duniawi, melainkan sebuah perjuangan panjang menjaga agama Allah yang serupa dengan apa yang dialami oleh Rasulullah SAW dan para sahabat 14 abad yang lalu.

“Secara historis dan faktual, kesulitan itu melekat pada mereka yang bersungguh-sungguh dalam jalan dakwah. Bahkan, para penggerak dakwah ‘dilarang’ mendambakan kenyamanan dalam memperjuangkan agama Allah SWT,” tegasnya.

Hiburan dan Janji Allah bagi Penggerak Dakwah

Meski penuh tantangan dan jauh dari pusat kota, Kiai Naspi menekankan bahwa Allah SWT tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang mengurus agama-Nya. Hal ini menjadi hiburan sekaligus penguat bagi para pejuang dakwah, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Muhammad ayat 7:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.

Melalui ayat tersebut, Allah memberikan garansi bahwa memilih jalan dakwah bukanlah pilihan yang keliru. Di balik setiap jerih payah, ada kemudahan dan keberkahan hidup yang telah disiapkan.

“Orang yang bersabar dalam jalan dakwah akan memperoleh banyak kebahagiaan. Terkadang hiburan dari Allah itu melampaui hitungan matematika manusia; berupa rezeki yang tidak disangka-sangka hingga kemudahan dalam segala urusan,” lanjut Kiai Naspi.

Saling Mendukung Melalui Ar-Rafiiqush-Shaalih

Selain kemudahan hidup, bentuk hiburan lain yang Allah berikan di medan dakwah adalah kehadiran ar-rafiiqush-shaalih atau sahabat seperjuangan yang shaleh. Kehadiran lingkungan yang saling mendukung dan menguatkan inilah yang dahulu juga menyertai dakwah Rasulullah SAW.

Di akhir tausiyahnya, Kiai Naspi berpesan agar sesama pejuang dakwah tidak boleh saling mendzalimi. Sebaliknya, antar-kader harus saling menopang, mendoakan, dan membahagiakan satu sama lain.

“Setiap pejuang harus tampil membahagiakan dan menggembirakan, sehingga orang lain merasa senang dan tenang saat bertemu,” pungkasnya menutup lingkaran Lailatul Ijtima malam itu.

Kegiatan Lailatul Ijtima di pedalaman Kotabaru ini sukses terlaksana berkat sinergi kuat yang melibatkan tiga unsur utama Hidayatullah Kalimantan Selatan, yakni Dewan Murobbi Wilayah (DMW), Dewan Pengurus Wilayah (DPW) serta Baitul Maal Hidayatullah (BMH). Kolaborasi sinergis ini diharapkan menjadi motor penggerak yang kian masif dalam meluaskan kebermanfaatan dakwah Islam di seluruh pelosok bumi jernih Kalimantan Selatan.

Saat Otoritas Ahli dan Pendidik Dipertanyakan di Ruang Sidang

0

Dalam rangkaian persidangan kasus korupsi Chromebook Kemdikbudristek RI dengan terdakwa Nadiem Anwar Makarim (NAM), ada satu sidang yang menghadirkan saksi ahli dari pihak terdakwa, tepatnya tanggal 21 April 2026. Saksi ahli tersebut adalah Ina Liem (IL). Di jagad maya, nama IL dikenal sebagai ahli sekaligus konsultan pendidikan dan karier.

Akan tetapi nama besar Ina Liem di jagad maya tidak membuat Jaksa Penuntut Umum (JPU) kehilangan taji di ruang sidang. Dengan amat tajam, JPU mengajukan sejumlah pertanyaan kepada IL. JPU mempertanyakan otoritas IL sebagai ahli independen. Dapat disaksikan oleh pemirsa, IL perlu upaya keras untuk bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan JPU.

Terlepas penilaian pemirsa terhadap jalannya sidang tersebut, khususnya tanya jawab yang tajam antara JPU dengan IL, muncul satu pelajaran penting bagi para ahli dan juga pendidik, yakni akuntabilitas. Bahwa setiap pernyataan atau jawaban yang diberikan butuh basis argumentasi, tidak bisa asal. Runtutan nalar dan basis data diperlukan. Tanpa kesemua itu, pernyataan atau jawaban akan sangat lemah. Kapabilitas akhirnya diragukan.

Apabila kapabilitas sudah diragukan, sulit bagi seorang ahli dan pendidik untuk memiliki standing point. Otoritasnya bisa dicopot secara de facto. Ini bisa diibaratkan seperti pipi tertampar, namun tangan yang menampar tidak terlihat.

Oleh karena itu setiap ahli dan pendidik didorong untuk akuntabel. Apapun yang menjadi sikap atau pendiriannya itu dibangun di atas serangkaian proses pengambilan kesimpulan yang berstandar ilmiah. Sehingga banyak pihak akan menerima bahkan mendukung sikap atau pendirian yang diyakini.

Satu disclaimer dibutuhkan di sini, yakni dukungan banyak pihak bukan ukuran utama untuk menentukan benar-salah suatu sikap atau pendirian. Hal ini dikarenakan benar-salah juga banyak dipengaruhi oleh konteks sosiobudaya setempat. Meskipun demikian dukungan banyak pihak, walaupun perlahan dan bertahap, menunjukkan keselarasan satu sikap atau pendirian dengan kesadaran umum masyarakat.

Bahwa masyarakat mengakui ada sisi benar dari sikap atau pendirian yang sampai kepada mereka, bahkan sesuai dengan situasi mereka. Sehingga mereka merasa wajib untuk mendukung sikap atau pendirian tersebut. Tidak sekedar moral, dukungannya juga bersifat material.

Lebih jauh, akuntabilitas memiliki keterikatan erat dengan integritas. Dalam bahasa keseharian integritas lebih dikenal dengan kejujuran. Aspeknya cukup luas, mencakup perkataan dan perbuatan bahkan visi masa depan.

Seseorang dengan integritas yang kuat dimungkinkan untuk memiliki akuntabilitas kuat juga. Ia tidak sulit mengumpulkan berbagai data dan fakta, menganalisis, lalu menyimpulkan. Kemudian kesimpulannya disampaikan kepada publik.

Ia kokoh menghadapi publik. Kepada pihak yang pro, ia menguatkan. Sedangkan kepada pihak yang kontra, ia menjelaskan lebih dalam.

Nalar rumit tidak terlalu diperlukan untuk seseorang menjadi akuntabel, bila integritas sudah menginternal pada dirinya. Ia juga tidak perlu mengolah kata sedemikian rumit. Bahkan ia bisa menjelaskan dalam model percakapan harian. Siapapun bisa lebih mudah memahami.

Sebaliknya akuntabilitas semakin sulit digapai saat integritas belum hadir. Akhirnya seseorang dengan situasi seperti ini akan menyampaikan nalar yang dibungkus kata-kata indah. Sehingga terlihat seakan-akan nalarnya kokoh. Padahal inkonsistensi dapat dilacak dengan mudah.

Sehubungan dengan itu semua, semoga para ahli dan pendidik bersepakat bahwa integritas merupakan dasar sangat penting. Di atasnya banyak hal dapat dibangun dengan kuat sekaligus indah. Selanjutnya berbagai inspirasi sangat mungkin untuk terpancar dari sana.

Ahli dan pendidik disilakan bertanya kepada diri sendiri, sudahkah selama ini selaras antara perkataan dan perbuatan? Bahkan sudahkah visi masa depan sesuai dengan nilai-nilai yang diyakini selama ini? Semoga jawabannya, sudah.

Kabar gembiranya integritas (kejujuran) itu memiliki pertalian erat dengan keimanan. Semakin jujur seseorang, kemungkinan semakin baik keimanannya. Motivasinya bukan lagi hal-hal kasat mata. Justru perkara ghaib jauh lebih penting baginya. Wajar jika Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 69 menempatkan orang-orang jujur bersama para nabi di surga nanti.

Uraian ini pula, semoga memberikan informasi kepada pengelola pendidikan. Bahwa integritas itu akar dari akuntabilitas pendidik. Maka integritas butuh untuk terus dikuatkan, baik dengan bimbingan ataupun apresiasi.

Apalagi pendidikan merupakan aktivitas berbasis manusia. Kognitif bukan segalanya di konteks pendidikan. Sentuhan manusiawi jauh lebih diperlukan. Apalagi sentuhan manusiawi itu berbalut keimanan. Insya Allah kebaikan duniawi-ukhrawi hanya menunggu waktu, dan berlaku kepada semua pihak yang terlibat di dalamnya.

Wallah a’lam.

FU’AD FAHRUDIN

Dudung Amadung Abdullah Masuk 10 Besar Penerima Apresiasi Penegakan Hukum MUI 2026

0
Foto: Mhd Zuhri Fadhlullah / Hidayatullah.or.id

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Komisi Hukum Majelis Ulama Indonesia (MUI) menetapkan Dudung Amadung Abdullah sebagai salah satu dari 10 besar penerima Apresiasi Penegakan Hukum Tahun 2026. Penghargaan tersebut diberikan kepada individu dan lembaga yang dinilai memiliki integritas, dedikasi, serta kontribusi nyata dalam memperjuangkan akses keadilan, khususnya bagi masyarakat dhuafa dan kelompok rentan.

Penghargaan itu diumumkan dalam rangkaian Mudzakarah Hukum Nasional Pra-Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) bertema “Penguatan Misi Keumatan dan Sinergitas MUI dengan Penegak Hukum untuk Advokasi dan Perlindungan Hukum Bagi Kelompok Dhuafa dan Masyarakat Miskin”. Malam penganugerahan berlangsung di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Kamis (2/7/2026).

Dalam daftar resmi yang diterbitkan Komisi Hukum MUI, Dudung Amadung Abdullah menempati peringkat kelima dari 27 penerima apresiasi yang terdiri atas 19 penerima kategori perorangan dan 8 kategori lembaga. Posisi tersebut menempatkannya dalam jajaran 10 besar penerima apresiasi, bersama sejumlah tokoh nasional, praktisi hukum, organisasi bantuan hukum, dan institusi penegak hukum.

Wakil Sekretaris Jenderal MUI Bidang Hukum, Dr. Ihsan Tanjung, menjelaskan bahwa proses seleksi dilakukan secara independen dengan menggunakan sejumlah indikator yang terukur. Menurutnya, integritas dan kepatuhan terhadap kode etik profesi menjadi indikator dengan bobot penilaian tertinggi, disusul rekam jejak pendampingan kepada masyarakat dhuafa, jejaring antarlembaga, serta kemitraan dengan lembaga amil zakat.

“Dari scoring perorangan itu, yang mendapatkan nilai paling tinggi adalah Bapak Busyro Muqoddas. Semua juri sepakat memberikan nilai tertinggi kepada beliau karena rekam jejaknya,” ujar Ihsan.

Ia menambahkan, proses penilaian melibatkan dewan juri lintas sektor yang berasal dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), BPHN Kementerian Hukum dan HAM, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), hingga perwakilan media nasional seperti TV One, Metro TV, Kompas TV, dan Tempo TV untuk melakukan penelusuran rekam jejak para kandidat.

“Kami melibatkan media massa karena tahu mereka pasti bisa menjejaki rekam jejak orang-orang ini. Kalau kandidat tersebut dianggap bermasalah atau tidak layak, maka otomatis tidak akan diusulkan,” tegasnya.

Menurut Ihsan, apresiasi ini diberikan sebagai bentuk penghormatan kepada para penegak hukum dan pegiat bantuan hukum yang selama ini bekerja secara konsisten memperjuangkan keadilan bagi masyarakat miskin, meski sering kali tidak mendapatkan perhatian publik.

“Ada para penegak hukum yang senantiasa berbuat baik, tetapi mereka tidak terlihat. Mereka tulus membantu masyarakat miskin. Namun karena ada sebagian oknum yang berbuat tidak tepat, kemudian semua penegak hukum ikut dihujat. Padahal sesungguhnya ada hal-hal baik yang perlu kita apresiasi,” katanya.

Meski dilakukan pemeringkatan untuk menentukan penerima dengan skor tertinggi, seluruh 27 penerima tetap memperoleh piagam penghargaan sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi mereka dalam memperluas akses keadilan bagi masyarakat dhuafa dan kelompok rentan.

Masuknya Dudung Amadung Abdullah dalam jajaran 10 besar penerima Apresiasi Penegakan Hukum MUI 2026 menjadi pengakuan atas dedikasinya dalam bidang advokasi dan penegakan hukum yang berpihak kepada masyarakat. Penghargaan tersebut sekaligus menegaskan pentingnya kolaborasi antara ulama, lembaga hukum, dan berbagai pemangku kepentingan dalam memperkuat perlindungan hukum bagi kelompok yang membutuhkan.

Daftar Penerima Apresiasi Penegakan Hukum Komisi Hukum MUI Tahun 2026:

  1. H. M. Busyro Muqoddas
  2. Nurrohim
  3. Dr. Ike Farida
  4. Jajang Mulyaman
  5. Dudung Amadung Abdullah
  6. Himpunan Konsultan Hukum Ketenagakerjaan Indonesia
  7. Posbakum ‘Aisyiyah Jakarta
  8. Kepolisian Daerah Sumatera Selatan (Polda Sumsel)
  9. Lembaga Bantuan Hukum Catur Bhakti
  10. Pusat Bantuan Hukum Perhimpunan Advokat Indonesia (PBH PERADI) Balikpapan
  11. Sirajuddin Sailellah
  12. Ilham Haqiqi
  13. Muhammad Tsaqib Idary
  14. Abdul Chalim
  15. Eka Purnamasari
  16. Abd. Aziz
  17. Abdul Hamim Jauzie
  18. Alief Sri Maulana Aziz
  19. Roys Qaribilla
  20. Prof. Dr. Edi Slamet Irianto
  21. H. Musa
  22. Edi Rosman
  23. Reldy Tirtaanom
  24. Adriyan Fauzi
  25. LKBH Unusia Jakarta
  26. Pusat Bantuan Hukum Peradi Cikarang
  27. Kantor Layanan Bantuan Hukum (KLBH) Muhammadiyah Kramat Jati

Seluruh penerima apresiasi dipilih melalui proses penilaian yang dilakukan secara independen oleh Komisi Hukum MUI bersama dewan juri lintas lembaga berdasarkan rekam jejak, integritas, kepatuhan terhadap kode etik profesi, keberlanjutan advokasi bagi masyarakat dhuafa, jejaring kemitraan, serta kontribusi nyata dalam memperluas akses keadilan bagi kelompok rentan.

Menyikapi Kasus Hukum Seorang Pejabat

0

Kasus dugaan korupsi Chromebook di Kemdikbudristek RI memasuki babak baru dengan dijatuhkannya vonis kepada Nadiem Anwar Makarim (NAM) tanggal 30 Juni lalu, yakni hukuman penjara 10 tahun. Bukan hanya itu, NAM juga didenda sebesar 809 miliar rupiah. Apabila denda ini tidak ditunaikan, maka NAM mendapat perpanjangan hukuman 5 tahun.

Vonis menuai pro-kontra, sebagaimana telah terjadi selama ini, seiring perjalanan kasus tersebut di pengadilan. Bukan hanya pada sidang NAM, pro-kontra berlangsung. Akan tetapi sidang Ibrahim Arief (IA) juga riuh. Mungkin terhitung sepi di kehidupan nyata, tapi tidak di media sosial. Keriuhan itu sangat terasa.

Terlepas pro-kontra yang berlangsung, banyak pelajaran dapat dipetik dari kasus ini. Salah satunya adalah tetap waras dan proporsional dalam memandang tokoh. Bahwa cinta atau benci tidak otomatis menentukan kedudukan sang tokoh di hadapan hukum. Timbangan benar-salah didasarkan pada pertimbangan hukum yang kadang kompleks. Orang awam sering tidak bisa memahaminya secara utuh.

Dalam hal ini seorang awam lebih baik menyerahkan suatu masalah hukum kepada para ahli hukum, sembari terus belajar sesuai kebutuhan dirinya. Ini penting agar ia mampu memahami masalah hukum sedikit demi sedikit. Sehingga ia mampu menelaah kasus hukum yang terjadi, walaupun relatif terbatas. Akan tetapi ia tidak terombang-ambing arus opini. Ia juga mampu mengantisipasi potensi hukum yang mungkin kelak menjeratnya.

Memang tidak mudah belajar dan menelaah berbagai informasi di era media sosial seperti saat ini. Informasi terasa terlalu deras. Akan tetapi dengan metode tabayyun (konfirmasi), sebagaimana dituntunkan Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 6, semoga seorang muslim mampu melakukan penelaahan seksama atas berbagai informasi. Berikutnya kesimpulan sementara diambil untuk diuji.

Pengujian dilakukan lewat banyak cara. Salah satunya memirsa opini sejumlah ahli yang kompeten dan berintegritas. Paling tidak, dua atau tiga opini berhasil didapatkan lalu diambil kesimpulan logis. Istilahnya triangulasi.

Semoga waktu tidak menjadi kendala. Karena menyimak informasi di era ini relatif bisa dilakukan kapan dan dimana saja. Atensi dan motivasi yang justru sering langka. Sehingga potensi pengetahuan terlewatkan begitu saja.

Apabila pilihan untuk acuh atas satu kasus hukum sudah jadi ketetapan hati, maka satu konsekuensi patut dilakukan: Tidak berkomentar atas kasus hukum tersebut.

Hal ini dilandasi oleh Al-Qur’an surat Al-Isra’ ayat 36, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabannya.”

Sunnatullah Perilaku Kepemimpinan

Pemimpin bertakwa di akhirat nanti akan memohon sungguh-sungguh kepada Allah ta’ala supaya para pengikutnya bisa mendapatkan berbagai keringanan. Dosa-dosa diampuni. Derajat-derajat ditinggikan lagi. Semua orang yang saling kenal dan sayang di dunia diberi kesempatan untuk berkumpul kembali dalam situasi gembira.

Hal ini diteladankan oleh Baginda Rasulullah shallallah ‘alaih wa sallam. Hingga wafatnya, beliau terus menyimpan satu doa mustajab. Beliau akan memanjatkan doa mustajab itu kelak di akhirat, sebagai syafaat kepada umatnya yang sangat beliau cintai.

Sebaliknya pemimpin nir-takwa akan berlepas diri dari para pengikutnya, membiarkan mereka menjalani konsekuensi atas seluruh amal saat di dunia. Pemimpin tipe ini tidak peduli nasib pengikutnya. Apalagi sang pemimpin juga sedang kesulitan. Ia sedang menghadapi pengadilan berat atas seluruh amalannya.

Perilaku kedua tipe pemimpin yang berbeda ini tidak hanya berlaku di akhirat nanti. Di dunia perilaku keduanya hampir sama. Pemimpin bertakwa memiliki kepedulian kepada pengikutnya, sedangkan pemimpin nir-takwa abai.

Oleh karena itu setiap orang yang berada di barisan satu kepemimpinan hendaklah melakukan dua hal sekaligus: Mengikuti ide dan saling nasehat.

Ide itu cenderung permanen dan netral sehingga bisa didiskusikan bahkan diperdebatkan. Sementara orang cenderung berubah dan berpihak. Mengikuti ide berarti menapaki satu jalan konsisten. Sedangkan mengikuti orang berarti menapaki situasi yang bisa berubah kapan saja.

Mengikuti ide berkemungkinan menambah peluang atas pencerahan. Intelektualitas meningkat. Sedangkan mengikuti orang, peluang atas pencerahan bersifat labil, bisa berpeluang baik namun juga tidak. Di sisi lain terbuka peluang untuk terseret pada drama. Kelelahan mental itu potensial terjadi.

Sebagai ikhtiar pencegahan dari segala rusak, hendaklah saling menasehati dilakukan. Pemimpin menasehati pengikut, demikian pula pengikut menasehati pemimpin. Satu sama lain saling menjaga untuk senantiasa dalam kebaikan.

Dengan seluruh ikhtiar tersebut, semoga seluruh pihak berada di atas jalan kebaikan. Di dunia tidak ada masalah yang bersangkutan dengan pengadilan. Apalagi nanti di akhirat, berat nian situasinya. Harapannya semua tuntutan telah sirna, dituntaskan di dunia.

Wallah a’lam.

FU’AD FAHRUDIN

Hidayatullah Libatkan Guru se-Indonesia Susun Buku Ajar Berbasis Tauhid

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua DPP Hidayatullah Bidang Pendidikan, Muzakkir Usman, M.Pd., Ph.D., menegaskan pentingnya percepatan penyusunan buku ajar Pendidikan Integral Berbasis Tauhid (PIBT) sebagai bagian dari penguatan standar kurikulum Hidayatullah di seluruh jenjang pendidikan.

Hal itu disampaikan saat membuka Workshop Online Penulisan Buku Ajar PIBT bertema “Menjadi Penulis Produktif” yang digelar secara daring melalui platform Zoom, Jumat (3/7/2026). Kegiatan ini diikuti 120 tenaga pendidik Hidayatullah dari seluruh daerah di Indonesia yang dipersiapkan menjadi penulis buku ajar berbasis tauhid.

Menurut Muzakkir, pengembangan Pendidikan Integral Berbasis Tauhid selama ini telah melalui proses panjang melalui penyusunan standar kurikulum. Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan kurikulum tersebut ke dalam buku ajar yang dapat digunakan secara sistematis di seluruh satuan pendidikan Hidayatullah.

“Harapan kita pada periode ini, kurikulum Pendidikan Integral Berbasis Tauhid dapat diturunkan ke dalam buku-buku ajar yang mencakup seluruh mata pelajaran di semua jenjang pendidikan, mulai dari PAUD, SD, SMP, hingga SMA,” ujarnya.

Ia menilai penyusunan buku ajar menjadi pekerjaan strategis yang memerlukan keterlibatan seluruh guru Hidayatullah. Potensi sumber daya yang tersebar di berbagai daerah dinilai menjadi modal besar untuk melahirkan bahan ajar yang lahir dari pengalaman praktik pendidikan di lapangan.

“Kita memiliki sumber daya yang luar biasa. Guru-guru dari seluruh Indonesia memiliki pengalaman yang saling melengkapi. Karena itu, proses penyusunan buku ini harus melibatkan sebanyak mungkin guru agar menjadi karya bersama,” katanya.

Muzakkir menegaskan bahwa buku yang disusun bukan sekadar menambahkan ayat Al-Qur’an atau pesan-pesan keagamaan pada setiap materi pelajaran. Menurutnya, pendekatan integral berbasis tauhid harus diwujudkan melalui cara pandang dan penyajian materi yang tetap menjaga kedalaman disiplin ilmu.

“Kita ingin menghadirkan buku matematika berbasis tauhid, sains berbasis tauhid, dan mata pelajaran lainnya. Tetapi jangan sampai pembelajaran sains atau matematika justru terasa seperti pelajaran Pendidikan Agama Islam. Pengetahuan sains dan matematikanya harus tetap bertambah, sementara nilai-nilai tauhid terintegrasi secara utuh,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa penyamaan paradigma mengenai Pendidikan Integral Berbasis Tauhid menjadi tahapan pertama yang harus dipahami seluruh penulis sebelum memasuki proses teknis penyusunan buku ajar.

“Yang pertama ingin kita samakan adalah paradigma Pendidikan Integral Berbasis Tauhid. Setelah itu baru bagaimana mengintegrasikan nilai-nilai tauhid ke dalam materi ajar tanpa menghilangkan kedalaman substansi setiap mata pelajaran,” ujarnya.

Dalam proses penyusunan buku, para peserta akan mendapatkan pendampingan dari mentor yang berpengalaman dalam pengembangan bahan ajar. Pendampingan tersebut diharapkan mampu menghasilkan buku ajar yang memenuhi standar kurikulum Hidayatullah sekaligus relevan dengan kebutuhan pembelajaran di kelas.

Muzakkir mengungkapkan, DPP Hidayatullah menargetkan seluruh buku ajar selesai disusun secara bertahap dalam lima tahun ke depan. Pada tahap awal, penyusunan difokuskan untuk jenjang sekolah dasar, kemudian dilanjutkan ke tingkat menengah.

“Kita tidak ingin buku ini lahir melalui pendekatan top-down. Buku ajar ini harus lahir dari pengalaman para guru di lapangan, dari praktik-praktik terbaik yang selama bertahun-tahun mereka lakukan. Dari akar rumput itulah nanti lahir standar buku ajar Hidayatullah,” katanya.

Ia berharap workshop ini menjadi momentum lahirnya penulis-penulis produktif yang mampu menghasilkan buku ajar berkualitas sekaligus menjadi warisan intelektual bagi perkembangan pendidikan Hidayatullah.

“Mudah-mudahan dari kegiatan ini lahir banyak penulis buku ajar berbasis tauhid. Ini bukan hanya menjadi kontribusi bagi pendidikan Hidayatullah, tetapi juga menjadi amal jariah yang manfaatnya terus dirasakan sepanjang masa,” pungkasnya.

Jejak Nyata Bantuan Hukum untuk Kaum Dhuafa, Dr. Dudung Amadung Abdullah, S.H., M.H. Raih Peringkat 5 Apresiasi Hukum MUI 2026

0

JAKARTA (hidayatullah.or.id) — Dr. Dudung Amadung Abdullah, S.H., M.H. berhasil menempati peringkat kelima dalam ajang penghargaan hukum yang digelar Komisi Hukum Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat, Kamis (2/7/2026). Beliau menjadi salah satu dari 27 perorangan dan lembaga penegak hukum yang dinilai paling berintegritas dalam membela kaum dhuafa serta masyarakat miskin.

Acara yang mengangkat tema “Penguatan Misi Keumatan dan Sinergitas MUI dengan Penegak Hukum untuk Advokasi dan Perlindungan Hukum Bagi Kelompok Dhuafa dan Masyarakat Miskin” ini turut mengumumkan penerima penghargaan kategori perorangan.

Gambaran dan Makna Kegiatan

Seusai menerima penghargaan, Dudung Amadung Abdullah yang juga Ketua DPP Hidayatullah Bidang Organisasi memberikan pandangannya mengenai arti penting dari kegiatan apresiasi yang diinisiasi oleh MUI ini. Menurutnya, setidaknya ada tiga poin penting yang tergambar dari momentum ini.

“Pertama, ini merupakan bentuk keseriusan para ulama dalam mendorong terbangunnya negara hukum yang berkeadilan dengan memberikan apresiasi kepada para pejuang keadilan yang konsen mendampingi masyarakat miskin dan dhuafa, mereka yang selama ini kurang memiliki akses keadilan,” ujar Dudung.

Kedua, lanjut Dudung yang lebih akrab dengan sapaan Abah Dudung, acara ini memberikan penguatan moril kepada para pejuang keadilan bahwa mereka tidak sendirian dalam memperjuangkan hak-hak orang miskin dan dhuafa untuk mendapatkan keadilan.

“Ketiga, bagi masyarakat miskin dan dhuafa yang sedang berhadapan dengan hukum, momen ini membawa angin segar bahwa ke depan akan banyak tangan yang turut memperjuangkan akses keadilan bagi mereka,” imbuhnya.

Dalam kesempatan tersebut, Abah Dudung juga menyampaikan rasa syukur dan apresiasi yang mendalam kepada seluruh pihak yang telah mendukungnya.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang sudah mengusulkan saya sebagai nominator. Terima kasih kepada DPP Hidayatullah yang memberikan rekomendasi, jaringan Hidayatullah di seluruh Indonesia, Muslimat Hidayatullah, Pemuda Hidayatullah, LBH Hidayatullah, Muslimat Dewan Dakwah, MUI Papua Barat Daya, Ikadi Maluku Utara, STIE Hidayatullah, Cordova Peradaban Mulia Tangerang, Kibar Cendekia Muda Bandung, Ulil Amri Kupang, Ma’had Aisyah, Serikat Pekerja Nasional, serta para tokoh dan guru di seluruh Indonesia,” ungkapnya penuh takzim.

Menutup keterangannya kepada media ini, Abah Dudung menaruh harapan besar bagi masa depan peradilan di Indonesia agar semakin berpihak pada kaum lemah.

“Penghargaan ini bukanlah akhir, melainkan sebuah amanah besar untuk terus konsisten di jalur pengabdian. Harapan terbesar saya, momentum ini mampu melahirkan komitmen kolektif yang jauh lebih kuat untuk membela mereka yang terpinggirkan,” ujar Abah Dudung.

Ia menegaskan pentingnya pemerataan akses hukum agar asas keadilan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.

“Jangan sampai keadilan menjadi barang mewah yang hanya bisa diakses oleh mereka yang berpunya. Semoga ke depan, semakin banyak ‘tangan-tangan’ penolong yang tulus bergerak bersama, memastikan bahwa setiap warga negara, tidak terkecuali kaum dhuafa yang sedang mencari keadilan tidak lagi merasa berjuang sendirian,” pungkasnya.

KHUTBAH JUMAT Spirit Muharram, Spirit Hijrah, Menuju Perubahan Kualitas Iman dan Bekal Terbaik Menghadap Allah

Muharram tidak sekadar menjadi penanda pergantian tahun dalam kalender Hijriyah, tetapi juga merupakan momentum terbaik bagi setiap Muslim untuk melakukan hijrah menuju kehidupan yang lebih baik. Pergantian tahun hendaknya menjadi kesempatan untuk mengevaluasi diri, memperbaiki kualitas iman, meningkatkan amal saleh, serta mempersiapkan bekal terbaik untuk menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Melalui khutbah berjudul “Spirit Muharram, Spirit Hijrah, Menuju Perubahan Kualitas Iman dan Bekal Terbaik Menghadap Allah”, Ustadz Ahmad MS mengajak kaum Muslimin memahami bahwa hijrah bukan hanya peristiwa sejarah perpindahan Rasulullah ﷺ dari Makkah ke Madinah, melainkan proses perubahan diri yang terus berlangsung dengan meninggalkan segala bentuk kemaksiatan menuju ketaatan kepada Allah. Hijrah yang sesungguhnya dimulai dari hati, kemudian tercermin dalam ucapan, perbuatan, dan akhlak sehari-hari.

Khutbah ini juga mengingatkan pentingnya mempersiapkan bekal akhirat sebagaimana perintah Allah dalam QS. Al-Hasyr ayat 18. Jamaah diajak untuk memperbaiki kualitas shalat, memperbanyak membaca Al-Qur’an, menjaga lisan, mencari rezeki yang halal, berbakti kepada orang tua, membimbing keluarga dalam ketaatan, serta memanfaatkan media digital sebagai sarana menyebarkan kebaikan. Dengan demikian, Muharram menjadi titik awal hijrah menuju kehidupan yang lebih bertakwa, sehingga setiap pergantian tahun menghadirkan peningkatan iman dan amal, bukan sekadar bertambahnya usia.

Unduh : KHUTBAH JUMAT Spirit Muharram, Spirit Hijrah, Menuju Perubahan Kualitas Iman dan Bekal Terbaik Menghadap Allah

Membanggakan, Utusan NTB Ahmad Sunanul Huda Raih Juara 1 Cabang Murotal Netra Putra MTQ Disabilitas Nasional

PURWOREJO (Hidayatullah.or.id) — Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) kembali menorehkan prestasi gemilang di panggung keagamaan tingkat nasional. Ahmad Sunanul Huda, seorang hamba pilihan yang bertalenta emas utusan dari Bumi Gora, sukses mengukir prestasi prestisius dengan meraih Juara 1 pada cabang Murotal kategori Netra Putra dalam ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) dan Lomba Dakwah Disabilitas Tingkat Nasional 2026. Ahmad Sunanul Huda merupakan sosok yang pernah berkhidmat di Hidayatullah dan hingga hari ini masih menjadi bagian dari Hidayatullah. Beliau juga merupakan pendiri atau pencetus Rumah Quran Al Huda Hidayatullah. Kompetisi inklusif berskala besar ini diselenggarakan secara resmi oleh Pengurus Pusat Majelis Dakwah Islamiyah (MDI) dalam rangka memperingati Milad ke-48 organisasi tersebut.

Babak Grand Final ajang bergengsi bagi para penyandang disabilitas ini berlangsung secara tatap muka penuh khidmat pada hari Jumat, 19 Juni 2026, yang bertepatan dengan tanggal 4 Muharram 1448 Hijriah. Acara dipusatkan di Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah, yang berada di bawah asuhan ulama kharismatik KH Achmad Chalwani Nawawi. Keberhasilan Ahmad Sunanul Huda ini menjadi catatan sejarah yang sangat membanggakan bagi NTB, sekaligus membuktikan bahwa keterbatasan fisik sama sekali bukan penghalang untuk mendedikasikan diri dalam mensyiarkan ayat-ayat suci Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Kompetisi nasional ini tidak hanya menjadi panggung pembuktian prestasi bagi para penyandang disabilitas, tetapi juga berhasil memecahkan rekor dunia dari Guinness World Records. Ajang ini dinobatkan sebagai kompetisi keagamaan ramah disabilitas terbesar di dunia setelah berhasil memenuhi 80 standar penilaian yang sangat ketat. Dari total 301 peserta yang mewakili 26 provinsi di Indonesia dalam proses seleksi daring sejak April lalu, Ahmad Sunanul Huda tampil memukau di hadapan dewan hakim pada babak final yang diikuti oleh 55 finalis terpilih dari berbagai kategori disabilitas, termasuk tuna netra, tuna rungu, tuna wicara, dan tuna daksa.

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga RI/Kepala BKKBN, Dr. Wihaji, S.Ag., M.Pd., yang membuka jalannya babak Grand Final, menyampaikan rasa bangga yang luar biasa terhadap dedikasi para peserta. Ia menegaskan bahwa kemampuan luar biasa para talenta disabilitas dalam melantunkan ayat suci Alquran merupakan bukti keagungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang dititipkan melalui hamba-hamba pilihan-Nya yang istimewa.

Acara puncak penutupan dan penyerahan hadiah dihadiri langsung oleh Ketua Umum DPP Partai Golkar yang juga menjabat sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), H. Bahlil Lahadalia. Dalam sambutannya yang penuh haru dan apresiasi, Bahlil menyampaikan ucapan selamat yang mendalam bagi para pemenang, termasuk kepada Ahmad Sunanul Huda yang telah membawa harum nama Provinsi Nusa Tenggara Barat di kancah nasional. Sebagai bentuk penghargaan konkret atas prestasi luar biasa tersebut, pemerintah bersama pihak penyelenggara mengumumkan pemberian bantuan pendidikan dan beasiswa berkelanjutan hingga jenjang perguruan tinggi bagi para peraih juara pertama di setiap kategori lomba.

Prestasi emas yang diraih oleh Ahmad Sunanul Huda dalam cabang Murotal Netra Putra ini diharapkan mampu menjadi pemantik semangat serta inspirasi bagi masyarakat luas, khususnya di Nusa Tenggara Barat. Keberhasilan ini mengukuhkan sebuah pesan kuat dari Purworejo ke seluruh dunia bahwa dakwah Islam yang inklusif dan ramah disabilitas harus terus didukung, guna memberikan ruang setara seluas-luasnya bagi seluruh lapisan masyarakat untuk terus belajar, berkarya, dan mengukir prestasi tertinggi demi syiar Alquran yang mulia di bumi nusantara.

DPP Hidayatullah: Hari Bhayangkara ke-80 Momentum Perkuat Sinergi Polri dan Elemen Bangsa untuk Indonesia Maju dan Bermartabat

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah KH Naspi Arsyad Lc (Foto: dok.hidayatullah.or.id)
Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah KH Naspi Arsyad Lc (Foto: dok.hidayatullah.or.id)

Jakarta (hidayatullah.or.id)– Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, K.H. Naspi Arsyad, Lc., menyampaikan ucapan selamat memperingati Hari Bhayangkara ke-80 yang jatuh pada hari ini,  Rabu, 1 Juli 2026. Peringatan tahun ini yang mengusung tema “80 Tahun Mengabdi, Polri untuk Masyarakat”, menjadi momentum penting untuk merefleksikan perjalanan dan transformasi Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) sebagai institusi yang semakin profesional, modern, dan responsif dalam melayani masyarakat.

Dari tema yang diusung Kata Kiai Naspi, mencerminkan komitmen Polri untuk terus meningkatkan kualitas pengabdian dalam menjaga keamanan, menegakkan hukum, serta memberikan perlindungan dan pelayanan kepada seluruh rakyat Indonesia.

“Atas nama keluarga besar Hidayatullah, kami mengucapkan selamat Hari Bhayangkara ke-80 kepada seluruh jajaran Polri. Semoga Polri senantiasa diberikan kekuatan dan keistiqamahan dalam mengemban amanah sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat. Transformasi yang terus dilakukan hendaknya semakin memperkuat kepercayaan publik terhadap institusi Polri,” ujar Kiai Naspi dalam keterangannya.

Mantan Ketua Umum Pemuda Hidayatullah ini juga menegaskan bahwa harmonisasi dan kerukunan seluruh elemen bangsa yang terjalin bersama Polri merupakan modal strategis untuk mewujudkan keamanan nasional yang kondusif serta memperkuat ketahanan bangsa dan negara dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara. Olehnya dibutuhkan kesadaran kolektif dan partisipasi aktif dari seluruh komponen bangsa, termasuk organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, lembaga pendidikan, dan masyarakat luas.

“Indonesia lahir dari semangat gotong royong antar generasi bangsa yang menjadi modal sosial yang sangat penting bagi perjalan bangsa ini, sehingga sinergi harmonis dengan berbagai elemen bangsa termasuk di dalamnya Polri adalah sesuatu yang mutlak untuk dilakukan demi menjaga persatuan, memperkuat ketahanan nasional, dan menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat,” tegas Kiai Naspi yang juga anggota Dewan Pertimbangan MUI Pusat.

Sebagai organisasi kemasyarakatan Islam yang telah mengabdi lebih dari setengah abad, Hidayatullah, lanjut Kiai Naspi, berkomitmen untuk terus menjadi mitra strategis Polri dalam berbagai bidang pengabdian kepada masyarakat.

Ia menjelaskan, selama ini Hidayatullah di berbagai daerah telah menjalin kolaborasi dengan jajaran kepolisian melalui beragam program, mulai dari pembinaan keagamaan, pendidikan, pembinaan generasi muda, aksi sosial dan kemanusiaan, penanggulangan bencana, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui sektor pertanian, perkebunan, dan pengembangan usaha produktif.

“Hidayatullah selalu membuka ruang kolaborasi dengan Polri dalam membangun masyarakat yang religius, harmonis, dan berdaya. Kami meyakini bahwa penguatan keamanan harus berjalan beriringan dengan pembangunan karakter, peningkatan kesejahteraan, dan penguatan nilai-nilai moral di tengah masyarakat,” tutup Kiai Naspi.