Beranda blog Halaman 602

Kunjungan BMH ke Markas Organisasi Kemanusiaan Terbesar di Turki

Delegasi BMH dan DPP Hidayatullah di Markas Besar IHH Humanitarian Relief Foundation, Istanbul Foto DPP Hidayatullah
Delegasi BMH dan DPP Hidayatullah di Markas Besar IHH Humanitarian Relief Foundation, Istanbul // Foto: DPP Hidayatullah

Hidayatullah.or.id – Sudah sejak Tsunami 12 tahun silam sama-sama berkhidmat di Aceh, baru sekarang Allah izinkan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) berkunjung ke markas IHH Humanitarian Relief Foundation, organisasi kemanusiaan swadaya masyarakat terbesar di Turki.

Chief Executive Officer BMH Ust. Wahyu Rahman menjelaskan, “Kunjungan ke markas IHH ini sangat penting untuk memetik pelajaran bagaimana yayasan seperti ini bisa mengurus amal shalih di lebih 100 negara secara massive, rapi dan istiqamah serta tetap amanah”.

CEO BMH ketika berkunjung ke markas IHH didampingi oleh delegasi Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah yang dipimpin oleh Ketua Umum Ust. Nashirul Haq. Mereka diterima oleh Munawwar Hussein, Kordinator IHH untuk Wilayah Asia Selatan dan Timur.

“Kami sangat merasa terhormat atas kunjungan BMH dan Hidayatullah, terima kasih banyak,” kata Munawwar, pemuda berkebangsaan Bangladesh ini.

Dalam kunjungan ini dibicarakan berbagai kemungkinan kerja sama antara BMH dan IHH. Munawwar menyatakan terkesan pada jaringan sekolah dan pesantren Hidayatullah yang berjumlah 315 di seluruh Indonesia.

Secara terus terang Munawwar menjelaskan, kendala yang paling dirasakan oleh IHH dalam kinerjanya di Indonesia selama ini adalah masih kurangnya kemampuan organisasi-organisasi mitra dalam menyampaikan laporan yang cepat, rinci, rapi dan bisa dipertanggungjawabkan.

“IHH adalah organisasi masyarakat yang sangat disorot di Turki bahkan di dunia. Karenanya para mitra organisasi harus mampu menyampaikan laporan amanah sesuai standar yang kami tetapkan,” jelas Munawwar.

BMH dan IHH bersepakat menjalin terus komunikasi dan silaturrahim, serta menjajaki kemungkinan kerja sama.
“BMH menilai pengalaman dan kinerja yang selama ini telah digeluti in syaa Allah memberi peluang kerja sama itu,” simpul Ust. Wahyu.

Lebih 80 Ribu Yatim

IHH menyantuni lebih dari 80 ribu anak yatim di seluruh dunia, sekitar 20 ribu diantaranya di Jalur Gaza. Termasuk ratusan anak yatim korban Tsunami Aceh yang tahun lalu belasan diantaranya selesai pendidikan S1.
Di Suriah IHH yang mengerahkan lebih dari 700 orang staf dan relawan menanggung makan tiga kali sehari untuk puluhan ribu pengungsi setiap hari, membangun rumah-rumah singgah, ribuan tenda, menyediakan keperluan musim dingin, serta membangun pabrik-pabrik roti dan membebaskan para tawanan.

November 2015 lalu, salah satu pabrik roti IHH, di Saraqib, Suriah Utara, yang setiap hari memberi makan ribuan pengungsi, dibom oleh pesawat tempur Rusia yang mendukung rezim Assad.

Bukan sekali itu pekerjaan IHH diganggu dengan kekerasan. Mei 2010, kapal Mavi Marmara yang dikordinasi IHH dan beberapa organisasi Eropa dan Timur Tengah, bersama lima kapal lainnya berangkat bawa sekitar 10 ribu ton bantuan kemanusiaan.

Di tengah perairan internasional di Laut Tengah Mavi Marmara dan kapal-kapal itu diserang oleh armada bajak laut zionis israel. Sepuluh relawan IHH terbunuh, 50 orang relawan dari berbagai negara luka-luka ditembaki, lebih dari 600 relawan lain dari 30 negara disekap, disiksa, dan sempat dipenjara.

Zionis Israel berusaha melakukan kampanye hitam terhadap IHH, gagal. Sebaliknya IHH malah berhasil mendorong pejabat-pejabat Zionis Israel diproses di pengadilan berbagai negara termasuk International Criminal Court di The Hague.

Di Afrika IHH membangun puluhan masjid, melakukan operasi katarak gratis untuk ribuan warga lanjut usia, membuat sumur-sumur air minum di puluhan desa.

Di Mindanao, di Uighur Xinjiang, di Turkmenistan, di Kashmir, bahkan di Haiti, IHH selalu mengulurkan tangan menyampaikan amanah dari para donatur bukan saja dari Turki tapi juga dari berbagai negara lainnya.

Di Mindanao IHH menjadi salah satu pihak independen yang diminta ikut mengawasi proses perdamaian antara pemerintah Filipina dan Mujahidin.

Semoga Allah jaga keikhlasan para pengurus dan relawan IHH, dan Allah satukan IHH dan BMH dalam satu shaf amal fii Sabiilillah yang Allah ridhai.*

Akademi Benaa Internasional untuk Kaderisasi Ulama Gandeng Hidayatullah

Prof Jamal Abdul Sattar, Pimpinan Akademi Benaa Internasional untuk Kaderisasi Ulama bersama Ust Nashirul Haq, Ketua Umum DPP Hidayatullah // Foto: DPP Hidayatullah
Prof Jamal Abdul Sattar, Pimpinan Akademi Benaa Internasional untuk Kaderisasi Ulama bersama Ust Nashirul Haq, Ketua Umum DPP Hidayatullah // Foto: DPP Hidayatullah

Hidayatullah.or.id – Terkesan dengan kualitas keilmuan dan akhlaq seorang kader Hidayatullah yang sedang menjalani pendidikan di lembaga ini, Pimpinan Akademi Benaa Internasional di Istanbul mengajak Hidayatullah melaksanakan berbagai program ilmiah dan pendidikan bersama.

“Jaringan nasional yang luas dan fikrah Hidayatullah ini sangat berharga bagi menyebarluaskan Rahmat Allah berupa da’wah Islam,” kata Prof. Jamal Abdul Sattar, Pimpinan Akademi Benaa Internasional yang didirikan oleh Rabithah Ulama Ahlus Sunnah.

Ketua Umum Ust. Nashirul Haq yang memimpin delegasi Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah menyatakan, “Kami berbesar hati dan siap menyambut ajakan mulia ini”.

Akademi Benaa Internasional merupakan sebuah lembaga pendidikan setingkat S2 dan S3 yang memberikan beasiswa penuh kepada kader-kader ulama dari berbagai negara, selama lima tahun masa pendidikan.

Pemberian ijazah Master dan Doktor dilakukan lewat kerja sama dengan tiga universitas: Universitas Tripoli, Lebanon; Universitas Internasional Afrika, Sudan; dan Universitas Islam Internasional, Malaysia.

Di luar program akademik reguler, Akademi ini juga menekankan materi-materi pendidikan kepemimpinan ulama. Termasuk diantaranya dasar-dasar manajemen organisasi, keuangan, komunikasi, diplomasi internasional, sains, psikologi massa dan sebagainya.

Awalnya, lembaga ini berlokasi di Kairo. Namun setelah kudeta militer yang mengakibatkan jatuhnya pemerintahan Presiden Muhammad Mursi, Juni 2013, para ulama yang mengelola Akademi ini memutuskan hijrah ke Istanbul.

“Akademi ini bukan hanya bermaksud menghasilkan ulama, tetapi dengan memohon pertolongan Allah, ingin menghasilkan ulama yang mampu memimpin para ulama,” jelas Prof. Jamal Abdul Sattar. Karena menurutnya, salah satu sebab kelemahan umat Islam yang jumlahnya semakin besar ini ialah lemahnya kepemimpinan ulama.

Dalam pertemuan sesudah solat Jum’at di ruang Pimpinan Akademi itu, pihak Akademi Benaa menawarkan lebih banyak lagi kader ulama Indonesia dididik di lembaga ini dengan beasiswa penuh.

Selain itu, Akademi Benaa juga mengajak Hidayatullah melakukan program kursus keulamaan jangka pendek dalam durasi 2-3 bulan.
Pihak Akademi Benaa juga siap menyambut undangan untuk melaksanakan berbagai daurah (kursus) da’wah dan tarbiyah di Indonesia.

Ya Allah, jagalah keikhlasan dan ketaqwaan para ulama kami, lahirkanlah lebih banyak lagi generasi ulama pewaris Nabi yang baru dari rahim-rahim para ibu kami yang suci.* (Hidayatullah.or.id)

Ketum Narasumber Taklim Kolosal Milad Radio Dakta

0

Ketum DPP Hidayatullah Narasumber Taklim Kolosal Milad Radio Dakta Hidayatullah.or.id – Dalam rangka mentasyakkuri milad ke 24, Radio Dakta menggelar acara taklim kolosal dengan tema “Mewujudkan Indonesia yang Adil dan Beradab” bertempat di aula KH. Noer Alie, Islamic Center Kota Bekasi, Ahad (27/3).

Hadir selaku pembicara, Ketua DPP Hidayatullah Ust. Nashirul Haq yang membawakan materi terkait topik tentang peradaban dalam konsep Islam terkait dengan konteks Indonesia. Selain itu hadir juga Ust. Anwar Anshori Mahdum membawakan ceramah pembuka tentang tasyakkur.

“Kata Adil dan Beradab seringkali disalahpahami karena konsep yang dipakai untuk menjelaskan dua kata ini justru tidak diambil dari ajaran Islam, padahal kata Adil dan Beradab sudah tercantum dalam Al Qur’an sejak 15 abad lalu,” papar Nashirul Haq dikutip laman Dakta.

Selain taklim, acara kali ini juga diisi dengan santunan 500 anak yatim bekerjasama dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Bekasi.

“Kami dari Baznas Kota Bekasi berharap kerjasama dengan Radio Dakta ini dapat menguatkan ekonomi keummatan lewat zakat,” ujar Ismail, Komisioner Baznas Kota Bekasi Bidang Pembinaan dan Penyaluran ZIS.

Sementara itu Direktur Utama Radio Dakta, Andi Kosala menyatakan komitmennya untuk terus mendukung gerakan dakwah Islam melalui jalur media.

“Kita berharap agar Radio Dakta dapat terus memberikan kontribusi positif untuk dakwa Islam di Bekasi khususnya dan Indonesia umumnya,” ungkapnya.

Acara ini terselenggara berkat kerjasama dari Khasanah Sari Roti, Islamic Centre Bekasi, Baznas Kota Bekasi, dan Hidayatullah. (ybh/hio)

Danramil Turut Meriahkan MTQ di Hidayatullah Jayapura

Danramil Turut Meriahkan MTQ di Kampus Hidayatullah Jayapura Danramil Turut Meriahkan MTQ di Kampus Hidayatullah Jayapura2Hidayatullah.or.id – Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) adalah bidang lomba membaca Al-Qur’an dengan bacaan mujawwad, yaitu bacaan Al-Qur’an yang mengandung nilai ilmu membaca (tajwid), seni (lagu dan suara), dan etika (adab) membaca.

Ketua Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an Kota Jayapura yang diwakili oleh Sekertarisnya, Ustadz Fauzi, telah membuka lomba Musabaqah Tilawatil Qur’an ini yang digelar dengan cukup meriah di Pondok Pesantren Hidayatullah Kampung Holtekamp, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, sekaligus memberikan bantuan berupa uang sebesar Rp. 16.000.000-, dalam rangka penyelenggaraan lomba tersebut, Sabtu (26/3/2016).

Turut hadir dalam pembukaan lomba Musabaqah Tilawatil Qur’an tersebut Komandan Rayon Militer (Danramil) 1701-22/Muar Tami yang diwakili oleh Serka Herman Fata, Kadistrik Muara Tami, Ustadz Harjaji S.HI dan 51 orang peserta lomba Putra maupun Putri.

Acara pembukaan lomba Musabaqah Tilawatil Qur’an diawali dengan Pembacaan Kalam Ilahi oleh Ustadz Harjaji S.HI kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu wajib Indonesia Raya. Kemudian penyampaian laporan Ketua Panitia yang disampaikan oleh Sekertaris Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an Distrik Muara Tami Sutatno.

Dalam sambutannya, Sekertaris Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an menyampaikan rasa terima kasih kepada pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah Jayapura atas terlaksananya kegiatan lomba Musabaqah Tilawatil Qur’an tersebut, dimana kegiatan lomba Musabaqah Tilawatil Qur’an tersebut dilaksanakan untuk mencari bibit-bibit atau talenta muda yang berbakat yang nantinya dapat mewakili Provinsi Papua apabila ada lomba Musabaqah Tilawatil Qur’an tingkat Nasional, tentunya akan diseleksi ulang lagi dengan perwakilan dari daerah-daerah lain. (mil/ybh)

Kenapa Beramah-tamah dengan Netanyahu dan ‘Israel’ Itu Sebuah Tindakan yang Salah?

wartawan indonesia dengan pm israel netanyahu2(Risalah dari Departemen Luar Negeri Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah)

  1. Karena Netanyahu adalah pemimpin sebuah organisasi teroris dan penjajah  yang melakukan pembunuhan, penghancuran, dan perampasan tanah sejak Mei 1948. Organisasi teroris dan penjajah itu bernama ‘Israel’. ‘Israel’ bukan sekadar pelaku state terrorism, karena ‘Israel’ adalah teror itu sendiri sejak sebelum diumumkan keberadaannya secara internasional. Palestina yang menjadi tempat hidup damai antara kaum Muslimin, Kristen, dan Yahudi sejak dibebaskan Shalahuddin Al-Ayyubi pada tahun 1187, menjadi kacau sejak penjajah Inggris masuk pada tahun 1917, dan semakin kacau sejak Inggris menyerahkan Palestina kepada gerakan zionis internasional, untuk kemudian diumumkan secara sepihak di atasnya berdiri negara palsu bernama ‘Israel’ pada 14 Mei 1948. Organisasi-organisasi teroris Yahudi bernama Irgun, Stern dan Haganah melakukan pembunuhan, pengusiran, perampasan dan pengusiran besar-besaran atas warga Palestina, yang secara internasional didukung oleh pemerintah Amerika Serikat, Inggris dan Prancis pada saat itu. Apa yang dilakukan ‘Israel’ sejak itu sama dengan yang dilakukan Belanda terhadap Indonesia selama 350 tahun. Bahkan lebih kejam dan sistematis.
  2. Karena Netanyahu bertanggung jawab atas banyak kejahatan terorisme, baik pada periode pertamanya jadi gembong ‘Israel’ (1996-1999) maupun pada periode keduanya (2009-sekarang). Kejahatan terorisme berskala luas yang menjadi tanggung jawabnya terjadi baik di kawasan Palestina yang terjajah, di kota Jerusalem atau Al-Quds, di Tepi Barat, dan terutama di Gaza. Diantaranya ialah serangan terorisme besar-besaran yang dilancarkan selama 8 hari ke Jalur Gaza pada bulan November 2012 dan selama 51 hari dari Juli sampai September 2014, yang membunuh lebih dari 3 ribu orang warga termasuk ratusan anak-anak di bawah usia 15 tahun serta membuat cacat seumur hidup dan luka-luka, serta guncangan jiwa lebih banyak lagi warga Gaza.
  3. Karena Netanyahu pendukung utama semua usaha jahat, baik yang dilakukan oleh parlemen, pemerintah, aparat bersenjata, maupun oleh para permukim ilegal Yahudi ‘Israel’, dalam rangka menghancurkan Masjidil Aqsha secara sistematis. Dimulai sejak Juni 1967 dengan pengepungan Masjidil Aqsha, penggalian terowongan-terowongan di bawah pondasi Masjidil Aqsha, pengusiran sistematis warga Palestina dari sekitar Masjidil Aqsha, penghancuran rumah-rumah dan perampasan tanah-tanah, teror terus-menerus terutama di Jerusalem atau Al-Quds Timur. Sampai dibolehkannya rombongan-rombongan permukim ilegal Yahudi masuk ke Masjidil Aqsha dan melakukan ritual Yahudi di dalam masjid. Penangkapan dan penyiksaan  pemuda-pemuda jama’ah Masjidil Aqsha. Sekarang sebuah rancangan undang-undang sedang dibahas diKnesset parlemen ‘Israel’ untuk membagi komplek Masjidil Aqsha yang luasnya 14,4 hektar menjadi dua: separuh untuk Muslim, separuh untuk Yahudi.
  4. Karena Pengadilan Nasional Spanyol melalui keputusan yang dikeluarkan oleh Hakim Jose de la Mata (12 November 2015) telah memerintahkan seluruh otoritas hukum dan keamanan Spanyol untuk memasukkan nama Benyamin Netanyahu dan enam penjahat ‘Israel’ lainnya ke dalam database nasional kepolisian Spanyol, untuk ditahan apabila sewaktu-waktu memasuki wilayah negeri itu. Keputusan Pengadilan Nasional Spanyol itu berkaitan dengan kejahatan ‘Israel’ berupa serangan bersenjata di perairan internasional atas kapal bantuan kemanusiaan Mavi Marmara (31 Mei 2010) yang sedang dalam proses investigasi olehInternational Criminal Court (ICC) di The Hague. Dalam serangan itu telah dibunuh 10 orang relawan kemanusiaan dan cedera lebih dari 50 orang, serta ribuan ton bantuan kemanusiaan dan perlengkapan relawan dirampas. Tindakan hukum terhadap kejahatan Netanyahu dan ‘Israel’ terhadap Mavi Marmara dan kapal kemanusiaan lain itu juga sedang diproses di pengadilan Afrika Selatan dan Turki.
  5. Karena beramah tamah dengan gembong teroris Netanyahu sama dengan mencela sikap yang telah dipegang Indonesia sejak merdekanya yang mengutuk semua bentuk penjajahan dan bertekad menghapusnya. Kunjungan dan ramah tamah dengan Netanyahu dan ‘Israel’ melegitimasi penjajahan dan teror itu dengan memperlakukan organisasi teror dan gembong terorisme sebagai negara dan negarawan yang pantas dimuliakan. Apalagi pada saat yang sama dengan mengabaikan warga Palestina yang merupakan korban  teror dan penjajahan yang sudah berlangsung selama 68 tahun, yang sedang berjuang melakukan perlawanan terhadap terorisme dan penjajahan ‘Israel’ sebagaimana pernah dilakukan rakyat Indonesia terhadap penjajah Belanda.
  6. فَلَا تُطِعِ الْمُكَذِّبِينَ وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ  وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَّهِينٍ هَمَّازٍ مَّشَّاءٍ بِنَمِيمٍ مَّنَّاعٍ لِّلْخَيْرِ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ عُتُلٍّ بَعْدَ ذَٰلِكَ زَنِيمٍ

“Maka janganlah kamu mentaati orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah dan Utusan Allah). Mereka menginginkan engkau bersikap lunak, lalu mereka bersikap lunak pula. Dan janganlah engkau patuhi setiap orang yang suka bersumpah dan suka menghina, suka mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah. Yang merintangi segala yang baik, yang melampaui batas dan banyak dosa, yang bertabiat kasar, selain itu juga terkenal kejahatannya.” (Kalimat Allah dalam Al-Quran surah Al-Qalam ayat 8-13)

 

Jakarta, 20 Jumadil Akhir 1437 / 29 Maret 2016

Departemen Luar Negeri DPP Hidayatullah

 

Senator NTT Hadiri Pembukaan Rakerda Hidayatullah Kupang

Rapat Kerja Daerah Kota dan Kabupaten Hidayatullah Kupang NTT Rapat Kerja Daerah Kota dan Kabupaten Hidayatullah Kupang NTT_2Hidayatullah.or.id – Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Kupang menggelar acara Rapat Kerja Daerah (Rakerda) bertempat di Masjid Hidayatullah Kampus Dua, Pondok Pesantren Hidayatullah Batakte, Kabupaten Kupang NTT dan dibuka pada Jum’at (25/03/2016).

Hadir dalam kegiatan ini Anggota DPD RI Perwakilan NTT Syafrudin Atasoge S.Pd, Pengurus DPW-DPD Hidayatullah NTT, Imam Masjid se-Kota Kupang, ibu-ibu Majlis Taklim Kota dan Kabupaten Kupang. Total keseluruhan yang hadir tidak kurang dari 300 Jama’ah.

Acara ini di dukung oleh, DPW-DPD Hidayatullah NTT, Muslimat Hidayatullah, Zaidan ElektroniC-ell, dan Percetakan Darvesh.

Selain dibarengi dengan acara pembagian sembako kepada para muallaf dan kaum dhuafa di wilayah ini, Rakerda ini juga dirangkai dengan dialog para Muallaf bersama Syafrudin Atasoge. Sebanyak 100-an muallaf binaan Hidayatullah NTT mendatangi kegiatan ini.

Dalam dialog para Muallaf bersama Syafruddin Atasoge. Seorang yang dituakan bernama Zainudin mewakili muallaf menyampaikan unek unek seputar beragam problem yang dihadapi oleh umumnya muallaf di kawasan tersebut.

Kata Zainuddin, muallaf eks Timor Timur di NTT masih kerap mendapatkan perlakukan diskriminatif dari pihak-pihak tertentu. Termasuk mereka masih dianggap orang kelas dua meskipun sebagai WNI.

“(Masih ada kasus) Rumah ibadah kami tidak diperkenankan menyalakan alat pengeras saat adzan berkumandang. Ada waktu waktu tertentu rumah ibadah kami dilempari saat kami menunaikan sholat Jumat atau tarawih ketika bulan Ramadhan,” beber dia.

Umumnya mereka adalah para muallaf pengungsi dari Timor Leste sejak tahun 1998. Hari ini pengaduan baru disampaikan oleh para muallaf kepada pihak pemerintah dalam hal ini kepada anggota DPD RI Perwakilan NTT.

Ketua DPW Hidayatullah Nusa Tenggara Timur (NTT), Ustadz Usman Manang, S.Sos.I dalam sambutannya mengatakan pihaknya terus memberikan perhatian khusus terhadap masalah umat dan lebih-lebih soal muallaf di kawasan tersebut.

Sementara itu Safrudin Atasoge mengingatkan bahwa jabatan yg diemban saat ini adalah momentum untuk melayani umat Islam di daerah NTT sehingga kepentingan dan keperluan umat Islam bisa disampaikan lewat SMS maupun telepon.

“Saya siap ditegur atau bahkan dimarah-marahin oleh bapak-ibu sekalian ketika ada persoalan yg belum terselesaikan berkaitan dengan kepentingan umat Islam. Misal ada undang undang yg berkaitan dengan rumah ibadah, ketika ada anggaran untuk itu tapi kemudian, tidak ada umat Islam yang duduk di Kursi DPD maka sudah pasti anggaran itu akan dialihkan kepada kelompok-kelompok tertentu,” katanya.

“Semoga amanah ini dapat kami jalankan dengan sebaik baiknya. Pinta doa dari jama’ah,” ujar senator asal NTT yang biasa disapa dengan panggilan Syaf ini.*/Abu Zain Zaidan

PP Syabab Hidayatullah Gelar Dauroh Al Qur’an Nasional

Dauroh Muallamim Al Quran Syabab Hidayatullah 2016_2 DSC_0016 DSC_0025Hidayatullah.or.id – Segenap pemuda Islam harus belajar dan mengajarkan Al Qur’an. Dengan semangat pembelajar yang menggenggam spirit semua tempat sebagai sekolah dan setiap orang adalah guru, pemuda Islam didorong menjadi penggerak utama pembelajaran Al Qur’an.

Demikian disampaikan oleh Pengurus Pusat PP Syabab Hidayatullah, Ilman Abdullah, disela pembukaan acara Dauroh Muallim Al Qur’an Syabab se-Indonesia yang digelar selama 3 hari di Kota Depok, Jawa Barat, dan dibuka pada Jum’at (25/03/2016).

Ketua Panitia Dauroh Muallim Al Qur’an Syabab se-Indonesia 2016 ini mengatakan pengajar atau muallim Al Qur’an saat ini cenderung tidak mendapat perhatian yang serius. Tak sedikit bahkan menilai guru Qur’an sebagai profesi rendahan.

“Padahal, ini adalah pekerjaan bergengsi karena tugasnya adalah mewartakan isi dan hikmah-hikmah Al Qur’an. Karena bergengsi, pekerjaan ini memerlukan kualifikasi dan kompetensi yang juga tidak sederhana,” kata Ilman dalam keterangannya diterima belum lama ini.

Karena itu, lanjut Ilman, pihaknya kembali menggelar acara pelatihan ini dalam rangka mencari bibit-bibit pengajar Al Qur’an yang berkualitas dan memiliki kompetensi memadai dalam mewartakan Al Qur’an.

Selain itu, jelas Ilman, acara yang digelar pihaknya ini sebagai salah satu upaya Syabab Hidayatullah sebagai organisasi kepemudaan nasional untuk turut serta memberantas masih tingginya buta aksara, termasuk aksara Arab, di Indonesia.

Menurut dia, sangatlah ironi Indonesia sebagai negara mayoritas penduduk muslim bahkan diklaim sebagai negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia, namun dengan tingkat buta huruf Al Qur’an masih tinggi.

Ilman menyebutkan, berdasarkan data Pusat Data dan Statistik Kemendikbud tahun 2015, angka buta aksara di Indonesia masih tergolong tinggi yang mencapai 5.984.075 orang yang tersebar di enam provinsi. Enam provinsi ini meliputi Jawa Timur 1.258.184 orang, Jawa Tengah 943.683 orang, Jawa Barat 604.683 orang, Papua 584.441 orang, Sulawesi Selatan 375.221 orang, Nusa Tenggara Barat 315.258 orang.

“Data tersebut baru menjangkau enam wilayah provinsi saja. Artinya, jumlahnya bisa jauh lebih banyak dari temuan tersebut. Bahkan dikalkulasi 54 persen muslim Indonesia buta aksara Al Qur’an,” kata Ilman.

Ilman menambahkan, pemuda Islam harus terus didorong untuk gagah dan percaya diri dalam belajar dan mengajarkan Al Qur’an tidak saja di pusat-pusat kota, tetapi juga mampu menjangkau khalayak awam di pedalaman dan kawasan muslim minoritas.

Sementara itu, Ketua Departemen Dakwah PP Syabab Hidayatullah, Ahmad Muzakky, mengemukakan besarnya pengaruh gaya hidup modern yang serba instan dan praktis, ikut membuat orang malas untuk berlama-lama dalam belajar Al-Qur’an.

Fenomena tersebut, misal Muzakky, dapat dilihat dengan maraknya metode baca Qur’an dalam bentuk digital yang tak lagi mengharuskan ada temu sekemuka antara guru dengan murid.

“Al Qur’an adalah mukjizat yang di dalamnya terkandung hukum, sejarah, dan firman Allah Subhanahu Wata’ala yang harus diimani. Sehingga Al Qur’an adalah himpunan ilmu yang tak bisa dipelajari dengan cara otodidak atau belajar sendiri,” katanya.

Kendati mungkin dianggap rumit, tapi tegas Muzakky, Al Qur’an sangatlah mudah jika kita ingin mempelajarinya. Namun sebagaimana bahasa, Al Qur’an tidak bisa dipelajari tanpa ada guru yang mengajarkan.

Dalam dauroh ini, Syabab Hidayatullah selaku penyelenggara menggunakan metoda GRAND MBA atau Gerakan Nasional Dakwah Membaca dan Belajar Al Qur’an yang merupakan program nasional Hidayatullah sebagai metode pilihan pembelajaran Al Qur’an secara tuntas dan sistematis.

Muzakki mengatakan program pembelajaran Al Qur’an metode Grand MBA ditawarkan kepada masyarakat semata ingin memberikan support dan menemani masyarakat belajar Al Qur’an secara tuntas sesuai dengan tahapan-tahapannya mulai dari terbata-bata tidak bisa sama sekali sampai pada tahapan tartil.

Adapun tahapan belajar Qur’an dalam GRAND MBA adalah memulai dengan terbata-bata atau mutata’ti’, mempelajari makhraj dan shifat, mengetahui kaidah tajwid, memahami tata bahasa, memahami dan merasakan balaghah, dan terakhir hakikat tartil.

Setelah sampai pada tahapan terakhir yaitu tartil, peserta akan dibina dalam halaqah atau majelis-majelis taklim yang dibangun GRAND MBA bekerjasama dengan masjid-masjid yang intinya mempelajari 5 T yaitu Tilawah atau membaca dengan tartil, Tahfidz (menghafal sebanyak mungkin), Tafaqquh (memahami dengan benar), Tathbiq (mempraktikkan dalam kehidupan), dan Tabligh (menyampaikan kepada orang lain).

“Dengan demikian kami berharap, program sinergis ini turut berkontribusi terhadap kemaslahatan umat dan bangsa Indonesia tercinta,” kata Muzakky memungkasi perbincangan.

Generasi Masa Depan

Dauroh Muallim Halaqoh Syabab se-Indonesia ini dilangsungkan di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, yang beralamat di Jl. Kalimulya Kebon Duren, Keluarahan Cilodong, Kota Depok, Jawa Barat.

Adapun tema yang diusung adalah “Penajaman Gerakan Dakwah Pemuda, Menuju Indonesia ber-Qur’an”.

Para peserta yang hadir datang dari berbagai wilayah di Indonesia. Mereka adalah perwakilan-perwakilan pengurus Syabab Hidayatullah dari wilayah masing-masing. Diantaranya, perwakilan Batam, Lampung, Jabar, Jabodebek, Jatim, Bali, NTB, Kaltim, Kaltara, Sulsel dan Sulteng.

Hadir dalam acra pembukaan tersebut Ketua Bidang Pendidikan DPP Hidayatullah Ustadz Drs H Tasyrif Amin, M.Pd.I, Anggota Dewan Mudzakarah DPP Hidayatullah Drs H Nursyamsa Hadits.

Dalam sambutannya, Tasyrif menyampaikan tentang peran pemuda sebagai penerus kepemimpinan, juga sebagai generasi yang mempunyai idealisme serta selalu melakukan transformasi.

“Mau tidak mau, secara sunnatullah, dalam 20 tahun ke depan, yang berperan membangun peradaban Islam adalah para pemuda, sebagai pengambil alih kepemimpinan”, tegas Tayrif.

“Selanjutnya”, tambah Tasyrif, “Pemuda idealis, selalu ingin menempatkan jati diri dan melakukan transformasi untuk melakukan perubahan. Jadi, kalau ada pemuda tidak mau melakukan transformasi, dia akan cepat tua,” terang Tasyrif.

Adapun pembicara kedua, Nursyamsa Hadits, memberikan wejangan yang tak kalah menarik kepada para peserta. Dalam penyam Hadits, dalam penyampaiannya ia memberi motivasi dan meyakinkan para peserta agar tetap berwirausaha disamping kegiatan para muallim sebagai pengajar al-Qur’an.

Pada dauroh Al Qur’an ini panitia menghadirkan instruktur nasional GRAND MBA diantaranya Ustadz Nur Fuad, M.Ag, yang sekaligus adalah Ketua Departemen Pembinaan Anggota DPP Hidayatullah. */Fahruzzaman Aziz/BR

Sejuk Ukhuwah Islam di Sudan

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Khartoum, Sudan, menyambut sejuk kehadiran rombongan DPP Hidayatullah ke ibukota negara Arab-Afrika itu. // Foto: DPP Hidayatullah
Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Khartoum, Sudan, menyambut sejuk kehadiran rombongan DPP Hidayatullah dipimpin oleh Ketua Umum Ustadz Nashirul Haq (berkopiah memegang cinderamata), ke ibukota negara Arab-Afrika itu. // Foto: DPP Hidayatullah

Kesejukan Ukhuwwah Mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Sudan dengan Hidayatullah2

Silaturrahim DPP Hidayatullah dengan mahasiswa Indonesia di Universitas Afrika. Acara itu digelar lesehan di taman Asrama Universitas Afrika, beratapkan langit dan bintang-bintang Afrika // Foto: DPP Hidayatullah
Silaturrahim DPP Hidayatullah dengan mahasiswa Indonesia di Universitas Afrika. Acara itu digelar lesehan di taman Asrama Universitas Afrika, beratapkan langit dan bintang-bintang Afrika // Foto: DPP Hidayatullah

Hidayatullah.or.id – Biasanya ukhuwwah itu hangat. Tapi di Khartoum hawa sudah sangat panas. Jadi ukhuwwah itu sejuk. Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Khartoum menyambut sejuk kehadiran rombongan DPP Hidayatullah ke ibukota negara Arab-Afrika itu.

Buah-buahan, minuman dan biskuit sudah dibagi di piring-piring berjumlah sama dengan jumlah anggota rombongan tetamu.

Malam itu, suasana sekretariat sekaligus asrama PPI sejuk, akrab, dan asyik duduk lesehan sambil mendengar informasi dan taushiyah dari para tamu.

Dalam kalimat sambutannya, Kautsar Afdhal Ketua Umum PPI Sudan bercerita, kuliah di negeri itu lebih menantang dibanding di negara-negara lain.

“Kata pendahulu kita, negeri ini adalah tempat belajar ilmu dan sekaligus belajar sabar. Kehidupan di sini lebih keras,” ujarnya.

Menurutnya, kalau seorang mahasiswa sudah betah kuliah di Sudan, maka akan betah kuliah di negara-negara lain.
Kautsar menambahkan, selama ini tidak sedikit mahasiswa Indonesia di Sudan yang pulang atau pindah kuliah ke negara karena tak tahan.

Bujangan asal Aceh yang sedang menekuni kuliah magister syari’ah ini pun menyampaikan rasa terima kasih mahasiswa-mahasiswa Indonesia atas kunjungan rombongan Hidayatullah sebagai penyemangat mereka bertahan di Sudan.

Ketua Umum DPP Hidayatullah Ustadz Nashirul Haq mengawali taushiyahnya dengan berbagi pengalaman selama menempuh pendidikan. Sejak S1 di Madinah, S2 di Malaysia, hingga menyelesaikan S3 saat ini di negeri yang sama, intinya perjuangan menuntut ilmu itu dimanapun sama.

“Tinggal seseorang merasa dirinya sedang berjuang atau tidak,” katanya.

Diantara tantangan di Sudan adalah kondisi alamnya. Adapun kelebihan Sudan, orangnya ramah-ramah dan akhlaqnya lembut mirip kebanyakan orang Indonesia.

“Kami selama di sini tidak pernah melihat orang Sudan ngamuk,” ujar Ust Nashirul setengah bergurau. Ia pun berpesan kepada anggota PPI untuk memposisikan kehadiran mereka di Sudan sebagai seorang Mujahid.

“Tibanya kalian di sini adalah amanah dari Allah,” ujarnya.

Silaturahim ini dihadiri CEO BMH Ustadz Wahyu Rahman, Ketua Bidang Ekonomi Ustadz Asih Subagio, dan Ketua Departemen Luar Negeri Dzikrullah.

Hadir sebagai shohibul bait segenap jajaran pengurus PPI Sudan, serta puluhan anggotanya. Selama sekitar 2 jam, berlangsung presentasi dan diskusi yang cukup dinamis. Tema yang diangkat ketiga pembicara itu cukup menyengat para mahasiswa.

Dzikrullah menyampaikan, ada empat tema paling menarik dibicarakan oleh para mahasiswa. Yaitu: keinginan untuk cepat selesai kuliah atau berprestasi; berjodoh; berkarir atau mencari maisyah setelah kuliah; serta lapangan da’wah yang akan digeluti.

“Betul kan urusan Antum yang paling penting keempat hal itu?” tanyanya, disambut derai tawa para mahasiswa.

Mumpung masih belajar, kata Dzikrullah, para mahasiswa perlu sering mengkaji dan mensimulasi keempat tema itu, agar mereka kelak mendapatkan yang terbaik.

Secara umum, keempat pembicara menyampaikan kondisi terkini Indonesia yang sedang digempur habis-habisan oleh para musuh Islam. Baik dari segi ekonomi, pemikiran, keagamaan, politik, dan sebagainya.

Asih Subagyo menyemangati para mahasiswa untuk mulai belajar berdagang. “Sebelum menikah lalu full time menjadi seorang Nabi, Rasulullah semasa mudanya seorang pedagang pekerja keras yang jujur, sukses dan disegani,” papar Asih.

Tentu saja bagian dari keterampilan yang dikembangkan adalah manajemen waktu antara belajar dan berdagang. Asih sangat mengapresiasi beberapa mahasiswa yang sudah berani berdagang sambil kuliah.

Pada sesi dialog, sejumlah mahasiswa bersemangat mengajukan pertanyaan maupun mencurahkan isi hati. Di antaranya Afifurrahman. Mahasiswa asal Palembang yang sudah 2 tahun di Sudan ini menanyakan, sebagai mahasiswa, bagaimana seharusnya mereka menyikapi berbagai kondisi yang berat di tanah air itu.

Dzikrullah menjawab, “Antum semua jangan pesimis. Tantangan yang dihadapi Rasulullah dan para Sahabat jauh lebih susah dan berat daripada tantangan yang kita hadapi sekarang. Jikalau kita berhasil memegang dan hidup dengan Al-Quran dan As-Sunnah sebagaimana Rasulullah dan para Sahabat dulu, niscaya ancaman apapun bisa diatasi. Karena keduanya memang dibekalkan untuk kita menyelesaikan masalah ekonomi, politik, kebudayaan, pendidikan, hubungan internasional, perang, damai sampai akhir zaman,” jawab Dzikrullah.

Ustadz Nashirul Haq menutup dengan mengingatkan, sudah menjadi sunnatullah, untuk mencapai sesuatu yang ideal, harus melalui proses. Nabi Muhammad contohnya, tidak serta merta menjadi seorang Rasul, tapi melalu proses panjang.

“Kita belum terlambat. Yang mau mengembangkan usaha, masih ada waktu. Kalau berminat jadi pemimpin, mulai sekarang harus sudah mulai aktif mengurus orang lewat berorganisasi dan berdagang,” pesannya.

Asrama Universitas Afrika

Pada malam berikutnya, rombongan DPP Hidayatullah kembali disambut sejuk oleh para calon ulama itu. Kali ini lesehan di taman Asrama Universitas Afrika, beratapkan langit dan bintang-bintang Afrika.

Sebidang halaman berumput diterangi lampu-lampu jalan di kompleks universitas itu menjadi saksi silaturahim DPP Hidayatullah dengan sekitar 50 mahasiswa. Zaim Hasbullah, pembawa acara yang terampil dan humoris menyampaikan rasa syukurnya kepada Allah atas kehadiran rombongan dari Indonesia.

Sesuai rencana, Zaim meminta satu per satu tamu yang hadir menyampaikan pemaparan sesuai bidang yang ditekuni masing-masing 15-20 menit.

Ustadz Nashirul Haq memaparkan materi “Kepemimpinan dalam Islam”, dengan mengutip ulama yang banyak menulis tentang kepemimpinan, politik, negara dan kekhalifahan, Abu Hasan Ali bin Habib Al-Mawardi Al-Bashri alias Al-Mawardi, yang hidup antara tahun 364 sampai 450 H.

Dalam karyanya, Al-Ahkam Al-Sulthaniyah, ulama itu menulis bahwa kepemimpinan dan negara bertugas utama menjaga agama dan kehidupan beragama seluruh rakyatnya. Jadi kepemimpinan sangat berkait dengan urusan iman.

“Pemikiran yang memisahkan Islam dengan kepemimpinan atau negara adalah pemikiran yang menyesatkan,” demikian ditegaskan oleh Ustadz Nashirul.

“Para ulama telah mengatakan, kepemimpinan dalam Islam ditegakkan dalam rangka melanjutkan risalah kenabian,” ujarnya.

Ada beberapa tugas utama kepemimpinan dalam Islam yang disampaikannya. Di antaranya, pertama, memastikan rakyat senantiasa dalam kebenaran dan memastikan syariat Islam jalan. Kedua, kepemimpinan mengantarkan masyarakat menjadi makmur, sejahtera, dan damai sentosa.

Kemudian, kepemimpinan mengantar masyarakat untuk menjalankan kewajiban terhadap sesama manusia dan lingkungan.

Intinya, menurut kesimpulannya Ustadz Nashirul, fungsi kepemimpinan berpengaruh pada kehidupan manusia dunia dan akhirat.

Seperti malam sebelumnya di PPI, pada acara kali ini pematerinya juga Babeh Dzikrullah, Asih Subagyo, dan Ustadz Wahyu Rahman.

Dzikrullah menyampaikan, dari berbagai pengalaman dan pemahamannya selama menjadi wartawan, ia menarik satu kesimpulan:  “Media massa yang paling kuat dan paling berpengaruh di dunia ini hanya satu, Al-Quranul Karim,” kata pria yang pernah mengemban amanah sebagai pemimpin redaksi majalah Suara Hidayatullah ini, sembari mengajak para mahasiswa untuk bersemangat, bangga dan percaya diri bila sudah menjadi wartawan-wartawan Al-Quran.

“Karena tidak ada berita yang lebih layak diberitakan kepada manusia melebihi Al-Quran,” tegasnya.

Asih Subagyo memaparkan materi kewirausahaan. Menurutnya, dengan berbagai tantangan yang ada di Sudan, jika para mahasiswa berhasil berbisnis di sini, “Insya Allah kalian akan berhasil pula berbisnis di Indonesia,” katanya semangat.

Pembicara terakhir, Ustadz Wahyu Rahman memaparkan soal kader da’i dan gerakan da’wah.  Beliau mengingatkan seluruh mahasiswa yang hadir, sehebat apapun ilmu dan keterampilan seorang kader da’wah tidak akan menjadi kekuatan yang berarti bila bekerja sendirian.

“Hiduplah dan bekerjalah secara berjama’ah. Semua jama’ah yang menegakkan Tauhid, Syari’at Islam dan kepemimpinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah silakan bergabung dan kuatkan barisannya. Nanti Allah yang akan mempersatukannya selama kita sama-sama ikhlas mencari ridha Allah. Tapi kalau yang dicari cuma dunia, tidak akan bersatu itu!,” katanya.

Tak terasa, penyampaian keempat pembicara itu mengantarkan waktu mendekati tengah malam. Usai sesi tanya jawab, acara ditutup dengan ramah tamah.

Hidangan nasi bungkus, buah-buahan, dan minuman segar pun disantap bersama-sama. Sambil lesehan di atas terpal, terjalin keakraban antara rombongan DPP Hidayatullah dengan para mahasiswa.

Sementara mereka yang belum puas dengan materi “muhadharah”, tampak menanyakan berbagai hal kepada para tamu sesuai bidang yang diminatinya.

Malam yang hangat itu pun berlalu dalam dekapan ukhuwwah. Semoga suasana demikian selalu terjaga dan Allah kekalkan dalam Islam.* (Hidayatullah.or.id)

Halaqah Spesial Mahasiswa Hidayatullah di Khartoum

20160320234821Hidayatullah.or.id – Dalam rangkaian kunjungan ke Sudan, rombongan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah mengkhususkan waktu untuk duduk berhalaqah dengan para mahasiswa kader setiap pagi usai shalat Subuh.

Selalu dimulai dengan membaca, menterjemahkan kata per-kata dan metadabburi ayat-ayat Al-Quran, halaqah itu lalu diisi dengan materi-materi khusus sesuai bidang tugas para anggota DPP Hidayatullah.

Pemateri pertama, Ketua Umum Ustadz Nashirul Haq, membawakan tema sejarah, visi dan misi dakwah. Lembaga ini lahir bukan secara kebetulan, bukan ikut-ikutan. Bukan pula hanya menambah jumlah pesantren dan ormas Islam yang ada.

“Hidayatullah lahir dari sebuah visi besar Ustadz Abdullah Said –semoga Allah menyayangi beliau– yang kemudian melahirkan gerakan perjuangan Islam yang saat ini hendak ikut membangun peradaban Islam,” jelasnya.

Dalam mengejawantahkan visi itu, Hidayatullah mengusung sejumlah misi. Pertama, melahirkan kader-kader yang berkualitas dari segi keilmuan, spiritulitas, moralitas, dan yang lain. Hidayatullah pun menjadikan tarbiyah dan dakwah sebagai mainstream gerakannya.

Misi kedua, membangun komunitas Islam dan jamaah yang solid dari berbagai instrumen kemasyarakatan. Misi ketiga, melaksanakan kegiatan keislaman termasuk melalui berbagai organisasi otonomnya.

Misi keempat, membangun sinergi dan kerjasama dengan seluruh komponen umat Islam ahlu sunnah wal jamaah untuk hal-hal yang memang bisa disinergikan. Misi kelima, mengajak pemerintah dan masyarakat untuk bersama membangun peradaban Islam.

Pemuda 20 Tahunan

Ustadz Nashirul Haq mengungkap sejarah singkat kelahiran Hidayatullah. Sekitar 44 tahun yang silam, Ustadz Abdullah Said yang hijrah dari Makassar ke Balikpapan merintis da’wahnya dalam bentuk berbagai pelatihan. Bahkan dalam bentuk kursus bahasa Arab dan Inggris.

Namun inti dari semua kegiatan itu menyampaikan risalah Tauhid lewat kajian-kajian Al-Quran sebagaimana yang pernah dilakukan Rasulullah. Ustadz Abdullah Said dan para perintis Hidayatullah waktu itu adalah anak-anak muda berusia 20-an dengan semangat baja dan cita-cita menjulang tinggi.

“Jadi waktu itu beliau dan kawan-kawan memulai pekerjaan besar yang kita rasakan hasilnya 40 tahun kemudian. Ini harus jadi motivasi untuk Antum pada usia yang sama sudah menghasilkan karya apa?,” tantang Ust. Nashirul kepada para kader mahasiswa di Khartoum.

Dalam perjalanannya, da’wah Hidayatullah dimulai dari kota Balikpapan, lalu berpindah ke desa Gunung Tembak, kawasan pinggiran 32 kilometer dari kota.  Di tempat inilah Ust. Abdullah Said dan kawan-kawan, menuangkan seluruh yang menjadi cita-citanya tentang masyarakat Islam di kampus seluas 150 hektar.

Gunung Tembak sering disebut sebagai “alat peraga Islam sebagai Rahmatan lil ‘Alamiin”. Seiring berkembangnya da’wah, sehingga jaringan di seluruh Indonesia berjumlah ratusan, Hidayatullah merasa perlu memilih pakaian yang lebih mudah dipahami kebanyakan masyarakat.

Maka, dipilihlah format organisasi massa sebagai penghubung mata rantai persaudaraan gerakan da’wah yang sudah menyebar. Intinya tetap sama: lembaga perjuangan menyebarkan Rahmat Allah berupa Islam.

Pemateri kedua, Ustadz Wahyu Rahman, Bendahara Umum sekaligus CEO BMH, menyampaikan tema mencetak kader dan mengembangan jaringan da’wah.

Pria yang sudah malang melintang ditugaskan membangun lembaga da’wah dari Sulawesi, Aceh sampai Jakarta ini menekankan proses Tazkiyah (pensucian jiwa) sebagai pangkal langkah semua gerakan. Tazkiyah sangat vital untuk mengikis kesombongan dalam jiwa seorang da’i.
“Sebab kesombongan itu akan menghalangi cahaya ilmu yang berasal dari Wahyu Allah,” ujar Ust. Wahyu.

Ditambahkannya, medan da’wah yang baik justru yang memberikan banyak benturan dan rintangan bagi seorang da’i supaya dirinya semakin mendekat dan bergantung hanya kepada Allah.

Sudan Bagus untuk Tazkiyah

Dalam pandangan Ust. Wahyu, kondisi Sudan menurutnya sangat baik bagi para kader mahasiswa calon da’i dan ulama.

“Sudan ini lahan yang subur untuk mentazkiyah diri. Cuaca panas, airnya kurang, makanannya kurang, cocok dengan kita,” tukas Ust. Wahyu yang murah senyum.

Suasana di Sudan, lanjutnya, sepatutnya dimanfaatkan oleh para mahasiswa untuk menggerakkan, menginspirasi, dan membangun kesadaran dengan keilmuan mereka.

Sebagaimana telah dialami Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam perjalanan da’wahnya, beliau ditempa oleh berbagai keadaan yang susah dan berat. “Maka lahirlah kader-kader da’wah beliau yang hebat,” jelas Ust. Wahyu.

Pemateri ketiga, Asih Subagio, Kepala Bidang Ekonomi DPP Hidayatullah, yang menyampaikan tema tentang Sikap Mental Kader terhadap Harta dan Bagaimana Mengelola Sumberdaya Harta Gerakan Da’wah.

Ia mengatakan, almarhum Ust. Abdullah Said membangun jiwa kader yang mandiri sejak awal, yang sangat diperlukan bagi mental kewirausahaan.
Fase berdagang yang dilalui Muhammad muda sebelum diresmikan sebagai Utusan Allah, itu suatu fase yang luar biasa, kata Asih yang seorang pengusaha bidang teknologi informasi.

“Prinsip dagang, sekali Antum melakukan kecurangan, selamanya orang susah mempercayai Antum. Pilihan Antum cuma dua, jujur atau hancur,” tegas Asih, merupakan prinsip yang sangat vital bagi seorang kader.

Ia menjelaskan, Rasulullah diberi predikat Al-Amin (yang dipercaya) oleh masyarakat Arab saat beliau menjadi seorang pedagang.

Asih juga mengingatkan, delapan dari sepuluh Sahabat Rasulullah yang dijamin masuk Syurga adalah pedagang.  Asih mendorong agar para kader mahasiswa, selain tekun menuntut ilmu juga mengembangkan jiwa dan pengalaman wirausahanya.

Pemateri terakhir, Dzikrullah dari Departemen Luar Negeri yang membawakan tema Riset sebagai Alat Penting Mengenal Medan Da’wah.  Materi ini memberikan pengantar pengetahuan tentang pentingnya para kader da’wah memiliki keterampilan mengumpulkan, mengelola, menganalisa dan menyebarluaskan informasi demi memaksimalkan efek da’wah.

Para mahasiswa kader di Sudan menyatakan sangat gembira dengan program kunjungan dan halaqah-halaqah spesial ini.

“Kami berharap kunjungan seperti ini dilakukan secara rutin setahun sekali,” kata salah seorang mahasiswa kader, sembari mengingatkan agar siapapun yang akan berkunjung berkenan membawakan kardus berisi kecap, sambal botol, dan makanan apa saja khas Indonesia yang selalu dirindu-rindu oleh lidah para mahasiswa di perantauan.* (Hidayatullah.or.id)

Allah Sambungkan Indonesia-Sudan-Suriah di Jum’at Berkah

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Ust Nashirul Haq bersama Syaikh Abdul Hayy Yusuf, Wakil Ketua Perhimpunan Ulama Sudan // Foto DPP Hidayatullah
Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Ust Nashirul Haq bersama Syaikh Abdul Hayy Yusuf, Wakil Ketua Perhimpunan Ulama Sudan // Foto DPP Hidayatullah
Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Ustadz Nashirul Haq bersama Ketua Rabithah Ulama Muslimin Sudan Syaikh Amin Al-Hajj Muhammad Ahmad di kediamannya // Foto: DPP Hidayatullah
Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Ustadz Nashirul Haq bersama Ketua Rabithah Ulama Muslimin Sudan Syaikh Amin Al-Hajj Muhammad Ahmad di kediamannya // Foto: DPP Hidayatullah
Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Ust. Nashirul Haq bersama Syaikh Abdul Hayy Yusuf, Wakil Ketua Perhimpunan Ulama Sudan. // Foto DPP Hidayatullah
Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Ust. Nashirul Haq bersama Syaikh Abdul Hayy Yusuf, Wakil Ketua Perhimpunan Ulama Sudan. // Foto DPP Hidayatullah

Hidayatullah.or.id – Salah satu kenikmatan safar jika Allah pertemukan kita dengan para ulama rabbani, ulama-ulama yang berkhidmat kepada manusia di atas jalan yang dituntunkan Allah dan Rasul-Nya.

Jum’at awal Maret lalu itu DPP Hidayatullah mendapat rezeki besar berjumpa dua ulama di belakang mihrab sebuah masjid: Syaikh Abdul Hayy Yusuf, Wakil Ketua Perhimpunan Ulama Sudan, dan Syaikh Muhammad Yasir Al-Musdi, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Ulama Suriah yang sedang bertamu ke Sudan.

Beberapa saat sebelumnya, Syaikh Muhammad Yasir menggetarkan kalbu ribuan orang jama’ah shalat Jum’at dengan khutbahnya yang mengingatkan umat Islam untuk merangkul dan memeluk saudara-saudaranya di Suriah yang sudah 5 tahun menghadapi kezhaliman besar rezim Assad yang didukung oleh Syiah Iran, Syiah Lebanon, Syiah Iraq, Syiah Afghanistan dan Russia.

“Keluarga-keluarga kalian di Suriah hanya menginginkan perubahan alamiah sesudah lebih 40 tahun ditindas oleh tirani minoritas Nusairiyah-Alawiyah (salah satu etnik Syiah), tapi dihadapi dengan penyiksaan, pembantaian dan penghancuran sampai hari ini. Dan mereka sabar,” tegas Syaikh Muhammad Yasir dari atas mimbar.

 

Di belakang mihrab saat ditemui Ketua Umum DPP Hidayatullah, Ustadz Nashirul Haq, Syaikh Yasir menyampaikan harapan agar silaturrahim antara Indonesia dan Suriah terus dikuatkan, sampai perdamaian Allah kembalikan ke Bumi Syam.

Syaikh Abdul Hayy Yusuf, ulama muda Sudan yang kharismatik menyambut gembira ziarah saudara-saudaranya dari Indonesia.

“Saya sungkan pada kalian, baru berkunjung di akhir ziarah, sehingga saya tak sempat menjamu kalian sebagaimana sewajibnya,” katanya kepada Ust. Nashirul Haq.

Sebaliknya Ust. Nashirul Haq meminta maaf karena berziarah di akhir kunjungan ke Sudan, “Waktu pertama ke sini kami diberi tahu Syaikh Abdul Hayy masih keletihan sepulang umrah”.

Sambil menitipkan mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang belajar di Sudan agar selalu mendapat bimbingan dari para ulama di negeri itu. Keduanya bersepakat untuk terus melanjutkan persaudaraan ini.

Ulama Produktif

Pada hari lain, rombongan DPP Hidayatullah secara khusus menziarahi Syaikh Amin Al-Hajj Muhammad Ahmad, salah satu ulama paling istiqamah yang mengasuh majlis ilmu sekaligus paling produktif menulis buku.

Saat ini setiap hari ba’da subuh dan antara maghrib dan isya, Masjid Al-Makmur di dekat rumahnya dipenuhi ratusan pemuda dari berbagai bangsa menyimak pembacaan kitab hadits Sunan An-Nasa’i (urutan ketiga terkuat sesudah Bukhari dan Muslim).

Sesekali, Syaikh Amin menyela muridnya yang asal Indonesia yang bertugas membaca hadits demi hadits, untuk memberikan penjelasan singkat laksana sebuah ensiklopedi hidup.

Menurut catatan ulama muda Indonesia, Dr. Adian Husaini, selama lebih dari 10 tahun, sejumlah Kitab telah ditamatkan di majlis Syaikh Amin, seperti Kitab Shahih Bukhari, Shahih Muslim, al-Risalah Imam Syafii, al-Muwaththa’ Imam Malik, dan sebagainya.

(Baca: Nasihat dan Teladan Syaikh Amin Al-Hajj Sudan)

Tentang mahasiswa Indonesia yang bertugas membacakan hadits-hadits dan kitab, Syaikh Amin menyatakan, “Sejak dulu mahasiswa Indonesia selalu berprestasi dan berakhlaq baik,” kata Syaikh Amin kepada tamu-tamunya.

Sore itu kemesraan hubungan itu ditunjukkan juga, ulama berusia 69 tahun ini menyerahkan seikat kunci kepada salah satu mahasiswa Indonesia yang mengantar kami, memintanya pergi ke gudang buku di halaman rumahnya, dan menyebutkan judul-judul buku yang hendak ia hadiahkan kepada seluruh anggota rombongan.

Setiap orang dapat 7-8 buku dengan berbagai tema, gratis. Diantaranya berjudul “Bukan Kebangkitan Ulama Jika Tidak Disertai Kebangkitan Islam yang Sesuai Tuntunan (Wahyu dan Sunnah)”. Semua hasil karya pena Syaikh Amin. Subhanallah.

Belum cukup sampai di situ, Syaikh Amin yang juga Ketua Umum Rabithah Ulama Muslimin sendiri yang menyuguhkan minuman dingin dan panas mondar mandir mengangkat nampan berisi gelas dan cangkir untuk seluruh rombongan.

Tak henti-hentiknya beliau menyilakan para tamunya untuk minum, makan biskuit dan duduk istirahat dengan santai.  Bicaranya pelan, lembut tapi jelas terdengar.

Wajahnya teduh dan menenangkan. Air mukanya gembira mendengar semua penjelasan Ustadz Nashirul Haq tentang pekerjaan-pekerjaan da’wah dan tarbiyah yang sedang ditekuni di Indonesia.

“Ini kita bagaimana membalasnya ini?! Masya Allah…” gumam Asih Subagyo, Kepala Bagian Ekonomi DPP Hidayatullah.

Semoga Allah balas kebaikan beliau dengan penjagaan terbaik. Semoga Sudan semakin berkah karena dijaga oleh ulama-ulama rabbani-nya. (Hidayatullah.or.id)