Beranda blog Halaman 603

SAR Hidayatullah Kembali Gelar Diklat Nasional Kebencanaan

SAR Hidayatullah Kembali Gelar Diklat Kepemudaan Nasional SAR Hidayatullah Kembali Gelar Diklat Kepemudaan Nasional2 SAR Hidayatullah Kembali Gelar Diklat Kepemudaan Nasional3 SAR Hidayatullah Kembali Gelar Diklat Kepemudaan Nasional4 SAR Hidayatullah Kembali Gelar Diklat Kepemudaan Nasional5Hidayatullah.or.id – Tim Search and Rescue (SAR) Nasional Hidayatullah kembali menggelar acara pendidikan dan latihan (diklat) yang digelar selama 10 hari di dua tempat yaitu di Kota Depok serta Kota Bogor dan dibuka pada Sabtu (20/03/2016).

Diklat yang diikuti oleh 40 peserta anggota SAR Nasional Hidayatullah dari perwakilan berbagai wilayah se-nusantara ini dibuka oleh Ketua Bidang Pelayanan Ummat Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Drg. Fathul Adhim, M.KM.

Dalam sambutannya, Fathul Adhim mengapresiasi kiprah SAR Nasional Hidayatullah hingga saat ini. Fathul berharap SAR Hidayatullah dapat terus menguatkan fokus peranannya tersebut dalam pengabdian terhadap kemanusiaan.

“Meskipun DPP Hidayatullah tidak secara aktif memberikan dukungan khususnya materil, SAR Hidayatullah bisa terus survive dengan swadaya komunitas dan dukungan masyarakat. Di mana ada bencana, di situ Insya Allah ada relawan SAR Hidayatullah,” kata Fathul.

Fathul pun memuji konsistensi SAR Hidayatullah dalam aksi-aksi pertolongan kebencanaan yang seirisan dengan itu terus melakukan kaderisasi lahirnya rescuer tangguh, andal, dan tanggap.

Ia mencontohkan, saat SAR Hidayatullah menggelar DIKLAT pertama kali yang digelar di Cibodas, saat itu bertepatan dengan kejadian bencana besar tsunami di Aceh tahun 2004 yang menewaskan tidak kurang dari 500.000 jiwa dalam sekejab.

“Saat itu diklat tidak jadi di Cibodas, peserta yang tadinya akan mengikuti Diklat itu dikirim praktik langsung terjun ke lokasi yang nyata tsunami Aceh,” kata Fathul yang ketika itu menjadi pimpinan tim relawan dari Hidayatullah Peduli bersama SAR Hidayatullah.

Fathul menceritakan, SAR Hidayatullah ikut terjun langsung dalam membantu para korban bencana. Bahkan, Menteri Olah Raga dan Kepemudaan pada saat itu, Adhiyaksa Dault, ketika memberikan sambutan dalam peresmian dan pelantikan pengurus Team SAR Hidayatullah menyatakan bahwa salah satu relawan yang datang pertama kali memberikan pertolongan di tanah Aceh adalah Tim SAR Hidayatullah.

“Saya berharap SAR Hidayatullah terus menguatkan perannya dengan membangun profesionalisme dan keandalam tim untuk terus berbuat kebajikan demi kemaslahatan bangsa dan kemanusiaan secara universal,” kata Fathul menutup sambutannya.

Sementara itu, Ketua Umum SAR Nasional Hidayatullah, Syaharuddin Yusuf, yang ditemui wartawan usai pembukaan diklat, mengemukakan diklat nasional yang digelar pihaknya ini diikuti oleh 40 perwakilan peserta yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Kata Syahar, diklat ini dipandu oleh instruktur terakreditasi yang berasal dari berbagai institusi diantaranya dari TNI, Basarnas, dan pengurus pusat SAR Hidayatullah.

Dia menambahkan, peserta akan mendapatkan tiga materi pelatihan yaitu meliputi Medical First Responder (MFR), Emergency Medical Service (EMS), Water Rescue, Montenering, dan lain-lain.

“Diklat ini dilakukan indoor dan outdoor dan diselenggarakan di dua tempat. Untuk water rescuer dilakukan di Setu Cikaret Cibinong, susur Gunung Kapur, dan indoor untuk materi kelas digelar di Hall Kampus Pesantren Hidayatullah Depok,” ujar Syahar.

Kepala Unit Reserse dan Kriminal (Kanit Reskrim) Kepolisian Sektor Beji Ajun Komisaris Syah Johan yang turut hadir dalam acara pembukaan ini mengapresiasi program diklat SAR Hidayatullah yang digelar secara reguler setiap tahun ini.

“Peran SAR secara nasional sangat dibutuhkan dan harapan masyarakat. Kita berharap dengan adanya pelatihan ini anggota SAR semakin berkualifikasi dan profesional dalam melakukan aksi-aksi petolongan kebencanaan,” katanya.

Diklat Nasional SAR Hidatullah yang mengusung tema “Melahirkan Relawan Nasional yang Tanggap dan Tangguh dalam Penanganan Bencana” ini dapat terselenggara atas dukungan banyak pihak diantaranya mitra Laznas BMH, Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB), Basarnas, DPP Hidayatullah, dan lainnya. (ybh/hio)

SAR Hidayatullah Kembali Gelar Diklat Nasional Relawan

0

[youtube width=”100%” height=”300″ src=”j-hVYthhAgE?rel=0&autoplay=1″][/youtube]

Tim Search and Rescue (SAR) Nasional Hidayatullah kembali menggelar acara pendidikan dan latihan (diklat) yang digelar selama 10 hari di dua tempat yaitu di Kota Depok serta Kota Bogor dan dibuka pada Sabtu (20/03/2016).

KBRI Dorong Hidayatullah Datangkan Usahawan Indonesia ke Sudan

Rombongan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah yang dipimpin Ketua Umum Ust. Nashirul Haq (tengah), saat diterima oleh Kuasa Usaha Ad Interim Kedutaan Besar Republik Indonesia di Khartoum Djumara Supriyadi (berjas) dan Kepala Bagian Penerangan dan Sosial Budaya KBRI Khartoum Erwin Siddiq Usman (paling kanan). Foto: DPP Hidayatullah
Rombongan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah yang dipimpin Ketua Umum Ust. Nashirul Haq (tengah), saat diterima oleh Kuasa Usaha Ad Interim Kedutaan Besar Republik Indonesia di Khartoum Djumara Supriyadi (berjas) dan Kepala Bagian Penerangan dan Sosial Budaya KBRI Khartoum Erwin Siddiq Usman (paling kanan). Foto: DPP Hidayatullah

Hidayatullah.or.id – Belajar dari negeri lain yang pernah diembargo seperti Myanmar, disarankan, justru saat Sudan masih diembargo inilah berbagai investasi usaha sebaiknya ditanamkan. Orang bisnis mancanegara masih jarang melirik. Kelak begitu embargo dicabut, para pendatang awal sudah akan menjadi market leader.

Demikian disarankan oleh Djumara Supriyadi, Sekretaris Kedua sekaligus KUAI (Kuasa Usaha Ad Interim) Kedutaan Besar Republik Indonesia di Khartoum, ibukota Republik Sudan, kepada rombongan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah yang datang berkunjung awal Maret 2016 lalu.

Saran Jumara itu menjawab pertanyaan Asih Subagyo, Kepala Bidang Ekonomi DPP Hidayatullah, tentang iklim usaha Sudan yang bisa jadi peluang bagi para usahawan Indonesia.

“Perkebunan dan peternakan di sepanjang sungai Nil itu peluang yang baik,” jelas Djumara. Menurutnya, tidak seperti di Mesir, pemerintah Sudan sangat mendukung rakyatnya yang mau berladang dan beternak di bantaran sungai Nil, baik Nil Putih maupun Nil Biru.

Belum diindustrikan saja peternakan di Sudan sudah luar biasa. Erwin Siddiq Usman, Kepala Bagian Penerangan dan Sosial Budaya KBRI Khartoum, menambahkan keterangan, bahwa jumlah hewan ternak di Sudan tiga kali lipat jumlah manusianya.

Menurut sensus 2014, penduduk Sudan berjumlah 40.235.000 jiwa. Dengan tanah seluas 1,8 juta kilometer per segi (hanya 100-an ribu kilometer per segi lebih kecil dari Indonesia), lahan ternak dan ladang Sudan memang masif.

“Makanya harga daging sapi dan kambing di sini selalu sangat murah. Lebih murah dari daging ayam,” tukas Djumara.

Menurut pantauan pihaknya, musim haji adalah musim panen bagi peternakan Sudan. Sudan pemasok utama kebutuhan sapi dan kambing ke Saudi untuk keperluan qurban dan dam jamaah haji sedunia yang tahun 2015 dilaporkan berjumlah lebih dari 2 juta orang.

Selain perternakan, Djumara juga mendorong usahawan manufaktur Indonesia memasok barang-barang ke Sudan. Di ruang tamu KBRI ada lemari khusus berisi display barang-barang produksi Indonesia.

“Mulai saja dengan barang-barang yang harganya murah dan jadi kebutuhan sehari-hari seperti batere, kertas, buku tulis, tekstil, sepatu,” kata Djumara.

Asih Subagyo antusias menyimak berbagai penjelasan pihak KBRI dan menyatakan bertekad menindaklanjuti bersama kawan-kawan pengusahanya di tanah air.

Pengusaha bidang teknologi informasi ini terkesan dengan langkah perusahaan minyak negara Malaysia Petronas yang berani melakukan berbagai inovasi usaha di Sudan yang sudah 20 tahunan diembargo.

“Negara ini diembargo tapi nilai mata uangnya terhadap dollar lebih baik dari Rupiah Indonesia,” tukas Bagyo. Saat rombongan DPP Hidayatullah berada di Sudan nilai tukar Dollar Amerika terhadap Pounds Sudan adalah 1 berbanding 650 di bandara, dan 1.180 di pasar gelap.

Selain itu Bagyo juga terkesan dengan Republik Sudan yang meski dalam keadaan diembargo, mampu dan berkenan memberikan beasiswa kepada ribuan mahasiswa asing.

Embargo internasional atas Sudan dipelopori oleh Amerika Serikat dan diberlakukan secara resmi sejak tahun 1997.

Menurut Erwin Siddiq Usman, jumlah mahasiwa Indonesia yang sebagian besar belajar gratis di Sudan saja tak kurang dari 650 orang. “Sedangkan jumlah mahasiswa Sudan yang diberi beasiswa oleh Indonesia hampir tidak ada,” jelasnya sambil mengatakan, pihaknya cukup merasa malu dengan keadaan ini.

Di bidang perdagangan bilateral, Indonesia surplus USD 76 juta per tahun, Sudan hampir nol.

Karena itu, Djumara mengharapkan, selain meningkatkan jumlah mahasiswa Indonesia ke Sudan, Hidayatullah didorong mendatangkan para usahawan untuk berniaga di negeri ini.

Rombongan DPP Hidayatullah ke Sudan dipimpin oleh Ketua Umum Ust. Nashirul Haq bermaksud menjalin kerja sama di bidang keilmuan, pendidikan, kemanusiaan, dan ekonomi dengan berbagai pihak di Sudan.

Atas nama KBRI Khartoum, Djumara Supriyadi menyambut baik kunjungan DPP Hidayatullah, sekaligus memintakan maaf karena Duta Besar RI Burhanuddin Badruzzaman berhalangan menyambut, karena sedang mendampingi Presiden Sudan Omar Al-Basyir menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Istimewa negara-negara Organisasi Konferensi Islam di Jakarta.

Semoga Allah perbaiki, sejahterakan, dan kekalkan persaudaraan Indonesia dan Sudan di Jalan Allah.*

BMH Berikan Beasiswa untuk 30 Mahasiswa Palestina di Sudan

CEO Baitul Maal Hidayatullah (ketiga dari kiri depan, berkopiah hitam) bersama sebagian mahasiswa kedokteran Palestina di Sudan yang menerima beasiswa dari masyarakat Indonesia. Foto: DPP Hidayatullah
CEO Baitul Maal Hidayatullah (ketiga dari kiri depan, berkopiah hitam) bersama sebagian mahasiswa kedokteran Palestina di Sudan yang menerima beasiswa dari masyarakat Indonesia. Foto: DPP Hidayatullah

Hidayatullah.or.id – Dalam suatu malam yang gerah di Sub-Sahara Afrika Timur, sebuah pertemuan sejuk berlangsung penuh kekeluargaan antara Baitul Maal Hidayatullah (BMH; lembaga amil zakat nasional) dengan belasan mahasiswa Palestina di ibukota Sudan, Khartoum.

Chief Executive Officer (CEO) BMH, Wahyu Rahman, secara simbolis menyerahkan USD 3,000 (tiga ribu dollar Amerika Serikat) kepada Bilal Al-Jamal, Ketua Persatuan Mahasiswa Palestina di Sudan.

“Ini adalah amanah masyarakat Indonesia pendukung BMH, untuk saudara-saudara Palestina kita,” jelas Wahyu Rahman yang hadir ke Khartoum bersama rombongan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah.

Menurut Wahyu, pihaknya disarankan oleh Sahabat Al-Aqsha, jaringan silaturrahim keluarga Indonesia Palestina, yang selama ini jadi mitra BMH untuk Palestina, agar membantu program beasiswa ini.

“Kami menyaksikan langsung derajat amanah yang serius pada Al-Sarraa Foundation yang menjadi rujukan Sahabat Al-Aqsha, maka dengan Bismillaah, kita tunaikan amanah itu ke program beasiswa ini,” jelas Wahyu.

Dana itu akan diberikan kepada 30 mahasiswa kedokteran Palestina di beberapa universitas Sudan pada bulan Juli 2016. Para mahasiswa itu telah menerima beasiswa dari rakyat Indonesia lewat Sahabat Al-Aqsha sejak Januari 2012.

Langkah BMH disambut hangat oleh Ketua Umum Sahabat Al-Aqsha M. Fanni Rahman di markasnya di Yogyakarta, “Allah kuatkan kerjasama fii Sabiilillah antara BMH dan SA lewat beasiswa ini. Sebelumnya BMH telah ikut mendukung pembelian alat-alat pusat pengobatan kanker, bantu korban perang 2014, dan operasional dua markaz tahfizhul Quran. Semuanya di Gaza”.

Fanni mengharapkan Allah Ta’ala mengetuk lebih banyak aqidah masyarakat Indonesia menyalurkan jihad hartanya lewat BMH yang tahun 2015 lalu terpilih sebagai lembaga amil zakat nasional yang paling baik pertumbuhan penggalangan dananya.
Semoga Allah ridha.* (prl/hio)

 

Beasiswa BMH untuk Sembilan Kader Ulama di Sudan

Beasiswa BMH untuk Sembilan Kader Ulama di Sudan
Sebagian mahasiswa kader ulama yang terima beasiswa dari Baitul Maal Hidayatullah di depan gedung Fakultas Dirasah Islamiyah, Universitas Afrika Internasional, Khartoum, Sudan. Foto: DPP Hidayatullah

Hidayatullah.or.id – Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) melanjutkan dukungannya bagi pembibitan kader-kader ulama Indonesia.

Setelah tahun lalu membiayai sewa apartemen asrama mahasiswa di Kairo, kali ini BMH menunaikan amanah masyarakat Indonesia dengan memberi beasiswa kepada sembilan kader yang sedang menuntut ilmu di Khartoum, Sudan.

Kesembilan orang kader itu masing-masing menerima USD 150. “In syaa Allah minggu depan akan dimusyawarahkan tentang keberlanjutan program ini,” jelas Wahyu Rahman, Chief Executive Officer (CEO) BMH.

Wahyu mengaku sangat terkesan setelah merasakan seminggu hidup dan berkegiatan bersama para mahasiswa ini di ibukota Sudan.

“Mereka kompak dan solid, berbakat dalam interaksi dengan berbagai pihak, dan punya kemampuan kepemimpinan,” kesan Wahyu.

Menurutnya pihak BMH memiliki tiga harapan atas kader-kader ulama ini.  Pertama, semoga mereka fokus dan bermujahadah dalam menuntut ilmu.
Kedua, semoga saat pulang ke Indonesia mereka mampu menerangi lingkungannya dengan cahaya ilmu. Ketiga, semoga mereka menjalin persaudaraan dengan semua mahasiswa dari negara lain demi membangun jaringan ilmu, pendidikan dan dakwah yang lebih luas.
Faiz Ahmad, salah satu penerima beasiswa BMH menyatakan sangat berbahagia menerima dukungan ini. Setiap tahun dirinya harus bayar biaya kuliah USD 400. Itu karena Faiz tidak termasuk mahasiswa yang digratiskan oleh Fakultas Dirasah Islamiyah di Universitas Afrika Internasional tempatnya belajar.

Sehari-hari pemuda asal Dumai, Riau, ini menyempatkan berjualan apa saja guna mencukupi keperluan hidupnya.  Alhamdulillah, Faiz tinggal di asrama gratis yang disediakan universitas.

Meski begitu, untuk keperluan transpor ke beberapa majlis ilmu yang diikutinya, makan, minum, beli buku dan lain-lain, kebutuhan rata-rata Faiz setiap bulan USD 100.

Wahyu bertekad menggolkan hasil musyawarah BMH agar program beasiswa ini berkelanjutan, katanya, “Sampai mereka selesai kuliah”.

Semoga hidayah ilmu yang didapatkan oleh para mahasiswa ini, kata Wahyu, akan mengantarkan hidayah Tauhid ke sebanyak mungkin manusia.
Allahumma aamiin.

“Kayaknya saya juga tertarik mau belajar bahasa Arab lagi di Khartoum. Doakan ya,” kata Wahyu Rahman yang tahun ini genap berusia 50 tahun, sambil tersenyum. (prl/hio)

Bertakwalah kepada Allah dan Jadilah Uswah

DALAM salah satu ceramahnya, Syaikh Salman Al-‘Audah memberi kita nasehat:

“Di antara cara Allah menyadarkan suatu bangsa dan menjauhkan mereka dari hukuman-Nya adalah dengan membinasakan tetangga-tetangga mereka (yakni, yang zalim) agar mereka mengambil ‘ibrah darinya, sebagaimana firman Allah:

وَلَقَدْ أَهْلَكْنَا مَا حَوْلَكُمْ مِنَ الْقُرَىٰ وَصَرَّفْنَا الْآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (الأحقاف: ٢٧)

“Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan negeri-negeri di sekitarmu dan Kami telah mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami berulang-ulang supaya mereka kembali (bertaubat).” (Qs al-Ahqaf: 27)

Perhatikanlah umat-umat, negara-negara, dan bangsa-bangsa yang telah dihancurkan Allah. Periksalah penyebab kehancuran mereka dan jauhilah. Orang bahagia adalah orang yang bisa memetik nasihat dari pengalaman orang lain. Oleh karenanya sebagian orang shalih pernah berdoa:

اللّٰهُمَّ لَا تَجْعَلْنَا عِبْرَةً لِغَيْرِنَا

“Ya Allah, janganlah Engkau menjadikan kami sebagai ‘ibroh (pelajaran) bagi orang selain kami.”

Sebab, sebagaimana Allah membinasakan umat-umat lain agar kita bisa memetik ‘ibroh darinya, maka tidak tertutup kemungkinan bila Allah membinasakan kita agar orang lain bisa mengambil ‘ibroh dari nasib kita itu. Sungguh tidak ada penyambung di antara Allah dan makhluk-Nya kecuali takwa.

Inilah salah satu persoalan yang dengannya Allah masih menjauhkan kita dari kehancuran itu, sampai saat ini. Sebab kita tahu bahwa beberapa waktu belakangan ini negeri kita masih terpelihara dari malapetaka berskala luas dan nestapa yang menyentuh segenap penjurunya; sementara pada saat bersamaan bangsa-bangsa lain di sekeliling kita telah “disambar” (oleh bencana). Setiap hari kita pun mendengar berita-berita pilu.” (Dipetik dari: Duruus li asy-Syaikh Salman al-‘Audah, transkrip ceramah ke-193 berjudul: Mashiirul Mutrofiin {akhir kesudahan orang-orang yang berlebihan})

***

Renungkanlah! Kita adalah generasi ke sekian Bani Adam. Kita juga bukan umat dan komunitas pertama yang hidup di Nusantara ini. Negara kita juga bukan satu-satunya yang pernah eksis di kawasan ini. Dulu ada Sriwijaya yang kebesarannya terdengar sampai ke China.

Pernah ada pula Majapahit yang menjadi ‘super power’ di zamannya. Setelah itu ada lagi kerajaan-kerajaan hebat: Aceh, Malaka, Demak, Mataram, Makassar, Ternate, Tidore, dan banyak lagi lainnya.

Kemana mereka semua?

Kita hanya mengenal sisa-sisanya di museum dan buku-buku sejarah. Kemegahan mereka mungkin membuat kita bangga, tapi tidak ada lagi peluang untuk menghidupkannya seperti sediakala.

Tariklah kisah ini ke ruang lebih khusus. Tidak sedikit ormas, partai, pesantren, sekolah, universitas, toko, pabrik, perusahaan, dan lain-lain yang pernah digdaya di zamannya.

Namun, kini nyaris tidak ada lagi yang mengingat kiprahnya dan mendengar namanya. Semua terbenam dan lenyap. Sisa-sisa kebesaran yang mereka miliki kemudian menjadi pelajaran bagi orang-orang di belakangnya.

Mereka punah secara tragis. Seperti kapal Titanic yang — konon pemiliknya sesumbar secara jumawa — bahwa “Tuhan pun tidak akan bisa menenggelamkannya”. Tapi, semua orang tahu bagaimana kapal pesiar mewah itu karam justru pada pelayaran pertamanya.

Kita sadar bahwa terbit dan terbenam adalah sunnah kehidupan. Tidak ada yang abadi selain Allah. Namun, jika pun kita harus lenyap suatu saat nanti, pastikan kita menjadi uswah (teladan) bagi orang lain, bukan ‘ibroh (pelajaran) bagi mereka.

Para Nabi adalah model manusia “uswah” itu. Mereka manusia yang sama seperti kita, yang tidak bisa melawan sifat fana dalam dirinya. Namun, kehadiran mereka menginspirasi, dan ketika mereka pergi keteladanannya abadi. Uswah adalah pelajaran positif dan contoh menuju kebaikan-kebaikan.

Tapi kita juga mendengar nama musuh-musuh mereka. Ada Namrud, Fir’aun, Haman, Qarun, Abu Lahab, dan masih banyak lagi. Kita juga sering membaca kisah-kisah kehancuran kaum-kaum nabi Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib, Luth, dan seterusnya.

Kita pun mendapat pelajaran dari pembangkangan serta kedurjanaan mereka, yang berakhir tragis. Kaum-kaum dan orang-orang itu adalah sosok ‘ibroh bagi kita. ‘Ibroh merupakan hikmah di balik kebinasaan dan malapetaka yang dialami orang lain.

Jadikan dirimu uswah! Jadikan keluargamu uswah! Demikian pula masjidmu, pesantrenmu, desamu, sekolahmu, tokomu, perusahaanmu, media massamu, software ciptaanmu, dan semua yang terkait denganmu. Pastikan orang lain terinspirasi dan mencontoh kebaikan-kebaikan yang kau tampilkan di sana.

Dengan inilah engkau akan melipatgandakan amal sholih, sebab siapa yang memulai suatu kebajikan lalu dicontoh orang lain, maka engkau akan diberkahi dengan pahalanya selain pahala amalmu sendiri.

Namun, berupayalah agar tidak menjadi ‘ibroh bagi siapa pun. Mohonlah kepada Allah agar menjauhkanmu darinya. Sebab, jika ini terjadi, berarti engkau telah melakukan suatu kesalahan yang dengannya Allah menjatuhkan musibah dan hukuman.

Orang lain akan mengambil pelajaran dari kesalahanmu dan selamat dari “lubang” yang sama. Mereka beruntung karena dosamu, sementara engkau sendiri terpuruk dalam nestapa karenanya.

Sungguh, tidak pernah ada jaminan NKRI ini akan abadi. Demikian pula perusahaan, pesantren, sekolah, bank, klub sepakbola, parpol, ormas, dan apa pun yang hari ini engkau banggakan dengan fanatik.

Bertakwalah kepada Allah, sebelum murka-Nya turun dan menggiringmu menuju jurang ‘ibroh bagi pihak lain. Turuti perintah-Nya, jauhi larangan-Nya. Merunduklah di hadapan-Nya dengan setulus hati. Jangan coba-coba menantang-Nya.

Jangan pongah, sebab kuasamu terbatas, sementara Dzat yang kausombongi itu tak tersentuh kelelahan maupun kelemahan. Apakah menurutmu Dzat yang dulu telah meluluh-lantakkan Sodom dan Gomorrah tidak sanggup melakukannya sekali lagi di sini?

Apa engkau pikir Dzat yang membenamkan Qarun dan menenggelamkan Fir’aun sudah pensiun, sehingga para penguasa para zhalim dan hartawan-hartawan tengik itu pasti aman dari pembalasan-Nya? Jangan mimpi!

Dengarkanlah! Ancamannya masih tertera jelas dalam Kitab Suci-Nya, tidak pernah direvisi maupun dicabut.

أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَىٰ أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ (٩٧) أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَىٰ أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ (٩٨) أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ ۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ (٩٩) {سورة الأعراف}

“Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? (*) Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS Al-A’raf: 97-99)

Selamatkan dirimu, sebelum terlambat! Wallahu a’lam.*/Alimin Muhtar

Netizen Dukung Bangun Sumur Bor Hidayatullah Kupang

0

Netizen Dukung Pembangunan Sumur Bor Hidayatullah KupangHidayatullah.or.id – Kekeringan sudah jadi hal biasa di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Pondok Pesantren Hidayatullah di Kupang Barat hendak mengatasi masalah ini dengan membangun sumur bor untuk para santri.

Kekeringan tampak sudah menjadi masalah biasa di Nusa Tenggara Timur (NTT). Di beberapa tempat, masalah kekeringan seringkali membuat masyarakat benar-benar harus berjalan berkilo-kilo meter agar bisa mendapat air untuk kebutuhan sehari-hari.

Kekeringan, seperti halnya yang terjadi di Kupang Barat. Berlokasi di Pondok Pesantren Hidayatullah Asrama Putri. Para santriwati yang berjumlah cukup banyak kurang lebih 70 orang harus menghadapi kondisi ini berulang-ulang.

Para santriwati yang belajar di tempat ini sepenuhnya gratis dan tinggal di Pondok Pesantren Hidayatullah Batakte Kupang Barat Nusa Tenggara Timur (NTT).

Belum lama ini, melalui situs KitaBisa, kampanye #SedekahPesantren Sumur Bor untuk Kupang NTT mendapat perhatian yang cukup tinggi dari netizen (masyarakat pengguna internet).

Hingga artikel ini ditulis, telah terkumpul donasi Rp.13.155.704 dari total Rp.50.000.000 juta yang dibutuhkan untuk pembangunan sumur bor ini.

Muhammad Adianto selaku panitia rencana pembangunan sumur bor ini mengatakan kebutuhan air di wilayah yang memang dikenal gersang ini sangat tinggi. Kekeringan seringkali terjadi.

“Sumur yang biasanya menjadi sumber air untuk kebutuhan sehari-hari santri seperti mandi, cuci, kakus (mck) dan juga untuk keperluan bersuci mengalami kekeringan. Jadi perlu cukup usaha agar bisa memenuhi kebutuhan air ini,” kata Adianto yang juga pengasuh santri ini.

Dia berharap donasi untuk pembangunan sumur bor tersebut terus bertambah hingga masa waktu kampanye berakhir. Bagi anda yang ingin turut serta beramal jariyah dalam rangka pembangunan sumur bor untuk keperluan mendasar ini dapat mengunjungi tautan kampanye di sini –> https://ktbs.in/h2v43

Hidayatullah Jalin Kerjasama dengan Universitas Al-Quran Al-Karim di Sudan

Suasana silaturrahim dan perbincangan antara Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah yang dipimpin Ketua Umum Ust. Nashirul Haq dengan Rektor Universitas Al-Quran Al-Karim dan Ilmu-ilmu Keislaman Sudan Prof. Ahmad Sa'id Salman (berjenggot putih) di ruang kerjanya, pada awal Maret 2016 lalu / Foto: Departemen Luar Negeri DPP Hidayatullah
Suasana silaturrahim dan perbincangan antara Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah yang dipimpin Ketua Umum Ust. Nashirul Haq dengan Rektor Universitas Al-Quran Al-Karim dan Ilmu-ilmu Keislaman Sudan Prof. Ahmad Sa’id Salman (berjenggot putih) di ruang kerjanya, pada awal Maret 2016 lalu / Foto: Departemen Luar Negeri DPP Hidayatullah
DPP Hidayatullah juga diantar oleh beberapa mahasiswa Indonesia di Sudan/ Foto: Departemen Luar Negeri DPP Hidayatullah
DPP Hidayatullah juga diantar oleh beberapa mahasiswa Indonesia di Sudan/ Foto: Departemen Luar Negeri DPP Hidayatullah

Hidayatullah.or.id – Pada awal bulan Maret 2016, sebuah dokumen kesepahaman telah ditandatangani oleh Ustadz H. Nashirul Haq, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, dan Prof. Ahmad Sa’id Salman, Rektor Universitas Al-Quran Al-Karim dan Ilmu-ilmu Keislaman, Sudan.

Penandatanganan itu dilakukan di kota Oumdurman, di pinggir ibukota Sudan, Khartoum, persis di tepi pertemuan dua aliran Sungai Nil.

“Perkenalan kita begitu singkat, namun Alhamdulillah sangat berkesan dan langsung melahirkan saling kepercayaan yang mendalam sehingga menghasilkan dokumen kesepahaman ini,” jelas Ustadz Nashirul Haq.

Kesepahaman itu diantaranya setiap tahun memberikan jatah beasiswa kepada mahasiswa-mahasiswa S1 dan S2 dari Indonesia.

Kedua pihak juga bersepakat saling mengundang para dosen, baik dari dari sekolah-sekolah tinggi yang dikelola Hidayatullah, maupun dari Universitas Al-Quran Al-Karim, untuk mengajar dalam waktu lama, maupun kunjungan-kunjungan ilmiah.

Selain dengan pihak Hidayatullah, Universitas Al-Quran dan Ilmu-ilmu Keislaman Sudan telah bekerja sama dengan beberapa universitas di tanah air, diantaranya Universitas Islam Negeri Malang dan Universitas Asy-Syafi’iyah Jakarta.

“Saya sudah lima kali ke Indonesia, negeri yang indah, rakyatnya ramah dan santun,” kata Prof. Ahmad Sa’id Salman yang murah senyum.

Universitas Al-Quran Al-Karim dan Ilmu-ilmu Keislaman merupakan penyatuan dua lembaga pendidikan tinggi pada awal tahun 1990-an.

Kulliyah Al-Quran yang sudah berdiri sejak 1981 dan Institut Sains Oumdurman yang berdiri sejak 1983, melahirkan universitas ini dengan fakultas yang lebih lengkap.

Dengan mahasiswa sebanyak kurang lebih 12 ribu orang, universitas ini menawarkan sepuluh program setingkat fakultas: Al-Quran, Syari’ah, Bahasa Arab, Da’wah dan Informasi, Ilmu-ilmu Sosial, Ekonomi dan Ilmu Administrasi, Pendidikan, Pusat Bahasa, Pasca-Sarjana dan Kemasyarakatan.

Dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebuah tali ukhuwah baru terjalin rapi. Semoga Allah meridhai dan mensukseskan kerja sama dan persaudaraan ini dunia Akhirat, Aamiin.* (prl/hio)

Ulama dan Tokoh Ormas Islam Adukan Bahaya Korupsi

IST: Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon menerima ulama dan pimpinan ormas / net
IST: Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon menerima ulama dan pimpinan ormas / net

Hidayatullah.or.id – Sejumlah tokoh ulama dan perwakilan ormas-ormas diterima oleh Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon, di Gedung DPR, Jakarta, belum lama ini (8/3), untuk menyampaikan laporan dugaan penyalahgunaan kewenangan yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama pada saat menjabat sebagai Plt. Gubernur DKI Jakarta.

Para tokoh ini meminta pimpinan DPR mengawasi kinerja KPK yang dipandang lambat dalam menindaklanjuti laporan audit BPK atas penyimpangan yang dilakukan oleh Basuki Tjahja Purnama. Penyimpangan tersebut diduga menimbulkan kerugian negara yang dapat terindikasi sebagai satu tindak pidana korupsi.

Para tokoh ulama yang hadir antara lain tokoh Betawi KH.Cholil Ridwan, KH.Fachrurrazi Ishaq, KH.Abdul Rasyid, KH. Habib Muksin, KH. Aru Syeif, KH.A.Z.Abidin, KH Al Khatthath, Sekjen DPP Hidayatullah Candra Kurnianto, Munarman SH, dan lain-lain.

Merespon tuntutan dari para tokoh ulama, Fadli Zon berkomitmen akan meneruskan laporan dari tokoh ulama Jakarta kepada komisi terkait.

“Saya akan sampaikan laporan ini kepada pimpinan yang lain dan komisi terkait. Saya juga akan menanyakan langsung kepada komisioner KPK. Proses ini memang penuh keanehan.Laporan dari BPK harus ditindaklanjuti oleh KPK. Terlebih laporan BPK yang meminta adalah KPK sendiri,” kata Fadli.

Fadli Zon yang juga sebagai Presiden GOPAC (Global Organization of Parliamentarians Against Corruption) setuju dengan pernyataan forum ulama, dimana KPK tidak boleh tebang pilih dalam pemberantasan korupsi.

“KPK jangan tebang pilih,dan harus tetap independen dalam pemberantasan korupsi.Termasuk dalam kasus dugaan korupsi sebagaimana terdapat di dalam hasil audit BPK di Jakarta,” ulasnya.‎

“Kita di DPR akan mendorong menanyakan langsung kepada pimpinan KPK kenapa laporan audit BPK tentang dugaan penyalahgunaan wewenang oleh Plt Gubernur Jakarta saat itu belum juga ditindaklanjuti.”*

Pendidikan di Hidayatullah Utamakan Keteladanan

ILUSTRASI: Santri Pesantren Hidayatullah Makassar berbaris sebelum memasuki ruang kelas/ dok
ILUSTRASI: Santri Pesantren Hidayatullah Makassar berbaris sebelum memasuki ruang kelas/ dok

Hidayatullah.or.id – Organisasi massa (ormas) Islam Hidayatullah Sulawesi Selatan melaksanakan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Pendidikan Integral yang diikuti sekitar 100 kader Hidayatullah yang terdiri dari Kepala Departemen Pendidikan, Ketua Lembaga Pendidikan Integral Hidayatullah (LPIH) dan Ketua DPD Hidayatullah se-Sulawesi Selatan di Kampus Pesantren Hidayatullah Parepare, Ahad (13/3) lalu.

Dalam kesempatan tersebut turut hadiri Pimpinan Umum Hidayatullah KH. Abdurrahman Muhammad yang langsung datang dari Balikpapan. Dalam arahan yang diberikan kepada peserta rakerwil ia memberikan penekanan agar dalam menjalankan dunia pendidikan di Hidayatullah bisa memberi keteladanan.

“Tidak ada yang lebih penting dalam dunia pendidikan selain memberikan keteladanan, beri contoh yang baik kepada peserta didik,” katanya seperti dilansir media lokal, Harian Amanah.

Sementara itu, Kepala Bidang Tarbiyah dan Pembinaan Anggota DPP Hidayatullah, Ust Tasyrif Amin, dalam sambutannya mengatakan, pendidikan integral Hidayatullah harus melahirkan kader-kader output yang ter-tazkiyah dengan nilai-nilai tauhid.

“Mendorong upaya serius dari pendidik dan tenaga kependidikan di Hidayatullah dalam mewujudkan implemantasi pendidikan integral yang berbasis tauhid, peran kampus, masjid, LPIH, dan Pandu Hidayatullah menjadi kunci dari keberhasilan proses pendidikan yang menganut system boarding school berbasis pesantren,”bebernya.

Sementara itu, Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ustad Mardhatillah, dalam memajukan bidang pendidikan di Hidayatullah, ia akan terus mendorong Departemen Pendidikan Wilayah DPW Hidayatullah dalam mengembangkan konsep pendidikan model di lima Kampus Madya se-Sulawesi Selatan, Parepare, Bone, Palopo, Masamba, dan Soroako.

“Kedepan lima kampus ini diharapkan menjadi pilihan alternatif bagi semua orangtua yang mengharapkan pendidikan terbaik bagi anak-anak mereka,”pungkasnya.*