Beranda blog Halaman 613

[DOWNLOAD] Naskah Khutbah Idul Fitri 1436 Hijriyah

BERIKUT ini naskah khutbah Idul Fitri 1436 Hijriyah rilis PP Hidayatullah. Semoga bermanfaat dan dapat dimanfaatkan seluas-luasnya kaum muslimin. File dalam bentuk PDF, sehingga pastikan di komputer anda telah terinstal aplikasi “Acrobat Reader” atau sejenisnya untuk dapat membaca file. Terima kasih.

_______________
DOWNLOAD, KLIK DI SINI! atau VIA Google Drive, KLIK DI SINI

 

 

 

KNPI Bone Bukber Bersama di Ponpes Hidayatullah

Penyerahan Bantuan oleh Ketua KNPI BoneHidayatullah.or.id — Pengurus DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Bone, Selasa, (7/7) melakukan kegiatan buka puasa bersama (bukber)bertempat di Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah, Kelurahan Waetuo Kecamatan Tanete Riattang Timur, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.

Acara berbuka puasa yang merupakan agenda tahunan KNPI tersebut, dihadiri Ketua DPD KNPI Bone, dr. Andi Ryad Baso Padjalangi. Pada kesempatan dia mengatakan, ada beberapa hal yang sudah dirangkai oleh KNPI Bone di bulan ramadhan ini salah satunya memberikan bantuan dan mengunjungi paran santriawan dan santriawati.

“Karena ini merupakan agenda tahunan KNPI untuk melakukan kunjungan ke pondok pesantren sekaligus memperkuat jalinan silahturahmi,”ujarnya.

Ketua komisi IV DPRD Bone dan juga ketua AMPG Golkar ini berharap agar jalinan silaturahmi dan komunikasi antara KNPI Bone dengan Pesantren Hidayatullah dapat terus berlanjut di masa mendatang.

“Jika ada aspirasi yang ingin disampaikan, bisa berkomunikasi dengan kami di Sekretariat KNPI,”terangnya

Hadir dalam kegiatan tersebut segenap jajaran pengurus DPD KNPI Bone. (ybh/hio)

Bukber Hidayatullah Kalteng dan Wawasan Kebangsaan

buka-puasa-dan-sosialisasi-wawasan-kebangsaanHidayatullah.or.id — LSM Empat Pilar Provinsi Kalteng melaksanakan buka puasa dan sosialisasi wawasan kebangsaan di masjid Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Tjilik Riwut, Kalimantan Tengah (Kalteng), Jumat (26/6) lalu. Acara dihadiri 100 orang santri dan masyarakat sekitar.

Tema yang diambil adalah peran dunia pendidikan dan masyarakat dalam menangkal radikalisme. Hadir dalam acara itu Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Jekan Raya Supiani, Pasintel Kodim 1016/Plk Kapten Inf Suradi mewakili Dandim 1016/Plk, pimpinan Yayasan/Pondok Pesantren Hidayatullah Ustadz M Robiin serta pengurus dan anggota LSM Empat Pilar Kalteng.

“Kegiatan ini untuk mengingatkan kembali pentingnya meningkatkan wawasan kebangsaan dan nasionalisme sekaligus memperkuat peran dunia pendidikan dan masyarakat dalam menangkal gerakan radikalisme,” kata Ketua Panitia Nanang Allfani Abdi.

Dalam arahannya, Kapten Inf Suradi menyatakan pentingnya wawasan kebangsaan dan nasionalisme terutama dikaitkan dengan kondisi bangsa dan daerah Kalteng yang akan melaksanakan Pilkada Gubernur/Wakil Gubernur Kalteng pada 9 Desember mendatang.

“Jangan pernah terpancing dan terprovokasi jika ada informasi yang tidak benar dikait-kaitkan dengan masalah suku, agama, ras maupun antargolongan atau SARA. Kroscek informasi yang diterima apakah benar atau hanya upaya provokasi memecah belah persatuan dan kesatuan masyarakat,” tegasnya.

Sedangkan Ustadz Supiani dalam ceramahnya mengatakan jika dikaitkan dengan jihad dalam pandangan Islam, berpuasa Ramadan termasuk bagian jihad, yakni jihad melawan hawa nafsu, bersikap jujur dan sabar.

“Jadi yang namanya jihad itu bukan harus berperang menghadapi musuh di medan perang. Kalau kita bisa puasa dengan baik dan mampu meningkatkan derajat keimanan dan ketakwaan kepada Allah, itu juga bagian dari jihad,” katanya.

Dalam acara tersebut diserahkan tali asih sejumlah sembaki dan uang tunai oleh Sekretaris LSM Empat Pilar Provinsi Kalteng H Ady Noegroho kepada Pimpinan Yayasan Hidayatullah Palangka Raya Ustadz M Robiin. (ans/b/3)

Selama Ramadan, Aktivitas Hidayatullah Timika Meningkat

hidayatullah timika Kekompakan-di-Hari-Ahad1Hidayatullah.or.id — Pesantren Hidayatullah Timika yang bernaung dibawah Yayasan Hidayatullah selama bulan Ramadan 1436 kali ini tidak meliburkan santrinya. Mereka akan dilibukan saat menjelang hari raya Idul Fitri.

Terletak d jalan Poros Mapuru Jaya, Kilo 9, Kampung Kadun Jaya, Distrik Wania para santri masih melakukan aktivitas harian mengikuti kegiatan belajar mengajar.

Namun yang berbeda selama bulan Ramadhan kali ini, mereka akan diberikan berbagai nilai relijius dengan mengaji, khatam Qur’an, sholat tahajud, selain berbuka puasa dan sahur bersama. Selain itu, bagi santri dewasa dan pengasuh aktif bekerja bakti.

Kepala Kampus Pesantren Hidayatullah, Ahmad Zakir Muklih menjelaskan para santri tidak diliburkan selama bulan Ramadan karena pihak yayasan memiliki program agar para santri bisa lebih dekat dengan Allah SWT.

“Selama bulan Puasa ini semua anak-anak berada di Pondok Pesantren. Hal ini karena kami punya beberapa program supaya anak-anak ebih dekat dengan Allah SWT,” ujarnya belum lama ini (19/6).

Jumlah santri yang belajar di pesantren ini sekitar 65 orang terdiri dari para anak yatim-piatu yang semuanya mendapatkan pendidikan formal yang layak dan sepenuhnya tidak dipungut biaya. Dirinya berharap ada pihak luar yang juga membantu meringankan beban mereka. [ybh/hio]

Spiritual Muballigh Harus Prima

ketum pp hidayatullah abdul mannanHidayatullah.or.id — Dai atau muballigh merupakan tugas berat yang hanya mampu dipikul oleh mereka yang telah mantap secara spiritual. Karena itu, setiap dai harus menjaga “stamina” spiritualitasnya tersebut agar dalam dalam menjalankan tugas selalu prima.

Demikian disampaikan Ketua Umum PP Hidayatullah Dr Abdul Mannan saat memberikan pengantar dalam acara bincang ringan silaturrahim dai-muballigh di Kota Depok, Jawa Barat, belum lama ini.

“Kekuatan spiritual akan mendukung kinerja para dai di mana saja berada. Dengankekuatan spiritual seorang muballigh akan memiliki kekuatan yang sangat dahsyat sekali,” kata beliau.

Beliau menegaskan, spiritual yang gersang dengan spiritual yang prima itu akan berbeda daya pengaruhnya. Ia mencontohkan, tatkala seorang dai pada siang harinya akan mengisi hutbah Jum’at tapi di malam harinya tidak bangun shalat tahajud untuk mendukung stamina spiritualnya, maka akan gersang hasilnya.

“Walaupun ceramahnya sistematis, materinya hebat, tetapi itu pendengarnya gless. Masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Bobot spiritual itu menentukan, bener ini. Jangan dianggap remeh,” imbuhnya.

Lebih jauh beliau mendorong para dai agar cakap sosial dan proporsional. Sebab, peranya sebagai pembawa risalah Islam, dai merupakan peran mulia sebagai pemasar (marketer) Islam. Seorang marketer, lanjut beliau, sejatinya harus dapat memahami dan mengetahui daya intelektual audiens.

Beliau juga berpesan kepada para dai untuk mengedepankan kearifan dalam melakukan kerja-kerja dakwah. Kata beliau, seorang dai harus bisa menempatkan diri dalam proprosi yang tepat.

Diterangkannya, tentu berbeda metode pemyampaian materi antara kepada santri dengan dengan audiens di tempat atau geografis tertentu. Tidak saja itu, seorang dai pun dituntut untuk pandai mengelola waktu.

“Jangan sampai bisa mengawali khutbah tapi tidak bisa berhenti,” seloroh beliau disambut tawa hadirin.

Termasuk dalam masalah menyindir. Kata beliau, seorang dai harus mampu memahami psikologi objek dakwah. Memahami psikologi audiens dakwah menjadi sangat penting sebab komunikasi dakwah adalah proses yang dilakukan untuk mengubah atau mempengaruhi yang menimbulkan perubahan.

Kegiatan temu ukhuwah dan bincang silaturrahim jelang berbuka puasa ini dihadiri puluhan dai muballigh digelar oleh DKM Masjid Ummul Quro yang didukung oleh Yayasan Pesantren Hidayatullah Depok dan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah. (ybh/hio)

Kapolres Puji Hidayatullah Bontang dalam Bina Masyarakat

Polres Bontang silaturrahim ke Ponpes HidayatullahHidayatullah.or.id — Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Kota Bontang, AKBP Hendra Kurniawan, memuji peran serta Yayasan Hidayatullah Bontang dalam kegiatan pembinaan masyarakat. Hal itu disampaikan Kapolres saat melakukan anjangsana silaturrahim ke komplken Pesantren Hidayatullah Bontang, Sabtu (27/06) lalu.

Kunjungan Kapolres beserta rombongannya itu sekaligus sebagai adalah bagian dari perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara ke-69 Polres Bontang.

Hidayatullah Bontang yang dalam programnya mencakup program kepesantrenan, panti asuhan, dakwah, dan pendidikan, dinilainya telah membantu peran pemerintahh dalam menjaga kehidupan selalu kondusif.

“Semoga Hidayatullah dapat terus menjaga dan meningkatkan perannya dalam rangka mendukung ketertiban masyarakat,” katanya.

Pada kesempatan itu Kapolres juga berpesan semoga ibadah bulan suci Ramadhan yang sedang dijalankam umat Muslim dapat berjalan dengan kondusif dan aman terkendali. Ia pun mengapresiasi peran para muballigh dalam kerjasamanya terutama dalam hal pembinaan masyarakat.

Tak lupa Kapolres juga mengingatkan bahwa sebentar lagi Kota Bontang akan menyelenggarakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Karenanya, ia mengimbau kepada masyarakat untuk tetap dapat bahu membahu menjaga ketertiban umum.

Kapolres juga berharap agar tidak terjadi gesekan yang tidak perlu dalam hal dukungan ke calon tertentu dan Pilkada Bontang mendatang.

Sementara itu, Ketua Yayasan Hidayatullah Bontang, Ustadz Muhammad Nurdin AR, dalam sambutannya, mengatakan Pesantren Hidayatullah dan polisi memiliki kesamaan dalam banyak hal termasuk dalam penyelenggaraan Pilkada yaitu sama-sama netral dan sama-sama hadir untuk melayani umat.

Ustadz Nurdin pun mengapresiasi Kapolres yang kendati baru menjabat sebulan lebih, telah menunjukkan kinerjanya.

“Salah satunya selama beliau bertugas di Bontang sebulan ini, balapan liar di kota Bontang dapat diatasi khususnya di bulan Ramadhan. Biasanya balapan liar selalu mengganggu bahkan sejak dini hari,” kata Ustadz Nurdin.

Rombongan silaturrahim Kapolres AKBP Hendra Kurniawan ini didampingi pula oleh Kapolsek Bontang Selatan, Kapolsek Bontang Utara, Kapolsek Bontang Barat serta ibu-ibu Darma Wanita. Rombongan safari Ramadhan membawa tali asih berupa sembako dan sumbangan finansial.

Seperti diketahui, pucuk komando tertinggi di lingkungan Polres Bontang resmi berganti. AKBP Hendra Kurniawan kini memimpin Satuan Kepolisian Kota Bontang, menggantikan Kapolres sebelumnya yang dijabat AKBP Heri Sasangka. Serah terima jabatan Kapolres Bontang, secara resmi digelar di Mapolda Kaltim, Balikpapan, Mei (26/5) lalu.

Dalam sambutannya, AKBP Hendra Kurniawan menegaskan komitmenya untuk melanjutkan tugas yang telah dijalankan Kapolres sebelumnya. Ia mengapresiasi peran AKBP Heri Sasangka dalam menjaga keamanan kota Bontang selama menjabat. (ybh/hio)

Laznas BMH Bangun Shalter Untuk Pengungsi Rohingya

rohingya bmhHidayatullah.or.id — Laznas BMH kembali berpartisipasi dalam pembangunan shalter untuk pengungsi Rohingya yang berlokasi di Kuala Langsa, Aceh.

Dalam pembangunan ini BMH melibatkan puluhan relawan dan pekerja untuk mempercepat pembangunan agar manfaatnya bisa segera dirasakan.

“Tempat yang sebelumnya digunakan dinilai kurang layak, sehingga pembangunan shalter ini sangat diperlukan agar pengungsi lebih nyaman dalam beraktifitas harian,” Ujar Imam Nawawi, Kepala Humas BMH Pusat menuturkan.

Shalter ini merupakan wujud sinergi lembaga zakat dan kemanusiaan untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal yang lebih layak bagi pengungsi Rohingya. Setidaknya dengan tersedianya shalter ini pola hidup pengungsi akan lebih teratur, sehat dan terjaga secara syariat.

Sejauh ini 70% pembangunan shalter telah terealisasi. Sebagian lain masih dalam tahap pengerjaan, diprediksi akan selesai sebelum idul fitri tiba.

“Semoga partisipasi BMH dan yang lain dalam pembangunan shalter ini memberikan manfaat untuk keberlanjutan hidup yang lebih baik bagi para pengungsi. Dan ini adalah wujud nyata solidaritas kemanusiaan bagi saudara kita yang dilanda musibah,” papar Imam.

Selain membangun shalter untuk pengungsi, BMH juga berpartisipasi dalam pengadaan paket buka puasa bagi pengungsi yang berada di kawasan Kuala Langsa, Aceh. Setidaknya, delapan ratus paket disalurkan dalam kegiatan buka puasa bagi pengungsi dalam sehari.

Melalui Zakat, Infak dan Sedekah, Mari ringankan beban saudara-saudara Muslim Rohingya dengan bersama membangun Shalter bagi para pengungsi Rohingya. *

Rekening Zakat a/n Baitul Maal Hidayatullah

CIMB Niaga Syariah – 5200.100.371.003
Muamalat – 305.00.544.45
Permata Syariah – 971.000.635
DKI Syariah – 7047.000.656
Mandiri – 006.000.1162.753
BCA – 553.0111.999
BNI – 8924.923
BSM – 7006.114.908

Gencar Program Ketua MUI Mentawai di Bulan Ramadhan

mustakim dalang Hidayatullah.or.id — Menjadi dai di daerah kepulauan Mentawai bagi Mustakim Dalang merupakan suatu tantangan yang mesti dihadapi.

Menurut ketua MUI Mentawai sejak tahun 2003 itu, tidak semua dai sanggup berdakwah di Mentawai dalam rentang waktu cukup lama. Apalagi, di tengah kondisi geografis daerah yang terbatas dan kondisi yang kepulauan.

Pria asal Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), ini pertama kali ditugasi ke Mentawai oleh Yayasan Pesantren Hidayatullah yang berpusat di Balikpapan. Waktu itu, sebelum berlayar ke Mentawai laki-laki kelahiran 1966 silam ini, sempat ditakuti-takuti oleh sesama rekan pendakwah tentang kondisi Mentawai.

Namun, karena niat dan keyakinan yang kuat untuk berdakwah, pada tahun 1997 Mustakim Dalang bersama istri dan anaknya, akhirnya sampai di Mentawai, tepatnya di Tuapejat kilometer 8. Hampir 18 tahun lebih Mustakim berkwah di Mentawai.

“Insyaallah, kalau kita yakin akan pertolongan Amustakim dalang2llah, tidak ada yang mustahil di dunia ini,” ungkap ustadz yang juga pimpinan Yayasan Pesantren Hidayatullah Cabang Mentawai belum lama ini.

Bagi Mustakim pengalaman spritualnya bukan soal kontak atau pertolongan langsung dari sang khalik. Namun, menurut dia, ketenangan dan kesabaran hati juga merupakan pertolongan Allah S.W.T.

Pengalamannya beberapa kali dihadang badai saat menuju Padang atau sebaliknya menuju Mentawai seakan sudah menjadi hal yang lumrah.

Bahkan, beberapa kali kapal kayu yang ditumpanginya harus putar haluan karena tidak kuat dihadang badai. Pertolongan Allah oleh Mustakim, terasa, saat semua penumpang berteriak histeris di dalam kapal, karena kondisi kapal yang nyaris terbalik.

Namun, saat itu Mustakim tidak merasakan badai seperti yang dirasakan oleh penumpang lainnya. Dia tertidur pulas di tengah kondisi kapal yang nyaris terbalik tersebut.

Bahkan, kata Mustakim, beberapa kali kapal harus putar haluan, karena kondisi badai dan gelombang laut yang cukup tinggi.

Menurut Mustakim, pertolongan Allah, barangkali tidak hanya dijauhkan dari marabahaya, tetapai bagaimana Allah menguatkan kita di saat kesulitan atau kesusahan itu datang.

Di bulan Ramadhan ini, beliau terus aktif menggencarkan dakwah ke berbagai titik di Kepulauan Mentawai. Ia juga bertanggungjawab mengkoordinatori kegiatan dan program dakwah pencerahan di wilayah tersebut. (ybh/hio)

Apresiasi untuk Hidayatullah Kinilow Tomohon dan Fakfak

Panti-Asuhan-Hidayatullah-1 Hidayatullah.or.id — Tidak saja hadir sebagai lembaga dakwah pencerahan umat, Hidayatullah juga terus berpacu dalam pengabdian masyarakat di bidang sosial berupa panti asuhan dan pengembangan sumber daya insani dengan pendidikan. Masyarakat mengapresiasi kerja-kerja Hidayatullah yang berdimensi Ilahiyah tersebut.

Apresiasi itu diantaranya oleh Jurnalis Independen Pemprov Sulut (JIPS) bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), dengan menggelar aksi sosial membagi kasih dengan anak-anak Panti Asuhan Muthmainnah yang berada di Pondok Pesantren Hidayatullah, Kelurahan Kinilow Kecamatan Tomohon Utara, Selasa (23/06) lalu.

“Kegiatan aksi sosial kemanusiaan ini, sudah yang ketiga kali dilaksanakan JIPS bersama Pemprov Sulut,” ungkap Ketua Bidang Mental dan Spiritual JIPS, Ismail Maga.

Menurut Koordinator JIPS Donny Aray, kegiatan ini merupakan wujud kasih kepada sesama umat manusia, terlebih kepada saudara-saudara kita umat muslim yang saat ini sedang melaksanakan ibadah puasa di Bulan Suci Ramadhan.

Sementara itu, Kepala Biro Umum Setda Provinsi Sulut, Jemmy Ringkuangan AP MSi yang turut bersama dalam aksi sosial kali ini, saat memberikan sambutan tidak lupa menyampaikan ucapan selamat melaksanakan ibadah puasa kepada pengurus dan anak-anak yang ada di Panti Asuhan Muthmainnah Hidayatullah Kinilow.

“Kiranya ibadah puasa yPanti-Asuhan-Hidayatullah-2ang dilaksanakan secara tulus, akan mendapat pahala dari Allah SWT,” ujar Ringkuangan.

Ringkuangan yang juga selaku Pembina JIPS menyatakan, sungguh luar biasa kepercayaan yang dilakukan oleh para pengurus dan pengasuh yang telah membina sekaligus menjaga anak-anak yang ada di panti ini.

“Didikan dengan Iman dan ketaqwaan yang diberikan pengasuh, saya yakin anak-anak di sini suatu saat akan menjadi orang-orang yang berguna. Karena itu atas nama JIPS dan Pemprov Sulut, saya mengapresiasi atas jerih lelah dari pengurus dan pengasuh di Pondok Pesantren Hidayahtullah,” tandas mantan Kepala Biro Organisasi ini.

Dijelaskan Ringkuangan, kegiatan ini merupakan rangkaian kasih wartawan dan Pemprov SUlut datang dari berbagai agama yang majemuk dan datang ke sini dengan satu semangat yaitu kasih.

“Karena Gubernur Sulut DR Sinyo Harry Sarundajang, pernah mengemukakan ungkapan kasih menembus perbedaan,” tambah Ringkuangan.

Sementara itu, Hari Bhakti Adhyaksa ke 55 di Kejaksaan Negeri Fakfak, Provinsi Papua Barat, diperingati dhidayatullah fakfakengan berbagai macam kegiatan salah satunya anjangsana ke Pesantren Hidayatullah Fakfak.

Kepala Kejaksaan Negeri Fakfak, Rilke Jefri Huwae, SH. menjelaskan bahwa meski diperingati dengan sederhana, namun yang lebih penting adalah pemahaman makna peringatan hari bhakti adhyaksa.

Dalam kegiatan sosial yang dipimpin oleh Ketua Ikatan Adhyaksa Dharma Karini Kejaksaan Negeri Fakfak, Emma Nurmala Fendiani Huwae ini, diserahkan tali asih berbagai jenis sembako dan dana santunan untuk yayasan.

Kepada Ustadz Sanusi, Pimpinan Pesantren Hidayatullah Fakfak, Emma menyampaikan bahwa kegiatan anjangsana ini merupakan salah satu bentuk kepedulian keluarga besar Kejari Fakfak terhadap kiprah di Pesantren Hidayatullah di wilayah tersebut.

“Tolong jangan dilihat nilainya, namun ini merupakan kepedulian kami terhadap pendidikan di sini,” ujar Emma, saat menyerahkan dana pembinaan kepada Ustadz Sanusi. (hio/ybh)

Kunci Kemenangan: Selalu Berbuat dan Beramal Shaleh

Hand writing Time for Action concept with red marker on transparent wipe board.

Oleh Ustadz Sholeh Hasyim

 Wahai orang-orang yang beriman, rukuklah, sujudlah, dan tunduklah kalian kepada Tuhan kalian. Dan lakukanlah semua kebajikan, niscaya kalian kelak di Akhirat akan beruntung (QS. Al Hajj (22) : 77).

Dari taujih Allah di atas kita dapat memahami bahwa agar kita memiliki kekuatan dan kemudian menjadi pemenang adalah dengan konsistensi amal shalih. Baik di awal, tengah, dan akhir, tentu didahuluii oleh kekuatan ruhani.

Namun, mewujudkan amal itu tidak sederhana dan mudah. Dan, lebih rumit lagi, adalah memelihara kualitas amal itu dari hal-hal yang membatalkannya (muhbithul amal). Yang selalu dijadikan titik tekan baik di masa perintisan, pertengahan, dan akhir perjuangan adalah keikhlasan dan kesabaran.

Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu siapa diantara kamu yang lebih  baik (tulus) amalnya  (QS. Al Mulk (67) : 2).

Kadang kehidupan kita secara individu, keluarga, dan organisasi mengalami cuaca buruk, bahkan goncangan.Tetapi, sebesar apa pun goncangan, cobaan, yang kita hadapi, satu hal yang tidak boleh kita lakukan adalah berhenti berjalan mengarungi samudera kehidupan ini atau menyerah terhadap keadaan.

Itulah fakta kehidupan kita yang melekat di dalamnya adanya pasang-surut, fluktuatif. Dinamika kehidupan adalah tarbiyah dari Allah yang kita pandang dengan spirit yang sama. Yang mengalaminya, bukan kita saja.

Bahkan, pendahulu kita mungkin mengalami goncangan yang lebih hebat dan menyakitkan. Orang kafir pun diberi ujian oleh Allah. Siapa saja yang tidak ikut menjadi peserta ujian, pasti tidak naik kelas, dan terpinggirkan dari kehidupan.

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”

“Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, Maka Sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. (QS. Ali Imran (3): 139-140)

Kebanyakan kita mempersepsikan bahwa ujian itu terjadi ketika kita dalam kondisi terjepit. Kekurangan rizki, kesehatan memburuk, berpisah dengan salah satu keluarga yang tercinta. Sedangkan, ketika karir kita naik, income kita bertambah, naik daun, tidak dianggap pujian.

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan” (QS. Al Anbiya (21) : 35).

Faktu sejarah membuktikan bahwa banyak manusia yang berhasil mengalami ujian kesempitan, tetapi gagal mengalami ujian kemapanan. Qarun, ketika miskin menjadi ahlul ibadah, ahlul mihrab, ahlul masajid, namun ketika kaya ia menjadi ahlul maksiat.

Kita khawatir, kita sukses di start, tetapi gagal ketika sampai finish. Sabar ketika diuji kesulitan namun tidak bersyukur ketika sukses. Memang, ketika kita tidak fokus dalam perjuangan, sering kali meladeni komentar orang-orang di tengah perjalanan. Sibuk melayani lingkungan sosial kita, sehingga kita tidak sampai di terminal terakhir tempat yang dituju.

Ada seorang ulama yang mengalami fase kritis dalam fase kehidupannya berpesan kepada ibunya. Ibu, jika saya nanti meninggal adakan selamatan, tetapi undanglah orang yang dalam kehidupannya tidak pernah mengalami ujian. Maka, sepeninggal beliau, selamatan diadakan, dan tidak ada seorang pun yang diundang hadir di rumahnya.

Sekarang kita analogikan dengan naik pesawat. Ketika pesawat mengalami turbulensi karena cuaca buruk, maka semua penumpang di dalam pesawat tersebut diminta duduk dengan tenang. Sembari diminta mengencangkan sabuk pengaman, pesawat tetap terbang sekalipun pesawat harus tetap melewati badai. Sulit dibayangkan, bila pesawat dihentikan karena ada badai.

Kekuatan Harmoni

Ada kaidah yang ditulis Syaikh Muhammad Al Ghazali : Anta maakaifa tufakkir (anda akan menjadi seperti apa yang anda impikan).

Dengan kata lain setiap realitas yang terjadi di dalam medan kehidupan, sebelumnya merupakan sebuah realitas di alam fikiran atau keyakinan. Sebalinya, realitas yang tidak pernah ada di alam pikiran maka tidak akan pernah terjadi pula dalam realitas kehidupan.

Oleh karena itu, hidup harus dituntun, dipandu, dikomando, dan digerakkan oleh cara berpikir kita. Sebab isi kognitif kita sangat menentukan cara kita bersikap dan bergerak. Sesungguhnya Allah SWT tergantung persangkaan hamba-Nya. Jika persangkaannya baik, demikianlah yang akan terjadi. Demikian pula sebaliknya, jika berpikir negatif, akan kacau pula di lapangan (Hadits Qudsi).

Jadi, kemenangan dan kekalahan tergantung pilihan kita. Jika kita ingin memperoleh kemenangan, penuhilah persyaratan untuk ditolong dan dimenangkan.

Jika ingin kalah dan tidak naik kelas, tidak ada keinginan untuk berubah, tidak usah menjadi peserta ujian. Silahkan berjalan di pinggir kehidupan. Dan nanti akan tergilas pergiliran dan perguliran zaman. Karena roda kehidupan akan terus berputar, tidak dapat dilawan.

Sesungguhnya tantangan yang besar berbanding lurus dengan besarnya peluang yang menyertainya. Demikian pula, tentangan yang mudah dan sederhana hanya mengandung peluang yang sepele dan remeh.  Orang-orang yang besar meraih takdirnya dengan melewati ujian yang besar pula. Kualitas keimanan kita sepadan dengan tantangan kita. Keimanan dan ujian, datangnya satu paket.

Bahkan, surga itu berada di bawah bayang-bayang pedang yang terhunus. Ketika membaca pasang surut peradaban, kita akan menemukan satu kaidah penting bahwa pada saat peradaban sedang mengalami grafik kenaikan, maka sesungguhnya peradaban tersebut sedang dikendalikan oleh quwwaturruh (kekuatan spiritual).

Sebuah peradaban akan kandas di tengah jalan, jika para pengusungnya lemah dalam aspek ruhani. Peradaban mengalami kemajuan yang datar-datar saja, berarti ia sedang dikendalikan oleh logika. Peradaban jatuh terpuruk, jika dikelola oleh hawa nafsu dan kepentingan sesaat.

Sesungguhnya berbagai kemenangan kaum muslimin dalam berbagai medan, baik secara politik, sosial, ekonomi, pendidikan, diawali dari kemenangan yang bersifat ruhiyah. Sebaliknya kekacauan eksternal (faudho al khoriji), sesungguhnya merupakan kekacauan yang bersifat internal (faudho ad Dakhili).

Jadi, perjuangan kita adalah menata ulang (rekonstruksi) unsur-unsur internal (intidham ad Dakhili), agar tertata pula faktor-faktor eksternal (intidham al Khoriji).

Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa pasti Kami akan menimpakan kepada mereka berkah (tambahan kebaikan) dari langit dan bumi, tapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka  Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan (QS. Al Araf (7) : 96).

Dalam surat Al Kahfi berikut menegaskan bahwa kekacauan yang terjadi di luar kita berawal dari kekacauan yang ada di dalam struktur kepribadian kita.

Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingkat Kami, serta menuruti hawa nafsunya, dan adalah keadaannya itu kacau (QS. Al Kahfi (18) : 28).

Tampak jelas di dalam kalimat wakaana amruhu furutha, bahwa urusan seseorang menjadi berantakan (al faudha al khariji) disebabkan oleh kekacauan yang di dalam dirinya (al faudha ad dakhili). Yakni ketika mengikuti hawa nafsunya. Demi kepentingan sesaat dan lalai dari mengingat Allah.

Orang yang mengikuti hawa nafsunya adalah orang yang mengalami disorientasi dan faktor yang menggerakkan dirinya adalah faktor di luar Allah SWT sehingga menimbulkan kekacauan (chaos).

Ketidakteraturan atau disharmoni di dalam diri kita akan menjadi pemicu dan pemacu disharmonisasi di dalam keluarga, masyarakat, dan lingkungan strategis kita. Bila, kita akan melakukan konsolidasi terhadap situasi yang kacau yang terjadi, maka pertama-tama kita harus melakukan  konsolidasi di dalam diri kita dahulu. Caranya adalah dengan melakukan penataan ulang kondisi internal kita (intdham ad dakhili).

Fenomena kekacauan tersebut di dalam surat Ibrahim ayat 28 disebutkan oleh Allah SWT tidak saja bisa terjadi dalam skala pribadi atau komunal, tetapi juga negara. “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya kelembah kebinasaan”.

Ibnul Qayim dalam kitabnya “AlWabilush Shoyyib” menjelaskan ayat tersebut yakni sebab-sebab suatu kaum memperoleh petunjuk Allah sehingga dapat menciptakan keteraturan di negaranya dengan bantuan dan pertolongan Allah SWT.

Sebaliknya, lanjut Ibnul Qayim, ada kaum yang ditinggalkan Allah sehingga berantakan kondisi kaum dan negaranya karena aghfalna qalbahu ‘andzikrina, lalu dari melibatkan Allah dalam keputusan penting dalam kehidupannya.

Tokoh politik Islam Imam Al Mawardi dalam kitabnya “Adabud Dunya Wad Din” bahwa seluruh urusan manusia di dunia hanya akan teratur bila dilandasi oleh beberapa hal dengan hal utama adalah dinun matbu’un (agama yang selalu diikuti).

Sehingga, tampak jelas, bahwa akar keteraturan atau harmoni adalah kemapanan spiritual yang mendominasi dalam skala individu, keluarga, organisasi, dan negara. Bila seseorang kehilangan spiritualitas dalam dirinya maka dia akan mengalami disorder. Demikian pula dalam skala kehidupan berbangsa dan bernegara.

Al Mawardi menyebutkan pula perlunya factor as sulthanqahir (pemerintahan yang kuat), wakhish bundaa-im (kemakmuran yang berkesinambungan). Namun faktor komitmen (keterikatan yang kuat) dalam beragama tetap menjadi hal yang utama (dinun matbu’).

Itulah sebab, Rasululullah SAW dan para ulama dahulu sangat memperhatikan evaluasi ibadah yaumiyah, usbu’iyah, syahriyyah, ‘amiyah, dan marrotan fil ‘umri. Ibadah yang dimaksud mencakup ibadah qalbiyah, ibadah lisaniyah, dan ibadah ‘amaliyah/jasadiyah. []

 ____________

USTADZ SHOLEH HASYIM, Penulis adalah anggota Dewan Syura PP Hidayatullah. Saat ini pembina Pesantren Hidayatullah Kudus, Jawa Tengah.