Beranda blog Halaman 622

Blokir bak Iklan gratis, Tak Ada Guna Bicara ISIS

Jelang Silatnas Hidayatullah 4Hidayatullah.or.id — Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sebetulnya telah lama bermitra. Karena itu, pemblokiran situs hidayatullah.com atas permintaan BNPT beberapa waktu lalu sempat membuat kaget. Beginilah keseharian ponpes setelah kejadian itu.

=====

PINTU gerbang Ponpes Hidayatullah di Jalan Mulawarman RT 25 Gunung Tembak, Kelurahan Teritip, Balikpapan Timur, hanya dibuka separuh. Jalan utama sebesar 20 meter menjadi pembuka yang menghubungkan ke seluruh sudut ponpes. Total luas 120 hektare, dengan jumlah santri seribu orang lebih.

Di samping kiri jalan utama berjejer ruka dan sebuah mini market. Di sisi kana, masjid utama sedang direhab. Ola tumpukan batu bata di dinding masjid dua lantai tersebut masih terlihat. Belum diplester ketika Kaltim Post bertandang Senin (13/4) tadi. Suasana ponpes cukup sepi. Seluruh santri dan ustadz berkumpul di dalam masjid utama.

Sudah menjadi agenda wajib, setelah shalat Zuhur berjamaah, dilanjutkan halaqoh membuat lingkaran atau kelompok belajar yang kegiatannya diisi membaca dan menghapal al-Qur’an. Tidak lama, hanya setengah jam. Tapi rutin setiap selesai sholat lima waktu.

Pesantren yang didirikan Ustadz Abdullah Said pada 1973 itu kembali “naik daun” setelah pemblokiran kontroversial terhadap 19 website Islam. Situs-situs Islam itu tak bisa diakses sejak akhir Maret hingga beberapa kembali dibuka pada 8 April lalu.

Termasuk hidayatullah.com, bersama beberapa situs dakwah lain, seperti panjimas.com, muslimdaily.com, kiblat.net, atau dakwahmedia.net. mereka dianggap menyebarkan ide radikalisme dengan membenarkan metode kekerasan mengatasnamakan agama.

Padahal hidayatullah.com merupakan situs resmi lembaga pendidikan dan dakwah yang memiliki 250 ponpes di seluruh Indonesia ini. Materinya jauh sekali dari yang dituduhkan.

Kaltim Post menunggu di kantor Yayasan Ponpes Hidayatullah, sekitar 20 meter dari masjid utama. Ketua Bidang I Yayasan, Abdul Ghofar, menuruni anak tangga masjid utama, lalu menghampiri harian ini. Ia mengenakan celana kain hitam, baju muslim putih dan peci putih.
Perawakannya kurus dengan tinggi sedang. Kumisnya tipis dan rambut tumbuh merata di dagu. Dengan ramah ia membuka percakapan dengan salam.

“Keseharian ponpes, ya, seperti ini. Setelah shalat Shubuh, halaqoh, kemudian sarapan, dilanjutkan pendidikan formal. Baik jenjang MI, MTs, MA, maupun perguruan tinggi. Istirahat shalat Zuhur, lanjut halaqoh, dan istirahat siang. Setelah shalat Ashar, halaqoh, kemudian kegiatan olah raga sampai Maghrib. Setelah shalat Maghrib dilanjutkan taklim. Disambung shalat Isya, witir, belajar kelompok, lalu istirahat,” terang Ghafar.

Tak ada yang berubah meskipun pemblokiran situs hidayatullah.com. Kabar mengenai pemblokiran telah sampai ke kantor pusat di Gunung Tembak, melalui rekan-rekan di Jakarta yang membidangi media.

Kabar tersebut juga disampaikan kepada santri dalam berbagai kesempatan. Misalnya, dalam ceramahsetiap malam Sabtu. “Tanggapan mereka, ya, biasa saja. Tidak kaget, tidak panik. Karena memang di sini tidak ada apa-apa,” ujar Ghafar.

Masyarakat Indonesia, lanjut dia, juga sudah lama mengenal Hidayatullah. termasuk para wali santri, donator, mapun jamaah.
“Kalau memang kami radikal, berharap perubahan cepat dengan cara keras dan mengatasnamakan agama, sudah 40 tahun yang lalu pakai senjata. Tapi, sampai sekarang ‘kan begini-begini saja, karena pendekatan kami pesantren. Memberikan pemahaman Islam dengan waktu dan proses yang lama” katanya.

Dia tersenyum saat disinggung soal Islamic State of Iraq and al Sham (ISIS). Ghafar menegaskan, Hidayatullah sama sekali tidak memihak organisasi militant tersebut. Menurut dia, tak ada untungnya membicarakan ISIS, karena selalu timbul fitnah. Hidayatullah tidak mengenal ISIS, begitu pula sebaliknya. Pemahaman terhadap jihad dalam Islam antara keduanya, jauh berbeda.

Karena itu, sama sekali tidak relevan isu Baitul Maal Hidayatullah (BMH) dikatakan ikut menyumbang ISIS. Ghafar menjelaskan, dana yang dihimpun BMH jelas peruntukannya. Di antaranya, untuk santunan anak yatim, beasiswa pendidikan, beasiswa sekolah pemimpin, infak, wakaf, dan dakwah. Seorang donator biasanya sudah memilah peruntukan sedekahnya melalui BMH. Misalnya, 50 persen untuk infak, 50 persen lagi untuk beasiswa.

Pemblokiran hidayatullah.com juga tak berpengaruhnegatif terhadap jumlah donator. Bahkan, ada beberapa donator yang justru bersimpati. Itu tak lepas dari hubungan baik yang terjalin antara pihak ponpes dan mereka. Para donator sering dilibatkan dalam kegiatan parenting dan sosial lain. Juga sering diundang langsung untuk melihat keseharian pesantren.

Pemblokiran tak mengurangi pula minat masyarakat mendaftar di Ponpes Hidayatullah. “Di Malang dan Jakarta, bahkan pendaftaran sudah ditutup karena kuota penuh. Sementara itu, di Balikpapan masih buka dari April sampai Juni. Khusus perguruan tinggi sampai September,” imbuh Ghafar.

Setelah website dibuka kembali, Hidayatullah tak berniat menuntut balik BNPT. Bahkan, bukti bahwa keduanya bermitra, ditunjukkan dalam sosialisasi penanggulangan teroris di Karang Bugis antara BNPT dengan pemuda Hidayatullah, Sabtu lalu (11/4).

Ketika harian ini bertamu, Ketua Yayasan Zainuddin Musaddad sedang berada di Jogjakarta. Namun, sehari sebelumnya, melalui sambungan telepon, ia mengatakan pemblokiran situs malah menjadi “iklan gatis”. Sebab membuat masyarakat semakin ingin tahu mengenai Hidayatullah.

“Menurut saya, pemblokiran ini sebagai langkah ceroboh. Tapi kami husnudzon saja. Dampak positifnya, makin banyak ‘kan pengunjung situs karena penasaran,”kata Zainuddin.

Terpisah, Kepala BMH Balikpapan, Nur Robbani mengatakan, penggalangan dana umat masih berjalan sesuai program yang mereka gulirkan.

“Memang ada target per bulan sesuai rapat kerja daerah. Tapi hasilnya ,ya, tergantung. Karena kami ‘kan lembaga amil zakat Nasional,” jelasnya.

Sejatinya, laporan keuangan BMH juga telah diaudit kantor akuntan publik. “Satu sen pun dipertanggungjawabkan. Kami juga tidak mengenal apa itu ISIS. Dan BMH tidak ada sangkut pautnya dengan itu,” tutur Nur Robbani.

Di Balikpapan, tugas memenuhi kebutuhan orang tidak mampu, social, dan dakwah saja masih butuh perhatian. “Jadi, kami lebih mementingkan kebutuhan Balikpapan dan enggan menjangkau hal-hal yang seperti dituduhkan,” tandasnya.

_______________
Tulisan ini dikutip dari Harian Umum Kaltim Post edisi Rabu, 15 April 2015.

Gedung Sekolah Pemimpin Hidayatullah Depok

0

Sekolah Pemimpin Hidayatullah Depok ini hadir sebagai oase perubahan di tengah gurun tandus paradigma pendidikan masa kini yang diselimuti kabut pekat materialisme. Konsep dan sistem pendidikan Sekolah Pemimpin Hidayatullah Depok bersifat holistic, integrated, dan progress oriented, tidak hanya aspek academic esoteric excellence semata.

[youtube width=”600″ height=”338″ src=”Xksd6DwPVos”][/youtube]

Hidayatullah Terus Teguhkan Dakwah Inklusif

Dakwah inklusif adalah dakwah yang merangkul dengan penuh hikmah dan kebijaksanaan. Keterangan ilustrasi: Hidayatullah Papua serahkan wakaf Qur'an kepada masyarakat muslim di Wasile / dok
Dakwah inklusif adalah dakwah yang merangkul dengan penuh hikmah dan kebijaksanaan. Keterangan ilustrasi: Hidayatullah Papua serahkan wakaf Qur’an kepada masyarakat muslim di Wasile / dok

Hidayatullah.or.id — Pimpinan Umum Hidayatullah KH. Abdurrahman Muhammad, menegaskan keberadaan kampus-kampus Pesantren Hidayatullah di seluruh penjuru nusantara adalah sebagai alat peraga dakwah dan merupakan miniatur peradaban mulia yang secara inklusif dan transformatif mengejawantah keagungan ajaran Islam dalam segala aspek kehidupan.

Hal itu ditegaskan beliau seperti dimuat di Buletin Hidayatullah Edisi Maret 2015 lalu. [download buletin selengkapnya, klik di sini].

Ustadz Abdurrahman –demikian beliau karib disapa- mengutarakan bahwa dalam melakukan dakwah Islam, Hidayatullah selalu mengedepankan inklusifitas dalam rangka terus mengeratkan ikatan persatuan umat dan interaksi sosial antar sesama manusia. Dengan demikian, dakwah akan terbangun dengan semangat persaudaraan serta jauh dari klaim dan saling vonis.

Sebab itu, beliau mendorong jamaah Hidayatullah hendaknya tidak berfikir ekslusif sehingga paradigmanya pun menjadi sempit. Hidayatullah memang ada cacatnya, tapi jangan sampai kemudian hal itu melemahkan kita dalam berkarya untuk umat ini dan berfastabiqul khairat dengan cara yang penuh hikmah dan kebijaksanaan.

“Makanya kalau melihat Hidayatullah seluruh Indonesia ambil baiknya, jangan jeleknya terus. Karena yang namanya imamah itu terkomando, terkontrol, terorganisir,  dan dakwah kita itu inklusif, bukan eksklusif,” imbuhnya memungkasi.

Rakornas Kampus Utama ini diikuti oleh perwakilan pengurus Kampus Utama Hidayatullah yakni dari Hidayatullah Surabaya, Hidayatullah Balikpapan, Hidayatullah Batam, Hidayatullah Depok, Hidayatullah Makassar, Hidayatullah Timika, dan Hidayatullah Medan.

“Alhamdulillah, perjalanan dan perkembangan Hidayatullah saat ini tetap saja kita dapat mensyukuri dan menikmatinya. Namun semua pencapaian kita ini juga merupakan ujian, sehingga  tetap saja  kepada Allah Ta’ala kita bermunajat,” kata beliau.

Sebenarnya, terang beliau, amanat mengaktualisasikan peradadan Islam di kampus-kampus yang ada sungguhlah amat berat. Bahkan kalau kita renungkan bersama sepertinya bukan kita inilah orangnya pantas mendapatkan amanat tersebut.

“Namun karena kita ingin menunjukkan kepada Allah Ta’ala sebagai seorang pejuang maka kita juga ingin meyakinkan kepada-Nya  melalui amanah perjuangan ini,” katanya.

Karenanya, beliau menekankan pentingnya evaluasi dan koordinasi dalam rangka mewujudkan cita-cita mulai tersebut. Untuk mengetahui kinerja setiap perjuangan maka kita harus menunjukkannya melalui progress yang dapat diukur atau dievaluasi melalui forum-forum seperti ini.

Beliau juga mengingatkan rekomendasi  pertemuan kampus utama di Surabaya tahun lalu yang menekankan bahwa setiap kampus kampus Hidayatullah, terkhusus kampus utama yang telah ditunjuk, harus menjadi alat peraga dakwah serta penguatan manejemen kemasjidan.

Tarbiyah Terintegrasi
Pada kesempatan tersebut Ustadz Abdurrahman juga menyampaikan pentingnya penguatan manajamene dan sistem Pendidikan Integral Berbasis Tauhid yang telah digagas oleh Hidayatullah sejak berdirinya melalui transformasi manhaj Sistematika Nuzulnya Wahyu (SNW).

Makanya, jelasnya, materi dan kurikulum sangatlah penting. Tetapi metode pengajaran lebih penting dari kurikulumnya itu sendiri bahkan peran guru berada di atas itu semua. Karenanya beliau terus mendorong Departemen Pendidikan PP Hidayatullah yang saat ini sangat serius mengkonsep itu semua.

Namun, beliau menjelaskan, dalam perjalanan dakwah dan menuntut ilmu bagi ummat Islam juga melakukannya melalui talaqqi. Bahkan para ulama nyaris tidak melalui proses pendidikan seperti sekarang ini namun tetap dinamis.

“Makanya bagi saya berbicara pendidikan itu tidak boleh ada dikotomi apalagi terpolarisasi.  Ada anak-anak orang kaya tidak bisa jadi kader, sementara orang-orang miskin bisa jadi kader. Padahal seharusnya semua baik yang bayar maupun tidak harus jadi kader,” tegas beliau. (red/hio)

Sistematika Wahyu untuk Kesatuan Ideologi dan Gerak

0

Dakwah Hidayatullah Dakwah InklusifDakwah Hidayatullah Dakwah InklusifHidayatullah.or.id — Kader Hidayatullah harus menginternalisasi konsep pengkaderan Nabi (manhaj nubuwwah) yang kini direpresentasi gerakan Hidayatullah yang juga terangkum dalam perikehidupan Rasulullah Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wassallam melalui Sistematika Nuzulnya Wahyu (SNW).

Hal itu ditegaskan beliau seperti dimuat di Buletin Hidayatullah Edisi Maret 2015 lalu. [download buletin selengkapnya, klik di sini]

“Internalisasi manhaj ini harus ditegakkan untuk menjadi kesatuan ideologi kemudian menjadi kesatuan gerak,” imbuhnya.

Umat juga mestinya juga dicerahkan tentang perjalanan kaderisasi Muhammad Rasululullah dalam mengemban amanah dakwah. Sosok Nabi Muhammad sarat dengan lakon kepahlawanan, kerja keras, kedalaman spiritual, serta dedikasi dan loyalitas terhadap gerakan pencerahan umat.

“Makanya ada kampus dakwah Hidayatullah untuk memfasilitasi gerakan dakwah pencerahan ini. Sebab itu, PD harus membuat kantor pusat dakwah atau dakwah center,” harapnya.

Dengan adanya markas atau dakwah center, maka PD dapat menggerakkan dakwah. Dakwah center ini menurut beliau sangat penting karena dakwah itu adalah interaksi yang menopang pendidikan formal sebagai proses mencetak kader untuk kemudian kelak akan mengambil peran dakwah.

Mengutip firman Allah Ta’ala yang sangat populer, “kuntum khairan ummah”, beliau mendorong agar setiap kader dan kampus-kampus Hidayatullah harus mampu melakukan kerja-kerja dakwah dengan selalu mengedepankan pola pendekatan inklusif sebagaimana dititahkan oleh Tuhan untuk mengajak manusia kepada kebenaran Islam dengan cara yang simpatik, hikmah, dan kebijaksanaan.

Lebih jauh beliau berpesan, dalam Islam yang paling mahal adalah menjaga kebersamaan dan ukhuwah. Sebab itu, terangnya, kita hanya berharap kepada Allah Ta’ala menjaga kekayaan tersebut. Dengan semangat pengharapan iyaa kana’ budu wa iyaaka nasta’in, beliau mengistilahkan kita “memaksa” Allah untuk urusan ini karena yang penting kita mendekat pada-Nya, maka semua akan mencapai prestasi yang sama dalam bertauhid kepada-Nya.

“Orang yang benar Tauhidnya harus mampu mentransformasikan Tauhid itu kepada orang lain. Ideologi  Tauhid itu harus ditransformasikan dalam kehidupan bahkan dalam kehidupan kita ini sudah menjadi manhaj,” ungkapnya.

Namun beliau mengingatkan pekerjaan dakwah Tauhid tersebut memang tidak mudah. Bahkan untuk menyatukan persepsi pun membutuhkan waktu. Termasuk menyatukan bagaimana kader yang manhaji dan profesional yang  terlibat di dalam pekerjaan formal dan non formal.

“Kita harus lebur dalam perjuangan sehinggaada progress dalam bekerja serta mengiring semangat kehidupan berkampus. Berdakwah itu lebih mudah dibandingkan membuat sitem kehidupan terlebih lagi membangun miniatur peradaban Islam,” pungkasnya. (asm/hio)

Hidayatullah Konsisten Berdakwah

rakor kampus utama di hidayatullah surabaya
Ustadz Hasan Ibrahim

Hidayatullah.or.id — Salah seorang pendiri Hidayatullah yang masih hidup, Ustadz A. Hasan Ibrahim, MA, mengingatkan kepada kader Hidayatullah untuk terus membangun komitmen dakwah dalam diri. Profesi apapun yang dilakoni di lembaga ini hendaknya dakwah selalu menjadi mainstream gerakan.

Hal itu ditegaskan beliau seperti dimuat di Buletin Hidayatullah Edisi Maret 2015 lalu. [download buletin, klik di sini]

Seraya mengutip Al Qur’an Surah Annur ayat 55, Ustadz Hasan Ibrahim menegaskan bahwa janji kemenangan dari Allah Ta’ala bagi orang yang beriman dan beramal shaleh adalah mutlak dan pasti Allah Ta’ala memenuhinya. Sehingga beliau mendorong Hidayatullah tetap pada koridornya menyibuki dakwah Islam.

Ustadz Hasan menjelaskan, ayat yang mulia tersebut telah dijadikan sejawatnya yang ia bersamai mendirikan Hidayatullah, Abdullah Said Rahimahullahu, sebagai  spirit perjuangan. Makanya, kisahnya, pada suatu saat ayat ini pernah beliau sampaikan di depan Abdullah Said,  seketika itu membuat beliau terharu.

“Dengan ayat ini beliau yakin bahwa kemenangan kalau bukan saat ini, pasti besok. Kalau tidak pasti lusa dan seterusnya. Yang pasti beliau sering berpesan dan menanamkan keyakinan kepada kita bahwa perjuangan ini jangan grusa-grusu dengan kata lain jangan tergesa-gesa,” terangnya.

Ustadz Hasan menyakinkan bahwa Allah Ta’ala pasti akan memberikan kemenangan seperti yang pernah di alami Muhammad Al Fatih. Bahkan sejak remaja memang Al Fatih  tidak pernah terkalahkan.

“Berkenaan dengan Islam dan dan perjuangan, makanya kita harus berjiwa pemenang,  harus  menang dan menang. Sayangnya kita sering mempunyai rasa takut, cemas, lemas, sehingga kita sendiri tidak yakin akan kemenangan,” tukas beliau.

Sementara itu di kesempatan yang sama anggota Dewan Syura Hidayatullah, Ustadz Abdul Rahman, menyampaikan rasa bahagianya dapat berkumpul dengan pimpinan dan senior Hidayatullah. Walaupun sudah tidak muda namun semangatnya tetap muda.

“Kita harus mengambil spirit jiwa tetap muda, makanya kita tidak boleh pesimis tetapi justru harus optimis,” selorohnya.

Beliau menerangkan, optimisme dan kesyukuran itu karena di kampus kampus Hidayatullah kita harus mewujudkan  miniatur peradaban Islam. Bahkan betapa pentingnya kampus untuk menyemaikan iman dalam rangka mengamalkan Qur’an melalui  proses tilawah, tadziyah, dan ta’limah.

“Kampus ini merupakan karunia yang sangat besar makanya kita harus mensyukuri melalui tarbiyah dan dakwah. Pendiri Hidayatullah menjadikan kampus untuk pembinaan iman di seluruh Indonesia yang dimulai dari Gunung Tembak, makanya kita harus seriusi mengurus kampus,” pesannya.

Bahkan, lanjutnya, di kampus-kampus Hidayatullah harus ditegakkan shalat jamaah dan tegaknya kepemimpinan. Bahkan kampus mampu mewujudkan kultur Islam dan puncaknya mampu  membangun kekuatan dan kemandirian ekonomi keumatan. Kemudian kampus Hidayatullah juga berusaha untuk melakukan Quranisasi kehidupan.

“Kita harus menjadi agen dan duta Al-Qur’an, apalagi kalau kita memiliki ilmu yang benar, aqidah yang kuat, dan kemandirian. Maka kita akan memenangkan persaingan di dunia saat ini dan masa yang akan datang,” katanya memungkasi. (red/hio)

Pemuda Hidayatullah dan FKPT Kaltim Waspadai Terorisme

0

11114269_1099428073417721_9172706829802760290_nHidayatullah.or.id — Pengurus Wilayah Syabab / PemudaHidayatullah Kalimantan Timur menggelar kegiatan seminar dan sosialisasi mewaspadai terorisme bekerjasama dengan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Kalimantan Timur yang merupakan perpanjangan tangan dari Badan Nasional Pencegahan Terorisme (BNPT), Sabtu (11/04/2015)

Acara yang bertajuk Optimalisasi Peran FKPT di Daerah melalui Tinjauan Agama, Pendidikan dan Dakwah Islamiyah bertempat di Aula Pesantren Hidayatullah Karang Bugis Balikpapan, ini dihadiri oleh 73 peserta dari mahasiswa, anggota pengurus Syabab Hidayatullah, santri Kuliah Dai Mandiri (KDM) serta kalangan pemuda dari berbagai pesantren di Kota Balikpapan.

Hadir sebagai pembicara Ketua FKPT Kaltim Dr. M. Hasyim Mi’radje, Kepala Badan Intelijen Negara Provinsi Kaltim Letkol Inf Mat Jayus, S.Sos, Ketua FKPT Kaltim Bidang Keagamaan Al-Habib Muhammad bin Muchtar Alhabsy, Ketua Umum PP Syabab Hidayatullah H. Naspi Arsyad, LC serta didampingi Hj. Nur Andriani Mahmud dari FKPT Kaltim.

Dalam pemaparannya Ketua FKPT menjelaskan tentang nasionalisme dan bagaimana menjaga kerukunan antar suku, agama dan kelompok di NKRI, sebagaimana Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit serta para pahlawan nusantara telah memperjuangkan bangsa ini dengan pengorbanannya.

“Sehingga hal-hal yang dapat menodai kesatuan bangsa sedini mungkin untuk dihindarkan,” kata Hasyim Mi’radje.

Dia juga menjelaskan upaya-upaya disintegrasi bangsa melalui faham-faham yang dianggap dapat mengakibatkan tindakan tororisme lebih disebabkan oleh kesenjangan sosial, keadilan yang tidak merata serta intervensi bangsa asing.

Hasyim menjelaskan, para pelaku terorisme yang selama ini beraksi lebih didominasi oleh para pemuda bangsa ini. Oleh karenanya, Hasyim berpesan agar generasi muda lebih selektif dalam berinteraksi dengan menjadikan agama sebagai solusi.

Terkait dengan media yang dianggap bertanggungjawab terhadap penyebaran faham radikal, dalam penayangan materi slidenya Hasyim tidak mencantumkan hidayatullah.com sebagai situs yang berpaham radikal.

Di kesempatan yang sama, Ketua BINDA Kaltim Letkol Inf Mat Jayus menjelaskan dari beberapa kasus yang melibatkan warga negara Indonesia yang belakangan ini marak bergabung ke ISIS, beliau menjelaskan bahwa mereka berangkat ke negara-negara yang diduki oleh ISIS lebih dilatari oleh kesenjangan sosial dan karena iming-iming uang yang dijanjikan.

“Adapula yang diiming-imingi dengan umroh gratis, dan lain-lain,” kata Mat Jayus.

Sebagai upaya pencegahan, Mat Jayus mengajak kepada generasi muda agar menjauhi kemungkaran yang dapat menimbulkan anarkisme serta menumbuhkan jiwa nasionalisme yang telah diwariskan oleh pendahulu bangsa yang telah meletakkan dasar-dasar bernegara yaitu Pancasila sebagai falsafah bangsa.

Sementara itu, Ketua Umum PP Syabab Hidayatullah Naspi Arsyad mengatakan dalam sebuah kutipan pendiri Hidayatullah Ustadz Abdullah Said beliau mengatakan:

“Jika Indonesia diisi oleh dai-dai Hidayatullah ditingkat RT, RW hingga Propinsi, maka negara ini akan aman. Karena di situ Islam diperagakan dengan baik”.

Naspi menggambarkan, bahwa terorisme di negeri ini seperti titik kebakaran hutan di musim kemarau, yang terbawa oleh angin dan sulutan api. Pemahaman tentang kebangsaan yang baik, jelas Naspi, merupakan upaya dalam menjaga keutuhan NKRI. Serta dengan pemahaman terhadap agama secara utuh, maka kita terhindar dari upaya yang menyesatkan.

Pernyataan Naspi juga dikuatkan oleh anggota FKPT Kaltim, Habib Mukhtar al-Habsy yang mengatakan bahwa pentingnya saling mengenal dan memahami karakter masing-masing bangsa, karena hal terbut dapat meminimalisir terjadinya tindakan kekerasan yang berujung pada tindakan terorisme.

Habib Mukhtar menggambarkan peperangan yang terjadi di dunia saat ini merupakan bentuk dari kesalahfahaman dalam mengenal prilaku, serta didominasi oleh nafsu duniawi.

Dalam kesimpulannya, sang moderator Farid Ma’ruf, yang juga Sekjend Syabab Hidayatullah periode 2011-2014, mengatakan terorisme adalah bentuk dari dominasi nafsu yang tidak berlandaskan pada wahyu Allah dan lebih mementingkan kepentingan golongan serta merendahkan orang lain. (hio/fm)

Dakwah Situs Islam dan Cita-cita Pendiri Negara

Masyarakat lakukan aksi simpatik menolak pemblokiran situs Islam / Hdc
Masyarakat lakukan aksi simpatik menolak pemblokiran situs Islam / Hdc

Oleh Kholili Hasib

PEMERINTAH akhirnya melakukan normalisasi terhadap situs-situs media Islam yang sempat dicurigai berbahaya.  Hampir sepekan kasus ini menyita perhatian publik, khususnya kaum Muslim Indonesia.

Sebelumnya,  sempat ada suara-suara yang mendukung penutupan 19 situs Islam dengan beralasan bahwa situs media Islam itu bertentangan dengan Pancasila serta membahayakan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tentu saja tuduhan tersebut berlebihan.

Salah satu portal berita Islam hidayatullah.com, misalnya, telah beroperasi selama 19 tahun, ikuti mengiri pergantian banyak pemimpin Indonesia. Dari masa kepeimpinan Presiden Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, Susilo B Yudhoyono tidak pernah memiliki masalah apapun dengan pemerintah.  Baru beberapa saat kepemimpinan Indonesia dipegang Presiden Joko Widodo, situs ini dipermasalahkan.

Tidak bisa dipungkiri, memang terdapat situs yang menggerakkan ajaran yang oleh pemerintah disebut ‘radikal’. Namun menggeneralisir situs Islam yang tidak terindikasi radikal adalah aksi berlebihan, bahkan membahayakan. Bisa jadi mengadu domba antar elemen masyarakat.

Pemerintah haruslah bersikap adil dan bijak. Prosedur pemblokiran harus dibuktikan di pengadilan terlebih dahulu.

Sepengetahuan saya, situs Islam yang tidak  terbukti menggerakkan radikalisme justru bermanfaat untuk bangsa Indonesia, bahkan banyak membantu pemerintah, utamanya terkait dengan Islam di Indonesia.

Karena selama ini mereka memberi perimbangan informasi. Media Islam mengajak kaum Muslim untuk menjadi warga negara yang taat kepada Tuhan, menjadi Muslim yang baik.

Harusnya itu menjadi hal baik bagi pemerintah dibanding pemerintah menghabiskan uang Negara untuk mengembalikan warga yang terpengaruh narkotika dan obat terlarang (Narkoba), karena aliran sesat dan masyarakat yang tersangkut dengan aksi kejahatan dan pornografi.

Belum lama ini Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa kembali menegaskan bahwa saat ini Indonesia sudah masuk darurat pornografi lantaran biaya untuk belanja pornografi sepanjang 2014 diperkirakan mencapai Rp 50 triliun.

Sementara untuk kasus narkotika dan obat terlarang (Narkoba), Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Pol Anang Iskandar belum lama ini mengatakan, biayanya rehabilitasi pecandu Narkoba minimal Rp 2.1 juta per bulan perorang.

Padahal, ada sekitar 27 ribu pecandu narkotika yang berada di dalam Lembaga Pemasyarakatan, sementara tempat rehabilitasi yang dimiliki BNN jumlahnya terbatas dan hanya mampu menampung 2 ribu orang per tahunnya.

Berapa uang Negara harus dihabiskan pemerintah mengembalikan mereka menjadi normal?  Seharusnya ini menjadi perhatian pemerintah.

Media-media Islam yang konten dan isinya selama ini mengajak remaja, masyarakat menjauhkan dari hal-hal yang terlarang yang justru harus dirangkul pemerintah, bukan dihalang-halangi.

Umat Islam dan Pendiri Bangsa

Sebagaimana sila pertama kita, Negara Kesatuan Rebublik Indonesia (NKRI) dibangun oleh para pejuang Islam dengan cita-cita membangun bangsa yang berketuhanan. Kita harus membaca sejarah pendirian bangsa ini.

Ketika pertama kali dirancang oleh para pendiri bangsa ini (founding fathers), karakter negara yang diinginkan adalah sebuah ‘Negara berketuhanan, berkeadilan dan bermartabat’.  BPUPK (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan) – sebuah panitia kecil  yang bertugas menyiapkan asas-asas kenegaraan pada tanggal 22 Juni 1945, bersepakat atas klausul bersama bahwa “Negara berdasarkan Ketuhanan”.

Panitia yang beranggotakan sembilan orang; Soekarno, Mohammad Hatta, AA. Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Abdul Kahar Muzakkir, H. Agus Salim, Achmad Subarjo, KH. Abdul Wahid Hasyim dan Muhammad Yamin, berdebat sangat sengit dan melelahkan. Namun, akhirnya berhasil merumuskan klausul sangat penting dalam bentuk Pancasila dan UUD’45, sebagai dasar dalam menjalankan negara Indonesia.

Sila pertama yang berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa”, jelas menunukkan bahwa sila yang paling asas ini mengandung makna tauhid. Klausul negara berketuhanan atas dasar pemahaman tauhid ini tidak berlebihan. Sebab, kemerdekaan bangsa Indonesia dicapai berkat jasa besar para ulama, santri dan kaum Muslimin, berperang melawan penjajah.

Di Aceh, para ulama terlibat Perang Sabil tahun 1873-1904. Di Jawa Jimur, KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa Resolusi Jihad untuk merebut kota Surabaya pada 23 Oktober tahun 1945.

Dalam tiap tahap-tahap perjuangan bangsa, selalu ada peran ulama. Sebelum memproklamasikan kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, Bung Karno di Cianjur menemui dua ulama besar, yaitu KH. Abdul Mukti dari Muhammadiyah, dan KH. Hasyim Asy’ari dari NU untuk meminta masukan (Ahmad Mansyur Suryanegara, Api Sejarah).

Jenderal Abdul Haris (AH) Nasution dalam sebuah pidato peringatan 18 Tahun Piagam Jakarta 22 Juni 1963 di Jakarta mengatakan, bahwa rumusan dasar negara muncul di antaranya karena inisiatif para alim ulama yang mengirimkan surat berisi usulan tentang bentuk dan ketentuan-ketentuan yang digunakan bagi Indonesia merdeka. Surat yang dikirim dari berbagai alim ulama itu berjumlah 52 ribu surat yang terdaftar (Endang Saifuddin Anshari, Piagama Jakarta 22 Juni 1945, hal. 29-30).

Prof. Hazairin, Guru Besar Ilmu Hukum UI, berpendapat, “Bahwa yang dimaksud dengan Tuhan Yang Maha Esa itu ialah Allah, dengan konsekuensi (akibat mutlak) bahwa ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’ berarti pengakuan ‘Kekuasaan Allah’ atau ‘Kedaulatan Allah’ (Prof. Hazairin, Demokrasi Pancasila, hal. 31).

Pendapat tersebut juga pernah diputuskan oleh ulama NU dalam Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama Nahdlatul Ulama di Situbondo Jawa Timur tanggal 21 Desember 1983. Di antara keputusan Munas tersebut adalah, (1) Sila ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’ sebagai dasar Negara Republik Indonesia menurut pasal 29 ayat 1 UUD 1945, yang menjiwai sila yang lain, mencerminkan tauhid menurut pengertian keimaman dalam Islam.

Maka, KH. Wahid Hasyim pada saat pembahasan rancangan UUD 1945, pada pasal 2 ayat 4 agar Presiden adalah orang Indonesia asli yang Muslim. Kalimat yang diusulkan berbunyi : “Yang Menjadi Presiden dan wakil Presiden hanya orang Indonesia asli yang beragama Islam” (Endang Saifuddin Anshari, Piagama Jakarta 22 Juni 1945, hal. 33). Usulan kiai NU ini satu nafas dengan asas negara yang berdasarkan ketuhanan yang Maha Esa.

Artinya, sesunggunya para pendiri negara Indonesia bersepakat bahwa Indonesia adalah negara berdasarkan kepada keimanan tauhid. Bukan negara netral-agama.

Tafsir Asli Pancasila

Dr Adian Husaini berpendapat, para perumus dasar negara bermaksud memasukkan konsep-konsep kunci Islam ke dalam Pancasila. Sehingga, menurutnya, penafsiran Pancasila yang paling tepat adalah berdasarkan tauhid Islam, bukan sebebasnya apalagi atas dasar tafsir sekuler.

Cukup menarik pendapat M. Natsir yang mengatakan; “Pancasila memang mengandung tujuan-tujuan Islam, tetapi Pancasila itu bukan berarti Islam”. Artinya, Pancasila tidak-lah mewakili seluruh ajaran Islam. Tetapi Pancasil, dapat sesuai dengan tujuan pendiri bangsa, sehingga dibingkai dengan tauhid.

Berdasarkan hal itu, ajaran tauhid Islam bisa diterapkan dalam bidang kenegaraan. Keinginginan agar pemimpin Indonesia sesuai dengan Islam, adalah sesuai dengan cita-cita pendiri bangsa, legal dan sesuai undang-undang dasar.

Sudah sepatutnya, negara ini siap untuk tunduk dan patuh kepada aturan-aturan Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi Wassallam. Konsep ketauhidan ini merupakan konsep yang ideal bagi penduduk Indonesia yang mayoritas Muslim.

Segala bentuk kesyirikan, kesesatan dan pengebirian terhadap ajaran agama layak diberi tindakan. Karena tidak sesuai dengan cita-cita para pendiri bangsa. UU. No. 1/PNPS/1965 tentang Penodaan Agama, merupakan produk undang-undang yang semestinya ditegakkan dengan tegas oleh para negarawan. Karena UU tersebut merupakan amanah pendiri bangsa, agar Indonesia tetap bertauhid, bebas dari faham anti-agama.

Inilah cara para pendiri bangsa agar karakter bangsa tidak ditelan oleh imperialisme baru. Seperti ungkapan KH. Muhammad Isa Anshori;

“Pancasila harus hidup dengan teman-temannya sila yang lain, seribu satu sila yang tersebar dalam lembaran ajaran Islam. Bila Pancasila tidak dijaga dengan cara seperti itu, maka akan ditelan oleh imperialisme dan komunisme.”

Dengan itu, amanah besar yang harus diusung kembali oleh generasi kita sekarang adalah, menjadikan Indonesia lebih beradab. Kaum Muslimin harus didorong untuk melaksanakan ajaran agamanya dengan baik, agar mereka menjadi manusia yang jujur dalam keimanannya kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Taat dan tidak anti-agama.

Terkait dengan amanah bangsa ini, Adian Husiani, pernah mengusulkan agar Presiden mengeluarkan Kepres ‘Iman dan Takwa’ dalam pendidikan sebagai penjabaran tujuan pendidikan Nasional sebagaimana termaktub dalam Sisdiknas dan UU No. 20 tahun 2003 tentang pendidikan tinggi.

Karena itu, bangsa Indonesia hendaknya mewaspadai upaya-upaya untuk membecah belah bangsa dan usaha menjauhkan warga negara dari berketuhanan.

Situs-situs dakwah Islam sudah sesuai dengan Pancasila dan UUD ’45 sehingga tidak perlu dicurigai. Pemblokiran tanpa alasan justru menimbulkan permusuhan elemen bangsa.

Adu domba kaum Muslim dengan pemerintah juga dengan masyarakat harus dihentikan. Semua harus kembali kepada tafsir Pancasila yang asli, dimana negara ini taat pada Tuhan, bukan anti-Tuhan dan anti-Islam.*

_____________
KHOLILI HASIB, penulis adalah pengurus Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Jawa Timur. Artikel ini telah dimuat sebelumnya di Hidayatullah.com

Buletin Hidayatullah Edisi Maret 2015

cover buletin hidayatullah maret 2015SEJAK berdirinya, tradisi Hidayatullah tidak pernah berubah termasuk kultur dan interaksi sosialnya yang simpatik dan terbuka. Itulah juga yang menjadi corak utama dakwah Hidayatullah yang diwariskan pendirinya, yaitu dakwah yang merangkul mengedepankan inklusifitas dan sama sekali jauh dari praktik kasar.

Maka, ketika hari ini ada yang menuding Hidayatullah “radikal” melalui media Hidayatullah.com, berarti tuduhan radikal itu adalah sebuah persepsi/klaim baru yang ingin dibangun di luar pemahaman yang diyakini Hidayatullah selama ini.

Penasaran ingin mengetahui bahasan ini lebih jauh? Segera nikmati sajian Buletin Hidayatullah edisi Maret 2015 ini, yang diantaranya mengulas kembali budaya Hidayatullah yang telah mentradisi tentang pentingnya menjaga ukhuwah, keutuhan umat, kebersamaan, dan bela negara.

===========

BULETIN HIDAYATULLAH adalah media informasi dan silaturrahim ormas Hidayatullah yang terbit reguler setiap bulan. Buletin ini diedarkan melalui saluran transimi virtual seperti email dan sejenisnya tanpa dikenakan biaya alias gratis bagi siapa saja yang ingin berlangganan.

Kami sangat merekomdendasikan supaya Anda menggunakan peramban (browser) Google Chrome ketika mengunduh (download) Buletin Hidayatullah ini untuk mendapatkan akses cepat dan kustomasi tampilan yang lebih dinamis. Download Buletin Hidayatullah di bawah ini:

DOWNLOAD BULETIN HIDAYATULLAH MARET 2015

Pakar Hukum Cyber Sebut Pemblokiran Hidayatullah.com Tindakan Salah

202655_pengamatHidayatullah.or.id — Pakar hukum cyber Megi Margiono angkat bicara mengenai pemblokiran 22 situs yang dilakukan oleh Kominfo atas rekomendasi BNPT. Menurutnya, jumlah itu lebih sedikit ketimbang zaman Tifatul Sembiring menjadi Menkominfo periode lalu.

“Zaman Pak Tifatul ada situs (yang) diblokir (karena dianggap) radikal sebanyak 300 pada 2012 dari yang masuk 900. Apa yang dilakukan menteri sekarang (Rudiantara) melanjutkan apa yang dilakukan Pak Tifatul, Permennya sudah ada dari dulu. Mereka memproses saja,” ujar Margiono.

Hal ini disampaikan Margiono di Kantor Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta, Jl Kalibata Timur, Jakarta Selatan, Minggu (5/4/2015). Dia juga menyebut pemblokiran situs Hidayatullah.com dari 21 lainnya adalah sebuah kesalahan.

Sebab menurutnya, tidak ada konten-konten bernuansa radikalisme seperti yang dikatakan BNPT. “Saya anggap (pemblokiran) Hidayatullah itu kesalahan, di situ tidak ada konten kekerasannya. Mungkin ada 1-2 (artikel),” imbuh Margiono.

Pria lulusan salah satu universitas termuka di Inggis itu mengatakan alasan yang digunakan untuk memblokir situs tersebut kurang kuat jika berdasar dari kecurigaan terhadap artikel semata. Dia menilai seharusnya pemerintah tidak memblokir situsnya, tetapi cukup membekukan akses URL (uniform Resource Locator) saja.

“Kalau ada artikel yang bahaya bukan pemblokiran situs tapi di-take down dan URL saja, bukan blokir. Pemblokiran oleh Menkominfo melalui Permen (Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 19 Tahun 2014 yang mengacu pada UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik/ITE) tidak berlaku untuk pers,” terangnya.

“Menurut saya ada hikmahnya juga dari kejadian ini akhirnya Kominfo mempercepat tim panel. Ini usulan dari lama,” sambung Murdiono.

Seperti diketahui, Menkominfo Rudiantara membentuk tim panel yang terdiri dari beberapa ahli untuk menangani konten negatif dalam situs-situs media daring. Tim ini dibentuk untuk menanggapi masukan berbagai kalangan masyrakat atau organisasi terkait situs bermuatan radikal.

Tim panel dibentuk berdasarkan Keputusan Menkominfo nomor 290 Tahun 2015. Panel ini diketuai oleh Dirjen Aplikasi Informatika Kominfo, sedangkan wakil ketua diduduki pejabat Deputi Bidang Koordinasi Komunikasi dan Aparatur Kemenkopolhukam.

Sejumlah nama yang menjadi pengarah panel ini antara lain Menkopolhukam, Menkominfo, Jaksa Agung, Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Kepala BNPT, Kepala BNN. Ketum Masyaratakat Telematika Indonesia, Prof Ahmad Syafii Maarif, Salahuddin Wahid, Imam Prasodjo dan Romo Benny Susetyo.

Panel juga terbagi menjadi beberapa kategori tim yaitu panel Terorisme, SARA dan Kebencian; panel Pornografi, Kekerasan pada Anak dan Keamanan Internet; panel penilai untuk Investasi Ilegal, Penipuan, Perjudian dan Narkoba serta panel penilai untuk Hak Kekayaan Intelektual. (detik/hio)

MUI Tolak Pemblokiran Situs Islam, Berita Hidayatullah Sangat Moderat

173117_muiHidayatullah.or.id — Majelis Ulama Indonesia (MUI) tidak sepakat dengan langkah pemblokiran yang dilakukan pemerintah terhadap beberapa situs Islam. Hal itu dinilai sebagai langkah kontraproduktif.

Ketua MUI Din Syamsuddin mengaku pernah dihubungi pihak Kemenkominfo untuk membahas penyelesaian polemik pemblokiran ini. Padahal, sebelum dan saat pemblokiran dijalankan, Kemenkominfo sama sekali tidak pernah memberikan informasi ke MUI.

“Kemenkominfo pernah hubungi saya untuk mohon ikut panel soal pemblokiran itu, saya bilang itu tidak baik. Kalau betul-betul ada radikal kita sepakat blokir. Seharusnya ada pemberitahuan ke MUI dulu,” tegas Din di kantornya, Jakarta dikutip laman Dream, kemarin.

Din menerangkan pemblokiran tidak sesuai dengan upaya pencegahan terorisme. Dia bahkan menilai langkah pemerintah itu justru dapat memicu semakin suburnya terorisme di Indonesia.

“Adanya 22 situs yang diblokir, bisa muncul lagi 200 situs radikal yang lain. Justru itu akan melanggengkan terorisme,” katanya.

Selanjutnya, Din menanggapi salah satu situs yang menjadi korban pemblokiran, Hidayatullah.com. Dia memandang situs ini sama sekali tidak menyebarkan paham radikalisme.

“Kalau saya lihat situs Hidayatullah itu menyuarakan kabar sangat moderat. Kalau betul-betul ada radikal kita sepakat blokir. Soal sertifikasi situs, itu bukan domain kami,” terang Din.

Lebih lanjut, Din pun mengkritik pemerintah yang justru membiarkan situs-situs yang menyerang Islam. Padahal, menurut dia, situs-situs tersebut juga berbahaya bagi bangsa.

“Begitu banyak situs-situs yang menyerang umat Islam bisa merugikan bangsa kita juga. Kami imbau BNPT bisa duduk bersama dan mencari cara yang mengatasi radikalisme,” tambahnya.

MUI juga menyatakan kekecewaan atas pemblokiran tersebut, terlebih tidak diajak duduk bareng atas keputusan tersebut.

“Jangan begitu dong merusak harmoni di NKRI yang tercinta ini atau bertanya kepada MUI sebagai lembaga tertinggi umat Islam atau ke ormas-ormas Islam juga boleh. Jangan kemudian memutuskan sendiri,” ujar Ketua MUI Din Syamsuddin, dalam jumpa pers di Kantor MUI, Jl Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (7/4/2015).

Menurut Din, ‘gaya’ pemerintah memblokir situs tidak boleh terjadi lagi. Apalagi ‘gaya’ tersebut sudah diperbaiki pada era reformasi.

“Kan tidak ada salahnya dipanggil, tabayyun (mencari kejelasan),” katanya dikutip media.

MUI dan ormas Islam menolak terorisme dan mengecam radikalisme keagamaan. Namun hal tersebut jangan diartikan MUI membela hal-hal negatif.

“Cuma yang menjadi fokus perhatian MUI cara pemerintah tanpa komunikasi, tanpa dialog, tanpa persuasi. Sama aaja pukul duluan urusan belakangan, nah ini yang kami kritik,” tuturnya.

BNPT juga dikritik MUI. Dengan memblokir belasan situs maka akan memunculkan ratusan ribu situs baru.

“Ini semakin mendorong radikalisme karena kekecewaan pada negara dengan rezim yang represif seperti yang ditunjukkan sekarang ini,” ucap Din. (hio/ybh)