Beranda blog Halaman 627

Ketum PP Hidayatullah di Universitas Gadjah Mada

abdul mannan bersama dekan Fakultas Peternakan UGM 2 abdul mannan bersama dekan Fakultas Peternakan UGM 3 abdul mannan bersama dekan Fakultas Peternakan UGM 4 abdul mannan bersama dekan Fakultas Peternakan UGMHIDORID ARSIP — Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah sepakat menjalin kerjasama bidang pendidikan, ekonomi kelembagaan dan agro-industri berbasis peternakan. Naskah kerjasama ditandatangani Dekan Fakultas Peternakan UGM, Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA., DEA dan Ketua Umum PP Hidayatullah, Dr. H. Abdul Mannan, MM, di Ruang Sidang Besar Fakultas PeternakanUGM, Kamis (5/9/13) lalu. (ugm/hio)

BAZNAS dan POSDAI Gelar Pekan Gizi Nusantara di Papua

Pekan Gizi Nusantara Baznas Posdai Hidayatullah di Papua (1) Pekan Gizi Nusantara Baznas Posdai Hidayatullah di Papua (2) Pekan Gizi Nusantara Baznas Posdai Hidayatullah di Papua (3)Hidayatullah.or.id — Melihat besarnya manfaat yang dinikmati oleh para mustahik pada Kegiatan Pekan Gizi Nusantara pada Idul Adha lalu, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Pusat kembali mengadakan kegiatan serupa pada 22 hingga 23 Desember, bekerjasama dengan Persaudaraan Dai Nusantara (POSDAI) Hidayatullah.

Pekan Gizi Nusantara tahap 2 ini dinikmati manfaatnya oleh 21 ribu Kepala Keluarga atau sekitar 84 ribu mustahik. Wilayah jangkauannya lebih dari 96 titik antara lain Aceh, Sumatera Selatan, Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Bali, Lombok, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur dan Papua.

Program ini dilatarbelakangi oleh masih tingginya angka kemiskinan di Indonesia yang kemudian juga diikuti oleh potensi rawan gizi buruk. Diharapkan melalui kegiatan ini, dapat membantu peningkatan kualitas gizi mustahik.

Selain itu, karena pelaksanaan bertepatan dengan Hari Ibu, kegiatan ini tuga bertujuan untuk memberikan kebahagiaan bagi para ibu dari keluarga kurang mampu dengan meringankan beban pemenuhan gizi keluarga.

Ketua Umum BAZNAS, Prof Dr Didin Hafidhuddin MSc mengatakan, dana dari kegiatan ini bersumber dari zakat yang ditunaikan oleh para muzaki BAZNAS. Mereka mengamanahkan zakatnya melalui BAZNAS untuk dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi para mustahik yang membutuhkan, bukan hanya yang tampak di Jakarta tetapi juga yang sulit mereka jangkau jika harus menyalurkan sendiri.

“Insyaallah dana zakat dari para muzaki sebesar Rp4,3 Miliar yang digunakan dalam kegiatan ini betul-betul tepat sasaran bagi para mustahik yang membutuhkan, seperti halnya penerima manfaat pada program BAZNAS yang lain,” katanya.

Memberdayakan Muallaf

Ketua Divisi Program dan Operasional Posdai Hidayatullah, Muhajirin Anshor, dalam keterangannya di Papua di sela-sela kegiatan Pekan Gizi Nusantara II, mengatakan Posdai Hidayatullah dipercaya oleh Baznas Pusat untuk menjadi salah satu mitra lokal penyelenggaraan kegiatan pekan gizi yang dilakukan di 5 wilayah di Papua.

Adapun 5 wilayah penyelenggaraan Pekan Gizi Nasional di provinsi Papua ini digelar di Jayapura, Merauke, Boven Digoel, Sorong, dan Teluk Bintuni. Sedikitnya ada 750.000 orang penerima manfaat kegiatan ini.

Muhajirin menjelaskan, pekan gizi yang digelar di Papua ini difokuskan untuk atau bagi muallaf Papua, selain diperuntukkan bagi masyarakat miskin dan yang membutuhkan.

“Alhamdulillah, antusiasme masyarakat sangat luar biasa. Karenanya, kegiatan serupa seperti ini harus terus digalakkan khususnya di Papua. Masih banyak saudara kita di sini, para muallaf, yang sangat membutuhkan perhatian kita untuk terus memberdayakan mereka,” kata Muhajir di Papua.

Sebagai lembaga yang concern terhadap dakwah Islam dan pengembangan sumber daya manusia khususnya tenaga dai, Posdai Hidayatullah kata Muhajirin terus melakukan upaya-upaya konstruktif diantaranya menyelenggarakan pendidikan dai dan bina muallaf di kantong-kantong muslim minoritas dan pelosok.

Kerjasama Posdai Hidayatullah dan BAZNAS Pusat ini dalam rangka penyaluran paket gizi dan bahan konsumsi ke daerah-daerah rawan pangan, rawan akidah, dan kawasan minoritas muslim. Pada Pekan Gizi Nusantara tahap ini 2 sebanyak 84 Ribu mustahik memperoleh manfaat paket gizi. (ybh/hio)

Eratkan Ukhuwah Islami, Jauhi Berberai dan Berselisih

Foto kenang-kenangan tiga kader awal Hidayatullah dari kiri ke kanan: Ustadz Amin Mahmud, Almarhum Ustadz Abdul Madjid Aziz, dan Ustadz Lathif Utsman / ANC
Foto kenang-kenangan tiga kader awal Hidayatullah dari kiri ke kanan: Ustadz Amin Mahmud, Almarhum Ustadz Abdul Madjid Aziz, dan Ustadz Lathif Utsman / ANC

Hidayatullah.or.id — Hidup berjamaah dan menjaga silaturahim adalah sesuatu yang mahal lagi langka didapati dalam kehidupan saat ini. Tak sedikit orang berdalih tidak sempat silaturahim karena kesibukan dan urusan yang tidak pernah habis.

Demikianlah benang merah yang juga lontaran keprihatinan meneropong masalah keummatan yang menguak dalam acara Silaturahim Murabbi di kampus Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, beberapa waktu lalu.

Diharapkan, dengan kegiatan Silaturahim Murabbi yang diikuti oleh para sesepuh Hidayatullah yang berdomisili di kampus Gunung Tembak bisa menjadi benteng yang menjaga dan mengawal perjalanan lembaga Hidayatullah.

Dalam kegiatan yang digelar rutin sekali dalam sebulan itu, Amin Mahmud, salah seorang santri awal Hidayatullah mengingatkan, tantangan terbesar umat Islam yang dalam hal ini lebih-lebih persyarikatan Hidayatulah saat ini adalah menjaga komitmen persaudaraan (ukhuwah) dan persatuan (ittihad).

Sebab diakui, dengan perkembangan zaman yang sangat pesat di Indonesia bahkan dunia, potensi keretakan ukhuwah Islamiyah itu bisa timbul nantinya.

“Meski demikian, Hidayatullah boleh dikata belum besar dan belum klimaks, jadi terlalu dini kalau ada istilah perpecahan di antara jamaah Hidayatullah,” ujar Amin selaku murabbi (pembina) salah satu Halaqah Tarbiyah di kampus Hidayatullah Gunung Tembak. “Tentu saja hal itu harus kita hindari sejauh mungkin,” imbuh Amin kembali.

Untuk diketahui, acara Silaturahim Murabbi menghadirkan 16 orang Murabbi Halaqah Tarbiyah yang ada di kampus Gunung Tembak. Setiap halaqah biasanya memiliki mutarabbi (binaan) sekitar 15-20 orang warga pesantren.

Adapun sejumlah murabbi tersebut tidak lain adalah para perintis Pesantren Hidayatullah yang sejak awal nyantri bersama Abdullah Said rahimahullah, pendiri Hidayatullah.

Bahkan, tak jarang Pimpinan Umum Hidayatullah, KH. Abdurrahman Muhammad juga turut urun rembuk dan bersilaturahim bersama para kader senior tersebut. Secara bergilir, acara silaturahim lalu berpindah dari satu rumah murabbi ke rumah yang lain.

Untuk bulan Desember ini, silaturahim diadakan di rumah Ahmad Fitri, selaku Murabbi Halaqah ke-12. Manandring Abdul Gani, salah seorang santri awal sejak tahun 1970-an lalu bercerita, jika dirinya sebagai keponakan pernah diputus hubungan keluarga oleh pamannya. Waktu itu paman Manandring tersebut murka karena ia lebih memilih ikut Abdullah Said daripada menjalankan usaha bisnis pamannya.

Uniknya, kisah Manandring, Abdullah Said tetap menyuruhnya untuk selalu menjaga silaturahim dan akhlak mulia dengan pamannya tersebut. Seolah Said tak peduli dengan paman Manandring yang lagi murka.

“Alhamdulillah, akhirnya Allah membukakan hidayah dan maaf sehingga hubungan kekerabatan itu tetap terjalin baik,” ujar Manandring mengenang.

Senada dengan itu, Syamsu Rijal Palu, Murabbi Halaqah 9 berharap, agar setiap warga Hidayatullah tetap menjaga kultur silaturahim tersebut. Sebab diyakini, tradisi yang dulu digencarkan di awal perintisan Hidayatullah itu tetap ampuh mengatasi berbagai persoalan sosial yang terjadi di kampus-kampus Hidayatullah. [Baca: Menjaga Tradisi Hidayatullah]

“Paling minimal saling menjenguk jika ada di antara anggota halaqah yang sakit atau sedang punya masalah,” terang Syamsu Rijal memberi contoh.

Berdiri sejak tahun 1973, boleh dikata Hidayatullah mengalami pertumbuhan yang cukup pesat. Terbukti, dengan usia yang baru menanjak 42 tahun ini, Hidayatullah telah memiliki 36 Pengurus Wilayah (PW) di setiap wilayah Propinsi dan 130-an Pengurus Daerah (PD) yang menyebar rata di sejumlah Kota/ Kabupaten di seluruh pelosok nusantara.

Lebih jauh Abdul Qadir Jailani juga menambahkan, umat Islam tak boleh lupa dengan sejarah Indonesia. Dengan luas wilayah Indonesia yang begitu besar dan jumlah penduduk yang begitu banyak, namun semua itu seolah tak punya arti ketika rakyat Indonesia tidak mampu bersatu.

Akibatnya, selama 350 tahun lebih penjajah kafir yang notabene jumlahnya lebih sedikit mampu memporak-porandakan umat Islam ketika itu.

“Salah satu faktornya adalah lemahnya persaudaraan dan persatuan rakyat Indonesia sehingga mereka mudah diadu domba oleh penjajah,” ungkap Abdul Qadir, Murabbi Halaqah 4 ini.

Abdul Qadir berharap, komitmen merawat silaturahim dan ukhuwah ini benar-benar harus dijaga oleh setiap kader Hidayatullah. Sebab umat Islam kini ibarat buih di lautan, seolah tak punya kekuatan apa-apa lagi.

Abdul Qadir mengimbuhkan, apa yang dikhawatirkan oleh Nabi Muhammad kini benar-benar terjadi, bahwa masalah utama itu bukan pada persoalan kemiskinan umat Islam. Tapi justru ketika pintu-pintu rizki itu mulai dimudahkan. Karena akan timbul berbagai fitnah perebutan harta dan materi.

“Tak sedikit orang yang fasih bicara tentang persatuan tapi hati-hati mereka sendiri tak bisa bersatu. Mereka juga lantang berteriak akan persaudaraan tapi faktanya mereka sulit bersaudara,” papar Ustadz yang pernah tugas berdakwah di sejumlah wilayah di nusantara ini.

Dalam kesempatan terpisah, kegiatan Silaturahim Murabbi Halaqah ini diakui mampu memberi spirit penyemangat kepada kader-kader Hidayatullah. Menurut Abdul Ghofar, salah seorang warga kampus Gunung Tembak, hal tersebut patut mejadi syiar yang ditiru oleh setiap kader Hidayatullah.

“Dengan silaturahim, berbagai persoalan bisa diatasi atas izin Allah. Sebab di sana ada upaya saling menaut hati dan fikiran serta membersihkan hati dan sengketa batin,” ujar Abdul Ghofar.

“Ini adalah teladan yang sangat baik. Jika para sesepuh dan orang tua saja masih rajin ikut halaqah dan silaturahim, maka bagaimana dengan para pemuda generasi pelanjut. Harusnya jauh lebih intens,” ucap Abdul Ghofar memungkasi. (Masykur)

Buletin Hidayatullah Edisi Desember 2014

cover bulhid desember 2014DOWNLOAD TERBARU! Buletin Hidayatullah edisi Desember 2014. Bagi Anda yang belum mendapatkannya, bisa didownload pada lampiran di akhir artikel  ini. Tentu banyak hal yang menarik di dalamnya, jangan sampai ketinggalan.

BULETIN HIDAYATULLAH adalah media informasi dan silaturrahim ormas Hidayatullah yang terbit reguler setiap bulan. Buletin ini diedarkan melalui saluran transimi virtual seperti email dan sejenisnya tanpa dikenakan biaya alias gratis bagi siapa saja yang ingin berlangganan.

Kami sangat merekomdendasikan supaya Anda menggunakan peramban (browser) Google Chrome ketika mengunduh (download) Buletin Hidayatullah ini untuk mendapatkan akses cepat dan kustomasi tampilan yang lebih dinamis. Download Buletin Hidayatullah di bawah ini:

BULETIN HIDAYATULLAH DESEMBER 2014

Hidayatullah Denpasar Bangun Bali dengan Keteladanan

0
Beberapa peserta menyempatkan berfoto bersama usai acara / YY
Beberapa peserta menyempatkan berfoto bersama usai acara / YY

Hidayatullah.or.id — Di penghujung tahun 2014 ini, Pengurus Daerah (PD) Hidayatullah Denpasar didukung oleh Pengurus Wilayah (PW) Hidayatullah Bali dan Pesantren Hidayatullah Bali, mengadakan Dauroh Marhala Ula, digelar selama 3 hari, beberapa waktu lalu (14-16/12/2014).

Dalam sambutannya saat pembukaan, Ketua PD Hidayatullah Denpasar, Didi Khoirudin Zuhri, mengatakan Dauroh ini diadakan sebagai realisasi program kerja PD Hidayatullah Denpasar. Acara ini digelar dalam rangka untuk meng-upgrade kompetensi dai dan kader Hidayatullah di wilayah tersebut.

“Hidayatullah di Bali harus menjadi pelopor gerakan dakwah moral yang menebarkan kasih membangun umat dalam rangka turut serta membangun wilayah ini dengan keteladanan Islam yang Rahmatan lil ‘Aalamiin,” jelas Didi Khoiruddin.

Mengingat pentingnya kegiatan pemantapan komptensi dan kualitas dai ini, Didi pun mendorong peserta untuk memanfaatkan betul kesempatan tersebut. Selain sebagai ajang silaturrahim untuk merekatkan ukhuwah Islamiyah, pada akhir kegiatan dauroh ini peserta menerima sertifikat yang dinyatakan lulus oleh tim penilai.

Di kesempatan yang sama, Ustadz H. Fery Indarto yang membuka dauroh ini yang juga ketua Pengurus Wilayah Hidayatullah Bali menyampaikan, Dauroh Marhala Ula ini diharapkan dapat mencetak kader yang siap menjadi pilar-pilar yang mampu membimbing umat untuk selalu mempelajari, mengajarkan, menghayati dan mengamalkan Al-Qur’an dan assunah kepada seluruh manusia.

Sementara itu, Ustadz Ramli yang didapuk sebagai peserta terbaik dalam dauroh marhala ini mengatakan sangat bersyukur kepada Allah Ta’aala, dengan mengikuti dauroh ini karena lebih menambah khazanah keilmuan.

“Saya semakin bersemangat dan semoga bisa berkontribusi lebih maksimal lagi dalam berjuang bersama ‘memasarkan’ Islam, Insya Allah,” kata Ramli mengungkapkan kesannya.

Dauroh yang dilaksanakan di kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Denpasar ini diikuti sebanyak 25 orang terdiri dari pengasuh, guru, dan rekan-rekan amal usaha Hidayatullah. Dauroh ini disponsori oleh Laznas Baitul Maal Hidayatullah yang didukung oleh Yayasan Al Islam Denpasar, MI & MTs Hidayatullah, Mushida dan Syabab Hidayatullah Bali.

Kegiatan ini berlangsung sukses dengan antusiasme peserta yang mengikuti berbagai materi yang dibawakan oleh instruktur-instruktur berpengalaman, sehingga suasana dauroh ini dari materi ke materi berikutnya tetap hidup. (Yusran Yauma)

Inilah Pesan Penting Pendiri Hidayatullah, Camkanlah!

Sejumlah kader awal Hidayatullah dalam sebuah kesempatan senggang / YBH
Sejumlah kader awal Hidayatullah dalam sebuah kesempatan senggang. Tampak Ustadz Hasyim HS, kedua dari kanan (berbaju koko hitam berkopiah putih) / YBH

Hidayatullah.or.id — Dalam menapaki jalan panjang dakwah dan perjuangan, Hidayatullah tidak boleh kehilangan identitas diri. Dengan karakter itulah Hidayatullah bisa lahir dan dengan karakter yang sama itu pula Hidayatullah niscaya bisa bertahan di masa yang akan datang Insya Allah.

Demikian dikatakan Muhammad Hasyim HS, salah seorang perintis Pesantren Hidayatullah di hadapan ratusan warga dan santri Hidayatullah Gunung Tembak yang memadati pengajian rutin pekanan “Kelembagaan” di masjid ar-Riyadh, Balikpapan, beberapa waktu lalu (20/12/2014.

Seperti diketahui, Pesantren Hidayatullah yang mulai berdiri tahun 1973 ini diawaki oleh beberapa tokoh pemuda kala itu. Selain Abdullah Said rahimahullahu sebagai inisiator utama, juga ada Muhammad Hasyim HS (Pesantren Darussalam Gontor), Ahmad Hasan Ibrahim (Pesantren Krapyak Yogyakarta), Usman Palese (Persis Bangil), dan Muhammad Nazir Hasan (Akademi Tarjih Muhammadiyah).

Menurut Ustadz Hasyim, demikian warga pesantren biasa menyapanya, karakter khas dan identitas diri Hidayatullah yang dimaksud adalah spirit kerja keras, ibadah keras, dan berfikir keras.

“Tak bisa dipungkiri saat itu Hidayatullah benar-benar start dari nol. Tak ada apa-apa yang kita punyai selain keyakinan kepada Allah dan tiga spirit tadi,” ucap Hasyim mengenang.

Setiap waktu Abdullah Said rahimahullahu, Pendiri Pesantren Hidayatullah, tanpa henti terus memompakan spirit motivasi tersebut. Sebab kondisi lingkungan yang dihadapi benar-benar menghendaki demikian.

“Tak seorang pun yang hadir pada masa awal perintisan itu yang mampu membayangkan seperti suasana sekarang. Sebab yang tampak di hadapan mata saat itu hanyalah hutan belukar dan tanah rawa semata,” ungkap ustadz yang pernah menimba ilmu di Pesantren Modern Gontor tersebut.

Hasyim berharap, etos kerja keras itu hendaknya terus dipelihara dan diwariskan. Meski kondisi lingkungan dan tantangannya tidak sama seperti dahulu lagi.

“Apapun profesi dan amanah yang diberikan, semuanya harus dilakoni dengan etos kerja yang tinggi. Harus sungguh-sungguh dan mujahadah semaksimal mungkin, gak boleh bekerja asal-asalan,” terang Hasyim menasihati.

“Jika Hidayatullah hanya diawali dengan asal-asalan atau semaunya saja, tentu pesantren ini tak seperti yang kita lihat sekarang,” imbuh ustadz kelahiran Magelang, Jawa Tengah ini.

Selanjutnya, spirit kedua yang tak boleh hilang di Hidayatullah adalah ibadah keras. Sebagai miniatur dari kampus berperadaban Islam, maka ibadah –terutama shalat berjamaah- menjadi harga mati yang tak bisa ditawar lagi di Pesantren Hidayatullah.

“Itu bukan rangkaian slogan kata-kata indah tanpa bukti. Shalat berjamaah itu bukan nomor dua, ia nomor satu, tidak ada urusan lagi di atasnya,” jelas Hasyim mengingatkan.

“Jika azan telah berkumandang, maka semua urusan harus ditinggalkan. Seluruh santri dan warga wajib menegakkan shalat berjamaah di masjid. Jangan coba-coba melemahkan urusan ibadah ini. Sebab dengannya Allah berkenan memberikan pertolongan-Nya kelak,” ungkap Hasyim tegas.

Dalam kesempatan yang sama, Hasyim juga mengutip beberapa statement menggugah Abdullah Said rahimahullahu terkait penegakan ibadah shalat berjamaah. Di antaranya adalah, “Coba tunjukkan kalau kamu itu rindu kepada Tuhan.”

Di lain waktu, kata Hasyim, Abdullah Said juga berpesan, “Mari tunjukkan kalau memang kita ini serius memenuhi panggilan Tuhan.” Atau dalam redaksi yang lain, “Ayo tunjukkan bahwa kita ini sungguh-sungguh berjuang dan sungguh-sungguh hanya berharap pertolongan dari Allah”.

Spirit ketiga yang tak boleh luntur dari kader Hidayatullah adalah berfikir keras. Para kader ditantang dan dituntut untuk senantiasa berfikir keras dalam menghadapi persoalan umat. Sebab kata Hasyim, Nabi mendapat bimbingan wahyu juga melalui upaya keras Nabi berfikir hingga harus berkontemplasi (tahannuts) di Gua Hira, Makkah.

Diharapkan dengan berfikir keras, maka seorang kader Hidayatullah sanggup menggali nilai-nilai wahyu, menyerap ajaran Ilahiyah dan selanjutnya menerapkan serta mendakwahkan kebaikan-kebaikan tersebut kepada orang lain.

Hasyim meyakini, dengan spirit dan karakter khas yang dimiliki di atas, arus dakwah Hidayatullah akan terus bergerak dinamis. Tentu saja, hal ini patut mejadi kesyukuran bersama. Salah satu bentuk syukur itu dengan cara mempertahankan sekaligus meningkatkan kebaikan tersebut.

Lebih jauh menurut Hasyim, semangat kerja keras, ibadah keras, dan berfikir keras tersebut adalah warisan Nabi dan para sahabat. Sejak awal masa kedatangan Islam, generasi terbaik tersebut sudah mengucurkan keringat, air mata, bahkan darah mereka sekalipun.

“Semua itu tentunya tak mudah dilakukan. Tapi inilah harga seorang pejuang dakwah. Ia harus bermujahadah secara maksimal melaui kerja keras, ibadah keras, dan berfikir keras,” pungkas Hasyim semangat. (Masykur)

Gerakan Nasional Dakwah Mengajar dan Belajar Al Qur’an

0

[youtube width=”600″ height=”338″ src=”ojwpTQseWeU”][/youtube]

Grand MBA atau Gerakan Nasional Dakwah Mengajar dan Belajar al-Quran merupakan program Hidayatullah setelah melalui kajian mendalam mengenai perkembangan Islam di Indonesia.

Kemunduran ummat disebabkan oleh rendahnya pemahaman tehadap al-Quran lantaran ummat tidak lagi akrab dengan kitab sucinya itu.

Jarangnya kaum muslimin mempelajari al-Quran mengakibatkan kurangnya pemahaman terhadap ajaran Islam yang sesungguhnya, sehingga banyak sekali ajaran Islam yang tidak diketahui, atau tidak dimengerti, tidak dipahami, atau disalahpahami oleh ummat Islam. Akibatnya, ummat mayoritas ini memposisikan Islam secara taklid (meniru-niru) dari sumber yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Untuk itu, perlu ditumbuhkan gerakan mempelajari al-Quran. Bagi yang belum dapat membaca, perlu belajar membaca. Bagi yang belum benar, perlu belajar membaca secara benar untuk menghindari kesalahan arti. Bagi yang tidak mengerti bahasa Arab, perlu membaca terjemahan al-Quran hingga tamat.

Bagi yang belum dapat mengartikan, perlu mempelajari cara menerjemahkannya. Dan bagi yang telah memiliki kemampuan, wajib untuk mengajarkannya kepada orang lain, minimal 10 orang dalam suatu kurun tertentu.

Hidayatullah telah menerbitkan modul-modul belajar membaca dan belajar menerjemah Metoda Grand MBA. Untuk implementasinya, di setiap titik kegiatan aktivis Hidayatullah, didirikan Majelis Taklim al-Quran (MTQ) yang dikoordinasi melalui Pos MTQ.

Kegiatan MTQ difokuskan pada belajar membaca dan menerjemah al-Quran di bawah bimbingan seorang mu’allim (guru), agar kaum muslimin benar-benar menguasai keterampilan, bukan sebatas wawasan keislaman. Mereka yang telah lulus akan mendapatkan sertifikat, dan dapat menjadi penerang di lingkungan masing-masing secara bertanggung jawab.

Gerakan Dakwah Mengajar dan Belajar Al Qur’an

Grand MBA atau Gerakan Membudayakan Mengajar dan Belajar al-Quran merupakan program Hidayatullah setelah melalui kajian mendalam mengenai perkembangan Islam di Indonesia.

Kemunduran ummat disebabkan oleh rendahnya pemahaman tehadap al-Quran lantaran ummat tidak lagi akrab dengan kitab sucinya itu.

Jarangnya kaum muslimin mempelajari al-Quran mengakibatkan kurangnya pemahaman terhadap ajaran Islam yang sesungguhnya, sehingga banyak sekali ajaran Islam yang tidak diketahui, atau tidak dimengerti, tidak dipahami, atau disalahpahami oleh ummat Islam. Akibatnya, ummat mayoritas ini memposisikan Islam secara taklid (meniru-niru) dari sumber yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Untuk itu, perlu ditumbuhkan gerakan mempelajari al-Quran. Bagi yang belum dapat membaca, perlu belajar membaca. Bagi yang belum benar, perlu belajar membaca secara benar untuk menghindari kesalahan arti. Bagi yang tidak mengerti bahasa Arab, perlu membaca terjemahan al-Quran hingga tamat.

Bagi yang belum dapat mengartikan, perlu mempelajari cara menerjemahkannya. Dan bagi yang telah memiliki kemampuan, wajib untuk mengajarkannya kepada orang lain, minimal 10 orang dalam suatu kurun tertentu.

Hidayatullah telah menerbitkan modul-modul belajar membaca dan belajar menerjemah Metoda Grand MBA. Untuk implementasinya, di setiap titik kegiatan aktivis Hidayatullah, didirikan Majelis Taklim al-Quran (MTQ) yang dikoordinasi melalui Pos MTQ.

Kegiatan MTQ difokuskan pada belajar membaca dan menerjemah al-Quran di bawah bimbingan seorang mu’allim (guru), agar kaum muslimin benar-benar menguasai keterampilan, bukan sebatas wawasan keislaman. Mereka yang telah lulus akan mendapatkan sertifikat, dan dapat menjadi penerang di lingkungan masing-masing secara bertanggung jawab. (ybh/hio)

Tradisi Pakaian Putih ke Masjid Harus Diteladankan

shalat berjamaah dengan pakaian putih putihHidayatullah.or.id — Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Kota Depok, Jawa Barat, KH. Wahyu Rahman, menegaskan bahwa peraturan yang dibuat harus benar-benar ditegakkan dengan penuh kesungguhan dan komitmen yang tinggi.

Dalam hal ini beliau menekankan anjuran berpakaian putih bagi warga dan santri di lingkungan Pesantren Hidayatullah setiap waktu shalat berjamaah di masjid. Santri dan warga diwajibkan mengenakan pakaian putih saat beribadah ke masjid.

Usadz Wahyu menegaskan, anjuran tersebut adalah peraturan yang harus ditaati dan yang orang pertama yang yang menjalankan adalah penurus inti yayasan, pengasuh, dan level selanjutnya yang ada di bawahnya.

“Saya sendiri, Alhamdulillah, selama 3 tahun lebih di sini (Hidayatullah Depok), tidak pernah sekalipun tidak pakai baju putih saat ke masjid. Kalau ada acara, saya selalu pulang dulu ganti pakai baju putih,” tegas beliau di hadapan pengurus dan warga Pesantren Hidayatullah Depok, Ahad ba’da subuh lalu.

Beliau menegaskan, setiap pengurus adalah penegak peraturan dan harus menjadi teladan yang baik untuk santri termasuk dalam menegakkan tradisi pakaian putih ke masjid setiap waktu shalat 5 waktu.

“Ini kultur yang mau kita bangun. Ini tidak sederhana,” imbuhnya.

Pakaian putih memang disunnahkan digunakan setiap kali menhadap Allah Ta’ala dalam ibadah shalat 5 waktu kita. Imam Nawawi rahimahullah dalam Riyadhus Sholihin berkata, “Disunnahkan memakai pakaian berwarna putih.”
Pakaian warna putih itu lebih bersih dan lebih bercahaya. Itulah sebabnya Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan memakai pakaian warna putih dibanding warna lainnya.

Di antara hadits yang Imam Nawawi maksudkan adalah, hadits dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda diriwayatkan oleh Abu Daud no. 4061, Tirmidzi no. 994 dan Ibnu Majah no. 3566, bahwa:

“Pakailah oleh kalian pakaian yang putih karena itu termasuk pakaian yang paling baik. Dan berilah kafan pada orang mati di antara kalian dengan kain warna putih.” (Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

“Kenakanlah pakaian warna putih karena pakaian tersebut lebih bersih dan paling baik. Kafanilah pula orang yang mati di antara kalian dengan kain putih.” (HR. Tirmidzi no. 2810 dan Ibnu Majah no. 3567. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin, mengatakam, benarlah apa yang dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pakaian warna putih adalah pakaian yang lebih baik dari yang lain. Pakaian putih lebih bercahaya. Kalau pakaian tersebut terkena kotoran, maka begitu nampak, sehingga segera pakaian tersebut dicuci.

Adapun pakaian warna lain, kotoran pada permukaannya tidak begitu nampak. Seseorang tidak tahu kalau pakaian tersebut kotor. Jika dicuci pun tidak nampak bersihnya.

Makanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya pakaian warna putih adalah pakaian yang terbaik, dan kafanilah pula salah seorang mayit di antara kalian dengan kain warna putih.”

Syaikh Al ‘Utsaimin rahimahullah menerangkan bahwa yang dimaksud pakaian putih adalah pakaian atas dan bawah (kemeja maupun celana atau sarung). Yang terbaik adalah warna putih. Warna tersebut lebih baik.

Pada kesempatan tersebut, Ustadz Wahyu Rahman juga mendorong jajaran kepengasuhan santri bekerjasama dengan bidang pendidikan untuk mengintensifkan pembacaan wirid pagi, sore, dan malam, bagi seluruh santri. Beliau berpesan agar jangan sampai ada santri yang tidak hafal amalan tersebut padahak telah menjadi santri hingga 3 lamanya.

Karenanya, beliau menyarankan lembar tawajjuhat diperbanyak dan dibagikan agar semua santri bahkan warga pesantren senantiasa menjadikan wirid pagi, sore, dan malam ini sebagai amalan utama usai shalat berjamaah.

“Ini harus ada proses pembiasaan. Nanti setelah dewasa insya Allah bisa sendiri karena sudah di bawah alam bawah sadar,” pungkas beliau seraya berpesan. (hio/ybh)

Setiap Masjid Sebaiknya Miliki Kantor dan Perpustakaan

Masjid Ar Riyadh Hidayatullah Bontang, memiliki kantor dan penginapan khusus tamu spesial dari jauh / DAS
Masjid Ar Riyadh Hidayatullah Bontang, memiliki kantor dan penginapan khusus tamu spesial dari jauh / DAS

Hidayatullah.or.id — Masjid rumah utama tempat ibadah umat Muslim. Masjid simbol peradaban Islam yang merupakan pusat kehidupan umat Islam. Bahkan dalam sejarah Islam, masjid turut memegang peranan dalam aktivitas sosial kemasyarakatan hingga kemiliteran.

Meningat mendasarnya fungsi masjid tersebut, Ketua Bidang Pelayanan Umat Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah Drs. Tasyrif Amin, MPd.I d, mendorong dilakukan pola pengelolaan masjid yang profesional, terpadu, dan terkulturisasi dengan spirit tegaknya peradaban Islam.

“Untuk saat ini, menjadi sangat penting dan mendesak setiap masjid memiliki kantor yang terintegrasi dengan masjid dan memiliki perpustakaan,” tegas Tasyrfi Amin dalam acara sarasehan penguatan fungsi masjid digelar DKM Ummul Quro, di Kota Depok, Jawa Barat, kemarin.

Sebagai tempat ibadah, jelas Tasyrif, masjid memiliki fungsi yang sangat istimewa yang membedakannya dengan tempat-tempat peribadatan agama lain. Selain itu, masjid juga sebagai sekolah, tempat belajar, tempat berkumpul ulama dalam mengajarkan ilmu. Dimana disampaikan tentang hukum-hukum syariat atau arahan-arahan keagamaan kepada masyarakat.

“Sehingga pengadaan perpusatakaan masjid seharusnya menjadi perhatian utama selain aspek-aspek penting lainnya,” ujarnya.

Dikatakan dia, masjid sangat berperan sebagai basis perubahan masyarakat yang memicu kebangkitan dan kemajuan umat. Sebagai pusat aktifitas dan kegiatan umat, ia memiliki peran dan fungsi yang sangat penting.

Karenanya, jelas beliau, masjid juga harus direvitalisasi perannya untuk penguatab kegiatan ilmiah, sosial, pengadilan, pemerintahan, pembinaan masyarakat, militer, mencetak sumber daya manusia yang beriman dan profesional.

“Masjid juga hendaknya mengambil peran dalam mengentaskan masalah sosial dan keagamaan, edukasi masyarakat, bahkan menjadi mitra dalam membangun negara sebab masjid dengan dukungan masyarakat mampu memberikan pelayanan ekstra yang tidak bisa diberikan oleh pemerintah,” ujarnya.

Tasyrif menekankan pentingnya peran Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) dalam mengembangkan kebali peran vital masjid sebagai pusat ilmu dan peradaban Islam yang mencakup semua aspek kehidupan. Dalam hal ini dia mendorong terus pengadaan kantor masjid yang representatif yang nanti berfungsi sebagai ruang kantor pengurus, ruang rapat, pertemuan, dan penginapan untuk bagi tamu-tamu masjid seperti pimpinan atau ketua umum.

“Makanya seharusnya setiap masjid lingkungan Pesantren Hidayatullah harus ada kantornya, ada perpustakaan,” pungkasnya. (ybh/hio)

Pemuda Hidayatullah Kecam Isu Pelarangan Jilbab di BUMN

jilbab di bumnHidayatullah.or.id — Isu larangan berjilbab syar’i, berjenggot, dan bercelana ngatung bagi pegawai badan usaha milik negara (BUMN) menghebohkan media sosial beberapa waktu terakhir. Banyak pihak khususnya dari pihak pemerintah menanggapi kabar tersebut. Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Hidayatullah, Muhammad Naspi Arsyad, mengatakan jika kabar ini benar, maka harus dilawan sebab ini merupakan sebuah langkah mundur.

Naspi Arsyad dengan tegas menyampaikan bahwa Penggunaan jilbab merupakan sebuah penghargaan dan penghormatan agama terhadap wanita.

“Dengan syariat jilbab, agama Islam menempatkan wanita pada posisi yang berwibawa, baik dihadapan Allah Ta’ala maupun dihadapan manusia,” kata Naspi Arsyad disela-sela kunjungan kerjanya di Kota Palu dan Makassar, beberapa waktu lalu.

Penggunaan jilbab dan atribut identitas keislaman lainnya seperti jenggot, tegas Naspi, merupakn ketetapan yang absolut dan tidak seorang pun yang berhak menintervensi ketetapan Allah ini termasuk persoalan mau kemana dan dimana seorang wanita yang berjilbab ingin berada, selama bukan tempat maksiat.

“Maka bila teroterial dan waktunya masih bersifat netral (mubah) maka tidak boleh ada larangan yang membatasi,” terangnya.

Pemuda (Syabab) Hidayatullah berharap agar wacana dan isu pelarangan jilbab ini tidak benar dan harus dipertimbangkan secara profesional. Apakah jilbab itu mempengaruhi kinerja atau tidak. Kalau tidak mengurangi kinerja, kenapa mesti ada larangan, imbu Naspi.

Dikatakan Naspi, Pemuda Hidayatullah menyampaikan ucapan terimakasih kepada pemerintah apabila mampu menahan diri untuk tidak terlalu jauh memasuki wilayah yg dapat menjadi sumber keresahan umat Islam yang sudah sangat bersabar dengan kondisi Indonesia dewasa ini.

Sebagaimana diberitakan, Kementerian BUMN diisukan melarang pegawai perempuan yang berjilbab panjang namun memperbolehkan pegawainya memakai tato.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kabinet Kerja Rini, Mariani Soemarno Soewandi, belum sekalipun membantah isu tersebut. Menteri wanita lulusan Wellesley College, Massachusetts, Amerika Serikat, ini sebelumnya juga menyatakan akan menjual Gedung BUMN dan mengangkat orang asing jadi direktur utama BUMN. Gagasannya ini dicekam banyak pihak karena dinilai merupakan bentuk kebijakan kaum neo-liberal.

Namun melalui Sekretraris Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Imam Apriyanto Putro, membantah kementeriannya melarang penggunaan jilbab. Menurutnya, aturan Kementerian BUMN selalu transparan dan dipublikasi di laman resmi pemerintah.

Kontroversi larangan penggunaan jilbab panjang oleh Menteri BUMN Rini Soemarno berawal dari akun media sosial Twitter yang kemudian dikutip sebuah media nasional. Hal itu diungkap oleh pemilik akun @estiningsihdwi.

Esti memposting kriteria rekrutmen PNS Kementerian BUMN yang salah satunya memperbolehkan penggunaan tato asal tidak terlihat. Selain itu, kantor BUMN juga melarang pegawainya memelihara janggut, dan mensyaratkan tidak boleh menggunakan jilbab panjang bagi PNS di kementerian tersebut.

Dwi Estiningsih bahkan merasa perlu menegaskan bahwa apa yang ia unggah melalui akun Twitternya @estiningsihdwi adalah benar. Ia juga meluruskan beberapa hal yang berkembang di media sosial, namun tidak berasal dari pernyataannya.

Dalam akunnya tersebut dia menegaskan, foto tersebut adalah form atau catatan untuk asesor atau penguji yang boleh jadi bersifat terbatas. Selebarang itu bukan pengumuman atau selebaran yang dipublikasikan di laman resmi. (hio/ybh)