Beranda blog Halaman 626

Hidayatullah Dukung Fatwa MUI Tentang Status Tanah Masjid

masjid-al-azhar-dibangund-di-atas-tanah-wakaf-_121123151300-596Hidayatullah.or.id — Hidayatullah mengapresiasi dikeluarkannya Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat tentang status tanah masjid. Fatwa ini dikeluarkan didasari adanya beberapa bangunan masjid yang dihilangkan dan digusur tanpa penggantian.

Kendati demikian, Ketua Umum Pengurus Pusat Hidayatullah, Dr H. Abdul Mannan, menilai fatwa status tanah masjid yang dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia tersebut perlu terus dikuatkan seraya melihat relevansi dengan kondisi masyarakat Indonesia saat sekarang ini.

Untuk menerapkan fatwa ini, kata beliau, perlu dijalin kerjasama dengan pemerintah untuk mengadakan penyuluhan bagi seluruh pengurus-pengurus masjid yang ada di Indonesia.

“(Dan hal itu) pastinya membutuhkan banyak dana,” kata Abdul Mannan sebagaimana diberitakan juga oleh Republika, awal Januari ini.

Menurut beliau, yang perlu dilakukan saat ini adalah mengadakan proyek nasional pembuatan sertifikat wakaf untuk semua masjid. Ia menyarankan agar pemerintah mendata semua masjid yang ada di Indonesia untuk kemudian dibuatkan sertifikat masal.

“Proyek ini bisa berlaku untuk semua rumah ibadah, tidak hanya masjid” papar Abdul Mannan.

Menurut beliau, fatwa ini memang tidak mudah diterapkan mengingat masih rendahnya perhatian masyarakat terhadap masalah administrasi.

“Masyarakat Indonesia tingkat pendidikannya kan tidak sama, kalau disuruh mengurus sertifikat masjid belum tentu bisa,” katanya saat dihubungi Republika Online (ROL), Jumat (2/1).

Pada dasarnya, kata dia, fatwa ini merupakan sebagai bentuk tertib administrasi dari masyarakat. Namun, menurutnya, fatwa ini bisa diberlakukan bagi masyarakat perkotaan dan relatif sulit dilakukan bagi masyarakat desa.

Sebagaimana diketahui, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa status hukum tanah masjid. Berikut ini yang di atur dalam tersebut.

Pertama, status tanah yang dimanfaatkan untuk masjid adalah wakaf walaupun secara formal belum memperoleh sertifikat wakaf. Untuk itu, tanah masjid yang belum berstatus wakaf wajib diusahakan untuk disertifikasi sebagai wakaf.

Kedua, tanah masjid yang sebagaimana dimaksud dalam point pertama tidak boleh dihibahkan, tidak boleh dijual, tidak boleh dialihkan atau diubah peruntukannya.

Ketiga, benda wakaf dan status tanah wakaf masjid tidak boleh diubah kecuali dengan syarat-syarat tertentu. Syarat tersebut yaitu, penukaran benda wakaf atau istidlal wakaf diperbolehkan sepanjang untuk merealisasikan kemaslahatan dan mempertahankan keberlangsungan manfaat wakaf. Penukaran benda wakaf ini harus dilakukan dengan pengganti yang memiliki nilai spadan atau lebih baik.

“Dimungkinkan, itu pertimbangan terakhir bisa di lakukan penggantian tetapi dengan syarat manfaatnya tetap jalan dan nilainya sepadan atau lebih baik. Baik itu nilai ekonomis, kemanfataan sosial dan juga nilai historisnya,” kata Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Ni’am.

Hal lain yang diatur dalam fatwa ini yaitu, benda wakaf diperbolehkan untuk dijual dengan ketentuan adanya hajah dalam rangka untuk menjaga maksud wakif. Hasil penjualanan benda wakaf ini harus digunakan untuk membeli harta benda lain sebagai wakaf pengganti. Selanjutnya, alih fungsi benda wakaf diperbolehkan sepanjang kemashlahatan yang dirasakan lebih dominan.

Pelaksanaan ketentuan dalam fatwa ini harus seizin Menteri Agama dan rekomendasi dari Badan Wakaf Indonesia sebagaimana ketentuan peraturan perundang-undangan serta pertimbangan MUI.

Keberadaan fatwa ini berbeda dengan IMB rumah ibadah. Menurutnya, IMB rumah ibadah merupakan aspek teknis dalam mendirikan bangunan yang diatur di dalam ketentuan peraturan perundang-undangan. Sedangkan Fatwa status Hukum Tanah Masjid berkaitan dengan status tanah masjid itu sendiri. Bahwa tanah yang dibangun di atasnya masjid pada hakekatnya adalah tanah wakaf. (ybh/hio)

Muallaf Wanita di Jeddah Kisahkan Perjalanan Menuju Islam

muallaf di jeddahHidayatullah.or.id — Sembilan wanita yang belum lama memeluk Islam dari berbagai negara mendapatkan sambutan hangat dan penghargaan dari Maulana Hifzur Rehman Seoharvi Academy, sebuah organisasi yang fokus menyebarkan ajaran Islam di Jeddah. Demikian dilansir portal nasional Hidayatullah.com sebagaimana dikutip dari Arab News, Senin (12/1/2015).

Salah satu dari mereka berasal dari India dan delapan wanita lainnya berasal dari Filipina. Sebagian dari mereka memeluk Islam belum lama ini, sedangkan lainnya sudah lebih dari setahun lalu.

Dalam acara tersebut para Muslimah baru itu mendapatkan hadiah-hadiah. Mereka mengenang perjalanannya menuju Islam berikut hambatan dan rintangan yang dihadapi.

Hadir pula dalam acara itu sebagai tamu kehormatan, wanita kelahiran Inggris Mariam Sani (dulu bernama Pauttine Thomas) dan seorang wanita Amerika Mariya Attarji (dulu bernama Lisa Quiroga).

“Saya harus katakan bahwa adalah takdir saya untuk memilih jalan yang benar,” kata Nureman, salah satu wanita mualaf di hadapan para hadirin. “Mencari pekerjaan di Arab Saudi merupakan langkah awal saya menuju Islam. Sejak berada di sinilah saya mulai membaca-baca buku agama, tanpa pernah benar-benar berpikir untuk pindah agama. Tetapi semakin saya banyak membaca, semakin saya tertarik. Dan sekarang saya benar-benar mempelajari Islam di sebuah pusat dakwah.”

Syeikh Fatima menjelaskan bahwa dirinya dilahirkan dari keluarga Kristen. Ketika saudara laki-lakinya bersama temannya pergi ke Arab Saudi, mereka pindah memeluk Islam. Sekembalinya ke India mereka berusaha meyakinkan dirinya untuk ikut pula memeluk Islam.

“Saudara laki-laki saya mengatakan bahwa jika saya ingin datang ke sini maka saya harus memeluk Islam, yang kemudian saya lakukan, karena saya pikir ketika itu bahwa jika ingin pergi ke Saudi maka (menjadi Muslim) itu sebuah keharusan. Awalnya, saya tidak menerima Islam dengan hati saya,” papar Syeikh Fatima.

Tetapi kemudian, sebuah pengalaman traumatis yang berkaitan dengan anak perempuannya yang baru berusia satu tahun mengubah pemikirannya tentang agama.

“Sejak itu saya menerima Islam dari lubuk hati yang dalam dan menjalankan ajarannya setiap hari, bahkan keluarga saya di India tahu bahwa sekarang saya seorang Muslim,” kata Syeikh Fatima.

Para wanita mualaf lainnya juga menceritakan pengalamannya, tentang bagaimana keluarga mereka berpaling dan menjauh setelah mengetahui mereka memeluk Islam.

Menurut Mariam Sani, mualaf asal Inggris, adalah kehendak Allah dia berubah dari seorang wanita misionaris Kristen menjadi seorang Muslimah. Sani mengaku dulu dia ingin menyebarkan ajaran agama Kristen ke seluruh dunia, tetapi kemudian mengetahui bahwa dirinya menyebarkan agama yang keliru setelah mempelajari tentang agama-agama lain.

“Buku pertama saya adalah Muhammad dalam Bibel dan Yesus dalam Qur`an, dan setelah itu saya lebih banyak mencari tahu tentang Islam. Ketika saya melakukan pencarian itu, secara tidak sadar saya justru semakin dekat dengan Islam, dan suatu hari saya mendapati diri saya menerima ajarannya,” papar Sani.* (hio/ybh)

STISHID Akan Jalin Kerjasama Internasional dengan UHQIS

STISHID Jalin Kerjasama Internasional bidang Pendidikan dengan UHQISHidayatullah.or.id — Wakil Rektor University of The Holy Qur’an and Islamic Science (UHQIS) Negara Republik Sudan atau yang dikenal dengan Universitas Al-Qur’an menawarkan kerjasama pendidikan dengan Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Hidayatullah (STISHID) Balikpapan, Kalimantan Timur, Republik Indonesia.

Akhir Desember (23/12/2014) lalu, Prof. Dr. Ahmad Said Salman, nama sang wakil rektor, menawarkan kerjasama ketika berkunjung ke kampus STISHID Balikpapan di bilangan Gunung Tembak.

Menurut Professor yang biasa disapa Syeikh Ahmad Said tersebut, ada banyak hal yang bisa dilakukan dengan kerjasama tersebut. Mulai dari peluang lanjut studi di Universitas al-Qur’an bagi mahasiswa dan dosen STIS hingga kerjasama beberapa program pengembangan kedua kampus ke depan.

Tawaran dari Universitas al-Qur’an tersebut tentu saja langsung mendapat respon positif dari STIS Hidayatullah.

“Alhamdulillah, STIS merasa sangat terhormat bisa bekerjasama dengan Universitas al-Qur’an dan ini adalah berita gembira buat seluruh umat Islam di Indonesia,” terang Ketua STIS Hidayatullah, Paryadi Abdul Ghofar.

“Insya Allah STIS segera mengurus kelengkapan berkas yang dibutuhkan untuk penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) tersebut,” imbuh Abdul Ghofar kembali.

Gelar Syahid Pertama Dalam Islam Direbut Wanita

Di waktu yang sama, Syaikh Ahmad berkesempatan memberikan pidato kepada mahasiswa STIS. Dalam paparannya, Ahmad menyebutkan, seorang Muslimah memiliki peran istimewa dalam membangun peradaban Islam.

Dia menjelaskan, sejak awal kedatangannya, Islam telah memuliakan wanita. Bahkan manusia yang pertama menyicipi kemuliaan Islam juga seorang wanita, yaitu bunda Khadijah. Termasuk gelar syahid yang pertama direbut oleh Sumayyah, ibunda dari sahabat Ammar bin Yasir.

Meski secara fisik terlihat lemah, tapi sesungguhnya wanita-wanita Muslimah itulah yang melahirkan dan mendidik generasi-generasi hebat sebagai pelanjut perjuangan kelak.

“Bukan tanpa alasan jika Khadijah pertama kali yang meyakini ajaran yang disampaikan Nabi tersebut,” ungkap Ahmad menjelaskan.

Sebab Nabi ketika itu benar-benar membutuhkan sosok pendamping yang menguatkan dalam mengawali gerakan dakwahnya. Kesadaran seperti itulah yang hendaknya senantiasa terpatri dalam diri setiap wanita Muslimah, terutama sebagai penuntut ilmu.

Syaikh menegaskan, sebab kejayaan peradaban Islam hanya bisa diraih dengan dasar ilmu yang benar. Sedang sumber ilmu terbesar tak lain kembali kepada al-Qur’an (back to holy al-Qur’an).

Dalam acara yang digelar di Aula Kampus II Lantai II di Komplek STIS Hidayatullah Putri, Syaikh Ahmad juga mengingatkan agar tak menjadikan ilmu dan hafalan al-Qur’an sebagai tujuan akhir. Bagi seorang Muslim semua itu hanya sebatas sarana untuk taqarrub (mendekat) kepada Allah.

“Ia dikejar bukan untuk dibanggakan, tapi untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

“Nilai-nilai al-Qur’an inilah yang kelak menjadi roda penggerak yang mengatur segala aktivitas manusia. Mulai dari adab kepada diri sendiri, keluarga, teman, guru, tetangga, dan seterusnya. Puncaknya adalah beradab dan berakhlak kepada Allah dalam urusan ibadah”

Lebih jauh, pria yang juga dikenal kepakarannya di bidang Bahasa Arab tersebut menambahkan, hal mendasar yang wajib dimiliki oleh seorang penuntut ilmu adalah senantiasa menghadirkan kebesaran Allah dalam setiap urusan. Dengannya diharapkan, tumbuh benih-benih takwa sebagai syarat meraih ilmu yang bermanfaat.

“Ilmu itu tak akan berguna jika tidak dilandasi dengan iman dan takwa,” ujarnya seraya mengutip Surah al-Baqarah [2]: 282.

Menurut Syaikh Ahmad, hal inilah yang membedakan antara peradaban Islam dengan apa yang diusung oleh Barat. Meski Barat mengklaim maju dalam peradaban mereka, tapi sejatinya peradaban tersebut rapuh sebab jauh dari nilai-nilai al-Qur’an.

Sedang di saat yang sama, al-Qur’an telah menjanjikan kejayaan peradaban buat umat Islam. Sebab, menurut al-Qur’an, umat Islam adalah umat yang terbaik, jika memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh Allah. (stishid)

Universitas PGRI Palangkaraya Anjangsana ke Hidayatullah

0

universitas-pgri-anjangsana-ke-pesantren-hidayatullah kaltenfHidayatullah.or.id — Dalam rangka silaturrahimm dalam suasana Maulid Nabi Muhammad SAW, Universitas PGRI Palangkarayadibawah pimpinan Rektor DR H Suriansyah Murhaini, SH.,MH melaksanakan kegiatan anjangsana ke Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Tjilik Riwut, Palangkaraya, Jumat( 9/1) pagi.

Rektor Universitas PGRI Palangka Raya DR H Suriansyah Murhaini, SH, MH mengapresiasi peran Pondok Pesantren Hidayatullah Tjilik Riwut yang menurutnya luar biasa karena telah membina, mengasuh, dam mendidik puluhan anak santri dengan gratis.

Pada kesempatan tersebut sang rektor juga mengatakan Pesantren Hidayatullah di Kalimantan Tengah itu sangat memerlukan bantuan dan mendorong pihaknya untuk terus mendukung program kegiatan pesantren ini. Kebetulan pondok pesantren ini tidak jauh dari kampus Universitas PGRI.

Dikatakan Suriansyah, tujuan rombongannya melaksanakan kegiatan silaturrahim keagamaan ini tak hanya dalam bentuk kegiatan seremoni saja seperti siraman rohani saja. Akan tetapi sekaligus memberikan bantuan secara nyata kepada masyarakat dalam bentuk sembako dan kebutuhan yang dibutuhkan anak- anak panti asuhan.

“Universitas PGRI merupakan salah satu perguruan tinggi yang tidak hanya merupakan menara gading yang bisa menerangi diri sendiri akan tetapi bisa menerangi masyarakat agar keberadaan Universitas PGRI Palangka Raya bisa dirasakan di tengah masyarakat,” jelas Rektor Universitas PGRI Palangkaraya, usai memberikan bantuan secara simbolis kepada Ketua Pondok Pesantren Hidayatullah, Ustadz Robiin.

Ke depan, Rektor Universitas PGRI Palangkaraya berharap agar kegiatan positif seperti ini bisa terus ditingkatkan lagi, karena ini merupakan salah satu bentuk pengabdian terhadap masyarakat sekitar kampus. Adapun bantuan yang berhasil dihimpun dalam kegiatan ini antara lain, sarung, peralatan salat, sembilan bahan pokok lainnya.

Ketua Pondok Pesantren Hidayatullah, Ustadz Robiin pada kesempatan tersebut menyambut baik anjangsana dari pihak Universitas PGRI Palangkaraya. Robiin juga mengucapkan rasa syukur dan terimakasih kepada Rektor Universitas PGRI Palangkaraya dan jajarannya.

Turut serta dalam kegiatan tersebut antara lain Wakil Rektor III Kukuh Wurdianto, SPd, MPd, Ketua Prodi Penjaskesrek Ahmad Syarif, SPd MPd, Dosen Fakultas Hukum Agus Mulyawan SH.,MH, Endrawati, SH.,MH, Dosen Fisipol Kurjunaidi, S.Sos, M.Hum, Saraini Novia Savarini, S.Sos, M.Hum, Dosen FKIP Sari Marselina S.Pd, MPd, M Karso, SPd, MPd, staff BAAK Rahmalia Cahyati dan Jamilah, SPd.

Selain menggelar kegiatan anjangsana ke Pesantren Hidayatullah, juga digelar perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Musala Al Ikhlas Kampus Universitas PGRI Palangkaraya, Sabtu (10/1) malam yang dihadiri juga oleh puluhan santri Pesantren Hidayatullah dan juga diikuti jajaran Civitas Akademika Universitas PGRI Palangkaraya. (end/k6)

Pimpinan Umum: Jangan Tawaran Menjadi Tawanan

rakornas hidayatullah 2015 di malangHidayatullah.or.id -– Salah satu cobaan seorang pejuang adalah berbagai tawaran dunia yang menggiurkan. Tawaran-tawaran ini kerap menjadikan seorang pejuang Islam menjadi kendur dalam berjuang. Bahkan, boleh jadi mereka berhenti berjuang.

Fenomena ini diingatkan kembali oleh Pimpinan Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad dalam Rapat Koordinasi Nasionall Hidayatullah di Batu, Malang, Jawa Timur, ditutup Ahad (11/01/2014)

“Jangan sampai tawaran menjadi tawanan,” kata Abdurrahman di hadapan seluruh pengurus inti pimpinan wilayah Hidayatullah se Indonesia dan pimpinan pusat Hidayatullah.

Bahkan mereka yang tergiur dengan tawaran ini bisa dicitrakan buruk di depan umat oleh musuh-musuh Islam. Jika sudah begitu, mereka sudah tak bisa apa-apa lagi. Mereka sudah ditawan.

Lebih lanjut Abdurrahman mengajak seluruh kader Hidayatullah untuk terus melangkah meniti jalan dakwah.

“Kita tak boleh berhenti sejenak pun dalam mengayunkan langkah mewujudkan visi perjuangan ini,” jelasnya.

Hidayatullah memiliki visi membangun peradaban Islam sebagaimana dulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam membangun peradaban di Madinah. Mewujudkan visi ini, kata Abdurrahman, tidak mudah. Akan banyak sekali jebakan yang dibuat oleh musuh.

Musuh telah menjebak umat Islam sehingga gemar membesar-besarkan perbedaan yang tak perlu. Musuh juga telah membuat jebakan sehingga para pejuang gemar membuat alasan-alasan jika diajak berjuang.

Karena itulah beliau mengajak seluruh kader Hidayatullah untuk senantiasa berhati-hati dan bersabar dalam perjuangan.

Rapat koordinasi nasionall Hidayatullah tahun 2015 dibuka Jumat 9 Januari 2015, di Pusdiklat Hidayatullah, Batu, Malang, Jawa Timur. Pembukaan dilakukan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Hidayatullah, Ust Dr Abdul Mannan.

Dalam acara tersebut dibacakan juga keputusan majelis syuro yang sebelumnya telah menggelar rapat di Batam, Kepulauan Riau, mengenai kehidupan bernegara, kekhilafahan, dan demokrasi. (Mahladi)

Porseni Pesantren Hidayatullah Tumbuhkan Semangat Berkarya

lintas alam albayan 01 lintas alam albayan 02Hidayatullah.or.id — Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) santri merupakan wadah efektif untuk mengaktualisasikan potensi yang ada dalam diri para santri. Selain sebagai media dalam pengembangan minat dan bakat, kegiatan ini juga mendorong santri untuk terus berkarya dan berpretasi.

Demikian dikatakan ketua panitia Porseni Pesantren Hidayatullah Makassar, Muhammad Ilyas, disela-sela acara tersebut yang digelar Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Makassar, Sulawesi Selatan, awal Januari ini.

“Daripada santri pulang dan tidak jelas kegiatan di rumah, lebih baik kita sediakan kegiatan yang lebih bermanfaat, juga untuk menghindari pesta tahun baru,” ujar Muhammad Ilyas.

Dijelaskan dia, kegiatan Porseni ini dibarengi juga dengan kegiatan lintas alam dengan melalui medan yang relatif berat yang dengan begitu diharapkan menjadi pengalaman berharga bagi santri dalam memahami pentingnya membangun relasi sosial dan kerjasama antar sesama.

Sekedar informasi, siswa SMP/SMA Al Bayan Pesantren Hidayatullah Makassar mengadakan lintas alam ke Pondok Tahfidz Ummul Quro, Puncak, Maros pada 3-4 Januari 2015.
Acara itu merupakan lanjutan dari Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) siswa yang dilakukan selama sepakan pasca ujian awal semester. Pesantren Hidayatullah Makassar mengadakan acara itu untuk mengisi libur semester siswa.

Lintas alam kali ini betul-betul menguji mental dan kemampuan fisik. Pasalnya, santri harus berjalan kaki dari Makassar ke Pucak, Maros. Jaraknya sekitar 27 kilometerpun dan memakan waktu sekitar 6 jam. Tak pelak, ada beberapa santri yang kelelahan dan harus berhenti beberapa kali. Untung saja, semua santri sampai dengan selamat dan tetap segar bugar.

Tidak berhenti di situ. Di Pucak, santri harus mengikuti beragam kegiatan. Mulai dari indoor (ruangan) dan outdoor (lapangan). Kegiatan ruangan meliputi pertunjukan seni santri, seperti baca al Quran, pidato, drama, pembacaan puisi, dan juga ada stand up commedy yang mengocok perut.
Pantauan Hidayatullah.or.id, pertunjukkan itu diperuntukkan bagi santri atau grup yang dapat juara satu. Gelak tawa dan kebahagiaan siswa betul-betul terlihat karena terhibur.

Untuk kegiatan lapangannya lebih seru lagi. Pasalnya, waktunya tidak hanya siang, tapi juga berlangsung pada malam hari. Kegiatan itu seperti permainan (game) merayap, membawa balon secara estafet, bermain bola dengan menggunakan teropong yang terbuat dari kertas karton, dan juga jurig malam. Permainan ini berjalan seru karena ditambah hujan deras. Meski begitu, santri tetap semangat menjalankannya.

“Saya senang sekali. Meski capek dan basah kuyup karena hujan tapi sangat menghibur dan berkesan. Semoga lain kali bisa diadakan lagi,” kata Mutawakkil, santri SMP kelas IX.

Dalam kesempatan itu juga diumumkan para pemenang Porseni. Bagi yang juara mendapat bingkisan berharga. Selain itu juga diadakan pembagian rapot. (Syaiful Anshor)

Muslimat Hidayatullah Ajak Masyarakat Cinta Al Qur’an

image001Hidayatullah.or.id — Beberapa waktu lalu, Muslimat Hidayatullah (Mushida) Wilayah Khusus Gunung Tembak, Balikpapan, menggelar acara Silaturahim Akhir Tahun di daerah binaan dakwah Mushida di Kampung Gunung Bubukan, Kec. Balikpapan Timur, Kalimantan Timur. Selain memperkuat tali silaturahim, agenda ini juga dimarakkan dengan beberapa kegiatan atau biasa dikenal dengan sebutan Bakti Sosial (Baksos).

Untuk kesempatan kali ini, Mushida menggandeng Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Putri untuk gawe bareng. Kerjasama yang kali pertama dilakukan tersebut mendapat respon positif dari Bidang Pengkaderan STIS Putri, Maftuha yang turut mengaminkan kegiatan di atas.

“Kami senang kerjasama dengan Mushida sebab hal itu sebagai bagian dari pengkaderan mahasiswi di lapangan,” ujar Maftuha yang juga Pembina di Asrama Mahasiswi tersebut.

Untuk diketahui, Mushida Gunung Tembak mempunyai satu unit khusus yang menangani pembinaan masyarakat sekitar dan di luar lingkungan kampus pesantren. Sebutannya berjuluk KDM, yaitu singkatan dari Kader Dakwah Mushida.

Diharapkan melalui KDM ini, Mushida mampu melayani kebutuhan pembinaan akidah dan rohani masyarakat Balikpapan, khususnya yang berada di wilayah pinggiran Balikpapan Timur.

“Kami sengaja fokus membina masyarakat pinggiran Balikpapan Timur,” ujar Ismawati, Ketua KDM Mushida, dalam suatu kesempatan terpisah.

“Biasanya masyarakat perkotaan itu sudah banyak yang menjangkaunya,” imbuh Ismawati kembali.

Kegiatan silaturahim semisal di Gunung Bubukan di atas adalah salah satu program rutin yang diadakan secara berkala oleh Mushida. Biasanya diadakan secara bergantian di beberapa titik binaan dakwah yang majelis taklimnya sudah berjalan lancar.

“Untuk pembinaan intensif, KDM Mushida rutin turun ke lapangan sepekan sekali di semua majelis taklim yang ada,” jelas Ketua Pengurus Daerah Mushida Gunung Tembak, Eming Ummu Aqila, S.Ag.

“Program dan tujuan kegiatan ini sederhana saja, agar masyarakat dan tentu bagi Mushida sendiri kian dekat dengan al-Quran dan bisa beribadah dengan benar serta berakhlak yang baik,” ucap Ummu Aqila menjelaskan.

Dalam acara yang dipusatkan di masjid al-Hikmah, Gunung Bubukan, KDM Mushida mempercayakan sepenuhnya kepada mahasiswi STIS Hidayatullah Putri untuk unjuk kiprah dan aktualisasi potensi diri. Mulai dari tampil sebagai pembawa acara, moderator diskusi, sekaligus pembaca doa penutup.

Tak lupa mahasiswi juga diberi kesempatan menyampaikan Kuliah Singkat (Kulsing) yang diwakili oleh Muhalisa, Ketua BEM STIS Putri.

Sebagai acara pamungkas, KDM Mushida lalu membagikan mushaf al-Qur’an Terjemah cetakan PT. Lentera Optima Pustaka, Surabaya secara gratis kepada seluruh ibu-ibu Majelis Taklim binaan yang hadir.

Puluhan mushaf tersebut berasal dari sumbangan Baitul Mal Hidayatullah (BMH) yang disalurkan melalui KDM Mushida Gunung Tembak. Diharapkan, dari setiap rumah umat Islam kelak terpancar cahaya al-Qur’an yang bersinar terang. (Masykur)

BERITA FOTO: POSDAI Hidayatullah Distribusikan Pekan Gizi Nusantara

0

20141228_093901Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Pusat menggelar program Pekan Gizi Nusantara pada 22 hingga 23 Desember lalu bekerjasama dengan Persaudaraan Dai Nusantara (POSDAI) Hidayatullah.

Ketua Divisi Program dan Operasional Posdai Hidayatullah, Muhajirin Anshor, dalam keterangannya di Papua di sela-sela kegiatan Pekan Gizi Nusantara II, mengatakan Posdai Hidayatullah dipercaya oleh Baznas Pusat untuk menjadi salah satu mitra lokal penyelenggaraan kegiatan pekan gizi yang dilakukan di 5 wilayah di Papua.

Adapun 5 wilayah penyelenggaraan Pekan Gizi Nasional di provinsi Papua ini digelar di Jayapura, Merauke, Boven Digoel, Sorong, dan Teluk Bintuni. Sedikitnya ada 750.000 orang penerima manfaat kegiatan ini. (ybh/hio)

Galakkan Gerakan Dakwah Kultural dalam Keberagaman

image005 image007Hidayatullah.or.id — Indonesia adalah negeri indah dengan julukannya sebagai Jamrud Khatulistiwa. Disebut demikian sebab ia dilintasi oleh garis khatulistiwa dengan eksotisme alamnya hijau bak jamrud.

Kepulauan Nusantara ini juga dihuni oleh beragam etnis, budaya, dan suku bangsa dengan kekayaan alamnya yang luar biasa. Keberagaman bangsa tersebut harus dihargai dan terus dijaga. Dan, bagi Hidayatullah, kontribusi pembangunan yang dilakukan adalah menggalakkan pendidikan umat dengan gerakan dakwah kultural.

“Dakwah kultural adalah gerakan keteladanan. Inilah tradisi Hidayatullah sejak dulu. Para pendirinya adalah orang-orang muda yang tidak saja bicara, tapi juga melakukan praktik,” kata Ketua Panitia Dauroh Marhalaha Wustho Hidayatullah, Fery Indarto, di Bali beberapa waktu lalu.

Sebagai sebuah himpunan organisasi massa Islam (Islamic-based civil society) yang sekaligus sebagai kelompok kepentingan (interest group), Hidayatullah mengusung gerakan dakwah Islam amar ma’ruf nahi munkar sebagaimana dituntunkan Rasulullah SAW (Manhaj Nubuwwah) yang terangkum dalam metode Sistematika Nuzulnya Wahyu atau SNW yang digagas pendirinya.

“Di Dalam penjabarannya, SNW adalah reaktualisasi gerakan pencerahan ummat sebagaimana dilakukan Rasulullah dan sahabatnya dengan hikmah kebijaksanaan, kesantunan, pemaaf, bermusyawarah, dan nahi munkar,” kata Fery menjelaskan.

Karenanya, kata Fery yang juga menjabat sebagai ketua PW Hidayatullah Bali, dengan gerakan dakwah kultural yang digagasnya, Hidayatullah ingin terus menjadi pelopor gerakan moral yang menjunjung tinggi keutuhan dan sangat menghargai keberagaman.

Hidayatullah sebagai ormas Islam berbasis kader, selalu concern mentransformasikan nilai nilai agung peradaban Islam melalui warganya di mana pun mereka berada dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. [Baca: Semarak Peragaan Peradaban Islam Melalui Ekspansi Kultural]

Tantangan Dakwah

Dakwah adalah tugas mulia. Maka, mereka yang memilih jalan ini adalah orang-orang mulia. Namun, dari waktu ke waktu tugas dan beban dakwah tentu akan semakin berat dengan menghadapi berbagai tantangan yang semakin komplek.

Karenanya, dibutuhkan berbagai keterampilan dan pengetahuan yang memadai dari para pelaku dakwah agar dakwah yang disampaikan mudah dimengerti dan dipahami. Disamping itu, diperlukan juga metode dakwah yang mampu menggugah hati dan menggerakkan obyek dakwah.

Dakwah yang proporsional dan profesional sekaligus akan mampu mengubah sikap masyarakat ke arah yang positif dan produktif dalam beramal, serta dapat meningkatkan pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan bermasyarakat.

Mencermati bahwa peran dai sangatlah penting dalam pembinaan umat, PW Hidayatullah Bali mengadakan Dauroh Marhalah Wustho untuk meng upgrade para dai yang selama ini sudah terjun dalam dunia dakwah. Kegiatan yang diberangi dengan temu kangen silaturrahim digelar selama 4 hari di Denpasar, Bali (23-26/12).

Dijelaskan Ustadz Feri, laju perkembangan dunia saat ini selalu diikuti dengan perubahan standar nilai yang dianut sebagian besar manusia. Dari sini, akan muncul sebuah ketimpangan pola hidup dan aturan kehidupan yang tidak selaras dengan hukum syar’i yang telah ditetapkan oleh Allah SWT kepada makhluknya.

Dengan demikian, imbuhnya, seorang dai dituntut untuk mengeksplor kajian dan pengetahuannya agar dapat mengimbangi perubahan yang ada. Hal ini menjadi titik fokus dalam rangka menyiapkan tenaga-tenaga dai yang langsung live in ditempat mad’unya namun juga mampu mengarahkan dan memberikan contoh tuntunan yang baik.

Ketua PP Hidyatullah, H. Hasan Rofidi, dalam sambutannya mengatakan pelatihan ini dalam rangka meningkatkan kualitas dai agar dapat terus memberikan pelayanan dakwah terbaik yang maksimal kepada umat. Bagi peserta yang berkecimpun di amal usaha seperti pendidikan dan sosial, pelatihan ini diharapkan menjadi pemicu bagi mereka untuk terus memberika karya-karya terbaik. Tidak saja kepada sesama muslim, tapi juga bermanfaat bagu seluruh manusia di sekitarnya.

Ketua MPP Hidayatulah Ustadz Abdullah Ihsan yang hadir menutup acara tersebut mengaku bersyukur dapat menyaksikan kader-kader dai yang siap tandang ke gelanggang. Beliau mendorong peserta lulusan marahalah ini untuk tak henti berbakti untuk Islam.

“Bakti kepada Islam berarti siap mendakwahkannya kepada siapa pun yang belum mengenalnya dan melakukan pemurnian ajarannya,” pesan beliau saat menutup Dauroh Marhala Wustho ini.

Pelatihan dai ini diikuti sebanyak 35 lima orang sekaligus dilakukan ikrar dan dinyatakan lulus oleh panitia sebanyak 31 orang dai yang langsung dipandu oleh Ketua Departemen Perkaderan PP Hidayayullah, H. Hasan Rofidi, yang disaksikan oleh KH. Abdullah Ihsan selaku Ketua MPP Hidayatullah, Fery Indarto, dan disaksikan pula oleh Muhammad Samsudi selaku Kacab BMH Denpasar. (Yusran Yauma)

POSDAI Gelar Pelatihan Dai di Daerah Transmigrasi

IMG_0075 IMG_0237 - Copy IMG_0344Hidayatullah.or.id — Menggerakkan program-program dakwah di daerah transmigrasi bukanlah hal yang mudah. Minimnya jumlah dai di sini merupakan kendala terbesar untuk mengerakkan program-program dakwah.

Hal itulah yang mendorong Persaudaraan Dai NUsantara (PosDai) Pusat – Hidayatullah menyelenggarakan pelatihan dai dan guru mengaji Al Qur’an yang digelar secara intensif selama 3 hari di Mukomuko, Provinsi Bengkulu, belum lama ini (26-28/12/2014).

Pelatihan ini diikuti oleh 73 orang yang terdiri dari para dai, calon dai, guru mengaji, imam masjid, dan masyarakat umum yang datang dari berbagai desa di kecamatan Ipuh.

Tampak juga utusan dai dan guru peserta perwakilan dari sejumlah kabupaten di wilayah tersebut, diantaranya kabuten Rejang Lebong, Kepahiang, Seluma, Bengkulu Utara dan Kota Bengkulu.

Dalam pelatihan ini hadir empat orang insruktur dari Posdai Pusat, yaitu: Ustadz Shohibul Anwar, MHI, Ustadz Ahmad Suhail, S.Pd dan Ustadz Samani Harjo, S.Ag. Tampak hadir juga Ketua PW Hidayatullah Begkulu, Ustadz Lukman Al-Hakim dan Ketua Pengurus Daerah Hidayatullah Mukomuko, Ustadz Mutashim Billah.

Melalui pelatihan ini disampaikan bahwa dakwah itu tidak sekedar menyampaikan kebenaran tetapi banyak hal yang harus diperhatikan mulai dari cara menyampaikan, waktu menyampaikan, suasana masyarakat dan tahapan-tahapan dakwah itu sendiri.

Dengan memahami hal-hal tersebut para dai dapat menyampakan kebenaran dengan tepat dan diterima masyarakat. Banyak dai yang berdakwah tapi ditolak masyarakat karena tidak memahami fiqh dakwah dan prinsip-prinsip dakwah.

Menurut Ustadz Shohibul Anwar, ada beberapa kasus dai yang ditolak oleh masyarakat. Tetapi, terangnya, setelah dicermati sesungguhnya yang ditolak itu adalah orangnya bukan ajarannya. Sehingga, imbuh dia, setiap dai harus memahami karakter masyarakat di mana ia hendak mengabdikan diri.

“Masyarakat kita sangat membutuhkan Islam tetapi jika cara menyampaiknnya salah bisa jadi masyarakat malah lari dari Islam,” jelasnya.

Shohibul Anwar menegaskan, setiap dai harus selalu menempatkan diri sebagai teladan yang baik, kapan dan di mana pun ia berada. Sebab, sejatinya umat akan lebih tergerak melakukan kebaikan apabila mendapatkan keteladanan yang luhur.

“Tanpa bicara pun, praktik akhlak yang agung dalam keseharian sebagaimana dianjurkan agama Islam sudah cukup mampu membawa pengaruh yang baik di masyarakat,” tukasnya.

Dalam pelatihan ini juga dikenalkan sebuah produk dakwah Hidayatullah yaitu Grand MBA atau Gerakan Dakwah Mengajar dan Belajar Al-Qur`an. Dimulai dari paket Qiro’ah, Tahsin dan Terjemah.

Ustadz Samani Harjo, S.Ag dalam penyampaiannya menjelaskan bahwa ada 5 hal penting yang tidak boleh ditinggalkan oleh setiap muslim dalam hidupnya.

Lima hal tersebut disingkat jadi 5T, yakni Tilawah atau membaca Al-Qur`an, Tahfidz atau menghafal, Tafaqquh atau memahami, Tathbiq atau mengamalkan, dan Tabligh atau menyampaikan.

Melalui pelatihan intensif yang digelar selama 3 hari ini juga dilakukan pemilihan calon-calon muallim atau guru mengaji yang akan mengikuti diklat khusus guru Al-Qur`an (dauroh muallim) pada pelatihan berikutnya yang akan diselenggarakan secara berkala. (Abu Fikar)