Beranda blog Halaman 633

Muslimah Ujung Tombak Transformasi Wawasan Islam

IMG_20141023_074216Hidayatullah.or.id –- Kaum muslimah adalah ujung tombak penanaman wawasan keislaman atau tsaqofah Islamiyah (islamic worldview) kepada generasi muda, khususnya anak-anak. Untuk itu, setiap ibu muslimah harus terus belajar dan meng-upgrade diri agar dapat mengemban tugas mulia tersebut.

Demikian dikatakan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Hidayatullah (PP Mushida), Reni Susilowaty, saat membuka secara resmi acara Training for Teacher(TFT) Pandu Hidayatullah khusus guru putri di lingkungan Pesantren Hidayatullah. Acara ini digelar oleh PP Mushida di Cilember, Bogor, dibuka pada Kamis (23/10/2014).

Reni menekankan, dalam agama Islam pendidikan dan pemahaman tentang wawasan keislaman merupakan kewajiban bagi setiap muslim, tidak terbatas hanya untuk wanita atau laki-laki.

Orangtua hendaknya harus menempatkan diri sebagai teladan yang baik bagi anak-anaknya. Namun, dalam hal ini, kata Reni, muslimah seyogyanya dapat menjadi guru terbaik bagi anak-anaknya seraya tetap merangkap sebagai manajer rumah tangga. Sebab ibu relatif memiliki lebih banyak waktu bersama anak ketimbang ayah yang memiliki kewajiban mencari nafkah di luar rumah.

Dia menegaskan, menuntut ilmu adalah kewajiban bagi wanita untuk memperoleh pendidikan dan pengetahuan di berbagai bidang, tidak hanya terbatas pada ilmu agama, seperti shalat, puasa, zakat, haji. Hal itu dilakukan semata-mata untuk menjadi bekal untuk menjadi sosok yang lebih baik dalam aktivitas kewajiban sehari-hari di rumah tangga maupun di tempat kerja, seperti lingkungan sekolah.

Menurut Reni, pemahaman wawasan islamiyah sangat penting ditanamkan sejak dini kepada anak dan peserta didik agar mereka dapat mengejawantahnya kelak ketika dewasa. Diharapkan dari nilai-nilai dasar yang ditanamkan akan mengantar anak menjadi pribadi yang shaleh, berkaraker, dan bermoralitas agung.

Wawasan islamiyah atau dalam kajian studi Islam disebut Islamic Worldview, adalah pengetahuan atau wawasan keislaman yang dilandasi dengan akidah Islam. Maka dengan pemahaman tsaqafah islamiyah yang benar akan melahirkan kultur yang selalu bersandar pada ajaran dan aqidah Islam, baik itu tentang tentang alam semesta, manusia, dan kehidupan.

“Untuk itulah perlunya tsaqofah Islamiyah ini dibangun sejak awal agar menjadi karakter sejak dini,” kata Reni.

Ketua Panitia acara TFT Pandu Hidayatullah Mushida, Sarah Zakiyah, mengatakan, acara ini di samping diajarkan bagaimana menanamkan tsaqofah islamiyah gerakan pengkaderan Hidayatullah, juga diajarkan keahlian yang bersifat jasadiyah khas Pandu Hidayatullah.

“Diharapkan peserta tidak hanya menyerap knowledge, tapi juga dapat membangun karakter mulia yang terlihat dari pribadi dan akhlak,” kata Sarah didampingi Neny Setiawaty selaku Ketua Departemen Annisa PP Mushida dan Hapseni Dirwan yang mengampu sebagai sekretaris.

Acara ini dibuka resmi oleh Ketua PP Mushida, Reni Susilowaty M.Pd.I. Dia berharap peserta yang hadir dapat mentransfer apa yang didapat dari TFT ini kepada anak didik dengan maksimal.

Acara ini berlangsung dari tanggal 23 sampai 26 Oktober dengan jumlah peserta 55 orang yang berasal dari Aceh hingga Timika, Papua. (ybh/hio)

PW Hidayatullah Jabar Gelar Kuliah Dai Mandiri Intensif

20140921_130759 20140921_130924Hidayatullah.or.id — Dalam rangka melakukan penguatan spiritual dan menumbuhkan motivasi dalam berdakwah, Pimpinan Wilayah Hidayatullah Jawa Barat (PW Hidayatullah Jabar) mengadakan acara upgrading dai bertajuk kuliah dai mandiri atau KDM yang digelar intensif selama 2 hari.

Kegiatan yang digelar pada Sabtu-Ahad, 21-21 September 2014 lalu ini berlangsung di komplek Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Karawang ini diikuti oleh sekitar 50 orang dai se-Jawa Barat.

Pelatihan dihadiri oleh pembina dari pusat yaitu Drg Fathul Adhim, KH. Muhammad Dirlis Karyadi, Lc, serta H. Abu Hamzah sebagai PW Hidayatullah Jawa Barat.

Kyai Karyadi dalam pengarahannya menekankan bahwa eksisitensi dai di tengah masyarakat menjadi panutan, sebab itu ia harus senantiasa menjaga hati agar tetap ikhlas. Dai juga manusia, sehingga harus selalu menempa diri untuk menjadi dai tangguh yang sabar dan tidak sombong.

“Kita jangan merasa bangga telah membina ratusan umat. Justru sebaliknya, hendaknya itu kita jadikan sebagai penguat bahwa seorang dai hanyalah perantara datangnya hidayah Allah Ta’ala,” kata beliau.

Dai harus menempatkan diri bak oase di tengah padang pasir. Karenanya, jiwa-jiwa hanif penuh keikhlasan dan kesederhanaan itulah yang akan menjadi inspirasi dan motivasi umat menuju cahaya peradaban.

“Meskipun di tengah serba kekurangan dan keterbatasan fasilitas, tidak sedikitpun menyurutkan untuk berhenti berdakwah,” imbuh dia.

Seorang dai yang tercerahkan harus menjadi halangan dan tantangan sebagai peluang untuk terus merebut pertolongan Allah lewat dialog dan sujudnya di tengah malam seraya berdo’a untuk tetapnya diberi keistiqomahan dan kekuatan dalam mengemban tugas kekhalifahan.

“Tekadnya hanya satu, kembalinya umat menyadari dan memahami orientasi hidup sejati demi mencapai puncak kebahagian lahir bathin yang disertai kemenangan tegaknya peradaban Islam yang damai dan berkasih sayang,” katanya.

Acara upgrading dai yang berlangsung intensif selama 2 hari didukung oleh lembaga amil zakat nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH). BMH adalah lembaga zakat nasional yang mempunyai perhatian yang sangat serius kepada peran dai.

Laznas BMH secara nasional tidak henti-hentinya memberi dorongan agar peran Ddai di masyarakat terus bisa melakukan inovasi dan kreatifitas untuk meningkatkan kesadaran umat lewat berbagai aktifitas yang mengarah kepada sebuah perubahan.

“Melalui upaya yang sistematis yang terus menerus, upgrading dai menjadi sebuah keniscayaan yang harus ditingkatkan oleh para dai mengingat tantangan zaman yang terus meningkat,” kata Branch Manager BMH Bandung, Abdullah, ketika menyerahkan paket bantuan untuk dai saat penutupan acara. (ybh/hio)

Dukung Program Pemerintah, Syabab Hidayatullah Gelar TOT

SAM_0309Hidayatullah.or.id — Pengurus Pusat (PP) Syabab Hidayatullah bekerjasama dengan Persaudaraan Dai Nusantara atau Posdai, menggelar acara Training of Trainer Gerakan Nasional Dakwah Mengajar dan Belajar Al Qur’an (TOT Grand MBA) digelar selama 3 hari berlangsung di Gedung Pusdiklat Hidayatullah, Kota Depok, Jawa Barat, ditutup Ahad (19/10)/2014) malam.

Training intensif yang dihadiri puluhan peserta dari unsur pengurus wilayah Syabab Hidayatullah, mahasiswa, dan praktisi serta relawan pengajar Al Qur’an dari instruktur nasional Grand MBA dan Posdai.

Ketua panitia pelaksana, Hendra G. Zakky, mengatakan kegiatan TOT Nasional Grand MBA ini sebagai upaya menyelenggarakan pendidikan Al Qur’an ke berbagai tingkatan dan wilayah dalam rangka mendukung pemerintah dalam pemberantasan buta aksara (PBA) yang di dalamnya mencakup buta tulis Al Qur’an.

Pelatihan Grand MBA ini kata dia akan digulirkan ke daerah lain di Indonesia yang diselenggarakan oleh pengurus Syabab Hidayatullah di wilayah atau daerah bekerjasama dengan Majelis Taklim Hidayatullah (MTH) dan Posdai Indonesia. Peserta baru bisa mengikuti TOT Grand MBA Nasional setelah mendapat rekomendasi dari wilayah.

“Syabab Hidayatulah ingin terlibat aktif dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dengan program Grand MBA ini. Kami membidik kalangan muda karena diharapkan etos kerja mereka tinggi,” kata Hendra Zakky di Depok, Jawa Barat, Senin (20/10/2014).

Zakky mengungkapkan, digelarnya TOT Grand MBA ini berangkat dari keprihatinan masih tingginya tingkat buta buta aksara baca tulis Al Qur’an. Dia mengutip, di kota Depok saja pada tahun 2006 tercatat angka buta aksara latin mencapai angka 13.000 jiwa, dan buta aksara Al-Qur’an lebih banyak yaitu mencapai angka 20.000 jiwa.

“Boleh jadi data tersebut belum mengalami tren peningkatan signifkan dalam kemampuan baca Al Qur’an. Dan tidak menutup kemungkinan kondisi serupa terjadi juga di daerah-daerah lainnya,” kata Zakky.

Lebih jauh Zakky menerangkan bahwa Grand MBA merupakan gerakan nasional mendukung pemerintah dalam melakukan pemberantasan buta huruf aksara.

Sebagaimana diketahui, Undang-undang Dasar 1945 alinea Keempat menegaskan bahwa pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesai berkewajiban untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan dalam pasal 31 ayat 1 dinyatakan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.

Dalam semangat pemberantasan buta huruf aksara, jelas Zakky, maka adalah hak warga negara untuk mendapatkan hak pendidikan Al Qur’an. Dengan pemahaman dan praktik yang baik dari nilai pengajaran Al Qur’an, diharapkan mengembangkan potensi kehidupan manusia maupun akhlak al-karimah melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan dengan tujuan pembentukan manusia seutuhnya dalam rangka memajukan peradaban.

Hal itu, sambung Zakky, bersenyawa dengan semangat pendidikan nasional dalam upaya membentuk watak dan peradaban bangsa yang bermartabat, beriman, dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa sebagaimana tertuang dalam undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003, Bab II pasal 3.

Meskipun program pemberantasan buta aksara telah dicanangkan secara nasional sejak tahun 2003 dan dilakukan program percepatan pada tahun 2005 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, namun program percepatan pemberantasan buta aksara yang ditargetkan tuntas pada tahun 2009 ini nampaknya relatif masih nihil.

“Untuk itu, kami di Syabab Hidayatullah akan menjadikan ini sebagai program nasional. Selain melayani permintaan masyarakat luas, pemantapan kemampuan baca tulis Al Qur’an ini setidaknya akan diwajibkan untuk anggota dan pengurus,” pungkas Zakky yang juga Ketua Departemen Dakwah PP Syabab Hidayatullah ini.

Gerakan Nasional Dakwah Membaca dan Belajar Al Qur’an (Grand MBA) adalah merupakan program nasional Hidayatullah sebagai metode pilihan pembelajaran Al Qur’an secara tuntas dan sistematis. (ybh/hio)

Idealnya Pemuda Islam Bisa Ngaji Qur’an dan Mengajarkan

0

SAM_0378Hidayatullah.or.id — Seorang pemuda Islam idealnya mampu membaca Al Qur’an dengan baik sesuai dengan kaidah tahsin dan tajwid serta mengajarkannya kepada orang lain. Namun, faktnya, yang terjadi adalah kondisi sebaliknya. Jangankan pemuda, realitas umat hari ini masih banyak yang buta Al Qur’an.

Demikian ditegaskan Sekretaris Jenderal PP Hidayatullah Ir Abu A’la Abdullah, dalam acara Training of Trainer (TOT) Grand MBA – Syabab Hidayatullah di Pusdiklat Hidayatullah Kota Depok, Jawa Barat, Ahad (19/10/2014).

Gerakan Nasional Dakwah Membaca dan Belajar Al Qur’an atau disingkat Grand MBA) adalah merupakan program nasional Hidayatullah sebagai metode pilihan pembelajaran Al Qur’an secara tuntas dan sistematis.

Abu A’la mengungkapkan realitas umat hari ini masih jauh dari nilai-nilai Al Qur’an, bahkan untuk mempelajarinya saja enggan. Salah satu pemicunya karena diantaranya menganggap belajar Al Qur’an itu susah dan hanya diampu oleh mereka yang berbakat.

“Bisa membaca Qur’an dengan baik dan benar bukan soal bakat atau tidak berbakat. Semua kita bisa baca Qur’an asalkan ada kemauan. Jadi intinya, mau atau tidak, itu saja,” kata Abu A’la.

Abu A’la menilai, banyak orang yang tidak percaya diri (pede) menjadi guru ngaji Al Qur’an. Padahal pekerjaan sebagai guru ngaji merupakan dakwah yang sangat mulia dan disukai oleh Allah Ta’ala sebagaimana dikutip dari hadits Nabi diriwayatkan Imam Al-Bukhari.

Pandangan negatif terhadap pekerjaan sebagai guru ngaji dipicu juga oleh pengaruh materialisme yang disebarkan melalui berbagai perangkat media. Tidak sedikit orangtua yang lebih mendahulukan mengikutkan anaknya kursus menari, musik, dan les bahasa. Sementara kemampuan baca tulis Al Qur’an berada di prioritas ke sekian.

“Secara tidak sadar remaja dan anak-anak muda kita dijauhkan dari Qur’an dengan hadirnya berbagai macam pemuas kesenangan lahiriyah,” imbuh Abu A’la yang membina puluhan majelis taklim Grand MBA di Jabodetabek ini.

Sekjen PP Hidayatullah Ir Abu A’la Abdullah dalam pengarahannya saat penutupan, mengingatkan bahwa sesungguhnya tidak ada pekerjaan yang lebih patut disibuki oleh orang beriman selain belajar Al Qur’an dan mengajarkannya.

Dia menegaskan hendaknya dalam setiap rutinitas keseharian kita baik seorang santri, mahasiswa, pebisnis, pemimpin, dan sebagainya, ada waktu untuk mempelajari Qur’an dan mengajarkannya. Abdullah pun menyayangkan adanya pertentangan di masyarakat soal apakah guru ngaji boleh menerima imbalan atau tidak.

“Saya justru heran dengan orang seperti ini. Apakah guru ngaji boleh menerima imbalan atau tidak. Seharusnya bukan itu yang dipersoalkan. Wong banyak orang yang di luar sana bicara sembarangan dapat duit kok, ini masa’ guru ngaji gak boleh dikasih imbalan,” ujarnya.

Namun dia mewanti-wanti tidak boleh meniatkan pekerjaan mengajar ngaji karena uang, maka itu tidak boleh pasang tarif.

“Dalam belajar Al-Qur’an ini tidak usah terburu-buru. Istiqomah saja, jangan tergesa-gesa. Insya Allah akan ada hasilnya. Targenya adalah Qur’anisasi yang itu artinya kita harus selalu mendakwahkan Islam. Bergerak secara kuantitas dan bergerak secara kualitas,” imbuh beliau.

Abu A’la mengatakan Grand MBA adalah gerakan ideologis yang digagas oleh Hidayatullah dengan spirit Sistematika Nuzulnya Wahyu (SNW). SNW adalah ruh dalam rangka mengajarkan Al Qur’an. Untuk itu dia berharap angkatan pertama TOT Grand MBA ini dapat terus bergulir. Menjadi pembelajar dan pengajar Al Qur’an adalah sebuah kebanggan.

“Pemuda harus mempelopori gerakan belajar dan mengajar Al Qur’an. Ini adalah sebuah kebanggan. Jangan minder, harus selalu percaya diri,” pungkasnya. (ybh/hio)

Hidayatullah Medan Tuan Rumah Rakor Kemenag

hidayatullah medanHidayatullah.or.id — Pondok pesantren adalah pendidikan tertua di negara Republik Indonesia dan ia merupakan wadah pendidikan yang baik untuk mencetak generasi bangsa yang agamais.

Hal ini di sampaikan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Deli Serdang Ilhamsyah pasaribu, MA, dalam sambutannya sekaligus membuka secara resmi Rapat Koordinasi Pimpinan Pondok Pesantren se-Kabupaten Deli Serdang, Kamis (16/10/2014) lalu di Pondok Pesantren Hidayatullah Tanjung Morawa.

Ilhamsyah juga mengatakan bahwa Pondok Pesantren adalah mitra terbaik Kementerian Agama karena sistem pendidikan nya yang komplit meliputi pendidikan agama yang mempelajari kitab-kitab kuning dan juga tidak melepaskan pendidikan umum.

“Sehingga santri-santri bisa memiliki pondasi keagamaan yang kuat walaupun nantinya mereka hidup dengan profesinya masing-masing namun tetap didasari dengan nilai keislaman,” kata Ilhamsyah.

Rapat Koordinasi yang mengambil tema “Peningkatan Mutu dan perluasan Akses Pendidikan Keagamaan Islam Melalui Pondok Pesantren” dihadiri oleh pimpinan/perwakilan dari 23 pondok pesantren yang ada di Kabupatem Deli Serdang baik pesantren modern maupun salafiyah.

“Diharapkan nantinya rapat koordinasi ini akan tetap terus berlanjut secara rutin dan terjadwal,’ harap dia.

Turut hadir juga dalam kagiatan rapat koordinasi itu Kepala Seksi Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam Kemenag Deli Serdang Dr. H. Torang Rambe, M.Ag, ketua yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Tanjung Morawa, KH. Choirul Anam, para staf Seksi PAKIS Kemenag Deli Serdang dan Ketua POKJAWAS PAI Siti Afnizar, S.Ag, M.Pd. (zal/hio).

Koordinasi Kampus Madya Hidayatullah di Palu

tabligh akbar hidayatullah paluHidayatullah.or.id — Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Kota Palu, Sulawesi Tengah, menjadi tuan rumah gelaran Rapat Koordinasi Kampus Madya Hidayatullah Regional Sulawesi, Maluku, dan Kalimantan Timur, selama 3 hari(17-19 Oktober 2014) lalu.

Seratusan umat Islam menghadiri pembukaan Rakor ini pada Jumat (17/10/2014) lalu. Mereka mengikuti silaturahim ini sekaligus tabligh akbar di Pondok Pesantren Hidayatullah Palu di Tondo, Palu.

Tabligh akbar dengan penceramah anggota DPD-MPR RI yang juga Dewan Syura Hidayatullah Ir Abdul Aziz Kahar Muzzakar, ini sekaligus membuka silaturahim dai Hidayatullah regional Sulawesi, Maluku dan Kalimantan Timur.

Panitia acara Drs Tasyrif Amin mangatakan, sejak tahun 2000, Hidayatullah yang hanya berbentuk pesantren menjadi organisasi masyarakat atau ormas dengan tetap mempertahankan gerakan kultural pesantren.

“Pesantren ada kualifikasi kampus, kampus pusat pesantren miniatur peradaban islam di kampus pusat di Balikpapan dengan wilayah seluas 250 hektar,” kata Tasrif dikutip laman lokal Metro Sulawesi.

Dijelaskan dia, ada banyak kampus-kampus utama dari seluruh pelosok tanah air termasuk di Timika, Papua. Bahkan di daerah perbatasan Papua dan Papua Nugini ada kampus Hidayatullah dengan lahan seluas 20 hektare.

“Hadirnya kampus-kampus Hidayatullah sebagai pusat dakwah. Selain kampus, Hidayatullah juga telah mengembangkan setidaknya 5 Universitas yang ada di Balikpapan, Surabaya, Batam dan beberapa daerah lainnya,” ungkapnya.

Sementara itu, anggota dewan syura PP Hidayatullah, Akib Junaid Kahar, dalam pengarahannya berpesan pentingnya meneladani sosok pendakwah ulung yakni Nabi Ibrahim bersama keluarganya yang menjadi pendukung debut dakwahnya.

Diterangkan Akib, memotret teladan Nabi Ibrahim dan keluarganya seolah tak ada habisnya untuk dibicarakan. Ibarat oase di tengah padang sahara, keteladannya dirindukan oleh setiap individu Muslim. Ibrahim adalah figur teladan selain Nabi Muhammad dalam meniti jalan kebaikan dalam kehidupan ini.

“Demikian Allah menyuratkan secara tegas. Ia tak hanya dikenang ketika peristiwa Idul Qurban atau pelaksanaan syariat iabadah haji. Sebab sejatinya, keteladanan itu ada dalam setiap episode perjalanan dakwah Nabi Ibrahim,” ujar Akib dihadapan peserta Rapat Koordinasi Kampus Madya Hidayatullah Regional Sulawesi, Maluku, dan Kalimantan Timur ini.

Menurut Aqib, yang menarik untuk selalu dikaji oleh Hidayatullah sebagai lembaga yang mencetak kader dakwah adalah keyakinan Ismail dalam menaati setiap perintah ayahnya, Ibrahim.

“Saya tidak bisa membayangkan, jika profil santri-santri Hidayatullah seperti Ismail. Santri yang berkarakter punya komitmen ketaatan terhadap seruan dakwah dengan resiko apapun juga,” ucap Akib yang memangku amanah anggota Dewan Syura Hidayatullah 2010-2015.

Dengan karakter demikian, niscaya terjadi perkembangan dakwah yang sangat pesat. Sebab seorang kader dakwah berjiwa Ismail tak lagi pusing hendak ditempatkan di mana atau bertugas sebagai apa. Kader seperti itu, masih menurut Akib, tak lagi mengenal istilah “daerah basah” atau “daerah kering”.
“Baginya sama saja, selama itu adalah perintah dan dalam rangka dakwah dan perjuangan Islam,” tegas Akib.

Dalam acara yang digelar di kampus Hidayatullah Palu, Sulawesi Tengah itu, Akib Junaid mengajak untuk mencermati lebih jauh, latar pendirian Ismail mengapa ia bisa taat dan kokoh seperti itu. Tak lain karena Ismail meyakini jika perintah yang diberikan Ibrahim adalah perintah yang bersumber dari Allah, bukan dari yang lain.

Puncaknya, Ismail mampu taat kepada perintah Ibrahim meski sesungguhnya perintah itu datang berdasar takwil mimpi saja.

Untuk itu Akib mengingatkan, dalam konteks bermasyarakat dan berinteraksi dengan orang lain. Seorang pemimpin hendaknya senantiasa mengoreksi setiap kebijakan yang menyangkut maslahat orang banyak.

Ketika terjadi persoalan di tengah umat, maka evaluasi pertama kembali kepada pemimpin tanpa harus langsung menyalahkan orang lain.

“Koreksi pertama kembali kepada sang pemimpin. Apakah keputusan atau aturan yang ia tetapkan itu murni lillahi semata. Ataukah justru ia sendiri yang lebih dahulu mencemarinya dengan interest pribadi,” papar Akib yang juga pernah bertugas dakwah di daerah Palu beberapa tahun silam.

“Jangan pernah berharap orang lain bisa taat jika kita sendiri punya kepentingan dalam urusan tersebut,” Imbuh Akib kembali.

Berbekal keyakinan dan keteladanan inilah, Nabi Ibrahim membangun peradaban manusia yang ia mulai dari keluarganya sendiri. Ibrahim berhasil mencetak kader setangguh Ismail. Ismail kecil yang sanggup mengiyakan tanpa syarat ketika hendak disembelih oleh Ibrahim. Sebab ia tahu bahwa ayahnya hanya menjalankan perintah Allah semata.

Sebagaimana Hajar tak lagi mengulang kegelisahannya di hadapan Ibrahim saat ia ditinggal sebatang kara di padang tandus Makkah kala itu. Karena Hajar sadar, semua perkara ini tak lain ialah titah dari langit untuk Ibrahim kepada keluarga yang dikasihinya.

Akib mengajak kepada segenap pribadi untuk mengoreksi diri sendiri sebagai awal dari pembenahan umat.

“Jangan terlalu berharap kepada orang lain apalagi hingga menyalahkan orang lain. Sedang ia sendiri tak pernah melakukan muhasabah diri,” ucap ustadz yang dikarunia kemampuan hafalan al-Qur’an tersebut.

Bagi Akib, teladan itu adalah mutlak berawal dari diri dan keluarga terlebih dahulu. Jika orang itu telah mempraktekkan apa yang ia ucapkan. Niscaya serta merta orang lain meniru perilaku dan titah kebaikan itu. Sebaliknya, ketika seruan itu sebatas wacana dan aturan teoritis semata, maka alih-alih perintah itu ditiru. Justru ia bisa mejadi bahan cemoohan dan olokan semata. Atau sekedar dilakukan karena alasan terpaksa dan tak ada pilihan lain.

Orang yang berdakwah wajib meyakini terlebih dahulu apa yang ia dakwahkan. Tak cukup dengan itu, ia juga harus memberi bukti atas semua isi ceramahnya. Layaknya seorang sales rompi anti peluru, demikian Aqib memberi tamsil. Bagaimana ia mampu meyakinkan orang lain akan khasiat rompi tersebut. Jika ia sendiri ragu dengan kualitas yang ia jajakan setiap hari.

“Untuk memberi bukti dan meraih keyakinan, kalau perlu ia diberondong dulu dengan hujan peluru,” seloroh Aqib Junaid memungkasi. */ Masykur Abu Jaulah

Alhamdulillah, Abdurrohim Sukses Raih Gelar Doktoral

Dr Abdurrohim
Dr Abdurrohim

Hidayatullah.or.id — Sivitas Akademika Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Hidayatullah (STIEHID) bergembira seraya bersyukur. Sebab salah satu dosennya, Abdurrohim bin Syamsu Rijal Aswin (33 tahun) berhasil meraih gelar doktor pada bidang Ilmu Agama Islam di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN SUKA), Yogyakarta.

Gelar yang diraih Bapak 1 anak ini berhasil diraih setelah pada hari Kamis, 25 September 2014 lalu mampu mempertahan disertasinya di hadapan tim penguji, yakni ketua Sidang Penguji Prof. Dr. Musa Asy’arie (Rektor UIN Sunan Kalijaga) dan Sekretaris Sidang Dr. Sekar Ayu Aryani, MA. Ujian promosi doktor ini dilaksanakan bertempat di Convention Hall UIN SUKA.

Dalam pemaparannya mempertahankannya disertasinya tersebut Abdurrohim berhadapan dengan tim penguji lainnya yaitu Dr. H. Sumedi, M. Ag., Prof. Dr. H. Nizar Ali, M. Ag., Dr. Usman, SS., M. Ag., Inayah Rahmaniyah, S. Ag., MA., Ph.D., Prof. Dr. H. Hamruni, M. Si., (promotor merangkap penguji), M. Agus Muryatno, MA., Ph.D., (promotor merangkap penguji).

Ketika mempresentasikan hasil risetnya, putra kelahiran Berau, Kaltim, ini mengatakan bahwa Pesantren Hidayatullah di Balikpapan telah mengembangan formulasi pemikiran Islam yang menjadi platform ideologi sebagai bagian dari organisasi gerakan Islam di Indonesia. Hal ini diketahui dari riset yang dilakukan dosen Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah Hidayatullah ini terhadap Hidayatullah Boarding School of Balikpapan .

Abdurrohim memaparkan, dia melakukan riset kombinasi lapangan dan perpustakaan dengan pendekatan sejarah. Data dikumpulkan melalui dokumentasi, wawancara, dan observasi. Sehingga diperoleh temuan bahwa konsepsi pemikiran Islam yang diterapkan di Boarding School of Balikpapan adalah pemikiran asli K.H. Abdullah Said yang terangkum dalam manhaj Sistematika Nuzulnya Wahyu (SNW).

Almarhum KH Abdullah Said adalah pendiri sekolah dan pesantren tersebut, yang kemudian dipelihara dan dikembangkan oleh penerusnya sebagai gerakan organisasi.

Dijelaskan dia, jika pesantren sudah menerapkan konsepsi ideologi pendidikan Islam, hasil pembelajarannya akan memunculkan nilai– nilai inti dalam pendidikan Islam, yaitu; kemerdekaan, kepemimpinan, kewirausahaan, pemenuhan tanggungjawab dan hasrat berjuang untuk memecahkan masalah kehidupan.

Upaya memberi pemahaman terhadap para santri dilakukan melalui proses internalisasi dalam dua aspek yaitu melalui pembelajaran praktis dalam kelas dan kelompok terfokus atau halaqah.

Menurut Rohim, optimalnya penerapan konsepsi ideologi pendidikan Islam dalam pesantren memerlukan kelengkapan fasilitas pendukung, seperti; masjid, pesantren rumah, gedung sekolah dan istrumen-instrumen lain yang mendukung ketiga fasilitas tadi.

Dari hasil risetnya, promovendus berharap, perlunya persepsi baru dalam penerapan konsepsi ideologi pendidikan Islam yakni persepsi humanitarianisme (humanisme semesta) dalam praktek ideologisasi pembelajaran.

Dia menegaskan, konteks humanitarianisme ini bukan dalam pengertian humanisme liberal atau humanisme ateistis yang menjadi trend di dunia Barat. Hal ini penting bagi masa depan ideologi pendidikan Islam dalam kontinuitasnya. Karena dengan perspektif humanitarianisme ini, paradigma ideologi pendidikan Islam menjadi humanis-religius atau humanisme-teosentris. Temuan Rohim ini juga menguatkan riset yang telah dilakukan oleh sarjana Islam lainnya yaitu Abdurrahman Mas’ud dan Achmadi.

Dengan humanitarianisme pula, proses ideologisasi yang umumnya bersifat dogmatis, teologis dan subyektif bisa berubah menjadi proses conscientisasi (penyadaran), yang dalam arti teknis merupakan upaya memahami berbagai kontradiksi sosial, politik, ekonomi, budaya dan lainnya, serta mengambil tindakan untuk melawan unsur-unsur yang menindas dari realitas tersebut.

Yang dalam arti teknis merupakan upaya memahami berbagai kontradiksi sosial, politik, ekonomi, budaya dan lainnya, serta mengambil tindakan untuk melawan unsur–unsur yang menindas dari realitas tersebut.

Maka, imbuh dia, dengan humanitarianisme, pendidikan Islam akan menghadirkan esensi dari wajah ajaran Islam yang sejatinya berbicara dengan manusia secara universal untuk membebaskannya dari segala bentuk penindasan, memperhatikan jasmanai dan rohani manusia, serta aturan-aturan fisiologis dan spiritual yang menggerakkannya.

“Dengan humanitarianisme akan ditemukan bahwa Islam sejatinya adalah faktor yang mendamaikan berbagai kontradiksi lahir-batin, duniawi-ukhrawi, material-spiritual, dan menisbikan segala bentuk kontradiksi dengan mengakomodasi segala hal di dalam dirinya secara humanis”, demikian papar suami Nur Muti’ah, SHI., M. Si. (ybh/hio)

Juru Dakwah Harus Seperti Sales Rompi Anti Peluru

ist
ist

Hidayatullah.or.id -– Teladan Nabi Ibrahim dan keluarganya seolah tak ada habisnya untuk dibicarakan. Ibarat oase di tengah padang sahara, keteladannya dirindukan oleh setiap individu Muslim.

Ibrahim adalah figur teladan selain Nabi Muhammad dalam meniti jalan kebaikan dalam kehidupan ini. Keteladanan itu ada dalam setiap episode perjalanan dakwah Nabi Ibrahim.

Demikian dikatakan oleh Akib Junaid Kahar di hadapan peserta Rapat Koordinasi Kampus Madya Hidayatullah Regional Sulawesi, Maluku, dan Kalimantan Timur yang berlangsung sejak Jumat-Ahad (17-19 Oktober 2014) di Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Akib berharap teladan Ibrahim bisa menjadi contoh kader dakwah di organisasi Hidayatullah.

“Saya tidak bisa membayangkan, jika profil santri-santri Hidayatullah seperti Ismail. Santri yang berkarakter punya komitmen ketaatan terhadap seruan dakwah dengan resiko apapun juga,” ucap Akib yang memangku amanah anggota Dewan Syura Hidayatullah 2010-2015.

Dengan karakter demikian, niscaya terjadi perkembangan dakwah yang sangat pesat. Sebab seorang kader dakwah berjiwa Ismail tak lagi pusing hendak ditempatkan di mana atau bertugas sebagai apa.

Kader dakwah seperti itu, masih menurut Akib, tak lagi mengenal istilah “daerah basah” atau “daerah kering”.

“Baginya sama saja, selama itu adalah perintah dan dalam rangka dakwah dan perjuangan Islam,” tegas Akib mengobar semangat peserta.

Dalam acara yang digelar di kampus Hidayatullah Palu, Sulawesi Tengah itu, Akib mengajak para kader dakwah menjadi teladan untuk diri dan keluarga.

Jika seorang telah mempraktekkan apa yang ia ucapkan. Niscaya serta merta orang lain meniru perilaku dan titah kebaikan itu.

Sebaliknya, ketika seruan itu sebatas wacana dan aturan teoritis semata, maka alih-alih perintah itu ditiru. Justru ia bisa mejadi bahan cemoohan dan olokan semata. Atau sekedar dilakukan karena alasan terpaksa dan tak ada pilihan lain, ujarnya.

Para pendakwah, menurut Akib wajib meyakini terlebih dahulu apa yang ia dakwahkan. Tak cukup dengan itu, ia juga harus memberi bukti atas semua isi ceramahnya.

Ia memberi tamsi, pendakwah layaknya seorang sales rompi anti peluru. Bagaimana ia mampu meyakinkan orang lain akan khasiat rompi tersebut. Jika ia sendiri ragu dengan kualitas yang ia jajakan setiap hari.

“Untuk memberi bukti dan meraih keyakinan, kalau perlu ia diberondong dulu dengan hujan peluru,” pungkas Akib Junaid.*/Masykur Abu Jaulah

Hidayatullah Depok Gelar Muharram Education Fair 2014

brosur-mef 2014 hidayatullah depokHidayatullah.or.id — Momentum hijrah diperingati sebagai sebuah aktifitas yang menghasilkan perubahan dari sebuah keadaan awal menuju sebuah keadaan yang lebih baik. Bidang Pendidikan merupakan hal mendasar yang paling berperan dalam perubahan itu.

Dalam rangka mengusung semangat berhijrah, Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok kembali menggelar Muharram Education Fair 2014 yang diselenggarakan di kampus Pesantren Hidayatullah yang berlokasi di Kebon Duren, Kota Depok ini.

“Pesantren Hidayatullah Depok sebagai sebuah lembaga yang memiliki mainstream pendidikan, dakwah, dan sosial senantiasa menjadikan momen hijrah sebagai show window bagi masyarakat terhadap aspirasi di bidang pendidikan, dakwan dan sosial,” demikian rilis panitia dterima Hidayatullah.or.id, Kamis (16/10/2014).

Kegiatan Muharram Education Fair 2014 (MEF) yang rencananya akan dimerihkan oleh peserta dari berbagai sekolah di Kota Depok ini mengusung tema “Momentum Hijrah upaya mewujudkan Pendidikan Karakter Berbasis Tauhid”.

MEF 2014 ini, panitia menerangkan, terselengara atas kerjasama Departemen Pendidikan Hidayatullah Depok (PD2HD) dengan Yayasan Pesantren Hidayatullah Depok ini akan dilaksanakan pada Sabtu-Ahad, 08-09 November 2014/ 15-16 Muharram 1436 H mendatang.

MEF 2014 digelar bertepatan dengan menyongsong Tahun Baru Islam 1436 Hijriyah. Untuk itu, kegiatan ke-2 ini mengajak kepada eleman pendidikan TK-SD-SMP-SMA di kota Depok untuk memeriahkan acara ini dengan menjadi peserta berbagai lomba yang akan digelar. Apresiasi terhadap kualitas pendidikan diantaranya dilakukan dalam bentuk lomba-lomba maupun pameran dan pentas seni.

Harapan pada kegiatan ini, MEF ke-2 dapat dilkuti oleh peserta yang lebih banyak, dari sekolah yang berasal dari Wilayah Depok, Cibinong dan sekitarnya, sehinga lebih meriah dan semarak. Tahun lalu acara ini mendulang peserta hingga ratusan orang. Diharapkan tahun ini semakin bertambah.

Kegiatan IMF ke-2 ini kembali akan dibuka oleh Wali Kota Depok Dr. Ir. H. Nur Mahmudi Ismail. MEF 2014 mengusung semangat pemberdayaan kompetensi, mengasah kualitas, dan menstimulasi peserta didik untuk terus bertumbuh dalam cakrawala keilmuan yang memadai.

“Diharapkan dengan kegiatan ini akan mendorong peserta dan siswa untuk semakin giat berlatih dan belajar dalam bingkai kebersamaan dengan mematrikan spirit saling asah, asih, dan asuh,” harapnya.

Adapun untuk pendaftaran lomba dan informasi lebih lanjut tentang acara ini, silahkan mengubungi sekretariat panitia Bapak Iwan Ruswanda: 081281789679, Bapak Sulung Fatrangga: 085285719414, dan Bapak Khumaini: 081366554740. (khm/ybh)

Ini Tindakan yang Dilarang Dilakukan Ormas Sesuai UU

0
Ormas menolak pengesahan RUU Ormas yang dinilai mengancam kebebasan berserikat / ist
Ormas menolak pengesahan RUU Ormas yang dinilai mengancam kebebasan berserikat / ist

Hidayatullah.or.id — Dalam penjelasannya Divisi Humas Kepolisian Republik Indonesia (Polri), Rabu (15/10/2014) kemarin menyampaikan tindakan yang tak boleh dilakukan organisasi masyarakat atau ormas. Bila melanggar ketentuan dari undang-undang tersebut makan sanksi mengancam.

 

“Bahwa kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat merupakan bagian dari hak asasi manusia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dijamin oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,” tulis Divisi Humas Polri dalam rilisnya dikutip media.

Dijelaskan, bahwa dalam menjalankan hak dan kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat, setiap orang wajib menghormati hak asasi dan kebebasan orang lain dalam rangka tertib hukum serta menciptakan keadilan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Pernyataan dalam konsideran UU No 17 Tahun 2013 tersebut secara jelas menyatakan tentang dasar-dasar yang harus dipatuhi dalam menyampaikan pendapat, termasuk Ormas. Pasal 59 ayat 2 undang – undang nomor No 17 Tahun 2013 Tentang Organisasi Kemasyarakatan menjelaskan bahwa ormas dilarang:

  • a. Melakukan tindakan permusuhan terhadap suku, agama, ras, atau golongan;
  • b. Melakukan penyalahgunaan, penistaan, atau penodaan terhadap agama yang dianut di Indonesia;
  • c. Melakukan kegiatan separatis yang mengancam kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia;
  • d. Melakukan tindakan kekerasan, mengganggu ketenteraman dan ketertiban umum, atau merusak fasilitas umum dan fasilitas sosial; atau
  • e. Melakukan kegiatan yang menjadi tugas dan wewenang penegak hukum sesuai dengan ketentuan.

Mencermati ketentuan dalam pasal 59 tersebut di atas, bagi Ormas yang melakukan pelanggaran terhadap larangan tersebut disebutkan akan diberikan sanksi sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam pasal 60 sampai dengan pasal 78 UU no 17 tahun 2013.

Dalam rangka mendukung kepentingan pemerintah dalam memberikan sanksi terhadap Ormas, fakta- fakta di lapangan yang telah dicatat oleh kepolisian dan berbagai keputusan Pengadilan tentang pelanggaran yang telah dilakukan oleh ormas dapat dijadikan referensi, demikian rilis Divisi Humas Polri. (dtc/hio).