Beranda blog Halaman 652

Hidayatullah Parepare Buka Program Pendidikan SMA

Logo Pendidikan Integral Hidayatullah untuk sekolah-sekolah Hidayatullah dari tingkat SD hingga SMA
Logo Pendidikan Integral Hidayatullah untuk sekolah-sekolah Hidayatullah dari tingkat SD hingga SMA

Hidayatullah.or.id — Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Parepare, Sulawesi Selatan, melalui departemen pendidikan telah membuka program pendidikan untuk tingkat menengah atas atau SMA. Tahun akademik 2014-2015 ini pendaftaran siswa telah dibuka.

“SMA Hidayatullah Parepare hadir untuk memberi solusi terhadap persoalan pendidikan hari ini yang dianggap masih gagal melahirkan output berkarakter. Kami berkomitmen menjadi sekolah tingkat atas yang berkemampuan melahirkan peserta didik berkarakter Qur’ani,” kata Kepala Sekolah SMA Hidayatullah Parepare, Abdul Kadir, dalam pernyataannya kepada media ini, Selasa (08/04/2014).

Dijelaskan Kadir, lembaga pendidikan tingkat SMA dan sederajat yang dipimpinnya menyelenggarakan sistem pendidikan terintegrasi antara kurikulum kepesantrenan dengan kurikulum Diknas. Untuk itu, kata dia, setiap siswa diharuskan tinggal di asrama (boarding school) selama menjadi proses pendidikan hingga lulus.

“Santri tetap bisa bersilaturrahim dengan kerabat saat tanggal merah atau hari hari besar atau pada momentum tertentu seperti lebaran atau libur panjang,” jelas Kadir seraya menambahkan bahwa biaya sekolah full gratis hingga tamat.

Guna meningkatkan kualitas pendidikan di lingkungan Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Parepare, Pengurus DPD Hidayatullah Kota Parepare, Sulawesi Selatan, sebelumnya telah menggelar kegiatan bertajuk “Ramadhan English Camp” bertempat di Pondok Pesantren Hidayatullah tahun lalu.

Pelaksana Tugas (Plt) Asisten Bidang Pemerintah dan Kesra Pemerintah Kota Parepare, Iwan Asaad, mewakili Wali Kota Parepare Mohammad Zain Katoe membuka acara tersebut.

Iwan mengemukakan, selain Bahasa Arab, Bahasa Inggris merupakan kunci untuk bergaul dengan dunia internasional. Karena itu, kepada seluruh peserta agar berkonsentrasi dan bersungguh-sungguh dalam mengikuti English Camp tersebut.

“Setiap orang pasti memiliki keinginan untuk menjadi warga dunia. Dan syarat untuk menjadi warga dunia tidak lain adalah menguasai Bahasa Inggris karena bahasa ini merupakan bahasa internasional yang digunakan di mana pun,” kata Iwan.

Sementara itu menurut panitia kegiatan tersebut diselenggarakan untuk mengisi liburan Ramadhan dengan kegiatan yang bermanfaat untuk calon generasi pelanjut tersebut.

Selain peserta dari Ponpes Hidayatullah, panitia juga menerima peserta dari tujuh sekolah lainnya di Kota Parepare.

Perkampungan Bahasa Inggris di Bulan Ramadhan ini juga merupakan kegiatan yang untuk pertama kalinya digelar DPD Hidayatullah Parepare dan akan diagendakan terus setiap Ramadhan dan di masa mendatang akan semakin dikondisikan.

Tujuannya agar penguasaan Bahasa Inggris peserta bisa meningkat tajam, panitia pun mendatangkan instruktur dari Perkampungan Bahasa Inggris Kediri yang namanya sudah dikenal di Indonesia.

Pihaknya juga berterima kasih atas perhatian dan kerja sama yang baik dengan pihak pemerintah selama ini terhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukan selama ini oleh DPD HIdayatullah Parepare. (ant/hio)

Santri Dasar Hidayatullah Yogya Diajarkan Wirausaha

Kegiatan membangun kompetensi kemandirian santri bertajuk "Entrepreneurship for Student" / YAYAN
Kegiatan membangun kompetensi kemandirian santri bertajuk “Entrepreneurship for Student” / YAYAN

Hidayatullah.or.id -— Sebagai upaya menanamkan skill (kemampuan) dalam berwirausaha, Sekolah Dasar Islam Integral (SDIT) Hidayatullah Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan membangun kompetensi kemandirian bertajuk “Entrepreneurship for Student”.

Kegiatan ini diikuti oleh murid kelas 3 hingga kelas 6 yang dibagi menjadi beberapa kelompok.

Kegiatan dibuka langsung oleh Kepala Sekolah SDIT Hidayatullah Ustadz Subhan Birori, S.Ag Rabu (02/04/2014) lalu yang dihadiri juga oleh orangtua murid untuk menyaksikan langsung kegiatan pembelajaran di luar kelas tersebut.

Dalam sambutannya, Ustadz Subhan Birori berharap agar dilaksanakannya kegiatan tersebut dapat memberikan pelajaran langsung kepada peserta didik tentang bagaimana sesungguhnya menjadi pelaku ekonomi, dan berwirausaha yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara Ustadz Subliyanto, S.Pd.I, selaku ketua panitia yang juga sebagai Kabag Kemuridan SDIT Hidayatullah Yogyakarta, mengatakan dilaksanakannya kegiatan tersebut dimaksudkan sebagai upaya untuk menanamkan skill kepada peserta didik dalam berwira usaha karena kekuatan ekonomi merupakan salah satu elemen dari kekuatan umat Islam.

Selain itu harapannya agar kegiatan ini bisa melahirkan entrepreneur-entreprenuer muda di masa yang akan datang.

Dalam kegiatan ini beberapa menu ditawarkan masing-masing kelompok. Termasuk harganya. Mulai dari Rp. 1.000 hingga Rp. 5.000, disesuaikan dengan uang saku murid yang telah ditetapkan oleh pihak sekolah.

Di akhir kegiatan, masing-masing kelompok menyisihkan sebagian keuntungannya untuk infaq, dan terkumpul sebesar 545.000 rupiah yang diserahkan langsung pada lembaga ‘amil zakat, infaq dan shadaqoh Baitul Mall Hidayatullah (BMH) Cabang Yogyakarta.*/ kiriman Yayan (Jogjakarta)

Pengajian Islam Pertama di Pulau Eksotis Kambunong

Muhammad Bashori, wartawan gaek yang juga dai Hidayatullah di Sulbar
Muhammad Bashori, wartawan yang juga dai Hidayatullah di Sulbar
Dermaga utama menuju pulau yang berpenduduk Muslim 100% namun masih kurang pengajaran agama / BASHORI
Dermaga utama menuju pulau yang berpenduduk Muslim 100% namun masih kurang pengajaran agama / BASHORI
Salah satu sudut eksotis pemandangan Pulau Kambunong / BASHORI
Salah satu sudut eksotis pemandangan Pulau Kambunong / BASHORI
Sejumlah warga berbincang-bincang dengan di masjid / BASHORI
Sejumlah warga berbincang-bincang dengan di masjid usai acara penyerahan  walkaf Al Qur’an / BASHORI
Penyerahan wakaf Al Qur'an kepada masyarakat Pulau Kambunong / BASHORI
Penyerahan wakaf Al Qur’an kepada masyarakat Pulau Kambunong / BASHORI

Hidayatullah.or.id — Seorang ibu dengan bayi di gendongannya tiba-tiba berbisik kepada rekannya, “Bagus sekali caleg ini, tidak cuma janji tapi langsung membagi-bagikan al-Qur’an”.

Wanita yang dibisik spontan menyanggah lalu menjelaskan bahwa yang datang ini bukan orang yang sedang mencari simpatik untuk dipilih menjadi anggota dewan kehormatan.

Percakapan itu singkat sebelum Muhammad Syawal, imam di dusun Pulau Kambunong yang juga merupakan dai dari Hidayatullah akan membagikan al-Qur’an kerjasama Yayasan Wakaf Al-Qur’an Suara Hidayatullah (YAWASH) di Jakarta.

Begitulah, maklum H-8 menuju pesta demokrasi tepatnya tanggal 9 April nanti blusukan calon anggota dewan kehormatan di legislatif daerah berusaha meraup suara ke daerah-daerah termasuk ke Pulau Kambunong ini.

Tak terlalu berat medan untuk menjangkau pulau ini. Bergerak dari kota kabupaten Mamuju Tengah, Tobadak, cukup menghabiskan waktu sekitar 30 menit dan berhenti di pelabuhan lama Tobinta dan terlihat jelas hijaunya bukit di Pulau Kambunong.

Untuk menuju ke pulau ini hanya perlu menumpang perahu nelayan yang akan melaut. Transportasi utama ini jadi alternatif penyeberangan ke pulau yang berpenduduk 100% muslim ini.

Ditemani seorang jamaah asal dusun Muhajir, Mansaeni, kami memutuskan menumpang perahu seorang pemuda yang sedang mengantar keluarganya ke Tobinta. Setiba di dermaga Pulau Kambunong remaja itu dengan senyum tulusnya menolak untuk kami berikan upah.

Belakangan diketahui penduduk pulau yang didominasi suku Mandar-Mamuju ini Alhamdulillah belum banyak terkontaminasi oleh tradisi negatif dari luar.

Bangunan sederhana berkubah itu akan menyuguhi pandangan mata kita saat berjalan di atas dermaga. Sebanyak 80 kepala keluarga di sini hampir semuanya berprofesi sebagai nelayan, guru dan peternak kambing. Sebagian lagi petani rumput laut.

Mendapatkan al-Qur’an dan dibukanya pengajian bulanan di pulau yang dihuni sejak tahun 70-an ini adalah pertama kalinya terjadi. Wajar saja dalam waktu sekejap saja sudah terkumpul sekitar tiga puluhan warga.

“Pertama kalinya ada dai yang datang ke pulau ini, maklum dari beberapa dusun di desa Kambunong hanya di sini yang belum pernah ada pengajiannya,” papar Uwak, sapaan familiar pak imam pulau ini.

Sehingga disepekati setiap Jumat akhir bulannya akan diadakan pengajian rutin dengan fokus pada seputar aqidah dengan refrensi al-Qur’an yang didistribusikan YAWASH.

Kegembiraan juga dirasakan Hasbiana yang terpilih sebagai ketua Majelis Taklim Ar-Ridho, “Bagus (pengajian) ini kita biar makin tahu dan bisa mengamalkan agama kita sendiri,” kata Hasbiana diamani warga lainnya.

Pulau Kambunong yang elok itu dihuni warganya hampir di semua sisinya, namun yang terpadat adalah sisi timur yang menghadap ke jalur trans Sulawesi.

Beberapa kali sempat ada investor akan membeli sisi pulau ini untuk dijadikan resort karena memiliki view yang sangat menawan baik pada momen terbenamnya matahari (sunrise) dan juga eksotisme alamnya secara umum.

Sikap prevenif masyarakat pulai ini cukup bagus, pernah juga ada yang siap membeli dengan harga tinggi untuk pembangunan rumah ibadah agama lain tetapi dengan prinsip aqidah yang mereka tetap menolak tawaran yang menggiurkan itu.

Disadari akan dampak buruknya rencana itu terhadap generasi setelahnya, sang Imam di pulau dan dusun serta sesepuh pulau Kambunong menolak dengan tegas.

“Membangun saja susah kenapa justeru kami merusak (akhlak) anak-anak kami,” tegas Aldi warga pulau saat mengantar kami kembali ke Tobinta dengan perahunya.

________________________
Laporan Muhammad Bashori, wartawan Buletin Hidayatullah (Hidayatullah.or.id) di Sulawesi Barat

Da’i Harus Selalu Koreksi Diri Sebelum Berdakwah

Salah satu acara kegiatan pelepasan dai Hidayatullah ke tempat tugas / ISTT
Salah satu acara kegiatan pelepasan dai Hidayatullah ke tempat tugas / ISTT

Hidayatullah.or.id -– Latar belakang objek dakwah yang sangat beragam hanyalah salah satu dari sekian banyak alasan mengapa para da’i harus selalu punya persiapan yang lebih sebelum ia terjun berdakwah. Untuk itulah para da’i dituntut untuk selalu mengoreksi diri sendiri sebelum berdakwah menyampaikan kepada orang lain.

Kesimpulan itu tersampaikan dalam acara “Silaturahim Da’i Hidayatullah se-Balikpapan” yang digelar oleh Yayasan Dakwah Center (YDC) Ulul Albab, Balikpapan kemarin.

“Kita semua harus beri apresiasi kepada setiap agenda dakwah yang ada. Sebab dakwah adalah jalan kebaikan yang pernah dilakoni oleh semua Nabi dan utusan Allah.” Ujar Zainuddin Musaddad, Ketua Yayasan Pesantren Hidayatullah, Balikpapan.

Selain sebagai sarana menjalin ukhuwah sesama da’i, acara ini juga dimaksudkan untuk sharing berbagi pengalaman dakwah selama terjun di tengah masyarakat.

Menurut Zainuddin, sebagai pekerjaan yang paling baik di mata Allah, sepantasnya setiap da’i berusaha menampilkan yang terbaik kepada umat dalam setiap dakwahnya.

Untuk itu Hidayatullah sangat mendukung adanya upaya program standarisasi setiap da’i.

“Yang kita inginkan tentu bukan untuk klasifikasi da’i secara materi. Layaknya ada dai di lahan dakwah “basah” atau “kering”. Bukan pula membagi ada kelompok da’i perkantoran atau pinggiran,” terang Zainuddin.

“Tapi sebagai media para da’i mengoreksi diri sendiri sebelum berdakwah menyampaikan kepada orang lain,” imbuh pria kelahiran Tasikmalaya ini.

Dalam acara yang digelar di Ruang Pertemuan Yayasan Pesantren Hidayatullah tersebut, Nur Kalam, selaku yang kordinator dakwah Hidayatullah wilayah Balikpapan juga menyampaikan harapan besarnya terkait program tersebut.

Menurutnya, hari ini tantangan dakwah kian berat dan beragam. Arus informasi dan budaya barat begitu deras menjejali umat Islam. Tak ada lagi ruang atau waktu yang tersisa. Semuanya telah dipenuhi oleh hegemoni budaya Barat yang begitu menggurita saat ini.

Bagi seorang da’i, hal itu tentunya dimaknai sebagai tantangan untuk bermujahadah lebih maksimal.

Karena itu Nur Kalam mengajak setiap da’i juga terus berbenah dan menambah bekal dalam berdakwah. Salah satunya, masih menurut Nur Kalam, lewat program standarisasi da’i tersebut.

“Insya Allah kita mulai dari yang paling sederhana dulu, yaitu memperbaiki bacaan al-Qur’an hingga benar-benar baik dan terstandar,” ucap Nur Kalam yang disambut senyum oleh sebagian peserta.

“Jangan sampai ada di antara da’i yang merasa sudah tidak mau lagi belajar atau membaca buku,” imbuh Nur Kalam berpesan.

Senada dengan itu, Abdul Qadir Jailani, salah seorang Dewan Pembina Pesantren Hidayatullah juga menyatakan dukungannya atas program yang ia anggap “berani” tersebut.

“Saya anggap berani, karena hal semacam itu belum ada di masa-masa awal Pesantren Hidayatullah berdiri,” ujar Abdul Qadir.

Menurutnya, dulu di masa pendiri hidayatullah, Ustad Abdullah Said belum ada klasifikasi atau standarisasi da’i. Sebab semua santri langsung disuruh pergi ceramah, bahkan langsung terjun ke daerah buka cabang Hidayatullah,” kenang Abdul Qadir sambil tersenyum.

Terakhir, Abdul Qadir mengingatkan kepada setiap da’i yang hendak menyampaikan dakwah kepada orang lain, agar tidak melalaikan ibadah-ibadah nawafil sebagai sandaran kekuatan spiritual seorang Muslim.

Menurutnya, apalah arti bacaan al-Qur’an yang merdu, materi yang begitu hebat, dan retorika yang sangat memukau, jika semua itu hampa dari kekuatan ruhani seorang da’i.

“Ucapan itu bisa berbekas di hati orang lain jika ucapan tersebut benar-benar kita jiwai dan resapi dalam hati. Sebaliknya jika ruhnya kerontang, bisa jadi ucapan tersebut hanya nyangkut di leher atau di telinga umat saja” terang Abdul Qadir.*/ Masykur Abu Jaulah

Dari Madura Disalurkan Bantuan Rp 249.600.000

0

bmh maduraHidayatullah.or.id — Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Baitul Maal Hidayatullah Cabang Madura, Jawa Timur, memberikan bantuan beasiswa berkah kepada anak yatim dan duafa di wilayah tersebut.

Bantuan bertajuk “Beasiswa Berkah” itu disalurkan di Kantor BMH Pamekasan, Kamis (27/3) belum lama ini. Program bantuan beasiswa tersebut merupakan agenda tahunan dari sejumlah kegiatan yang ada di BMH Madura.

Koordinator BMH Madura Ahmadi mengatakan, penyaluran beasiswa tersebut akan berlangsung hingga lima belas hari. Itu terhitung mulai 22 Maret lalu hingga 5 April bulan ini.

Menurut dia, ditargetkan ada 1.125 anak yatim dan duafa yang akan mendapat bantuan.

”Bantuan itu kami berikan untuk menyalurkan dana dari donator. Saat ini (donasi) berjumlah Rp 249.600.000. Tentu tujuannya membantu dan meringankan biaya pendidikan anak yatim dan duafa,” ungkapnya.

Secara terperinci, Ahmadi menjelaskan jumlah dana yang ada di BMH Cabang Sumenep berjumlah Rp 58.800.000, BMH Cabang Pamekasan Rp 112.800.000, dan BMH Cabang Bangkalan berjumlah Rp 78.000.000.

”Jadi jumlah total untuk dana bantuan beasiswa berjumlah Rp 249.600.000,” pungkasnya. (hio/ybh)

Hidayatullah Serukan Pilih Caleg Berakhlak Mulia

bendera logo hidayatullahHidayatullah.or.id -– Sehubungan dengan akan digelarnya pemilihan umum (Pemilu) ang­gota legislatif pada 9 April 2014 mendatang, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Hidayatullah, menyerukan kepada umat Islam untuk menggunakan hak pilihnya.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat (Humas) Pimpinan Pusat Hidayatullah, Mahladi, mengatakan bagi umat Islam yang akan menggunakan hak pilihnya, agar memilih ca­lon anggota legislatif yang lurus akidahnya, berakhlak mulia, hidup sederhana, dan banyak memberi manfaat kepada Islam dan umat Islam.

“Jangan pilih calon wakil rakyat yang tersangkut kasus pelanggaran hukum, berperilaku lesbi, homo, serta mereka yang mendukung kemaksiatan,” tegas Mahladi dalam siaran persnya diterima Hidayatullah.or.id, Rabu (02/04/2014).

Pihaknya juga mengimbau umat Islam di Indonesia agar menjaga persatuan dan kesatuan, ti­dak terprovokasi oleh pihak-pihak yang ingin mengadu domba dan memecah belah.

“Pemerintah, aparat keamanan, pihak penyelenggara, serta partai po­litik yang ikut pemilu, agar menjamin keamanan pemilihan calon anggota legislatif ini, serta menjamin tidak adanya kecurangan dan penipuan,” tandasnya.

Sebelumnya, menghadapi masa kampanye Pemilihan Umum (Pemilu) 2014) yang telah dimulai awal Maret lalu, Hidayatullah menghimbau kepada jamaah dan kadernya agar senantiasa menjaga diri untuk tetap mengedepankan akhlaqul karimah dalam bertutur kata maupun dalam berbuat.

Ditegaskan bahwa jati diri Hidayatullah adalah gerakan tarbiyah dan da’wah. Untuk itu sekretariat, gedung dakwah, dan seluruh sarana dan prasarana pendidikan Hidayatullah harus steril dari lambang dan atribut kampanye.

Diterangkan pula bahwa Hidayatullah dalam menghadapi pemilu legislatif ini akan menjaga jarak yang sama dengan partai politik manapun, demikian juga membangun kedekatan yang sama dengan pihak manapun.*

VIDEO: Berkunjung ke Kampus Hidayatullah Sumsel

Hidayatullah.or.id — Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah di Sumatera Selatan mulai dirintis sejak tahun 1992 oleh Ustadz Amin Machmud. Pesantren Hidayatullah Sumsel merupakan lembaga yang bergerak di bidang pendidikan, dakwah dan sosial.

Di bidang pendidikan, Pesantren Hidayatullah Sumsel mengadakan pendidikan formal yang terdiri dari MTs Mardhatillah dan SMA Mardhatillah. Selain itu juga mengadakan pendidikan pra-sekolah (PAUD Yaa Bunayya) dan pendidikan non-formal: Madrasah Diniyyah, Kuliyyah Dai Mandiri (KDM). Untuk informasi unit-unit kegiatan, selengkapnya baca halaman ini

Pesantren Hidayatullah Sumsel dengan seluruh unit-unit kegiatannya, secara organisasi, merupakan amal usaha dari PW Hidayatullah Sumatera Selatan. Medio 2012, Pesantren Hidayatullah Sumsel mulai membuka cabangnya di Kabupaten Lahat yang berlokasi di Desa Bintuhan, Kec. Kota Agung. Para dainya juga tersebar tidak saja di Palembang dan Lahat, namun juga di Musi Rawas, Lubuk Linggau, Muara Enim, Muba, Banyuasin dan juga di Provinsi termuda RI, Pulau Bangka.

Berikut ini adalah video oleh-oleh perjalanan Ketua PP Hidayatullah Bidang Humas, Mahladi, ke Kampus Hidayatullah Palembang, Sumatera Selatan, belum lama ini. Mahladi menghadiri sebuah undangan pelatihan jurnalistik di kota tersebut. Visualisasi video ini dibuat dan diproduksi sendiri oleh beliau dan direpost di media ini atas seizin yang bersangkutan. Berikut selengkapnya:

 

[youtube width=”600″ height=”450″ src=”2TGjtbzE_Ok”][/youtube]

Pemerintah: Pesantren Adalah “Pabrik” Pemimpin Bangsa

0
Santri Sekolah Pemimpin Hidayatullah (SPH) di Balikpapan, Kalimantan Timur / BASHORI
Santri Sekolah Pemimpin Hidayatullah (SPH) di Balikpapan, Kalimantan Timur / BASHORI

Hidayatullah.or.id —- Sebagai lembaga edukasi Islam tertua di negeri ini, pondok pesantren merupakan “pabrik” pencetak para calon pemimpin bangsa. Demikian ditegaskan Menteri Agama Suryadharma Ali (SDA) beberapa waktu lalu.

“Sejarah telah mencatat dan membuktikan hal itu. Dari masa ke masa, para alumni pesantren selalui mewarnai pentas politik nasional dengan ikut menjadi bagian dari kepemimpinan seperti di kabinet dan jabatan publik atau pemerintahan lainnya,” ujar Menteri Agama Suryadharma Ali (SDA) saat bersama Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Djan Faridz, meresmikan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Pondok Pesantren di Cicalengka, Bandung, Jawa Barat, Selasa (25/3) lalu.

Menag mencontohkan guru sekaligus tokoh yang dikaguminya, almarhum KH Idham Chalid. “Beliau beserta para kiai lain pernah beberapa kali menjadi menteri, dan jabatan penting lainnya yang didedikasikan untuk kemaslahatan umat,” ujar Menag.

Menag pun menegaskan urgensi madrasah dan pondok pesantren sebagai salah satu pilar penyelenggaraan kegiatan pendidikan di Indonesia. Meski diakuinya, mayoritas dikelola swasta, namun tak menghalangi kontribusi lembaga pendidikan agama ini dalam mencerdaskan bangsa.

“Ponpes seratus persen swasta, tak ada yang dimiliki pemerintah. Sama halnya dengan madrasah, 94 persen dikelola swasta, yaitu oleh para kiai dan ulama. Tapi keduanya berkontribusi besar bagi Indonesia,” ujarnya.

Menag menyatakan, Kementerian Agama (Kemenag) secara khusus mengapresiasi dan selalu mendukung kegiatan belajar-mengajar yang digelar ponpes dan madrasah.

Sementara itu, Menpera Djan Faridz, menyebutkan, pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang perlu mendapat perhatian khusus dari pemerintah, baik pusat maupun daerah, termasuk untuk kelayakan hunian, serta sarana mandi, cuci dan kakus (MCK) komunal.

Menurut dia, berdasarkan data yang dimiliki Kemenpera, kini ada 27.000 ponpes di seluruh Indonesia, dengan jumlah santri 3,4 juta siswa. “Kemenpera juga terus mendorong program pembangunan sarana pesantren, sehingga para santri bisa semakin maju dalam belajar,” ucapnya. (kem/ybh)

Hidayatullah Sebagai Gerakan Dakwah Kasih Sayang

Latihan manasik haji anak anak SDIT Hidayatullah Depok / KHUMAINI
Latihan manasik haji anak anak SDIT Hidayatullah Depok / KHUMAINI

Hidayatullah.or.id — Sejak awal perlangkahannya, Pondok Pesantren Hidayatullah selalu menempatkan diri sebagai pemersatu umat dengan menjadikan dakwah, pemberdayaan, sosial, dan pendidikan sebagai concern aksi. Hal ini harus terus menjadi kultur lembaga ini hingga kini menjadi organisasi massa.

Demikian ditegaskan Pimpinan Umum Hidayatullah, KH. Abdurrahman Muhammad, saat menyampaikan taushiah dalam kesempatannya berkunjung ke Pondok Pesantren Hidayatullah Kota Depok, Jawa Barat, belum lama ini. Beliau menegaskan bahwa gerakan Hidayatullah adalah gerakan dakwah kasih sayang yang mengesampingkan praktik-praktik anarkisme.

“Jangan merubah kejahatan dengan cara anarkis, tapi rubahlah dengan membawa cahaya cahaya (kebaikan) ini. Semoga kita membaca, bahwa sesederhana apa pun pekerjaan tapi kerjakanlah dengan maksimal. Libatkan semua potensi yang ada untuk menghadirkan kekuatan kekuatan baru,” kata beliau.

Sebagaimana kita ketahui, terang dia, telah disepakati bahwa eksistensi Hidayatullah adalah gerakan pejuangan Islam (al haraqah jihadiyah al islamiyah). Kita semua ini adalah pendudukung dari gerakan Islam yang menumbuhkan mahabbah dan kepekaan rasa.

“Kita ini adalah bagian kecil dari pendukung dari gerakan perjuangan Islam. Walaupun kelihatan pekerjaan-pekerjaan kita sederhana-sederhana saja, tetapi ada tonggak kepemimpinan untuk mempertanggungjawabkan kepemimpinan ini kepada manusia, Allah Ta’ala, dan kepada orang orang beriman,” imbuhnya.

Dalam kesempatan itu Ustadz Rahman mengingatkan bahwa kader Hidayatullah harus selalu berfikir dan beribadah keras.

“Semua tantangan apa saja itu sebenarnya otomatis bisa dihadapi ketika ada lokomotif. Lalu, apa lokomotif kita dalam kehidupan kita ini? Lokomotif kita adalah Laailaahaillallah,” ingatnya.

Dunia, kata Allah, hanyalah permainan dan sendau gurau semata. Sebagai orang beriman maka ‘bermainlah’ dengan sungguh-sungguh di dunia, jika tidak, engkau yang akan dipermainkan.

“Kita jangan pesimis bahwa aku tidak bisa. Kita harus mengatakan aku adalah bahagian dari proses ini. Kita harus dikuatkan dengan sesuatu di luar yang nyata ini”.

Ustadz Rahman juga menerangkan bahwa ujian keimanan yang dihadapi umat Islam saat ini belumlah seberapa daripada ujian yang dialami oleh Nabi Nuh Alaihissalam. Saking kerasnya tantangannya, Nuh sampai berdoa kepada Allah untuk membinasakan saja semua orang-orang kafir seluruh dunia.

“Untungnya kita mengikuti khittah dakwah Rasulullah, jadi kita tidak berdoa seperti Nuh. Tapi, karena dahsyatnya gelombang tantangan Islam saat ini, maka kita harus membangun kapal Nabi Nuh,” imbuh beliau.

Dalam rangka mendakwahkan Islam ini, seorang dai kata Ustadz Rahman jangan pernah mengatakan banyak betul sudah pengorbanan yang saya berikan tapi hanya seberapa saja yang saya dapatkan.

“Berfikir rata rata manusia adalah pragmatis, mengukur apa yan dilihat mata. Anda jangan menjadi orang yang rata-rata. Umat menanti tangan tangan pemuda yang mengeluarkan cahaya untuk menerangi umat seperti Musa mengeluarkan umatnya dari kegelapan,” tandasnya. (ybh/hio)

Telah 18 Tahun, Hidayatullah Bali Komitmen Mengabdi

Salah satu kegiatan "Pernikahan Mubarak" santri Ponpes Hidayatullah Bali / AMROZI
Salah satu kegiatan “Pernikahan Mubarak” santri Ponpes Hidayatullah Bali / AMROZI

Hidayatullah.or.id — Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah yang telah menjadi organisasi massa (ormas) Islam selalu berkomitmen untuk melakukan pembinaan umat melalui dakwah serta pemberdayaan melalui pendidikan dan amal sosial. Kiprah itu tak terkecuali telah digalakkan di Provinsi Bali di mana lembaga ini telah hadir di sana sejak belasan tahun lalu.

Hidayatullah melalui Yayasan Al-Islam Pesantren Hidayatullah Bali sekarang telah memasuki usia 18 tahun. Tentu saja ini adalah usia matang dengan berbagai tantangan dan ujian yang selama ini dihadapi. Apalagi lembaga ini dirintis dengan bermodalkan tekad dan keyakinan yang kuat dari para perintisnya.

Secara legalitas lembaga ini telah terdaftar pada Dinas Kesejahteraan Sosial Kota Denpasar Nomor:460/033/Dinkessos dan di Dinas Sosial Provinsi Nomor: 466.3/ 46/ DAYASOS/ DINSOS/ 2009 dan juga mendapatkan pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan Nomor:AHU – 2131.AH.01.02.Tahun 2008.

Yayasan Hidayatullah Bali sekarang yang berkantor di Jalan Raya Pemogan No. 54 Kampung Islam Kepaon, Pemogan, Denpasar, memiliki asset tanah seluas 2300M persegi yang sebagian besar berada di Jalan Pemogan Gang Taman 20X, Banjar Sakah. Aset-aset itu berupa gedung asrama santri pondok, Gedung MI Hidayatullah, Gedung MTs Hidayatullah dan Gedung Madrasah Aliyah Hidayatullah.

Kegiatan yang telah ada adalah Taman Kanak-Kanak / Raudhotul Atfal (RA), Madrasah Ibtida’iyah Hidayatullah (MI) setingkat SD, Madrasah Tsanawiah (MTS) setingkat SLTP dan Madrasah Aliyah ((MA) setingkat SMA. Saat ini tercatat 900 siswa dan siswi yang belajar di Pendidikan Hidayatullah.

Sementara jumlah tenaga guru 50 orang semua, tenaga pegawai atau non kependidikan 8 orang. Sedangkan pendidikan non formal yakni kepesantrenan saat ini ada santri sebanyak 80 anak yang tinggal di dalam asrama Pondok Pesantren Hidayatullah Denpasar.

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Denpasar, Bali, Ustadz Fery Indarto, menjelaskan kegiatan sosial yang dilakukan oleh lembaganya adalah dengan menyantuni biaya hidup bagi anak –anak yatim piatu dan terlantar di asrama pondok. Program ini sudah berjalan sejak awal lembaga ini berdiri.

“Kebetulan mereka baik konsumsi, pendidikan, dan kesehatan menjadi tanggungan dari lembaga ini. Program penyantuna ini juga sedang di kembangkan ke daerah– daerah,” kata Fery.

Adapun di antaranya program santunan sistem berasrama yang telah berdiri di Bali yakni Yayasan Al-Islam Hidayatullah Cabang Karangasem, Ds Kecicang, Kec Bebandem, menyantuni sebanyak 30 anak asuh, 10 anak tinggal di asrama, 20 anak tinggal di luar asrama. Ada juga Yayasan Al-Islam Hidayatullah Cabang Badung dan Yayasan Al-Islam Hidayatullah Cabang Tabanan dengan mengasuh dan mendidik sejumlah anak asuh serta Yayasan Al-Islam Hidayatullah Cabang Buleleng menyantuni 5 anak asuh.

Kegiatan Dakwah yang telah dilakukan adalah pembinaan bagi kaum muslimin dan muslimat termasuk para muamalat dalam majelis – majelis pengajian. Khususnya dengan program membaca dan menterjemahkan kitab suci Al-Qur’an.

“Alhamdulilah program ini telah mendapat sambutan positif dari jamaah, khususnya di masjid–masjid Kota Denpasar,” imbuh Ustadz Fery.

Ia menjelaskan, sumber pendanaan yayasan dalam mencukupi kebutuhan operasional berupaya akan terus berusaha melalui program ekonomi mandiri yaitu dengan adanya koperasi yang melayani dan menyediakan kebutuhan para jamaah pengajian pada khususnya dan kaum muslimin pada umumnya.

“Walaupun sampai saat sekarang ini sebagian besar pendanaan untuk kegiatan dakwah dan pembinaan lembaga masih ditopang dari SPP wali murid, donator dan simpatisan,” ujarnya. (ybh/hio)