Beranda blog Halaman 654

STIKMA Malang Berkomitmen Menjadi PT TI Terdepan

Logo STIKMA Internasional
Logo STIKMA Internasional

Hidayatullah.or.id — Alhamdulillah, Senin (24/3/2014) pagi kemarin bertempat di aula STT STIKMA Internasional Malang, dilakukan serah terima amanah dan pelantikan Ketua STT STIKMA Internasional Malang Periode 2014-2018. Pejabat lama Ir, Abdur Rasyid, MT digantikan oleh Nanang Nur Patria, M.Pd.

Serah terima jabatan ini dipimpin oleh Amun Rowi, MPd selaku Ketua Yayasan Meidia Abyan Lintas Buana, sebagai yayasan penyelenggara STT STIKMA. Disaksikan oleh oleh pembina Pesantren Hidayatullah Surabaya Ustadz Abdurahman dan Ustadz Syamsuddin serta dihadiri oleh Asih Subagyo selaku Dewan Pembina.

Dalam sambutan serah terima, Abdur Rasyid menyampaikan permohonan maaf jika selama memimpin STT STIKMA terdapat kekurangan. Beliau juga menyampaikan bahwa dengan segala kekurangan yang ada STT STIKMA pelan namun pasti sedang menuju perguruan tinggi (PT) berbasis teknologi Informasi (TI) maju dan terdepan.

“Saat ini STIKMA sedang menjalin hubungan dengan industri dan lembaga internasional,” kata Rasyid.

Selain itu, Rasyid juga menyampaikan rasa terimakasih yang tinggi kepada ormas Hidayatullah. Diakui dia, setelah yayasan pendidikan ini diserahkan kepada Hidayatullah, semakin jelas visi dan misinya.

Sementara itu, Nanang Nur Patria sebagai penerima amanah baru meskipun berat, dalam sambutannya mengaku senantiasa akan meneruskan tradisi baik yang dimiliki STIKMA yang selama ini sudah dikerjakan seraya terus melakukan terobosan inovatif untuk kemajuan kampus berbasis teknologi ini.

Tak lupa Patria juga berharap selalu ada arahan dari pembina, dan kerjasama semua pihak, untuk mewujudkan visi dan misi STIKMA Internasional. Nanang yang juga ketua Departemen Pendidikan PW Hidayatullah Jatim ini sangat yakin, bahwa dengan pencapaian yang ada dan kerjasama semua pihak, maka ke depan STT STIKMA akan menjadi PT unggulan dam pilihan.

Selaku Ketua Dewan Pembina, Ustadz Abdurrahman menyampaikan taujihnya, bahwa pergantian amanah kepemimpinan sebagai hal yang biasa. Kedepan, harapnya, STT STIKMA ini harus dibangun secara profesional, dan semua pengabdiannya hanya kepada Allah.

“Dan semua civitas akademika, diharapkan bekerja bukan atas dasar uang, jabatan dan lain-lain. Akan tetapi dengan motivasi yang benar dan kuat, yaitu Iman,” kata Abdurrahman.
Dengan landasan keimanan yang seperti ini serta penguasaan manajerial dan keilmuan yg baik, ditegaskan beliau, maka STT STIKMA akan mampu menjadi PT yang memberi kontribusi bagi tegakknya Peradaban Islam. (ybh/hio)

Seruan Hidayatullah Tentang Kampanye Legislatif

masa kampanye 2014Hidayatullah.or.id – Menghadapi masa kampanye Pemilihan Umum (Pemilu) legislatif tahun 2014 yang telah dimulai sejak Ahad lalu, Hidayatullah menghimbau kepada jamaah dan kadernya agar senantiasa menjaga diri untuk tetap mengedepankan akhlaqul karimah dalam bertutur kata maupun dalam berbuat.

Ketua Dewan Syura Hidayatullah, KH Hamim Thohari, menegaskan bahwa jati diri Hidayatullah adalah gerakan tarbiyah dan da’wah.

Untuk itu, tegas dia, sekretariat, gedung dakwah, dan seluruh sarana dan prasarana pendidikan Hidayatullah harus steril dari lambang dan atribut kampanye.

“Hidayatullah tidak anti politik tapi bukan alat atau obyek politik. Jamaah Hidayatullah tidak boleh buta politik, jika tidak ingin menjadi permainan politik,” tegas Hamim Thohari kepada media ini, Selasa (18/03/2014).

Hamim juga menegaskan bahwa Hidayatullah dalam menghadapi pemilu legislatif ini akan menjaga jarak yang sama dengan partai politik manapun, demikian juga membangun kedekatan yang sama dengan pihak manapun.

“Silaturrahim yang sudah terjalin tidak boleh renggang hanya karena perbedaan partai,” imbuhnya.

Hidayatullah tidak menyerukan golput namun di waktu yang sama tetap menghargai dan menghormati sikap politik untuk tidak memilih tersebut.

Hamim mendorong jamaah dan masyarakat Indonesia yang memilih hak pilih untuk mencoblos partai dan calon-calon legislatif yang mempunyai komitmen untuk memajukan Islam dan mensejahterakan umat.

“Pilihlah yang track-recordnya benar-benar teruji,” tandas Hamim.

Seperti diketahui kampanye legislatif dan partai politik telah dimulai sejak kemarin lusa, Ahad (16/03/2014). Kepolisian mengakui banyaknya pelanggaran yang terjadi.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Rikwanto menuturkan selama kampanye, pihaknya menemukan beberapa pelanggaran lalulintas seperti ada massa yang tidak menggunakan helm meskipun tidak seluruhnya.

Lalu pelanggaran lainnya yakni, iring-iringan dari massa kampanye yang menggunakan roda dua atau empat beberapa diantaranya menutup jalan sehingga menghambat arus lalin.

Rikwanto mengatakan polisi belum memberi sanksi kepada pelanggar tersebut. Tindakan yang dilakukan di lapangan hanyalah berkordinasi dengan pihak yang bertanggung jawab terhadap massa. (ybh/hio)

Kader Hidayatullah Sebagai Perekat Ukhuwah Umat

Indahnya ukhuwah Islamiyah / IST
Indahnya ukhuwah Islamiyah / IST

Hidayatullah.or.id — Hari ini umat Islam butuh sosok kader pembangun bukan kader perusak. Umat Islam merindukan sosok santun yang bisa merekatkan umat, bukan sebaliknya malah memecah belah umat.

Apalah arti ilmu yang banyak jika tidak disertai dengan akhlak mulia. Ilmu itu melahirkan akhlak mulia layaknya buah ranum yang muncul dari pohon yang subur.

Demikian untaian nasihat disampaikan kader senior Hidayatullah, Yusuf Suraji (56), di hadapan warga dan santri Hidayatullah, di Balikpapan, Kaltim, beberapa waktu lalu (14/03/2014).

Menurut Ustadz Yusuf, demikian sapaan akrabnya, cita-cita di atas sejak awal telah ditancapkan oleh Allahuyarham Abdullah Said, pendiri Pesantren Hidayatullah. Dengan semangat yang menggelora, para santri Hidayatullah lalu disebar untuk tugas dakwah, memberi pencerahan kepada umat di seluruh pelosok nusantara.

“Saya sendiri baru tiga bulan nyantri, langsung dapat tugas dakwah juga ketika itu,” ujar pria yang termasuk santri awal Hidayatullah ini mengenang.

Dengan kultur bermasyarakat yang menyatu dalam sebuah kampus, memungkinkan para santri berinteraksi setiap saat dengan para guru dan ustadz. Hal ini, masih menurut Yusuf, adalah kekayaan tersendiri bagi Hidayatullah.

“Santri bisa belajar apa saja dari guru-gurunya. Sebab mereka saban waktu dan tempat bisa bertemu dan berinteraksi langsung satu sama lain,” imbuh Yusuf.

Selain menimba ilmu di kelas, santri Hidayatullah bisa menggali nilai-nilai yang lain dari ustadz-ustadz yang ada. Mulai dari kemuliaan akhlak, etos kerja di lapangan hingga keteladanan dalam perkara ibadah serta spiritual lainnya.

“Ustadz atau guru itu ibarat sekuntum bunga, sedang santri itu seperti lebah,” ucap Yusuf Suraji bertamsil.

Ibarat seekor lebah, tugas seorang santri menyedot sari bunga sebanyak-banyaknya. Sebagai lebah, tentunya ia tidak boleh puas dengan sekuntum bunga saja. Biasanya lebah itu memilih terbang lagi dan mengisap dari kuntum bunga lainnya.

“Jangan sampai ada seorang santri Hidayatullah yang malas belajar atau malas ibadah. Karena itu tidak mencerminkan kader Muslim yang tangguh,” terang Yusuf mengingatkan.

Dalam kesempatan yang sama, Yusuf Suraji juga menceritakan pengalamannya bersilaturahim di beberapa titik dakwah di daerah Papua beberapa waktu lalu. Yusuf mengaku, meski kunjungannya hanya beberapa hari, tapi hal itu sudah cukup untuk melecut kembali ghirah dakwah yang dimilikinya.

“Umat Islam di seluruh penjuru Papua siap menyambut kedatangan kader-kader muda yang militan. Jangan sampai kita yang berada di Kampus Pusat Gunung Tembak ini justru bermalas-malasan seolah tidak ada tantangan dan masalah,” imbuh Yusuf memberi semangat.

Setelah dianggap punya bekal yang cukup, hendaknya santri Hidayatullah bersiap menerima amanah selanjutnya, yaitu tugas berdakwah ke daerah. Layaknya seekor lebah, ia tidak mungkin tinggal di taman bunga saja. Namun ia harus terbang dan pergi ke tempat lain. Menurut Yusuf, inilah ciri kader Hidayatullah, ia pantang menolak tugas dakwah kemanapun itu.

“Sebagai kader, pilihannya cuma satu, sami’na wa atha’na saja. Bukan sami’na wa fikir-fikir dulu,” imbuhnya.

Lewat mimbar podium Masjid Agung ar-Riyadh, Gunung Tembak, Yusuf pun mengingatkan para santri tentang pentingnya mengedepankan akhlak mulia. Seorang da’i bertugas membangun dan mencerahkan umat. Bukan menghakimi atau membuat lari saudaranya. Yusuf bahkan mengungkapkan penyesalannya dalam cara ia berdakwah dahulu.

Ustadz yang tak lain adik kandung dari Allahuyarham Ustadz Hasan Suraji ini mengaku sempat berpaham esktrim dalam berdakwah. “Pokoknya semua orang sesat, semua kafir, dan semua salah,” katanya mengenang.

Namun seiring waktu, Yusuf lalu tersadar. Umat yang didakwahi justru menjauh darinya. Bahkan keluarga sendiri juga ikut memusuhi dirinya ketika itu.

“Puncaknya, saya dibawakan parang oleh saudara saya sendiri. Saya sampai diancam hendak dibunuh. Akhirnya, ibu saya sampai menangis sedih melihat kelakuan saya,” tutur Yusuf mengenang masa mudanya.

Kini, dalam berdakwah Yusuf berusaha mengedepankan ta`lif al-qulub (menjalin hati) terlebih dahulu. Yusuf menyatakan inilah dakwah yang benar sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi dan para sahabatnya ketika itu. Dakwah yang dibangun di atas ilmu dan kesabaran. Dakwah yang memudahkan bukan justru mempersulit.

Terakhir, Yusuf mengingatkan dengan sebuah hadits Nabi, Yassiru wa la tu’assiru, basysyiru wa la tunaffiru. Permudahlah dan jangan mempersulit. Berikanlah kabar gembira dan jangan membuat lari orang lain.*

_________________
Laporan Masykur Suyuthi, kontributor Hidayatullah Media di Balikpapan

Semarak di Rumah Tahfidz Putri Hidayatullah Solo

Matahari pagi berlatar belakang Gunung Lawu menyinari komplek Rumah Tahfidz Putri Hidayatullah Solo / RTQHS
Matahari pagi berlatar belakang Gunung Lawu menyinari komplek Rumah Tahfidz Putri Hidayatullah Solo / RTQHS
Tampak Masjid An Nuur dalam tahap pengerjaan / RTQHS
Tampak Masjid An Nuur dalam tahap pengerjaan / RTQHS

Hidayatullah.or.id — Pagi Subuh (14/3/2014) itu berbeda dengan biasanya. Jum’at pagi nan cerah setelah subuh santriwati mendapat siraman ruhani sekaligus informasi akhir zaman dari kitab Nihayatul ‘Alam karya Syaikh Al ‘Arifi yang di bahas oleh Ustadz Nur Islam. Asatidz dan para santriwati antusias dalam menyimak kajian ini.

Pagi yang sejuk ini semakin tambah bergairah dengan sinar mentari yang baru menyingsing dari peraduannya. Pemandangan ini terasa sangat melapangkan perasaan menjadi lebih tersibak kagum atas kuasa Allah Subhanahu Wata’ala yang Maha Indah.

Dengan latar belakang Gunung Lawu matahari menyapa, menghangatkan penduduk Karanganyar, Solo, dan sekitarnya terlebih kepada Santri Putri Nurul Iman yang sedang libur hari Jum’at. Tapi, tentu saja, para calon hafidzah ini tidak libur menghafal Al Qur’an.

Matahari dan kabut menyatu dalam cahaya ilahi memberi motivasi untuk terus menghafal. Ayat demi ayat sehingga menjadi surat kemudian terangkum dalam setiap Juz diikat dalam sebuah mushaf Al-Qur’an. Membaca dan menghafal di tempat yang paling adem di lokasi itu, Masjid An Nuur.

Kini lembaga pendidikan penghafal Qur’an ini sedang membangun gazebo untuk mendukung suasana nyaman untuk santriwati agar bisa lebih berkonsentrasi dalam menghafal dan mempelajari Al Qur’an.

Dengan adanya gazebo menawan pemberian dari keluarga Prof. Dr.dr. Harjono, S.Pkk, ini menjadikan tempat alternatif untuk santai sambil menghafal Al-Qur’an.

Memang gazebo ini belum sepenuhnya, tapi sudah dapat dimanfaatkan beberapa hari ke depan. Selain itu, geliat pembangunan infrastruktur untuk mendukung kegiatan belajar dan mengajar semakin semarak. Bila kita melihat ke arah timur tampak bangunan asrama yang masih dalam pengerjaan. Ditargetkan pada bulan Juli mendatang sudah bisa ditempati.

Sekedar diketahui, Rumah Tahfidz Putri Nurul Iman Pesantren Hidayatullah adalah lembaga pendidikan Al-Qur’an satu satunya yang berada di daerah perbatasan Surakarta Utara dan Karanganyar Selatan. Secara geografis letak pesantren ini sangat srategis karena dekat dengan Kabupaten dan Kota, selain itu lokasi berdirinya rumah tahfidz ini tidak jauh dari jalan Lingkar Utara Kota Surakarta.

Tujuan didirikan Rumah Tahfidz Putri Nurul Iman Pesantren Hidayatullah ini adalah untuk pendidikan para calon hafidzah lulusan SMP/MTs sederajat atau berumur 13 tahun sapai dengan 20 tahun dan ada keinginan kuat untuk menuntut ilmu terutama menghafal Al-Qur’an 30 juz. Kelulusan para santriwati ini sangat ditentukan oleh hafalan Al-Qur’annya.

Pembangunan Rumah Tahfidz Putri “Nurul Iman” Pesantren Hidayatullah Solo ini memerlukan dukungan dan bantuan dari semua umat Islam di dunia ini. Pembangunan dimulai sejak tanggal 11 Maret 2012, dimana batu pertama telah diletakan oleh Profesor Dr. Hardjono, Sp.KK yang merupakan pewakaf tanah seluas 640 m2 yang terletak di daerah Rejosari RT. 07 RW.10 Desa Plesungan, Kecamatab Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, Solo. (ybh/hio)

Penuhi Kebutuhan Umat, Hidayatullah Hadir di Lahat

Pengurus PW Hidayatullah Sumsel berfoto bersama  Ust. Budiman (2 dari kiri) dan Ust. Nurial (1dari kiri) / QAA
Pengurus PW Hidayatullah Sumsel berfoto bersama
Ust. Budiman (2 dari kiri) dan Ust. Nurial (1dari kiri) / QAA
Peternakan kambing Ponpes Hidayatullah Lahat / QAA
Peternakan kambing Ponpes Hidayatullah Lahat / QAA

Hidayatullah.or.id — Guna memenuhi tuntutan umat akan mendesaknya tenaga dai pengabdi dan lembaga pendidikan berbasis pondok pesantren yang gratis dan berkualitas, Pimpinan Wilayah (PW) Hidayatullah Sumatera Selatan (Sumsel) meresmikan berdirinya Pondok Pesantren Hidayatullah Kabupaten Lahat di provinsi tersebut.

Lahat adalah salah satu kabupaten yang ada di propinsi Sumatera Selatan. Berada di Pegunungan Bukit Barisan dan berbatasan dengan Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu. Di sinilah Pesantren Hidayatullah Sumatera Selatan mulai melebarkan lahan dakwahnya dengan merintis cabang di sini.

Perintisan Pesantren Hidayatullah Cabang Lahat yang dimulai sejak pertengahan 2012 berlokasi di Desa Bintuhan, Kec. Kota Agung dengan luas 2 hektar. Untuk menuju lokasi memakan jarak sejauh 300-an km dari kota Palembang.

Pesantren Hidayatullah Cabang Lahat dirintis oleh Ustadz Budiman Stainhard, Ustadz Syarial, dan Ustadz Nurial. Kini selain telah menyelenggarakan pendidikan non-formal seperti TPA dan pengajaran Al Qur’an metode Grand MBA, ponpes ini juga sudah mulai mendirikan beberapa bangunan.

“Sebagai sumber ekonomi pesantren, saat ini sedang diusahakan peternakan kambing yang dialokasikan di lahan seluas 1/2 hektar,” kata Kepala Departemen Informasi dan Humas PW Hidayatullah Sumsel, Qosim Abu Azyz.

Selain unit peternakan kambing yang dikembangkan, Pesantren Hidayatullah Lahat juga sudah memulai mengadakan pembinaan masyarakat di 5 desa sekitar Pesantren. Pembinaan yang dilakukan di antaranya adalah Pelatihan Dakwah -dalam bentuk Traning Super Life Revolution- yang sudah dilakukan beberapa kali.

Sebagai persiapan tenaga pengelola kedepan, Pesantren Hidayatullah Cabang Lahat sudah mengirimkan santri untuk menuntut ilmu di perguruan tinggi Hidayatullah, seperti ke Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Hidayatullah Batam, Kepulauan Riau. (ybh/hio)

23 Maret TVRI Tayangkan Ponpes Hidayatullah Medan

Suasana saat pengambilan gambar untuk program "Dari Pesantren ke Pesantren" TVRI di Ponpes Hidayatullah Medan / HIDM
Suasana saat pengambilan gambar untuk program “Dari Pesantren ke Pesantren” TVRI di Ponpes Hidayatullah Medan / HIDM

Hidayatullah.or.id — Televisi Republik Indonesia (TVRI) memiliki tayangan yang mendapatkan rating cukup tinggi yang mengulas tentang kilas pesantren di Nusantara dengan nama program “Dari Pesantren ke Pesantren”.

Pondok Pesantren Hidayatullah Medan yang berlokasi di Tanjung Morawa Medan, Sumatera Utara, ini juga mendapat kesempatan tampil dalam program tersebut. Rencananya kilas profil Ponpes Hidayatullah Medan tersebut ditayangkan secara pretime pada tanggal 23 Maret 2014 pukul 04.00 s/d pukul 05.00 WIB.

“Liputan sudah sudah dilakukan oleh TVRI akhir Februari lalu, ditayangkan Maret ini, Insya Allah. Semoga bermanfaat untuk menjalin ukhuwah dan silaturrahim,” kata Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Medan, Ustadz Drs. Choirul Anam, MM, kepada media ini, Senin (17/03/2014).

Diungkapkan Choirul Anam, pada hari Selasa 28 Februari 2014 lalu dia mendadak mendapat telepon dari team liputan TVRI Jakarta.

Dalam pembicaraan via telepon tersebut disampaikan bahwa TVRI hendak meliput kegiatan Pesantren Hidayatullah Tanjung Morawa selama sehari penuh pada hari Rabu besoknya tanggal 29 Februari 2014.
“Alhamdulillah, bagi kami ini merupakan bentuk apresiasi atas kiprah Ponpes Hidayatullah Medan dalam peran aktifnya membangun umat dan bangsa ini di bidang sosial, pendidikan, dan dakwah,” kata Choirul.

Rombongan kru TVRI yang datang malam Rabu jam 12.00 WIB di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah. Mereka adalah Manajer Produksi Ibu Lina dan dua orang lagi dari TVRI Jakarta serta Pak Mulyadi, Pak Junaidi dan Pak Rizal bersama anaknya dari bagian liputan TVRI Medan.

Shooting dimulai jam 03.00 WIB tanggal 29 Februari lalu saat para santri dan warga menjalankan rutinitas shalat lail bersama seterusnya sampai pagi, siang dan sore.

“Alhamdulillah hasil shooting sangat lengkap meskipun ada beberapa keiatan tdk sempat di shooting,” imhuh Choirul.

Choirul menerangkan hasil shooting tersebut akan ditayangkan Insya Allah jika tidak ada perubahan jadwal pada tanggal 23 Maret 2014 ini pukul 04.00 s/d pukul 05.00 WIB dalam acara “Dari Pesantren ke Pesantren“.

Choirul mengajak seluruh santri, para simpatisan dan donatur serta aktivis Hidayatullah jangan sampai ketinggalan menyaksikan tayangan ini. (hm/ybh/hio)

Bersiap Terestrial, KMH Luncurkan Hidayatullah TV

htvHidayatullah.or.id – Kelompok Media Hidayatullah (KMH) Jum’at (14/03/2014) lalu secara resmi meluncurkan kanal informasi Hidayatullah TV atau disingkat H-TV.

Hidayatullah TV atau H-TV adalah salah satu media publikasi yang dimiliki oleh Kelompok Media Hidayatullah (KMH). H-TV memproduksi konten-konten berita dan non-berita dalam bentuk audio – visual, atau dikenal dengan sebutan video.

Selama masa perintisan ini, H-TV akan tayang melalui saluran internet di situs www.hidayatullah.com/. Sebelum diizinkan Allah melakukan siaran penuh seperti layaknya stasiun televisi terestrial ataupun televisi satelit, sajian H-TV baru bisa dinikmati dengan mengklik video-video yang tersaji pada laman tv.hidayatullah.com atau pada http://www.hidayatullah.tv. Pola sajian ini dikenal dengan istilah video on demand atau memutar tayangan sesuai permintaan pemirsa.

Di antara program-program yang telah disiapkan oleh H-TV adalah Liputan Utama, Mutiara Hikmah, Serial Dai, Features dan liputan keumatan lain.

Liputan Utama adalah sebuah paket berita mendalam atau in-depth news yang mengangkat tema-tema penting namun memiliki nilai berita yang tidak cepat basi. Tayangan Liputam Utama akan diperbarui setiap Senin pekan pertama dan ketiga.

Mutiara Hikmah adalah video ceramah singkat dan padat yang berdurasi tidak lebih dari 5 menit. Tema-tema yang diangkat seputar adab, motivasi, dan peringatan akan negeri akhirat. Program ini akan diperbarui setiap hari Selasa pekan kedua dan keempat.

Sajian H-TV juga akan dilengkapi dengan sejumlah fitur interaktif yang berkaitan dengan tema seperti infografis serta berita dan artikel terkait.

H-TV juga tengah menyiapkan program-program menarik lainnya seperti talk-show, profil usaha dan serial dai.

Demikian perkenalan dari kami, selamat menyimak sajian H-TV! Lihat TV openingnya, klik di sini.

Kompetisi Akademik Ajang Asah Kompetensi Santri

Sejumlah peserta O2SN dan FLS2N tingkat SMP dari SMP Hidayatullah Batam / ANC
Sejumlah peserta O2SN dan FLS2N tingkat SMP dari SMP Hidayatullah Batam / ANC

Hidayatullah.or.id — Kompetisi akademik dan lomba ketangkasan fisik yang digelar secara reguler oleh institusi formal maun non-formal hendaknya dimanfaatkan para santri Hidayatullah untuk menguji bakat dan kompetensi. Hal ini penting untuk menjadi bekal kemampuan praktis di masa mendatang.

Demikian dikatakan Kepala Sekolah SMP Hidayatullah Batam, Sumarno, saat mendampingi murid-muridnya dalam kegiatan Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) dan Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat SMP se-Kecamatan Batuaji.

Dalam kompetisi antar sekolah se Batam itu, santri Pondok Pesantren Putri Hidayatullah Batam menyabet dua tropi juara di ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) dan Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat SMP.

Selain kedua cabang olah raga itu, siswi SMP Hidayatullah, Nurhalimah meraih juara pertama untuk cabang tilawah pada ajang Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat Kecamatan Batuaji.

Padahal ini adalah kali pertama sekolah berbasis boarding school terkemuka di Kota Batam itu mengikuti ajang adu bakat dan seni tingkat SMP tersebut.

Para santri putri yang tampil membawa nama sekolah mereka, SMP Islam Integral Luqman Al Hakim, Pondok Pesantren Hidayatullah, Tanjunguncang, Batam itu menyabet posisi juara kedua untuk cabang olah raga bulutangkis dan bola volly.

Namun, di cabang bola volly, mereka kandas di tangan tuan rumah, SMP 11 Batuaji. Sedangkan di cabang bulutangkis, atlet SMP Hidayatullah, Alia Safira Saibansah, harus puas menggondol juara dua. Karena harus berhadapan dengan Citra, siswi SMP 26 Batam yang juga anggota klub bulu tangkus di GOR Batuaji.

Kepala Sekolah SMP Hidayatullah, Sumarno mengatakan, santriwatinya belum mempersiapkan diri secara maksimal. Padahal, pihaknya ingin menjadikan cabang olah raga ini sebagai andalan sekolahnya.

“Kami ingin mendatangkan pelatih profesional agar anak-anak bisa mendapatkan pelatihan teknik yang bagus, sehingga ketika bicara bola volly, langsung ingat SMP Hidayatullah,” tutur Sumarno.

Sementara itu, juara dua cabang bulu tangkis, Alia Safira Saibansah mengatakan, dirinya tidak mempersiapkan diri dengan baik untuk menghadapi ajang Olimpiade O2SN itu.

“Tidak ada persiapan yang maksimal, kami hanya berlatih biasa dengan bimbingan guru di sekolah,” ungkap Alia Safira seusai bertanding di GOR Batuaji Batam, Sabtu, 9 Maret 2014 lalu.

Tapi kekalahan ini tidak membuat siswi yang pernah menyabet tropi perak pada iven kejuaraan taekwondo tingkat nasional di Tangerang Banten pada tahun 2011 lalu itu patah arang. Sebab, bulu tangkis adalah cabang olah raga yang baru digelutinya.

“Alia belum pernah berlatih bulu tangkis secara serius, hanya berlatih di lapangan sekolah saja,” tambahnya.

Nantinya, sesuai dengan surat edaran dari Dinas Pendidikan Kota Batam yang dikirim oleh Kabid Paudni, Hj. Hasyimah, S.Pd, pada siswa yang lulus di tingkat kecamatan akan bertanding di tingkat Kota Batam pada minggu keempat bulan Maret 2014. Sedangkan O2SN dan FLS2N tingkat nasional akan digelar pada bulan Juni 2014 mendatang. (r/doz/hio)

BERITA FOTO: Rakornas Tujuh Kampus Utama

Senyum syahdu Ketua Dewan Syura Hidayatullah, Hamim Thohari, didampingi Ketua PW Hidayatullah Riau Jamaluddin Noer
Senyum syahdu Ketua Dewan Syura Hidayatullah, Hamim Thohari, didampingi Ketua PW Hidayatullah Riau Jamaluddin Noer
Ketum PP Hiadyatullah, Dr Abdul Mannan, memberikan pengarahan
Ketum PP Hiadyatullah, Dr Abdul Mannan, memberikan pengarahan
Pimpinan Umum Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad, sampaikan taushiah
Pimpinan Umum Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad, sampaikan taushiah
Musyawarah ini berlangsung selama 3 hari yang diikuti 7 kampus utama
Musyawarah ini berlangsung selama 3 hari yang diikuti 7 kampus utama
Berfoto sejenak usai acara
Berfoto sejenak usai acara
Bersalam-salaman sebelum saling berpisah kembali ke tempat tugas masing-masing
Bersalam-salaman sebelum saling berpisah kembali ke tempat tugas masing-masing
Rakornas diikuti pengurus inti 7 kampus Hidayatullah.
Rakornas diikuti pengurus inti 7 kampus Hidayatullah.

 

Peserta yakni dari Hidayatullah Surabaya, Hidayatullah Balikpapan, Hidayatullah Batam, Hidayatullah Depok, Hidayatullah Makassar, Hidayatullah Timika, dan Hidayatullah Medan.
Peserta yakni dari Hidayatullah Surabaya, Hidayatullah Balikpapan, Hidayatullah Batam, Hidayatullah Depok, Hidayatullah Makassar, Hidayatullah Timika, dan Hidayatullah Medan.

Hidayatullah.or.id — Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, Jawa Timur, menjadi tuan rumah kegiatan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Tujuh Kampus Utama.

Acara ini diikuti oleh perwakilan pengurus inti kampus Hidayatullah yakni dari Hidayatullah Surabaya, Hidayatullah Balikpapan, Hidayatullah Batam, Hidayatullah Depok, Hidayatullah Makassar, Hidayatullah Timika, dan Hidayatullah Medan.

Dalam kesempatan tersebut hadir Pimpinan Umum Hidayatullah KH. Abdurrahman Muhammad. Dalam arahannya Ustadz Rahman menyampaikan bahwa musyawarah ini sekaligus menjadi wadah menstabilkan emosi dan penguatan komitmen dalam upayanya menghadapi banyak dinamika yang menantang.

“Kalau ada kata-kata yang kurang enak, tidak perlu disimpan lama,” katanya.

Terakhir, Rahman mengapresiasi segenap pengurus Yayasan Hidayatullah Surabaya atas pelayanannya yang sangat maksimal. (hio/hdsby)

Hidayatullah Bertekad Wujudkan Peradaban Islam

Ketua Umum PP Hidayatullah, Dr Abdul Mannan, memberikan pengarahan dalam acara Rakornas Kampus Utama 2014 di Surabaya / HDSBY
Ketua Umum PP Hidayatullah, Dr Abdul Mannan, memberikan pengarahan dalam acara Rakornas Kampus Utama 2014 di Surabaya / HDSBY

Hidayatullah.or.id — Organisasi masyarakat (Ormas) Islam Hidayatullah bertekad akan mampu mewujudkan kehidupan islami di seluruh kampusnya yang diharapkan kemudian menjadi role mode untuk masyarakat umum.

Hal itu menjadi rekomitmen dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Kampus Utama yang diadakan di Surabaya, Jumat-Ahad, 7-9 Maret lalu. Hidayatullah memilikii 300 kampus. Namun, tujuh kampus tercatat sebagai kampus utama.

Kampus tersebut berada di Batam, Medan, Depok, Surabaya, Balikpapan, Makassar dan Timika. Ketujuh kampus itu merupakan pilot project atau percontohan miniatur implementasi peradaban Islam. Di dalam kampus itu terdapat sekolah, kegiatan ekonomi dan rumah tangga.

“Kita bisa melihat bagaimana bertetangga yang baik, bagaima bermuamalah yang baik seperti yang diatur Islam. Hidayatullah ingin pada 2020 bisa mewujudkan itu semua,” ujar ketua Bidang Ekonomi Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah Asih Subagyo, seperti juga dirilis HU Republika, Senin (10/3).

Menurutnya, saat ini kehidupan secara Islami masih berada dalam tataran normatif dan belum diaplikasikan. Dia berharap gagasan Hidayatullah bisa melahirkan percontohan bagaimana kehidupan Islami berlangsung.

Asih menjelaskan, nilai-nilai peradaban mulia yang diamanatkan Hidayatullah itu sebaimana yang tercantum dalam Piagam Gunung Tembak yang dicetuskan pada helatan Silatnas Hidayatullah 2013 lalu.

Dalam piagam itu diterangkan bahwa membangun Peradaban Islam adalah jihad bagi setiap orang yang beriman yang berpusat di masjid. Oleh karena itu, setiap kader Hidayatullah wajib memakmurkan masjid sebagai pusat kegiatan ibadah, pusat pengembangan ilmu, pusat kebudayaan Islam, pusat pengembangan karakter dan kepemimpinan umat.

Setiap kader Hidayatullah wajib melaksanakan shalat berjamaah di masjid, melazimkan shalat nawafil, terutama qiyamul lail, membaca al-Qur’an dan melaksanakan amalan ibadah sesuai dengan ketentuan syari’ah.

Setiap kader Hidayatullah adalah generasi Rabbani yang wajib menghidupkan majelis ilmu, membangun tradisi keilmuan dan berdakwah menyebarkan Islam. Oleh karena itu kader Hidayatullah wajib berhalaqah sebagai sarana untuk melakukan transformasi ilmu, transformasi karakter dan transformasi sosial.

Peradaban Islam juga berarti mendorong kader Hidayatullah harus menjadi generasi yang berkarakter, peduli, suka menolong, gemar berkorban, tawadhu’, militan, qana’ah, wara’ dan mengutamakan kehidupan akhirat.

Serta setiap pemimpin dan kader Hidayatullah wajib menjadi teladan di tengah umat. Untuk itu setiap kader harus membangun soliditas jamaah dan ukhuwah Islamiyah.

Dikatakan Asih, untuk melaksanakan amanat piagam tersebut tentu saja tidak mudah. Salah satu tantangannya, lanjut Asih, adalah menerapkannya, sementara kehidupan yang ada di sekitarnya tidak mendukung. Misalnya, seperti di Timika yang mayoritas penduduknya beragama non-Muslim.

“Tapi justru hal ini membuat bersemangat mewujudkan kehidupan islami. Dimulai dari pribadi, lalu keluarga dan komunitas dengan tetap sangat menghargai dan menghormati kemajemukan bangsa kita ini,” tandasnya. (rep/hio)