Beranda blog Halaman 655

Dai Senior Hidayatullah di Tabalong Meninggal Dunia

Komplek kuburan muslim / IST
Komplek kuburan muslim / IST

Hidayatullah.or.id — Awan duka kembali menaungi dunia dakwah Islam, khususnya bagi Hidayatullah Tanjung Tabalong, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan. Dai yang juga Pimpinan Pengurus Daerah (PD) Hidayatullah, Nor Mawardi, telah berpulang ke Rahmatullah, hari Senin, 2 Juni 2014 pukul 03.00 lalu waktu setempat.

Sebelumnya Ustadz Mawardi, demikian sapaan akrabnya sempat dirawat selama beberapa hari di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ratu Zalecha, Martapura, Kabupaten Banjar.

Oleh dokter, Allahuyarham divonis menderita penyakit komplikasi sakit jantung, paru-paru, dan liver atau adanya pengerucutan pada hati.

“Ustadz sudah sepekan lebih tidak bisa baring dan cuma bisa duduk. Itupun harus memakai bantuan selang oksigen untuk pernafasan,” terang Ary Hermawan, dai Hidayatullah yang menemani kiprah dakwah Ustadz Mawardi di Tanjung Tabalong.
“Kaki ustadz sampai bengkak. Ia juga susah buang air kecil hingga paru-parunya terendam air,” imbuhnya lagi.

Meski tidak sempat menamatkan pendidikan formal di tingkat menengah (SMP), hal itu bukan penghalang bagi Mawardi untuk menerima amanah dakwah di berbagai pelosok nusantara.

Tercatat, sejak era tahun 1990-an Mawardi sudah malang melintang berdakwah membina umat Islam di Fak-Fak, Papua Barat. Selanjutnya, ia ditarik ke daerah Manokwari, jantung Papua Barat. Oleh sebagian masyarakat Papua, kota ini bahkan diklaim dengan sebutan kota Injil.
Di Manokwari, selama bertahun-tahun bersama Salmiah sang istri tercinta, Mawardi terus bergelut dan melebur dalam berdakwah membina masyarakat.

Beratnya tantangan dakwah di pelosok Papua, tidak menciutkan nyali apalagi melunturkan semangat dakwah Mawardi. Ia justru kian terpacu bersama waktu yang membersamainya. Mawardi terus sibuk membangun kampus peradaban Hidayatullah dan membina aqidah masyarakat. Seolah lupa dengan kondisi kesehatan yang ditakdirkan pada dirinya.

“Sejak kecil, Abang Mawardi sebenarnya sudah mengalami kelainan pada kondisi dan fungsi jantungnya,” ujar Muhammad Taufik, adik kandung Allahu yarham, ketika menyampaikan takziyah singkat di hadapan jamaah Masjid ar-Riyadh, Gunung Tembak, Balikpapan.

Taufik menceritakan, sedianya ia bersama kedua orangtua berangkat ke Tanjung Tabalong membesuk saudaranya hari Ahad lalu. Cuma qaddarallahu, mereka menunda keberangkatan hingga Senin pagi yang justru menjadi akhir kehidupan ayah dari empat orang anak ini.

Oleh keluarga, Mawardi dikenal sebagai sosok penyabar yang pantang mengeluh. Acap kali ditelepon oleh orangtua atau keluarga yang lain, ia tidak pernah mengadu akan kondisi yang dialami. “Saya baik-baik saja di sini. Keadaannya sudah baekan,” ujar Taufik meniru jawaban Mawardi via percakapan telepon.

Padahal menurut Salmiah, justru dalam dua tahun terakhir, kondisi kesehatan suaminya kian menurun selama di Tanjung Tabalong. Bertugas sejak tahun 2003 di Tanjung Tabalong, Mawardi menghabiskan belasan tahun berdakwah di daerah Kalimantan Selatan.

Sebelumnya, Mawardi juga pernah mengemban amanah sebagai sekretaris PD Hidayatullah di Kota Banjar Baru sejak tahun 2000. Kini, Allahu yarham Mawardi telah berpulang ke pangkuan rahmat-Nya. Mawardi sudah memilih caranya sendiri untuk kembali. Ia telah menepati janji setianya untuk istiqamah berdakwah di jalan Rabbnya.

“Di sela-sela cobaan yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya. Di penghujung ayat tersebut ada bisyarah (kabar gembira) bagi mereka yang mampu bersabar menjalaninya,” terang Taufik mengutip tafsir surah al-Baqarah [2]: 155-156 tentang keutamaan orang-orang yang bersabar ketika mendapat ujian dan musibah.

Subuh itu, mendung kembali menggayut di atas kampus Hidayatullah Gunung Tembak. Kepergian putra kedua dari delapan bersaudara pasangan H. Sukeni dan Hj. Helena tersebut meyisakan duka mendalam bagi warga Gunung Tembak. Tak sedikit kenangan manis dan karya tangan Mawardi bersama santri-santri awal di masa perintisan kampus.

“Mawardi ikut bersama kami membangun masjid ar-Riyadh dan asrama santri putri di sini,” ucap Sugiono, Kepala Pembangunan Kampus Gunung Tembak.

“Kita semua merasa kehilangan berpisah dengan Mawardi. Tapi sesungguhnya ia adalah kekayaan bagi ukhuwah dan dakwah ini,” pungkas Zainuddin Musaddad, mewakili seluruh warga Hidayatullah lainnya. (Masykur Abu Jaulah)

Kemenag Sumut Beri Nasihat Nikah Mubarak Hidayatullah

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sumatera Utara, Drs .H. Abdul Rahim, M.Hum / KEM
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sumatera Utara, Drs .H. Abdul Rahim, M.Hum / KEM

Hidayatullah.or.id — Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sumatera Utara (Kakanwil Kemenagsu) Sumatera Utara, Drs. H. Abdul Rahim, M.Hum menghadiri pernikahan enam pasang santri dai dengan santriwati Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Medan beralamat di Jl. Hidayatullah, Bandar Labuhan, Tanjung Morawa Deli Serdang, Minggu 1 Juni 2014 lalu.

Acara tersebut dihadiri pula Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Deli Serdang Drs. Ilhamsyah Pasaribu, MA, Pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah Ali Hermawan serta tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat.

Kakanwil Kemenagsu dalam sambutannya mengucapkan selamat kepada keenam pasang santri dan santriwati yang telah menikah semoga dapat membina keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah.

Abdul Rahim juga mengingatkan kepada mempelai pria agar menteladani Nabi Muhammad SAW dalam membina rumah tangga yang sakinah, dimana Nabi Muhammad SAW sangat sabar, bertanggung jawab dan sangat menyayangi istrinya.

Dia juga mengucapkan terima kasih kepada Ponpes Hidayatullah yang telah membantu Kementerian Agama dalam meningkatkan kualitas pendidikan agama khususnya di Kabupaten Deli Serdang.

“Semoga Ponpes Hidayatullah dapat terus meningkatkan kualitas pendidikan agama, serta dapat berkontrbusi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa,” ungkapnya.

Sementara itu Kakankemenag Deli Serdang dalam tausiyahnya mengingatkan kepada para pengantin agar selalu berpedoman pada Al Quran dan hadits dalam kehidupan khususnya dalam membina keluarga sakinah.

Dia juga menjelaskan bahwa makna nikah diantaranya adalah ibadah, ikatan lahir batin yang kuat serta untuk mengikat silaturrahmi.

Pernikahan missal ini merupakan agenda tahunan yang dilaksanakan oleh Pondok Pesantren Hidayatullah dan pasangan pengantinnya merupakan santri dan santriwati Ponpes tersebut. (kem/ybh)

Sarasehan Pendiri Wadah Transformasi Spirit Dakwah

Pondok Pesantren Hidayatullah Batuaji, Batam menjadi tuan rumah silaturahim dan sarasehan Dakwah Pendiri dan Perintis Hidayatullah se-Indonesia / ANCHA
Pondok Pesantren Hidayatullah Batuaji, Batam menjadi tuan rumah silaturahim dan sarasehan Dakwah Pendiri dan Perintis Hidayatullah se-Indonesia / ANCHA

Hidayatullah.or.id – Pondok Pesantren Hidayatullah Batuaji, Batam menjadi tuan rumah silaturahim dan sarasehan Dakwah Pendiri dan Perintis Hidayatullah se-Indonesia. Acara yang bertema transformasi peradaban menuju Indonesia religius ini, digelar selama tiga hari diisi seminar dan sarasehan yang bertujuan mempererat tali silaturahmi serta koordinasi antara perintis dan pendiri-pendiri Hidayatullah

Ketua Umum PP Hidayatullah, Abdul Manan mengatakan inti pertemuan yang dihadiri KH M Hasyim HS, KH Usman Palese, KH Hasan Ibrahim, KH Natsir Hasan, dan sejumlah perintis dan santri awal sejak Hidayatullah di Balikpapan berdiri ini, diharapkan dapat menyatukan kekuatan-kekuatan berbagai elemen Hidayatullah dari generasi awal ke generasi selanjutnya.

”Saya berharap dengan pertemuan ini nantinya, para pendiri maupun perintis Hidayatullah dapat mewariskan nilai-nilai dan semangat berjuang kepada generasi-generasi penerus dalam berdakwah,” ujar Abdul Manan di Batam, beberapa hari lalu.

Sementara itu Pimpinan Ponpes Hidayatullah Kepri, Ustaz Djamaludin Nur mengatakan dirinya sangat bahagia dan menyambut baik silaturahim dan sarasehan dakwah di antara pendiri dan perintis Hidayatullah.

Djamaluddin menganggap penting pertemuan ini dan berharap agar nantinya dari pertemuan itu para pendiri dan perintis Hidayatullah dapat mewariskan semangat perjuangan dalam berdakwah kepada generasi selanjutnya.

”Semoga dari pertemuan ini dapat menyatukan gerakan-gerakan Islam untuk kemajuan dan kemaslahatan umat,” ujar Ustaz Djamaludin Nur.

Selain itu Pimpinan Umum Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad memberikan maklumat menghadapi pemilihan Presiden 9 Juli 2014 mendatang, agar kader dan jamaah Hidayatullah tidak boleh menggunakan atribut dan mengatasnamakan organisasi, terutama dalam soal dukung-mendukung kandidat.

”Untuk memelihara ukhuwah Islamiyah, semua kader yang berada dalam struktur organisasi tidak boleh terlibat dalam kampanye dan menjadi tim pemenangan. Kepada seluruh kader dan anggota jamaah Hidayatullah agar dapat melaksanakan maklumat dengan segala kesungguhan, keikhlasan, dan ketaatan.” ujar Abdurrahman di Pondok Pesantren Hidayatullah Tanjung Uncang. (iwa/hio)

Sekolah Hidayatullah Malang Hadirkan Penguji dari Somalia

Sekitar 60-an santri kelas IX SMP Ar-Rohmah Pesantren Hidayatullah Malang, Jawa Timur, mengikuti Ujian Terbuka Al-Qur’an hari Rabu, 28 Mei 2014. / HMD
Sekitar 60-an santri kelas IX SMP Ar-Rohmah Pesantren Hidayatullah Malang, Jawa Timur, mengikuti Ujian Terbuka Al-Qur’an hari Rabu, 28 Mei 2014. / HMD

Hidayatullah.or.id -– Sekitar 60-an santri kelas IX SMP Ar-Rohmah Pesantren Hidayatullah Malang, Jawa Timur, mengikuti Ujian Terbuka Al-Qur’an hari Rabu, 28 Mei 2014. Ke-60 santri yang mengikuti Ujian Terbuka (UTER) ini telah mengikuti ujian kelayakan ikut uter yang diadakan 2 pekan sebelumnya.

Ujian terbuka ini diadakan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan santri dalam mencapai target yang telah ditetapkan oleh pesantren.

Setiap santri di lingkungan Lempaga Pendidikan Islam (LPI) Ar-Rohmah diwajibkan menghafal minimal 3 juz dalam masa studi 3 tahun. Untuk santri SMP Ar-Rohmah yang melanjutkan ke SMA Ar-Rohmah secara otomatis harus menghafal minimal 6 juz.

Ustadz Muhammad Muhdi selaku Direktur Kepesantrenan LPI Ar-Rohmah Malang mengatakan, ujian ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan studi LPI Ar-Rohmah Malang, baik SMP maupun SMA.

Target 3 juz, lanjutnya, bukanlah batasan. Artinya, santri dianjurkan untuk menambah lebih dari 3 juz. Lebih banyak, lebih baik.

Sebagai penguji dihadirkan dua orang dari Somalia, Mahmud al-Hafidz dan Abdullah al-Hafidz yang sedang rihlah ilmiah di Indonesia mau meluangkan waktunya untuk menjadi penguji. Satu orang penguji lainnya merupakan salah seorang ustadz hafidz yang tercatat sebagai SDM di LPI Ar-Rohmah Malang.

Bertempat di Masjid Baiiturrahmah, kompleks LPI Ar-Rohmah Malang, acara ini dihadiri oleh puluhan asatidz dari berbagai unit di lingkup LPI Ar-Rohmah Malang.

Acara ini juga dihadiri ratusan santri kelas VII dan VIII SMP Ar-Rohmah yang datang sebagai undangan wajib.

“Ke depan, kami juga akan menghadirkan para orang-tua/wali santri yang teruji. Supaya mereka bisa mengetahui pencapaian hafalan anak-anak mereka, atau bahkan ikut mengetes langsung hafalan mereka,” kata Ustadz Khoirul Anam, selaku ketua panitia. (mal/hio)

Kader Hidayatullah Tidak Terlibat Kampanye Pilpres

Pimpinan Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad berbincang disela-sela acara sarasehan senior Hidayatullah di Batam / ANC
Pimpinan Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad berbincang disela-sela acara sarasehan senior Hidayatullah di Batam / ANC

Hidayatullah.or.id — Menghadapi Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Wakil Presiden pada 9 Juli 2014 mendatang, Pimpinan Umum Hidayatullah mengeluarkan maklumat yang hendaknya dipatuhi dan dilaksanakan secara sungguh sungguh oleh segenap kader dan jamaah Hiayatullah.

Maklumat itu menyatakan bahwa kader dan jamaah Hidayatullah tidak boleh menggunakan atribut dan mengatasnamakan organisasi, terutama dalam soal dukung mendukung kandidat.

“Untuk memelihara ukhuwah Islamiyah, semua kader yang berada dalam struktur organisasi tidak boleh terlibat dalam kampanye dan menjadi tim pemenangan,” demikian ditegaskan Pimpinan Umum Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad, dalam maklumat yang diterima media ini, Ahad (01/06/2014).

Dalam menentukan pilihan, Hidayatullah memberikan kebebasan yang bertanggungjawab kepada jamaah dengan memperhatikan kaidah “Adillah Syar’iyah Ma’rifah” yang mempertimbangkan aspek maslahat dan mufsadat dari segi kepentingan tarbiyah dan dakwah.

“Seluruh kader dan anggota jamaah Hidayatullah hendaknya menjalin silaturrahim dan menjaga ukhuwah Islamiyah dengan organisasi massa dan pergerakan Islam,” imbuh beliau.

Maklumat tersebut juga menyerukan kepada seluruh kader dan anggota jamaah Hidayatullah dapat melaksanakan maklumat dengan segala kesungguhan, keikhlasan, dan ketaatan.

“Semoga Allah melimpahkan rahmat, hidayah, dan ma’unah-Nya seluruh kaum Muslimin”.

Maklumat ini dikeluarkan berdasarkan hasil musyawarah Dewan Pimpinan Pusat Hidayatullah yang terdiri atas Ketua Umum Pimpinan Pusat Hidayatullah, Ketua Dewan Syuro Hidayatullah, dan Ketua Majelis Pertimbangan Pusat (MPP) yang berlangsung di Pondok Pesantren Hidayatullah Tanjung Uncang, Kota Batam, Kepulauan Riau, Ahad (01/06/2014).

Maklumat Dewan Pimpinan Pusat Hidayatullah tersebut juga telah dibacakan di depan jamaah Hidayatullah di Batam, subuh tadi. Pembacaan maklumat itu dihadiri oleh tokoh-tokoh dan pendiri Hidayatullah yang hari ini dan besok akan mengikuti sarasehan tokoh Hidayatullah di Batam. (hio/ybh)

Maklumat Pilpres 2014, Hidayatullah Bersikap Netral

rapat-pleno-hidayatullah-2014Hidayatullah.or.id — Ormas Islam Hidayatullah mengeluarkan maklumat terkait dengan agenda Pemilihan Presiden (Pilpres) yang akan digelar pada 9 Juli 2014 mendatang. Dalam maklumatnya Hidayatullah menegaskan netralitasnya dengan tidak berpihak kepada salah satu pasangan calon presiden.

Ditegaskan pula bahwa Hidayatullah dalam pemilihan presiden dan wakil presiden tahun 2014 bersikaf proaktif dengan menjaga jarak dan kedekatan yang sama kepada kedua calon.

“Hubungan silaturrahim dengan kedua calon dan pendukungnya hendaknya tetap terpelihara untuk kepentingan tarbiyah dan dakwah,” tulis maklumat yang ditandatangani Piminan Umum Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad, diterima media ini, Ahad (01/06/2014).

Beliau menyatakan pemilihan umum, baik sebagai presiden dan wakik presiden, anggota legislatif, gubernur, dan bupati/ wali kota merupakan agenda rutin lima tahunan yang dilaksanakan bagi rakyat Indonesia. Oleh karena itu, peristiwa tersebut hendaknya disikapi secara proporsional, arif, dan tidak berlebihan.

“Kader dan jamaah Hidayatullah hendaknya tetap fokus menjadikan tarbiyah dan dakwah sebagai arus utama gerakan. Aktifitas politik sekecil apapun harus diarahkan untuk mendukung dan memperbesar gerakan tarbiyah dan dakwah,” imbuhnya.

Dalam maklumat yang ditandatangani oleh Pimpinan Umum Hidayatullah KH. Abdurrahman Muhammad itu menyatakan, dalam menghadapi Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, Pimpinan Umum Hidayatullah perlu mengeluarkan maklumat yang hendaknya dipatuhi dan dilaksanakan secara sungguh sungguh oleh segenap kader dan jamaah Hidayatullah.

Isi Maklumat DPP Hidayatullah Tentang Pilpres 2014

hidayatullah benderaIsi Maklumat DPP Hidayatullah Tentang Pilpres 2014

Dalam menghadapi Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, Pimpinan Umum Hidayatullah perlu mengeluarkan maklumat yang hendaknya dipatuhi dan dilaksanakan secara sungguh sungguh oleh segenap kader dan jamaah Hiayatullah.

  1. Pemilihan umum, baik sebagai presiden dan wakik presiden, anggota legislatif, gubernur, dan bupati/ wali kota merupakan agenda rutin lima tahunan yang dilaksanakan bagi rakyat Indonesia. Oleh karena itu, peristiwa tersebut hendaknya disikapi secara proporsional, arif, dan tidak berlebihan.
  2. Kader dan jamaah Hidayatullah hendaknya tetap fokus menjadikan tarbiyah dan dakwah sebagai arus utama gerakan. Aktifitas politik sekecil apapun harus diarahkan untuk mendukung dan memperbesar gerakan tarbiyah dan dakwah.
  3. Hidayatullah dalam pemilihan presiden dan wakil presiden tahun 2014 bersikaf proaktif dengan menjaga jarak dan kedekatan yang sama kepada kedua calon. Hubungan silaturrahim dengan kedua calon dan pendukungnya hendaknya tetap terpelihara untuk kepentingan tarbiyah dan dakwah.
  4. Dalam menentukan pilihan, Hidayatullah memberikan kebebasan yang bertanggungjawab kepada jamaah dengan memperhatikan kaidah “Adillah Syar’iyah Ma’rifah” yang mempertimbangkan aspek maslahat dan mufsadat dari segi kepentingan tarbiyah dan dakwah.
  5. Seluruh kader dan anggota jamaah Hidayatullah hendaknya menjalin silaturrahim dan menjaga ukhuwah Islamiyah dengan organisasi massa dan pergerakan Islam.
  6. Kader dan jamaah Hidayatullah tidak boleh menggunakan atribut dan mengatasnamakan organisasi, terutama dalam soal dukung mendukung kandidat. Untuk memelihara ukhuwah Islamiyah, semua kader yang berada dlam struktur organisasi tidak boleh terlibat dalam kampanye dan menjadi tim pemenangan.
  7. Diserukan kepada seluruh kader dan anggota jamaah Hidayatullah dapat melaksanakan maklumat ini dengan segala kesungguhan, keikhlasan, dan ketaatan. Semoga Allah melimpahkan rahmat, hidayah, dan ma’unah-Nya seluruh kaum Muslimin.

Batam, 31 Mei 2014

KH Abdurrahman Muhammad

Muslimat Hidayatullah Giatkan Cinta Al Qur’an Sambut Bulan Ramadhan

Tak kurang dari 300 warga muslimah binaan Mushida menjadi peserta daurah yang kali ini  bertajuk “Tingkatkan Motivasi dan Ghirah Tilawah al-Quran Menuju Keluarga Qurani”. / MASYKUR
Tak kurang dari 300 warga muslimah binaan Mushida menjadi peserta daurah yang kali ini bertajuk “Tingkatkan Motivasi dan Ghirah Tilawah al-Quran Menuju Keluarga Qurani”. / MASYKUR

Hidayatullah.or.id — Ragam cara melampiaskan kerinduan kepada bulan Ramadhan. Layaknya seorang tamu agung, Ramadhan menjadi bulan yang paling dinanti oleh seluruh kaum muslimin. Boleh dikata, sejak beberapa bulan terakhir, segenap umat Islam di seluruh dunia sudah merasakan getaran rindu tersebut.

Boleh jadi getaran ini pulalah yang kini dirasakan oleh Pengurus Muslimah Hidayatullah (Mushida) Wilayah Khusus Gunung Tembak, Balikpapan. Untuk itu, Mushida menggelar kegiatan Daurah Tahsin al-Qur’an, beberapa waktu lalu.

Menariknya, meski Ramadhan masih berbilang puluhan hari lagi, tapi hal itu tak mengurangi antusias warga muslimah Gunung Tembak mengikuti kegiatan tersebut. Tak kurang dari 300 warga muslimah binaan Mushida menjadi peserta daurah yang kali ini bertajuk “Tingkatkan Motivasi dan Ghirah Tilawah al-Quran Menuju Keluarga Qurani”.

Bahkan, tak sedikit di antara mereka yang datang dari lokasi di luar kampus Hidayatullah Gunung Tembak.

“Alhamdulillah, saya dapat banyak ilmu dari acara daurah ini. Meski ternyata bacaan saya masih banyak yang keliru dan perlu dibetulkan,” ucap Juwairiyah (33) tersenyum. Ibu yang memiliki 4 orang anak ini mengaku rela berjalan kaki sekitar 1 km untuk mengikuti acara daurah tersebut.

Untuk mengantisipasi peserta yang membludak, acara yang digagas oleh Departemen Pengkaderan Mushida Balikpapan tersebut lalu dibagi per halaqah ummahat secara marathon selama empat pekan berturut-turut.

Selanjutnya, secara bergilir sebanyak 6 halaqah berbeda mengikuti acara Daurah Tahsin pada setiap pekan di hari Sabtu bulan Mei. Tercatat, Mushida Gunung Tembak yang dikomandani oleh Ustadzah Eming tersebut merangkul binaan warga muslimah sebanyak 24 halaqah ummahat. Biasanya, masing-masing halaqah ummahat terdiri dari 14-15 orang ibu-ibu.

Uniknya, walau peserta dibatasi sesuai pembagian halaqah ummahat yang ada, rupanya tak sedikit ibu-ibu warga yang memilih hadir dalam setiap pekannya untuk belajar. Meski demikian, hal itu tidak menjadi soal bagi panitia. Bagi panitia, yang demikian justru bisa menjadi pemicu dan teladan bagi yang lain untuk tetap semangat memperbaiki bacaan al-Qur’an.

“Kami sangat bersyukur atas respon ibu-ibu warga dalam pembelajaran ini. Hal ini jadi motivasi dan contoh yang baik dalam fastabiqul khairat menjelang bulan Ramadhan ini,” terang Siti Syamsiah Abdullah, panitia acara.

Acara yang bertempat di Gedung Serbaguna Prasmanan Hidayatullah tersebut menghadirkan Muhammad Yahya bersama istrinya, Ayu Sumayyah sebagai pemateri. Sepasang suami istri itu didaulat untuk mengisi daurah sekaligus sebagai pembina bacaan al-Qur’an warga muslimah Gunung Tembak selama ini.

Selain praktik secara langsung, para peserta juga banyak menambah ilmu tentang materi makharij al-huruf (tempat keluarnya huruf-huruf) dan sifat al-huruf (sifat-sifat huruf Hijaiyah).

“Khusus untuk kegiatan daurah ini kami menggabungkan antara teori tahsin dan praktiknya secara langsung.” Ucap Yahya menjelaskan.

Untuk itu, seluruh ibu-ibu warga secara bergantian diminta mempraktikkan langsung pelajaran yang telah disimak sebelumnya. Bahkan tak jarang beberapa ibu terpaksa harus mengulang hingga berkali-kali, jika ternyata bacaannya belum tepat dan belum dianggap lulus oleh pemateri.

“Terkadang kita asyik dengan bacaan sendiri. Rupanya jika bacaan itu diperdengarkan ke orang lain, masih banyak yang perlu dibenahi,” ungkap Ummi Salami, seorang peserta daurah. Ia mengaku harus lebih giat membaca al-Quran selama Ramadhan nanti.

“Mudah-mudahan daurah ini menjadi motivasi untuk lebih banyak tadarrus al-Quran. Sebab memang ia butuh banyak latihan dan pembiasaan,” imbuh Salami semangat.

Kini seiring waktu, bulan Ramadhan terus berjalan mendekat. Bulan yang hari-harinya sarat dengan berkah dan ampunan. Di dalamnya ada janji kemenangan yang mencerahkan. Namun semua itu tentu berpulang kepada sambutan dan persiapan serta cara orang itu menyiikapi Ramadhan.

“Kemenangan itu hak mutlak dan pemberian dari Allah. Namun seperti apa kadar kemenangan yang diberikan, itu bergantung dengan seperti apa kadar persiapan itu sendiri,” tegas Ustadz Abdurrrahman Muhammad, Pimpinan Umum Hidayatullah, di hadapan warga Gunung Tembak, beberapa waktu lalu.

Sudahkah kita telah bersiap menyambut kemenangan yang dijanjikan itu?. (Masykur)

Kopertais Apresiasi STIS Hidayatullah dalam Pengabdian Masyarakat

Sebagian peserta ujian skripsi berfoto bersama / MASYKUR
Sebagian peserta ujian skripsi berfoto bersama / MASYKUR

Hidayatullah.or.id — Ketua Kopertais XI Wilayah Kalimantan Prof. Dr. Akhmad Fauzi Aseri, M.A, menyatakan kekagumannya terhadap kontribusi Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Hidayatullah (STISHID) yang aktif mengambil peran positif dalam pengabdian masyarakat.

Hal itu diungkapkan Profesor Fauzi saat berkunjung ke kampus Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan sekaligus sebagai salah satu penguji skripsi bagi mahasiswa semester VIII Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan.

Dalam sambutannya, Prof Fauzi, demikian sapaan karibnya, memuji mujahadah dan kesiapan para mahasiswa STIS dalam menghadapi ujian skripsi. Ia juga mengingatkan hakikat ilmu yang sebenarnya, yaitu ilmu yang mendekatkan diri kepada Allah.

“Jangan pernah ada di antara mahasiswa yang hanya bangga dengan gelarnya saja. Sebab ilmu itu berguna jika diamalkan di masyarakat,” tegas beliau di hadapan puluhan mahasiswa semester VIII STIS.

Dalam kesempatan itu Prof Fauzi menyampaikan apresiasinya terhadap peran mahasiswa STIS Hidayatullah dalam pengabdian masyarakat. Menurut dia, kebijakan STIS Hidayatullah yang menugaskan seluruh alumninya ke berbagai daerah untuk berdakwah adalah langkah yang sangat positif.

Bahkan jauh sebelum lulus pun, mahasiswa STIS Hidayatullah telah dikaryabaktikan secara mandiri ke berbagai lapangan soft skill yang terintegrasi dengan lingkungan kampus seperti pertanian atau perkebunan, guru, pengasuh, dan dikirim menjadi dai ke wilayah-wilayah pelosok.

Profesor Fauzi menilai ada cara pandang yang salah tentang gelar sarjana saat ini. Menurutnya, sarjana adalah orang-orang yang sebenarnya telah tercerahkan dengan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah.

“Sarjana Muslim itu mencerahkan. Kehadirannya memberi solusi di tengah masyarakat. Bukan justru menjadi pengangguran yang jadi beban masyarakat,” pungkas pakar pendidikan Islam dan Guru Besar Ilmu Tafsir yang juga menjabat sebagai Rektor Insitut Agama Islam Negeri (IAIN) Antasari, Banjarmasin ini.

Bagi seorang mahasiswa, tugas akhir atau penulisan skripsi biasanya selalu mendapat tempat di hati. Terlebih jika berhasil melewati ujiannya yang popular dengan sebutan ujian munaqasyah. Selalu ada sensasi dan perasaan yang berbeda. Ada rasa bangga sekaligus syukur bisa menyelesaikan tahapan terakhir dari bertahun-tahun masa kuliah. Biasanya fenomena itu berlaku umum bagi jamak mahasiswa yang duduk di semester akhir perkuliahan.

Tak terkecuali bagi mahasiswa semester VIII Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan. Sebanyak 52 orang kader Hidayatullah berhasil menuntaskan hari-hari berat mereka bakda ujian skripsi, beberapa waktu lalu.
“Alhamdulillah, akhirnya kami bisa melewatinya juga. Syukran atas dukungan semuanya,” ucap Syarifuddin, seorang mahasiswa STIS mewakili rasa syukur teman-temannya.

Terkait pelaksanaan ujian skripsi, STIS Hidayatullah bekerja sama dengan Koordinasi Perguruan Tinggi Agama Islam (Kopertais) XI Wilayah Kalimantan. Untuk tahun ini, STIS menghadirkan enam orang penguji sekaligus. Empat orang di antaranya ditunjuk langsung oleh Kopertais XI.

Selanjutnya para penguji itu lalu berbagi menjadi dua kelompok. Masing-masing kelompok beranggotakan tiga orang penguji. Yaitu sebagai Ketua Sidang, Penguji Satu, dan Penguji Dua.

Berbeda dengan pelaksanan ujian skripsi lalu, saat ini STIS Hidayatullah mendapat kehormatan dengan kesediaan Prof. Dr. Akh Fauzi Aseri, M.A. Bersamanya, hadir pula Dr. Sukarni (Ketua Dekan Fakultas Syariah IAIN Antasari, Banjarmasin), Muhammad Amin Djamaluddin, M.A (Direktur Pengembangan Bahasa IAIN Antasari), dan Dr. Nur Kholis (Dosen Fakultas Syariah IAIN Antasari).

Sementara dua penguji berikutnya tak lain adalah Dr. (Cand) Nashirul Haq, M.A (International Islamic University, Malaysia) dan Abdul Ghofar Hadi, M.S.I (Ketua STIS Hidayatullah).

Untuk diketahui, hingga saat ini STIS Hidayatullah Balikpapan telah menamatkan sebanyak 7 angkatan dengan ratusan alumni yang telah menyebar ke berbagai wilayah di nusantara. Uniknya tak ada satupun di antara mereka yang menganggur. Sebab seluruh alumni tersebut telah dinanti oleh medan dakwah yang begitu luas.

Bagi seorang kader dakwah, amanah dakwah dan perjuangan ini terlalu berat untuk menjadikan seseorang lalu santai dan tak berbuat. Demikian motivasi yang sering dipompakan oleh Abdul Ghofar Hadi, Ketua STIS kepada seluruh mahasiswa.

“Ilmu itu hanya bermanfaat jika diamalkan. Ilmu itu hanya bernilai jika bertaut dengan keimanan dalam jiwa,” pesan Abdul Ghofar. (Masykur)

Mereduksi Islam

Oleh Alimin Mukhtar*
Oleh Alimin Mukhtar*

SETIAP KALI kita memutlakkan sesuatu sebagai hakikat Islam, dengan tanpa hujjah dan/atau dengan mengekstrimkan bagian-bagiannya, seringkali kita telah mereduksinya sebatas apa yang kita mutlakkan itu.

Yang kita dapati setelah itu bukan lagi Islam yang sebenarnya, tapi pikiran kita sendiri yang secara sepihak kita klaim sebagai hakikat Islam.

Ada yang bersikukuh mengatakan Islam adalah agama akal dan logika, lalu menolak hal-hal yang mengedepankan penggunaan rasa. Tapi, ini pun keliru. Sebab dalam Islam kita mengenal sabar, syukur, tawakkal, ridha, qana’ah, dsb. Semua itu perasaan-perasaan, dan diakui bahkan diberi bimbingan dalam Islam.

Sebaliknya, ada yang ngotot mengatakan bahwa Islam adalah agama yang mengedepankan perasaan, lalu mengesampingkan penggunaan logika dan akal pikiran. Tapi, ini juga keliru. Dalam Islam ada ilmu, ijtihad, hujjah, dalil, dst. Semua ini memakai logika-logika, dan dibimbing dalam Islam.

Ada juga yang gembar-gembor mengatakan Islam agama damai, dan berusaha keras menafikan hal-hal yang berbau militerisme maupun penggunaan kekerasan. Akibatnya dia mati-matian menolak jihad fii sabilillah -dalam arti perang- dan berusaha memberikan “tafsir-tafsir alternatif”.

Tapi, ada lagi yang sebaliknya juga. Dia bersikeras mengatakan bahwa Islam adalah agama jihad. Maka semuanya pun dipusatkan di sekitar i’dadul quwwah, dan apapun disikapi dari cara pandang ini. Maka, segala cara yang mengedepankan sikap lemah-lembut dan dialog dianggap banci atau pengecut.

Lantas, Islam itu apa?

Allah Subhanahu wa Ta’ala sudah memberikan pedoman-pedomannya dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Semua itulah Islam. Kita harus menerimanya, apa adanya, seluruhnya. Kerasnya, juga lembutnya. Perasaannya, juga logikanya. Perangnya, juga damainya.

Pada saat kita memilih-milih bagian Islam sesuai selera kita, pada dasarnya kita belum berserah diri, belum ber-Islam, dan sedang memperkokoh dominasi hawa nafsu dalam beragama.

Tidak masalah dicap ekstrem, atau sebaliknya dituduh pengecut. Jangan pedulikan kata orang. Sepanjang kita mengikuti apa maunya Allah, maka Dialah yang akan menyingkirkan seluruh fitnah itu dari jalan kita.*

______________
ALIMIN MUKHTAR, Penulis adalah alumni STAIL Hidayatullah Surabaya dan saat ini pengasuh di Pondok Pesantren Hidayatullah Malang, Jawa Timur.