Beranda blog Halaman 663

Islam Indonesia Toleran dan Anti Kekerasan, Jadi Role Model di Dunia

IST
IST

Hidayatullah.or.id — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan umat Islam di Indonesia sangat toleran dan anti kekerasan. Untuk itu ia menyerukan umat Islam di Tanah Air tetap menjaga toleransi dan menjauhi kekerasan.

Pesan itu sampaikan presiden dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pagi ini di Monas, Jakarta Pusat, Selasa (14/01/2014) lalu.

“Kepimpinan Nabi Muhammad SAW menjadi toleransi dan ukuwah di tengah perbedaan. Dan ini sangat cocok diterapkan di Indonesia, bangsa yang majemuk,” ucap SBY di hadapan ribuan umat Islam.

SBY menambahkan sikap Nabi Muhammad SAW, anti kekerasan dan sikap kasar menghadapi kemajemukan. Dengan mengaplikasikan toleransi dan anti kekerasan, Islam di Indonesia bisa menjadi role model di dunia.

“Islam di Indonesia harus menjadi contoh kepada dunia jika Islam rahmatan lill alamin. Intinya toleransi dan anti kekerasan,” tukasnya.

Maulid Nabi Muhammad SAW yang dihadiri SBY dimulai pukul 08.00 WIB. Acara ini dimulai dengan sambutan dan ceramah keagamaan dari Ketua Majelis Rasulullah, Habib Ahmad Jindan bin Novel.

Sejumlah tokoh juga ikut hadir, antara lain Akbar Tandjung, Menteri Agama Suryadarma Ali, Menteri Sekertaris Negara Sudi Silalahi, Menteri Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (PPDT) Helmi Zaini dan Edie Baskoro Yudhoyono. Beberapa Duta Besar negara Islam juga hadir dalam peringatan ini. (gat/ybh/hio)

Ikutilah Nabi kalau Benar Cinta Kepada Allah

cinta nabiSYARIAT Islam sebagai aturan yang bersifat universal menempatkan cinta sebagai bagian dari ibadah seorang hamba. Jika cintanya kepada Allah Ta’ala benar dan terbukti, orang tersebut akan mendulang pahala.

Sebaliknya, ia bisa mendapat dosa hanya gara-gara urusan cinta yang keliru, mengaku cinta tapi perbuatannya tidak sesuai dengan pengakuannya. Menyatakan cinta, namun perbuatannya justru bertentangan dengan kemauan zat yang dicintainya. Itu sama halnya dengan bentuk-bentuk ibadah hati yang lain.

Cinta juga memiliki makna sebagai pilar penting dalam kesempurnaan ibadah seorang muslim. Lebih lanjut syaikh al-Islam Muhammad bin Abdul Wahab menegaskan, meskipun orang-orang kafir mengerjakan seluruh perintah Allah yang ada, namun apa yang mereka lakukan tidak diterima oleh Allah, selama mereka tidak cinta kepada Allah sebagai dasar diterimanya amalan tersebut (lihat kitab at-Tibyan Syarah Nawaqidh al-Islam).

Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 31: ”Katakanlah (Muhammad) jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah maha pengampun lagi maha penyayang”.

Imam at-Thabari menyebutkan, sebab turunnya ayat ini berkenaan dengan pengakuan suatu kaum pada masa Nabi Muhammad SAW . Mereka berkata, “Wahai Nabi, persaksikanlah kami adalah orang-orang yang mencintai Rabb kami. Nabi lalu berkata,”Jika kalian benar-benar jujur dengan perkataan kalian, maka hendaklah kalian mengikuti aku, sebagai bukti kejujuran ucapan kalian.”

Dalam ayat di atas terkandung beberapa penjelasan terkait kewajiban mencintai Allah, tanda-tandanya, serta hasil yang didapatkan dari cinta tersebut.

Imam Abdurrahman As-Sa’di dalam tafsirnya menjelaskan, pengakuan cinta kepada Allah adalah maqom tertinggi dalam hubungan manusia dengan Rabbnya. Terlebih jika ternyata Allah juga berkenan ridha dan mencintai hamba itu, maka akan terjadi hubungan timbal balik yang sangat kuat.

Seorang muslim menyatakan cinta kepada Allah, sedang sang Khaliq menyatakan ridha atas cinta hamba-Nya itu. Hal inilah yang pernah dialami oleh para sahabat, generasi terbaik yang hidup pada masa Rasulullah SAW, seperti apa yang yang dijelaskan dalam surat at-taubah ayat 100.

Dimana-mana yang namanya mencintai sesuatu membutuhkan pembuktian. Sebab, ia bukanlah lipstik yang hanya menjadi penghias bibir saja. Dalam konteks keluarga, seorang ibu rela bersusah payah membesarkan anaknya semata demi kecintaanya kepada belahan jiwanya.

Seorang anak saleh juga siap berkorban apa saja demi kecintaan kepada orang tuanya yang telah merawatnya sejak ia masih dalam kandungan ibunya.

Surat Ali Imran ayat 31 di atas juga menjelaskan, bukti nyata mencintai Allah adalah mencintai Rasulullah SAW, dan sekaligus ajaran yang dibawanya. Baik aqidahnya, akhlaqnya, ibadahnya, sunah-sunnahnya dan sendi kehidupan lainya. Kewajiban mencintai Allah sama kedudukannya dengan mencintai Rasul-Nya.

Oleh karena itu, ujian pertama pengakuan cinta hamba kepada Allah bisa diukur dari ketaatan kepada Nabi-Nya. Sebab, sejatinya perintah Allah adalah perintah Rasulullah SAW sebagaimana semua larangan Allah telah tertuang dalam hal-hal yang dilarang oleh Nabi.

Berkata Sahl bin Abdullah, tanda cinta kepada Allah yaitu, “Mencintai Al-qur’an, tanda cinta kepada Al-qur’an adalah dengan mencintai Nabi. Sedang alamat cinta kepada Nabi dengan menghidupkan sunnah. Tanda cinta kepada Allah, al-Qur’an, Nabi, dan sunnah yaitu mencintai akhirat. Selanjutnya tanda orang itu cinta akhirat adalah dengan mencintai dirinya sendiri. Hal itu bisa terlihat ketika ia membenci dunia dengan hanya mengambil sedikit darinya sebatas perbekalan dalam menempuh perjalanan kembali ke kampung akhirat”.

Cinta yang jujur kepada Allah dengan sendirinya mengantar seorang Muslim untuk senantiasa taat dan bersyukur kepada-Nya. Semakin ia mendekat kepada Rabbnya, semakin ia rasakan limpahan rahmat dan karunia yang begitu banyak dari Allah SWT.

Namun, hal tersebut jarang manusia memahaminya, karena kebanyakan manusia hanya mampu memaknai kenikmatan dalam bentuk materi dan fisik saja. Lalu lupa akan nikmat terbesar yang Allah berikan sebagai bentuk kecintaan Allah kepada hamba-hamba-Nya. Padahal Allah justru mencintai kaum muslimin dengan senantiasa menaungi karunia dan ampunan kepada mereka.

Alhasil, dengan mencintai Allah dan Rasulullah SAW serta berupaya maksimal melaksanakan syariat Islam menjadikan seorang muslim berpeluang meraih janji yang ditawarkan oleh Allah SWT mendapatkan kecintaannya serta adanya garansi ampunan atas dosa dan kesalahan selama ini.*

___________
MUHAMMAD SAMSUDI, S.PD.I, penulis adalah pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Denpasar, Bali.

Janganlah Cela Ulama karena Kita Tak Sekelas al Ghazali

0
ugi
Dr Ugi Suharto

Hidayatullah.or.id — Akibat fenomena penyempitan pemikiran Islam menyebabkan para ulama besar dan hebat kerap dijatuhkan otoritasnya dan dicela. Padahal, para pencelanya justru tidak memiliki ilmu sekelas ulama besar.

Demikian disampaikan Dr. Ugi Suharto, salah satu pendiri Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS) yang kini menjadi dosen di di University College of Bahrain.

Salah satu contohnya, ia menyebut kitab Ihya’ Ulumuddin, karya Imam al Ghazali yang sering dikatakan mengandung kesesatan serta memuat hadits-hadits palsu.

“Imam al-Ghazali itu memiliki guru-guru hadits berisnad, beliau menguasai hadits. Hanya saja beliau tidak terlalu menonjol dalam bidang hadits. Tapi dibanding kita tidak ada apa-apanya,” demikian disampaikan Ugi pada Kajian Ilmah yang diadakan oleh InPAS Surabaya bekerjasama dengan Hidayatullah Media dengan tema “Posisi Hadits dalam Kerangka Pemikiran Islam: Tantangan dan Dinamika” di Gedung Dakwah dan Informasi Hidayatullah Surabaya, Selasa (14/01/2014).

Yang lebih memprihatinkan, kita yang tidak punya isnad hadits, lalu mencela ulama besar sekelas Imam al-Ghazali yang memiliki isnad hadits.

Padaha, para imam madzhab terdahulu memiliki kualitas keilmuan yang kaamil (komperhensif) dan luas dibanding kita yang ada saat ini.

“Al-Ghazali dalam Kitab Ihya ‘Ulumuddin menjelaskan karakter keilmuan para imam madzhab sebagai seorang yang ‘aabid (ahli ibadah), zaahidan (zuhud), ‘aaliman bi umuri al akhiroh (‘alim dalam ilmu yang terkait dengan akhirat), faaqihan fii masholihul kholqi fid dunya (faqih dalam menetukan mashlahat makhluk di dunia), wa muriidan bi fiqhihi wajhullahi ta’ala (dan hasrat keinginannya dalam berfikih adalah mengharap ridla Allah semata),” ungkap pria yang pernah menjadi dosen pengampu “Sejarah dan Metodologi Hadits” di The International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) Malaysia ini.

Ada pula celaan yang tidak tepat lagi. Gara-gara kitab ulama besar yang mengandung hadits dhoif lalu para ulama dituduh tidak faham hadits.

“Padahal, Imam Bukhari, pakar hadits kenamaan. Siapa yang tidak tahu Imam Bukhari? Tapi ia menulis satu kitab berjudul Adabul Mufrad, di dalamnya mengandungi hadits-hadits dhoif lho”, paparnya.

Karena itu, katanya, persoalan hadits di masa kini kerap menjadi isu yang bisa membuat orang salah faham.

Misalnya, fenomena memahami hadits secara dzahirnya semata-mata, padahal tidak ada ulama 4 madzhab yang mengamalkannya secara dzahir.*

Ada juga pendapat yang berkembang di masyarakat tentang perlunya bermahzab atau tidak. Atau hanya cukup dengan mengikuti al-Quran dan Sunnah saja, selain itu tidak.

“Fenomena tidak bermadzhab, dengan mengatakan cukup dengan ikut al-Qur’an dan al-Sunnah, itu juga satu persoalan lagi,” demikian disampaikan salah satu pendiri Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS) Dr. Ugi Suharto, pada Kajian Ilmah yang diadakan oleh InPAS Surabaya dengan tema “Posisi Hadits dalam Kerangka Pemikiran Islam: Tantangan dan Dinamika” di Gedung Dakwah dan Informasi Hidayatullah Surabaya, Selasa (14/01/2014) lalu.

Menurutnya, para imam hadits tetap bermadzhab. Bahkan mayoritasnya bermadzhab Syafii, seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Nasa’i, Ibn Khuzaimah, Ibnu Hibban, al-Mizzi, al-Dzahabi, Ibn Katsir dan lain-lain.

“Para imam hadits saja bermadzhab, nah bagimana kita yang tidak ahli hadits?,” ujar pria yang kini menjadi dosen di University College of Bahrain ini.

Karena itu Ugi berharap agar masyaraat tidak lagi mencela antar madzhab, bahkan mencela Imam Asy’ari dan para pengikutnya.

“Sebaiknya dihentikan, karena hal itu akan memecah belah umat Islam sendiri, “ ujar ungkap pria yang pernah menjadi dosen pengampu “Sejarah dan Metodologi Hadits” di The International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) Malaysia ini. (hidcom)

Islamic Medical Service Terjun ke Lokasi Banjir Jakarta

Kondisi banjir di Kampung Melayu / Imron Faizin
Kondisi banjir di Kampung Melayu / Imron Faizin

Hidayatullah.cor.id — Lembaga layanan kesehatan nasional yang berada di bawah koordinasi ormas Hidayatullah, Islamic Medical Service (IMS) terjun ke lokasi banjir di sejumlah titik di ibu kota Jakarta.

Daerah Kampung Melayu yang juga merupakan kedudukan lembaga ini tak luput dri terjangan banjir. Air kiriman dari Bogor ditambah dengan curah hujan sepanjang hari (12/13) membuat air menggenangi pemukiman warga.

Pantauan tim IMS di lapangan, dilaporkan ketinggiian air bekisar 1-2 meter. Kondisi ini membuat aktivitas warga sangat terganggu. Warga sama sekali tidak menduga akan datangnya air yang tiba-tiba.

Tidak seperti tahun-tahun seblumnya jika akan tiba air kiriman, warga akan mendapat info telebih dahulu. Kali ini tidak, di tengah sedang terlelap datanglah air yang langsung merendam rumah beserta isinya.

“Sebagian besar warga tidak bisa menyelamatkan barang yangg ada. Hal ini dikarenakan air tiba pada dini hari. Warga hanya menyelamtkan diri dan keluarga, hanya baju di badan yang melekat,” kata salah seorang relawan IMS Center di lapangan, Imron Faizin, kepada media ini kemarin.

Akibat banjir Jakarta yang datang usai diguyur hujan selama 2 hari berturut-turut membuat sebagian besar warga mengungsi ke sekolahan di Kampung Melayu yang sementara waktu diliburkan. Namun tidak sedikit yang memilih untukk bertahan di lantai 2 rumah mereka demi menjaga harta benda.

“Kebutuhan mendasar para korban banjir adalah makanan siap saji, air mineral, selimut, pakaian, alas tdur, susu bayi, perlengkapan bayi serta obat-obatan,” Imron melalui saluran telepon.

Imron menyebutkan, sebagian besar pengungsi terkena penyakit gatal, demam, dan luka-luka karena tekena benda tajam yang tak terlihat karena ketinggian banjir.

Pada aksi di hari pertama lalu puluhan pengungsi datang ke posko kesehatan IMS. Sebagian besar mengaku masih mbutuhkan makanan, minuman dan pakaian. Jadi antusias masyarakat untuk berobat masih sangat minim.

Pada hari ke 2 banjir Jabotabek, IMS menerjunkan team medis di beberapa tempat di antaranya di Pondok Gede Permai. Sampai saat ini team medis terus memberikan pelayanan kesehatan di Masjid Al-Ikhlas Pondok Gede Permai.

“Tercatat sampai saat ini 94 orang yang melakukan pemeriksaan dan pemberian obat oleh team medis IMS,” lapor Imron dari lokasi posko.

Muhammad Amin selaku ketua RW 8 setempat mengaku sangat antusias menyambut team IMS, dan langsung mengkoordinir dan menginformasikan ke warganya lewat pengeras suara di masjid. Amin juga mendatangi warga ke rumah rumah memberikan informasi pelayanan keshatan IMS.
Team IMS yang terjun di Pondok Gede brjumlah 6 orang terus memberikan pelayanan dengan sepenuh hati. Sampai saat ini masyarakat terus brdatangan dan memdaftarkan diri untuk mendapatkan pelayanan. (pr/hio)

Umat Akan Antipati Pada Dai yang Tak Beradab Islami

Sejumlah peserta training berfoto bersama usai penutupan
Sejumlah peserta training berfoto bersama usai penutupan

Hidayatullah.or.id — Kader Hidayatullah dituntut untuk selalu menjaga etika Islam dan adab-adab dalam berdakwah. Hal prinsip bagi kader-kader Islam adalah menjaga akhlak yang mulia.

Apalah arti ilmu yang mumpuni, hafalan yang banyak, kemampuan yang hebat dalam berdakwah, jika semua itu dibungkus dengan perilaku yang tidak baik hanya akan melahirkan antipati dari umat.

“Akibatnya, umat Islam justru antipati dan resistan terhadap dakwah Islam dan kemuliaan syariat Islam,” kata Ketua Departemen Pengkaderan Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah, Hasan Rofidi, di hadapan peserta Training Marhalah Wustha Hidayatullah Kaltim, beberapa waktu lalu, (11/01/2014).

Alih-alih saling bersinergi sesama dai dan pelakon dakwah, fenomena yang terjadi sekarang justru menjadikan umat Islam kian miris melihatnya. Beberapa kelompok dakwah terlibat konfik internal dan saling menyudutkan yang hanya melemahkan potensi umat Islam dan menjadi bumerang buat ajaran syariat Islam itu sendiri.

Untuk itu, Ustadz Hasan mengingatkan –sekali lagi- sebagai seorang kader Islam, perbedaan pendapat bukanlah alasan untuk tidak menghormati jasa para guru dan orangtua. Termasuk untuk lingkup internal Hidayatullah.

“Mereka para orangtua telah mendahului kita semua dalam berkarya untuk agama ini. Ustadz-ustadz kita telah memulai sejak masa perintisan Hidayatullah, dari sesuatu yang tidak ada menjadi ada,” papar ustadz yang pernah memangku amanah Ketua Pengurus Wilayah (PW) Jawa Timur ini.

Layaknya terminal pompa bensin atau yang populer dengan sebutan pom bensin, para peserta Training Marhalah Wustha ini mampir sejenak dari rutinitas dakwah mereka untuk menambah bekal mereka. Bukan untuk rehat dari kewajiban dakwah, tapi justru para juru dakwah ini diharapkan mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya. Mulai dari bekal ilmu, semangat, dan motivasi. Lebih penting lagi tentunya bekal spiritual untuk kembali mengarungi samudera perjuangan dakwah.

“Untuk itu mari kita besarkan nama Allah sebagai spirit kita dalam berdakwah,” ucap Hasan sambil mengajak seluruh peserta penutupan acara untuk bertakbir. Allaahu Akbar!.

Perhelatan Training Marhalah Wustha yang digelar oleh Pengurus Wilayah (PW) Hidayatullah Kalimantan Timur (Kaltim) telah berakhir Sabtu (11/01/2014) lalu. Acara ini diikuti oleh puluhan dai yang tersebar di beberapa titik dakwah di Kaltim.

Peserta datang mulai dari Tarakan, Pulau Bunyu, Kutai Barat, hingga pelosok Penajam Paser Utara (PPU). Tercatat, daerah Balikpapan sebagai pemasok peserta terbanyak, dengan mendatangkan 14 orang dai se-kota Balikpapan.

Pada acara penutupan, Hamzah Akbar, selaku Ketua PW Hidayatullah Kaltim mengucapkan syukur dan terima kasih atas segala partisipasi dari seluruh pihak atas terselenggaranya Training Marhalah Wustha yang kali ini diadakan di Gedung Unit Pelaksana Teknis Bersama (UPTB) Balai Penelitian Pertanian (Bapeltan) Samarinda, Kaltim.

“Hasil yang luar biasa ini tentu saja bukan capaian prestasi dari satu atau dua orang saja. Semata-mata bukan keberhasilan panitia atau instruktur saja, misalnya. Sebab semua ini hanya bagian dari mujahadah kita semua yang kita persembahkan untuk dakwah dan agama Islam,” imbuh Hamzah di hadapan seluruh peserta training.

Menurut Hamzah, tak salah jika umat Islam punya harapan baru dengan kegiatan Training Marhalah Wustha ini. Sebab, diharapkan para lulusan training langsung terjun kembali berdakwah dengan gairah semangat yang lebih besar lagi.

Kata dia, hendaknya semua pelaku dakwah menyadari bahwa tantangan dakwah dan amanah umat ini begitu besar, sehingga jalan satu-satunya adalah bersandar kepada sumber kekuatan dan kemenangan yang sejati, yaitu Allah, Sang Khaliq.

“Sudah bukan saatnya lagi kita saling curiga sesama kelompok dakwah dan organisasi Islam. Yang benar adalah saling bergandeng tangan membenahi amanah dakwah ini untuk menjawab segala kebutuhan umat,” ucap Hamzah mengingatkan seraya menutup acara tersebut.

______________
Laporan Masykur Suyuthi, wartawan Hidayatullah Media di Samarinda, Kaltim.

Mengaku Beriman, Berarti Siap Sabar Berjuang

Ahkam Sumadiana (jas hitam) dalam sebuah forum dialog / FOTO: HTI
Ahkam Sumadiana (jas hitam) dalam sebuah forum dialog / FOTO: HTI

Hidayatullah.or.id — Risiko utama ketika seseorang mengaku beriman kepada Allah Ta’ala adalah dia harus selalu siap diuji atas keyakinannya tersebut. Sebab iman bukanlah lipstik penghias bibir semata, yang dilisankan tanpa tahu apa yang ia ucapkan itu.

Iman bukan pula sebatas keyakinan hati belaka. Pokoknya aku benar-benar yakin, misalnya. Tetapi iman adalah ilmu yang menggerakkan. Ia adalah kumpulan amalan-amalan terbaik dalam setiap aspek kehidupan sebagai wujud adanya keyakinan yang kokoh dalam diri seoorang Muslim.

Mutiara-mutiara penggugah ini disampaikan oleh Ketua Departemen Perkaderan Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah, Ir. Ahkam Sumadiana, dalam kesempatan acara Training Marhalah Wustha yang digelar oleh Pengurus Wilayah (PW) Hidayatullah Kalimantan Timur, beberapa waktu lalu (10/01/2014).

Kegiatan training berlangsung di Gedung Unit Pelaksana Teknis Bersama (UPTB) Balai Penelitian Pertanian (Bapeltan) Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim), serta dihadiri oleh puluhan dai Hidayatullah yang tersebar di beberapa titik dakwah di Kaltim.

“Jangan pernah ada yang sudah merasa ‘beragama’ atau berjuang sedang iman yang dimiliki itu belum pernah mendapat ujian dan benturan dalam kehidupannya,” ucap Ahkam membakar semangat para peserta training Marhalah Wustha.

Akham menegaskan, benturan itu akan selalu ada selama kita berada di pihak al-Haq sebagai konsekuensi logis dari keimanan yang mengakar. Sebab di dunia ini, hanya ada dua barisan. Barisan pertama bernama al-Haq sedang yang kedua disebut al-Bathil.

“Tak ada kompromi di antara keduanya, kecuali saling berbenturan dan saling berusaha memenangkan pertarungan abadi ini,” lanjut ustadz yang juga dikenal sebagai mantan aktifis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Makassar.

Menurut Ahkam, defenisi dari barisan al-Haq adalah orang-orang yang takut kepada Allah. Mereka inilah yang mengusung peradaban al-Qur’an dalam kehidupan manusia. Sedang kelompok bathil disesaki oleh kumpulan manusia yang melampaui batas dalam kehidupannya. Mereka mewakili golongan orang-orang yang mengusung peradaban Barat.

“Ciri-cirinya tak lain, ketika mereka mendustai nikmat Allah, menolak penghambaan kepada-Nya, serta lebih mementingkan kehidupan dunia daripada hari Akhirat,” papar Ahkam sambil mengutip surah an-Nazi’at [79]: 37-41].

Sudah saatnya umat Islam bersatu dalam memenangkan perseteruan abadi ini. Sebab umat Islam akan berhadapan dengan seluruh manusia yang menolak ajaran Tauhid, imbuh beliau.
Peradaban Barat ini, jelas Ahkam, menyerang massif dengan sekian ragam simbolnya, mulai dari materialisme, liberalisme, kapitalisme, hedonisme, paganisme, hingga seluruh doktrin sesat lainnya. Tidak hanya bentrok soal ajaran, bahkan kedua kekuatan ini senantiasa saling bergumul dalam seluruh aspek kehidupan manusia. Mulai dari persoalan materi, ekonomi, hukum, sains, politik hingga urusan budaya sekalipun.

Analogi sederhananya, masih menurut Ahkam, bisa dilihat dari sikap sebagian masyarakat. Terkadang mereka minder untuk mengakui jika anak-anaknya sekolah di pesantren dan belajar agama. Sedang orangtua itu begitu bangga bercerita, jika anak-anaknya menempuh pendidikan di Amerika atau di Eropa.

“Hal semacam inilah yang hendaknya menjadi kerisauan umat Islam sendiri. Sebab umat Islam juga menyadari bahwa peradaban al-Qur’an adalah peradaban terbaik yang pernah dinikmati oleh manusia. Literatur sejarah menjadi saksi bisu, betapa dunia Barat pernah bertekuk lutut di bawah superioritas ajaran Isl,” ungkap beliau.

Ketika wilayah-wilayah Islam terang benderang dengan cahaya keilmuan yang bersumber dari al-Qur’an, dunia Barat ketika itu justru masih terbenam dalam lumpur kegelapan dan kehinaan.

Ustadz Ahkam menuturkan bahwa tak ada cara lain dalam memenangkan benturan peradaban ini kecuali mengembalikan umat Islam kepada al-Qur’an dan sunnah. Umat Islam harus meyakini bahwa Islam adalah peradaban unggul. Namun patut disayangkan, kemuliaan Islam seringkali ternoda justru oleh praktik kotor umat Islam sendiri.

“Mari, kita awali tegaknya syariat Islam pada setiap pribadi Muslim. Setelah itu kita ajarkan kepada keluarga dan lingkungan sekitar kita masing-masing,” tandas Ahkam semangat di hadapan peserta Training Marhalah Wustha.

________________
Laporan Masykur Suyuthi, wartawan Hidayatullah Media langsung dari arena acara

Mudzakaroh Dai se-Jawa Tengah Bagian Pantura

Drs Shohibul Anwar (putih)
Drs Shohibul Anwar (putih)

Hidayatullah.or.id — Animo akan peran dai sebagai informal leader pembangunan di daerah Jawa Tengah hingga saat ini masih sangat tinggi. Animo masyarakat ini ditandai dengan banyaknya permintaan pembinaan masyarakat, khususnya di Jawa Tengah bagian utara atau yang biasa disebut dengan istilah pantura.

Memahami kondisi itu, Pimpinan Wilayah Hidayatullah Jawa Tengah (PW Hidayatullah Jateng) menggelar kegiatan pembinaan dai kepada seluruh perwakilan pesantren-pesantren Hidayatullah yang ada di Jawa Tengah bagian utara, belum lama ini.

Acara yang dikemas dalam bentuk sarasehan Majelis Mudzakaroh ini dalam rangka untuk penguatan visi ormas Hidayatullah sebagai lembaga Islam yang memiliki mainstream gerakan dakwah dan pendidikan dalam rangka membangun umat dan bangsa demi tegaknya peradaban mulia dan kehidupan Islami yang menentramkan.

Kegiatan yang juga disokong oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) Cabang Kudus ini dinilai sangat penting untuk terus digulirkan sebagai bekal dai dalam membina umat.

Salah seorang peserta, Abdullah, mengatakan selain mendapatkan ilmu yang baru, ia juga mendapatkan metode dakwah aplikatif yang lebih modern dengan tetap tidak menghilangkan identitas dakwah Islam.

“Bagaimana cara membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat agar dakwah kita mudah dicerna,” kata dia.

Hadir dalam acara tersebut Kepala Departemen Dakwah Pengurus Pusat (PP) Hidayatullah, Drs. Shohibul Anwar M.H.I, yang sekaligus menjadi salah seorang pemateri.

Dalam sambutannya saat membuka acara yang berlangsung cukup semarak ini, Ustadz Shohibul Anwar mengatakan, pada prinsipnya kita semua adalah dai yang memiliki kewajiban untuk menyampaikan dakwah Islam kepada siapa dan di mana pun. Bai melalui tutur kata, sikap, mapun teladan yang baik.

“Kita semua mempunyai kewajiban menyampaikan Islam ini kepada umat dengan cara yang ma’ruf (baik) sebagaimana apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah,” tegas Ustadz Shohibul Anwar di sela-sela penyampaiannya.

Acara yang diadakan di dalam Masjid Raya Pesantren Hidayatullah Kudus itu dihadiri oleh ratusan dai Hidayatullah yang telah malang melintang di seluruh kabupaten dan kota di Jawa Tengah, khususnya bagian pesisir pantai utara.

Acara yang mengangkat tema “Mengokohkan Mainstrem Hidayatullah Sebagai Gerakan Dakwah dan Tarbiyah” ini bertujuan untuk memberikan pencerahan bagi para dai Hidayatullah yang telah berkiprah di tengah-tengah masyarakat. Diharapkan kemudian ekspansi dakwah yang dilakukan ke depan akan terus lebih aktif dan membawa nilai rahmat bagi semesta alam dalam makna yang lebih luas lagi. (pwj/hio)

Mengintip Geliat Ponpes Hidayatullah Sambong

0

Hidayatullah.or.id — Kiprah Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Sambong yang beralamat di JL. Cepu-Blora, KM 5, Sambong, Blora, Kecamatan Sambong, Jawa Tengah, terus menggeliat. Selain kegiatan dakwah pembinaan keummatan, Hidayatullah Sambong juga telah menyelenggarakan layanan pendidikan untuk tingkat dasar.

Selain itu, sejumlah bangunan fisik pun mulai di bangun di pesantren yang terletak di wilayah yang juga dikenal sebagai kedudukan proyek migas Blok Cepu. Berikut ini beberapa foto yang berhasil dihimpun redaksi Hidayatullah.or.id:

Santri kerjabakti pagi Ahad di kampus
Santri kerjabakti pagi Ahad di kampus
Suasana kerja bakti pagi
Suasana kerja bakti pagi
Menggali saluran air
Menggali saluran air
Masjid yang sudah bisa digunakan di tengah ilalang kebun jagung
Masjid yang sudah bisa digunakan di tengah ilalang kebun jagung

 

 

 

Sinergi Harakah dan Dakwah Eratkan Persatuan Umat

0
Training Marhalah Wustha / FOTO: Masykur
Training Marhalah Wustha / FOTO: Masykur

Hidayatullah.or.id — Tidak ada rumus kalah atau rugi bagi orang beriman. Buat dirinya sendiri terlebih ketika ia berinteraksi dengan orang lain. Bagi orang beriman, semua yang ia lakukan sebatas mujahadah (usaha maksimal) dalam meraih ridha Allah di dunia.

Demikian yang tersimpul dalam pemaparan disampaikan anggota Dewan Syura Hidayatullah, Dr (cand) Nashirul Haq, di hadapan peserta Training Marhalah Wustha yang diadakan di Gedung Unit Pelaksana Teknis Bersama (UPTB) Balai Penelitian Pertanian (Bapeltan) Samarinda, Kaltim, Kamis (9/01/2014).

Termasuk saat bergaul dengan orang lain. Kata Nashirul, orang beriman hanya mengenal sinergi positif dengan saudaranya serta membuang jauh hal-hal negatif yang bersifat dzhan (dugaan) yang timbul dari perasaan semata.

“Orang beriman itu tak pernah rugi jika ia memang sudah berusaha maksimal. Sebab orang beriman itu “hanya” bertugas bekerja sedang hasil usahanya senantiasa kembali kepada kuasa dan ketetapan Allah semata,” terang ustadz yang mengampu kajian materi “Mengenal Harakah-harakah Islam” dalam training ini.

Ketika seorang Muslim dituntut untuk bekerja sama dalam urusan dakwah di tengah masyarakat. Ia tak perlu merasa tersaingi atau dikalahkan oleh saudaranya sesama Muslim. Sebab, terang Ustadz Nashirul, dakwah dan hasil dari berdakwah itu bukan tujuan utama dia.

Sehingga, tegasnya, seorang Muslim tidak perlu merasa jadi pecundang atau bersikap “win win solution”. Karena sikap yang benar bagi seorang Muslim menurut Nashirul, tidak lain adalah saling bersinergi dan senantiasa husnudzhan (prasangka baik) kepada orang lain.

Menurut Ustadz Nashirul, inilah kelemahan internal pada tubuh umat Islam. Hari ini umat Islam kehilangan kepercayaan di antara sesama mereka sendiri. Alih-alih bekerja sama membina umat Islam. Mereka sendiri sibuk bertikai dalam urusan yang sejatinya hanya bersifat furu’iyah. Padahal kesamaan yang menyatukan mereka begitu banyak. Sebagaimana potensi umat Islam begitu kuat andai mereka saling bersinergi satu sama lain.

Ibarat bangsa semut, Nashirul bertamsil, hidup berjamaah menjadi fitrah yang telah digariskan Allah kepada manusia sebagai makhluk sosial. Lebih dari itu, berjamaah adalah sunnatullah syar’iyah. Bahwa untuk menjalani kehidupan beragama yang lebih baik, maka berjamaah menjadi sebuah keniscayaan bagi orang beriman.

Nashirul mengingatkan, di dunia ini hanya ada dua jamaah yang senantiasa saling berseteru dalam pertikaian abadi.

“(Perseteruan) yang ada hanyalah antara jamaah al-haq versus jamaah al-batil. Antara hizbullah melawan hizbu as-syaitan,” ujar ustadz kandidat doktor bidang Islamic Revealed Knowledge and Heritage di International Islamic University Malaysia (IIUM) ini.

Terakhir, Ustadz Nashirul mengingatkan para peserta training sebuah ungkapan dari Ali bin Abi Thalib, sebuah kejahatan yang dimenej dengan baik ternyata mampu mengalahkan kebaikan yang hanya dikelola apa adanya saja. Ia berharap semoga ini semua menjadi kesadaran kita bersama untuk tidak lagi ragu bekerja sama dengan saudara seiman dan kelompok-kelompok dakwah yang lain sesama ahlus sunnah.

“Buang jauh-jauh kecurigaan sesama Muslim. Sebab ia hanya merusak hati dan ukhuwah di antara umat Islam saja,” pungkas Nashirul Haq semangat.*

_______________
Laporan Masykur Suyuthi, wartawan Hidayatullah Media langsung dari arena acara

Kader Harus Optimal Sebagai Dai dan Penggerak Organisasi

0
Bincang-bincang santai sejumlah peserta rakor usai acara / FOTO: Bashori
Bincang-bincang santai sejumlah peserta rakor usai acara / FOTO: Bashori

Hidayatullah.or.id — Seluruh kader-kader Hidayatullah di lapangan dituntut harus mahir memerankan dirinya sebagai dai tauladan yang baik di masyarakat sekaligus menjadi motor penggerak organisasi. Setiap dai setidaknya harus memiliki agenda dan program dakwah harian sebagai cemeti untuk perbaikan diri dan lingkungan sosialnya.

Demikian disampaikan Ketua Pimpinan wilayah Hidayatullah Sulawesi Barat (PW Hidayatullah Sulbar) Drs. Abu Bakar Muis, dalam temu koordinasi dan silaturrahim awal tahun seluruh Pengurus Daerah (PD) Hidayatullah Sulbar di balai-balai Rumah Adat Mandar tepian pantai Kota Mamuju, Kamis (10/01/2014) kemarin.

Pimpinan Wilayah Hidayatullah Sulbar sengaja mengundang seluruh pengurus daerah pada Kamis (9/1) kemarin untuk mengkordinasikan program dan agenda kerja dalam rangka upaya cerdas dalam memberikan layanan keummatan di masyarakat Sulbar.

“Tugas pokok kita dan prioritasnya di sini adalah perjuangan membangun peradaban Islam baik tingkat pribadi maupun kolektif melalui wadah bernama Hidayatullah. Adapun tugas di unit-unit usaha (milik organisasi-red), itu nilai kehidupan pribadi kita,” terang Abu Bakar Muis mengawali arahannya di depan ketua-ketua penegurus daerah dan wilayah.

Abu Bakar menambahkan, organisasi Hidayatullah adalah sebagai wadah kita dalam mensosialisasikan dan mempraktikkan ajaran agama ke kehidupan pribadi, keluarga, maupun masyarakat luas menuju kehidupan mulia yang diridhai Allah subhanahu wa taala.

“Bukan justeru sebaliknya, merasa telah berbuat banyak ketika memiliki indikator keberhasilan menjalankan amanah di unit-unit usaha. Lembaga kita ini ibaratnya rumah besar, tidak memperhatikan atapnya saja ketika kita diamanahkan memelihara lantai. Jadi jangan timpang, unit usaha harus berbanding lurus dengan maksimalisasi kerja kerja dakwah dan keummatan,” jelasnya.

Kader harus bisa memetakan perkerjaan secara proporsional dan memprioritaskan dakwah. Sebab, kata Abu Bakar, dikhawatirkan kader-kader yang memiliki tugas ganda di unit-unit usaha yang diharap dengan lancarnya sumber ekonomi itu bisa menopang tugas pokok dalam dakwah justeru lupa pada tujuan awalnya.

Untuk itu, Abu Bakar Muis mengatakan pihaknya akan berkomitmen secara bertahap dan berkelanjutan untuk melakukan mapping job deskripsi sesuai potensi agar kader Hidayatullah di wilayah kepemimpinannya dapat berperan maksimal di bidang-bidang masing masing tanpa geran ganda.

“Sehingga agenda dakwah, amal usaha, dan layanan-layanan keummatan yang kita selenggarakan dapat berjalan sinergis, terpadu, dan semata-mata bararus utama kepada penegakan peradaban Islam yang mengistimewakan semua potensi yang ada,” kata Muis.

Bertempat di salah satu balai-balai Rumah Adat Mandar di tepian pantai kota Mamuju, ketua PW Hidayatullah Sulbar juga mengingatkan bahwa keberadaan unit usaha Hidayatullah Sulbar kelak bentukan organisasi agar bisa memudahkan untuk menjalankan misi organisasi.

Mendiami wilayah propinsi Sulawesi Barat yang penduduknya beragama Islam sebesar 83,1% dari total 1.158.336 jiwa adalah tantangan tersendiri bagi Hidayatullah di wilayah ini.
Sebab, dari angka jies tadi tidak otomatis menjadi jumlah muslim yang paham dan mengamalkan ajaran-ajaran agamanya secara utuh. Salah satu faktornya luasnya bentangan wilayah yang terbagi di enam kabupaten, dari kabupaten Polman, Majene, Mamuju, Mamasa, Mamuju Tengah dan Mamuju Utara.

Di enam kabupaten itu hanya tinggal kabupaten Mamasa yang belum terbentuk pengurus daerah Hidayatullah.
Adapun Mamuju Tengah pengurus daerahnya mulai beroperasi sejak awal Oktober tahun 2013 lalu dan memiliki bergainning cukup bagus karena bisa bersinergi dengan pemerintah setempat dan langsung mengembangkan dakwah ke kecamatan-kecamatan.

Secara spesifik kondisi Sulbar menjadi tantangan dakwah bagi kader Hidayatullah. Kader dituntut untuk lebih cermat dan terus membekali diri dengan ilmu-ilmu agama, sembari menguatkan niat untuk tetap terus istiqamah di jalan dakwah ini.

“Karena sambil memberikan pencerahan kepada ummat, dai juga dituntut piawai mengembangkan organisasi Hidayatullah, wadah tempat mengaplikasikan konsep keislaman di setiap kampus-kampus sebagai miniatur peradaban yang dibangun,” tandas Abu Bakar Muis.

_____________
Laporan Muhammad Bashori, kontributor tetap Hidayatullah.or.id wilayah Sulawesi Barat