Beranda blog Halaman 664

Islam Punya Pengaruh Besar di Republik Malawi

0
Umat Muslim di Republik Mawali / ist
Umat Muslim di Republik Mawali / ist

Hidayatullah.or.id — Kerap mendapat perlakuan tidak adil tak lantas membuat Muslim Malawi tak menunjukan prilaku arif dan santun. Sikap ini yang banyak dipuji lantaran layak untuk menjadi contoh kehidupan beragama di Afrika.

“Ketika Islam datang 200 tahun lalu, pengaruhnya luar biasa,” ucap Sheikh Ahmed Chienda, ulama berpengaruh di negara itu seperti dilansir onislam.net, Senin (24/3).

Ahmed mengungkap meski umat Islam merupakan minoritas pengaruhnya telah menyentuh berbagai aspek kehidupan. Ini merupakan fenomena yang menandakan Islam menjadi contoh bagi agama-agama lain. “Islam telah menentukan bagaimana hidup sebagai Muslim. Inilah yang disebut rahmatan lil alamain,” kata dia.

Sebagai minoritas, Muslim Malawi telah melalui masa kelam. Namun, kondisi itu tidak begitu saja membuat pengaruh Muslim terpinggirkan. Misalnya saja, bagaimana sunat kini menjadi praktik umum.

“Agama lain banyak menolak sunat. Nyatanya, melalui sunat kita sudah bisa mencegah penyakiy menular seksual. Ini terobosan yang luar biasa,” kata dia.

Sekjen Dewan Ulama Malawi, Imrah Shareef mengungkap pengaruh yang tak kalah penting adalah ekonomi syariah turut mendorong kemajuan perekonomian Malawi selama setengah abad terakhir. “Umat Islam memiliki andil. Kami menekan angka pengangguran, karena dasarnya kami mempekerjakan individu tanpa melihat latar belakang agama,” kata dia.

Menurut Shareef, jiwa intrepreneurship memang dikedepankan dalam ajaran Islam. Malawi banyak mendapat pengaruh itu.

Kordinator Departemen Halal, Asosiasi Muslim Malawi (MAM), Sheikh Shallim Chikwatu mengatakan konsep halal dalam ajaran Islam juga mendorong terbentuknya standar makanan sehat di Malawi. Mereka yang bergerak dibidang ini umumnya mengalami kesulitan. baru, ketika mereka mengadopsi konsep halal, usaha mereka maju pesat.

“Ini menjadi indikasi jelas, Islam telah menjadi agama berpengaruh di Malawi,” ucap dia.

Pengaruh lain yang tak kalah peting adalah soal tata cara berpakaian. Islam sejak awal mengedepankan bagaimana cara Muslim berpakaian. “Anda tahu, Muslimah Malawi menjadi panutan, karena mereka adalah simbol dari kesopanan,” ucapnya.

Republik Malawi adalah sebuah negara yang terkurung daratan di Afrika bagian selatan. Malawi berbatasan dengan Tanzania di sebelah utara, Zambia di barat laut, dan Mozambik di timur, selatan dan barat. Danau Malawi yang memanjang di sepanjang perbatasan timur Malawi mencakupi seperlima wilayah negara itu.

Asal mula nama Malawi tidak diketahui; nama itu diyakini berasal dari suku di wilayah selatan atau inspirasi dari ‘cahaya matahari yang menyinari danau’ (lihat bendera). (rep/hio)

Hidayatullah Dukung Pedoman Pembangunan Madura Islami

Sejumlah warga melintas di depan Masjid Agung Sumenep yang bergaya arsitektur China, di Sumenep, Jatim. Masjid yang dibangun sejak tahun 1763 M, oleh penembahan Sumolo itu, merupakan salah satu bukti sejarah perkembangan Islam di Madura yang selalu ramai dikunjungi warga terutama saat bulan Ramadhan. ANTARA FOTO/ Saiful Bahri
Sejumlah warga melintas di depan Masjid Agung Sumenep yang bergaya arsitektur China, di Sumenep, Jatim. Masjid yang dibangun sejak tahun 1763 M, oleh penembahan Sumolo itu, merupakan salah satu bukti sejarah perkembangan Islam di Madura yang selalu ramai dikunjungi warga terutama saat bulan Ramadhan. ANTARA FOTO/ Saiful Bahri

Hidayatullah.or.id — Hidayatullah menyatakan mendukung konsep yang disusun oleh MUI Pamekasan tentang pembangunan Kabupaten Madura. Seperti diketahui, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pamekasan, Jawa Timur, membuat buku Pedoman Pembangunan Madura Bernuansa Islami sebagai upaya mempertahankan identitas nilai-nilai keislaman di Pulau Garam itu.

“Ada lima hal yang menjadi pembahasan MUI dalam buku pedoman pembangunan Madura,” kata Bagian Hubungan Masyarakat MUI Pamekasan Azis Maulana, belum lama ini dikutip Republika.

Kelima poin isi buku pedoman Pembangunan Madura Islami yang dibuat MUI Pamekasan itu meliputi pedoman industrialisasi islami, pedoman pengelolaan pendidikan islami, dan pedoman pariwisata islami.

Selanjutnya, pedoman pengembangan budaya islami, dan pedoman hotel islami.
Menurut Azis Maulana, buku itu diluncurkan Minggu (23/2) dlalu i aula SMK Negeri 3 Pamekasan dan dihadiri oleh parwakilan MUI se-Madura, yakni MUI Bangkalan, Sampang dan MUI Sumenep dan wakil ormas-ormas Islam termasuk Hidayatullah.

“Kami berharap buku ini akan menjadi pedoman pembangunan di Madura, sehingga pembangunan di Pulau Garam ini tetap mengacu kepada nilai-nilai keislaman dan tradisi yang berkembang di Madura,” kata Azis Maulana.

Ia menjelaskan, buku akan dikirimkan ke masing-masing pemkab di Pulau Madura dan diharapkan bisa diperhatikan oleh pimpinan daerah sehingga kemajuan pembangunan di Madura nantinya adalah kemajuan yang tetap berpijak pada nilai-nilai religius.

“Dalam artian kemajuan yang dicapai adalah kemajuan yang tetap berpedoman pada nuansa agama,” kata Azis Maulana menjelaskan.

Penyusunan itu, berdasarkan hasil studi banding dan kajian MUI Pamekasan yang dilakukan selama ini.

Buku pedoman sebanyak 92 halaman yang diluncurkan MUI Pamekasan ini menurut Azis Maulana telah disetujui MUI Jawa Timur dan institusi itu mendukung upaya MUI Pamekasan agar tetap melestarikan nilai-nilai ke-Islam-an.

Ormas Islam lainnya seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Al-Irsyad dan Hidayatullah menyambut positif buku pedoman pembangunan Madura Islami yang dibuat MUI Pamekasan itu. (rep/hio)

Silaturrahim Gaya MT Bank Papua di Ponpes Hidayatullah

pengajian mt bank papuaHidayatullah.or.id — Dalam rangka menjalin ukhuwah Islamiyah dan silaturrahim dengan masyarakat, Majelis Ta’lim Bank Papua berkerja sama dengan Pondok Pesantren Hidayatullah dan Laznas BMH Jayapura Mengadakan pengajian secara outdoor di komplek Ponpes Hidayatullah Jayapura, pertengahan Maret ini.

Acara yang berlangsung di ruang terbuka komplek Pondok Pesantren Hidayatulah di bilangan Holtekamp, Distrik Muara Tami, Jayapura, Minggu, 16 Maret 2014, ini dihadiri puluhan jamaah Majelis Taklim Bank Papua dan dipadati oleh warga pesantren dan warga.

Kegiatan berlangsung penuh keakraban dan kehangatan. Pada kesempatan itu Bank Papua menyerahkan uang tunai dan bantuan satu unit wireles kepada Pondok Pesantren Hidayatullah guna menjadi fasilitas internet untuk warga pesantren.

Ketua Majelis Taklim Bank Papua, Muhammad Sanusi, mengatakan bahwa pengajian rutin seperti ini biasanya diadakan pihaknya di kantor alias digelar secara indoor. Namun kali ini mereka menggelar acara ini secara outdorr untuk mendapatkan suasana baru dalam rangka menyegarkan kembali semangat karyawan.

“Kami sangat senang dapat menggelar kegiatan ini, semoga silaturrahim dan hubungan baik ini senantiasa langgeng,” kata Sanusi dalam sambutannya.

Kata Sanusi, kegiatan pengajian dan penyerahan sejumlah tali asih ini bukan pertama kalinya dilakukan pihaknya, sebab pihaknya juga pernah melakukan khitanan massal yang berkerjasama dengan BMH Jayapura.

“Kita berharap kegiatan-kegiatan seperti ini tidak putus disini dan akan berkelanjutan dalam acara-acara berikutnya,” lanjut Sanusi di sela-sela acara.

Sementara itu, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Jayapura, Ustadz Nur Fatahudin Amin mengatakan Hidayatullah khususnya yang berada di Jayapura sangat mengapresiasi peran sosial yang telah dilakukan oleh Bank Papua selama ini. Menurutnya, Majelis Taklim Bank Papua yang juga merupakan bank daerah telah berkontribusi signifikan untuk menunjang aktifitas dakwah dan sosial lembaganya.

“Tentu saja kami selalu menyambut sangat baik gelaran keagamaan yang dirangkai dengan kegiatan sosial edukasi semacam ini. Semoga dapat senantiasa berkesinambungan, Insya Allah,” kata Fatahuddin.

Sebelum pengajian dan silaturahmi ini, Majelis Taklim Bank Papua juga pernah mengadakan Khitanan massal di sini yang berkerjasama dengan Hidayatullah. (Achmad Muslim)

STIKMA Malang Berkomitmen Menjadi PT TI Terdepan

Logo STIKMA Internasional
Logo STIKMA Internasional

Hidayatullah.or.id — Alhamdulillah, Senin (24/3/2014) pagi kemarin bertempat di aula STT STIKMA Internasional Malang, dilakukan serah terima amanah dan pelantikan Ketua STT STIKMA Internasional Malang Periode 2014-2018. Pejabat lama Ir, Abdur Rasyid, MT digantikan oleh Nanang Nur Patria, M.Pd.

Serah terima jabatan ini dipimpin oleh Amun Rowi, MPd selaku Ketua Yayasan Meidia Abyan Lintas Buana, sebagai yayasan penyelenggara STT STIKMA. Disaksikan oleh oleh pembina Pesantren Hidayatullah Surabaya Ustadz Abdurahman dan Ustadz Syamsuddin serta dihadiri oleh Asih Subagyo selaku Dewan Pembina.

Dalam sambutan serah terima, Abdur Rasyid menyampaikan permohonan maaf jika selama memimpin STT STIKMA terdapat kekurangan. Beliau juga menyampaikan bahwa dengan segala kekurangan yang ada STT STIKMA pelan namun pasti sedang menuju perguruan tinggi (PT) berbasis teknologi Informasi (TI) maju dan terdepan.

“Saat ini STIKMA sedang menjalin hubungan dengan industri dan lembaga internasional,” kata Rasyid.

Selain itu, Rasyid juga menyampaikan rasa terimakasih yang tinggi kepada ormas Hidayatullah. Diakui dia, setelah yayasan pendidikan ini diserahkan kepada Hidayatullah, semakin jelas visi dan misinya.

Sementara itu, Nanang Nur Patria sebagai penerima amanah baru meskipun berat, dalam sambutannya mengaku senantiasa akan meneruskan tradisi baik yang dimiliki STIKMA yang selama ini sudah dikerjakan seraya terus melakukan terobosan inovatif untuk kemajuan kampus berbasis teknologi ini.

Tak lupa Patria juga berharap selalu ada arahan dari pembina, dan kerjasama semua pihak, untuk mewujudkan visi dan misi STIKMA Internasional. Nanang yang juga ketua Departemen Pendidikan PW Hidayatullah Jatim ini sangat yakin, bahwa dengan pencapaian yang ada dan kerjasama semua pihak, maka ke depan STT STIKMA akan menjadi PT unggulan dam pilihan.

Selaku Ketua Dewan Pembina, Ustadz Abdurrahman menyampaikan taujihnya, bahwa pergantian amanah kepemimpinan sebagai hal yang biasa. Kedepan, harapnya, STT STIKMA ini harus dibangun secara profesional, dan semua pengabdiannya hanya kepada Allah.

“Dan semua civitas akademika, diharapkan bekerja bukan atas dasar uang, jabatan dan lain-lain. Akan tetapi dengan motivasi yang benar dan kuat, yaitu Iman,” kata Abdurrahman.
Dengan landasan keimanan yang seperti ini serta penguasaan manajerial dan keilmuan yg baik, ditegaskan beliau, maka STT STIKMA akan mampu menjadi PT yang memberi kontribusi bagi tegakknya Peradaban Islam. (ybh/hio)

Seruan Hidayatullah Tentang Kampanye Legislatif

masa kampanye 2014Hidayatullah.or.id – Menghadapi masa kampanye Pemilihan Umum (Pemilu) legislatif tahun 2014 yang telah dimulai sejak Ahad lalu, Hidayatullah menghimbau kepada jamaah dan kadernya agar senantiasa menjaga diri untuk tetap mengedepankan akhlaqul karimah dalam bertutur kata maupun dalam berbuat.

Ketua Dewan Syura Hidayatullah, KH Hamim Thohari, menegaskan bahwa jati diri Hidayatullah adalah gerakan tarbiyah dan da’wah.

Untuk itu, tegas dia, sekretariat, gedung dakwah, dan seluruh sarana dan prasarana pendidikan Hidayatullah harus steril dari lambang dan atribut kampanye.

“Hidayatullah tidak anti politik tapi bukan alat atau obyek politik. Jamaah Hidayatullah tidak boleh buta politik, jika tidak ingin menjadi permainan politik,” tegas Hamim Thohari kepada media ini, Selasa (18/03/2014).

Hamim juga menegaskan bahwa Hidayatullah dalam menghadapi pemilu legislatif ini akan menjaga jarak yang sama dengan partai politik manapun, demikian juga membangun kedekatan yang sama dengan pihak manapun.

“Silaturrahim yang sudah terjalin tidak boleh renggang hanya karena perbedaan partai,” imbuhnya.

Hidayatullah tidak menyerukan golput namun di waktu yang sama tetap menghargai dan menghormati sikap politik untuk tidak memilih tersebut.

Hamim mendorong jamaah dan masyarakat Indonesia yang memilih hak pilih untuk mencoblos partai dan calon-calon legislatif yang mempunyai komitmen untuk memajukan Islam dan mensejahterakan umat.

“Pilihlah yang track-recordnya benar-benar teruji,” tandas Hamim.

Seperti diketahui kampanye legislatif dan partai politik telah dimulai sejak kemarin lusa, Ahad (16/03/2014). Kepolisian mengakui banyaknya pelanggaran yang terjadi.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Rikwanto menuturkan selama kampanye, pihaknya menemukan beberapa pelanggaran lalulintas seperti ada massa yang tidak menggunakan helm meskipun tidak seluruhnya.

Lalu pelanggaran lainnya yakni, iring-iringan dari massa kampanye yang menggunakan roda dua atau empat beberapa diantaranya menutup jalan sehingga menghambat arus lalin.

Rikwanto mengatakan polisi belum memberi sanksi kepada pelanggar tersebut. Tindakan yang dilakukan di lapangan hanyalah berkordinasi dengan pihak yang bertanggung jawab terhadap massa. (ybh/hio)

Kader Hidayatullah Sebagai Perekat Ukhuwah Umat

Indahnya ukhuwah Islamiyah / IST
Indahnya ukhuwah Islamiyah / IST

Hidayatullah.or.id — Hari ini umat Islam butuh sosok kader pembangun bukan kader perusak. Umat Islam merindukan sosok santun yang bisa merekatkan umat, bukan sebaliknya malah memecah belah umat.

Apalah arti ilmu yang banyak jika tidak disertai dengan akhlak mulia. Ilmu itu melahirkan akhlak mulia layaknya buah ranum yang muncul dari pohon yang subur.

Demikian untaian nasihat disampaikan kader senior Hidayatullah, Yusuf Suraji (56), di hadapan warga dan santri Hidayatullah, di Balikpapan, Kaltim, beberapa waktu lalu (14/03/2014).

Menurut Ustadz Yusuf, demikian sapaan akrabnya, cita-cita di atas sejak awal telah ditancapkan oleh Allahuyarham Abdullah Said, pendiri Pesantren Hidayatullah. Dengan semangat yang menggelora, para santri Hidayatullah lalu disebar untuk tugas dakwah, memberi pencerahan kepada umat di seluruh pelosok nusantara.

“Saya sendiri baru tiga bulan nyantri, langsung dapat tugas dakwah juga ketika itu,” ujar pria yang termasuk santri awal Hidayatullah ini mengenang.

Dengan kultur bermasyarakat yang menyatu dalam sebuah kampus, memungkinkan para santri berinteraksi setiap saat dengan para guru dan ustadz. Hal ini, masih menurut Yusuf, adalah kekayaan tersendiri bagi Hidayatullah.

“Santri bisa belajar apa saja dari guru-gurunya. Sebab mereka saban waktu dan tempat bisa bertemu dan berinteraksi langsung satu sama lain,” imbuh Yusuf.

Selain menimba ilmu di kelas, santri Hidayatullah bisa menggali nilai-nilai yang lain dari ustadz-ustadz yang ada. Mulai dari kemuliaan akhlak, etos kerja di lapangan hingga keteladanan dalam perkara ibadah serta spiritual lainnya.

“Ustadz atau guru itu ibarat sekuntum bunga, sedang santri itu seperti lebah,” ucap Yusuf Suraji bertamsil.

Ibarat seekor lebah, tugas seorang santri menyedot sari bunga sebanyak-banyaknya. Sebagai lebah, tentunya ia tidak boleh puas dengan sekuntum bunga saja. Biasanya lebah itu memilih terbang lagi dan mengisap dari kuntum bunga lainnya.

“Jangan sampai ada seorang santri Hidayatullah yang malas belajar atau malas ibadah. Karena itu tidak mencerminkan kader Muslim yang tangguh,” terang Yusuf mengingatkan.

Dalam kesempatan yang sama, Yusuf Suraji juga menceritakan pengalamannya bersilaturahim di beberapa titik dakwah di daerah Papua beberapa waktu lalu. Yusuf mengaku, meski kunjungannya hanya beberapa hari, tapi hal itu sudah cukup untuk melecut kembali ghirah dakwah yang dimilikinya.

“Umat Islam di seluruh penjuru Papua siap menyambut kedatangan kader-kader muda yang militan. Jangan sampai kita yang berada di Kampus Pusat Gunung Tembak ini justru bermalas-malasan seolah tidak ada tantangan dan masalah,” imbuh Yusuf memberi semangat.

Setelah dianggap punya bekal yang cukup, hendaknya santri Hidayatullah bersiap menerima amanah selanjutnya, yaitu tugas berdakwah ke daerah. Layaknya seekor lebah, ia tidak mungkin tinggal di taman bunga saja. Namun ia harus terbang dan pergi ke tempat lain. Menurut Yusuf, inilah ciri kader Hidayatullah, ia pantang menolak tugas dakwah kemanapun itu.

“Sebagai kader, pilihannya cuma satu, sami’na wa atha’na saja. Bukan sami’na wa fikir-fikir dulu,” imbuhnya.

Lewat mimbar podium Masjid Agung ar-Riyadh, Gunung Tembak, Yusuf pun mengingatkan para santri tentang pentingnya mengedepankan akhlak mulia. Seorang da’i bertugas membangun dan mencerahkan umat. Bukan menghakimi atau membuat lari saudaranya. Yusuf bahkan mengungkapkan penyesalannya dalam cara ia berdakwah dahulu.

Ustadz yang tak lain adik kandung dari Allahuyarham Ustadz Hasan Suraji ini mengaku sempat berpaham esktrim dalam berdakwah. “Pokoknya semua orang sesat, semua kafir, dan semua salah,” katanya mengenang.

Namun seiring waktu, Yusuf lalu tersadar. Umat yang didakwahi justru menjauh darinya. Bahkan keluarga sendiri juga ikut memusuhi dirinya ketika itu.

“Puncaknya, saya dibawakan parang oleh saudara saya sendiri. Saya sampai diancam hendak dibunuh. Akhirnya, ibu saya sampai menangis sedih melihat kelakuan saya,” tutur Yusuf mengenang masa mudanya.

Kini, dalam berdakwah Yusuf berusaha mengedepankan ta`lif al-qulub (menjalin hati) terlebih dahulu. Yusuf menyatakan inilah dakwah yang benar sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi dan para sahabatnya ketika itu. Dakwah yang dibangun di atas ilmu dan kesabaran. Dakwah yang memudahkan bukan justru mempersulit.

Terakhir, Yusuf mengingatkan dengan sebuah hadits Nabi, Yassiru wa la tu’assiru, basysyiru wa la tunaffiru. Permudahlah dan jangan mempersulit. Berikanlah kabar gembira dan jangan membuat lari orang lain.*

_________________
Laporan Masykur Suyuthi, kontributor Hidayatullah Media di Balikpapan

Semarak di Rumah Tahfidz Putri Hidayatullah Solo

Matahari pagi berlatar belakang Gunung Lawu menyinari komplek Rumah Tahfidz Putri Hidayatullah Solo / RTQHS
Matahari pagi berlatar belakang Gunung Lawu menyinari komplek Rumah Tahfidz Putri Hidayatullah Solo / RTQHS
Tampak Masjid An Nuur dalam tahap pengerjaan / RTQHS
Tampak Masjid An Nuur dalam tahap pengerjaan / RTQHS

Hidayatullah.or.id — Pagi Subuh (14/3/2014) itu berbeda dengan biasanya. Jum’at pagi nan cerah setelah subuh santriwati mendapat siraman ruhani sekaligus informasi akhir zaman dari kitab Nihayatul ‘Alam karya Syaikh Al ‘Arifi yang di bahas oleh Ustadz Nur Islam. Asatidz dan para santriwati antusias dalam menyimak kajian ini.

Pagi yang sejuk ini semakin tambah bergairah dengan sinar mentari yang baru menyingsing dari peraduannya. Pemandangan ini terasa sangat melapangkan perasaan menjadi lebih tersibak kagum atas kuasa Allah Subhanahu Wata’ala yang Maha Indah.

Dengan latar belakang Gunung Lawu matahari menyapa, menghangatkan penduduk Karanganyar, Solo, dan sekitarnya terlebih kepada Santri Putri Nurul Iman yang sedang libur hari Jum’at. Tapi, tentu saja, para calon hafidzah ini tidak libur menghafal Al Qur’an.

Matahari dan kabut menyatu dalam cahaya ilahi memberi motivasi untuk terus menghafal. Ayat demi ayat sehingga menjadi surat kemudian terangkum dalam setiap Juz diikat dalam sebuah mushaf Al-Qur’an. Membaca dan menghafal di tempat yang paling adem di lokasi itu, Masjid An Nuur.

Kini lembaga pendidikan penghafal Qur’an ini sedang membangun gazebo untuk mendukung suasana nyaman untuk santriwati agar bisa lebih berkonsentrasi dalam menghafal dan mempelajari Al Qur’an.

Dengan adanya gazebo menawan pemberian dari keluarga Prof. Dr.dr. Harjono, S.Pkk, ini menjadikan tempat alternatif untuk santai sambil menghafal Al-Qur’an.

Memang gazebo ini belum sepenuhnya, tapi sudah dapat dimanfaatkan beberapa hari ke depan. Selain itu, geliat pembangunan infrastruktur untuk mendukung kegiatan belajar dan mengajar semakin semarak. Bila kita melihat ke arah timur tampak bangunan asrama yang masih dalam pengerjaan. Ditargetkan pada bulan Juli mendatang sudah bisa ditempati.

Sekedar diketahui, Rumah Tahfidz Putri Nurul Iman Pesantren Hidayatullah adalah lembaga pendidikan Al-Qur’an satu satunya yang berada di daerah perbatasan Surakarta Utara dan Karanganyar Selatan. Secara geografis letak pesantren ini sangat srategis karena dekat dengan Kabupaten dan Kota, selain itu lokasi berdirinya rumah tahfidz ini tidak jauh dari jalan Lingkar Utara Kota Surakarta.

Tujuan didirikan Rumah Tahfidz Putri Nurul Iman Pesantren Hidayatullah ini adalah untuk pendidikan para calon hafidzah lulusan SMP/MTs sederajat atau berumur 13 tahun sapai dengan 20 tahun dan ada keinginan kuat untuk menuntut ilmu terutama menghafal Al-Qur’an 30 juz. Kelulusan para santriwati ini sangat ditentukan oleh hafalan Al-Qur’annya.

Pembangunan Rumah Tahfidz Putri “Nurul Iman” Pesantren Hidayatullah Solo ini memerlukan dukungan dan bantuan dari semua umat Islam di dunia ini. Pembangunan dimulai sejak tanggal 11 Maret 2012, dimana batu pertama telah diletakan oleh Profesor Dr. Hardjono, Sp.KK yang merupakan pewakaf tanah seluas 640 m2 yang terletak di daerah Rejosari RT. 07 RW.10 Desa Plesungan, Kecamatab Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, Solo. (ybh/hio)

Penuhi Kebutuhan Umat, Hidayatullah Hadir di Lahat

Pengurus PW Hidayatullah Sumsel berfoto bersama  Ust. Budiman (2 dari kiri) dan Ust. Nurial (1dari kiri) / QAA
Pengurus PW Hidayatullah Sumsel berfoto bersama
Ust. Budiman (2 dari kiri) dan Ust. Nurial (1dari kiri) / QAA
Peternakan kambing Ponpes Hidayatullah Lahat / QAA
Peternakan kambing Ponpes Hidayatullah Lahat / QAA

Hidayatullah.or.id — Guna memenuhi tuntutan umat akan mendesaknya tenaga dai pengabdi dan lembaga pendidikan berbasis pondok pesantren yang gratis dan berkualitas, Pimpinan Wilayah (PW) Hidayatullah Sumatera Selatan (Sumsel) meresmikan berdirinya Pondok Pesantren Hidayatullah Kabupaten Lahat di provinsi tersebut.

Lahat adalah salah satu kabupaten yang ada di propinsi Sumatera Selatan. Berada di Pegunungan Bukit Barisan dan berbatasan dengan Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu. Di sinilah Pesantren Hidayatullah Sumatera Selatan mulai melebarkan lahan dakwahnya dengan merintis cabang di sini.

Perintisan Pesantren Hidayatullah Cabang Lahat yang dimulai sejak pertengahan 2012 berlokasi di Desa Bintuhan, Kec. Kota Agung dengan luas 2 hektar. Untuk menuju lokasi memakan jarak sejauh 300-an km dari kota Palembang.

Pesantren Hidayatullah Cabang Lahat dirintis oleh Ustadz Budiman Stainhard, Ustadz Syarial, dan Ustadz Nurial. Kini selain telah menyelenggarakan pendidikan non-formal seperti TPA dan pengajaran Al Qur’an metode Grand MBA, ponpes ini juga sudah mulai mendirikan beberapa bangunan.

“Sebagai sumber ekonomi pesantren, saat ini sedang diusahakan peternakan kambing yang dialokasikan di lahan seluas 1/2 hektar,” kata Kepala Departemen Informasi dan Humas PW Hidayatullah Sumsel, Qosim Abu Azyz.

Selain unit peternakan kambing yang dikembangkan, Pesantren Hidayatullah Lahat juga sudah memulai mengadakan pembinaan masyarakat di 5 desa sekitar Pesantren. Pembinaan yang dilakukan di antaranya adalah Pelatihan Dakwah -dalam bentuk Traning Super Life Revolution- yang sudah dilakukan beberapa kali.

Sebagai persiapan tenaga pengelola kedepan, Pesantren Hidayatullah Cabang Lahat sudah mengirimkan santri untuk menuntut ilmu di perguruan tinggi Hidayatullah, seperti ke Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Hidayatullah Batam, Kepulauan Riau. (ybh/hio)

23 Maret TVRI Tayangkan Ponpes Hidayatullah Medan

Suasana saat pengambilan gambar untuk program "Dari Pesantren ke Pesantren" TVRI di Ponpes Hidayatullah Medan / HIDM
Suasana saat pengambilan gambar untuk program “Dari Pesantren ke Pesantren” TVRI di Ponpes Hidayatullah Medan / HIDM

Hidayatullah.or.id — Televisi Republik Indonesia (TVRI) memiliki tayangan yang mendapatkan rating cukup tinggi yang mengulas tentang kilas pesantren di Nusantara dengan nama program “Dari Pesantren ke Pesantren”.

Pondok Pesantren Hidayatullah Medan yang berlokasi di Tanjung Morawa Medan, Sumatera Utara, ini juga mendapat kesempatan tampil dalam program tersebut. Rencananya kilas profil Ponpes Hidayatullah Medan tersebut ditayangkan secara pretime pada tanggal 23 Maret 2014 pukul 04.00 s/d pukul 05.00 WIB.

“Liputan sudah sudah dilakukan oleh TVRI akhir Februari lalu, ditayangkan Maret ini, Insya Allah. Semoga bermanfaat untuk menjalin ukhuwah dan silaturrahim,” kata Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Medan, Ustadz Drs. Choirul Anam, MM, kepada media ini, Senin (17/03/2014).

Diungkapkan Choirul Anam, pada hari Selasa 28 Februari 2014 lalu dia mendadak mendapat telepon dari team liputan TVRI Jakarta.

Dalam pembicaraan via telepon tersebut disampaikan bahwa TVRI hendak meliput kegiatan Pesantren Hidayatullah Tanjung Morawa selama sehari penuh pada hari Rabu besoknya tanggal 29 Februari 2014.
“Alhamdulillah, bagi kami ini merupakan bentuk apresiasi atas kiprah Ponpes Hidayatullah Medan dalam peran aktifnya membangun umat dan bangsa ini di bidang sosial, pendidikan, dan dakwah,” kata Choirul.

Rombongan kru TVRI yang datang malam Rabu jam 12.00 WIB di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah. Mereka adalah Manajer Produksi Ibu Lina dan dua orang lagi dari TVRI Jakarta serta Pak Mulyadi, Pak Junaidi dan Pak Rizal bersama anaknya dari bagian liputan TVRI Medan.

Shooting dimulai jam 03.00 WIB tanggal 29 Februari lalu saat para santri dan warga menjalankan rutinitas shalat lail bersama seterusnya sampai pagi, siang dan sore.

“Alhamdulillah hasil shooting sangat lengkap meskipun ada beberapa keiatan tdk sempat di shooting,” imhuh Choirul.

Choirul menerangkan hasil shooting tersebut akan ditayangkan Insya Allah jika tidak ada perubahan jadwal pada tanggal 23 Maret 2014 ini pukul 04.00 s/d pukul 05.00 WIB dalam acara “Dari Pesantren ke Pesantren“.

Choirul mengajak seluruh santri, para simpatisan dan donatur serta aktivis Hidayatullah jangan sampai ketinggalan menyaksikan tayangan ini. (hm/ybh/hio)

Bersiap Terestrial, KMH Luncurkan Hidayatullah TV

htvHidayatullah.or.id – Kelompok Media Hidayatullah (KMH) Jum’at (14/03/2014) lalu secara resmi meluncurkan kanal informasi Hidayatullah TV atau disingkat H-TV.

Hidayatullah TV atau H-TV adalah salah satu media publikasi yang dimiliki oleh Kelompok Media Hidayatullah (KMH). H-TV memproduksi konten-konten berita dan non-berita dalam bentuk audio – visual, atau dikenal dengan sebutan video.

Selama masa perintisan ini, H-TV akan tayang melalui saluran internet di situs www.hidayatullah.com/. Sebelum diizinkan Allah melakukan siaran penuh seperti layaknya stasiun televisi terestrial ataupun televisi satelit, sajian H-TV baru bisa dinikmati dengan mengklik video-video yang tersaji pada laman tv.hidayatullah.com atau pada http://www.hidayatullah.tv. Pola sajian ini dikenal dengan istilah video on demand atau memutar tayangan sesuai permintaan pemirsa.

Di antara program-program yang telah disiapkan oleh H-TV adalah Liputan Utama, Mutiara Hikmah, Serial Dai, Features dan liputan keumatan lain.

Liputan Utama adalah sebuah paket berita mendalam atau in-depth news yang mengangkat tema-tema penting namun memiliki nilai berita yang tidak cepat basi. Tayangan Liputam Utama akan diperbarui setiap Senin pekan pertama dan ketiga.

Mutiara Hikmah adalah video ceramah singkat dan padat yang berdurasi tidak lebih dari 5 menit. Tema-tema yang diangkat seputar adab, motivasi, dan peringatan akan negeri akhirat. Program ini akan diperbarui setiap hari Selasa pekan kedua dan keempat.

Sajian H-TV juga akan dilengkapi dengan sejumlah fitur interaktif yang berkaitan dengan tema seperti infografis serta berita dan artikel terkait.

H-TV juga tengah menyiapkan program-program menarik lainnya seperti talk-show, profil usaha dan serial dai.

Demikian perkenalan dari kami, selamat menyimak sajian H-TV! Lihat TV openingnya, klik di sini.