Beranda blog Halaman 666

Mulai Tahun Depan Pemerintah Hapus UN bagi Siswa Madrasah

0
Kegiatan di sekolah Madrasah
Kegiatan di sekolah Madrasah

HIDORID — Kementerian Agama mulai 2014, akan menghapus pelaksanaan Ujian Nasional (UN) bagi siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI).

“Pelaksanaan ujian tahap akhir bagi siswa MI diganti dengan ujian Madrasah,” ujar Sekretaris Dirjen Pendidikan Islam Komaruddin Amin, dalam keterangannya di Jakarta, belum lama ini.

Selain itu, kata dia, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama juga mengadakan Apresiasi Pendidikan Islam (API) 2013. Kegiatan tersebut dimaksudkan untuk mengapresiasi pengabdian para pendidik, tokoh pendidik, prestasi peserta didik dan pemerintah daerah yang peduli dengan pendidikan Islam.

“Ini salah satu dari kegiatan dalam mengapresiasi pendidikan di Indonesia,” kata dia.

Apresiasi Pendidikan Islam menurutnya merupakan program tahunan yang diselenggarakan Kemenag, dan sudah diselenggarakan yang keenam kali. Dia berharap, dengan diselenggarakannya acara itu, pendidikan Islam ke depan semakin lebih lagi. Karena peran serta pendidikan Islam mencapai 20 persen dalam pendidikan di Indonesia.

“Peran itu mulai dari Raudhatul Athfal sebanyak 25 ribu lembaga dengan satu juta peserta didik, ada delapan juta siswa madrasah dari Madrasah Ibtidaiyah sampai Aliyah, di Perguruan Tinggi meliputi 720 ribu mahasiswa, ada 76 ribu lembaga diniyah takmiliyah dengan 4,2 juta peserta didik serta 27 ribu pesantren meliputi empat juta santri,” ungkapnya.

Lebih lanjut dia menambahkan, API merupakan kegiatan untuk mengapresiasi pengabdian para pendidik dan tokoh pendidikan, prestasi peserta didik, serta Pemerintah Daerah yang peduli dan komitmen terhadap peningkatan mutu, akses, dan daya saing. API diselenggarakan untuk memberikan penghargaan atas prestasi pendidik dan tokoh pendidikan, serta memotivasi untuk terus berprestasi.

“Kita juga berupaya mendorong agar anggaran pendidikan di Kemenag ditingkatkan sesuai dengan proposinya,” imbuhnya.

Saat ini anggaran yang tersedia baru 8-9 persen atau sebanyak Rp40 triliun. Kemenag berjuang untuk dapat anggaran proposional bekerjasama dengan lembaga internasional. Kegiatan API dijadwalkan digelar pada Jumat, 13 Desember 2013 di sebuah hotel di Jakarta. (kem/hio)

Hidayatullah Medan Training Ratusan Remaja Masjid se-Deli Serdang

0
choirul anam
Ust Choirul Anam (berdiri) saat menyampaikan materi

HIDORID — Dengan melibatkan tokoh masyarakat dan aktivis dakwah, Pondok Pesantren Hidayatullah Medan Sumatera Utara bekerjasama dengan Badan Koordinasi Remaja Masjid (BKRM) Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang menggelar upgrading pemahaman Islam untuk remaja.

Kegiatan yang berlangsung semarak itu digelar dalam rangka upaya membekali para remaja dengan aqidah dan pemahaman moral dalam membendung bahaya narkoba. Helatan ini juga masih dalam suasana memperingati Hari AIDS Se-dunia.

Upgrading Remaja yang diikuti 120 peserta dari seluruh masjid yang ada di Kecamatan Tanjung Morawa ini mengambil tempat Gedung Serbaguna Pondok Pesantren Hidayatullah Medan.

Dalam acara tersebut Ustadz Choirul Anam, Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Medan menyampaikan bahwa, “Dalam rangka menyelamatkan generasi muda dari kepungan budaya yang sungguh sangat merugian masa depan generasi, diperlukan kerja keras dan usaha yang maksimal”.

“Diibaratkan banjir besar dan tsunami Nabi Nuh, maka hari ini kita sedang dilanda banjir bandang lautan pornografi, pornoaksi dan narkoba serta free sex yang menjerat generasi ummat ini kejurang kesengsaraan,” tamsil Ustadz Chorul Anam di hadapan ratusan peserta upgrading beberapa waktu lalu.

Maka, tegas Choirul, perlu dibuat “kapal-kapal” penyelamat yang akan mengangkut dan mengevakuasi generasi ini melalui kampus –kampus Pondok Pesantren Hidayatullah atau paling kurang harus dibuat wadah–wadah kegiatan pembinaan sebagai “sekoci–sekoci” di tengah banjir bandang ini.

Kegiatan ini terselenggara merupakan bagian dari empati kami dari pengelola Pondok Pesantren Hidayatullah Medan dan disokong sepenuhnya oleh jajaran Pengurus BKRM Kecamatan Tanjung Morawa serta partisipasi masyarakat sekitar Pondok dalam membangun karakter mulia umat dan bangsa. (him/hio/ybh)

Hidayatullah Blitar Buka Pendaftaran Santri Tahun Akademik 2014

0
Siswa SD Ya Bunayya Hidayatullah Blitar
Siswa SD Ya Bunayya Hidayatullah Blitar

HIDORID — Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Plosoarang, Sanankulon, Kota Blitar, Jawa Timur, telah membuka pendaftaran peserta didik santri untuk tahun ajaran 2014-2015 sejak bulan September lalu. Pendaftaran ini akan ditutup akhir bulan Desember 2013 ini atau bertepatan dengan dengan akhir tahun masehi.

Pendaftaran peserta didik yang dibuka sejak Bulan September 2013 dan akan ditutup pada akhir bulan Desember 2013 memberikan fasilitas untuk pendaftaran inden berupa gratis seragam olah raga, gratis biaya pendaftaran, dan khusus SD mendapatkan potongan Infaq Pendidikan 50 persen.

Adapun gelombang pendaftarannya adalah Gelombang 1 pada bulan Januari hingga Februari 2014 dan gelombang 2 pada bulan Maret sampai dengan April 2014. Adapun tempat pendaftaran dilakukan di di sekretariat pendaftaran Kampus SD Integral Yaa Bunayya Pesantren Hidayatullah Blitar dengan wakktu hari Senin – Kamis Pukul 07.30 s.d 12.00 WIB
dan hari Jum’at s.d Sabtu Pukul 07.30 s.d 10.30 WIB.

Adapun beberapa syarat pendaftaran adalah mengisi formulir pendaftaran, menyerahkan fotocopy Surat Keterangan Kelulusan(SKK)/Sertifikat Kelulusan 1 lembar, menyerahkan Pas Foto 3×4 Hitam Putih 2 lembar, dan mengisi Blangko Data Siswa dan Melengkapi dengan Akte dan KK. Kontak Person: Ustadz Yusuf 081554485850 dan Ustadzah Uma 085732220609. (Kiriman Hidayatullah Blitar)

Mengaktualisasi Spirit Qur’an: “Kuntum Khairah Ummah”

0
umat terbaik
Menjadi umat terbaik / Ilustrasi

ALLAH Subhanahu Wata’ala berfirman dalam Al-Qur’an, “Sungguh kami telah ciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS. At-Tiin: 4). Jika dibandingkan dengan mahluk Allah Ta’ala yang lain, maka manusia menduduki posisi tertinggi. Sehingga alangkah buruknya jika misalkan posisi tersebut diabaikan oleh manusia.

Setiap manusia pasti punya cita-cita cemerlang untuk menjadi yang terbaik. Namun banyak manusia berlomba-lomba menjadi yang terbaik hanya di hadapan manusia. Padahal tuntutan kita adalah menjadi yang terbaik di hadapan Allah, bukan saja di hadapan manusia.

Ukuran terbaik di hadapan Allah adalah dilihat dari aspek ketaqwaannya, sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah adalah yang paling tinggi ketaqwaannya”.

Semakin manusia itu taqwa dalam arti menjalankan apa yang Allah perintah dan menjauhi apa yang dilarang, maka disitulah puncak kemuliaan manusia. Namun jika sebaliknya, maka manusia tak ubahnya seperti makhluk Allah yang lainya. Yang tak punya otak untuk berfikir dan tak punya hati untuk merasakan. Sehingga kehidupannya kelam dipenuhi dengan kemaksiatan dan bahkan tak kenal rasa malu sedikitpun.

Sedangkan ukuran terbaik di hadapan manusia adalah hanya dilihat dari kacamata dunia, punya uang banyak, jabatan tinggi, istri cantik, dan liburannya ke Eropa. Sehingga pada aspek ini manusia sudah mulai mencoba mencari pengakuan dari masyarakat soal kedudukannya yang tinggi, wibawanya yang besar, dan mungkin ketenaran sehingga ia dapat merasakan kebahagiaan.

Namun ironisnya, ketika banyak orang sudah mencapai tingkatan ini, mereka justru hidup dalam kekhawatiran. Khawatir kedudukannya diduduki orang lain, khawatir hartanya dirampok orang, khawatir dengan segala apa yang dimiliki sehingga akan sangat mudah menjerumuskan manusia pada kehancuran.

Pada tulisan ini penulis akan sedikit memaparkan tentang bagaimana agar kita menjadi khairo ummah atau menjadi umat dan pribadi terbaik yang bermanfaat bagi yang lain.

Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain”. Kita akan tercatat sebagai manusia yang baik apabila keberadaan kita bermanfaat bagi orang lain. Mempunyai sikap ringan tangan, suka menolong, berbagi, bershadaqoh, membantu yang lemah, selalu mengingatkan orang lain pada kebaikan. Sehingga masyarakat akan merasa kehilangan jika kita tidak ada disisi mereka.

Ilmu, harta, jabatan, bahkan kekayaan yang kita punya tidak akan berarti jika kita tidak mampu mengelola dengan baik. Jadikanlah semua itu sebagai investasi kekayaan kita baik di dunia maupun di akhirat, sehingga kelak nanti di akhirat kita layak untuk meminta hak kita sebagai hamba Allah.

Ketika seseorang mencoba menjadikan dirinya bermanfaat bagi orang lain dia akan merasakan indahnya kehidupan ini. Namun yang menyedihkan, kebanyakan manusia tidak sadar akan hal ini. Padahal puncak kebahagiaan itu ketika seseorang dapat bermanfaat bagi dirinya, orang lain, lingkungannya bahkan nusa dan bangsa.

Alkisah, seorang ibu bersedih hati karena persoalan yang ia hadapi. Ia kemudian mendatangi orang bijak untuk mengkonsultasikan seputar permasalahannya, dan mulailah ia bercerita tentang permasalahannya.

Setelah sang ibu bercerita, orang bijak itu bertanya, “Apa yang kurang dari ibu? Ibu mempunyai keluarga yang lengkap, pekerjaan yang berharga, rumah, mobil, harta yang berlimpah yang tidak semua orang memiliki apa yang ibu miliki. Lantas apa yang membuat ibu bersedih?,” lanjut orang bijak itu.

“Saya juga tidak mengerti kenapa saya tidak dapat merasakan kebahagiaan padahal saya sudah mendapatkan segalanya,” jawab ibu itu. Kemudian orang bijak tersebut berkata, “Ibu tidak akan mendapatkan kebahagiaan ketika ibu mencari kebahagiaan, tetapi ibu akan mendapatkan kebahagiaan ketika ibu membagi kebahagiaan itu,” demikian nasehat orang bijak tersebut.

“Maksudnya?,” tanya ibu belum paham betul. “Ibu mencari harta agar ibu bahagia, mencari pangkat agar bahagia, melakukan hal yang menyenangkan agar bahagia, tapi apakah ibu mendapatkan kebahagiaan? Cobalah bagi harta ibu dengan orang-orang yang lebih membutuhkan, dengan mereka yang hidup di pinggir sungai, di pinggir rel, dengan tetangga yang tidak dapat menyekolahkan anaknya, yang kesulitan mencari sesuap nasi, untuk anak jalanan yang seharusnya mempunyai hak sekolah, untuk anak-anak cacat yang membutuhkan penghidupan yang layak. Ketika ibu melakukan hal itu, Insya Allah ibu akan mendapatkan kebahagiaan,” tutur orang bijak itu.

Seminggu kemudian raut wajah ibu itu berubah. Ia merasakan kebahagiaan yang selama ini belum pernah ia rasakan. Ia melakukan semua apa yang telah diberitahukan oleh orang bijak itu. Sungguh benar apa yang dikatakan oleh orang bijak itu:

Anda tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan ketika Anda mencari kebahagiaan, tapi Anda akan mendapatkan kebahagiaan ketika Anda mau membagi kebahagiaan tersebut.

Dari cerita yang saya kutip dari Majalah Gontor di atas, kita bisa mengerti bahwa kebahagiaan dapat dicapai ketika kita dapat bermanfaat untuk orang lain. Kebahagiaan bukan diukur dari harta yang dihasilkan, pangkat yang diduduki, atau prestasi yang diraih, tapi diukur dari seberapa besar kita mau membagi kebahagiaan itu kepada orang lain, yang kita kenal maupun yang tidak kita kenal.

Dalam mahfudzat-nya disebutkan, khoirunnasi ahsanu­hum khuluqon wa anfauhum linnasi. Yang artinya, “Sebaik-baik manusia ialah yang paling baik budi pekertinya dan paling bermanfaat bagi orang lain”. Budi pekerti adalah nilai yang sangat dijunjung dalam masyarakat. Karena itu, untuk menjadi sebaik-baik manusia tidaklah cukup menjadi orang yang paling baik budi pekertinya, tetapi ia juga harus bermanfaat.

Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Dalam Al-Qur’an dijelaskan, “Kalian adalah sebaik-baik ummat yang dilahirkan bagi manusia, kalian menyeru (berbuat ) kebaikan dan mencegah kemungkaran, dan kalian beriman kepada Allah” ( QS. Ali ‘Imran: 110).

Diantara tugas kita selaku hamba Allah (Abdullah) dan pengelola alam (Khalifatullah) di muka bumi ini yaitu senantiasa mengingatkan orang lain agar berbuat baik dan mencegah pada perbuatan mungkar.

Seruan ini sangat penting untuk kita tegakkan sebab ini kaitannya dengan pertama masalah kemaslahatan. Masih banyak masyarakat yang masih membutuhkan pencerahan terkait dengan masalah keagamaan yang mana mereka masih belum tersentuh sama sekali dengan terangnya lampu-lampu keislaman. Masih banyak masyarakat yang belum tahu tentang hukum halal, haram, makruh, mubah dan sunnahnya suatu perbuatan.

Begitu amat pentingnya seruan ini sehingga Allah menggambarkan bagi orang yang tidak menegakkan seruan ini tergolong sebagai orang yang rugi, sebagaiamana firman Allah Ta’ala dalam surah al-Ashr, “Demi masa, sesungguhnya manusia dalam keadaan rugi melainkan bagi orang-orang yang beriman dan beramal shaleh dalan saling mengingatkan pada kebenaran dan saling mengingatkan pada kesabaran”.

Lantas, siapa lagi yang akan mengingatkan? Tentu saja kita yang memegang tanggungjawab amar ma’ruf nahi munkar sebagai juru dakwah yang diamanahi sedikit ilmu oleh Allah Ta’ala. Kita berangkat dari keyakinan bahwa orang yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an, sebagai mana disabdakan Rosulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam dalam hadistnya, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an,” (HR. Bukhari)

Hadist di atas sudah cukup sering kita dengarkan. Semua sepakat. Itulah formula yang dapat mengangkat umat Islam dari ketertinggalannya, dan mengantarkan mereka pada suatu kebangkitan yang didambakannya. Namun pertanyaannya sekarang, sudah seberapa jauhkan umat Islam memahami Al-Qur’an? Dan sudahkah umat Islam mengamalkan Qur’an?

Tanpa pemahaman dan pengalaman yang benar terhadap Al Qur’an, maka label sebaik-baik manusia itu tidak akan berarti apa-apa, kualitas khoiru ummah akan sirna.

Gerbang utama untuk mendapatkan kebahagian dunia dan akhirat adalah dengan ilmu, sedangkan ilmu yang paling utama adalah mempelajari Al-Qur’an dan mempelajari makna-makna yang terkandung di dalam Al-Qur’an, serta mengamalkan ilmu tersebut, bukan hanya hafalan yang kosong dari pemahaman maknanya.

Keutamaan majelis ta’lim Al-Qur’an, dan yang menguatkan hal ini adalah sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam: “Tidaklah suatu kaum berkumpul dalam satu rumah dari rumah-rumah Allah Ta’ala -yang mereka membaca Al-Qur’an dan mengkaji makna-makna di dalamnya di antara sesama mereka-, melainkan akan diturunkan kepada mereka ketenangan dan rahmat yang meliputi mereka, para Malaikat akan menaungi mereka dan Allah Ta’ala akan menyebut nama-nama mereka di sisi-Nya.” (HR. Abu Dawwud, dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu Ta’ala ‘anhu).

Mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya di mesjid-mesjid adalah amalan mutawwatir yang terus diamalkan kaum muslimin dari satu generasi ke generasi lainnya, bersamaan dengan perbedaan zaman-zaman mereka dan berjauhannya kota-kota mereka. Termasuk saksi dari generasi awwal terhadap masalah ini adalah perkataan Suwaid ibni ‘Abdil’Aziiz berikut:

“Adalah dahulu Abu Darda Radhiyallahu Ta’ala ‘anhu jika selesai melaksanakan shalat shubuh di mesjid jami’ Damaskus, beliau mengumpulkan manusia untuk membaca Al-Qur’an.

Maka beliau membuat kelompok-kelompok dengan 10-orang tiap kelompoknya, dan di setiap kelompok tadi ada satu orang yang memimpin, yakni yang paling pandai membaca di kelompok tersebut. Dan sementara beliau berdiri di mihrab dan terus memantau dengan pandangannya.

Maka jika salah seorang di antara mereka salah dalam qira’ahnya, mereka menyerahkan perkaranya kepada pemimpin kelompok tadi, dan apabila si pemimpin kelompok tadi juga jatuh dalam kesalahan, maka mereka menyerahkan perkaranya kepada Abu Darda Radhiyallahu Ta’ala ‘anhu untuk ditanyakan tentang perkara tersebut. Adalah Ibnu ‘Amir, salah seorang pemimpin kelompok yang mempunyai anggota 10-orang tadi”.

Maka ketika Abu Darda Radhiyallahu Ta’ala ‘anhu telah wafat, beliau digantikan oleh Ibnu ‘Amir dalam memimpin tradisi halaqah ta’lim Al-Qur’an itu. Budaya mentadabburi Qur’an ini juga telah diejawantah oleh Pesantren Hidayatullah dengan halaqah rutin setiap ba’da sholat Shubuh, Ashar, dan Isya’ serta program Gerakan Nasional Membaca dan Belajar Al Qur’an (Grand MBA).

Oleh karena itu mari kita jadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi hidup dan kehidupan kita. Raihlah kebahagian hidup dengan Al-Qur’an. Sehingga ketika hidup dan kehidupan kita sejalan dengan rambu-rambu yang ada dalam Al-Qur’an, maka layak bagi kita untuk mendapatkan predikat khairo ummah dan muttaqin. Wallahu a’lam.

____________
KHAIRUL UMAM, penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al-Haqim (STAIL), Pesantren Hidayatullah Kota Surabaya , Jawa Timur.

Budaya Ilmu dan Menulis Senjata Ampuh Dai Melawan Barat

0

menulisHIDORID — Salah satu senjata melawan hegemoni Barat adalah ilmu. Ilmu diperoleh di antaranya dengan banyak membaca. Hasil dari membaca sebaiknya ditransformasi menjadi tulisan.

Demikian salah satu kesimpulan dari kajian pekanan Halaqah Peradaban di Masjid Ummul Quraa, Komplek Pesantren Hidayatullah, Jl Raya Kalimulya, Cilodong, Depok, Jawa Barat, Sabtu, 18 Shafar 1435 H (21/12/2013) usai Shubuh.

Dalam acara yang diisi Ketua Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah Drs Tasyrif Amin ini, menyerukan agar para dai diharapkan tak hanya cakap spiritual. Tapi juga cakap intelektual, termasuk menulis.

Tasyrif mengingatkan para dai untuk memahami Islam seutuhnya. Dari pemahaman inilah yang bisa dijadikan bahan tulisan.

“Pemahamannya dengan zikirnya bisa menjadi sebuah tulisan. Banyak (yang) bisa membaca, tapi tidak bisa menulis,” ujarnya di depan ratusan jamaah.

Menurut Tasyrif, saat ini sudah banyak dai yang telah berkarya lewat tulisan. Namun, kebanyakan masih dalam batas ‘ulumuddin (ilmu-ilmu agama). “Diharapkan ada yang menulis tentang sains,” imbuhnya.

Dikatakan dia, dalam kancah keilmuan, ada perbedaan mendasar antara Islam dengan non-Islam, yaitu sikap mental.

Dalam Islam, kata kunci berilmu adalah tawaddu atas hadirnya wahyu. Sedangkan kunci tegaknya peradaban ada di surat al-’Alaq.

Sehingga, jelas Tasyrif, untuk mencetak kader Islam, metodenya bisa dicontoh dari urut-urutan turunnya wahyu Allah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Dijelaskan, “Iqra’” sebagai wahyu pertama merupakan perintah membaca kepada Muhammad. Inilah unsur keilmuan dalam Islam.

“Kita harus mencetak kader yang ahli baca. Karena tidak mungkin kita bersaing dengan Barat kalau referensi keilmuan kita ini kurang,” imbuh Tasyrif.

Dia mencontohkan, pendiri Hidayatullah Allahuyarham Ustadz Abdullah Said semasa hidupnya sangat aktif menulis. Tulisan di majalah bulanan Suara Hidayatullah saat itu dipenuhi banyak hasil karyanya, yang rata-rata dicetuskan usai shalat lail.

Selain itu, Tasyrif berpendapat, antara intelektual dan spiritual para dai harus berimbang. Sosok dai seperti ini terinspirasi surat al-Qalam sebagai wahyu kedua yang turun.

“Sosok mujahid yang lahir dari al-Qalam (menjadi) pemikir sekaligus ideolog. Apapun yang dipikirkan, dia harus mengantar orang untuk ber-Qur’an,” tandasnya. (Hidayatullah.com)

Take Action! Tabu Bagi Kader Muslim Tidur Pagi sehabis Subuh

0
Shalat shubuh / IST
Shalat shubuh / IST

HIDORID — Ketua Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah Drs Tasyrif Amin meminta para kader Hidayatullah terus membiasakan sunnah Rasul dan menjauhi kebiasaan buruk seperti tidur pagi. Jika tidak, kecirian kadernya telah hilang.

“Kalau ada kader-kader Hidayatullah tidak bangun shalat lail, abis shalat Subuh masuk ke kamar, tidur, (itu) bukan kader,” ujar Tasyrif di Masjid Ummul Quraa, Cilodong, Depok, Jawa Barat, Sabtu, 18 Shafar 1435 H (21/12/2013) lalu.

Seruan ini disampaikan Tasyrif saat mengisi kajian pekanan Halaqah Peradaban gelaran DKM masjid tersebut. Dia mengatakan, sebagai ciri seorang kader, mengamalkan Islam dengan sungguh-sungguh.

Di antara kesungguhan itu, lanjut Tasyrif, kader harus kuat membaca al-Qur’an dan telah berhijrah. Di malam hari dia bangun tahajud, di siang hari belajar.

“Jadikan al-Qur’an sebagai sahabat, teman dialog yang paling akrab. Kalau ‘mendaftar’ jadi mujahid kegiatan pertamanya adalah bangun tahajud. Kalau tidak bisa bangun berarti transaksinya dengan Allah lemah,” tegasnya.

Selain itu, ciri kader Islam juga sungguh-sungguh melakukan transformasi. Kader tidak pernah puas kalau belum mentransformasikan nilai-nilai Islam kepada orang lain.

“Jangan pernah takut karena kita ini membawa wahyu. Jadikan rumah kita sebagai agen perubahan, ‘agen of change’. Paling tidak setiap shalat kita sudah ke masjid,” pesannya.

Minimal bagi seorang dai, ujarnya, mampu mentransformasikan Islam di dalam keluarga, lalu pelan-pelan berdakwah kepada tetangga rumah.* (Hidayatullah.com)

Jusuf Kalla: Pendidikan Berawal dari Ibu

0
Jusuf Kalla
Jusuf Kalla

HIDORID — Bagi Jusuf Kalla, pendidikan secara mendasar berawal dari keluarga. Sosok ibu akan sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang seorang anak sampai ia menjadi dewasa.

“Pendidikan berawal dari rumah atau dari ibu. Itu segala-galanya,” ucap mantan Wakil Presiden itu di sela-sela acara peluncuran novel ‘Athirah’ di Hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Ahad (22/12).

Pria yang akrab disapa JK itu menuturkan, kearifan dan keteladanan seorang ibu akan membentuk karakter seorang anak. Menurutnya, membesarkan anak itu tidak harus dengan kemewahan.

Memberikan contoh keteladanan dan dorongan kepada anak jauh lebih penting dari semuanya. Selain itu, lanjut JK, tentu seorang ibu juga harus mengawasi anak-anaknya.

Ketua Dewan Masjid Indonesia ini menambahkan, cara kehidupan yang sederhana akan jauh lebih baik untuk perkembangan pendidikan anak. “Karena sederhana itu punya kekuatan. Jangan berlebih-lebihan,” katanya.

JK mempersembahkan sebuah novel yang berjudul ‘Athirah’ untuk almarhum ibunya tepat di Hari Ibu 22 Desember. Novel tersebut merupakan kisah ibunda JK bernama Athirah yang dianggapnya sebagai sosok yang sangat berpengaruh di dalam perjalanan hidupnya.

Bagi JK, sosok Ibu Athirah telah memberi nilai-nilai kehidupan dan prinsip-prinsip dalam hidupnya. (ant/hio)

Wilayah Pelosok Semakin Butuh Tenaga Dai, Merancang Dana Dakwah Ormas Islam

0
Muhammad Bashori, dai Hidayatullah di pedalaman Pasangkayu, Sulbar / IST
Muhammad Bashori, dai Hidayatullah di pedalaman Pasangkayu, Sulbar / IST

HIDORID — Ormas Islam berupaya menggalang beragam dana untuk membiayai kegiatan dakwah di pedalaman. Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) saat ini sedang merintis perkebunan sawit. Lahannya mengandalkan wakaf dari masyarakat.

Ketua Umum DDII Syuhada Bahri mengatakan, sudah ada 100 hektare lahan yang dimiliki. “Kami menargetkan 1.000 hektare,” katanya, Rabu (18/12). Mereka yang ingin membantu dapat mewakafkan uang tunai sebesar Rp 56 juta.

Uang sebanyak itu dapat digunakan untuk memperoleh satu hektare lahan perkebunan sawit. Syuhada yakin 1.000 hektare perkebunan sawit kelak terpenuhi. Paling tidak, kata dia, ada 100 ribu dari 250 juta warga Indonesia bersedia mengeluarkan Rp 56 juta hingga Rp 60 juta.

Syuhada mengatakan, dana besar sangat dibutuhkan untuk menggerakkan dakwah di pedalaman. Sayangnya, belum banyak Muslim yang mau membantu optimal gerakan tersebut. Dalam mengatasi kendala dana, selama ini DDII menggandeng pemerintah daerah.

Caranya, Syuhada menjelaskan, DDII ikut membantu melaksanakan program-program pemerintah, khususnya di daerah pedalaman. Meski ada kendala, dia menegaskan bahwa lembaganya tak akan berhenti. “Kendala kami anggap sebagai vitamin,” katanya.

Sudah ada 300 dai DDII yang disebar ke pelosok barat hingga timur pedalaman Indonesia. Ada juga dai yang ditugaskan ke perbatasan Indonesia, seperti Atambua, Merauke, Nias, dan Mentawai. Dalam waktu dekat, 50 dai akan dikirim ke Kepulauan Riau.

Dai di pedalaman tak sekadar mengajarkan Islam. Mereka juga mengembangkan komunitas dakwah mereka. Di antaranya, bertani dan beternak. Masa tugas mereka biasanya dua tahun. Lalu, mereka digantikan rekan lainnya.

Selain itu, Ormas Islam Hidayatullah mengandalkan hasil perniagaan. Terutama, melalui penjualan majalah Suara Hidayatullah. Majalah ini biasanya disebarkan oleh para dai yang bertugas ke daerah atau pedalaman. Ada juga donasi dari umat Islam.

Kepala Bidang Pelayanan Umat Hidayatullah Asrif Amin mengatakan bahwa pemberdayaan dai dilakukan melalui 296 pesantren yang mereka miliki di seluruh Indonesia. Khusus wilayah Papua, Hidayatullah mengirimkan 1.000 dainya ke sana.

Mereka membuat dan mengaktifkan berbagai kegiatan keislaman melalui majelis taklim serta membina mualaf. Konflik internal suku di Papua menjadi kendala dakwah. Moda transportasi antarkota yang harus ditempuh dengan pesawat juga membutuhkan dana besar.

Asrif mengatakan, perkembangan Islam di Papua cukup pesat, tapi jarang diekspose. Dia juga yakin dakwah di Papua semakin besar. “Apalagi, tak ada resistensi dari masyarakat di sana. Ini memudahkan gerak para dai.”

Untuk dapat masuk dan diterima masyarakat, kata Asrif, para dai memulainya dengan mengajarkan keterampilan dasar, seperti membaca dan menulis. Warga yang tersentuh dan terbuka hatinya selama proses belajar itu, kemudian masuk Islam. Baik individu maupun kelompok.

Ketua Umum Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) Satori Ismail mengatakan, saat ini pihaknya kekurangan sumber daya manusia untuk berdakwah ke daerah. Sebab, ada juga kader daerah yang malah bertahan di Jawa setelah selesai mendalami ilmu di perguruan tinggi atau sekolah.

Walaupun masih terkendala pendanaan, kata dia, Ikadi tetap bertekad bisa berdakwah ke seluruh Indonesia. Termasuk, menyebarkan 10 ribu Alquran ke setiap pelosok negeri ini. (Harian Republika, 17/12/2013)

Dukung Kearifan Lokal, Hidayatullah Adakan Pelajaran Membatik

Santri Ponpes Hidayatullah Surabaya membatik
Santri Ponpes Hidayatullah Surabaya membatik

HIDORID — Pondok Pesantren Hidayatullah Kota Surabaya, Jawa Timur, mendorong pelestarian budaya dan kearifan lokal Indonesia khususnya pada batik. Kepedulian Hidayatullah Surabaya itu dibuktikan dengan menyelenggarakan pembelajaran membatik bagi santri SMP di yayasan ini.

Beberapa waktu lalu, puluhan siswa SMP Putri Luqman Al Hakim Hidayatullah Surabaya belajar teknik membatik untuk mencintai budaya dan seni dalam negeri.

Puluhan siswa itu membuat pola di atas kain putih jenis prima. Para siswa tersebut menggambar berbagai jenis bentuk mulai bentuk bunga, bentuk tak beraturan, atau bentuk sesuai kreativitas siswa.

Siswa menuangkan lilin khusus untuk batik yang telah dipanaskan di atas kuali atau wajan, kemudian melekatkannya di atas kain dengan menggunakan canting sesuai dengan alur motif.

Menurut guru SMP Putri Luqman al Hakim Hidayatullah Surabaya, Amin Rahayu, kegiatan ini untuk menanamkan cinta kepada produk dalam negeri.

“Tapi tidak sekadar cinta, lebih jauh hingga tahap proses membuatnya, seperti tahap nglowong, nerusi, dan isen-isen. Untuk membatik, telaten adalah kuncinya. Harus sabar,” katanya.

Mengenalkan seni dan budaya sejak dini merupakan hal yang paling efektif. Seperti kegiatan yang dilakukan SMP Putri Luqman Al Hakim Hidayatullah, Surabaya. Sekitar 20 siswinya dengan semangat mengikuti kegiatan membatik.

Para siswi terlihat serius mengoleskan lilin khusus batik ke kain putih yang diberikan gurunya. Ashari, guru kesenian di SMP Luqman Al Hakim Hidayatullah berharap adanya kegiatan ini, para siswinya dapat mengenal budaya serta mencintai produk dalam negeri.

“Mereka langsung dihadapkan dengan proses membatik, agar mereka lebih cinta terhadap budaya Indonesia,” ujar pria yang juga pimpinan Sanggar Aksara, Rabu (4/5/2011).

Ashari menjelaskan pada siswinya tahap demi tahap dalam membatik. “Pertama, nglowong, nerusi, dan isen-isen,” ujar Ashari di depan siswi-siswinya.

Dirinya juga berpesan pada murid-muridnya bahwa kegiatan membatik adalah kegiatan yang membutuhkan kesabaran. “Selain harus teliti, kreatif juga harus telaten, nah telatenini yang jadi kuncinya. Harus sabar,” tambahnya.

Salah satu siswi, Dila, mengatakan senang mendapat pengenalan tentang batik tulis itu. “Saya jadi mengerti bagaimana alur membuat batik itu,” katanya.

Sementara siswi lainnya, Attaya Salsabila mengaku senang setelah mengikuti kegiatan pengenalan batik tulis. “Saya jadi tahu alur membuat batik yang biasanya saya cuma lihat di butik,” jelasnya.

Beberapa macam motif dituangkan oleh para siswi tersebut, mulai gambar burung, gelas, bunga, serta ada juga yang menggambar nama mereka masing-masing. (ant/hio)

Kemenag Tentukan Persyaratan Dirikan Pondok Pesantren

0
Santri Sekolah Pemimpin Hidayatullah / IST
Santri Sekolah Pemimpin Hidayatullah / IST

HIDORID — Kementerian Agama menentukan persyaratan pendirian pondok pesantren, di antaranya harus punya musholla, ada kiai, dan ada santrinya.

Kabid Pendidikan Islam Kanwil Kemenag Provinsi Bali, Muhammad Soleh mengatakan, syarat tersebut untuk menghindari pendirian pondok pesantren yang hanya ingin mendapatkan bantuan dari pemerintah atau dana dari masyarakat.

“Jangan sampai ada pondok pesantren yang hanya papan nama dan tanpa santri. Karena kita ingin pondok pesantren betul-betul punya nilai keunggulan,” kata Soleh saat memberikan pemaparan pada acara Rapat Koordinasi Pondok Pesantren se-Bali, di Denpasar, belum lama ini (12/12).

Bila perlu, kata Soleh, ponpes harus punya kegiatan khusus untuk melakukan kajian-kajian. Selain itu, kitab kuning yang dibahas atau yang diajarkan kepada para santrinya di ponpes harus jelas.

Soleh berkata, pemerintah tidak menginginkan ponpes hanya punya santri kalong yang sebentar datang mengaji dan setelah itu hilang dan pergi. Sebaliknya yang diinginkan pemerintah adalah adanya santri yang menetap yang memang datang ke ponpes untuk mengaji.

Karenanya, kata dia ponpes harus memiliki asrama dan hal itu semua akan menjadi pertimbangan pemerintah untuk memberikan bantuan. Di Bali terdapat lebih dari 30 pondok pesantren dan sekolah diniyah. Keberadaan ponpok pesantren itu tersebar di delapan kabupaten dan kota Denpasar. Terbanyak terdapat di Kabupaten Jembrana. (rep/hio)