Beranda blog Halaman 683

Keadilan Distribusi dalam Ekonomi Islam

0

ust mananBERBEDA dengan ilmu ekonomi kapitalis dan sosialis, sistem ekonomi Islam memiliki paradigma syariah, yang berarti tidak lagi berorientasi kepada pasar, melainkan berorientasi syariah (hukum) yang bersumber dari al-Qur`an dan Hadits. Jika dilihat dari dasar dan filosofinya, berorientasi kepentingan dunia dan akhirat, karena filosofi tauhid akan menaungi seluruh aktivitas hidup, bukan hanya sebatas aktivitas ekonomi melainkan terintegrasi kepada semua aspek kehidupan: sosial, ekonomi, budaya, politik, hukum, ilmu pengetahuan, teknologi, bahkan tataran spiritual sekalipun.

Jika sistem kapitalisme menonjolkan individualisme dari manusia, dan sosialisme pada kolektivisme, maka Islam menekankan empat sifat sekaligus yaitu: kesatuan (Unity atau Tauhid), keseimbangan atau kesejajaran (Equilibrium atau Al-‘Adl wal Ihsan), kebebasan (Free will atau Ikhtiyar), dan tanggung jawab (Responsibility atau Fardh).

Sistem ekonomi Islam berbeda dari kapitalisme, sosialisme, maupun Negara Kesejahteraan (Welfare State). Berbeda dari kapitalisme karena, pertama, Islam menentang eksploitasi oleh pemilik modal terhadap buruh yang miskin, dan melarang penumpukan kekayaan. Seperti tertulis dalam firman-Nya: “Kecelakaanlah bagi setiap yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung.” (Al-Humazah [104]: 2).

Kedua, kelompok miskin dalam Islam tidak dihujat sebagai kelompok yang malas dan yang tidak suka menabung atau berinvestasi. Ajaran Islam yang paling nyata menjunjung tinggi upaya pemerataan untuk mewujudkan keadilan sosial, seperti yang tercantum dalam al-Qur`an, “Jangan sampai kekayaan hanya beredar dikalangan orang-orang kaya saja di antara kamu.” (Al-Hasyr [59]: 7). Islam berbeda dalam hal kekuasaan negara, yang dalam sosialisme sangat kuat dan menentukan. Kebebasan perorangan yang dinilai tinggi dalam Islam jelas bertentangan dengan ajaran sosialisme.

Ajaran Negara Kesejahteraan (Welfare State), yang berada di tengah-tengah antara kapitalisme dan sosialisme, memang lebih dekat ke ajaran Islam. Bedanya hanyalah, dalam Islam etika benar-benar dijadikan pedoman perilaku ekonomi sedangkan dalam Welfare State tidak demikian, karena etika Welfare State adalah sekuler yang tidak mengarahkan pada “integrasi vertikal” antara aspirasi materi dan spiritual. Jelas, bahwa dalam Islam pemenuhan kebutuhan materil dan spiritual benar-benar dijaga keseimbangannya, dan pengaturan oleh negara, meskipun ada, tidak akan bersifat otoriter.

Manusia sebagai wakil Allah (khalifah) di dunia tidak mungkin bersifat individualistik karena semua (kekayaan) yang ada di bumi adalah milik Allah semata, dan manusia adalah kepercayaannya di bumi. Dari sini, selanjutnya Naqvi merumuskan lima sasaran kebijakan yang ia tarik dari postulat-postulat etika dasar Islam yakni menyangkut kebebasan indiviudu, keadilan distributif, pertumbuhan ekonomi, pendidikan universal, dan peluang kerja maksimum.

Kita membuktikan bahwa sistem ekonomi Islam dapat mengantarkan pada pencapaian pertumbuhan dan keadilan distributif secara simultan sekaligus menjamin kebebasan individu tanpa mengorbankan kebijakan sosial. Dan, di sinilah letak tugas serta kewajiban pemerintah dalam mengalokasikan sumberdaya secara adil dan bijak sebagai upaya menekan terjadinya kegagalan pasar. *

Makna Produktivitas Dalam Kehidupan

0

ust mananDefinisi produktivitas (kerja) telah banyak dikemukakan para ahli atau pakar. Masing-masing pakar memberikan definisi berbeda. Produktivitas kerja menurut Cascio (dalam Almigo, 2004:53) adalah sebagai pengukuran output berupa barang atau jasa dalam hubungannya dengan input yang berupa karyawan, modal, materi atau bahan baku dan peralatan.

Pada hakikatnya produktivitas berkaitan erat dengan kegiatan produksi yang dapat dilaksanakan bila tersedia faktor-faktor produksi: berupa orang/tenaga kerja, uang/dana, dan bahan baku.

Para ahli ekonomi mendefinisikan produksi adalah “menghasilkan kekayaan melalui eksploitasi manusia terhadap sumber-sumber kekayaan lingkungan”. Atau secara konvensional, produksi adalah proses menghasilkan atau menambah nilai guna suatu barang atau jasa dengan menggunakan sumber daya yang ada.

Produksi dalam Islam harus dikendalikan oleh kriteria objektif maupun subjektif. Kriteria objektif tercermin dalam bentuk kesejahteraan yang dapat diukur dari segi uang. Sedangkan kriteria subjektif dalam bentuk kesejahteraan yang dapat diukur dari segi etika ekonomi yang didasarkan atas perintah-perintah al-Qur`an dan as-Sunnah.

Jadi dalam Islam, keberhasilan sebuah sistem ekonomi tidak hanya disandarkan pada segala sesuatu yang bersifat materi. Tapi setiap aktivitas ekonomi termasuk produksi bisa menerapkan nilai-nilai, norma, etika, atau dengan kata lain akhlak yang baik dalam berproduksi. Sehingga tujuan kemaslahatan umum bisa tercapai dengan aktivitas produksi yang sempurna.

Produksi dalam pandangan ekonomi Islam harus mengacu pada nilai utility dan masih dalam bingkai nilai halal serta tidak membahayakan bagi diri seseorang ataupun sekelompok masyarakat. Dalam hal ini, produksi merupakan refleksi yang mengacu pada surah al-Baqarah [2] ayat  219, yang menjelaskan tentang pertanyaan manfaat (memproduksi) minuman keras (khamr).

Ekonomi Islam memahami produksi itu sebagai sesuatu yang mubah dan jelas berdasarkan as-Sunnah.  Sebab, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah membuat mimbar. Dari Sahal berkata, “Rasulullah telah mengutus kepada seorang wanita, (kata beliau): ‘Perintahkan anakmu si tukang kayu itu untuk membuatkan sandaran tempat dudukku, sehingga aku bisa duduk di atasnya.” (Riwayat Imam Bukhari). Pada masa Rasulullah SAW, orang-orang biasa memproduksi barang, dan beliau pun mendiamkan aktivitas mereka. Sehingga diamnya beliau menunjukkan adanya pengakuan (taqrir) terhadap aktivitas berproduksi mereka.

Ajaran Islam melihat bahwa proses produksi dapat menjangkau makna yang lebih luas, tidak hanya pencapaian aspek yang bersifat materi (dunia) tapi juga bersifat ruhani (akhirat).

Mengapa penting melakukan produksi? Pertama, produksi menentukan kemakmuran suatu bangsa dan taraf hidup manusia. Al-Qur`an telah meletakkan landasan yang jelas tentang produksi yaitu diperintahkannya bekerja keras dalam mencari kehidupan. Kedua, Allah Ta’ala telah menganugerahkan alam semesta untuk kesejahteraan manusia. Ketiga, aktivitas kerja manusia dalam melakukan produksi sebagai dasar berjalannya roda perekonomian.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz dalam masa dua tahun mampu  memakmurkan masyarakatnya melalui upaya produksi. Semua faktor produksi menjadi produktif sehingga terjadi full employment.  Inilah makna produktivitas yang dipesan oleh ajaran Islam. *

BERITA FOTO: Silatnas Juni Mendatang, Hidayatullah Gunung Tembak Benah-benah

0

Jelang acara Silaturrahim Akbar sekaligus Milad ke-40 ormas Hidayatullah pada bulan Juni mendatang, Pesantren Hidayatullah Pusat Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur, sebagai tuan rumah hajatan ini, terus bersiap menyambut tamu dengan berbenah-benah.

Ketua Steering Committe Tasyrif Amin mengatakan acara yang akan digelar selama 5 hari yakni dari tanggal 20 hingga 24 Juni di Kampus Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, ini diisi dengan berbagai kegiatan acara.

Ivent Silatnas dan Milad 40 tahun Hidayatullah Juni mendatang ini mengangkat tema besar yaitu “Bersama Da’i Mewujudkan Indonesia Maju Bermartabat”.

Adapun untuk pemetaan kesiapan akomodasi, Tasyrif menjelaskan, panitia akan menyiapkan tempat Istirahat peserta yakni Guest House utama untuk tamu khusus 50 orang, ruang laboratorium 50 orang, lantai bawah masjid 200 orang, gedung MI 200 orang, pendopo atau asrama santri dengan kapasitas 500 orang.

Selain itu, akan disiapkan juga Rusunawa berkapasitas 500 orang, Gedung Tsanawiyah 300 orang, Gedung Aliyah 300 orang, ada juga 10 unit tenda TNI untuk 500 orang. Kesiapan akomodasi tempat sedikitnya dapat menampung sebanyak peserta 2500 orang.

Adapun tempat acara shalat jama’ah dan halaqah dipusatkan di masjid Ar-Riyadh dengan kapasitas 2500 jama’ah, acara formal dipusatkan di lapangan dengan pasilitas tenda/kursi kapasitas 5000 orang yang terbuka untuk umum, ruang pameran dan pasar murah dikonsentrasikan di 10 unit tenda ekspo, tersebar di sekitar lapangan olahraga, warung murah meriah (makanan khas kafilah) akan disebar sepanjang perlintasan Danau Gunung Tembak.

 

Reporter: Yacong B. Halike
Editor: Andi Maringngerang

 

Jelang Silatnas Hidayatullah 1 Jelang Silatnas Hidayatullah 2 Jelang Silatnas Hidayatullah 3 Jelang Silatnas Hidayatullah 4 Jelang Silatnas Hidayatullah 5 Jelang Silatnas Hidayatullah 6 Jelang Silatnas Hidayatullah 7 Jelang Silatnas Hidayatullah 8 Jelang Silatnas Hidayatullah 9

BERITA FOTO: Sekilas Pandang Pesantren Hidayatullah Kuaro

0

Hidayatullah Paser 1 Hidayatullah Paser 2 Hidayatullah Paser 3 Hidayatullah Paser 4 Hidayatullah Paser 5Berikut ini foto-foto keseharian di Pondok Pesantren Hidayatullah Kuaro, Jl Ahmad Yani, Kecamatan Kuaro, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Tampak di sana Masjid As-Salam Pondok Pesantren Hidayatullah Kuaro, yang saat ini sedang dalam tahap pembangunan kembali berupa renovasi struktur dan perluasan.

Tampak juga gedung sekolah tempat di mana para santri menuntut ilmu. Serta papan nama pondok yang selalu menyambut tamu-tamu yang hadir.

 

 

Memilih Sistem Ekonomi Manusiawi

0

ust mananTERDAPAT tiga sistem ekonomi yang berkompetisi di dunia, yaitu sistem ekonomi sosialis, sistem ekonomi kapitalis, dan sistem ekonomi Islam. Masing-masing sistem ini mempunyai karakteristik.

Pertama, sistem ekonomi sosialis atau komunis. Dalam paham ini negara ikut campur secara dominan. Akibatnya, tidak adanya kebebasan dalam melakukan aktivitas ekonomi bagi individu. Semuanya untuk kepentingan bersama, sehingga tidak diakuinya kepemilikan pribadi.

Kedua, sistem ekonomi kapitalis. Pada sistem ini negara tidak mempunyai peranan utama. Menganut sistem mekanisme pasar. Yang menjadi cita-cita utamanya adalah pertumbuhan ekonomi, sehingga setiap individu dapat melakukan kegiatan ekonomi dengan diakuinya kepemilikan pribadi.

Ketiga, sistem ekonomi Islam. Sistem ekonomi Islam hadir jauh lebih dahulu dari kedua sistem sosialis dan kapitalis yaitu pada abad ke-6, sedangkan kapitalis abad ke-17, dan sosialis abad ke-18. Dalam sistem ekonomi Islam, yang ditekankan adalah terciptanya pemerataan distribusi pendapatan, seperti terecantum dalam al-Qur`an surah Al-Hasyr ayat 7.

Menurut Syaikh Yusuf Qaradhawi sistem ekonomi Islam tidak berbeda dengan sistem ekonomi lainnya, dari segi bentuk, cabang, rincian, dan cara pengaplikasian yang beraneka ragam. Tapi menyangkut gambaran pokok-pokok petunjuk, kaidah-kaidah pasti, arahan-arahan prinsip yang juga mencakup sebagian cabang penting yang bersifat spesifik ada perbedaannya.

Hal yang berbeda dengan sistem ekonomi lainnya terletak pada aturan moral atau etika. Aturan yang dibentuk dalam ekonomi Islam bersumber pada kerangka konseptual masyarakat dalam hubungannya dengan Allah Ta’ala, kehidupan sesama manusia, sesama makhluk dan tujuan akhir manusia.

Jika berbicara tentang nilai dan etika dalam ekonomi Islam, terdapat empat nilai utama yaitu Rabbaniyyah, Akhlak, Kemanusiaan, dan Keseimbangan. Nilai-nilai ini menggambarkan keunikan yang utama bagi ekonomi Islam, bahkan dalam kenyataannya merupakan kekhasan yang bersifat menyeluruh yang berlandaskan ajaran Islam.

Ekonomi Rabbaniyyah bermakna ekonomi Islam sebagai ekonomi Ilahiah. Seorang Muslim ketika bekerja, ataupun lainnya adalah dalam rangka beribadah kepada-Nya. Ketika menikmati berbagai harta yang halal, kita sadar itu sebagai rezeki dari Allah. Seorang Muslim tunduk kepada aturan Allah, tidak akan berusaha dengan sesuatu yang haram.

Ekonomi Akhlak, dalam hal ini tidak adanya pemisahan antara kegiatan ekonomi dengan akhlak. Islam tidak mengizinkan umatnya mendahulukan kepentingan ekonomi di atas pemeliharaan nilai dan keutamaan yang diajarkan agama. Kegiatan yang berkatian dengan akhlak terdapat pada langkah-langkah ekonomi, baik yang berkaitan dengan produksi, distribusi, dan konsumsi.

Ekonomi Kemanusiaan, merupakan kegiatan ekonomi yang tujuan utamanya adalah merealisasikan kehidupan yang baik bagi umat manusia dengan segala unsur dan pilarnya. Nilai kemanusaian terhimpun dalam ekonomi Islam seperti nilai kemerdekaan dan keadilan, persaudaraan, saling mencintai, dan saling tolong-menolong.

Ekonomi Keseimbangan. Keseimbangan yang adil merupakan ruh dari ekonomi Islam. Dan ruh ini merupakan perbedaan yang sangat jelas dengan sistem ekonomi lainnya.

Dengan demikian karakteristik ekonomi Islam bersumber pada Islam itu sendiri yang meliputi aqidah, akhlak, dan hukum. Kini, perlu digali konsepnya untuk menata ulang kehidupan umat manusia.

Sekali Lagi, Tidak Cukup Hanya Sekolah!

0

TIDAK lama lagi sekolah di Indonesia akan menerapkan kurikulum baru. Kurikulum yang dinilai banyak pihak tidak begitu penting untuk diimplementasikan. Berbagai pihak memberikan respon kritis terhadap rencana perubahan kurikulum tahun ini.

Satu di antaranya adalah seorang Pakar pendidikan dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Daniel Mohammad Rosyid. Ia mengatakan bahwa perubahan kurikulum tahun ini justru hanya menghasilkan generasi tukang.

Demikian disampaikannya dalam Diskusi Publik Kurikulum 2013 Menjawab Tantangan Generasi Emas 2045 di Ruang KK II DPR RI, Jakarta, Senin (18/2/2013).

Menurutnya, perubahan kurikulum saat ini hanya akan membawa kemunduran menuju pada abad 17-18 yang kala itu tengah masuk masa industrialisasi. Hal itu tidak lain karena kurikulum 2013 terlalu ilmiah, sehingga lebih mengedepankan materi Matematika dan Sains.

Padahal, lanjut dosen yang cukup akrab dengan para aktivis muda di Surabaya itu, agar generasi muda dapat memiliki kompetensi seimbang, kurikulum membutuhkan banyak sentuhan artistik yang tidak hanya mengandalkan wawasan ilmiah saja.

Kegagalan Sekolah

Jauh sebelum Daniel Mohammad Rosyid mengatakan hal itu terhadap kurikulum 2013. Lawrence Ellison CEO dari Oracle yang merupakan orang kedua terkaya dunia, telah menegaskan bahwa dunia pendidikan modern hanya akan melahirkan generasi pecundang.

Berdiri di hadapan wisudawan sarjana Yale University pada September tahun 2000, Lawrence Ellison mengatakan begini;

“Berdiri di hadapan Anda semua hari ini, saya tidak melihat harapan yang cerah untuk hari esok. Saya tidak melihat ribuan calon pemimpin di berbagai industri. Bahkan saya melihat ribuan pecundang. Anda bertanya-tanya, “Masih adakah harapan untukku?” Sayang sekali, tidak. Sudah terlambat!

Karena itu, saya hanya ingin memberi harapan kepada adik angkatan Anda, saya katakan: Keluarlah!. Kemasi barang-barang dan isi benakmu, dan jangan kembali. Keluar sekarang dan mulai bisnis sendiri. Topi dan toga yang kamu kenakan hanya memberi beban yang terus membuatmu tersuruk-suruk……”

Ungkapan spektakuler Ellison tersebut terangkum di dalam buku berjudul “Sekolah Saja Tidak Cukup” diterbitkan Kompas Gramedia yang ditulis oleh Andrias Harefa.

Senada dengan Lawrence, Roger Konopasek, masih dari sumber yang sama, juga mengungkapkan ihwal yang sepenarian. Motivator yang juga pengusaha dan penulis buku bestseller itu mengatakan;

“Anda pernah menghadiri reuni sekolah? Setelah sekian lama tak bertemu, menarik sekali mendapati bahwa orang-orang yang tak terlalu sukses di kelas justru lebih sukses dalam hidup.

Mereka datang dengan pesawat kelas satu atau mengendarai sedan mewah, sementara jago-jago kelas datang dengan tiket kelas ekonomi atau mobil keluarga dan mengeluhkan sakit pinggangnya. Prestasi akademik hanya baik di kelas, tetapi bisa amat merugikan untuk berlaga dalam kehidupan nyata”.

Ungkapan seperti itu juga muncul dari Dirjen Dikti, Prof. Dr. Djoko Suyanto. Dalam pemaparan ilmiahnya di STEKPI Kalibata Jakarta, yang kebetulan saya hadir di sana, mantan rektor ITB itu mengatakan bahwa bangsa ini telah mengalami kekeliruan yang tidak sepantasnya.

Hal itu disampaikannya terkait dengan sosialisasi program Dikti yang mewajibkan syarat lulus untuk calon sarjana S1 harus menulis jurnal yang dimuat dalam jurnal nasional yang terakreditasi.

Menurutnya saat ini sangat banyak sekali orang bergelar akademik yang cukup panjang, baik di depan mau pun di belakang namanya, tetapi mereka tidak mampu menelurkan karya. “Mau berkarya apa, menulis saja tidak bisa,” jelasnya.

Tetapi, mendidik sarjana mulai dari S1 hingga S3 hanya sekedar mampu menulis juga bukan solusi yang mampu menyentuh akar masalah bangsa. Tentu masih banyak fakta yang memberikan bukti bahwa sistem pendidikan sekarang mendesak untuk dievaluasi dan dibenahi.

Terlebih jika kita merenungkan ungkapan Prof. Dr. Winarno Surakhmad yang dikutip harian Kompas, 3/2/2000; “Apakah sumbangan pendidikan sejauh ini? Nihil. …Sekarang ini hampir tidak ada sisa pengaruh yang menunjukkan bahwa bangsa ini telah [pernah] besar atau dibesarkan oleh pendidikan di masa lalu”.

Jadi, semua pihak memang harus mengakui bahwa pendidikan kita masih belum berhasil untuk melahirkan manusia-manusia berdaya dobrak kuat untuk sebuah perubahan yang signifikan, utamanya dalam mengatasi problem kebangsaan saat ini dan masa mendatang.

Ungkapan Daniel Mohammad Rosyid bahwa kurikulum 2013 akan melahirkan generasi tukang layak direnungkan dan ditindaklanjuti.

Karena faktanya, penentu anak lulus sekolah hanyalah selembar kertas jawaban yang tidak mewakili apapun, selain kognisi yang masih absurd. Absurd karena dalam praktiknya, sudah bukan rahasia, kunci jawaban telah bocor lebih dulu. Sampai-sampai UN harus dijaga ketat polisi.

Tak Sekolah Tapi Berkiprah

Tetapi, apakah iya semua yang lulus sekolah tidak berguna? Tentu tidak! Masih ada, untuk menyebut di antaranya ada Hamid Fahmi Zarkasy, Marco Kusumawijaya, Ridwan Kamil, Rhenal Kasali, dan yang lainnya.

Tentu perlu dicatat, mereka bisa lain dari yang umum, lebih karena motivasi belajarnya yang memang didedikasikan untuk kemaslahatan bangsa. Tidak saja itu, mereka belajar sangat luar biasa, meski tanpa apresiasi manusia.

Meskipun demikian, dalam perjalanan hidup saya, ada juga orang yang tidak lulus kuliah, tetapi kecanggihan berpikirnya tidak kalah dengan professor.

Satu di antaranya adalah Mas Suharsono. Sekalipun tidak melanjutkan kuliahnya di Teknik Sipil UGM, beliau kini tetap produktif dengan menjadi seorang pemikir yang konsen dalam masalah peradaban. Dr. Fuad Rumi di Makassar, Dr. Adian Husaini, termasuk orang yang pernah menjadi partnernya dalam diskusi-diskusi peradaban di tanah air dan mengakui, buku terbaru Mas Suharsono sebagai buku yang layak didiskusikan para pemerhati peradaban.

Temasuk Abdullah Said, aktivis PII era 70-an di Makassar itu sungguh sangat luar biasa. Di usia remaja dia sudah menjadi khatib di berbagai masjid di Makassar. Bahkan ketika kuliah, ia malah justru berhenti. “Bukan sombong, tapi apa yang diajarkan di kuliah, saya sudah baca semua ketika belum kuliah,” ungkapnya.

Artinya Abdullah Said yang kemudian mendirikan Pesantren Hidayatullah di Balikpapan Kalimantan Timur itu adalah sosok pembelajar yang sangat kuat. Kegemarannya terhadap ilmu membuatnya begitu asyik membaca, menulis. Atas dasar itu, muncul ide untuk membangun media Islam.

Akhirnya berdirilah Majalah Hidayatullah yang oplahnya sempat mencapai angka 80.000 eksemplar per bulannya. Dan, kini, kader-kadernya mampu mengembangkan media cetak itu menuju media online yang menjadi berita Islam rujukan tanah air,www.hidayatullah.com.

Amin Rais menyebut Abdullah Said sebagai manusia kerja bukan manusia teori. Talk less do more, mungkin itu yang dimaksud mantan ketua umum PP Muhammadiyah itu.

Mereka yang tidak sekolah, namun tulus berkiprah untuk rakyat pada akhirnya akan memberikan manfaat yang sangat luar biasa. Bahkan, sekalipun tidak sekolah, mereka tidak bisa dikalahkan tradisi belajarnya.

Jadi, sangat heran jika kemudian ada remaja berseragam sekolah, tetapi belajar malas, disiplin pun tidak. Bagi mereka yang bermental seperti itu, maka sekolah bukan tempat yang baik untuk perkembangan mereka, karena sekolah hanya akan menjadi tempat bersarangnya para penganggur terselubung.

Namun demikian, sekolah harus berbenah, menteri harus berkiprah, dan seluruh rakyat Indonesia harus bermujahadah (bersungguh-sungguh) untuk melakukan perubahan dan perbaikan. Dan, itu dapat diwujudkan manakala motivasi tinggi bersarang dalam hati. Seperti mereka yang tak kuliah atau DO dari kuliah, tetapi berpikir berkiprah untuk maslahah.

Jika kurikulum 2013 dinilai masih belum tepat, maka pemerintah harus berlapang dada untuk buka hati, buka telinga. Pengalaman membuktikan bahwa sekolah memang belum berhasil, maka dari itu, jangan tergesa-gesa untuk menerapkannya.

Bangsa dan negara kita membutuhkan dosen, guru dan pelajar yang siap berkiprah di tengah masyarakat demi kemajuan dan kejayaan bangsa dan negara. Bukan dosen, guru, dan pelajar yang senang duduk di balik meja belaka. Apalagi hanya menghafal ayat dan undang-undang, kemudian fokus mendapat sertifikasi, sementara hatinya tak peduli nasib sekitarnya.

IMAM NAWAWI, tulisan ini telah dimuat juga di www.kaltimtoday.com. Penulis adalah santri Hidayatullah, perintis Kelompok Studi Islam (KSI) Loa Kulu, serta mantan perintis dan ketua Pengurus Daerah Pelajar Islam Indonesia (PII), Kutai Kartanegara, Kaltim.

Ikhlas itu Berat, Maka Teruslah Berusaha!

0

IKHLAS adalah tingkatan amal yang tertinggi dan pasti diterima oleh Allah Subhana Wata’ala. Meskipun beramal ibadah seribu tahun, berinfaq milyaran rupiah, berbuat baik dengan jutaan orang tapi ada sedikit kurang ikhlas maka amal tersebut menjadi debu yang berterbangan. Sia-sia akhirnya.

Manusia yang ikhlas adalah manusia pilihan dan sedikit jumlahnya. Karena tidak mudah memiliki rasa dan jiwa ikhlas itu. Syetan dan nafsu dalam diri selalu mengganggu untuk menggerogoti amal-amal kebaikan untuk tidak ikhlas.

Ikhlas adalah keharusan dari sebuah amal. Sebab Allah tidak menerima amal yang ada kepentingan lain, interest pribadi atau maksud-maksud tertentu. Kepentingan, interest dan maksud-maksud tertentu menjadikan amal tidak bernilai di hadapan Allah Subhana Wata’ala

Realita dalam kehidupan di dunia ini memang tidak mudah untuk ikhlas. Contoh untuk beribadah shalat wajib maupun sunnah, ketika berangkat sebelum adzan berkumandang dan belum banyak jamaah lain yang datang sehingga bisa duduk di shaf depan maka seringkali ada bisikan “bahwa diri ini shaleh dan hebat.” Padahal sudah paham bahwa shalat ini bukan untuk manusia tapi beribadah karena Allah Subhana Wata’ala.

Ketika berdoa terkesan serius dan khusyu’ tapi sebenarnya bukan semata-mata yakin kepada Allah Subhana Wata’ala tapi ada kepentingan agar permohonannya dipenuhi. Sehingga kalau tidak ada kepentingan maka juga melupakan doa atau tidak serius untuk bermunajat kepada Allah Subhana Wata’ala.

Kemudian saat beramal sholeh dan bersungguh-sungguh mengerjakannya tapi tidak ada apresiasi bahkan ada komentar negatif. Maka hati ini seringkali belum bisa menerimanya dengan lapang. Terkadang malah berfikir negatif dengan menyebut tidak adil terhadap orang tersebut (orang yang berkomentar). Padahal kalau ikhlas tentu mendapatkan kritik dan celaan adalah masukan berharga untuk meningkatkan kualitas amal kita.

Sebaliknya ada rasa puas dan lega ketika ada pujian dan sanjungan terhadap amal sholeh yang telah kita kerjakan. Ada yang parah dengan menyengaja untuk dilihat dan dipuji orang banyak. Ini tentu rasa-rasa yang menunjukkan kualitas jiwa beramal yang belum ikhlas.

Ikhlas mudah diucapkan, dijelaskan, diceramahkan dan ditulis untuk disampaikan kepada orang lain. Pendefinisiannya juga mudah dipahami. Tapi beratnya untuk mencapai derajat taqwa yang hakiki dan murni karena Allah Subhana Wata’ala.

Jika bukan karena Allah Subhana Wata’ala dan bantuan Allah Subhana Wata’ala rasanya tidak mungkin jiwa ini bisa ikhlas. Kalau hanya mengandalkan ilmu, umur, pengalaman maka sulit beramal dengan ikhlas.

Ada rasa kegetiran juga membayangkan kesia-siaan amal ibadah dan amal sholeh yang telah susah payah dilakukan selama ini. Tiba-tiba tertolak dan tidak diterima sedikitpun oleh Allah. Semoga kekhawatiran ini mengantar jiwa untuk terus berusaha dan berdoa untuk bisa menjadi orang-orang ikhlas. Aamiiin yaa Robbal ‘Aalamiiin. *Abdul Ghofar Hadi, S.Sos.I, M.S.I (Ketua STIS Hidayatullah)

Benar Menggali Paradigma Dasar Ekonomi

0

abdul mannanGLOBALISASI membuat semakin terintegrasinya kehidupan sosial ekonomi sebuah negara ke dalam kehidupan dunia. Pengertian ini, paling tidak, membawa tiga konsekuensi.

Konsekuensi pertama, yaitu terjadinya interaksi yang lebih intensif antara berbagai negara bangsa di dunia. Kedua, munculnya peningkatan saling ketergantungan dan saling keterpengaruhan aktor-aktor politik dalam arena global; dan, ketiga, lahirnya proses peningkatan internasionalisasi berbagai peristiwa.

Globalisasi tidak hanya berdimensi ekonomi. Ia terjadi secara simultan dalam bidang sosial, politik, dan budaya.

Ia terlihat dalam bentuk jumlah imigrasi, aktivitas wisata, jenis hiburan, strategi politik global, dan sebagainya. Semuanya itu terjadi dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidup umat manusia.

Pengaruh ekonomi global terhadap kehidupan berbangsa sangat besar. Ia mampu mengubah sendi-sendi kehidupan bangsa. Lihatlah, beberapa pengerahan massa yang berkemampuan menumbangkan kekuasaan, misalnya; peristiwa yang terjadi di Tunisia, Mesir, Libya,  Yaman, atau di Syria.

Begitu pula ambruknya ekonomi di negara eropa. Ajaibnya, Amerika juga oleng. Dan, keolengan ekonomi Amerika pasti diikuti oleh negara sekutunya; Inggris dan Australia.

Kecenderungan globalisasi akan merupakan gambaran umum aktivitas ekonomi dalam milenium ketiga. Kecenderungan tersebut mempersyaratkan perubahan pada tataran implementatif dalam format ekonomi baru.

Dus, format ekonomi baru tersebut harus memuat distribusi kewenangan yang adil antara negara dengan publik.

Intervensi pemerintah telah menjadi fenomena umum dalam pembangunan ekonomi terutama di negara-negara berkembang. Intervensi yang melebihi kapasitas ternyata telah mendorong terjadinya distorsi ekonomi.

Distorsi itu karena kecenderungan tersebut diikuti oleh moralitas yang lemah dari pelaku-pelaku ekonomi yang telah berubah menjadi rezim ekonomi yang serakah dan tidak efisien.

Oleh sebab itu, paradigma baru seyogyanya memposisikan intervensi pemerintah sebagai faktor pendorong efisiensi perekonomian bilamana proses pengalokasian sumberdaya, dalam beberapa hal, tidak mungkin diserahkan kepada mekanisme pasar.

Dengan demikian, maka, peran pemerintah harus dapat dilihat sebagai komplemen dari mekanisme pasar. Dan untuk menuju peran yang lebih efektif, maka perlu dukungan kerangka hukum (regulatory framework) dan institusi hukum yang amanah.

Lebih relavan bila mengurut perbaikan kinerja perekonomian bermula dari penyelenggaraan proses pembelajaran ekonomi, khususnya di fakultas ekonomi, muatan moral harus merupakan bagian terpenting dari proses pembelajaran tersebut.

Pembelajaran ilmu ekonomi selama ini lebih mengarah kepada masalah-masalah teknis, sebagai bagian dari tuntutan pragmatis dan bernuansa jangka pendek, ternyata hanya menciptakan manusia-manusia yang terampil, tapi lemah dalam social responsibility, dan malahan memperlemah eksistensi ilmu ekonomi dalam mengatasi masalah yang terjadi dalam masyarakat.

Perubahan pembelajaran harus dimulai pada dua titik strategis, yakni kurikulum dan kinerja pengajar.

Muatan moral dalam kurikulum secara praktis dapat dilakukan dengan opsi, pertama, masukan mata kuliah komparasi filsafat ekonomi Islam dan konvensional sebagai mata kuliah mandiri. Kedua, masukan materi filosofis ekonomi dalam setiap analisis kasus ekonomi, dan, ketiga, masukan materi kuliah ekonomi Islam sebagai solusi paradigma ekonomi konvensional.*

Meluruskan Tafsir “Karakter” Versi Ki Hadjar Dewantara

0

DALAM beberapa buku karya Ki Hadjar Dewantara tidak dijumpai istilah “karakter”, dengan makna “akhlaq” dalam Islam. Tapi, secara implisit istilah itu muncul dalam berbagai buku karangannya dengan istilah “budi pekerti”.

Oleh Ki Hadjar, budi pekerti diletakkan sebagai jiwa atau ruh dari pengajarananya. Sebab, menurutnya, pengajaran dan budi pekerti ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Pengajaran atau pendidikan berarti menuntun tumbuhnya budi pekerti dalam hidup anak didik supaya mereka kelak menjadi manusia berpribadi yang beradab dan susila. (Ki Hadjar Dewantara, Bagian Pertama (Pendidikan), Yogyakarta: Majlis Luhur Tamansiswa, 1967).

Budi pekerti menurut Ki Hadjar bukan sekedar konsep teoritis sebagaimana yang dipahami masyarakat pada umumnya. Pengajaran budi pekerti juga bukan berarti mengajar teori tentang baik buruk, benar salah dan seterusnya; bukan pula pengajaran dalam bentuk pemberian kuliah atau ceramah tentang hidup kejiwaan atau peri-keadaban manusia dan atau keharusan memberi keterangan-keterangan tentang budi pekerti secara luas dan mendalam.

Pengajaran budi pekerti, tegas Ki Hadjar, diterapkan untuk menyokong perkembangan hidup anak-anak, menuju ke arah peradaban dalam sifatnya yang umum, seperti mengajarkan anak bagaimana duduk yang baik, tidak berteriak-teriak agar tidak mengganggu orang lain, bersih badan dan pakaian, hormat terhadap ibu bapak dan orang lain, suka menolong dan lain sebagainya. (Abuddin Nata, Tokoh-tokoh Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2005).

Ki Hadjar yang dikenal sebagai tokoh pendidikan mengharapkan, anak-anak didik hendaknya diberikan anjuran-anjuran untuk melakukan pelbagai laku yang baik dengan cara disengaja. Dengan begitu maka syarat pendidikan budi pekerti yang dahulu biasa saja disebut metode menyadari, menginsyafi dan melakukan, atau ngerti, ngerasa dan ngelakoni (“tri-nga”) dapat terpenuhi. (Ki Hadjar Dewantara, Karya Ki Hadjar Dewantara Bagian A (Kebudayaan), Yogyakarta: Tamansiswa, 1967)

Ki Hadjar menghendaki budi pekerti yang bersifat terintegrasi dengan pengajaran pada setiap bidang studi. Dengan kata lain, Ki Hadjar menginginkan bahwa pada setiap pengajaran bidang studi apapun harus mengintegrasikannya dengan pendidikan budi pekerti, dan tidak berhenti pada pengajaran mata pelajaran tersebut semata-mata. Baginya pengajaran adalah alat bukan tujuan.

Pengajaran matematika misalnya adalah alat untuk menghasilkan anak yang memiliki keterampilan dalam memahami dan mempraktikkan rumusan hitungan secara tepat dan akurat. Namun bersamaan dengan itu pengajaran matematika tersebut harus diarahkan pada menghasilkan manusia yang dapat bersikap teliti, cermat, kerja teratur dan jujur. (Abuddin Nata, Tokoh-tokoh Pembaruan, Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2005).

Budi pekerti — dalam implementasi di Perguruan Tamansiswa — bertujuan agar anak-anak didik dapat kemajuan alam hidupnya lahir dan batin menuju ke arah adab kemanusiaan. Budi pekerti di sini juga tidak hanya menghendaki pembentukan intelek, tetapi menghendaki juga pendidikan dalam arti pemeliharaan dan pelatihan susila (budi), karena menurut Ki Hadjar, adab atau keluhuran budi manusia itu menunjukkan sifat batinnya manusia, sedangkan kesusilaan atau kehalusan itu menunjukkan sifat hidup lahiriyah manusia yang serba halus dan indah.

Ki Hadjar menyatakan, “Bahwa budi pekerti seseorang itu dapat mewujudkan sifat batinnya seseorang dengan pasti dan tetap”. Ki Hadjar juga menegaskan, “Bahwa tidak ada dua budi pekerti orang yang sama, meskipun sama dua roman wajah seseorang, tidaklah sama kedua budi pekertinya”. (Abdurrahman Surjomiharjo, Ki Hajar Dewantara dan Taman Siswa dalam Sejarah Indonesia Modern, Yogyakarta: Sinar Harapan, 1986).

Ki Hadjar pun berpendapat bahwa pendidikan budi pekerti harus mempergunakan syarat-syarat yang selaras dengan jiwa kebangsaan menuju kepada kesucian, ketertiban dan kedamaian lahir batin. Menyimak gagasan dan pemikirannya tentang pendidikan budi pekerti, terlihat dengan jelas, konsep budi pekerti Ki Hadjar diarahkan pada pembentukan karakter bangsa yang sesuai dengan nilai-nilai budaya bangsa yang universal. (Ki Hadjar Dewantara, Asas-asas dan Dasar-dasar Tamansiswa, Yogyakarta: Tamansiswa, 1964)

Pendidikan Adab

Sebagai ajaran yang berdasarkan pada wahyu Allah, Islam tidak menolak nilai-nilai universal yang baik. Tetapi, Islam meletakkan sifat-sifat baik seperti: jujur, sopan dan toleransi semuanya dalam bingkai dan dasar keimanan, bukan sekedar “rasa kemanusiaan” semata yang lepas dari nilai-nilai Islam.

Seorang muslim diajarkan untuk jujur, bukan karena kemanfaatan sifat jujur semata, tetapi karena jujur itu perintah Allah Swt. Sebagaimana diungkapkan Adian Husaini, bahwa semua aktifitas kemanusiaan baik berupa amal shaleh, akhlak, maupun nilai-nilai kebajikan lainnya seperti jujur, kebersihan, dan kerja keras, harus dilandasi dan dalam bingkai keimanan. Jika amal shaleh atau sifat kemanusiaan tidak dilandasi dengan keimanan, maka perbuatan itu akan menjadi berbahaya bahkan melanggar batas-batas ketentuan Allah Swt”.(Adian Husaini, Pendidikan Islam Membentuk Manusia berkarakter dan Beradab, Jakarta: Cakrawala, 2013).

Dalam perspektif Islam, hubungan antara iman dan budi pekerti adalah hubungan yang tidak bisa dilepaskan, karena iman merupakan sumber akhlak yang luhur. Akhlak inilah yang pada gilirannya menuntun manusia untuk menemukan kebenaran dan hakikat sesuatu.

Sedangkan ilmu menuntun manusia untuk menjadi manusia yang beradab. Hal ini sejalan dengan misi kerasulan Nabi Muhammad Saw. yaitu untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. (M. Athiyah al-Abrasyi, Prinsip-prinsip Dasar Pendidikan Islam, Bandung: Pustaka Setia, 2003).

Jadi, dalam perspektif Islam, pemikiran Ki Hadjar tentang pendidikan budi pekerti, perlu dilandasi keimanan, bukan berdasarkan budaya semata. Dan semua aktivitas yang berpijak pada dasar keimanan akan mendatangkan hasil yang lebih berkualitas, lahir maupun bathin, lantaran iman merupakan hubungan antara hamba dan Sang Khaliq. (Abdurrahman al-Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat, Jakarta: GIP, 2005).

Dengan demikian, menurut penulis, gagasan Ki Hadjar, agar lebih efektif dan “selamat”, maka pendidikan budi pekerti ini perlu didasarkan pada unsur-unsur ketauhidan, sehingga makin selaras dengan tujuan Pendidikan Nasional yang bertujuan meningkatkan iman dan takwa, sesuai UU Sisdiknas No 20 (Pasal 3) tahun 2003. “Budi pekerti” yang tidak dilandasi keimanan, berpotensi menyimpang dari ajaran Tuhan dan merusak esensi kemanusiaan.

Allah SWT misalnya menggariskan, hanya boleh tolong menolong dalam kebaikan. Maka toleransi bisa dilakukan, tetapi tidak untuk kemusyrikan dan kejahatan. Cinta kasih sesama manusia perlu dibatasi dengan pijakan iman. Tidak boleh misalnya menikah sesama jenis, meski berdasar kasih sayang antar sesama. Maka, idealnya semboyan Pendidikan Nasional kita diubah menjadi: “Iman, Ilmu, Amal”. Bukan sekedar: tut wuri handayani. (***) Ditulis oleh Muthoifin

Muthoifin, penulis adalah guru madrasah di Pondok Pesantren Hidayatullah, Solo, Jawa Tengah

Lemahnya Kontrol Sosial

0

Di kampung dulu, jika ada laki-laki berkunjung ke rumah seorang perempuan malam hari maka tidak menunggu waktu lama untuk digerebek oleh orang-orang kampung. Kemudian saat ada kegiatan gotong royong maka semua orang kampung wajib berpartisipasi jika jarang hadir maka ada teguran atau hukuman pengucilan. Itulah bentuk kontrol sosial di masyarakat yang sangat ketat.

Namun untuk era sekarang ini, ada anak perempuan yang pacaran sampai larut malam bahkan hamil sebelum menikah maka tidak ada lagi rasa malu dan masyarakat juga tidak peduli. Masyarakat terjerumus dalam egoisme dan cuek terhadap sesama. Inilah kontrol sosial yang rendah di masyarakat.

Kontrol sosial adalah pilar yang sangat penting untuk membangun masyarakat. Kepedulian untuk sekedar menegur orang lain, tetangga, saudara ketika terjadi hal-hal yang bersifat mungkar. Jika kepedulian dari hati saja tidak muncul maka sulit untuk bisa memikirkan atau memprogram terhadap pembinaan masyarakat.

Memang sekarang ini untuk kontrol sosial yang tingkat sederhana saja sangat berat. Ada rasa tidak enak, malu, takut menyinggung, tidak mau terganggu hubungan dan takut marah. Sehingga alasan-alasan tersebut menyebabkan orang sekarang enggan dan segan untuk sekedar bertanya kepada saudara atau temannya jika dia berbuat kesalahan.

Saat penulis masih kecil, ada asumsi, persepsi dan begitu penjelasan yang sering terdengar dari orang tua, guru dan tetangga bahwa orang-orang kota itu cuek, egois dan tidak peduli dengan orang lain. Mereka hidup di balik bangunan-bangunan tinggi yang dikelilingi pagar-pagar besi lengkap dengan anjing penunggunya. Banyak diantara masing-masing tetangga tidak saling mengenal. Kerja bakti dan piket malam diganti dengan membayar uang atau pembantunya. Kegiatan-kegiatan sosial kebersamaan juga bisa mereka beli dengan uang karena ada urusan pribadinya.

Namun untuk sekarang ini bukan hanya orang kota, orang kampung, pedesaan dan pegunungan juga hampir seperti orang kota yang tidak mau-mau tahu terhadap masalah orang lain. Entah ini pengaruh tehnologi informasi dan komunikasi yang semakin canggih atau memang zamannya sudah berubah seperti itu.

Orang yang berusaha menegakkan kontrol sosial malah dianggap aneh, kolot, kurang kerjaan dan sok suci. Ini resiko orang yang mau tegakkan kontrol sosial, bahkan mendapat cibiran, cemoohan, kebencian dan permusuhan dari orang-orangg di sekitarnya.

Sehingga semakin sedikit dan semakin takut orang untuk peduli dengan kontrol sosial. Padahal ini basis kehidupan bangsa ini yang terbangun dengan kultur untuk sosial yang sangat tinggi dengan kepedulian sosialnya.

Bisa diprediksi kerusakan masyarakat dari pribadi-pribadi yang rusak menjalar kepada keluarga dan temannya sehingga secara masif menjadi menjadi kerusakan sosial di masyarakat luas. Bangsa ini harus diselamatkan dengan kontrol sosial yang kuat di antara para pribadi, keluarga di masyarakat. Wallahu a’lam

 *oleh Abdul Ghofar Hadi, S.Sos.I, M.S.I (Ketua STIS Hidayatullah)