Beranda blog Halaman 700

Meninggalkan Bangku Kuliah (Kelahiran dan Masa Remaja)

0

Ust Abdullah Sa'idLulus dari sekolah lanjutan PGA Neg. 6 tahun juga dengan nilai tinggi. Sehingga mendapat tugas belajar[9] ke IAIN[10](Institut Agama Islam Negeri) Alauddin Makassar. Hanya satu tahun mengikuti kuliah lalu berhenti. Dia merasa tidak ada tambahan ilmu yang berarti yang didapat selama kuliah. Semua materi kuliah yang diberikan dosennya telah dibacanya. Akhirnya dia menarik kesimpulan bahwa kalau duduk beberapa tahun di bangku kuliah cukup menyita banyak waktu dan energi, sementara hasilnya jauh tidak seimbang dengan apa yang telah dikorbankan. Kalau sekedar untuk mendapatkan predikat sarjana bukan itu yang dia perlukan. Walaupun pada waktu itu titel sarjana sangat mahal, bisa membuat orang besar kepala. Menurut dia lebih tepat kalau aktif di organisasi, giat berda’wah dan gencar membaca. Itulah yang menjadi alasannya sehingga meninggalkan bangku kuliah.

Ketika dia telah menjadi pimpinan pesantren yang telah memiliki cabang di seluruh Indonesia, sering dia mengungkapkan bahwa, “Seandainya saya dulu meneruskan kuliah sampai sarjana, paling banter hanya menjadi kepala kantor Departemen Agama di Sulawesi Selatan, iutpun kalau memenangkan pertarungan, bergelut dengan urusan yang bertentangan dengan hati nurani, sebagaimana yang sering diungkapkan rekan-rekan bekas teman sekolahnya yang menduduki jabatan itu.

Terusik juga perasaannya kalau teman-teman sekuliahnya menganggap dia sombong tidak mau mengikuti kuliah karena telah mengetahui apa yang dikuliahkan oleh dosen-dosen. Tapi karena dia memiliki pandangan sendiri terhadap dunia perkuliahan yang banyak sekali menyia-nyiakan waktu berbincang ngalor ngidul antara teman-teman mahasiswa dan mahasiswi yang tidak ada hubungannya dengan perkuliahan, bahkan terkadang mengarah kepada hal-hal yang sebenarnya sangat tidak wajar dibicarakan. Apalagi sebagai mahasiswa-mahasiswi yang menyandang predikat mahasiswa-mahasiswi Islam.  Sehingga dia berfkir untuk amannya dia memilih berhenti dari kegiatan kuliah dari pada setiap hari menderita batin.

Dia merasakan apa yang diperolehnya selama ini lewat organisasi, membaca buku-buku, mengikuti ceramah-ceramah di mesjid dan belajar langsung kepada ulama-ulama serta berkutat dalam dunia da’wah, lebih banyak dari apa yang diperoleh lewat bangku kuliah. Apalagi kalau dosennya hanya menggunakan gaya diktator alias membuat dan menjual diktat.

[9] Bea siswa menurut istilah sekarang.
[10] Universitas Islam Negeri (UIN) sekarang.

Bintang Kelas (Kelahiran dan Masa Remaja)

0

Ust Abdullah Sa'idSetelah pindah ke Makassar, Muhsin Kahar meneruskan sekolahnya di kota itu. Ia diterima duduk di Kelas IV Sekolah Rakyat  No 30. Dijalaninya hingga tahun 1958. Di SR ini dia selalu menjadi bintang kelas karena menguasai seluruh mata pelajaran termasuk pelajaran menggambar. Padahal semestinya murid-murid yang berada di kota lebih unggul dibanding murid-murid  dari pedalaman karena pelajarannya lebih teratur dan lebih tinggi materinya. Tapi kenyataannya tidak demikian. Murid-murid yang lahir dan besar di kota dikalahkannya semua. Dia pernah mengangkat nama sekolahnya karena ketika diadakan pertandingan menggambar antar sekolah dasar se Kota Besar Makassar (KBM), hasil coretannya dinilai terbaik. Dia juga sering di tugaskan oleh gurunya menyalin pelajaran di papan tulis karena tulisannya sangat bagus.
Ketika mengikuti ujian akhir Sekolah Rakyat dia mendapatkan nilai tertinggi. Sehingga sangat memungkinkan memilih sekolah favorit. Dia tidak memilih sekolah umum tapi mengincer sekolah agama yakni Pendidikan Guru Agama Negeri 6 Tahun (PGAN 6 tahun).  Dia memilih sekolah ini untuk melanjutkan pendidikannya karena disamping mempelajari agama juga termasuk sekolah yang sangat didambakan waktu itu. Karena tamatan sekolah ini tidak perlu lagi melamar kerja, langsung ditempatkan. Sekolah ini satu-satunya Pendidikan Guru Agama milik pemerintah di kawasan Indonesia Timur.

Satu kebanggaan tersendiri kalau dapat lolos masuk ke sekolah ini karena yang diterima hanya murid-murid yang berprestasi dan lulus test dilengkapi surat keterangan dokter. Disektor lain  sangat menguntungkan terutama bagi orang-orang yang tidak mampu dari segi pembiayaan seperti dia.  Karena siswa-siswa di sekolah ini setiap bulannya menerima tunjangan ikatan dinas (siswa-siswa menyingkatkannya dengan sebutan ID). Dia sangat senang karena dengan diterimanya di sekolah ini, sedikit dapat meringankan beban orang tua untuk pembiayaan sekolah.

Di sekolah ini dia juga selalu menjadi bintang kelas dan terkenal sebagai siswa yang pandai pidato. Disamping itu dia juga selalu menjadi ketua kelas hingga kelas VI. Dalam pertemuan-pertemuan selalu dia dipercayakan memimpin.  Memang sejak duduk di bangku PGAN 6 tahun itu dia sudah dikenal sebagai siswa yang berpengetahuan luas. Mungkin karena kerajinannnya membaca. Tunjangan ID-nya setiap bulan memang hampir tidak ada yang tersisa, semua dibelikan buku-buku. Tidak seperti teman-temannya  yang menjadi prioritas  adalah pakaian untuk penampilan. Maklum di sekolah itu bercampur antara cowok dengan cewek.

Ceweknya rata-rata cantik-cantik dan manis-manis. Muhsin Kahar sangat kurang perhatiannya kepada pakaian. Sehingga sering dia dengan tidak malu-malu menggunakan sarung ke sekolah kalau celananya sedang dicuci dan belum sempat kering. Dia juga akrab dengan kopiah hitam di kepalanya. Teman-temannya sering ketawa sinis melihatnya, karena tidak lazim, tapi dia cuek saja termasuk terhadap cewek-cewek manis. Karena tidak ada juga teman wanitanya yang akrab. Dia tidak pusing dengan kesinisan teman-temannya. Soalnya gurunya diam-diam saja menyaksikan keanehan itu. Mungkin karena dia termasuk siswa yang sangat berprestasi dari segi pelajaran dan sektor-sektor lain. Lagi pula peraturan tentang pakaian waktu itu belum seketat sekarang.

Hal lain yang menyenangkan dia belajar di sekolah ini karena dapat berkenalan dengan siswa-siswa yang berasal dari beberapa daerah seperti Ternate, Manado, Gorontalo, Sangir Talaud, Sulawesi Tenggara dan siswa-siswa yang berasal dari Sulawesi Selatan sendiri.

Pindah Ke Makasar (Kelahiran dan Masa Remaja)

0

Ust Abdullah Sa'idAgak berat juga rasanya  meninggalkan kampung halaman yang telah membesarkannya itu. Betapapun bersahajanya kampung itu namun baginya banyak kenangan indah yang tidak mudah dilupakan. Letak desanya yang ada pada ketinggian dengan pepohonan yang rimbun selalu mengalirkan kesejukan. Apalagi jika memandang hamparan pulau-pulau di perairan Teluk Bone, memberi energi tersendiri dalam jiwanya.
Sulit terlupakan manis dan lezatnya pao apang[3]. Ada juga penjang, jenis ikan teri benang, halus berwarna putih, munculnya hanya sekali dalam setahun. Biasanya dipanggang dengan menggunakan daun pisang sebagai pembungkus. Makannya dicampur dengan garam, cuka atau jeruk nipis dan lombok. Sedap sekali. Juga ikan teri basah yang direbus pakai asam dicampur dengan biji jampu sereng (jambu monyet) yang masih muda, teramat sedap dijadikan lauk. Juga buah yang disebut coppeng ( jamblang, jambu keling), jampu salo’ (jambu air) dan jambu biji yang semuanya mudah diperoleh tanpa harus mengeluarkan uang.

Apalagi kakeknya (ayah dari ibunya) yang dikenal dengan panggilan Emme. Nama sebenarnya adalah Puang Adang sangat rajin berkebun. Pribadinya sangat menarik. Banyak sekali buah-buahan dalam kebunnya. Orang kampung mengenalnya sebagai orang tua yang rajin berzikir. Pada waktu mencangkul atau menyabit rumput dia lakukan sambil berzikir, kedengaran bergumam dari jauh. Tidak pernah mau menjual hasil kebunnya. Kalau hasil kebunnya dicuri orang lalu ada yang melaporkan kepadanya, Puang Emme hanya ketawa sambil menjawab, “Makessinni tu ko iyatona mmalangi alena, nasaba nakko iya’ malangngi, depa nattentu napujina”[4]..   Dan masih banyak lagi kenangan yang mengandung nilai nostalgik yang sangat sulit dilupakan. Juga kehidupan orang desa yang diwarnai keramahan, gotong royong dan persaudaraan yang kental yang sulit ditemukan pada kehidupan masyarakat kota.

Kini dia harus berangkat meninggalkan kampung yang telah memberinya warna hidup baik fisik maupun jiwa, menuju kota Makassar, 227 Km dari kampungnya. Sebuah kota besar yang sudah lama dikenal namanya namun belum pernah hidup didalamnya. Informasi yang sering didengarnya bahwa kehidupan perkotaan adalah cenderung kejam. Tapi dibalik itu sering pula menangkap cerita bahwa di kota besar juga kita dapat menjadi orang besar, sesuatu yang dicita-citakannya.

Memprihatinkan, memang, kehidupan yang dijalaninya pada waktu bermula tiba di Ibu Kota Propinsi Sulawesi[5]. Apa boleh buat terpaksa harus dijalaninya. Maklum orang tua tidak punya pekerjaan yang dapat mendatangkan uang. Tetapi karena orang tuanya seorang ulama yang kharismatik sehingga anggota masyarakat di lingkungan yang dia tempati yang kebanyakan berasal dari kampungnya, Sinjai, sehingga sang ayah ditempatkan secara proporsional.

Di Kampung Malimongan Baru (Jalan Pong Tiku dan sekitarnya sekarang) dipercayakan mengimami sebuah mesjid yang dikenal dengan nama Mesjid Lailatul Qadri sambil memberi tuntunan agama di mesjid itu. Lewat kegiatan ini keperluan hidup agak teratasi namun sangat jauh dari cukup. Untung sang Ibu sangat giat mencari nafkah untuk membiayai anak-anak yang sekolah. Baru anak yang tertua, Djunaid Kahar yang telah berumah tangga. Tapi belum sanggup juga membantu. Apalagi di rumah yang ditempati itu ternyata banyak juga keluarga yang nebeng. Keluarga dari kampung yang belum mempunyai pekerjaan tetap dan belum memiliki rumah tempat tinggal. Rumah ini dijadikan tempat transit sambil mencari lowongan kerja.

Ada keluarga dekat yang bernama Haji Muhiddin, yang lebih populer dikalangan keluarga dengan panggilan Tuang Muhidding. Jabatannya lumayan tinggi sebagai Menteri Kejaksaan Negara Indonesia Timur (NIT), cukup berjasa menampung beberapa orang keluarga bekerja di Kejaksaan.

Pemandangan baru yang dia saksikan yang sangat tidak mengenakkan perasaannya di Makassar adalah seringnya ada orang yang mabuk-mabukan dengan teriakan-teriakan yang tidak sedap didengar telinga. Mereka berkumpul di satu tempat yang disebut lontang[6].  Ditempat itu mereka minum ballo[7] beramai-ramai sambil makan baluta[8], atau ikan, ayam atau bebek yang dipanggang. Sering juga terjadi perkelahian antara kelompok anak muda yang hanya disebabkan karena persoalan sepele, karena ketersinggungan perasaan atau karena persoalan perempuan, dll. Semuanya tidak pernah disaksikan dikampungnya.

[3] Jenis mangga yang manis sekali, ukuran buahnya sedang, jarang terdapat di daerah lain.
[4] Bhs Bugis Sinjai artinya: Bagus sekali kalau dia sendiri yang ambil untuk dirinya  karena sudah pasti   dia senangi, kalau saya yang beri belum tentu dia menyenanginya.
[5] Waktu itu Sulawesi belum terbagi-bagi atas beberapa Propinsi seperti sekarang.
[6] Bahasa Makassar artinya tempat menjual dan minum minuman keras.
[7]Bahasa Mks yang berarti arak. Kalau arak yang dibuat  dari beras yang difermentasi bernama ballo ase. Yang diambil dari nira  aren bernama ballo inru. Dan yang diambil dari nira nipah disebut ballo  nipa.
[8] Bahasa Makassar yang berarti marus, yakni darah kental yang direbus dan diberi rempah,        
   makanan haram ini sangat disenangi karena mirip hati.

Kelahiran dan Masa Remaja

0

Ust Abdullah Sa'idMuhsin Kahar dilahirkan tepat pada hari proklamasi kemerdekaan R.I. Jum’at, 17 Agustus 1945 di sebuah desa bernama Lamatti Rilau, salah satu desa dalam wilayah Kecamatan Sinjai Utara Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Letaknya berada pada ketinggian sehingga dari desa ini dapat terlihat jelas hamparan pulau-pulau yang ada di perairan Teluk Bone. Terutama Pulau-pulau Sembilan yang terdiri dari Pulau Kambuno, Pulau Liang-Liang, Pulau Burung Lohe, Pulau Batang Lampe, Pulau Kodingareng, Pulau Katindoang,  Pulau Kanalo Satu, Pulau Kanalo Dua dan Pulau Larearea.
Pemandangan ke arah hamparan pulau-pulau inilah yang membuat perasaan agak terbuka atas keterpencilan kampung ini.

Pada saat kelahirannya, ayahnya, Kyai Abdul Kahar Syuaib menjabat sebagai Imam di Kampung Lamatti yang lebih dikenal dengan sebutan Kampung Panreng (dalam bahasa setempat panreng berarti kuburan). Karena ayahnya seorang ulama yang kharismatik di tempat itu, sehingga keluarganya mendapat tempat tersendiri dimata masyarakat. Ayahnya lebih populer dikalangan masyarakat dengan sebutan Puang Imang,[1] karena cukup lama menjadi imam di kampung itu.

Nama Muhsin Kahar berubah menjadi Abdullah Said pada saat menjadi buronan sehubungan dengan Peristiwa pengganyangan perjudian di Makassar yang disebut lotto (lotre totalisator) yang dia dalangi pada  Hari Kamis 28 Agustus 1969.

Ayahnya tiga kali nikah tapi tidak dengan memadu, menghasilkan 12 orang anak. Ibu Muhsin Kahar bernama Aisyah, lebih dikenal dengan panggilan Puang Ica.  Merupakan istri terakhir dinikahi setelah istri pertama dan kedua meninggal dunia. Puang Ica melahirkan empat orang anak semuanya laki-laki: Junaid Kahar (Puang Juna), Lukmanul Hakim Kahar (Puang Luke’)[2], Muhsin Kahar (Puang Esseng) dan As’ad Kahar (Puang Sade’).

Dari istri pertama, Nafisah  lahir dua orang anak: Asiah Kahar, meninggal dalam usia 3 tahun  dan Muhammad Djamil Kahar (Puang Milu).

Dari istri kedua, Bun-yamin (Puang Bune), lahir Zubair Kahar (Puang Bere’), Juhaefah Kahar (Puang Efah), Radhiyah Kahar (Puang Radi), Maryam Kahar (Puang Mari’), Hamdanah Kahar (Puang  ‘Ndah) dan Sitti Zulaiha Kahar (Puang Itti).

Ketika masih dalam kandungan sempat menjadi bahan perbincangan dikalangan keluarga. Karena usia kandungan ibunya sudah mencapai dua tahun namun sang anak belum juga lahir. Hanya ayahnya yang selalu mengingatkan sang ibu agar tetap bersabar menunggu kelahirannya sampai kapanpun yang dikehendaki oleh Allah SWT. Pendapat itu diperkuat oleh pamannya, sorang ulama , K.H. Hasan Syuaib, Kadhi Bulo-Bulo di Sinjai, ayah kandung K.H.Ahmad Marzuki Hasan yang populer dengan sebutan Kali Cambang. Sejak usia kandungan itu memasuki tahun kedua timbul tanggapan miring bahwa mungkin yang dikandung itu bukan manusia. Mungkin buaya atau entah apa. Sang ayah marah besar kalau mendengar tanggapan miring seperti itu. Karena ada keyakinan dalam hati sang ayah bahwa anak yang dikandung itu kelak akan jadi orang hebat, sebagaimana halnya Imam Syafi’i  yang juga lama dalam kandungan.

Akhirnya bayi yang tadinya mencurigakan itu lahir juga dalam keadaan normal dan sehat layaknya bayi-bayi  pada umumnya di sebuah rumah di Kampung Panreng. Kampung yang juga tempat kelahiran beberapa orang yang tergolong tokoh seperti K.H.Ahmad Marzuki Hasan, mantan Kepala Kementerian (KpK)  Dalam  Negeri dan KpK Penerangan – DI/TII dibawah pimpinan  Abdul Qahhar Mudzakkar,  mantan Pengurus Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan dan Tenggara, Pendiri Pondok Pesantren Darul Istiqamah Maccopa-Maros  Sulsel. Juga kampung kelahiran Drs. H. Muhammad Suyuthi PaE, mantan Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama Sulsel, dosen senior IAIN Alauddin Makassar. Dan juga kampung kelahiran seorang mantan pejabat pusat Departemen Perhubungan, Ir. H. Andi Sulthan Said, yang menyelesikan pendidikannya di Jepang kemudian menjadi  Direktur Utama (Dirut) BKI (Badan Klasifikasi Indonesia).

Pada saat kelahirannya kampung ini masih sangat ketinggalan dari segi pembangunan fisik. Jalanan dari kampung ini menuju ibu kota kabupaten jauh dari apa yang terlihat sekarang, yang sudah beraspal dengan kendaraan sepeda motor dan kendaraan roda empat yang tidak putus-putusnya. Waktu itu orang-orang kampung yang ingin berkunjung  ke kota kabupaten umumnya berjalan kaki, paling banter menggunakan sepeda engkol atau menunggang kuda. Sehingga jarak yang begitu dekat, empat kilometer,  harus ditempuh dengan waktu yang cukup lama.

Kota Sinjai yang merupakan ibukota Kabupaten Sinjai sendiri masih sangat jauh tertinggal dibanding kota-kota lain di Indonesia. Penerangan listriknya yang dikelola oleh MPS (maskapai perusahaan sejenis), masih redup-redup. Bahkan hingga akhir tahun enampuluhan Sinjai masih tergolong daerah yang sangat tertinggal. Dalam sebuah majalah terbitan ibu kota pernah memuat sebuah iklan yang mempromosikan salah satu jenis obat yakni salonpas, berbunyi, “Dikenal mulai dari Jakarta sampai Sinjai”. Ini menggambarkan betapa tertinggalnya Kabupaten Sinjai.

Namun bagaimanapun tertinggalnya dari segi pembangunan fisik tapi maraknya kehidupan beragama patut dibanggakan. Orang tuanya sendiri sebagai ulama di kampung itu sekaligus sebagai imam di Tingkat Distrik (kecamatan sekarang) memiliki banyak murid yang belajar padanya. Demikian pula di kota Sinjai ada dua ulama besar, K.H.Muhammad Thahir yang menjadi kadhi di Balangnipa yang dikenal dengan sebutan Kali Thahirong dan K.H. Hasan yang menjabat sebagai Kadhi Bula-Bulo yang dikenal dengan sebutan Kali Cambang. Kondisi ini sangat menolong pertumbuhan spritual Muhsin kecil. Sehingga ketertinggalan yang dialami kampungnya serta daerah Sinjai pada umumnya baginya mengandung hikmah yang besar.  Karena dengan demikian involusi moral yang terjadi di kota-kota besar tidak sempat merembes ke daerah ini. Terhambat oleh transportasi yang belum lancar, disebabkan jalanan belum licin, jembatan banyak mengalami kerusakan. Apalagi memang kendaraan waktu itu masih dapat dihitung jari. Bacaan-bacaan yang dapat merusak moral anak belum banyak dikenal masyarakat. Pemilik pesawat radio saja  masih sangat terbatas, disebabkan tingkat perekonomian masih sangat rendah.

Untuk pendidikan dasarnya dia sangat tertolong dengan adanya Sekolah Dasar yang waktu itu bernama Sekolah Rakyat didirikan di kampungnya. Di sekolah itulah dia belajar. Namun hanya sampai kelas III, dari tahun 1952 hingga 1954 karena  terpaksa harus meninggalkan kampung halamannya yang tercinta itu mengikuti sang ayah yang pindah ke Makassar.
Ketika itu kondisi keamanan di Sinjai semakin mencekam.  Apalagi dengan terbunuhnya seorang anggota polisi yang ditengarai pembunuhnya adalah Zubair Kahar, komandan pemberontak yang saudara kandung Muhsin Kahar.  Ayahnya setiap saat mendapat panggilan untuk diinterogasi sehubungan dengan pembunuhan yang dihubungkan dengan anak kandungnya itu. Itu yang membuat sang ayah merasa terusik sehingga tidak betah lagi tinggal di kampung, memilih hijrah ke Makassar untuk mencari ketenangan.

[1] Panggilan kehormatan kepada Imam di kampung.
[2] Menurut kebiasaan orang Bugis nama-nama selalu disingkatkan atau membuat nama singaktan  untuk   memudahkan panggailan.

Mencetak Kader Militan

0
Oleh Dr Abdul Mannan Rausulullah Shallallahu `alaihi wa sallam (SAW) menyadari bahwa tali persaudaraan yang terjalin kuat antara ia dan para sahabat sangat dibutuhkan agar perjuangan menegakkan kalimat Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) bisa berhasil. Oleh karena itu, sejak awal Rasul SAW telah menempa para sahabat lewat Daurah al Arqam.

Jiwa-jiwa militan yang lahir dari daurah itu tak lekang karena panas dan tak lapuk karena hujan. Puncak pengorbanan itu terjadi ketika mereka diperintahkan hijrah ke Madinah.
Keluhuran peradaban Islam kemudian menjadi kekuatan politik yang mampu menundukkan tirani Roma dan Persia. Militansi tidak lahir tanpa proses.
Dalam sudut pandang menejemen strategi sumber daya manusia, militansi hanya akan diperoleh melalui keseriusan seseorang menjalankan amanah secara baik.
Kemampuan teknis menejerial dapat diperoleh melalui pembelajaran yang intensif. Kemampuan analisis dan berpikir strategis hanya dapat diperoleh melalui pengalaman empiris dan interaksi dengan para ahli.

Adapun kemampuan mental dan spiritual hanya dapat diperoleh melalui berbagai rintangan dan pemahaman terhadap visi. Pemahaman ini terefleksi dari idealisme yang lahir dari pandangan hidup.

Kekuatan intelektual, mental, dan spiritual para pelaku sejarah penegakan peradaban Islam angkatan pertama lahir dari pandangan hidup Islam. Pada saat itu Al-Qur’an dan As-Sunnah memang menjadi sumber utama dalam berpikir dan beraksi.

Kemampuan generasi pertama dalam mencerna Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah bulat tanpa resistensi. Wahyu Allah SWT merupakan kebenaran mutlak. Begitu pula segala apa yang datangnya dari Rasulullah SAW.

Maka, tak heran jika tegaknya peradaban Islam kala itu berlangsung sangat cepat dan mencengangkan. Mengapa demikian? Karena menejemen yang diterapkan Rasulullah SAW adalah komando yang dinamis.

Bagaimana dengan Hidayatullah? Setelah Ustadz Abdullah Said, pendiri Hidayatullah, dipanggil oleh Allah `SWT, generasi pelanjut mencoba berkreasi untuk mewujudkan pola kepemimpinan Hidayatullah dengan sistem terbuka, yaitu organisasi massa yang berbasis kader.

Delapan tahun berlalu, hasil rekrutmen kader tidak signifikan. Masa ini adalah masa transisi yang sangat menggoncangkan dan menggelisahkan. Tak sedikit pertanyaan dengan nada sangat sinis dan pesimis mengemuka.

Masa transisi juga melahirkan banyak faksi pemikiran yang mendistorsi ajaran Sistematika Nuzulnya Wahyu (SNW) sebagai manhaj tarbiyah dan harakah jihadiyah.

Konflik yang dipicu oleh distorsi ideologi dan materi (ekonomi) harus segera dipangkas. Jika tidak, akan menjadi virus ganas yang melumpuhkan dan mematikan eksistensi Hidayatullah sebagai organisasi harakah jihadiyah. Di sinilah kepemimpinan imamah jama’ah diuji ketangguhannya.

Menurut rumus menejemen strategis, jika kondisi organisasi seperti ini, maka solusi yang diperlukan adalah tampilnya jiwa kepemimpinan yang penuh komitmen dan berani.

Inspirasi segar dan dinamis yang memancar dari jiwa seorang pemimpin akan menciptakan energi baru bagi seluruh lini komando untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.

Transfer energi kepada orang-orang di sekitar akan melahirkan gebrakan karya nyata yang berdimensi sosial, politik, ekonomi, budaya, pertahanan, dan keamanan yang hakekatnya adalah mengangkat reputasi organisasi.

Transfer nilai spiritual dan intetelektual dapat dilakukan melalui berbagai sarana, seperti pendidikan klasikal yang berkualitas, training singkat, diskusi formal atau informal.

Inilah yang harus menjadi fokus kerja organisasi seperti dahulu dilakukan oleh Rasulullah SAW. Beliau memulai tugasnya dari dunia pendidikan dan dakwah. Wallahu a’lam.

*Sahid November 2008

Benturan Peradaban

0
Oleh Dr Abdul Mannan
Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Hidayatullah Peradaban Yunani telah ada sebelum Rasulullah Shallallahu ‘alaihi we sallam (SAW) mengajarkan Islam kepada umat manusia. Peradaban ini mengajarkan kepada manusia agar mendewakan dirinya sendiri. Akibatnya, manusia senantiasa menomorsatukan akal dan meyakini kebenaran empiris. Ini semua melahirkan pandangan hidup (world view) yang berdasar pada materialisme dan pragmatisme.

Ada dua peradaban yang berakar pada materialisme, yaitu komunis (Timur) dan kapitalis (Barat). Uniknya, sejak awal kedua peradaban ini senantiasa berbenturan. Yang satu menggunakan sistem ekonomi sentralisasi (komando), yang lain menggunakan sistem individu (swasta). Benturan ini berakhir dengan kemenangan kapitalis.
Selanjutnya, setelah komunis dapat ditundukkan, rival kapitalis beralih kepada agama. Tentu saja agama yang memiliki doktrin kontra terhadap ketidakadilan adalah Islam. Sehingga Islam saat ini menjadi target operasi kaum kapitalis agar lenyap dari permukaan bumi.

Islam turun di tengah peradaban paganis dan disambut secara pro dan kontra. Mereka yang pro merasa dirinya memperoleh solusi kehidupan yang dinantikan. Para budak bisa merdeka. Masyarakat yang tertindas bisa memperoleh keadilan. Kaum proletar dan birokrat merasakan kebersamaan.
Adapun bagi yang kontra, merasa bahwa status quonya mulai terancam, kekayaannya akan terbagikan, kebebasan berperilaku akan terkekang. Akibatnya, benturan psikologis dan fisik terjadi di tengah masyarakat Arab jahiliyah sebagai penolakan terhadap Islam yang membawa ajaran tauhid.
Konflik ini tak akan berakhir.
Dan, di setiap masa akan muncul motor penggerak para penggilas agama Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT). Pada masa Rasulullah SAW kita mengenal trio Abu: Abu Jahal, Abu Lahab, dan Abu Sofyan. Ketiganya senantiasa menciptakan konflik antara penganut ajaran Islam dengan masyarakat paganis.
Padanan trio tersebut pada abad ini adalah Amerika Serikat, Inggris, dan Australia. Mereka telah bersekutu untuk menghadapi negara berkembang yang mayoritas penduduknya Muslim seperti Afghanistan, Iraq, dan negara-negara teluk lainnya.
Apakah arogansi ketiga kekuatan tersebut akan terus kita biarkan tanpa perlawanan? Tentu saja tidak! Umat Islam yang masih kuat akidahnya pasti melawan dengan segala kekuatan yang ada. Banyaknya “bom bunuh diri” merupakan indikator perlawanan tersebut.
Mati syahid, bagi seorang Mukmin, adalah harapan. Sebab, kehidupan dunia bukanlah tujuan akhir. Kehidupai akhiratlah yang dituju.
Keyakinan semacam ini paradoks dengan keyakinan kaum kafir yang menginginkan kehidupan dunia. Akibatnya kematian menjadi sangat menakutkan. Hati dan jiwa senantiasa resah.
Strategi meminimalkan benturan, salah satunya, adalah hijrah. Ini dilakukan apabila kaum kuffar sudah melakukan penyiksaan terhadap kaum Muslim. Ini juga pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW saat hijrah ke Habasyah.
Strategi lainnya adalah terus berdakwah mengajak mereka ke jalan Islam seraya berdoa kepada Allah SWT mereka diberi hidayah. Rasulullah SAW sendiri beberapa kali berkirim surat kepada raja-raja di sekitar Jazirah arab agar mau memeluk Islam.
Saat ini pun tak salah bila kita berkirim surat kepada penguasa negara adidaya agar mau memeluk Islam. Ini pernah dilakukan oleh Imam Khomeini yang berkirim surat kepada Gorbachev, atau Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad yang berkirim surat kepada George Walker Bush.
Jangan pula lupa pada kekuatan doa. Ucapkanlah saat sujud, baik dalam shalat fardhu atau sunnat, utamanya Tahajjud, fardiyah atau jama’i, agar umat Islam berada pada posisi yang kuat sebagai mana dulu pada masa Rasululah SAW dan para sahabat.*

*Sahid Oktober 2008

Pikiran Dr Abdul Mannan untuk Baitul Maal Hidayatullah

0
Oleh Dr Abdul  Mannan*
 SUDAH jamak diketahui bahwa sumber dana hampir semua organisasi sosial berasal dari publik. Hanya sebagian kecil berasal dari mereka sendiri.
Dalam pandangan ekonomi publik, bertambahnya lembaga sosial di tengah masyarakat akan mengurangi’ pendapatan mereka. Jika lembaga sosial tak ingin menjadi beban masyarakat, mereka harus mampu memberikan kompensasi yang seimbang.

Misalnya, produk yang ditawarkan harus sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat. Berikan pula informasi yang jelas dan mudah diakses. Sebab, harus disadari bahwa informasi merupakan kekuatan yang menentukan maju—mundurnya suatu lembaga.

Baitul Maal Hidayatullah (BMH) merupakan bagian dari organisasi massa (ormas) Hidayatullah yang bertugas mengoleksi dana masyarakat untuk kegiatan-kegiatan sosial dan dakwah. Cita-cita mereka adalah menjadi organisasi terdepan di antara organisasi sejenis.

Agar menang dalam persaingan, BMH perlu berpikir ekstra, kerja keras, dan kerja cerdas. Mereka harus mampu mengeluarkan produk yang bisa memberi kepuasan kepada para donaturnya. Jangan sampai masyarakat hanya dijadikan sapi perahan saja.

BMH juga harus merujuk kepada strategi tujuh komponen bauran pasar agar mampu memenangkan persaingan. Ketujuh komponen —yang biasa disingkat 7P- itu adalah produk (product) , harga (price), tempat (place), promosi (promotion), pegawai (personnel), prosedur (procedure), dan penampilan fisik (phisycal evidence).

Selain itu, BMH harus selalu belajar kepada manajemen sejenis yang sukses. Belajar kepada manajemen yang sukses berarti ada upaya untuk membangun karakter sukses.

Namun, mengubah karakter agar senantiasa belajar tidaklah ringan. Sebab, ini menyangkut karakter dasar orang yang bersangkutan.

Untuk mengubah sikap mental diperlukan proses kesadaran diri bahwa hidup ini, baik individu maupun kolektif, adalah persaingan yang harus dijawab dengan keunggulan.

Lantas, apa keunggulan BMH, baik secara personal atau kelembagaan, dibanding organisasi sejenis? Kekuatan internal apa yang dapat dipacu untuk mendongkrak posisi BMH?

Pertanyaan—pertanyaan ini harus dijawab tuntas oleh pihak manajemen BMH. Jika tidak, maka dapat dipastikan BMH tidak akan mampu betkompetisi. Ujungnya, mati sebelum bangkit atau hidup segan mati tak mau.

Strategi yang dipakai BMH juga harus mumpuni agar tidak berjalan di tempat atau mati mengenaskan. Strategi tersebut adalah memberdayakan pengurus agar memiliki kemampuan manajerial. Tanpa itu, jangan bermimpi bisa tampil terdepan.

Tolak ukur berhasil tidaknya BMH menjadi lembaga keuangan terdepan adalah seberapa besar dana yang berhasil dikoleksi dari masyarakat. Besarnya dana ini bersifat relatif karena tergantung pada penetapan target. Penetapan target ini harus dikomparasi dengan organisasi sejenis yang lebih tinggi posisinya.

Dengan demikian,kinerja pengurus BMH dapat dievaluasi setiap pekan, bahkan setiap hari. Perlu diketahui bahwa kunci sukses semua pekerjaan adalah terus-menerus memikirkan langkah strategis agar organisasi tidak berjalan ditempat, melainkan maju dengan pesat.

Mencari gagasan-gagasan menarik tak boleh terbatas oleh ruang dan waktu. Jika sikap mental pengurus BMH terikat oleh jam kerja kantor, maka tak ubahnya seperti sikap karyawan atau buruh. Ini merupakan insiden buruk sekaligus virus menuju sukses.

Selain itu, kemampuan manajerial pengurus harus selalu ditingkatkan. Bagaimana cara berkomunikasi dengan pelanggan, cara melayani, strategi pemeliharaan pelanggan, dan bagaimana pula cara mengemas produk agar layak dijual di pasar.

Akhir kata, kita harus mencanangkan tekad bahwa kinerja BMH harus lebih baik dari tahun sebelumnya. Semoga!

*)Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Hidayatullah >

Syabab dan Peradaban Islam

0
Dr. Abdu Mannan

 Di antara sejumlah organisasi pemuda Islam di Tanah Air, Syabab Hidayatullah adalah yang termuda. Namun, bukan berarti organisasi ini tak memiliki kekuatan politik sama sekali. Syabab Hidayatullah, sebagai organisasi otonom, telah menempatkan kader-kadernya di seluruh Nusantara, mulai dari Sabang hingga ke Merauke. Jumlah Dewan Pimpinan Daerah (DPD) ada 172 buah. Bahkan, ada jugs di Timor Leste.

Syabab Hidayatullah adalah wadah generasi pelanjut misi organisasi massa Hidayatullah, yaitu memperjuangkan tegaknya peradaban Islam.

Organisasi ini bukanlah underbouw dari partai politik, meski para anggotanya diperkenankan untuk memilih partai yang relevan dengan visi organisasi induknya.

Kebijakan politik Syabab Hidayatullah sejalan dengan kebijakan politik organisasi induknya, yaitu menjaga integrasi bangsa yang saat ini terancam mengalami disintegrasi. Hidayatullah yakin seyakin-yakinnya bahwa hanya Islam yang dapat menyatukan pulau-pulau di Nusantara yang terserak dari Sabang hingga Merauke. Hal ini sudah teruji oleh sejarah.

Itulah sebabnya wawasan teritorial keindonesiaan menjadi salah satu doktrin bagi kader Syabab Hidayatullah. Sebab, lahan dakwah paling subur untuk menanam benih akidah Islamiyah adalah masyarakat Indonesia. Sehingga, sifat akomodatif yang non-partisan menjadi arus utama Syabab dan organisasi massa Hidayatullah saat ini.

Atas dasar itu, aktivitas utama kader Syabab Hidayatullah diarahkan pada upaya menggalakkan pendidikan dan dakwah. Pendidikan diutamakan dalam rangka mencetak kader-kader bangsa yang berkualitas secara spiritual dan intelektual. Sedang dakwah dihidupkan sebagai upaya merekrut massa sebanyak mungkin untuk menjadi basis dan pendukung eksistensi Hidayatullah sebagai organisasi massa.

Musyawarah Nasional Pertama Syabab Hidayatullah telah memfokuskan diri pada upaya revitalisasi spirit gerakan membangun militansi dan progresivitas kader. Ini didasari oleh pemikiran bahwa bangsa Indonesia akan porak poranda jika tidak ada pemuda yang mengisi kemerdekaan dengan karya nyata di tengah masyarakat. Dan, priotitas utama revitalisasi spirit gerakan ini adalah peningkatan pemahaman agama melalui belajar dan mengamalkan al-Qur’an, wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT).

Semangat belajar itu hendaklah tidak pudar meski kini tudingan miring sedang diarahkan kepada kalangan aktivis Islam. Ini terkait fitnah dan konspirasi pihak tertentu dengan dukungan bangsa-bangsa Barat untuk memojokkan Islam.

Tudingan dan fitnah itu perlu dijawab dengan aksi nyata. Jangan takut menunjukkan identitas Islam dan cara hidup islami. Justru sebaliknya, kita perlu menggencarkan gerakan memakmurkan masjid, mengkaji al-Qur’an, sambil membuktikan bahwa mereka yang aktif di masjid adalah orang-orang yang selalu siap membantu lingkungannya dengan penuh kasih sayang.

Upaya-upaya merusak citra Islam melalui fitnah dan tudingan-tudingan tidak akan mempan manakala kaum Muslim tetap istiqamah menghidupkan budaya islami di manapun mereka berada.

Kini, Syabab Hidayatullah diharapkan bisa mengambil posisi terdepan dalam menyukseskan Gerakan Nasional Mengajar-Belajar al-Qur’an (Gran MBA). Gerakan ini menjadi andalan bagi organisasi massa Hidayatullah untuk membangun peradaban Islam.
Melalui gerakan ini akan tertanam jiwa Qur’ani di hati masyarakat sebagai dasar membangun bangsa di masa depan, sekaligus salah satu amal yang diperintahkan junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW).

BERITA FOTO: Presiden SBY Kunjungi Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak

0

Di sela acara peresmian proyek-proyek infrastruktur di Desa Senipah, Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kertanegara, awal Juli 2008 lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan rombongan berkunjung ke Pondok Pesantren Hidayatullah, Balikpapan. SBY didampingi juga oleh sang istri. Presiden dan rombongan melakukan salat Jumat bersama para santri di pesantren.

Kedatangan Presiden SBY dan Ibu Hj. Ani Yudhoyono disambut hangat para santri dan warga. Usai salat Jumat, Presiden SBY dan rombongan melakukan salat jamak qasar, karena perjalanan menuju ke lokasi acara peresmian proyek infrastruktur memakan waktu cukup panjang, dan melewati waktu Ashar. SBY memimpin salat qasar ini.

Pada kesempatan ini, Presiden SBY secara spontan memberi bantuan Rp 200 juta kepada Pondok Pesantren Hidayatullah. Setelah itu, Presiden berdialog sebentar dengan para santri putri.

Sekitar pukul 13.20 WITA (pukul 12.20 WIB), Presiden SBY dan rombongan meninggalkan Pondok Pesantren Hidayatullah, untuk meneruskan perjalanan menuju lokasi acara peresmian proyek-proyek infrastruktur, di desa Senipah, Kabupaten Kutai Kertanegara. Perjalanan dengan mobil ini memakan waktu sekitar dua jam. (pres).

 

presidensby1 presidensby2 presidensby3 presidensby4 presidensby5 presidensby6 presidensby7 presidensby8

Muslimat Hidayatullah dan Peradaban Islam

Oleh: Dr. Abdul Mannan
 Peran wanita, baik secara pribadi maupun organisasi, tak bisa dipisahkan dari negara. Bila dulu mereka ikut berjuang membebaskan negara penjajah, maka kini mereka berjuang mengisi kemerdekaan.’ Mengingat pentingnya peran wanita dalam sebuah perjuangan, maka Hidayatullah pun memberi wadah bagi kaum Hawa untuk berkiprah. Hanya saja, peran mereka tak sekadar membangun bangsa, lebih dari itu, juga menegakkan Kalimah Tauhid di persada bumi.
Organisasi otonom kaum Hawa di Hidayatullah bernama Muslimat Hidayatullah (Mushida). Organisasi ini bertujuan meningkatkan kuantitas dan kualitas amal shalih kaum wanita secara kolektif dengan sistem kinerja yang dapat diukur. Ini sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) dalam al-Qur’an surat an-Nahl ayat 97 bahwa laki-laki dan wanita, memiliki peluang yang sama untuk berbuat shalih dengan ganjaran pahala.
Tujuan lain adalah memberi jenjang karir (carrier path) yang jelas kepada kaum wanita atas perjuangannya sekaligus aktualisasi diri di tengah masyarakat. Seluruh hasil pemikiran akan diakomodasi, didistribusi, dan diaktualisasi menurut kepandaian masing-masing.
Mushida sebagai organisasi yang menginduk kepada Pusat Hidayatullah harus berani tampil beda dalam hal menejemen dari oraganisasi sejenis. Mushida harus bisa meramu program sebagai sarana meretas permasalahan umat. Mushida harus mampu merumuskan agenda kerja berdasarkan skala prioritas: penting dan mendesak, penting tetapi tidak mendesak, dan tidak penting dan tidak mendesak. Klasifikasi kerja seperti ini dibutuhkan mengingat terbatasnya tenaga, biaya, dan waktu yang tersedia.
Namun perlu diingat bahwa proses penentuan skala prioritas tadi harus mengacu pada dua hal yang menjadi strategi perjuangan Hidayatullah, yaitu pendidikan dan dakwah. Harus pula disadari bahwa keberadaan Mushida dalam struktur organisasi Hidayatullah adalah pembantu pimpinan umum dalam melaksanakan tugas-tugas imamah yang berorientasi kepada pelayanan umat secara luas.
Pelayanan umat yang sangat mendesak bagi Mushida adalah menggarap potensi intelektual dan spiritual para pengurus, menggarap pendidikan kiasikal mulai dari tingkat Taman Kanak—kanak, sampai sekolah lanjutan, mengintensifkan dakwah bil-hal melalui majelis taklim, serta mengajar baca tulis al-Qur’an lewat program Gran MBA.
Jangari lupa, Mushida harus mengambil peran dalam membangun peradaban Islam sebagai visi organisasi. Sebab, posisi Mushida dalam pencapaian visi tersebut sangat strategis. Anggota Mushida sejatinya adalah ibu rumah tangga. Di tangan merekalah pendidikan generasi berikutnya diletakkan.
Selama ini Mushida telah menunjukkan peran pentingnya dalam mendampingi para suami menebar dakwah di berbagai penjuru Nusantara, mulai dari pedalaman Mentawai, Nias, Hulu Mahakam, dan Lembah Baliem Papua.
Mereka terjun ke gelanggang dakwah dengan suka cita. Mereka tak pernah mengeluh mendampingi para mujahid dakwah meski rintangan yang dihadapi luar biasa berat. Mereka menjadi manusia langka di abad ini. Logikanya, kalau bukan mereka yang masuk surga, lalu siapa lagi?
Kita berharap di masa mendatang Mushida bisa lebih meningkatkan kualitas pembinaan spiritual dan intelektual para pengurus dan anggotanya. Ini menjadi modal berinteraksi dengan lingkungan eksternal yang lebih luas.
Cakrawala berpikir harus dibuka. Jangan lagi berpikir eksklusif, asyik dengan dirinya sendiri. Sebab, dinamika eksternal berputar sangat dahsyat. Tuntutan umat kian lama kian kompleks.
Semoga Allah SWT membantu penjuangan kita.