Beranda blog Halaman 72

Sekolah Dai Hidayatullah Sultanbatara Kembali Cetak Dai Siap Dakwah ke Pelosok

PAREPARE (Hidayatullah.or.id) — Sebanyak 15 santri Sekolah Dai Hidayatullah (SDH) Sultanbatara resmi menamatkan masa belajarnya setelah melalui ujian terbuka kitab Syarah Matan Jazari, karya monumental abad ke-14 dalam ilmu tajwid dan qira’at.

Ujian ini menjadi tonggak akhir pendidikan sekaligus pengukuhan kesiapan mereka terjun dalam dakwah di daerah-daerah pelosok Sulawesi.

Acara penamatan yang berlangsung di Gedung Dakwah Hidayatullah Parepare dihadiri oleh pejabat daerah, ulama, serta tokoh masyarakat pada Senin, 3 Shafar 1447 (28/7/2025).

“Setiap angkatan memang terbatas, tapi dampaknya besar. Para alumni langsung ditunggu di wilayah-wilayah terpencil di Sulsel, Sulbar, hingga Sultra,” ujar Muhammad Nasri Bohari, Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, menegaskan pentingnya SDH sebagai program strategis dakwah berkelanjutan.

Wisuda kali ini menandai kelulusan angkatan keenam, mengindikasikan kesinambungan program SDH dalam mencetak dai berkualitas.

Dalam kesempatan tersebut, Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) BMH Sulsel turut menyampaikan komitmen beasiswa senilai Rp 48 juta untuk satu tahun mendatang.

Penandatanganan dukungan itu disaksikan oleh Kepala Bappeda Parepare, perwakilan Hidayatullah Sulbar, dan Dewan Murabbi Sulsel.

“Kami percaya, investasi dalam pendidikan dai adalah investasi untuk masa depan umat,” tegas Kadir, Kepala BMH Sulsel.

Kolaborasi antara SDH dan BMH menghadirkan model sinergi kelembagaan dalam membangun jaringan dakwah yang sistematis.

Dengan pendekatan edukatif dan dukungan finansial jangka panjang, menurut Nasri menambahkan, inisiatif ini menunjukkan bagaimana gerakan keagamaan dan lembaga zakat dapat berkontribusi pada transformasi sosial-keagamaan di daerah terpencil.

Mushola dan Rumah Qur’an Diresmikan, Warga Lereng Gunung Malang Sambut Haru

0

JEMBER (Hidayatullah.or.id) — Haru dan syukur menyelimuti Lereng Gunung Malang, Kecamatan Sumberjambe, Kabupaten Jember, saat diresmikannya Mushola Dahlan dan Rumah Qur’an Baitul Amin, belum lama ini.

Dua bangunan sederhana ini menjadi tonggak baru bagi warga yang selama ini hidup jauh dari akses ibadah dan pendidikan agama.

“Alhamdulillah, tempat kami mengabdi dan mendidik tak lagi meminta belas kasihan cuaca,” ujar Ustadz Abdul Waqil, dai setempat yang menjadi pilar utama kegiatan keagamaan di wilayah ini.

Peresmian ini sekaligus menandai berakhirnya kondisi lama, di mana warga shalat berdesakan dan anak-anak mengaji di atas tikar usang di lantai tanah.

Imam Muslim, Kepala Divisi Program dan Pendayagunaan BMH Jawa Timur, menyebut program ini bukan sekadar proyek pembangunan fisik yang dilakukan BMH di berbagai titik di Jatim.

“Kami percaya, dari pelosok seperti ini, bisa lahir hafizh-hafizh Qur’an yang kelak menerangi bangsa,” tegasnya.

Sebelum dilakukan renovasi
Setelah dilakukan renovasi

Kehadiran Mushola dan Rumah Qur’an ini diharapkan menjadi pusat transformasi sosial di Sumberjambe. Selain memudahkan ibadah, tempat ini menjadi ruang belajar, tumbuh, dan bermimpi bagi generasi muda di pedesaan.

“Dengan membangun infrastruktur ibadah dan pendidikan di wilayah terpencil, BMH tidak hanya memberi tempat ibadah, tapi juga menanam benih peradaban Qur’ani yang berkelanjutan—dampaknya tak hanya dirasakan hari ini, tapi oleh generasi mendatang,” lanjut Imam Muslim.

Hari itu bukan sekadar peresmian dua bangunan. Di lereng terpencil Jember, masyarakat menyaksikan lahirnya peradaban. Sebuah bukti bahwa perencanaan kebaikan mampu menjembatani keterbatasan menuju harapan.

GMH Undang Menko Pangan Zulkifli Hasan di Forum NextGen Leader 2025

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Zulkifli Hasan, menerima audiensi silaturrahim dari Ketua Umum Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (PP GMH), Rizki Ulfahadi, dan jajarannya bertempat di ruang kerja Menko Gedung Kemenko Pangan, Jl. Imam Bonjol, Jakarta, pada Senin, 3 Safar 1447 (28/7/2025).

Selain konsolidasi pemikiran dalam membangun kontribusi pemuda terhadap agenda pembangunan Indonesia, audiensi ini bertujuan menyampaikan undangan kepada Menko Zulkifli Hasan dalam agenda NextGen Leader (NGL) Nasional 2025 yang akan diselenggarakan pada Kamis, 31 Juli 2025 mendatang.

Rizki mengatakan, forum NGL sendiri diinisiasi sebagai ruang kaderisasi dan kepemimpinan yang dirancang oleh GMH untuk mencetak pemimpin muda yang berintegritas dan visioner.

Ia menyampaikan harapannya atas partisipasi aktif Zulkifli Hasan dalam forum tersebut sebagai bentuk dukungan pemerintah terhadap peran strategis pemuda.

“Silaturrahim ini menjadi langkah awal kolaborasi strategis antara mahasiswa dan pemerintah dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. Kehadiran Pak Menko tentu sangat kami harapkan,” ujar Rizki.

Audiensi berlangsung dalam suasana hangat dan produktif. Rizki berharap, pertemuan ini membuka ruang kolaborasi lebih luas antara Gerakan Mahasiswa Hidayatullah dan kementerian dalam mendukung program-program pembangunan nasional.

Santri Terima Beasiswa Penuh di Ponpes Tahfidz Global Hidayatullah Jayakarta

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pondok Pesantren Tahfidz Global (PPTG) Hidayatullah Jayakarta secara resmi memulai proses pembelajaran tahun ajaran baru 2025 dengan menyambut kedatangan puluhan santri baru dari berbagai provinsi di Indonesia. Para santri ini merupakan penerima program beasiswa penuh yang telah melalui proses seleksi ketat.

Diketahui, para santri berasal dari wilayah seperti Bengkulu, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Jawa Tengah, dan Jabodebek. Mereka telah tiba di lingkungan pesantren sejak dua pekan lalu untuk mengikuti masa orientasi dan pengenalan lingkungan.

“Tahun ini kami menerima santri-santri pilihan dari seluruh pelosok tanah air yang akan menempuh pendidikan tahfidz Al-Qur’an dengan sistem terpadu, mencakup pembinaan karakter, pembelajaran diniyah, hingga keterampilan masa depan,” ungkap Ustadz Mahidin Sahidu,M.Pd., Kepala Sekolah PPTG Hidayatullah Jayakarta, dalam keterangannya di Jakarta, Senin, 3 Safar 1447 (28/7/2025).

Pesantren yang berlokasi di ibu kota ini dikenal sebagai lembaga yang memberikan akses pendidikan berkualitas secara gratis bagi anak-anak dari keluarga yang membutuhkan.

Biaya pendidikan, asrama, konsumsi, dan kebutuhan pokok santri sepenuhnya ditanggung oleh program beasiswa dan dukungan para donatur.

Sistem pendidikan yang diterapkan memadukan pembelajaran Al-Qur’an dengan penguatan karakter dan pengembangan kapasitas.

Kegiatan belajar dimulai sejak pukul 03.30 WIB dengan shalat tahajud berjamaah, dilanjutkan halaqah tahfidz setelah subuh, pembelajaran diniyah intensif, serta program kepemimpinan Islami.

Ponpes ini juga menekankan pembentukan karakter dengan nilai-nilai adab Islam, seperti menghormati yang lebih tua, menyayangi sesama, dan melarang segala bentuk perundungan.

Selain itu, pembelajaran bahasa Arab, bahasa Inggris, dan keterampilan teknologi informasi turut diberikan sebagai bekal menghadapi tantangan global.

Dengan dimulainya kegiatan belajar tahun ini, PPTG Hidayatullah Jayakarta kembali menegaskan komitmennya sebagai pusat pendidikan tahfidz yang inklusif, profesional, dan berdampak.

Program ini merupakan bagian dari visi lembaga untuk melahirkan sumber daya insani yang bertauhid, berakhlakul karimah, dan berwawasan global.

Kembali ke Hidayatullah Bima, Perjalanan Menyambung Kenangan dan Silaturrahim

BULAN Ramadhan malam 1446 itu terasa lebih hangat dari biasanya. Seusai sholat tarawih di Masjid Ummul Quraa Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, aku duduk santai bersama Faishal Daariy, sahabat masa kecilku sejak PAUD di Hidayatullah Bima.

Kami mengobrol soal kenangan kami di Bima, tanah kelahiran jiwa kami, tempat kami pertama kali belajar mengenal dunia. Obrolan itu membuka kembali lembaran-lembaran masa kecil yang selama ini hanya tinggal dalam ingatan.

Setelah perbincangan itu, hatiku terasa bergejolak. Rindu. Dalam diam aku bertanya, “Kapan ya bisa ke sana lagi?” Sudah tujuh tahun aku tak menginjakkan kaki di tanah Mbojo. Tapi entah mengapa, malam itu, rasa rinduku jauh lebih kuat. Seolah ada panggilan untuk pulang, untuk kembali.

Waktu terus berjalan. Saat daurah Al-Qur’an pada bulan April, Bima tetap saja tak pergi dari pikiranku. Aku mulai berdoa lebih sungguh-sungguh.

“Ya Allah, Vano pengen ke Bima lagi. Pengen ketemu teman dan guru-guru lama. Ya Allah, kabulkan…”

Doa itu menjadi rutinitasku setelah setiap sholat fardhu. Sampai suatu hari, kedua orang tuaku datang menjengukku. Dengan penuh harap, aku sampaikan keinginan itu. Alhamdulillah, mereka mengizinkan. Katanya, “Anggap saja ini sebagai menyambung silaturrahim keluarga juga.”

26 Juni 2025 menjadi hari yang tak terlupa. Aku berangkat dari Depok, ke Bandara Internasional Soekarno Hatta Jakarta, lalu terbang ke Bima. Sendiri. Menempuh lebih dari 1.200 km, dengan total waktu perjalanan sekitar tujuh jam.

Ketika akhirnya kakiku menapak tanah kelahiran itu, air mata hampir jatuh. Aku tak menyangka. Aku benar-benar kembali.

Selama empat hari di Bima, waktuku padat. Aku tahu, kunjungan ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Aku kunjungi kembali sekolah masa kecilku — Hidayatullah Bima.

Tempat ini menyimpan banyak cerita. Dulu, hanya ada masjid, TK, dan SD. Tapi setelah banjir bandang 2018 menghancurkan masjid, banyak perubahan terjadi.

Kini, SMP Hidayatullah pun telah hadir. Gedung baru berdiri di belakang lapangan. Masjid baru mulai dibangun. Semua itu membuktikan bahwa waktu memang mengubah segalanya, tapi semangat tetap hidup.

Yang paling berkesan adalah pertemuanku dengan Pak Pri dan Bu Sri — dua sosok guru yang amat aku hormati.

Di rumah sederhana mereka, kami mengenang masa lalu, membahas kondisi sekarang, dan menyisipkan doa-doa untuk masa depan.

Pak Pri berkata padaku, “Tali silaturrahim itu harus dijaga, Mas Vano. Pokoknya nggak boleh putus, apa pun keadaannya. Dan Mas Vano sudah melakukan itu.”

Kami juga berbincang tentang perjalananku sekarang: mondok di Hidayatullah Depok, menulis artikel di website Hidayatullah.or.id, hingga fotoku yang muncul di Republika, Antara, dan Detik.

Pak Pri tersenyum bangga, “Bima berhasil mencetak murid-murid hebat. Bahkan ada yang sampai ke Dubai dan Mesir.” Masya Allah.

Empat hari berlalu sangat cepat. Tapi dalam waktu yang singkat itu, aku mendapatkan banyak pelajaran: bahwa rindu tak harus disimpan, ia harus diperjuangkan. Bahwa silaturrahim adalah kekuatan, bukan sekadar kunjungan.

Saat pesawatku lepas landas meninggalkan Bima, aku merasa sedang membawa satu pesan, bahwa waktu adalah anugerah yang tak bisa diputar.

Maka, selagi ada kesempatan, temui orang-orang yang pernah mewarnai hidupmu. Sampaikan terima kasih. Peluk masa lalu. Dan doakan masa depan.

Karena mengenang itu seperti memutar waktu, meski hanya dalam hati.[]

*) Mercyvano Ihsan, penulis santri kelas X MA dan peserta kelompok Program Lifeskill Jurnalistik Sekolah Integral Hidayatullah Depok

Syukur Mengundang Nikmat dan Ridha Allah

0

SYUKUR dalam bahasa Arab, syakara, berarti mengakui kebaikan. Syukur dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bermakna rasa terima kasih kepada Allah.

Ibnul Qayyim Al Jauziyah menguraikan bahwa syukur itu adalah tunduk dan taat kepada aturan Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan amalan yang disukai-Nya baik lahir maupun batin (Al Fauzan, 2012: 47).

Syukur adalah ungkapan terima kasih sebagai pengakuan kebaikan, ketundukan dan ketaatan kepada Allah sebagai upaya mendekatkan diri kepada-Nya.

Dalam kehidupan sungguh banyak nikmat pemberian Allah yang saking banyaknya manusia tak mampu menakarnya sebagaimana diingatkan dalam firman-Nya:

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nahl: 18).

Oleh karena itu, hendaknya warnai keseharian kita dengan memperbanyak bersyukur.

Bagaimana caranya bersyukur? Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Majmu’ah Al-Fatawa menyatakan bahwa syukur haruslah dijalani dengan hati, lisan, dan anggota badan.

Syukur dalam lisan mengucapkan Alhamdulillah atas nikmat yang diterima. Syukur dalam hati terbangunnya kesadaran bahwa semua kebaikan berasal dari Allah. Syukur dalam perbuatan dengan menggunakan nikmat dengan cara yang diridhai Allah.

Untuk kesempurnaan syukur, Ibnul Qayyim Rahimahullah memberikan rambu-rambu berdasarkan pada lima prinsip yang saling melengkapi.

Kelima prinsip tersebut adalah: (1) Rendah hati dan tunduk kepada Allah bagi orang yang bersyukur, (2) Cinta kepada-Nya, (3) Mengakui nikmat-nikmat-Nya, (4) Memuji-Nya atas nikmat-nikmat tersebut, dan (5) Tidak menggunakan nikmat-nikmat tersebut dalam hal-hal yang Allah benci (Al Fauzan: 2012).

Melakoni kelima prinsip tersebut akan memudahkan merasakan manfaat dari bersyukur tersebut.

Beberapa manfaat bersyukur. Pertama, mendapat ganjaran baik di dunia maupun di akhirat. Sebagaimana firman-Nya :“Dan sungguh orang-orang yang bersyukur akan kami beri ganjaran” (QS. Al Imran: 145).

Kedua, menjadi sebab selamatnya seseorang dari azab Allah. Allah SWT berfirman yang artinya:“Tidaklah Allah akan mengadzab kalian jika kalian bersyukur dan beriman. Dan sungguh Allah itu syakir lagi alim” (QS. An-Nisa: 147).

Ketiga, bakal menambah nikmat yang Allah SWT berikan. Allah berfirman: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mengumumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’” (QS. Ibrahim: 7).

Keempat, mengundang datangnya ridha Allah. Allah berfirman: “Jika kalian ingkar, sesungguhnya Allah Maha Kaya atas kalian. Dan Allah tidak ridha kepada hamba-Nya yang ingkar dan jika kalian bersyukur Allah ridha kepada kalian” (QS. Az-Zumar: 7).

Kelima, mendatangkan kebaikan sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW : “Setiap perkara orang beriman itu sungguh luar biasa. Karena setiap urusannya adalah baik. Ini tidak akan terjadi pada diri seseorang kecuali orang beriman yang sejati. Jika dia memperoleh, kesenangan, dia bersyukur, dan ini baik baginya. Jika dia mengalami kesulitan, dia bersabar dan ini juga baik untuknya.” (HR. Muslim).

Dengan bersyukur yang berasa manfaatnya akan memperkuat hubungan seseorang dengan Pencipta. Juga memperbaiki kualitas hidupnya.

Hubungan harmonis dengan Pencipta dan kualitas hidup yang baik merupakan jalan lempang bagi seorang muslim meraih kebahagiaan dalam hidupnya.

*) Nursyamsa Hadis, penulis Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Ummat DPP Hidayatullah

Kapolsek Sinjai Tengah Pimpin Kerja Bakti Bangun Masjid Pesantren HIdayatullah

CREATOR: gd-jpeg v1.0 (using IJG JPEG v62), quality = 82

SINJAI TENGAH (Hidayatullah.or.id) — Dalam upaya memperkuat relasi sosial dan mempererat tali silaturahmi, Kapolsek Sinjai Tengah Iptu Tenri Gangka, SH., memimpin langsung kegiatan kerja bakti pembangunan Masjid Pesantren Hidayatullah yang berlokasi di Dusun Sabbang, Desa Kanrung, Kecamatan Sinjai Tengah, Kabupaten Sinjai, Sabtu, 1 Shafar 1447 (26/7/2025).

Puluhan warga dari berbagai latar belakang turut serta dalam kegiatan tersebut. Mereka bergotong royong mengangkut bahan bangunan, melakukan pengecoran, serta membersihkan area proyek.

Kebersamaan antara aparat dan masyarakat terlihat nyata di tengah suasana yang akrab dan penuh kekeluargaan.

Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk keterlibatan aktif kepolisian dalam dinamika sosial masyarakat. Kapolsek Sinjai Tengah menyatakan bahwa kerja bakti merupakan wujud sinergi yang produktif antara kepolisian dan warga.

“Kami ingin menunjukkan bahwa polisi bukan hanya hadir untuk menjaga keamanan, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat dalam kegiatan-kegiatan sosial yang bermanfaat seperti ini,” ungkap Iptu Tenri Gangka.

“Gotong royong adalah nilai luhur bangsa yang harus terus kita jaga dan lestarikan bersama,” lanjutnya.

Dengan mengenakan pakaian kerja sederhana, Kapolsek turut serta mengangkat batu, semen, dan membersihkan lokasi pembangunan.

Kapolsek juga menyampaikan imbauan kamtibmas kepada warga. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan.

“Kami berharap semangat kebersamaan ini tidak hanya berhenti di sini. Mari kita lanjutkan dengan saling menjaga, saling menghargai, dan bersama menciptakan suasana yang aman dan nyaman di tengah masyarakat,” tambahnya.

Melalui kegiatan kerja bakti ini, diharapkan hubungan antara polisi dan masyarakat semakin solid dalam membangun lingkungan yang aman dan religius.

Selain kerja fisik, kegiatan ini juga menjadi ruang dialog terbuka antara masyarakat dan pihak kepolisian.

Ketua Umum Mushida Dorong Penguatan Jatidiri dan Sinergi Kader di Sulawesi Barat

0

MAMUJU (Hidayatullah.or.id) — Dalam upaya memperkuat barisan dakwah dan mempererat ukhuwah Islamiyah, Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah menggelar kunjungan wilayah ke Pondok Pesantren Hidayatullah Mamuju, Sulawesi Barat, pada Sabtu, 1 Shafar 1447 (26/7/2025).

Kegiatan bertema “Sinergi Organisasi dan Spirit Juang dalam Bingkai Ukhuwah Islamiyah” ini dihadiri peserta dari berbagai jenjang kepengurusan, mulai dari tingkat pusat hingga daerah.

Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah Pusat, Hani Akbar, S.Sos.I, bersama Ina Sriwahyuni, S.Pd., turut memimpin kegiatan tersebut. Mereka disambut oleh pengurus wilayah dan perwakilan daerah dari seluruh kabupaten di Sulawesi Barat.

Ketua PW Muslimat Hidayatullah Sulbar Saldiana menyampaikan apresiasi atas kunjungan tersebut. Menurutnya, momentum ini menjadi titik awal penguatan semangat kaderisasi dan perjuangan dakwah lokal.

“Kunjungan ini menjadi penyegar semangat kami di daerah. Kami berharap ini menjadi langkah nyata dalam memperkuat sinergi dan memperluas peran Muslimat di berbagai lini,” ujarnya.

Memperteguh Identitas Dakwah Muslimat

Dalam sesi konsolidasi organisasi, Hani Akbar menekankan pentingnya penguatan jati diri Muslimat sebagai penggerak dakwah berbasis keluarga.

“Kita harus memperkuat jati diri organisasi agar mampu bertahan di tengah tantangan zaman. Muslimat harus menjadi pelopor dalam membangun keluarga yang kokoh dan peradaban yang Qur’ani,” tegasnya.

Sementara itu, Ina Sriwahyuni membawakan materi bertajuk “Team Building dalam Perspektif Islam” yang menyoroti pentingnya komunikasi dan penerimaan dalam membangun tim kerja.

“Organisasi yang efektif lahir dari tim yang solid. Komunikasi, kepercayaan, dan penerimaan terhadap sesama menjadi kunci penting,” jelasnya.

Pada kesempatan itu diadakan pengajian gabungan bersama Muslimat Hidayatullah Mamuju. Dalam tausiyahnya, Hani Akbar menekankan pentingnya peran orang tua sebagai pendidik utama.

“Pendidikan anak dimulai dari keteladanan orang tua. Mari kita perkuat peran kita sebagai ibu dan pendidik utama dalam rumah tangga,” pesannya.

KH Ma’ruf Amin Ingatkan Kerukunan Ulama Kunci Persatuan Umat dan Bangsa

0
Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia Prof Dr KH Ma’ruf Amin (Foto: Muhammad Zuhri Fadlullah/ Hidayatullah.or.id)

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Majelis Ulama Indonesia (MUI) memperingati puncak milad emasnya yang ke-50 tahun pada di Aula Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Sabtu malam, 1 Shafar 1447 (26/7/2025). Acara tersebut menjadi momen reflektif bagi eksistensi MUI sebagai lembaga keagamaan strategis dalam kehidupan kebangsaan dan keumatan.

Dalam sambutannya, Ketua Dewan Pertimbangan (Wantim) MUI KH Ma’ruf Amin menyampaikan arahan kepada seluruh jajaran kepengurusan MUI, mulai dari tingkat pusat, provinsi, hingga kabupaten/kota.

KH Ma’ruf menggarisbawahi pentingnya menjaga keberlanjutan peran MUI sebagai pelayan umat (khodimul ummah) dan mitra pemerintah yang terpercaya (sodiqul hukumah).

“MUI selama 50 tahun berkhidmat untuk umat, untuk bangsa dan negara. MUI tidak boleh berhenti dan harus terus melakukan pengabdian itu,” ujar Kiai Ma’ruf Amin di hadapan peserta acara.

Ia menegaskan bahwa keberadaan MUI tidak cukup hanya bertahan, tetapi juga harus tetap aktif dalam menjaga umat melalui fatwa-fatwa yang proporsional dan sesuai prinsip syariah. Menurutnya, fatwa tidak boleh bersifat ekstrem, baik terlalu keras maupun terlalu permisif.

“MUI harus menjaga umat dari fatwa-fatwa yang nyeleneh, fatwa-fatwa yang keras, dan fatwa yang memudah-mudahkan,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan peran penting MUI dalam melindungi umat dari praktik muamalah yang menyimpang dan konsumsi yang tidak halal. Kiai Ma’ruf menekankan, kunci utama dari semua itu adalah menjaga persatuan umat.

“Dan yang menjadi kunci dari semua hal tersebut adalah MUI harus menjaga umat dari perpecahan dan perselisihan. Sebab kalau ada keduanya, program apapun tidak dapat kita laksanakan,” imbuhnya.

Ia juga mengingatkan bahwa kerukunan antarumat merupakan fondasi bagi kerukunan antaragama dan antarbangsa. Dalam hal ini, dia menegaskan, peran ulama menjadi sentral.

“Rusaknya kerukunan ummat itu karena tidak rukunnya ulama. Maka yang paling utama dijaga adalah dijaga ulamanya dari perselisihan dan perpecahan,” pungkasnya.

Sinergi Hidayatullah Wujudkan Buton Tengah sebagai Kota Santri dan Pendidikan

0

BUTON TENGAH (Hidayatullah.or.id) — Kasat Binmas Polres Buton Tengah, AKP La Bela, menyampaikan komitmennya dalam mendukung pembangunan Pesantren Hidayatullah yang berlokasi di Kelurahan Lawela, Kecamatan Gu, Kabupaten Buton Tengah, Sulawesi Tenggara. Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu, 1 Shafar 1447 H bertepatan dengan 26 Juli 2025.

Dalam rangkaian kunjungan dan giat kerja bakti tersebut, AKP La Bela menegaskan pentingnya peran pesantren dalam penguatan karakter generasi muda. Menurutnya, institusi pendidikan berbasis Islam seperti Pesantren Hidayatullah memiliki kontribusi signifikan dalam membentuk generasi berakhlak mulia.

“Pesantren Hidayatullah memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan moral generasi muda yang berakhlakul karimah. Kami akan terus mendukung kegiatan positif yang dilakukan oleh pesantren ini,” ungkap AKP La Bela di hadapan para tokoh masyarakat dan jajaran pengurus pesantren.

Dukungan tersebut juga mencakup partisipasi aktif dalam proses pembangunan Masjid At-Taufiq yang menjadi fasilitas utama di lingkungan pesantren. Pembangunan masjid tersebut telah mencapai progres sekitar 30 persen dan membutuhkan dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak.

“Kami berharap pemerintah daerah dapat memberikan dukungan dan bantuan yang memadai untuk menyelesaikan pembangunan Masjid At-Taufiq dan meningkatkan kualitas pendidikan di pesantren Hidayatullah,” tambah AKP La Bela yang juga menjabat sebagai Ketua Pembangunan Masjid At-Taufiq.

Lebih lanjut, inisiatif ini dinilai sejalan dengan visi Kabupaten Buton Tengah di bawah kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Buton Tengah Dr. H. Azhari, S.STP., M.Si dan Muhammad Adam Basan, S.Sos., sebagai kota santri dan kota pendidikan, yaitu daerah yang menjunjung tinggi nilai-nilai religiusitas, pendidikan, dan budaya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri sejumlah pengerusi Hidayatullah dari berbagai wilayah, di antaranya Ketua Badan Pembina Pesantren Hidayatullah Lombe Ust. Abd Syukur, Murabbi Hidayatullah Kepton Ust. H. Mahrus Salam, Ketua DPDH Buteng Ust. Muh Nurdin, Sekretaris DPDH Baubau Ust. Muh Nur Akbar, Ketua DPDH Muna Ust. Muzakkar Salim, Ketua DPDH Muna Barat Ust. Abdul Azis, serta perwakilan Muslimat Hidayatullah Kepton.