Beranda blog Halaman 73

KH. Naspi Arsyad: Pembangunan Peradaban Islam Harus Menyatu dengan Realitas Kehidupan

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, Lc., menyampaikan arahan strategis dalam rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) VI Muslimat Hidayatullah (Mushida) yang digelar di Hotel Grand Dafam Ancol, Jakarta, Kamis, 6 Jumadil Akhir 1447 (27/11/2025).

Dalam arahannya, KH. Naspi menegaskan bahwa pembangunan peradaban Islam bukan lagi sekadar wacana ideal, melainkan kerja kolektif yang harus dirancang secara sistematis, terukur, dan berlandaskan pada nilai-nilai fundamental Al-Qur’an dan Sunnah.

Mengangkat tema besar pembangunan peradaban Islam, Naspi membuka paparannya dengan menegaskan bahwa peradaban adalah konsep universal yang selalu bergerak, berkembang, dan dibentuk oleh interaksi manusia dengan lingkungannya.

“Peradaban, sebagai sebuah konsep universal, adalah refleksi dari dinamika yang senantiasa berubah dan bergerak menuju kemajuan,” kata Naspi.

Menghubungkan visi besar Hidayatullah, KH. Naspi menegaskan bahwa terbangunnya peradaban Islam adalah visi inti yang mencakup misi pendidikan, dakwah, dan pembinaan umat. Ia mengutip ayat Al-Qur’an sebagai fondasi perjuangan ini, di antaranya QS. Al-Anbiya ayat 107 dan QS. Saba’ ayat 28 yang menegaskan tugas kerasulan sebagai rahmat bagi seluruh alam dan bagi seluruh manusia.

Dalam perspektif pria kelahiran Ujung Pandang ini, peradaban Islam adalah peradaban yang dibangun di atas nilai iman yang menyatu dengan realitas kehidupan. Peradaban bukanlah upaya memisahkan spiritualitas dari kemajuan modern, tetapi mengintegrasikan keduanya agar kehidupan manusia lebih bernilai dan bermartabat.

Ia juga mengutip pesan penting dari Rais ‘Aam Hidayatullah, KH. Abdurrahman Muhammad, bahwa, kalau Hidayatullah ingin berpengaruh, maka ada dua syaratnya; harus punya keunggulan serta punya keunikan, dan Sistematika Wahyu memberikan dua hal tersebut. Pesan ini, menurutnya, menjadi arah strategis organisasi dalam menjawab tantangan zaman.

Masih dalam arahannya, KH. Naspi menguraikan lima faktor eksternal yang akan sangat memengaruhi gerak dakwah dan organisasi dalam dekade mendatang.

Pertama, disrupsi teknologi yang mencapai puncaknya dan menuntut kemampuan adaptasi cepat. Kedua, periode bonus demografi 2030–2040 yang membuka peluang besar tetapi sekaligus tantangan bagi stabilitas sosial-ekonomi.

Ketiga, fragmentasi sosial global yang memunculkan penurunan modal sosial dan meningkatnya polarisasi. Keempat, ketidakpastian ekonomi global dan tekanan terhadap daya tahan ekonomi nasional.

Dan, Kelima, fragmentasi politik umat yang mengancam kohesi internal organisasi Islam.

Ia menyampaikan bahwa kesiapan mental, spiritual, dan kelembagaan sangat diperlukan agar organisasi tetap solid dan mampu mengarahkan umat menuju kesatuan pemikiran dan harmoni sosial.

KH. Naspi kembali menggarisbawahi prinsip yang diajarkan pendiri Hidayatullah, Abdullah Said, bahwa peradaban Islam dibangun melalui integrasi iman, ilmu, dan amal.

“Peradaban Islam dibangun melalui integrasi iman, ilmu, dan amal, serta mewujudkan visi Islam dalam setiap aspek kehidupan. Pesantren Hidayatullah sebagai miniatur peradaban Islam mencerminkan ajaran Islam secara menyeluruh, mulai dari hal spiritual hingga keterampilan intelektual seperti analitis,” katanya.

Menurutnya, Mushida sebagai pilar penting organisasi memiliki peran strategis dalam mencetak generasi rabbani, membangun keluarga beradab, dan menguatkan ketahanan sosial umat.

Ia menjelaskan bahwa tarbiyah dan dakwah merupakan dua kekuatan yang saling melengkapi. Tarbiyah membentuk karakter dan iman individu, sedangkan dakwah menggerakkan individu tersebut untuk memperbaiki masyarakat. Keduanya memastikan pembangunan peradaban Islam tidak hanya fokus pada kemajuan material, tetapi juga kematangan moral dan kesejahteraan holistik.

Ia mengajak Muslimat Hidayatullah untuk terus memperkuat peran pendidikan keluarga dan dakwah komunitas, sehingga keberadaan Mushida menjadi pusat penguatan nilai-nilai Islam yang hidup dan menggerakkan.

Syura dan Akselerasi Keanggotaan

Dalam aspek tata kelola organisasi, KH. Naspi menekankan pentingnya kepemimpinan syura sebagai instrumen utama dalam merumuskan kebijakan dan arah gerak organisasi. Kepemimpinan yang kolektif, terukur, dan berkesinambungan menjadi kunci agar organisasi mampu melewati pergantian kepemimpinan secara mulus sekaligus menghasilkan keputusan strategis.

Saat ini, Hidayatullah telah memasuki fase transformasi dari organisasi sosial menjadi organisasi kemasyarakatan (ormas). Perubahan ini harus disikapi dengan akselerasi yang masif, inklusif, dan berbasis kapasitas kader serta ada empat hal diperkuat yakni identitas nilai, struktur dan manajemen kerja, pengelolaan SDM, serta integrasi teknologi.

KH. Naspi memberi penekanan khusus pada pentingnya percepatan rekrutmen anggota melalui berbagai jalur, termasuk Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (GMH), Pemuda Hidayatullah, dan Annisa Keputrian. Mahasiswa dan pemuda, menurutnya, adalah aset strategis dalam transformasi menuju peradaban Islam yang unggul.

Mengakhiri arahannya, KH. Naspi mengajak seluruh Muslimat Hidayatullah menjadikan Munas VI sebagai momentum konsolidasi, sinergi, dan pembaruan. Ia menegaskan bahwa keluarga, perempuan, dan para ibu adalah pusat keberlangsungan nilai peradaban.

Di Forum Munas VI Muslimat Hidayatullah, Kemen PPPA Dorong Penguatan Ketahanan Keluarga

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam sambutannya pada pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) VI Muslimat Hidayatullah (Mushida) yang dibacakan oleh Staf Khusus Menteri PPPA, Ariza Agustina, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) Hj. Arifatul Choiri Fauzi mendorong pentingnya penguatan ketahanan keluarga serta menegaskan pentingnya kepemimpinan yang lahir dari Munas VI Muslimat Hidayatullah.

Ia menyampaikan bahwa Munas merupakan forum yang sangat strategis untuk menentukan pemimpin terbaik yang mampu membawa Mushida pada kontribusi nasional yang lebih besar.

Arifatul melihat bahwa organisasi perempuan memiliki kekuatan besar dalam pembinaan keluarga, pendidikan moral, serta peningkatan kapasitas perempuan di berbagai bidang. Oleh sebab itu, ia berharap Munas VI melahirkan pimpinan yang kompeten, amanah, dan didukung oleh perangkat organisasi yang solid.

Ia menyampaikan doa penutup dengan harapan agar seluruh rangkaian Munas menjadi amal kebaikan bagi seluruh peserta.

“Selamat ber-Munas semoga terpilih yang terbaik sebagai pimpinan dengan dukungan tim-nya dan rencana kerja yang berkontribusi positif terhadap pembangunan bangsa dan negara Indonesia. Dan, semoga yang dilakukan hari ini menjadi amal soleh kita,” katanya dalam sambutan tertulisnya di Gedung DPR RI Jakarta, pada Kamis, 6 Jumadil Akhir 1447 (27/11/2025).

Arifatul menegaskan bahwa peran Mushida sangat relevan dalam menguatkan pondasi tersebut. Melalui pendidikan, pemberdayaan, dan pendampingan di tengah masyarakat, Mushida turut memperkokoh peran perempuan sebagai pilar keluarga dan masyarakat.

Ia juga menegaskan pentingnya kualitas kepemimpinan yang lahir dari Munas VI serta menjadi momentum memperkuat kontribusi perempuan Muslim Indonesia dalam pembangunan nasional.

“Selamat ber-Munas semoga terpilih yang terbaik sebagai pimpinan dengan dukungan tim-nya dan rencana kerja yang berkontribusi positif terhadap pembangunan bangsa dan negara Indonesia. Dan, semoga yang dilakukan hari ini menjadi amal soleh kita,” tandasnya.

Hidayatullah Serukan Solidaritas untuk Warga Sibolga dan Tapanuli di Masa Bencana

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Wakil Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah, Muhammad Isnaini, menyampaikan rasa duka mendalam seraya menyerukan kepada seluruh kader dan jejaring organisasi untuk membantu masyarakat di wilayah terdampak bencana banjir dan tanah longsor di Provinsi Sumatera Utara, khususnya di Kota Sibolga serta wilayah Tapanuli Raya. Pernyataan itu disampaikan di tengah eskalasi korban dan kerusakan yang sangat luas akibat bencana hidrometeorologi pada akhir November 2025 ini.

Menurut Isnaini, bencana yang terjadi juga telah menimpa sejumlah pesantren di bawah naungan organisasi, di antaranya Pondok Pesantren Hidayatullah Sibolga, Pesantren Darussa’adah Sipange Purba Tukka di Tapanuli Tengah, dan Pondok Quran Hidayatullah Besitang di Kecamatan Langkat. Ia menyebut bahwa akses informasi masih terganggu karena telekomunikasi dan infrastruktur amat terputus.

“Hingga kini kami belum dapat terhubung secara intens dengan semua lokasi terdampak,” katanya, seraya menambahkan bahwa belum ada laporan pasti mengenai korban jiwa dari pesantren-pesantren tersebut.

Meski demikian, Isnaini menekankan bahwa kerusakan fisik, terutama di Pesantren Darussa’adah Sipange Purba Tukka, tergolong berat akibat longsor, sehingga membutuhkan perhatian segera.

Tim Hidayatullah Peduli turun ke lokasi bencana sekaligus melakukan mapping assesment (Foto: Dok. Hidayatullah Tananuli)

Ia mengatakan Hidayatullah melalui badan sosial internalnya seperti Hidayatullah Peduli bersama SAR Hidayatullah, Baitulmaal Hidayatullah, dan PosDai Hidayatullah sudah menurunkan tim ke lokasi meskipun medan sulit dijangkau.

“Kita mengajak seluruh kader dan jaringan untuk mendoakan saudara-saudara kita di Sibolga dan Tapanuli Raya, serta membantu meringankan beban mereka baik lewat doa, bantuan logistik, maupun dukungan moral,” katanya, seraya menekankan dalam situasi genting seperti ini, solidaritas dan kecepatan respons sangat diperlukan untuk meminimalisir dampak sosial dan kemanusiaan.

Data terbaru menunjukkan bahwa beberapa wilayah di Sumatera Utara, termasuk Sibolga, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Utara, mengalami banjir dan longsor hebat, dengan korban jiwa dan hilang, kerusakan rumah, serta akses terputus akibat longsor dan jalan tertutup material. Pemerintah pusat dan daerah telah menetapkan status tanggap darurat untuk beberapa kabupaten/kota terdampak.

Lebih jauh, Isnaini menekankan bahwa bencana ini bukan hanya soal fisik dan material, tetapi juga menyentuh aspek psikologis dan sosial dimana banyak keluarga yang kehilangan tempat tinggal, anak-anak yang ketakutan, dan komunitas pesantren yang kehilangan ruang ibadah serta pendidikan.

Oleh sebab itu, bantuan jangka panjang termasuk pemulihan sarana pendidikan, layanan sosial, serta pendampingan psikososial menjadi bagian dari prioritas.

Ia juga mengajak jaringan dan seluruh masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana lanjutan, mengingat hujan ekstrem terus melanda, dan banyak infrastruktur dasar masih rusak.

Update:

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam konferensi pers yang disiarkan langsung di kanal YouTube BNPB Indonesia, Jumat (28/11/2025). menyampaikan perkembangan data korban bencana yang terjadi di Aceh, Sumut dan Sumbar.

Tercatat total ada 174 orang meninggal dunia dan 79 orang masih hilang. Korban tewas di Aceh totalnya yakni 116 orang. Lalu, masih ada 42 orang yang hilang.

Kemudian, di Sumbar tercatat ada 23 orang yang meninggal. Kemudian, tercatat 12 orang yang masih hilang. Di Sumut total ada 35 korban meninggal. Kemudian masih ada 25 orang yang hilang.

KHUTBAH JUM’AT Generasi Tangguh Lahir dari Pendidikan Tauhid

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ, فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Ikhwani Kaum Muslimin Rahimani wa Rahimakumullahu,

Dalam banyak penyampaian yang sering kita dengar, cerita tentang kisah Musa pada saat masih bayi berfokus pada ketegangan yang dialami seorang ibu yang baru saja melahirkan anak laki laki yang paling dicari cari di masanya, atau keteguhan seorang Ibu yang meletakkan bayinya yang masih merah di atas keranjang untuk mengikuti aliran sungai, atau bagaimana bayi tersebut selamat hingga tiba di pangkuan wanita beriman lainnya di dalam lingkungan istana Firaun yang justru sedang memburunya.

Ada satu adegan di antara kisah ini yang mungkin belum banyak di-highlight yang menjadi titik krusial kembalinya Nabi Musa, tentu atas izin Allah, ke pangkuan Ibunya. Allah mengabadikan adegan ini di dalam Al – qur’an, surat Thaha ayat 40 yaitu:

اِذْ تَمْشِيْٓ اُخْتُكَ فَتَقُوْلُ هَلْ اَدُلُّكُمْ عَلٰى مَنْ يَّكْفُلُهٗۗ فَرَجَعْنٰكَ اِلٰٓى اُمِّكَ كَيْ تَقَرَّ عَيْنُهَا وَلَا تَحْزَنَ

Ketika saudara perempuanmu berjalan (untuk mengawasi dan mengetahui berita), dia berkata (kepada keluarga Fir‘aun), ‘Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan memeliharanya?’ Maka, Kami mengembalikanmu kepada ibumu agar senang hatinya dan tidak bersedih

Adegan ini memperlihatkan ada sosok saudara perempuan yang berperan penting dalam fase perjalanan kehidupan Nabi Musa a.s.. Ia mengawasi keranjang yang membawa bayi Musa terombang – ambing di atas sungai hingga sampai ke Istana Firaun.

Atas dasar apa saudara perempuannya mau mengawasi adiknya, Musa, yang masih merah, dari kejauhan dalam keadaan adiknya dan ia sendiri terancam mara bahaya apabila ditemukan oleh Firaun dan tentaranya?

Kalau bukan karena atas dasar taat pada perintah dan permintaan ibunya untuk mengawasi keranjang Musa dari kejauhan dan mengikutinya hingga mengetahui nasib yang terjadi pada Musa kecil, tentu jalan cerita Nabi Musa tidak akan seperti ini.

Inilah kunci keselamatan Musa kembali dalam pangkuan ibunya, atas izin Allah, yang membuat air mata kesedihan ibunya berubah menjadi air mata kebahagiaan, karena ada anak yang mau mendengar permintaan Ibunya untuk mengawasi dan mengikuti keranjang yang membawa adiknya di atas aliran sungai.

Ikhwani Kaum Muslimin Rahimani wa Rahimakumullahu,

Keberhasilan Ibu Nabi Musa untuk mendapati kembali putranya yang lolos dalam pemburuan penguasa Firaun dan bala tentaranya pada saat itu, adalah karena ada ketaatan pada orang tua yang diwujudkan oleh putrinya, Kakak dari Nabi Musa as.

Inilah yang dibutuhkan oleh generasi hari ini, yaitu ketaatan pada ayah bunda. Ketaatan ini adalah wujud dari pendidikan yang dilakukan orang tua di dalam lingkungan keluarga.

Pendidikan berbasis tauhid yang mengantar anak untuk taat pada orang tua dalam menjalankan perintah Sang Pencipta, Allah azza wa jalla.

Ikhwani Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullahu,

Mari kita lihat adegan pada kisah lainnya, dimana Yusuf muda berhasil keluar dari bujuk rayu seorang wanita cantik dalam sebuah kamar.

Di sebuah rumah besar yang tak ada satupun penghuninya kecuali sang majikan, wanita cantik tersebut, bersama Nabi Yusuf as.

Dalam keadaan yang sangat genting, dimana wanita tersebut menawarkan sesuatu yang pada umumnya dicari dan diburu oleh kaum lelaki hingga menghabiskan rupiah demi rupiah bahkan sampai ada yang bergelar gila wanita, Yusuf muda mampu keluar dari jebakan ini.

وَرَاوَدَتْهُ الَّتِيْ هُوَ فِيْ بَيْتِهَا عَنْ نَّفْسِهٖ وَغَلَّقَتِ الْاَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَۗ قَالَ مَعَاذَ اللّٰهِ اِنَّهٗ رَبِّيْٓ اَحْسَنَ مَثْوَايَۗ اِنَّهٗ لَا يُفْلِحُ الظّٰلِمُوْنَ

“Perempuan, yang dia (Yusuf) tinggal di rumahnya, menggodanya. Dia menutup rapat semua pintu, lalu berkata, “Marilah mendekat kepadaku.” Yusuf berkata, “Aku berlindung kepada Allah. Sesungguhnya dia (suamimu) adalah tuanku. Dia telah memperlakukanku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang zalim tidak akan beruntung.”

Lihatlah peristiwa ini, seorang pria muda sedang berada dalam keadaan yang sangat krusial. Di hadapannya tersaji sebuah pemandangan yang bisa meruntuhkan keimanannya, sebagaimana terjadi pada kaum pria hari ini yang bahkan menggunakan segala daya dan upaya untuk berada pada situasi ini.

Yusuf muda digoda, dikunci semua pintu rumah, di dalam kamar yang juga terkunci, hanya berdua, lalu wanita cantik tersebut mengatakan “hayta laka”, datanglah kepadaku.

Jawaban yang keluar dari lisan Yusuf sungguh sangat mengejutkan wanita tersebut, hingga diabadikan oleh Allah di dalam Al-Qur’an agar menjadi pelajaran buat kita semua, yaitu قَالَ مَعَاذَ اللّٰهِ “aku berlindung kepada Allah”.

Kekuatan apa kira kira yang mampu membuat Yusuf muda berdiri teguh, tidak tergoda sedikit pun oleh sajian wanita cantik di hadapannya dengan kata kata yang manis dan penampilan yang mampu menggoda syahwat kaum pria untuk mengucapkan مَعَاذَ اللّٰهِ “aku berlindung kepada Allah!”

Kalau bukan karena hasil didikan dari kedua orang tuanya, terkhusus ayahnya yang juga seorang Nabi, dalam bingkai pendidikan berbasis tauhid yang ditumbuhkan sejak usia dini dari rumah sendiri, tentu peristiwa yang menjadi bagian dari kisah terbaik yang diabadikan dalam Al-Qur’an akan berbeda jalan ceritanya.

Dua kisah di atas, kakak Nabi Musa, dan kisah Nabi Yusuf as, merupakan gambaran betapa pentingnya pendidikan tauhid dibangun sejak dini dari lingkungan keluarga.

Dengan pendidikan tauhid akan lahir generasi-generasi tangguh yang tahu pentingnya ketaatan pada kedua orang tua sebagai bentuk ketaatan kepada Allah swt.

Pendidikan berbasis tauhid juga akan melahirkan generasi yang mampu teguh dalam ketundukan kepada Allah swt, apapun ujian dan cobaan yang dihadapi hatta ujian hawa nafsu.

Tanpa pendidikan berbasis tauhid, generasi hari ini akan menjadi generasi yang rapuh yang tidak siap mengarungi perjalanan berat, layaknya perjalanan kakak Nabi Musa yang penuh dengan risiko bahkan masuk ke dalam istana penguasa yang sedang mengincar adiknya yang masih bayi.

Tanpa pendidikan berbasis tauhid, tidak akan muncul generasi percaya diri yang berani mendeklarasikan مَعَاذَ اللّٰهِ saat godaan dan tawaran apakah berupa wanita, harta atau tahta dapat diraih dengan cara yang melanggar perintah Allah azza wa jalla.

Ikhwani Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullahu,

Lalu lihatlah sebuah adegan dimana Ismail muda yang sedang terancam nyawanya di tangan ayahnya sendiri memperlihatkan ketegaran untuk meyakinkan Ayahnya bahwa ia siap untuk dikurbankan.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”

Gerangan apa yang membuat Ismail muda tegar dan penuh percaya diri mengeluarkan kalimat yang begitu heroik يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ “Wahai Ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu.”

Sekali lagi, ini adalah peragaan iman, peragaan keyakinan kepada Allah yang Maha Kuasa, buah dari pendidikan tauhid yang diberikan sejak usia dini dari dalam lingkungan keluarga.

Bayangkan, kalau pertanyaan ini disampaikan kepada sosok anak muda yang baru tumbuh remaja, “wahai anakku aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?”.

Maka akan muncul berbagai jawaban yang mungkin dilakukan pemuda pada umumnya. Ayah gila, Bapak stress, orang tua tidak sayang anak, dan banyak lagi jawaban, bahkan mungkin cacian dan umpatan yang tidak terkontrol keluar dari lisan sang anak.

Tapi, karena pendidikan tauhid yang diberikan oleh Nabiullah Ibrahim as bersama istrinya sejak usia dini, maka respon yang keluar dari lisan Nabiullah Ismail as adalah respon orang beriman yang siap melaksanakan ketetapan Allah swt.

Ikhwani kaum Muslimin Rahimani wa Rahimakumullahu,

Kisah-kisah di atas hendaknya menjadi ibrah buat kita, khususnya kaum ayah yang hadir pada kesempatan Jum’at yang mulia ini, bahwa pendidikan tauhid harus diberikan sejak usia dini, dan dimulai dari lingkungan keluarga.

Kita ingin anak anak kita menjadi generasi yang tunduk dalam ketaatan kepada orang tua sebagai wujud ketaatan mereka kepada Allah.

Kita ingin mereka menjadi generasi yang takut kepada Allah dimanapun mereka berada, pada saat mereka sendirian atau bahkan pada saat mereka tidak lagi bersama kedua orang tuanya.

Maka, jangan pernah lalai untuk mengajarkan dan menumbuh kembangkan nilai nilai tauhid pada generasi kita.

Beri nasehat dan beri teladan kepada mereka agar generasi keturunan kita menjadi generasi yang meneguhkan nilai-nilai tauhid di dalam dirinya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا

اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ

اَللّٰهُمَّ انْصُرِ الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ ارْحَمِ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ. اَللّٰهُمَّ اكْشِفْ الغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْفَعَ الْبَلَاءَ عَنْ غَزَّةَ وَأَهْلِهَا، وَأَنْ تَنْصُرَهُمْ عَلَى عَدُوِّهِمْ، وَأَنْ تَرْحَمَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ، وَأَنْ تَكْشِفَ الْغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ عَافِنَا وَالْطُفْ بِنَا وَاحْفَظْنَا وَانْصُرْنَا وَفَرِِّجْ عَنَّا وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اكْفِنَا وَإِيَّاهُمْ جَمِيْعًا شَرَّ مَصَائِبِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

(Untuk mengunduh naskah ini ke format PDF, klik icon “print” pada share button di bawah lalu pilih simpan file PDF)

Munas VI Muslimat Hidayatullah, Naspi Arsyad Tegaskan Pentingnya Keamanan Mental-Spiritual Anak Bangsa

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, Lc., menyampaikan sambutan dalam pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) VI Muslimat Hidayatullah di Gedung DPR RI Jakarta, Kamis, 6 Jumadil Akhir 1447 (27/11/2025).

Dalam sambutannya, KH. Naspi Arsyad mengangkat isu yang menyentuh jantung persoalan keluarga Indonesia berkenaan dengan ketahanan keluarga dan keamanan ruang hidup anak di era digital saat ini.

Naspi mengajak para peserta melihat kembali perubahan cara pandang masyarakat tentang rasa aman. Ia menggambarkan bagaimana istilah “aman” pada masa lalu memiliki makna yang berbeda dengan kondisi saat ini, sekaligus menegaskan pentingnya membaca perubahan zaman secara jernih dan menyeluruh.

“Jika kita flashback beberapa puluh tahun silam, terminologi tentang kata ‘aman’ masih berkisar pada definisi fisik atau bersifat material,” katanya.

Penjelasan itu ia lanjutkan dengan menguraikan bahwa kondisi masa lalu sering diidentikkan dengan ancaman fisik yang bersifat langsung. Keamanan dipahami sebagai perlindungan dari tindak kriminal, gejolak politik, atau kondisi ekonomi yang goyah.

Naspi menjelaskan bahwa pada masa itu kata “aman” identik dengan kriminalitas semisal perampokan, pencurian, pembunuhan, atau ancaman sosial politik dan ekonomi yang mengganggu stabilitas kesejahteraan bangsa.

Namun, Naspi kemudian membawa para peserta pada realitas baru yang jauh lebih kompleks. Ia menjelaskan bahwa definisi rasa aman di era digital tidak lagi bertumpu pada ancaman fisik semata, melainkan pada ancaman psikologis dan spiritual yang mengintai anak-anak bangsa setiap hari.

“Jika kita bawa terminologi ‘aman’ ke zaman now, maka secara faktual, definisinya tidak lagi sekedar berlatar fisik atau material,” terangnya.

Perubahan definisi rasa aman itu, katanya, berhubungan erat dengan perkembangan teknologi dan interaksi digital tanpa batas. Menurutnya, ancaman terbesar yang dihadapi anak-anak Indonesia saat ini justru datang dari ruang maya yang sering luput dari pengawasan.

“Saat ini, anak-anak bangsa tidak lagi ‘aman’ dari risiko cyberbullying, eksploitasi seksual, pencurian identitas, dan phishing yang efek hilangnya rasa aman dari serangan seperti ini jauh lebih menakutkan dari kematian karena berimbas pada hilangnya jatidiri bangsa, hilangnya kedaulatan negara wa bil khusus, tercabutnya akar agama dari diri masyarakat Indonesia,” terangnya.

Untuk memperkuat urgensinya, Naspi mengutip riset Global Safety Report 2025 yang menempatkan Singapura, Tajikistan, dan China sebagai tiga negara paling aman di dunia. Namun, ia mengingatkan bahwa indikator yang digunakan riset tersebut masih sebatas keamanan fisik.

Ia kemudian menyoroti data lanjutan dimana Singapura, meski dianggap paling aman secara fisik, justru memiliki tingkat stres tertinggi di Asia Tenggara dan tingkat bunuh diri tertinggi di kawasan pada tahun 2024.

Dari data itu, Naspi mengajak seluruh peserta Munas untuk memahami inti persoalan bahwa keamanan fisik bukan satu-satunya tolok ukur kesejahteraan bangsa.

“Secara langsung kami ingin mengatakan bahwa keamanan mental spiritual jauh lebih utama menjadi perhatian negara karena lebih berpotensi dalam meningkatkan level kebahagiaan rakyatnya,” imbuhnya.

Naspi menegaskan bahwa di tengah tantangan yang demikian besar, peran lembaga keislaman seperti Hidayatullah menjadi sangat penting. Meski tidak selalu muncul di ruang publik atau perbincangan media, kontribusinya nyata dalam membangun pendidikan dan kesadaran umat.

Kehadiran Hidayatullah di 38 provinsi menjadi bukti bahwa Hidayatullah ingin berkontribusi dalam membangun Indonesia, terutama menuju Indonesia Emas 2045.

Naspi menyerukan kepada pemerintah untuk memberikan dukungan penuh kepada gerakan dakwah termasuk Hidayatullah yang berkontribusi langsung pada ketahanan keluarga dan pembinaan masyarakat.

Naspi mengingatkan bahwa ketahanan keluarga, keamanan mental-spiritual, dan dukungan terhadap lembaga dakwah adalah fondasi penting menuju masa depan bangsa yang lebih kuat.

Perkumpulan Muslimat Hidayatullah sebagai organisasi pendukung Ormas Hidayatullah, menggelar Munas IV yang mengusung tema “Meneguhkan Peran Muslimah dalam Membangun Ketahanan Keluarga Menuju Indonesia Emas.”

Pembukaan acara turut dihadiri Ketua Majelis Penasehat Hidayatullah Ust. H. Abdul Latif Usman, Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah KH. Hamim Thohari, Wakil Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah KH. Nashirul Haq, Ketua Majelis Penasihat Muslimat Hidayatullah Dr. Hj. Sabriati Aziz, dan Staf Khusus Menteri Bidang Perlindungan Perempuan Hj. Ariza Agustina, S.E., M.Si yang mewakili Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Dra. Hj. Arifatul Choiri Fauzi M.Si sekaligus membuka acara.

Pembukaan ini juga sekaligus dirangkai dengan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan yang dihadiri Anggota Komisi XIII DPR RI Al Muzzammil Yusuf sebagai narasumber utama.

Almarhum H. Tahtit Eko Budi Susilo, Sosok Pengokoh Dakwah yang Dekat dengan Umat

0
H. Susilo bersama Wakil Menteri Agama Republik Indonesia Dr. Romo Muhammad Syafi’i, SH., MH, didampingi Ketua Umum DPP Hidayatullah Ust. Dr. Nashirul Haq, Lc., MA, , Ketua Yayasan Pesantren Hidayatullah Depok, Ust. Lalu Mabrul, M.Pd.I, Habib Ali bin Abdurrahman As-Segaf dan lainnya saat meresmikan Masjid Ummul Quraa Pesantren Hidayatullah Depok, Sabtu, 24 Mei 2025 (Foto: Mohade Z. Fadhlullah/ Hidorid)

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Wafatnya H. Tahtit Eko Budi Susilo pada Rabu, 5 Jumadil Akhir 1447, bertepatan dengan 26 November 2025, membawa duka mendalam bagi keluarga besar Hidayatullah.

Sebagai Anggota Dewan Kehormatan Hidayatullah, sosok almarhum dikenal luas sebagai pribadi yang tenang, bersahaja, dan penuh kepedulian terhadap dakwah serta pendidikan Islam.

Wakil Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah, KH. Dr. Nashirul Haq, Lc., M.A., menyampaikan ungkapan belasungkawa dan penghormatan atas wafatnya almarhum.

Dalam keterangannya, Nashirul Haq menghadirkan gambaran mendalam mengenai karakter dan jejak pengabdian H. Susilo, yang tidak hanya dirasakan di lingkungan Hidayatullah tetapi juga oleh masyarakat luas.

Ia mengawali kesaksiannya dengan mengenang kepribadian almarhum sebagai sosok yang mudah diterima oleh siapa saja. Kedekatan almarhum dengan berbagai kalangan termasuk dengan ulama dan habaib menunjukkan keluasan hati dan ketulusan yang beliau bawa dalam setiap perjumpaan.

“Haji Susilo adalah sosok pribadi yang dekat dengan semua kalangan, termasuk kalangan ulama dan santri. Beliau memiliki kepedulian yang tinggi terhadap pesantren dan lembaga pendidikan Islam, khususnya Hidayatullah,” katanya kepada media ini.

Nashirul Haq menggambarkan bagaimana kedekatan itu bukan sekadar hubungan sosial, tetapi bentuk komitmen yang terus dibawa almarhum sejak masa muda. Ia tumbuh dalam interaksi erat dengan Hidayatullah, dan kedekatan itu berubah menjadi pengabdian nyata ketika dewasa.

“Sejak usia muda Almarhum H. Susilo sudah mengenal Hidayatullah dan di usia dewasa beliau aktif dan banyak mencurahkan perhatiannya untuk pesantren Hidayatullah, terutama di wilayah Jakarta, Depok dan sekitarnya,” kata Wakil Sekretaris Dewan Pertimbangan (Wantim) Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini.

Nashirul Haq juga memberikan gambaran lebih luas mengenai kontribusi almarhum sebagai seorang pengusaha muslim. Ia menekankan bahwa keberhasilan almarhum dalam profesinya tidak memalingkan hatinya dari tugas moral untuk menolong sesama. Kepedulian terhadap anak yatim, kaum dhuafa, dan pendidikan Islam menjadi bagian integral dari hidupnya.

“Sebagai seorang pengusaha muslim, Beliau telah mewakafkan dan menginfakkan sebagian hartanya untuk dakwah dan pendidikan Islam, khususnya bagi kaum dhuafa dari kalangan anak yatim dan tidak mampu,” imbuhnya.

Selain kontribusi material, Nashirul Haq juga menyoroti keteladanan almarhum dalam menjaga integritas pribadi. Dalam dunia usaha, seseorang dapat berhadapan dengan berbagai situasi yang menguji prinsip moral. Namun, almarhum memilih jalan disiplin spiritual sebagai cara menjaga diri dari perbuatan yang tidak pantas.

“Dalam menjalani profesi sebagai pengusaha yang berinteraksi dengan berbagai kalangan dan menghadapi berapa kondisi. Beliau menjaga diri dari perbuatan yang tidak pantas dengan konsisten mengenakan pakaian serba putih, mulai kopiah putih, baju dan celana putih hingga alas kaki warna putih sebagai upaya menjaga diri,” katanya.

Pakaian serba putih yang selalu dikenakan almarhum bukan hanya penampilan, tetapi simbol dari komitmen pribadi dalam menjaga kesucian niat dan akhlak.

Kesaksian Nashirul Haq juga menyinggung relasi almarhum dengan para dai dan pengurus Hidayatullah di berbagai daerah. Kedekatan itu menunjukkan bahwa almarhum tidak hanya hadir sebagai donatur atau pembina, tetapi sebagai sahabat yang tulus.

“Beliau sosok yang akrab dan bersahabat, khususnya dengan pengurus, para ustadz dan dai Hidayatullah di seluruh tanah air,” katanya.

Nashirul Haq menyampaikan doa dan penghormatan terakhir kepada almarhum. Doa itu ia sampaikan sebagai penutup dari kesan-kesan mendalam atas jejak hidup Haji Susilo, sekaligus ungkapan duka cita yang mewakili keluarga besar Hidayatullah.

“Selamat jalan Pak Haji Susilo, sahabat keluarga besar Hidayatullah, semoga Allah mengampuni dosanya, menerima amal salehnya dengan balasan limpahan kebaikan, memberi tempat yang mulia di sisi-Nya. Amin,” ujarnya mendoakan.

Kepergian H. Tahtit Eko Budi Susilo meninggalkan teladan tentang kedermawanan, kesederhanaan, dan komitmen terhadap pendidikan Islam.

Melalui kiprahnya yang meluas, tergambar bahwa almarhum bukan hanya bagian dari organisasi, tetapi bagian dari hati komunitas dakwah yang ia dukung sepanjang hayatnya. Semoga nilai-nilai kebaikan yang ia tinggalkan menjadi amal jariyah yang terus mengalir.

Tabayyun dan Maslahah Ditekankan MUI untuk Warga Pengguna Media Sosial

0
Seminar interaktif membangun keadaban dalam bermedia sosial (Foto: Dok. MUI)

TANGERANG (Hidayatullah.or.id) — Perkembangan teknologi digital, terutama kehadiran kecerdasan buatan, telah mengubah cara masyarakat memperoleh, memproduksi, dan mendistribusikan informasi. Di tengah arus data yang bergerak cepat, kebutuhan terhadap literasi digital dan ketahanan masyarakat dalam menggunakan media sosial menjadi semakin mendesak.

Dalam pada itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) memandang bahwa penguatan etika, verifikasi informasi, serta orientasi kemaslahatan perlu diarahkan secara lebih sistematis untuk menjaga ruang publik tetap sehat dan produktif.

Pada Seminar Interaktif Membangun Keadaban dalam Bermedia Sosial, Wakil Ketua Umum MUI K.H. Muhammad Cholil Nafis menegaskan bahwa hampir semua informasi umum di media sosial perlu diragukan kebenarannya sampai dilakukan validasi dan verifikasi.

Ia menekankan bahwa pada era kecerdasan buatan, hampir semua bentuk informasi maupun gambar dapat dipalsukan dan tampak seperti konten asli.

“Dalam prinsip tabayyun, semua informasi yang diterimanya harus diverifikasi sebelum dipakai sendiri sebagai data atau di-share kepada yang lain,” ujar Kiai Cholil seperti dikutip laman resmi MUI, Rabu, 5 Jumadil Akhir 1447 (26/11/2025).

Anggota Kehormatan Hidayatullah ini menyampaikan bahwa perkembangan teknologi menuntut masyarakat untuk mengedepankan sikap kritis dan kehati-hatian dalam berinteraksi dengan informasi digital.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam rangkaian sosialisasi hasil Musyawarah Nasional Majelis Ulama Indonesia (Munas XI MUI) yang berlangsung di Hotel Mercure Ancol pada 20–23 November lalu.

Kiai Cholil menjelaskan bahwa momentum seminar tersebut dimaksimalkan untuk menyampaikan keputusan Munas XI MUI terkait Ketahanan Media Sosial. Ia menyebutkan bahwa Mabda’ Asasi atau Peta Jalan MUI pada paruh kedua usia setengah abad organisasi itu menempatkan media sosial sebagai alat dakwah yang berfungsi memperkuat literasi keislaman dan ketahanan nasional.

Menurutnya, strategi ini diperlukan agar perkembangan media sosial dapat dimanfaatkan secara konstruktif dalam membangun karakter, keilmuan, serta kesadaran kebangsaan.

Kegiatan sosialisasi yang diinisiasi oleh MUI Kabupaten Tangerang tersebut mendapat perhatian luas dari masyarakat. Forum itu dihadiri pengurus MUI se-Kabupaten Tangerang, para tokoh masyarakat, serta unsur media lokal.

Tabayyun dan Prinsip Maslahah

Dalam penjelasannya, Kiai Cholil menguraikan dua prinsip utama yang menjadi rukun dalam bermedia sosial, yaitu prinsip tabayyun dan prinsip maslahah. Tabayyun, menurutnya, merupakan kewajiban untuk melakukan verifikasi atas setiap informasi yang diterima agar tidak terjadi penyebaran data yang tidak akurat.

Ia menilai bahwa kecenderungan menyebarkan informasi tanpa proses pemeriksaan menjadi salah satu penyebab maraknya misinformasi di ruang digital. Pada era ketika teknologi deepfake dan manipulasi visual semakin mudah dilakukan, tahapan verifikasi menjadi semakin penting untuk menjaga akurasi dan menghindarkan masyarakat dari kesalahan persepsi.

Prinsip kedua adalah maslahah. Setelah proses verifikasi dilakukan, setiap informasi yang akan dibagikan harus memiliki nilai manfaat. Kiai Cholil menjelaskan bahwa penyebaran informasi yang valid sekalipun dapat menimbulkan dampak negatif jika mengandung unsur ghibah atau fitnah.

Oleh karena itu, jelasnya, pengguna media sosial perlu mampu menahan diri serta memilih diksi yang tepat sebelum membagikan informasi ke publik. Ia menilai bahwa sensitivitas dampak sosial merupakan bagian penting dari etika bermedia.

Dalam kesempatan tersebut, Kiai Cholil juga mengajak masyarakat agar lebih berhati-hati dan bijak dalam menggunakan media sosial. Ia mengingatkan perlunya menghindari konten yang mengandung isu SARA, kekerasan, oversharing, maupun pengungkapan berlebihan terkait informasi pribadi.

Menurutnya, pengelolaan konten yang baik akan berkontribusi besar dalam menciptakan ekosistem digital yang aman dan berkeadaban. “Ayo bijak bermedia sosial agar hidup penuh damai dan damai,” pungkasnya.

Anggota Kehormatan Hidayatullah H. Tahtit Eko Budi Susilo Meninggal Dunia

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — INNAA lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun, keluarga besar Hidayatullah berduka. Salah satu sosok guru, H. Tahtit Eko Budi Susilo, Anggota Kehormatan Hidayatullah, wafat di Jakarta pada hari Rabu, 5 Jumadil Akhir 1447 bertepatan dengan 26 November 2025.

Kabar kepergiannya hadir dengan keheningan yang dalam, seolah mengirimkan pesan bahwa seorang pejuang dakwah dan pengabdian telah menyelesaikan tugasnya di dunia.

Duka menyelimuti keluarga besar Hidayatullah, para sahabat, serta mereka yang pernah merasakan ketulusan beliau dalam membimbing, mengarahkan, dan menenangkan banyak hati.

Dalam lingkup gerakan dakwah dan pendidikan, nama H. Susilo dikenal sebagai pribadi yang tenang, santun, dan teguh dalam pendirian. Kiprahnya sebagai penasihat dan Anggota Dewan Kehormatan Hidayatullah mencerminkan karakter yang menjaga marwah organisasi, memberi keteladanan dalam disiplin, etika, dan komitmen moral.

Banyak pihak mengenangnya sebagai sosok yang lebih sering bekerja dalam diam, hadir tanpa menuntut perhatian, tetapi selalu menjadi tempat bertanya dan berteduh bagi para kader dan pengurus yang membutuhkan arahan.

Kabar duka ini juga direspons oleh Wakil Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah KH Nashirul Haq. Menurutnya, H. Susilo adalah sosok pribadi yang dekat dengan semua kalangan, termasuk kalangan ulama dan santri. Beliau memiliki kepedulian yang tinggi terhadap pesantren dan lembaga pendidikan Islam, khususnya Hidayatullah.

Nashirul menyebutkan, sejak usia muda almarhum Haji Susilo sudah mengenal Hidayatullah dan di usia dewasa beliau aktif dan banyak mencurahkan perhatiannya untuk pesantren Hidayatullah, terutama di wilayah Jakarta, Depok dan sekitarnya.

“Sebagai seorang pengusaha muslim, beliau telah mewakafkan dan menginfakkan sebagian hartanya untuk dakwah dan pendidikan Islam, khususnya bagi kaum dhuafa dari kalangan anak yatim dan tidak mampu,” katanya kepada media ini.

Haji Susilo dikenang oleh banyak kolega sebagai sosok yang hangat dalam interaksi, namun tegas dalam prinsip. Ia tidak banyak berbicara ketika tidak diperlukan, tetapi ketika memberi arahan, setiap katanya memiliki bobot dan mampu menggerakkan kesadaran. Sikapnya yang rendah hati membuatnya mudah diterima lintas generasi, dari para senior hingga kader muda.

H. Susilo bersama Wakil Menteri Agama Republik Indonesia Dr. Romo Muhammad Syafi’i, SH., MH, didampingi Ketua Umum DPP Hidayatullah Ust. Dr. Nashirul Haq, Lc., MA, , Ketua Yayasan Pesantren Hidayatullah Depok, Ust. Lalu Mabrul, M.Pd.I, Habib Ali bin Abdurrahman As-Segaf dan lainnya saat meresmikan Masjid Ummul Quraa Pesantren Hidayatullah Depok, Sabtu, 24 Mei 2025 (Foto: Mohade Z. Fadhlullah/ Hidorid)

Di Jakarta, tempat beliau mengembuskan napas terakhir, banyak kenangan mengiringi. Pertemuan-pertemuan organisasi, diskusi internal, pembinaan kader, hingga percakapan singkat di sela kegiatan — semuanya kini menjadi potret yang kembali hadir di ingatan para sahabatnya.

Dalam keseharian, pria yang selalu berpakaian putih dan berpeci putih ini dikenal tidak pernah menolak permintaan untuk memberi nasihat, meski dalam keadaan lelah atau terbatas oleh waktu. Ketulusannya sering terlihat dari cara beliau hadir: tidak ingin menonjol, tetapi selalu memastikan orang lain merasa ditopang dan diarahkan.

Kepergiannya pada 26 November 2025 menjadi penanda bahwa satu mata air keteduhan telah kembali kepada Pemiliknya. Namun jejak yang ditinggalkan masih mengalir, menguatkan mereka yang melanjutkan tugas dakwah dan pendidikan di jalan yang sama.

Bagi Hidayatullah, sosok seperti beliau tidak hanya dikenang, tetapi dijadikan cermin bagi generasi penerus untuk memahami bahwa kemuliaan bukanlah pada posisi, melainkan pada pengabdian yang dilakukan sepenuh hati.

Dalam suasana duka ini, keluarga besar Hidayatullah dan seluruh pihak yang pernah mengenal beliau mendoakan agar Allah memberikan tempat terbaik untuk almarhum, mengampuni segala kekhilafannya, serta melipatgandakan pahala dari setiap amal yang telah ia tinggalkan.

H. Tahtit Eko Budi Susilo mungkin telah pergi, tetapi teladan yang ia tinggalkan akan terus menjadi cahaya bagi perjalanan panjang dakwah dan pendidikan yang ia cintai.

Semoga Allah menyayangi beliau, mengampuni seluruh dosanya, dan dikumpulkan bersama para Nabi, Rasul, Shiddiqin, Syuhada, dan Shalihin di Jannah Firdaus Tertinggi, Aaamiin Yaa Robbal’aalamiin.

Dari Data hingga Dakwah Kampus, Jateng Diproyeksikan Jadi Poros Baru Hidayatullah

0

SEMARANG (Hidayatullah.or.id) — Musyawarah Wilayah (Muswil) V Hidayatullah Jawa Tengah yang digelar pada 1-2 Jumadil Akhir 1447 (22–23/11/2025) menjadi momentum penting evaluasi kinerja, konsolidasi organisasi, dan penyusunan arah strategis lima tahun mendatang.

Dalam pendampingannya pada kegiatan itu, Ketua Bidang Pendidikan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Muzakkir Usman, memotret Jawa Tengah sebagai wilayah dengan potensi besar dan layak disebut sebagai “kuda hitam” pertumbuhan organisasi di tingkat nasional.

Menurut Muzakkir, istilah ini bukan untuk menumbuhkan sensasi, tetapi menggambarkan daya dorong signifikan yang dimiliki Jawa Tengah dalam peta dakwah dan tarbiyah nasional.

“Angin apa yang membuat Jawa Tengah ujug-ujug menjadi ‘kuda hitam’,” tanya Muzakkir mengawali.

Sejak kehadirannya 30 tahun lalu, Hidayatullah Jawa Tengah telah membangun jaringan yayasan, sekolah, dan organisasi di seluruh kota/kabupaten. Kesuksesan ini tidak terlepas dari kader-kader awal yang dikirim dari Jawa Timur untuk merintis dakwah di provinsi dengan populasi terbesar ketiga di Indonesia itu.

Dalam laporan perkembangan lima tahun terakhir, Ketua DPW demisioner—yang kembali terpilih—Akhmad Ali Subur memaparkan data jaringan organisasi, anggota, lembaga pendidikan, rumah Qur’an, hingga data finansial yang tersaji lengkap dan mudah diakses melalui dashboard organisasi. Menurut Muzakkir, keunggulan data inilah yang menegaskan positioning Jawa Tengah sebagai wilayah yang matang secara administrasi dan terbuka untuk akselerasi baru.

Meskipun capaian usia 30 tahun sudah patut disyukuri, Muzakkir menegaskan bahwa syukur tidak boleh berhenti pada penerimaan semata. “Angka-angka yang disajikan perlu ditingkatkan dengan mujahadah yang lebih optimal agar muncul kesyukuran berikutnya,” tulisnya.

Secara geopolitik, menurut Muzakkir, Jawa Tengah memegang posisi strategis. Provinsi ini menjadi salah satu wilayah kunci dalam kontestasi politik nasional dan dikenal sebagai basis kuat partai berhaluan nasionalis. Bagi Hidayatullah, kata Muzakkir, kondisi ini merupakan tantangan untuk menawarkan arah ideologis yang lebih cerah dan menyejukkan bagi masyarakat Jawa Tengah.

Langkah awal yang kini ditempuh DPW adalah memperkuat dakwah dan rekrutmen melalui pembangunan Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jawa Tengah di jantung Kota Semarang. Gedung dua lantai yang tengah dalam tahap penyelesaian ini diproyeksikan menjadi pusat kegiatan umat dan ruang kolaborasi seluruh elemen masyarakat.

Muzakkir memandang strategi ini sebagai langkah brilian. Ia menegaskan bahwa struktur organisasi berupa DPD dan DPC harus hadir di 22 kabupaten/kota, terutama daerah padat penduduk seperti Tegal dan Pekalongan. Potensi ini perlu diwujudkan untuk memperluas jangkauan dakwah.

Salah satu peluang strategis yang sangat terbuka adalah dakwah kampus. Dengan 256 perguruan tinggi di Jawa Tengah—9 negeri dan 247 swasta—maka kesempatan membentuk Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (GMH) sangat besar. Muzakkir menilai pengesahan GMH pada Munas VI sebagai starting point untuk mengajak intelektual muda terlibat dalam dakwah berbasis peradaban.

Di masa lalu, Hidayatullah Jawa Tengah berhasil merekrut kader-kader awal dari kampus ternama seperti Universitas Diponegoro. Capaian itu, menurut Muzakkir, harus menjadi pemantik generasi berikutnya untuk menapaktilasi kesuksesan tersebut.

Jawa Tengah memiliki 30 sekolah Hidayatullah, namun peluang untuk memperluas masih sangat besar. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa Angka Partisipasi Murni di tingkat SMP hanya 81,6%, sementara SMA 61,46%. Artinya, terdapat sekitar 20% lulusan SD yang tidak melanjutkan ke SMP dan lebih dari 38% lulusan SMP yang tidak melanjutkan SMA.

“Ini peluang sangat besar bagi Hidayatullah untuk menghadirkan lembaga pendidikan menengah dengan distingsi pendidikan integral berbasis tauhid,” kata Muzakkir menekankan urgensi ekspansi pendidikan .

Strategic roadmap yang disusun pengurus bahkan telah menetapkan target menghadirkan perguruan tinggi Hidayatullah di Jawa Tengah pada 2031–2035.

Hidayatullah Academy yang dirintis dalam lima tahun terakhir menjadi bukti keseriusan DPW dalam membangun sumber daya manusia.

Lembaga ini menggelar berbagai program leadership training, upgrading dai, diklat guru, hingga pelatihan kepemimpinan pemuda.

Bahkan, Jawa Tengah tercatat sebagai penyumbang terbesar peserta pelatihan di Hidayatullah Institute tingkat nasional.

Selain itu, program Jamsoskad (Jaminan Sosial Kader) yang sukses dieksekusi DPW menjadi model yang layak ditiru.

Muswil V menetapkan kepengurusan baru yang sebagian besar diisi para incumbent berprestasi. Komposisi pengurus diperkuat kader alumni Hidayatullah Institute dengan rata-rata usia di bawah 40 tahun, sebagai bentuk rejuvenasi paradigma dan regenerasi alami.

Muzakkir memotret Jawa Tengah dengan optimisme. Menurutnya, dengan segala capaian dan potensi yang dimiliki, ia berharap gerakan dakwah lima tahun ke depan mampu meneguhkan Jawa Tengah selain sebagai “the port of Java” juga menjadi “the port of Islamic civilization”.

“Jawa Tengah sesungguhnya menyimpan potensi untuk menarik perhatian bahwa ada sebuah provinsi yang bisa menjadi kuda hitam dalam pertumbuhan Hidayatullah,” tandasnya.

Rekonstruksi Epistemologi Islam untuk Kebangkitan Peradaban

0

ADA satu pertanyaan lain yang cukup menggelitik dari Rais ‘Aam Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad, saat memberikan taujih pada Pekan Orientasi Pengurus Tingkat Pusat Hidayatullah Periode 2025–2030 di Bogor, Jawa Barat, Senin, 26 Jumadil Awal 1447 (17/11/2025): “Mengapa saat ini keilmuan Islam inferior di hadapan peradaban Barat?”.

Sesungguhnya ilmu Islam memiliki fondasi epistemologis yang sangat kuat karena bersumber dari wahyu Allah sebagai kebenaran absolut yang tidak tunduk pada relativitas rasionalitas manusia.

Selama berabad-abad, epistemologi ini melahirkan tradisi keilmuan yang integral, kokoh, dan produktif. Ia membangun peradaban unggul pada banyak ranah: teologi, filsafat, sains, kedokteran, matematika, astronomi, teknologi, hingga tata sosial dan politik.

Pada masa itu, ‘aql (akal) dan naql (wahyu) tidak diposisikan sebagai dua kutub yang saling menegasikan, melainkan harmoni metodologis: wahyu menjadi orientasi nilai, akal menjadi instrumen penjelajahan semesta.

Keseimbangan epistemologis tersebut tidak berhenti pada konsep teoretis, tetapi berkembang menjadi kebijakan peradaban. Pada era Abbasiyah, Bayt al-Hikmah (House of Wisdom) di Baghdad berdiri sebagai pusat riset multidisipliner terbesar di dunia.

Karya-karya Yunani, Persia, India, dan Mesir bukan hanya diterjemahkan, tetapi dikritisi, disintesiskan, dan dikembangkan dalam bingkai tauhid. Di Andalusia, Universitas Córdoba dan Toledo menjadi pusat pengetahuan internasional, dengan perpustakaan yang memuat ratusan ribu manuskrip saat Eropa masih berada dalam gelapnya dunia intelektual.

Pada abad ke-10, ilmuwan Muslim menghasilkan terobosan monumental. Al-Khawarizmi menemukan aljabar dan sistem algoritma; Ibn al-Haytham merumuskan metode ilmiah berbasis eksperimen; Ibn Sina menyusun The Canon of Medicine; Al-Biruni mengukur radius bumi dengan tingkat akurasi yang baru dapat dikejar oleh teknologi modern.

Keunggulan peradaban Islam pada masa itu tidak lahir dari kekuasaan politik, tetapi dari bangunan ilmu yang berporos pada wahyu. Penelitian, observasi, dan eksperimentasi dipandang sebagai ibadah sekaligus tadabbur terhadap ayat-ayat Allah dalam semesta.

Epistemologi wahyu kemudian melahirkan etika ilmu, dan akal menghasilkan peradaban ilmu. Rumah sakit modern, universitas, optik, navigasi astronomi, matematisasi sains, teori musik, administrasi publik, hingga tata kelola negara berakar dari paradigma ini.

Namun, dalam perjalanan sejarah, keilmuan Islam mengalami marginalisasi. Dominasi epistemologi Barat modern—yang menjadikan rasionalisme, empirisme, dan sekularisme sebagai satu-satunya paradigma kebenaran—secara perlahan mendorong epistemologi wahyu ke ranah privat dan spiritual. Akibatnya, umat Islam kehilangan keunggulan dalam produksi ilmu dan teknologi, serta kehilangan kepercayaan epistemik pada tradisi intelektualnya sendiri.

Inferioritas ilmu Islam hari ini bukan disebabkan oleh lemahnya substansi epistemologi Islam, tetapi karena melemahnya imajinasi epistemik umat Islam. Banyak umat tidak lagi meyakini bahwa Islam adalah sumber ilmu, melainkan hanya sumber moral dan ritual.

Barat kemudian dipandang sebagai otoritas tunggal dalam ranah sains, sementara wahyu dikurung pada fungsi etis dan spiritual. Maka problem epistemologis keilmuan Islam pada era ini bukan pada wahyu yang tetap kuat dan visioner, tetapi pada absennya rekonstruksi paradigma ilmu Islam agar operasional dalam konteks keilmuan kontemporer.

Dalam sejarah, generasi awal Islam telah membuktikan bahwa integrasi wahyu dan akal mampu melahirkan ledakan peradaban. Rasulullah ﷺ memberikan cetak biru bagi kebangkitan ilmu: fase Makkah adalah fase penanaman akidah, penyucian paradigma, dan pembentukan epistemologi tauhid; fase Madinah adalah fase institusionalisasi nilai, produksi ilmu, dan ekspansi sosial-politik.

Kejayaan Madinah bukan hasil kekuatan militer, melainkan buah kejernihan epistemologi selama 13 tahun di Makkah: pembebasan akal dari sekularisme, politeisme, dan mitos, serta penguatan fungsi wahyu sebagai pusat orientasi intelektual.

Model peradaban kenabian tersebut menawarkan peta jalan strategis untuk rekonstruksi keilmuan Islam modern. Pertama, rekonstruksi akidah sebagai rekonstruksi epistemologi. Akidah bukan hanya pernyataan keimanan, tetapi kerangka berpikir.

Wahyu harus diposisikan sebagai sumber kebenaran, fondasi teori, dan kompas nilai bagi semua disiplin ilmu. Ini adalah fase Makkah dalam konteks keilmuan: penyatuan visi tauhid dengan orientasi penelitian dan inovasi.

Kedua, institusionalisasi ilmu berbasis wahyu. Sebagaimana Rasulullah ﷺ membangun Masjid dan Suffah sebagai pusat pendidikan, dunia Islam modern memerlukan lembaga riset dan komunitas ilmiah untuk memproduksi teori, mengintegrasikan ulumuddin dengan sains dan teknologi, serta membangun ekosistem intelektual yang melahirkan ilmuwan berorientasi wahyu sekaligus kompeten metodologis.

Ketiga, ekspansi peradaban melalui produksi ilmu dan teknologi. Madinah dibangun melalui tata kelembagaan, ekonomi, diplomasi, pertahanan, dan administrasi publik yang berbasis nilai.

Kebangkitan Islam masa kini harus bergerak dari konsumsi teknologi menuju produksi ilmu dan inovasi yang berorientasi kemaslahatan universal, keadilan, keberlanjutan, dan martabat manusia.

Rekonstruksi keilmuan Islam bukan nostalgia kejayaan masa lalu, tetapi program peradaban yang bersifat metodologis dan historis. Kebangkitan Islam menuntut reorientasi besar: dari mentalitas konsumtif menjadi produsen ilmu; dari paradigma Barat-sentris menuju paradigma tauhid; dari mempelajari Islam sebagai doktrin menuju memproduksi peradaban berbasis wahyu.

Pelajaran besar dari 13 tahun Makkah dan 10 tahun Madinah menunjukkan bahwa perubahan peradaban selalu berawal dari perubahan epistemologi.

*) Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis Ketua Bidang Perkaderan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah