Beranda blog Halaman 8

Hidayatullah Jawa Barat Dorong Kehadiran Pusat Dakwah sebagai Sentral Konsolidasi Gerakan

0

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Jawa Barat, Ahmad Maghfur, menegaskan pentingnya menghadirkan Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jawa Barat sebagai sentral kegiatan dan pusat konsolidasi dakwah wilayah. Harapan tersebut disampaikan dia dalam kegiatan Saresehan Dakwah dan Silaturahmi Dai Jawa Barat yang diselenggarakan di Gedung Dakwah Yayasan Hajatan Toyyibah, Bandung, beberapa waktu lalu dan ditulis Jum’at, 16 Ramadhan 1447 (6/3/2026).

Kegiatan tersebut diikuti sekitar 50 peserta yang berasal dari unsur Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi, dan Kota Bandung. Forum ini diselenggarakan oleh Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) Jawa Barat dengan dukungan Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai) serta Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (BMH) Jawa Barat. Selain peserta dari wilayah Bandung Raya, kegiatan ini juga mencakup perwakilan dai dari wilayah Garut.

Dalam sambutannya, Ahmad Maghfur menekankan bahwa pembangunan pusat dakwah memiliki makna strategis bagi penguatan aktivitas dakwah di tingkat wilayah.

“Gedung dakwah bukan hanya bangunan fisik, tetapi simbol keseriusan kita membangun peradaban,” ujarnya.

Forum saresehan tersebut menjadi ruang pertemuan bagi para dai untuk bertukar gagasan serta memperkuat koordinasi gerakan dakwah yang berkembang di kawasan perkotaan.

Hadir pula Dewan Murobbi Wilayah Hidayatullah Jawa Barat, Endang Abdul Rohman dan Anton, yang memberikan arahan kepada peserta mengenai penguatan peran dai dalam aktivitas dakwah.

Ketua Departemen Dakwah Hidayatullah Jawa Barat, Asep Juhana, dalam kesempatan tersebut menyampaikan pandangannya mengenai potensi pengembangan model dakwah yang adaptif terhadap dinamika masyarakat perkotaan.

Sementara itu, Sekretaris Wilayah Hidayatullah Jawa Barat, Andi Ahmad Suhendar, memandu jalannya diskusi saresehan yang membahas penguatan koordinasi organisasi dan pembentukan kepanitiaan kegiatan dakwah.

“Dakwah butuh sistem. Butuh barisan yang rapi dan taat pada keputusan bersama,” kata Andi Ahmad Suhendar yang juga pengawas Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok ini.

Dalam forum tersebut, Anton dari Dewan Murobbi Wilayah Jawa Barat juga menyampaikan pandangan mengenai kapasitas yang perlu dimiliki seorang dai.

“Seorang dai harus memiliki kekuatan spiritual, fisik, dan finansial,” ujarnya.

Kegiatan ini turut dihadiri unsur Pemuda Hidayatullah Jawa Barat, LSH, PosDai, serta sejumlah undangan lainnya. Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan buka puasa bersama yang difasilitasi oleh BMH Jawa Barat sebagai bentuk dukungan terhadap para dai yang terlibat dalam aktivitas dakwah di wilayah tersebut.

Puasa Ramadhan Cara Allah Mengajar Kita Menghargai Nikmat

0

RAMADHAN itu bukan sekadar pindah jam makan, bukan hanya menahan haus dan lapar. Ramadhan adalah madrasah ruhani, tarbiyah ruhiyah. Allah seakan “memaksa” kita berhenti sejenak, supaya kita sadar, betapa banyak nikmat yang sering kita abaikan karena terlalu terbiasa menikmatinya.

Manusia itu, biasanya baru sadar berharganya sehat ketika sakit. Baru merasa mahalnya seteguk air ketika tenggorokan kering karena puasa. Inilah cara indah Allah mendidik kita.

Dalam surat Ibrahim ayat 7, Allah berfirman:

لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْد

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”

Puasa adalah latihan nyata untuk mempraktikkan ayat ini. Saat kita menahan diri, sebenarnya kita sedang membangun energi syukur. Itulah sebabnya sebutir kurma saat berbuka terasa begitu nikmat, berbeda dengan orang yang makan tanpa didahului rasa lapar karena perintah-Nya.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin, Kitab Ash-Shabr wa Asy-Syukr, menjelaskan bahwa syukur punya empat rukun, yaitu: hati yang sadar bahwa nikmat berasal dari Allah, lisan yang senantiasa memuji-Nya, anggota tubuh yang digunakan untuk taat, dan menjaga nikmat agar tidak dipakai dalam kemaksiatan.

Di bulan suci ini, kita diajak menyelaraskan keempatnya. Hati bergetar karena Allah masih memberi kesempatan bertemu Ramadhan. Lisan tak henti berzikir. Tubuh bergerak dalam sedekah dan shalat malam. Rasulullah SAW bersabda:

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin, seluruh urusannya adalah baik. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Dan jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu baik baginya.” (HR. Muslim)

Puasa menyatukan keduanya: sabar saat menahan, syukur saat berbuka.

Momentum Menguatkan Syukur

Syukur itu jangan berhenti pada diri kita saja. Sebagai orang tua, kita punya amanah menanamkan rasa syukur pada keluarga khususnya anak-anak kita. Mengajarkan syukur bukan sekadar teori, tapi lewat dialog yang menyentuh hati.

Bayangkan, anak mengeluh lapar di siang hari. Kita bisa mendekapnya, lalu berkata lembut:

“Nak, rasanya lapar ya? Inilah cara Allah mengingatkan kita betapa berharganya sepiring nasi yang biasanya kamu makan. Di luar sana, banyak orang yang merasakan lapar seperti ini setiap hari tanpa tahu kapan bisa makan. Yuk, kita belajar bilang ‘Alhamdulillah ya Allah, terima kasih atas rezeki-Mu’.”

Menjelang berbuka, ajaklah mereka melihat hidangan dengan pandangan syukur. Katakan:

“Nak, lihat air bening ini. Tadi siang rasanya sangat berharga, bukan? Allah sengaja membuat kita haus sebentar, supaya saat minum nanti kita ingat betapa baiknya Allah. Yuk, gunakan tenaga setelah makan untuk shalat tarawih sebagai tanda terima kasih kita.”

Dengan bahasa penuh kasih, anak-anak akan paham bahwa syukur bukan sekadar ucapan, tapi tindakan nyata: menggunakan nikmat Allah di jalan yang diridhai-Nya.

Saya pribadi sering merasakan keindahan itu. Duduk bersama keluarga menjelang berbuka, adzan hampir berkumandang, kami berdoa penuh harap:

“Ya Allah, berkahi kami, berkahi keluarga kami, terimalah puasa kami, kuatkan syukur kami, dan jadikan setiap tetes air yang kami minum sebagai nikmat yang mendekatkan kami kepada-Mu.”

Begitu doa selesai dengan lafadz Aamiin.., seteguk air putih terasa jauh lebih berharga. Senyum istri dan anak-anak saat menyebut “Alhamdulillah” membuat hati bergetar.

Di momen sederhana seperti itu itulah kita belajar bahwa syukur bukan teori, tapi pengalaman nyata yang menguatkan iman dan mempererat kasih sayang dalam keluarga.

Jangan biarkan puasa berlalu hanya sebagai rutinitas. Jadikan setiap rasa lapar sebagai pengingat betapa fakirnya kita di hadapan Allah. Jadikan setiap tetes keringat sebagai bukti cinta kita kepada-Nya.

Kekuatan syukur adalah kunci pembuka pintu keberkahan. Semoga Allah menerima ibadah kita, menguatkan rasa syukur kita, dan menjadikan kita hamba-hamba yang beruntung di dunia dan akhirat.

Tetap bersemangat, teruslah berbuat baik. Setiap kebaikan yang dilakukan dengan syukur akan kembali kepada kita dengan berlipat ganda. Selamat menjalankan ibadah puasa dengan hati yang penuh syukur.[]

*) KH. Akhmad Yunus, M.Pd.I., penulis Anggota Dewam Murabbi Wilayah Hidayatullah DIY- Jawa Tengah bagaian selatan dan Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Yayasan Al Iman Kebumen

Program Sumur Bor Hidayatullah Hadirkan Akses Air Bersih bagi Warga Pascabanjir

ACEH TAMIANG (Hidayatullah.or.id) — Tim Sumur Bor Hidayatullah telah merealisasikan dua titik sumur bor di wilayah terdampak banjir, yakni di Desa Seumadam, Kecamatan Kejuruan Muda, serta di Desa Tanah Terban, Kecamatan Karang Baru. Kedua lokasi tersebut ditetapkan setelah melalui proses survei kebutuhan air bersih bersama masyarakat setempat guna memastikan kebermanfaatan fasilitas yang dibangun bagi warga terdampak bencana.

Pembangunan sumur bor tersebut merupakan bagian dari program kemanusiaan yang dilaksanakan oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (BMH) selama bulan Ramadhan. Melalui Program Sumur Bor Hidayatullah, lembaga tersebut berupaya menghadirkan akses air bersih sebagai kebutuhan dasar bagi masyarakat yang mengalami kesulitan memperoleh sumber air layak setelah terjadinya bencana banjir.

Program ini difokuskan pada penyediaan fasilitas air bersih yang dapat digunakan warga untuk berbagai kebutuhan harian, seperti konsumsi air minum, memasak, serta keperluan ibadah seperti berwudhu. Penyediaan sumur bor dipandang sebagai salah satu langkah untuk membantu pemulihan kondisi kehidupan masyarakat pascabencana.

Amil Laznas BMH yang bertugas di lokasi kegiatan, Muhammad Adnan, menjelaskan bahwa program tersebut dirancang untuk menjawab kebutuhan mendesak masyarakat terhadap ketersediaan air bersih setelah bencana banjir melanda wilayah tersebut.

“Banyak wilayah terdampak banjir mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Karena itu kami menghadirkan sumur bor agar warga bisa segera memanfaatkan sumber air yang lebih aman untuk kebutuhan sehari-hari,” ujar Adnan dalam keterangannya diterima media ini pada Kamis, 15 Ramadhan 1447 H (5/3/2026)..

Menurutnya, keberadaan sumur bor tidak hanya dimaksudkan sebagai solusi sementara bagi masyarakat yang terdampak bencana, tetapi juga sebagai fasilitas yang dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang oleh warga sekitar. Dengan demikian, program ini diharapkan memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.

Dalam pelaksanaan di lapangan, proses pengeboran dilakukan oleh tim teknis yang memiliki pengalaman dalam pembangunan fasilitas air bersih. Pekerjaan tersebut juga mendapat dukungan dari relawan lokal yang turut membantu kelancaran pelaksanaan kegiatan.

Penentuan lokasi pembangunan sumur bor dilakukan melalui proses survei bersama masyarakat setempat untuk memastikan bahwa fasilitas yang dibangun benar-benar menjawab kebutuhan utama warga. Melalui pendekatan tersebut, program dirancang agar dapat memberikan manfaat yang tepat sasaran.

Selain pelaksanaan pembangunan sumur bor, BMH juga membuka peluang partisipasi masyarakat luas untuk mendukung keberlanjutan program penyediaan air bersih melalui donasi. Dukungan dari para donatur menjadi salah satu faktor penting dalam memperluas jangkauan program kemanusiaan ini.

“Setiap kontribusi dari para donatur akan membantu menghadirkan akses air bersih bagi masyarakat yang membutuhkan,” kata Adnan.

Menurut BMH, keberadaan program sumur bor merupakan bagian dari layanan sosial yang terus dikembangkan oleh lembaga tersebut untuk membantu masyarakat yang menghadapi keterbatasan akses terhadap kebutuhan dasar, terutama di wilayah yang terdampak bencana alam.

Selama bulan Ramadhan, program-program kemanusiaan seperti penyediaan air bersih menjadi salah satu fokus kegiatan BMH dalam memperkuat pelayanan sosial kepada masyarakat. Penyediaan fasilitas sumur bor dipandang sebagai upaya yang dapat memberikan dampak langsung bagi kehidupan masyarakat yang membutuhkan.

BMH menargetkan pembangunan beberapa titik sumur tambahan dapat diselesaikan sebelum berakhirnya bulan Ramadhan. Setelah periode tersebut, program Sumur Bor Hidayatullah direncanakan akan dilanjutkan ke wilayah lain yang masih menghadapi keterbatasan akses terhadap air bersih.

Aksi Kemanusiaan Hidayatullah Bantu Warga Terdampak Kebakaran di Balanipa Polewali Mandar

0

POLMAN (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah hadir langsung memberikan bantuan kemanusiaan bagi korban kebakaran hebat yang melanda permukiman warga di Dusun Kappung Tulu, Desa Galung Tuluk, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Bantuan tersebut disalurkan melalui kerja sama dengan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (BMH) sebagai respons atas musibah kebakaran yang terjadi pada akhir Februari 2026.

Peristiwa kebakaran tersebut menghanguskan 35 unit rumah warga dan menyebabkan sebanyak 175 jiwa terdampak. Api yang dengan cepat menjalar di kawasan permukiman padat membuat sebagian besar warga tidak sempat menyelamatkan barang-barang mereka. Akibatnya, para korban harus menghadapi kondisi darurat dengan keterbatasan akses terhadap kebutuhan dasar sehari-hari.

Merespons situasi tersebut, tim relawan BMH bersama Muslimat Hidayatullah, serta melibatkan siswa dan wali murid Pondok Pesantren Hidayatullah Mamuju, turun langsung ke lokasi kejadian untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan. Bantuan yang disalurkan meliputi makanan siap saji, sembako, air bersih, serta berbagai kebutuhan dasar lainnya.

Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Sulawesi Barat, Najamuddin, yang turut hadir di lokasi menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen organisasi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, khususnya saat terjadi bencana.

“Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen dakwah dan pelayanan umat, khususnya dalam situasi darurat dan bencana,” ujar Najamuddin.

Distribusi bantuan dilakukan secara langsung kepada warga yang terdampak agar kebutuhan mendesak dapat segera terpenuhi. Selain menyalurkan logistik, para relawan juga melakukan pendataan korban, membantu penataan area pengungsian, serta memberikan dukungan moral kepada warga yang sedang menghadapi situasi sulit.

Relawan dari Hidayatullah Majene juga bergabung dalam kegiatan tersebut dengan membawa bantuan logistik berupa sembako, makanan siap saji, air minum, serta perlengkapan darurat lainnya. Seluruh bantuan disalurkan secara langsung kepada warga yang membutuhkan.

Keterlibatan berbagai unsur, termasuk Muslimat Hidayatullah, siswa, wali murid, serta relawan dari sejumlah daerah menunjukkan kolaborasi dalam kegiatan kemanusiaan tersebut. Partisipasi siswa dan wali murid dalam penggalangan dan penyaluran bantuan juga menjadi bagian dari kegiatan sosial yang melibatkan komunitas pendidikan pesantren.

Bantuan yang disalurkan dinilai membantu memenuhi kebutuhan dasar warga selama masa tanggap darurat. Kehadiran relawan di lokasi bencana juga menjadi bagian dari upaya memberikan dukungan kepada masyarakat yang sedang menghadapi dampak musibah kebakaran.

Nanang Noerpatria Paparkan Hasil Pertemuan Ulama dan Presiden Prabowo di Istana

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Dr. Nanang Noerpatria, M.Pd., menyampaikan keterangan terkait pertemuan antara para ulama dan tokoh organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam dengan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang berlangsung di Istana Kepresidenan Jakarta pada Kamis malam, 15 Ramadhan 1447 (5 Maret 2026).

Pertemuan tersebut menjadi forum silaturahmi sekaligus dialog antara pemerintah dan para pemimpin ormas Islam untuk membahas berbagai isu strategis nasional dan internasional.

Dalam pertemuan tersebut, Presiden Prabowo Subianto memaparkan perkembangan geopolitik global yang tengah mengalami dinamika signifikan, terutama eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Menurut Nanang Noerpatria, diskusi menyoroti ketegangan yang meningkat antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran serta dampaknya terhadap stabilitas kawasan dan hubungan internasional.

Nanang menjelaskan bahwa dalam pemaparannya, Presiden menyampaikan posisi Indonesia dalam menyikapi perkembangan tersebut. Indonesia, menurutnya, tetap berpegang pada prinsip politik luar negeri bebas aktif yang telah menjadi fondasi diplomasi sejak awal kemerdekaan.

Ia menuturkan bahwa dalam forum tersebut Presiden menegaskan komitmen Indonesia untuk menjaga posisi non-blok sekaligus mengambil peran konstruktif dalam mendorong upaya perdamaian internasional. Dalam konteks konflik Timur Tengah, isu kemerdekaan Palestina kembali ditegaskan sebagai salah satu agenda utama kebijakan luar negeri Indonesia.

Nanang menjelaskan bahwa pemerintah juga memantau secara serius dinamika hubungan internasional yang muncul akibat konflik tersebut. Dalam pertemuan itu, Presiden menyampaikan bahwa Indonesia tengah mempertimbangkan sejumlah langkah diplomatik sebagai respons terhadap perkembangan situasi global.

“Presiden juga tetap menampung berbagai aspirasi dari sejumlah tokoh yang mendesak Indonesia keluar dari forum BoP bersama negara lain setelah serangan Amerika-Israel ke Iran,” ujar Nanang.

Ia menjelaskan bahwa pembahasan dalam forum tersebut tidak hanya berkisar pada konflik geopolitik, tetapi juga menyentuh persoalan yang lebih luas terkait struktur kekuasaan global. Diskusi turut menyoroti bagaimana dominasi negara-negara besar dalam sistem politik dan ekonomi internasional kerap memberikan tekanan terhadap negara lain.

Nanang juga menyampaikan bahwa dalam forum tersebut Presiden menunjukkan sikap terbuka terhadap berbagai pandangan yang berkembang di masyarakat. Menurutnya, pemerintah memandang kritik publik sebagai bagian penting dalam proses evaluasi kebijakan.

“Presiden dan kabinet menunjukkan keterbukaan untuk menerima kritik dan masukan guna memperbaiki kebijakan yang kurang pro-rakyat. Sikap netizen di media sosial menjadi barometer penting bagi Presiden dan kabinet dalam melihat respons publik,” jelasnya.

Nanang menjelaskan, dialog tersebut juga berkaitan dengan upaya pemerintah menjaga stabilitas sosial di tengah dinamika politik dan ekonomi yang berkembang. Pemerintah berharap para ulama dan tokoh masyarakat dapat berperan dalam menjaga keseimbangan sosial serta menyampaikan aspirasi masyarakat secara konstruktif.

“Pertemuan dengan ulama dan tokoh ormas Islam bertujuan untuk mendapatkan dukungan moral dalam meredam ketidakpuasan di masyarakat,” katanya.

Nanang menambahkan bahwa pemerintah juga berharap kontribusi para tokoh masyarakat tidak hanya terbatas pada aspek moral, tetapi juga dapat memberikan perspektif strategis dalam perumusan kebijakan negara.

“Diharapkan peran ulama dan tokoh masyarakat dapat lebih besar dalam menentukan arah kebijakan pemerintah ke depan. Kontribusi positif dari ulama dan tokoh masyarakat ini diharapkan dapat membantu membangun ketahanan negara di berbagai aspek,” ujarnya.

Nanang menegaskan bahwa keterlibatan organisasi kemasyarakatan Islam dalam dialog kebangsaan merupakan bagian dari tradisi partisipasi publik yang telah lama berkembang di Indonesia. Ormas Islam memiliki jaringan sosial yang luas serta pengalaman panjang dalam kegiatan pendidikan, sosial, dan dakwah yang berkontribusi pada pembangunan masyarakat.

Dengan latar belakang tersebut, dia menambahkan, dialog antara pemerintah dan tokoh ormas Islam diharapkan dapat memperkuat sinergi antara negara dan masyarakat dalam menghadapi tantangan global. Menurutnya, isu geopolitik internasional, dinamika ekonomi global, serta stabilitas sosial domestik menjadi bagian dari pembahasan yang memerlukan koordinasi berbagai pihak.

Ramadhan dan Pemantapan Kualitas Pribadi

0

BERBICARA Ramadhan spektrumnya sangat luas. Namun dalam tulisan ini saya tarik ke satu titik fokus, yaitu bagaimana manusia memantapkan kualitas pribadi. Dalam psikologi, kualitas pribadi adalah tentang sekumpulan sifat batin, kebiasaan berpikir dan cara seseorang merespon kehidupan secara matang, bermakna dan bermanfaat.

Dalam tinjauan spiritual, Ramadhan adalah momentum membangun integritas (kesatuan antara nilai dan tindakan). Karena kualitas pribadi itulah yang menjadi unit terkecil pembentuk budaya. Jika individunya kokoh, masyarakatnya lebih mudah solid dalam kebaikan.

Dan, kalau kita cermati bagaimana sebuah peradaban lahir, tumbuh, kokoh, maka itu tidak lepas dari aspek integritas. Dari integritas lahir ilmu, institusi, ekonomi dan tata kelola hingga keamanan yang menunjang kehidupan manusia semakin baik dalam hal akhlak dan teknologi.

Lihat saja bagaimana Islam bisa menjelma sebagai peradaban yang agung, yang menyinari banyak negara di bumi ini, tidak lepas dari sosok Nabi Muhammad SAW yang tentu saja sangat-sangat berintegritas.

Integritas beliau SAW pun akhirnya menjadi standar moral, yang memimpin generasi awal. Kemudian dari fakta itulah tumbuh kepercayaan, disiplin kolektif dan keberanian membangun tatanan hidup berdasarkan Wahyu. Jadi tidak heran kalau semua sahabat Nabi memiliki sistem sosial yang saling menguatkan dalam kerja-kerja kolektif yang begitu kuat.

Secara konsep, kita bisa memahami dengan mudah bahwa peradaban bukan semata soal peristiwa, tapi perilaku dan sistem hidup manusianya yang cakap dalam menghasilkan makna, kekuatan dan keberlanjutan sejarah.

Oleh karena itu, terlepas dari pasang surutnya peradaban Islam, kalau kita merujuk sejarah awal Islam tumbuh dan berkembang, begitu banyak tersaji fakta tentang individu-individu yang memiliki karakter unggul, penuh dedikasi dan tentu saja punya komitmen tinggi terhadap nilai-nilai luhur.

Pembentukan Kualitas Diri dengan Budaya Iqra’ Bismirabbik

Jika kualitas pribadi adalah kematangan batin dan kebiasaan berpikir, maka kita perlu bertanya: apa yang paling efektif melatih cara berpikir? Salah satu jawabannya adalah budaya membaca. Membaca membuat kita bertemu gagasan, menguji emosi, dan menata pilihan—di situlah kualitas diri diasah.

Ust. Abdullah Said, sang pendiri gerakan dakwah Hidayatullah telah lama melakukan pencarian, perenungan dan pemikiran secara komprehensif tentang bagaimana bisa menjadi Muslim yang punya kekuatan tinggi dalam mengejawantahkan keimanan. Hingga akhirnya bertemu dengan Tafsir Sinar karya Buya Malik Ahmad dan terkesan dengan ayat pertama dalam Al-Qur’an, “Iqra’ Bismirabbik”.

Ia pun memandang bahwa perintah membaca itu adalah prinsip paling mendasar dalam Islam. Prinsip ini menegaskan bahwa membaca adalah perintah Allah yang wajib diwujudkan dalam aksi nyata, ilmu, serta membangun peradaban Islam.

Dalam kata yang lain, kalau kita tarik kesadaran Iqra’ Bismirabbik dalam konteks Ramadhan, maka sebenarnya umat Islam memang harus menjadikan aktivitas prinsip ini sebagai kebutuhan esensial. Setidak-tidaknya kita berupaya menjadikan Ramadhan sebagai kesempatan membuat budaya membaca ini naik kelas. Sebab, membaca adalah asbab atau wasilah seseorang bisa menguatkan kualitas iman, akal dan amal.

Ust. Abdul Mannan, sebagai murid dan kader Ust. Abdullah Said adalah orang yang memberikan keteladanan baik dalam hal membaca. Ust. Jamaluddin Noor, juga sama. Ia bahkan pernah mengatakan kepadaku, saat aktif bekerja bakti, sebuah buku selalu diselipkan di balik pinggangnya. “Nanti istirahat, saya baca-baca, meski sudah lelah,” ucapnya. Demikian pula dengan Ust. Hamzah Akbar, sekarang menjadi Ketua Pembina Pesantren Hidayatullah Samarinda, setiap hari tak lepas dari kegiatan membaca.

Orang Berkualitas

Ketika kita coba matangkan dari sisi konsep, bahwa Ramadhan adalah momentum terbaik meningkatkan kualitas diri, maka targetnya pun jelas, kita harus menjadi orang yang berkualitas.

Bagaimana orang yang berkualitas itu? Jelas adalah pribadi yang bertakwa. Bagaimana bertakwa itu? Dalam ayat ke-134 Surah Ali Imran dijelaskan bahwa salah satu kriteria bertakwa itu adalah orang yang tidak termakan amarah, mau memaafkan kesalahan orang.

Nah, dalam konteks ingin mengetahui kualitas pribadi, kita perlu melihat ke dalam. Apakah selama ini kita mampu meregulasi emosi. Apakah motif kita jernih. Apakah kita sadar betul kelebihan dan kelemahan diri.

Kalau mau menggunakan gaya bahasa Buya Hamka, apakah kita bisa memastikan bahwa akal lebih baik daripada hawa nafsu dalam menentukan keputusan tindakan.

Pangkal akal memang pahit, tapi ujungnya manis. Karena orang yang berakal akan memiliki sistem kontrol (kemampuan memikirkan akibat). Sedangkan pangkal hawa nafsu memang manis, tapi ujungnya pahit. Hal ini karena hawa nafsu membentuk sistem impuls, yang mana orang selalu ingin cepat, instan.

Dengan demikian, menata sisa hari Ramadhan berarti memperkuat latihan batin: menjaga integritas, menahan impuls, dan menumbuhkan kesadaran. Salah satu latihan yang paling nyata—dan sering kita lalaikan—adalah membaca, “Iqra’ bismirabbik”: membaca yang menautkan ilmu dengan iman, dan iman dengan amal. Ini akan terasa sangat penting kalau kita sadar akan visi “Membangun Peradaban Islam.*

Mas Imam Nawawi

Momentum Ramadhan, Forum Koordinasi Hidayatullah Jawa Tengah Perkuat Sinergi Program Dakwah

0

SEMARANG (Hidayatullah.or.id) — Forum Koordinasi Pengurus Hidayatullah se-Jawa Tengah digelar dalam rangka memperkuat sinergi gerakan dakwah sekaligus mempersiapkan program-program strategis bagi kemajuan umat dan bangsa pada momentum bulan suci Ramadhan. Agenda yang diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Tengah tersebut berlangsung di Gedung Dakwah Hidayatullah Jawa Tengah dan dirangkaikan dengan kegiatan buka puasa bersama.

Pertemuan tersebut dihadiri oleh berbagai unsur kepemimpinan organisasi di tingkat wilayah dan daerah. Peserta yang mengikuti kegiatan ini meliputi Ketua dan Anggota Dewan Murabbi Wilayah (DMW), pengurus pleno DPW, pengurus pleno Dewan Pengurus Daerah (DPD), pengurus harian Kampus Madya, pimpinan amal usaha dan badan usaha tingkat wilayah, Ketua Pengurus Wilayah Pemuda Hidayatullah (Pemhida), serta petugas perintisan daerah yang berasal dari sejumlah wilayah di Jawa Tengah.

Ketua DPW Hidayatullah Jawa Tengah, Akhmad Ali Subur, dalam sambutannya menjelaskan bahwa forum koordinasi ini menjadi ruang konsolidasi penting bagi seluruh elemen organisasi dalam menyatukan langkah gerakan dakwah. Ia menyampaikan bahwa koordinasi antarstruktur organisasi menjadi kebutuhan strategis agar program pelayanan kepada umat dapat berjalan secara terarah dan efektif.

“Forum ini menjadi momentum penting untuk menguatkan konsolidasi organisasi sekaligus menyatukan langkah dalam mengoptimalkan pelayanan dakwah kepada umat bagi kemajuan umat dan bangsa,” ujar Akhmad Ali Subur pada Rabu, 14 Ramadhan 1447 H (4/3/2026).

Ia menjelaskan bahwa momentum Ramadhan memiliki nilai strategis dalam memperluas aktivitas kebaikan di tengah masyarakat. Oleh karena itu, menurutnya, organisasi perlu mempersiapkan berbagai program dakwah dan pelayanan sosial secara matang agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat selama bulan suci.

Menurut Akhmad Ali Subur, kesiapan organisasi dalam memanfaatkan momentum Ramadhan tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan program kegiatan, tetapi juga menyangkut penguatan manajemen organisasi, koordinasi antarstruktur, serta kemampuan pengelolaan sumber daya yang dimiliki.

Ia juga menekankan pentingnya penguatan aspek penggalangan dana sebagai bagian dari upaya mendukung keberlanjutan program dakwah dan pelayanan sosial. Dalam konteks tersebut, forum koordinasi ini turut menghadirkan sesi pembekalan khusus bagi para pengurus.

Melalui forum koordinasi ini, Akhmad berharap seluruh elemen pengurus organisasi dapat memperkuat sinergi kerja serta meningkatkan efektivitas pelaksanaan program dakwah di wilayah masing-masing. Kegiatan ini juga menjadi ruang berbagi pengalaman dan pemikiran antar pengurus dalam menghadapi berbagai dinamika pelayanan umat.

Pada kesempatan yang sama, peserta mengikuti pelatihan keuangan dengan tema Optimalisasi Fundraising di Bulan Ramadhan yang disampaikan oleh Widodo. Materi pelatihan tersebut berfokus pada strategi pengelolaan penggalangan dana secara efektif dan profesional untuk mendukung program-program organisasi.

Dalam pemaparannya, Widodo menjelaskan berbagai pendekatan yang dapat digunakan untuk meningkatkan efektivitas fundraising selama Ramadhan. Ia menyampaikan bahwa pengelolaan dana umat memerlukan sistem yang terstruktur dan transparan agar mampu mendukung pelaksanaan program dakwah secara berkelanjutan.

Materi pelatihan tersebut juga memberikan panduan kepada para pengurus mengenai pentingnya perencanaan program yang terintegrasi dengan strategi penggalangan dana. Dengan pendekatan tersebut, program dakwah dan pelayanan sosial diharapkan dapat berjalan lebih optimal dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan buka puasa bersama yang diikuti seluruh peserta. Momentum kebersamaan tersebut menjadi ruang mempererat ukhuwah di antara para pengurus Hidayatullah dari berbagai daerah di Jawa Tengah.

Hidayatullah Luncurkan Program Pembinaan Keluarga Kader, Perkuat Dakwah dari Rumah

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Departemen Pembinaan Keluarga Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah meluncurkan Program Pembinaan Keluarga Kader secara daring pada Rabu, 14 Ramadhan 1447 (4/3/2026) sebagai upaya memperkuat keluarga kader sebagai fondasi dakwah sekaligus memperkokoh ketahanan sosial masyarakat.

Peluncuran program tersebut diikuti kader dan pengurus Hidayatullah dari berbagai wilayah melalui jaringan daring. Agenda ini menghadirkan Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah KH Hamim Tohari sebagai narasumber utama yang menyampaikan pandangan mengenai pentingnya keluarga sebagai ruang awal pembentukan nilai perjuangan.

KH Hamim Tohari menegaskan bahwa dakwah memiliki tahapan yang dimulai dari lingkungan paling dekat dengan individu, yaitu keluarga. Ia menyampaikan bahwa pola tersebut mengikuti metode dakwah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam membangun komunitas umat pada masa awal Islam.

“Secara ideal, dakwah dimulai dari dalam keluarga, baru kemudian meluas ke masyarakat,” ujar KH Hamim.

Menurutnya, keluarga merupakan ruang pertama tempat nilai-nilai keimanan, keteladanan, serta komitmen perjuangan ditanamkan secara berkelanjutan. Dalam konteks perubahan sosial yang berlangsung cepat, ia menilai perhatian terhadap pembinaan keluarga menjadi semakin penting karena keluarga memiliki fungsi utama dalam membentuk karakter generasi.

KH Hamim juga menyoroti adanya kecenderungan menurunnya perhatian terhadap pembinaan dakwah dalam lingkup keluarga. Ia mengingatkan bahwa dinamika kehidupan modern sering kali membuat perhatian terhadap pendidikan keluarga menjadi kurang optimal.

“Apalagi sekarang mulai banyak fenomena orang kurang peduli terhadap dakwah keluarga,” imbuhnya.

KH Hamim menegaskan bahwa kader dakwah tidak berdiri sebagai individu semata, tetapi berada dalam ekosistem keluarga yang turut menentukan keberhasilan perjuangan. Oleh karena itu, keluarga kader memiliki posisi strategis dalam menjaga kesinambungan gerakan dakwah.

Ia menambahkan bahwa kader merupakan modal penting bagi organisasi dan umat, karena mereka telah melalui proses pembinaan yang panjang. Kekuatan kaderisasi, menurutnya, tidak hanya ditentukan oleh individu kader, tetapi juga oleh dukungan keluarga yang menjadi lingkungan terdekat dalam kehidupan sehari-hari.

“Pertama, kader adalah modal terbesar, termasuk keluarganya. Kedua, kader adalah orang-orang pilihan yang telah melalui proses sangat panjang,” paparnya.

Penguatan Fondasi Sosial Bangsa

Sementara itu, Ketua Departemen Pembinaan Anggota DPP Hidayatullah Iwan Abdullah menjelaskan bahwa Program Pembinaan Keluarga Kader yang dibesutnya ini untuk menghadirkan pengalaman pembinaan yang lebih menyeluruh. Program ini tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas individu kader, tetapi juga memberikan perhatian pada kehidupan keluarga sebagai ruang pembentukan karakter.

Program ini terang dia hadir untuk meneguhkan peran keluarga sebagai unit dasar pembinaan nilai, yang dipandang memiliki kontribusi strategis dalam menjaga keberlanjutan perjuangan umat serta mendukung penguatan fondasi sosial bangsa.

“Program ini harus berjalan dengan baik sehingga keluarga kita merasakan nikmatnya hidup dalam perjuangan dan kebermanfaatan bagi umat,” ujar Iwan Abdullah.

Ia menjelaskan bahwa keluarga kader diharapkan dapat merasakan langsung makna kehidupan yang diorientasikan pada pengabdian kepada umat dan masyarakat. Dengan demikian, nilai perjuangan tidak hanya menjadi konsep organisasi, tetapi hadir dalam kehidupan sehari-hari keluarga kader.

Melalui pelaksanaan program ini, pembinaan organisasi diperluas dari individu menuju unit keluarga sebagai lingkungan sosial pertama yang membentuk ketahanan mental, kedisiplinan, serta komitmen pengabdian. Pendekatan tersebut diharapkan mampu memperkuat keberlanjutan gerakan dakwah dalam jangka panjang.

Peluncuran Program Pembinaan Keluarga Kader ini sekaligus menegaskan bahwa pembangunan gerakan umat tidak hanya bertumpu pada aktivitas dakwah di ruang publik, tetapi juga pada kekuatan keluarga sebagai pusat penanaman nilai dan karakter.

Dengan keluarga yang memiliki ketahanan nilai, kader diharapkan mampu menjalankan peran dakwah secara lebih konsisten di tengah masyarakat. Dari keluarga yang kuat lahir kader yang tangguh, dan dari kader yang tangguh diharapkan lahir kontribusi yang berkelanjutan bagi kehidupan sosial, keagamaan, dan pembangunan masyarakat secara luas.

Hidayatullah Perkuat Sinergi Nasional Pendidikan Keluarga Menuju Visi Peradaban 2030

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Di tengah suasana khidmat bulan suci Ramadhan, Departemen Pendidikan Keluarga Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menyelenggarakan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) bertempat di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Senin, 15 Ramadhan 1447 (5/3/2026).

Forum koordinasi ini digelar secara hybrid, menghubungkan pengurus pusat dengan seluruh jajaran Departemen Pendidikan Keluarga Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah dari berbagai penjuru nusantara.

Ketua Departemen Pendidikan Keluarga DPP Hidayatullah, Nurhuda, S.Ag., M.Pd.I, menegaskan bahwa keluarga merupakan pilar fundamental dalam konstruksi peradaban Islam. Ia memaparkan peta jalan Program Departemen Pendidikan Keluarga untuk periode 2025–2030 yang berorientasi pada penguatan kualitas kader dan anggota melalui pendekatan sistematik.

“Program-program ini untuk memperkuat peran keluarga sebagai basis utama pembinaan umat melalui pendekatan edukatif dan pendampingan yang berkelanjutan,” tegas Nurhuda. Ia menekankan bahwa tantangan zaman menuntut organisasi untuk memiliki instrumen pendidikan keluarga yang adaptif namun tetap kokoh di atas nilai-nilai tauhid.

Nurhuda menguraikan empat parameter keberhasilan utama (objectives) yang menjadi target departemen hingga tahun 2030. Target-target ini mencakup dimensi partisipasi, kualitas harmonisasi, hingga digitalisasi layanan.

Dia menetapkan sasaran 90% partisipasi anggota dan kader yang akan menikah dalam kegiatan pembekalan pra-nikah. Hal ini dipandang krusial guna memastikan setiap rumah tangga baru memiliki kesiapan mental dan spiritual yang memadai.

Selain itu, departemen menargetkan peningkatan Indeks Keharmonisan Keluarga anggota dan kader Hidayatullah sebesar 20%. Secara infrastruktur pendidikan, Nurhuda memproyeksikan 80% dari jaringan lembaga pendidikan Hidayatullah mampu mengimplementasikan materi parenting secara mandiri bagi wali murid.

Menjawab tantangan era disrupsi, ia juga menargetkan ketersediaan satu Platform Konsultasi Keluarga Digital yang akan menyediakan layanan konseling pernikahan, keluarga, dan parenting secara komprehensif.

Guna merealisasikan visi besar tersebut, Nurhuda memperkenalkan enam poin utama program kerja strategis yang akan menjadi fokus implementasi di seluruh wilayah. Keenam program tersebut adalah, Pertama, Penyempurnaan Buku Pelatihan Parenting.

Buku ini diposisikan sebagai pedoman standar bagi orang tua dalam menerapkan pola asuh Islami yang integral. Kedua, Penyelenggaraan Sekolah Orang Tua dan Parenting, sebuah inisiatif untuk meningkatkan kapasitas intelektual dan praktis orang tua dalam mendidik anak di era modern.

Ketiga, Layanan Konsultasi Keluarga. Program ini hadir sebagai solusi konkret bagi keluarga yang menghadapi dinamika persoalan rumah tangga, menyediakan pendampingan yang berbasis pada nilai-nilai syariat. Keempat, Publikasi Konten Edukasi Keluarga melalui berbagai platform media guna memperluas literasi parenting Islami ke ranah publik yang lebih luas.

Kelima, program Training of Trainer (ToT) Instruktur Pendidikan Keluarga. Nurhuda menyatakan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada ketersediaan kader instruktur yang kompeten di daerah. Terakhir, Layanan Pendidikan Pra-Nikah, yang dirancang untuk membekali calon pasangan dengan paradigma “Keluarga Sakinah” sejak dini.

Filosofi pendidikan yang diusung oleh Departemen Pendidikan Keluarga Hidayatullah berpijak pada segitiga emas, yaitu, Parenting (persiapan mendidik anak), Pra-Nikah (persiapan berkeluarga), dan Keluarga itu sendiri, di mana “Ayah Ibu sebagai teladan” menjadi kunci utama keberhasilan pendidikan anak.

Nurhuda mengajak seluruh peserta Rakornas untuk bergerak dalam satu komando yang sinergis. Ia berharap agar seluruh pengurus di tingkat wilayah dapat mengimplementasikan program-program ini dengan penuh integritas.

Sinergi ini diharapkan mampu menjadikan keluarga sebagai fondasi dakwah yang kokoh, sehingga mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual yang berbasis pada Pendidikan Integral Berbasis Tauhid.

Rakornas ini pun menjadi momentum refleksi sekaligus proyeksi bagi Hidayatullah dalam menjaga ketahanan keluarga sebagai unit terkecil namun paling menentukan dalam transformasi sosial dan pembinaan umat di masa depan.

Hidayatullah Terima Hibah Rumah untuk Pusat Dakwah di Mamberamo Raya

PAPUA (Hidayatullah.or.id) — Pada momen spesial Ramadhan ini, Hidayatullah Kabupaten Mamberamo Raya menerima hibah sebuah rumah yang direncanakan menjadi pusat dakwah dan rumah Qur’an di wilayah tersebut. Hibah ini diberikan kepada Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Papua oleh Febriadi Ismed, pemilik bangunan yang sebelumnya berencana menjual rumah tersebut.

Perubahan keputusan itu terjadi setelah Febriadi mengetahui bahwa dai Hidayatullah telah hadir di Kabupaten Mamberamo Raya sejak sekitar satu tahun terakhir melalui penugasan Ustadz Sahriadi.

Informasi mengenai keberadaan dai tersebut mendorong komunikasi antara Febriadi Ismed dengan Ketua DPW Hidayatullah Papua, Yusuf Qordhowi. Percakapan tersebut berlanjut hingga akhirnya Febriadi memutuskan menghibahkan rumah miliknya untuk digunakan sebagai fasilitas dakwah di Mamberamo Raya.

Pada hari yang sama komunikasi itu terjalin, Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Kabupaten Mamberamo Raya, Muhammad Faisal, kebenaran sedang berada di Jayapura. Dalam kesempatan itu ia sekaligus mewakili lembaga untuk menerima hibah bangunan tersebut secara langsung.

Dalam keterangannya saat menerima hibah, Faisal menyampaikan ungkapan syukur atas fasilitas yang diterima. Ia menyatakan bahwa hibah rumah tersebut menjadi jawaban atas doa yang selama ini dipanjatkan terkait kebutuhan tempat aktivitas dakwah di daerah tersebut.

Febriadi Ismed yang menjabat sebagai konsultan pemerintah di Kabupaten Mamberamo Raya pada periode sebelumnya menjelaskan bahwa keputusan menghibahkan rumah tersebut dilakukan setelah mengetahui adanya aktivitas dakwah yang telah berjalan di wilayah itu. Ia menyampaikan kesediaannya untuk mendukung kegiatan dakwah yang akan dilaksanakan di Mamberamo Raya melalui pemanfaatan bangunan tersebut.

Ketua DPW Hidayatullah Papua, Yusuf Qordhowi, menyampaikan bahwa keberadaan fasilitas dakwah memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas pembinaan masyarakat.

“Rumah yang dihibahkan ini akan dimanfaatkan sebagai pusat kegiatan dakwah dan pembinaan masyarakat di Kabupaten Mamberamo Raya,” kata Yusuf dalam keterangannya kepada media ini, Kamis, 15 Ramadhan 1447 H (5/3/2026).

Tentang Kabupaten Mamberamo

Kabupaten Mamberamo Raya merupakan salah satu wilayah di Provinsi Papua yang terbentuk pada 2007 berdasarkan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2007 tentang pembentukan kabupaten baru di Papua.

Wilayah ini memiliki karakter geografis yang didominasi sungai besar, hutan, dan daerah terpencil dengan akses transportasi yang sebagian besar masih bergantung pada jalur sungai dan udara.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa wilayah tersebut memiliki sebaran permukiman yang berjauhan sehingga kegiatan sosial dan keagamaan sering memerlukan fasilitas khusus untuk mendukung aktivitas masyarakat.

Yusuf mengatakan keberadaan bangunan yang dihibahkan untuk kegiatan dakwah menjadi salah satu sarana yang akan digunakan untuk aktivitas pembinaan keagamaan dan kegiatan sosial masyarakat.

Dia menambahkan bahwa Hidayatullah membuka partisipasi masyarakat untuk terlibat dalam pengembangan kegiatan tersebut, baik melalui dukungan materi maupun non-materi seperti partisipasi relawan, penyebaran informasi, serta dukungan jaringan sosial yang dapat memperluas jangkauan kegiatan pembinaan di wilayah Mamberamo Raya.