Beranda blog Halaman 91

Nursyamsa Paparkan Peran Strategis Hidayatullah dalam Pembangunan Nasional

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Umat (Dakwah Yanmat) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Drs. Nursyamsa Hadis, membuka Seminar Peradaban bertajuk “Membangun Kader Mujahid dan Pemimpin yang Berkarakter dan Berintegritas” di Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Rabu, 3 Zulkaidah 1446 (30/4/2025).

Dalam sambutannya, Nursyamsa memaparkan tantangan besar yang dihadapi umat dan bangsa Indonesia dalam periode 2025–2045, sebagaimana dirumuskan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN). Ia kemudian menguraikan posisi Hidayatullah dalam menjawab tantangan-tantangan tersebut.

Nursyamsa Hadis mengidentifikasi sejumlah persoalan krusial yang akan dihadapi bangsa Indonesia dalam dua dekade mendatang. Pertama, kemiskinan dan ketimpangan tetap menjadi fokus utama.

Berdasarkan RPJPN 2025–2045, pemerintah menargetkan tingkat kemiskinan berada pada kisaran 0,5–0,8 persen dan Rasio Gini pada 0,29–0,32.

Jika sebuah wilayah memiliki tingkat kemiskinan 0,5–0,8% dan Rasio Gini 0,29–0,32, maka kemiskinan sangat minim, hampir tidak ada orang yang benar-benar kekurangan, pendapatan tersebar cukup adil, meski masih ada sedikit perbedaan antara kelompok kaya dan miskin.

Kedua, pembangunan berkelanjutan menjadi prioritas, khususnya melalui penurunan intensitas emisi Gas Rumah Kaca (GRK) menuju Net Zero Emission dengan target penurunan 93,5 persen.

Nursyamsa menjelaskan bahwa upaya menuju Net Zero Emission adalah proses bertahap yang membutuhkan inovasi teknologi dan perubahan perilaku masyarakat untuk memitigasi perubahan iklim. Net Zero Emission tidak selalu berarti emisi GRK benar-benar dihilangkan sepenuhnya.

Dalam praktiknya, ini dicapai dengan dua langkah utama: pertama, mengurangi sebanyak mungkin emisi GRK melalui perubahan teknologi, penggunaan energi terbarukan, efisiensi energi, dan perubahan pola produksi serta konsumsi; kedua, menyerap atau mengimbangi sisa emisi yang tidak bisa dihilangkan melalui metode seperti penanaman pohon atau teknologi penangkapan karbon.

Ketiga, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi agenda penting. Hal ini mencakup peningkatan pendidikan, pelatihan, sikap dan etos kerja, penguasaan teknologi, inovasi, dan kreativitas.

Keempat, transformasi ekonomi diarahkan pada peningkatan produktivitas melalui ilmu pengetahuan dan teknologi, ekonomi hijau, transformasi digital, serta integrasi ekonomi domestik dan global.

Kelima, ketangguhan sosial dan lingkungan harus dipantapkan untuk mengoptimalkan modal sosial budaya, menjaga keberlanjutan sumber daya alam, dan meningkatkan ketahanan terhadap bencana.

Terakhir, pembangunan kewilayahan yang merata dan berkeadilan menjadi kunci untuk memastikan pemerataan kualitas pembangunan di seluruh wilayah Indonesia.

Dalam konteks Indonesia, Nursyamsa menyoroti tiga agenda pembangunan utama. Pertama, transformasi sosial untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia sepanjang siklus kehidupan, menciptakan masyarakat yang lebih sejahtera, adil, dan kohesif.

Kedua, transformasi tata kelola melalui regulasi dan sistem yang berintegritas serta adaptif.

Ketiga, penegakan supremasi hukum dan kepemimpinan, yang mencakup stabilitas ekonomi, politik, hukum, dan keamanan nasional, serta penguatan diplomasi global Indonesia.

Peran Strategis Hidayatullah

Nursyamsa kemudian menguraikan posisi Hidayatullah dalam menjawab tantangan-tantangan tersebut.

Ia menegaskan bahwa mainstream Hidayatullah adalah tarbiyah dan dakwah, yang berperan meningkatkan kesadaran dan pengetahuan umat Islam tentang nilai-nilai Islam serta kontribusinya dalam pembangunan masyarakat dan bangsa.

“Hidayatullah memiliki program kaderisasi yang dapat membantu meningkatkan kemampuan dan kesadaran kader-kadernya dalam berperan mengatasi masalah kebangsaan,” ujarnya.

Kaderisasi ini menjadi fondasi untuk mencetak pemimpin yang berkarakter dan berintegritas, sebagaimana tema seminar.

Selain itu, Hidayatullah memiliki peran signifikan dalam pengembangan masyarakat melalui berbagai program, seperti Korps Muballigh Hidayatullah (KMH), Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai), Lembaga Sembelih Halal (LSH), Lembaga Zakat Nasional (Laznas), Lembaga Sertifikasi Halal (LSH), Lembaga Bantuan Hukum (LBH), Search & Rescue (SAR), dan Layanan Kesehatan Islam (IMS).

Inisiatif-inisiatif ini, terang dia, tidak hanya meningkatkan kualitas hidup umat Islam, tetapi juga berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

Hidayatullah, dengan mainstream gerakan tarbiyah dan dakwah serta aktif dalam pengembangan masyarakat, menawarkan model kepemimpinan yang berakar pada nilai-nilai Islam.

Karena itu, Nursyamsa menerangkan, dengan menggabungkan visi keislaman dan kebangsaan, Hidayatullah menempatkan diri sebagai aktor strategis dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Dalam pada itu berbagai masalah yang dikemukakan menuntut solusi yang tidak hanya teknokratis, tetapi juga berbasis nilai moral dan spiritual.

Hidayatullah pun, tambah Nursyamsa, mengajak semua pihak untuk berkolaborasi dalam membentuk generasi mujahid yang mampu memimpin dengan integritas dan kepekaan sosial.

Acara ini menghadirkan narasumber Ketua Dewan Pertimbangan (Wantim) Hidayatullah KH. Hamim Thohari, M.Si dan Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. Dr. H. Nashirul Haq, MA, yang dipandu oleh Muhammad Arfan AU, S.Si*/

Langkah Bersama Pimpinan Ormas Islam Kuatkan Solidaritas untuk Palestina

Ketum PBNU Gus Yahya berfoto bersama dengan 12 pimpinan Ormas Islam yang datang ke Gedung PBNU, Jakarta, pada Rabu (30/4/2025). (Foto: NU Online/Suwitno)

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Sebanyak dua belas pimpinan organisasi masyarakat Islam dari berbagai latar belakang berkumpul dalam suasana penuh kehangatan dan semangat kebersamaan di kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, pada pada Rabu, 3 Zulkaidah 1446 (30/4/2025).

Kedatangan mereka disambut langsung oleh Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf—akrab disapa Gus Yahya—yang didampingi Wakil Ketua Umum PBNU, KH Amin Said Husni dan KH Zulfa Mustofa, bersama jajaran pengurus lainnya.

Pertemuan strategis ini menjadi momen berharga dalam sejarah kebersamaan umat Islam di Indonesia. Isu-isu besar dibahas secara mendalam, mulai dari persoalan keumatan, kebangsaan, hingga tantangan internasional.

Namun, di antara semua topik itu, isu Palestina muncul sebagai fokus utama. Kesepahaman pun terjalin kuat, bahwa solidaritas terhadap Palestina bukan sekadar kewajiban moral, melainkan panggilan kemanusiaan yang harus dijawab secara kolektif.

Selain Ketua Umum DPP Hidayatullah Ust. H. Dr. Nashirul Haq, MA, turut pula hadir para tokoh pimpinan ormas Islam lain diantaranya Ketua Umum Dewan Dakwah KH Adian Husaini, Ketua Umum IKADI KH Ahmad Kusyairi, Ketua Umum AQL KH Bachtiar Nasir, dan Ketua Umum Wahdah Islamiyah KH Muhammad Zaitun Rasmin.

Hadir pula Ketua Majlis Syuro PUI KH Dede Nurhasanah, Ketum Mathalul Anwar KH Embay Mulya Syarief, Ketum Al-Irsyad Prof Faisol Nasar Madi, Wakil Presiden Syarikat Islam Ustadz Ibong Syahroesyah, Ketum Al-Wasliyah KH Masyhuril Khamis, Wasekjen Persis Ir Muhammad Faisal, dan Ketum Perti KH Syarfi Hutauruk.

Dalam pertemuan ini, mereka menyatakan komitmen yang bulat untuk memperkuat sinergi dan langkah bersama dalam merespons dinamika global, khususnya dalam membela Palestina.

Inisiatif ini menandai langkah awal menuju gerakan yang lebih terorganisir, menyatukan suara ormas Islam Indonesia dalam panggung global demi kemanusiaan dan keadilan.*/

Forum Sinergi DPW Hidayatullah Papua Komitmen Perkuat Peran Dakwan dan Pelayanan Umat

0

JAYAPURA (Hidayatullah.or.id) — Rapat Forum Sinergi Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Hidayatullah Papua yang berlangsung pada 27–28 April 2025 di Kampus Madya Hidayatullah Holtecamp Jayapura menghadirkan semangat baru dalam penguatan peran organisasi Islam ini di kawasan timur Indonesia.

Dihadiri oleh Ketua dan Pengurus Hidayatullah tingkat wilayah, daerah, amal dan badan usaha, serta organisasi pendukung seperti Pemuda dan Muslimat Hidayatullah, forum ini juga melibatkan pengurus Kampus Madya Pondok Pesantren Hidayatullah Jayapura sebagai tuan rumah.

Agenda utama yang diusung dalam forum tersebut menegaskan pentingnya sinergi dan kolaborasi untuk pelayanan umat, akselerasi pelaksanaan program dan penyelesaian amanah organisasi.

Dalam suasana kekeluargaan yang hangat, para peserta forum mendapatkan pengarahandari Drs. Nursyamsa Hadis, selaku pendamping wilayah sekaligus Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Umat Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah.

Dalam pengarahan tersebut, Nursyamsa mengingatkan seluruh peserta akan pentingnya meresapi dan mengamalkan amanah Pemimpin Umum Hidayatullah yang disampaikan dalam penutupan Rakornas KIKU.

Inti pesan tersebut mengajak seluruh kader dan pengelola kampus untuk meningkatkan kualitas ruhiyah (spiritualitas) secara personal sebagai energi batin yang menghidupkan kepemimpinan Islami dan menggerakkan amal dakwah di tengah masyarakat.

Ruhiyah ini, sebagaimana ditekankan, menjadi dasar bagi para pemimpin kampus untuk mendorong seluruh warga dan santri meningkatkan ibadahnya. Termasuk di dalamnya adalah pelaksanaan Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH) yang meliputi qiyamullail, shalat berjamaah, zikir pagi petang, infaq, dan dakwah fardiyah.

“Menghidupkan GNH selain menguatkan hubungan vertikal dengan Allah, juga membentuk karakter pemimpin yang tangguh, sabar, dan berorientasi pada pelayanan,” katanya.

Selain dimensi spiritual, Nursyamsa menegaskan perlunya meningkatkan kualitas pikir atau rasionalitas dengan cara mentadabburi Al-Qur’an.

Menurutnya, pendekatan tadabbur tidak hanya memperkaya pemahaman keagamaan, tetapi juga melahirkan kecerdasan dalam merespons dinamika zaman secara efektif dan efisien.

Ditengah tantangan dakwah yang serba kompleks, upaya upgrade diri ini dipandang menjadi modal penting untuk tetap relevan dan solutif.

Penguatan ruhiyah dan rasionalitas tersebut kemudian bermuara pada ikhtiar bersama dalam meningkatkan pelayanan publik, khususnya di bidang pendidikan, dakwah, dan sosial.

Menurut Nursyamsa, pelayanan yang baik dan berkelanjutan hanya dapat terwujud apabila dilandasi oleh kampus yang sehat secara spiritual dan sistemik. Dalam kerangka ini, ia menyerukan pembangunan kampus yang ilmiah, alamiah, dan imaniah.

“Kampus yang terkelola dengan spirit ini akan menampilkan wajah kampus yang indah,” ungkapnya.

Nursyamsa menggambarkan kampus ideal sebagai ruang yang rindang, taman-tamannya tertata rapi dan sedap dipandang mata.

Warganya pun ramah, menyebarkan salam, memperkuat silaturrahim, dan memberikan pelayanan terbaik kepada tamu-tamunya. Sebuah gambaran kampus Islami yang hidup, bukan hanya dalam bentuk fisik, tapi juga dalam atmosfer sosial dan spiritualnya.

Untuk menopang idealisme tersebut, Nursyamsa menggarisbawahi pentingnya manajemen dan kepemimpinan (leadership) dalam sistem pengelolaan kampus.

Ia menyebutkan empat fungsi utama manajemen yang harus menjadi perhatian, yakni perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi. Keempat fungsi ini menurutnya bukan hanya teori administrasi, tetapi harus menjadi bagian integral dari kultur kerja kampus.

“Manajemen yang bagus ditopang oleh leadership ketua dan para pengurusnya memungkinkan terbangunnya kampus yang terkelola secara profetik dan profesional,” terangnya.

Di sinilah, jelas dia, letak keseimbangan antara nilai-nilai kenabian (profetik) yang sarat dengan integritas dan keteladanan, dengan profesionalisme kerja yang menuntut sistematika, target, dan keberhasilan objektif.

Mengakhiri pengarahannya, Nursyamsa menekankan kembali pentingnya sinergi dan kolaborasi dalam pelaksanaan program.

Ia menilai bahwa keberhasilan dakwah dan pelayanan umat tidak bisa dicapai secara individualistik. Hanya dengan semangat kerja sama yang kokoh, seluruh elemen Hidayatullah mampu menghadirkan dampak nyata dalam kehidupan masyarakat.*/

Ngopi Ngobrol Siang-Siang, Neno Warisman Paparkan Gagasan ‘Galaksi Kebudayaan’

0
Tenaga Ahli Menteri Kebudayaan RI, Neno Warisman (Foto: Muhammad Ayyash/ Hidayatullah.or.id)

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam suasana santai, Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta menjadi tempat pertemuan ide tentang masa depan kebudayaan Indonesia, Selasa, 1 Zulkaidah 1446 (29/4/2025).

Dalam acara bertajuk Ngopi-Ngobrol Siang-Siang, Neno Warisman—Tenaga Ahli Menteri Kebudayaan RI—menghadirkan perspektif segar tentang budaya, pendidikan, dan masa depan masyarakat dari titik tolak yang bersahaja yaitu masjid dan sanggar.

Neno Warisman, dengan gayanya yang hangat, memulai percakapan dengan pengalaman pribadinya sebagai seorang ibu.

Dia menggarisbawahi dimensi kultural yang kerap terabaikan, dimana rumah tangga dan pendidikan anak adalah titik mula dari segala peradaban.

“Sebagai ibu yang concern di parenting, saya terharu melihat peran Hidayatullah dalam pendidikan anak,” ungkapnya, sembari mengenang kontribusi monumental pendiri Hidayatullah, Ustaz Abdullah Said, dalam membangun sistem pendidikan berbasis nilai-nilai keislaman.

Dari Masjid hingga Galaksi Budaya

Meski baru tiga bulan menjabat, Neno telah memiliki gagasan besar dan ambisius yang ia sebut sebagai “galaksi kebudayaan”.

Bagi Neno, budaya tidak bisa hanya dilihat sebagai benda mati yang dipamerkan di panggung pertunjukan atau museum. Budaya, tegas dia, adalah sesuatu yang hidup—bernapas dan berdialog dengan masyarakatnya.

Dia mengemukakan inti dari visinya yaitu membangun ekosistem budaya yang terhubung, hidup, dan tumbuh dari bawah.

“Kita bisa bentuk galaksi kebudayaan. Mulai dari masjid seperti Jogokariyan yang jadi pusat peradaban, sampai sanggar hadrah kecil di kampung-kampung,” katanya.

Dalam pengamatan Neno, Masjid Jogokariyan adalah contoh konkret dari pusat peradaban yang organik. Ia bukan hanya tempat ibadah, melainkan living culture—tempat di mana nilai, tradisi, dan kebaruan bertemu dalam praksis sehari-hari.

Di sisi lain, sanggar hadrah kecil di pelosok negeri pun tak kalah penting. Ia menyebutnya sebagai cultural enclave—kantung budaya yang bisa menjadi titik tumbuh kebudayaan lokal jika didukung dan diberdayakan.

“Hidayatullah punya jaringan kuat untuk menyambungkan ini semua. Pemerintah siap mendukung,” tegas Neno, menandai keinginan negara untuk hadir secara kolaboratif.

Pemerintah, ungkap dia, mesti datang untuk merajut dan memperkuat jaringan yang sudah tumbuh dari masyarakat.

Salah satu bagian penting dalam pernyataan Neno adalah soal peran masing-masing elemen masyarakat. Ia tidak menawarkan solusi satu arah dari negara ke rakyat, melainkan distribusi tanggung jawab yang seimbang.

Dalam hal ini, orang tua diharap menjadikan rumah sebagai kantong budaya pertama—ruang di mana nilai, estetika, dan identitas ditanamkan sejak dini.

Kemudian, komunitas komunitas yang ada didorong untuk mengembangkan potensi lokal dengan sinergi bersama pemerintah.

Dan, tak ketinggalan, pemuda diajak menjadi jembatan antara tradisi dan inovasi, antara warisan budaya dan kreativitas kekinian.

Poin-poin ini menurutnya merefleksikan pendekatan partisipatif dalam pembangunan budaya dimana budaya bukan produk elit atau birokrasi tetapi sebagai milik bersama dan hidup dalam tindakan kolektif.

Acara Ngopi-Ngobrol Siang-Siang ini ditutup Neno dengan menekankan galaksi kebudayaan yang digagasnya yang baginya budaya merupakan nafas peradaban yang bisa kita hidupkan bersama.*/

Ekonomi dan Ideologi dalam Secangkir Kopi

0

DALAM perjalanan dari Yogyakarta menuju Makassar hari ini, saya mengalami dua pengalaman ngopi yang sangat berbeda—bukan hanya dari harga, tapi juga dari makna.

Pagi menjelang siang, saya singgah sejenak di emperan Malioboro. Ngopi gratis, dari layanan self-service di sebuah toko parfum.

Kopi kapal api sachet, tanpa gula, diseduh dalam gelas plastik. Harganya? Mungkin hanya lima ratusan. Rasanya? Nikmat, apalagi diminum di emperan Malioboro, di antara lalu lalang orang dan semilir angin jalanan.

Sore harinya, pengalaman ngopi kedua terjadi di ruang tunggu Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) Kulon Progo.

Kali ini, Americano panas tanpa gula, kopi robusta, dibeli seharga Rp37.500—belum termasuk pajak. Tempatnya lebih nyaman, ber-AC, rapi. Tapi rasa kopinya? Tidak jauh berbeda dari kopi pagi tadi.

Sekali ngopi gratisan, sekali ngopi mahalan. Bedanya? Hanya soal waktu dan tempat. Selebihnya, soal rasa dan semangat, tetap sama.

Cerita ini bermula dari sahur subuh tadi, bersama para santri Cahyaqu di Pakem, Jogja. Saya sudah berniat puasa, meskipun dalam keadaan safar. Namun, dalam perjalanan menuju bandara, saat mampir membeli parfum, sebuah tawaran sederhana mengubah segalanya.

“Monggo, Pak, silakan minum. Tersedia minuman dingin, kopi, dan teh,” ujar pelayan toko, ramah.

Tawaran itu menggoda. Saya teringat bahwa musafir tak dibebani kewajiban puasa Ramadan, apalagi puasa sunnah. Pikiran saya sederhana: kenapa menolak nikmat ini?

Saya seduh satu sachet kopi kapal api, menambahkan sedikit madu yang saya bawa dari Makassar. Kopi panas itu lalu saya bawa keluar, ke emperan Malioboro, sambil membuka bekal bakpia. Sederhana, ekonomis, tapi penuh makna.

Ngopi kedua terjadi setelah informasi mendadak: pesawat delay, bahkan berganti maskapai. Dari jadwal 14.40 menjadi 20.00.

Ada enam jam menunggu. Di ruang tunggu itu, saya membeli segelas Americano, sekadar menjaga ritme: kopi tetap mengalir, waktu tetap berjalan.

Dua pengalaman ngopi, dua dunia berbeda. Yang satu murah meriah, yang satu mahal dan berkesan boros. Tapi bagi saya, keduanya berbicara tentang satu hal: menjaga spirit ngopi.

Dalam dunia ekonomi, istilah “ekonomis” mengacu pada bagaimana kita mengelola sumber daya — tentang produksi, distribusi, konsumsi barang dan jasa. Tapi dalam keseharian, “ekonomis” bukan sekadar angka-angka. Ia tentang pilihan, tentang bagaimana kita mengukur apa yang cukup.

Pertama, soal efisiensi: memanfaatkan apa yang ada untuk mencapai tujuan — bahkan kalau tujuannya hanya sekadar menikmati kopi.

Kedua, tentang manajemen biaya: kapan perlu hemat, kapan harus keluar lebih.

Ketiga, tentang keputusan: kapan kita harus rasional, dan kapan membiarkan hati memilih.

Dalam teori, modal kecil bisa menghasilkan dampak besar. Tapi dalam praktik, kadang kita sengaja “mengabaikan” hitung-hitungan itu, demi sesuatu yang lebih: pengalaman, perasaan, bahkan prinsip.

Ngopi, bagi sebagian orang, mungkin hanyalah soal memenuhi kebutuhan kafein. Tapi bagi sebagian lainnya—seperti saya hari ini—ngopi adalah bagian dari prinsip hidup. Bukan sekadar aktivitas pragmatis, melainkan sebuah ritual kecil yang sarat nilai dan perlawanan terhadap rutinitas.

Ngopi bisa menjadi soal pilihan: antara sekadar mengisi waktu, atau meneguhkan diri dalam prinsip.

Hari ini saya belajar, bahwa ekonomi penting. Tapi ideologi kadang lebih penting.

Ngopi bukan soal murah atau mahal. Di emperan jalan atau di bandara megah, ngopi tetap ngopi. Bedanya hanya soal cara kita memaknai.

Ngopi, bagi saya, adalah soal kesadaran.

*) Sarmadani Karani, penulis adalah wartawan senior dan dai penjelajah nusantara. Saat ini emban amanah sebagai Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Kabupaten Sidenreng Rappang

Merajut Empat Pilar Kampus Hidayatullah dengan Benang Komunikasi Profetik

RAPAT Koordinasi Nasional (Rakornas) Kampus Induk dan Kampus Utama (KIKU) Hidayatullah 2025 yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Hidayatullah Timika, Papua Barat, telah menggariskan empat pilar esensial yang bukan sekadar fondasi, melainkan denyut nadi bagi seluruh kampus Hidayatullah.

Keempat pilar ini – Aktifitas Ruhiah, Aktifitas Keilmuan, Etika dan Estetika, serta Kepemimpinan dan Manajemen – yang disampaikan oleh Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad, adalah representasi konkret dari nilai-nilai luhur Islam yang harus dihayati dan diamalkan dalam setiap aspek kehidupan kampus.

Lebih dari sekadar program kerja, pilar-pilar ini adalah manifestasi dari komunikasi profetik yang agung, sebuah metode penyampaian risalah Ilahi yang kaya akan hikmah, mauizah hasanah, dan mujadalah billati hiya ahsan.

1. Aktifitas Ruhiah: Membangun Menara Spiritual di Tengah Kehidupan Kampus

Aktifitas ruhiah di kampus Hidayatullah bukanlah sekadar pemenuhan kewajiban ritual, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang berkelanjutan, sebuah dialog intim antara insan akademika dengan Sang Pencipta.

Dalam kerangka komunikasi profetik, aktifitas ini adalah pengejawantahan dari qaulan sadida, perkataan yang lurus dan benar, yang menuntun hati menuju kesadaran transendental. Ia adalah upaya kolektif untuk membersihkan jiwa, memupuk keikhlasan, dan memperkuat ikatan spiritual yang menjadi sumber utama kekuatan dan inspirasi.

Bayangkanlah, setiap lantunan ayat suci Al-Qur’an yang menggema di masjid kampus, setiap dzikir dan doa yang dipanjatkan dengan khusyuk, setiap kajian keislaman yang membuka cakrawala pemahaman tentang keagungan Allah, adalah gelombang komunikasi vertikal yang menghubungkan bumi dengan langit.

Aktifitas ruhiyah yang hidup akan melahirkan ketenangan batin, kejernihan pikiran, dan motivasi ilahiah yang terpancar dalam setiap tindakan dan interaksi di lingkungan kampus. Ia menjadi perisai yang melindungi dari kegelapan hawa nafsu dan benteng yang kokoh dalam menghadapi tantangan kehidupan.

Komunikasi yang terjalin dalam aktifitas ruhiah adalah komunikasi karimah, sebuah dialog mulia yang penuh dengan penghormatan dan kasih sayang karena didasari oleh cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Ia menumbuhkan ukhuwah Islamiyah yang solid, di mana setiap individu merasa terikat oleh tali persaudaraan yang lebih kuat dari sekadar hubungan duniawi. Dalam suasana ruhiah yang kondusif, perbedaan pandangan tidak menjadi sumber perpecahan, melainkan kekayaan yang memperkaya pemahaman dan mempererat persatuan.

Lebih jauh lagi, aktifitas ruhiah yang terinternalisasi akan melahirkan pemimpin-pemimpin masa depan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan spiritual dan integritas moral yang tinggi.

Mereka adalah individu-individu yang mampu mengambil keputusan dengan bijak, bertindak dengan adil, dan mengedepankan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi, karena hati mereka senantiasa terhubung dengan sumber kebenaran yang abadi.

2. Aktifitas Keilmuan: Menyemai Benih Hikmah dengan Tanggung Jawab Ilahi

Aktifitas keilmuan adalah denyut jantung dari institusi pendidikan. Namun, dalam perspektif komunikasi profetik, ilmu pengetahuan tidak hanya dipandang sebagai komoditas yang ditransfer dari dosen kepada mahasiswa, melainkan sebagai amanah Ilahi yang harus digali, dipahami, dan diamalkan dengan penuh tanggung jawab.

Proses belajar-mengajar bertransformasi menjadi arena qaulan baligha, perkataan yang mendalam dan membekas, di mana para pendidik tidak hanya menyampaikan fakta dan teori, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kejujuran intelektual, semangat kritis yang konstruktif, dan inovasi yang berlandaskan pada etika.

Setiap sesi perkuliahan yang inspiratif, setiap diskusi yang mencerahkan, setiap penelitian yang menghasilkan penemuan bermanfaat, dan setiap pengabdian masyarakat yang tulus adalah wujud nyata dari mauizah hasanah, nasihat yang baik dan menyentuh hati, yang membimbing para pencari ilmu untuk tidak hanya meraih gelar dan predikat, tetapi juga untuk mengembangkan kearifan dan kematangan emosional.

Ilmu yang diperoleh di kampus Hidayatullah bukanlah ilmu yang steril dari nilai, melainkan ilmu yang terintegrasi dengan wahyu Ilahi, sehingga menghasilkan lulusan yang tidak hanya kompeten di bidangnya, tetapi juga memiliki kesadaran akan tanggung jawab sosial dan moralnya sebagai hamba Allah dan khalifah di bumi.

Komunikasi dalam aktifitas keilmuan yang berlandaskan komunikasi profetik adalah komunikasi yang membangun jembatan pemahaman yang kokoh antara dosen dan mahasiswa.

Dosen tidak hanya berperan sebagai transmitter ilmu, tetapi juga sebagai mentor dan role model yang menginspirasi dan membimbing.

Mahasiswa tidak hanya menjadi penerima pasif, tetapi juga partisipan aktif dalam proses pembelajaran, yang didorong untuk bertanya, berdiskusi, dan mengembangkan pemikiran kritis mereka.

Suasana akademik yang kondusif akan melahirkan inovasi-inovasi yang bermanfaat bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan kesejahteraan umat manusia.

3. Etika dan Estetika: Membentuk Karakter Luhur dalam Balutan Keindahan Islami

Etika dan estetika adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan dalam pembentukan karakter yang paripurna. Komunikasi profetik menekankan pentingnya qaulan layyina, perkataan yang lemah lembut dan penuh kasih sayang, sebagai landasan utama dalam berinteraksi.

Akhlakul karimah bukan hanya sekadar norma sopan santun, melainkan manifestasi dari keimanan yang kokoh dan kecintaan kepada sesama. Kampus Hidayatullah harus menjadi oase di mana kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, dan saling menghormati menjadi budaya yang mengakar kuat.

Estetika dalam konteks kampus Hidayatullah melampaui sekadar keindahan visual. Ia mencakup kebersihan lingkungan, kerapian tata ruang, arsitektur yang Islami, serta apresiasi terhadap seni dan budaya yang selaras dengan nilai-nilai Islam.

Keindahan yang terpancar dari lingkungan kampus akan menciptakan suasana yang nyaman dan kondusif untuk belajar, bekerja, dan berinteraksi. Ia juga menjadi cerminan dari keindahan jiwa dan akhlak penghuninya.

Komunikasi yang terbangun dalam lingkungan yang menjunjung tinggi etika dan estetika adalah komunikasi ma’rufa, perkataan dan perbuatan yang baik dan pantas. Tidak ada ruang untuk perkataan kasar, fitnah, atau ghibah.

Setiap interaksi didasari oleh rasa saling menghargai dan menjaga kehormatan sesama. Kampus yang demikian akan menjadi model bagi masyarakat luas, menunjukkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dapat berjalan beriringan dengan ketinggian akhlak dan keindahan budi pekerti. Citra positif institusi terbangun bukan hanya dari prestasi akademik, tetapi juga dari karakter luhur komunitasnya.

4. Kepemimpinan dan Manajemen: Mengemban Amanah dengan Profesionalisme dan Visi Kenabian

Kepemimpinan dan manajemen di kampus Hidayatullah adalah amanah yang diemban dengan penuh tanggung jawab dan didasarkan pada prinsip-prinsip keadilan, musyawarah, dan transparansi.

Komunikasi profetik mengajarkan qaulan maisura, perkataan yang mudah dipahami dan dilaksanakan, dalam menyampaikan kebijakan dan arahan. Para pemimpin dan pengelola kampus dituntut untuk memiliki visi yang jelas, kemampuan mengorganisasi yang efektif, serta kepekaan terhadap kebutuhan dan aspirasi seluruh anggota komunitas kampus.

Keputusan yang diambil haruslah didasarkan pada nilai-nilai Islam yang universal dan dipertanggungjawabkan secara moral dan profesional. Manajemen yang efektif akan menciptakan lingkungan kerja yang produktif, kolaboratif, dan inovatif, di mana setiap individu merasa dihargai dan memiliki kesempatan untuk berkontribusi secara maksimal. Komunikasi yang terjalin adalah komunikasi baligha, jelas, efektif, dan membekas, mampu menggerakkan seluruh potensi kampus menuju pencapaian tujuan pendidikan yang mulia.

Lebih jauh lagi, kepemimpinan dalam perspektif komunikasi profetik adalah kepemimpinan yang melayani (servant leadership), meneladani sifat-sifat Rasulullah SAW seperti shiddiq (jujur), amanah (terpercaya), tabligh (menyampaikan kebenaran), dan fathanah (cerdas).

Pemimpin tidak hanya berfokus pada pencapaian target dan indikator kinerja, tetapi juga pada pembinaan karakter dan pengembangan potensi seluruh anggota komunitas kampus. Mereka adalah qudwah hasanah, teladan yang baik, yang menginspirasi dan memotivasi dengan tindakan nyata.

Menuju Kampus Peradaban yang Memancarkan Cahaya

Dengan mengintegrasikan keempat pilar ini ke dalam setiap helai kehidupan kampus dan menginternalisasinya melalui pendekatan komunikasi profetik yang holistik, kampus-kampus Hidayatullah memiliki potensi besar untuk bertransformasi menjadi pusat ilmu pengetahuan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga menjadi suluh peradaban yang memancarkan nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin.

Setiap interaksi, setiap kebijakan, dan setiap program kerja hendaknya dijiwai oleh hikmah, nasihat yang baik, dan argumentasi yang konstruktif, sehingga terwujud komunitas kampus yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, dan mampu melahirkan pemimpin-pemimpin masa depan yang amanah dan visioner.

Komunikasi profetik bukan sekadar kerangka teoretis, melainkan sebuah metodologi transformatif yang berpotensi merevolusi paradigma pendidikan. Ia mengajak kita untuk mengintegrasikan ilmu pengetahuan, interaksi sosial, dan kepemimpinan melalui perspektif nilai-nilai Ilahi yang fundamental, sebagaimana diwahyukan dalam lima surah pertama: Al-Alaq, Al-Qalam, Al-Muzzammil, Al-Muddatsir, dan Al-Fatihah.

Dengan menginternalisasi prinsip-prinsip komunikasi profetik yang berakar pada wahyu awal ini, kampus Hidayatullah memiliki peluang besar untuk tidak hanya menghasilkan lulusan yang unggul dalam keilmuan, tetapi juga individu-individu dengan landasan moral yang kokoh, empati sosial yang mendalam, serta sumbangsih nyata bagi kemajuan masyarakat dan negara.

Narasi besar ini menggambarkan bagaimana empat pilar utama kampus Hidayatullah, yang dijalin erat dengan esensi komunikasi profetik, dapat mengarahkan kita pada visi mulia untuk menjadi bagian integral dari gerakan perubahan peradaban menuju kebaikan dan keadilan yang lebih luas.

Pemahaman mendalam terhadap basis wahyu dalam lima surah pertama akan menjadi spirit dan arah dalam mengimplementasikan komunikasi profetik di seluruh aspek kampus.[]

*) Dr. Muhammad Shaleh Utsman S.S, M.I.Kom, penulis adalah Ketua Departemen Perkaderan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Wakil Bupati Mamuju Sebut Hidayatullah Rumah Kedua, Harap Ukhuwah dan Dakwah Makin Kokoh

MAMUJU (Hidayatullah.or.id) — Ditengah kesibukannya sebagai orang nomor dua di Bumi Manakarra, Wakil Bupati Mamuju Yuki Permana meluangkan waktu menghadiri acara Silaturahim Syawal 1446 H yang diikuti kader Hidayatullah Sulawesi Barat digelar di Kampus Madya Pondok Pesantren Hidayatullah Mamuju, Sulawesi Barat, yang digelar selama 2 hari dibuka pada Sabtu, 27 Syawal 1446 (26/4/ 2025).

Kehadiran Wakil Bupati Mamuju sekaligus membuka acara ini. Ia turut didampingi Kepala Biro Kesra Provinsi Sulawesi Barat, H. Arianto, AP, MM.

Dalam sambutannya, Yuki Permana menyampaikan bahwa Hidayatullah sudah menjadi bagian penting dalam perjalanan kariernya di Mamuju.

“Saya kalau ke Hidayatullah seperti pulang ke rumah sendiri,” ungkapnya di hadapan para peserta, seperti dikutip dari laman Hidayatullahsulbar.com.

Politikus PKS ini juga mengapresiasi kontribusi Hidayatullah dalam pembangunan mental dan spiritual masyarakat di kawasan itu. Ia menekankan bahwa pembangunan spiritual adalah fondasi yang lebih utama dibanding pembangunan fisik semata.

“Karena pembangunan yang tidak didasari oleh mental dan spiritual akan rapuh,” jelas Yuki.

Menurutnya, silaturahmi bukan sekadar temu, tapi menguatkan langkah dan mempererat hati.

Wakil Bupati pun menyambut gembira temu kader Hidayatullah se-Sulawesi Barat itu yang bersua dalam suasana penuh hangat dan penuh semangat.

Bismillah, semoga ukhuwah ini jadi jalan untuk dakwah yang makin kokoh,” imbuhnya.

Kepala Biro Kesra Provinsi Sulawesi Barat, H. Arianto, AP, MM, turut memberikan apresiasi atas peran aktif Hidayatullah di Sulbar. Ia mengenang masa awal berdirinya pesantren ini, yang saat itu masih berupa kolam dan sawah.

“Perkembangannya luar biasa,” ujarnya.

Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Barat Ustadz Drs. H. Mardhatillah dalam sambutannya berpesan kepada seluruh kader untuk menjaga nilai-nilai Ramadan.

Setidaknya, kata dia, ada lima amalan utama yang harus terus dirawat: puasa, shalat, tadarrus Al-Qur’an, zakat, infak dan sedekah, serta mengambil hikmah dari peristiwa Nuzulul Qur’an.

Pesan ini merupakan kelanjutan dari ceramah-ceramah yang disampaikannya selama Ramadan, yang diharapkan menjadi solusi atas berbagai krisis kehidupan.

Pada acara pembukaan, panitia menghadirkan Ketua Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah, Dr. Muhammad Sholeh Usman, M.I.Kom., untuk mengisi Tabligh Akbar.*/

Merawat Solidaritas Kemanusiaan, Kontribusi Muslimat Hidayatullah untuk Palestina

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Penjajahan yang dilakukan Isra*l bersama sekutunya di Palestina telah menciptakan krisis kemanusiaan yang mendesak, memengaruhi kehidupan ribuan warga, terutama anak-anak, perempuan, dan lansia.

Di tengah penderitaan ini, Muslimat Hidayatullah (Mushida) Kalimantan Timur (Kaltim) menunjukkan komitmen kemanusiaannya melalui penyerahan donasi kepada Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Kaltim.

Penyerahan berlangsung pada Selasa, 22 April 2025, di Kantor Perwakilan BMH Kaltim, Jalan MT. Haryono, sebagai wujud solidaritas moral dan material bagi rakyat Palestina.

Palestina terus menghadapi tantangan kemanusiaan yang kompleks akibat konflik yang tak kunjung usai. Krisis ini telah menyebabkan kerugian besar, baik dalam hal infrastruktur maupun kesejahteraan masyarakat.

Kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia menjadi pihak yang paling terdampak, menghadapi kekurangan pangan, layanan kesehatan, dan tempat tinggal yang layak. Dalam konteks ini, bantuan kemanusiaan menjadi kebutuhan mendesak untuk meringankan beban mereka.

Mushida Kaltim, melalui Pilar Sosial Kemanusiaan, menginisiasi program Donasi Kemanusiaan Palestina sebagai respons terhadap situasi tersebut.

Program ini tidak hanya bertujuan memberikan bantuan material, tetapi juga memperkuat nilai-nilai solidaritas dan persaudaraan lintas bangsa. Dengan menggandeng BMH Kaltim sebagai mitra penyalur, Mushida memastikan bahwa donasi dapat dikelola secara profesional dan tepat sasaran.

Bantuan yang diserahkan berupa dana kemanusiaan yang akan dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat Palestina. BMH Kaltim dipilih sebagai mitra karena reputasinya sebagai lembaga yang memiliki jaringan distribusi luas dan pengalaman dalam menangani bantuan di wilayah konflik.

Proses penyaluran dirancang untuk memastikan kecepatan, ketepatan, dan transparansi, sehingga bantuan dapat sampai ke tangan penerima manfaat dengan efektif.

Dalam sambutannya, Ketua Mushida Kaltim, Erniwati, menyampaikan, “Donasi ini merupakan amanah yang kami serahkan sebagai wujud cinta dan kepedulian terhadap saudara-saudara di Palestina. Kami berharap bantuan ini dapat menjadi sumber kekuatan dan semangat bagi mereka.”

Menyalurkan bantuan ke wilayah konflik seperti Palestina bukanlah tugas yang mudah. Faktor seperti ketidakstabilan keamanan, hambatan logistik, dan kebutuhan untuk memastikan akurasi distribusi menjadi tantangan utama.

Namun, kolaborasi dengan BMH Kaltim, yang memiliki keahlian dalam mengelola bantuan kemanusiaan, diharapkan dapat mengatasi kendala tersebut. Sistem distribusi yang terstruktur dan pengawasan ketat menjadi kunci untuk memastikan bantuan sampai kepada mereka yang paling membutuhkan.

Achmad Rifa’i, Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Kaltim, menegaskan komitmen lembaganya, “Kami, bersama umat Islam, akan terus berupaya memberikan yang terbaik untuk saudara-saudara di Palestina.”

Program ini tidak hanya memberikan dampak langsung berupa bantuan material, tetapi juga memperkuat nilai ukhuwah Islamiyah dan solidaritas global. Dengan semangat kebersamaan, bantuan ini diharapkan dapat membawa harapan baru bagi rakyat Palestina yang tengah berjuang di tengah krisis.

Antara Iman dan Tipu Daya, Pelajaran dari Kaum Munafik

0

DALAM perjalanan manusia beragama, tidak semua yang mengaku beriman benar-benar beriman. Al-Qur’an, kitab suci yang menjadi petunjuk seluruh manusia, telah mengabarkan tentang fenomena ini dengan sangat jelas.

Allah Ta‘ala berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 8:

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَبِٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ

“Di antara manusia ada yang mengatakan: ‘Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian,’ pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.”

Melalui ayat ini, Allah mengungkapkan satu golongan manusia yang tampak beriman secara lahir, namun batinnya menyimpan kekafiran.

Mari kita simak Tafsir As-Sa’di yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di yang menjelaskan ayat ini:

قالَ تَعالَى في وَصْفِ المُنافِقينَ الَّذينَ ظاهِرُهُمُ الإِسْلامُ وباطِنُهُمُ الكُفْرُ

“Allah Ta‘ala berfirman tentang sifat orang-orang munafik, yaitu mereka yang tampak luarnya seolah-olah memeluk Islam, namun hatinya penuh kekufuran”

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ

“Dan di antara manusia ada yang berkata, ‘Kami beriman kepada Allah dan Hari Akhir,’ padahal sebenarnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah: 8)

Selanjutnya, definisi nifak (kemunafikan) diberikan dengan tegas:

وَاعْلَمْ أَنَّ النِّفَاقَ هُوَ: إِظْهَارُ الْخَيْرِ وَإِبْطَانُ الشَّرِّ

“Ketahuilah bahwa nifak (kemunafikan) adalah: menampakkan kebaikan, namun menyembunyikan kejahatan”

Termasuk dalam kategori ini adalah dua bentuk kemunafikan: nifak i‘tiqadi (kemunafikan dalam keyakinan) dan nifak ‘amali (kemunafikan dalam perbuatan).

Nabi Muhammad ﷺ telah menggambarkan tanda-tanda nifak ‘amali dalam sabdanya:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

“Tanda orang munafik itu ada tiga: jika berbicara, ia berdusta; jika berjanji, ia mengingkari; dan jika diberi amanah, ia berkhianat.”

Dalam riwayat lain disebutkan:

وَفِي رِوَايَةٍ: “وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ”

“Dan jika berselisih, ia berlaku curang dan melampaui batas.”

Jenis-Jenis Kemunafikan dan Hukumnya

Penjelasan tambahan membedakan dua jenis nifak:

Pertama, Nifak I‘tiqadi (Kemunafikan dalam Keyakinan), yaitu jenis kemunafikan paling berbahaya. Pelakunya berpura-pura masuk Islam namun hatinya membenci Islam dan Rasulullah ﷺ.

Mereka bahkan ikut shalat bersama kaum muslimin sambil menyimpan niat menghancurkan Islam. Tokoh semacam Abdullah bin Ubay bin Salul di zaman Nabi ﷺ menjadi contohnya.

Hukum nifak ini adalah kufr akbar, kekafiran besar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Jika meninggal dalam keadaan seperti itu tanpa taubat, tempatnya adalah neraka paling bawah, sebagaimana firman Allah:

إِنَّ ٱلْمُنَٰفِقِينَ فِى ٱلدَّرْكِ ٱلْأَسْفَلِ مِنَ ٱلنَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.” (QS. An-Nisa: 145)

Kedua, Nifak ‘Amali (Kemunafikan Perbuatan). Ini berkaitan dengan perilaku, bukan akidah.

Pelakunya tetap beriman namun membawa sifat-sifat munafik seperti berdusta, mengingkari janji, berkhianat, dan berlaku curang dalam perselisihan.

Meskipun hukumnya adalah dosa besar, ia tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam, namun bahayanya tetap besar. Jika dibiarkan berlarut-larut tanpa taubat, bisa menyeret kepada nifak i‘tiqadi.

Sebagaimana dijelaskan:

وَأَمَّا النِّفَاقُ الِاعْتِقَادِيُّ الْمُخْرِجُ عَنْ دَائِرَةِ الْإِسْلَامِ، فَهُوَ الَّذِي وَصَفَ اللَّهُ بِهِ الْمُنَافِقِينَ فِي هَذِهِ السُّورَةِ وَغَيْرِهَا

“Adapun nifak i‘tiqadi yang mengeluarkan seseorang dari lingkup Islam, itulah yang Allah gambarkan dalam surah ini dan surah-surah lainnya”.

Sifat Orang Munafik dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an memaparkan sifat orang-orang munafik dengan rinci:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ

“Di antara manusia ada yang berkata, ‘Kami beriman kepada Allah dan Hari Akhir,’ padahal mereka bukanlah orang-orang beriman.”

يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

“Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri sendiri, dan mereka tidak sadar.”

فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah tambahkan penyakit itu. Dan bagi mereka azab yang pedih, karena mereka berdusta.” (QS. Al-Baqarah: 8–10)

Allah juga menegaskan:

الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُم مِّن بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمُنكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ ۚ

“Orang-orang munafik, laki-laki dan perempuan, satu dengan yang lain saling bersatu (dalam keburukan). Mereka menyuruh kepada kemungkaran dan melarang dari kebaikan, serta menggenggam tangan mereka.”

Betapa miripnya keadaan ini dengan mereka yang mengumpulkan zakat tetapi tidak disalurkan kepada yang berhak.

Allah menutup dengan firman-Nya:

نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ ۗ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Mereka telah melupakan Allah, maka Allah pun melupakan mereka. Sungguh, orang-orang munafik itu adalah orang-orang fasik.”

وَعَدَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ هِيَ حَسْبُهُمْ ۚ وَلَعَنَهُمُ اللَّهُ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُّقِيمٌ

“Allah menjanjikan kepada orang-orang munafik dan orang-orang kafir, neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya.” (QS. At-Tawbah: 67–68)

Akhirnya, Al-Qur’an memperingatkan:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu berada di dasar neraka yang paling bawah, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.”

Ayat-ayat ini memperlihatkan betapa beratnya bahaya nifak, hingga perlu bagi setiap insan beriman untuk terus memperbarui niat, memperbaiki akhlak, dan menguatkan keimanan dalam lubuk hati yang terdalam.[]

*) Ust. Drs. Khoirul Anam, penulis alumni Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, Anggota Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sumut, pengisi kajian rutin Tafsir Al Qur’an di Rumah Qur’an Yahfin Siregar Tamora dan pengasuh Hidayatullah Al-Qur’an Learning Centre Medan

Ketua STIT Hisam Ajak Teladani Empat Fase Pendidikan Rasulullah untuk Generasi Unggul

0

SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Hidayatullah Samarinda (STIT HISAM), Ust. H. Jumain Rajab, S.Pd., M.Pd, mengatakan pendidikan Islam memiliki akar yang kuat dalam ajaran Al-Qur’an dan teladan Rasulullah SAW yang mesti menjadi pijakan bagi pegiat pendidikan masa kini.

“Sebagai pendidik ulung, Rasulullah tidak hanya menyampaikan wahyu, tetapi juga membentuk generasi unggul melalui pendekatan pedagogis yang terstruktur dan bertahap,” katanya.

Hal itu disampaikan Jumain saat mengisi taushiyah acara kegiatan Penguatan Kelembagaan di Aula Kampus STIT HISAM Pondok Pesantren Hidayatullah Samarinda, Kaltim, baru baru ini dan direportase pada Senin, 29 Syawal 1446 (28/4/2025).

Pada kesempatan itu Jumain yang juga ketua Departemen Pendidikan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Kalimantan Timur (Kaltim) memaparkan materi bertema “4 Fase Pendidikan dalam Al-Qur’an.”

Dalam pemaparannya, ia menegaskan pentingnya meneladani metodologi pendidikan Rasulullah untuk membentuk generasi yang berilmu, beriman, dan berakhlak mulia.

Pendidikan Islam, sebagaimana dicontohkan Rasulullah, terang dia, berpijak pada Al-Qur’an sebagai sumber utama. Ia menegaskan bahwa pendidik yang enggan merujuk pada metode Rasulullah perlu mengevaluasi komitmennya terhadap pendidikan Islam.

“Generasi terbaik dalam sejarah umat manusia, yaitu para sahabat, adalah buah dari didikan langsung Rasulullah. Oleh karena itu, keberhasilan pendidikan Islam bergantung pada penerapan metodologi yang sesuai dengan sistematika wahyu yang dicontohkan beliau,” imbuh dosen asal IKN ini.

Metodologi Pendidikan Rasulullah Transformasi Bertahap

Jumain menerangkan, Rasulullah diutus pada masa masyarakat jahiliyah, yang ditandai oleh kerusakan moral, maraknya perjudian, konsumsi minuman keras, dan penyimpangan sosial lainnya.

Misi besar beliau adalah mentransformasi masyarakat ini menjadi umat yang unggul, cerdas, beradab, dan bertakwa.

Proses transformasi ini tidak dilakukan secara instan, melainkan melalui tahapan yang tersusun secara sistematis, sebagaimana tersirat dalam Al-Qur’an, khususnya dalam Surat Al-Jumu’ah ayat 2:

هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُمِّيّٖنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ

“Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan jiwa mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya mereka benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Jumu’ah: 2)

Menurut Jumain, surah Al Jumu’ah ayat 2 ini menguraikan tiga pilar utama pendidikan Rasulullah, yang kemudian dirinci menjadi empat fase pendidikan, yaitu tilawah, tazkiyah, ta’lim, dan hikmah.

“Keempat fase ini merupakan proses bertahap yang saling berkaitan, membentuk individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan emosional,” katanya.

Empat Fase Pendidikan dalam Al-Qur’an

Jumain lantas merinci setiap empat fase tersebut. Pertama, fase tilawah, yaitu merupakan fase awal dengan menanamkan fondasi Tauhid.

Fase tilawah, yang merujuk pada istilah yatlu ‘alayhim ayatih (membacakan ayat-ayat Allah), adalah tahap awal dalam pendidikan Rasulullah.

Pada fase ini, beliau memperkenalkan konsep tauhid kepada para sahabat, menegaskan bahwa alam semesta ini diciptakan dan diatur oleh Allah SWT.

“Pendidikan pada tahap ini bertujuan membangun keyakinan yang kokoh terhadap keesaan Allah, sekaligus memperkuat hafalan Al-Qur’an sebagai sumber ilmu utama,” kata Jumain.

Melalui tilawah, para sahabat tidak hanya memahami makna ayat, tetapi juga menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.

Kedua adalah fase tazkiyah, yaitu proses pensucian jiwa dan pembentukan akhlak. Dia menjelaskan, setelah fondasi iman tertanam, Rasulullah melanjutkan ke fase tazkiyah (wa yuzakkihim), yaitu proses penyucian hati dan jiwa.

Fase ini berfokus pada pengelupasan sifat-sifat tercela, seperti kesombongan, ketamakan, dan egoisme. Umat diajarkan untuk menyadari bahwa segala yang dimilikinya adalah anugerah dari Allah, bukan hasil kehebatan pribadi.

Tazkiyah menjadi kunci pembentukan akhlak mulia, yang memungkinkan individu untuk berinteraksi dengan Allah dan sesama manusia dengan penuh kerendahan hati dan keikhlasan,” kata Jumain.

Berikutnya adalah fase Ta’lim atau tahapan pengembangan ilmu pengetahuan. Fase ta’lim (wa yu‘allimuhum) ini, yaitu merupakan tahap pengembangan intelektual. Setelah iman dan akhlak terbentuk, Rasulullah mendorong umat untuk mempelajari berbagai disiplin ilmu.

“Pendidikan pada fase ini memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk mengasah akal dan memperluas wawasan, tidak hanya dalam memahami wahyu, tetapi juga dalam ilmu-ilmu duniawi yang mendukung kehidupan bermasyarakat. Penempuhan fase ini memastikan bahwa umat tidak hanya bertakwa, tetapi juga kompeten dalam berbagai bidang,” jelasnya merinci.

Sebagai puncak dari ketiga fase sebelumnya, fase hikmah (wal hikmah) menghasilkan individu yang bijaksana. Generasi pada tahap ini mampu mengintegrasikan ilmu, iman, dan akhlak dalam pengambilan keputusan.

Mereka menyadari hakikat diri sebagai hamba Allah, mampu menimbang permasalahan dengan kearifan, dan bertindak dengan penuh tanggung jawab.

Hikmah mencerminkan kematangan spiritual, emosional, dan intelektual, menjadikan individu sebagai agen perubahan yang bermanfaat bagi umat,” jelasnya.

Kegiatan Penguatan Kelembagaan di Pondok Pesantren Hidayatullah Samarinda ini bertujuan memperkuat komitmen para pendidik dalam menerapkan metodologi pendidikan Rasulullah.

Dengan menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai landasan, kata Jumain, pendidikan Islam diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas moral dan spiritual.

Keempat fase pendidikan ini menurutnya menawarkan kerangka kerja yang holistik, yang relevan untuk diterapkan dalam konteks pendidikan modern.

Diharapkan para pengemban amanah dapat menginternalisasi nilai-nilai ini dalam praktik pengajaran mereka, sehingga mampu membimbing peserta didik menuju keunggulan sejati, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh generasi terbaik umat Islam.*/