Beranda blog Halaman 95

Raih Cinta-Nya dengan Berpuasa Enam Hari di Bulan Syawal

0

BULAN Syawal, bulan kemenangan setelah Ramadan, membawa pesan keimanan yang penting bagi kita umat Islam. Di tengah euforia Idulfitri, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak umatnya untuk melanjutkan momentum ibadah melalui puasa sunnah enam hari di bulan Syawal.

Amalan ini bukan sekadar ibadah ritual belaka, melainkan jalan untuk menyempurnakan ibadah Ramadan, melatih kedisiplinan spiritual, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Dengan pahala yang setara puasa setahun penuh, puasa Syawal menjadi salah satu ibadah sunnah yang sangat dianjurkan (sunnah muakkadah).

Puasa Syawal memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam, sebagaimana disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Ayyub Al-Anshari:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barang siapa berpuasa Ramadan kemudian melanjutkannya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim)

Pertanyaan yang sering muncul adalah bagaimana enam hari puasa dapat setara dengan puasa setahun? Jawabannya terletak pada konsep pelipatgandaan pahala dalam Islam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ، الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ

“Setiap amalan anak Adam dilipatgandakan; satu kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali hingga tujuh ratus kali lipat.” (HR. Muslim, no. 1151)

Prinsip ini diperkuat oleh firman Allah dalam Al-Qur’an, Surah Al-An’am ayat 160:

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا

“Barang siapa membawa amal kebaikan, maka baginya pahala sepuluh kali lipat amalnya.”

Penjelasan lebih lanjut ditemukan dalam hadis dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, yang menyatakan:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ فَشَهْرٌ بِعَشَرَةِ أَشْهُرٍ وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ فَذَلِكَ تَمَامُ صِيَامِ السَّنَةِ

“Barang siapa berpuasa Ramadan, satu bulan setara dengan sepuluh bulan, dan berpuasa enam hari setelah Idulfitri menyempurnakan puasa setahun penuh.”

Berdasarkan dalil-dalil ini, puasa Ramadan selama sebulan (30 hari) setara dengan 300 hari (10 bulan) karena setiap hari pahalanya dilipatgandakan sepuluh kali.

Puasa Syawal selama enam hari setara dengan 60 hari (2 bulan) dengan perhitungan serupa. Totalnya, 300 hari ditambah 60 hari menghasilkan 360 hari, yang setara dengan puasa satu tahun penuh.

Keutamaan Puasa Syawal

Puasa Syawal bukan sekadar ibadah tambahan, melainkan memiliki keutamaan yang luar biasa.

Pertama, pahalanya setara dengan puasa wajib selama setahun, menjadikannya investasi pahala yang sangat berharga.

Kedua, puasa ini berfungsi sebagai penyempurna ibadah Ramadan, menutupi kekurangan yang mungkin terjadi selama puasa wajib, seperti kurangnya kekhusyukan atau pelanggaran kecil yang tidak disengaja.

Selain itu, puasa Syawal melatih kedisiplinan spiritual dan mempertahankan semangat ibadah pasca-Ramadan.

Momentum Ramadan sering kali membawa antusiasme tinggi, namun semangat ini dapat memudar setelah Idulfitri.

Karena itu, puasa Syawal menjadi sarana untuk menjaga konsistensi ibadah, sekaligus menunjukkan ketaatan kepada anjuran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi:

…أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ؟ الصَّوْمُ جُنَّةٌ

“Maukah aku tunjukkan pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai…” (HR. Tirmidzi, hadis hasan sahih)

Puasa dalam konteks ini menjadi perisai yang melindungi seorang muslim dari godaan maksiat di dunia dan ancaman api neraka di akhirat. Dengan demikian, puasa Syawal bukan hanya menambah pahala, tetapi juga memperkuat ketahanan spiritual.

Puasa Syawal dilakukan selama enam hari di bulan Syawal, dengan fleksibilitas dalam pelaksanaannya. Menurut Imam Nawawi dalam Syarh Muslim (8/56), cara yang paling utama (afdhal) adalah menjalankan puasa secara berurutan mulai dari tanggal 2 Syawal, sehari setelah Idulfitri.

Namun, puasa ini juga boleh dilakukan secara tidak berurutan sepanjang masih dalam bulan Syawal. Fleksibilitas ini memudahkan umat Islam untuk menyesuaikan ibadah dengan kondisi masing-masing.

Bagi mereka yang memiliki tanggungan (qadha) puasa Ramadan, para ulama seperti Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarhul Mumthi’ (3/89) menegaskan bahwa menunaikan qadha lebih diutamakan daripada puasa Syawal.

Hal ini merujuk pada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barang siapa berpuasa Ramadan,” yang mengindikasikan bahwa kesempurnaan puasa Ramadan harus dipenuhi terlebih dahulu agar pahala puasa Syawal dapat diperoleh secara maksimal.

Jalan Meraih Cinta Allah

Puasa Syawal adalah salah satu bentuk ibadah sunnah yang membawa seorang hamba lebih dekat kepada Allah. Dalam hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Bukhari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan:

وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

“Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya.” (HR. Bukhari)

Melalui puasa Syawal, seorang muslim menunjukkan kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya dengan mengamalkan sunnah yang dianjurkan.

Bagi setiap muslim yang ingin meraih cinta Allah, menjalankan puasa enam hari di bulan Syawal adalah langkah nyata untuk mewujudkannya.

Semoga Allah memberi kekuatan kepada kita untuk mengamalkannya dengan penuh keikhlasan dan keimanan.

*) Ust. Drs. Nursyamsa Hadis, penulis adalah Ketua Pembina Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Samarinda, Kalimantan Timur.

Hidayatullah Sampaikan Usulan Langkah Strategis Indonesia untuk Palestina

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Krisis kemanusiaan di Palestina, yang terus memburuk akibat agresi penjajah militer Israel, menuntut respons global yang tegas namun terukur. Di tengah kompleksitas geopolitik, Indonesia sebagai negara dengan komitmen kuat terhadap kemerdekaan dan keadilan memiliki tanggung jawab moral untuk berkontribusi secara signifikan.

Namun, tantangan politik domestik dan dinamika internasional sering kali membatasi ruang gerak. Dalam kerangka situasi ini, Dzikrullah W. Pramudya, Ketua Departemen Hubungan Antarbangsa Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, menyampaikan sejumlah usulan strategis kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam acara “Silaturrahim Idul Fitri dan Respon MUI terhadap Fatwa Jihad dari Ikatan Ulama Muslimin Sedunia” di Kantor MUI Pusat, Jakarta, Senin, 15 Syawal 1446 (14/4/2025).

Acara ini dihadiri puluhan pimpinan organisasi Islam, perwakilan agama Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu, serta tokoh masyarakat, cendekiawan, dan wartawan, mencerminkan semangat inklusivitas dalam menyikapi isu kemanusiaan.

Pendidikan dan Pemahaman Kolektif Palestina

Langkah pertama yang diusulkan Dzikrullah adalah perlunya MUI menjelaskan secara mendalam kepada pimpinan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) mengenai hakikat penjajahan di Palestina.

Menurut Dzikrullah, penjajahan ini bukan sekadar konflik teritorial, melainkan pelanggaran sistematis terhadap hak asasi manusia, kebebasan beragama, dan kedaulatan sebuah bangsa. MUI diminta memfasilitasi dialog yang tidak hanya menyoroti fakta sejarah, tetapi juga merujuk pada respons ulama dunia, termasuk fatwa-fatwa yang menyerukan solidaritas global.

Pemahaman ini, jelas dia, penting untuk membangun kesadaran kolektif di kalangan pengambil kebijakan, bahwa dukungan terhadap Palestina adalah bagian dari mandat moral dan konstitusional Indonesia untuk menentang segala bentuk penjajahan.

Penyusunan Landasan Hukum Progresif

Usulan kedua Dzikrullah menekankan pembentukan Tim Perancang Undang-Undang Anti-Penjajahan dan Anti-Terorisme Negara oleh MUI. Tim ini harus terdiri dari pakar hukum, aktivis kemanusiaan, relawan, dan wartawan yang memiliki komitmen terhadap keadilan global.

Rancangan undang-undang ini bukan sekadar simbol solidaritas, tetapi alat hukum yang memungkinkan pemerintah Indonesia mengambil langkah konkret, seperti menekan pelaku penjajahan melalui sanksi ekonomi atau diplomatik, serta mendukung upaya pembebasan Palestina dan perlindungan Masjidil Aqsa.

Dengan landasan hukum yang kuat, tegas Dzikrullah, Indonesia dapat mempertegas posisinya sebagai aktor global yang konsisten menjunjung kedaulatan dan keadilan, tanpa terjebak dalam polarisasi politik yang kontraproduktif.

Koridor Kedaruratan Medis Tiga Negara

Usulan ketiga Dzikrullah adalah inisiatif diplomatik yang inovatif, yakni pembentukan “Koridor Kedaruratan Medis Tiga Negara” melalui kesepakatan antara Presiden Indonesia, Presiden Mesir, dan Raja Yordania. Koridor ini bertujuan memastikan distribusi bantuan medis yang masif dan terkoordinasi ke Jalur Gaza, khususnya di Gaza Utara, Kota Gaza, Khan Younis, dan Rafah.

Selain itu, terang Dzikrullah, inisiatif ini mencakup pendirian rumah sakit darurat dan pemulihan fasilitas medis yang hancur akibat agresi militer. Langkah ini menunjukkan pendekatan kemanusiaan yang fokus pada penyelamatan nyawa dan menghindari eskalasi ketegangan politik. Diplomasi semacam ini menurutnya juga memperkuat peran Indonesia sebagai mediator yang disegani di panggung internasional.

Satgas Kemanusiaan di Wilayah Strategis

Usulan terakhir yang disampaikan Dzikrullah adalah pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Kemanusiaan di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kairo, Amman, Beirut, dan Suriah. Satgas ini akan diisi oleh perwakilan lembaga swadaya masyarakat (LSM) kemanusiaan secara bergilir, dengan misi mendukung kebutuhan rakyat Palestina hingga kemerdekaan tercapai dan Masjidil Aqsa terlindungi.

Keberadaan satgas ini, menurut Dzikrullah, akan memperkuat kehadiran Indonesia di wilayah konflik, memastikan bantuan kemanusiaan tersalurkan secara efektif, dan menjadi simbol komitmen jangka panjang terhadap perjuangan Palestina.

Pendekatan ini juga memungkinkan partisipasi masyarakat sipil, sehingga solidaritas tidak hanya menjadi wacana elit, tetapi gerakan rakyat yang terorganisir.

Acara ini juga dihadiri wakil-wakil dari organisasi Kristen, Hindu, Buddha dan Konghucu, yang menegaskan bahwa dukungan terhadap Palestina bukanlah agenda eksklusif satu kelompok, tetapi panggilan kemanusiaan yang menyatukan semua elemen bangsa.[]

Indonesia Harus Memimpin Dunia Akhiri Genosida Gaza

0

PRESIDEN Prabowo Subianto melakukan kunjungan ke lima negara kawasan Timur Tengah selama sepekan ke depan untuk berkonsultasi dengan para pemimpin negara Timur Tengah terkait konflik di Gaza dan berencana melakukan evakuasi 1.000 pasien asal Gaza. Kelima negara yang dikunjungi Prabowo, antara lain Uni Emirat Arab (UEA), Turkiye, Mesir, Qatar, dan Yordania.

Langkah ini perlu kita apresiasi karena menunjukkan bagaimana Indonesia terus memberikan perhatian terhadap genosida bangsa Palestina, tetapi langkah itu tetap tidak cukup menghentikan kekejaman “Israel”.

Jika tujuannya untuk evakuasi medis, perlu dicatat Mesir, Yordania, dan negara-negara Arab lainnya masih tidak kekurangan dokter dan peralatan medis untuk menangani pasien-pasien dari Gaza.

Ini saya dengar saat mengunjungi Kairo beberapa waktu lalu. Pihak Otoritas Mesir ternyata masih mampu menampung pasien-pasien dari Gaza. Mereka tidak terlalu memerlukan bantuan dari tenaga medis negara lain untuk merawat pasien-pasien Gaza. Sebab, jumlah ketersediaan dokter dan rumah sakit masih mencukupi.

Jika tujuannya medis, seharusnya pemerintah lebih banyak berperan memudahkan para dokter dari Indonesia untuk dapat memasuki Gaza. Amat sayang, jika kunjungan Prabowo ini hanya digunakan untuk melakukan evakuasi pasien Gaza. Bagi seorang pemimpin negara, Prabowo seharusnya beyond diplomasi yang konvensional.

Karena kita tidak berpikir biasa dalam situasi genosida sekarang, pemerintah perlu melakukan diplomasi out of the box.

Seperti menghentikan hubungan ekonomi dan diplomatik dengan Tel Aviv. Jika itu dilakukan, pasti akan berdampak terhadap “Israel” dan menjadi tekanan yang nyata.

Arab Saudi pernah menorehkan kebijakan luar negeri yang sangat heroik dengan menghantam ekonomi AS melalui embargo minyak oleh Raja Faisal bin Abdulaziz al-Saud pada tahun 1973.

Langkah embargo minyak itu diambil sebagai respons atas dukungan Washington terhadap “Israel” selama Perang Yom Kippur atau Perang Oktober.

Jadi, Prabowo juga dapat membisiki MBS agar keinginan Trump yang mengincar investasi 1 triliun dolar AS dari Arab Saudi, bisa dijadikan bargaining kepada AS untuk menghentikan genosida Gaza dan stop memberikan bantuan militer kepada Netanyahu.

Kalau itu terjadi, nasib Netanyahu bisa 11-12 sama dengan Assad. Saat Putin berhenti membantu Assad, maka rezim jagal tersebut seketika kolaps.

Artinya: selama hasil dari kunjungan Prabowo tidak disertai dengan langkah tegas terhadap “Israel”, maka tur Timur Tengah Prabowo tidak akan efektif. Kita hanya akan terjebak dengan lingkaran labirin genosida yang tak akan usai. Bahkan hingga 100.000 orang pun kita evakuasi dari Gaza.

Prabowo juga bisa menggalang dukungan dalam tur Timur Tengah kali ini untuk memberikan garis merah kepada penjajah. Prabowo harus berani berbicara adanya deadline yang diberikan kepada “Israel” untuk menghentikan genosida Gaza.

Jika ini tidak dipatuhi, maka jangan salahkan negara Muslim untuk mengambil pilihan intervensi militer dengan mengajukan Responsibility to Protect sesuai Piagam PBB demi melindungi masyarakat Gaza dari genosida.

Sebab pendekatan non-militer selama ini terbukti gagal melindungi bangsa Palestina dan menghentikan genosida. Total sudah hampir 51 ribu warga Gaza yang tewas akibat genosida penjajah.

Bahkan kajian yang dipublikasikan jurnal medis Inggris, The Lancet, pada Juli 2024 mengindikasikan jumlah kematian di Gaza jauh lebih rendah dari angka sebenarnya, yakni melampaui 186 ribu jiwa.

Sejatinya kekuatan negara-negara Arab sudah ditakar oleh Netanyahu. Oleh karena itu, selain melakukan diplomasi di Timteng, Prabowo juga harus melakukan terobosan diplomasi dengan menggalang advokasi internasional ke negara-negara non-OKI yang selama ini berani menantang “Israel”, seperti Afrika Selatan, Skotlandia, Irlandia, Bolivia dll.

Negara-negara ini masih lebih bernyali dari negara-negara Arab. Afrika Selatan menyeret “Israel” ke ICJ. Bolivia telah memutuskan hubungan dengan “Israel” di awal-awal genosida. Irlandia bahkan menjadi salah satu negara Eropa yang sangat pro-Palestina.

Ini yang dilakukan sembilan negara yang tergabung dalam The Hague Group (Afrika Selatan, Belize, Namibia, Kolombia, Bolivia, Chili, Senegal, Honduras, dan Malaysia).

Ada target-target terukur yang mereka angkat, yakni menyepakati agar keputusan ICC dan ICJ lebih konkret diwujudkan dan memberikan sanksi boikot secara ekonomi dan diplomatik terhadap “Israel” secara kolektif.

Terbukti surat perintah yang dikeluarkan ICC berhasil mengisolir Netanyahu. Ia hanya mampu mengunjungi negara kecil di Eropa, yakni Hungaria yang memang menjadi sekutu “Israel”.

Tidak hanya itu, Netanyahu terpaksa menempuh rute 400 km lebih jauh saat mengunjungi Washington agar terhindar dari pendaratan darurat di negara anggota ICC.

Walhasil, ini masih jauh lebih baik dari sekadar kecaman dan kutukan. Selama diplomasi kita hanya diplomasi resolusi, kutukan, selama itu pula penjajah tidak pernah takut.

Jika dulu Soekarno berani menggalang gerakan nonblok dan Asia-Afrika untuk melawan kolonialisme dan membebaskan mereka dari penjajahan, hal sama seharusnya bisa dilakukan Indonesia.

“Kita menjalankan politik bebas itu tidak sekadar secara cuci tangan, tidak sekadar secara defensif, tidak sekadar secara apologetis. Kita aktif, kita berprinsip, kita berpendirian!” kata Bung Karno dalam pidatonya pada 17 Agustus 1960.

Harus dicatat, Netanyahu sekarang benar-benar dalam posisi lemah di tingkat domestik. Tiap pekan kita melihat bagaimana pemukim “Israel” demo berkali-kali mendesak Netanyahu gencatan senjata dengan Hamas demi pembebasan sandera. Mereka menilai perang ini hanya akal bulus Netanyahu agar tetap berkuasa dan tak dipenjara dalam kasus skandal korupsi.

Bahkan fenomena terbaru, hampir seribu pilot, tentara, dan perwira mengajukan petisi mogok perang karena tidak adanya kejelasan dalam tujuan perang dan nyatanya banyak tantara yang tewas dalam perang Gaza, bahkan bunuh diri.

Militer “Israel” pun panik dan balik mengancam mereka yang mogok perang di Gaza. Kita saat ini sudah melihat bagaimana internal militer penjajah sudah saling kepruk. Mahkamah Agung “Israel” pun membatalkan keputusan Netanyahu yang memecat Kepala Shin Bet yang kritis dengan kebijakan perang Netanyahu. Tuntutan terhadap Netanyahu pun terus menguat.

Tekanan domestik ini yang membuat Netanyahu terbang bertemu Trump, sebagai tempat satu-satunya dia bersandar sekarang di tengah para pemimpin Eropa yang telah meninggalkannya.

Sebagai orang Muslim dan masih suasana Syawal, saya ber-husnuzan ini semua sudah dipikirkan Prabowo. (*)

*) Pizaro Gozali Idrus, penulis adalah Dewan Pakar Yayasan Khidmat Indonesia untuk Tanah Amanah (KITA), Direktur Eksekutif Baitul Maqdis Institute, dan kandidat bidang HI di Center for Policy Research USM Malaysia. Naskah ini telah terbit di laman Sahabat Al Aqsha.

Merawat Nilai dan Meneguhkan Kader, Refleksi Jelang Munas VI Hidayatullah

0

SEKITAR enam bulan ke depan, Hidayatullah akan menggelar helatan ajeg, setengah dekade, yakni Musyawarah Nasional (Munas). Sekalipun itu adalah hajatan rutin, Kampus Ummulqura Hidayatullah Gunung Tembak merespon dengan lebih serius.

Indikasinya jelas, dalam rangkaian Silaturrahim Syawal (Silatwal) sesi III talkshow yang berlangsung hari ini, Ahad, 14 Syawal 1446 (13/4/25) tema yang diangkat adalah “Sukseskan Munas Hidayatullah 2025” dengan dua narasumber, yakni Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. Dr. H. Nashirul Haq Ust. Dr. H. Nashirul Haq, dan Ketua Yayasan Kampus Ummulqura Hidayatullah Balikpapan Ust. H. Hamzah Akbar.

Event ini akan menjadi Munas VI Hidayatullah sejak Munas I pada tahun 2000 di Gunung Tembak. Lalu hal apa yang paling esensial dari helatan Munas Oktober 2025 mendatang?

Menurut Ust. Hamzah Akbar, hal paling esensial adalah kader. Kader yang memahami nilai dan merawat idealisme atas dasar nilai itu, terutama untuk melangkah ke depan. Ia tak menampik bahwa pendekatan modern sangat mendesak untuk dilakukan. Namun idealisme adalah pemandu yang tak boleh goyah apalagi punah.

Sementara itu, Ust. Dr. Nashirul Haq menekankan pada kader juga, tapi pada kualitasnya. Kualitas kader, kata Ketum DPP Hidayatullah itu ada pada integritas dan kapabilitas.

Memerhatikan dua argumen kunci dua narasumber itu, kita dapat menangkap dengan jelas bahwa masa depan Hidayatullah ada pada kader-kadernya. Seperti apa kader yang diperlukan ke depan?

Kaderisasi itu Pasti

Dalam konteks pengembangan organisasi, kaderisasi bukan sekadar proses regenerasi tetapi juga investasi jangka panjang dalam kesinambungan nilai dan idealisme.

Paparan Ust. Hamzah Akbar menghendaki setiap individu dalam lembaga ini memahami pentingnya kader yang solid. Setiap kader harus memiliki pemahaman yang mendalam terhadap nilai dasar yang menjadi landasan perjuangan organisasi.

Nilai tersebut bukan sekadar teori, tetapi harus diinternalisasi dan dijaga agar tetap relevan dalam menghadapi perubahan zaman. Meskipun pendekatan modern diperlukan untuk adaptasi, idealisme tetap berperan sebagai kompas yang membimbing kader dalam setiap keputusan dan langkah strategis.

Kita tidak bisa berprasangka apalagi berpikir bahwa perjuangan ke depan akan baik-baik saja. Sekelas daulah Islamiyah saja bisa runtuh eksistensinya. Sejarah mengajari kita akan fakta itu. Dalam kata yang lain, tantangan terbesar itu memang merawat idealisme.

Di sisi lain, Ust. Dr. Nashirul Haq menyoroti aspek kualitas kader sebagai faktor utama dalam keberlanjutan organisasi.

Integritas menjadi elemen fundamental yang memastikan setiap kader tetap berpegang pada prinsip moral dan etika dalam menjalankan tugasnya. Sementara itu, kapabilitas meliputi keterampilan, pengetahuan, dan kapasitas kepemimpinan yang memungkinkan kader untuk berkontribusi secara efektif.

Perpaduan antara integritas dan kapabilitas menciptakan kader yang tidak hanya berkomitmen terhadap visi organisasi tetapi juga mampu mengimplementasikan strategi yang adaptif dan inovatif.

Apalagi kalau berkaca pada kebutuhan lembaga ke depan yang menghendaki hadirnya anggota dalam jumlah yang besar. Kepribadian kader harus benar-benar kokoh, sehingga mampu memancarkan daya tarik ideologis bagi sebanyak-banyak orang.

Dari pemikiran kedua narasumber tersebut, jelas bahwa masa depan Hidayatullah sangat bergantung pada kader yang memiliki keseimbangan antara idealisme, integritas, dan kapabilitas.

Kader yang diperlukan ke depan adalah mereka yang tidak hanya memahami nilai dasar tetapi juga memiliki kompetensi untuk menghadapi tantangan zaman dengan solusi yang kontekstual dan strategis. Dengan kombinasi antara pembinaan nilai dan penguatan kapasitas, kader dapat menjadi motor perubahan yang membawa organisasi menuju pencapaian visi jangka panjangnya.

Karakter Dasar Kader

Kemudian hal yang tak kalah penting, ketika nilai, idealisme, integritas dan kapabilitas ada dalam kader, hal yang penting selanjutnya adalah memiliki karakter dasar. Yakni selalu berupaya menemukan solusi. Begitu Ust. Dr. Nashirul Haq memberi penekanan.

Kader yang bermental pencari solusi adalah mereka yang tidak hanya melihat tantangan sebagai hambatan, tetapi sebagai peluang untuk bertumbuh dan berkontribusi. Dalam setiap ujian, selalu ada celah untuk inovasi dan perubahan, tetapi hanya mereka yang memiliki tekad kuat untuk mencari jalan keluar yang mampu menemukan arah yang benar.

Ketika mental ini tertanam, kader tidak akan terjebak dalam keluhan atau pasrah terhadap keadaan, melainkan selalu bergerak, berpikir, dan bertindak untuk menciptakan solusi yang nyata. Mereka menjadi motor penggerak organisasi yang memastikan bahwa setiap persoalan tidak berakhir sebagai dilema, tetapi sebagai pemantik kemajuan.

Lebih dari sekadar kemampuan teknis atau kecerdasan akademik, mental pencari solusi adalah wujud dari ketangguhan dan kepemimpinan sejati.
Dunia terus berubah dan masalah akan selalu ada, tetapi kader yang bermental kuat tidak membiarkan dirinya terhanyut oleh arus ketidakpastian.

Sebaliknya, mereka menjadikan setiap tantangan sebagai kesempatan untuk mengasah diri dan memperkuat dampak yang dapat mereka berikan. Dengan sikap ini, kader tidak hanya menjadi bagian dari perjalanan organisasi, tetapi juga pembentuk masa depan yang lebih baik—bagi komunitas, bangsa, dan cita-cita yang mereka perjuangkan.*

*) Imam Nawawi, penulis Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah 2020-2023, Direktur Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect)

Membangun Kekokohan Nilai Ke-Hidayatullah-an Menuju Munas 2025

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak hari ini menjadi tempat talkshow Silaturrahim Syawal yang mengangkat tema “Sukseskan Munas Hidayatullah 2025”. Acara ini menghadirkan Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. Dr. H. Nashirul Haq Ust. Dr. H. Nashirul Haq, dan Ketua Yayasan Kampus Ummulqura Hidayatullah Balikpapan Ust. H. Hamzah Akbar, sebagai narasumber, yang membahas strategi menjaga dan menguatkan nilai ke-Hidayatullah-an untuk menjawab tantangan zaman.

Dalam talkshow ini, Ustadz Hamzah menyoroti bahwa secara historis, Hidayatullah telah memiliki kekhasan dalam pendekatan kepemimpinan dan gerakan sosial.

Selama 27 tahun terakhir, pendekatan kultural berbasis nilai sederhana seperti mendengar kemudian taat menjadi fondasi yang efektif untuk memperluas pengaruh gerakan ini.

Namun, ia juga menggarisbawahi perbedaan yang dirasakan antara era awal Hidayatullah sebagai gerakan sosial dengan masa kini sebagai organisasi masyarakat (ormas). Dalam perkembangan ini, Ummul Qura disebut sebagai penopang kultural yang signifikan, terutama dalam menjaga karakter para kader.

Salah satu kebijakan strategis, seperti penugasan 70 kader dan keluarga ke berbagai wilayah, dari Aceh hingga Merauke pada tahun 2020, tetap menjadi perhatian. Langkah ini dianggap sebagai upaya nyata dalam memperkuat kehadiran dan pengaruh Hidayatullah di seluruh nusantara.

Menurut Ustadz Hamzah, perpaduan antara pendekatan kultural dan profesionalisme sangat diperlukan untuk mencapai sinergi yang kuat.

Dengan demikian, kepemimpinan dapat tetap solid dan mampu mengimbangi tantangan kompetensi serta tuntutan metode kerja modern.

“Tidak perlu ada dikotomi antara pendekatan kultural dan profesionalisme. Keduanya saling melengkapi dan harus berjalan seiring,” tegasnya.

Talkshow ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya menjaga keseimbangan antara nilai-nilai tradisional dan pendekatan modern dalam membangun gerakan Hidayatullah yang lebih kokoh di masa depan.*/

Rejuvenasi Kader untuk Masa Depan, Mengokohkan Integritas dan Kapabilitas

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Dalam suasana hangat Syawalan, Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak Balikpapan kembali menjadi tuan rumah pertemuan inspiratif yang menggugah semangat perubahan. Talkshow Syawalan yang digelar pada Ahad, 14 Syawal 1446 (13/4/25) ini menghadirkan yakni Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. Dr. H. Nashirul Haq Ust. Dr. H. Nashirul Haq, dan Ketua Yayasan Kampus Ummulqura Hidayatullah Balikpapan Ust. H. Hamzah Akbar, dengan tema yang relevan bagi perkembangan organisasi dan bangsa: Sukseskan Munas Hidayatullah 2025.

Rejuvenasi—lebih dari sekadar peremajaan—adalah konsep perubahan yang telah dirancang sejak lima hingga sepuluh tahun lalu. Namun, dalam era disrupsi yang semakin kompleks, kebutuhan akan kader muda yang siap secara kualitas tak pernah berhenti. Kualitas kader yang sesungguhnya bukan hanya dinilai dari kemampuan, tetapi juga dari integritas yang kokoh.

“Menjadi kader bukan soal menikmati hal manis saja, tetapi juga kesiapan menghadapi tantangan pahit,” tegas Ust. Nashirul Haq.

Dalam kondisi dunia yang tak lagi mudah diprediksi, kemampuan beradaptasi dengan perubahan adalah kunci utama.

Dalam talkshow ini, peserta diingatkan kembali tentang prinsip dasar kader: tidak ada istilah masalah—yang ada hanyalah solusi. Ketika dihadapkan pada tantangan, kader dituntut untuk menawarkan solusi yang realistis dan relevan, bukan sekadar menyusun alasan atau mengeluh.

Jika berkaca pada sejarah, lahirnya Hidayatullah dari tempat pembakaran batu bata adalah bukti nyata bahwa tanpa pola pikir solutif, semangat perjuangan bisa saja padam sejak awal.

“Oleh karena itu Gunung Tembak menjadi simbol sibghah—identitas kuat yang terus membentuk kader dalam menghadapi perubahan besar, baik di tingkat organisasi,” katanya.

Ketika ekonomi global semakin sulit diprediksi, bahkan Sri Mulyani pun mengakui tantangan yang dihadapi. Kader pun harus memahami dan siap. Rejuvenasi dan perubahan bagian yang harus dipersiapkan.

“Namun, begitulah sejarah telah mengajarkan bahwa perubahan adalah keniscayaan, maka kader yang dipersiapkan dengan baik akan selalu menemukan jalan untuk melangkah lebih jauh,” ungkapnya.*/

Indonesia Tegaskan Dukungan Penuh untuk Palestina melalui Pernyataan Menlu

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Sugiono menegaskan kembali komitmen Indonesia dalam mendukung perjuangan rakyat Palestina. Pernyataan ini disampaikan melalui situs resmi Kementerian Luar Negeri, menyoroti pentingnya solidaritas dan dukungan internasional bagi Palestina, Kamis, 11 Syawal 1446 (10/4/2025).

Menlu melalui pernyataannya mengatakan, Presiden ingin menegaskan kembali komitmen Indonesia untuk membantu perjuangan Palestina. Solidaritas rakyat dan Pemerintah Indonesia ditunjukkan melalui berbagai bantuan dalam bentuk peningkatan kapasitas, pembangunan infrastuktur, dan tentunya bantuan kemanusiaan.

“Melalui pernyataannya, Presiden ingin menegaskan kembali komitmen Indonesia untuk membantu perjuangan Palestina. Solidaritas rakyat dan Pemerintah Indonesia ditunjukkan melalui berbagai bantuan dalam bentuk peningkatan kapasitas, pembangunan infrastuktur, dan tentunya bantuan kemanusiaan,” katanya seperti dikutip dari laman Menlu.

Masih dalam pernyataannya, Menlu menyebut Indonesia juga senantiasa konsisten mendorong penyelesaian konflik Palestina-Israel dan mendorong penghentian segala bentuk kekerasan.

“Indonesia siap akan memainkan peran yang lebih luas apabila diminta oleh semua pihak yang terkait,” katanya.

Lebih lanjut Menlu menyatakan apabila semua pihak menghendaki dan menyetujui, Indonesia juga siap menerima korban perang, terutama warga sipil, untuk melakukan pengobatan dan perawatan di Indonesia. Selain korban luka, Indonesia siap menerima anak yatim piatu korban perang yang memerlukan perawatan karena trauma yang mereka alami.

Sebagaimana diketahui, beberapa negara (misalnya Mesir, Turki, Qatar dan UAE) telah menerima Warga Palestina yang telah menjadi korban Perang Gaza. Bahkan Indonesia telah mengirimkan Tim Kesehatan TNI ke Mesir dan Gaza untuk melaksanakan misi kemanusiaan tersebut.

Sesuai arahan Presiden, terang Menlu, keberadaan mereka di Indonesia bersifat sementara dan sama sekali tidak dimaksudkan untuk “memindahkan” Warga Palestina tersebut dari Tanah Airnya.

“Saya ingin menegaskan sekali lagi bahwa Indonesia menolak setiap upaya yang akan merekolasi atau memindahkan Warga Palestina dari Tanah Airnya. Setiap upaya yang mengubah “demografi” Gaza merupakan pelanggaran hukum internasional,” tegas Menlu.

Sehubungan dengan hal itu, Indonesia sedang melakukan konsultasi dengan berbagai negara, terutama dengan Pemerintah Palestina. Indonesia juga perlu memastikan bahwa semua langkah tersebut sepenuhnya dilakukan untuk kepentingan rakyat Palestina dan mendapat dukungan negara – negara di Kawasan.

Di tingkat nasional, Kemlu juga akan berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait guna menindaklanjuti arahan Presiden tersebut, khususnya yang berkaitan dengan aspek teknis pelaksanaannya sejak keberangkatan dan kepulangan Warga Palestina tersebut.

Menlu menyebut waktu pelaksanaan rencana tersebut akan ditetapkan apabila semua konsultasi dengan berbagai negara dan persiapan teknis dapat diselesaikan. Saat ini, Pemerintah Indonesia sedang melanjutkan konsultasi dengan berbagai negara dan persiapan di dalam negeri sebelum pelaksanaan rencana tersebut.[]

[KHUTBAH JUM’AT] Waspadai Faktor Penggagal Seruan Jihad Palestina: Diri Kita Sendiri!

0

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

أما بعد : عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Bapak-bapak, Saudara-saudara, Anak-anakku yang kucintai karena Allah, jama’ah Sholat Jum’at yang mulia,

Pekan lalu, tepat setelah satu setengah tahun Para Pejuang Kemerdekaan Palestina mengobarkan Jihad Taufan Al-Aqsha di Gaza (sejak 7 Oktober 2023), Ittihad Al-‘Alamiy li-Ulama Al-Muslimin (Ikatan Ulama Muslimin Sedunia) menyiarkan fatwa “Wajib Bagi Kaum Muslimin Sedunia Berjihad Untuk Palestina dan Masjidil Aqsha”. Fatwa itu disampaikan dan dijelaskan oleh dua tokoh Ulama dunia di zaman kita ini: Syaikh Ali Al-Qaradaghi dan Syaikh Muhammad Hassan Daduw.

Bagi kita umat Islam, fatwa Jihad memperjuangkan kemerdekaan Palestina dan Masjidil Aqsha sudah berkali-kali disampaikan oleh para Ulama sejak masjid suci ketiga umat Islam dijajah Inggris 11 Desember 1917.

Ya betul, sudah 108 tahun dijajah, dan kita belum kunjung berhasil membebaskannya. Begitulah perjuangan atau Jihad. Membutuhkan pengorbanan waktu, jiwa, raga, harta yang banyak. Tapi yakinlah, pertolongan dan kemenangan dari Allah itu dekat.

نصرمن الله وفتح قريب وبشرالمؤمنين

Hanya orang-orang beriman yang meyakininya sebagai kabar gembira, meski pengorbanannya berat.

Fatwa atau seruan Jihad untuk membebaskan Masjidil Aqsha, Palestina dan Negri Syam, bukan baru dimulai 108 tahun yang lalu. Selama ribuan tahun sudah berkali-kali juga difatwakan.

Izinkan Khotib menyegarkan ulang ingatan kita pada dua seruan Jihad Pembebasan Masjidil Aqsha yang Allah contohkan kepada kita. Semoga kita bisa mengambil pelajaran berharga darinya.

Pertama, seruan Jihad Nabi Musa ‘Alaihissaam kepada Muslimin Bani Israil.

Seruan Jihad ini Allah ilhamkan kepada Nabi Musa dan Allah abadikan agar kita memetik pelajaran, dalam rangkaian surah Al-Māidah ayat 20 sampai 26.

يَٰقَوْمِ ٱدْخُلُوا۟ ٱلْأَرْضَ ٱلْمُقَدَّسَةَ ٱلَّتِى كَتَبَ ٱللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَرْتَدُّوا۟ عَلَىٰٓ أَدْبَارِكُمْ فَتَنقَلِبُوا۟ خَٰسِرِينَ

“Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Māidah: 20)

Muslimin Bani Israil dijamin pasti menang, tapi karena keras hati sekaligus pengecut, mereka membangkang fatwa Jihad itu. Malah mereka berkata seperti ini kepada Nabi Musa:

قَالُوا۟ يَٰمُوسَىٰٓ إِنَّا لَن نَّدْخُلَهَآ أَبَدًا مَّا دَامُوا۟ فِيهَا ۖ فَٱذْهَبْ أَنتَ وَرَبُّكَ فَقَٰتِلَآ إِنَّا هَٰهُنَا قَٰعِدُونَ

“Mereka berkata: “Hai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka (para penjajah) ada didalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk-duduk menanti disini saja.” (QS. Al-Māidah: 24)

Akibat pembangkangan terhadap fatwa Jihad itu, Allah menghukum Muslimin Bani Israil.

قَالَ فَإِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ عَلَيْهِمْ ۛ أَرْبَعِينَ سَنَةً ۛ يَتِيهُونَ فِى ٱلْأَرْضِ ۚ فَلَا تَأْسَ عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْفَٰسِقِينَ

“Allah berfirman: “(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasiq itu.” (QS. Al-Maa’idah: 26)

Karena membangkangi fatwa Jihad Nabi Musa, kaum Muslimin Bani Israil dikategorikan oleh Allah sebagai ‘Fāsiqiin’ (orang-orang Fasiq).

Menurut Imam Al-Ghazali dalam karyanya, Mukasyafatul Qulub, Fasiq adalah orang yang berbuat durhaka, melanggar janji, serta keluar dari jalan hidayah, rahmat, dan ampunan-Nya. Imam Al-Ghazali juga membagi jenis orang fāsiq menjadi dua, yaitu fāsiq kāfir dan fāsiq fājir.

Fāsiq kāfir adalah orang yang melanggar ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, karena memang mereka belum beriman. Sedangkan fāsiq fājir adalah orang yang sudah beriman kepad Allah dan Rasul-Nya, namun masih sering melakukan kemaksiatan.

Contoh kedua, seruan Jihad ialah yang pernah difatwakan oleh Imam Abu Hamid Al-Ghazali pada tahun 1097 Masehi.

Waktu itu, sebagai salah seorang ulama besar di Masjid Umawi atau Umayyah di kota Damaskus, Suriah, Imam Al-Ghazali telah menganalisa bawah berbagai kerusuhan dan pembunuhan besar yang dilakukan pasukan Salib dari Eropa bertujuan akhir merebut Masjidil Aqsha dan Kota Baitul Maqdis di Palestina.

Dua tahun sebelumnya, tepatnya 27 November 1095, dari kota Clermont, Prancis, Pemimpin Gereja Katolik sedunia Paus Urbanus II, memfatwakan ‘Jihad’ bagi seluruh umat Kristiani untuk bergabung dan berperang melawan kaum Muslimin sampai merebut Kota Suci Jerusalem atau Baitul Maqdis di Palestina. Kota yang mereka yakini tempat Tuhan mereka Yesus disalib sampai mati. Sejak Fatwa Paus Urbanus II itu disiarkan, ribuan warga Kristiani dari berbagai negeri Eropa bergerak membunuhi dan membumihanguskan kota dan desa Muslimin di Anatolia (Turkiye sekarang).

Situasi inilah yang membuat Imam Al-Ghazali memfatwakan Jihad. Fatwa itu diabaikan oleh kaum Muslimin, yang merasa tidak mungkin gerombolan Eropa itu berhasil merebut Baitul Maqdis dan Masjidil Aqsha, sedangkan Baghdad sebagai ibukota Khilafah Bani Abbasiyah sedang kaya-kayanya. Akibat seruan Jihad Imam Al-Ghazali diabaikan, dua tahun kemudian Pasukan Salib —dengan izin Allah— berhasil merebut kota Baitul Maqdis atau Jerusalem dan membantai umat Islam di Masjidil Aqsha.

Penulis terkenal Karen Armstrong mengutip catatan kuno yang ditulis para anggota Pasukan Salib sendiri, bahwa selama seminggu mereka menjadikan halaman Masjidil Aqsha (yang mereka sebut Solomon’s Temple) ladang pembantaian Muslimin sehingga darah menggenang di mana-mana.

Dua pelajaran di atas, seruan Nabi Musa dan fatwa Imam Al-Ghazali memberi pelajaran: yang menggagalkan seruan Jihad Pembebasan Masjidil Aqsha dan Palestina adalah diri kita sendiri.

Bapak-bapak, Saudara-saudara, Anak-anakku yang kucintai karena Allah,

Kini kita hidup dengan nasib yang sama dengan Nabi Musa, Nabi Muhammad ﷺ, yaitu: kita menyaksikan Masjidil Aqsha, Baitul Maqdis dan Palestina dalam keadaan dijajah.

Pertama dijajah Inggris dari tahun 1917 sampai 1948. Lalu Inggris menyerahkan kepada Zionis Yahudi meneruskan penjajahan dengan nama Negara palsu Israel yang diproklamasikan 14 Mei 1948 sampai hari ini. Dunia menjadi saksi kekejaman mereka atas saudara-saudara kita selama 77 tahun ini.

Para Ulama dari Ittihad Al-‘Alami li-Ulama Al-Muslimin telah melaksanakan tugas mengikuti jejak Nabi Musa, Rasulullah Muhammad ﷺ, Imam Al-Ghazali dan ulama-ulama zaman sebelumnya, yaitu mengeluarkan fatwa menyerukan Jihad untuk membebaskan Masjidil Aqsha dan menolong perjuangan Palestina.

Apa yang harus kita lakukan:

  1. Yang paling lemah, mendokan terus menerus Para Pejuang, Para Mujahidin dan keluarga-keluarga kita di garis depan Baitul Maqdis.
  2. Mempelajari ilmu dan menyebarkan informasi tentang Jihad Pembebasan Masjidil Aqsha dan Baitul Maqdis. Minta teks khutbah Jumat ini kepada Khotib dan Pengurus Masjid. Sebarluaskan. Tempel di papan pengumuman masjid, sekolah, kampus, kantor dan tempat umum. Siarkan secara digital.
  3. Berjihadlah dengan harta kita. Berapapun jumlahnya, biarkan Allah yang melipatgandakan kekuatannya sampai Allah tetapkan kemenangan. Kata Rasulullah ﷺ, “Barangsiapa yang (dengan hartanya) menyiapkan pasukan Jihad, meski ia tidak ikut berjihad, maka ia tetap dianggap ikut berjihad. Barangsiapa mengurus menyantuni keluarga Para Mujahidin, meski ia tidak ikut berjihad, maka ia dianggap berjihad.”
  4. Mempersiapkan diri, harta, badan, ketrampilan, jalan, kalau sewaktu-waktu Allah tetapkan kita sampai ke medan Jihad berjuang memerdekakan Masjidil Aqsha da Baitul Maqdis sebagaimana kakek-kakek dan nenek-nenek kita berjihad memerdekaan Indonesia yang kita cintai ini.

Semoga Allah tolong kita, jangan sampai kita menjadi orang Fāsiq yang ikut menggagalkan fatwa atau seruan Jihad membebaskan Masjidil Aqsha, Baitul Maqdis dan Palestina. Kata Rasulullah ﷺ, “Kalau kamu beriman, maka berkata-katalah yang baik, atau diamlah!”

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!!!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

*) Dzikrullah W. Pramudya, penulis adalah Ketua Departemen Hubungan Antarbangsa Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah. Untuk mengunduh naskah ini ke format PDF, klik icon “print” pada share button di bawah lalu pilih simpan file PDF.

Hidayatullah Minta Tarik Tawaran Evakuasi Keluar dan Dukung Perjuangan Palestina Seperti Soekarno

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyatakan kesiapan Indonesia untuk mengevakuasi 1.000 warga Gaza ke Tanah Air telah memicu perdebatan publik. Tawaran ini disampaikan dalam konteks krisis kemanusiaan yang masih berlangsung di wilayah Gaza akibat agresi militer Israel yang tak kunjung reda.

Namun, langkah yang dianggap sebagai tindakan kemanusiaan tersebut justru mendapatkan respons kritis dari berbagai pihak, termasuk dari Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. Dr. H. Nashirul Haq.

Dalam pernyataannya, Nashirul menyampaikan kekhawatiran bahwa tawaran evakuasi dari Presiden Prabowo bisa ditafsirkan keliru oleh masyarakat internasional maupun rakyat Palestina sendiri.

“Seakan-akan menolong, tapi tawaran Presiden Prabowo itu bisa disalahartikan menikam perjuangan Palestina dari belakang,” ujarnya, seperti dalam keterangannya diterima media ini, Kamis, 11 Syawal 1446 (10/4/2025).

Menurut Nashirul, warga Gaza selama ini telah menunjukkan keberanian dan keteguhan dalam memperjuangkan kemerdekaan tanah mereka yang telah dijajah selama puluhan tahun oleh rezim Zionis Israel.

Mereka bertahan dalam kondisi yang sangat sulit, tanpa pasokan listrik, air bersih, dan kebutuhan dasar lainnya. Namun, bagi mereka, tanah air bukan sekadar tempat tinggal dan tumpah darah, melainkan simbol harga diri dan kemerdekaan.

“Warga Gaza sudah berkorban luar biasa demi kemerdekaannya. Kejahatan penjajah Zionis Israel yang harus dihentikan dan dihukum, bukan warga Gaza yang harus meninggalkan tanah airnya,” lanjut Nashirul menegaskan.

Tindakan evakuasi, meski dibungkus dalam semangat kemanusiaan, dapat berisiko mengikis semangat perjuangan rakyat Palestina. Bahkan lebih jauh, dapat ditafsirkan sebagai bentuk penyerahan wilayah Gaza secara de facto kepada penjajah Israel.

Nashirul pun mengusulkan agar Presiden Prabowo mempertimbangkan kembali kebijakan tersebut dan mengambil langkah yang lebih tegas dalam mendukung kemerdekaan Palestina.

Ia bahkan menyarankan agar Indonesia meneladani langkah Presiden Soekarno pada tahun 1964 saat mendukung perjuangan rakyat Aljazair melawan penjajahan Prancis.

“Dengan hormat, kami sarankan Bapak Presiden menarik kembali tawarannya yang keliru itu, dan lebih aktif menolong Palestina seperti Presiden Soekarno ketika menolong rakyat Aljazair melawan penjajah Prancis 1964, dengan mengirim senjata sisa Operasi Pembebasan Irian Jaya,” pungkasnya.

Diketahui, Presiden Prabowo Subianto sebelum lawatannya ke lima negara di Timur Tengah, Rabu (9/4/2025), mengatakan akan membahas rencana evakuasi 1.000 warga Gaza, Palestina, ke Indonesia.

Rencananya, mereka yang dievakuasi mayoritas korban luka, anak-anak yatim piatu, serta warga yang terdampak trauma akibat perang. Prabowo menyebut evakuasi akan dilakukan dalam gelombang pertama dan menggunakan pesawat. Mereka bakal tinggal sementara di Indonesia, dan akan dipulangkan ke tempat asal ketika situasi di Gaza membaik.

Selama sepekan, Prabowo akan berkunjung ke Uni Emirat Arab (UEA), Turki, Mesir, Qatar, dan Yordania. Di sana, dia akan berkonsultasi langsung dengan para pemimpin negara terkait rencana evakuasi ini.

Dia menyatakan bahwa tawaran evakuasi tersebut bersifat sukarela dan atas dasar kemanusiaan serta hanya bisa dilakukan kalau semua pihak terkait menyetujui.[]

Seruan Jihad Ulama Dunia dan Posisi Kita dalam Membela Palestina

IST: Ngerinya serangan bom brutal Israel yang membuat tubuh warga Palestina terhempas ke udara. (Foto: tangkapan layar TRT World)

BOMBARDIR penjajah atas Palestina, khususnya Gaza, telah mencapai titik kritis yang mengguncang hati umat manusia. Kekejaman yang dilakukan Israel, dengan dukungan Amerika Serikat dan sekutunya itu, telah memicu seruan keras dari dunia Islam.

Pada 4 April 2025, Syaikh Ali Al-Qaradaghi, Sekretaris Jenderal International Union of Muslim Scholars (IUMS), mengeluarkan fatwa yang menyerukan intervensi militer, ekonomi, dan politik dari seluruh negara Muslim untuk menghentikan genosida dan penghancuran di Palestina. Pernyataan ini, yang dikutip dari Middle East Eye News, menegaskan bahwa diamnya pemerintah Arab dan Islam di tengah penderitaan Gaza adalah dosa besar menurut hukum Islam.

Fatwa tersebut, yang terdiri dari 15 poin, mendapat dukungan penuh dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sudarnoto Abdul Hakim, Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri, pada 8 April 2025, menyatakan bahwa fatwa ini selaras dengan keputusan Ijtima’ Ulama MUI. Ia menekankan kewajiban umat Islam untuk membela Palestina, termasuk dengan merekomendasikan pengiriman pasukan guna melindungi rakyat Gaza dari kebiadaban Israel.

Menurutnya, dunia Islam harus bersatu dalam pendekatan yang terkoordinasi untuk melawan agresor dan mewujudkan kemerdekaan Palestina.

Sudarnoto menambahkan bahwa membiarkan Israel terus melakukan pembantaian massal bertentangan dengan prinsip Islam, khususnya ajaran amar ma’ruf nahi munkar—mendorong kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Ia menyebut Israel sebagai “teroris terbesar abad ini” yang, bersama aliansi pendukungnya, mengancam perdamaian dunia. Jika tidak dihentikan, kehancuran akan meluas, dan umat Islam memiliki tanggung jawab untuk mengakhiri kemungkaran sistemik ini.

Perintah Jihad dalam Islam

Jihad dalam konteks ini bukan sekadar seruan emosional, melainkan panggilan yang berakar pada Al-Qur’an dan hadis. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 41:

انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Berperanglah kalian dengan sendiri-sendiri atau berkelompok-kelompok, dan berjuanglah di jalan Allah dengan harta dan jiwa kalian. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui.”

Ayat ini menegaskan bahwa jihad adalah kewajiban yang mencakup penggunaan harta dan jiwa demi keadilan. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 193, Allah juga memerintahkan:

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ

“Perangilah mereka sehingga tidak ada fitnah dan agama itu hanyalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan jika mereka berhenti (berperang) maka tidak boleh memusuhi kecuali atas orang-orang yang zalim.”

Ayat ini menunjukkan bahwa perjuangan melawan kezaliman harus berlangsung hingga fitnah berakhir, dengan fokus pada pelaku kezaliman.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh Anas bin Malik:

عن أنس رضي الله عنه أن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «جَاهِدُوا المُشْرِكِينَ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَأَلْسِنَتِكُمْ». أخرجه أبو داود والنسائي

“Perangilah kaum musyrik dengan harta, jiwa, dan lisan kalian.” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i).

Sabda ini memperluas makna jihad, tidak hanya terbatas pada peperangan fisik, tetapi juga perjuangan melalui ucapan dan harta.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di membagi jihad menjadi dua jenis. Pertama, jihad untuk memperbaiki aqidah, akhlak, dan perilaku umat Islam, yang menjadi dasar utama. Kedua, jihad melawan musuh agama—seperti kaum kafir, munafik, atau pelaku kesesatan—yang menyerang Islam dan umatnya. Genosida di Gaza oleh Israel jelas termasuk dalam kategori kedua, menjadikannya panggilan jihad yang mendesak.

Posisi Umat Islam

Di tengah situasi ini, umat Islam dunia termasuk di dalamnya organisasi Islam seperti Hidayatullah memiliki peran strategis. Dalam Pedoman Dasar Organisasi Bab II Pasal 2 ayat 1, Hidayatullah disebut sebagai Al Haraqah Al Jihadiyah Al Islamiyah—gerakan perjuangan Islam yang merupakan bagian dari umat Muslim global. Posisi ini mewajibkan Hidayatullah menjawab seruan IUMS, tentunya dengan berkoordinasi bersama pemerintah dan organisasi lain untuk membela Palestina.

Ada beberapa langkah praktis yang dapat diambil. Pertama, menggalang donasi untuk membantu korban di Gaza. Kedua, menyebarkan informasi terkini dari sumber kredibel tentang kondisi di sana, baik melalui berita maupun foto.

Ketiga, mengorganisasi demonstrasi untuk menekan sekutu Israel, seperti Amerika Serikat. Keempat, mengajak umat untuk berdoa bagi perjuangan rakyat Palestina.

Kelima, memboikot produk-produk Israel sebagai bentuk tekanan ekonomi. Agar efektif, langkah-langkah ini perlu dikoordinasikan secara sistematis oleh Pengurus Pusat Hidayatullah, diikuti dengan pernyataan resmi organisasi.

Menyatukan Langkah

Seruan jihad ini bukan tanpa tantangan. Konsolidasi dunia Islam sering terhambat oleh perbedaan politik dan kepentingan nasional. Namun, fatwa IUMS dan dukungan MUI menjadi titik awal untuk menyatukan langkah. Pendekatan yang komprehensif—militer, ekonomi, dan politik—harus dijalankan secara serentak agar Israel dan sekutunya dapat ditundukkan.

Lebih dari itu, perjuangan ini adalah ujian bagi umat Islam untuk menegakkan keadilan. Membiarkan genosida berlangsung sama dengan mengabaikan perintah Allah dan Rasul-Nya. Sebaimana ditegaskan MUI, kehancuran Gaza bukan hanya tragedi lokal, tetapi ancaman global yang menuntut respons kolektif.

Rakyat Palestina, khususnya Gaza, sedang menanti pembelaan nyata kita dan dari semua orang orang merdeka di belahan bumi manapun. Jihad dalam berbagai bentuk—dari doa hingga aksi langsung—adalah cara umat Islam menunjukkan solidaritas.

Semoga seruan ini membuahkan langkah konkret, mengakhiri penderitaan, dan mewujudkan Palestina yang merdeka. Di mana posisi kita? Jawabannya ada pada tindakan yang kita ambil hari ini.[]

*) Nursyamsa Hadis, penulis dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah Depok, Jawa Barat