
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, Lc., membuka kegiatan Training Konselor Keluarga Hidayatullah 2026 yang digelar secara daring melalui Zoom. Sabtu, 13 Juni 2026 M bertepatan dengan 27 Dzulhijjah 1447 H.
Dalam arahannya, KH. Naspi menegaskan bahwa menjadi konselor keluarga bukan hanya soal kemampuan menyelesaikan masalah, tetapi juga tentang menghadirkan ketenangan, penguatan, dan arahan yang berpijak pada nilai-nilai Al-Qur’an.
Menurutnya, Al-Qur’an merupakan panduan utama dalam membangun karakter konselor yang unggul, profetik, dan profesional. Ia menyebut Al-Qur’an sebagai sumber rujukan utama dalam membimbing umat, termasuk dalam persoalan keluarga.
“Panduan menjadi konselor yang profetik dan profesional itu sudah sangat dekat dengan kita, yaitu Al-Qur’an,” ujarnya dalam sambutan pembukaan.
KH. Naspi menjelaskan, seorang konselor tidak harus menjadi pribadi yang sempurna dan bebas dari masalah. Namun, konselor dituntut memiliki kemampuan untuk mengelola diri, menyelesaikan persoalan pribadi, serta menjaga wibawa di hadapan umat.
Ia mengingatkan agar para konselor tidak mudah menumpahkan persoalan pribadi ke ruang publik, terutama media sosial. Menurutnya, hal tersebut dapat menurunkan kepercayaan masyarakat kepada sosok yang diharapkan mampu menjadi tempat curhat dan meminta nasihat.
“Menjadi konselor itu harus percaya diri. Konselor tidak harus sempurna, tetapi harus mampu melakukan recovery dengan cepat,” pesannya.

Selain kepercayaan diri, KH. Naspi juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas keilmuan. Para peserta diminta terus membaca, mempelajari literatur konseling, jurnal, serta memperluas wawasan psikologi dan keluarga agar layanan konseling semakin berkualitas.
Ia juga menegaskan bahwa bagi Hidayatullah, kekuatan spiritual menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tugas konselor. Spiritualitas, menurutnya, menjadi fondasi utama dalam memberikan bimbingan yang menenangkan dan mencerahkan.
“Konselor dengan kekuatan spiritual itu menyatu. Tidak bisa dipisahkan,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, KH. Naspi turut menyoroti pentingnya kemampuan komunikasi bagi seorang konselor. Ia menyebut raut wajah, gestur tubuh, tatapan mata, cara menyimak, hingga pemilihan diksi sangat menentukan keberhasilan proses konseling.
Menurutnya, konselor harus mampu menghadirkan komunikasi yang simpatik, tidak mudah memotong pembicaraan, tidak menghakimi, serta mampu memberikan energi positif kepada orang yang datang berkonsultasi.
Training Konselor Keluarga Hidayatullah 2026 ini diharapkan menjadi sarana penguatan kapasitas para kader dan pengurus dalam mendampingi persoalan keluarga umat secara lebih bijak, ilmiah, spiritual, dan profesional.
Melalui kegiatan ini, Hidayatullah terus mendorong lahirnya konselor keluarga yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki keteladanan, empati, dan kemampuan komunikasi yang baik dalam membina keluarga muslim yang kokoh dan beradab.






