AdvertisementAdvertisement

Program ‘SEA Loves Al Quran’ Kirim Delegasi Safari Dakwah ke Dalam dan Luar Negeri

Content Partner

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Program SEA (South East Asia) Loves Al Quran yang diinisiasi Departemen Hubungan Antarbangsa Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, bersama Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman al-Hakim (STAIL) Surabaya melakukan pelepasan delegasi safari dakwah ke sejumlah daerah di dalam dan luar negeri selama bulan suci Ramadhan 1445 ini.

Sedikitnya ada 40 mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman al-Hakim Surabaya program Karya dan Tahfidz Qur’an Bersanad yang menjalankan tugas safari dakwah ini.

Mereka menjalankan dakwah ke berbagai pelosok negeri, mulai dari pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.

Bahkan, tiga dari mahasiswa STAIL, yaitu Tsabit Amin Fuadi, Umar Syihab dan Mujahid Islam, yang mengambil program al-Qur’an bersanad, mengemban tugas dakwah di luar negeri, tepatnya di Kamboja.

Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan dan Keasramaan STAIL Surabaya, Dr Nur Huda, M.Pd.I, mengatakan tugas mahasiswa di program Safari Dakwah yang dikirim ke berbagai titik ini ini bermacam-macam.

“Mereka bertugas sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Seperti imam shalat, khatib, membantu di pengasuhan, mengajar al-Qur’an, dan sejenisnya,” kata Huda saat pelepasan di Masjid Aqshal Madinah, Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, Kamis, 3 Ramadhan 1445 (14/3/2024).

Huda mengatakan, para mahasiswa telah dibekali pengalaman dan bekal berharga lainnya, sebelum mereka benar-benar terjun secara totalitas mengabdikan diri di tengah-tengah masyarakat.

“Ada kalanya, kajian teori di ruang perkuliahan itu bertolak-belakang dengan realitas di lapangan. Itulah pentingnya mahasiswa terjun langsung di tengah-tengah masyarakat, agar ilmu yang telah dipelajari di bangku kuliah bisa teraplikasikan,” katanya.

Bahkan, bukan hal mustahil, sambung sosok murah senyum ini, bahwa langkah pengiriman dalam rangka tugas dakwah terjun ke masyarakat ini akan mengundang ilmu-ilmu lain berupa pengalaman berharga.

“Pengiriman dalam rangka tugas dakwah akan mengundang ilmu-ilmu lain berupa pengalaman berharga,” terang pria asal Kediri, Jawa Timur ini.

Berkhidmat di Kamboja

Salah satu mahasiswa peserta dalam program South East Asia Loves Al Quran kerjasama antara Departemen Hubungan Antarbangsa DPP Hidayatullah dengan Cambodian Muslim Cooperative (CMC) ini mengakui pengugasan ini cukup menantang baginya.

Kendati demikian, mahasiswa bernama Tsabit Amin Fuadi, ini mengaku siap menjalankan tugas berkhidmat dakwah di kawasan berjuluk Negara Angkor Wat itu.

Dia bersama dua rekannya akan diberangkatkan dari Surabaya ke Kamboja pada tanggal 14 Maret 2024 dan, jika umur panjang, akan kembali ke Tanah Air pada tanggal 6 April 2024.

“Kegiatan saya bersama dua teman saya yakni Umar dan Mujahid Islam yaitu sebagai imam shalat tarawih maupun imam shalat fardhu di kampung-kampung kaum muslimin. Di sana juga kami mengajarkan anak-anak kecil iqro dan juga ibu-ibu untuk belajar al-Qur’an di sana,” katanya.

Selain program menjadi imam dan juga mengajarkan al-Qur’an, sambung Tsabit, mereka juga akan menjalin silaturrahim lebih erat lagi dengan para tokoh-tokoh Islam maupun yang non Islam di sana.

“Tujuannya adalah untuk mendekatkan diri kepada mereka sehingga kemudian dakwah di Kamboja ini semakin mudah dan juga memperluas relasi-relasi dengan kaum muslimin yang ada di sana,” imbuhnya.

Kemudian, Tsabit yang menjadi pemimpin rombongan, mengatakan tahun lalu ia sudah pernah berkhidmat ke negeri yang memiliki populasi muslim minoritas itu. Dalam data keluaran The Royal Islamic Strategic Studies Centre (RISSC) tahun 2023, umat Islam di Kamboja hanya 338,89 ribu jiwa dari 17.707.811 jiwa populasi penduduknya.

“Tahun lalu kami melihat sendiri bagaimana buta huruf al-Qur’an di Kamboja ini tinggi sekali. Mungkin mereka beragama Islam, tetapi begitu disuruh baca al-Qur’an bahkan baca Iqro pun mereka tidak bisa,” ungkap Tsabit.

Tsabit mengatakan, safari dakwah ke Kamboja kian mengeratkan ikatan antar kedua negara dan berharap semoga lebih banyak lagi masyarakat Kamboja yang bisa baca al-Qur’an sehingga mereka paham tentang kitab suci mereka sendiri.

“Kita mengkader mungkin satu, dua, atau tiga santri yang kemudian akan mengajarkan umat Islam lainnya. Dengan demikian al-Qur’an ini betul-betul di bumikan di negara Kamboja,“ pungkas Tsabit, yang juga mahasiswa binaan Roumah Wakaf ini.*/Adib Nursyahid, Khairul Hibri

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Meninggalkan Dakwah Amar Makruf Nahi Munkar Sebabkan Doa Tidak Dikabulkan

DAKWAH amar ma'ruf nahi munkar merupakan salah satu prinsip dasar dalam Islam yang menekankan pentingnya mengajak kepada kebaikan serta...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img