
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, Lc., memberikan sambutan dalam Focus Group Discussion (FGD) Kemediaan yang digelar di Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Senin, 17 Jumadil Akhir 1447 (8/12/2025).
Acara yang diinisiasi oleh Kelompok Media Hidayatullah ini menjadi ruang refleksi strategis tentang masa depan media dakwah di era disrupsi informasi.
Dalam sambutannya, Naspi menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya forum ini, yang ia sebut sebagai momentum penting dalam penguatan ekosistem media Hidayatullah sebagai saluran dakwah penyinar umat. Ia menegaskan bahwa forum pemikiran semacam ini perlu menjadi tradisi intelektual yang terus berlanjut dalam lingkungan Hidayatullah.
“Ini adalah FGD pertama di periode ini, ini kita utamakan karena sangat penting” katanya.
Naspi kemudian menguraikan tantangan yang dihadapi media dakwah hari ini. Menurutnya, perjuangan jurnalistik yang sejak awal menjadi salah satu pilar gerakan Hidayatullah menghadapi medan yang semakin berat. Era digital melahirkan arus informasi yang masif, kompetitif, dan tidak selalu berorientasi pada nilai.
“Kita sangat yakin bahwa jihad jurnalistik menemui titik tantangan yang lebih berat dari era sebelumnya,” katanya.
Tantangan itu tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari kondisi internal umat. Naspi menekankan bahwa komitmen literasi tidak boleh melemah, sebab melemahnya literasi berarti melemahnya kemampuan umat untuk memahami, mengkritisi, dan menyebarkan kebenaran dalam bingkai dakwah.
“Kita juga harus akui, komitmen literasi kita menurun seiring dengan massifnya transformasi digital,” katanya.
Dalam konteks itu, media dakwah dituntut untuk bekerja lebih kreatif dan lebih kuat dalam konten, distribusi, dan edukasi. Kompetisi dengan beragam produk jurnalistik di pasar informasi menjadi perhatian utama.
“Saingan produk jurnalistik banyak, sementara minat baca kader juga harus diperkuat, agar lebih kuat dan tinggi,” katanya.
Ia menekankan bahwa keberlanjutan media Hidayatullah bukan hanya tentang mempertahankan sebuah institusi, tetapi tentang menjaga salah satu warisan terbesar pendiri gerakan, Ustadz Abdullah Said, yang menempatkan dakwah tulisan sebagai sarana membangun peradaban Islam.
“Mudah-mudahan pertemuan ini memberikan solusi yang mencerahkan agar salah satu warisan terbesar Ustadz Abdullah Said ini tetap eksis,” ujarnya.
Di akhir sambutannya, Naspi menegaskan bahwa hasil FGD tidak akan berhenti pada diskusi semata. Ia menyampaikan bahwa gagasan dan rumusan yang lahir dari forum ini akan menjadi bahan strategis dalam pertemuan tingkat nasional berikutnya.
“Hasil dari FGD ini akan jadi amunisi untuk dialog di agenda Rakernas,” katanya.






