
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc., secara resmi menutup forum Silaturrahim Nasional Rabithah Ma’ahid Hidayatullah di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, pada Ahad, 2 Dzulqaidah 1447 (19/4/2026). Naspi menguraikan arah baru organisasi yang berfokus pada konsolidasi jati diri dan transformasi menuju pesantren yang unggul, mandiri, serta berpengaruh.
Dengan penutupan resmi Silaturrahim Nasional ini, seluruh pengelola pesantren di bawah naungan Rabithah Ma’ahid Hidayatullah diharapkan membawa pulang komitmen baru untuk mentransformasi institusi mereka menjadi pusat keunggulan yang mandiri dan memiliki pengaruh luas bagi kemaslahatan umat dan bangsa.
KH Naspi Arsyad menekankan bahwa dinamika Hidayatullah sejak awal berdirinya sangat identik dengan energi kaum muda. Naspi menjelaskan bahwa secara historis, lembaga ini memang ditakdirkan untuk diinisiasi oleh anak muda yang memiliki karakteristik progresif. Mengutip pandangan Ustaz Abdul Latif Utsman, ia menyebutkan bahwa karakteristik anak muda identik dengan dua puluh tindakan berbanding satu pertimbangan, sementara orang tua sebaliknya.
“Min awwali yaumin, Hidayatullah dari hari pertama dirintis memang ditakdirkan diinisiasi oleh anak muda,” ujar Naspi Arsyad, yang menekankan bahwa meskipun usia para pengelola pesantren terus bertambah, semangat muda dalam berinisiatif dan bekerja cerdas tidak boleh kendor atau tereduksi sedikit pun.
Mengkaji eksistensi pesantren dalam konteks nasional, KH Naspi Arsyad memaparkan bahwa lembaga pendidikan Islam ini telah memulai kiprahnya sejak abad ke-15 Masehi. Ia mengakui bahwa kontribusi pesantren mencapai puncaknya secara populer melalui resolusi jihad KH Hasyim Asy’ari pada tahun 1945 dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Saat ini, lanjutnya, apresiasi negara terhadap kontribusi panjang tersebut semakin nyata dengan rencana peresmian Direktorat Jenderal Kepesantrenan di Kementerian Agama. Naspi memandang posisi Direktur Jenderal sebagai jabatan strategis yang berfungsi sebagai panglima dalam konteks operasional di lapangan.
“Hal ini menunjukkan adanya pengakuan resmi terhadap partisipasi pesantren yang telah berlangsung selama berabad-abad. Pembentukan Dirjen khusus ini menjadi momentum bagi Hidayatullah untuk semakin meningkatkan standar pengelolaan institusinya agar selaras dengan pengakuan negara,” katanya.
Keunggulan, Kemandirian, dan Pengaruh
Lebih lanjut, KH Naspi memaparkan bahwa visi strategis periode 2025-2030 yang diusung Rabithah Ma’ahid Hidayatullah menitikberatkan pada tiga pilar utama, yaitu keunggulan, kemandirian, dan pengaruh. Ia menjelaskan bahwa kemandirian didefinisikan secara spesifik sebagai kemandirian finansial organisasi.
Sementara itu, aspek berpengaruh merujuk pada kemampuan organisasi dalam menawarkan visi dan misi Hidayatullah secara superior di berbagai bidang, mulai dari ekonomi, budaya, hingga politik. Naspi menekankan bahwa ketiga pilar ini merupakan satu kesatuan yang setara dan saling mendukung. Aspek keunggulan bahkan dipandang mencakup segala hal atau bersifat komprehensif sebagaimana istilah jami’ mani’ . Namun, ia juga bersikap realistis dengan menekankan bahwa fokus utama yang harus dicapai dalam periode ini adalah kemandirian finansial dan pengaruh nyata di tengah masyarakat.
Tantangan internal dalam mengelola pesantren Hidayatullah juga menjadi sorotan tajam dalam pidato tersebut. Naspi mengungkapkan adanya fenomena unik di mana para kader seringkali mengemban tugas ganda dalam struktur organisasi. Ia mengistilahkan fenomena ini sebagai “poligami” dalam jabatan, di mana seseorang bisa menjabat sebagai ketua yayasan sekaligus ketua di tingkat daerah atau bidang lainnya.
Meskipun hal ini merupakan tantangan besar, dinamika tersebut dipandang dia memiliki sisi spiritual yang positif. Mengacu pada pesan pendiri, Ustaz Abdullah Said, kesibukan dalam menjalankan berbagai amanah tersebut justru membuat kualitas ibadah seperti salat menjadi lebih khusyuk.
“Dinamika itulah yang menurut Ustaz Abdullah Said membuat shalat kita lebih khusyuk, membuat tidur kita tidak nyenyak, dan membuat tangan kita ini selalu terangkat,” kutip KH Naspi Arsyad. Kesibukan yang tinggi ini dianggap sebagai pemicu bagi para pengelola untuk selalu bersandar pada kekuatan Tuhan.
Lebih lanjut, KH Naspi Arsyad memberikan peringatan agar banyaknya jabatan struktural yang diemban harus berbanding lurus dengan aksi nyata di lapangan. Dia mengingatkan agar para pengelola tidak terjebak dalam formalitas jabatan tanpa adanya kontribusi konkret. Kritik terhadap adanya anggapan pengangguran meskipun memiliki banyak jabatan struktural dijadikan sebagai pelecut semangat.
Ia menegaskan bahwa jabatan hanyalah sarana, sementara tujuan utamanya adalah kristalisasi komitmen dalam mengelola pesantren secara profesional. Kehadiran para tokoh senior dalam mendampingi kader muda juga diapresiasi Naspi sebagai bentuk sinergi antargenerasi dalam organisasi. Hal ini diharapkan dapat memperkuat fondasi pesantren dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.
KH Naspi Arsyad menegaskan bahwa keberadaan pesantren merupakan sebuah tawaran teologis dan ideologis bagi umat Islam. Pesantren diharapkan menjadi peraga nyata dari ajaran Islam yang pernah dipraktikkan oleh Rasulullah dan para sahabat sebagai generasi terbaik. Visi pesantren yang unggul, mandiri, dan berpengaruh diposisikan sebagai instrumen daya tawar untuk menarik minat umat dalam mewujudkan peradaban Islam. “Dan kita adalah peraga-peraga Islam itu di zaman sekarang ini,” tegas KH Naspi.






