AdvertisementAdvertisement

Penguatan Budaya Menulis sebagai Pembentukan Pemikiran dan Pengembangan Peradaban Islam

Content Partner

SEORANG kader organisasi Islam didambakan untuk menulis. Bukan sekedar tuntutan zaman atau intelektualitas, menulis merupakan tuntunan Qur’ani. Wahyu pertama dan kedua Al-Qur’an, Al-‘Alaq dan Al-Qalam, menyampaikan perihal baca dan tulis sebanyak dua kali.

Tentu ada maksud penting di balik tuntunan ini. Pertama, berkaca pada karya para ulama, tulisan meninggalkan jejak sepanjang masa. Bukan hanya satu generasi yang membaca karya-karya itu, tapi juga generasi berikutnya. Jumlah pembaca tak lagi bisa dihitung jari.

Dampaknya tidak sederhana. Selain mencercap ilmu, generasi berikutnya juga menyerap semangat para ulama terdahulu. Struktur berpikir para ulama juga diambil. Terjadilah saling sokong antara warisan satu ulama dengan lainnya, melahirkan sebuah kerangka berpikir integratif yang memandu zaman agar perjalanan kehidupan umat Islam senantiasa terdepan di antara berbagai peradaban manusia.

Kedua, menulis membantu seseorang menstrukturisasi pemikirannya. Sehingga keruntutan pemikiran terbangun. Berikutnya derivasi-derivasi deduktif berpotensi terbentuk. Di sinilah sebuah pemikiran menemukan relevansinya dengan kehidupan sehari-hari.

Tanpa menulis, pemikiran seseorang lebih banyak bersifat acak. Struktur pemikiran tak terbangun, seibarat puzzle yang terserak. Sehingga pemikiran tersebut sulit digunakan sebagai alat menelaah kehidupan sehari-hari, apalagi menghasilkan solusi.

Ketiga, menulis membantu seseorang untuk melacak perjalanan pemikirannya. Mungkin contoh paling mudah adalah qaul qadim dan qaul jadid dari Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah. Bukan hanya beliau sendiri yang mampu melacak perjalanan pemikiran beliau, generasi berikutnya juga bisa melakukan hal yang sama.

Secara subjektif, seseorang bisa melakukan muhasabah atas perjalanan pemikirannya, apakah pemikirannya semakin mendekati kebenaran dan kebaikan hakiki. Bila iya, situasinya patut disyukuri. Sebaliknya jika tidak, maka semoga Allah ta’ala memberikan jalan perbaikan ke depan.

Secara objektif, sang pemilik pemikiran dan juga pihak lain bisa menelaah konsistensi terhadap konstruksi pemikiran. Apabila ditemukan deviasi yang lebar, maka dapat dikatakan konstruksi pemikiran tersebut bersifat lemah. Namun bila deviasinya masih rendah dan bisa ditoleransi, maka konstruksi pemikirannya harus diakui sebagai entitas yang kuat.

Konsistensi pemikiran tidak menutup kemungkinan atas perubahan. Bagaimanapun adaptasi pemikiran dengan perkembangan zaman perlu dilakukan. Bahkan sangat baik jika perubahan pemikiran mendahului zaman, sehingga layak dinobatkan sebagai pemandu zaman.

Salah satu syarat terpenting dari perubahan pemikiran adalah akuntabilitas argumentasi. Bahwa perubahan didasarkan pada serangkaian argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan serta mengokohkan konstruksi pemikiran berikutnya. Derivasi-derivasi mutakhir kemudian tercipta. Relevansi pemikiran atas realitas semakin meningkat.

Paling tidak, dengan tiga alasan tersebut, semoga seorang kader organisasi Islam berkenan menulis. Sebagai ikhtiar pendukung, organisasi di berbagai level memberikan ruang pajangan karya tulis. Bisa saja sifatnya ruang virtual.

Selain itu para kader diberi insentif atas tulisannya, minimal ‘sekarung syukran’ alias apresiasi verbal. Syukur jika apresiasi material juga bisa diberikan. Tidak harus mewah, apresiasi yang diberikan mungkin berupa hadiah sederhana. Akan tetapi getaran motivasi untuk terus menulis terasakan dari hadiah ini. Sehingga hari demi hari tak akan terlewati tanpa ada satu tulisan tercipta.

Menulis terkadang masih dianggap sebagai aktivitas elit. Hanya kaum intelek pelakunya. Benarkah?

Jawabannya, mungkin iya atau tidak. Jika jawabannya iya, maka sesungguhnya ini menimbulkan satu kemirisan tersendiri. Bahwa banyak orang belum mencapai derajat intelek. Padahal dalam kehidupan nyata, banyak sekali orang dengan kepakaran tinggi. Akan tetapi mereka tidak terbiasa menulis.

Jika jawabannya tidak, maka pertanyaan berikutnya muncul, apa penyebab sedikit sekali orang menulis. Padahal menulis bisa di media apa saja.

Di sini terbukalah satu kemungkinan, tingkat kesejahteraan ekonomi menyulitkan keluarga menyediakan sarana menulis. Selain itu kultur bicara yang kuat mempersempit kesempatan menulis.

Sehubungan dengan semua faktor tersebut, bagus kiranya organisasi menyebarkan kampanye menulis. Para kader dan keluarganya diedukasi tentang urgensi menulis. Keterampilannya juga diajarkan. Semoga kader ke depan semakin semangat dan kompeten dalam menulis. Penyebaran Islam akan merata ke penjuru dunia dan juga melintasi era demi era.

Wallah a’lam.

FU’AD FAHRUDIN

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

BKPTQ Hidayatullah Konsolidasikan Program Pembinaan Al-Qur’an untuk Masyarakat

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) -- Badan Koordinasi Pembinaan Tilawatil Qur’an (BKPTQ) Hidayatullah memperkuat sinergi serta merumuskan langkah strategis ke depan diharapkan...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img